REVIL – 8 “Apa yang harus aku lakukan . . ?? “

Part Eigh of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀

REVIL – 8
“Apa yang harus aku lakukan . . ?? “

***
“Dan Maaf kalau nama ceritanya aku izin lagi menggunakan nama artis . Mungkin Cuma nama panggilannya saja. Semoga dapat mengerti , Dan jika ada kesamaan nama tolong dimaafkan..Ini hanya cerita Fiksi dan tidak nyata. Kalau ada yang merasa dirugikan aku sangat minta maaf “

***

Alyssa terdiam di kursi. Ia saat ini berada di dalam rumah yang begitu mewah. Rumah pria yang bersamanya tadi. Fikiran gadis ini sudah blank. Ia seperti tak punya energy lagi. Fikirannya mengambang kemana-mana.

Jika disuruh untuk meluapkan semuanya. Pasti ia akan meluapkannya dengan kata-kata yang cacian yang belum pernah ia ucapkan sama sekali seumur hidupnya. Ia merasa seperti gadis murahan yang tak ada hargannya.

Ia tak pernag merasa sehina ini. Kepolosannya membuatnya begitu syok dengan kejadian tersebut. Cinta tulusnya ternyata dibalas dengan suatu hal yang sangat menyakitkan. Begitu menyakitkan. Dan semukata-kata pria itu terus berputar di otaknya. Tak bisa ia menghilangkan kata-kata tak berkemanusiaan tersebut.

“Tapi gue gak pernah suka sama dia. Gue itu Cuma mainin dia . . jadi karena dia barang gak berguna dan gak penting. Gue taruhin ke loe semua . .”

“gak sudi gue pacaran sama loe”

“Dengerin baik-baik Alyssa . .. gue hanya mainin loe.”

““Dan karena gue udah berhasil mainin loe., . . gue akan mutusin loe sekarang”

“karena banyak yang menginginkan gadis manis ini. . Gimana kalau gue adain lelang “

“Gue akan sewain dia biar semuanya bisa kebagian gimana ?”

“Gue Cuma mainin loe”

“Gue Cuma mainin loe”

“Gue Cuma mainin loe”

“Minum dulu . . . “Alyssa tersadar dari lamunannya. Ia segera menghapus air matanya yang sudah jatuh dari tadi dengan cepat. Lalu ia mengambil segelas minum yang diberikan pria itu yang tiba-tiba datang dan duduk dikursi depan ALysa .

“Loe nangis ?”

“Enggak”jawab Alyssa singkat. Pria tersebut menatap Alyssa dengan tatapan kasihan.

“Loe bisa ceritain ke gue”

“Gak ada yang perlu diceritain”jawab Alyssa sekali lagi dengan cepat.

“Lalu sekarang ??”Alyssa menghelakan nafas beratnya beberapa kali. Lalu ia menatap pria itu dengan tatapan kosong.

“Bawa aku pergi sejauh mungkin. Sejauh dari tempat ini. Sejauh dari kota ini. Kota ini begitu menyakitkan. Aku sangat benci . sangat sangat benci . . “

“Aku gak akan jadi cewek polos lagi, Aku gak akan jadi cewek paling bodoh di dunia ini. Aku harus membuat hidup baru. Melupakan semuanya . . . dan . . “

“Aku berharap kamu mau menolongku. Aku mohon. . . “air mata gadis ini kembali turun. Mungkin memang benar. Semua kejadian itu sangat menyakitkannya . benar-benar menyakiti hatinya. Pria itu benar-benar tak tega dengan gadis ini. Ia lantas berdiri dan menganggukkan kepalanya sekali.

“Ayo kita pergi dari negara ini, Loe dan gue buat kehidupan baru. Gue akan buat loe melupakan segalanya di sini. Itu kan yang loe inginkan ??”Alyssa langsung mengangguk dengan cepat tanpa berfikir ulang.

“Gue akan siapin semuanya dan besok kita akan berangkat ke korea”

****
Diskotik

Entah setan apa yang membuat gadis belia ini menginjakkan kakinya untuk pertama kali ke tempat ini. Sivia sdah menghabiskan 2 botol alkohol. Dan meminumnya tiada henti. Otaknya yang kacau membuatnya seperti ini. Ia ingin sekali melupakan semua masalahnya.

“Hahahaha . . semuanya brengsek . . .hahahaha. . .”tawa Sivia dan meminum lagi minumannya.

“Sahabat gue di jual? Dan gue ?? hahahahah . . .”

“Kenapa semuanya jadi lucu seperti ini??”

“Hahahah lucu bukan? Hahahahaha . . . “

“Ahhh. . apa gue hanya mimpi ?? Ya ya ya Sivia loe Cuma mimpi Sivia. Loe Cuma mimpi . . “

“Semuanya Cuma MIMPI . Just dream sivia . . “

“bangun Sivia bangun sekarang!! Semuanya akan baik-baik saya jika loe bangun sekarang !! “

“Ba . . ngun. . Sivia . . Ba . . . ng .. . un .. . . “perlahan suara gadis ini menjadi parau. Yah, dia menangis kembali. Menangis dalam keadaan setengah sadarnya. Menangisi semua yang telah terjadi padanhya. Ini adalah situasi yang sangat sulit untuk gadis belia seusia Sivia.

