DEVIL ENLOVQER – 56 ~Wilona, We Are Love You !!~

Ini part 56 nya. Silahkan baca dan semoga tambah sukaa yaa semuanyaa. Tetap jadi pembaca sejati dan selalu setia ya guys.  Jangan pernah bosen atau malas baca DELOV yaa. Laaftt youuuu all😀. Follow juga twiterku.. . Follow  HYO yaa . .  @luckvy_s

Minta bantuan LIKE FP DELOV YA “ m.facebook.com/DevilEnlovqer?ref=stream&refid=17&_ft_=fbid.526136394072619

 “ Yang suka baca DELOV dan pembaca setia DELOV wajib LIKE FP ini. Plis banget yaa makasih😀

 

DEVIL ENLOVQER – 56

~Wilona, We Are Love You !!~

 

            Semua berjalan seperti biasanya. Ify,Sivia pergi ke sekolah SMA ARWANA. Iqbal dan Salsha sendiri semakin akrab. Shilla pun masik sibuk dengan kuliah di semester awalnya. Begitu Alvin ia ingin menyelesaikan kedoketerannya dengan cepat. Rio sendiri memilih cuti setahun dengan kuliahnya.Karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak sempat membagi waktunya dengan jam kuliahnya.

*****

SMP ARWANA

            Iqbal dan Salsha sedang asik makan siang di kantin. Hari ini ada perlombaan di SMP Arwana. Dimana perlombaan antar kelas menyebabkan siswa dan siswinya tidak ada pelajaran. Hanya bahasan-bahasaan ringan yang dibahas dua anak ini.

 

“Kamu nanti syutting??”tanya Iqbal sambil memakan nasi gorengnya. Salsha yang berada di depan Iqbal hanya mengangguk ringan.

 

“Pulang jam??”

 

“Malam mungkin. Kenapa emangnya ??”jawab dan tanya Salsha balik. Penasaran juga dirinya karena Iqbal tidak biasanya bertanya itu kepadanya.

 

“Gak apa-apa. Niatnya pingin nemenin kamu”jawab Iqbal datar namun dapat membuat Salsha salah tingkah sendiri.

 

“Yaudah gak apa-apa kok. Tapi kamu gak bosen nanti nungguin aku syutting??”

 

“Gak lah ngapain bosen. “

 

“Yaudah terserah kamu aja”

 

“Hmm. . “

 

DDRRTTDRTTT

 

Ponsel Iqbal berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Iqbal melihat siapa yang menelfonnya tersebut.

 

“Wilona??”batin Iqbal heran. Iqbal pun menyerahkan ponselnya ke Salsha. Salsha malah binggung sendiri.

 

“Wilona nelfon”jawab Iqbal santai. Salsha melihat ke layar ponsel Iqbal dan benar saja ponsel Iqbal pun masih terus berdering.

 

“Angkat aja”suruh Salsha mengembalikkan kembali ponsel Iqbal kepada yang punya.

 

“Gak”

 

“Udah angkat aja!!!”paksa Salsha. Iqbal mengernyitkan keningnya menatap Salsha sesaat.

 

“Gue gak cemburu. Angkat bal!!”Iqbal pun menuruti saja apa yang dimau oleh Salsha. Iqbal lantas meraih ponselnya, menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telingannya.

 

Iqbal terdiam cukup lama. Ia mendengarkan saja apa yang diucapkan oleh orang yang ada disebrang sana. Perlahan wajah Iqbal mulai sedikit berubah dan berubah. Salsha yang sedari tadi menatap sang kekasih hanya binggung campur penasaran.

 

“Bal kenapa ??”tanya Salsha karena Iqbal tak mengatakkan apapun. Hanya diam saja sedari tadi.

 

“Bal kam . .. “

 

Salsha hanya bisa mematung. Iqbal lantas meninggalkannya bgitu saja dan berlari dari hadapannya seperti kilat. Salsha terdiam sejenak. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan Iqbal.

 

“Gue susul aja deh”serah Salsha. Ia pun langsung meninggalkan kantin dan ikut berlari menyusul Iqbal yang telah hilang dari hadapannya.

 

            Salsha mencari-cari Iqbal dimana-mana. Sampai akhirnya ia menemukkan Iqbal yang sudah berada di luar gerbang sekolah dan masuk kedalam sebuah taxi. Salsha semakin binggung dan pensaran. Salsha pun kembali ke dalam sekolah pergi keruang BK untuk meminta izin keluar sebentar dari sekolah.

            Setelah mendapatkan surat Izin keluar dari sekolah. Salsha segera ke parkiran lebih tepatnya ke mobilnya. Ia meminta kepada sang supir untuk diantarkan ke rumah sakit. Salsha yakin Iqbal pergi ke rumah sakit untuk menemui Wilona.

 

*****

RUMAH SAKIT ARWANA

 

            Iqbal segera turun dari Taxi. Ia pun langsung berlari menuju ke ruang ICU dimana ia ingin menemui seseorang. Yang menelfon Iqbal tadi adalah mama Wilona. Mama Wilona mengharapkan kedatangan Iqbal dirumah sakit karena kondisi Wilona yang sudah begitu kritis. Iqbal sendiri yang masih punya perasaan kepada Wilona tak mau berfikir lama. Ia langsung pergi kerumah sakit.

 

            Iqbal sudah berada didepan ruang ICU. Dimana kedua orang tu Wilona sedang cemas menunggu sang anak. Iqbal menyalami kedua orang tua wilona dengan sopan.

 

“Gimana keadaan Wilona tante? Om??”tanya Iqbal yang benar-benar sangat cemas sekali.

 

“Kami juga tidak tau Bal. Wilona tadi pagi mengalami kejang-kejang hebat”isak Mama Wilona. Iqbal semakin cemas  dan hanya bisa berdoa.

Pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter wanita keluar dari pintu tersebut. Mama dan Papa wilona lantas mendekati sang dokter begitu juga dengan Iqbal.

 

“Ada yang bernama Iqbal??”tanya dokter tersebut. Dan membuat binggung ketiga orang ini untuk sesaat.

 

“Saya dok”jawab Iqbal mulai tersadar dari kebingungannya.

 

“Wilona ingin bertemu dengan kamu. Silahkan masuk”suruh sang dokter. Iqbal menganggukan kepalanya dan mengikuti sang dokter untuk masuk kedalam.

 

            Iqbal diberikan sebuah baju penyeterllin terlebih dahulu dan juga masker yang harus ia gunakan. Agar tidak ada bakteri atau kuman yang masuk diruangan ini sehingga tidak membahayakan pasien. Setelah memakai baju yang diberikan dokter tadi. Iqbal diarahkan menuju kesebuah ruangan dimana Seorang gadis bertubuh ramping itu terbaring lemah.

            Iqbal sangat tidak tega melihat kondisi Wilona. Iqbal baru sadar bahwa ia merindukkan gadis ini. Gadis yang pernah menjadi kekasihnya, gadis yang pernah menempati hatinya dan gadis yang setia menunggunya dan menantinya selama setahun lamanya.

            Iqbal berjalan perlahan mendekati Wilona. Dimana Wilona dalam keadaan sadar dan mata  yang terbuka. Namun terlihat jelas bahwa kondisi gadis itu begitu tidak baik. Wilona yang merasakan adanya kehadiran seseorang lantas melirik kearah Iqbal. Wilona berusaha menyunggingkan senyumnya. Dimana Wilona menggunakan banyak alat medis. Mulai dari 3 Infuse di kedua tangannya dan juga di kakinya. Masker oksigen di hidungnya . Dan berbagai alat lainnya.  Semua dokter memilih untuk keluar dulu membiarkan dua anak ini berbincang-bincang.

 

“I . q . ba. . l . .”lirih Wilona yang mulai meneteskan air matanya yang mengalir kea rah samping.  Iqbal meneguk ludahnya dalam. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.

 

“Ma .. .af”lanjut Wilona lagi. Iqbal mengigit bibirnya berusaha menahan semuanya. Menahan rasa rindunya menahan rasa kasihannya. Menahan rasa tidak tegannya. Ia masih mencintai gadis ini. Yah, gadis ini adalah cinta pertama Iqbal.

 

“Ak . . u . .mi . n. .ta .ma . . af”ujar WIlona dengan sekuat tenaga. Wilona mencoba mengangkat tangannya. Ia berusaha meraih tangan Iqbal. Iqbal pun membiarkan saja tangan Wilona menyentuh tangannya.

 

“Ka .. mu .. ba . ha.  Gi . .a se . ka .rang??”Iqbal masih memilih untuk diam saja. Wilona tidak bisa menyembunyikkan rasa kerinduannya kepada Iqbal. Wilona semakin membiarkan air matanya semakin deras mengalir saat ini.

 

“Ak . u .. ta ..hu. . ka . mu .. ba. . ha .  gia”

 

“Per .. gi . .lah. . “surub Wilona dengan mengembangkan senyumnya yang terlihat memiriskan dimata Iqbal. Wilona  melepaskan begitu saja tangan Iqbal.  Wilona langsung mengalihkan pandagannya dari Iqbal.

            Keheningan di dalam ruangan ini sejenak terjadi. Sampai akhirnya Iqbal berani membungkamkan suaranya untuk pertama kalinya.

 

“Mana yang sakit?”tanya Iqbal begitu saja. Wilona sedikit kaget dengan pertanyaan Iqbal. Ia lantas menolehkan wajahnya perlahan untuk menatap Iqbal lagi. Wilona berusaha menyembunyikkan rasa dadanya yang semakin sakit sekali.

 

“ga . k . . ad . .a”jawab Wilona sambil tersenyum. Ia berharap Iqbal tidak khawatir dengannya.

 

“Bohong!!!”balas Iqbal dengan tajam.

 

“Ak .. . u ga . k apa- . apa bal”lanjut Wilona mencoba meyakinkan Iqbal. Wilona mencengkram kedua jemarinya. Ia menguatkan dirinya lagi agar tidak semakin lemas. Ia merasa aliran darahnya perlahan mulai memelan. Detakan jantungnya pun sudah tidak beraturan lagi.

 

“Kenapa sih loe suka banget nyiksa gue??”

 

“Ak . .. .”

 

“Gue binggung wil. Gue sayang sama loe. Gue cinta sama loe. Gue pun akan mau bertahan sampai akhir dan berusaha untuk selalu disisi loe. Tapi kenapa loe nyuruh gue buat ngelepasin loe? Salah gue apa??”

 

“Dan sekarang ngelihat keadaan loe yang seperti ini gue binggung harus ngapain ??? gue gak tega lihat loe kayak gini. Loe tersiksa kan? Siapa yang nyemangatin loe tiap hari waktu gue pergo? Siapa yang jaga loe?”

 

“Ma . ma. Pa . pa”jawab Wilona tenang.  Iqbal menghelakan nafas panjangnya sejenak. Ia tau bahwa gadis didepannya ini sedang menyembunyikkan semua rasa sakitnya.

 

“Gue pulang. Kasihan Salsha pasti nyari gue disekolah”ujar Iqbal datar. Entah menagapa kata itu terluar begitus aja dari mulutnya dan membuat Wilona merasakan dadanya tambah terasa sakit sesakit apapun. Iqbal mulai membalikkan badanya. Ia tau bahwa saat ini Wilona pasti menangis karena ucapannya tadi.

