REVIL – 19 “Shadow? ?“

Part Nineteen of Revenge of Devil  >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .

PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

 

 

REVIL – 19

Shadow? ?

 

 

            Perlahan Shilla mengerjapkan matannya beberapa kali. Hari masih cukup petang bisa dibilang subuh. Shilla tidak sepenuhnya membuka matannya, jujur ia masih merasa ngantuk. Ia merasakan suatu keanehan. Perlahan Shilla memberanikan diri dan hati-hati membuka matanya.

 

Syok !!

 

Kaget!!

 

Tak Percaya!!!

 

 

            Shilla sekali lagi dibuat mematung dengan apa yang sudah ia lakukan. Lebih tepatnya bukan dia, Tapi mereka berdua lakukan tadi malam. Shilla mencoba mengingat-ingat apapun yang dapat ingat ia malam tadi.

            Dan tempat ia berbaring saat ini, lebih tepatnya lagi dia sekarang berada di kamar pria itu. Shilla mengeratkan jari-jarinya mencengkram selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sampai dada. Ia menaikkan lagi selimutnya sampai ke dagunya merasa sedikit gemetar.

 

“Apa yang udah gue lakukan tadi malam  . . .”batin Shilla mulai mendesis sendiri. Shilla melihat ke sekitar kamar ini. Tidak ada siapapun kecuali dirinnya. Namun terdengar suara gemericik air dan suara shower menyaala dari arah kamar mandi.

 

            Shilla mengigit bibir bawahnya, saat Ia menemukan seluruh pakaiannya berserakan di lantai bukan hanya bajunya saja. Namun ia menemukan baju pria itu juga dibawah sana. Shilla sedikit merutuki apa yang sudah ia lakukan semalam. Bagaimana bisa ia melakukan hal sebodoh ini. Dan menuruti hatinya bukan otaknya.

 

 

CKLEEEKKK

 

            Suara pintu kamar mandi terbuka. Terlihat seorang laki-laki keluar dari sana dengan keadaan topless dan setengah badannya hanya tertutup dengan handuk putih (pinggang-lutut). Mata Shilla dan pria itu saling bertemu namun sedetik kemudian mereka berdua sama-sama mengalihkannya kepadangan ke lain.

            Tak ada yang berbicara baik Shilla dan pria itu. Mungkin mereka berdua cukup malu dengan kejadian semalam yang entah mereka berdua sendiri saja tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

 

 

“Mandi sana.  Gue akan buatin sarapan.  . “ujar pria itu memberanikan diri. Yah, pria itu tak lain adalah Gabriel.

 

 

            Shilla melirik ke jam dinding besar yang ada di kamar Gabriel. Jam tersebut masih menunjukkan pukul 5 pagi., Shilla mengernyitkan keningnya. Ia menatap Gabriel yang sibuk sendiri memakai baju handuknya dan mengambil beberapa bajunya di almari. Lebih tepatnya Gabriel akan mengganti bajunya di kamar sebelah.

 

 

“Kak . .ka . . kak . .. kam . .kamu mau kemana ?”Tanya Shilla sedikit ragu.

 

 

“Ada pemotretan dengan Alvin, Cakka dan Rio aku harus ikut. Kamu juga akan aku ajak”ujar Gabriel tanpa melihat wajah Shilla dan sibuk menalikkan baju handuknya. Shilla membulatkan matannya.

 

 

“Gak . Aku gak akan ikut. Aku disini saja “tolak Shilla dengan cepat. Perlahan Gabriel menatap ke arah Shilla yang masih di posisi terbaring dan hanya tertutupi oleh selimut.

 

 

“Sedetik pun gue gak akan pernah ninggalin loe lagi”ujar Gabriel sangat serius , Setelah itu ia berjalan keluar kamarnya bersama baju dan celana yang ia dapatkan dari almarinya.

 

            Shilla dibuat cukup speechless dengan ucapan Gabriel. Pipinya sedikit memanas. Ucapan Gabriel terlihat penuh keseriusan ditambah lagi dengan bayangan kejadian semalam memutar kembali di otaknya.

 

 

“AISSSRGHH , ,,, “desis Shilla merasa otaknya akan segera pecah dengan kegilaan yang telah ia buat. Merasa frustasi dengan dirinnya sendiri.

 

            Tak fikir banyak lama. Shilla memilih untuk segera pergi ke kamar mandi dan segera mandi untuk membersihkan dirinnya. Keadaan pagi ini sungguh begitu canggung sekali.

 

*****

 

            Rio, Cakka, Alvin, Sivia, Iqbal dan Ify sudah menunggu di depan studio. Mereka sudah berkumpul sejak 10 menit yang lalu dan hanya menunggu satu orang lagi yang tak lain adalah Gabriel. Cakka sedikit kesal karena keterlambatan Gabriel, karena Cakka tidak entak dengan Ify. Ditambah lagi Cakka sudah tau jelas ceritannya hubungan antara Ify, Sivia, Alvin, Rio dan Gabriel yang sudah dijelaskan Alvin secara gambling. Dan permasalahan itu membuat Cakka sedikit takut jika tiba-tiba Ify mencabut sahamnya.

 

            5 menit kemudian, mobil biru tersebut datang dan terparkir disebelah mobil Rio. Seorang laki-laki keluar dari sana bersamaan dengan seorang gadis. Semua mata disana membelakak kaget dengan kedatangan lelaki dan gadis itu terkecuali Iqbal yang masih sedikit kesal dengan keputusan mamanya dan membuatnya harus ikut dengan sang mama.

 

 

“SHILLA???”kaget Alvin dan Rio bersamaan. Cakka pun sama kagetnya, jujur saja meskipun ia tak sebegitu dekat dengan Shilla tapi ia pernah bertemu sesekali-dua kali dengan Shilla dulu. Dan Gabriel pun meceritakkan bagaimana masalahnya dengan Shilla.

