DEVIL ENLOVQER – 44 ~ BROKEN ~

Ini part 44 nya semangat yaa buat baca . terus baca jangan lupa Like dan Commenta ditunggu. Yuk langsung aja baca😀 semoga suka amin.

Kalau mau tanya apa-apa di twitter HYO  aja ya. Follow twiter HYO @luckvy_s . follow aja. Dan mention yaa biar aku kenal sama semuanya😀 . Salam cinta semuanyaa dari HYO, . baca terus yaa like dan commentnya jangan lpaa😀 Makasih😀

DEVIL ENLOVQER – 44

~ BROKEN ~

 Image

“MAMA GAK MAU TAU . .. MAMA BENCI SAMA PAPA !!! SEKARANG PAPA PERGI DARI RUMAH!!!”

“Ma. . Dengerin Pa   . . “

“GAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN LAGI !!! PAPA PERGI SEKARANGGG!!!”

“Tap . . .”

“MAMA BILANG PERGI PA, PERGI !!!”

“Papa mohon mama maafin Papa.. Papa jelas . . “

“PERGI SEKARANG JUGA PA ! PERGI !!!”

“Ma . . . “

Sivia merasakan kepalanya terasa pusing. Ia perlahan membuka matanya. Cahaya terang masuk menerabas pupil matanya yang mengecil saat ini. Suara keributan dari bawah masih terdengar jelas ditelingannya.  Sivia melihat ke jam dinding. Dan masih menunjukkan pukul 3 pagi dini hari.

“Mama . . .”lirih Sivia yang dapat mendengar mamanya menangis terisak sambil histeris. Sivia mencoba bangun dari tempat tidurnya. Semalam Sivia ditemukan oleh para pembantunya pingsan dan langsung ditidurkan di kasur Sivia.

“Mama kenapa ?”Sivia mulai penasaran. Ia mengatur kesadarannya lantas berjalan untuk keluar kamar.

Sivia berjalan keluar dan menuruni tangga yang ada di rumahnya. Belum ia melangkahkan ke tangga terakhir, pemadangan tak enak ia lihat. Papa dan mamanya bertengkar hebat. Sivia menjadi binggung sendiri.

“Mama ? Papa? Kenapa bertengkar ?”tanya Sivia. Dan saat itu juga sang mama dan papa berhenti bertengkar. Pandangan mereka tertuju kepada sang anak.

Namun tak ada yang membungkamkan suara. Sampai akhirnya Sivia menemukan lembaran-lembaran foto yang tergeletak tak beraturan di lantai. Dan Sivia sendiri dapat melihat jelas apa yang terdapat di dalam  foto itu.

“Ini papa?”tanya Sivia dengan nada yang begitu pelan. Kedua orang tua Sivia terbungkamkan. Terutama sang Papa.

“Papa bisa menjelaskan sayang. Pa . .  “

“Papa selingkuh ??”Sivia melanjutkan langkahnya dan mengambil dua lembar foto tersebut. Dimana dilembar fiti tersebut terdapat jelas foto pernkahang sang papa dengan gadis yang bukan mamanya. Bahkan di lembar satu lagi.,  Foto wanita itu dengan anak gadis kecil dan disamping wanita tersebut ada papa Sivia.

“Sivia masuk ke kamar sekarang!!”suruh Bu Zia tajam kepada sang anak.

“Papa nyelingkuhin Mama??”

“Sejak kapan?”entah mengapa bibir Sivia terus berbicara. Sivia berjalan mendekati papanya yang hanya bisa terbungkamkan. Sedangkan Mama Sivia tertunduk merasakan sakit di hatinya. Mama Sivia menangis kembali.

“Di foto tertulis 27 Juli 1995 ?”

“Itu hari sebulan sebelum Sivia lahir kan Pa?”

“Papa kenapa gak jawab ?”tanya Sivia selembut mungkin. Sivia menatap nanar Pak Aziz yang menunduk kaku. Perlahan dua foto yang berada di tangan Sivia itu ia remas-remas secara perlahan. Remasan dengan kekuatan dan hatinya yang semakin sakit.

