REVIL – 17 “ Shock? Or Spechless? “

Part Seventeen of Revenge of Devil  >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .

PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

 

 

REVIL – 17

Shock? Or Spechless?

 

 

“Apakah kamu masih mencintaiku ?”

 

 

“Ak . . .Ak . . . . Ak . . Aku . . … “Cakka menatap Sivia dengan penuh kecemasan. Sivia terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Cakka.

 

 

“Ma . . Maaf . . kita harus kembali ke studio”ujar Sivia dengan cepat dan tak beraturan. Ia sama sekali tak berani untuk menatap Cakka. Sivia perlahan berjalan ke depan menjauhi Cakka yang masih saja diam.

 

 

“APA KAMU MASIH MENCINTAIKU ??”langkah Sivia untuk ke sekian kalinya terhenti. Teriakan Cakka membuat tubuhnya menegang begitu saja.

 

 

“Aku akan ke studio naik taxi. Terima kasih untuk malam ini”ujar Sivia mencoba setenang mungkin. Sivia melanjutkan kembali langkah kakinya. Ia melambaikan tangannya ke arah sebuah taxi yang sedari tadi memang berhenti di depan sebuah toko tak jauh dari taman tersebut.

 

 

            Sivia memilih langsung naik taxi itu dan meninggalkan Cakka begitu saja yang masih berdiri diposisinya semula. Sivia sama sekali tak berani menatap ke arah Cakka saat ini. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong dan fikiran kemana-mana. Hari yang begitu sangat melelahkan dan menyulitkannya.

*****

Rumah Gabriel

 

 

            Shilla keluar dari kamarnya, ia berjalan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara apapun. Namun langkah Shilla terhenti saat melihat seorang pria yang berada di ruang tengah sedang mengobati lukanya dan mengganti perban ditangannya. Yah, Siapa lagi jika bukan Gabriel. Shilla terus menatap Gabriel dari tempatnya berdiri.

 

            Gabriel berulang kali meringis dengan suara yang kecil. Ia menahan ringisannya agar tidak terdengan oleh Shilla. Gabriel mensterilkan lukanya dengan mengguyur infuse di tangannya. Dan masih banyak darah ditangannya yang keluar.

 

 

“Eh …”kaget Gabriel saat tiba-tiba ada yang menarik lengan kirinya. Dimana Shilla tiba-tiba menghampirinya dan langsung menarik lengan kirinya dan juga duduk disampingnya. Shilla tak mengucapkan sekata apapun. Bahkan gadis ini pun tak menatap Gabriel yang masih terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shilla.

 

            Shilla membersihkan darah-darah bercampur dengan infuse yang masih tersisa di tangan kiri Gabriel. Shilla dengan sabar mengobati luka pria di depannya ini.. Sedangkan Gabriel  tak memalingkan sama sekali tatapannya dari Shilla.

 

            Shilla mengambil perban baru di atas meja. Setelah mengoleskan obat di lengan kiri Gabriel. Ia perlahan membalutkan perban itu di tangan kiri Gabriel untuk menutupi lukanya. Saat pada bulatan yang terakhir Shilla memberhentikkan aktivitasnya. Ia melihat tangan kananya saat ini di genggam erat oleh pria di depannya ini.

 

            Hening,  sepi, itulah yang tergambar jelas di rumah ini. Kedua orang ini sama-sama tak melakukan apapun. Tatapan Shilla tertuju ke tangannya dan tangan Gabriel. Sedangkan tatapan Gabriel menuju ke arah Shilla.

 

 

“Kenapa  kamu melakukan ini?”tanya Gabriel dengan suara khas dinginnya.

 

 

“Bukankah kamu sangat membenciku ?”lanjut Gabriel sedikit memberi penekanan pada kata “sangat” yang ia ucapkan.

 

 

“Terima kasih “Shilla menghelakan nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

 

 

“Hanya sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkan nyawaku”lanjutnya dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gabriel.

 

 

“Hanya itu ??”pancing gabriel. Senyum sinis perlahan terlihat dari bibir Shilla. Ia perlahan mendongakkan wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap Gabriel.

 

 

“Apakah kamu mengharapkan lebih ? “

 

 

“sayangnya hanya itu”lanjut Shilla begitu dingin.

 

 

“Semua yang ada pada diri mu memang berubah. Tapi 1 hal yang tidak bisa berubah dari diri seorang Shilla adalah saat ia berbohong.  Tangamu sangat dingin jika kamu berbohong”seketika itu Shilla langsung menarik tangannya dengan paksa.

 

 

“Awww . . “ringis Gabriel merasa sedikit kesakitan pada tangannya saat Shilla dengan paksa menarik tangannya dari genggamannya. Wajah Shilla langsung terlihat berubah dan tertuju ke arah luka di tangan gabriel.

 

 

“Da . . .rah .. “lirih Shilla terkejut dan sedikit takut saat tangan Gabriel mengeluarkan darah kembali. Dan kali ini sedikit banyak.

 

            Gabriel segera membuka kembali perban di tangannya. Ia dengan cepat membersihkan lukanya kembali. Setelah itu menbalutnya lagi dengan perban baru dalam hitungan tak sampai 1 menit Luka tersebut sudah tertutupi dengan rapi. Gabriel menghelakan nafas legahnya. Kemudian ia kembali menatap Shilla.

            Gabriel sedikit terkejut dengan tatapan Shilla yang seperti “tegang” melihat kearah tangan kirinya itu. Gabriel tersenyum ringan dan sedikit memainkan telapak ttangan kirinya yang luka.

 

 

“Lukanya tidak parah. Dan tidak juga sakit. “

 

 

“Tenang saja. Luka ini tidak ada apa-apanya bukan dengan luka dan rasa sakit yang kamu rasakan selama ini ??”ucapan Gabriel tersebut seketika merubah ekspresi Shilla dari ekspresi tegang menjadi ekspresi yang sangat dingin.