*****
Keesokan Hari. SMA VETER

Gabriel dan Rio terdiam dikelas pagi-pagi dan tentunya Kedua orang ini langsung membuat gempar seisi kelas. Tidak biasanya kedua anak brandal tersebut memasuki kelas. Menurut mereka semua jangankan menginjakkan kaki dikelas menyentu pintu kelas saja mungkin haram bagi 3 pria tersebut.

Sedangkan Alvin tidak masuk sekolah. Pria itu memilih terdiam di rumahnya. Ia masih takut dengan kejadian kemarin. Kejadian yang benar-benar diluar nalarnya sampai ia melakukan hal itu.

“Loe udah dapet info?”tanya Rio membuka pembicaraan kepada Iel yang sedang duduk disebalahnya. Iel diam beberapa detik kemudian ia menghembuskan nafas beratnya dan membuka tasnya untuk mengambil ponselnya.

“Gak ada”jawab Gabriel singkat sambil memainkan ponselnya. Rio melengos pasrah. Semalam ia tak tidur hanya memfikirkan masalah ini.

“Menurut loe ? gue itu , . . . . “

“Brengsek !”sahutGabriel langsung tanpa menunggu lanjutan dari ucapan Rio. Rio terdiam begitu saja mendengar ucapan Gabriel.

“Gue gak tau sama otak loe berdua. Loe dimasukin setan paling jahat atau paling norak sedunia gue juga gak tau. Tapi gue bener-bener gak nyangka loe berdua bisa berbuat hal yang benar-benar udah keterlaluan “

“Gue sadar gue emang brengsek. Kita emang brengsek. Brengseknya kita hanya buat diri kita sendiri kan. Tidak akan merugikan orang lain. Tapi ini ???”

“Loe berdua ?? gak waras!!!”Gabriel berdiri dari tempat duduknya lantas berjalan meninggalkan kelas. Meninggalkan Rio yang masih terdiam disana. Memfikirkan semua yang telah ia lakukan.

****
Bandara Soekarno Hatta

Alyssa membenakkan jaket kulitnya. Ia melepaskan kaca mata hitamnya dan membenahkan duduknya. Saat ini ia sudah berada di dalam pesawat. Dan 5 menit lagi pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas terbang ke Negara yang terkenal dengan julukan Negara gingseng.

Alyssa tak berhenti menghembuskan nafasnya berulang-ulang. Keputusannya sudah kekuh. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan Negara ini. Ia pun entah mengapa mempercayakan semua kepada pria yang sudah duduk disampingnya. Padahal ia baru mengenalnya kemarin saja.

“Masih ada waktu 5 menit untuk membatalkan semuanya”ujar pria itu tiba-tiba. Alyssa langsung menggelengkan kepalanya.

“Sampai kapanpun aku gak akan berubah. “jawab Alyssa yakin. Pria tersbut pun mengangguk saja menuruti gadis ini.

“ terimakasih “lanjut Alyssa. Bagi dirinya pria ini adalah penyelamat hidupnya. Seandainya saat itu yang membelinya adalah orang jahat ? Mungkin nasib gadis ini tidak akan seperti ini. Jika saja tidak ada pria ini. Maka Alyssa akan terys meratapi nasibnya yang Seorang diri dan sebatang kara. Coba saja dia tidak bertemu dengan pria ini. Maka sampai mati pun Alyssa tidak akan dapat melihat wajah papanya untuk terakhir kalinya.

“Terima kasih. Sangat sangat berterima kasih”sekali lagi Alyssa mengucapkan kata itu. Membuat pria itu sedikit binggung.

“Untuk ??”

“Semuanya. Semua yang udah kamu lakukan untukku. Kamu sudah menyelamatkanku”

“Gue hanya ingin nolong loe. “

“Aku tau. Dan mulai sekarang. Aku akan menuruti semua kata-kata kamu. Aku akan menjadi apapun yang kamu suruh. Terserah .”pria ini mengernyitkan keningnya heran. Tak mengerti maksud ucapan gadis ini.

“Apa loe gak akan balik lagi ke Indonesia ??”

“Suatu saat nanti. Aku akan kembali. Aku akan melakukan satu hal yang sangat aku pendam saat ini”

“Apa itu ??”

“Pembalasan yang setimpal”
****
Rumah Sivia

Gadis ini masuk kedalam rumahnya dengan keadaan mabuk berat. Dari semalam ia berada diskotik dan baru pagi ini ia kembali kerumah. Kepalanya terasa berat. Manager Sivia begitu kaget melihat gadis ini. Dan langusng membantu Sivia untuk masuk kedalam kamarnya.

“Via . .kamu kenapa ?? kamu kenapa sayang ??”tanya manager Sivia yang bernama Tante Maya yang masih ada hubungan keluarga jauh dengan Sivia.

“Tante. . . Sivia .. . Si . va . . harus apa ? hahaha. Sivi . . . a . . “

“Sivia kamu mabuk ?? kamu tidak pernah mabuk kenapa kamu mabuk ?? kamu kenapa ??”perlahan tante Maya membaringkan keponakannya tersebut di kasur. Melepas sepatu yang dipakai oleh Sivia.

“Tante .. dia brengsek. . .brengsek banget tante . . Hhahahhaa. . .”

“Dia jahat sama Sivia tante. . Di . . a . . Dia . . sangat sangat jahat sekali . . . .”

“Sivia … .sivia . .. sivia . . . sakit banget tante . . . sivia diperlakukan seperti itu .. . .”

“tante . . . sivia harus . . apa ?? . . . Tante . . . .”

