REVIL – 12 “ TERIMAKASIH!!! “

Part Twelve of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .
PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

“ Sebelumnya saya dan segenap keluarga besar LULUK_HF mengucapkan “ SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI UMAT BERAGAMA ISLAM. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. MINTA MAAF YANG BANYAK KALAU ADA SALAH-SALAH KATA MAUPUN PERBUATAN. MINAL AIDZIN YA SEMUANYA. TERIMA KASIH  “

REVIL – 12
“ TERIMAKASIH!!! “

 

“ Shiilla . . . !!! “

“Shilla !! “

“SHILLA !!! “ Gabriel terus memanggil nama gadis itu. Ia berjalan kearah kamar Shilla. Gabriel membuka kamar Shilla dan mendapati gadis itu sedang tiduran di atas kasur. Shilla yang melihat gabriel seperti orang kesetanan segera berdiri dari tempat berbaringnya. Wajah gabriel begitu serius kali ini.

“Ikut gue sekarang!!”ujar Gabriel tajam dan penuh penegasan. Shilla terdiam sebentar. Ia tidak mengerti akan maksud pria didepannya ini.

“Ayo!!:”Shilla pun mengangguk menurut saja. Ia tidak berani untuk membantah gabriel. Ia pun mengikuti Gabriel yang sudah berjalan duluan .

Mereka berdua masuk kedalam mobil. Dan mobil tersebut segera melesat dari rumah Gabriel.

Sepanjang perjalanan Shilla hanya bisa diam dan meremas-remas jemarinnya. Ia menundukkan kepalannya tak berani menatap gabriel yang begitu fokus dengan menyetirnya. Bahkan saat ini mata elang tajamnya begitu terlihat jelas. Dan Shilla pun memilih diam saja tak berani bertannya apapun.

Sedangkan Gabriel menghelakan nafasnya beberapakali. Jujur ia masih memfikirkan apakah keputusannya ini bernar atau salah. Namun saat bayangan wajah Zahra yang kesakitan itu terlintas jelas di otaknya membuat pria ini langsung cemas. Gabriel semakin mempercepat kecepatan mobilnya.

****
Rio memasuki restorannya. Ia sudah menyiapkan sebuah satu tempat kursi yang akan ia persembahkan untuk sahabatnya. Rio terkekeh pelan melihat pelayannya yang menyiapkan agar tempat tersebut terlihat romantis.

“Rencana gue pasti berhasil hahahaha. Dan gue yakin gabriel pasti mati kutu hahahaha”

“Mmm. . Kurang apa lagi ya ??Apa kurang romantis ?? Emm. Gue rasa udah cukup “ujar Rio sok-sok dramatis. Ia pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gabriel.

Namun beberapa kali Rio mencoba menelfon gabriel selalu tidak bisa. Sepertinya ponsel gabriel dimatikan. Rio mendengus kesal. Ia pun memasukkan kembali ponselnya dan duduk disalah satu meja di restorannya. Ia melihat semua pelayannya yang sedang mondar-mandir menyiapkan acara nanti malam.

****

Alvin memilih untuk pulang kerumahnya. Ia melangkahkan kaki dengan gontai saat memasuki rumahnya. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat sang kakek yang sudah bertenger santai di ruang tamu.

Pak Jo nampak binggung melihat wajah Alvin yang sama sekali tak semangat. Pak Jo berdiri dari tempat duduknya. Ia melihat Alvin yang perlahan mendekatinnya. Pak Jo semakin binggung. Ia merasakan bahwa cucu kesayangannya ini sedang ada masalah.

“Kakek . . .”lirih Alvin pelan dan langsung memeluk sang kakek. Pak Jo tersentak terkejut. Alvin tak pernah berlaku seperti kepadanya. Seingatnya terakhir kali Alvin mau memeluknya adalah saat terakhir ulang tahun ke 10 Alvin.

“Alvin minta maaf . . “lanjut Alvin. Kali ini suarannya terdengar sedikit serak. Yah, Alvin menangis dengan menahan isakannya. Ia menangis dalam pelukan sang kakek.

“Kamu kenapa Alvin ??”tanya sang kakek yang tak tahu apa-apa. Pak Jo lantas membalas pelukan Alvin. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Alvin. Membuat Alvin semakin terisak pelan .

“Alvin minta maaf. Maaf . .”Alvin memejamkan matanya kuat-kuat. Rasa dadanya begitu sakit sekali saat ini. Begitu sakit sampai rasanya ia ingin mati saja.

“Minta maaf kenapa? kamu buat salah apa ?”Alvin menggelengkan kepalannya pelan. Ia tentu saja tak mungkin mengatakkan yang sejujurnya kepada sang kakek.

“Alvin sayang sama kakek. Alvin sangat sangat sayang sama kakek . . “Pak Jo menganggukan kepalanya sekali. Beliau menghembuskan nafas beratnya. Ia memilih untuk diam saja sekarang. Membiarkan cucunya ini merasakan kenyamanan dalam pelukannya. Pak Jo tau bahwa Alvin sedang ada masalah dan belum siap untuk menceritakan kepadannya. Ia berfikir mungkin Alvin masih butuh privasi. Alvin sekarang sudah tumbuh semakin dewasa dan bukanlah anak kecil lagi. Itulah yang difikirkan oleh Pak Jo sekarang.

“Sudah sudah sudah. Sekarang kamu istirahat dikamar. Biar kamu besok bisa semangat lagi”saran pak Jo. Perlahan melepaskan pelukan Alvin. Alvin berusaha langsung menghampus sisa-sisa air matannya. Ia menganggukkan kepalanya.

“Alvin ke kamar dulu kek”pamit Alvin dan berjalan langsung ke kamarnya. Pak Jo memperhatikan terus Alvin yang membelakanginnya dan terus berjalan. Alvin masih terus saja menundukkan kepalannya.

“Apa yang terjadi dengan kamu Alvin ??”

“Apa kamu dalam masalah yang berat? Kenapa kamu ??”berbagai pertanyaan sudah menghinggap di otak pak Jo. Ia pun memilih duduk kembali di kursinya. Mencoba menebak-nebak apa yang terjadi dengan Alvin. Namun sekeras apapun ia berfikir sama sekali ia tak menemukan penyebab kenapa Alvin seperti itu.

