REVIL – 15 “Mama ?? “

Part Fiveteen of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .
PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

REVIL – 15
“Mama ?? “

Cakka duduk kesal di meja kerjanya. Cliennya tersebut degan seenaknya menunda pertemuan. Padahal dirinya sudah menyiapkan semua yang diperlukan hari ini. Mulai dari tempat sampai memesankan makanan paling istimewa karena ia sendiri tahu bahwa cliennya merupakan orang yang istimewa juga.
Jujur saja, berbagai pengusaha jarang yang dapat bertemu langsung dengan pengusaha ini. Karena bisa dibilang pengusaha tersebut tak pernah mengekspos wajah aslinya. Berbagai media pun jarang yang dapat mendapatkan dengan jelas documenter atau foto dari pengusaha ini.

“Gimana Cak?”tanya seseorang yang baru saja masuk di ruang kerja Cakka.

“Dia gak mau bertemu dengan kita hari ini Yo”jawab Cakka kepada orang tersebbut yang tak lain adalah Rio.

“Kenapa? Kok bisa gitu ?”

“mana gue tau . Tapi mungkin kita bisa untuk mengurusi iklan dari produk ini nanti. Jadi jadwal kita hari ini ke studio.nya alvin. “jelas Cakka lagi. Rio mengangguk-anggukan kepalanya.

“Yaudah gue juga tadi diberitahu Alvin dia udah stay di studio”

“Aisshh. Mood gue udah jelek banget kalau sudah kayak gini”desis Cakka mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Udah pak boss. Jangan marah-marah. Kan belum nikah hahaha”goda Rio yang ingin mencairkan suasana hati Cakka. Setidaknya Cakka bisa tersenyum sedikit. Kedua orang ini pun segera meninggalkan perusahaan Cakka dan menuju ke studio Alvin.

***

Sivia duduk manis sambil merapikan rambut sebahunya yang berwarna coklat kemerah-merahan bercampur dengan hitam pekat. Membuat wajah putih gadis ini terlihat begitu cerah. Sivia mendengarkan sang manajer menjelaskan sekedulnya hari ini dan pemoteretan dengan tema apa yang harus ia jalani pagi ini.

Sivia memiliki sifat yang cuek dan tidak mau ribet. Jadinya ia hanya bisa menuruti apa kata manajernya dan melakukan hal yang terbaik tanpa mengetahui apapun lagi. Seperti dengan siapa ia akan bekerja dan berapa gaji yang akan ia dapatkan. Semua itu Sivia serahkan kepada sang manajer. Ia hanya ingin berusaha yang terbaik dan bisa menghidupi kehidupannya bersama sang anak.

“Oh iya. Tadi mama kamu nelfon . . “Sivia langsung terdiam membeku saat sang manajer menyebutkan kata “mama”. Memang sejak Sivia mengalami hal yang paling menyulitkan 7 tahun yang lalu. Ia sudah tak pernah bertemu mama dan papanya lagi. Begitu hina ia harus menemui kedua orang tuannya tersebut. Padahal kedua orang tuannya pun sama sekali tidak marah kepadanya.

FlashBack . . . . .

“Terima kasih . . .”ujar Sivia kepada orang yang telah membantunya itu. Sebenarnya orang tersebut adalah suruhan dari papa Sivia. Sivia baru mengetahui bahwa selama ini dirinya selalu diikuti oleh seorang lelaki utusan dari papanya. Bisa dibilang papa Sivia tidak membiarkan dan melepasan tanggung jawabnya sebagai papa.

“Non Sivia, yakin tidak ingin ke thailand? Mama dan papa non sudah menunggu disana”

“tidak perlu. Sivia akan tinggal dirumah saudara Sivia di singapore. Tolong sampaikan kepada mama dan papa Sivia minta maaf. Dan .. . .”

“Jangan pernah hubungi Sivia lagi. Bilang ke mereka anggap saja Sivia sudah tidak ada dan bukan anak mereka lagi. Sivia terlalu hina untuk menjadi anak mereka lagi. Bilang ke mereka kalau Sivia sayang sama mama dan papa”nampaknya pria itu hanya menatap gadis ini sangat iba. Jika saja pria itu tidak kehilangan jejak saat Sivia dibawah oleh Alvin ke hotel mungkin saja Sivia masih bisa ia selamatkan dan kejadian itu tidak akan terjadi.

“Sivia berangkat dulu”ujar Sivia dan mulai berjalan menuju kedalam bandara meninggalkan pria tersebut.

Sivia sudah memfikirkan hal ini sudha dari 1000 kali. Sivia akan memulai dengan kehidupan baru dinegara tetangga tersebut. Dia sendiri sudah menghungi tante.nya yang disana. Dan menceritakan semua kejadian yang menimpannya. Dan dengan kebaikan sang tante, beliau mau membantu Sivia.

****

Singapore . .

Sivia sedikit tak enak selama tinggal ditempat tantenya. Dimana suami istri ini begitu baik dengannya. Ditambah lagi dengan seorang anak laki-laki berumur 9 tahun yang begitu tampan yang juga langsung akrab dengan Sivia.

“Sivia kamu jangan sungkan-sungkan. Anggap ini rumah kamu sendiri. Anggap Iqbal ini anak kamu sendiri juga. Kamu harus belajar menjadi Mama yang baik. “Sivia tersenyum canggung. Anak ?sungguh tidak pernah ia bayangkan diumurnya yang baru 16 tahun ini, ia harus mengalami hal seperti ini.

“Mom? Kenapa tante Sivia menjadi Mama Iqbal ? Mama Iqbal kan Mom?”anak lelaki ini begitu lucu sekali. Tante Sivia tersenyum pelan dan menghampiri sang anak.

“Karena tante Sivia sebentar lagi akan mempunyai adik bayi. Dan itu juga nanti adik kamu . “

“Adik ?? wahhh. Iqbal akan punya adik ?? “nampak kebinaran diwajah anak lelaki ini. Dan dengan begitu gerakan cepat anak lekaki tersebut lari kedalam pelukan Sivia membuat gadis manis itu terkejut beberapa saat.