“Maafkan Sivia . … maafkan Sivia tante . .. . Maaf . . . “

“Ma . .. . “

BRUUUUUKKKKK

Seketika itu gadis ini langsung tak sadarkan diri. Tante Maya dengan sigap menangkap tubuh gadis kecil ini. Tentu saja raut wajah Tante Maya sangat khawtir. Keponakannya ini sama sekali tak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan menyentuh Alkohol saja tak pernah akan terbayangkan oleh Sivia.

“Bi tolongg !!! Sivia pingsannn!!!”teriak tante Maya memanggil pembantunya yang langsung datang setelah mendengar teriakannya.

Sivia di bopong ke kamarnya. Semua penampilan gadis ini begitu berantakkan. Wajahnya sedikit memucat. Menampakkan kelelahannya dan memendam masalah yang begitu besat. Yah, tentu saja masalah yang dialami Sivia kali ini sangat besar. Sangat sangat besar.

****
Kamar Sivia 00.07 a.m WIB

Sivia duduk kursi yang terdapat di balkon kamarnya. 1 jam tadi ia telah sadarkan diri dan memilh untuk mandi serta membersihkan badannya terlebih dahulu. Beberapa hari ini begitu berat sekali untuk ia jalani. Sivia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Langit yang gelap dan udara dinginnya mala mini menusuk disetiap ruang kulit gadis ini.

Hweff . . .

Sivia menyeka air matanya yang entah sejak kapan jatuh tetes demi tetes. Jujur saja ini semua begitu sulit untuk ia jalani. Ia tak pernah berfikir bahwa nasib hidupnya akan seperti ini. Tak adil ? tentu saja Sivia ingin beteriak seperti itu. – Tuhan adil kah ini ?? – Sivia selalu mengucapkan hal ini dalam hatinya. Namun apa yang bisa ia berbuat sekarang ? Memperbaikinnya ? Apa yang harus ia perbaiki??? Apa ?? Apa ??? !!! Mengulang kembali ? Andai dia mempunyai jam pembalik waktu. Tentu saja ia akan mengualang waktu naas itu.

“Ahss . .. Apa yang harus aku lakuin sekarang . . . .”Yah. hanya kalimat itulah yang terus keluar dari mulut gadis ini. Apa ? Apa ? Apa dan Apa ? . Semuanya berputar terus di otak gadis ini.

“Cerita ke mama ?”

“Cerita Papa ?”

“tentu saja gue gak gila . aisshh . . . . Ya Tuhan . . . . “Sivia mengusap wajahnya beberapa kali. Memfikirkan jalan keluar yang harus ia lakukan.

“Apakah dia disana sudah tertawa puas ? pasti sudah . . . hahahaha. . . “kini gadis ini menampakkan ekpresi begitu menakutkan. Ia tertawa sendiri dan berbicara kepada dirinya sendiri. Meluapkan caciannya kepada seorang yang tega membuatnya seperti ini.

“Loe udah puas kan Vin ?? Pasti sangat puas ??? Hahahahahaha . . . .”

“Hahahahahaha . . . ..”

Sivia terdiam sejenak. Merasakan dinginnya udara malam yang tak bisa ia rasakan. Sakit di semua tubuhnya teras lebih menusuk dibandingkan dinginnya malam ini. Gadis ini lantas berdiri dari kursi yang ia duduki.

“Gue gak boleh begini terus. . . “

“Gue masih harus hidup. Gue harus terus jalan kedepan. . “

“Tentu saja gue masih punya masa depan . .. “

“Sivia loe harus bisa bangkit. Semuanya sudah terlanjut terjadi kan ??”

“Dan loe gak bisa apa-apa ??”

“Yah, Sekarang gue akan ngelakuin apapun yang gue suka !! “

“APAPUN !!!!”

***
Rumah Alvin

Alvin masih tak membuka suaranya. Bahkan untuk menatap empat mata yang ada didapannya ini saja rasanya enggan sekali. Dalam hatinya ,Ia memang mengakui bahwa ia telah melakukan suatu hal yang benar-benar salah. Bahkan sangat salah !!!.

“YAAA!!! BEGO !! Ngapain loe diam ? jawab pertanyaan gue !!!”

“Disini gue gak ngomong sama patung !! Gue ngomong sama loe !!”teriak Iel tak begitu keras namun disetiap katanya penuh dengan penekanan yang memojokkan pria ini. Sama halnya dengan Alvin, Rio yang duduk disebalah iel pun hanya diam saja. Saat ini fikirannya hanya tertuju kepada gadis yang telah ia sakiti.

“Jawab pertanyaan gue !!! “

Alvin perlahan mengangkat wajahnya ,memberanikan diri untuk menatap Iel yang masih terus menatapnya sangat tajam. Mata elang pria itu begitu menakutkan. Iel bukanlah pria yang gampang terpancing emosi. Namun jika satu perkara saja yang menganggu hatinya . ia akan berubah menjadi seekor srigala yang tak akan pernah melepaskan mangsanya.

“Gue salah .. .”Iel tertawa pelan mendengar 2 kata yang akhirnya keluar dari mulut pria didepannya tersebut. Namun tawa yang iel tunjukkan terdengar begitu sinis. Bagaimana ia tidak tertawa mendengar penyataan yang menurutnya –Pliss . Seluruh dunia pun tau LOE SALAH !!! “-

“Gue akan minta maaf sama Sivia . . “lanjut Alvin dan membuat Iel semakin memperkeras suara tawanya. Bahkan Rio yang sedari diam pun ikut tertawa pelan.

