REVIL – 21 “What this is ?”

Part Twenty one of Revenge of Devil  >> follow @luckvy_s . Read and comment . thankyou all😀 .

PG-13 (pengawasan Bapak/Ibu) .

 

 

REVIL – 21

“What this is ?”

 

               

                Semuaya sudah terlelap dengan sangat nyenyak. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi sejak setengah jam selesainya permainan paling menegangkan dan paling gila itu. Keadaan rumah begitu sangat sepi dan sunyi. Lampu disemua ruangan pun sudah dipadamkan.

 

“AAAARGGGGSSSSSHHHH!!! “

 

“KAK RIOOOOOOOOOO!!!!!! “

 

            Sebuah jeritan begitu keras terdengar dari kamar atas, Dan tak butuh waktu lama beberapa detik dari selesainya jeritan itu semua kaamr terbuka dan memunculkan para penghuninnya dengan wajah shock, setengah sadar, dan masih berwajah swollen.

 

            Rio menatap Cakka yang kamarnya berada di sampingnya. Mereka terdiam untuk beberapa lama. Saling pandang dan mencoba mencari suara itu kembali yang sudah tidak ada.

 

“Yo. Itu bukannya suara salsha ya ??”Tanya Cakka sambil mengucek-ucek matannya dan suara serak dari tenggorokannya.

 

“iya Cakk. Kayak suarannya Salsha. “sahut Rio yang tak ada bedanya Cakka dengan wajah yang masih setengah mengantuk.

 

            Gabriel nampak berjalan mendekati Cakka dan Rio. Ia menggaruk-garuk rambutnya sedikit frustasi. Merasa tidurnya terganggu.

 

“Adik loe kehabisan obat lagi Yo ?. Gak di rumah, gak di rumah orang, gak di manapun sukannya teriak-teriak aja “

 

“Loe fikir adik gue gila “

 

“Bukan gue yang ngomong”seremopak Cakka dan Gabriel bersamaan membuat Rio hanya mendesisi tak enak. Teman-temannya selalu saja pintar membalikkan omongan .  Kini giliran Alvin yang terakhir keluar kamar dan mendekati sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul.

 

“Adik loe kenapa sih ?”Tanya Alvin dengan wajah sedikit serius. Rio mengangkat bahunya seolah menjawab bahwa ia sendiri tidak tau.

 

“Awasa aja kalau ia berteriak malam-malam kayak orang gila Cuma gara-gara cicak atau kecoa. Gue bunuh adik loe”kini giliran Alvin yang mulai kesal. Tentu saja bagi Rio, Alvin dan Gabriel begitu kenal dekat dengan Salsha. Mereka tau jelas bagaimana sifat dan tingkah adik Rio.

 

 

“AAAAAARGHHHHHSSS!!!!!”

 

“OH MY GOD!!!!”

 

“ALVVVVIINNNNNNNN “

 

            Suara jeritan kembali keluar, namun kali ini bukan suara Salsha, melainkan suara para gadis yang ada di lantai dua. Lebih tepatnya suara Ify dan Sivia yang terdengar begitu keras. Mendengar suara teriakan kedua gadis itu. Baik Alvin, Rio, Gabriel dan Cakka segera berjalan kea rah tangga/

 

“VINN. . Vinnn. . VIINN . . . .”Sivia menuruni tangga mendekati para cowok terutama Alvin dengan wajah benar-benar sangat panic dan ketakutan.

 

“It . . It . It . . Vin. . It . Itu Vin . . . it .. . “Sivia terlihat kehabisan nafas dan tak bisa menjelaskan apapun. Begitu shock baginya saat ini. Semuanya pria didepannya hanya mengernyitkan kening binggung dan penasaran.

 

“Vi. Tenang Loe tenang dulu. Loe tenang. Jelasin pelan-pelan. “suruh Alvin mencoba menennagkan Sivia.

 

“Tarik nafas. Keluarkan. Tarik naf . .. .”

 

“CEPET PANGGIL AMBULAAANNN!!!!! “teriak Ify yang muncul dari kamar Salsha dengan wajah tak kalah paniknya dengan Sivia. Dan ini bagi mereka semua melihat wajah Ify yang biasanya tenang dan datar seperti iblis menjadi wajah yang benar-benar ketakutan dan penuh kepanikan.

 

“SALSHA DIBUNUH ORANG”ujar Sivia akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata dari apa yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Dan membuat dirinnya, Ify teriak begitu keras.

 

            Mendengar ucapan Sivia, Rio, Alvin dan Gabriel langsung berlari dengan kecepatan cepat menaiki tangga. Mereka tak berfikir untuk mengekspresikan kekagetan mereka. Mereka hanya terfikirkan satu na,a gadis itu. Apalagi Rio yang merupakan kakak kandung Salsha, tentu dialah yang paling khawatir dan takut diantara yang lainnya.

