REVIL – 10 “Help Me !! “

Part Ten of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .
PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

REVIL – 10
“Help Me !! “

***
“Dan Maaf kalau nama ceritanya aku izin lagi menggunakan nama artis . Mungkin Cuma nama panggilannya saja. Semoga dapat mengerti , Dan jika ada kesamaan nama tolong dimaafkan..Ini hanya cerita Fiksi dan tidak nyata. Kalau ada yang merasa dirugikan aku sangat minta maaf . Dan kalau ada kata-kata kasar di cerita ini. Maaf karena hanya untuk mendukung feel ceritas aja. Dan Haram untuk di contoh !!”
****

Sivia dimasukkan ke dalam suatu kamar. Gadis ini memegangi kepalannya yang terasa berat, Sivia perlahan didudukkan oleh pria tersebut di sebuah sofa berwarna merah tua. Sivia menatap pria itu dengan keadaan mabuk berat. Ia tak bisa sepenuhnya ingat akan wajah pria tersebut.

Pria itu berdiri didepan Sivia. Matanya yang dingin menatap lekat-lekat gadis ini mulai dari bawah sampai atas. Sepertinya ia tak mau melepaskan sama sekali pandangannya dari gadis cantik ini.

“Ahh . . . .”ringis Sivia memegangi kepalannya semakin sakit. Ia terlalu meminum banyak alcohol mala mini. Padahal ia tak pernah mabuk-mabukkan seperti ini. Kejadian tersebut membuat kehidupannya mulai berubah.

Perlahan pria tersebut membopong tubuh Sivia untuk ia baringkan diatas kasur. Sivia yang antara setengah sadar dan tidak hanya bisa diam menahan rasa sakit dikepalannya. Matanya hanya dapat ia pejamkan dari tadi.

Dan tanpa sepengatahuan dari gadis ini. perlahan pria tersebut satu demi satu melucuti pakaian Sivia. Mata dinginnya masih terus terpancar dengan senyum samar-samarnya yang tak bisa dijelaskan.

****

Keesokan Hari . . . .

Hari minggu tentu saja hari yang sangat ditunggu bagi para murid-murid sekolah. Karena mereka bisa melakukan aktifitas santai dan untuk liburan. Namun tidak untuk tiga pria ini. Pagi-pagi mereka sudah berkumpul di sebuah cafe untuk membicarakan suatu hal penting.

Alvin dan Gabriel sudah berada di cafe ini sekitar 10 menit yang lalu. Mereka menunggu Rio yang tak kunjung datang. Setelah dari rumah Alvin, Rio berpamitan untuk pulang kerumahnya terlebih dahulu.

Tak selang berapa lama yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Ketiaga pria ini langsung membahas topik masalah yang ingin mereka selesaikan saat ini juga. Sebenarnya bisa dibilang yang punya masalah ini hanyalah alvin dan rio. Gabriel yang masih menganggap kedua pria tersebut adalah sahabatnya hanya ingin membantu saja.

“Jadi . . . soal Alyssa gue masih belum bisa nemuin kabar dia”ujar Gabriel membuka suara. Rio mengangguk-anggukan kepalannya.

“Dan loe vin. Besok kemungkinan kayaknya Sivia masuk sekolah. Gue saranin loe minta maaf sama dia. Coba aja loe minta maaf “

“Aisshh. . Di sekolah ? apa dia mau maafin gue ? Kalau dia gak mau maafin gue gimana? Kalau dia mempermalukan gue di sekolah gim . . . “Gabriel menatap pria ini dengan tajam.

“Yang mempermalukan orang siapa? Dan yang merasa dipermalukan siapa ?Aisshh. anak ini . . .”desis Gabriel sedikit kesal dengan Alvin. Sedangkan Alvin hanya bisa mendengus tak bisa membalas ucapan Gabriel.

“Oke. Gue besok akan coba ajak Sivia keluar. Dan loe bisa bicara berdua sama dia.”

“Ingat Cuma bicara !! gak lebih!! “ujar Gabriel penuh penekanan.

“Iya iya emangnya gue mau ngapain coba . . “

“ya kali aja loe gak waras kayak kemarin “sahut Gabriel santai sambil membuka ponselnya mencari nomer kontak Sivia yang sudah ia punya dari kemarin sejak ia menyelamatkan gadis tersebut.

“Gue harap loe berdua dimaafkan oleh kedua gadis itu . “tambah Gabriel kembali dan membuat dua pria ini hanya bisa menghela nafas mereka.

“Gue udah cari tau tentang yang bawa Alyssa tapi sama sekali tidak ada yang tau siapa pria itu. Apa dia manusia ? atau . . . .”Gabriel dan Alvin melirik ke arah Rio.

“Atau ??”sahut gabriel dan Alvin berbarengan .

“Atau … .mmmmm. . . . lupakan . .”jawab Rio yang tak ingin meneruskan ucapan tak masuk akalnya.

“Menurut gue sih,Alyssa masih ada di Indonesia. Dia mungkin sembunyi atau mungkin menenangkan hatinya. Atau mungkin bunuh diri karena gak kuat menahan penderitaanya “ujar gabriel asal. Rio melempar sendok minumannya dengan bringas ke arah Gabriel yang duduk didepannya.

