REVIL – 18 “Frozen “

Part Eighteen of Revenge of Devil  >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .

PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

 

 

REVIL – 18

Frozen

 

            Ify terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Seluruh wajahnya terbasahi oleh keringatnya sendiri. Bukan hanya seluruh wajahnya saja. Baju yang ia pakai pun seperti telah di guyur air. Ify mencoba mengontrol nafasnya yang tak beraturan. Ia mengalami mimpi buruk hari ini. Ify mengusap keringat yang ada di wajahnya.

 

“Aissh , , , “desis Ify sedikit kesal dengan dirinny sendiri. Ify melihat ke arah jam dinding yang memang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dengan malas Ify memilih untuk berjalan kea rah kamar mandi. Meskipun ia tidak tau ia akan melakukan hal apa sehabis mandi. Karena pekerjaanya sekarang hanya tinggal menunggu peluncuran produk baru perusahaan Cakka setlah itu merebut semua saham Cakka dan menghancurkan perusahaan Cakka dan game over. Ify memenangkan permainan ini dan dia bisa pulang kembali ke korea. Namun sepertinya Ify belum menyadari bahwa permainan ini tidak semudah yang ia bayangkan.

 

****

            Shilla keluar dari kamarnya dan sedikit kaget mendapati dayat yang telah duduk manis di meja makan. Shilla menguncir rambutnya sambil berjalan mendekati dayat.

 

“Kakak udah pulang ? Kok gak bilang ke Shilla??”Tanya Shilla dengan nada sedikit kesal. Dayat tersenyum lembut kea rah Shilla. Tangannya menunjuk ke kursi di depannya . Shilla yang mengerti maksud dayat pun segera menduduki kursi yang di tunjuk dayat tersebut.

 

 

“Kakak Cuma pulang sebentar . Habis ini kakak harus ke Kalimantan. “

 

 

“Hah ?Kalimantan ??”kaget Shilla membelakakan matanya. Ia melihat dayat yang menunduk dengan eskpresi seolah telah terjadi apa-apa dengan pria di depannya ini.

 

 

“Tante yang telah merawatku sejak kecil sedang sakit berat disana. Dan dia menginginkan kehadiranku disana. Jadi mau tidak mau aku harus meninggalkanmu disini sendiri. Apa tidak apa-apa??”Tanya dayat sedikit cemas. Shilla terdiam sejenak.

 

 

“Enggak apa-apa kok kak. Shilla berani disini sendirian . Tenang saja”jawab Shilla mencoba tersenyum. Ia tidak ingin membebani dayat lagi. Walaupun pada kenyataanya Shilla sangat takut jika dayat meninggalkannya.

 

 

“Aku bisa berbulan-bulan disana . Apakah tidak apa-apa ?”

 

 

“Kenapa kakak tidak membawaku saja ?”Tanya Shilla mencoba mencari jalan tengah. Dayat menggelengkan kepalannya.

 

 

“Kamu tau kan keluargaku yang ada di Kalimantan sedikit tidak suka dengan aku karena aku mendapat begitu banyak warisan dari orang tuaku. Aku takut mereka akan berbuat macam-macam ke kamu. Dan aku tidak mau itu terjadi “ Shilla melengos ringan.

 

 

“Tapi tenang saja. Aku akan menyuruh Gabriel untuk menjaga kamu. Karena aku yakin dia pasti bisa bantu aku untuk jagain kamu”Shilla mendongakkan kepalanya menatap Dayat dengan ekspresi bukan kaget. Melainkan ekspresi yang tak dapat terbaca.

 

 

“Shilla gak mau”tolak Shilla dengan cepat. Dayat mengernyitkan keningnya.

 

 

“Kenapa ?? Gabriel bukan orang jahat. Aku sudah begitu dekat dengan Gabriel dan tau seluk beluk dia bagaimana. Dia orang yang sangat tanggung jawab. Dan disini hanya dia yang bisa aku percaya. Lagian dia juga pengacaraku .”Shilla menundukkan kepalannya dan sedikit tersenyum sinis.

 

 

“Kakak tidak tau apa-apa tentang dia  . . .”batin Shilla .

 

 

“Shilla bisa jaga diri shilla sendiri kok kak. Jadi kakak tidak perlu khawatir dan tidak perlu menyuruh pengacara kakak itu buat jaga Shilla”ujar Shilla mencoba mencari alasan agar tidak bertemu lagi dengan Gabriel. Dayat terlihat berfikir sejenak.

 

 

“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kakak atau Gabriel. Nanti kakak kirim nomer Gabriel ke kamu “

 

 

“Oke siap”jawab Shilla dengan mengembangkan senyumnya agar Dayat dapat percaya bahwa dia tidak apa-apa jika sendirian.

 

****

            Iqbal benar-benar penasaran dengan hubungan antara mamanya dan orang-orang kemarin. Ia hanya diam di dalam café ini sudah lebih dari 1 jam untuk mencari jawaban rasa penasarannya itu. Pintu café terbuka dan seorang pembeli masuk dengan sedikit terburu-buru. Iqbal menyipitkan matanya menatap pembeli yang baru masuk tersebut.

 

 

“gadis itu . .”ujar Iqbal dan langsung berjalan mendekati gadis itu yang duduk di kursi paling pojok.

 

 

“Permisi . . .”ujar Iqbal santai dan langsung duduk dihadapan gadis tersebut. Mata gadis itu nampak membulat sempurna.

 

 

“Loe siapa ? Maaf ya tempat ini sudah saya pesan dan pacar saya sebentar lagi akan datang “

 

 

“oh . . “jawab Iqbal santai dengan cerocosan gadis didepannya ini.

 

 

“Isshhh. He!! Loe budek ??loe siapa sih ?? disini banyak kursi kosong kan ? “emosi gadis tersebut.

 

 

“Gue akan pergi tapi dengan satu pertanyaan yang harus loe jawab”ujar Iqbal dengan nada sedikit mengancam. Gadis tersebut melengos dengan wajah semakin kesal.

 

 

“Hell!! Bodo amat”jawab gadis itu dengan nada tak pedulinya.

 

 

“Oke pertanyaanya. Apa hubungan loe dengan orang bernama Sivia dan apa hubungan Alvin dengan orang bernama Sivia ??”Tanya Iqbal tanpa mengindahkan penolakan dari gadis itu. Gadis itu malah menatap Iqbal dengan kesal.