“Salah mama sama papa apa?”tanya Sivia lagi dan masih mencoba memendam semuanya. Sivia sudah cukup capek teriak-teriak dan menangis semalam karena Alvin.

“Papa jangan diam? Jelasin ke Sivia ??”

“Sudah Via. Sudah. Suruh Papa Kamu pergi!!! USir Papa kamu Viaa !!!”histeris Mama Sivia. Perlahan air mata Sivia menetes demi tetes menatap mamanya yang seperti itu.

“Sivia gak nyangka papa seperti ini sama mama”

“Via papa bi . . . “

“Sivia atau Mama gak perlu tunjukin gerbang keluar rumah ini kan Pa?”

“Pak Aziz sekarang bisa pergi kok. Dan kalau bisa Pak Aziz gak usah balik lagi. Sivia gak mau punya Papa penghianat dan munafik seperti Pak Aziz”suara Sivia begitu lembut dan pelan. Namun didalamnya terdapat suatu ketajaman yang tersyirat. Pak Aziz hanya bisa melongo. Daripada mendengar omelan istirnya lebih sakit ia mendengar ucapan sang anak kali ini.

“Papa pergi ya sekarang. “usir Sivia begitu halus sekali. Namun air mata Sivia masih terus menetes semakin deras.

“Papa sayang sama kalian. Papa mohon maafkan Papa. Papa bisa jelasin sem . . .”

“Sayang? Ini yang namanya sayang ?”Sivia mulai menyinis. Ia megembangkan senyumnya dan menunjukkan dua lembar foto yang sudah tak berbentuk di tangan kanan Sivia.

“Oh.. atau mungkin. Mama dan Sivia aja yang pergi ?”

“Rumah ini milik Pak Aziz kan? Toh selama ini Pak Aziz yang memberikan rumah dan semua fasilitas kepada Sivia dan Mama . iya kan ?”

“Yaudah Sivia dan Mama Sivia akan pergi sekarang kok”ujar Sivia dengan berupra-pura menegarkan dirinya.

“Sivia , Papa mohon jangan seperti ini. Papa minta maaf”Sivia tak menggubris sang papa. Sivia langsung berjalan mendekati sang mama.

“Ma. Ayo kita pergi saja. Kita pergi kemana saja Ma. Asal tidak disini”isak Sivia. Bu Zia yang sudah binggung dan fikirannya kacau hanya mengangguk pasrah. Sivia menuntun sang mama untuk keluar menuju pintu rumah.

Pak Aziz semakin binggung. Hatinya merasa sangat bersalah dan hatinya terasa tersayat melihat kedua orang yang sangat ia sayangi berjalan keluar dari rumah yang dulunya begitu tentram ini. Semuanya berjalan begitu cepat. Bahkan ia saja tak tau darimana sang istri mendapatkan foto-foto biadab itu.

“Sivia . . Mama. Papa mohon jangan pergi . . “tiba-tiba Pak Aziz sudah berlutut didepan Sivia dan Bu Zia. Pak Aziz begitu memohon agar kedua orang ini tidak pergi.

“Minggir Pak. Sivia sama Mama Sivia mau keluar. Buat apa kita disini? Kasihan Mama Sivia sudah sakit sekali hatinya”ujar Sivia halus dengan tubuh yang bergetar hebat. Sivia menahan suara tangisnya. Namun disampingnya ia dapat mendnegar jelas suara tangisan Mamanya yang tak bisa tertahankan.

“Ma. . Maafkan Papa. Papa mohon Ma. Jangan tinggalkan Papa. Itu sudah dulu sekali Ma. Papa khilaf dulu Ma.Papa mohon jangan pergi. Papa sayang sama mama dan Sivia. Papa mohon. . “

“PERGI!!! MAMA BENCI SAMA PAPA !! MAMA MAU PAPA CERAIKAN PAPA !! PERGI SEKARANG!!!!”teriak Bu Zia yang semakin tak terkendali. Sivia menarik sang mama dalam pelukannya. Ia begitu tak tega kepada mamanya yang seperti ini.

