REVIL – 16 “Cinta begitu sulit!! “

Part Sixteen of Revenge of Devil >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .
PG-17 (pengawasan Bapak/Ibu) .

REVIL – 16
“Cinta begitu sulit!! “

Ify membolak-balik 2 proposal yang diajukkan oleh pria didepannya ini. Pria tersebut tak lain adalah Cakka. Hari ini Ify benar-benar melakukan pertemuannya dengan Cakka tanpa membatalkannya kembali.

“Kita sedang melakukan pemotretan untuk iklan produknya. Mungkin satu bulan kedepan semuanya sudah bisa kita promosikan jika anda menyutujui semua ini”

“Dan ini adalah contoh dari pemoterean yang kita lakukan kemarin”Cakka menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna cokelat kepada Ify. Ify memgernyitkan keningnya. Menatap enggan amplop yang ada didepannya.

“Silahkan di buka. Disana terdapat beberapa foto dari sang model dan produk yang akan kita promosikan dan yang akan kita jual.”

“Tidak perlu”jawab Ify datar. Baginya itu adalah suatu yang tidak penting. Cakka menatap Ify dengan sedikit kaget. Jujur saja ia belum pernah bertemu dengan pengusaha muda ini secara langsung. Dan benar saja yang dikatakan oleh oang-orang. Bahwa gadis ini begitu dingin dan tidak mau tau.

“Tap . . . Tapi . . .aku tidak bisa kalau hanya melakukannya sendirian. Ini semua adalah kerja sama antara perusahaan kita dan aku juga membutuhkan pendapat anda”lanjut Cakka yang selalu mengutamakan sikap kepercayaan dan saling bekerja sama dengan jujur jika melakukan perjanjian dengan cliennya. Dan inilah yang membuat Cakka banyak disukai oleh banyak pengusaha-pengusaha lain. Dan membuat Cakka mudah mendapatkan sponsor dan kesuksesan dalam pekerjaanya.

Ify menutup kedua proposal tersebut dengan sedikit kasar. Membuat Cakka sekali lagi terdiam kaget. Gadis ini menghembuskan nafasnya beberapa kali. Lantas perlahan mendongakkan wajahnya dan menatap Cakka dengan tatapan sangat dingin tanpa ekspresi sedikit pun.

“Lumayan bagus. “Ify mengambil salah satu proposal yang ada di depannya lantas melemparnya dengan sedikit pelan namun terlihat seperti membuang proposal itu di depan Cakka.

“Perbaiki proposal ini. Ganti konsep lebih natural dan elegan. “lanjut Ify dengan tenang. Cakka menahan segala emosinya. Ia hanya bisa tersenyum sedikit kecut dan menganggukan kepalanya.

“baiklah. Saya akan memperbaikinya kembali. Kapan kita bisa bertemu lagi ?”jawab dan tanya Cakka kembali. Tangannya mengambil proposal yang dilempar Ify tadi dan memasukkan kedalam tasnya. Sedangkan Ify menyunggingkan senyum sinis merasa lucu dengan pertanyaan Cakka.

“bertemu lagi ? tidak akan pernah. Saya cukup sibuk dan harus kembali ke jepang. Jadi deadline di proposal tersebut anda targetkan selama 2 bulan. Aku minta satu bulan sudah selesai “

“1 bulaan ??”kaget Cakka dan membulatkan matanya dengan sempurna.

“Saya harus pergi. Amplop ini saya bawa. Siapa tau kucing saya dirumah suka dengan foto-foto modelnya “ujar Ify santai lantas berdiri dari tempat duduknya dengan tangan membawa amplop kecil tersebut.

Ify meninggalkan Cakka dengan dikawal oleh Agni dan 2 bodygardnya. Meninggalkan Cakka yang hanya menahan nafasnya yang terasa tercekat dan kaget dengan sikap seenaknya gadis itu.

“Gilaaaa . 1 bulan ?? yang benar saja ??”Cakka mendesis sedikit emosi. Mencengkram kedua tangannya kuat-kuat.

“Kok bisa ada gadis kayak gitu . Ya tuhan.. “Cakka tak mau ambil pusing lagi dan tidak ingin membuang waktunya lagi. Ia segera beranjak dari tempat tersebut . Cakka ingin merancang ulang semua rundown yang ada. Karena deadline yang awalnya ia perkirakan sekitar 2 bulan atau 3 bulan kini harus diselesaikan menjadi 1 bulan. Dan itu semua rasanya imposibble sekali. Namun mau bagaimana lagi. Cakka harus melakukan permintaan Ify yang merupakan penyumbang sponsor terbesar dan penaruh saham besar pada produk ini.

*****
Lux-art

Sivia menjalani pemotretannya kembali untuk hari ini. Dan ditempat ini hanya ada Alvin dan beberapa staff yang membantu Alvin. Setidaknya membuat Sivia sedikit nyaman karena tidak ada Cakka disini.

“Bisa angkat dagumu sedikit”ujar Alvin yang melakukan pekerjaanya dengan professional kali ini. Jujur saja Alvin masih tidak percaya bahwa didepannya ini benar-benar Sivia atau tidak. Sivia menuruti saja ucapan Alvin. Ia hanya ingin pemotretan ini cepat selesai.

“Break sebentar!”seseorang tiba-tiba datang dan memberikan perintah dengan lantang. Baik Alvin maupun Sivia dan staff-staff lainnya menatap ke sumber suara yang tak lain adalah suara dari Cakka.

“Kita perlu bicara Vin. Aku tunggu di ruangan kamu . Yang lainnya siapkan untuk pemotretan selanjutnya. “ujar Cakka dengan cepat dan segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dimana ruangan Alvin berada.

Alvin mengernyitkan keningnya binggung, ia mencoba menebak bahwa ada yang tida beres dengan pekerjaan Cakka. Alvin sudah cukup mengenal bagaimana sifat dan perilaku Cakka. Alvin berjalan kea rah laptopnya. Menaruh kamerannya di samping laptopnya.

Setelah itu Alvin menatap ke arah Sivia sebenatar, Alvin mendapati mata Sivia yang tertuju ke arah tangga dimana Cakka berjalan cepat ke arah sana. Alvin tersenyum sedikit kecut lantas mengalihkan pandangannya dan memilih untuk segera menyusul Cakka.

Sivia mengangkat gaunnya putihnya yang panjang. Ia berjalan ke arah sofa yang memang di sediakan untuknya. Beberapa staff atau crew membantu Sivia untuk duduk.