 

 

“Gue gak kenal sama Sivia dan gue gak ada hubungan dengan orang bernama Alvin. Dan sebaiknya loe enyah dari hadadapan gue sebelum gue yang mengenyahkan loe dari dunia ini “

 

 

“Coba aja . . .”

 

 

“Loe !!!!”pekik gadis itu emosi sekali dengan kelakukan Iqbal yang menyebabkan.

 

 

“Oke gue akan jawab pertanyaan loe dan setelah itu loe harus pergi !! “

 

 

“thank you cantik “

 

 

“Hell . .”desis kesal gadis itu sekali lagi.

 

 

“Gue gak ada hubungan apa-apa dengan orang bernama Sivia. Setahu gue sivia adalah  adik kelas kakak gue dan Kak Alvin. Dan Kak Alvin sangat mencintai Sivia tapi Sivia hilang begitu saja enyah dari bumi. Dari cerita yang gue tau diam-diam kak Alvin hamilin Sivia . dan kak Alvin ingin bertanggung jawab ke  Sivia mangkannya dia sampai sekarang gak bisa move on dari Sivia. !! Puas !!”Iqbal hany bisa diam mendengar penjelasan gadis itu. Semuanya begitu kontras sekali dengan keadaan mamanya.

 

 

“Tapi pasti si cewek juga ganjen sampai bisa mau dihamilin kayak gitu. Isshh menjijikan . . “desis gadis itu pelan mungkin memberikan pendapat untuk dirinnya sendiri namun ucapan gadis itu terdengar jelas di kuping Iqbal membuat Iqbal menatap gadis itu tajam.

 

 

“Apa loe natap gue kayak gitu ?? udah pergi sana!!!”usir gadis tersebut tak suka dengan tatapan Iqbal.

 

 

“Salsha ??”seseorang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di belakang Iqbal. Baik salsha dan iqbal sama-sama kaget. Iqbal membalikkan badanya untuk melihat siapa orang tersebut.

 

 

“kak Cakka ?”kaget gadis itu yang tak lain adalah Salsha. Sedari tadi memang Salsha sedang menunggu Cakka. Karena atas kerja keras Salsha merajuk ke Cakka akhirnya pria itu mau makan siang dengannya.

 

 

“Pacar kamu ??”Tanya Cakka dengan tenang sambil menunjuk kearah Iqbal. Kelihatannya Cakka tidak begitu melihat lama-lama wajah Iqbal sehingga sedikit tak menyadari kehadiran Iqbal.

 

 

“Hah? Pacar ? bu . . .”

 

 

“Iya . Perkenalkan gue Iqbal pacarnya Salsha!!”ujar Iqbal penuh penekanan . Iqbal tiba-tiba  langsung dan mengulurkan tangannya ke Cakka. Salsha yang mendengar ucapan Iqbal hanya bisa membulatkan matanya Syok !!.

 

 

“Gue cakka. Temannya kakaknya salsha”balas Cakka yang sedikit kaget. Ia membalas jabatan tangan Iqbal.

 

 

“HEY!!! APA-APAAN  LOE GILAA!!!”teriak Salsha sangat emosi. Membuat semua orang yang ada di café tersebut menatap ketiga orang ini.

 

 

“Tunggu . . . . kamu . .. kamu .  . .anaknya Sivia kan?”Tanya Cakka yang mulai mengenali wajah Iqbal yang memang tak asing baginya. Iqbal mengguk dengan mantap. ‘

 

 

“Ihh Gilaa !! Loe gak usah ngaku-ngaku jadi pacar gue !! loe pergi dari sini gue gak kenal sama loe!! “ Salsha langsung berdiri dan mendorong Iqbal dengan kasar.

 

 

“Kak Cakka dia bukan pacar Salsha. Salsha sumpah demi apapun di dunia ini. Salsha gak kenal sama nih cowok gilaa!!!”ujar Salsha dengan cepat. Cakka hanya menatap Salsha dengan binggung.

 

 

“Isshh. Dasar cewek cerewet”desis Iqbal merapikan bajunya. Dorongan Salsha sedikit kasar kepadanya.

 

 

“yaudah gue  pamit dulu. Makasih ya sayang jawabannya tadi. Jangan selingkuh loh ya !! “ujar Iqbal menatap Salsha dengan megedipkan sebelah matanya. Salsha menganga tak percaya.

 

 

“HEELLL!!! PERGI LOE GILAA SINTIINGGG !!!!”

 

 

“Mas nitip pacar saya ya. Jangan diapa-apain ! “teriak Iqbal ke Cakka . Iqbal  sudah mulai menjauh dari hadapan Cakka dan Salsha.

 

 

“Sumpaahh tuh orang !! AISsshshhhh!!!”kesal Salsha sangat frustasi. Cakka tertawa pelan melihat tingkah Salsha  dan Iqbal yang sangat lucu menurutnya.

 

 

“Kelihatannya pacar kamu sangat sayang sama kamu “ujar Cakka tanpa dosa  dan langsung duduk di kursi yang ditempati Iqbal tadi.

 

 

“Apaan sih kak. Orang bukan pacar salsha. Lagian salsha juga gak kenal sama dia. Salsha itu Cuma sukanya cintanya sayangnya semuanya deh itu ke kak Cakka gak ada yang lain !!! “

 

“Lalu dia siapa ?? ”Tanya Cakka yang sebenarnya tidak terlalu penasaran. Ia hanya ingin menggoda Salsha saja.

 

 

“Mana Salsha tau. Dia tiba-tiba datang ke salsha terus Tanya-tanya gak jelas ke Salsha  tentang Sivia dan Kak Alvin. Aneh kan . . “ujar Salsha polos. Cakka menatap Salsha langsung saat mendengar nama Sivia dan Alvin di sebutkan.

 

 

“Sivia ? Alvin ??”

 

 

“Iya.  Dia Tanya hubungan Sivia dan Kak Alvin. Yaudah Salsha jawab apa setahu Salsha “Cakka mengangguk saja tak ingin melanjutkan lagi pembicaraan topic ini. Cakka pun segera menyuruh Salsha memesan menu dan mengganti topic pembicaraan.

 

 

            Di lain sisi,  Iqbal menjalankan mobilnya dengan senyum tak bisa terbaca. Akhirnya ia mendapatkan sebuh jackpot yang tak pernah ia sangka bahwa dengan cepat ia mengetahui jawaban atas rasa penasraannya.