“Nanti kalau adiknya sudah lahir, Iqbal ajak adik itu main ya tante Sivia. Oh, salah kata Mom sekarang tante Siva adalah mama Iqbal. Jadi iqbal manggil tante Sivia mama “ucapan iqbal tidak begitu mengangu Sivia namun ia masih tidak terbiasa dengan panggilan yang akan dilontarkan Iqbal kepadanya. Namun setidaknya ia mulai berlajar sekarang menjadi seorang Mama. Sivia mengangguk-angguk ringan mengiyakan ucapan anak lelaki tampan ini.

“Yeee Iqbal punya adik .”

5 bulan kemudian. . .

Sivia hanya bisa memeluk erat Iqbal yang terus menangis tak ada hentinya. Sivia sendiri sama halnya seperti Iqbal perasaan sedih dan begitu terluka kini ia rasakan. Sivia membelai lembut punggung Iqbal.

“Mom dan Dady sudah dimakamkan. Ayo kita pulang”ajak Sivia kepada Iqbal. Namun sepertinya anak ini masih tidak ingin bergeming sedikit pun. Membuat Sivia semakin tidak tega.

“Iqbal gak mau kehilangan Mom sama Dady . Iqbal gak mau “Sivia duduk berlutut mencoba menyatarakan timgginya dengan anak ini. Sivia menatap Iqbal dengan lembut.

“Iqbal masih ada mama kan. Dan mama juga sudah berjanji kan kepada orang tua Iqbal bahwa akan menjaga Iqbal dan merawat iqbal sampai besar. Iqbal juga ingat bahwa Iqbal akan punya adik diperut Mama. Jadi Iqbal tidak sendirian”

“Kalau iqbal kangen sama Mom dan Dady ?”

“iqbal peluk mama dan peluk adik Iqbal, Pasti Iqbal tidak akan sedih lagi. Kalau Iqbal sedih nanti adik Iqbal diperut mama akan ikut sedih. Kamu mau adik Iqbal sedih ??”anak polos itu menggeleng dan mulai menghapus air matanya. Sepertinya kata-kata Sivia mampu membuat anak ini percaya kepada Sivia.

“Ayo kita pulang “ajak Sivia dan menggandeng Iqbal yang mulai membaik.

Kejadiannya begitu cepat, Mom dan Dady Iqbal berencana untuk ke thailand berniat mengunjungi kedua orang tua Sivia disana dan itu sendiri tanpa sepengetahuan Sivia. Namun Naasnya mobil mereka mengalami kecelakaan di tengah perjalanan. Dan menyebabkan nyawa keduanya tidak terselamatkan. Dan hal itu membuat Sivia begitu terpukul sekali. Karena dia belum bisa membalas kebaikan dua orang berhati malaikat yaitu tante dan om.nya.
Dan sejak saat itu, Sivia berjanji akan mengurus dan merawat Iqbal dengan semampu dia. Sivia benar-benar mengurus Iqbal dengan baik. Ia mulai ikut lomba modelling disana merintih karirnya kembali menjadi seorang model. Dan sampai sekarang dirinnya bisa menjadi seorang model ternama di singapore.

FlashBackend. . .

****

“Mama kamu ingin mengun . .. .”

“Bilang Sivia sibuk. Sivia sudah bilangkan. Sivia gak mau nemuin mereka . “

“tap . . “

“Sivia harus mengantar iqbal ke sekolah barunya. Sivia akan langsung ke studio tersebut mungkin 30 menit lagi. Terima kasih atas bantuannya selama ini manajer Ryu”ujar Sivia kepada sang manajer. Ia lantas berdiri dari kursinya dan segera beranjak dari apartemannya. Iqbal sendiri sudah menunggunya di mobil parkir gedung ini.

Iqbal menatap sang mama dengan aneh, Wajah sang mama seperti sedikit pucat dan tegang. Iqbal mengernyitkan dahinya sesaat.

“mama kenapa ?”tanya Iqbal yang memang selalu ingin tahu semua tentang mamanya.

“Mamaku ingin bertemu dengan Mama”jawab Sivia jujur. Ia memang selalu menceritakan semuanya kepada Iqbal. Baginya Iqbal adalah segalannya. Anaknya, Sahabatnya, semuanya . Karena selama ini iqbal selalu menjagannya dan membuatnya bahagia. Meskipun terkadang Iqbal bersikap menjengkelkan dan sedikit berkepribadian malas.

“Lalu ? Mama masih tidak mau bertemu dengan orang tua mama?”

“Mama masih belum siap bal. Aisshh. Udah lah lupakan. Ayo kita berangkat ke sekolah kamu”ujar Sivia tidak ingin membahas kembali. Iqbal pun hanya menuruti saja dan mulai menjalankan mobilnya.

***
Rio,Alvin dan Cakka sudah berkumpul di studio. Semua staff pun telah mempersiapkan kegiatan pemoteretan pagi ini. Cakka menjelaskan kepada Alvin bagaimana thema yang ia inginkan untuk produk besarnya ini. Dan Alvin sendiri mendengarkan dengan serius. Tidak ingin mengecewakan saudarannya.

“Buat sang model terlihat anggun dengan produk ini. Dan satu lagi mungkin tambahkan salju-salju sebagai hiasan. Produk ini sendiri kan akan disebarkan sampai keluar negri. Hampir seluruh Asia dan sebagian eropa. Jadi benar-benar dirancang begitu elegegan dan semenarik mungkin. “

“Oke . Kita untung saja sudah menyiapkan semua bahannya. Dan kita tinggal melakukannya . “

“Modelnya mungkin 5 menit lagi akan sampai”ujar Rio mengkonfirmasikan kepada Alvin dan Cakka.

Seorang pria pun datang menghampiri Cakka. Dan berjabat tangan dengan Cakka.

“Silahkan duduk manajer Ryu. Dimana modelnya ?”tanya Cakka to the point kepada manajer model yang akan ia gunakan untuk event besarnya ini.