 

“JANGAN PERGII!!!”teriak Wilona begitu keras dan membuat iqbal langsung mengentikkan langkahnya. Iqbal perlahan membalikkan badanya dan ia membelakakan matanya begitu lebar melihat Wilona yang sudah melepaskan semua peralatan medisnya secra paksa dari tubuhnya. Dan kini Wilona mencoba untuk turun dari ranjangnya.

 

“Apa yang loe lakuin?”kaget Iqbal. Ia segera berjalan cepat kearah Wilona dan memegangi tubuh Wilona yang hampir roboh. Kondisi Wilona memang sangatlah lemas sekali. Wilona menangi sejadinya. Ia tak peduli tubuhnya sata ini sudah seperti apa. Ia hanya ingin meluapkan semuanya yang ia pendam selama ini.

 

“Gue gak kuat bal. Udah cukup gue gak kuat !!!”isak Wilona perlahan tubuhnya mulai melemas dan roboh terduduk., Iqbal yang kebingungan pun ikut duduk untuk memegangi tubuh Wilona yang terasa dingin. Iqbal diam saja membiarkan Wilona yang terus menangis.

 

“Gue menderita selama ini. Gue kangen sama loe. Gue kangen loe ada di sisi gue. Gue bodoh !! gue sangat bodoh !!!”

 

“Gue gak rela loe sama Salsha. Gue gak rela bal. Gue iri !! gue cemburu . Gue takuttt .. loe lupain gue dan gak cinta sama gue lagi . . !!!”Wilona mendudukan wajahnya tak bisa menahan rasa sakit di dadapanya yang semakin sesak.

 

“Wil .. udah . udah jangan nangis lagi. Udah . .”bisik Iqbal mencoba menenangkan Wilona yang semakin tak terkontrol tangisnya.

 

“Bal loe masih cinta kan sama gue? Loe gak lupa kan sama gue? Loe kangen sama gue? Loe gak kasihan kan sama gue ? loe . loe . loe  . . . .”Wilona tak mampu untuk berkata kembali. Hanya tangisannya lah yang dapat mengungkapkan semua segala perasaanya saat ini. Iqbal yang semakin tidak tega dengan Wilona lantas memeluk Wilona begitu erat.

 

“Maaf . Maafin gue Bal. Maaf”

 

“Ssttt loe gak pernah salah. Gue selalu cinta sama loe. Gue juga selalu kangen sama loe”

 

“Ba . . l . . .”Wilona perlahan memejamkan matanya. Ia merasa semuanya sudah ia lakukan. Ia sudah mengatakkan sejujurnya kepada Iqbal bagaimana perasaanya yang sesungguhnya.

 

“Ma , ,ka .. si . h .. “

 

            Iqbal merasakan bahwa tubuh wilona sudah lemas. Bahkan Iqbal tak merasakan hembusan nafas Wilona sama sekali. Iqbal melepaskan Wiloan dari pelukannya. Dan benar saja mata Wilona sudah terpejamkan. Tubuhnya pun seperti tidak ada tenaganya sama sekali sangatlah lemas.

            Iqbal mulai panik sendiri. Ia binggung harus apa saat ini. Iqbal menepuk-bepuk pipi Wilona beberapa kali.

 

“Wil.. Wil. . bangun. . Wil .  . “

 

“Wil loe gak bercanda kan??”

 

“Wil please gue mohon loe bangun. . Wil  . . “

 

“DOKTEERRRR !!! DOKTEEERRRRR!!!”teriak Iqbal yang sudah benar-benar kalut. Ia tetap mencoba membangunkan Wilona. Namun gadis itu masih belum tersadarkan juga. Dan beberapa Dokter akhirnya masuk kedalam ruangan ini dan segera mengatasi Wilona. Iqbal pun disuruh untuk menunggu diluar terlebih dahulu.

            15 menit kemudian semua dokter keluar dari ruang ICU. Kedua orang tua Wilona, Iqbal dan sudah ada Salsha disana lantas mendekati sang dokter untuk mengetahui bagaimana kondisi Wilona.

 

“Maafkan kami. Kami sudah berusaha sebisa mungkin. Semoga kalian bisa tabah semuanya. Maaf”ucapan Dokter tersebut seperti sebuah sambaran petir bagi Iqbal dan kedua orang tua Wilona. Salsha sendiri langsung menganga tak percaya.

 

Kedua orang tua Wilona langsung berlari masuk kedalam . Sedangkan Iqbal mulai terduduk lemas menyenderkan tubuhnya di sebuah tembok. Iqbal seperti tak mempunyai daya lagi untuk melakukanj apapun. Ia tak bisa emmfikirkan apapun saat ini.

 

“Dia pergi ? dia pergi ninggalin gue ? Dia pergi ??”Salsha mendekati Iqbal mencoba memenangkan kekasihnya itu yang sudah ngelantukr tak jelas.

 

“Bal. . “

 

“Dia beneran pergi ?? kenapa?? Dia gak tau kalau gue sayang sama dia ?? gue ngelakuin apapun demi dia”Salsha menahan agar ia tidak cemburu. Ia menahan semuanya. Sedangkian Iqbal semakin melantur tak jelas. Perlahan air mata Iqbal mulai mengalir dengan sendirinya.

 

“Wil . . wilona . .jangan tinggalin gue. . Gue cinta sama loe. . Sayang sama loe . .”

 

“Loe gak boleh pergi . .”

 

“Wilona  .. .”Salsha memejamkan matanya. Ia berusaha mencoba menutup telingannya memberikan suggesti pada dirinya sendiri agar tidak mendengarkan apapun yang Iqbal katakan saat ini.