 

 

“Meskipun darah ditanganku habis tentu masih belum bisa membayar semua penderita . …”Shilla langsung berdiri tanpa berkata apapun. Ia berjalan untuk kembali ke dalam kamarnya. Tak ingin mendengarkan lanjutan dari ucapan gabriel. Sebisa mungkin Shilla mempercepat langkah kakiknya.

 

 

“Kenapa ?? Apakah kamu masih mencemaskanku ?”

 

 

“Apakah kamu tidak ingat bagaimana brengseknya aku menyakitimu seperti itu ?”

 

 

            Shilla memberhentikkan langkah kakinya. Ia merasa semua tubuhnya gemetar sendiri. Kedua tangannya ia cengkramkan kuat-kuat. Keringan dingin keluar di kulit tubuhnya. Bahkan pengelihatan nya  mulai sedikit memburam.

 

 

“Memang pantas kamu tidak memaafkanku. Jadi aku tidak akan mengharapkan suatu yang  begitu tidak pantas untuk aku dapatkan. “

 

 

“Terima kasih karena kamu pernah mencintaiku dan menyukaiku begitu tulus. Terima kasih pernah menghawatirkanku dan mencemaskan hidupku, Terima kasih sudah pernah merawatku. Terima kasih sudah membrikan semua kepercayaanmu kepadaku . Terima kasih sudah pernah memberikan semua hatimu untukku. Terima kasih untuk semuanya . “Gabriel menundukkan wajahnya . Ia merasa begitu berdosa kepada gadis ini. Merasa sangat bersalah kepada Shilla. Sangat dan beribu sangat.

 

 

            Air mata Shilla sudah jatuh begitu saja entah sejak kapan. Shilla  menahan semua rasa sakit di dadaya dan juga semua emosi yang mengumpul diotak dan hatinya . Ingin sekali ia meluapkan semua rasa emosinya tersebut .

 

 

“Terima kasih ??”suara isakan Shilla membuat Gabriel perlahan mendongakkan wajahnya kembali. Ia menatap Shilla yang masih membelakanginya.

 

 

“Tidak perlu berterima kasih Kak Gabriel. “lanjut Shilla penuh penekanan di setiap katanya apalagi saat ia menyebutkan nama Gabriel. Shilla menahan nafasnya berulang-ulang agar air matanya tidak akan jatuh kembali.

 

 

Karena semua yang aku lakukan dulu adalah sebuah kesalahan.” Shilla menatap ke atas sebentar mencoba mencari udara yang segar didalam rumah yang menurutnya begitu panas ini. Shilla tertawa sedikit. Yah, menertawakan hidupnya yang begitu memiriskan bahkan lebih memiriskan dari kisah pemeran utama perempuan di drama-drama korea yang ia lihat di televisi.

 

 

“Kesalahan besar yang dilakukan oleh gadis lugu yang hanya tau bahwa ia mencintai seorang pria dengan begitu tulus. Dan pria itu membalasnya dengan memberikan sebuah harapan palsu yang sangat menyakitkan.”

 

 

“Sangat menyakitkan sekali sampai masih terasa sampai sekarang rasa sakit itu”

 

 

DEEEGGGG

 

 

             Semua ucapan Shilla bagaikan pisau tajam yang mengoyak dada Gabriel. Rasanya benar-benar tajam sekali di dada Gabriel. Ia berulang kali menelan ludahnya dan bulu-bulu ditangannya terus merinding. Ia belum terbiasa dengan kehadiran Shilla yang begitu dingin seperti ini.

 

 

“Berhentilah berdiri terus di depan pintuku, Karena sampai kapanpun aku tidak membiarkan pintu itu terbuka kembali untukmu.“Shilla lantas melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar. Ia meninggalkan Gabriel yang masih mematung beku di sana. Gabriel hanya menatap ke bawah dengan tatapan kosong. Mulutnya secara langsung seperti terkunci begitu rapat.  Kata-kata Shilla benar-benar lebih tajam dari pedang yang baru saja keluar dari sarung tempatnya.

 

*****

 

Keesokan Hari

 

           

Rio membenahkan kaca mata hitamnya. Ia mengambil sebuket bunga mawar putih di samping kursi mobilnya. Setelah itu dengan senyum yang begitu cerah pria ini melangkahkan kakinya kedalam sebuah pemakaman elite di salah satu daerah di Jakarta.

 

Rio berhenti tepat di sebuah makam yang terlihat begitu sangat bersih. Rio terdiam binggung melihat makam dihadapannya ini. Bukan hanya binggung, mungkin pria ini ju heran.

 

“Siapa yang membersihkan makam ini ??”Tanya Rio lebih tepatnya ke didirinya sendiri. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Dan sepi, tak ada siapapun itulah yang bias Rio temukan.

 

 

“Bunga mawar putih ?”sekali lagi Rio juga dibuat kaget dngan adanya bunga mawar putih di atas makam ini. Bunga mawar yang sama dengan yang ada ditangan kanan Rio saat ini. Rio mengernyitkan keningnya.

 

 

“Selama 7 tahun tidak ada seorang pun yang membersihkan makam ini bahkan meninggalkan bunga mawar putih disini. Apa jangan-jangan dokter Andi ?”Rio pun menggelengkan kepalanya tak ingin begitu memfikirkan dengan apa yang terjadi di hadapannya saat ini. Rio segera menaruh bunga mawar putih yang ia bawah di sebelah bunga mawar putih yang sudah ada dari tadi disana.

 

 

“Om bagaimana kabarnya ? apakah anda baik-baik saja disana ?”Rio menundukkan kepalanya dengan wajah yang begitu bersalah.

 

 

“Maaf om, Rio belum bias menemukan putri om, Tapi Rio tidak akan berhenti untuk mencarinya. Rio janji akan membalas semua kesalahan Rio dan akan membahagiakan anak om. Maafkan Rio Om “Rio kemudian berdoa sejenak dengan menutup matanya. Setelah itu pria ini beranjak pergi dari makam tersebut. Makam yang ia kunjungi setiap sebulan sekali, Makam yang ia rawat seperti suatu yang paling berharga di hidupnya. Yah, itu adalah makam dari ayah Alyssa.