Pak Jo menghelakan nafas beratnya. Ia jadi teringat akan saat Alvin merindukkan kedua orang tuannya. Seperti inilah bagaimana ekpresi cucunya itu. Sangat menyedihkan dan membuatnya ingin menangis. Seumur hidupnya Pak Jo telah berjanji kepada dirinnya sendiri. ia akan membahagiakkan cucu satu-satunya itu. Dan akan melakukan apa saja demi Alvin. Dan membahagiakkan Alvin.

Dan saat ini melihat Alvin sedih seperti itu. Ia tentu saja ikut sedih. Separuh jiwannya hanya ia peruntukkan untuk Alvin.

*****

Alvin masuk kedalam kamarnya. Ia lansung terduduk lemas didepan pintu. Ia menyederkan punggunya di pintu. Perlahan Alvin mendongakkan kepalannya. Ia melihat foto Papa dan Mamanya yang terpajang begitu besar pada dinding kamar.

Alvin tersenyum miris melihat Papa dan Mamanya yang tersenyum begitu bahagia di foto tersebut. Dan mamanya yang begitu bahagia menggenodng seorang bayi laki-laki yang tentu saja itu adalah Alvin.

Perlahan air mata Alvin kembali mengalir. Dalam hidupnya, ini adalah kedua kalinnya ia menangis setelah masa kecilnya. Alvin tak bisa menahan lagi. Ia terisak dan terus terisak. Ia tak peduli wajahnya yang sudah memerah. Ingus dari hidungnya terus mengalir bercampur dengan air matannya. Alvin terus menatap foto tersebut.

“Ma . . Pa . .. “lirih Alvin pelan. Tangannya mulai gemetar dan menyebarkan ke seluruh tubuhnya . Perlahan tangan Alvin menyentuh kepalannya. Menjambak-jambak rambutny sendiri. Mencoba meluapkan rasa emosinnya saat ini.

“Ma , Pa . .kenapa kalian harus ngelahirin anak laki-laki jahat seperti Alvin “

“Ma. .Pa . . Kenapa kalian tidak mengajak Alvin saja saat kalian pergi . .”

‘Ma. . .Pa . .. liatlah begitu kejamnya anakmu ini sekarang. Ia tumbuh sebagai pria yang tak bertanggung jawab seperti ini . . Anakmu ini begitu brengsek Ma . . Pa . .. “

“Maaf . .Maaf . Alvin minta maaf . . Alvin minta maaf gak bisa buat mama dan papa bangga. Mama dan papa pasti sedih kan disana melihat Alvin seperti ini ? . Kalian pasti sangat kecewa sekali kepada Alvin “Alvin terus mengoceh sendiri. Dan semakin ia menyalahkan dirinnya sendiri. Semakin sakit sekali rasa sesak di dadanya. Alvin perlahan memukul-mukul dadanya. Rasanya sesak dan benar-benar sakit.

Alvin menyenderkan kepalannya di pintu. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Pengelihatannya Sedikit buram karena kedua matannya banyak tertutupi akan air matannya sendiri. Ia mengetuk-ngetukkan kepalannya ke pintunya beberapa kali. Berharap dengan ia melakukan hal tersebut ia bisa hilang ingatan.

“Cabut nyawaku tuhan. . . “

“Hukum aku tuhan. Hukum aku seberat mungkin. Aku rela tuhan !! “

“Hukum aku. Aku mohon !! “

*****
Taman Hiburan

Sivia terlihat begitu bahagia bersama Cakka. Ia tak ada henti-hentinya tertawa sambil membawa sebuah permen lolipop ditangannya. Ia seolah lupa akan masalah berat yang sedang ia hadapi saat ini.

Sivia menggenggam tangan Cakka dengan begitu naturalnya. Dan bagi Cakka pun itu sebuah anugrah. Ia lebih dari sangat senang bisa melakukan hal menyenangkan seperti ini bersama Sivia. Mereka berdua berjalan menelusuri jalan setapak. Dimana di kanan dan kiri jalan terdapat banyak pedagang kaki lima yang menjual banyak barang.

“Kak .. “panggil Sivia tiba-tiba dan membuat Cakka menolehkan kepalannya.

“Ayo kita foto-foto bersama “ajak Sivia dengan melebarkan senyumnya. Cakka mengernyitkan keningnya.

“Ayolaahh . .. “rengek Sivia. Cakka tersenyum ringan dan menganggukan kepalannya. Sivia langsung menjulurkan tangannya kepada Cakka. Seolah menagih seuatu. Cakka mengernyitkan keningnya kembali. Binggung dengan apa yang dilakukan gadis ini.

“Ponsel kakak mana ??”tagih Sivia yang mengerti ekspresi binggung Cakka. Pria ini pun segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Sivia.

“Sebelum kita berfoto . Kak Cakka harus menyimpan nomer Sivia . “ujar Sivia dengan wajah yang terfokus ke ponsel Cakka. Tangan Sivia dengan lihat memainkan ponsel Cakka. Cakka pun hanya diam saja menunggu gadis ini melakukan sesukanya.

“Oke . Kak Cakka udah punya nomer Sivia dan Sivia juga udah punya nomer Kak Cakka. “ujar Sivia menyunggingkan senyumnya kembali dan menatap Cakka yang juga membalas senyumnya. Cakka mengacak-acak pelan poni Sivia.

“Ayo kita foto!!”ujar Sivia penuh semangat. Ia pun menjauhkan ponsel Cakka seperti orang yang sedang melakukan selca (self camera) .. Sivia menyeret lengan Cakka agar lebih dekat dengannya. Cakka pun menatap kamera ponsel yang berada ditangan Sivia. Sivia tersenyum manis sekali sambil menyenderkan sedikit kepalannya pada lengan Cakka. Dan Cakka pun ikut menyunggingkan senyum bahagiannya.

“Satu . dua … .tiga “

KLIIKKK …

Sivia dan Cakka melihat hasil foto mereka. Keduannya sama-sama tersenyum puas akan foto mereka. Sivia mengembalikkan ponsel Cakka kepada pemiliknya.

“jangan dihapus !! “ujar Sivia tegas seperti sebuah ancaman.