 

            Shilla hanya bisa tersenyum canggung, dan langsung menundukkan kepalannya kembali saat ia keluar dari mobil. Gabriel berjalan kea rah Shilla dan dengan manly  langsung menggandeng tangan Shilla berjalan beriringan ke arah ketujuh orang yang sudah menunggunya.

 

            Kini semua mata menatap dua orang di depan mereka. Gabriel tersenyum begitu senang dan merekah begitu bangga dan bahagia pagi ini. Sedangkan Shilla hanya bisa menundukkan kepalannya . Ia sedikit ketakutan dan juga merasa canggung. Cukup lama ia tidak bertemu Rio, Alvin dan Cakka.

 

 

“Via, kenalin ini Shilla . . .”ujar Gabriel mencoba mengenalkan Shilla kepada Sivia. Sivia yang tadinya diam langsung tersadar dan mencoba untuk tersenyum.

 

 

“Hallo Shilla . Aku Sivia. Senang bertemu dengan kamu “balas Sivia tenang.

 

 

“Hallo Shilla. Aku Ify. Salam kenal cantik”sahut Ify dengan gayanya yang sok kenal dan membuat semua orang disana benggong. Gadis ini memang benar-benar menakutkan .itulah fikiran lelaki-lelaki disini.

 

 

“I . .i . ya . .hallo . . . “jawab Shilla masih menundukkan kepalannya tak berani menaikkan kepalannya. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Gabriel namun rasanya sulit sekali. Semakin ia mencoba melepaskan Gabriel semakin mengeratkannya.

 

 

“Cakk. Shilla gak apa-apa kan ikut kita ??”

 

 

“hah? Hah? Apa Iel ??”gelagap Cakka yang masih sedikit syok dengan kejadian ini.

 

 

“Shilla ikut gak apa-apa kan?”

 

 

“Ahh. Iya gak apa-apa kok. Toh, masih belum 10 orang. Yasudah ayo kita berangkat . Kita agak sudah telat 10 menit ini. “ajak Cakka. Semuannya pun mengangguk. Semuannya segera naik kedalam Van yang dibawah oleh Cakka. Van yang muatannya memang dipergunakan untuk lebih dari 10 orang.

*****

            Selama perjalanan, hanya suara Cakka yang terus berkicau dimana-mana. Cakka hanya berusaha mencairkan suaasana yang sama tegangnya seperti kemarin. Dan sesunyi kemarin. Ify, Sivia, Shilla dan iqbal duduk paling belakang. Iqbal yang meminta agar para wanita duduk bersama. Itu semua ia lakukan agar sang mama tidak duduk bersebelahan dengan Alvin. Dan untungnya semua langsung setuju.

*****

            Perjalanan mereka cukup jauh, mereka telah melewati 3 jam perjalanan dan kini mulai memasuki kedalam hutan. Perlahan semakin kedalam dan cahaya-cahaya matahari mulai sedikit tertutup dengan rimbunnya dedaunan namun cukup terdapat beberapa cahaya yang masuk dan tidak membuat keadaan saat ini menjadi gelap.

            Cakka terus saja berkonsentrasi mengendarai Van ini. Perjalanan mereka memang sedikit panjang. Baik Ify, Sivia dan Shilla tak ada yang bisa tidur selama perjalanan. Mereka hanya diam dan tak membuka pembicaraan sedikit pun. Sedangkan para lelaki terkecuali Cakka sudah pulas dengan mimpi mereka.

****

            Akhirnya 2 jam lamannya mereka sampai di tempat pemotretan. Sudah tertata alat-alat pemotretan disana yang sudah disiapkan oleh staff tadi pagi yang disuruh oleh Cakka. Dan Staff tersebut pun langsung kembali ke Jakarta.

 

            Ke 8 orang ini segera turun dari Van. Mereka cukup terkesan dengan Villa putih yang lumayan besar di depan mereka. Mereka pun pergi ke dalam villa terlebih dahulu untuk menata barang-barang mereka.

            Kesan pertama masuk kedalam Villa ini begitu megah. Terdapat 8 kamar di dalam Villa ini dan Cakka pun sudah membagi satu persatu kamar mereka.

            Semua desain interior dari Villa ini bernuansa putih, baik kursi , Sofa, meja , meja makan, televisi. Semuannya adalah berwarna putih. Dan terdapat kolam renang indoor di belakang rumah dekat dengan dapur.

            Ify memasuki rumah ini dengan langkah tenang. Memperhatikan bagian-bagian dari rumah ini yang sangat menarik matannya . Ia berhenti di sebuah Foto besar bergambarkan huruf hiragana jepang. Ify sedikit tersenyum melihat tulisan tersebut.

 

 

“Nona Ify. Ini kunci kamar anda. Dan silahkan istirahat sejenak. Satu jam lagi kita akan melaksanakan pemotretan terakhir kita “ujar Cakka yang tiba-tiba sudha berada di samping gadis ini. Ify menganggukkan kepalannya dan menerima kunci tersebut.

 

            Setelah itu, Ify segera berjalan menaikki tangga menuju lantai dua. Dimana kamarnya terdapat di paling ujung belakang dan dengan jelas dapat melihat Kolam renang yang ada di belakang.

***

            Waktu menunjukkan pukul 4 sore, pemotretan sudah hampir akan selesai. Mungkin satu jam lagi. Ify mulai terlihat bosan, karena di sini memang sama sekali tak ada sinyal. Ia hanya bisa memainkan music di handphonennya.

 

            Cakka baru saja datang membeli makanan yang tentu saja ia harus keluar dulu dari dalamnya hutan ini. Dan itu semua membutuhkan waktu yang tidak singkat. Gabriel dan Rio membantu Cakka mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam mobil. Dan membagikkan kepada semua orang yang ada disana.