“Apa ada yang anda butuhkan ?”tanya salah satu staff wanita. Sivia menggelengkan kepalanya dengan menyunggingkan sedikit senyuman. Staff wanita itu mengangguk dan meninggalkan Sivia sendiri disana. Entahlah apa yang dirasakan Sivia saat ini. Namun hatinya merasa tak enak dan sedikit cemas. Siapa yang dia cemaskan ? Cakka? Mungkin saja. Tapi hanya hati Sivia yang tau akan jawabannya.

*****
Alvin duduk di kursi depan Cakka. Cakka lantas melemparkan begitu saja proposal yang ia bawa didepan Alvin. Alvin mengernyitkan keningnya heran.

“Deadline diajukan menjadi 1 bulan”

“HEH??’kaget Alvin mendengar ucapan Cakka. Alvin ingin mengatakkan “Loe berncanda kan ?”namun dari raut wajah Cakka saat ini tidak ada wajah bahwa Cakka sedang mengerjainnya. Wajah Cakka terlihat depresi sekali.

“Cewek itu bener-bener gila. Bagaimana bisa kita menyelesaikannya selama 1 bulan ? Kita belum membuat video iklannya. Kita juga belum menyelesaikan semua pemotretannya. Ditambah lagi produk tersebut belum dimulai pembuatannya. Apa dia tidak berfikir jika kita terburu-buru melakukan semua ini maka hasilnya pun tidak akan memuaskan !!!”jelas Cakka dengan sedikit emosi. Karena Cakka bukan tipikal pria yang mudah menunjukkan emosinya begitu saja. Cakka selalu mencoba untuk tenang. Menggunakan tangan, kaki dan otaknya untuk bekerja bukan mulutnya.

“Terus sekarang apa rencana kamu ?”tanya Alvin pada inti dari pembicaraan cakka.

“Tidak ada. Kita harus menuruti ucapan gadis itu “Alvin tertawa sedikit tidak enak.

“Loe mau model , para staff dan gue sendiri tidur di studio ini selama satu bulan ??”kini giliran Alvin yang sedikit emosi. Cakka menatap Alvin dengan tatapan tidak yakin. Menggaruk-garuk kepalannya yang sedikit tidak gatal.

“Se .. . per . . tinya . .hehehe”cengir Cakka dengan tidak jelas.

“Cishh. Gak!”

“Ayolah Vin. Pliss . Ini proyek tersbesar gue. Dan Cuma loe yang gue percyaa . Ayo lah vin pliis. Gue mohon. Loe minta apapun pasti gue kabulin. Apapun itu Apapuuuunnnn!!”pinta Cakka benar-benar memohon kepada Alvin.

“Apapun ??”picing Alvin

“Iya apapun. Loe mau apa aja pasti gue kab . . .”

“Sivia ?”Cakka langsung terdiam seribu bahasa saat Alvin mengucpkan nama gadis itu. Alvin tertawa sebentar lantas berdiri dari kursi yang ia duduki.

“Gue bercanda dengan ucapan gue tadi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa jadi keinginan. Gue akan lanjutin pemotretannya. Gue akan bantu loe.”ujar Alvin yang sudah berjalan ke arah pintu ruangan. Sedangkan Cakka masih diam mematung disana.

“1 bulan ? baiklah. “lanjut Alvin dan segera keluar dari ruangannya.
*****
Sivia memblak-balikan majalah yang ada di depannya. Tak ada satupun kata yang masuk dalam otaknya. Hanya tatapan kosong yang entah kemana. Mata Sivia langsung tertuju kea rah tangga saat mendengar suara langkah kaki menuruni tangga tersebut .

“Untuk para Staff kalian bisa keatas. Cakka menunggu kalian disana ada yang ingin dibicarakan”teriak Alvin dengan nada tenang. Semua para staff pun menunda pekerjaan mereka dan seera berhamburan menaiki tangga.

Sivia menatap binggung keadaan sekitarnya yang sudah sangat sepi. Kini hanya ada dirinya yang duduk tak jelas di sofa dan Alvin yang sedang memainkan laptopnya. Melihat hasil pekerjaanya. Sivia meremas-remas tangannya sendiri. Tak suka dengan situasi seperti ini. rasanya pekerjaan ini sangat tidak nyaman baginya.

“Deadline kita dimajukan menjadi 1 bulan”ujar Alvin mengambil kameranya dan berjalan ke arah tempat duduk Sivia tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera tersebut. Sivia mengernyitkan keningnya, ia memilih untuk tetap diam menunggu Alvin meneruskan ucapannya.

“Jadi mau tak mau kita harus menyelesaikannya dengan cepat. “

“Dan kita harus tinggal disini selama beberapa hari untuk menyingkat pekerjaan kita agar lebih cepat”lanjut Alvin memperjelas ucapannya. Sivia menghelakan nafas beratnya. Tentu saja bukan masalah dia harus lembur akan pekerjaan ini. toh itu sudah biasa ia lakukan saat dia singapore. Bahkan ia juga pernah selama 3 bulan non stop terus menjalani pemotretan di beberapa negara dan mengharuskannya tidur di mobil selama itu. Namun pada situasi saat ini, yang ia permasalahkan adalah “subjek” dengan siapa ia bekerja.

“Apakah tidak apa-apa?”ujar Alvin pelan sedikit canggung untuk pertanyaan kali ini, kedua matanya perlahan memberanikan menatap ke arah Sivia yang hanya diam saja menatap kedepan. Detik berikutnya Sivia berdiri dari tempat duduknya dan mengambil ponselnya.

“Aku akan memberitahukan ke manajerku dan anakku”ujar Sivia dengan cepat. Kedua kakinya segera ia langkahkan untuk keluar dari studio.

“Vi .. “panggil Alvin dengan nada serak. Sivia memberhentikkan langkahnya saat itu juga namun tak bernai untuk membalikkan badanya.

Alvin menghelakan nafas beratnya, mencoba merangkai kata-kata yang pas didalam otaknya. Namun sepertinya sensor-sensor sel nya tidak mau terhubung antara satu sama lain pad situasi saat ini. Alvin menghelakan nafasnya sekali lagi. Menatap punggung Sivia yang berwarna kulit susu. Dimana gaun yang dipakai Sivia saat ini hanya tertutup pada bagian depan dan bagian belakangnya terbuka sampai setengah punggungnya. Menampakkan kulit putih susunya yang begitu cerah sekali.

“An .. . Anak itu . . an . . . an . . .”