“Gue hanya berusaha meramalkan apa yang ada di otak gu . . .”

“Persetan dengan ramalan loe!!”serempak Alvin dan Rio dengan tatapan dinginnya kepada pria ini, Gabriel hanya terkekeh ringan. Dan memainkan ponselnya kembali .

“Oke pertemuan hari ini selesai. Gue ada urusan yang mendadak. Dan gue mau pergi dulu”ujar Gabriel yang mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Kemana loe ? nyamperin Shilla ?”tanya Rio tanpa menatap Gabriel dan membuat pria ini memberhentikkan langkahnya.

“Gak. Dia ada dirumah gue “seketika itu dua pria ini langsung menatap Gabriel penuh menyelidik.

“Loe berdua jangan salah sangka dulu. Dia di perlakukan kasar lagi sama papanya. Semalam ia dirumah gue kayak mayat hidup . Dan gue gak mau dia mati gara-gara dianiaya papanya lagi”

“Kita gak ada yang tanya kenapa shilla ada dirumah loe”ujar Alvin langsung dengan wajah polosnya dan tentu saja membuat Gabriel sedikit gelagapan sendiri.

“Waahhh. .. .Waahh . . . sejak kapan seorang Gabriel Diraga Pahlevi putra dari Mr.Diraga Pahlevi seorang pengusaha interior terkenal di Asia tenggara menghawatirkan seorang gadis ??”sindir Rio yang perlahan menolehkan wajahnya ke arah Gabriel yang semakin mencoba mengontrol nafasnya akibat dua sahabatnya ini.

“Loe mau denger ramalan gue gak iel ??”tambah Rio dengan senyum penuh kemenangannya. Akhirnya ia bisa juga membalas pria ini yang selalu membuatnya mati suara.

“menurut ramalan gue loe sedang jatuh cinta sama Shilla “

Sreeeekkkkkk . . .

“Persetan dengan ramalan loe!!”

Gabriel segera menggeser kursinya dan berjalan dengan cepat meningalkan Rio dan Alvin yang sudah tertawa puas sambil ber “high-five” penuh kemenangan. Tawa mereka seolah melupakan sejenak masalah mereka berdua.

****

Gabriel menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tadi pagi ia sudah mengadakkan janji dengan Seorang gadis. Dan tentu saja ia saat ini sedang menuju rumah gadis tersebut. Senyum di bibir pria tampan ini sedikit mengembang. Entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang. Yang ia tahu hanyalah ia harus cepat sampai dirumah gadis itu.

****

Alvin dan Rio masih di café tersebut. Mereka berdua nampak menikmati weekend hari ini. Rio meletakkan ponselnya. Lantas menatap Alvin yang sibuk menatap luar jendela. Mengamati pemandangan diluar sana dengan melihat laluhalang orang-orang yang masuk kedalam restoran.

“Vin. Gue ada ide”ujar Rio tiba-tiba dan membuat Alvin langsung menolehkan wajahnya ke sahabatnya ini. Alvin sedikit mengernyitkan keningnya menunggu Rio melanjutkan kata-katanya.

“Gimana kalau kita buat Gabriel sama Shilla kencan berdua ??”ujar Rio sontak membuat Alvin membulatkan kedua matanya.

“Loe gak gila kan? Loe mau dibunuh sama Gabriel ??”

“Tenang aja. Gabriel gak akan berani bunuh gue. Gue ngelakuin ini demi !! catat baik-baik demi Gabriel . Gue sudah kehabisan kesabaran melihat pria itu tetep diam dan binggung dengan perasaannya. Padahal sudah jelas banget kan dia suka sama shilla “Alvin membuka mulutnya perlahan-lahan mendengar pernyataan Rio yang menurutnya seperti kereta ekspres. Dan tentu saja ia mengira di depannya ini bukanlah Rio. Sahabatnya yang bernama Rio adalah orang yang paling mahal untuk mengeluarkan satu kata.

“Loe Rio kan ?? Beneran Rio Andrea Mahesa ? “ujar Alvin sangat skeptis.

“Apaan sih loe !! yaiyalah gue Rio”

“Gak biasanya loe ngomong kayak tante-tante lagi arisan. Apalagi loe ngurusin hubungan orang lain. Loe kesurupan ??”

“Aisshhh. . intinya loe setuju gak dengan ide gue tadi ??”ujar Rio mengingatkan Alvin akan idenya yang menurutnya sangat brilliant ?? . Alvin menatap Rio dengan wajah datarnya.

“Emang loe tadi ngomong apa ??”Rio meremas-remas kedua tangannya menahan emosinya. Kalau saja tidak ingat didepannya ini adalah sahabat karibnya ia mungkin sudah akan menerjunkan Alvin dari hotel berlantai 25.

****

Gabriel masuk kedalam rumah becat coklat ini. Rumah tersebut tidaklah terlalu besar. Rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi oleh rerumputan yang tertara rapi dan juga beberapa bunga yang terlihat baru mekar.