           

            Cakka menyenggol tangan Rio , memberi kode kepada Rio untuk memberikan makanan ini ke Ify. Rio membelakakan matanya tak percaya.

 

 

“Loe mau lihat gue diterkam hidup-hidup sama srigala lapar ? hah?”desisi Rio pelan sekali. Cakka terkekeh pelan.

 

 

“Apa salahnya dicoba ? Loe lihat aja Gabriel bisa baikan dengan Shilla. Alvin dan Sivia ? yah. . bisa dibilang mereka gak seperti saat awal-awal bertemu kan. Loe pingin nyelesaiin masalah loe apa enggak ? Udah sana.”

 

 

“Ogah ah Cakk . .”tolak Rio yang jujur sama sangat takut dengan Ify .

 

 

“Cemen lo ah. Laki apaan lo ?”sindir Cakka membuat Rio mendesisi sinis merasa terhinakan harga dirinnya .

 

 

“Awas sampai gue kenapa-kenapa . Loe yang akan gue injek-injek”kesal Rio dan mengambil satu bungkus makanan. Rio menatap Ify yang duduk lumayan jauh dan membelakanginya. Ia menghembuskan nfasnya beberapa kali. Menghilangkan rasa takutnya yang semakin ia coba hilangkan perasaan itu semakin dan semakin besar sekali.

 

            Cakka melihat saja dari kejauhan apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya tersebut. Merasa aneh juga seorang Rio bisa takut dengan orang. Yang ia tau Rio adalah orang yang keras.

           

            Rio perlahan mendekati Ify dengan langkah yang berat. Ia benar-benar memberanikan dirinnya berharap nasibnya akan sama seperti nasib Gabriel dan juga Alvin yang termaafkan. Rio menatap gadis berambut panjang ini. Ia mengamati wajah tirusnya dan ia baru menyadari bahwa sebenarnya gadis ini masih sama seperti dulu tak ada yang berubah jika gadis ini diam seperti ini.

 

 

“Alyssa . . . “lirih Rio sangat pelan sekali bahkan semut hitam dan merah pun belum tentu dapat mendengar lirihan Rio.

 

 

“Fy . Ini makanan dari Cakka”ujar Rio memberanikan diri memberikannya ke Ify. Ify sedikit kaget dengan kehadiran Rio tiba-tiba dan dengan wajah yang masih blank menerima bungkusan makanan tersebut.

 

 

“Gak loe masukin racun kan ??”Tanya Ify dengan nada sedikit sinis dengan mata terfokus melihat isi didalam bungkusan tersebut.  Rio menelan ludah, sedikit kesal juga namun ia coba untuk tahan.

 

 

“Gak Ify “balas Rio mencoba untuk sabar dan menjawab dengan penuh kepatuhan.  Ify berdiri dari tempat duduknya. Ia berdiri menatap Rio dengan tatapan yang tenang dan datar. Rio sudah mulai berkeringat dingin.

           

            Tanpa Rio duga , Ify menyunggingkan senyumnya.  Rio membelakakan matannya merasa tidak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini. Gadis didepannya ini tersenyum dan senyumnya sama dengan senyum 7 tahun yang lalu. Senyum polos dari seorang Alyssa. Rio mulai dapat bernafas legah dan saat ia ingin membalas senyum Ify.

 

 

BUUUKKK

 

 

“Gak usah ngehabisin tenaga loe secara sia-sia. “senyuman itu berubah menjadi sebuah tatapan dan ekpresi yang paling menakutkan. Membuat kelegaan yang dirasakan Rio langsung tercuat menjadi sebuah ketakutan kembali. Gadis didepannya bagaikan iblis yang bisa menyamar menjadi apapun. Dan sekali Iblis ini menyamar menjadi baik dan kembali ke sifat menakutkan itu adalah hal yang paling mengerikkan yang dirasakan dan dilihat oleh Rio.

 

            Ify membuang begitu saja makanan yang diberikan oleh Rio dengan tak berdosannya membuat makanan itu bertebaran jatuh di tanah. Setelah begitu puas dengan 1 kalimat mematikannya, Ify segera berjalan meninggalkan Rio. Gadis ini seperti tak ingin berlama-lama dihadapan Rio. Seolah Rio adalah sebuah wabah yang tak pantas untuk ditemui ataupun dihadapi karena Ify selalu ingat akan masa lalunya yang begitu pahit menurutnya jika ia melihat wajah pria itu.

                                          

            Dari kejauhan Cakka sendiri hanya bisa melotot dengan apa yang dilakukan oleh Ify ke Rio. Ia merasa sedikit menyesal dan tak enak memaksa Rio beberapa waktu yang lalu. Sepertinya benar yang dikatakan oleh Rio bahwa gadis ini seperti singa yang kelaparan yang mencari maksa dimanapun saat ada dihadapannya. Seekor singa betina yang tidak ingin dikalahkan oleh siapapun dan selalu menginginkan apa yang dia mau saat itu juga . Dan berbuat sesuka hatinnya.

****

            Ify mengambil sendiri bungkusan makanan di dalam mobil Cakka. Ia melihat juga Shilla yang sedang mengambil makanan di dalam mobil. Ify menatap gadis ini dengan tatapan yang sama ia berikan kepada Sivia saat pertama kalimelihat Sivia. Tatapan yang ramah namun sama sekali tidak terlihat ramah. 

 

 

“Minggir . . . “suruh Ify dingin. Shilla langsung membalikkan badannya dan kaget dengan kedatangan Ify. Ify menyunggingkan senyum sinisnya membuat Shilla sedikit ketakutan.

 

“Ambilin gue satu bungkus”ujar Ify lagi dan membuat Shilla mau tak mau menuruti ucapan Ify. Gadis ini benar-benar menakutkan. Ify pun menerima bungkusan makanan yang diberikan oleh Shilla. Dimana bungkusan itu adalah bungkusan makanan terakhir yang ada di dalam mobil.