“Kamu boleh sakitin aku Pak? Kamu boleh marahin aku sesukamu? Kamu boleh berbuat apa saja kepadaku . Tapi tidak kepada mamaku!.”ujar Sivia begitu tajam kepada Pak Aziz. Sivia begitu langsung membenci dan muak kepada papanya. Sivia merasa semua masalahnya begitu langsung menyerangnya. Dan Sivia begitu capek dan tak kuat.

“Ayo Ma. . “ajak Sivia. Mereka berdua melanjutkan jalan kembali. Sedangkan Pak Aziz tak bisa apa-apa lagi. Sang anak dan sang istri sudah begitu membencinya. Pak Aziz hanya terdiam dan masih dalam keadaan berlutu.

Sivia merangkul sang mama. Dan menuntun sang mama berjalan karena mama Sivia tak henti-hentinya menangis.

“Non. .Non Via sama Nyonya Zia mau kemana? Pak Budi anterin ya. “ujar pak Budi yang tiba-tiba mencegah majikannya tersebut.

“Gak usah Pak”tolak Sivia halus. Pak Budi menggelengkan kepalanya keras-keras.

“Pak Budi anterin Non sama Nyonya. Ini masih jam setengah 4 pagi Non”

“Gak apa-apa pak”jawab Sivia adanya dan meneruskan jalan kembali tak peduli dengan pak Budi yang masih memaksa Sivia.

“Pak Budi ikut sama Non dan Nyonya”ujar pak Budi yang langsung menghadang Sivia dan mamanya di depan. Sivia membelakakan matanya.

“Pak Budi kerja yang baik aja buat orang itu. Pak Budi gak usah mikirin Sivia dan Mama. “

“Gak non. Sejak non kecil Pak Budi bekerja disini hanya untuk Non dan melayani Non Via. Jadi Pak budi akan ikut sama Non via “

“Pak Budi mau ikut kita? Pak Budi mau tinggal dimana? Sivia saja masih belum tau mau tinggal dimana sama mama”jujur Sivia. Pak Budi semakin tak tega melihat anak majikannya ini yang begitu kasihan sekali.

“Non Sivia sama Bu Zia bisa tinggal di rumah Pak Budi yang kosong. “

“Gak usah Pak. Sudah biarkan Sivia dan Mama pergi . Sivia mohon “ujar SIvia begitu memohon kali ini. Dan Pak Budi pun tak bisa apa-apa lagi. Karena Sivia sudah membulatkan tekadnya. Sivia kembali berjalan dan membuka pintu gerbang rumahnya yang begitu besar. Bahkan para satpam pun sempat mencegah kedua majikannya ini. Namun semuanya begitu percuma.

Sivia menuntun sang mama berjalan keluar. Sivia sendiri binggung akan kemana. Semua masalahnya memutar manis di otaknya. Yah, Manis sekali karena terlalu manis membuat Sivia begitu tersedak dan merasakan perihnya kemanisan masalahnya tersebut.

“Tuhan ? belum cukup dengan tadi ? dan sekarang ?/?”

“Apa salahku dan Mama ?”

“Apa kita berdua ditakdirkam untuk di hianati ?”

“Kenapa sakit sekali tuhan rasanya ? kenapa?”batin Sivia mulai berbicara. Tangisan Sivia tak ada henti-hentinya.

“Sivia mama capek . .”lirih Bu Zia tiba-tiba. Sivia langsung menoleh ke mamanya. Dilihatnya tubuh wanita ini sudah pucat dan matanya begitu sembab.

“yaudah kita duduk dulu Ya ma”ajak Sivia. Ia melihat di deadpan mereka ada restoran yang masih tutup. Sivia pun mengajak mamanya untuk beritirahat dulu disana.

Sivia menyuruh mamanya untuk tidur diatas pahanya. Sivia membelai lembut rambut sang mama dan perlahan Bu Zia tertidur dengan sendirinya. Sivia menatap mamanya begitu tak tega. Bahkan ia sendiri tak memfikirkan nasibnya yang baru saja di hianati oleh Alvin dan sekarang mamanya ? sungguh memiriskan.