 

            Cakka masih dibawah  , di lantai 1 bersama Sivia yang masih sulit untuk bernafas, masih kaget dengan apa yang ia lihat. Cakka berusaha menenangkan Sivia dan dengan perlahan menuntun Sivia ke atas tangga untuk menyusul anak-anak yang lainnya. Dengan keadaan rumah yang masih tanpa penerangan.

 

            Rio,Gabriel dan Alvin langsung mematung seketika itu di depan pintu saat melihat seorang gadis tergeletak tak berdaya di bawah kasur dengan begitu banyaknya darah yang menglir.

“Ngapain loe semua diem aja !!! Cepet panggil Ambulans atau polisi atau semacamnya. Dia bisa mati!!!”teriak Ify menyadarkan ketiga anak ini. Rio langsung mendekati Salsha , duduk mengangkat tubuh adiknya di pangkuannya. Ia tak peduli darah itu merembes di semua baju dan tangannya.

 

“Vin loe cepat panggil Ambulans atau polisi”ujar Gabriel kepada Alvin,  Alvin pun langsung keluar dan melakukan perintah Gabriel.

 

“Sha. Sha bangun Sha. Sha .. “Rio menepuk-nepuk berulang pipi adiknya. Namun tak ada respon membuat Rio semakin ketakutan dan cemasnya tak terukur.

 

“Sha. Sha. Ini kak Rio. Sha. Kamu jangan bercanda. Sha bangun!!!!”

 

“Gue udah cek nafas dan nadinya . . .”Ify nampak berfikir dan menimbang-nimbang untuk melanjutkan ucapannya.

 

“Adik loe udah gak ada”ujar Ify akhirnya mencoba menenangkan wajahanya. Jujur saja, wajah Ify saat ini pun sama tegangnya dan ketakutannya dengan yang lain. Mendengar ucapan IFy, Rio menatap Ify sangat tajam.

 

“Gak mungkin!!”desisi Rio tajam dan masih terus berusaha membangunkan sang adik.

 

“SHA !! BANGUNNN!!!! “teriak Rio begitu keras.

 

“Sha kalau loe gak bungun, Kak Rio beneran akan marah banget sama kamu. Sha jangan main-main cepat bangun!!!! “

 

            Gabriel melihat darah yang mengalir begitu semakin banyak. Ia segera mendekati Rio dan Salsha. Kini ia ikut berjongkok dan ingin membuktikan ucapan Ify. Gabriel memeriksa nadi Salsha setelah itu ia mendekatkan telingannya ke dada Salsha lebih tepatnya memeriksa detakan jantung gadis ini. Dan yang terakhir ian meletakkan telunjuknya ke hidung Salsha.

 

            Gabriel melepaskan Salsha, dengan desahan yang berat.  Ternyata ucapan Ify sangat benar. Gabriel menepuk-nepuk pelan bahu Rio. Membuat Rio tak bisa berkata apapun. Tentu saja Gabriel tak akan berbohong.

 

“Sha. . Bangun Sha. . Sha . . “tubuh Rio mulai gemetar hebat. Ia meremas-remas tangannya yang penuh darah. Mengepalkannya kuat-kuat.

 

“SALSHAAAAAAA!!! “

 

            Rio berteriak sangat frustasi. Ia langsung mendekap tubuh adiknya dengan erat dalam pelukannya. Tak peduli bajunya semakin banyak terkena darah.

 

            Semuanya mematung, baik Ify, Gabriel, Cakka dan Sivia yang baru datang. Namun mereka nampak tak menyadari adanya seorang gadis yang sedari tadi hanya berdiri mematung di pojok sofa dengan wajah benar-benar ketakutan. Bahkan gadis itu terus meremas-remas tangannya yang mengeluarkan banyak keringat. Meneguk ludahnya berulang-ulang. Menahan badannya yang terus gemetar. Ia melihat darah yang sebegitu banyaknya membuat kejadian 7 tahun yang lalu kembali terputar sempurna di otaknya.

 

“Shilla bukan pembunuh . . .”

 

“Shilla bukan pembunuh  .  “

 

            Semua mata langsung tertuju ke Shilla saat mendengar ucapan Shilla yang langsung membingungkan banyak orang disana. Shilla nampak berjalan mundur perlahan sampai akhirnya terpojok di tembok.

 

“Shil . Kamu kenapa ?”Tanya Gabriel yang khawatir dengan Shilla. Ia mendekati Shilla perlahan.

 

“SHILLA BUKAN PEMBUNUH!!!”

 

“SHILLA BUKAN PEMBUNUUUUHHHH!!!Shilla berteriak histeris tak karuan, perlahan tubunya melorot kebawah.

 

“SHILLA BUKAN PEMBUNUUUHHHHH!!!”jerit Shilla semakin tak karuan. Shilla meremas-remas dan menjabak-jambak rambut panjang tak karuan. Shilla semakin terlihat frustasi. Ia menangis penuh ketakutan. Air matannya tiba-tiba turun begitu deras begitu saja.