“Aku harus cepat-cepat menelfon Iqbal”potong Sivia dengan nada dingin dan dibuat setenang mungkin. Alvin mendesah berat dan hanya bisa melihat kepergian Sivia begitu saja.
*****

Shilla mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Ia terus berputar-putar kota jakarta . Jujur, ia merindukan kota ini. Namun tanpa disadari gadis ini, mobilnya menyusuri jalanan setapak di sebuah perumahan sederhana.
Dan tak butuh waktu lama, mobil Shilla berhenti di sebuah rumah berwarna cokelat tua. Tangan Shilla sedikit gemetar saat melihat rumah tersebut. Jari-jarinya ia cengkramkan kuat-kuat pada stir mobilnya. Pandangan Shilla mulai kabur, dan sedetik kemudian bendungan air mata yang ia tahan kini akhirnya lepas membentuk aliran sungai kecil.

“Pa ampun Pa. Ampun. . Shilla beneran kerja kelompok Pa,. Ampun. Maafin Shilla pa. Shilla gak bohong . . “

“Kamu fikir saya akan percaya dengan anak sok polos seperti kamu ?Hah ?? !!!! “

“Sini ikut papa. Biar papa kasih pelajaran !!! Biar kamu tidak berbohong lagi !!”

“PAA SAKIT !! AMPUN PAA !!!”

“KAMU TIDUR DILUAR !!!! JANGAN HARAP KAMU DAPAT MAKAN HARI INI !!!! “

“DASAR ANAK TAK TAU DIRI !!!”

Semua bayangan menyedihkan itu kembali datang menusuk dada, hati dan otak Shilla. Cengkraman jari-jarin pada stirnya lebih mengerat. Shilla mulai terisak hebat. Bahkan tangannya yang memegang erat stir mobil tersebut semakin gemetar sendiri tanpa henti.

“PAA SAKIT !! AMPUN PAA !!!”

“PAA SAKIT !! AMPUN PAA !!!”

“PAA SAKIT !! AMPUN PAA !!!”

“Tidak . .Tidak. . .Tidak … . dia sangat jahat. Sangat jahat. Tidakk . . “dengan tangan gemetarnya, Shilla segera menyalakan mobilnya. Namun tangannya terasa lemah untuk memutar kunci mobilnya.

“Ayoo nyalaa ! Ayooo”isak Shilla ketakutan. Bahkan kunci yang ia pegang pun ikut bergetar.

Buuukkkkkk

Kunci mobil Shilla terjatuh begitu saja di bawah. Shilla semakin seperti orang binggung. Ketakutan semakin menghantuinya. Dan kejadian 7 tahun yang lalu berputar kembali di otaknya. Kejadian yang benar-benar harusnya ia hapus dari ingatannya dan tak pernah ia ingat lagi.

“DASAR GADIS BODOH TIDAK BERGUNA!!!

“Dia meninggalkan kamu demi gadis itu setelah selama ini kamu menyimpan rasa sama dia dan percaya sama dia . Hahahahahahhaha. Sungguh malang sekali nasib kamu Shilla. Shilla hahahahaha”

“TIDAAAAKKKKK!!!! TIIIDAAAAKKKKK !!!! AKU HARUSSS PERGIII !!!! TIIDAAAKKK”Shilla menutup kedua telingannya rapat-rapat . tangisannya semakin membeludar didalam mobil. Keadaan gadis ini kembali sangat terpuruk.

“MATI LOE !!! MATI LOE !!!”

“ LOE SEHARUSNYA MATI!!!”

“LOE PANTAS MATI BRENGSEK!! LOE PANTAS MATI”

“TIIDAAAKKKKK!!!!!! “semua memorinya terus berputar bagaikan sebuah film dokumenter yang tidak bisa untuk dihentikkan dan akan terus-terus dan perutar. Memori itu membuat kepala Shilla terasa pecah dan sakit sekali. Shilla semakin menutup rapat telingannya dan sedikit mencengkram kepalanya yang begitu sakit.

“Aku .. Aku . membunuh dia . .. Aku . . . Aku pembunuh . .. Aku . . Aku .. .pembunuh .. . “

“Shi .. lla . .. pem .. . bunuh . . . . .”

“TIDAAKKK!! SHILLA BUKAN PEMBUNUUHH!!! AKU BUKAAN PEMBUNUUUHHH!!!! “

“AAARGHSS!!!! AKU BUKAN PEMBUUNUHHH!!!!”

DOOKKK DOOKKK DOOOKKK

Shilla memukul-mukulkan kepalanya berulang-ulang ke stir mobilnya. Berharap rasa sakit di kepalanya cepat hilang dan memory itu tidak berputar kembali. Namun semua itu sepertinya percuma. Shilla semakin terasa tersiksa. Nafasnya mulai melemah.

“Tolonggg . .. Kak dayat . . . Toloongg Shilla . . Toloonnngg . . .”tangis Shilla yang sudah tak tahan disini. Namun jujur saja dalam situasi seperti ini Shilla sangat binggung harus berbuat apa. rasa sakit dikepalanya begitu menggangu dirinnya.

“TOLOOOLONGGG!!! SHILLA MOHON TOLONNNGG SHILLAA!!!! “Shilla mencoba untuk berteriak. Walau tenagannya semakin terkuras. Tangan Shilla sudah hampir seluruhnya basah. Mobilnya terasa panas baginya saat ini. Bahkan wajah Shilla pun sudah tak dapat tergambarkan lagi bagaimana berantakannya.

“Tolong shi . . lla . . .”lirih gadis ini melemah. Kepalanya sudah mencapai puncak tegang seolah akan meledak saat ini.

“Shi . . lla. . . bu .. kan . . pem . . .bun . .uh . . . “

“To . . .lo , , ,ng , , , ,”

TOOKKK TOOOKKK TOOOOKK

Suara ketokan pintu jendela mobil membuat Shilla perlahan menolehkan wajahnya ke arah jendela mobilnya. Shilla tak bisa melihat jelas orang diluar sana yang sedang berteriak-teriak memanggil namanya.

“SHIL!! SHILLLA!!!! “

“SHIILL !! KAMU GAK APA-APA KAN ??”

“SHILLA!!!”

“to . . lo . . . ng. . . shi. . lla. . . “

Bruuukkkk

Akhirnya tubuh gadis ini pun rubuh. Kepala Shilla terbenam di stir mobilnya. Tubuhnya membungkuk ke depan. Rasanya lebih baik seperti saat ini daripada dirinnya harus bisa merasakan rasa sakit di kepalanya .

“SHIL BUKA PINTUNYA !!! “

“SHIL KAMU GAK APA-APA KAN ??”

“SHILLAAAAAA!!!! “

*****
Agni menemani Ify makan malam di apartemen. Tak ada pembicaraan diantara mereka untuk saat ini. Keadaan begitu dingin dan hening. Seperti keadaan biasanya ~ .