“Gue harus kemana ? “

“Apa gue hubungi Ify ?tap  . . “

“Jangan-jangan . . ini masalah gue. Dan gue gak mau ngerepotin dia lagi “Perlahan Sivia mengusapi airmatanya dan tubuhnya yang penuh keringat. Tangan Sivia terhenti di lehernya. Ia menyentuh sebuah kalung yang selalu ia pakai dan tak pernah ia lepaskan. Yah, kalung hadiah dari sahabatnya saat ulang tahunnya 1 tahun yang lalu.

“Apa gue harus jual ini ?”

“tap.. . .’ Sivia berfikir keras. ia menatap wajah mamanya dan sekali lagi Sivia menangis kembali.

“Maafin gue Fy . . “lirih Sivia. Keputusannya adalah menjual kalung yang sedang ia pakai. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dirinya dan mamanya sudah tak punya apa-apa. Keluarga pun Sivia sudah tak punya. Sang mama merupakan anak tunggal. Dan Papanya sejak kecil sudah tumbuh di luar negri .

“Mama jangan nangis ya. Sivia ada terus buat mama. Mama jangan sedih. Mama harus semangat. Ma . . . .”Sivia terus menangis tanpa hentinya. Dan perlahan senja pagi datang. Hari pun sudah semakin pagi. Sivia melihat mamanya masih tertidur pulas. Ia tak tega untuk membangunkan sang Mama.

*****

04.00 am. Rumah Ify

Ify masih terjaga di dalam kamarnya. Sejak pertengkaran semalam Ify sama sekali tak bisa tidur. Ia masih memfikirkan kata-kata Rio yang tajam kepadanya.

“Labil? Gak punya otak ?senang-senang ?”

“Apa gue seburuk itu dimana dia ?”

“Aissghhh. . Kenapa gue jadi terus memfikirkan dia ? memfikirkan omongan dia. Ify seharusnya loe itu bodoh amat!!!!”kesal Ify kedirinya sendiri.  Ia perlahan berjalan ke kasurnya. Dan segera berbaring disana.

Ify tidak memejamkan matanya, melainkan menerawang jauh pada atap-atap langit kamarnya.

“kenapa gue bisa suka sama orang kasar seperti dia ?:”

“kenapa gue bisa jatuh cinta dengan cowok bodoh seperti dia ?”

“Kenapa gue . . AHHRGSS KENAPAAA !!!”

******

Zahra tersenyum puas di depan cermin kamarnya. Semua rencananya berhasil. Dan menurutnya ini baru awal dari semuanya. Zahra akan melakukan suatu hal sampai keluarga itu ancur seharncurnya. Yah itulah tujuan awal dia.

“Kalian semua bakal ngerasain apa yang dirasakan oleh kami selama ini . . .”

“Jangan harap kalian bisa tersenyum lagi . .”

“AKu akan membalaskan semuanya, Semuanyaaaa . . . “

Zahra menerwang kembali, dimana masa kecilnya yang begitu sangat buruk. Dimana susahnya dirinya dan mamanya bertahan hidup sampai saat ini.

“Sivia dan Nyonya Zia ??? apa yang kalian lakukan sekarang ? menangis ? meraung hahahahahaha. . “

“Atau jangan-jangan kalian sudah bunuh diri ? hahaha”

“Rasakan tuan Aziz. Loe fikir enak dicampakan ? loe fikir tidak punya apa-apa dalam hidupmu itu enak ??”

“Sekarang kamu merasakan semuanya. “

“tunggu saja pembalasanku selanjutnya. . “Zahra kemudian menagambil ponselnya yang tereletak manis di meja riasnya. Ia segera menghubi seseorang untuk menceritakan cerita ini. Siapa lagi jika bukang sang mama sendiri.

Mereka berdua bertelfonan sambil tertawa dengan puasnya. Tawa yang meremehkan dan begitu puas sekali dengan penderitaan orang lain.