 

“SHILLA BUKAN PEMBUNUH!!! SHILLA BUKAN PEMBUNUH!!!”gadis ini terus mengulang-ulang ucapannya. Gabriel pun langsung mendekap tubuh Shilla dalam pelukannya. Mencoba menenangkan Shilla sebisa mungkin.

 

            Shilla memberontak dalam pelukan Gabriel, tangisannya semakin menjadi. Shilla tak ada henti-hentinya menutup telingannya dan setelah itu menjambaki rambutnya seperti seorang gadis yang depresi berat dengan suatu trauma yang berat.

 

“SHILLA BUKAN PEMBUNUH. . “

 

“iya Shill. Kamu bukan pembunuh. Kamu tenang Shil. Tennag. . . . “ujar Gabriel lembut dan membelai rambut Shilla pelan-pelan.

 

“Kak . Shilla bukan pembunuh. Bukan Shilla yang bunuh kak. Bukan Shilla. Bukan kak. . . . “isak Shilla tak bisa tertahankan.

 

“Disini gak ada sinyal sama sekali”ucap Alvin dengan nafas tergesah-gesah. Terlihat ia habis berlari. Keringan bercucuran di wajah Alvin. Dengan tangan yang membawa begitu banyak ponsel. Sepertinya Alvin mengambili ponsel cakka. Gabriel dan Rio.

 

“Semuanya gak ada?:”Tanya Cakka memastikan. Ia langsung mendekati Alvin dan mengecekki satu persatu. Dan benar saja, tak ada sinyal satu pun di ponsel mereka. Nampaknya mereka melupakan bahwa mereka saat ini berada ditengah hutan.

 

“Shilla bukan pembunuh. . . . “

 

“Shilla bukan pembunuh kak. /”

 

“Shilla kenapa ?”Tanya Alvin yang memang baru datang. Dan semuanya hanya mengangkat bahunya tak tau dan juga sama pensarannya dengan Alvin.

 

            Sedangkan Rio masih terus mencoba membangunkan adiknya. Ia masih tak percaya bahwa adiknya meninggal. Perlahan Shilla sudah mulai cukup tenang. Gabriel membantunya untuk berdiri pelan-pelan. Gabriel merangkul Shilla dan masih terus saja menangkan Shilla.  Dan yang menjadi pertanyaan utama saat ini adalah . .. . . .

 

“Siapa yang melakukan ini ?”suara Ify langsung membuat mereka semua yang ada dikamar ini saling berpandangan.

 

            DPPPPPPPP

 

“YAAAA!!!”teriak semua orang disana sangat kaget saat lampu dikamar ini padam. Bahkan bisa dibilang lampu di rumah ini. Alvin segera menyalakan lampu layar ponselnya dan senter yang ada di ponsel Gabriel. Cakka membantu membawa satu ponsel di tangan Alvin. Begitu juga dengan Sivia ikut membantu Alvin dengan wajah yang sama takutnya. Kejadian ini benar-benar tiba-tiba dan sangat . . .. menakutkan.

 

“Kita harus pulang malam ini juga. “ujar Cakka tak mau tau. Semuanya pun mengangguk setuju. Wajah mereka tak sebegitu terlihat karena terlalu minimnya cahaya. Cakka menyenterkan kea rah Rio dan tubuh Salsha yang dipelukannya.

 

“Yo, kita harus bawa adik loe keluar dari sini. Cepat angkat dia. Ambil barang-barang kalian seperlunnya dengan cepat. Yang cewek jangan pernah mengambil sendirian. “

 

“Yo , loe cepat bawah adik lo ke ruang tamu , Gue akan menemani Ify ke kamarnya dulu, Sivia dengan Alvin dan Shilla dan Gabriel”semuannya mengangguk saja. Rio yang mulai menyadarkan dan menghilangkan dulu perasaan sedihnya akan kepergian sang adik mencoba menahannya. Yang terfikirkan saat ini, ia  hanya ingin membawa adiknya keluar dari sini secepatnya.

 

            Rio pun segera membopong adiknya dengan darah yang menetes, dan dengan ponsel Gabriel yang ia selipkan ditangannya sebagai penerangan. Sedanglan yang lainnya mulai berpencar untuk mengambil barang-barang mereka secepat mungkin.

****

            Cakka menemani Ify memasuki kamarnya, Ify berusaha masih bersikap tenang dan dengan cepat mengambil tasnya dan memasukkan gadeget kedalam tasnya. Ia tidak peduli dengan koper yang ia bawah.

 

“Udah ?”Tanya Cakka. Ify mengangguk dan segera ikut keluar dari kamar bersama Cakka, keadaan kamar yang gelap membuatnya merinding sendiri. Setelah itu Ify mengikuti Cakka untuk ke kamar Cakka.

****

            Sivia telah membawa tasnya yang tak beda dengan IFy hanya berisi gadeget dan dompet. Barang-barang ia lainnya tak ada niatan untuk ia bawah. Ia sudah tak bsia berfikir normal lagi melainkan hanya ketakutan hebat yang ia rasakan saat ini. Sivia tak ada henti-hentinya menggandeng Alvin dan tak mau dilepaskan. Membuat Alvin sedikit kesusahan memasukkan kamreanya dan notebooknya ke tasnya.