Gabriel melangkahkan kakinya langkah demi langkah. Merasakan kelegaan akhirnya bisa menginjakkan kaki dirumah ini lagi setelah sekian lama ia tak pernah kesini. Gabriel melihat seorang gadis yang sudah menunggunya di teras rumah. Gadis tersebut nampak asik membaca buku di sebuah sofa panjang yang berada di depan rumahnya. Gabriel segera menghampiri gadis tersebut.

“Hai kak”sapa Gabriel dan membuat gadis tersebut mendongakkan kepalannya. Gadis itu langsung tersenyum menatap Gabriel.

“Hai. Duduk gih”suruh gadis tersebut sambil menutup buku yang sebelumnya ia baca. Gabriel menganggukan kepalannya lantas duduk di sebelah gadis tersebut.

“Mau minum apa ??”tawar gadis tersebut kepada Gabriel tentunya.

“Gak usah kak .”tolak Gabriel. Keheningan terjadi beberapa saat antara dua orang ini.

“Gak ada yang berubah disini”ujar Gabriel membuka suarannya kembali. Gadis itu menolehkan wajahnya ke arah Gabriel dengan senyumnya yang mengembang sempurna menambah kecantikannya.

“Memang dan tidak akan ada yang berubah disini. “

“Loe bahagia sekarang kak ??”Gadis itu terkekeh ringan mendengar pertanyaan Gabriel yang menurutnya aneh . Gabriel sudah untuk dua kalinya bertanya seperti ini kepadannya.

“Tentu. Why ??”

“Loe beneran tunagan ?? sama siapa ? apa gue kenal sama orang itu ??”Gadis itu semakin melebarkan tawannya. Membuat Gabriel mengernyitkan keningnya. Ia merasa apakah ada yang lucu dengan pengajuan pertanyaannya tersebut.

“Mmmm . . Loe gak kenal sama dia. Dia sekarang masih berada diluar negeri melanjutkan kuliahnya. Dan mungkin setelah dia selesai dengan kuliahnya. Gue juga selesai dengan kuliah gue. Kita akan tungan dan men . . . . . . “

Gadis ini langsung mematung. Matanya membulat sempurna kearah depan. Ia masih bisa merasakan hembusan nafas hangat dari pria disampingnya ini menempel di pipinya. Yah, Gabriel saat ini mencium pipi kanan gadis ini dan masih belum melepaskannnya.

Perlahan gadis ini memejamkan matannya dengan kedua tangannya yang ia kepalkan kuat-kuat. Menahan semua perasaannya yang sedang bergejolak penuh dilemma.

“Gue udah punya pacar iel “gadis itu perlahan menjauhkan tubuh Gabriel darinya. Terlihat raut wajah gabriel yang menyembunyikan kekecewannya. Gabriel menghela nafas panjangnya tak ingin menatap mata gadis ini yang menatapnya lembut.

“Loe gak seharusnya begini Iel . Loe punya gadis yang sangat cinta sama loe kan”Gabriel dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah gadis ini. Ia tentu saja terkejut bagaimana gadis ini tau akan tentang “gadis itu yang tak lain adalah Shilla”

“Loe pernah cerita kan. Saat kita dulu masih pacaran. Ada gadis yang suka banget sama loe. “lanjut gadis itu . dengan sedikit tersenyum kecut namun beberapa detik kemudian ia mencoba tersenyum ringan.

“Dan gue gak mungkin ngelepasin loe gitu aja saat kita putus. Gue yakin loe akan ngelakuin hal bodoh dan bener-bener bodoh. Buktinya sekarang ? loe sering ke diskotik gak jelas. Apakah itu Gabriel yang gue kenal ??”

“Gue terkadang kalau lagi kangen sama loe, gue akan jalan-jalan melewati rumah loe. Dan beberapa kali gue lihat gadis dirumah loe. “

“Gue . . . Gu . .. gue . . gak ada apa-apa sama dia”tegas Gabriel sedikit terbata-bata.

“Gadis itu cocok kok buat loe. Lupain gue dan loe bisa mulai dengan gadis itu”

“Kak . .. . .!!!”

“Gue udah tunagan. Dan gue gak akan pernah bisa kembali ke sisi loe. Gue yakin loe udah lupain semua perasaan loe ke gue. Cuma loe belum me . . . “

“KAK!!!!”

“Loe belum menyadari semuanya itu. Dan gue harap loe bisa buka hati loe saat ini dan lupain gu . . . “

“KAK ZAHRA STOPPP!!!!”

Gadis yang sebernamnya bernama Zahra ini langsung terdiam begitu saja. Ia dapat merasakan aura panas disampingnya. Dimana Gabriel mungkin sudah begitu emosi dengan ucapannya. Zahra menatap ke depan tak berani untuk menatap gabriel.

“Gue akan lupain loe benar-benar akan lupain loe. Tapi kabulin permintaan gue satu aja. “

“Apa??”

“ loe balikan sama gue. Cuma 1 minggu “suara dingin Gabriel bahkan bisa sampai menembus hati gadis ini. Zahra tertawa pelan namun terdengar tawanya begitu parau seolah permintaan gabriel adalah perimntaan yang sama sekali tidak masuk akal.

“Gue gak mau!!”