 

 

“jadi itu pria brengseknya . . . .”

 

*****

            Alvin meregangkan sedikit lehernya yang terasa kaku. 2 jam tanpa henti ia melakukan pemotretan hari ini. Tidak banyak waktu yang ia punya untuk pekerjaan yang diberikan cakka kepadanya. Alvin melirik kea rah Sivia yang sedang break membenahkan make upnya dengan bantuan beberapa staff.

 

 

“Kita mulai lagi Vi ?”Tanya Alvin yang mulai untuk lebih “comfortable” dengan Sivia. Dan sepertinya Sivia mencoba menerima usaha Alvin.

 

 

“5 menit lagi “ujar Sivia yang terlihat sedikit kelelahan.  Alvin pun meletakkan kamerannya di dekat meja yang ada disampingnya. Setelah itu perlahan berjalan mendekati Sivia yang sibuk dengan make-up.nya.

 

 

“Apa yang loe lakukan nanti malam?”

 

 

“Tidak ada.”jawab Sivia singkat tanpa menolehkan pandagannya ke Alvin. Ia tetap focus merapikan make-up.nya.

 

 

“Kalau nanti gue yang anterin loe pulang gimana ??”Sivia memberhentikkan aktivitasnya. Menatap Alvin yang juga sedang menatapnya dengan lembut.

 

“Oke gue anggap loe setuju”ujar Alvin seenaknya sendiri dan langsung kembali ke tempatnya semula. Sivia hanya menatap punggung Alvin dengan suara desisan dari bibirnya. Setelah itu ia melanjutkan aktivitasnya kembali.

 

            Pemotretan mereka pun kembali dilanjutkan. Kali ini baik Sivia dan Alvin merasa lebih nyaman. Mereka banyak berbincang-bincang dan tak jarang Alvin mengajak Sivia bercanda. Berbeda dengan bagaimana mereka bertemu yang sangat canggung sekali.

            Alvin membantu Sivia berdiri karena gaun putih yang Sivia pakai begitu panjang. Sivia memegangi bahu Alvin sedikit erat karena Baju bawah Sivia sedikit membulat di kaki Sivia.

 

 

“Aisshh ribet bangetsih”desis Alvin yang frustasi dengan gaun Sivia. Ia meletakkan sebentar kamerannya dibawah setelah itu membenahkan kembali baju Sivia.

 

 

“Akhirnya . . . . “legah Alvin dan Sivia bersamaan. Mereka saling bertatapan sejenak setelah itu tertawa sendiri melihat betapa lucunya kejadian ini menurut mereka. Dalam benak Alvin tak pernah terfikirkan bahwa Sivia mau memaafkannya bahkan memberikannya kesempatan.

 

            Ditengah kedekatan dua orang ini, sedari tadi seorang lelaki sudah menyaksikan kedekatan Sivia dan Alvin. Siapa lagi jika bukan Cakka. Setelah makan bersama Salsha , Cakka langsung menghampiri Alvin dan Sivia untuk melihat bagaimana projeknya. Dan diluar dugaan Ia melihat Sivia dan Alvin yang begitu dekat sekali.  Sedikit perasaan campur aduk mera,bat ke seluruh tubuh Cakka. Yah, Mungkin Cakka merasa cemburu.

 

 

“Gimana Vin udah sampai mana pemotretannya ??”ujar Cakka yang beracting seolah dia baru datang. Kaget dengan kedatangan Cakka, baik Alvin dan Sivia langsung  berjalan sedikit menjauh.

 

 

“Udah hampir seluruhnya selesai Cakk. Mungkin minggu depan kita bisa menyelesaikannya”

 

 

“Wahh, kerja bagus. Gue gak salah nyerahin ini semua ke loe”

 

 

“Iyalah gak salah. Demi loe tiap malam gue ngelembur”desis Alvin merasa terbebani. Cakka hanya tertawa ringan. Namun tawanya sedikit terlihat aneh dan mungkin hanya Cakka sendiri yang menyadarinnya.

*****

            Ify kembali ke kamarnya setelah makan di ruang makan bersama Agni. Saat ingin naik ke atas kasur. Mata Ify tertuju ke sebuah Amplop berukuran standart yang ia taruh di atas meja kerja kecil dikamarnya. Ify mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat darimana asal amplop itu.

 

 

“Ahh. . Amplop berisi pemotretan itu”ujar Ify pelan ke dirinnya sendiri. Ify diam sejenak, setelah itu ia melangkahkan kakinya mendekati Amplop tersebut. Gadis ini mungkin merasa sangat penasaran dengan bagaimanakah hasil pemotretan yang dibangga-banggakan Cakka.

 

            Perlahan Ify membuka Amplop tersebut sedikit malas. Ujung foto mulai Ify tarik dan akhirnya foto-foto tersebut berhasil diambil oleh gadis ini dari dalam ampolop.

 

            Sunyi, hening, hanya suara nafas yang begitu cepat. Foto-foto tersebut pun berserakan diatas lantai dikarenakan terjatuh dari tangan gadis ini. Matanya mulai menengang dna tak tenang. Tubuhnya sedikit gemetar.

 

“A . . Ap … Ap . . . hahahaha”Ify tertawa pelan penuh kemirisan. Benar-benar diluar dugaanya dan bagaimana ini semua bisa terjadi kepadanya dalam satu paket setelah kemarin dirinnya bertemu dengan Rio.

 

 

            Ify segera mengambil ponselnya dan menelfon seseorang . Tak butuh lama untuk Ify menunggu orang disebrang sana mengangkat panggilan telfonnya tersebut.

 

 

“Siang. Dimana tempat studio pemotretan yang kalian lakukan ? Aku ingin kesana untuk melihat sendiri bagaimana konsep dan hasilnya “

 

 

“Baiklah”Ify menutup sambungannya. Ia memasukkan ponselnya ke tasnya dan memasukkan kunci mobilnya juga. Setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi untuk mandi sebentar.

 

            Ify tak berlama-lama dalam mengganti bajunya dan berdandan. Ia hanya memakai pakaian biasa yang casual setelah itu segera bergegas dari rumahnya. Entah mengapa Ify hanya ingin cepat-cepat berada di studio pemotretan tersebut.