 

“Vin gue takut . . . “lirih Sivia saat Alvin sudah mengangkat tasnya. Alvin menatap wajah Sivia yang memang terlihat ketakutan hanya dengan cahaya minim seperti itu. Alvin lantas menggengam erat tangan Sivia.

 

“Gue  selalu ada disamping loe”ujar Alvin meyakinkan. Sivia mengangguk menurut . mereka berdua pun segera keluar dari kamar dan dengan cepat berjalan kea rah ruang tamu dimana sudah ada Rio disana bersama dengan tubuh adiknya.

****

            Gabriel membantu Shilla memberesi barangnya, karena Shilla masih belum sadar sepenuhnya. Jujur saja, Gabiel sangat penasaran kenapa tiba-tiba Shilla menjerit seperti itu dan mengatakkan bahwa ia bukan pembunuh. Gabriel jadi teringatkan sesuatu. Ia menatap Shilla sebentar yang berada di belakangnya. Namun setelah itu ia langsung menarik Shilla keluar kamar. Gabriel nampaknya tidak ingin membahas sekarang dan menanyakannya sekarang. Ia takut Shilla akan depresi seperti tadi.

****

            Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu dengan wajah tegang, kecemasan dan penuh ketakutan. Dan tidak termunafikkan juga bahwa Cakka, Gabriel, Alvin dan Rio sama takutnya seperti mereka semua.

 

“Vin loe temani gue keluar. Kita nyalakkan dulu lampunya. “ajak Cakka, Alvin pun mengangguk dan mencoba melepaskan tangan Sivia. Namun Sivia menggelengkan kepalannya dan semakin erat menggegam tangan Alvin.

 

“Sivia ketakutan “ujar Alvin lebih mendekatkan penerangan ke wajah Sivia. Dan gadis itu terlihat benar-benar takut.

 

“Yaudah ajak Sivia juga”ujar Cakka yang tak mau berlama-lama. Mereka bertiga pun menuju ke pintu depan yang dapat terlihat dari ruang tamu.

 

JKKKKKGJEEKKKKKK . . .

 

JKKKKKGJEEKKKKKK . . .

 

JKKKKKGJEEKKKKKK . .

 

“Kenapa Cakk?”Tanya Alvin yang ada dibelakangnya.

 

“Pintunya gak bisa dibuka Vin “ujar Cakka tetap terus mencoba membuka pintunya namun percuma , pintunya tertutup begitu rapat. Alvin yang tak percaya segera melepaskan paksa tangan Sivia dari genggamannya dan mengecek sendiri.

JKKKKKGJEEKKKKKK . . .

 

JKKKKKGJEEKKKKKK . .

 

Dan pintunya memang benar-benar terkunci saat ini. Sekeras apapun Alvin mencoba menarik pintu ia tetap tak bisa terbuka. Cakka dan Alvin saling bertatapan sebentar.

 

“Dobrak Cakk .. . “ujar Alvin dan diangguki Cakka. Mereka berdua pun mengambil ancang-ancang.

 

“Gue bantu”ujar Gabriel dan segera berjalan mendekati Alvin dan Cakka. Ikut mengambil ancang-ancang.

 

“satu . . .”Alvin mulai memimpin hitungan.

 

“Dua . . “

 

“Tiga “

 

BRAAAAAAAAAAKKKK

 

            Pintu tetap tak bergeming, Padahal dobrakan mereka bertiga sudah begitu keras, Mereka pun tak mau menyerah dan mencobannya sekali lagi.

 

BRAAAAAAAAAAAAAAAKKK

 

            Dobrakan kedua lebih keras, Namun pintu tersebut masih tetap tak terbuka bahkan tak bergeming sedikit pun seperti sebuah batu besar yang tak bisa diapa-apakan.

 

“Kita coba sekali lagi”ujar Gabriel kepada Alvin dan Cakka. Mereka pun kembali mengambil ancang-ancang .

 

BRAAAAAAAAAAKKKK

 

Dan untuk ketiga kalinnya. Pintu tersebut tetap seperti semula. Alvin, Cakka dan Gabriel merasakan kesakitan dibagian tubuhnya . Mereka sudah mengeluarkan kekuatan mereka sepenuhnya. Rio yang melihat teman-temannya seperti itu lantas ikut andil. Ia menidurkan tubuh adiknya di sofa dan menutupi tubuh adiknya dengan selimut yang dibawakan oleh Gabriel. Rio berjalan mendekati teman-temannya.

 

“Guys. . Terakhir kali dengan kekuatan bener-bener power Full”ujar Rio dan mau tak mau ketiga orang tersebut mengambil ancang-ancang kembali. Menahan rasa sakit tubuh mereka untuk sesaat.

