REVIL – 9 “Think. . . “

Part Nine of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀

REVIL – 9
“Think. . . “

***
“Dan Maaf kalau nama ceritanya aku izin lagi menggunakan nama artis . Mungkin Cuma nama panggilannya saja. Semoga dapat mengerti , Dan jika ada kesamaan nama tolong dimaafkan..Ini hanya cerita Fiksi dan tidak nyata. Kalau ada yang merasa dirugikan aku sangat minta maaf . Dan kalau ada kata-kata kasar di cerita ini. Maaf karena hanya untuk mendukung feel ceritas aja. Dan Haram untuk di contoh !!“

***

Kaki Shilla gemetar, Ia sudah tak sanggup berjalan lagi. Namun rumah yang ia tuju sudah dekat didepan matanya. Shilla menghela nafas beratnya berulang-ulang. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang semakin kedingin. Dan kini bukan hanya bibirnya yang memucat. Namun wajahnya pun terlihat begitu pucat.

Shilla berhenti di rumah mewah ini. Ia melihat mencoba membuka gerbang rumah tersebut. Namun percuma rumah ini terkunci rapat. Shilla mengigit bibirnya merasa kedinginan dan juga merasa begitu sial sekali hidupnya.

“Kaki el kemana . . . . “gadis ini menangis kembali, Ia takut bercampur kesakitan. Tubuhnya terasa perih dan kaku. Shilla sudah tak mempunyai tenaga lagi, perlahan gadis ini duduk bersender pagar rumah tersebut yang tak lain adalah rumah gabriel. Ia berjalan selama 45 menit dari rumahnya menuju rumah Gabriel. Jarak yang tentu saja tidaklah dekat.

“Kak .. . . Cepat pulang . . . “tangisan Shilla semakin deras. Ia menekuk kedua lututunya lalu ia peluk begitu erat. Shillaa sangat membutuhkan pria tersebut saat ini.

Shilla membungkukkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya pada kedua lututnya. Ia terus menangis, Shilla mulai mengingat semua kelakuan kejam papanya kepadanya. Mulai dari Ia pernah dilemapar dengan setrika, di guyur dengan air panas bahkan pernah hampir akan dibunuh. Namun Shilla masih diam saja. ia tak pernah menceritakkan kepada siapapun tentang sikap papanya kepadanya. Hanya Gabriel lah yang tau. Dan itu pun Gabriel hanya mengerti bahwa Shilla sering dipukuli. Tidak lebih . . ~

Dan saat ini Shilla sudah merasa tak kuat. Ia sudah cukup merasakan kekerasakan yang begitu menyakitkan untuknya. Angin malam berhembus semakin dingin, Shilla merapatkan kaki dan tangannya mencoba menghangatkan tubuhnya. Ia masih memakai seragam yang basah. Dan membuatnya semakin kedinginan sedari tadi. Bibir Shilla pun masih terus bergetar efek dari dingin yang ia rasakan.

****
20.00 Rumah Alvin

Gabriel, Alvin dan Rio memasuki rumah Alvin. Mereka baru pulang sekolah setelah menghabiskan waktu mereka di sirkuit balapan untuk menyegarkan otak mereka. Saat masuk kedalam rumah Alvin, ketiga pria ini disambut hangat oleh seorang pria yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu.

Alvin menatap pria itu dengan tatapan tak sukannya. Sedangkan Rio dan gabriel mengernyitkan kening mencoba mengingat siapa pria tersebut yang sepertinya familiar bagi mereka berdua.

“Alvin bagaimana kab . . . “

“gak penting !!! “ujar Alvin tajam dan langsung berjalan meleawati pria itu begitu saja. Nampaknya pria itu sedikit menunjukkan wajah upset.nya. namun ia segera menyembunyikannya dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.

“Mungkin Alvin sedang capek”gumamnya pelan mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. pria tersebut menatap Gabriel dan Rio yang masih berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan heran.

“Hai. Kalian pasti Rio dan Gabriel kan ? Sahabatnya Alvin ? Senang bertemu dengan kalian . . .”

“ Kenalin Aku Cak . .. “belum juga pria tersebut menyelesaikan perkenalan singkatnya tersebut. Gabriel dan Rio dengan acuhnya langsung meninggalkan ruang tamu menyusul Alvin. Mereka berdua nampak tak peduli dan juga sedikit tak respect dengan pria itu yang tak lain adalah Cakka. Karena mereka sama sekali tak mengenal pria tersebut.