 

****

 

            Ify turun dari taxi dengan sedikit ragu. Matanya menatap rumah putih di hadapanny saat ini. Ify mengigit bibirny sedikit, Wajahnya menunjukkan seolah kerinduan yang begitu berat akan rumah yang ada di hadapannya saat ini.

 

 

            Ify mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, Ify mengluarkan sebuah gantungan kunci boneka kecil yang terdapat dua kunci menggantung disana. Ify memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut.

 

            Ify terdiam melihat halaman rumah itu yang sangat bersih dan tenang.

 

 

“Tidak ada yang berubah”lirih gadis ini. Tangannya perlahan membuka gembok pagar rumah ini dengan kunci yang ia bawah.  Sampai akhirnya gerbang tersebut terbuka. Ify lantas melangkahkan kakinya pelahan-lahan ke dalam rumah ini. Hatinya begitu merasa nyaman dan tenang. Bahkan air matanya rasanya akan terjatuh jika ia tidak cepat-cepat menahan emosinya sendiri.

 

 

“Ah. .. 7 tahun aku meninggalkan rumah ini “Ify tersenyum sedikit miris, yah, begitu banyak kenangan dirinya dengan rumah ini. Rumah yang ia tempati dulu saat ia masih ada didalam kandungan ibunya sampai saat dia memilih meninggalkan rumah ini untuk selamannya.

 

            Ify  membuka pintu rumah ini. Ify sedikit kaget karena pintunya sama sekali tidak terkunci.

 

 

“Apa dokter Andi lupa menguncinya ? “

 

 

“Entahlah  . .”Ify tak mau ambil pusing dan segera masuk kedalam rumah tersebut. Dan seperti 7 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah di rumah ini. Bau pewangi ruangan, tatanan di semua tempatnya sama sekali tak ada yang berubah. Rumah ini pun masih terlihat bersih seperti dulu saat ia tinggal disini.

 

            Mata Ify tertuju ke arah sebuah kamar yang bertuliskan “Alyssa Room”. Ify dengan ragu ingin membuka kamar tersebut. Ia tak hentinya menghembuskan nafas beratnya beberapa kali. Ify memejamkan matanya kuat-kuat, Dengan tangan yang mulai gemetar perlahan gadis ini memberanikan diri membuka kamar tersebut.

 

            Ify langsung disambut dengan bau parfum yang sangat ia kenal. Bau parfum yang selalu ia pakai sejak dulu bahkan sampai sekarang. Mata Ify mulai membuka sedikit-demi sedikit.

 

 

“Ha . . . .”kaget Ify langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seluruh tubuhnya benar-benar bergetar saat ini.

 

            Memang tidak ada yang berubah dirumah ini, Hal sekecil pun sama sekali tak ada yang berubah. Hanya satu yang berubah. Yaitu kamar Alyssa. Ify sangat ingat bagaimana terakhir ia meninggalkan kamarnya. Dimana kamarnya hanya sebuah kamar anak SMA yang sangat sederhana.

 

 

“Cish . . .”desis Ify dengan wajah sedikit mengerikan. Ia menatap tajam sebuah foto berukuran 30R dengan figura yang begitu cantik. Dimana didalam foto tersebut terdapat foto dirinya 7 tahun yang lalu dan disebelahnya terdapat seorang pria yang sungguh tidak ingin ia ingat sama sekali.

 

 

“Apakah dia tidur disini ?”Ify menyiniskan ucapannya sendiri. Ia sudah mengontrol semua rasa gemetarnya. Perlahan ia masuk kedalam kamar tersebut. Ia menemukkan sebuah laptop di meja belajar dan beberapa tumpukkan berkas. Dan sebuah handuk tergantung di sebelah kamar mandi.

 

 

            Ify terus melangkahkan kakinya kea rah meja belajar. Matanya menatap ke sebuah foto kecil di dekat laptop. Foto yang benar-benar tentu sangat ia ingat dan setidakny sudah berusaha ia lupakan.

 

 

“Apakah kamu tidak ingat bagaimana caramu menjualku ?”ucap Ify sinis kea rah foto tersebut.

 

 

“Ahhhsss . .. Alyssa begitu cantiknya kamu tersenyum di foto ini. Dan bagaimana bias kamu dengan hati yang begitu tulus  mau untuk di peluk oleh pria jahat ini !!!”lanjut Ify begitu tajam ke arah foto tersebut. Ify tersenyum sinis sesaat. Matanya mengarah ke tempat sampah kecil disamping kakinya.

 

 

“Kasihan sekali kamu Alyssa . .. “

 

 

 

BUUKKKK

 

 

            Ify begitu saja membuang foto tersebut ke tempat sampah, Seolah tak ingin melihat foto itu lagi. Begitu menjijikan mungkin menurutnya.

 

 

            Ify  kembali melangkah untuk merasakan kembali bagaimana nyamannya kasur yang telah ia tinggalkan 7 tahun lamannya. Namun langkahnya langsung terhenti saat ia mendengar suara derap langkah seseorang yang seperti terburu-buru.

 

 

“Siapa kamu ?? !!”suara keras tersebut langsung menancap jelas di gendang telinga Ify. Ify menghembuskan nafasnya sejenak. Ia begitu sangat kenal dengan suara ini walaupun sudah 7 tahun lamanya ia tidak mendengarkan suara tersebut.  Posisi Ify saat ini adalah membelakangi pintu kamar ini sehingga orang tersebut tidak dapat melihat bagaimana wajah Ify saat ini.