“Loe fikir Sivia akan maafin loe ??”ujar Iel sinis sekali. Mendengar pertanyaan Gabriel seperti itu, Alvin hanya bisa menggeleng lemas. Ia sendiri tak dapat membayangkan bagaimana jika ia bertemu dengan Sivia. Dan apakah gadis itu akan memaafkannya semudah itu ??

“Ya enggak lah !! Otak apa dengkul tuh didalam kepala loe . . “lanjut Iel dengan nada yang sama seperti tadi.

Selama beberapa detik semuanya diam kembali. Keheningan nampak mencangunggkan di kamar Alvin ini. Ketiga pria ini sibuk dengan fikiran masing-masing.

“Gue gak berhak marah sama loe berdua. Ini masalah loe berdua . Dan loe berdua yang harus menyelesaikannya sendiri. Gue angkat tangan. . . “

“Ada hal yang lebih penting yang harus gue lakuin daripada disini . . “

“Tenang aja gue masih sahabat kalian . Bahkan selamanya. . . “

“Meskipun loe berdua . . . yah . . . . “

“Brengsek .. .”Ujar gabriel kepada kedua temannya tersebut. Iel lantas memilih berdiri dari kursi dan segera beranjak dari kamar Alvin. Ia langsung memilih untuk pulang saja membiarkan dua sahabatnya tersebut memfikirkan penyelesaiaan masalah mereka. Gabriel sudah terlalu capek untuk ikut campur masaalah yang bahkan ia sendiri tak tau.

Tak selang 30 menit kemudian, Rio memilih untuk pulang. Ia sendiri masih tak tau harus melakukan apa sekarang. Gadis tersebut benar-benar hilang tanpa jejak. Seolah dilahap oleh lubang hitam dan tak akan pernah kembali.

Dan kenapa pria ini harus mencemaskannya ? Bukankah dia tak memiliki perasaan sama sekali kepada gadis tersebut. Dari awal bukankah memang tujuannya hanya untuk mempermainkan gadis itu ? Dan sekarang ?? Kenapa dia seperti ini ??.

Rio memasuki mobilnya dan menjalankannya. Meninggalkan rumah mewag tersebut. Sepanjang jalan Rio terus memfikirkan mengapa dia seperti ini ? Menjadi pria yang peduli ? Ini bukanlah dirinya. Dan disisi lain perasaan sangat bersalah terus menghantuinya. Yah, Dia merasa bersalah keapada gadis itu.

“Apa gue sudah memiliki rasa kepadanya ?? . . . “batin Rio mulai bertanya . Mungkinkah ?? Mungkin saja. Toh, saat ini dia terus memfikirkan gadis itu. Merasa kehilangan ? entahlah Rio sendiri masih belum bisa untuk menafsirkan perasaannya sekarang. Yang ia tahu saat ini. Bahwa dirinya ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Entah untuk meminta maaf atau membuat gadis itu terluka kembali. Yang terpenting Rio ingin menatap kedua bola mata polos gadis tersebut.

****

Gabriel memberhentikkkan mobilnya di depan sebuah rumah ber cat cokelat. Rumah yang sudah lama tak ia kunjungi. Dengan sedikit ragu Gabriel turun dari mobilnya. Perlahan ia berjalan menuju halaman rumah tersebut.

Gabriel memberhentikkan langkahnya, ia diam saja didepan pintu rumah tersebut. Sedikit bimbang dengan yang dilakukannya sekarang. Tangannya mulai perlahan ia gerakkan untuk mmencet bel rumah ini. Namun sepertinya ia tidak berani untuk memencetnya.

Jam tangannya menunjukkan pukul 1 pagi dini hari. Dan tentu saja dia akan disangka orang gila jika bertamu di jam segini ? Mungkin saja pemilik rumah ini akan menghujaminya dengan kata ¬–pakah kamu gak punya jam ?? – . gabriel menurunkan tangannya. Ia menghelakan nafasnya sebentar.

Gabriel membalikkan badannya. Ia berjalan kembali menuju mobilnya. Ia memilih untuk pulang saja kerumahnya. Tentu saja Otaknya masih waras dan ia juga tau akan tata cara bertamu di rumah orang. Walau ia tau didalam rumah itu hanya berisikan satu orang gadis yang tak lain adalah Shilla .

Gabriel sendiri tak tau bagaimana bisa ia tiba di rumah gadis ini??.
****

Keesokan harinya . . . .

Pak Jo melepaskan kacamata hitam yang ia pakai. Banyak orang berhaluhalang berjalan di sekitarnya. Saat ini Pak Jo sedang berada di bandara untuk menjemput seseorang yang begitu penting untuknya. Bukan clien atau pun rekan kerja. Melainkan seseorang yang sudah lama ia tunggu kedatangannya sejak 5 tahun yang lalu.

Pak Jo melihat jam tangannya. Ia tersenyum melihat jam tangannya menunjukkan pukul 9 pagi. Dan sebentar lagi orang yang ditunggunya akan segera datang.

*

Seorang pria bertubuh jenjang dengan tas punggung yang hanya ia gantungkan di bahu kanannya. Kaca mata hitamnya mentupi kedua matanya yang mungkin terlihat indah untuk dilihat. Kulit putihnya terlihat bersinar. Kemeja putih panjang dengan kedua lengan yang digulung menambah masculin dari pria ini. Tak sedikit mata wanita yang ada di bandara ini tertuju kepada sosok pria ini.