*****

07.00 WIB a.m

Sivia dan mamanya masih menelusuri jalan pagi. Dimana Sivia masih mengenakan dressnya semalam dan mamanya juga memakai kemeja dan rok dibawah lutut, Sivia binggung akan membawa mamanya kemana. Mereka berdua sudah berjalan cukup jauh.

“Sivia kita kemana ?”tanya Bu Zia binggung.

“mmmm, . . kita . .kita . . “sivia benar-benar hilang ide. Otaknya sudah tak dapat dibuat bekerja lagi. Apalagi dari semalam dirinya belum makan.

“Kita . . “mata SIvia tertuju ke sebuah toko berlian yang ada di sebrang jalan. Sivia menatap toko tersebut dengan berfikir lama.

“AP ague harus menjual kalung ini??”

“tapi kalau tidak. . . .”

“Bagaimana dengan mama ??”Sivia memegang kalungnya. Masih berfikir.

“Maafin gue Fy. . “lirih Sivia. Ia menoleh kea rah mamanya.

“Ma . .mama tunggu disini dulu ya, Sivia pergi bentar aja “ujar Sivia kepada sang mama.

“Jangan lama-lama sayang. .”

“Iya . mama tunggu disini ya. .”ujar Sivia. Ia pun segera menyebrangi jalan dan masuk kedalam toko berlian itu.

Sivia melepaskan kalungnya dengan sedikit tak rela. Kalung tersebut benar-benar bagus sekali. Sivia disambut oleh pelayan toko yang menurutnya sangat cantik .

“Ada yang bisa kami bantu ?”

“Mmmm. . saya mau menjual kalung ini mbak”ujar SIvia dan menyerahkan kalungnya kepada pelayan tersebut, Pelayan itu mengambil kalung Sivia dan memeriksanya.

“Gimana mbak?”tanya Sivia karena pelayan tersebut diam begitu lama melihat kalung Sivia.

“Kamu yakin mau jual ini?”tanya pelayan perempuan itu dengan mata tak percaya.

“Iya mbak . . “

“Sebentar ya . . “pelayan tersebut menaruh kalung Sivia dan masuk menuju sebuah ruang.  Sivia menunggu saja sambil menoleh ke belakang mengawasi mamanya.

Tak berapa lama kemudian, pelayan tersebut kembali dengan membawa satu orang dan sepertinya itu adalah pemilik toko ini.

“Ini pak anaknya dan kalungnya . .”ujar pelayan tersebut. Seorang lelaki sekitar berumur 30.an segera mengecek berlian Sivia.

“Kamu jual ini ?”

“I . .y. . a  . .”jawab Sivia sedikit ragu.

“Baiklah kalau begitu. Saya akan ambilkan uangnya . “ujar orang tersebut. Sivia menganggukkan kepalanya.

Akhirnya Sivia sudah memegang uang ditangannya. Kira-kira uang yang Sivia dapat sekitar 15 juta. Dan itu sepada sekali dengan harga kalung Sivia. Sivia menyimpan uangnya baik-baik. Memegangnya erat-erat dan berjalan mendekati mamanya.

“Ma. .ayo kita cari kontrakan. .”ujar Sivia.

“Kita tidak punya uang Sivia ?”

“Sivia punya Ma. Ayo ikut Sivi”ajak Sivia. Sang mama menurut saja. Sivia memberhentikkan sebuah taxi dan segera beranjak dari sana.

*****

            07.00 SMA ARWANA

 

Ify sudah dapat menebak bahwa Sivia tidak akan masuk sekolah hari ini. Ify melengos saja di bangkunya. Bahkan sedari tadi dayat mengajaknya bicara pun tak ia tanggapi. Fikiran ify saat ini terpusat kepada sahabatnya tersebut. Memang Ify sangat cuek sekali namun tentunya ia mempunyai perasaan yang sedikit peka. Apalagi Sivia adalah sahabatnya sejak kelas 1 SMP.

“Fy .. “panggil Dayat dengan suara sedikit tinggi.