“Iya iya iya nona . . “sahut Cakka dan sekali lagi membuat Sivia tertawa.

“Kamu mau kemana lagi ??”tanya Cakka kepada gadis ini. karena memang sudah hampir semua tempat disini mereka kunjungi. Sivia tak ada capek-capeknya berjalan mengelilingi taman hiburan ini.

“Mmmm. Sivia mau . . . mmmm. . . “Sivia menyipitkan sedikit matannya dan mengedarkan pandangannya seperti orang yang lagi berfikir dan sedang mengadakkan survei disuatu tempat. Tangan Sivia kemudian ia arahkan pada sebuah tempat bertuliskan “Rumah Hantu” cakka melototkan matannya.

“Rumah Hantu ? yakin ? bukannya kamu penakut ??”sindir Cakka kepada gadis ini. Sivia menatap Cakka dengan tatapan skeptis.

“Enak aja!! Enggak tau !!! Gue gak takut!!Ayo kita masuk kesana “ajak Sivia menantang Cakka

“Ayo!! Kita lihat siapa yang paling banyak teriak-teriak”

“Ayo siapa takut !!! “

Keduannya pun lantas berjalan menarah ke tempat tersebut dengan langkah seolah mereka akan berperang.

****

Gabriel memberhentikkan mobilnya di depan sebuah lapangan golf. Gabriel menghembuskan nafasnya berkali-kali. Ia sedikit gemetar dan mencoba menghilangkan rasa kecemasannya dan ketakutannya.

“Kakak kita ngapain kesini ??”tanya Shilla yang tentu saja tahu akan tempat ini. Shilla pernah diajak oleh papa tirinnya dan mamanya saat dulu. Dan saat dimana papa tirinnya masih belum menjadi jahat seperti ini kepadannya.

“Ikut aja”dingin Gabriel dan membuat Shilla langsung kembali diam. Gabriel melepaskan sabuk pengamannya dan segera membuka pintu mobilnya. Ia keluar terlebih dahulu dari mobilnya.

“Ayo keluar”perintah Gabriel kepada Shilla. Gadis itu pun mengangguk dan segera keluar dari mobil Gabriel.

Gabriel menatap pintu gerbang lapangan golf dan melihat ada seorang laki-laki berbaju hitam yang sedang mengawasinnya. Gabriel mengangguk pelan menatap laki-laki tersebut yang merupakan suruhan dari orang yang menelfonnya tadi.

“Kita masuk kedalam .. “ajak gabriel. Ia berjalan duluan didepan Shilla. Shilla yang tak tau apa-apa dan sama sekali tak merasakan ketidak beresan pun hanya mengikuti gabriel. Ia terus saja berjalan di belakang gabriel yang terus masuk kedalam tempat mewah ini.

****

Lapangan golf ini begitu sangat luas sekali namun terlihat sepi. Sepertinnya hari ini tempat ini sengaja di tutup . gabriel dapat melihat di tengah lapangan seorang pria yang menatapnya begitu tajam dan disebelahnya terdapat seorang gadis yang ia sekap. Gadis itu terlihat kesakitan dengan kedua tangannya yang diikat dan mulutnya yang dibungkam. Dan terdapat dua bodygard diantara pria dan gadis itu.

Gabriel terus saja berjalan dengan langkah yang ia rasa semakin berat sekali. Bahkan saat ini kedua tangan gabriel sedikit gemetar. Ia pun dapat melihat bayangan Shilla yang masih terus mengikutinnya.

Shilla pun dapat melihat orang-orang yang berada ditengah lapangan itu. Namun ia tidak begitu jelas dapat melihat siapa orang-orang tersebut. Shilla hanya mengira bahwa itu adalah teman-teman dari gabriel. Shilla dengan santainnya dan tanpa fikir panjang mengikuti Gabriel.

Kini jarak antara Gabriel dan orang tersebut hanya tinggal beberapa meter. Gabriel memberhentikkan langkahnya. Karena ia merasakan bahwa Shilla tak lagi mengikutinnya.

Shilla terdiam mematung. Ia tak lagi mengikuti Gabriel yang tadinya masih jalan terus. Shilla kini sudah dapat melihat jelas siapa orang-orang itu. Dan diantara mereka Shilla mengenal satu orang pria yang sedang menatapnya tajam seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Pria tersebut tentu saja papa tirinnya yang ingin sekali membunuhnya.

“K . . a .. k .. . “lirih Shilla pelan dan membuat Gabriel memberhentikkan langkahnya. Shilla mulai gemetar ketakutan. Ia mengepalkan jari-jarinnya yang perlahan mengeluarkan banyak keringat. Bahkan lapangan yang awalnya Shilla rasakan dingin kini menjadi begitu sangat panas sekali.

Shilla terdiam membeku disana. Kakinya seolah tak bisa lagi ia jalankan. Ia sangat ketakutan sekali. Perlakuan papanya kepadannya membuat otaknya sangat down.

Gabriel menundukkan kepalanya sebentar lantas mendongakkan kembali. Ia dapat melihat jelas Zahra yang menatapnya dengan merintih kesakitan. Gabriel sangat tak tega melihat orang yang termasuk berarti untuknya dalam keadaan seperti itu.

“ka .. k. . Zah . . ra .. .”panggil gabriel pelan. Zahra mencoba memberontak. Dan gabriel pun bisa melihat gadis itu saat ini sedang menangis. Gabriel sudah tak kuat lagi melihatnya. Perlahan ia membalikkan badannya dan berjalan mendekati Shilla yang masih mematung.

Gabriel berjalan tanpa menatap Shilla yang kali ini menatap dirinnya. Gabriel meraih lengan kanan Shilla untuk ia gandeng. Namun Shilla langsung melepaskan tangan gabriel dari lengannya.

“Gak mau . . “ujar Shilla pelan namun masih terdengar di telinga Gabriel. Gabriel dapat mendengar jelas suara parau gadis ini. Shilla menatap gabriel dengan tatapan tak mengerti. Yah, Diirnya tak mengerti kenapa Gabriel melakukan hal ini kepadannya.

“Kak? Apa maksudnya ini ?”tanya gabriel mencoba memberanikan diri. Namun Gabriel sama sekali tak menjawab pertannyannya dan mulai meraih lengannya kembali.