Pria ini masih terus berjalan menuju luar bandara dengan tenang. Terkadang ia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang akan menjemputnya. Dan kerinduannya begitu besar kepada orang tersebut.

“KAKEEEKKK !!!”teriak pria ini dari kejauhan kepada seorang pria yang sudah berumur yang juga sedang melambaikan tangannya ke arahnya.

Pria ini menyunggingkan senyum menawannya. Ia perlahan berlarian kecil agar cepat sampai didepan orang tersebut.

“Cakka . . . . “pria berumur tersebut langsung memeluk pria ini. nampaknya memang mereka berdua saling merindukkan satu sama lain.

“Kakek Jo . Gimana kabar kakek?”Yah, pria ini lah yang sedari tadi ditunggu oleh Pak Jo. Pria tampan yang bernama Cakka . Dan cakka memanggil Pak Jo dengan sebutan Kakek ?? Tunguu . . Bukankah Pak Jo hanya memiliki satu cucu satu-satunya. Dan tentu saja itu adalah Alvin .

Pak Jo memang hanya memiliki satu cucu kandung satu-satunya dan itu adalah Alvin. Namun saat dirinya tak sengaja berkunjung di sebuah panti asuhan 7 tahun yang lalu , pak Jo melihat seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang begitu pendiam. Dan dari sorot mata anak tersebut , entah mengapa Pak Jo ingin sekali merawatnya.

Flash Back . .

7 tahun yang lalu . .

“Siapa nama kamu ??”anak laki-laki diam saja. Ia menunduk tak berani melihat pria yang ada di depannya. Anak tersebut terus memainkan sebuah gelang yang terbuat dari rangkaian karet di pergelangan tangan kanannya.

“Nama kamu siapa??”tanya pria tersebut kembali. Pria ini tentu saja adalah pak Jo.

“Ca . .. kka . .. .”jawab anak tersebut pelan. Sedikit perasaan takut di dalam hatinya . Pak Jo tersenyum penuh arti. Perlahan pak Jo membelai lembut rambut anak laki-laki ini.

“Kakek ingin merawat kamu. Apakah kamu mau ikut dengan kakek ??”tanya Pak Jo langsung. Anak bernama Cakka tersebut menatap pak Jo dengan ekspresi terkejut. Ia begitu kenal dengan pria tersebut. Bahkan semua orang di Indonesia pun akan mengenalnya. Seorang pengusaha kaya yang mempunyai perusahaan besar dimana-mana. Dan pria ini menawarinya untuk menjadi anak angkat ?? .

“tenang saja. Kakek bukan orang jahat. Kakek akan menyekolahkan Cakka setinggi mungkin. Dan Cakka nanti juga akan jadi salah satu pewaris kakek . . “Cakka makin syok dengan ucapan pak Jo. Meskipun ia masih anak kecil tapi ia tahu apa maksud dari pria didepannya ini.

“bagaimana apakah kamu mau ??”tannya Pak Jo sekali lagi. Ia begitu berharap Cakka mau untuk menjadi cucu angkatnya. Dan benar saja perlahan anak laki-laki tersebut menganggukan kepalanya pelan dengan wajah sedikit malu-malu.

Pak Jo tersenyum begitu senang. Ia langsung memeluk Cakka karena begitu bahagiannya hatinya. Ia menemukkan kakak bagi Alvin cucu satunya lagi.

Dan setelah itu Pak Jo mengurus semua surat pengangkatan Cakka menjadi cucunya. Banyak teman-teman Cakka yang sangat iri kepadnya. Semua anak panti asuhan itu sendiri pun sangat berharap menjadi anak angkat atau cucu angkat dari pak Jo.

Flash End .

****

Cakka dan pak Jo terus berbincang-bincang di dalam mobil. Cakka terus menceritakkan bagaimana kehidupannya 5 tahun ini di Amerika. Pak Jo sengaja memindahkan Cakka kesana dan menyekolahkan Cakka disana. Karena saat Pak Jo membawa Cakka kerumah, Alvin sedikit tidak suka dengan Cakka. Dan Pak Jo tak ingin kedua cucunya tersebut bertengkar nantinnya.

Dan seperti yang diperkirakan oleh Pak Jo. Ia tidak salah mengangkat cucu. Di Amerika, Cakka sering mendapatkan banyak prestasi. Mulai dari menjadi kapten basket , pemenang mendali emas olimpiade matematika. Dan banyak lainnya. Tak heran nama Cakka begitu terkenal di sekolahnya sana.

Dan saat ini, Pak Jo memilih untuk memindahkan Cakka kembali di Indonesia. Ia yakin Alvin sudah dewasa dan akan menerima Cakka. Dan Cakka pun akan meneruskan studi.nya disini. Cakka akan memasuki tahun pertamannya menjadi mahasiswa di negara ini.

“Bagaimana ?? Apakah kamu rindu dengan kakek ??”tanya Pak Jo sedikit menggoda cucu.nya ini.

“Of course . I am so glad now. Because I can meet you Grandpa . . “jawab Cakka dengan bahasa inggris fasehnya. Lima tahun di Amerika tak menjadikannya sebagai pria bodoh. Melainkan pria yang pintar, memiki pikiran dewasa.