*****

            Ify turun dari mobil yang ia kendarai. Ia menghembuskan nafas beratnysejenak. Membenarkan Blezer hitamnya dan kaca mata hitamnya. Rambut gadis ini terurau panjang dan cantik. Ia juga mengenakkan rok pendek yang benar-benar membentuk tubuhnya. Ify melihat ke sekitar parkiran banyak mobil disini. Sepertinya did alam studio terdapat banyak orang.

*****

            Alvin duduk di sebalah Cakka mereka berdua sedang mengobrol membahas tentang pemotretan terakhir mereka yang akan dilakukan di suatu tempat selagi menunggu Sivia yang berganti kostum. Sedangkan di depan mereka terdapat dua pria-pria yang sedang melamun dan entah melamunkan apa.

            Alvin melirik ke dua orang tersebut, merasa tak nyaman mendapatkan pemadangan yang kelabu pagi-pagi seperti ini. Melihat ada dua buah sendok yang menganggur. Dengan cepat Alvin melemparkan dua sendok itu ke dua pria yang duduk terdiam didepannya.

 

 

CTAAAAKKK

 

 

“Awwww . . . “ringis kedua pria tersebut yang tak lain adalah Rio dan Gabriel. Cakka hanya cekikan melihat apa yang dilakukan oleh Alvin. Sedangkan Alvin menatap dua pria itu dengan skiptis.

 

 

“Loe berdua ngapain sih ? Bikin suasana studio gue jadi suram tau gak ??”cerca Alvin tanpa ampun kepada Rio dan Gabriel yang masih meringis memegangi kepala mereka.

 

 

“Aisshh!! . . “desis Rio tak terima dengan perlakuan Alvin.

 

 

“Loe berdua kenapa sih ? Habis di tolak cewek ? Habis di PHK? Apa loe galau gara-gara gue lebih ganteng dari loe ??”Tanya Cakka yang tak ada benar-benarnya dan langsung mendapat lirikan maut dari Rio dan gabriel

 

 

“Gue galau karena mikirinm gimana cara bunuh orang kayak loe !!”serempak Rio dan Gabriel bersamaan yang entah menagapa mereka kompak sekali selama pagi ini. Mulai dari galau bersama, raut muka yang sama dan jawaban yang sama.

 

 

“aelah. Kejam amat loe berdua”desis Cakka yang hanya bisa menelan ludahnya dalam-dalam.

 

 

            Tak lama mereka bertengkar tak jelas, Sivia keluar dari ruang ganti dan berjalan perlahan menghampiri ke empat laki-laki itu dengan langkah kaku dan sedikit canggung. Sivia mengenakkan gaun selutut berwarna putih. Dan itu benar-benar membuat dirinnya terlihat cantik. Ditambah lagi gaya rambutnya yang diikatkan keatas semua dan sebuah accesoris mengkilau tertempel indah di bagian kanan rambutnya.

            Untuk beberapa detik Gabriel dan rio hanya bisa terbenggong melihat siapa. Dimana posisi mereka tepat searah dengan  ruang ganti , Sedangkan posisi Alvin dan Cakka membelakangi ruang ganti sehingga dua orang ini hanya melihataneh dan binggung ekspresi dari dua temannya itu. Yang semula galau menjadi tatapan yang seperti mendapati bidadari turun dari sarangnya(?)

 

 

“Waaahh . . . “kagum Rio dan Gabriel yang langsung meneguk ludah mereka. Perlahan Alvin dan Cakka pun membalikkan badan mereka merasa penasaraan dengan apa yang dilihat Rio dan Gabriel. Dan saat Cakka dan Alvin tepat melihat sosok Sivia , dua orang ini langsung mematung membeku.

 

 

“Eheemm . .”dehem Sivia yang merasa canggung dan sedikit tak nyaman dilihat seperti itu. Dan ke empat pria ini lamgsung tersadar dan berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Sivia hanya geleng-geleng saja melihat kelakukan ke empat pria ini. Jujur saja, Sivia mulai terbiasa akrab dengan mereka. Karena toh tiap harinya ia bertemu dengan Cakka, Alvin, Rio dan Gabriel. Dan berkat Alvin juga Sivia sudah tidak canggung lagi dengan mereka.

 

 

“Vin, bisa kita lanjutkan lagi pemotretannya ?? “Tanya Sivia tenang. Alvin pun menjawab dengan anggukan dan segera berdiri.

 

 

            Bersamaan dengan berdirinnya Alvin, Beramaan itu terdengar suara derap langkah yang tegas masuk kedalam studio dan menampakkan sesok gadis cantik di sana. Alvin, Sivia dan Cakka menatap gadis itu yang masih memakai kaca mata hitamnya. Kini giliran Rio dan Gabriel yang binggung dengan ekspresi “frozen” dari tiga orang itu karena posisi duduk Rio dan Gabriel memang membelakangi pintu masuk.

 

 

“Ada apaan sih ?”Tanya Gabriel dan langsung ikut menghadap ke belakang merasa penasraan dengn apa yang dilihat ketiga orang itu. Rio pun jadi ikut-ikutan melihat ke belakang.

 

            Sivia menyipitkan matanya, merasa familiar dengan gadis itu. Dari bentuk tubuh dan juga bentuk wajah. Dan saat gadis itu membuka kaca matanya dan tersenyum dengan senyum yang “kalian tau sendirialah “ . Sivia, Alvin, Gabriel dan Rio langsung melotot ata mereka benar-benar melebar sempurna. Bahkan Sivia saking kagetnya Sivia memundurkan langkahnya beberapa langkah dan tubuhnya hampir lemas.

 

            Rio membuka mulutnya lebar kaget, Alvin lebih kaget lagi dari Rio, karena Rio memang sudah bertemu dengan gadis itu. Dan Gabriel hanya bisa mengatakkan “ Oh My God !!” tanpa suara. Ketiha pria ini merasa seperti mendapatkan sebuah paket kejutan yang terbentuk dalam satu paket yang dikirim berangsur-angsur dan benar-benar setiap kejutan itu membuat adrenalin mereka terus naik.

 

 

“Ahhhh. Nona Ify. Selamat pagi. Dan selamat datang di studio kami “sapa Cakka yang memang baru mengenal Ify selama pekerjaan ini. Cakka langsung berjalan kea rah Ify dan menjabat tangan Ify. Dengan tatapan yang masih remeh dan senyum kepalsuan Ify membalas jabatan tangan Cakka.