“Shilla gak mau!!”tolak Shilla sekali lagi dan menyingkirkan kembali tangan gabriel dari lengannya. Shilla mulai lebih gemetar. Darahnya seolah berhenti mengalir. Dingin bercampur panas dan ketakutan menjalarsemuannya diseluruh tubuh gadis ini.

Kedua mata Shilla sudah terasa panas dan air matannya siap untuk tertumpa dalam hitungan detik. Shilla terisak saat ini. Ia mengigit bibirnya kuat-kuat menahan rasa sakit di dadannya dan isakannya yang ingin memecah.

“Ayo ikut gue . . “dan sekali lagi Gabriel meraih lengan Shilla ., gabriel sama sekali tak berani menatap wajah Shilla. Jujur, ia tak akan tega melihat wajah gadis ini. Gabriel akan sangat merasa bersalah jika menatap wajah Shilla.

“Lepasin!! “tegas Shilla dan melepaskan lagi tangan gabriel dari lengannya. Shilla mnatap gabriel dengan tatapan paraunya tatapan sendunya. Jujur sama sekali Shilla tak bisa marah atau emosi kepada Gabriel. Yang dirasakannya sekarang hanyalah kecewa. Yah, sebuah kekecewaan.

Gabriel semakin menundukkan kepalannya saat mendengar isakan gadis didepannya ini semakin terdengar jelas di kedua telingannya. Shilla terisak tak dapat menahan tangisannya. Tubuhnya sudah terasa sangat lemas. Ia sebenarnya belum tentu sehat.

“GABRIEL !! CEPAT SERAHKAN GADIS SIALAN ITU!! SAYA SUDAH TIDAK PUNyA WAKTU BANYAK !”teriak papa tiri Shilla dari jarak yang tidak sebegitu jauh dengan Gabriel dan Shilla.

Kini mata Shilla tertuju kepada Papa tirinnya kemudian kearah gadis yang ada disamping papa tiri Shilla. Shilla menatap gadis itu yang juga sedang menangis dan matannya penuh ketakutan. Otak Shilla mulai bertanya siapa gadis itu ?? apa hubungannya dengan Gabriel ??.

“KALAU KAMU TIDAK MENYERAHKAN GADIAS SIALAN ITU ? PACAR KAMU YANG CANTIK INI AKAN SEBAGAI GANTINNYA !!”

“JANGAN!!”teriak gabriel yang langsung membalikkan badannya. Shilla membelakakan matannya mendengar ucapan papa tirinnya dan bahkan lebih membuatnya syok bercampur kaget adalah ucapan gabriel barusan.

Shilla menundukkan kepalannya. Rasanya sakit sekali saat ini dadanya. Ucapan Gabriel terasa jelas ditelingannya dan membekas. Gabriel ? orang yang di cintainya ? . Begitu memiriskannya hidup Shilla saat ini.
Gabriel membalikkan badannya kembali menghadap Shilla. gabriel menatap Shilla yang menundukkan kepalannya dengan tubuh yang gemetar dan kedua tangan yang diremas-remas oleh gadis itu. tangan Gabriel perlahan mencoba meraih lengan Shilla. Namun langsung ditepis oleh Shilla dengan tegas.

Shilla menatap Gabriel dengan tatapan datar dan kosong. Shilla membiarkan saja air matannya ini terus mengalir. Kini kedua matannya akhirnya bertatapan dengan mata gabriel yang menatap dirinya iba .

“Shilla bisa jalan sendiri”ujar Shilla dingin. Gabriel dapat merasakan semua bulu kuduknya berdiri. Kalimat tersebut begitu menakutkan baginnya. Sama sekali tak pernag gabriel mendengar nada suara Shilla seperti ini.

“AYOO GABRIEL ! CEPAAATT!!! “suara papa tiri Shilla kembali menggelegar dan membuat keberanian Shilla sedikit menciut. Namun ia menguatkan dirinnya. Shilla perlahan berjalan langkah demi langkah didepan gabriel. Shilla berjalan melewati Gabriel. Namun beberapa langkah kemudian tangan Shilla ada yang meraihnya dan membuat gadis ini berhenti. Tapi Shilla tak memilih membalikkan badannya. Ia dapat merasakan tangan dingin orang itu yang sedikit gemetar.

Shilla semakin terisak dan menangis kembali. Shilla mencoba menghembuskan nafas beratnya beberapa kali. Dan mencoba menahan isakannya namun air matannya tak bisa ia kontrol. Semua yang ada ditubuhnya bergetar akan ketakutan. Dan rasanya sakit semuannya. Sakit sekali.

“S .. hi . . l . . . ma . .. “belum selesai gabriel mengucapkan kata-katannya. Shilla langsung menyentakkan tangannya dari lengan Shilla. Gabriel menundukkan kepalannya begitu saja. Mengenggam kuat-kuat tangan kanannya yang sebelumnya ia gunakan untuk meraih tangan Shilla.

Shilla membiarkan isakannya semakin keras. Ia sesengukan hebat sampai rasanya bernafas saja susah sekali. Paru-parunya terasa ada yang mengikat dengan senar tajam. Jantungnya seolah ada yang menginjak-nginjak dengan kasar. Kakinya semakin lemas untuk ia gunakan berajalan.

Shilla sudah tak peduli lagi akan rasa takutnya. Yang ia tahu bahwa yang dirasakannnya saat ini begitu sakit melebihi rasa sakit yang karena dianiaya oleh papannya. Shilla tidak pernah menyangka Gabriel akan melakukan ini kepadannya. Dan alasannya adalah karena seorang gadis. Dan Gabriel dengan jelas memilih gadis itu daripada dirinnya.

Shilla menyinggungkan senyumnya sedikit. Senyum yang penuh kemirisan dan kekecewaan. Shilla terus berjalan kedepan dengan tatapan kosong. Berjalan demi sedikit menjauhi Gabriel. Shilla meremas-remas kedua tangannya kuat-kuat.

“Lepaskan gadis itu “suruh papa tiri Shilla karena saat ini Shilla sudah berada didepannya dengan tatapan kosong. Zahra pun dilepaskan begitu saja. Dan dengan cepat Zahra langsung berlari kearah Gabriel.