 

“Gue gak mau dia pergi Sha. . “Iqbal menolehkan wajahnya kearah Salsha yang ada disampingnya. Iqbal seolah mengajak Salsha berbicara dan meluapkan perasaanya sekarang.

 

“Bilang ke dia. Jangan bolehin dia pergi. Gue masih sayang sama dia. Gue gak mau dia ninggalin gue. Dia pacar pertama gue. Gue gak mau dia pergi. “

 

“Sha loe dengerin gue kan?? Loe tau kan gue sayang banget sama Wilona . “Salsha menganguk-angguk dengan menahan rasa sakitnya. Air matanya sudah membendung di matanya. Namun ia tak mau mengeluarkannya . Ia tak mau membuat Iqbal sakit.  Salsha rela saja dan memedam rasa sakitnya saat ini. Salsha cemburu dan pastinya sakit hati sekali akan ucapan Iqbal tersebut. Seluruh tubuh Salsha seperti ditancapkan jarum-jarum yang sangat tajam.

 

“Gue Cuma mau Wilona. . . .”

 

\*****

Keesokannya . . .

 

            Kabar meninggalnya Wilona sudah menyebar kemana-mana. Bahkan Sivia dan Shilla yang begitu dekat dengan Wilona tidak bisa menerima kenyataan ini. Mereka berdua menangis terus-terusan. Ify juga merasa sangat kehilangan, Meskipun ia tidak begitu dekat dengan Wilona tapi ia sudah menganggap Wilona seperti adiknya sendiri. Begitu juga dengan Alvin dan Rio mereka berdua sangat merasa terpukul. Mereka sendiri belum sempat mengucapkan kata perpisahan kepada Wilona.  Mereka begitu menyesal karena tidak bisa berada disamping Wilona saat gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya.

            Iqbal sedari kemarin hanya memilih diam saja . Ia sama sekali tak mau mengucapkan sepatah kata pun. Iqbal hanya mau makan jika Salsha yang menyuruh. Bahkan Salsha harus menguatkan hatinya saat Iqbal selalu menannyakan Wilona kepadanya. Iqbal masih belum menerima kenyataan bahwa Wilona telah pergi.

*****

            2  hari kemudian. . . .

 5 hari itu Iqbal tak mau keluar dari kamarnya sama sekali. Yang Iqbal lakukan hanya memandangi laptopnya melihat foto-fotonya berasama wilona. Melihat dan mencari semua kenangannya selama ini dengan Wilona.

 

“Bal, Makan dulu”suruh Ify saat ia membawakan makanan untuk sang adik. Ify tidak tega melihat Iqbal yang sangat kehilangan wilona.

 

“Kak Wilona gak kesini ??”tanya Iqbal dengan wajah datarnya kepada Ify. Ify menunjukkan wajah kesedihannya. Ia tau bahwa adiknya ini begitu mencintai Wilona lebih dari apapun.

 

“Salsha yang kesini Bal”ujar Ify jujur. Salsha sendiri sudah menunggu di belakang  pintu kamar Iqbal. Salsha  segera mengusap air matanya. Setiap hari sellau Wilonalah yang Iqbal tanyakan. Salsha mencoba tetepa kuat. Salsha rela tidak melakukan Syuttingnya hanya demi Iqbal. Salsha ingin menemani Iqbal terus. Salsha takut Iqbal kenapa-kenapa.

 

“Salsha ??. Oh . “jawab Iqbal datar lantas kembali menatap laptopnya. Bahkan PSP putih Iqbal sendiri yang biasanya menjadi soulmatenya pun dianggurkan oleh Iqbal. Iqbal benar-benar sedang terpuruk saat ini.

 

            Ify menaruh  makanan Iqbal di atas meja. Ia lantas kelaur dari kamar Iqbal begitu saja dan membairkan Salsha masuk kedalam kamar adiknya tersebut.

            Salsha sendiri menuruti apa yang disuruh oleh Ify. Salsha masuk kedalam kamar Iqbal dan mendekati sosok tersebut. Salsha harus menguatkan hatinya saat ini. Ia tidak boleh ter;ohat rapuh dan tidak boleh cemburu .

 

“Bal .. “panggil Salsha.

 

“Wilona. . “ujar Iqbal saat mendengar ada yang memanggil namnaya. Iqbal menolehkan wajahnya menatap Salsha yang emncoba tetap tersenyum walaupun hatinya sangat sakit.

 

“Gue Salsha bal. Makan yuk”ajak Salsha mencoba sabar.  Salsha mengambil makanan Iqbal di meja dan mendekati Iqbal yang ada diaatas kasur.

 

“Ayo bal Makan. . “ujar Salsha yang menyuapkan satu sendok nasi. Namun Iqbal segera menolaknya.

 

“Gue mau Wilona yang nyuapin”Salsha terdiam sejenak. Ia tak tau harus apa sekarang/. Posisinya sangatlag mengenaskan saat ini

 

“Iya . Nanti gue panggilin Kak Wilona ya Bal.  Tapi sekarang kamu makan dulu”

 

“Gue maunya sekarang. Wilona itu pacar gue. Cinta gue jadi gue hanya mau Wilona saja. “mendengar ucapan Iqbal tersebut. Salsha merasa tidak kuat. Salsha meletakkan begitu saja makanan Iqbal diatas kasur lantas berlari keluar dari kamar iqbal dengan air mata yang mengalir begitu deras di pipinya. Salsha tak dapat menahannya lagi.

 

            Ify yang masih tetap menunggu di luar kamar Iqbal hanya bisa memejamkan matanya ketika sang adik mengatakkan kalimat tersebut. Sebagai sesama perempuan Ify juga sangat merasa sakit. Ia tau bagaimana hati Salsha saat ini.