 

 

“Ify ??”binggung Alvin dan Gabriel. Karena gadis itu benar-benar mirip dengan. .. . . .

 

 

“Alyssa . . .”nama itu langsung keluar dari mulut Sivia dan cukup keras. Dan kini ke empat mata berlarih menatap Sivia yang menatap Ify dengan tatapan tak percaya.

 

 

“Hallo  “sapa Ify dengan santai seolah tak ada beban dan tak ada suatu rasa syok karena ia bertemu dengan Sivia. Respon Ify benar-benar beda dengan Sivia yang benar-benar sangat terkejut bahkan tak percaya.

 

 

“Wow . . . Sepertinya tuhan sudah merencanakan semua ini. Kebetulan banget ya . Bisa dibilang “ Reonian korban dan penjahat “ Betulkan Sivia ??”kata-kata Ify begitu tajam. Saat ia mengatakkan seperti itu matanya langsung menatap tajam Rio yang hanya bisa meneguk ludahnya dalam. Tangannya pun mulai berkeringat mungkin tatapan Ify benar-benar sangat menakutkan.

 

 

“Lama tidak bertemu Sivia. “sapa Ify santai. Sivia melihat Ify atau yang ia kenal sebagai Alyssa itu berubah 360 derajat dari Alyssa yang ia kenal 7 tahun yang lalu.

 

            Cakka menatap teman-temannya binggung. Karena memang ia tidak tau papaun tentang hubungan kelima orang ini yang dulunnya adalah “ kakak kelas dan Adik kelas “ yang memiliki sebuah memory yang sangat snagat luar biaasa.

 

 

“Kalian saling kenal?”Tanya Cakka masih binggung.

 

 

“Oh kenal banget. Iya kan Kakak-kakak kelas yang baik hati ??”sahut Ify lebih tajam. Kini bukan Rio saja yang mulai ketakutan namun Alvin dan Gabriel mulai ikut sedikit gemetar. Mata mereka bergerak kemana-mana menunjukkan kepanikan mereka.

 

 

            Keadaan cukup menengangkan selama beberapa menit. Semuanya diam saling menatap. Namun tatapan paling tajam adalah tatapan dari Ify. Ia melihat ke semua orang didepannya dengan rasa penuh benci.

            Sivia menatap Ify dengan tatapan “entahlah” . Ia merasa gadis itu benar-benar sangat berubah dan menakutkan mungkin. Sivia menghembuskan nafasnya beberapa kali. Memberanikan diri untuk menghentikkan kesenyuian di studio.

 

 

“Kemana saja kamu selama ini ??”Tanya Sivia memberanikan dirinnya bertanya kepada Ify. Ify yang awalnya menatap tajam kea rah Rio langsung menatap Sivia dengan tatapan sedikit tenang. Toh, ia sama sekali tidak ada masalah dengan Sivia. Namun sepertinya ia sudah melupakan yang namanya “sahabat” yang sudah tidak ada lagi didaftar hidupnya.

 

 

“Kemana ? Aku tidak kemana-kemana. Hanya mempersiapkan suatu pembalasan yang menyakitkan . . .”tatapan Ify kembali menatap kea rah Rio. Alvin. Gabriel dan Sivia pun mengikuti arah mata Ify yang tertuju tepat di Rio. Cakka semakin binggung dengan situasi di depannya ini.

 

 

“Sebaiknya kita mulai pemotretannya lagi . Ayo Vin . . “ujar Cakka yang tidak mau memfikirkan lebih lanjut masalah ini. Ia hanya focus kepekerjaan dan ingin menunjukkan hasil terabit ke clien pentingnya yaitu Ify.

 

 

“Nona Ify silahkan duduk dan silahkan lihat bagaimana pemotretannya”lanjut Cakka mempersilahkan Ify untuk duduk disebuah sofa kecil yang dapat berputar sehingga  ia dapat melihat seluruh penjuru studio dan menikmati pemotretan. Namun tujuan Ify sebenarnya bukanlah itu. Ia hanya ingin memuaskan dirinnya bagaimana membuat orang-orang ini ketakutan dengan kehadirannya.

 

            Dan pemotretan kembali berjalan, Ify mencoba memfokuskan matanya pada pemotretan, ify menatap Sivia yang sepertinya sedikit tidak nyaman akan tatapan Ify yang terus menerus kearahnya. Walaupun sebenarnya tatapan Ify hanya tatapan biasa dan tenang. Sedangkan tak jauh dari Ify duduk, Rio dan Gabriel mulai saling berbisik tak jelas .

 

 

“Sumpah itu Alyssa , Yo ??”Tanya Gabriel dengan suara pelan sehingga hanya Rio sajalah yang dapay mendengar pertanyaannya.

 

 

“Hmm. “dehem Rio lemas.

 

 

“Kok bisa tib . . . .”

 

 

“Gue juga gak tau Iel. Gue udah ketemu dia kemarin di rumahnya. Dan gue lebih syok dari loe . Dia berubah 360 derjat dan sangat menakutkan.”

 

 

“Bukan sangat lagi Yo, Tapi melebihi kata sangat. Gue aja dibuat merinding sama tatapannya. Beda banget dari Alyssa yang gue tau 7 tahun yang lalu”

 

 

“pantaslah iel dia benci sama gue dan dendam sama gue . “

 

 

“Terus hubungannya Alyssa dan Cakka ??”Tanya Gabriel yang memang tidak mengerti. Rio langsung menatap Gabriel, merasa sama-sama kebingungan juga. Mereka berdua tak tau apa hubungan Cakka dan Ify.  Namun setelah beberapa detik saling bertatapan.

 

 

“Jangan-jangan ???”

 

 

“Mampus gue !!”desis Rio semakin frustasi. Gabriel hanya bisa menepuk-nepuk pundak Rio memberikan energy.nya agar temannya ini tidak semakin frustasi. Dimana mereka menemukkan jawaban bahwa Ify adalah pemilik saham terbesar yang ikut andil dalam proyek besar dan ini. Dan bisa dibilang Ify punya kuasa yang tinggi disini. Dan itu membuat Rio menjadi takut.

 

 

Dilain sisi, Cakka benar-benar terlihat kharismatik. Seorang pengusaha muda yang sangat pandai dan professional. Cakka yang duduk disebalah Ify dengan hati-hati menjealskan tentang konsep baru mereka yang diinginkan oleh Ify. Dan jujur, Ify cukup puas dengan hasilnya.