“Maaf pak Cakka. Mungkin dia sedikit telat 5 menit. Karena dia harus mengangtarkan anaknya untuk mendaftar ke sekolah barunya disini. Maklum saja, Karena menerima tawaran besar dari anda ia memberanikan diri pindah sementraa di Indonesia sampai event bapak selesai”jelas manajer Ryu dan diangguki oleh Cakka. Memang benar, event cakka akan produk barunya ini mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari 5 bulan sampai 7 bulan. Dan tentu saja dia selalu memmbutuhkan modelnya tersebut.

“Baiklah kita akan menunggu modelnya 10 menit lagi”ujar Cakka kepada Alvin. Alvin hanya mengangguk-angguk saja dan menyibukkan dengan diri dengan kamerannya.
****
Sivia melepasan sabuk pengamannya. Ia menatap iqbal dengan sedikit kesal. Karena yang dilakukan iqbal saat bertemu dengan kepala sekolahnya tadi sedikit tidak sopan. Iqbal dengan jelas-jelas membandingkan sekolahnya di singapore dengan di Indonesia.

“Kalau kamu bicara seperti itu. mama tidak akan segan-segan memotong lidahmu. Mengerti ??”

“Kejam banget . . “gidik Iqbal dengan wajah yang seolah ditakut-takutkan dan membuat Sivia semakin kesal kepada sang anak.

“Mama masuk dulu. Belikan mama minuman dingin baru kamu boleh masuk kedalam”

“Kenapa mama gak beli sen . . . “Sivia langsung menatap Iqbal dengan sangat tajam membuat pria ramaja ini meringkuk tak berani melanjutkan kata-katanya.

“Iya iya ma.. Iqbal beliin . Aishsh. . “desis iqbal setengah terpaksa. Sivia keluar dari mobilnya dan membenahkan make-up dan bajunya sebentar yang sedikit berantakkan. Setelah itu Ia lantas berjalan masuk kedalam studio tersebut.

****

Manajer Ryu memainkan ponselnya berulang-ulang, lebih tepatnya terus menghubungi Sivia yang tak kunjung datang padahal sudah 15 menit dari jadwal yang ditentukan. Manajer ryu menatap Cakka dengan tak enak. Terlihat wajah Alvin pun mulai sedikit jenuh menunggu sang model.

“Masih lama Cak?”tanya Alvin dengan nada seidkit kesal. Cakka menatap Alvin dengan tatapan seolah mengatakkan tunggu sebentar Vin. Sabar . Sabar

“Aissh. Iya iya. 5 menit lagi ya . Gak lebih “serah Alvin yang sudah sangat bosan dan sama sekali tidak suka menunggu. Cakka menganggukkan kepalannya.

“Maaf ya Pak. Ini sudah dalam perjalanan dan hampir sam . . . “

“Akhirnya kamu sampai juga Sivia . .. “

DEEEGGGG

Sivia ? mendnegar nama tersebut sontak baik Alvin maupun Cakka langsung menatap ke arah pintu studio. Cakka dan Alvin belum bisa melihat jelas wajah dari seorang gadis yang baru saja masuk kedalam tersebut. Karena manajer Ryu yang langsung menghampiri gadis itu dan menghalangi wajah gadis itu.

“Ini pak modelnya . . Namanya Sivia . . “

Kamera Alvin langsung begitu saja terlepas dari tangannya, Matanya membulat sempurna. Tubuhnya bahkan menegang hebat. Begitu juga dengan Cakka. Sekujur tubuhnya terasa membeku. Matanya tak sekali pun berkedip menatap wajah gadis itu yang kini sudah dapat ia lihat begitu jelas.

“Kalian kenapa sih?”tanya Rio yang memang belum beranjak dari tempat duduknya yang membelakangi pintu masuk. Merasa penasraan, akhirnya Rio membalikkan tubuhnya.

“Si . . vi . ..a???”kaget Rio dengan lidah yang mulai keluh. Kaget, Syok, bercampur menjadi satu. Semuanya serba mendadak. Dan tak terduga oleh ketiga orang ini. Terutama Alvin dan Cakka.

Sivia mencengkram kedua tangannya kuat-kuat. Dirinya ? sama seperti dua orang disana. Seperti Cakka dan Alvin. Sivia tak pernah tau bahwa ia sedang bekerja dengan siapa. Dan tidak menyangka akan bertemu dengan dua orang yang sudah tak pernag ia ingat sejak 7 tahun yang lalu.
Dada Sivia seperti tercekik, tenggorokannya terasa semakin kering. Kakinya ingin rubuh namun seseorang pria langsung menahannya dari belakang.

“mama gak apa-apa kan ??”ujar pria tersebut yang tak lain adalah iqbal. Ia menahan tubuh mamanya dengan memegangi tubuhnya. Sivia masih diam tak bisa menjawab pertanyaan Iqbal. Suarannya terasa hilang begitu saja. Energinya pun terasa telah terpisah dengan raganya.

“Ma . . .ma ??”lirih Alvin dan Cakka bersamaan dan membuat tubuh Alvin lebih menegang hebat dari semula. Begitu juga dengan Cakka.

Manajer Ryu menatap ke empat orang ini dengan sangat binggung. Kenapa tiba-tiba keadaan menjadi dingin dan sunyi seperti ini. Mereka semua seperti melihat hantu. Saling bertatapan aneh. Baegitu juga dengan Iqbal yang lebih binggung daripada manajer Ryu. Ia baru saja masuk kedalam dan mendapati situasi seperti ini.

“pak Cakka .. I . . ni . . modelnya . .”ujar Manajer Ryu mencoba membuat suasana kembali semula. Namun sepertinya yang dilakukannya percuma. Baik Cakka Alvin Rio maupun Sivia masih tetap diam seperti itu. Seperti tak bernafas dan tak berkedip sedikit pun.

****

Ify menandatangani beberapa map yang diberikan oleh Agni kepadanya. Hari ini jadwalnya sedikit padat. Ify meregangkan otot-otot pundaknya sebentar. Semalam pun ia tidak tidur lagi karena ada meeting dengan salah satu pengusaha.