 

“Satu”kini Rio yang mengambil alih hitungan

 

“Dua”

 

“Tiga”

 

BRRRRRRRRAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK

 

            Dan untuk ke empat kalinnya, pintu tersebut tak bisa dibuka dan sama sekali tak bergeming. Seolah ada lem tebal menempel pada pintu tersebut. Cakka, Gabriel dan Alvin mengatur nafas mereka yang ngos-ngosan dan merengangkan otot mereka yang terasa kaku serta tulang mereka yang seperti patah semua.

 

“Sekali lagi gu . . .. “

 

“Percuma yo. Pintunya gak bisa dibuka “potong Alvin meyakinkan Rio dengan ekspresinya yang sudah tak kuat untuk mendobrak pintu itu lagi.

 

 

“Kita coba pintu belakang”ujar Rio yang tak ingin menyerah.

 

“Buat apa ?/? Loe sedari malam di belakang dekat kolam renang kan. Dan itu indoor. Semuanya tertutup dan kita tak bisa keluar dari sana. Pintu satu-satunya hanya pintu ini”jelas Cakka yang membuat semuanya semakin takut dan cemas. Mereka semua lantas berjalan kembali ke ruang tamu. Duduk di kursi ruang tamu dalam diam.

 

“Siapa yang melakukan ini semua ??”pertanyaan itu kembali terlontarkan, Namun bukan dari mulut Ify melainkan berasal dari mulut Alvin. Terlihat kefrustasian didalam suara Alvin. Dan untuk kedua kalinya pula mereka saling berpadangan kembali dengan sinar cahaya yang remang-remang dan sangat terbatas. Rumah ini terlihat bahkan terasa begitu mencekamkan. Semua lampu padam, membuat mereka tak bisa melihat apapun, pintu yang terkunci rapat sehingga tak ada jalan untuk keluar, udara yang semakin panas karena bukan hanya lampunya saja, namun semua listrik di rumah yang begitu megah ini telah terpadamkan. Ditambah lagi mereka saat ini berada di tengah hutan dan mereka sedang berada disituasi yang mereka sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Dan dengan satu mayat terbunuh di dekat mereka. Fikiran mereka penuh dengan kata dan dan dan, bagaimana bagaimana bagaimana, apa apa apa apa. Siapa Siapa Siapa.  Nampaknya 5W 1H terus berputar di otak mereka semua.

 

“Siapapun  yang melakukan ini, Sangat sangat tidak lucu”ujar Gabriel tak kalah frustasi dari Alvin.

 

“Gue akan maafin siapa yang bunuh adik gue”ujar Rio tajam, dan entah menagapa matanya tertuju ke arah Ify. Dan Ify langsung menyadari akan tatapan itu, Ify tersenyum sinis kea rah Rio.

 

“Loe fikir gue yang ngelakuinnya ?? Gue masih waras. Kalau gue ingin bunuh orang , itu bukan adik loe. Gue akan langsung bunuh loe !!! “ucapan Ify yang sangat tajam membuat Rio berfikir kembali dan membenarkan ucapan Ify. Dan dilihat Ify adalah orang yang tak suka menghabiskan waktunya bahkan melakukan suatu yang percuma dan tak suka hal-hal yang sangat ribet. Pastinya jika Ify membunuh seseorang itu sudah pasti dirinya dan tidak tertuju ke adiknya.

 

“Shil loe kenapa tadi teriak-teriak seperti itu”kini giliran Cakka yang bertanya penuh penyelidik membuat Shilla langsung kebinggungan menjawab. Ia benar-benar takut dan tak bisa menjelaskannya. Itu adalah kejadian yang sangat ingin ia lupakan dari otaknya.

 

            Gabriel lebih erat merangkul Shilla, lantas mencoba menjelaskan kepada teman-temanya karena ia tau bahwa Shilla tak akan bsia menjelaskan situasinya sekarang.

 

“Guys  . Kalian ingat 7 tahun yang lalu saat Shilla menghilang”Gabriel memulai ceritannya. Alvin, Rio, dan Cakka menganggukkan kepalannya.

 

“Dan kalian masih ingat cerita gue saat gue mencari Shilla dirumahnya dan menemukkan mayat ayah tiri Shilla dengan darah yang banyak”mereka mengangguk kembali.

 

“Yah, Itu jawabannya “ujar Gabriel namun masih belum sepenuhnya dimengerti oleh yang lainnya. Apalagi bagi Ify dan Sivia yang memang tak tau apapun.

 

“maksud loe ?”Gabriel nampak menimang-nimang memilih untuk menjelaskan secara detail atau tidak.

 

“Aku yang bunuh ayah tiriku sendiri”ujar Shilla memberanikan mengeluarkan suarannya. Tatapannya begitu sangat miris.

 

“Dia nyoba bunuh aku. Lalu aku sudah gak kuat dan aku bunuh dia . Setelah itu aku kabur “jelas Shilla kembali membuat mereka semua sangat kaget sekaget kagetnya.