 

 

“Apakah ada larangan pemilik kamar tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya sendiri “perlahan Ify membalikkan badanya bersamaan dengan ucapannya membuat orang tersebut langsung membelakakan matanya. Matanya benar-benar membulat sempurna. Kakinya sempat mundur beberapa langkah karena begitu shock dan kaget dirinya saat ini dengan apa yang ada didepannya saat ini.

 

 

“A . .. Al . . Alys . . sa  . . .  .. Alyssa . . “ujar pria tersebut dengan suara terbata-bata. Ia memeriksa matanya berulang-ulang apakah ia tidak salah lihat. Sedangkan gadis yang dihadapannya hanya menatapnya dengan tatapan datar dan begitu tenang sekali.

 

 

“Apakah ini sambutanmu ketika melihat gadis yang pernah kamu jual 7 tahun yang lalu?”ujar Ify membuka mulut kembali dan tentu saja membuat pria yang tak lain adalah Rio itu langsung membeku seolah tersengat udara yang begitu dingin.

 

 

“Ahh  . .  aku lupa memberitahukan bahwa Alyssa sudah lama meninggal. Dan sekarang yang ada dihadapan kamu adalah Ify bukan Alyssa. “ujar Ify penuh penekanan dan sangat tajam sekali setiap ucapan yang ia keluarkan. Rio mencoba menyadarkan dirinya dari kebekuan yang ia rasakan. Ia mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Ify,

 

 

“Maksud kamu ?”Tanya Rio benar-benar tak mengerti. Mendengar pertanyaan Rio , Ify langsung tersenyum sangat sinis kearah pria ini.

 

 

“Apakah setelah menjual gadis dengan 100 juta membuatmu semakin bodoh ?”tatapan Ify seolah ingin sekali merobek wajah Rio yang begitu menjijikan baginya. Ify perlahan berjalan kearah pintu. Lebih tepatnya untuk keluar secepatnya dari rumah ini. Ify berjalan dengan tenang melewati Rio yang masih mematung dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan juga dengan semua ucapan tajamnya.

 

 

“Al . ..Al . .mmmm .. . dari mana saja kamu selama ini ??”Tanya Rio memberanikan diri membuat ify memberhentikkan langkahnya.

 

 

“Aku ? “Ify menatap kedepan dengan tatapan sangat mengerikkan.

 

 

“Aku hanya jalan-jalan sebentar di neraka untuk melihat apakah tempat itu sudah untuk dihuni pria brengsek seperti kamu”jawab Ify begitu enteng dan sekali lagi membuat Rio menelan ludahnya begitu dalam. Ia sama sekali tak menyangka bahwa gadis ini akan dating tiba-tiba seperti ini. Dan tak pernah membayangkan bahwa gadis yang 7 tahun lalu ia kencani dan ia campakkan begitu saja sudah begitu sangat berubah 360 derajat. Alyssa yang ia temui saat ini begitu menakutkan sekali.

 

 

“Ma . . . Maaf , . . “entah setan dari mana membuat Rio mengucapkan kata sakral itu. Dan membuat Ify langsung tertawa begitu sinis sekali. Dan mengerikkan tentunya untuk di dengar.

 

 

“Coba ulangi ?”suruh Ify sambil membalikkan badanya menatap Rio dengan kedua matanya yang sudah mengobarkan api yang tak akan bias ia padamkan.

 

 

“Ma . . af . . “dan dengan begitu saja Rio mengulangi lagi ucapannya. Ia pun perlahan menghadapkan tubuhnya kea rah Ify yang sudah menatapnya seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.

 

 

“Cishh. . .”desis Ify singkat lantas tertawa sebentar. Entah apa yang gadis ini tertawakan saat ini.

 

 

“Mmmm. . . Kamu takut ? santai aja kali . wajah loe jangan negang kayak gitu. Santai aja”ujar Ify tiba-tiba namun masih dengan wajah sinisnya seperti tadi.

 

 

“Tenang aja. Aku gak marah  dengan apa yang kamu lakukan 7 tahun yang lalu. Tapi aku akan membalasnya dengan lebih kejam dari yang kamu perkirakan . jadi bersiaplah . . .”tajam Ify .

 

“Ma . . Ma . .. ‘

 

 

“Ahhh , , aku tau. Kamu perlu cerita lengkap kan ? biar tidak binggung dan penasaran. Baiklah karena aku adalah gadis yang baik hati dan tidak sombong aku akan menceritakannya. “Ify melirik kea rah samping terdapat sebuah kursi kayu yang dulunya ia selalu gunakan untuk membantunya mengganti lampu rumah atau pun membersihkan dinding bagian atas rumahnya yang kotor.  Ify menarik kursi tersebut

dengan kaki kirinya untuk lebih dekat dengan tubuhnya dan setelah itu langsung ia duduki.

 

            Ify tidak peduli bagaimana wajah Rio saat ini yang sudah lebih tegang dari tadi. Rio hanya menatapnya dengan tatapan yang sangat bersalah dan ketakutan tentunya. Ify melipatkan kakinya untuk menunjukkan ke angguannya ia duduk.

 

 

“Jadi begini ceritanya. Ada seorang gadis namanya Alyssa pasti kamu kenal kan ?”

 

 

“Gadis itu sangat mencintai pria yang bernama  . .. Siapa nama loe ? Sorry gue lupa!!!”

 

 

“Ahh gue seumpamain aja si brengsek !!”ujar Ify dengan penuh kemenangan. Ia menatap Rio tajam tepat dikedua mata pria itu.

 

 

“Gue ulang lagi ya. Alyssa sangat mencintai si Brengsek sampai ia mau melakukan apapun demi Si Brengsek itu !!! Lalu suatu hari si Brengsek menjual gadis bernama Alyssa itu seharga 100 juta . Waahhh keren banget sumpah !!! “Ify menyinis kembali.