 

 

“Punya loe mana ??”Tanya Ify kini dengan nada yang sangat berbeda dari sebelumnya. Nada yang begitu lembut dan mencoba akrab dengan Shilla. Shilla mengangkat makanannya yang ada di tangan kirinnya. Mulai tidak takut dengan sifat mengerikkan Ify yang mulai menghilang.

 

 

“Ah . . Selamat makan Shilla . . “ujar Ify bagaikan malaikat. Gadis ini menyunggingkan senyumnya ke Shilla. Dan Shilla pun membalas senyumannya/

 

 

“Iya kam … “

 

 

BUUUKKK

 

“Sorry gak sengaja “belum sampai akhir Shilla menyelesaikan kalimatnya. Ify langsung dengan sengaja menyenggol makanan Shilla dan membuat bungkusan kotak tersebut jatuh berantakkan. Shilla melihat ke bawah, melihat kea rah makanannya yang berantakkan.

 

            Senyum bagaikan malaikat hanya akan Ify tunjukkan jika akan melakukan sesuatu yang sangat kejam. Dan Ify suka dengan apa yang ia lakukan. Entah menagapa Ify melakukannya ke Shilla. Mungkin gadis ini tidak suka dengan Shilla.

 

 

“Gue makan dulu. Bye “Ify dengan santai langsung meninggalkan Shilla yang mematung disana. Shilla mencoba untuk tersenyum saja walaupun terpaksa. Toh, Ini bukan pertama kalinnya dia mendapat perlakukan menyakitkan.

 

            Shilla berjongkok, mencoba mengambil bungkusan makanan tersisa didalam dan tak terjatuh di tanah. Namun tangannya langsung dicegah oleh seseorang. Shilla mendongakkan kepalannya dan melihat orang tersebut yang tentu sudah pasti adalah Gabriel.

 

 

“Makan punya gue “ujar Gabriel menatap mata lembut Shilla. Dengan cepat Shilla mengalihkan pandangannya dari mata Gabriel.

 

 

“Gak usah. Aku juga masih belum lapar”jawab Shilla sebisa mungkin. Ia melepaskan genggaman tangan Gabriel dari tangannya.

 

 

“Yaudah, kalau lapar makan makanan gue “ujar Gabriel lagi. Shilla perlahan menatap Gabriel dengan tatapan “Loe gak laper?”,.Gabriel yang mengerti tatapan Shilla langsung menggelengkan kepalannya dengan senyum lembut yang ia tunjukkan.

******

            Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Pemotretan akhirnya selesai, Dan Ify cukup puas dengan hasilnya. Semuannya pun saling membantu merapikan peralatan dan barang-barang terkecuali Ify tentunnya yang seperti seorang bos. Duduk di kursi dan melihati saja apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

 

 

“KAK CAKKA !!!! . . . “suara cempreng tersebut langsung bergema diseluruh hutan. Semua mata pun menatap kea rah sumber suara. Rio, Cakka, Alvin dan Gabriel langsung membelakakan mata mereka mengetahui siapa yang muncul tersebut.

 

 

“SALASHA ??”kaget ke empat pria ini. Sedangkan Salsha hanya nyengir tak jelas dan langsung menghampiri Salsha dan merangkul manja tangan Salsha. Ia seolah tak peduli Rio sudah menatapnya dengan tajam.

 

            Ify melihat gadis yang baru datang tersebut, senyumnya terkembangkan bukan senyum menakutkan melainkan senyum benar-benar tulus. Gadis yang 7 tahun lalu begit lucu dan kini tumbuh ebagai gadis remaja yang menurut Ify sangat cantik.

 

 

“Sepertinya kamu tumbuh dengan baik dan cantik . . “gumam Ify pelan dengan mata yang masih tertuju kea rah Salsha. Tentu saja Ify masih ingat dengan gadis itu. Gadis yang pertama kali ia temui saat 7 tahun lalu ia berkunjung di rumah Rio. Gadis yang sangat ramah sekali kepadannya.

 

 

“Ngapain loe disini ? Siapa yang nganterin loe disini ? Pulang sekarang!!! “usir Rio begitu saja. Salsha menatap kakaknya kesal.

 

 

“Apaan sih. Orang baru datang udah diusir. Gue itu kesini bukan untuk loe. Tapi untuk kak Cakka. Jadi loe cukup diam gak ada hubungannya sama loe”balas Salsha tak mau kalah degan sang kakak. Rio merasa kehabisan kesabaran.

 

 

“Yo jangan pakai tangan”peringat Cakka yang tak suka melihat Rio selalu bermain tangan jika sudah marah dengan sang adik. Salsha yang merasa di bela oleh Cakka malah semakin menjadi dan merasa terlindungi.

 

 

“Terserah loe deh. “serah Rio yang kesal dan memilih langsung masuk kedalam Villa.

 

 

“Loe kesini sama siapa ?”Tanya Cakka yang heran dan mencoba melepaskan tangan Salsha dari lengannya. Salsha sedikit kecewa dan menurunkan saja tangannya.

 

 

“Staff studio. Tapi mereka udah balik katannya takut di marahin sama kakak. Jangan salahin mereka., soalnya salsha sendiri yang maksa hehehe. Kan salsha gak mau jauh-jauh dari kak Cakka . hehehe”cengir Salsha. Alvin dan Gabriel yang melihat kejadian tersebut segera memilih untuk menyusul Rio masuk kedalam Villa. Kelakukan Salsha selalu membuat perut mereka terasa mual dan menjijikkan.

 

 

“Salsha gak apa-apa kan ikut nginap di Villa. Salsha kan juga  I . . . “

 

 

“Iya-iya boleh. Yaudah kita masuk kedalam Villa. Hari sudah mau petang”ajak Cakka dan segera berjalan duluan meninggalkan Salsha yang sangat berbinar-binar .