Papa Shilla langsung mencengkram tangan kanan Shilla. Dan menatap Shilla tajam. Namun entah menagapa Shilla tak takut sama sekali. Karena yang ada di otaknya sekarang hanya ada satu orang dengan berbagai pertanyaan.

Kenapa Gabriel melakukan ini kepadannya ??. gadis itu pacar gabriel ? lalu Shilla dianggap apa oleh gabriel ?. Siapa yang berjanji akan selalu menjaga Shilla ? Siapa yang selalu mengucapkan kemarahan saat Shilla dilakukan kasar oleh papanya ? dan Sekarang apa yang dilakukan oleh gabriel ? Apakah dia seorang pembohong besar yang sedang menjelma sebagai seorang malaikat dan kali ini ia merubah kediri aslinya sebagai pria berwujud iblis ??

Semua pertanyaan itu menancap jelas diotak Shilla. perlahan papa Shilla mendekati Shilla dan tersenyum sinis.

“Kamu tau sekarang orang yang kamu cinta sedang apa ??”

“Gabriel sedang memeluk pacarnya. “Shilla semakin mencengkram kedua tangannya semakin kuat. Ia tak peduli kedua tangannya yang sakit akibat kepalannya sendiri. Shilla mencoba menahan isakannya meskipun air matannya masih terus saja mengalir dengan deras dan tak mau berhenti.

“ Bahkan gabriel saat ini berjalan pergi sambil merangkul pacarnya yang cantik . hahahahahaha”papa tiri Shilla tertawa dengan suara iblisnya. Begitu puas jika melihat Shilla menangis dan sakit hati seperti ini.

“Pacar Kak Gabriel ? Kak Gabriel ninggalin Gue ? Kak Gabriel ninggalin Shilla gitu aja ?Kak Gabriel beneran tega sama Shilla ? Kak Gabriel sama sekali gak nyelametin Shilla ? Kak Gabriel pergi ??”

Hati Shilla semakin sakit saat semua pertannya tersebut kembali mengitari kepalannya. Shilla menundukkan kepalannya dan memejamkan kedua matanya pelan-pelan seolah ingin memeras semua air matannya agar tidak keluar kembali. Namun sepertinya hal itu percuma. Shilla masih tetap terus menangis.

“CEPAT BAWA ANAK INI !!! “teriak Papa tiri Shilla garang. Dan dua bodygard tersebut pun langsung menyeret Shilla dengan sedikit kasar. Shilla mengikuti saja. Ia sama sekali tak melawan ataupun memberontak. Karena ia tahu semuanya akan percuma. Shilla pasrah saat ini. pasrah dengan nasibnya. Bahkan jika ia mati ditangan papanya ia akan sangat rela.
****

Sivia dan Cakka saat ini duduk berdua disebuah kursi panjang yang berada di taman hiburan. Mereka berdua sama-sama terdiam saat ini dengan fikiran masing-masing. Sivia menghelakan nafasnya berulang-ulang.

“Kak . Beliin Sivia minum . .”pinta Sivia sambil menunjukkan wajahnya yang kehausan. Cakka menolehkan kepalannya kearah Sivia. Ia pun menganggukkan kepalannya.

“Tunggu disini . kakak akan belikan buat kamu “Sivia menganggukan kepalannya sambil menyungingkan senyum termanis yang pernah ia miliki. Cakka lantas pergi berjalan meninggalkan Sivia yang terus melihatnya yang perlahan-lahan menjauhi Sivia.
***
Mobil Gabriel

Gabriel tetap diam saja selama perjalanan meskipun Zahra mencoba mengajaknya berbicara. Saat ini mobil Gabriel melaju cepat menuju rumah Zahra. Gabriel mengantarkan zahra pulang. Namun otak gabriel milai terpecah. Bukankah dia seharusnya senang karena sudah menyelamatkan pacarnya ? Seharusnya dia bersyukur karena ia telah menyelamatkan orang yang ia cintai ?. Tapi kenapa Gabriel saat ini hanya diam saja.

Zahra tersenyum sedikit miris. Ia dapat membaca ekpresi gabriel saat ini. Bahkan Zahra dapat menyimpulkan apa yang sedang difikirkan oleh pria ini.

“Turunin gue disini”ujar Zahra tiba-tiba dan membuat Gabriel langsung menatapnya .

“Susul dia. Selamatkan gadis itu “lanjut Zahra . Gabriel menatap ke depan kembali dan semakin mempercepat kecepatan mobilnya.

“kakak harus istirahat “balas gabriel membuat Zahra tertawa dingin.

“Jangan menyesal dengan apa yang kamu lakukan. Gue enggak apa-apa. Gue bisa pulang sendiri. Sebelum loe terlambat turunin gue sekarang dan selamatkan gadis yang loe cintai itu”

CIYYYYTTTTTTTT

Gabriel mengerem mobilnya dengan tiba-tiba. Zahra sempat syok beberapa saat. Gabriel memukul setirnya keras sekali dan membuat Zahra menjadi ketakutan. Gabriel menoleh ke arah Zahra dengan tatapan dingin.

“Cuma loe yang gue suka. Cuma loe yang gue cinta !!! “

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Dan jangan buat gue harus ngelepasin loe lagi “

Zahra tersenyum picik. Ia membalas tatapan dingin Gabriel dengan tatapan tajamnya.

“Udah gue bilang beberapa kali . Gue gak suka sama loe ! Gue sudah gak ada perasaan sama loe. Dan sepertinya loe juga seperti itu!!. “

“Loe seharusnya sadar. Gadis itu yang loe cinta !! “tegas Zahra penuh penekanan. Gabriel selah tak peduli dengan ucapan Zahra. Ia menyalakkan mobilnya kembali dan menjalankannya kembali. Entah apa yang difikirkan oleh pria ini sekarang.

Namun jujur saja sedari tadi hati Gabriel tidak tenang. Yah, Dia sedang memfikirkan. bagaimana Shilla saat ini?. Apa yang terjadi dengan Shilla ?.Apa yang akan papa tiri Shilla lakukan kepada Shilla ? . Apakah gadis itu menangis saat ini ? Apakah gadis itu kesakitan saat ini ??