“Apakah kamu yakin akan meneruskan semua ini ?”tanya Agni tanpa menatap wajah Ify yang begitu dingin menurutnya. Bahkan lebih dingin darinya.

“Apa?”tanya Ify singkat. Jujur, ia mengerti apa yang dimaksud oleh Agni. Namun dirinnya hanya ingin mempersulit Agni akan pertanyaannya tersebut yang memang tidak ingin Ify jawab.

“Jangan berlagak bodoh!!”tukas Agni tajam;. Sebuah senyum simpul tapi mematikan ditunjukkan oleh Ify. Senyum yang dapat menimbulkan bulu kudu merinding bagi siapa yang melihatnya. Terkecuali Agni tentunya yang terbiasa melihat tingkah gadis di depannya ini.

“Dari awal aku sudah memtuskan untuk melakukan semua ini. jadi percuma jika aku berhenti saat ini. Sudah terlalu menyenangkan untuk melakukan hal ini”

“Menghabisi nyawa orang ???”sahut Agni tenang. Ify menggelengkan kepalanya membuat Agni mengernyitkan keningnya.

“Menghabisi nyawa mereka dan merebut apa yang dimiliki oleh mereka!!”jelas Ify dingin dan penuh kobaran di setiap kata yang ia ucapkan

“Mereka bukan semua orang jahat”

“I know”jawab Ify santai kembali ke sisi dinginnya.

“1 kali aku melakukannya begitu menyenangkan, 2 kali aku melakukannya sangat menyenangkan dan berkali-kali aku melakukannya sampai sekarang terasa begitu mengharukan . Cisshh . . “desis Ify dengan senyum remehnya. Agni mengangguk mengerti akan maksud dari gadis ini. Dimana Ify sudah memutuskan untuk berbuat seperti ini dan dirinya sudah terlanjut masuk kedunia “mencekamkan” ini. Dan mungkin bagi Ify tidak dapat untuk keluar dari dunia yang “mengharukan” yang sedang ia jalani sekarang .

“Lagi pula . . . “Ify terdiam sebentar. Menggantungkan ucapannya.

“Mereka semua pantas untuk mati . Pantas untuk menderita. Mereka bukan orang yang baik. Mereka ada beruang licik yang harus ditaklukan dengan satu tembakkan”lanjut Ify menatap kedepan begitu tajam.

“Pantas ayahmu begitu percaya kepada kamu. Ternyata sang anak lebih berbahaya dari anaknya”ujar Agni dengan nada setengah menyindir. Ify mendengus kesal mendengar ucapan Agni.

“Kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan ?”tanya Ify yang ingin tahu apa yang ada di fikiran Agni selama ini. Agni menggelengkan kepalannya ringan.

“Aku bukan tidak suka bukan juga aku suka . . “Ify mengatubkan sisi-sisi keningnya dan membentuk sebuah lipatan-lipatan tegak lurus.

“Aku hanya perlu mengawasimu tidak perlu mencari urusanmu dan ayahmu dan aku hanya butuh bayaran dari pekerjaanku. Itu saja lebih dari cukup”

“Oh ya ?”

“Hmm. .”dehem Agni yang memang menjawab dengan sangat jujur .

“Kamu bekerja untuk aku atau ayahku ?”tanya Ify lagi. Agni meminum air putihnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Ify. Cukup heran menurutnya kenapa majikannya ini banyak berbicara dan bertanya. Tidak seperti hari-hari biasanya.

“Aku bekerja untuk orang yang membayarku. “jawab Agni santai .

“Bagus “sahut Ify yang nampaknya puas dengan jawaban Agni.

Mereka berdua terdiam kembali. Agni membersihkan mulutnya dengan tissue sedangkan Ify mulai berdiri dari tempat duduknya. Hari ini sudah cukup melelahkan baginya.

“Apa yang akan kamu lakukan besok?”tanya Agni membuat langkah kaki gadis ini terhenti. Karena memang dalam minggu-minggu ini Ify sudah tidak ada pekerjaan lagi. Ia sudah menemui cliennya yang tak lain adalah cakka. Dan hanya tinggal menunggu 1 bulan lagi produk itu dikeluarkan.

“Aku akan pergi ke suatu tempat. Jadi jangan mengikutiku. Aku akan pergi sendiri”

“Apakah kamu yakin ??”tanya Agni sedikit ragu.

“Hmm”dehem Ify ringan lantas melanjutkan kembali langkahnya. Ia tak ingin Agni semakin mengintrogasinya. Agni mengangguk ringan, tanpa Ify menjelaskan pun ia sudah tau kemana gadis itu akan pergi. Agni tau semua tentang cerita pahit gadis cantik itu. Dan siapa saja orang-orang yang pernah berada dalam hidup gadis itu. termasuk. . ..”

“Maaf. Aku tidak mengatakkan siapa pemilik perusahaan Mahesa dan siapa Cakka itu sebenarnya. Siapa yang sedang kamu hadapi saat ini. Aku hanya tidak ingin itu menganggumu dan membuatmu rapuh lagi “

“Sudah cukup selama itu kamu menderita. Dan kamu tidak pantas untuk menderita lagi”ujar Agni sangat pelan lebih tepatnya pada bayangan Ify yang mulai menghilang dari pandagannya. Agni mengehala nafas beratnya. Pekerjaan ini begitu sangat memberatkannya lebih dari pekerjaan yang lainnya.

“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan Lee Dae Sajagnim ( Direktur Lee Dae)??”batin Agni yang memang mengetahui semuanya. Agni pun memilih beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke pintu apartemen. Ada yang ingin ia lakukan saat ini

*****

Shilla perlahan membuka matanya, Kepalanya terasa sedikit sakit namun tidak separah tadi. Mungkin sudah hampir 2 jam lebih gadis ini tidak sadarkan diri. Shilla menghirup aroma yang begitu familiar baginya. Aroma ini . . . .

Shilla mengedarkan pandangannya ke segala ruangan. Benar saja dengan apa yang ia duga. Dimana tempat dirinnya berada saat ini, jelas sekali ia mengenalnya bahkan belum terlupakan di otaknya sendiri.

“kamu sudah sadar ??”ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam kamar ini dengan membawa sepiring sop hangat lantas meletakkan di meja kecil samping Shilla berbaring.

“kamu ?? … “kaget Shilla dan mencoba untuk mendudukan tubuhnya meskipun rasanya masih begitu berat namun Shilla memaksakan tubuhnya sendiri. Kamar ini adalah kamar yang 7 tahun lalu ia sering tempati. Kamar yang begitu nyaman baginya saat dulu. Yah dulu sekali. Dan sekarang terasa begitu menyakitkan baginya berada disini .