Cakka menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. Binggung harus berekspresi bagaimana, Namun ia hanya tertawa pelan. Sama sekali pria ini tak memiliki rasa marah atau semacamnya. Ia selalu mencoba untuk berfikiran positive dan lebih dewasa. Ia tau bahwa mereka bertiga masih remaja dan masih ingin bersenang-senang.

“Sebaiknya gue bicara sama Alvin nanti. Ternyata ia masih belum berubah . . .”

Cakka pun menyibukkan dengan membaca majalah bisnis yang ada di meja ruang tamu. Melupakan kejadian yang baru saja terjadi dihadapannya.

***

Alvin menghempaskan badanya di atas kasur, wajahnya sedikit menunjukkan kekesalan. Ia tak menyangka bahwa Cakka akan tinggal dirumahnya. Jujur saja Alvin tak suka dengan Cakka. Meskipun kakeknya berulang kali berusaha untuk menyatukkan dirinya dengan Cakka, namun buatnya itu hal yang tak mungkin.

Gabriel dan Rio memasuki kamar Alvin dan langsung duduk diatas kasur . Mereka berdua menatap wajah Alvin yang sedikit gelisah. Mereka tau apa yang difikirkan oleh Alvin saat ini.

“Cakka sepertinya baik vin . . “ujar gabriel tiba-tiba. Dan perkataan gabriel tersebut sama sekali tak ditanggapi oleh Alvin. Alvin tak tertarik dengan bahasan yang menyangkut nama pria itu. Gabriel yang melihat raut wajah Alvin seperti itu segera mengalihkan topik pem bicaraan.

“Gimana Yo udah ketemu ??”Rio kaget dnegan pertanyaan gabriel yang tiba-tiba.

“Ketemu ? Apanya ?”sahut Rio blank. Gabriel mendengus ringan.

“Alyssa ? ketemu gak ??”dengan wajah polos , Rio menggelengkan kepalanya pelan. Gabriel menghela nafas panjangnya. Mencoba berfikir sebentar.

“Gue udah mencari informasi kemana-mena atapi hasilnya nihil”

“Dia bener-bener hilang kayak ditelan bumi”

“Sebenarnya dia kemana sih ??”tanya Rio dengan wajah sedikit kesalnya.

“Dia juga gak punya keluarga lagi kan. Apa dia . . . . . “

“Apa dia ke jepang yo ??”sahut gabriel dengan ngaconya.

“Dia menyusul shinichi mungkin ??”

“Atau mungk . … .”

PLAAAAKKKK

“Aissshhh . .. .”ringis Gabriel memegangi kepalanya. Tiba-tiba saja Rio mendaratkan toyorannya ke kepala pria ini. gabriel menatap Rio dengan tatapan bengis.

“Loe kalau mau ngeramal yang masuk akal dikit !”sinis Rio dengan wajah tak enaknya kepada Gabriel.

“Gue takut dia . . . bunuh diri??”ujar Rio sedikit pelan dan membuat Gabriel serta Alvin langsung menatapnya.

“Loe dihampiri sosok gadis gak semalma ? kalau ia berarti dia beneran bunuh diri “ujar Gabriel sederhana sekali. Membuat Rio mendengus kesal. Alvin hanya terkekeh pelan saja melihat kedua temannya ini yang sellau saja beradu pendapat.

“Gue serius!!”

“Gue juga seriuss !!”timpal gabriel dengan wajah yang ia buat seserius mungkin.

“Terserah loe deh”kesal Rio dan memilih diam saja. Dan mereka bertiga pun memilih untuk diam kembali. Berfikir dengan khayalan masing-masing.

“Vin gue tidur disini ya “ujar Rio membungkam keheningan sesaat itu. Alvin mengangguk saja. Ia sedang malas untuk membuka mulutnya saat ini. Fikirannya terus kemana-mana. Sedangkan Gabriel mulai berdiri dari kasur Alvin. I mengambil ponsel dan jug kunci mobilnya.

“Gue pulang. Gue gak mau menganggu 2 gay yang sedang galau!!”ujar Gabriel tanpa dosanya. Sedangkan Alvin dan Rio hanya melirik tajam pria itu. ucapan Gabriel benar-benar tak masuk akal. Alvin dan Rio mendesis saja tak berniat menanggpi si peramal amatiran !!