Tangan gabriel sedikit gemetar. Zahra yang sedikit melirik ke Gabriel kini dapat melihat jelas tangan Gabriel yang gemetar. Dan Zahra hanya bisa tersenyum sinis. Betapa bodohnya pria disampingnya ini menurutnya.

****

Cakka membelikan minuman juice buah untuk Sivia. Dan jaraknya sedikit jauh dari tempat duduknya dan Sivia tadi. Cakka menunggu pesanan minumannya jadi. Ia pandagannya mengarah ke sebuah permainan komedi putar. Cakka tersenyum melihat permainan itu. Saat kecil dulu ia dan Sivia sering sekali menaiki permainan tersebut.

DRRTDRTTTDRTT

Cakka merasakan ponselnya bergetar, ia segera mengeluarkan ponsel miliknya dari sakunya. Cakka melihat ke layar ponsel tersebut dan tertera jelas Sivia calling . . .

Cakka mengernyitkan kening, kenapa Sivia menelfonnya ?. Namun tanpa fikir panjang Cakka langsung menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel miliknya ke telingannya.

“Kak . .”suara lembut Sivia disebrang sana kini mulai terdengar memanggil Cakka. Cakka semakin heran dan binggung tentunya.

“Kenapa Vi ??”balas Cakka kini matannya kembali menatap ke arah komedi putar.

****
“Kenapa Vi ??”

Suara Cakka yang begitu lembut dan membuatnya nyaman langsung membuat hati Sivia terasa ingin meloncat dari tempatnya. Sivia memainkan bibirnya beberapa kali untuk menahan agar air matannya tidak turun. Sudah cukup banyak dirinnya menangis hari ini.

“via kamu kenapa ??”

“Kak Cakka . .. . “Sivia menghelakan nafas beratnya sebentar sebelum ia melanjutkan ucapannya setelah ini. dan sepertinya Cakka pun menunggu dirinnya untuk melanjutkan kata-katannya.

“Sivia mau bilang makasih sama kak Cakka. Makasih kak Cakka udah kembali untuk Sivia. Makasih Kak Cakka sudah buat Sivia ketawa terus hari ini. Makasih Kak Cakka sudah mau menjaga Sivia kemarin sampai hari ini . . “Sivia dengan cepat mengusap air matannya yang mengalir begitu saja tanpa ia sadari.

“Sivia sangat kangen sama kak Cakka. Sivia ingin main-main sama kak Cakka kayak dulu. Sivia ingin kak Cakka meluk Sivia seperti dulu. Sivia ingin Kak Cakka nemenin Sivia sebelum Sivia tidur seperti dulu. Sivi . . . a . . . . “sekuat apapun Sivia untuk menahan air matannya tidak akan bisa. Pertaahanan ketegaran gadis ini akhirnya runtuh. Sivia tak mampu lagi menyembunyikan isakannya. Sivia membiarkan dirinya menangis.

“Sivia kamu nangis ??”Terdengar jelas suara kecemasan Cakka disebrang sana. Mendengar Cakka yang mencemaskannya seperti itu membuat Sivia semakin yakin akan keputusannya ini.

“tapi mungkin semua keinginan Sivia itu tidak akan lagi bisa Sivia dapetin. Jadi kak Cakka gak perlu lagi mikirin bagaimana Kak Cakka harus ngejaga Sivia. Bagaimana Kak Cakka harus memperlakukan Sivia dengan baik. Bagaimana kak Cakka nebus kesalahan kak Cakka karena pernah pergi begitu saja dari Sivia . . “

“Kamu bicara apa sih Vi ? Kamu kenapa ??”

“Sivia mohon, Lupain Sivia. Lupain semua tentang Sivia di otak kak Cakka selamannya. Lupain bagaimana wajah Sivia yang tak berharga ini. Lupain bagaimana Sivia tersenyum . Lupain bagaimana Sivia tertawa didepan kakak. Lupain semuannya. Karena jika kakak terus mengingatnya itu semua akan membuat kakak sakit “

“Vi sumpah gue gak ngerti “Sivia tersenyum miris mendengar ucapan Cakka tersebut. Yah, tentu saja Cakka tidak akan mengerti apa yang dimaksudkannya. Mungkin Sivia harus memperjelas apa yang dia ucapkan saat ini.

“Sivia gak pantes dapet itu semua dari kak Cakka. Sivia terlalu suci jika mendapatkan kasih sayang seperti orang baik seperti kak Cakka. “

“Vi .. Gue datang ke Indonesia demi loe vi. Gu . . gu . gue sayang sama loe. Bahkan gu .. gue cinta sama loe. Gu .. gue sangat cin . . . “

“Jangan mencintai gadis hina seperti Sivia kak. Hilangin perasaan kakak untuk gadis seperti Sivia. Kasih cinta kak Cakka untuk gadis yang pantas. Bukan gadis yang sudah tak punya harga diri seperti Sivia .”

“SIVIA KAMU NGOMONG APAAN SIH!!! “Sivia memejamkan matannya kuat-kuat dan sedikit mengigit bibirnya. Cakka sepertinya mulai emosi dengan semua yang dia ucapkan.

“Kakak mau tau yang sebenarnya ?? Sungguh kak Cakka ingin tau ??”

“Yah, Aku ingin tau semuannya. Apa yang terjadi sama kamu sebenarnya ? Kamu kenapa ? sakit ? kam . .. “

“Kakak gak nyesel jika tau semuannya ? Sivia hanya memberi saran lebih baik kak cakka milih tidak ingin tahu semuannya dan pergi lupain Sivia “ujar Sivia pelan. Ponsel ditangan Sivia mulai gemetar dan ingin jatuh dari tangan Sivia. Namun gadis ini terus berusaha menahannya.

“Gak akan ! Aku gak akan menyesal sama sekali. Jadi katalan sekarang. Apa yang terjadi sama kamu Vi ??”Sivia tersenyum kecut. Ia menyiapkan hatinya menyiapkan semuannya. Ia tahu jika saat ini satu kata saja keluar dari bibirnya. Maka semuanya akan selesai. Pria itu akan sangat membencinnya.