 

“Akibat kejadian itu aku mengalami gangguan kejiwaan. Aku takut dan sangat takut sekali. Melihat darah sedikit saja sangat takut. Apalagi kejadian tadi .It . It . it . .”Shilla tak bisa lagi meneruskan kata-katannya. Ia berhambur dalam pelukan Gabriel. Dan untuk cerita Shilla yang satu ini, Gabriel pun baru mengetahuinya. Dna jujur, ia sangat lebih merasa sebelumnya. Gadis ini begitu sangat menderita akibat dirinnya.

 

“Shill maafin gue . . “bisik Gabriel pelan. Shilla tak menjawab sedikit pun dan anya terisak dalam pelukan Gabriel saat ini.

 

“Oke. Gue Tanya kalian satu persatu. Dimana kalian saat Salsha teriak ?”tanya Cakka melakukan pengintrogasian untuk menemukan pelakunnya. Yang tentu saja mungkin diantara mereka ber-7 .

 

“Gue tidur. “jawab Ify datar .

 

“Gue juga “ujar Alvin menyusul Ify .

 

“Gue juga “kini Sivia yang mengeluarkan suarannya walau terdengar sedikit gemetar

 

“Gue juga tidur.”jawab Gabriel

 

“Ak . . Aku juga lagi tidur dikamar. “ujar Shilla yang mulai melepaskan pelukannya dari Gabriel. Shila masih menampakkan ketakutannya. Takut akan situasi ini dan takut juga dituduh menjadi tersangka.

 

“Gue sama , tidur kayak kalian”jawab Rio .

 

“Dan gue juga tidur”Cakka menjawab atas pertanyaannya sendiri. Semuannya diam kembali, tak ada bukti apapun disini.

 

“Ak . . Aku denger suara berisik-berisik sebelumnya”ujar Shilla yang langsung membuat mata semuanya mengarah ke Shilla.

 

“Kamarku ada disamping kamarnya Salsha, sebelum salsha teriak, ada suara sedikit gaduh disana. Aku tidak berfikir panjang, karena Salsha memang seperti itu kan anaknya. Suka berisik”lanjut Shilla menjelaskan apa yang ia tahu. Dan ucapan Shilla dibenarkan oleh yang lainnya.

 

“Suara gaduh ? gue yakin Salsha dibunuh.”ujar Alvin dengan sangat yakin.

 

“ Tapi tadi tidak ditemukan pisau kan ?”tanyanya kepada siapapun yang bisa menjawab. Rio yang baru mengingat hal tersebut segera mengecek tubuh sang adik.  Dan ia menekukan sayatan pisau dalam sekali dan juga panjang  dibagian tengkuk belakang Salsha.

 

“Siapa yang smapai dikamar Salsha duluan ?”Tanya Rio

 

“Gue dan Sivia”ujar Ify dengan cepat.

 

“Dan gue sama sekali tidak menemukan Pisau. “ujar Ify dengan jujur, Rio menatap Ify penuh menyelidik. Nampaknya Rio masih belum bisa mempercayai ucapan Ify.

 

“Kalau loe gak percaya. Tanya sama SHilla. Dia ada setelah 1 menit gue dan Sivia masuk”Rio mengalihkan pandangannya ke Shilla, dan gadis itu mengangguk-anggukan kepalannya mengiyakan ucapan Ify yang sama sekali tidak berbohong.

 

            Semuannya kembali terdiam, tidak bisa menemukan appaun. Otak mereka terasa buntuh saat ini. Bagaimana ini bisa terjadi ? Apa motof dari pembunuhan ini ? Dan menagapa Salsha yang menjadi sasarannya ?. Dan siapakah yang melakukan ini?. Mereka semua ingin sekali mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Namun semakin mereka semua memfikirkannya kepala mereka terasa semakin sakit dan dengan hasil nol, mereka tak menemukan jawabannya sama sekali.

            Jam terus berdetak, kini satu jam telah berlalu sejak kejadian itu. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ketakutan masih menyelimuti mereka semua. Mereka tak membayangkan, mereka berada didalam situasi seperti film-film pembunuhan atau horror yang pernah mereka lihat di layar televisi.

 

CKLEEEKK .  .

 

            Terdengar suara pintu terbuka, Mereka semua seketika merapat ketakutan . Sivia mengeratkan tangannya pada tangan Alvin, begitu juga dengan Shilla yang merangkul lengan Gabriel takut.  Ify mencoba untuk tidak takut, namun ia sedikit was-was dengan apa yang akan terjadi .

            Terlihat seseorang berjalan dari arah dekat dapur dan hanya terlihat bagian atas wajah yang bercahaya putih. Sangat sangat menakutkan. Wajah putih itu perlahan bergerak dari arah kamar tersebut yang jaraknya bisa dibilang lumayan sedikit jauh dari ruang tamu. Namun masih bisa terlihat.

 

“WAAAAAAAA!!!!”teriak mereka semua saat wajah tersebut semakin mendekat kearah mereka. Bahkan Cakka, Alvin , Gabriel dan Rio langsung membeku seketika , Sivia dan Shilla telah berada dipelukanAlvin dan Gabriel.