“Jangan bangun dulu. Kam . ..”

“Aku harus pulang . Kak dayat pasti khwatir “

“Dayat masih di luar kota . Kamu ja . ..”

“Aku mau pulaang!!! “tajam Shilla menatap pria itu penuh kebencian. Siapa lagi jika bukan Gabriel.

“Kamu mengikutiku ??”tanya Shilla masih dalam posisi yang tadi. Gabriel nampak binggung menjawab pertanyaan gadis ini. Toh, memang benar sedari gadis ini keluar dari rumahnya Gabriel terus mengikutinya. Hidup Gabriel seolah menjadi tak teruju dan berantakkan. Yang ia inginkan hanya terus melihat gadis ini. Tanpa melewatkan sedetik pun apa yang sedang dilakukan gadis ini. “Ahh jadi begini rasa sakitnya”itulah kalimat yang sering diucapkan oleh Gabriel saat menatap wajah Shilla. ia merasa mendapatkan sebuah karma dari apa yang pernah ia lakukan.

“Cisshh. . Sudah aku bilang jangan pernah menganggu hidupku lagi. Belum cukup apa yang kamu lakukan dulu!!”lanjut Shilla dengan terang-terangan karena kesabarannya sudah cukup habis akan pria didepannya ini. Ucapan Shilla yang seperti itu semakin membuat gabriel tak bisa membuka suarannya sedikit pun. Rasa bersalahnya semakin besar dan besar sekali.

“Mana kunci mobilku aku ingin pulang”Shilla mulai berdiri dari kasur. Ia merapikan bajunya yang sedikit berantakkan.

“Mo . ..mo . . mobil . .kamu . . dibengkel”jawab gabriel memberanikan diri. Shilla menatap gabriel kaget ditambah binggung

3 jam yang lalu . . .

“SHIL BUKA PINTUNYA !!! “

“SHIL KAMU GAK APA-APA KAN ??”

“SHILLAAAAAA!!!! “gabriel melihat tubuh Shilla yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Dan membuatnya bertambah menjadi binggung dan cemas. Tangan kirinya terus mengetuk kaca jendela meneriaki nama Shilla tiada hentinya. Dan tangan kananya mencoba membuka pintu mobil namun percuma saja. Mobil Shilla terkunci dari dalam.

“Bagaimana ini ?”Gabriel melihat ke arah sekitarnya. Ia tidak menemukan apapun. Tempat ini begitu sepi sekali.

“Tidak ada pilihan lain “Gabriel berlari ke mobilnya yang ia taruh tidak terlalu jauh dari mobil Shilla berada. Gabriel mengambil sebuah dongkrak dan membawanya kembali ke mobil Shilla.

Kini Gabriel telah berdiri dibelakang mobil Shilla. Mata Gabriel menatap tajam kaca mobil di depannya ini. Kedua tangannya sudah siap memegang dongkrak tersebut. Dan dalam hitungan ketiga dengan sekuat tenaga Gabriel menghantamkan dongkrak tersebut ke kaca mobil Shilla.

PYAAAARRRRR

Kaca tersebut pecah berhamburan kemana-mana. Namun Gabriel tak memfikirkan kaca tersebut. Ia langsung mencoba melpaskan sisa-sisa kaca yang masih menempel di belakang mobil itu. Setelah memastikan bahwa tubuhnya cukup untuk masuk kedalam. Gabriel segera menaiki bagian belakang mobil Shilla yang sudah tak berbentuk itu dan masuk kedalam.

“Ahhh . .. “tangan Gabriel tak sengaja tergores pinggiran kaca yang masih menancap. Darah segar keluar dari tangan kanan Gabriel. Namun gabriel tak memperdulikannya. Ia tetap berusaha masuk kedalam.

Dengan susah payahnya masuk, akhirnya pria ini berhasil. Gabriel segera ke tempat duduk depan.

“Shiil. .. Shilla . .. “panggil gabriel menegakkan tubuh Shilla dan dapat melihat jelas bahwa gadis ini sudah tak sadarkan diri. Gabriel memeriksa suhu tubu Shilla sebentar setelah itu memeriksa denyut nadi Shilla.

“Masih hidup”ujar Gabriel sedikit legah. Ia sampai berfikir bahwa gadis ini sedang sekarat dan sangat kesakitan. Karena Gabriel tadi dapat melihat jelas bagaimana Shilla berteriak-teriak tak karuan dan wajahnya terlihat sangat kesakitan sekali.

Gabriel mencari kunci mobil Shilla yang terjatuh di bawah. Setelah menemukannya dengan cepat gabriel membuka pintu mobil Shilla dan mengeluarkan gadis ini dari mobil tersebut.

Gabriel membopong tubuh Shilla kedalam mobilnya. Gabriel memilih untuk membawa Shilla kerumahnya. Ia takut Shilla kenapa-kenapa

****
Shilla menghelakan nafasnya, matanya menagarahkan ke arah bawah dan ia mendapati tangan gabriel yang dibalut oleh perban dan terdapat bercak merah segar di perban tersebut. Gabriel menyadari akan arah pandangan gadis ini.

“Ahh. Ini aku habis dicakar oleh kucing kemarin “ujar Gabriel tak masuk akal dan segera membunyikan tangan kanannya kebelakang. Gabriel sedikit merutuki alasanya yang sudah jelas sekali kebohongannya .

Shilla mencengkram kedua tangannya. Memegangi erat celana pendeknya. Menahan dirinnya untuk melakukan tindakan bodoh. Jujur saja, ingin rasanya Shilla menyentuh tangan itu. Lidahnya ia gigitkan pada giginya sendiri. Mencoba menahan dan menahan semuanya. Sejenak rasa tak tega menyerang dirinnya. Apakah ia terlalu baik . . .

“Aku akan mengantarkanmu pulang setelah ini. “ujar Gabriel menyairkan kecanggungan diantara mereka saat ini. lamunan Shilla terbuyarkan denga cepat pandangannya ia alihkan ke sisi mana pun.

“Kamu bisa memakan sup itu dulu. Agar kamu lebih te . . “

“Apakah aku bileh tidur disini ?”

“Heh??”kaget Gabriel benar-benar syok mendengar pertanyaan Shilla. Gabriel menatap tepat di kedua mata gadis ini. Dan ia dapat melihat sorot mata Shilla yang tenang dan polos. Bukan tatapan yang menakutkan dan penuh kebencian.

