REVIL – 11 “Please . Let me go !! “

Part Eleven of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all :D .
PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

“ INFO BACA : Dikarenakan banyak yang tanya tentang novel LUXERIOS dan Novel SACRIA FEVO. Tapi maaf kita gak bisa untuk cetak ulang. Oleh karena itu kita akan buka pemesanan untuk “ E-book LUXERIOUS dan E-book SACRIA FEVO “. Itu dikirim melalui e-mail kaliannantinya dalam bentuk FILE seperti Ms.Word/PDF . Bagi yang mau beli silahkan hubungi 087894311537 atau 087898742973 . Silahkan tanya-tanya ke adminnya. Bagi yang tidak punya e-mail tapi niat beli kami menyediakkan layanan free pembuatan e-mail bagi kalian :D. Pembayaran dilakukan lewat transfer bank/atm. Kalian tidak perlu punya rekening cukup ke bank/atm nanti yang memang berniat membeli kita kasih rekening kami untuk bayar. Harga LUXERIOUS : 15 ribu dan SACRIA FEVO : 20 ribu. Info lebih lanjut silahkan sms adminnya atau bisa mention ke @Revil_s . Terima kasih. “ . Dan silahkan membaca REVIL.

REVIL – 11
“Please . Let me go !! “

Cakka membaringkan Sivia di kamarnya. Ia menyelimuti Sivia dengan pelan-pelan tak ingin menyakiti gadis ini. Setelah itu Cakka duduk di meja belajar Sivia. Menunggu gadis ini, dan berharap gadis ini tidak apa-apa.

“Kamu kenapa Sivia ??”

“Apa yang terjadi sama kamu ?”

“Aku sangat merindukanmu . . “

“Cepat bangun dan sadar Sivia … “

****
Keesokan harinnya

Shilla terdiam di meja makan . ia mentap Gabriel yang sedang siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Gabriel melirik ke Shilla yang terus saja menatapnya. Gabriel menoleh kearah Shilla.

“Ada apa ??”tanya Gabriel langsung membuat Shilla langsung menggelengkan kepalannya.

“Loe gak usah sekolah dulu. Gue udah izinin ke sekolah loe. “

“Iya kak”

“Loe istirahat aja. Tubuh loe masih sakit “

“Iya kak. Makasih “jawab Shilla sambil tersenyum. Gabriel berdiri dari meja makan. Ia mengambil tasnya dan kunci mobilnya.

“Kak. . . “panggil Shilla saat gabriel sudah berjalan menuju pintu rumah. Gabriel membalikkan badannya kembali menatap gadis yang memanggilnya.

“Hati-hati. Shilla sayang sama Kak Gabriel”Gabriel terdiam sejenak mendengar ucapan Shilla. Ia pun hanya membalas dengan anggukan ringan lantas melanjutkan kembali jalannya meninggalkan Shilla yang tersenyum kesenangan di meja makan.

****

Sivia berjalan di lorong koridor sekolah. Semalam Cakka benar-benar menjagannya Bahkan pria itu sampai tidur di kamarnya. Dan Cakka pun yang mengantarkan dirinnya ke sekolah. Namun satu kata pun Sivia tak keluarkan saat bersama Cakka. Sivia masih tak ingin berbicara dengan siapapun.

Rasannya ia ingin menangus terus. Namun air matannya sudah kering saat ini. Tubuhnya begitu lemas. Cakka pun sempat melarangnya untuk pergi ke sekolah. Namun Sivia memaksa untuk berangkat. Ia tak ingin ketinggalan pelajaran lagi. Sudah cukup kemarin-kemarin ia tidak masuk sekolah.

****

Alvin. Rio dan gabriel sudah berada di kantin sejak tadi pagi. Tujuan mereka memang untuk melihat apakah Sivia benar akan masuk sekolah pagi ini. Dan benar saja gadis itu saat ini berjalan menuju kelasnya yang terlihat sangat jelas dari kantin.

Alvin menatap terus gadis itu yang menundukkan kepalannya. Seolah memfikirkan banyak hal di dalam otak gadis itu. Alvin semakin merasa bersalah. Alvin berdiri dari tempat duduknya.

“Gak sekarang . . “cegah Iel memegang lengan Alvin dan menyuruh Alvin untuk duduk kembali. Mau tak mau Alvin memilih untuk duduk kembali.

“Gue akan nyoba ngomong sama dia nanti “lanjut Gabriel dan diangguki oleh Alvin.

****

Cakka masuk kedalam rumahnya, ia segera memilih untuk cepat-cepat mandi saat ini. Ia masuk kedalam kamarnya.

15 Menit setelah ia mandi. Cakka mengganti pakaiannya dengan yang baru. Ia duduk diatas kasurnya. Ia memfikirkan kejadian semalam dan tadi pagi.

“Apa Sivia benci gue ??”

“Kenapa ia hanya diam saja dan gak mau bicara sama gue ???”

“Apa gue buat salah begitu besar sama dia ?”

“Apa dia benar-benar sangat marah karena gue ninggalin dia gitu aja saat kecil dulu ??”

“Aisshh. . . Gimana ini ? apa yang harus gue lakuin ???”

“Gue jemput saja nanti deh di sekolahnya dia “

***

Zahra berjalan ke arah parkir. Ia saat ini sedang berada dibutik milik temannya. Ia sedang membeli baju untuk ia gunakan pergi nanti malam bersama Gabriel. Zahra sengaja ingin terlihat cantik didepan gabriel.

“Kurang beli apa lagi ya ??”gumam Zahra yang masih berdiri di depan mobilnya. Zahra mencoba mengingat-ingat apa yang harus ia beli lagi hari ini.