 

“Kak . . “isak Salsha dan langsung memeluk Ify ketika ia sudah berada diluar. Ify pun tak segan-segan untuk mmebalas pelukan Salsha yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.

 

“Udah sha. Jangan nangis . . Udah   . .”

 

“Kak sampai kapan Iqbal kayak gitu?? Salsha gak kuat kak. Iqbal sayang banget sama Kak Wilona. Iqbal gak nganggap Salsha ada kak. Iqbal . . iq .  “

 

“Ssstt . . Iqbal cinta sama kamu Sha. Dia Cuma butuh waktu aja buat ngelupain Wilona. Dia masih terpuruk”

 

“Tapi Salsha sakit kak dengar Iqbal selalu muji Kak Wilona. Selalu berkata kalau Kak Wilona gadis yang hanya iqbal cinta. Terus Salsha apa ?? salsha apa kak??”Ify perlahan melepaskan pelukan Salsha. Ify menghampus air mata gadis manis didepannya ini.

 

“Kamu sayangkan sama adik kakak?? Kamu harus bertahan. Iqbal tidak akan lupa bahwa dia punya pacar seperti kamu.  Iqbal sayang dan cinta sama kamu meskipun ia juga masih cinta dengan Wilona. “

 

“Kamu yang sekarang pacar dia bukan Wilona. Wilona sudah tenang di surga sana. Dan kamu harus buktiin kepada Iqbal. Kalau kamu bisa lebih baik daripada Wilona. Mengerti ??”Mendengar penjelasan Ify seperti tadi. Hati Salsha mulai tenang. Ia menyakinkan hatinya dan mencoba untuk kembali tegar.

 

“Iya kak. Makasih banyak. Salsha janji Salsha akan buat Iqbal kembali seperti Iqbal seperti semula” Ify mengembangkan senyumnya. Ia merasa senang akhirnya Salsha bisa membuka hatinya dan mencoba lebih tegar.

 

“Sekarang kamu masuk. Hibur Iqbal. Biarkan saja dia masih menyebut nama Wilona. Kamu harus selalu kuat. “

 

“Iya kak. Salsha masuk dulu”Salsha lantas membalikkan badanya. Ia sudah merasa tenang saat ini. Salsha kembali masuk kedalam kamar Iqbal. Salsha ingin mengembalikkan Iqbal seperti yang dulu.

           

            Ify sangat salut kepada Salsha. Ify saja pastinya fikir-fikir dahulu jika menjadi Salsha. Ify yakin bahwa Salsha adalah yang terbaik buat adiknya. Dan Salsha sangat mencintai Iqbal dengan begitu tulus.

*****

JAPAN, 20.00 P.M

            Agni lama-lama risih juga. Setelah keluar dari meeting dengan salah satu clien perusaan Jepang. Cakka terus mengikuti dibelakangnya. Bahkan saat ini pun mereka berdua sedang menuju kesebuah restoran untuk makan. Dan Cakka terus saja mengikutinya.

 

“Maaf ya Pak Cakka. Bisakah anda berhenti mengikuti saya??”pinta Agni berusaha sesopan mungkin. Namun Cakka hanya cengengesan tidak jelas sambil garuk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

 

“Jangan panggil Pak. Saya juga tidak tua-tua amat. Panggil saja Cakka”ujar Cakka dengan wajah sok malu-malu dan membuat Agni bergidik ngeri sendiri.

 

“terserah loe deh”kesal Agni. Ia pun masuk kedalam sebuah restoran Indonesia di Jepang. Cakka pun memilih untuk mengikuti Agni kembali.

            Mereka berdua sudah dua hari di Jepang. Dan seperti ini, Agni selalu merasa terganggu dengan sifat Cakka yang aneh. Namun Cakka pun tak ada henti-hentinya untuk mengikuti Agni. Cakka mungkin sudah terpanah dengan pesona gadis manis tersebut.

            Agni pun hanya berharap bahwa seminggu itu  tidak lama baginya. Agni hanya ingin pulang saat ini.

****

Apartemen Shilla.

            Shilla sedang asik menonton televisi di kamarnya. Ia melihat ponselnya yang bergetar dan terdapat sebuah panggilan dari sang kekasih. Shilla terpelonjat kaget dan begitu sangat senang sekali. Shilla segera mengangkat telfon tersebu.

 

“Sayang . . .”teriak Shilla begitu senang sekali.

 

“Hah? Lusa ?? beneran kamu ke Indonesia ??”

 

“YESSSS”

 

“Senang banget dong. Apa perlu gue jemput di bandara??”

 

“Yaahhh. Yaudah deh iya iya gak apa-apa kok”

 

“Hati-hati perjalanannya yah”

 

“Berapa hari kamu di Indonesia??”

 

“Beneran ?? Ahhhh, . sudah gak sabar aku nungguin kamu.. Aku kangen banget sama kamu . “

 

“Hmm. Baiklah. See you my honey. “

 

“Bye”

 

            Setelah sambungan telfon itu terputus , Shilla menciumi ponselnya seperti orang gia. Ia bahkan loncat-loncat diatas kasurnya. Shilla begitu sangat senang. Bukan hanya Kakaknya saja yang datang ke Indonesia melainkan sang kekasih pun juga akan mengunjunginya. Shilla tidak sabar menunggu haru lusa mendatang.

 

****

            Malam ini Sivia akan pindah kerumahnya. Ify membantu membereskan dan membawakan barang-barang Sivia kedalam mobil. Mama dan Papa Sivia pun telah baikkan lagi setelah sekian lama mengalami perseteruan. Sivia sendiri sudah memaafkan sang Papa. Bahkan Papa Sivia semakin sayang kepada anaknya dan Mama Sivia.

            Ify hanya bisa mengantarkan Sivia kedepan rumah saja, Karena Ify tidak tega meninggalkan adiknya yang seperti itu.