“bagaimana dengan pengusaha bernama Cakka itu ?”tanya Ify kepada Agni.

“Dia dari perusahan Jo company atau yang biasa kita kenal Jotha company. Semua aset perusahaanya sangat besar. Dia merupakan cucu dari Pak Jo. Dan dalam event.nya kali ini. Ia berani bergabung dengan salah satu pengusaha ternama juga di Indonsia. Dia membuat event ini bersama dengan pak Mahesa “Ify mengangguk-ngangguk mendengarkan penejlasan Agni walaupun matanya masih sibuk tertuju pada map proposal yang harus ia tandatangani dan ia pelajari sebelumnya.

“terus ?”

“Dia sebenarnya hanya cucu angkat dari Pak Jo. Cucu sebenarnya tidak mau melanjutkn usaha Pak Jo sehingga Pak Cakka yang diberikan tanggung jawab untuk mengganti Pak Jo”

“perusahaan ini cukup kuat dan tidak mudah dihancurkan. Jika ingin menghancurkan perusahaan Jotha maka Nona harus menghancurkan Mahesa company terlebih dahulu maka nona akan mendapatkan keduanya. “Ify terdiam sejenak mendengarkan ucapan Agni. Ia merasa lebih tertantang akan perusahaan ini. Lebih tepatnya 2 perusahaan ini. Selama ini ia tak pernah mendangar ada perusahaan yang seperti ini.

“Jika aku berhasil sama halnya dengan aku membunuh 2 burung dengan satu panah . Mengesankan”ujar Ify dengan kedua mata tajamnya. Seolah ia sangat siap untuk menerkam dua perusahaan tersebut.

“Bisa dibilang sepert itu . Nona harus hati-hati sebelumnya. Jangan gegabah untuk saat ini. Buat mereka menuruti apa yang nona mau . “

“of course. Baiklah kalau begitu atur pertemuanku besok dengan Cakka saja. Aku tidak ingin ada yang lainnya “

“Baiklah nona”ujar agni menuruti semua perintah majikannya ini.
****

Sivia membenahkan gaun merah selututnya. Kejadian tadi begitu saja ia lupaka , ia memilih langsung pergi ke ruang ganti dan make-up. Sivia pura-pura seolah tidak mengenal orang yang ada disana yang baru ia temui itu.

“Kenapa sih Om?”tanya Iqbal kepada Manajer Ryu yang akhirnya sudah membuat suasana kembali seperti semula.

“Om juga gak tau bal”ujar manajer Ryu apa adanya.

Cakka sendiri memfokuskan sejenak dengan pekeerjannya, begitu juga Alvin yang langsung membenahkan kembali kamera yang sempat ia jatuhkan tadi. Cakka menahan semua perasaan yang bergejolak di dadanya saat ini. Ia mementingkan pekerjaanya terlebih dahulu. Karena memang ia harus segera membuat teaser video untuk ia tunjukkan kepada pengusaha dari korea yang akan ia temui besok.

Sivia akhirnya muncul dari ruang make-up. Wajahnya sangat tenang dan dingin. Ia diarahkan oleh beberapa staff ke area pemotratan yang sudah disiapkan. Baik Cakka dan Alvin hanya bisa diam menatap Sivia yang tentu saja lebih dewasa dan semakin cantik sekali.

“Pak Alvin semuanya sudah siap”ujar salah satu staff. Alvin pun mengangguk dan berjalan kearah area pemotretan.

“Fokus dulu Vin”bisik Cakka saat Alvin melewatinya. Alvin mengangguk ringan dan melanjutkan jalannya.

Kini Alvin dapat melihat jelas Sivia berdiri didepannya dengan jarak tidak terlalu jauh. Sivia sudah duduk disebuah kursi merah yang disediakan. Thema kali ini adalah “wine red”. Semuanya serba merah pekat. Mulai dari baju Sivia, sepatu Sivia dan aksesoris hitam gemerlap merah. Bibir Sivia pun begitu sexy dengan lipstik tebal merah.

Alvin sedikit tidak fokus untuk sesaat, namun ia mencoba mengontrol kembali kesadarannya.

“Kita mulai”ujar Alvin dengan tatapan ke kameranya. Jujur saja ia tidak berani menatap mata gadis itu. Entah menagapa rasanya entahlah Alvin sendiri tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanya sekarang. Yang ia tahu bahwa ia begitu gemetar dan sangat tegang sekali.

Sivia memang sangat profesional sekali. Ia pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya. 10 tahun menjadi model membuatnya terbiasa dengan semua resiko atau keadaan yang ia hadapi dan seperti saat ini.

Sivia berpose begitu memukau dan elegan. Cakka saja sempat dibuat mematung beberapa kali dan menelan ludah beberapa kali melihat pemandangan didepannya yang sangat cantik lebih dari apapun.

“Mama hebat!!”teriak seorang pria dari belakang dan membuat semua perhatian tertuju kepada pria tersebut yang tak lain adalah iqbal yang memang bangga dengan mamanya.

“ma . .ma ??”lirih Alvin pelan dan sedikit mencuri pandang ke Sivia yang sedang tersenyum kearah Iqbal.

“Kita mulai lagi”ujar Alvin kepada yang lainnya. Alvin mulai fokus kembali dan mulai membidik gambar Sivia dengan kameranya.

“Volume musiknya lebih naikan. Agar emosinya dapat”teriak Alvin tanpa mengalihkan pandagannya dari pekerjaanya tersebut. Alvin terus fokus memotret Sivia yang terus berganti berbagai pose.

“Oke ganti “ujar Alvin melihat hasil bidikannya dilayar laptop yang menghubungan kamerannya dengan laptopnya tersebut. Sivia berjalan kembali untuk masuk keruang ganti. Ia hari ini akan melakukan 3 kali pemoteretan.

Cakka menghampiri Alvin untuk ikut mengecek hasil foto yang telah di bidik oleh Alvin. Kedua pria ini sama-sama hanya diam dalam hening melihat semua foto tersebut. Tidak seperti biasanya dimana mereka akan berkomentar mulai a sampai z dan sebagainya. Namun ini mereka berdua seperti menikmati setiap wajah dari model tersebut.