“Ahh .. Beli sepatu . . Ke mall aja deh. “

Baru saja gadis ini ingin melangkahkan kakinya. Ia langsung dibekap orang seseorang dari belakang dan diseret begitu saja masuk kedalam sebuah mobil. Zahra mencoba memberontak.

“Eeeemmmm .. .. . Eeeemmm . . . . “Zahra dapat melihat dua orang berbadan besar berada di dalam mobil ini. Zahra mencoba meminta pertolongan dan mencoba berteriak. Namun ia tidak bisa. Ketakutan menghantui gadis ini.

“DIAM!!!! “bentak salah satu pria yang membekap Zahra. Zahra pun memilih untuk diam. Ia sudah sangat takut. Gadis ini hanya bisa menangis saja saat ini. Berharap akan ada yang menolongnya saat ini.

“Tolong .. .. Tolong . .. . .Siapa aja tolong Zahra . Mama . . Papa . . . Tolong Zahra . . .”

“Kak Roy tolong Zahra .. Gabriel tolong Zahra .. Tolong . .Tolong . . . .” teriak Zahra dalam hati. Ia berdoa terus dalam hatinnya. Mengharap sebuah pertolongan yang akan menyelamatkan dirinnya. Bahkan zahra sendiri binggung kenapa dua orang ini menyekapnya. Mengenal mereka saja tidak. Dan Zahra pun tidak pernah ada urusan dengan siapapun.

***

Gabril berjalan ke arah kelas Sivia. Jam istirahat sudah berdering sejak 5 menit yang lalu. Dan untuk membantu sahabatnya tersebut. Gabriel sedang mencoba membujuk Sivia agar mau bertemu dengan Alvin.

Gabriel memasuki kelas Sivia. Ia mencari-cari sosok gadis ini. Dan menemukan gadis ini sedang membenamkan wajahnya di meja kelas paling belakang. Gabriel pun berjalan mendekati Sivia.

Banyak mata adik kelas yang menatap Gabriel, tentu saja mereka binggung apa yang dilakukan pria ini. Tidak biasannya Gabriel pergi ke kelas adik kelasnya. Namun Gabriel tidak peduli akan hal tersebut. Ia tetap berjalan mendekati Sivia.

Setelah sampai di depan Sivia, Gabriel memilih duduk disamping gadis ini. Gabriel diam sebentar. Mencoba merangkai kata-kata yang pas untuk mengawali pembicaraan dengan Sivia. Gabriel mulai binggung sendiri.

“Ada apa Kak ??”gabriel terpelonjak kaget. Sivia tiba-tiba mengangkat wajahnya dan bertannya kepadanya langsung. Namun Sivia sama sekali tak menoleh ke arahnya. Gadis ini hanya menatap kedepan dengan tatapan yang kosong. Bahkan rambutnya terlihat begitu berantakan sekali.

“Gu . .gu .. gue . . . . “

“Loe disuruh Alvin kesini ??”

“Hah ??”Gabriel seperti orang bodoh tak ber-IQ saat ini. Bagaimana Sivia bisa tau akan tujuannya kesini dan siapa yang menyuruhnya kesini. Apakah Sivia mempunyai ilmu ramal sepertinnya ?.Atau ? Atau. Entahlah Gabriel tak seharusnya memfikirkan hal yang tidak penting seperti itu.

“Tenang aja. Gue udah lupa sama masalah kemarin “jawab Sivia singkat.

“Emmm. Dia ingin ketemu sama loe “ujar gabriel mencoba memberanikan diri. Sivia terdiam beberapa saat .

“Dimana ??”

“Loe mau Vi ?”kaget Gabriel karena gadis ini langsung menjawab tanpa fikir panjang. Bahkan tanpa emosi seperti awal yang Gabriel lihat pertama kali.

“Dimana ?”ulang Sivia pelan.

“Di apartemen gue gimana ? biar loe berdua lebih privasi bicarannya. Alvin benar-benar mau minta maaf sama loe”

“Oke “

“Beneran loe mau ketemu sama Alvin ??”tanya gabriel yang masih tak yakin. Sivia menganggukan kepalannya.

“Ini kan yang Alvin inginkan ? yaudah”tegas Sivia dingin dan membuat gabriel sedikit takut.

“Sepulang sekolah Alvin nunggin loe diapartemen gue. “Sivia mengangguk saja. Tak berniat untuk menatap gabriel sama sekali.

“Thanks Vi. Gue balik dulu “pamit Gabriel namun tak dihiraukan oleh Sivia. Gadis itu kembali membenamkan wajahnya di mejanya. Gabriel hanya menghelakan nafasnya pelan dan berjalan keluar kelas.

***

Gabriel segera menghampiri Alvin dan Rio yang sudah menunggunya diatas atap sekolah. Gabriel menaiki tangga dengan senyum penuh kelegaan. Setidaknya ia membwa kabar gembira untuk salah satu sahabatnya tersebut.

“Gimana Iel ??”tanya Alvin saat melihat wajah gabriel yang baru nonggol dari pintu tangga . gabriel tersenyum smabil mengangkat jempol tangan kannnya. Ia berjalan mendekati kedua sahabtnya tersebut.

“Sivia mau vin. “

“SUMPAH ??”teriak Alvin yang sama terkkejutnya seperti Gabriel awal tadi.

“Yah, Dia mau ketemu sama loe. Gue bilang loe sepulang sekolah akan nemuin dia diapartemen gue “

“beneran Iel ? Sumpah loe ? Demi apa ??”

“Demi apa aja deh. “serah gabriel yang gemas juga dengan Alvin.

“Apartemen loe udah bersih belum ??Loe udah kasih parfum kan ? Apartemen loe ada makanan gak ??Atau minuman ? terus bersihkan ?? gak ada kotoran kan Iel ??”cerocos Alvin kemana-mana. Gabriel dan Rio mengernyitkan keningnya menatap salah satu temannya yang begitu mengenaskan ini.