“Hahahahahaha. . I Miss you too Cakka . . “tawa Pak Jo yang masih belum bisa menghilangkan rasa bahagiannya saat ini. Jujur saja, Cakka sangat berbeda dengan Alvin itulah pandangan Pak Jo. Dan dia tak pernah menyesal bahwa ia mengangkat Cakka sebagai cucunya.

Cakka memandang ke arah jendela. Melihat ramainya jalanan dengan kendaraan yang berlalu lalang. Ia menurunkan kaca jendela mobil. Menghirup udara jakarta yang begitu ia rindukkan. Perlahan ia memejamkan matanya untuk lebih dalam menghirup udara pagi disini.

“Aku akan segera bertemu denganmu lagi . . . . . . “Cakka tersenyum penuh arti. Kata hatinya terus tak henti mengucapkan kalimat tersebut.

***

SMA VETER

Alvin sudah mulai masuk ke sekolah kembali. Ia mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Ia berkumpul dengan Rio dan Gabriel serta memberanikan diri untuk mengajak mereka berdua mengobrol.

Dan seperti biasanya. Mereka berdua saat ini berada di atap sekolah. Sedang asik menghirup udara di atas. Dan sama sekali tak tertarik untuk masuk kedalam kelas.

“Cakka balik dari amerika . . “ujar Alvin membuka suara. Gabriel dan Rio yang mendengarnya lantas menolehkan wajah mereka ke Alvin. Mereka berdua mengernyitkan kening merasa sedikit familiar dengan nama itu.

“Cakka ?? . . .. ahh . . Cucu angkat kakek loe yang sering loe ceritain itu kan ??”sahut Gabriel yang mulai ingat. Rio pun menunjukkan wajah yang sama seperti gabriel. Alvin pun langsung menganggukkan kepalannya.

“loe masih benci sama dia ?”kini giliran Rio yang bertanya. Alvin tersenyum sedikit sinis.

“Sangatlah . . “jawab Alvin denhan tegas. Gabriel seolah punya ide jahil untuk menggoda sahabatnya tersebut.

“Loe takut warisan kakek loe diberikan semua ke Cakka ??”Alvin lantas menatap gabriel, Seumur-umur dalam otaknya tak pernah terfikirkan hal tersebut. Ia membenci Cakka hanya karena kakeknya sering membanggakan Cakka. Dan ia sedikit iri. Bukan karena hal yang disebutkan oleh gabriel tadi. Namun ?? . hal itu mungkin saja bisa terjadi.

“Bisa jadi itu .. Aisshh . , ,, “kesal alvin yang baru menyadari kemungkinan tersebut.

“Menurut gue sih bisa aja. Seperti yang loe ceritain ke kita. Dia pintar, dewasa, rajin, sopan . Berbeda 180 derajat dari loe. “Alvin semakin panas dengan ucapan gabriel.

“Ahh . . Gue gak bisa bayangin kalau itu semua jadi kenyata . . “

“Diem loe !!”sentak Alvin dan membuat gabriel langsung menutup mulutnya. Rio menatap Alvin terkejut, tak biasanya Alvin berani melawan Gabriel seperti itu. Gabriel sendiri pun sama terkejutnya seperti Rio. Namun detik berikutnya Alvin tertawa remeh.

“Ternyata efek setelah memperkosa gadis itu seperti ini. . . .”sindir Gabriel tanpa menatap Alvin sedikit pun. Alvin yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan nafasnya berulang-ulang. Sedari tadi ia sama sekali tak ingat dengan gadis itu. namun Gabriel menyebabkan dirinya ingat kembali dan merasa bersalah kembali

“Gue denger dia gak masuk sekolah lagi . . “lanjut Gabriel yang entah dari mana bisa mengetahui hal tersebut.

Alvin hanya diam saja, sebenarnya dirinya pun sudah tau. Karena Alvin sempat mengintip di kelas Sivia dan tak menemukan gadis itu. Bahkan bangku Sivia kosong tak ada yang menempati. Dan tiba-tiba Alvin ingat satu hal.

“Alyssa gak masuk juga Yo ?”tanya Alvin yang memang tidak mengetahui apapun. Mendengar ucapan Alvin langsung membuat gabriel tertawa pelan. Sedangkan Rio ?? diam membeku tak mengucapkan satu kata sedikit pun.

“Alyssa menghilang. Mungkin sedang mentranspalasi hatinya dengan hati kambing. . “

“maksud loe ??”tanya Alvin sama sekali tak mengerti ucapan gabriel.

“Maksud gue ? Alyssa ingin tidak punya hati. Biar dia gak bisa merasakan sakit hati. . . “

‘bener kan Yo ??”Gabriel sepertinya sengaja mengucapkan kata tersebut untuk memojokkan Rio. Gabriel seolah ingin sekali meluapkan emosinya sedari kemarin kepada dua sahabatnya ini. Dan hanya sindir-sindiranlah yang bisa ia lakukan.

“Gue gak ngerti “ujar Alvin yang sedikit penasaran. Rio menatap ke depan. Tatapannya sedikit kosong. Dan ia pun mulai membuka suara.

“Gue nyakitin dia. Dan yang nyebabin dia sekarang pergi . Dan gue gak tau dia kemana .”ujar Rio menerawang kembali apa yang ia lakukan pada gadis itu. Alvin mengernyitkan keningnya.