“Dia . . ..terlihat lebih dewasa. . . “ujar Alvin tanpa ia sadari . Dan entah mengapa Cakka ikut mengangguki ucapan Alvin. Keduanya pun tak menyadari bahwa kini bibir mereka terangkat membuat seulas senyum ringan.

Rio yang melihat dari jauh saja semakin sangat penasaran. Rio menatap ke arah pria remaja yang sedang asik minum di kursi dekat area pemoteretan. Rio berjalan menghampiri pria tersebut yang tak lain adalah iqbal.

“Siapa nama kamu ??”Iqbal mengernyitkan kening. Merasa aneh dengan orang didepannya ini. Jujur saja Iqbal sama sekali tidak tertarik bahkan enggan berkenalan dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal.

“Kamu anaknya model tadi?”tanya Rio yang sangat pensaran dan tidak mau menyerah.

“hmm . “jawab Iqbal seadanya dan tanpa menatap Rio. Mata Iqal tertuju ke ruang ganti. Ia menunggu sang mama keluar dari sana. Rio sepertinya sudah cukup dengan jawaban singkat Iqbal. Ia kemudian berjalan mendekati Alvin dan Cakka yang masih berdiri di depan layar laptop.

“Gimana hasilnya ?”tanya Rio yang berdiri dibelakang kedua orang itu. Namun tak ada jawaban baik dari Cakka maupun Alvin.

“Waahh mama cantik banget!!”teriak Iqbal yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Semua mata pun tertuju ke arah Sivia tentunya yang keluar dari ruang ganti.

Memang benar, gadis itu terlihat lebih cantik dari tadi. Sivia saat ini memakai gaun warna merah namun panjang. Dengan bagian atas yang terbuka dan mengenakan sebuah berlian gold dengan bintik bintik merah merona yang merupakan produk yang akan dikeuarkan oleh Cakka. Rambut Sivia digelung ketas dengan rapi dan diberi tusuk merah merona dengan hiasan bunga hitam di samping tusuk tersebut. Benar-benar sangat cantik.

Mata Sivia tak sengaha bertemu dengan Alvin, Namun gadis ini langsung mengalihkan pandangannya. Ia berjalan ke area pemoteretan yang berbeda dengan tadi. Dimana saat ini Sivia harus berpose dengan rintikan salju buatan.

“Vin . . “cakka menyadarkan Alvin yang masih terdiam. Alvin pun langsung tersadar dari kekagumannya akan kecantikan gadis itu.

“Pindakan semua alat-alatnya”suruh Alvin kepada salah satu staff. Alvin menyerahkan kameranya kepada staff tersebut.

“Pak Alvin ini bagaimana posisi sang model. Lebih baik bapak sendiri yang mngaturnya”teriak salah satu staff perempuan yang bertugas memandu sang model. Alvin mengangguk dan perlahan berjalan kearah Sivia berdiri.

Sivia terlihat menarik nafas berulang-ulang mencoba bersikap biasa menghilangkan semua kegugupannya. Tidak bedanya dengan Sivia, Alvin berjalan dengan kaki sedikit gemetar. Namun ia harus prfesional dengan pekerjaan besarnya ini.

Alvin kini berdiri didepan Sivia. Jarak mereka tak lenih dari 10 centi meter. Cukup dekat bukan. Sivia sama sekali tak menatap mata Alvin. Sedangkan Alvin dengan tatapan seolah menyimpan kerinduan akan gadis ini.

“Lama tidak bertemu”ujar Alvin entah mendapat keberanian dari mana. Sivia nampaknya sedikit terkejut dengan ucapan Alvin tersebut.

“ya”jawab Sivia dingin dan seadanya. Ia hanya ingin hari ini cepat selesai dan pulang kerumah. Alvin duduk berjongkok didepan Sivia, membenahkan ekor gaun Sivia yang panjang. Setelah itu ia bangkit berdiri kembali membenahkan rambut Sivia yang menurutnya sedikit berantakkan serta letak tusuk rambutnya tersebut yang sedikit terganggu.

Sivia dapat dengan jelas mencium bau parfum alvin yang sangat familiar sekali. Bau yang tidak pernah berubah sejak 7 tahun yang lalu. Leher jenjang Alvin terlihat jelas didepan Sivia. Sivia meneguk ludahnya dalam. Ia hanya bisa mencengkram kedua tangannya kuat-kuat untuk menahan semuannya.

“Dia anak kamu ?”tanya Alvin frontal dengan masih sibuk merapikan rambut Sivia. Sivia langsung membelakakan matanya mendengar pertanyaan Alvin. Sivia tak tau harus menjawab apa. ia memilih diam tanpa mengeluarkan sekata apapun.

Alvin selesai merapikan rambut Sivia, matanya mengarah tepat dikedua mata Sivia. Dan mata dua orang ini saling bertemu. Alvin dapat melihat jelas bagaimana dinginnya tatapan Sivia kepadanya.

“Kita mulai lagi pemotretannya”teriak Alvin masih dengan menatap Sivia. Sedetik kemudian Alvin membalikkan badanya untuk mengambil kamerannya. Sivia mengambil nafas dalam-dalam karena rasanya ia tidak dapat mendapatkan oksigen sama sekali sedari tadi.

Pemotretan pun kembali dilanjutkan, Alvin kembali mencoba fokus dan Sivia sendiri kembali melakukan yang terbaik.

****

Shilla merapikan sofa ruang tamu yang sedikit berantakkan. Hari ini Dayat harus kembali ke bandung karena ada beberapa berkas yang tertinggal disana.

TingTong . ..

Bel rumah berbunyi, Shilla pun segera berjalan kearah pintu rumahnya. Ia merapikan sebentar pakaiannya agar terlihat lebih rapi. Setelah itu membuka pintu rumah tersebut.

Shilla terdiam dan mematung melihat tamu yang datang pagi-pagi dan sudah berdiri didepan rumahnya ini. Namun sedetik kemudian Shilla mengembalikkan kesadarannya.