****

Gabriel terus menjalankan mobilnya, jam di dalam mobilnya sudah menunjukkan pukul stengah 12 malam. Gabriel memberhentikkan mobilny di minimarket yang berada di depan perumahannya. Ia hrus membeli bahan-bahan kebutuhan yang sudah mulai habis dirumahnya.

Gabriel masuk kedalam mini market tersebut, mencari bahan-bahn yang ia butuhkan dengan cepat. Dan setelah itu ia membayarnya di kasir.

“Mas Gabriel dari mana ?”tanya penjaga kasir tersebut yang sudah kenal sekali dengan pria ini. Gabriel cukup hern dengan penjaga kasir ini . Karena tak biasanya menanyai dirinya dengan pertanyaan yang tak lazim antara pria dan pria .

“Dari rumahnya Alvin mas. “jawab Gabriel sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada kasir tersebut.

“Oh pantesan mas. Tadi waktu aku lewat depan rumah mas Gabriel dan ada cewek duduk didepan rumh mas Gabriel. Penampilannya berantakkan banget mas. Aku aja sampi ket . . . . . “

“MAS MAS GAB INI BARANG- BARANGNYA !!”

?”MAS KEMBALIANNYA JUGA !!!MAS GABRIEL!!!”

Gabriel tak mempedulikkan teriakan dari penjag kasir tersebut. Ia langsung berlari keluar dari mini market dan masuk kedalam mobilnya meninggalkan barang-barang yang ia beli di tempat tersebut.

Gabriel menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia tidak peduli jika satpam akan menegurnya. Fikirannya saat ini hanya tertuju kepada satu gadis. Dan tentu saja gadis itu adalah “Shilla” .

****
Tak sampai 5 menit Gabriel sudah berada didepan rumahnya. Samar-samar ia melihat seorang gadis masih duduk di depan gerbang rumahnya. Gabriel segera keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri gadis itu.
****

Shilla merengkuk kedinginan, Bajunya mulai mengering. 3 jam lebih ia menunggu Gabriel disini dan itu bukanlah waktu yang singkat. Shilla mengigil kedinginan. Ia berharap Gabriel segera datang. Tenagannya mulai habis.

Mata Shilla menyilau saat sorotan lampu mobil mengenainnya. Shilla tak sanggup mengangkt wajahnya lagi. Ia berharap mobil itu adalah mobil Gabriel. Dan benar saja seorang pria berlarian menghampirinya. Shilla menyunggingkan senyumnya. Merasa bersyukur Gabriel sudah datang.

“Loe .. Loe . . ngap . .ain disini ??”Shilla sudah dapat menebak kata yang pertama kali akan keluar dari bibir Gabriel adalah kalimat ini. Gabriel masih menatap Shilla binggung.

“Loe bisa kan masuk pakek kunci yang gue berikan. Gak jadi gelandangan disini”Gabriel malah masih nerocos. Ia tak melihat bagaimana wajah Shilla saat ini. Karena Shilla masih terus menunduk.

“Ayo masuk”ajak gabriel dingin. Ia membuka gerbangnya dan tak mempedulikkan Shilla yng sedikit mengisak. Shilla segera menghapus air matanya.

“Ngapain loe masih berdiri disna. Ayo masuk !!!”ujar Gabriel sama sekali tak melembut. Gabriel sendiri tidak tau kenapa ia selalu memperlakukan gadis ini seperti ini. Karena ia binggung harus bagaimana dengan gadis didepannya ini.

Gabriel mendengus melihat Shilla yang masih duduk dan terus menundukkan kepalannya.

“Loe mu gue seret ??”sinis Gabriel dan mendapat jawaban gelengan pelan dari Shilla. Shill pun perlahan mencoba berdiri. Namun baru setengah ia mengangkat tubuhnya, dirinya malah terjungkur. Kakinya yang melemah sudah tak kuat menyangga tubuhnya.

Gabriel kini dapat melihat jelas wajah Shilla yang memucat. Gabriel mematung sesaat, apalagi saat ini Shilla tiba-tiba menangis. Samar-samar Gabriel dapat melihat isakan gadis ini yang masih duduk tersungkur.