 

****

            Shilla duduk diatas kasur, melihat ponselnya yang tidak ada sinyal. Merasa bosan juga dikamar dan ia cukup takut untuk keluar. Bagaimana jika ia bertemu Ify diluar . Pintu kamar Shilla diketok oleh seseorang.

 

 

“Shil . . “panggil seseorang diluar sana. Shilla merapikan rambutnya sebentar cukup hafal dia dengan suara ini yang tak lain adalah suara Gabriel. Shilla berdiri dan berjalan ke arah kearah pintu kamarnya dan membuka pintu kamarnya.

 

“Ada apa ?”Tanya Shilla mencoba setenang mungkin. Gabriel menggelengkan kepalannya.

 

 

“Boleh masuk ?”Shilla mengangguk ringan dan mempersilahkan Gabriel masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu ia menutup kembali kamarnya dan mengikuti Gabriel yang sudah masuk kedalam kamar dan duduk di kursi.

 

 

“Loe gak makan ?”Tanya Gabriel yang memang mengetahui Shilla sama sekali belum makan sejak tadi pagi.

 

 

“Gue gak laper kok”jawab Shilla datar. Gabriel mengangguk saja. Terjadi keheningan beberapa saat. Merasa canggung juga dengan situasi seperti ini.

 

 

“Soal semalam . . . . “

 

 

“Lupakan saja. Toh kita melakukannya sama-sama tidak ada paksaaan antara satu sama lain. Tenang aja .”sahut Shilla langsung seolah tanpa beban . Gabriel cukup kaget dengan jawaban Shilla.

 

 

“Gue boleh Tanya ?”

 

 

“Silahkan . . .”

 

 

“Loe udah maafin gue ?”

 

 

“Mungkin sudah dan mungkin juga tidak . . “

 

 

“Lalu ? maksud semalam ?”

 

 

“Gak ada maksud. Lebih jelasnya aku sendiri tidak tau bagaimana aku bisa melakukannya. “

 

 

“Kalau perasaanmu kepadaku ?”

 

 

“Perasaan ?? Entahlah . “jawab Shilla sekadarnya. Toh dia juga tak tau bagaimana perasaanya sebenafrnya.

 

 

“Gue harap kita bisa seperti dulu Shil”

 

 

“Seperti dulu ? Semoga saja . “

 

 

“Gue serius tentang gue ingin loe kembali ke gue lagi, Dan gue janji gue gak akan sakitin loe lagi seperti dulu . Gue bener-bener janji Shil . . .”

 

            Shilla diam saja kali ini. Tak memabalas ucapan Gabriel. Baginya cukup sulit untuk bisa menyukai Gabriel seperti dulu. Apalagi setelah semua yang dilakukan Gabriel kepadanya. Dan itu sangat menyakitkan sekali tentunya. Bahkan sampai sekarang pun.

 

 

*****

            Rio duduk di kursi ayunan yang berada di samping kolam renang layaknya sebuah halaman kecil. Rio meminum minuman kalengnya. Entah mengapa ia tidak bisa tidur malam ini. Rio perlahan mengarahkan pandagannya ke lain dan menemukan seorang gadis yang berjalan ke arahnya dengan membawa segelas minuman.

            Rio mengernyitkan keningnya dan mulai sedikit membeku , binggung dengan apa yang harus ia lakukan. Gadis it uterus berjalan santai dan memang benar gadis itu berjalan ke arahnya. Rio meneguk ludahnya beberapa kali. Dan eperti biasanya ia hanya bisa diam mematung.

 

 

“Boleh gue duduk di sebalah loe ?”Tanya gadis itu meminta izin ke Rio. Dan gadis itu adalah Ify. Mala mini Ify terlihat sangat cantik walau dengan baju santai. Celana pendek dan kaos pendek dan rambut yang selalu ia urai.

 

 

“Boleh gak ?”Tanya Ify sekali lagi karena tak ada jawaban dari Rio.

 

 

“Eh ? iya iya silahkan”gugup Rio dan sedikit menggeser duduknya agar Ify dapat kebagian tempat duduk. Dan dengan tanpa bebannya Ify langsung duduk disebelah Rio.

 

            Keheningan mulai menyebar di sekitar dua anak ini. Mereka berdua sibuk dengan minuman kaleng mereka. Hanya menatap tenangnya air kolam renang. Fikiran mereka mulai kemana-mana. Dan membayangkan berbagai hal yang ada di otak mereka saat ini.

 

 

“Gimana kabar loe selama 7 tahun terakhir ini ?”Tanya Ify datar. Rio menolehkan wajahnya ke Ify. Cukup kaget dengan pertanyaan gadis ini. Dan juga takut tentunya Ify akan mengucapkan kata tajam lagi kepadanya. Walaupun Rio sendiri merasa pantas mendapatkan serangan esetiap ucapan tajam dari gadis ini.

 

 

“tidak cukup baik. Setelah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal “jawab Rio sejujur mungkin, setenang mungkin . Ify sedikit tertawa pelan mendengar jawaban Rio.

 

 

“Loe masih suka mabuk ?”Ify menyeruput kembali minumannya dan tetap menatap ke depan,

 

 

“Sejak kejadian itu. Gue mutusin gak pergi ke diskotik lagi bahkan mabuk atau pun merokok. Walaupun susah buat ngejauhinnya tapi akhirnya berhasil “

 

 

“Bagus”sahut Ify singkat

 

 

            Mereka saling diam kembali, dan terjadi kehening lagi. Hanya bisingan suara tokek dan jangkrik yang saling beriringan yang dapat terdengar di telinga mereka.

 

 

“7 tahun yang lalu . . . . . sangat mengesankan . . “ujar Ify dengan senyum diwajahnya. Benarbenar sebuah senyum yang natural bukan senyum yang menakutkan. Rio mengernyitkan keningnya.