“Gue akan benar-benar lupain loe !! hanya 1 minggu gue Cuma ingin buktiin kalau gue udah gak ada perasaan sama loe”

“Loe fikir gue cewek apaan. ?. Gue gak mungkin nyelingkuhin pacar gue “Sekarang giliran gabriel yang tertawa pelan namun terdengar menyeramkan bagi Zahra akan tawa tersebut.

“Kakak fikir gue gak tau ? alasan kakak dulu mutusin gue apa ?? Kakak udah suka sama cowok lain kan ? dan cowok itu orang yang saat ini menjadi pacar kakak kan ?? jadi apa bedannya dulu sama sekarang ? Bukan gue yang merebut kakak dari dia. Tapi sangat jelas dia yang ngerebut kakak dari gue “jelas Gabriel tajam . Zahra semakin mencengkram tangannya kuat-kuat. Gabriel memang sudah sangat berubah tidak seperti gabriel yang ia kenal dulu.

“Baiklah Cuma 1 minggu kita pacaran setelah itu loe lupain gue. Gue mohon loe buka hati loe buat gadis itu. “gabriel hanya tersenyum saja. Tak menajwab permintaan Zahra yang sangat memohon kepadanya.

*****

Sivia pulang kerumahnya dengan langkah gontai. Ia tersenyum sinis mengingat apa yang terjadi semalam. Apakah dia haris tertawa ? atau bagaimana. Dia sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.

Sivia duduk di sofa ruang tamunnya. Kepalannya terasa pusing dan badannya masih terasa lemas. Ia memijat-mijat kepalannya ringan. Tak biasanya ia seperti ini. Apa karena ia terlalu banyak minum.

Sivia merasakan perutnya yang ingin meluap. Perutnya seakan mengocak lambungnya saat ini. Sivia menutupmulutnya dan segera berlari ke arah kama mandi secepat mungkin.

“Hueeek . .. . Hueeek . . . .. “

“Hueeekk . … Huekk . . .. “

“Sivia kamu kenapa sayang ??”tante Maya yang baru datang dari supermarket langsung berlari menuju kamar mandi. Ia sempat melihat Sivia yang berlari dengan menutup mulutnya. Dan semakin cemas melihat gadis itu muntah-muntah hebat.

“Hueekk . .. Hueekk . . “Tante maya memukuk-muluk punggung Sivia. Mencoba membantu gadis ini untuk mengeluarkan muntahnya. Sivia memegangi kepalanya dengan tatapan lemas sekali. Sivia berusaha berdiri dengan bantuan tante maya.

“Kamu istirahat saja. Kamu pasti kecapean. Kamu darimana sih Via . . . “Sivia hanya diam saja. Semua badannya terasa lemas, bahkan untuk menggeerakkan lidahnya agar mengeluarkan satu kata saja rasanya begitu susah sekali. Sivia mengikuti tante maya yang membantu membawanya ke kamarnya.

Sesampainya dikamar Sivia, tante maya langsung menidurkan Sivia di kasurnya. Ia menyelimuti Sivia dan melepaskan kedua sepatu Sivia. Tante maya merasa kasihan dengan gadis ini. ia merasa gadis ini ada masalah berat yang sangat membebaninya.

****
Rumah Gabriel

Shilla yang sedang asik duduk di ruang tamu sambil langsung berdiri dengan senyum yang begitu senang sekali. Ia melihat Gabriel masuk kedalam rumah. Shilla melihat gabriel yang sedang senyum-senyum sendiri tanpa menyadari keberadannya saat ini.

“Kak . . “panggil Shilla langsung membuat gabriel memberhentikkan langkahnya dan menolehkan wajahnya ke Shilla. Raut wajah Gabriel langsung berubah-ubah. Dari mulai kaget dan berganti ke tatapan yang tak bisa diartikan. Gabriel terdiam beberapa saat .

“Kakak dari mana ?”tanya Shilla yang masih terus tersenyum. Melihat senyum tersebut entah mengapa Gabriel merasa bahwa dirinya saat ini seperti seorang pria paling berdosa sedunia. Lebih berdosa dari apa yang dilakukan oleh Rio dan Alvin.

“Kak??”panggil Shilla lagi karena Gabriel masih saja diam.

“Hah ? apa Shil ??”sahut Gabriel terbata-bata.

“Kakak darimana ??”tanya Shilla mengulangi pertanyaanya.

“Gu .. gu . gue .. gue da . . da . . gue dari ngumpul sama Alvin dan Rio”jawab Gabriel seidikit terbta-bata. Shilla berjalan mendekati Gabriel.

“Kak. Maaf ya kalau Shilla udah banyak ngereoptin Kakak. Tenang aja Shilla juga gak akan berlama-lama tinggal disini kok. Mungkin besok Shilla pulang kerumah”

“Jangan pulang!! “sahut Gabriel tegas. Gabriel langsung terdiam merutuki ucapannya tadi. Ia sendiri tidak sadar akan ucapannya tersebut. Shilla mengernyitkan keningnya.

“Gu . . gu . . gue Cuma gak ingin loe diapa-apain lagi sama papa loe. Loe tinggal disini beberapa hari dulu. Kalau situasi udah baik. Loe gue anterin pulang “jelas gabriel dengan cepat. Ia tak ingin Shilla akan salah faham.