“Kenapa SIh >??”sinis Ify. Heran juga dia dengan teman barunya yang lebay sendiri,

“gue minta nomer loe . .mana ??”

“Aissghh. Emang penting banget ya ?”

“Penting banget dong . . “

“Kalau gue gak mau ngasih ?”

“Harus mau dong!!!”

“maksa banget loe !! gue gak mau”

“Ayolaahhhh”rengek Dayat

“Enggak ya enggak!!!”

“Kalau loe ngasih nomer loe. Gue akan kasih loe hadiah “ujar dayat layaknya anak kecil.

“Hadiah ? gak butuh!!”tegas Ify

“Gue pindah bangku deh gimana ?”

“Sumpah ??”ujar Ify . seperti mendapatkan beribu bintang yang gemerlapan.

“Iya . tapi kalau gue mau. Sayangnya gue gak mau!!”ujar Dayat seenaknya. Ify menatap dayat dengan tatapan tak enak.

“Ngomong sana sama tembok!!”kesal ify namun dayat Cuma nyengir gak jelas.

“Oh ya . . “ify kembali menoleh kea rah dayat,

“SOal kemarin loe gak usah cerita ke siapa-siapa “

“Mmm. . gimana ya ?”

“Loe gak usah sok mikir.l kalau sampai ada yang tau mati loe ditangan gue “

“Iya iya Alyssa. . . “

“Panggil gue Ify!!!”

“Gue mau panggil Alyssa . . “

“Gak boleh !!”

“Iya udah. Ify . “

“Nah gitu “kini giliran dayat yang melengos pasrah. Gadis ini berbe dadengan yang lainnya menurutnya.

“Nanti ayo kita kerumah Sivia”ajak dayat dan membuat ify tertarik dengan ajakan teman barunya ini.

“Loe bawah mobil?”

“Always . .”

“Oke “

“Tapi gue minta nomer loe dulu”paksa dayat yang tidak ada menyerah-menyerahnya.

“Gue boleh tanya ?”ujar Ify dingin

“Boleh dong . “

“Kalau loe sudah dapat nomer gue ? mau buat apa? Hah?”

“gue akan tiap hari pantau loe. Sms loe dimana loe berada. Gue akan jagain loe dan pastiin loe selamat hehehe”

“Sorry gue gak membuka bodygart”tolak Ify mentah-mentah.

“Ayolah Fy. . . “

“ENggak ya enggak!!”

“Ay . . “

“Sekali lagi loe maksa, gue pindah kelas !”ancam ify dan sedetik kemudian dayat langsung terdiam. Menuruti saja apa kata Ify

“Pinter”Ify pun menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Ia langsung memakai earphonenya dan mendengarkan lagu yang ia suka.

*****

Alvin sudah berada di kampusnya pagi-pagi. Ia ingin sekali member pelajaran dan meminta pejelasan kepada orang yang telah menghancurkan hubungannya dengan SIvia. Siapa lagi jika bukan Zahra.

“Dimana gadis itu ?”pekik Alvin yang sudah tidak sabar.

“Dasar gadis gilaaaa !!!”

Namun hampir 3 jam Alvin menunggu di kelasnya dan kelas 1 selesai. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Zahra. Alvin semakin kesal. Ia yakin gadis itu sedang bersembunyi darinya. Alvin pun memutuskan untuk pulang saja. Moodnya hari ini sudah tidak enak.

*****

Rio bangun dari tidurnya. Semalam ia tidur dikamar  ruang kerjanya. Toh, ruang kerjanya begitu sangat luas dan terdapat kamarnya sendiri. Rio meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Hallo. . “

“Sudah kamu siapkan semuanya ??”

“Siang ini juga berangkat !!”

“Kamu suruh orang buat bawa dia “

“terserah bagaimana caranya “

“jangan sampai sakiti dia “

“Iya .saya menunggu di bandara “

“baiklah kalau pesawatnya sudah siap “

“Ya” Rio menutup sambungannya dan meletakkan kembali ponselnya. Rio bangun dan berjalan menuju kamar mandi.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dan Rio harus segera bersiap-siap untuk meeting dengan salah satu cliennya dan setelah itu ia ada rencana pergi ke suatu tempat. Dan ia tidak ingin menghancurkan renacannya itu.