“Ada apa ya ?”tanya Shilla dingin tanpa senyum sedikitpun kepada orang tersebut. Orang itu langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan Shilla.

“Saya disuruh Pak Dayat kemari untuk mengambil beberapa berkasnya “ujar orang tersebut.

“Oh. Silahkan masuk”suruh Shilla dengan tangan mulai sedikit gemetar. Dan orang itu pun masuk kedalam sebelum Shilla menutup kembali pintu rumahnya.

“Silahkan masuk sendiri ke ruang kerja tunagan saya. Ruangannya ada disebelah sana”ujar Shilla dengan penuh penekanan dan tanpa menatap lawan bicarannya tersebut.

“Permisi . .”pamit Shilla dan segera beranjak untuk meninggalkan orang itu.

“Shil . .. “panggil orang tersebut sontak membuat langkah kaki Shilla terhenti begitu saja. Shilla mencengkram bajunya, memejamkan matanya kuat-kuat dan mengambil nafas sedalam-dalamnya dan segera mengeluarkannya.

Shilla memberanikan diri membalikkan badanya kembali dengan ekspresi seolah-olah tidak ada apa-apa dan dia sama sekali tidak mengenal orang tersebut.

“Iya ?”sahut Shilla dengan tatapan dan ekspresi seperti tadi.

“Ka .. ka .. ka . ..mu . . . ka . . . “

“Kalau tidak ada yang dibicarakan saya akan kedalam. Masih banyak yang harus saya kerjakan”potong Shilla dengan cepat karena tak mau berlama-lama di depan pria ini tentunya. Dan sekali lagi pria itu hanya diam kembali membuat Shilla sedikit jengah dan tidak tahan lama-lama berdiri disni.

Shilla pun memilih segera mengembalikkan badanya kembali untuk menuju kedalam rumah.

“Apa kamu tidak ingat dengan aku?”

Shilla memberhentikkan langkahnya kembali saat mendengar pertanyaan dari pria tersebut. Shilla tersenyum begitu sinis, merasa lucu akan pertanyaan dari pria itu.

“Apakah nama kamu begitu penting bagiku, sampai aku harus mengingat nama kamu”balas Shilla begitu menusuk. Shilla menatap didepannya dengan tatapan tajam. Ia sama sekali tidak membalikan badanya kali ini. Namun dapat ia rasakan sekujur tubuhnya mulai merasakan perasaan yang sakit. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan dan kini kembali datang.

“Ma . . . Maaf “ujar pria tersebut dengan nada bergetar. Kepalanya menunduk menghadap ke bawah. Ia dapat merasakan sakit sekali saat gadis didepannya tersebut berkata seperti itu. Ia tau bahwa gadis itu begitu sangat membencinya saat ini.

“Aku sudah hidup bahagia sekarang. Tolong jangan merusak lagi kebahagianku untuk kedua kalinya”

Shilla meninggalkan pria tersebut begitu saja. Ia meneruskan langkah kakinya untuk menuju kamarnya. Meninggalkan pria yang 7 tahun lalu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Pria yang 7 tahun lalu mampu membuatnya merasakan sakit yang tak tertahankan. Pria yang 7 tahun lalu dengan tega menghianatinya dan mencampakannya. Rasanya begitu sakit sekali. Yah, pria itu adalah gabriel.

“Aku sudah hidup bahagia sekarang. Tolong jangan merusak lagi kebahagianku untuk kedua kalinya”

Kalimat itu seperti tamparan dingin di wajah gabriel. Ia mematung membeku disana. Sama sekali tak berani menengadahkan kepalanya. Yah, Shilla memang sudah bahagia sekarang. Dan tidak seharusnya dia hadir lagi dikehidupan Shilla. tapi . . Kenapa rasanya sakit sekali saat gadis itu mengatakkan kalimat tersebut.

Gabriel berlutut lemas, darahnya seakan berhenti mengalir saat ini. Keringat dingin sudah membasahi pelipis wajahnya. Ingatannya berputar saat dirinnya tega mencampakkan Shilla demi Zahra. Ingatannya berputar akan kata-kata Shilla tadi. Semuanya menjadi satu didalam otaknya yang terasa ingin meledak.

“Maaf . . Maaf . . Maaf . . Maaf . . “

****
Shilla langsung menutup kamarnya. Gadis ini langsung duduk membelakangi pintu kamarnya. Mengigit tangan kanannya kuat-kuat menahan suara tangisannya yang mulai memecah. Sedangkan tangan kirinya memukul-mukul dadanya sendiri yang begitu sakit sekali. Rasanya bernafas saja terasa susah buat Shilla saat ini.

“Kenapa kita harus bertemu lagi ?”

“Kenapa kak??”

“Rasanya sakit kak. Rasanya sakit baaaangeeeettt!!!!”ingin sekali gadis ini berteriak sekencang mungkin. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Shilla semakin keras memkul dadanya sendiri. Shilla tak menyadari bahwa tangannya sudah berdarah akibat gigitan giginya. Ia begitu menahan suara tangisannya yang begitu menyiksa.

“Shilla benci sama kakak. !!”

“Shilla benci sama kakak!!”

“Shilla benci sama kakak!”

Shilla mengatur isakannya yang tidak teratur. Ia mengambil ponselnya dari saku celana pendeknya. Dengan cepat Shilla memencet lama huruf D pada keypad ponselnya yang langsung menghubungkan dengan nomer Dayat.

“Hallo kak. Cepat pulang. Shilla butuh kakak. Ayoo cepat pulaangg”tangis Shilla dalam telfon dan tentu saja langsung membuat Dayat khawtir disebrang sana.

“Kamu kenapa Shil? Kamu kenapa ??”

“Cepat pulaang kak. Shilla mohon !! Ayooo Cepat pulaaangg!!”reggek Shilla setengah membentak. Ponsel Shilla langsung terjatuh begitu saja. Tangannya begitu lemas tanpa energi. Semuanya lama-lama terasa gelap. Nafas Shilla mulai tidak beraturan.