 

 

“Dan untungnya ada seorang pria yang sangat baik hati kepada Alyssa dan mau membeli Alyssa seharga 100 juta.  Hiduplah bahagia Alyssa dengan pria itu kemudian pergi dari Negara ini memperbaiki hidupnya mengganti namanya menjadi Ify . mencoba melupakan semua rasa sakit hatinya meskipun ia tak bias melupakannya sampai sekarang dan merencakan suatu hal yang besar untuk membalas si brengsek yang pernah menjualnya ! “

 

 

“Dan ceritanya bersambung.  . . . Karena gue belum tau bagaimana gadis ini akan mengakhiri ending dari ceritanya. “

 

 

“Apakah kamu mau membantunya mengakhiri cerita dramatisnya itu Brengsek ??”Ify berdiri dari tempat kursinya berdiri tanpa mengalihkan tatapan tajamnya sedetikpun dari Rio .

 

 

“Jangan sekali pun mengucapkan kata maaf kepadaku. Karena sampai kamu bersujud bahkan memberikan jantungmu dihadapanku , Aku tidak akan pernah memaafkanmu !!! “Ify lantas membalikkan badanya dan meneruskan kembali langkahnya yang tertunda untuk keluar dari rumah ini. Ify menarik nafas beratnya berulang-ulang. Jujur saja ia sendiri sama seperti Rio. Terkejut . Shock . kaget , Takut tentunya. Namun sebisa mungkin gadis ini berusaha untuk tenang dan menghadapi semuanya. Ia sendiri tidak tau apa yang barus aja ia lakukan.

 

 

“Kenapa harus bertemu denganmu lagi brengsek . . “lirih Ify sambil dengan cepat menghapus air matanya yang entah sejak kapan jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya . Ify langsung mencegah taxi yang lewat dan menaikinya. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari rumah itu.

 

            Selama dalam perjalanan Ify menguatkan tubuhnya agar tidak bergetar. Ia mencoba agar ia tidak menangis. Namun seberusaha apapun ia tidak bisa. Gadis ini menangis dengan rasa gemetar di tubuhnya.

 

 

“Ada apa dengan loe sih Fy !!! “teriak Ify didalam taxi. Ia tidak peduli supir taxi sudah menatapnya dari kaca depan.

 

 

“Sadar !!! sadaar!!! Jangan lemaahh!! Jangan nangis begoooo!!! AArghsssss !!! “teriak Ify frustasi. Ia mencengkram kuat-kuat rambutnya. Berusaha memberhentikkan air matanya yang sama sekali tidak singkron dengan keinginannya saat ini.

 

 

            Ify juga tidak mengerti kenapa saat ia bertemu dengan pria itu tadi dirinya begitu tegar dan sangat dingin. Dan saat ia sudah sendirian seperti ini, dirinya menjadi begitu sangat lemah. Dan tidak bisa mengatasi dirinya sendiri.

 

 

*****

 

            Sepeninggalan Ify, Tubuh Rio langsung ambruk. Pria ini langsung terduduk di lantai. Nafasnya memburu tak beraturan. Padahal tak ada yang ia lakukan sejak tadi. Ia hanya diam mematung dan mendengarkan apa yang dibicarakan gadis itu. Tapi semuanya terasa menusuk di setiap tubuhnya. Tajam sekali rasanya.

 

 

“Alyssa . . . “lirih Rio masih belum bisa menerima apa yang ia lihat barusan.

 

 

“Yah . .. itu Alyssa . . . “Rio merasakan kedua tangannya yang masih gemetar. Pria ini seperti habis melihat hantu wanita yang sangat menakutkan. Bahkan lebih menakutkan dari hantu apapun .

 

 

“Di . . dia . . . dia . . . . tentu membenciku . . . . hahahha . . . “

 

 

“Ify ?? “

 

 

            Rio tak bisa berfikir jernih saat ini. Bayang-bayang kejadian beberapa menit yang lalu terus saja berputar di otaknya. Semuanya serba mengejutkan dan sangat menakutkan sekali. Dan Rio baru saja ingat akan satu hal tentang pagi tadi.

 

 

“mawar putih  . . .”lirih Rio. Ia kini tau siapa yang dating dahulu di makam tadi pagi. Tentu saja itu adalah gadis itu. Gadis yang sudah mengganti namanya menjadi Ify. Dan gadis yang sudah berubah 360 derajat dari dirinya yang dahulu dan membuat seorang Rio membeku langsung dalam hitungan detik dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Ify.

 

*****

 

            Iqbal membuka-buka majalah yang ada di hadapannya. Hari ini adalah hari minggu dan ia memutuskan untuk menemani sang mama melakukan pemotretan. Memang membosankan tapi demi sang mama semua itu ia hilangkan.

 

 

“Selamat pagi semuaa . . . . “teriak seorang gadis yang tiba-tiba masuk kedalam studio. Semua mata tertuju kea rah gadis tersebut. Begitu juga dengan Iqbal,

 

 

“Gadis itu ??”lirih Iqbal yang merasa kenal dengan gadis tersebut.

 

 

“Ahhhh . . Gadis aneh dan tukang maksa dan sok tau “lanjut Iqbal dengan nada pelan sehingga mungkin hanya dirinya saja yang dapat mendengar ucapannya sendiri.

 

 

“Ngapain kamu kesini sha ? disini gak ada Cakka”ujar Alvin langsung kepada gadis yang baru dating itu yang tak lain adalah Salsha. Gadis itu langsung cemberut mendengar ucapan Alvin. Ia melangkahkan kaki mendekati Alvin.

 

 

“Dasar tukang bohong “gidik Salsha memandang tak enak kea rah Alvin.

 

 

“Sebaiknya loe pulang sebelum Rio datang kesini. Loe sangat ganggu kosentrasi gue ngerti !!”ujar Alvin lagi tak menggubris ucapan Salsha kepadanya. Dan membuat Salsha semakin jengkel kepada Alvin.