“loe beneran gak apa-apa sendirian?”tanya Sivia sebelum masuk kedalam.

 

“Iya iya. Dari dulu juga gue terbiasa sendiri kan sama Iqbal”jelas Ify mencoba menyakinkan sahabatnya ini sekian kalinya.

 

“Makasih buat semuanya, gue gak tau harus berterima kasih kayak gimana. Loe selalu ada buat gue. Makasih Fy”ujar Sivia tulus dari hatinya dan memeluk Ify begitu erat. Ify mengangguk-angguk dalam pelukan Sivia. Fikiran Ify masih terpecahkan karena keadaan iqbal.

 

“Gue besok kesini lagi kok”

 

“Iya . loe akur ya sama papa dan mama loe. Jangan sedih lagi”sahut Ify lantas melepaskan pelukan Sivia.

 

“Siap Boss. Gue masuk dulu . Bye-bye Ify” Sivia masuk kedalam mobilnya yang sudah ada sang papa didalamnya dan juga mama Sivia.

 

“Makasih ya Fy”pamit Mama Sivia. Ify mengangguk dan menyunggingkan senyumannya kepada Papa dan mama Ify. Tak lama kemudian mobil Sivia beranjak dari depan rumah Ify.

 

            Ify membalikkan badanya, Ia ingin masuk kedalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti sebentar melihat Salsha keluar dari rumahnya dengan wajah yang sangat kusut sekali.

 

“Kenapa Sha??”tanya Ify kepada gadis mungil dihadapannya sekarang. Salsha menggelengkan kepalanya lemas. Terlihat jelas sekali oleh Ify Salsha habis menangis.

 

“Salsha pulang dulu ya Kak. Salsha juga habis inia da syutting”

 

“Yaudah . Perlu kak Ify antarkan?”

 

“Gak usah kak. Salsha naik Taxi aja”

 

“Gak gak. Kamu biar dianterin sama supirnya Iqbal. Kmau tunggu disini”

 

“Pak anterin Salsha pulang kerumahnya ya”ujar Ify kepada supir Iqbal yang juga sedang membersihkan mobil di garasi mobil. Sang supir pun mengangguk sopan.

 

“Maaf ya sudah nyusahin kamu terus. Kamu jangan nangis terus. Gak baik”ujar Ify mencoba menyemanggati Salsha. Salsha mengangguk untuk menunjukkan bahwa dia memanglah gadis yang tegar.

 

“Salsha pulang dulu ya Kak. Salsha besok kesini lagi kok”

 

“Iya. Hati-hati Sha”ujar Ify. Ia menunggu Salsha sampai gadis tersebut masuk kedalam mobil. Tak lama kemudian mobil yang mengantarkan Salsha pulang pun beranjak dari rumah Ify. Ify diam sejenak didepan rumahnya. Ia memfikirkan bagaimana menyadarkan Iqbal saat ini.

 

“Gue kakaknya, gue pasti bisa buat Iqbal sadar”batin Ify didalam hatinya. Ia pun memilih masuk kedalam rumahnya tepatnya menuju ke kamar Iqbal.

****

            Ify perlahan membuka kamar Iqbal, Ia yakin adiknya masih belum tidur. Benar saja Ify melihat Iqbal yang asik membuka-buka album foto yang berisikan foto Iqbal dan Wilona. Ify menahan semua emosinya sesaat . Ia berjalan mendekati Iqbal.

 

“Hey”panggil Ify pelan dan cukup terdengar sampai ketelinga adiknya. Iqbal menoleh sebentar ke Ify dengan wajah yang datar. Lantas kembali fokus di album foto tersebut.  Ify duduk disamping Iqbal. Ia menghelakan nafas panjangnya.

 

“Gue tau loe sangat cinta dengan Wilona. Tanpa loe jelasin gimana perasaan loe kayak apa. Gue bisa lihat itu semua”Ify mulai membungkamkan suaranya. Namun Ify sama sekali tidak menolehkan wajahnya kearah Iqbal. Ify ikut mengambil satu album foto tersebut dan ikut melihatnya.

 

“Tapi loe harus sadar. Bahwa Wilona sudah gak ada”saat Ify mengatakkan kalimat tersebut, Ify dapat merasakan tatapan Iqbal yang mematikkan kearahnya. Namun sebisa mungkin Ify tetap tenang.

 

“WILONA MASIH HIDUPP”

 

“Dalam hati loe”

 

“GAK!!”bentak Iqal dengan kasar merebut album foto ditangan Ify.  Ify menyunggingkan senyum sinisnya. Ia menolehkan wajahnya kearah Iqbal. Dan terjadilan peraduan tatapan tajam antara kakak-adik ini.

 

“Gue kakak loe. Dan gue gak suka loe kayak gini . Ngerti ??”

 

“Dan gue juga gak suka loe bilang Wilona sudah gak ada. Ngerti?”balas Iqbal tak kalah tajam.

 

“Perlu gue bawain nissannya kesini? Atau mau gue paketin melalui kant . . .”

 

“DIAAAMMM!!!”

 

“Loe gak kasihan sama Salsha?? Dia pacar loe !! loe sadar gak sih!!”

 

“STOOPP KAK!!”

 

“Wilona udah gak ada bal. Yang ada sekarang Salsha. Loe harus terima kenyataan sem . . “

 

“KELUAR DARI KAMAR GUE!!!”usir Iqbal dengan teriakan yang menggelegar dikamarnya. Ify memejamkan matanya mencoba mengontrol telingannya yang terasa ingin pecah akibat kerasnya teriakan Iqbal tersebut.