“Loe Cuma mau minta maaf kan ? gak mau malam kedua kan ??”sinis Gabriel dan membuat Alvin langsung diam seribu bahasa.

“Apartemen gue sangat bersih !!! disana banyak makanan dan minuman ! udah puas ?? aisshh . .”desis gabriel dan berjalan meninggalkan Alvin yang hanya cengar-cengir tak jelas.

“Ecieee . Yang jatuh cinta. Eciee . . “kini giliran Rio yang menggoda Alvin. Namun suara godaan Rio bukan seperti seorang yang menggoda lebih ke sebuah sindiran yang sangat sinis sekali. Rio pun mengikuti Gabriel dari belakang. Tak tertarik dengan tingkah sahabatnya tersebut.

“Apa yang salah coba dengan ucapan gue ??”

“Gue kan hanya ingin minta maaf. Apa gue salah ?? Kan gue Cuma buat strategi agar Sivia maafin gue “Alvin mulai berkicau-kicau sendiri diatas gedung sekolahnya. Dengan ditemani udara pagi dan kiucaan burung yang bertebaran di atas sana.

****

Zahra diikat di sebuah kursi. Mulutnya pun dibungkam dengan kain tebal dan membuat dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa menangis dan berdoa . Dirinnya saat ini dibawah ke sebuah gudang tua. Dan membuatnya semakin takut .

“baiklah kita akan menunggu sampai jam 5 sore . “

“Dan pangeranmu akankah datang menolongmu ??”

“Silahkan berdoa saja nak . .. “

Zahra menatap takut pria paruh baya yang sedang mengajaknya bicara. Pria itu sangat menakutkan sekali baginnya. Kedua matannya begitu tajam. Dan tumbuh beberapa kumis di wajahnya. Perlahan pria itu mendekatinnya.

“Dia ternyata sedang main-main sama saya ??”

“Saya kira dia sangat mencintai gadis brengsek itu. Ternyata ??? Hahahahhahaa . . .”

“Hebat juga dia bisa mendapatkan gadis yang sangat cantik . . .”

“Jangan takut gadis manis. Saya tidak akan apa-apa kan kamu. Jangan takut “ Namun setiap ucapan pria itu semakin membuat Zahra merinding. Jujur Zahra sama sekali tak mengerti apa yang ucapkan oleh pria tersebut.

“Mama … Papa . .. . “isak Zahra dalam hati

****
Sepulang Sekolah

Sivia keluar dari gerbang sekolah dan langsung menyetop sebuah taxi. Ia benar-benar akan menemui Alvin hari ini. Ia menyuruh supir tersebut menuju ke apartemen Gabriel. Dimana tempat yang membuat Sivia menangis sejadi-jadinya hari itu.

Sivia hanya diam seperti orang tak bernyawa. Fikirannya sudah tak dapat ia isi apapun. Bebannya menumpuk jelas disemua tubuhnya. Kalau saja taxi ini menabrak seuatu atau melayang ke jurang yang paling dalam mungkin Sivia sangat besyukur sekali akan hal tersebut.

Perlahan Sivia mendudukan wajahnya. Ia melihat ke arah perutnya. Tangannya pelan-pelan ia arahkan untuk menyentuh perutnya. Sivia mengelus-elus perutnya. Sivia mengigit bibir bawahnya karena air matannya mulai lagi untuk mengalir.

“Gak mungkin . . Ini semua gak mungkin . .. “lirih Sivia pelan bahkan saking pelannya mungkin hanya ia dan tuhan yang dapat mendengar lirihannya tersebut.

“Gue harus apa ?? gue gue . . . .”sekuat apapun gadis ini menahan air matannya. Namun air mata Sivia akhirnya jatuh juga. Yah, Sivia menangis dalam diamnya. Berusaha sekuat tenaga tak menimbulkan suara pada isakannya.

****

Cakka tiba di depan sekolah Sivia. Ia segera keluar dari mobilnya dan mencoba menunggu Sivia. Cakka tidak tau bahwa gadis itu sudah pulang sejak awal. Namun Cakka masih tetap menunggu disana dan melihat satu persatu orang yang keluar dari gerbang sekolah tersebut.

****

Gabriel dan Rio berjalan ke arah luar sekolah. Hari ini dengan terpaksa mereka harus pulang menaiki taxi. Karena demi sahabat tercinta mereka “?” Alvin, Gabriel merelakan mobilnya dibawah oleh pria itu.

Gabriel dan Rio berhenti didepan gerbang sekolah saat melihat keberadaan seorang pria yang jelas sekali mereka kenal. Gabriel dan Rio saling bertatapan.

“Cakka kan ??”serempak mereka berdua .

“Ngapain dia disini ?”kini Rio yang membuka suarannya kembali.

“Sampai pedulinya gitu dia sama Alvin ? sampai jemput segala ?”sahut Gabriel heran.

“Dia gak suka sama Alvin kan ??”

“Apaan sih loe yo !! “

Cakka ternyata menangkap keberadaan dua pria itu. Ia pun melambai-lambaikan tangannya kearah Rio dan Gabriel. Mau tak mau Gabriel dan Rio berjalan menghampiri Cakka. Mereka juga penasaran apa yang dilakan oleh Cakka disini.

“Hai “sapa Cakka dengan senyum khasnya. Gabriel dan Rio mengernyitkan kening mereka.

“Ngapain loe disini ?”tanya Rio dingin.

“Loe nyari Alvin ? Dia udah pulang dari tadi “kini Gabriel yang menyahuti ucapan Rio. Cakka langsung menggelengkan kepalanya masih dengan terus tersenyum.

“Gue lagi nunggu seseorang . Bukan Alvin “Gabriel dan Rio lebih terkejut lagi dan penasaran tentunnya.