 

 

“Kak Alvin yang menjengkelkan , Maka dari itu Salsha berani kesini. Karena Kak Rio tidak ada dirumah. Dan jika kak Rio tidak dirumah pasti dia tidur di rumah kak Alyssa. Dan jika ia tidur dirumah kak Alyssa pasti dia berkunjung dulu ke makam ayah kak Alyss dan jika ia berkunjung dulu ke makam ayah kak Alyssa pasti kak Rio pulangnya lama dan mungkin tidak akan ke studio !!”ujar Salsha dari A sampai ke Z dengan nada penuh penekanan kepada Alvin. Alvin mendengus kesal .

 

 

“Loe mau pergi dari sini atau gue usir ?? Sudah gue bilang kan Cakka gak ada disini!!”

 

 

“Aisshhh. . . Iya iya Salsha pergi. Semoga aja kak Alvin cepat ketemu sama cewek namanya siapa ? Sivia sivia itu. Biar gak marah-marah terus !! “ujar Salsha kesal dan langsung keluar dari studio itu meninggalkan 2 orang yang kini terdiam mematung seribu bahasa akibat ucapan Salsha tadi.

 

 

            Alvin melirik kea rah Sivia yang diam dengan wajah sedikit menegang. Alvin tau pasti Sivia memfikirkan semua ucapan Salsha, Mulai dari yang dilakukan Rio dan sampai menyebut-nyebut nama Sivia.

 

 

“Kita lanjutkan lagi”ujar Alvin mencoba mencairkan suasana, Dan sepertinya Sivia sudah mulai mengontrol kesadarannya dan berusaha untuk konsen kembali.

 

            Sedangkan Iqbal yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan saja semuanya mulai berfikir dan sedikit binggung dengan ucapan Salsha yang menyangkut nama-nama mamanya.

 

 

“Apa hubungan mama dengan orang-orang ini sebenarnya ??”batin Iqbal mulai sangat penasaran. Dan ia sepertinya ingin menyelidiki semuanya. Karena dari awal Iqbal sudah merasa ada ketidak beresan dan ada suatu hal yang disembunyikan oleh mamanya kepadanya.

****

           

Shilla sudah keluar dari rumah Gabriel. Pagi-pagi tadi tanpa sepengetahuan Gabriel . Shilla keluar dari rumah pria itu dan segera pulang kerumah tanpa menunggu mobilnya selesai diperbaiki. Shilla memakam makananya di ruang makan. Fikirannya masih terbayang ucapannya tadi malam. Dan yang diucapkan Gabriel.

 

 

“Apa aku begitu jahat ??”

 

 

“Apa kak gabiel sakit ha . . . “

 

 

“Aisshhhh. Shilla sadar sadar !!! Kamu tidak perlu mencemaskan pria itu !! Fikirkan dirimu sendiri saat ini. Ayooo Shilla sadar!! Sadaarrr!!! Sadaaarrr!!! Pliss sadar Shilla !! “

 

 

 

“Jangan berbaik hati lagi. Cukup saat kamu disakiti dulu !! Sekarang kamu sudah punya kak dayat!! Jangan fikirkan siapapun lagi !!! “

 

*****

Lux-Art Studio

 

 

            Sivia memakan makan siangnya. Ia mendapat setengah jam istirahat sebelum pemotretan kembali dimulai. Sivia ditemani oleh Iqbal yang hanya diam sedari tadi tanpa mengajak Sivia berbincang sedikit pun.

 

 

“Bal . . .”pangil Sivia dan membuat Iqbal langsung kaget.

 

 

“Iya ma ?”Tanya Iqbal binggung.

 

 

“Kamu sakit ?”Tanya Sivia balik yang sedikit cemas dengan anaknya.

 

 

“Hah? Enggak kok ma. Emang Iqbal pucat ? atau gimana ??”

 

 

“enggak gitu. Kamu sedari tadi diam aja. Gak kayak biasanya yang cerewet “

 

 

“Ahhh. Iqbal gak apa-apa kok ma. Iqbal hanya sedikit pusing sih . . . ‘

 

 

“Pusing ? Apa perlu mama antarkan ke dokter ??”cemas Sivia mulai berlebihan.

 

 

“APaan sih ma, Alay tau gak. Iqbal gak apa-apa. Iqbal Cuma pingin istirahat sebentar aja. Iqbal pulang dulu gak apa-apa kan ?”

 

 

“Yaudah kamu pulang dulu saja sana. Kamu jangan tungguin mama. Nanti biar manajer Ryu yang jemput mama “

 

 

“Oke Ma. Iqbal pulang dulu ya ma “pamit Iqbal kepada Sivia setelah itu meninggalkan Sivia sendirian disana yang masih sedikit heran dengan sang anak yang tidak seperti biasanya.

 

 

            Tak berapa lama kemudian seorang crew wanita menghampiri Sivia sambil membawa sebuah map berwarna hijau .

 

 

“Via . sebentar lagi kita lanjutkan pemotretan tapi gak disini.  Pemoteratanya kita lakukan di pantai. Dan butuh 3 jam untuk ke tempat itu. Jadi kamu siap-siap ya. Maaf baru memberitahukan sekarang. Karena kita juga baru saja menemukan ide ini . “Sivia yang awalnya juga kaget mau tak mau hatus menjetuinnya.

 

 

“Iya mbak. Saya akan siap-siap makasih sudah memberitahukannya “balas Sivia dengan sopan. Crew wanita tersebut lantas berlalu dari hadapan Sivia. Sivia menghelakan nafas beratnya. Pekerjaanya memang begitu melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi. Jika ia tidak bekerja bagaimana ia bisa menghidupi dirinya dan sang anak.

 

            Sivia pun tak mau ambil pusing dan segera siap-siap untuk pemotretan selanjutnya.

 

****

 

            Ify memasuki rumah dengan kondisi yang sudah kembali seperti semula. Ia masuk dengan tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mendapati Agni yang sedang asik mengecek beberapa berkas di ruang tamu.

 

 

“Nona sudah pulang ?”Tanya agni basa-basi tentunya. Ify mengangguk ringan.