 

 

“Mengesankan ??”

 

 

 

“Yah, mengsankan dan juga mencekamkan “

 

 

“Maaf . . .”lirih Rio yang mengerti akan maksud ucapan gadis disampingnya ini. Ify berdiri dari tempat duduknya.

 

 

“Terimakasih tumpangan duduknya . “ujar Ify dan segera meninggalkan Rio disana yang hanya bisa mematung melihat kepergian Ify. Mungkin Rio cukup binggung dan tidak tau bagaimana sifat asli gadis tersebut saat ini. Yang kadang-kadang seperti malaikat namu jika sudah berubah menjadi iblis. Begitu menakutkan sekali.

 

 

*****

            Ify berjalan untuk kembali menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti seketika. Ify merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Bukan Rio, yang ia rasakan ada seseorang lain yang mengawasinya dari jauh. Ify mengedarkan pandagannya ke sekitarnya.

 

            Ify hanya tersenyum datar, tak berfikir panjang dan segera kembali ke kamarnya. Saat ia kembali ke kamarnya dan menaiki tangga. Ify tak sengaja bertemu dengan Sivia dan Alvin yang terlihat sangat akrab.

 

 

“Hai”sapa Ify dengan wajah baiknya yang ia tunjukkan. Sesaaat Alvin kaget dan sedikit kaku, Sivia mencoba membalas senyum gadis didepannya itu.

 

 

“Loe berdua pacaran ?”Tanya Ify tanpa fikir panjang. Sivia dan Alvin nampak kaget dengan pertanyaan Ify serta binggung untuk menjawab apa.

 

 

“Gak perlu dijawab. Gue hanya bertanya dan gak perlu banget jawabannya”lanjut Ify dengan singkat padat dan jelas. Setelah itu ia langsung melanjutkan jalannya tanpa mengucapkan apapun. Sivia dan Alvin hanya bisa menggelahkan nafas panjang mereka. Aura Ify memang sangat kuat dan menakutkan.

****

 

 

            Sivia dan Alvin memilih duduk di ruang tamu, Sivia meninggalkan Iqbal yang sudah tertidur akibat kelelahan. Mereka berdua seolah asik dan semakin akrab dengan perbincangan mereka berdua.

 

“Lagi ngapain ?”tiba-tiba Cakka datang dan ingin bergabung. Baik Sivia dan Alvin langsung menjauhkan diri mereka sedikit jauh merasa kaget dengan kedatangan Cakka.

 

 

“Santai aja . Gue hanya ingin duduk sebentar. Dikamar panas”jelas Cakka yang tak ingin menganggu. Cakka mengambil duduk di dekat Alvin. Alvin menganggukkan kepalannya. Namun Sivia terlihat sedikit tak nyaman dengan situasi ini.

 

 

“Gue ambilin minum dulu ya “ujar Sivia dan tanpe meminta persetujuan dari Alvin atau Cakka , Sivia segera berdiri dan berjalan kea rah dapur.

 

            Cakka dan Alvin menatap punggung Sivia yang semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat. Setelah beberapa detik kemudian mereka saling bertatapan.

 

 

“Loe gak marah kan ?”Tanya Alvin sedikit hati-hati.

 

 

“hah??”jawab Cakka berpura-pura tak mengerti dengan arah pembicaraan Alvin.

 

 

“Gue dan Sivia . . “

 

 

“Ahh . . .Gak juga . Sepertinya dia lebih nyaman dengan loe dari pada gue”jawab Cakka tenang.

 

 

“Jadi loe mau nyerah . .”

 

 

“Gak “jawab Cakka singkat dan jelas. Terlihat dari dua sorot matanya sedikit tajam. Alvin mengangguk-anggukan kepalannya mencoba menerima jawaban Cakka.

 

 

“Lalu ?”

 

 

“Sampai dia benar-benar mengatkkan bawaha dia memilih loe dan menjadi pacar loe. Gue akan nyerahin dia “

 

 

“Oke. Gue setuju . “

 

 

“hm”dehem Cakka yang tak tau harus membalas apalagi.

 

 

“Tidak ada pertengkaran, ikhlas, lapang dada, bener-bener ngerestuin”Alvin menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Cakka.

 

 

“Tidak ada pertengkaran, ikhlas, lapang dada dan bener-bener ngerestuin “balas Cakka mantap dan membalas jabatan tangan Alvin. Keduanya saling tersenyum tanpa beban. Mereka berdua hanya berusaha menghadapi kenyataan dan kedewasaan mereka. Mereka benar-benar harus berfikir jernih untuk keadaan ini.

****

            Sivia membuatkan 2 kopi untuk Alvin dan Cakka serta satu gelas jeruk untuk dirinnya. Sivia mengaduk-aduk 2 kopi tersebut agar larut didalam air panas yang ia tuangkan di gelas kacanya. Sivia berhenti mengadukkan kopinya. Ia seolah melihat sebuah bayangan pada gelas yang ada di hadapannya. Sivia membeku dalam beberapa saat. Bayangan dalam gelas kaca itu masih tetap ada. Sivia tak berani membalikkan badannya.

 

“Alvin !!!”teriak Sivia langsung dan seketika itu bayangan yang ada di gelas kaca itu menghilang dengan cepat.

 

 

“Alvin !”teriak Sivia sekali lagi. Dan tak lama kemudian bukan Alvin saja yang datang, Cakka juga ikut mendatangi Sivia di dapur. Mereka berdua terlihat cemas dan takut terjadi apa-apa kepada Sivia.

 

 

“Kenapa Vi ??”Tanya Alvin dan Cakka bersamaan. Sivia menampakkan wajah tak enak, merasa sedikit bersalah karena membuat cemas dua orang di depannya ini.