 

“Mama sama Papa gak pernah ngajarin anaknya jadi lemah kayak gini. Iya kan?”kini suara Ify mulai lembut. Membuat Iqbal terdiam untuk sesaat.

 

“bahkan gue pun gak pernah ngajarin loe cenggeng kayak gini”Ify membalikkan bandanya sehingga menghadap Iqbal saat ini. Ify meraih semua album foto yang berada di depan Iqbal.

 

“Berhenti kayak gini Bal. Terima semuanya. Terima kalau Wilona udah gak ada. Bukan salah loe jika Wilona pergi. Dan gue yakin Wilona pasti sedih disana kalau ngelihat loe kayak gini”

 

“Dia belum pergi kak. Wilona masih hidup!!”Ify mengigit bibirnya. Emosinya mulai ingin keluar. Ia tidak tau lagi bagaimana menjelaskan kepada Iqbal.

 

“Terserah loe”nyerah Ify. Ia membuang begitu saja album foto tersebut sehingga berserakkan di atas kaur Iqbal. Ify berdiri dari kasur Iqbal.

 

“Ini Hidup-hidup loe. Gue juga gak ngerti jalan fikiran loe, Tapi loe harus tau

 

“Gue kakak loe. Gue gak suka loe kayak gini. Loe udah 5 hari gak sekolah. Mau sampai kapan? 1 tahun ? loe mau papa kecewa? Loe mau mama disana kecewa?? Gue tau bal gimana rasanya kehilangan. Gue udah kehilangan 2 orang terpenting di hidup gue. Mama dan kak Sion. Dan gue tau rasanya sakit kan? Sakit banget!!!”

 

“Tapi gue nyoba bangkit. Gak terpuruk terus kayak loe!!”Ify pun lantas beranjak keluar dari kamar Iqbal. Namun saat berada di depan pintu kamar Iqbal. Ify menghentikkan langkahnya. Ia membalikkan badanya kembali menatap Iqbal yang masih terdiam.

 

“Satu lagi bal. Loe punya pacar namanya Salsha. Loe jaga perasaan dia. Jangan sakitin dia Bal”Ify pun meninggalkan kamar Iqbal yang terasa sunyi saat ini. Ify meninggalkan sang adik yang sepertinya sedang mencerna semua kata-katanya tadi.

*****

            Ify berjalan turun tangga, ia menuju ke ruang tamu karena sedari tadi Ify sudah merasa ada mobil Rio didepan rumahnya. Dan benar saja, Rio sudah asik duduk di ruang tamunya. Rio yang melihat kehadiran Ify lantas tersenyum.

 

“Udah gak usah terlalu difkirin”ujar Rio yang memang mendengar pertikaian antara Ify dan Iqbal tadi. Ify masih memasang wajah lusuhnya. Ia berjalan mendekati Rio dan duduk disamping Rio.

 

“Tau ah. Gak usah dibahas”balas Ify masih sedikit emosi.

 

“Iya iya. Loe udah makan???”tanya Rio mencoba mengalihkan topik.

 

“Udah tadi sama si Day”

 

“Day? Kucing loe??”

 

“Iya”jawab Ify santai. Sekarang gantian Rio yang memasang wajah tak enak.

 

“Kucing lagi Kucing lagi”gerutu Rio pelan dan menyebakkan Ify terkekeh sendiri.

 

“Kan gue udah ganti namanya menjadi Day. Bukan Day . . “

 

“Stooppp Stoopp gak usah loe lanjutin lagi. Stooop”potong Rio dengan wajah tak terimanya. Dan sekali lagi membuat Ify tertawa ringan. Wajah Rio sangatlah lucu ketika Ia cemburu ataupun kesal seperti ini.

 

            Baru saja Ify menghentikkan tawanya, Seekor kucing lucu menghampiri Rio. Ify pun lantas mengambil kucingnya dan menaruh di pahanya. Rio nampaknya kesal dengan kehadiran kucing tersebut.

 

“Ahhh. Lucunya .. “gemas Ify sambil memainkan bulu kepala si Day.

 

“Loe kucing setan !! gue gak suka sama loe!!”ujar Rio benggis sambil menunjuk-nunjuk kucing tersebut.

 

meonggg. Meoong .. “

 

“Kenapa suara loe harus Meoong/ . . Meoongg . .kenapa gak mbeekkk mbeekk. Atau Auuuungg .. atau gak usah bersuara kalau bisa”kesal Rio sendiri sambil berbicara kepada kucing tersebut. Ify semakin menahan tawanya.

 

“Loe gak bisa jawab kan?? Idiih kucing bodoh loe!!”

 

PLETAAAKKK

 

“Awwwww”ringgis Rio mengelus kepalanya yang mendapat jitakan kasar dari Ify.

 

“Yang bodoh itu loe!! Mana ada hewab bicara. Mangkanya jangan pacaran sama laptop mulu. Sede ng kan otak loe”sinis Ify dengan tatapan tak enak. Sedangkan Rio hanya melengos saja.

 

“Fy gue ganti deh kucingnya. Gue cariin mirip kayak kucing itu”

 

“Gak !!!”

 

“Pleaseee”mohon Rio benar-benar penuh harap

 

“Gak ya Gak !!!”

 

“Ay . . “

 

“Jangan mulai pertengkaran lagi”Ancam Ify sebelum dirinya kesal kepada Rio.

 

“Iya iya”serah Rio mengalah.  Keheningan terjadi antara Rio dan Ify. Ify sibuk dengan kucingnya sedangkan Rio entah memfikirkan apa saat ini.

 

“Sini gue yang pegang kucingnya”ujar Rio tiba-tibamerebut kucing lucu tersebut dari tangan Ify. Ify sedikit terkejut namun memberikan saja kucingnya di bawa oleh Rio.