 

 

‘Apa sesuatu telah yang terjadi ?”Tanya Agni yang sepertinya dapat menangkap keanehan dari majikannya ini

 

 

“Sial . . “batin Ify yang selalu gagal menyembunyikan apapun dari Agni.

 

 

“Tidak ada. Aku hanya kecapean saja. Aku akan masuk ke kamar dan tidur. Jangan  ganggu aku sampai aku keluar dari kamar”ujar Ify dengan cepat dan segera memilih beranjak dari hadpaan Agni sebelum ia diintrogasi oleh Agni.

 

            Agni tersenyum sedikit melihat tingkah Ify yang aneh menurutnya. Dan tentu saja Agni yakin pasti telah terjadi seuatu kepada gadis itu. Namun Agni tidak berhak mencampuri urusan pribadi majikannya tersebut. Tugasnya hanyalah menjaga gadis itu jika dalam bahaya dan membantu gadis itu dalam pekerjaanya. Bukan mengusik urusan pribadi majikannya.

 

 

****

            Sivia menyelesaikan pemotretannya hari ini dengan cepat dari perkiraanya. Ia akui bahwa Alvin adalah fotgrafi propesional dan sangat berbakat. Sivia pun sudah mengganti pakaiannya dengan baju casual. Sivia hanya tinggal menunggu jemputan dari manajernya.

 

“Ada yang ingin aku bicarakan .. .”suara tersebut tiba-tiba mengangetkan Sivia. Ia melihat kea rah sumber suara yang tak lain adalah Alvin.

 

 

“bicara saja “balas Sivia ringan dan kembali menatap ke depan. Alvin pun duduk dikursi kosong sebelah Sivia.

 

 

“mmmm . mmm. … itu . . . mmmm. . . .”

 

 

“Kalau kamu ingin membicarakan masa lalu lebih baik jangan dibicarakan. Karena aku sudah melupakannya dan tak akan mengungkitnya lagi”ujar Sivia dengan cepat dan tetap tenang tentunya. Ucapan Sivia membuat Alvin terdiam  begitu saja. Toh, sebenarnya memang itu yang akan ia bicarakan kepada Sivia.

 

 

“Tapi aku ingin mengungkitnya “ujar Alvin mencoba untuk  tenang. Dirinya tentu harus sudah terbiasa jika berbincang dengan Sivia. Sivia menghelakan nafas beratnya sebentar.

 

 

“Aku lapar . Apakah kamu tau restoran enak disekitar sini ?”Alvin menyunggingkan senyumnya. Ia merasa dewi fortuna sedang ada dipihaknya saat ini. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

 

 

“Aku tau. Aku akan mentraktirmu sepuasnya “ujar Alvin begitu sangat senang. Sivia mengangguk saja. Jujur, ia juga ingin menyelesaikan semuannya saat ini. Ia tidak ingin ada yang menganggu hidupnya lagi . Ia ingin hidup tanpa beban dan bekerja dengan nyaman.

******

 

 

            Alvin mengajak Sivia ke sebuah restoran tak jauh dari tempat mereka pemotretan tadi. Restoran ini pun cukup sederhana dan terasa nyaman sekali. Pemandangannya tepat kearah pantai. Alvin membiarkan Sivia untuk makan terlebih dahulu sebelum membuka pembicaraan mereka.

 

 

“Aku sudah selesai makan . Sekarang apa yang ingin kamu bciarakan”ujar Sivia to the point setelah menghabiskan nasi goreng dan minumannya. Alvin mengangguk dan meminum jus.nya sebentar.

 

 

“Apa kamu masih membenciku ??”Tanya Alvin yang memang langsung ke intinya. Ia hanya mengikuti permainanan Sivia yang sepertinya ingin langsung kea rah inti dari pembicaraan,

 

 

“Tentu saja “jawab Sivia jujur. Alvin menghelakan nafasnya. Ia sudah tau apa jawaban yang akan ia dapat.

 

 

“Tidak bisakah kamu memaafkanku ?”

 

 

“Apakah perlu ?”

 

 

“Sangat perlu. Aku seperti orang gila selama 7 tahun ini “

 

 

“Kamu menyesal ?”

 

 

“Sangat. Dan aku menderita selama 7 tahun itu “

 

 

‘Apa kamu fikir aku tidak menderita ?”tantang Sivia . Kedua sosok ini benar-benar saling menatap begitu dalam. Alvin dengan tatapan penuh penyesalan sedangkan Sivia menunjukkan tatapan betapa marahnya dirinya ke pada Alvin dan menderitanya dirinya melebihi yang dirasakan oleh Alvin.

 

 

“Tentu aku tau. Kamu sangat menderita melebihi aku. Tapi kamu tidak memberikanku kesempatan untuk memabayar penderitaanmu itu . Kamu pergi begitu saja “

 

 

“Jika aku tidak pergi ? apa yang aku lakukan disini ? Mengumbar aib ?”pekik Sivia tajam .

 

 

“Tidak. Aku akan bertanggung jawab “

 

 

“Cisshh ? bertanggung jawab ? Sunguh ??”Tanya Sivia dengan ragu .

 

“Aku mulai menyukaimu sejak saat itu “

 

 

“Saat itu ? sejak kamu memperkosaku?”balas Sivia tajam membuat Alvin diam sejenak .

 

 

“setelahnya “jujur Alvin,

 

 

“Ahh. . kamu jatuh cinta setelah mengetahui tubuhku . . “ujar Sivia yang begitu tenang sekali membuat Alvin sedikit frustasi dan semakin sangat bersalah.

 

 

“tidak. Aku mencintai kamu setelah aku sadar bahwa aku melepaskan orang yang sudah aku sakiti seperti itu “

 

 

“Apakah kamu mencariku ?”

 

 

“Yah, Aku mencarimu. Kemana pun sudah aku cari. Bahkan menghampiri orang tuamu dan menceritakan semuanya kepada orang tuamu . “

 

 

“Hah? Loe gila ??”kaget Sivia yang tak pernah tau apa yang dilakukan oleh Alvin.