“Lagian aku ingin menunggu sampai mobilku selesai.Aku akan pulang sendiri dengan mobilku. “

“Ahh .. iya iya boleh. Sangat boleh malah”ujar Gabriel dengan cepat. Semburat senyum kegembiraan terpampang diwajah pria ini. Bagi gabriel ini adalah hal yang begitu membahagiakan dihidupnya selama beberapa tahun ini.

“Anggap saja seperti rumah kamu sendiri. Kamu sudah hafal kan dengan rum . . . “

“Aku akan mandi”potong Shilla dengan cepat dan segera berjalan meninggalkan gabriel disana. Shilla berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah cepat. Ia sama sekali tidak ingin mendengarkan lanjutan dari ucapan gabriel.

Gabriel menatap kepergian Shilla dengan begitu bahagia. Dengan cepat Gabriel keluar kamar Shilla dan memilih keluar rumah untuk memilih makanan kesukaan Shilla. Gabriel tak ingin membuang-buang kesempatan ini.

*****
Shilla termenung sebentar, berdiri membelakangi pintu kamar mandi. Mencoba melonggarkan nafasnya yang terasa tercekat.

“Apa yang sudah aku lakukan ?? Shilla apa kamu bodoh ??”ujar Shilla pelan tepatnya ke dirinnya sendiri.

“tapi rasanya lebih sangat sakit saat melihat tangan itu . .”

“Shil . . kamu harus melupakannya. Kamu harus melupakan masa lalu kamu!! Jangan menyakiti dirimu lagi. Sudah cukup kamu dibuat sakit oleh dia “

“sadar shilla “

“Sadaaarr!!!! “

****
Hari semakin malam, jam dinding studio ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa lelah mulai tergambar jelas diwajah para staff atau crewe-crew. Bahkan Alvin pun tak jarang marah-marah tak jelas karane beberapa kesalahan dari beberapa staff.

Alvin menatap Sivia yang sedang menyeka keringat. Dan entah sudah berapa kali Sivia menghelakan nafas beratnya. Alvin dapat melihat bawah gadis itu mulai lelah. Sedari sore tadi Sivia terus berdiri dan tidak duduk sama sekali.

“break 15 menit “ujar Alvin memberikan aba-aba. Suara kelegaan terdengar oleh semua orang yang berada di studio tersebut. Alvin juga dapat melihat Sivia yang menghembuskan nafas kelegaanya.

Alvin berjalan menghampiri Cakka dan Rio yang sedari tadi sudah menunggu dirinya. Mata Cakka dan Rio sama – sama tertuju ke arah Sivia yang memilih untuk duduk di sofa yang sedikit jauh dari mereka bertiga. Alvin mengikuti arah tatapan kedua pria ini.

“Gak pernah lihat model kecapean ya mas??”sindir Alvin dan membuat kedua pria ini segera tersadar dan memandang ke arah lain. Alvin mendesis sinis. Dan segera mengambil duduk di samping Cakka.

‘Untuk hari ini selesai dulu bagaimana ??”tanya Alvin sambil meletakkan kamerannya di meja depan sampingnya. Cakka dan Rio sama-sama mengernyitkan kening binggung.

“kenapa ?”tanya Rio yang memang sangat penasaran . tidak biasanya Alvin menmberhentikkan pekerjaan yang sudah jelas belum selesa. Bukan type Alvin sekali.

“Noh . . “ujar Alvin sambil menunjukkan dagunya ke arah seorang gadis yang sedang memukul-mukul lengannya sendiri dan betisnya sendiri. Wajahnya pun nampak menunjuk kelelehan.

“Sivia??”tebak Rio dan dapat anggukan jelas dari Alvin. Belum sempat Alvin membuka mulutnya kembali untuk menyahuti ucapan Rio. Cakka tiba-tiba berdiri sambil membawa air minum yang ia ambil dari meja di depannya . Alvin dan Rio hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria ini.

Cakka berjalan ke arah Sivia tentunya. Tanpa ada beban yang berat di otaknya. Cakka terus berjalan mencoba untuk tetap tenang. Mencoba menetralisikan detakan jantungnya yang mulai berdegub kencang. Sivia sepertinya tak menyadari kedatangan Cakka.

“Nih minum”ujar Cakka sambil menyodorkan botol minuman di depan Sivia. Gadis ini mendongakkan kepalanya dan ekspresi wajahnya terlihat sangat kaget. Sivia masih saja diam merasa ragu untuk menerima minuman tersebut atau tidak.

“Ambil “ujar Cakka datar dan tenang. Mendengar ucapan Cakka yang terdengar bagi Sivia seperti perintah membuat gadis ini menerimannya. Sivia menundukkan wajahnya lagi tak berani melihat Cakka. Sivia merasa begitu buruk sekali untuk bisa berhadapan lagi di hadapan Cakka.

“itu untuk di minum. Bukan di pegang”ujar Cakka lagi. Sivia mengangguk pelan dan perlahan membuka air minunya. Dan sedikit meminum botol air minum tersebut dengan tidak nafsu.

“Ganti bajumu sekarang. Aku tunggu di luar. “

“heh??”binggung Sivia dengan ucapan Cakka. Merasa gemas dengan gadis ini. Cakka langsung menarik lengan kanan Sivia membuat gadis ini langsung berdiri.

Mata Alvin membulat sempurna. Kedua kakinya langsung ia tegakkan membuat posisinya berdiri saat ini. Cakka dengan wajah tenang memegang lengan Sivia dan mau tak mau Sivia mengikuti pria di depannya itu dengan wajah yang ebnar-benar binggung tak tau harus apa.

“pemotretan break 1 jam “teriak Cakka dengan suara lantang dan masih tetap meneruskan jalannya dengan masih menarik lengan Sivia.

Alvin menahan nafas panasnya. Otaknya terasa tak dapat berfikir saat ini. Kedua tangannya ia cengkramkan kuat-kuat. Ia masih menatap kepergian Cakka dan Sivia dengan tatapan tajam. Sampai terdengar suara mobil Cakka pergi dari parkiran studio.

“Pemotretan selesai. Kalian semua boleh pulang sekarang!! ”teriak Alvin dingin dan menakutkan. Alvin segeramengambil kamera, kunci mobilnya dan tasnya. Ia memilih untuk beranjak keluar. Pergi dari studio. Otaknya sudah tak dapat ia buat untuk bekerja kembali.

Para staff masih diam binggung, namun juga sedikit senang karena dapat pulang akhirnya. Sedangkan Rio hanya mendengus lemas. Ia tau apa yang sedang terjadi pada Alvin.

“Cinta membuat orang gila. “

“This is war ?? . Kita lihat saja nanti “ujar Rio sok puitis.