“Loe kenal sama murid disini ??”tanya Gabriel sangat pensaran.

“I .. ya . ..”jawab Cakka sedikit binggung.

“Siapa ??”sahut Rio yang tak kalah pensarannya seperti Gabriel.

“Gue lagi nunggu Sivia. Kalian kenal gak ? apa dia udah pulang ??”Dalam hitungan detik setelah mendengar nama “Sivia” Gabriel dan Rio langsung bertatapan. Tentu saja berbagai dan beribu pertanyaan sekarang mengelilingi kepala mereka.

“Loe kenal Sivia ??”tanya Gabriel menatap Cakka kembali. Cakka langsung menganggukkan kepalannya.

“Darimana ??”kini Rio pun ikut ambil alih dalam mengintrogasi Cakka. Cakka sedikit heran dengan kedua pria ini yang tak biasannya mengajaknya mengobrol sampai selama ini.

“Gue teman kecilnya Sivia dulu. “

“HAH? TEMAN KECIL ?? “kaget Gabriel maupun Rio.

“Kalian kenal Sivia ??”tanya Cakka kembali.

“Gak gak kita gak kenal dia! Bye “jawab Rio dan gabriel secepat mungkin dan sekilat mungkin mereka segera meninggalkan Cakka disana yang hanya diam mematung kebingungan.

Rio dan gabriel segera masuk kedalam taxi yang sudah mereka pesan. Mereka terus saja memfikirkan apa hubungan antara Cakka dan Sivia. Bukanhkah bumi itu begitu kecil ?? . Hidup memang membingungkan. !!
***

Apartemen Gabriel

Alvin sudah menunggu Sivia sejak 15 menit yang lalu. Satu jam sebelum bel pulang sekolah. Alvin memilih untuk kabur duluan dari sekolah dengan membawa mobil Gabriel. Alvin pun sengaja membersihkan apartemen gabriel terlebih dahulu dan menyiapkan makanan ringan dan juga minuman untuk Sivia.

Alvin duduk di kursi ruang tamu Gabriel dan berdiri lagi. Setelah itu duduk lagi. Ia sama sekali tidak bisa diam. Ia menyiapkan kata-kata yang pas untuk meminta maaf kepada Sivia. Hatinya begitu nervous saat ini. Ia tidak pernah sebinggung ini dan segrogi seperti ini.

Tak lama kemudian Bel pintu apartemen gabriel terdengar. Alvin pun terpelonjak kaget. Dan sedikit cemas ia memberanikan diri berjalan ke arah pintu yang tak jauh dari ia duduk tadi.

Alvin pun membuka pintunya dan mendapati seorang gadis berdiri disana dengan wajah entahlah . gadis tersebut pun masih memakai baju seragam yang sama seperti Alvin. Dan tentu saja gadis itu adalah Sivia.

“Ma . .. ma . .. masuk Vi . “Sivia tak menjawab apapun bahkan sama sekali tak menatap Alvin. Ia melangkah masuk kedalam dengan tenang.

“Duduk Vi “suruh Alvin dengan nada bicara yang kaku sekali. Ia sendiri binggung harus bagaimana kepada gadis ini. Sivia menggelengkan kepalannya. Perlahan ia membalikkan badannya untuk menghadap kearah Alvin yang ia yakini saat ini berada dibelakangnya.

“Langsung aja “suruh Sivia dingin. Alvin menghembuskan nafasnya beberapa kali. Ia mencoba memfikirkan kata apa yang akan ia ucapkan untuk pertama kali. Ia tidak ingin membuat kesalahan lagi.

“Vi . . Maafin gue atas tindakkan gue kemarin “Alvin mulai membuka suarannya. Sedangkan Sivia mendundukkan kepalannya . ia menatap ke arah lantai apartemen ini dengan tatapan kosong. Mendengar permintaan maaf Alvin, Sivia mencengkram kedua tangannya kuat-kuat. Mencoba menahan semua emosinnya. Jelas sekali mata gadis ini begitu parau. Wajahnya pun putih memucat.

“Gue tau banget gue salah. Sangat salah sama loe. Tindakkan gue begitu kejam sama loe. Gue gak tau waktu itu gue sangat emosi. Dan .. dan .. dann …Maaf Vi . gue inta maaf sama loe “Alvin menundukkan kepalannya. Ia berharap sekalo Sivia akan memaafkannya .

“Loe gak maafin gue kan ? Loe pasti marah kan sama gue ?? Silahkan Vi . Loe boleh nampar gue. Loe boleh injak-injak gue. Atau loe mau laporin gue ke polisi atas tindak kriminal. Silahkan gue rela. Asal loe bisa maafin gue . Gue minta maaf”Sivia semakin kuat mencengkam kedua tangannya. Bahkan kedua matannya sudah terasa panas sekali saat ini.

“Setiap malam gue gak bisa tidur. Gue terus terbayang rasa bersalah gue ke loe. Tenang aja Vi . gue juga menderita walaupun gue yakin gak sebesar penderitaan yang loe alami saat ini. Maaf Vi. Maaf buat hidup loe hancur. Maaf. “

“Vi . . Lo .. e . . . ma .. u ma . . afin .. gue ??”Alvin mendongakkan wajahnya. Ia mendengar suara isakkan kecil. Yah, Gadis didepannya inilah yang saat ini sedang menangis menahan semua yang ada dikepalannya.

“Gue minta maaf kak sama loe . . “Alvin membulatkan matannya. Binggung dengan ucapan Sivia yang malah meminta maaf kepadannya. Sivia mendongakkan kepalannya dan menatapnya. Alvin dapat melihat jelas kedua mata sendu itu. kedua mata yang penuh beban. Dan kedua mata yang saat ini masih basah akan air mata.