Pandangan Shilla mulai kabur, Tangan kanannya mulai terlepas dari giginya sendiri. Dan akhirnya bunyi brruukkk terdengar didalam kamar gadis ini. Yah, Gadis ini pingsan begitu saja. Tubuhnya memang sudah tidak sekuat dulu. Gadis ini tidak bisa dibuat untuk berfikir terlalu keras dan pasti akan membuatnya pingsan. Yah, Seperti saat ini.

“kak Shilla gak mau. Jangan serahin Shilla ke Papa . Shilla gak mau !!! “

“Kak tolong Shilla. kak Gabriel tolong Shilla . . . “

“Sekali lagi papa loe berbuat gini. Loe jangan pernah sedikit pun melarang gue buat ngasih pelajaran ke papa loe.”

“Gue tidak akan biarin loe disentuh sedikitpun oleh Papa loe”

Apakah 7 tahun lalu itu sebuah janji kak ? atau Apakah 7 tahun lalu itu sebuah pennghiatan? Kenapa kamu harus muncul lagi? Tidak puaskan kamu sudah membuatku menjadi orang gila dan pernah merasakan bagaimana menderitannya kehilangan akal sehat? Tidak puaskah kamu menyakiti aku 7 tahun yang lalu dan aku harus menderita bertahun-tahun?Apakah aku harus mati duli sehingga kamu bisa tertawa dengan senang ? Kamu tidak pernah tau akan rasa sakitnya aku saat ini! tidak akan pernah tau!!!
****

Iqbal keluar sebentar dari studio untuk membelikkan mamanya makan. Ia tidak tega melihat wajah pucat mamanya. Iqbal mencari restoran di dekat studio tersebut. Dan memang ternyata ada tak jauh dari studio itu ada sebuah restoran kecil. Iqbal cukup berjalan kaki saja untuk kesana.

Iqbal masuk kedalam restoran tersebut yang ternyata berisi banyak gadis-gadis SMA yang sedang pulang dari sekolah. Dan tentu saja semua mata gadis itu tertuju kepada Iqbal saat ini.

“Ciss”desis Iqbal yang sedikit tak suka dilihat seperti itu. Namun ia tak peduli dan terus jalan untuk mendapatkan meja kosong. Akhirnya Iqbal mendapatkan satu meja kosong yang tersisa dan ia bisa memesan makanan untuk sang mama.

Iqbal mengeluarkan ponselnya untuk mengecek jam berapa sekarang. Namun kepalanya langsung mendongak ke arah depan saat ia melihat seorang gadis yang langsung duduk dengan manis didepan kursinya. Iqbal mengeryitkan keningnya.

“Mas boleh minta tolong gak ?”ujar gadis tersebut yang terlihat lebih tua dari Iqbal sepertinya.

“Apa?”balas Iqbal dingin sekali.

“Tadi kan mas dari studio itu kan ?”

“hm”

“Disana ada orang yang namanya Rio gak ?”

“Mana gue tau”sahut Iqbal acuh dan kembali menatap ke ponselnya kembali. Merasa terganggu sekali ia dengan gadis tak jelas ini.

“Gimana sih. Mas kan pegawai disana kan? Masak gak kenal sama Kak Rio”cerocos gadis ini. Iqbal menatap gadis ini dengan tatapan tak suka. Bagaimana gadis ini bisa berkata bahwa dia adalah pegawai di studio. Iqbal mulai berfikir apakah dia sudah terlihat tua.

“Maaf ya mbak. Saya bukan pegawai. “

“Isshh mas.nya pakai gak mau ngaku. Baju mas aja hitam putih kan seperti baju pegawai yang lainnya “iqbal memandangi bajunya . Dan memang benar saat ini ia memakai kemeja putih pendek dengan celana jeans hitam.

“Ada gak kak rio disana? Ini soalnya menyangkut nyawa saya mas. “Iqbal lama-lama kesal juga dengan gadis ini.

“Loe umur berapa sih?”tanya Iqbal dingin dan sudah kehilangan kesabaran.

“Emangnya kenapa ??”

“Loe umur berapa ?”

“19 tahun”jawab gadis tersebut sedikit enggan.

“Ahhhh. 19 tahun. Pantes wajah tua “

“Apa loe bilang ??”teriak cewek itu tak terima

“Loe gak usah susah-susah panggil gue mas. Gue masih remaja , masih muda, Umur gue masih 16 tahun. Dan asal loe tau gue bukan pegawai disana. Gue sedang nganterin mama gue pemotretan disana. “ujar Iqbal dengan penuh penekanan dan tatapan tajam kepada gadis itu. Iqbal langsung berdiri begitu saja karena memang pensananya sudah selesai dan bisa siambil ditempat kasir.

“Oh ya satu lagi . . .”jawab Iqbal mengangtung. Gadis tersebut menatap Iqbal dengan kesal akibat ucapan Iqbal tadi tentunya.

“Baju loe kebalik tuh”ujar Iqbal dan pergi begitu saja. Sedangkan gadis tersebut langsung menatap bajunya. Dan benar saja ia memakai baju terbalik dan tanpa menyadari sedari tadi.

Gadis itu langsung menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya merasa malu. Dan dengan cepat memilih untuk pergi dari restoran tersebut. Karena sekumpulan gadis-gadis SMA tadi sudah puas menertawainya

“Salshaaa begooo!!! Begoooo !!! Apa yang loe lakuiinn!! Bego banget sih salshaa!!!”ujar Gadis itu merutuki kebodohanya sendiri.

“Kenapa juga loe bisa tanya cowok itu!! Kenapa loe gak mikir dulu !! Salshaaa begooo!!!”

“Isshh Cowok itu juga nyebelin !! Pakek ngatain gue wajah tua lagi ? Aisshhh. Emangnya gue kayak tante-tante apa /? Nyebelin banget sih!”

“awas aja kalau gue ketemu lagi. Gue tendang tuh cowok!!!”emosi gadis bernama Salsha ini yang tak lain adalah adik kandung dari Rio. Salsha mengatur nafasnya dan emosinya sebentar. Ia mulai berfikir kembali.