Rio melirik jam tangannya. Menunjukkan pukul setengah 12 malam. Rio menyambar jas nya dan memilih ikut beranjak dari studio. Hari ini adalah jadwalnya ia harus ke suatu tempat seperti minggu-minggu biasanya.

“Lest Go . .”ujar Rio penuh dengan semangat.
****
Tak ada pembicaraan didalam mobil Cakka. Sivia memilih untuk diam begitu pun dengan Cakka memfokuskan mengendarai mobilnya. Sivia melihat ke arah jalanan yang masih begitu ramai. Fikiran Sivia seperti flashback saat dirinnya dahulu tinggal di kota ini. Semuanya sedikit terasa berbeda.

“Bagaimana kabarmu selama ini ??”tanya cakka memulai pembicaraan. Ia memilih untuk mencoba mengajak bicara Sivia. Toh, apa yang harus dia takutkan. Dia sama sekali tak ada masalah dengan gadis ini.

“Baik”jawab Sivia singkat. Ia binggung harus menjawab apa.

Cakka membelokkan mobilnya di suatu gang perumahan. Ia tak menjawab kembali pertanyaan Sivia. Sedangkan Sivia tak sebegitu memperhatikan jalanan. Ia cukup sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini.

Mobil Cakka berhenti di taman disamping sebuah sekolah. Sivia mengernyitkan keningnya merasa familiar sekali dengan taman tersebut. Baginya tidak ada yang berubah dengan taman itu. Terakhir ia menginjakkan kaki di taman tersebut adalah saat dirinnya masuk ke sekolah menengah pertama.

“Ayo turun “ajak Cakka yang memilih turun duluan. Sivia sebenarnya begitu enggan keluar.namun melihat lampu remang-remang di taman tersebut. Ayunan, dan pohon-pohon hijau yang rindang membuatnya begitu tenang sekali. Akhirnya Sivia memutuskan untuk keluar dari mobil Cakka.

Sivia perlahan berjalan menghampiri Cakka yang sudah duduk di sebuah ayunan. Sivia sedikit binggung apa yang harus ia lakukan saat ini. Di depan Cakka ia merasa begitu sangat bodoh.

“Duduk “suruh Cakka sambil menunjuk ke arah ayunan sebelahnya. Sivia mengangguk dan menuruti ucapan Cakka.

Selama beberapa menit hanya ada keheningan diantara mereka. Suara denyit ayunan dan binatang-binatang malam sajalah yang dapat terengar meramaikan malam tenang ini. Sivia menghembuskan nafasnya lagi. Ia sedikit merasa kedinginan karena baju belakangnya yang terbuka.

Cakka melirik ke arah Sivia dan mendapati baju Sivia yang seperti itu. Dengan cepat Cakka segera melepaskan jas yang ia pakai. Cakka berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke hadapan Sivia. Sivia menatap Cakka binggung. Namun sedetik kemudian kebingungan Sivia terjawab. Cakka dengan gentle memakaikan jasnya ke tubuh Sivia membuat pipi gadis ini sedikit memerah. Sivia hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap Cakka.

Setelah memakaikan jasnya ke tubuh Sivia, Cakka memilih kembali duduk di tempatnya semula. Mendongakkan kepalanya ke atas melihat bulan purnama yang begitu terang sekali hari ini.

“Kamu masih ingat dengan tempat ini ?”tanya Cakka membuka pembicaraan kembali.

“hmm”dehem Sivia singkat. Bagaimana ia tidak ingat akan tempat ini? Tempat yang menjadi sejarah dan tak akan terlupakan bagi dirinnya dan Cakka. Tempat dimana Cakka selalu mengajaknya bermain bersama. Tempat dirinya dan Cakka menghabiskan waktu sepulang sekolah sampai malam. Tempat yang begitu menyenangkan bagi Sivia saat masa kecilnya dulu bersama Cakka.

Cakka menghembuskan nafasnya sesaat lantas memejamkan matanya sebentar “ Tempatnya masih sama seperti dulu. Namun suasananya terasa sangat berbeda tidak seperti dulu”

Sivia mengigit bibirnya mendengar ucapan Cakka yang seolah sedang menyindir dirinnya. Cakka membuka matanya kembali dan menolehkan wajahnya ke Sivia “benarkan ??”lanjut Cakka seolah meminta persetujuan ke Sivia. Sivia tak ingin menjawab pertanyaan Cakka. Ia memilih segera berdiri.

“Kita harus kembali. Pemotretannya harus cepat diselesaikan. Agar aku bisa pulang”ujar Sivia cepat dan seidkit dingin. Sivia melangkahkan kakinya sedikit cepat untuk menuju ke mobil Cakka.

“Bahkan jika saat itu kamu tidak pergi dengan keadaan seperti itu , Aku tetap akan berada di sisimu”

DEEGGG

Langkah Sivia terhenti begitu saja. Seluruh tubuhnya terasa berdiri semua. Dan entah menagap saat mendengar kalimat tersebut dadanya terasa sakit. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan kini datang kembali.

Cakka berdiri dari tempat duduknya. Ia memasukkan kedu tangannya kedalam sakunya. Mencoba berfikir tenang tanpa emosi. Ia tidak ingin menyakiti hati gadis ini. Namun di lain sisi ingin sekali ia meluapkan segala emosinya selama 7 tahun ini. segala emosi yang ia pendam karena gadis ini.

“Apakah kamu fikir dengan kamu pergi seperti itu semua masalah selesai ??”Cakka mulai membuka pembicaraan kembali. Langkahnya perlahan mendekati Sivia yang masih mematung membelakanginya.

“Dengan siapa kamu pergi ? Kemana kamu pergi ? Apakah kamu tidak terluka sedikit pun ? Apa yang terjadi dengan kamu setelah itu ? Tidak taukah kamu betapa aku mencemaskanmu ? ?”kini Cakka berhenti tepat di belakang Sivia. Cakka dapat melihat pundah gadis ini sedikit bergetar.

“Aku sangat-sangat mencemaskanmu Sivia”lanjut Cakka. Sivia menundukkan kepalanya. Menahan agar dirinnya tidak menangis bahkan terisak. Sudah cukup ia menjadi seorang yang penyedih seorang gadis yang sangat cenggeng dulu. Ia tak mau itu terjadi lagi.