“Maaf kalau gue yang dari awal buat loe emosi. Buat loe kesal sama gue. Buat loe benci sama gue. Tap .. . tapii .. .. .”Sivia menghembuskan nafas beratnya sejenak. Begitu susah sekali ia untuk menahan tangisnya ini. begitu susah sekali ia menahan semua emosinnya saat ini. Rasanya ingin ia luapkan begitu saja. Dadanya semakin terasa sakit sekali saat ini. Sakit dan sangat sakit.

“Tapi yang loe lakuin ke gue sebagai pembalasanya apa tidak keterlaluan kak ?? Setega itu loe sama gue ? Sampai hati banget loe ngerusak harga diri gue seperti itu ? Bahkan loe membayar gue bagaikan gue ini pelacur murahan”

“Vi Maaf tentang itu. Sumpah gue sangat minta maaf. Maaf Vi . .”perlahan Alvin berlutut dihadapan Sivia. Namun yang dilakukan Alvin sedikit pun tidak membuat Sivia tersentuh. Ekspresi Sivia masih sama seperti tadi. Ekspresi orang yang tak memiliki tujuan.

“Bangun kak. Loe gak perlu kayak gitu “

“Vi. Gue mohon maafin gue. Gue akan tanggung jawab. Gue rela ngelakuin apapun untuk nebus semua kesalahan gue. Gue minta maaf sama loe Vi. Maafin gue. Maaf. Maaf. Maaf “Alvin merasakan kedua matannya memanas. Sepertinya ia akan mengalirkan air mata saat ini. Ia memang sangat merasa bersalah kepada Sivia.

“Bangun Kak. Gue udah maafin loe “Alvin mendongakkan kepalannya. Terkejut dengan ucapan Sivia. Sivia menatap Alvin dengan tatapan tak terbaca.

“Loe . .loe maafin gue Vi ??”

“Gue udah maafin loe. Loe gak usah ngerasa bersalah. Sekarang bangun kak. Gue yang akan nanggung semuanya. Gue yang akan nangung harga diri gue yang udah gak ada hargannya. Gue akan hidup sesuka gue. Gue ak … “Alvin langsung berdiri menatap Sivia tajam. Ia langsung memegang kedua tangan Sivia.

“Gue akan tanggung jawab sama loe. Jika terjadi apa-apa sama loe gue beneran dan bersumpah akan tanggung jawab Vi. Bahkan jika loe Hamil gue akan tanggung jawab. !! Ini bukan kesalahan loe.!! Ini kesalahan gue !!Gue yang salah Vi !!! “Sivia melepaskan pelan –pelan kedua tangan Alvin yang menggenggam kedua tangannya.

“Hamil ??”Sivia tertawa miris. Bahkan sangat memiriskan sekali. Ia mengigit bibirnya kuat-kuat berusaha menahan air matannya agar tidak jatuh terlalu banyak. Namun percuma saat ini ia hanya bisa menangis. Menangis sekencang mungkin.

Alvin menatap Sivia sangat tak tega. Bagaimana ia bisa membuat gadis ini sangat menderita seperti ini. Begitu jahatkah dirinnya saat ini ?. Apakah gadis ini benar-benar akan memaafkan kesalah besarnya.

“Gue hamil kak sekarang”Alvin membulatkan matannya sempurna. Ia tidak salah dengar kan ? Sivia hamil ? dan itu akibat yang ia lakukan kepada Sivia kemarin .

“Ha .. mil ?? lo . .loe be . ne .. .ran .. ha .. .mil ??”bibir Alvin rasanya keluh sekali. Sivia tersenyum lebih miris melihat respon Alvin seperti itu.

“Tenang aja Kak. Gue gak akan minta pertanggung jawaban dari loe . Gue udah maafin loe . Gue akan lupain semuannya. Gue akan anggap kita gak pernah kenal. Loe gak pernah apa-apain gue. Loe gak usah lagi ngerasa bersalah. Gue yang akan ngurus bayi gue sendiri nantinya. Loe gak perlu khwatir . “Sivia menghapus air matannya. Dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tersenyum kearah Alvin yang lebih syok lagi mendengar ucapannya itu. Alvin masih mematung didepannya.

“Urusan kita udah selesai kan ? ini kan yang loe mau kak? . maaf dari gue kan ? . gue udah maafin loe. Gue gak akan lagi nemuin loe. Tenang aja . Loe gak perlu nyemasin gue . Ahh. Lebih tepatnya nyemasin bagaimana loe akan tanggung jawab dengan kehamilan gue. Gak perlu kak “

“Gue pamit dulu. Gue harus pulang . “Sivia tersenyum sebentar. Ia lalu menjalankan kakinya untuk beranjak dari apartemen ini. Namun baru beberapa langkah Tangan Alvin langsung mencengkram erat lengan kanan Sivia. Alvin kembali berdiri didepan Sivia. Alvin menatap Sivia dengan tajam.

“Gue akan tanggung jawab !! Itu bukan hanya bayi loe. Itu bayi gue juga. Gue yang ngelakuin sama loe. Gue gak mau buat loe menderita lagi. Gue akan tanggun jawab Vi . !! Gue gak akan lepas tangan sepeti seor . . .”Sivia menatap mata Alvin dengan tatapan memohon. Air mata Sivia kembali mengalir lagi di pipinya. Matannya pun sudah sangat sembab.

“Gue mau pulang. Urusan kita udah selesai. Lepasin kak . “mohon Sivia agar Alvin melepaskan cengkraman tangannya yang sangat kuat.

“Gak !! Jangan nyiksa gue lagi Vi. Gue mohon. Gue tau gue salah. Dan gue akan tanggung jawab. Gue akan nikahin loe. Gue akan bilang ke kakek gue kalau gue mau nikah sama loe. Kakek gue pasti senang jika gue sama loe ada hubungan. Gue janji Vi . akan tebus semua kes . …”

“GUE GAK BUTUH KAK!!! “bentak Sivia begitu keras dan dengan kasarnya ia langsung menghentakkan tangannya dan membuat tangan Alvin terhempas begitu saja. Sivia menahan isakannya sejenak.