 

“Berisik loe semua”teriak Ify merasa kesal dengan orang-orang disekitarnya. Gadis ini sama sekali tak merasa ketakutan.

 

“Gak usah alay. Itu Iqbal kan “lanjut Ify membuat mereka langsung terdiam sesaat.  Sivia dan Shilla pun perlahan melepaskan persembunyian mereka dari tubuh Alvin dan Gabriel.

 

“Kok lampunya mati sih ?? Panas banget didalam kamar”benar saja, suara Iqbal mulai terdengar. Rio mengarahkan senter dari ponsel Gabriel yang ia bawah kea rah Iqbal. Dan benar saja itu adalah Iqbal yang masih setengah sadar.

 

“Aisshh. . Loe ngagetin tau gak!!”kesal Alvin yang disetujui oleh Cakka dan Gabriel. Mereka semua membuang nafas berat mereka bersama-sama. Iqbal mengerjapkan matanya berulang-ulang. Ia tak mengerti kenapa semuanya berkumpul seperti ini.

 

“Lampunya mati ya ?”Tanya Iqbal yang berusaha mengumpulkan seluruh nyawannya.

 

“Iya”jawab Alvin dan Cakka bersamaan. Sivia pun segera berjalan kea rah Iqbal dan langsung memeluk anaknya. Sivia sendiri baru ingat bahwa dia membawa Iqbal kesini. Ketakutannya membuat dirinya tak bisa berfikir apapun.

 

“Kamu gak apa-apa kan bal? gak ada yang lecet kan?”Tanya Sivia penuh dramatis . Iqbal nampak kebingungan melihat mamanya yang begitu khawatir dengannya.

 

“Iqbal gak apa-apa kok Ma. Emangnya ada apa sih ?”Tanya Iqbal yang akhirnya penasaran. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Iqbal kali ini. Semuanya masih saja diam.

 

“Salsha dibunuh”akhirnya Rio yang membuka suara. Iqbal membelakakan matanya tak peracaya.

 

“Hah? “kaget Iqbal .

 

“Kalian bermain truth or Dare semalam sampai bunuh orang ?? GILA KALIAN!!! “teriak Iqbal yang langsung tertuju dan teringat akan permainan semalam yang dilakukan orang-orang didepannya ini dan membuatnya sangat frustasi padahal ia tidak ikut bermain dengan mereka.

 

“Aisshh. Ya enggak mungkinlah kita bermain sampai melayangkan nyawa. Ini serius. Ada yang bunuh Salsha dan kita tidak tau siapa pelakunnya “kini Alvin lebih memperjelas , Awalnya Iqbal tidak percaya namun saat melihat Rio membukakan selimut yang terlihat Salsha sudah tak bernyawa disana membuat bulu kuduk Iqbal langsung merinding.

 

“Ayo ma kita pulang. Iqbal gak mau disini”ujar Iqbal yang sudah mulai ketakutan.

 

“Pintunya terkunci dan gak bisa dibuka. Kita semua terjebak disini”jelas Alvin kembali dan semakin membuat Iqbal ketakutan.

 

“Tenang Bal. Tenang. Ada mama disini. Kita tidak akan kenapa-kenapa. Kamu percaya mama kan ? Kita tidak akan apa-apa “Sivia mencoba menenangkan sang anak sebisa mungkin. Walau sebenarnya dirinnya juga sama ketakutannya seperti Iqbal. Namun ia tidak ingin membuat anaknya depresi akan ketakutan yang melanda mereka semua dan situasi mencekamkan ini.

 

“Sebentar lagi pagi, Kita nunggu sampai ada cahaya matahari. Setidaknya jika pagi, kita bisa berfikir jernih dan tidak takut akan gelap”jelas Cakka yang diangguki yang lainnya.

 

“Mungkin jam 7 sinar matahari akan bisa masuk didalam hutan. Jadi kita harus tetap bersama-sama dan jangan ada yang sampai sendirian , Karena kita belum tau siapa pembunuhnya. Yang terpenting kita harus keluar dari sini “jelas Cakka kembali .

 

            Mereka semua pun memilih untuk duduk dibawah kursi ruang tamu. Dengan tubuh yang lemas dan berantakkan. Rasa kantuk mereka benar-benar sudah hilang. Hanya ada ketakutan dan kecemasan saja saat ini. Dan selama beberapa jam kemudian, Tidak terjadi apapun. Mereka hanya terus diam dibawah cahaya yang remang-remang dan sangat minim tersebut.

 

            Ify menatap lurus, ia memperhatikan orang-orang disekitarnya satu persatu. Wajah mereka terlihat bercampur-campur tanpa ada kebahagiaan disana. Saat Ify melihat ke arah dapur. Ia tak sengaja melihat sebuah cahaya kecil muncul lalu padam, setelah itu muncul kembali sampai akhirnya cahaya itu terlihat terang membuat Ify memebelakakan matanya. Dan mematung beberapa saat.