“terus ? masalahnya sama loe sekarang ? Bukankah biasanya loe juga seperti itu ke cewek-cewek lain ? Loe mutusin mereka sepihak dan loe ninggalin gitu aja kan ??”

“Maslaahnya Rio ini telah berbuat hal tidak manusiawi kepada Alyssa. Sama kayak loe . . “sahut gabriel dan membuat Alvinlangsung membelakakan matanya.

“Loe . . loe .. loe juga . . yo . . loe . . . loe mer . .. maksud gue . . . Loe ngelakuin itu ke Alyssa ?”tanya Alvin dengan kata-kata yang susah sekali untuk ia ungkapan.

“Loe fikir gue kucing liar kayak loe . main sosor sana sini tanpa difikir . . “sinis Rio dan membuat Alvin diam seriba bahasa.

“Intinya gue nyakitin dia dan gue ngerasa . .. . . . “

“bersalah mungkin. . . “Gabriel dan Alvin sedikit terkejut dengan pernyataan Rio. Seumur hidup Rio tak pernag mengatakkan bahwa ia mencemaskan seorang gadis bahkan merasa bersalah kepada seseorang. Kejaiban ke sepuluh bagi seorang mario.

“Terus loe sudah nemuin dia ?? Tau dimana dia berada ??”tanya Alvin dan mendapat jawaban gelengan dari Rio.

“Gue udah coba tanya ke semua teman-teman kelasnya. Dan teman tetangganya. Tapi nihil. Gadis itu beneran menghilang “kini Gabriel yang menajwab. Karena memang dirinya kemarin berusaha sekali mencari Alyssa. Ia hanya ingin membantu Rio.

“Emangnya loe sudah ngelakuin apa ?”tanya Alvin sangat penasaran saat ini. Raur wajah Rio berubah dengan bimbang., Ia binggung menjelaskannya bagaimana. Ia tak bisa merangkai kata-kata yang pas untuk kesalahan yang telah ia perbuat tersebut.

“Gue . .. gue . . . ngelelang dia waktu di diskotik. . . .”ujar Rio dengan susah payah. Alvin langsung membelakakan matanya tak percaya.

“Loe mabuk saat itu ?”tanya Alvin memastikan. Rio menganggukan kepalanya

“Wahh parah loe yo !!”

“Separahnya gue gak separah loe !!”tegas Rio dingin dan untuk kesekian kalinya Alvin terdiam kembali. Saat ini ia harus menutup mulutnya rapat-rapat. Karena setiap ucapannya pasti salah. Yah, Andai saja waktu bisa terulang kembali. Alvin tidak akan melakukan hal menjijikan seperti itu. Membuat seorang gadis kehilangan harga dirinya dan merebut hal yang paling penting pada seorang wanita.

Mereka bertiga memilih diam, memfikirkan apa saja yang ada di otak mereka. Tak pernah terbayangkan dalam hidup mereka akan terjadi seperti ini. Apakah ini sebuah takdir ? atau karma ? atau hukuman bagi mereka ? . Entahlah. . Yang mereka tau bahwa semuanya telah terjadi dan mereka harus segera mencari jalan keluar masalah mereka ini.

“Aku harus meminta maaf kepadanya . . . “

“Pasti dia begitu terskiti dan terpukul . . “

“Aku harus segera meminta maaf . . . “

***

Sivia masuk kedalam rumah Alyssa yang sangat sepi. Sedari tadi pagi ia mencoba menghubungi sahabatnya tersebut namun percuma nomer Alyssa tak bisa dihubungi. Ponsel gadis itu dimatikan.

Tentu saja Sivia sangat mencemaskan Alyssa walaupun dirinya terundung masalah yang berat. Namun ia lebih mencemaskan sahabatnya tersebut. Sivia tau bahwa Alyssa tidak setegar dirinya. Alyssa begitu polos dan mudah percaya kepada siapapun. Sivia takut Alyssa saat ini dalam posisi yang terancam.

“Alyssa loe dimana ??” .

“Pliss . . . Gue cemas banget sama loe . . .. “

Sivia sendiri sudah menanyakan ke tetangga Alyssa, namun percuma semua tetangga Alyssa tak ada yang tahu dimana keberadaan Alyssa. Bahkan Dokter Andi , dokter pribadi papa Alyssa pun hanya menggelengkan kepala.

Dokter Andi hanya menceritakkan bahawa Alyssa berpamitan untuk pergi setelah melihat papanya untuk terakhir kali. Dan itu semakin membuat Sivia khawatir. Sivia yakin Alyssa saat ini sangat terpukul seperti dirinya.

“Gue harus nyari loe dimana lagi Alyssa. . . . “

“Loe gak bisa dihubungi. Loe sebenarnya dimana ??? “

“Semoga loe baik-baik saja . .. “

****
20.00 Wib
Shilla masuk kedalam rumahnya dengan mengendap-endap. Ia tau bahwa papanya hari ini pulang dari luar kota. Shilla sangat berharap bahwa ia tidak akan bertemu dengan papanya saat ini. Ia sangat tidak siap. Jika ia ketahuan papanya pulang malam seperti ini. Bisa habis nyawanya malam ini juga.

“Dari mana kamu ??”suara menyeramkan itu sempat membuat detakan jantung Shilla betrhenti untuk beberapa detik. Shilla mematung di depan pintu kamarnya.

“Dari sekolah Pa. Shilla ada kerja kelompok “jujur Shilla. Namun sepertinya papa Shilla tak mempercayai ucapan gadis ini.