“Gue mohon lepasin gue Kak. Gue gak akan nemuin loe lagi. Jadi loe gak usah nyari gue lagi. Gue akan biarin loe bebas tanpa beban. Gue gak bebanin loe. Gue gak minta loe nikahin gue. “

“Loe fikir dengan nikah semua masalah selesai. ?? Enggak kak !! . Dan asal loe tau. Pernikahan itu hanya dilakukan oleh dua orang yang saling suka dan cinta. Sayangnya gue gak suka bahkan cinta sama loe kak !! “Alvin menundukkan kepalannya perlahan. Begitu jelas sekali Sivia menolaknya. Dan mengapa ia merasakan dadanya sakit sekali saat ini. Apakah ia benarbenar sudah mencintai gadis didepannya ini ?.

“Gue mohon jangan bebani gue lagi kak. Gue udah cukup menderita. Gue menderita sangat menderita kak. ..”tubuh Sivia gemetar. Ia menangis kembali. Ia membiarkan saja tangisannya memecah kembali. Ia tak kuat lagi menahan semuannya.

“Gue bodoh kan ?? bahkan bisa dibilang gue adalah gadis terbodoh di dunia ini !!! dan loe pasti binggung kan ? kenapa gue gak marah sama loe ?? kenapa gue gak ngeluarin caci maki gue ke orang brengsek kayak loe ?? Loe tau kenapa ??”Alvin memilih diam saja. Ia masih terus menundukkan kepalannya. Ia hanya bisa mendengar tangisan Sivia yang semakin membuatnya sakit. Betapa kejamnya dia saat ini.

“Gue capek kak. !! Gue ingin semuanya selesai dengan cara gue. Dan gue gak mau ada urusan lagi sama loe. Bahkan . .Gue gak mau ngelihat wajah loe lagi kak. Sakit banget rasannya. Sakit sangat sakit”Sivia memuluk pelan dadanya yang memang terasa sakit saat ini.

“Atau gue akan lebih berterima kasih lagi jika saat itu loe bunuh gue aja kak dari pada loe buat gue menderita seperti ini. Dan loe pasti sudah puas kan ? akhirnya loe bisa balas dendam loe ke gadis brengsek ini. gadis yang tak tau diri ini. Dan gadis yang sekarang tidak punya harga diri ini “

“Loe ingin dapat maaf dari gue kan ? Biarin gue pergi. Dan makasih atas semua penderitaan ini. “Sivia perlahan melangkahkan kembali langkahnya. Ia berjalan keluar ke apartemen ini. Meninggalkan Alvin yang terbungkam disana.

Sesampai didepan Apartemen Gabriel, tangisan Sivia memecah. Ia menangis sejadi-jadinnya. Ia pun dengan cepat berlari meninggalkan tempat tersebut. Ia tak ingin lagi sakit hati. Ia tak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Ia sudah cukup menderita karena Alvin dan tak ingin menderita lagi.

Sedangkan didalam sana, Alvin langsung terduduk lemas. Kakinya sudah tak ada tenaga lagi. Dan entah sejak kapan air mata pria ini sudah mengalir di pipinya. Bahkan lebih deras yang ia kira. Alvin meremas-remas rambutnya.

“AAAAAAARRRRRFGGSSSS!!!!! “teriak Alvin sangat frustasi.

“ALVIN LOE BRENGSEK!!! LOE PRIA PALING BRENGSEK VIN !!! LOE SANGAT BRENGSEK !!!! “

“AAARRRRGGHHSSSSS TUHAN HUKUM GUE TUHAAANNN!!!! BUNUH GUE !!! CABUT NYAWA GUE !!! “

***
Sudah 2 jam lamannya Cakka berdiri di depan gerbang sekolah Sivia dan tidak menemukkan gadis yang ia cari. Sekolah pun sudah terlihat sangat sepi. Cakka menghelakan nafasnya.

“Mungkin dia sudah pulang . Kalau gitu gue kerumahnya sajalah “Cakka pun memilih masuk kedalam mobilnya untuk menuju kerumah Sivia.

***

Gabriel sudah berpuluh-puluh kali mencoba menelfon Zahra. Namun gadis itu tetap tidak mengangkat telfonnya. Dan membuat Gabriel sangat cemas sekali. Gabriel mencoba berfikir positive. Ia pun memilih untuk keluar dari kamar mengambil makanan ringan yang bisa dimakan.

Gabriel keluar dari kamarnya dan melihat Shila yang sedang asik mengambar di ruang tamu. Gabriel tak begitu tertarik. Ia langsung ke dapur untuk mengambil minum.

Namun sepertinya ia sedikit pensaran apa yang dilakukan oleh Shilla lebih tetapnya apa yang sedang digambar oleh gadis itu.

“Loe lagi apa ??”tanya Gabriel yang sudah berdiri di samping Shilla. Membuat gadis ini sedikit terkejut.

“Lagi gambar “jawab Shilla dengan senyum yang tak pernah ia hilangkan dari bibir manisnya.

“Gambar apaan ??”tanya Gabriel mencoba mengintip buku gambar Shilla. Shilla langsung menunjukkannya kepada Gabriel.

“Nih . . .”ujar Shilla menunjukkan gambarnya. Gabriel mengernyitkan keningnya.

“Ini Siapa ??”tanya gabriel melihat sosok wanita yang sedang digambar Shilla. Gabriel mengakui bahwa gadis ini begitu ahli dalam mengambar bahkan gambarannya pun terlihat begitu nyata.

“Ini mama Shilla “jawab Shilla dan perlahan senyumnya sedikit memudar. Gabriel terdiam sejenak.