“Si … Si . .. Sivia . . Sivia hamil kak”

Sivia memejamkan matannya kuat-kuat, mengepalkan kedua tangannya. Ia meremas ponselnya dengan kencang. Berharap ponsel tersebut akan pecah langsung akibat remasannya. Sivia tak mendengar apapun dari sebrang sana. Sivia tau Cakka pasti akan syok mendengarnya bahkan setelah ini Cakka pasti akan sangat sangat membencinnya dan menghinannya.

Tapi terasa sedikit legah bagi Sivia. Dia tidak harus menipu pria ini lagi. Dia tidak perlu mendapatkan kasih sayang dari pria ini lagi yang sebenrnya sangat tidak pantas untuk ia dapatkan.

“Maaf kak. Maaf Sivia ngecewain kak Cakka. Terima kasih untuk semuannya. Dan silahkan lupain Sivia. . .. . “

“Untuk selamannya”

Sivia langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja. Tangannya sudah begitu lemas sekali. Ia tak kuat lagi untuk membuka bibirnya.

“AAAAARGGHHSSS!!!!”jerit Sivia sekeras mungkin . Ia tak peduli banyak orang yang berjalan melihatnya. Sivia sudah tak kuat lagi dengan semua ini. Sivia merasa ia tak pantas untuk hidup lagi.

Sivia perlahan membalikkan tubuhnya. Ia melihat Seorang pria yang keluar dari mobil rush hitam yang sepertinya sudah menunggunya dari tadi. Pria itu menatap Sivia dengan tatapan tak tega dan kasihan. Sivia menatap pria itu dan mencoba tersenyum.

“Yakin? Sekarang ??”tanya pria itu mencoba meyakinkan gadis ini. Sivia mengangguk-anggukan kepalannya berulang-ulang dan segera berjalan menuju mobil pria tersebut.

Sivia pun masuk kedalam mobil rush hitam itu bersama dengan pria tersebut. Dan tak lama kemudian mobil itu pergi meninggalkan taman hiburan, meninggalkan Cakka dan meninggalkan ponsel Sivia yang masih terhubung dengan Cakka.

****

“Si … Si . .. Sivia . . Sivia hamil kak”

Butuh beberapa detik Cakka mencerna kalimat itu. Butuh beberapa menit Cakka untuk mengartikan dari kalimat itu. Cakka hanya bisa membisu diam. Bibirnya terasa kaku untuk ia gunakan bicara saat ini.

Rasanya semua tubuhnya sedang dijatuhi komedi putar yang ia lihat tadi. Semua tubuh Cakka langsung lemas dalam hitungan detik setelah mendengar perkataan Sivia tadi.

“Maaf kak. Maaf Sivia ngecewain kak Cakka. Terima kasih untuk semuannya. Dan silahkan lupain Sivia. . .. . “

“Untuk selamannya”

Seperti Sivia, Cakka saat ini pun hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meremas ponselnya. Cakka mencoba mengeluarkan suarannya kembali. Mencoba merangkai kata dari bibirnya yang masih terasa kaku.

“Vi loe bercanda kan ??”suara Cakka mulai gemetar. Cakka menunggu Sivia menjawab pertanyaannya.

“Vi ? Via ? Loe Cuma ngerjain gue kan ??”

“Vi ?? Via !! SIVIA !! SIVIAAAAAA!!”teriak Cakka seperti orang kesetanan.

Tanpafikir panjang Cakka langsung membuang ponselnya begitu saja dan meninggalkan minuman yang ia beli. Cakka langsung berlari untuk menuju dimana Sivia berada. Cakka terus berlari dengan kencang tak peduli banyak orang yang ia tabrak dan marah-marah kepadannya. Cakka hanya ingin bertemu dengan Sivia ! SIVIA!!
****

Rio mendengus kesal. Gabriel tidak datang-datang juga. Padahal jam tangannya sudah menunjukkan pukul hampir 9 malam. Bahkan Shilla pun tidak datang sesuai yang ia renacanakan. Rio menendang pelan meja yang ada didepannya sekedar meluapkan kekesalannya.

“Kemana sih nih anak berdua ??”

“Aisshh. Gagal kan rencana gue !! Aisshh . . . .”

Rio pun memilih untuk pulang saja, percuma ia menunggu Gabriel yang tak bisa ia hubungi dari tadi.

****

Rumah Shilla

Shilla langsung di dorong dengan kasar oleh papa tirinnya saat ia berada didalam rumah. Shilla meringis kesakitan karena tubuhnya menabrak meja ruang tamu dirumahnya. Shilla menundukkan kepalannya tak berani menatap papa tirinnya yang terlihat sangat murka kepadannya.

“DASAR GADIS BODOH TIDAK BERGUNA!!! “bentak papa Shilla dengan keras.

“Lihat yang dilakukan oleh pangeran pujaan kamu itu!! Lihat sana !! Lihat!!!”Papa Shilla dengan kasarnya menoyor-noyor kepala Shilla tanpa rasa iba.

“Dia meninggalkan kamu demi gadis itu setelah selama ini kamu menyimpan rasa sama dia dan percaya sama dia . Hahahahahahhaha. Sungguh malang sekali nasib kamu Shilla. Shilla hahahahaha”Shilla mengenggam kedua tangannya kuat-kuat. Jujur ia tak ingin mendengarkan tentang hal itu lagi. Ia tak mau mendengarkan nama Gabriel lagi. Shilla begitu kecewa dan sangat kecewa dengan pria itu. Ingin sekali ia berteriak dan marah saat ini.

PLAAAAAAAKKKKKKK

Kepala Shilla langsung terjungkur akibat tamparan papa tirinya yang begitu kuat sekali. Shilla menahan agar dirinya tidak meringis. Ia dapat merasakan pipi kananya yang sangat perih. Bahkan darah segar keluar dari ujung bibirnya.

“Jangan pernah lagi mencoba kabur dari saya!!! “

“Atau kamu ingin saya bunuh ??”ancam papa tiri Shilla .

Papa tiri Shilla langsung duduk berjongkok didepan Shilla. Ia mencengkram dagu Shilla agar Shilla menatapnya. Shila sedikit meringis karena cengkraman papa tirinya sangat menyakitkan.

“Kamu harus dihukum !! “

“Hukuman yang sangat berat buat gadis sialan dan tak berguna seperti kamu!!”