 

 

“Dan besok adalah hari terakhir kita melakukan pemotretan. Dan mungkin kita akan melakukannya di sebuah hutan . Dan juga kita sudah menyewa Villa di dekat sana sebagai hari terakhir perpisahan bagi model dan pra staff lainnya.  Jad . . .”

 

 

“Aku ikut “ujar Ify dengan mantap. Ia menatap Sivia yang juga sesekali meliriknya. Cakka mengangguk sangat senang. Baginya dengan ikutnya ify berpartisipasi merupakan suatu hasil yang bagus yang menandakkan bahwa Ify sangat tertarik dan puas dengan hasil kerjannya. Dan Cakka merasa sangat senang sekali. Namun akan menjadi petaka bagi Rio yang tentu saja akan ikut andil dalam hari terakhir pemotretan besok.

 

            Ify berdiri dan berjalan mendekati Sivia yang masih melakukan pemotretan . Alvin menghentikkan aktivitasnya saat Ify tiba-tiba berjalan mendekati Sivia. Sivia hanya bisa mematung melihat ify berjalan dan menatapnya dengan sebuah senyum yang sedikit membuatnya takut.

 

            Ify menyunggingkan senyumnya, namun tidak terlihat seperti sebuah senyum yang tulus. Ify membenahkan rangkaian kalung panjang yang dipakai Sivia dan merapikan sedikit rambut Sivia yang terlihat berantakkan. Membuat jarak mereka benar-benar dekat sekali. Mungkin hanya tertinggal 3 cm saja. Sivia benar-benar mematung tak bisa apapun.

 

 

“Gue hanya ingin merapikan saja. Loe gak usah tegang kayak gitu”ujar Ify yang mulai berjalan mundur menjauhi Sivia. Sivia menghelakan nafas beratnya begitu juga dengan Alvin yang entah menagapa mencemaskan Sivia yang terlihat ketakutan karena Ify.

 

           

            Ify memilih duduk kembali disamping Cakka yang mulai penasaran dan heran dengan ekspresi tegang Sivia tadi. Dan Cakka berencana untuk menanyakan jawaban atas rasa penasarannya nanti pada ketiga temannya itu.

****

            3 jam setelah pemotretan berjalan, mereka semua makan bersama dengan ajakkan wajib dari Cakka. Awalnya Rio dan Gabriel menolak untuk ikut, namun Cakka memaksa mereka ikut dengan alasan “menghargai tamu”. Rio sedikit mendengus kesal ke Cakka yang memang tidak tahu apapun.  Dan jadilah kini ke enam manusia ini makan bersama di suatu restoran terdekat dengan studio Alvin.

 

            Masih tak ada yang membuka suara sedikit pun mulai dari didalam mobil perjalanan ke restaurant sampai mereka menunggu pesanan datang. Ify sendiri mengasikkan diri dengan ponselnya, ia merasa santai saja dengan suasa ini dan nyaman-nyaman saja namun mungkin tidak untuk Alvin, Gabriel , Sivia lebih lagi Rio yang sedari tadi terus berkeringat dingin padahal ruangan ini sudah ber AC.

 

            Cakka yang sudah tak kuat lagi dengan kesenyuian ini yang tidak biasanya teman-teman mereka lakukan pun memilih membuka suara pertama kali.

 

 

“Besok kita akan melakukan pemotretan di Hutan.  Dan gue mau loe semua ikut. Karena besok Nona Ify juga akan ikut. Jadi loe Yo dan loe Iel wajib ikut “ujar Cakka bangga dan sedikit memaksa Rio dan Gabriel. Sedangkan yang dipaksa langsung meneguk ludah mereka bersamaan. Bagi mereka sama saja menerkamkan diri ke kandang macan. Namun bagi Rio bukan kandang macan lagi melainkan neraka.

 

 

“Kita akan ke Hutan ?”Tanya Sivia yang memang belum tau tentang renacana ini. Alvin menganggukan kepalannya menjawab pertanyaan Sivia.

 

 

“Mungkin besok gak ada staff yang ikut, karena kita memilih tempat yang benar-benar jalannya sedikit susah di lewati dan untuk meminta izinnta pun kita hanya di perbolehkan membawa tidak lebih dari 10 orang. Jadi gue dan Cakka sudah memutuskan Rio dan Gabriel wajib ikut sebagai keamaanan. Lebih lagi . . . . “

 

 

“Nona Alyssa juga ikut jadi kita merasa sangatmenghargai “ujar Alvin sedikit kaku dengan kata-kata terakhirnya. Ify sedikit menyunggingkan senyumnya sedikit merasa aneh dengan situasi ini. Mereka benar-benar canggung untuk berbicara dengannya.

 

 

“Jadi sudah aku putuskan. Besok yang berangkat kita berenam pagi-pagi sekali dan mungkin kita akan menginap semalam di Villa yang sudah Alvin sewa. “

 

 

“Boleh aku bawa anakku??”Tanya Sivia yang memang tidak bisa meninggalkan Iqbal sendirian. Ify menatap Sivia.

 

 

“Kamu punya anak ?? Waaoww”ujar Ify dengan nada yang syok. Sivia hanya mengangguk ringan membalas pertanyaan Ify.

 

 

“gak apa-apa Vi. Lagian masih 7 orang juga kan . “jawab Alvin mengiyakan dan mengizinkan Sivia membawa Iqbal.

 

            Setelah itu makanan pesanan mereka pun datang dan membuat semua orang memilih langsung makan dan konsen dengan makanan mereka. Tak ada pembicaraan lagi diantara ke enam orang ini. Merasa begitu susah untuk mengeluarkan kata-kata dari mulut mereka. Situasi ini benar-benar tidak menyenangkan bagi mereka.

****

            Iqbal memainkan PSP.nya di depan ruang TV selagi menunggu mamanya pulang kerumah. Dan tak lama kemudian orang yang ditunggu pun datang juga. Sivia yang baru datang dan melihat sang anak langsung duduk di sebalah anaknya.

 

 

“Malam sayang. Kamu blum tidur ?”Tanya Sivia dengan penuh kasih sayang.