“Shilla kangen sama mama. Bahkan mungkin Shilla udah sedikit lupa bagaimana wajah mama Shilla. Jadi biar nanti Shilla gak lupa mangkannya Shilla gambar wajah mama”ujar Shilla dan kembali menghidupkan senyum manisnya. Gabriel menatap Shilla dengan wajah semakin merasa bersalah.

“Shil . .”panggil gabriel pelan.

“Hmm??”sahut Shilla tanpa menatap Gabriel. Karena ia sedang membuat sedikit shadow pada gambarnya tersebut agar terlihat lebih nyata lagi.

“Kalau seandainya gue buat salah sama loe? Loe maafin gue gak ???”Shilla memberhentikkan aktivifasnya sejenak.

“Gak “jawab Shilla tegas dengan wajah yang dingin membuat gabriel kaget sekali. Tak pernah ia melihat wajah Shilla seperti ini. Namun perlahan wajah dingin itu berubah kembali ke wajah ceria milik Shilla. Senyum shilla terkembang kembali. Gadis ini perlahan berdiri dari tempat duduknya. Dan menghadap kearah gabriel.

“Karena Shilla yakin. Kak gabriel gak akan buat salah sama Shilla. Kak Gabriel gak pernah salah dimata Shilla. “Shilla memajukkan langkahnya dan langsung memeluk gabriel. Membuat gabriel mematung untuk beberapa lama.

“Shilla sayang sama kak Gabriel. “bisik Shilla pelan lantas melepaskan pelukannya kembali. Gabriel masih mematung. Ia berharap saat ini, ia menghilang saja dari hadapan gadis ini. Gadis ini begitu sangat tulus mencintainnya.

“mama tenang ya disana. Jangan khawtairin Shilla. karena disini Shilla ada Kak Gabriel yang akan jagain Shilla. Jadi mama jangan sedih ya. !!”Shilla kini malah berbicara kepada gambar yang ia buat. Entah setan apa yang merasuki Gabriel. Perlahan tangan gabriel terarah kepada rambut panjang Shilla. Dan dengan lembut gabriel membelai rambut Shilla.

“Maaf Shil . .Maafin gue .. Maaf “

****

Sivia keluar dari taxi yang sudah berhenti didepan rumahnya. Ia terdiam melihat Cakka yang sedang berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menendang-nendang batu kecil. Nampaknya pria itu sudah lama menunggu disana. Memang saat ini dirumah Sivia tidak ada siapa-siapa. Tante Maya sedang ada diluar negri mengunjungi mamanya. Sedangkan pembantunya pun sedang izin cuti selama 2 minggu dari kemarin.

“Kak Cakka. . “panggil Sivia berdiri tak jauh di belakang Cakka. Mendengar suara tersebut Cakka segera membalikkan badannya. Cakka langsung mengembangkan senyumnya.

“Sivia . “balas Cakka dengan begitu senangnya. Cakka langsung menghampiri Sivia . Cakka mengernyitkan keningnya melihat gadis ini begitu berantakkan bahkan lebih berantakkan saat berangkat sekolah tadi.

“Aisshh. . Kamu gak pernah berubah ya. Selalu aja berantakkan seperti ini. “Cakka perlahan membenahkan rambut Sivia satu demi satu.

“Kamu itu cantik. Jadi akan lebih cantik lagi jika terlihat rapi. Jangan kecapean dan harus banyak istirahat. Biar gak pinsan kayak kem. . . “

Cakka mematung kembali seperti kemarin. Tiba-tiba saja Sivia langsung memeluknya untuk kedua kalinnya. Namun kali ini pelukan Sivia membuat hati Cakka cemas. Entah menagapa ia merasa gadis ini sedang ada banyak masalah.

“Jangan tinggalin Sivia lagi ya Kak . Sedetik pun Sivia mohon jagan tinggalin Sivia “Cakka mengembangkan senyumnya. Menghilangkan perasaan cemasnya begitu saja. Ia yakin gadis ini tida akan kenapa-kenapa. Cakka pun perlahan membalas pelukan Sivia.

“Sivia kangen sama Kak Cakka. “

‘Iya via. Kak Cakka janji akan terus ada buat Sivia. Selamanya . Kak Cakka akan menjaga Sivia dan melindungi Sivia dari siapapun “

“Ja .. nji ??”Sivia mengigit lidahnya kali ini. ia tidak ingin Cakka tau bahwa saat ini ia sudah menangis. Rasanya nyaman sekali berada di pelukan Cakka. Namun ia tidak yakin sampai kapan ia akan mendapatkan pelukan seperti ini lagi. Ia takut bagaimana Cakka akan tau akan masalahnya ini. Apakah Cakka akan terus memegang janjinya ? .

“Iya Janji Sivia . Ja . . .”

“Kamu nangis ??”Cakka langsung melepaskan pelukannya. Dan benar saja saat ini gadis yang ada didepannya sedang menangis. Namun Sivia langsung menggelengkan kepalannya.

“Sivia nangis karena Sivia senang kak. Sivia senang bisa ketemu sama kak Cakka lagi. Sivia sangat senang “Sivia mencoba untuk tersenyum walaupun senyum tersebut pasti akan terlihat sangat memaksakan. Namun setidaknya dapat membuat Cakka percaya.

“Udah jangan nangis lagi . . “Cakka mengusap air mata di pipi Sivia. Cakka dapat merasakan lagi kecemasan itu datang kembali.

“Kakak mau ngabulin permintaan Sivia gak ??”pinta Sivia yang tiba-tiba. Cakka mengernyitkan keningnya.

“Apaan ??”

“Sivia mau jalan-jalan sama kak Cakka. Ayo kita ke Taman hiburan. Kayak waktu kita kecil dulu “

“Sekarang ??”