Gabriel tak membuka mulutnya lagi. Tentu saja ia kini tau apa yang terjadi dengan gadis ini. Ia berjalan mendekati Shilla dan lngsung membopong tubuh mungil itu.

“Awhh . .”ringisn Shilla pelan menahan tubuhnya yang sakit akibat perlakuan kasar papanya. Gabriel menatap wajah Shilla. namun Shilla langsung mengalihkan tatapannya tak berani menatap gabriel. Ia memilih diam saja dalam gendongan Gabriel.

Gabriel meningglkan mobilny diluar. Ia berjalan masuk kedalam rumahnya. Kedua tangannya dapat merasakan panas dinginnya tubuh Shilla. Dan air yang mulai membasahi lengannya. Ia dapat merasakan baju gadis ini masih basah. gabriel mencoba memendamnya terlebih dahulu sebelum semua emosinya semakin meluap. Yang ada diotknya sekarang adalah bagaimana cara untuk membunuh papa gadis ini !!!.

Gabriel mendudukan Shilla di sofa ruang tamunya dengan perlahan. Ia terus saja menatap gadis ini dengan tatapan tajam. Sedangkan Shilla pun masih tap bernai menatap gabriel. Shilla sedikit takut Gabriel akan marah. Tentu saja bukan kepadanya melainkan orang yang membuatnya seperti ini. Dan marahnya gabriel sangat menakutkan baginya.

“Loe diapain sama papa loe??”tanya Gabriel dingin. Ia berdiri tepat di depan Shilla. Mendengar pertanyaan Gabriel, Shilla memilih menggelengkan kepalanya saja. Tak ingin menjawab pertanyaan Gabriel. Ia tidak mau gabriel akan melakukan hal yang tida dinginkannya.

Gabriel sudah dapat menebak gadis ini tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia mendesis sebentar. Mencoba mengendalikkan sisa kesabarannya.

“Sekali lagi gue tanya . Loe diapain sama papa loe??”dan sekali lagi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

“LOE DIAPAIN SAMA PAPA LOE ?? HAH??!!!”tubuh Shilla langsung menengang. Ia terkejut bukan main mendengar bentakkn gabriel yang tiba-tiba. Perlahan air mata gadis ini kembali turun. Matanya memanas kembali. Ia mengigit bibirnya agar suara tangisannya tak terdengar oleh Gabriel.

Kesabaran Gabriel sudah di titik akhir, ia tak bisa membiarkan ini smeua terus berlanjut atau gadis ini bisa kehilngan nyawanya begitu saja. Dan Gabriel tidak ingin itu terjadi.

“Loe tunggu disini”ujar Gabriel dingin dan berniat untuk beranjak keluar.

Shilla langsung mengangkat kepalanya seketika itu. Ia tau jelas Gabriel akan kemana. Dengan cepat Shilla berlari menyusul Gabriel dengan sisa tenagannya.

“Kak Jangan !!!”cegah Shilla yang tiba-tiba lansung duduk dan memegangi kaki kanan Gabriel.

Gabriel menatap Shilla dingin, ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan apa yang dilakukan gadis ini.

“Lepasin !!”sinis Gabriel. Sorotan mata tajamnya benar-benar menakutkan.

“Shilla mohon jangan. Shilla gak mau ka . . “

“Gue bilang lepasin ,YA LEPASIN !!!”bentak gabriel tak bisa mengeluarkan sikap lembutnya saat ini. Shilla menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan tangannya pada pergelangan kaki Iel.

“Loe mu mati ? mau nyawa loe hilang ?? lepasin!!!”gabriel masih kekuh dengan tujuannya. Diluar dugaan Shilla mulai perlahan melepaskan genggamannya tangannya yang memegangi kaki Gabriel. Shilla menundukkn kepalnya.

“Kak . . sakit . . .”lirih Shilla pelan. Namun cukup terdengar oleh gabriel. Hanya ini yang shilla bisa lakukan. Shilla tau dimana kelemahan Gabriel. Gabriel tidak akan tega melihat dirinya keskitan. Namun dirinya pun tak sepenuhnya berbohong. Pada kenyatanya semua tubuhnya memang sakit akibat kekerasan papanya.

Gabriel langsung berbalik menatap Shilla. Ia tak banyak bicara lagi, ia mencoba mengendalikkan emosinya sesaat. Setelah itu langsung membopong tubuh Shilla untuk masuk kedalam rumahnya .