KREEEEKKK

Shilla langsung menutupi dadannya. Papanya tiba-tiba langsung menyobek baju bagaian depannya. Shilla sedikit memundurkan badannya. Ia menundukkan kepalanya, takut, takut dan sangat takut itulah yang ia rasakan saat ini. Papanya seperti harimau liar yang siap menerkamnya.

“ternyata anak tiri gue cantik juga . . “ujar papa tiri Shilla dengan tersenyum sangat licik.

KREEEKKKKKK

Kali ini rok Shilla yang menjadi sasaran. Rok Shilla sobek lumayan banyak. Shilla segera menutupi pahannya sebisa mungkin. Shilla mulai gemetar ketakutan.

“Pa . ja . ngan . .. ja . . ngan .. “isak Shilla memohon. Ia tak tau lagi harus bagaimana .

“Jangan ? Hahahahha ?? Kamu DIAM SAJA!!”bentak papa tiri Shilla yang sangat kejam sekali. Papa Shilla semakin mendekati Shilla karena gadis ini semakin memundurkan badannya.

“Kamu mau kemana ?? kamu jangan ngelawan lagi. Kamu mau saya bunuh ? Hah ??”

Mata Shilla kini mengarah ke sebuah gunting besar yang ada di bawah meja ruang tamu yang dekat dengannya saat ini. Diam-diam tangan Shilla mencoba untuk memgambil gunting tersebut. Shilla berdoa agar papanya tak melihat apa yang dilakukannya.

Akhirnya gunting tersebut berada ditangan Shilla, namun dewa fortuna sepertinya tak berada dipihak gadis malang ini. Mata tajam papa tiri Shilla menangkap tangan Shilla yang saat ini membawa gunting.

“APA YANG KAMU LAK . . . . “

JLEEEEEBBBBBBB

JLEEEEEBBBBB

JLEEEEEEBBBBBB

JLEEEEEBBBB

JLEEEEEBBB

JLEEEEEEBBBBBB

JLEEEEEBBBB

Shilla yang sudah ketakutan hebat dan tak kuat dengan apa yang dilakukan oleh papa tirinnya ini langsung saja mencapkan gunting besar tersebut ke tubuh Papa tirinnya. Shilla mencapkannya dengan kasar dan bringas di bagian dada, perut, mata , lengan papa tirinnya secara berulang-ulang tanpa rasa kasihan.

“MATI LOE !!! MATI LOE !!!”

“ LOE SEHARUSNYA MATI!!!”

“LOE PANTAS MATI BRENGSEK!! LOE PANTAS MATI”teriak Shilla yang sudah diluar kendali. Shill berdiri dengan tangan yang masih membawa gunting tersebut. Tatapan Shilla begitu tajam ke arah papanya . Shilla sudah cukup sabar dengan papanya ini yang selalu berbuat kejam kepadannya. Semua tubuh Shilla dan tangan Shilla bersimbah darah segar.

Shilla dapat melihat papa tirinnya sekarat dan kejang-kejang serta mengeluarkan darah begitu banyak. Darah berwarna merah segar tersebut mengalir di kaki Shilla dan diseluruh ruangan ini. Bau amis mulai dapat tercium disini.

“Ha .. ha . . ha .. ha …”Shilla mulai tertawa sendiri. Tawa yang menakutkan karena Shilla pun saat ini sedang menangis dan entah sejak kapan ia menangis.

Shilla langsung menjatuhkan gunting yang ia pegang tadi. Tubuh Shilla langsung gemetar hebat. Gadis ini lansung menangis ketakutan.

“Aku .. Aku . membunuh dia . .. Aku . . . Aku pembunuh . .. Aku . . Aku .. .pembunuh .. . “

“Shi .. lla . .. pem .. . bunuh . . . . .”Shilla terus gemetaran. Ditambah lagi saat ini papa tiri Shilla sepertinya sudah tak bernyawa lagi. Dan darahnya terus mengalir semakin banyak.

Tubuh papa tiri Shilla sudah dipenuhi dengan banyak darah. Shilla mulai kebinggungan . Ia mengigit jari-jarinya yang tertutipi banyak darah. Shilla tak peduli rasa asin akan darah yang ada ditangannya. Ia terus saja mengigit jari-jarinnya.

“AARGHSSSSS!!!!”teriak Shilla histeris.

“AAAARGHSSSSSSSSS!!!”sekali lagi Shilla menjerit semakin kencang.

Shilla melihat sebuah jaket biru tergeletak begitu saja di sofa ruang tamu. Shilla segera mengambilnya dan dengan kecepatan penuh ia langsung meninggalkan rumahnya. Ia tak peduli banyak darah yang ada ditubuhnya. Shilla memilih terus berlari sambil menangis.

Shilla terus berlari kemana pun kakinya menyuruhnya untuk terus berlari. Rasa gemetar dan ketakutannya ia lawan sebisa mungkin. Yang ia fikirkan ia harus kabur saat ini. Shilla harus pergi. Yah, Dia harus pergi yang sangat jauh! Jauh sekali.

CYYYYYYYYYYYTTTTTTTTT

BRAAAKKKK

Sebuah mobil juke berwarna merah yang mengarah kencang dari arah utara langsung saja menabrak Shilla. Dan membuat Shilla lamgsung tersenyungkur di jalan. Pemilik mobil tersebut segera turun dari mobilnya dan menghampiri Shilla.

Shilla menangis ketakutan. Ia semakin gemetar saat ini, Apalagi seorang pria mendatanginnya dan terlihat cemas melihat dirinnya.

“Kamu gak ap . .. “

“Tolong saya. .Tolong saya.. . .Saya mohon tolong saya . . . “

“Sela . . atkan. .. saya . . To . . .long . .. . tolo . . ng . . “isak Shilla dengan suara gemetar. Pria tersebut kebinggungan tak mengerti maksud Shilla.

“Saya mohon . Tolong saya. .. .Tolongg say . . . . . . “sebelum Shilla menyelesaikan kalimatnya. Ia langsung tak sadarkan diri. Kekuatannya sudah habis dan ia sudah tak kuat lagi untuk dapat menopang tubuhnya. Shilla sudah tak dapat lagi merasakan apapun.

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s