“Hmmm.. “dehem Sivia seperti anak kecil dan sukses membuat cakka tertawa. Cakka pun menganggukan kepalannya. Tentu saja ia mau. Ia sendiri sangat merindukkan gadis ini dan akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis ini.

“kamu gak ganti baju dulu ??”

‘gak usah/. Udah ayo !! “

Cakka pun menuruti saja, Ia langsung masuk kedalam mobilnya. Begitu juga dengan Sivia yang sudah masuk duluan. Mereka berdua pun menuju taman hiburan yang biasannya mereka kunjungi saat mereka kecil.

****

Gabriel semakin cemas. Karena Zahra sama sekali tak membalas pesannya bahkan tak menelfonnya kembali. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dan 2 jam lagi mereka pun akan keluar bersama.

Gabriel berdiri dari kasurnya. Ia ingin beranhak ke kamar mandi setidaknya menyegarkan badannya. Namun ia langsung memberhentikkan langkahnya kembali. Ia mendengar ponselnya berdering dan terdapat sebuah panggilan.

Gabriel mengernyitkan keningnya. Ia melihat satu nomer yang sama sekali tak ia kenal. Gabriel pun tak ambil pusing dan langsung mengangkatnya.

“Hallo Gabriel . . . “

Gabriel terdiam. Ia sangat kenal dengan pemilik suara ini. Raut wajah Gabriel langsung berubah begitu drastis. Raut wajah penuh kebencian.

“Ada apa ??”balas Gabriel tajam menunjukkan ketidak sukaanya kepada orang disebrang sana.

“Hahaha kamu pasti ingat kan dengan suara saya hahahahaha . “

“Apa mau kamu ??”

“Mau saya ?? Hahahaha. Sabar nak gabriel. Saya punya seuatu untuk kamu “

“GABRIEL TOLONGG !!!! GABRIEL TOLONG !!!! “

“GABRIEL GUE TAKUT !! GUE MOHON TOLONG GUE !!! GUE TAKUT “

“GABRIEEELLLLL!!! “

Gabriel membuka matannya labar-lebar , jantungnya berdetak begitu sangat cepat. Ia kenal dengan suara tersebut. Suara itu adalah suara gadis yang saat ini menjadi pacarnya. Yah itu ada suara Zahra.

“Zahra .. . .”lirih gabriel pelan . Kekhawatiran langsung menyeruak begitu saja dalam dirinnya.

“Loe mau apa ? Lepasin dia !! jangan pernah sedikit pun menyentuh dia !! LEPASIN DIA !! “bentak gabriel penuh emosinnya. Gabriel tidak mengerti kenapa orang itu bisa tau tentang Zahra dan apa yang dia mau sebenarnya.

“Apa yang saya mau ? Kamu mau tau ?? ?”

“Gadis brengsek itu !!! serahkan ke saya !!”

Gabriel terdiam lagi. Gadis brengsek yang dimaksudkan pria tersebut tentu saja anaknya. Yang tak lain adalah Shilla. Yah, Penelfon tersebut adalah Papa tiri Shilla. Yang sudah lama sekali mengincar Shilla yang ia tahu kabur kerumah gabriel. Dan hanya dengan ini dia bisa mendapatkan Shilla kembali.

“Bagaimana ?? Tapi kalau tidak mau saya juga tidak rugi. Gadis cantik ini bisa jadi gantinnya “

“AAAWWWW GABRIEEELLLLL !!!! AAAISSSGGSS TOLONGG !!!!! “

“JANGAN SENTUH DIA !! JANGAN SAKITI DIA !!! JANGAN SAKITI DIA !!! “teriak gabriel kebinggungan. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang. Tentu saja ia harus memilih diantara dua gadis terseut. Zahra ataukah Shilla .

“Saya hitung sampai 5. Bagaimana keputusanmu. Atau kamu tidak akan bisa melihat gadis ini lagi “

“satu . .”

“dua . . “

“tiga . . “Gabriel terlihat sangat kebingungan dikamarnya. Ia mondar-mandir seperti kucing kelaparan. Siapa yang harus ia pilih. Dan apa yang harus ia lakukan sekarang . Yang ia tahu bahwa Papa Shilla adalah srigala yang menyeramkan dan dia tak mungkin menyerahkan Zahra ke pria tersebut . Dan tak mungkin juga melepaskan Shilla ditangan pria itu.

“empat . . . “

“Baiklah. Baiklah . . . “

“Kamu bahwa gadis brengsek itu di lapangan golf dekat perumahan dinasti . pastikan kamu datang hanya dengan gadis itu. Jika saya melihat kamu membawa polisi atau siapapun. Saya pastikan kamu akan snagat menyesal melihat nasib gadis cantik ini “

“Jangan pernag sentuh dia !! “tegas gabriel tajam. Namun pria itu hanya tertawa pelan.

“Saya kira kamu mencintai gadis brengsek itu ? Ck Ck Ck tak disangka Cinta gadis bodoh itu bertepuk sebelah tangan hahahahaha. “

“Sekarang juga bawa gadis brengsek itu kesini. Dalam waktu 30 menit kamu tidak datang ?? Gadis ini akan . . .. “

“AAAAAAGHHRSSSSSSS !!!

“Zahra . . Zahra kamu gak apa-apa kan ?? Zahra ?? “

BIPPPP

Gabriel menatap dirinnya didepan kaca. Ia memfikirkan sebentar apa yang harus ia lakukan. Namun bayangan wajah zahra dan wajah kesakitan zahra berputar jelas di otaknya. Gabriel segera mengambil ponsel dan kunci mobilnya ia keluar dari kamarnya dan langsung mencari keberadaan Shilla.

“ Shiilla . . . !!! “

“Shilla !! “

“SHILLA !!! “

Bersambung . . . ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s