 

 

“Belum”jawab iqbal jutek.  Sivia mengernyitkan keningnya merasa aneh dengan sang anak. Tak biasanya Iqbal ketus kepadanya seperti ini kecuali Sivia membuat sebuah kesalahan. Dan Sivia sama sekali tak merasa buat kesalahan kepada Iqbal.

 

 

“Apa  .  .Mama buat salah ??”

 

 

“Kalau ngerasa”jawab Iqbal seenaknya dan amsih konsen dengan PSP.nya. Sivia terdiam binggung.

 

 

“Maaf bal. Mama bener-bener gak tau apa maksud kamu. .”Iqbal meletakkan PSP.nya dengan sedikit kasar diatas meja. Kemudian ia menatap mamanya dengan tatapan tak senang.

 

 

“Siapa sebenarnya fotografer itu ?”Sivia cukup kaget dengan pertanyaan Iqbal. Mencoba masih mencerna pertanyaan sang anak.

 

 

“Fotografer ??”

 

 

“Alvin !!”jujar Iqbal memperjelas lagi apa yang dia maksud. Sivia menghelakan nafas beratnya, Sepertinya sang anak sudah tau akan siapa Alvin.

 

 

“Iqbal gak mau tau. Mama stop jadi model disana dan Iqbal mau kita kembali ke Singapore besok juga!!!”

 

 

“Tap . . . “

 

 

“IQBAL GAK MAU TAU MA!!!”teriak Iqbal penuh emosi. Sivia benar-benar kaget dnegan bentakkan iqbal yang baru pertama kalinnya. Sivia sedikit gemetar sepertinya iqbal benar-benar marah kepadannya. Dan seperti yang Sivia ketahui bahwa Iqbal sangat benci sekali dengan Alvin lebih tepatnya yang pernah membuat Sivia menderita. Karena Iqbal adalah saksi hidup dan mengetahui bagaimana menderitanya Sivia selama ini. Iqbal tau semuannya. Bahkan mungkin rasa benci Iqbal  ke Alvin lebih besar daripada rasa benci Sivia ke Alvin sendiri.

 

 

 

“Jangan membuat Iqbal ingin bunuh itu orang  ma . . “

 

 

“IQBAL !!!! “bentak Sivia yang benar-benar tak menyangka dengan ucapan sang anak. Sivia mulai cukup binggung harus bagaimana.

 

 

“Hanya tinggal besok saja Bal. Besok mama pemotretan terakhir. Dan mama juga akan ajak kamu. Setelah itu kita kembali ke Singapore. Mama janji. Hanya tin . . . “

 

 

“Gak ada besok-besok ma. Iqbal maunya kita besok sudah berangkat ke Singapore !!!”tajam Iqbal.

 

 

“bal. gak bisa seperti itu. Mama sudah ada kontrak de . . . . “

 

 

“Terserah !! “

 

            Sivia menghembuskan nafas beratnya. Ia mencegah iqbal yang akan berjalan ke kamarnya. Cukup binggung Sivia menjelaskan dan memberi pengertian kepada sang anak yang begitu sayang sekali kepadanya.

 

 

“Ikut mama . . . “ajak Sivia dan perlahan menarik tangan Iqbal. Dan entah mengapa Iqbal langsung mengikuti sang mama.

*****

            Shilla melirik ke jam tangannya, fikirannya sedikit kacau mala mini. Ia memilih pergi keluar rumah dengan jalan kaki. Shilla terus saja berjalan. Dan selama ia berjalan, ia merasa mengalami DEJAVU, ia merasa pernah bahkan sering melakukan hal yang sama seperti ini. Apalagi saat gadis ini memasuki sebuah perumahan mewah.

            Shilla terus saja berjalan, ia melihat sebuah mini market kecil. Shilla berhenti di depan sana. Ingatannya kembali ke masa lalu. Ke 7 tahun yang lalu.

 

 

“Kak!! Ayo beliin !!! “

 

 

“Ogah banget!!!! “

 

 

“Kak , Masak tega ngelihat Shilla masuk dengan rok belakang merah semua. Kak , Tolong Shilla sekali ini aja. Please . . .”

 

 

“Loe selalu ya ngerepotin !!! “

 

 

“Maaf  . . . .”

 

 

“Tunggu disini. Tutupin rok loe dengan jaket gue .  jangan kemana-kemana “

 

            Yah, Ingatan dimana Ia bersama Gabriel saat masih hari terakhir mereka ujian semester. Gabriel menduduki kelas 1 SMA dan dirinnya kelas 3 SMP. Dimana Shilla meminta Gabriel untuk membelikan barang yang selalu di butuhkan wanita saat mengalami datang bulan. Walaupun dengan wajah kesal dan tidak mau direpotkan m Gabriel akhirnya selalu mengalah dan mau melakukan apapun untuk Shilla.

 

 

“Aisshh . . . . “desis Shilla merasa tak penting memfikirkan hal tersebut. Dan saat ia mulai tersadar dari lamunannya. Jujur saja ia sedikit binggung kenapa ia bisa sampai disini. Dan itu lumayan jauh dengan rumahnya.

 

 

“Shilla . . …”

 

            panggil seseorang yang tepat berada di belakang Shilla. Shilla langsung membalikkan badannya dan mendapati Gabriel yang melihatnya kebingunggan. Shilla merutuki kesalahannya ke tempat ini. Seharusnya ia sudah hafal bahwa Gabriel akan selalu mampir ke m ini market ini tiap harinya selesai ia pulang dari kerja. Bahkan saat dulu pulang dari sekolah maupun main-main dengan temannya Gabriel selalu mampir dulu ke mini market ini.

 

 

“Apa yang kamu lakukan disini??”Tanya Gabriel lagi yang melihat Shilla hanya diam dan sepertinya kaget dengan keberadaaanya.

 

 

“Gak ada “jawab Shilla mencoba tenang.

 

 

“Dengan siapa kamu disini ? Mana mobil kamu ?”Tanya Gabriel yang memang tidak melihat adanya kendaraan pun di depan mini market ini kecuali mobilnya sendiri.

 

 

“Kamu jalan kaki??”Tanya Gabriel lagi yang sudah dapat menduga. Karena Gabriel tau Shilla sangat suka jalan kaki.

 

 

“Udah malam, Ayo gue anterin pulang”tawar Gabriel dengan hati-hati. Shilla menggelengkan kepalannya dengan tegas dan segera berjalan meninggalkan Gabriel begitu saja.