 

 

“Yah, Aku gila karenamu !! “balas Alvin tajam. Sivia mendengus kesal, dan ia baru tau sekarang kenapa orang tuanya sama sekali tak marah kepadanya. Ternyata karena Alvin sudah menceritakan semuanya duluan ke orang tuanya dari pada dirinya.

 

 

 

“Apa yang diucapkan orang tuaku ?”

 

 

“Aku disuruh untuk menikahimu “jawab Alvin enteng. .

 

 

“Loe gila ??”

 

 

“Sudah aku bilang berapa kali, Gue emang gila gara-gara loe !! “

 

 

“Lupakan! “

 

            Hening, terjadi diantara kedua orang ini. Mereka terdiam sebentar memfikirkan apalagi yang akan mereka berdua katakana setelah ini.

 

 

“Apa kamu tidak bisa memaafkanku ? memberiku kesempatan Vi ?”Tanya Alvin benar-benar berharap.

 

 

“Aku sudah melupakan semuanya, Tentu saja aku sudah memaafkan semuanya. Jadi jangan merasa bersalah lagi dan biarkan aku hidup nyaman bersama anakku. “

 

 

“Anakmu ? tidak kah anakku juga ?”timpal Alvin membuat Sivia menatapnya sedikit sinis.

 

 

“Dia bukan anakmu !!”

 

 

“Maksudmu ?”

 

 

“An . . an . . . . anak . . . .anak itu sudah meninggal “

 

 

“Hah ? Ma . . maksud . . kamu . . . ??”Tanya Alvin lagi yang memang sama sekali tidak mengerti.

 

 

 

“Aku mengalami keguguran saat usia kandunganku  8 bulan . Mungkin aku masih terlalu stress menerima kehamilan mudahku. “

 

 

“Maaf aku tidak bisa menjaga anakmu dengan baik”lirih Sivia sedikit tak yakin dengan apa yang ia ucapkan kali ini. Alvin masih terdiam, mencoba mencerna ucapan Sivia yang satu ini.

 

 

“Anakku ? tidak bisakah kamu menyebutkan bahwa itu anak kita ?”

 

 

“Iqbal bukan anakku. Iqbal adalah anak tanteku yang aku adobsi dan aku bersakan .”lanjut Sivia tak menghiraukan ucapan Alvin. Dan kini Alvin mengerti akan rasa penasarannya .

 

 

“Jadi jangan merasa bersalah lagi. Tidak ada tanggungan yang harus kamu lakukan kepadaku. Aku sudah hidup bahagia saat ini dengan anakku “

 

 

“Apa setidaknya aku tidak bisa membayar semua rasa sakitmu dulu Vi ?”pinta Alvin benar-benar memohon. Sivia menundukkan kepalanya yang semakin terasa berat.

 

 

“Aku tidak pernah menyukaimu “jawab Sivia kembali mendongakkan kepalanya menatap Alvin.

 

 

“Dan biarkan aku membuatmu menyukaiku mulai dari sekarang “Sivia tertawa pelan seperti menyiniskan ucapan Alvin barusan.

 

 

“Aku tidak bisa”

 

 

“Kenapa ?”

 

 

“Aku tidak ingin membuat pertengkaran saudara diantara kalian “

 

 

“Siapa aku dan Cakka ??”Sivia mengangguki pertanyaan Alvin. Alvin menatap Sivia mencari sebuah kejujuran.

 

 

“Apa kamu masih mencintai Cakka ?”Tanya Alvin tajam dan eolah menyodokkan Sivia. Dan jelas membuat Sivia kebingungan untuk menjawabnya.

 

 

 

“Kamu tidak perlu tau “

 

 

 

“Ahhh. . Jadi kamu masih mencintai Cakka . “simpul Alvin yang sudah mendapatkan jawaban jelas dari mata dan ucapan Sivia tadi. Alvin mulai berdiri dari tempat duduknya.

 

 

“Jangan beritahukan ke Cakka!!”ujar Sivia mencegah Alvin yang akan pergi meninggalkannya. Alvin menatap Sivia kembali.

 

 

“Kenapa ??”

 

 

“Aku tidak pantas untuk dia “

 

 

“Menikahlah denganku “pinta Alvin sekali lagi. Sivia mendongakkan kepalanya menatap Alvin dengan tatapan tak percaya.

 

 

 

“Aku tidak ada rasa apapun sama kamu “

 

 

“Aku tau. Tapi aku sangat cinta kamu Sivia “ujar Alvin begitu penuh penekanan.

 

 

“Begini saja. Kamu mau memberiku kesempatan untuk membuatmu bisa menyukaiku dan mencintaiku ?”pinta Alvin. Sivia Nampak berfikir sejenak.

 

 

 

“Baiklah . . Aku akan memberimu kesempatan itu. Tapi jika dalam satu bulan atau sampai pekerjaanku ini selesai aku masih tidak menyukaimu tolong jauhi aku dan biarkan aku hidup nyaman dengan anakku “

 

 

“Oke, dan jika kamu mencintaiku kamu harus menikah denganku “

 

 

“Pasti” jawab Sivia dengan sangat yakin dan tanpa keraguan. Alvin tersenyum begitu puas sekali dan tidak akan menyia-nyiakan sebuah kesempatan besar yang telah di buka Sivia untuknya. Kesempatan yang sangat ia nanti selama 7 tahun yang lalu.

 

 

“Semoga kamu tidak menyesali keputusanmu Sivia. .. “batin Sivia kedirinya sendiri.

 

 

 

Bersambung ,. , , , , , , , ,

 

 

 

Maaf banget kalau ngaret part ini. Dan tunggu part selanjutnya . Like nya kalau suka dan commentnya yaa😀. Dimohon sekali. Terima kasih yang sudah mau nungguin dan mau baca cerita ini.😀 . 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s