“Issshh. . .Masuk gak ya ke studio itu ? Disana pasti ada kak Cakka. Tapi kalau ada Kka Rio juga bisa dibunuh gue ?”

“masuk gak ya ??”

“Aduuuhh gak usah deh. Gue yakin pasti ada kak Rio disana. Dari sini saja auranya sudah dapat tercium “

****
Jam istirahat, Semua staff dan model diberikan break satu jam. Begitu pun dengan Alvin dan cakka yang mulai sedikit lelah. Alvin menatap Sivia yang duduk di saming manajernya dan sedang diajak berbicara oleh manajernya. Jujur, Ingin sekali Alvin mendekati gadis itu dan berbincang sedikit denganya.

“Dia semakin cantik Vin. Gue sangat kangen sama dia . Apa benar itu Sivia Vin ?”ujar Cakka yang duduk disebelah Alvin. Mata Cakka sendiri pun tak lepas dari Sivia.

“Entahlah Cakk. Gue masih syok dengan hari ini. “jawab Alvin seadanya. Dan memang itulah kebenarannya. Bahwa ia masih tidak percaya akan gadis yang dihadapannya tersebut.

“Jika ini hanya mimpi, gue harap gue gak bangun dulu Vin. Gue ingin sekali menyapa dia Vin “ujar Cakka dengan tatapan sedikit sendu.

“Cakk. Kenapa kita bisa menyukai gadis yang sama ?”

“Entahlah Vin. Dan gue mulai takut kehilangan dia lagi “

“Gue lebih takut lagi Cakka “

“MAMAAAAAA!!!”teriak seorang pria dari pintu masuk studio dan membuat seisi orang di studio yang sedang beristirahat langsung menatap pria tersebut yang tak lain adalah iqbal.

Sivia terlihat mendengus kesal, Iqbal membuatnya malu saja. Iqbal langsung duduk disamping Sivia dan memberikan bungkusan makanan yang telah ia beli.

“Ma . Ini Iqbal belikan makan. Mama Makan ya “ujar iqbal sangat perhatian kepada Sivia.

“Kamu bisa gak hilangin kebiasaan burukmu bertetiak-teriak di tempat umum. Malu-maluin tau !!”omel Sivia kepada Iqbal.

“Iya iya ma . . “serah iqbal sambil sedikit memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. Iqbal mengarahkan padanganya ke arah lain dan mendapati dua orang pria sedang menatap ke arahnya dan mamanya. Iqbal mengeryitkan keningnya heran.

“Ma . . Ma . . “panggil iqbal tanpa mengalihkan wajahnya ke Sivia. Sivia sendiri sedang berkutik dengan makanannya.

“maaa . Maa . .”panggil Iqbal sekali lagi.

“Apa??”jawab Sivia sedikit kesal.

“Itu dua orang ngapain ngelihatin Iqbal sama Mama terus ??’tanya Iqbal sambil menujuk dua orang pria yang tak lain adalah Alvin dan Cakka. Sivia mendongakkan kepalanya dan mengikuti arah jari tangan Iqbal.

Cakka dan Alvin langsung membelakakan matanya sat iqbal menunjuk ke mereka berdua. Kedua pria ini langsung kebingungan dan pura-pura untuk sibuk hal lainnya. Namun terlambat, Sivia sudah mengetahuiinya terlebih dahuli.

Sivia menghela nafas panjangnya sebentar. Lantas menunduk kembali menatap makanannya tersebut. Iqbal menoleh ke mamanya yang tak menjawab pertanyaanya.

“mama kenal ?”

“Gak”

“terus kenapa orang itu ngelihatin mama terus. Pasti karena mama cantik kan ? Dasar om-om mata keranjang”cerca Iqbal setengah kesal.

“Ma . . tau gak tadi iqbal bertemu dengan gadis aneh. Masak dia manggil iqbal mas. Apa Iqbal kelihatan kayak mas-mas gitu ya ma ? terus udah gitu gadis itu pakai ba . . ju. .. . .”

“ke . ba. . li . . k”Iqbal terdiam karena mendapati tangan mamanya bergetar sambil memegang sendok makan. Iqbal melihat kearah wajah mamanya yang terlihat seperti butiran air mata mengalir dipipi mamanya. Iqbal mematung dan binggung tentunya.

“mama kenapa?”tanya Iqbal mulai khawatir. Karena hal yang membuat Iqbal sedih di dunia ini adalah melihat Sivia menangis. Maka dari itu Iqbal sebisa mungkin selalu membuat Sivia tersenyum.

“Gak apa-apa”jawab Sivia dengan cepat dan segera menghapus air matanya sendiri. ia tak ingin siapapun melihat dirinya menangis saat ini. Apalagi Iqbal, bisa-bisa anaknya ini akan mengomel tak jelas. Mengintrogasinya habis-habisan.

“Tapi mama kok na . . “

“Jangan tanya lagi . Mama capek. Pusing”potong Sivia dan membuat Iqbal langsung terdiam. Jika seperti ini, Iqbal tau bahwa sang mama benar-benar sangat lelah dan tidak ingin ditanyai apapun.

“Kamu pulang sana dulu. Besok kamu harus sekolah. Mama akan pulang sama Manajer Ryu”ujar Sivia sudah dapat mengontrol dirinnya sendiri.

“Beneran mama gak apa-apa?”tanya Iqbal masih cemas

“Iya mama gak apa-apa sayang. Udah sana pulang”suruh Sivia dengan nada halus. Iqbal pun mengangguk saja menyetujui. Ia tidak ingin membebani mamanya lagi.

“yaudah Sivia pulang dulu Ma”pamit Iqbal dan mencium pipi sang mama dahulu sebelum beranjak. Sivia tersenyum kepada Iqbal untuk membuat anak itu tidak khawatir lagi dengannya.

Sivia sedikit mencuri perhatian ke dua orang pria disebrang sana yang sepertinya masih memperhatikan dirinnya. Dan benar saja baik Alvin maupun Cakka menatapnya saat ini. Sivia langsung mengalihkan tatapanya langsung dari dua orang tersebut.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s