Gabriel membawa Shilla ke kamar yang biasanya di tiduri oleh Shilla. Gabriel tak menatap Shilla sedikit pun. Meskipun ia tau bahwa gadis itu sedari tadi memperhatikannya. Gabriel tak ingin salah tingkah dihadapan gadis ini.

Shilla terdiam saja diatas Gabriel, Sedangkan pria itu keluar kembali untuk mengambil peralatan P3K untuk dirinya. Shilla tau Gabriel sangat dingin. Namun dibalik dinginya seorang gabriel ada sebuah es yang telah mencair dan yang berhasil mencairkan es tersebut tentu saja Shilla.

Gabriel masuk kedalam kamar membawa kotak p3k. Ia langsung duduk disebalah shilla. Tanpa banyak bicara dan banyak aksi lagi, Gabriel segera merawat luka Shilla. Ia cukup ahli dalam masalah ini. Toh, dari dulu Gabriel sudah mengurusi dirinya sendiri tanpe minta bantuan siapapun.

Shilla menahan rasa perih dilukanya yang di obati gabriel. Ia mengigit bibirnya kuat-kuar agar tidak mengeluarkan suara ringisan. Ia takut gabriel akan marah lagi.

“Mandi air hangat, lalu tidur”ujar gabriel sambil berdiri dari kasur. Ia membawa kembali kotak p3k.nya. Namun belum sempat Gabriel melangkahkan kakinya untuk beranjak dari kamar ini. Tangan gabriel dicegah oleh Shilla. Gabriel menatap Shilla datar menunggu gadis itu untuk mengeluarkan suarannya.

“Kakak disini aja “pinta Shilla sangat memohon. Namun sepertinya Gabriel tidak bisa disini terus menerus. Ia bisa mati membeku jika berhadapan dengan gadis ini.

Perlahan gabriel melepaskan tangan Shilla dari lengannya. Ia tak berani menataap wajah Shilla yang tentu saja akan kecewa dan sedih.

“Gue keluar”ujar gabriel dan beranjak keluar begitu saja.

Shilla menatap Gabriel dengan wajah yang sedih. Ia tak tau harus bagaimana lagi menghadapi pria itu. Namun jujur saja ia menyadari bahwa dirinya begitu sering merepotkan pria itu. Dan Shilla juga takut jika gabriel suatu saat nanti akan merasa bosan karenannya. Dan kini ketakutan Shilla mulai datang.

****
Kamar Alvin

Rio sudah terlelap di sebalah Alvin, Sepatu Rio pun masih terpasang dikedua kakinya. Alvin berdiri dari kasurnya. Ia sama sekali tak bisa tidur setelah kejadian itu. Ia sendiri tak tau harus berbuat apa. Ia menyadari akan kesalahan besarnya tersebut.

Alvin melepaskan sepatu Rio dengan fikiran kosongnya. Setelah itu ia memilih untuk keluar sjaa dari kamarnya. Mencari makanan yang bisa dimakan. Untuk mengisi perutnyayang kosong dari kemarin.

Alvin berjalan menuju dapur, ia melihat Cakka yang sedang berada di meja makan dengan membaca buku. Alvin melengos saja merasa tak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.

“Vin . . “panggil Cakka yang menyadari kedatangan Alvin. Alvin tak menyahuti sama sekali. Ia sibuk mencari makanan didalam kulkas.

“Alvin . . “panggil Cakka sekali lagi. Ia berusaha sebisa mungkin memperbaiki hubungannya dengan Alvin.

“Alvin . . .”

“Al . . . “

“Apa!”sahut Alvin judes tanpa menatap Cakka. Cakka menutup bukunya. Ia berjalan untuk menghampiri Alvin.

“Gue . . gue . . . gue . . . . gu . . . .”

“Kalau gak ada yang dimongin mending loe diem !!!”potong Alvin dan membuat Cakka langsung diam seribu bahasa. Alvin menutup kulkas dan hanya mendapatkan sebungkus makanan ringan. Ia lantas berjalan melewati Cakka begitu saja.

Namun beberapa langkah kemudian Alvin berhenti. Ia menghelakan nafas beratnya sejenak.

“Kalau loe mau tanya gue masih benci sama loe atau enggak. Jawaban gue masih sama seperti dulu . . “

“Gue benci sama loe !!”