“Saat malam itu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah yakin itu adalah waktu yang tepat. Dan aku sudah begitu percaya dengan apa yang aku rencanakan. “

“Saat malam itu aku ingin mengatakkan perasaanku ke kamu. Tapi . . .. “

“Semuanya tidak terjadi. Semua rencanaku hancur begitu saja. Dan sebaliknya malam itu aku mendapatkan pengakuan yang luar biasa dan membuatku syok sampai rasanya tak bisa bernafas”

“Cukupp!! Aku mohon kak Cukupp!!!”teriak batin Sivia. Gadis ini menahan nafasnya kuat-kuat. Pertahanannya sudah runtuh sedari tadi. Yah, Sivia saat ini menangis dalam diam. Ia membiarkan saja air matanya terus mengalir.

“ Bertahun-tahun aku terus mencarimu kemanapun tanpa satu petunjuk sama sekali. Apakah kamu tidak tau begitu lelahnya aku mencarimu ?? Apakah kamu tidak pernah berfikir bagaimana perasaanku saat kamu mencampakkanku begitu saja Vi ??”

Sivia mengigit bibirnya sendiri sekuat-kuatnya. Isakannya mulai ingin keluar dari mulutnya. Air matanya semakin deras. Kedua matanya terasa begitu panas sekali. Tangan kanan Sivia memegang dadanya. Menekan-nekan dadanya sendiri yang terasa begitu sakit dan sangat menyakitkan menyakitkan.

“Kamu orang terjahat yang pernah aku temui !!! “

DEEEGGG

Kedua kaki Sivia terasa lemas sekali saat mendengar ucapan terakhir Cakka. Ingin sekali saat ini dirinnya merubuhkan tubuhnya sendiri ke tanah. Namun Sivia mencoba menahan tubuhnya sendiri. Mencoba menahan rasa sakitnya. Menahan isakannya yang ingin meledak. Menahan rasa bersalahnya. Menahan semuanya. Yah, Semuanya.

“Ahh . . sepertinya aku sedikit ngelantur malam ini hehehe”cengir Cakka begitu saja. Tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi ke sosok Cakka yang kembali tenang. Seolah Cakka sudah puas meluapkan perasaanya selama ini.

“Ayo kita kembali ke studio”ujar Cakka santai dan berjalan begitu saja melewati Sivia yang tak bisa menggerakkan kakinya sedikit pun saat ini.

“Ma . . . af “kini giliran langkah Cakka yang terhenti. Suara serak Sivia dan gemetar Sivia terdengar di kedua telinga Cakka. Cakka membuang nafas beratnya. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dengan wajah yang ia buat seolah ia tidak apa-apa . Cakka menyunggingkan senyumnya.

“Maaf ? siapa yang sedang kamu mintai Maaf ?? . Lupakanlah . Aku tadi hanya ngelan. . . “

“Yah, aku memang orang jahat yang mencampakanmu. Aku memang orang yang tidak pantas mendapatkan maaf dari siapapun.”Sivia mencoba memberhentikkan tangisannya. Ia memberanikan mendongakkan wajahnya menatap Cakka. Dan saat itu Cakka benar-benar kaget melihat mata Sivia yang memerah. Dan make-up Sivia yang sudah berantakkan akibat air mata gadis ini.

“Bahkan saat ini rasanya berdiri di depan kakak tidaklah pantas aku lakukan “Cakka tercenggang. Inilah untuk pertama kalinya Sivia kembali memaggilnya “Kakak” . Sivia mengusap bekas air mata di pipinya. Gadis ini menunjukkan senyum mirisnya.

“Apakah aku masih pantas mendapatkan kebaikan kakak saat keadaanku sudah sangat hina ? Apakah aku masih pantas untuk mendapatkan ungkapan perasaan kakak saat keadaanku sangat sangat hina sekali ?”

“Apakah aku pantas dapat cinta dari kakak saat tubuhku sudah terjamah oleh pria lain !”Sivia menatap Cakka dengan tajam. terbesit penyesalan Cakka meluapkan emosinya tadi. Seharusnya ia sadar bahwa dibandingkan dirinya. Ada seorang gadis yang menanggung beban penderitaan yang lebih besar darinya. Dan orang itu adalah Sivia.

“Vi . .. Via . . cukup. . Ak . . Aku . . tidak . ber . .. “

“Apakah aku pantas mengatakkan “Aku Ingin sekali kamu terus di sisiku Kak” Saat di dalam rahimku terdapat janin haram yang tidak aku harapkan!!”

“VI CUKUP!!”tegas Cakka. Namun sepertinya Sivia tidak mengindahkan ucapan Cakka. Kedua pelupuk mata gadis ini mulai berkaca-kaca kembali dan siap menurunkan bendungan air sungai yang kapan saja akan terjatuh dengan sendirinya.

“DAN APAKAH AKU PANTAS UNTUK MENGATAKKAN “BAHWA AKU MENCINTAI KAKAK !!! ” SAAT AKU SUDAH TIDAK LAGI PERAW . . . “

Mulut Sivia langsung dibungkam oleh Cakka. Sivia membelakakan matanya dengan yang dilakukan oleh Cakka. Dimana Cakka langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sivia. Hangat itulah yang Sivia rasakan. Seluruh bulu kuduknya merinding sendiri. Detakan jantung Sivia langsung berdegub begitu kencang sekali.

Kali ini Cakka tidak sekedar menempelkan bibirnya begitu saja, perlahan Cakka memainkan bibirnya dan seolah menuntut agar Sivia juga membalas ciumannya. Dan sepertinya Sivia terbawa akan ciuman Cakka yang begitu lembut sekali. Sivia perlahan memejamkan kedua matanya dan mulai membalas ciuman lembut Cakka. Kedua tangan Cakka pelan-pelan ia kalungkan pada pinggang Sivia.

Sivia membuka matanya kembali. Ia merasa tidak sepantasnya ia melakukan ini. ini semua tidak benar!!. Ini semua tidak boleh terjadi. Ia sudah melupakan semua masa lalunya. Perlahan Sivia melepaskan bibirnya dari bibir Cakka. Terdapat raut kekecewaan dan rasa ingin tau Cakka kenapa Sivia melepaskan ciumannya.

“Kita harus kembali ke studio”ujar Sivia. Tangannya perlahan menurunkan tangan Cakka dari pinggangnya. Cakka masih tak mendengarkan ucapan Sivia. Cakka menatap Sivia tepat di mata gadis ini. Namun Sivia mencoba mengalihkan ucapanannya.

“Apakah kamu masih mencintaiku ?”tanya Cakka dengan wajah yang sangat dan sangat serius sekali. Sivia terbungkam. Tak tau harus berkata apa saat ini. Sivia meneguk ludahnya dalam-dalam. Sedangkan Cakka masih menunggu dirinya untuk menjawab pertanyaanya.

“Ak . . .Ak . . . . Ak . . Aku . . … “

Bersambung . . . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s