“Iya kak. “jawab Shill malu-malu dengan tersenyum senang. Ia merasa bahagia sekali jika Gabriel peduli kepadanya. Meskipun cara Gabriel berbeda dengan yang lainnya. Namun Shilla yakin Gabriel begitu menyayanginya.

Sedangkan Gabriel saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap mata Shilla, Gadis ini benar-benar begitu polos. Dan Gabriel semakin merasa bersalah akan hal itu. Ia seolah melakukan penghianatan kepada gadis yang sudah sekian lama menyukainnya.

“gue ke kamar dulu”Gabriel langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia tak mau berlama-lama berhadapan dengan Shilla.

Shilla menatap kepergian gabriel dengan sedikit merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Gabriel bersikap seperti itu. Gabriel tidak sedingin seperti biasannya. Matanya pun sedikit sendu dan binggung saat menatap Shilla tadi.

“Kak gabriel kenapa ya ??”

“Bodoh ah. Yang penting kakak gabriel udah perhatian sama Shilla . “

****

Rio tiduran di kamarnya. Ia mengambil ponsel yang ada didalam jaketnya yang berada disampingnya. Ia mencari salah satu nama dikontak nomer di smartphonenya. Setelah menemukan satu nama tersebut. Ia segera memencent tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ketelingannya.

Rio menunggu sambungannya terhubung dengan orang yang ditelfonnya. Namun sepertinya sambungannya tidak ada yang menjawab. Rio berdecak pelan. Ia pun bangun dari tempat tidurnya dan memakai jaketnya kembali.

“Kerumah Gabriel aja lah “

Rio lantas mengambil kunci mobilnya dan beranjak dari rumahnya. Ia memilih untuk kerumah gabriel mungkin ada yang ingin ia bicarakan dengan sahabatnya itu.

****

Cakka akhirnya menemukkan dimana alamat orang yang selama ini ia cari. Ternyata gadis yang ia cari masih belum pindah kemana pun. Rumahnya masih sama seperti dulu. Dengan cepat Cakka segera menjalankan mobilnya menuju kerumah tersebut. Rasanya ia ingin cepat-cepat menuju rumah orang tersebut.
****

Gabriel tiduran di kasurnya. Tangan kanannya ia jadikan sandaran pada kepalannya. Ia menatap ke atas langit-langit kamarnya. Mencoba menerawang seusatu. Saat ini entah kenapa pria ini dalam kebimbangan. Ia harus senangkah atau malah kecewa dengan diri sendiri.

ToookkkToookkkk

Gabriel menoleh ke arah pintunya yang diketuk seseorang. Ia mengernyitkan keningnya. Gabriel mencoba menebak siapa yang mengetok pintunya seperti itu. Menurutnya orang yang selalu melakukan hal tersebut adalah Shilla.

“Masuk aja Shil . Ada apa ??”teriak Gabriel dengan santainya. Dan orang diluar sana pun masuk dengan wajah seolah bertanya “ Loe panggil gue siapa ??”

“RIO ??”kaget Gabriel dan segera bangun dari tempat tidurnya. Ia sedikit kaget bercampur binggung kenapa pria ini berada di sini.

“Loe manggil gue Shilla ? emang dia ada disini ??”tanya Rio binggung. Ia masuk kedalam kamar Gabriel dan menutup pintu kamar Gabriel.

“Iya. Noh dikamarnya “jawab gabriel santai dan kembali tidur lagi.

“Kok loe gak bilang ?”

“Emangnya loe nanya ?? aisshh. . .”desis Gabriel . Ia melihat Rio yang duduk di depannya saat ini.

“Ngapain loe kesini ? “

“Kangen sama gue ?”

“ Belum cukup tadi pagi ketemu sama gue ? “

“Ahhh .. . Apa sebegitu tampannya wajah gue sampai loe gak bisa berpaling sedetik pun dari gue ??”Gabriel mulai mengajukkan pertanyaan yang membuat Rio ingin mendaratkan kedua sepatunya ke kepala pria didepannya ini.

“Terserah loe deh . . .”jawab rio pasrah. Ia tak ingin meladenin ketidak jelasan temannya ini.

“Oh ya. besok restoran gue ada pembukaan menu-menu makanan baru. Loe kesana deh. Gratis. Gue tunggu besok malam jam 8. Gimana ??”

“Boleh juga. Jam 8 malam kan ??”

“Sippp. Awas loe gak dateng. “

“Awas kalau gue dateng. Gue bakar restoran loe”ancam balik Gabriel . Rio terkekeh penuh kelicikkan. Akhirnya rencannya akan berjalan seperti yang dia inginkan.

“Yaudah kalau gitu gue pulang dulu . Bye “pamit Rio yang memang berniat ingin memberitahukan hal tersebut kepada Gabriel. Setelah itu Rio segera keluar dari kamar Gabriel untuk melanjutkan planning.nya.

Gabriel hanya geleng-geleng saja melihat tingkah Rio yang tidak seperti biasannya. Namun ia tak memfikirkannya lama-lama. Ia kembali melamun kembali.. Memfikirkan masalahnya yang hampir tertunda karena kehadiran Rio.