“Dan jangan pernah mencoba untuk berbaik sama gue . . .”

“Karena gue gak akan berniat untuk berbaik hati sama loe !!”Setelah puas mengeluarkan cibiran tajamnya Alvin melanjutkan langkahnya kembali menuju kamarnya. Ia tak peduli Cakka mematung membeku disana dengan ucapannya.

Cakka menyunggingkan senyum yang terlihat ia paksakan. Ia tentu tahu dan seharusnya sadar jika Alvin sangat membencinya. Dan ia tak tau harus bagaimana lagi membuat pria itu bisa luluh dan tidak membencinya.

“Mungkin gue harus bersabar lagi “

“Alvin memang dingin. Dan gue harus bisa membuat Alvin tidak seperti itu”

“Suatu saaat nanti pasti ada jalan dimana kita akan saling berbaikan. Dan menjadi saudara yang utuh”

****
2.30 a.m

Sivia meminum gelas ke 10.nya dalam satu tegukan. Ia tak peduli dengan akibat yang ia lakukan saat ini. Alunan musik di tempat ini semakin membuatnya buntu. Ia tak bisa merasakan lagi hidup yang menyenangkan. Hidup yang lurus. Sekeras apapun ia mencoba melupakan kejadian itu. Semakin sakit dan berat kepalannya.

“Aisshhhh . . . !!!! “

“Bisa gue mati sekarang ??”

“Apa gue bunuh diri aja ??”

“Hidup ini terlalu kejam buat gue !!!”

“Gue seperti gak punya tujuan hidup lagi !!”

“Aisshhhh !!!”

“Brengsek !! brengsek !!”

“Kenapa semua pria itu brengsek !!! “

“tambah satu gelas lagi !!”ujar Sivia menyodorkan gelasnya kepada witers didepannya yang menatapnya dengan gelengan kepala. Tentus saja prria itu tau bahwa gadis ini sudah mabuk berat.

“Apa gue harus balas dendam ?”

“Yah. Gue emang harus balas dendam “

“Memmbalas dengan yang lebih sakit dari yang gue rasain. Hahahhaha. . . “

“Tapi . . tapi. . gue harus ngapain. . .”

“Ayo Sivia loe harus fikirin loe harus balas dendam ke Alvin. “

“Loe harus fikirin Sivia !!!! hahahahaha”

Sivia memegang kepalannya yang terasa berat sekali. Ia tak menyadari bahwa seorang pria sedari tadi mengawasinya dari kejauhan. Perlahan pria itu menghampiri Sivia.

“Ikut gue !!”Sivia menatap pria itu dengan samar-samar. Ia tak sepenuhnya sadar dan tak jelas melihat wajah pria itu.

“Lepasin gue !! loe siapa !! “

“Loe mau bahwa gue kemana !!!?”

“Gue gak maaauuu!!”teriak Sivia memberontak. Namun pria itu terus berusaha membawa Sivia dengan memapah tubuh Sivia.

“Loe mau bawah gue kemanaa !!!”

“Ikut gue !!”pria itu terus memaksa Sivia untuk mengikutinya. Sivia yang antara sadar dan tidak sadar mengikuti pria itu saja. Ia tak bisa berfikir jenih saat ini.

****
Kamar Gabriel

Gabriel membuka laptopnya, ia memilih untuk membuka pesan masuk di email-nya. Dan ia juga membuka chat Yahoo massangernya. Sudah cukup lama ia tak melakukan hal ini.

Satu persatu Gabriel buka, ia membaca dengan teliti apa isi pesan dari email yang dikirim untuknya. Dan rata-rata emailnya hanya berisikan tentang info perlombaan. Dan hasil akademik di sekolahnya yang memang selalu diinformasikan melalui email. Gabriel menghelakan nafas beratnya.

“Gue gak bisa begini terus. . “

“Gue gak mungkin membuat Shilla menaruh banyak harapan ke gue”

“Gue gak tau perasaan gue bagaimana . . “

“tapi . . . . “

Ding . . . .

Sebuah chat masuk di YM gabriel. Gabriel mematung selama beberapa saat melihat siapa yang mengirimkan chat kepadanya. Entah menagapa bibir Gabriel langsung terangkat begitu saja membentuk sebuah senyuman yang belum ia tunjukkan sama sekali dalam beberapa hari ini. Dengan cepat Gabriel membalas chat orang tersebut.