******

13.30 SMA ARWANA

 

Ify memilih untuk menunggu Dayat di luar gerbang sekolahnya. Sedangkan dayat sedang mengambil mobilnya diparkiran mobil. Ify menyuruh supirnya untuk meninggalkannya pulang. Ify menunggu dengan sabar di luar gerbang sekolah.

Namun taj jauh dari Ify berdiri, sebuah mobil APV hitam berjalan mengarah ke Ify. Ify awalnya hanya tak acuh saja. namun benar saja mobil tersebut berhenti dihadapan Ify. Ify mengernyitkan keningnya.

SREEEKKK

Pintu mobil tersebut di buka. Dan turunlan 3 orang lelaki berpenampilang sangar dan membuat ify sedikit kaget.

“Kamu harus ikut kami nona”ujar salah satu pria tersebut dan langsung membekap Ify serta mengendong Ify.

“YAAAAAA!!! LEPASKAN GUEEEE!!!”berontak ify tak karuan. Namun tenaganya tak cukup untuk melawan ketiga orang kekar ini. Ify terus mencoba memberontak.

“LEPASKAAANNN!!”Ify dimasukkan kedalam mobil dan segera dijalankan.

Didalam mobil Ify berusaha untuk melawan, namun ke tiga pria itu terlalu pintar. Mereka lamgsung membekap mata dan mulut Ify. Bahkan kedua tangan Ify serta kaki Ify diikat sangat kuat sekali.

“Pa .. . pa . . “lirih Ify. Ingatab Ify mengawali dejavu. Yah, 1 tahun yang lalu Ify pernah seperti ini. Bahkan sama persisi.

“Lepaskan aku . . . “lirih Ify. Entah mengapa ia mulai takut sendiri. Ify tak takut jika ia disekap atau pun di aniaya. Ify takut jika dia harus koma lagi. Ify takut tidak bisa bertemu dengan adiknya, papanya, teman-temannya bahkan Rio. Ify tak mau itu terulang lagi.

“Ri . . oo . . to.  Lo.  Ng. . . .”lirih batin Ify berharap Rio akan mendengarnya.

Mobil tersbut melaju semakin cepat. Sedangkan ify hanya bisa berdoa dan diam saja. ia tak dapat melihat apa-apa. Didalam mobil begitu hening sekali. Ify sendiri tak tau dia akan dibawah kemana.

*****

Dayat keluar dengan mobilnya . ia binggung karena tak menemukan keberadaan Ify. Dayat melengos pasrah.

“Pasti  gadis itu meninggalkanku. . .”

“Haissghh. . “namun mata dayat terhenti pada sebuah tas yang terjatuh begitu saja tak jauh dari trotoar jalan. Dayat berfikir sejenak, ia seperti mengenal tas tersebut.

“Itu kan tas Ify ? tapi tapi ? dimana Ify ?”binggung dayat. Ia pun segera turun dari mobilnya dan mengambil tas Ify.

“Ify dimana ?”dayat mulai cemas sendiri.

“Sebaiknya gue cari dirumahnya dulu. . “dayat pun masuk kembali kedalam mobil dengan membawa tas Ify. Ia dengan cepat menuju rumah Ify saat ini juga.

Bersambung . .. . .

Sivia dan Mamanya gimana ya nasibnya ?

Alvin ?? semangat yaa !!!

Rio mau kemana ??

Zahra ??aduuhhh semuanya sabar ngadepin Zahra .

IFY DICULIK LAGI?? OH NO !! Siapa yang nyulik ??? saya juga gak tau hihihihi. . .Berdoa untuk Ify all.

Yuukk tunggu part 45.nya yaa all:D. baca terus Oke. Dan like serta commentnya ditunggu. Ayo dong minta bantuin promosiin yaa. Makasih banyak semuanyaa😀 terus baca yaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s