****

Zahra mengetuk-ketuk ponselnya di meja rias kamarnya. Ia sedikit cemas dengan keputusannya tadi adalah benar atau salah. Zahra menghelakan nafas panjangnya. Ia membuka perlahan laci meja riasnya. Sebuah album foto kecil berwarna biru ia ambil dari dalam laci tersebut.

Zahra tersenyum melihat album itu. Sudah lama sekali rasannya ia tidak pernah membuka album tersebut. Perlahan Zahra membuka lembar demi lembar. Senyumnya terus mengembang di bibir manisnya. Kenangan dulu kembali lagi.

“bagaimana bisa gue pacaran sama anak SMP “

“Aisshh. Zahra, Zahra seharusnya loe gak ngasih kesempatan palsu sama anak ini lagi “

Didalam album foto tersebut nampak jelas Zahra dengan Gabriel sedang berfoto bersama di sebuah taman hiburan. Gabriel merangkul Zahra dari belakang. Dan Zahra pun memegang kamera untuk memotret dirinnya dan gabriel.

Kenangan dulu terasa kembali lagi. Ia sendiri tak menyangka bahwa pria tersebut masih menyimpan perasaan kepadannya. Umurnya berbeda 3 tahun dari gabriel. Saat itu dia duduk dikelas 3 SMA dan gabriel berada di kelas 3 SMP. Dan dikarenakan merasa perbedaaan umur tersebut dengan terpaksa Zahra harus memetuskan gabriel.

Ia lebih memilih kakak kelasnya yang juga mempunyai perasaan kepadanya. Saat dulu gadis ini hanya menganggap Gabriel sebagai cinta monyetnya semata. Dan ia tidak tau sama sekali bahwa Gabriel benar-benar memiliki perasaan yang begitu besar kepadanya. Dan menyebabkan Zahra tentu saja merasa bersalah kali ini.

DRRTTDDRTTTT

Ponsel Zahra bergetar, Zahra melihat ke arah ponselnya melihat siapa yang menelfonnya. Dan terpampang jelas nama Gabriel berada di layarnya saat ini.

Zahra mengambil ponsel yang ada di sebelahnya dan segera mengangkat sambungan dari Gabriel.

“Ada apa iel ?”

“Besok kakak ada acara ??” suara serak disebrang sana terdengar jelas di telinga Zahra. Yah, suara itu tidak pernah berubah sampai sekarang.

“Gak kenapa Iel ?”

“Besok restoran Rio buka menu baru. Dan gue disuruh kesana. Kakak mau nemenin kan ??”Zahra nampak berfikir sebentar.

“Baiklah. Jam berapa ? tempatnya dimana ?”

“Jam 8 kak. Besok kakak gue jemput aja. “

“Okey . “

“makasih kak. Bye “

“Bye “

Zahra meletakka ponselnya kembali. Dan untuk kedua kalinya ia menghelakan nafas beratnya. Ia tak pernah melakukan perselingkuhan seperti ini. Zahra mengigit bibir bawahnya pelan.

“tenang Zahra. Hanya 1 minggu. Hanya 1 minggu. ..”

“Setelah itu semuanya berakhir. “

****

Sivia terbangun dari tidurnya, Ia merasakan perutnya masih terasa mulas. Kepalannya pun terasa begitu berat. Sivia terdiam dalam keadaan masih berbaring. Raut wajahnya perlahan berubah menjadi raut wajah ketakutan.

“Gak . . gak .. Gak mung .. .kin. . Engg . . .ak .. . . “perlahan tangan Sivia menyentuh perutnya. Ia meremas-remas peurtnya sendiri.

“gak mungkin!!!! “teriak Sivia dengan mata tajamnya. Sivia pun segera beranjak bangun dari kasurnya. Ia mengambil dompetnya dan berjalan menuju pintu rumahnya dengan berlarian kecil .

Sivia masuk kedalam sebuah apotek dekat rumahnya. Yang berada di gang sebelah rumahnya. Sivia membeli satu barang yang sebenarnya ia takut sendiri untuk membelinnya. Namun mau tak mau Sivia harus membelinnya. Ia tidak ingin dihinggapi ketakutan dan pradugaan dalam otaknya.

Setelah membeli barang tersebut Sivia segera dengan cepat kembali kerumahnya. Ia ingin cepat-cepat membuktikan bahwa yang ia fikirkan saat ini ialah tidak benar.

Sesampai rumahnya, Sivia berjalan cepat ke arah kamar mandi. Ia membuang begitu saja dompetnya disofa ruang tamu. Sivia membuka bungkusan barang yang ia beli dari apotek tersebut. Yahm barang tersebut adalah tespect . Sivia segera memakai barang tersebut. Dan berharap bahwa ia tidak hamil .

****

Cakka memberhentikkan mobilnya dirumah yang lumayan besar dan mewah. Cakka tersenyum begitu bahagia. Ia mengingat kembali saat dulu. Dan rumah ini tak pernah berubah. Masih tetap seperti dulu. Rumah seorang gadis yang membuatnya masih menyimpan perasaan sampai sekarang. Dan selalu berdoa setiap harinya agar bisa bertemu kembali dengan gadis itu.