 

“jangan kasar-kasar”ancam ify. Rio mengangguk-angguk seperti anak kecil dan memangku kucing tersebut. Di luar dugaan Ify, kucing tersebut begitu nurut dengan Rio. Rio sendiri lantas menyunggingkan senyumnya saat kucing itu mengusap-usapkan kepalanya ke baju Rio.

 

“Sekarang gue ngerti kenapa loe suka banget sama kucing ini”ujar Rio mulai tersadar.  Ify ikut tetsenyum. Ia membersihkan bajunya yang banyak bulu-bulunya.

 

BUUUUUUKKKKKKKSREEEEKKKK

 

            Ify mendengus kesal, saat ia berdiri ingin membersihkan celana pendeknya, ponselnya terjatuh dan masuk dibawah meja. Rio cekikikan sendiri melihat kekasihnya yang begitu kesal.

 

“Ambilin!!!”bentak Ify kepada Rio. Rio malah menatap wajah dengan seolah berkata “”Iya kalau gue mau!!”

 

“RIOOOOO!!!!”kesal Ify. Akhirnya ia sendiri yang mengambil ponselnya tersebut. Ify duduk berjongkok dihadapan Rio.  Ia merangkak-rangkak mencoba mengambil ponselnya disana.

 

            Rio tertawa puas melihat Ify yang kesusahan mengambil ponselnya. Namun tawa Rio seakan langsung berhenti saat ia melihat baju belakang Ify bagian bawah yang sedikit membuka keatas. Bukan tubuh Ify yang menjadi Rio terdiam. Namun sebuah tato terlihat disana. Rio menurunkan kucing Ify dari pangkuannya.

            Entah apa yang membuat Rio langsung menyingkap sedikit baju belakang  Ify. Sebenarnya ia hanya berniat untuk mnelihat apa tato tersebut. Namun Ify yang kaget langsung berdiri dan menatap Ify sangat kesal.

 

“MESUM LOE!!!”bentak Ify dan siap-siap melemparkan sendalnya ke arah Rio. Rio berdecak sinis karena ia belum sempat melihat tato tersebut yang begitu besar.

 

“Gue gak tertarik sama tubuh loe . “

 

“terus ngapain loe buka-buka baju belakang gue”

 

“Tato loe . . “ujar Rio ringan dan membuat Ify yang terdiam kali ini.

 

 

“Itu nama orang ??”tanya Rio dan membuat Ify semakin terdiam. Ify seperti orang tertangkap sedang selingkuh.

 

“I .. y . . a”jawab ify sedikit ragu.

 

“Siapa?”

 

“i . . itu . . mmm. Ka . . .”

 

“Boleh gue lihat???”pinta Rio. Entah mengapa Rio begitu penasaran sekali dengan tato Ifu tersebut. Rio hanya melihat huruf “N” tadi belum sepenuhnya melihat semua.

 

“Enggak!!!”

 

“Udah sini gue mau lihat!!”paksa Rio.

 

“Loe nafsu banget sih. !! enggak mau!!”

 

“Gue gak nafsu sama tubuh loe. Entar juga ada waktunya sendiri kan gue milikin tubuh lo . . “

 

PLETAAAKKK

 

“YAAAAA!!!”terika Ify dan Rio bersamaan.  Ify refleks melemparkan kedua sandalnya kearah Rio. Ify sedikit malu ketika Rio mengucapkan pernyataannya tadi. Sedangkan Rio hanya bisa merasakan kesakitan dibagian kepalanya yang terus menjadi sasaran gadis ini.

 

“Loe lihatin ke gue atau gue sendiri yang lihat!!”

 

“Loe sumpah ya . . / eerrrrr”greget Ify melihat tingkah laku Rio seperti anak kecil.

 

“Milih mana??”tantang Rio.. Ify pun menghelakan nafasnya. Ia melengos pasrah saja.

 

“Iya iya gue lihatin. Tapi hanya setengah saja. Entar loe nafsu lagi”

 

“Iya iya . Siapa juga yang nafsu sama tubuh lidi kayak gini”gerutu Rio pelan dan cukup terdengar ditelinga Ify.

 

“Loe bilang apa tadi? Hah??”

 

“Gue ganteng. “jawab Rio seenaknya. Ify mendengus kesal. Ify pun membalikkan badanya. Sehingga punggungnyalah yang menghadap ke Rio. Perlahan Rio membuka sedikit baju Ify.

 

“Hanya setengah!!!”peringat Ify membuat Rio ingin sekali mencakar-cakar punggung gadis ini jika ia tidak ingat bahwa Ify adalah kekasihnya.

 

“Ahhhh kelamaan “ujar Rio dan langsung menyingkap semua baju Ify bagian belakang. Membuat Ify membelakakan matanya.

 

“RIOOOOOOOOOO”jerit Ify penuh kefrustasian. Ify langsung melepaskan tangan Rio dari bajunya. Ify lantas berdiri dengan wajah yang sangat tajam.

 

            Namun saat Ify mmebalikkan badannya dan ingin mengomeli Rio, ia terdiam sendiri melihat Rio yang diam tanpa bergerak sedikit pun. Ify melihat keanehan kearah kekasihnya itu yang sepertinya sedang menewarang sesuatu. Rio terdiam cukup lama dan membuat Ify semakin heran sendiri.

 

“Yo . . .”

 

“Yo . . “

 

Bersambung . . . . .

 

Hayooo siapa yang bisa menebak? Haayooo kita mulai tebak-tebakan saat ini. Gimana ya?? gimaaa yaa??? Kalau penasaraaannnnn tetap  baca terus DELOV yaaa “_” Semangaatttt bacanyaa okee okeee😀 . hihihiihih😀 maaf ya kalau sering ngaret. Tetap baca DELOV guyss😀

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s