 

            Gabriel melihat Shilla yang perlahan berjalan menjauh. Gabriel dengan cepat mengambil kunci mobilnya, dompet dan ponselnya di dalam mobil setelah itu ia berjalan membuntutui Shilla. Jujur saja ia khawatir akan keselamatan Shilla dan ia tidak ingin menyesali perbuatannya untuk kedua kalinnya.

 

****

            Shilla tau bahwa Gabriel mengikutinya dan berjalan di belakangnya. Shilla terus saja menatap depan dan terus berjalan. kan  menyesali bahwa dirinnya keluar tanpa membawa apapun. Baik ponsel, uang bahkan baju yang ia pakai adalah pajama yang biasanya ia gunakan untuk tidur.

            Udara malam, perlahan mulai semakin dingin. Shilla melihat kea rah jam tangannya lagi yang menunjukkan pukul 10 malam. Dan jujur saja ia cukup takut berjalan sendiri seperti ini. Namun setidaknya ia cukup legah bawa di belakang sana ada Gabriel.

            Shilla memberhentikkan langkahnya. Dan ia merasakan bahwa Gabriel juga memberhentikkan langkahnya di belakang sana. Shilla mendongakkan wajahnya ke atas langit dan benar dugaan dia. Awannya begitu hitam dan tak ada bintang sama sekali diatas sana. Indahnya sang bulan pun tak tertampak diatas langit. Shilla menghela nafas panjang dan melanjutkan jalannya lagi ia hanya bisa berharap bisa cepat sampai rumah sebelum hujan turun.

****

            Gabriel melepaskan jas hitamnya dan masih terus berjalan perlahan mengikuti Shilla. Ia tak habis fikir gadis ini benar-benar berjalan dari rumahnya menuju ke daerah perumahannya. Jujur, saja Gabriel sama sekali tak mengerti akan fikiran Shilla Dimana gadis itu terkadang begitu kejam dengan kata-katannya yang menyakitkan, namun di sisi lain gadis itu melakukan hal yang diluar ia duga.

 

            Gabriel melihat Shilla mulai menggosok-gosokkan badannya dengan tangan, Angin mala mini memang benar-benar sangat dingin apalagi bau-bau tanah yang menandakkan akan hujan turun sebentar lagi dapat terasakan begitu tajam.

*****

            Shilla merasakan tulangnya seperti tertusuk-tusuk ribuan jarum. Entah menagapa mala mini benar-benar dingin sekali. Ia terus saja menggosokkan tangannya ke tubuhnya. Berharap merasakan sedikit kehangatan. Apalagi jalanan saat ini begitu sangat sepi dan memudahkan angin untuk menyerang tubuhnya. Benar-benar hari yang tidak memberuntungkan bagi gadis ini.

 

 

“Aisshh . . . “desisi Shilla sedikit kesal akan dinginnya mala mini.

 

           

            Namun beberapa detik kemudian, Shilla terdiam dan langsung memberhentikkan langkahnya. Shilla mematung seolah ada hantaman salju yang menyerang tubuhnya. Shilla merosotkan pandangannya kearah tubuhnya. Dimana sebuah tangan memeluknya begitu sangat erat dari belakang. Shilla dapat merasakan detakan cepat orang tersebut. Dimana dada orang itu menempel di punggunnya. Hangatnya hembusan nafas orang tersebut pun perlahan menjalar bagaikan setruman di tubuh Shilla.

            Yah, tentu saja orang itu adalah Gabriel. Dan Shilla tau dan masih cukup hafal akan rasanya pelukan pria ini, Hafal akan bau parfum pria ini yang sama sekali tak pernah berubah.

 

            Shilla mencoba mengembalikkan kesadarannya dengan cepat. Ia tidak bisa terhipnotis akan situasi ini. Perlahan Shilla mencoba berontak dan melepaskan pelukan Gabriel dari tubuhnya.

 

 

“Sebentar aja . . . “Shilla memejamkan matanya, suara itu begitu sangat lembut tepat di telingannya. Desahan nafas hangat Gabriel menjalar kembali merasuki tubuh dan darahnya. Otak dan hatinya sudah tak dapat bekerja dengan tepat. Shilla hanya bisa diam saja saat ini.

 

            Sebuah rasa yang sebenarnya sangat nyaman sekali di rasakan oleh Shilla. Namun akan terlihat begitu egois jika ia tidak melepaskannya namun akan terasa tersayangkan bila melepaskan kenyamanan yang datang sekejab ini. Dan kali ini otak dan hati Shilla memilih untuk bertahan. Memilih untuk mendapat bagian andil dalam kenyamanan yang dirasakan oleh Shilla.

 

*****

            Gabriel mempererat pelukannya. Ia dapat mencium bau rambut Shilla yang harumnya melembutkan. Gabriel hanya ingin memberikan kehangatan pada gadis ini namun tidak dipungkiri bahwa ia melakukannya lebih dari itu. Lebih dari hanya membuat gadis ini hangat. Tentu saja ia sangat merindukkan gadis ini dan ingin memperbaiki hubungannya . Jika kesempatan itu bisa.

 

            Gabriel melirik ke wajah Shilla yang hanya terlihat bagian samping kanannya saja. Gabriel melihat Shilla yang hanya diam dan menutup matannya rapat-rapat. Dan setan apa yang merasuki pria ini, perlahan-lahan Gabriel mendekatkan bibirnya untuk mendekati pipi kanan Shilla.

            Gabriel memejamkan matannya pelan-pelan dan saat bibirnya tepat menyentuh pipi Shilla rasanya lebih nyaman dari pelukan ini. Ia dapat merasakan juga tubuh Shilla mulai menegang. Cukup lama sekali Gabriel membiarkan bibirnya menempel di pipi lembut dan putih Shilla.

*****

            Entah mengapa Shilla tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya lebih mengeratkan pejaman matannya dan mencengkram tangannya begitu sangat erat. Rasa dingin yang menyerbunya beberapa menit yang lalu hilang seketika dan berganti rasa yang panasnya luar biasa.         

            Shilla dapat merasakan bibir itu masih menempel di pipi kanannya. Perlahan tubuh Shilla yang menegang berganti menjadi getaran-getaran ringan. Panas dingin semua Shilla rasakan. Hatinya terasa teraduk-aduk .

*****

            Bersambung . .. . . . 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s