Cakka segera turun dari mobilnya. Dan berjalan ke arah gerbang rumah tersebut yang terbuka lebar. Sepertinya pemilik rumah itu berada dirumah. Cakka pun memilih masuk saja.

****

Sivia membalikkan pelan-pelan tespect tersebut. Matannya ia pejamkan tak berani melihat bagaimana hasilnya. Namun mau tak mau ia harus membuka matannya. Perlahan gadis ini membuka matannya. Dan . . . . .

Sivia tersenyum kecut. Perlahan ia terduduk lemas dilantai kamar mandi. Tespect yang ada di tangannya pun sudah jatuh disampingnya. Kedua mata Sivia mulai terlihat sayu bahkan bendungan air mata yang siap menguyur pipinya pun sudah sedia di sana. Dan benar saja tanpa menunggu dalam hitungan detik, Air mata Sivia mengalir begitu saja. Kedua tangan Sivia mulai gemetar.

“G. . a . .k mug .. .kin . . gak . . mung . . .kin . . . “Sivia menggeleng pelan. Bahkan saat ini bukan hanya tangannya saja yang gemetar. Seluruh tubuhnya mulai gemetar.

“Gu . . gue . . gak mung .. kin. .gaak . . gak mung. . .kin . . . . “

“GAAAAAAAKKK MUNGGGKIIIIINNNNNNN!!!!!!”

****

“Permisi . . . !! “

“Permisii . …”

“Maaf. Apa ada orang didalam !! Permisi!!! . .. “Cakka mencoba melihat ke dalam karena pintu rumah ini pun terbuka. Cakka melihat tidak ada tanda-tanda ada orang didalam. Karena sama sekali tak ada yang keluar.

“Maaf . permisi .. Per . . . ..”

“GAAAAAAAKKK MUNGGGKIIIIINNNNNNN!!!!!!”

DEEGGGHHH

Jantung Cakka terasa berhenti selama dua detik. Suara itu begitu ia kenal meskipun sudah lama sekali ia tidak mendengarnya. Ia yakin bahwa suara gadis itu suara yang dia cari. Cakka mendongakkan kepalannya menatap kedalam. Ia sedikit ragu apa dia akan masuk kedalam atau tidak.

“ENGGAK!!!! GAK MUNGKIN !!!! GUE . GUE . .!! GAAAKK MUNGKIIINNNN!!! “

“MAMAAAAAAAAA !!!! PAPAAAAAAAAAA !!!!!! “

Suara itu semakin keras. Cakka gak kuaasa untuk tetap berdiri disana. Ia pun melangkahkan kakinya kedalam rumah ini. Ia tidak peduli jika dirinnya dianggap maling. Firasatnya benar-benar menyuruhnya untuk masuk.

Cakka terus mencari suara teriakan tersebut. Suara histerisan seorang gadis bercampur dengan tangisan. Cakka dapat merasakan bahwa itu adalah gadis yang dicarinya selama ini. Kaki cakka menyuruhnya untuk melangkah ke arah kamar mandi yang tak jauh dari ruang tamu.

“Si … via . . .”

Cakka kini sudah berhenti di depan kamar mandi. Dan ia mendapati seorang gadis remaja dengan rambut panjang dan kulit yang begitu putih. Gadis ini terduduk lemas masih dengan posisi menunduk. Gadis itu terlihat gemetar. Kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya.

“Si .. vi .. a . . “panggil Cakka sekali lagi. Perlahan gadis itu mendongakkan wajahnya. Mata gadis itu kini bertatapan dengan kedua mata Cakka yang penuh kecemasan.

“Sivia . . ??”Cakka masih diambang antara apakah benar gadis ini yang ia cari atau tidak. Dan juga ia cemas melihat gadis ini yang menangis seperti ini.

“Lo .. .e . . Si . . apa . .??”tanya gadis ini dengan suara yang begitu parau. Ia berusaha meredam tangisannya.

“Aku . . Gue . Aku . . Gue . . Cakka . . “

Tubuh Sivia terasa dibanting dari lantai 50 dan disengatkan ke aliran listrik paling kuat se Asia-Pasifik. Rasanya saat ini ia hanya ingin mati saja. Dan didepannya saat ini berdiri seorang pria yang tentu saja ia sangat mengenalnya. Pria yang meninggalkannya begitu saja saat ia kecil. Pria yang pernah jadi cinta pertamannya waktu kecil.

“K .. a . k . . Cak .. kka . .. “panggil Sivia pelan, bibirnya masih terus bergetar. Mendengar suara Sivia memanggilnya. Cakka langsung tersenyum lebar. Ia begitu senang sekali akhirnya memang benar gadis ini yang ia cari selama ini.

Namun yang Cakka bingungkan. Kenapa gadis ini menangis seperti ini ? Apa yang terjadi dengan Sivia ?. Mengapa dia sampai seperti ini.

“Sivia kamu kenapa ??”Cakka perlahan mencoba mendekati Sivia. Namun langkah Cakka terhenti. Karena Sivia malah menangis begitu keras sekali. Matannya menatap Cakka, seolah meminta pertolongan kepada Cakka.