 

 

“Gak ada apa-apa. Hanya saja gelasnya ada 3 aku gak bisa bawanya ke ruang tamu”jelas Sivia sambil tersenyum kaku. Alvin dan Cakka menghela nafas legah.

 

 

“Gue yang akan bawain”ujar Cakka dan langsung berjalan menghampiri Sivia. Cakka langsung mengambil start lebih awal dari Alvin. Sivia terlihat sedikit kebinggungan , ia menatap Alvin yang juga menampakkan wajah kagetnya beberapa detik. Namun setelah itu Alvin menganggukkan kepalanya ke Sivia menunjukkan kode agar Sivia membiarkan saja Cakka membawakan dan membantu Sivia membawa gelas tersebut.

 

 

“Gue akan bantu bawa gelas yang satunya”ujar Alvin dan mengambil satu gelasnya lagi. Kedua orang tersebut kembali berjalan menuju ruang tamu. Sivia pun mengikuti dua lelaki itu.

 

            Namun Sivia berhenti beberapa saat, Ia membalikkan badannya untuk mengecek kembali. Namun tak ada apa-apa disana. Sivia pun tak ambil pusing lagi dan segera berjalan kembali untuk bergabung bersama Cakka dan Alvin yang pasti sudah menunggu dirinnya.

****

            Shilla, Gabriel sama-sama turun kebawah karena mendengar tawa Cakka dan Alvin yang sampai di kamar mereka. Sivia melihat Shilla yang juga menatapnya. Shilla hanya menunduk saja tak berani mengangkat kepalannya merasa malu dengan yang lainnya.

 

 

“Lagi ngapain loe semua ? berisik tau gak !!”sewot Gabriel dan mengambil duduk di sebalah Cakka.

 

 

“Duduk Shil”suruh Alvin kepada Shilla. Shilla pun mengangguk saja.

 

 

“Sini sebelah gue “suruh Sivia sambil mengembangkan senyum manisnya. Shilla nampak ragu, namun ia mau tak mau duduk di sebelah Sivia.

 

 

“Lagi ngomongin apaan sih ?”Tanya Gabriel yang penasaran.

 

 

“Loe tau pertanyaan nonsense? Gue kasih pertanyaan loe bisa jawab gak ??”tantang Cakka yang tadinya sudah mengetes Alvin dan Sivia dan hasilnya kedua manusia itu tertawa karena tak bisa menjawab dan merasa di permainkan oleh Cakka.

 

 

“Bisalah. Itu mah gue jagonya”ujar Gabriel membanggakan dirinya. Alvin malah tertawa meremehkan Gabriel.

 

“Gak bakal bisa jawab loe !! “ujar Alvin skiptis. Gabriel hanya membalas dengan lirikan tajam tak terima dengan ucapan Alvin.

 

 

“Kasih gue pertanyaan “ujar Gabriel ke Cakka yang sudah tidak sabar lagi. Cakka menganggukan kepalannya dan memulai untuk menebakki Gabriel.

 

 

“Gue hanya kasih satu pertanyaan.kalau loe bisa jawab gue kasih loe uang 10 juta . deal ?”

 

 

“Sumpah ? Deal banget!!”antusias Gabriel yang semakin berkobar.

 

 

“Mulai ya. Loe ikutin kata-kata gue. Ayam bertelor 2 “

 

 

“Ayam bertelor dua “Gabriel mulai mengikuti ucapan Cakka

 

 

“Ayam bertelor lagi 3 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 3”Gabriel mengikuti lagi dan menadpaatkan insting untuk menghitung telor ayam yang disebutkan Cakka.

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“telor ayam pecah 10 “

 

 

“Telor ay . . . telor ayam pecah 10”Gabriel nampak sedikit kebinggungan dengan hitungannya. Melihat Gabriel yang focus menghitung dengan jari-jarinya membuat Alvin cekikkan. Sivia juga terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalannya merasa lucu dengan yang dilakukan Gabriel.

 

“Ayam bertelor lagi 15”

 

 

“Ayam bertelor lagi  . . bertelor lagi 15 “Gabriel semakin kesulitan dan rebut menghitung. Cakka menatap Gabriel lekat-lekat.

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang ??”tanya Cakka dan langsung membuat Gabriel berfikir keras. Wajahnya terlihat menghitung jemarinya dan mengingat ada berapa telor ayam yang disebutkan oleh Cakka.

 

 

“14 telor ayam “jawab Gabriel semangat .

 

 

“SALAH!!!!”teriak Alvin dan Cakka puas dan langsung tertawa bersamaan. Cakka dan Alvin sling ber- high five melihat wajah binggung Gabriel.

 

 

“Kok bisa salah sih ? gue ngitungnya udah bener !!”protes Gabriel tak terima.

 

 

“Yakin udah bener ??”

 

 

“ya .  . .kin .. . yakinlah “

 

 

“Gue ulangi lagi ya “

 

 

“coba-coba loe ulang lagi”setuju Gabriel yang merasa tak terima jawabannya disalahkan. Cakka menganggukan kepalanya dan akan mengulangi pertanyaan kembali.

 

 

Loe ikutin kata-kata gue. Ayam bertelor 2 “

 

 

“Ayam bertelor dua “Gabriel mulai mengikuti kembali ucapan Cakka dari awal

 

 

“Ayam bertelor lagi 3 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 3”

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“telor ayam pecah 10 “

 

 

“Telor ayam pecah 10”

 

 

“Ayam bertelor lagi 15”

 

 

“Ayam bertelor lagi 15 “Gabriel terus mengikuti ucapan Cakka.

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang ??”Tanya Cakka sekali lagi diakhir pertanyaanya

 

 

“14 telor ayam “jawab Gabriel sangat yakin

 

 

“SALAH!!!!”teriak Alvin dan Cakka lebih kencang. Membuat Gabriel menatap Cakka dan Alvin frustasi.