“Kerja kelompok ?? sampai malam gini ??”

“Kamu mau berbohong sama papa ? hah??”

“Mana ada sekolah pulang jam segini !!!!! “

“Kamu sudah pintar berbohong ya sekarang ?? !!!”Papa Shilla tiba-tiba langsung mendekati Shilla dan menjambak rambut anaknya sendiri. Shilla meringis kesakitan . Ia memeganhi rambtnya yang begitu sakit sekali.

“Pa ampun Pa. Ampun. . Shilla beneran kerja kelompok Pa,. Ampun. Maafin Shilla pa. Shilla gak bohong . . “

“Kamu fikir saya akan percaya dengan anak sok polos seperti kamu ?Hah ?? !!!! “

“Sini ikut papa. Biar papa kasih pelajaran !!! Biar kamu tidak berbohong lagi !!”

“PAA SAKIT !! AMPUN PAA !!!”

Shilla di seret seperti kambing, Rambutnya terus ditarik oleh Papa Shilla menuju ke kamar mandi. Shilla terus teriak-teriak menjerit kesakitan. Rambutnya terasa ingin putus dari kepalannya. Papanya seolah tak punya hati kepadanya. Shilla menjerit terus menerus. Namun Papa Shilla tak peduli sama sekali.

BYUUUURRRRRR BYUUUUUR RRR BYUUUURRRRRRR BYUUUURRRR

Shilla di guyur dengan air dingin yang berada di bath up kamar mandi. Dimana air tersebut sepertinya sudah disiapkan oleh papa Shilla. didalam bath up tersebut berisi banyak es batu dan sudah dapat ditebak bagaimana dinginnya air itu.

“PAAA DINGIN. . . PA AMPUUNN!!!”kini gadis lemah ini hanya bisa merengkuk kedinginan dan tefrus menangis dalam jeritnya. Ia sangat berharap papanya akan kasihan kepadanya. Namun harapannya itu sia-sia belaka. Pria didepannya ini bukanlah manusia, Dia adalah sosok iblis yang menjelma manusia. Mungkin bisa cocok dibilang seperti itu.

“Dingin ??? Kamu bilang dingin ?? Ini pelajaran buat anak tak berbakti seperti kamu !!! “

BYUUUURRRR BYUIUUUURRR BYUUUURRRRRRR

“Hisskkk. . . hikkkss . Pa Ampun. . Ampuni Shilla. Shilla gak pernah bohong sama Papa. Paa Ampun . . . Shilla beneran kerja kelompok . ..”

“Oh jadi sekarang kamu pintar membantah ?? pintar melawan .. . “Papa Shilla mengambil shower yang tergantung diatas sana. Dan dengan tegannya langsung memukulkan di punggung Shilla.

“AWWWWW AWWWWW PA SAKITT !!! PA AMPUN !!! PA SAKIT !!!”

Tak hanya di punggung saja. Papa Shilla pun menyambitkan di lengan Shilla dan kaki Shilla. Gadis ini sudah tak berdaya. Ia tergeletak lemas dikamar mandi. Tubuhnya gemetar hebat. Ia kedinginan dan juga merasakan sakit di semua badannya.

“PAAAA AMPUUUUNNNNNNNNNNNNN !!!!! “

Sepertinya belum puas untuk menyiksa anak tirinya ini. Papa Shilla menyeret Shilla kembali. Tangan Shilla diseret dengan kasar. Shilla hanya bisa menangis terus menerus. Ia tak bisa melawan papanya. Ia masih ingin hidup . Shilla diseret menuju keluar rumah.

“KAMU TIDUR DILUAR !!!! JANGAN HARAP KAMU DAPAT MAKAN HARI INI !!!! “

“DASAR ANAK TAK TAU DIRI !!!”

BRAAAAKKKKK

Shilla memeluk tubuhnya yang semakin bergetar. Dinginnya air yang disiramkan ditubuhnya semakin menjalar sampai kedalam tulangnya. Semua tubuh Shilla membeku kaku. Kakinya sudah lemas sekali saat ini. Bibir Shilla pun mulai memucat. Semuanya terasa sakit sekali.

“Apa papa sebegitu benci sama Shilla ??”

“Apa salah Shilla sama Papa ??”

Gadis ini menangis dan terus menangis. Shilla mencoba berdiri dengan sisa tenagannya. Ia berjalan perlahan-lahan keluar dari rumahnya. Ia ingin pergis aja dari rumahnya. Ia tak ingin mati di tangan papa tirinya tersebut.

Shilla terus berjalan di jalan yang sepi ini . Hanya satu tempat yang ia fikirkan dan tertancapjelas diotaknya. Tempat yang nyaman baginya. Dan disanalah dia selalu merasa aman. Shilla menguatkan dirinya untuk tetap terus berjalan. Ia tak bisa menaiki taxi. Ia tak membawa uang dan ponselnya. Papanya begitu saja menyeretnya keluar dengan tanpa ampun. Shilla pun memilih untuk berjalan terus saja. Walaupun jarak yang harus ia tempu pastinya sedikit jauh.

Bersambung . .. . .

Semoga dipart ini semakin banyak yang suka😀 . Amin Amin. Tetap baca terus ya semuannya. Comennya ditunggu. Like.nya juga kalau suka dengan cerita ini😀 . Dan makasih banyak bagi yang sudah jadi pembaca setia😀 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s