Cakka melangkahkan kembali kakinnya untuk mendekat ke Sivia.

“Berhenti ..!!”ujar Sivia tak mengindahkan pertanyaan Cakka. Dan kali ini Cakka kembali memberhentikkan langkahnya.

“Pergi !! “Cakka membulatkan matannya. Sivia mengusir dirinnya ?. Ada apa dengan gadis ini sebenarnya ? itulah yang terus berputar di kepala Cakka.

“Gue bilang Pergi !! jangan deketi gue !! “

“Sivia kamu kenapa ?? ini aku Cakka. Teman kecil kamu . . .”

“Gue gak kenal sama loe. Loe udah mati dari saat gue kecil !! loe ninggalin gue gitu aja !! “

“Pergi !! “Cakka tak mengubris dan terus melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis ini yang jaraknya hanya tersisa beberapa meter dengannya.

“PERGIIII!!!!!!! :”

“GUE BILANG PERGI YA PERGI !!!!! “teriak Sivia parau. Bahkan suarannya hampir habis saat ini. Cakka menatap Sivia . Gadis itu menangis kembali. Wajahnya ia tundukkan kembali. Cakka binggung harus berbuat apa sekarang. Ia akui gadis didepannya ini semakin cantik. Dan banyak yang berubah dari gadis ini.

“Kamu kenapa ??”tanya Cakka dengan suara yang melembut. Berharap Sivia akan menjawab pertanyaannya. Namun gadis ini masih saja menunduk. Terlihat tubuhnya pun masih bergetar menahan isakan tangisannya .

“Gue mohon. Loe pergi sana !! Pergi !! jangan deketin gue !!! “isak Sivia dengan suara parau.nya. tentu saja membuat Cakka semakin tak tega. Ia kira akan bisa bertemu dengan gadis ini dan gadis ini akan terkejut dengan kedatangannya. Namun ternyata hal yang ia temui malah sebaliknya dan diluar dari perkiraannya. Bahkan ia tidak tau sama sekali apa yang terjadi kepada Sivia.

“tapi kamu kenapa ??”Cakka berjalan lagi. Dan kali ini ia sudah berada di depan Sivia. Perlahan Cakka berongkok didepan Sivia. Sivia masih saja menundukkan kepalannya. Ingin sekali rasannya Cakka memeluk gadis ini. Mencoba menenangkan gadis ini dan juga karena rasa rindunya kepada Sivia.

“Sivia kamu ken . . . . “

Sivia langsung memeluk Cakka begitu erat bahkan erat sekali. Cakka mematung sesaat. Ia tidak tau dan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Cakka hanya diam dan dapat mendengar jelas tangisan Sivia yang semakin menjadi dan air mata gadis ini membasahi dadanya. Cakka membiarkannya saja.

“Kenapa kamu ninggalin aku Kak ? Kenapa kamu pergi saat itu ? Kenapa kamu begitu jahat sama aku ??”

“Andai kamu tidak pergi Kak. Pasti Kamu akan terus jagain Aku. Dan terus ngelindungi aku kak. Andai kamu tidak pergi. Semuannya tidak akan terjadi. Kenapa kamu pergi saat itu ? kenapa kamu ninggalin aku gitu aja ? kenapa kamu ngingkarin janji kamu ??Kenapa kak ?? Kenapa ??”

“Kamu jahat banget kak. Jahat jahat sangat jahat!!!”

“Ma . .af . . Si . . via . . “hanya dua kata itu yang bisa keluar dari bibir Cakka saat ini. Dan membuat gadis ini semakin menangis begitu kencang.

“Kak tolong Sivia . Tolong Sivia !!! Tolong Sivia kak . Kak apa yang harus Sivia lakuin ? kak tolong Sivia ?? Tolong Sivia . . . “Cakka menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Sivia. Ia membelai lembut rambut panjang Sivia.

“Kamu kenapa Sivia ?? kamu kenapa ??”

“Kak tolong Sivia . . Tolong Si .. vi . .. a … “

Cakka merasakkan bahwa Sivia sudah tidak menangis lagi. Bahkan Cakka dapat merasakan gadis ini tidak bergerak. Cakka mendongakkan tubuh Sivia dan benar saja gadis ini tidak sadarkan diri. Cakka pun dengan cepat membopong tubuh Sivia untuk keluar dari kamar mandi.

Cakka membawa Sivia ke kamarnya. Tentu saja Cakka masih ingat dimana letak dari kamar gadis ini. Sejak kecil Cakka sangat sering bermain dirumah Sivia. Bahkan pergi ke kamar Sivia.

****

“Apakah kamu sudah sadar ??”

“Apakah kamu ingat siapa kamu ?”

“Ini untuk kamu dari dia .. .

“Aku dimana ??”

“Orang itu ?? Laki-laki itu ? Dimana dia ? Aku ingin bertemu dengannya ??”

“Kenapa terasa sakit sekali ?”

“Kam . . kamu Siapa ?? dimana orang itu ??”

“AKU INGIN BERTEMU DENGAN DIAAAA !!!!!! “

Bersambung . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s