***

Selama 30 menit Gabriel melakukan chat dengan seseorang dan membuatnya kini sedang berada di sebuah cafe yang buka 24 jam. Dan tentu saja ia bertujuan untuk menemui orang tersebut. Orang yang lama sekali sudah tak ia jumpai. Dan tidak ada yang tau tentang orang ini. Bahkan Rio dan Alvin pun sama sekali tak mengenal sosok yang akan ditemui oleh Gabriel.

“Sudah menunggu lama ??”sebuah suara yang sangat dikenal Gabriel mengangetkannya dari belakang. Gabriel menatap orang tersebut dan langsung menggelengkan kepalanya.

“Gue boleh duduk ??”tanya orang tersebut. Gabriel mengangguk. Orang tersebut terlihat begitu cantik. Bibirnya memerah sempurna. Kulit putihnya menambah kecantikan diwajahnya. Rambutnya pun dibiarkan tergerai begitu saja. Dengan pakaian santai yang ia pakai saat ini. Cukup membuat gabriel mematung beberapa saat.

“Gimana kabar kamu ??”tanya gadis itu. Gabriel tersentak kaget. Ia sedari tadi hanya menatap gadis ini.

“Baik. Kakak sendiri ???”

“baik juga. “gadis ini mulai membuka menu-menu makanan yang akan ia pesan.

“Sekolah kamu gimana ??”

“Baik . “

“baik ?? beneran baik ?? Gue sering lihat loe di diskotik sama 2 Alvin dan Rio”Gabriel membelakakan matanya. Ia binggung untuk menjawab apa saat ini.

“Apa karena gue loe jadi gitu ??”gabriel mnatap gadis ini sedikit sinis. Tak suka dengan pemikiran gadis ini yang terlalu percaya diri.

“Sama sekali gak ada hubungannya dengan kakak”jawab gabriel tegas. Gadis tersebut menatap Gabriel kembali. Ia mengembangkan senyumnya membuat emosi Gabriel yang muncul beberapa saat langsung menghilang.

“Gue akan tunangan sebentar lagi. . . Dan gu / . . .”

“Apa kakak bahagia ??”gadis itu langsung terdiam. Berusaha menyembunyikan sesuatu di ekpresi wajahnya yang sedikit kentara.

“Tentu saja gue bahagia. Dan gue harap loe bisa datang ke pertunangan gue “

“Gue gak akan datang”

“Gue harap loe datang dengan cewek loe”

“Gue gak punya pacar “

“Dan loe mau ngenalin pacar loe ke gue. “gadis itu seolah tak menanggapi balasan ucapan Gabriel. Dan sedikit membuat Gabriel kesal tentunnya. Gadis tersebut mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Gue lupa kembaliin ini . . .”ujar gadis tersebut dan memberikan sebuah kotak cincin kepada Gabriel. Gabriel sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan gadis ini. Ia langsung membuang kotak cincin itu kemana saja. Membuat mata gadis tersebut langsung terbuka lebar.

“Gue gak butuh . . “gadis itu menghelakan nafas beratnya. Ia tau jelas bahwa bicara dengan pria didepannya ini membutuhkan kesabaran yang ekstra. Apalagi sikap gabriel yang menurutnya sudah berubah 180 derajat tak seperti dulu.

“Gue tau gue salah. Banyak salah malah sama loe. “

“Gue harap loe bisa maafin gue. Walau gue tau loe gak akan maafin gue “

“Aku udah maafin kakak. Dari dulu saat semuanya belum terjadi “gadis itu langsung terdiam membeku. Gabriel benar-benar membuatnya kehilangan kata saat ini.

“Masa lalu adalah masa lalu kan. Kamu dengan jalanmu sendiri. dan aku dengan jalanku sendiri . Jadi . . gue harap lo . .. “

“Gak ada yang perlu dibicarain lagi kan ??? gue boleh pulang kak??”potong Gabriel dengan tatapan dingin miliknya. Gadis itu menganggukan kepalanya beberapa kali dengan wajah kecewannya. Gabriel berdiri dari tempat duduknya. Dan mulai berjalan meninggalkan gadis tersebut tanpa berfikir lama lagi.