 

 

“Kok bisa salah ??”teriak Gabriel tak terima.

 

 

“Ribut apaan sih loe semua ?? aisshh . . . “Rio tiba-tiba datang dari arah dapur setelah itu berjalan menghampiri teman-temannya yang asik berkumpul.

 

 

“Yo. Loe mau nyoba tes otak loe sekalian gak ?? Pertanyaan Nonsense”tantang Alvin yang ingin mencari taming agar menjadi korban Cakka sama seperti dirinnya.

 

 

“Pertanyaan Nonsense??”Rio nampak berfikir .

 

 

“Boleh juga. “lanjut Rio menyetujui tantangan Alvin.

 

 

“Jawabannya yang bener apa dulu ? Gak mungkin gue salah jawab!!!”teriak Gabriel frustasi dan tak terima. Merasa di permainkan.

 

 

“Loe diem dulu. Benerin otak loe dulu. “ujar Alvin sambil terkekeh kekeh puas dengan mengerjai Gabriel.

 

 

“Gue mulai ya Yo . Loe ikutin kata-kata gue. Ayam bertelor 2 “

 

 

“Ayam bertelor dua “kini giliran Rio yang mengikuti permainan benar-benar tak masuk akal ini.

 

 

“Ayam bertelor lagi 3 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 3”

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “Rio mengikuti dengan cepat tak seperti Gabriel yang sambil menghitung pakai jari.

 

 

“telor ayam pecah 10 “

 

 

“Telor ayam pecah 10”

 

 

“Ayam bertelor lagi 15 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 15 “

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang ??”tanya Cakka terakhir kalinya sama seperti opertanyaanya kepada Gabriel.

 

 

“14 telor ayam “jawab Rio datar . ia cukup pintar dengan hitungan sederhana seperti ini.

 

 

“SALAH!!!”teriakan Cakka dan Alvin menggema kembali. Rio mengernyitkan keningnya.

 

 

“Kan bener 14 ?!! Loe berdua gak bisa ngehitung ya ??”protes Gabriel semakin menjadi. Sedangkan Rio sibuk mulai mengulang hitungannya.

 

 

“bener kan yo 14 telor ayam ??”

 

 

“Iya bener 14 “angguk Rio seperti anak sd yang sangat polos sekali.

 

 

“Bal . .Bal . .Bal  Loe sini bal. “Cakka yang melihat Iqbal tiba-tiba keluar kamar langsung memanggil pria kecil itu. Iqbal yang sepertinya baru saja bangun tidur pun menghampiri Cakka. Dan sedikit binggung dengan manusia-manusia yang sedang berkumpul diruang tamu.

 

 

‘”Apaan ?”Tanya Iqbal sedikit skiptis. Cakka yang memang merasa tak ada masalah dengan Iqbal langsung menanyai Iqbal.

 

 

“Loe mau gue kasih pertanyaan nonsense gak ? tiga pria bodoh ini sudah gak bisa jawab. Sivia juga. Shilla juga. Kalau loe bisa jawab. Gue akan kasih apapun yang loe mau “

 

 

‘Apaapun yang gue mau ??”mta kantuk Iqbal langsung terbuka. Merasa mendapat tawaran yang sangat menggiurkan.

 

 

“Yah, Apapun yang loe mau “

 

 

“Oke!!”Iqbal nampak berbinar-binar. Wajahnya menunjukkan kesombongan bahwa ia akan bisa menjawab pertanyaan Cakka. Dirinnya tentu tidaklah bodoh akan pertanyaan-pertanyaan nonsense/tidak masuk akal.

 

 

““Gue mulai ya Bal . Loe ikutin kata-kata gue. Ayam bertelor 2 “

 

 

“Ayam bertelor dua “Iqbal dengan wajah santai dan tenang mengikuti ucapan Cakka.

 

 

“Ayam bertelor lagi 3 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 3”

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“Ayam bertelor lagi 4 “

 

 

“telor ayam pecah 10 “

 

 

“Telor ayam pecah 10”Iqbal tersenyum kearah Cakka seolah tau akan jawaban yang diberikan oleh Cakka.

 

 

“Ayam bertelor lagi 15 “

 

 

“Ayam betelor lagi 15 “

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang ??”Iqbal tertkekeh sejenak. Merasa pertanyaan Cakka benar-benar tak masuk akal. Dan siap-siap akan menjawab pertanyaan Cakka.

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang “

 

 

“Ada berapa telor ayam sekarang”kata-kata tersebut tak hanya keluar dari mulut Iqbal. Melainkan suara gadis yang mengejutkan yang lainnya. Mereka semua menoleh kearah ke sumber suara yang lain yang merupakan suara Ify yang sudah berdiri di dekat tangga sedari Iqbal diberi pertanyaan.

 

 

“Pertanyaan bodoh macam apa seperti itu. Dan orang sebodoh apa yang gak bisa jawab pertanyaan mudah seperti itu”sindir Ify sangat tajam membuat Gabriel, Alvin, Rio menundukkan kepalannya merasa kata-kata itu mengarah kepada dirinnya. Sedangkan Cakka hanya cekikikan pelan. Gabriel dan Rio nampak baru mengerti akan pertanyaan Cakka. Dimana dari awal Cakka memang sudah mengatakan kata “ Loe ikutin kata-kata gue “ . Dan bukan mengarah kepada hitungan atau berapa sisa telor ayam  yang ada. Melainkan mengharuskan dari awal mengikuti semua ucapan Cakka. Dan itulah jawabannya “ Ada berapa telor ayam sekarang “.

 

 

“Apakah kita semua harus bermain truth or dare disini ?”tantang Ify kepada semua yang ada didepannya . Dimana Ify mengambil sebuah botol Aqu berukuran sedang yang ia temukan di bawah meja.

 

 

Bersambung . .. . .

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s