“Gue kira hubungan kita bisa membaik seperti dulu. Namun sepertinya gue salah. “ucapan gadis itu yang tiba-tiba membuat gabriel memberhentikkan langkahnya.

“Sebaik adik dan kakak. Bukan seb . .. “

“Besok gue kerumah loe. Ada yang ingin gue tunjukkan .”ujar Gabriel dan langsung melanjutkan langkahnya. Gadis itu diam saja. Merasa kaget tentunnya. Apa yang akan ditunjukkan gabriel kepadanya ?. gadis itu masih tetap diam disana. Memfikirkan apa saja yang ada dibenaknya saat ini.

****

Rumah gabriel

Shilla masih tetap menunggu Gabriel di ruang tamu. Sejam yang lalu, ia mendengar Gabriel keluar dengan mobilnya. Dan membuat Shilla sedikit khawatir. Dan ia pun memilih untuk menunggu disini.

Shilla tak peduli dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menjalar di setiap tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga menahannya. Dan akhirnya ia dapat mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah ini. Shilla tersenyum senang.

Shilla melihat gabriel yang berjalan melewati ruang tamu. Shilla menatap Gabriel sedikit kecewa karena Gabriel langsung jalan terus tanpa melihat ada dirinya disana.

“Kak . . “panggil Shilla dan langsung membuat gabriel tersetak kaget dan membalikkan tubuhnya kearahnya.

“Ngapain loe disini ? tidur sana”ujar gabriel dingin. Shilla menggelengkan kepalannya.

“Shi .. . Shilla nungguin kakak”

“Gue gak butuh loe tungguin. Cepat tidur. Tubuh loe masih sakit “

“Kakak dari mana ?”tanya Shilla tanpa mengindahkan ucapan gabriel.

“Ketemu sama temen gue”jawab gabriel singkat.

“Cewek??”

“Iya”Shilla langsung menunduk kecewa. Ia merasakan hatinya saat ini begitu sakit. Sampai rasanya untuk bernafas beberapa saat saja tidak bisa. Namun ia segera mencoba untuk mengontrol dirinya.

“Tenang aja gue gak punya pacar “jawab gabriel singkat yang tahu akan ekspresi kecewa gadis itu. Setelah itu Gabriel memilih untuk terus berjala ke kamarnya. Meninggalkan Shilla yang saat ini sudah senyum-senyum tak jelas. Merasa legah tentunya dengan pernyataan Gabriel tadi.

****

Cakka mengeluarkan beberapa barang di kopernya. Ia mencari sebuah album yang sangat penting untuknya. Dan tak lama kemudian akhirnya ia menemukan album foto berwarna merah yang terlihat sudah usang. Cakka langsung membuka album tersebut satu persatu.

“Kamu dimana sekarang ??”

“Apa kamu masih ingat dengan aku ??”

“Aku harap kamu masih ingat dengan temanmu ini “

“Aku sangat merindukanmu. Dan aku akan berusaha untuk mencarimu . . :”

“Dan aku berharap kita akan bertemu lagi/. Secepatnya. . . “

‘Yah secepatnya . . . . “

Cakka tak ada henti-hentinya tersenyum setiap kali ia melihat album foto tersebut. Baginya orang yang ada didalam foto itu sangat penting untuknya. Sampai rasanya menunggu selama beberapa tahun untuk bertemu gadis itu membuatnya tersiksa.

Ia takut orang itu akan membencinya. Karena dirinya telah pergi tanpa pamit begitu saja.

“Aku harus cepat mencari dia . . “

“harus !!!”

Tekat Cakka. Ia pun membuka laptopnya dan berusaha mencari di situs jejaring sosial mana pun. Ia mencari satu persatu dengan nama orang tersebut yang ia tulis pada kotak search. Beraharap ia menemukkan orang yang ia cari.

Namun tentu susah baginya untuk mencari. Karena banyak nama yang sama dengan orang itu. Selama beberapa saat Cakka terus mendecak kecewa. Tapi ia berusaha terus mencarinya.

****

Surat Ahli waris

Lee Seena . 16 tahun berkebangsaan Korea. Lahir di Ilsan ditahun 24 februari 1997 . Mendapatkan warisan seutuhnya dan semua yang di miliki oleh keluarga Lee Dae Si . Ia menjadi pewaris tunggal dari keluarga ini.

****

Bersambung . .. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s