 

“Kita harus cepat keluar dari sini”ujar Ify dengan nada yang terdengar takut. Semua mata menatap ke Ify binggung. Mereka melihat Ify seolah baru saja bertemu hantu.

 

“Fy loe gak apa-apa kan ?”Tanya Cakka yang berada disamping Ify.

 

“Kita harus cepat keluar dari sini atau kita semua akan mati disini”lanjut Ify membuat yang lainnya jadi merinding sendiri dan sedikit tak mengerti ucapan Ify.

 

“Maksud loe apa sih ?”Tanya Alvin mewakili yang lainnya yang tak mengerti akan ucapan Ify.

 

“Jika sang pelaku hanya mengincar Salsha itu sepertinya tidak mungkin. Kalau ia hanya membunuh Salsha , dia tidak akan mengunci pintu tersebut sampai tidak dibuka. Motif semua ini adalah mengunci kita semua disini. Dan kita tidak tau sampai kapan kita bertahan. Dan akhirnya mungkin membunuh kita semua. Dan gue gak mau mati konyol disini”jelas Ify dengan nada penuh penekanan dan tatapan tajam.

 

“Tapi ini masih jam 4 lebih 15 menit. Percuma tak ada penerangan disini dan kita tidak bisa berbuat apapun. Kita semua sama-sama takut”Gabriel mulai mengeluarkan pendapatnya dan dibenarkan yang lainnya. Ify juga nampaknya memfikirkan ucapan Gabriel.

 

“Jam 7 saat matahari udah muncul, kita harus bisa keluar dari sini”ujar Ify dengan sangat yakin dan penuh kobaran. Mencobamenghilangkan semua rasa takutnya.

****

            Dan akhirnya waktu yang mereka tunggu datang juga, Jam dinding menunjukkan pukul 7 tepat dan cahaya matahari mulai terlihat masuk dari lubang-lubang ventilasi rumah ini. Mereka semua segera berdiri . Melihat kea rah sekitar ruangan yang sama sekali tidak terjadi apapun dan masih sama seperti semula. Dan tidak ada yang mencurigakkan.

 

“Kita bagi tugas sekarang”ujar Cakka memimpin yang lainnya. Karena Cakka sendiri adalah yang tertua disini.

 

“Yang cowok terkecuali Iqbal,  cari apa aja yang bisa membuka pintu ini. Obeng, atau benda berat yang lainnya. Kita coba untuk buka pintu ini. “

 

“Dan untuk para cewek cukup duduk disini saja. Jangan kemana pun sendirian . Meskipun ini sudah pagi. Tidak ada yang tau akan apa yang akan terjadi selanjutnya”jelas Cakka, dan yang lainnya pun menuruti saja intruksi dari Cakka. Semua pria dewasa langsung bersama-sama mencari apapun yang bisa mereka dapatkan untuk membuka pintu.

 

            Dan 60 menit kemudian, mereka kembali dengan membawa barang-barang seperti obeng, pisau dapur, gunting, dan banyak alat lainnya. Mereka langsung mencoba membuka pintu dengan menggunakan barang-barang tersebut. Berusaha mati-matian bahkan beberapa kali mencoba mendobraknya kembali.

 

“Cakk. Pintunnya kuat banget. “ujar Alvin yang berusaha mencukil lubangan kunci dan sama sekali tidak bisa bergerak sedikit pun .

 

“Iel . Kita coba dobrak sekali lagi”ajak Rio dan diangguki oleh Gabriel .

 

“Satu . .”

 

“Dua .. “

 

“Tiga”

 

BRAAAAAAKKKKK

 

“Aisshhh,   . . . .”desis Rio dan Gabriel sama-sama kesakitan. Ini sudah ke 10 kalinnya mereka mencoba mendobrak pintu ini dan hasilnya nihil. Pintunya benar-benar tertutup rapat tak bisa dibuka.

 

            Mereka semua sudah terlilhat sangat lelah, mereka terduduk lemas. Menyerah untuk membuka pintu ini. Raut wajah ketakutan mulai nampak kembali menyelimuti mereka semua. Ditambah tubuh Salsha yang mulai membiru dan harus cepat segera dibawah ke rumah sakit untuk diotopsi dan juga segera dimakamkan tentunnya.

 

“Bagaimana ini ? Pintunya benar-benar tidak bisa terbuka ??”Tanya Sivia yang masih berharap para pria itu mengatakkan kata bisa . Namun pada kenyataanya memang tak bisa terbuka. Sivia mendapatkan jawaban gelengan kepala dari mereka semua.

 

“Ma . Iqbal haus .  . “lirih Iqbal yang merasakan tenggorokannya kekeringan.

 

“Gue juga haus banget”lirih Alvin dan diangguki Cakka, Rio dan juga Gabriel. Namun tak ada yang bergeming untuk berdiri ke Dapur. Mereka sepertinya cukup takut.

 

“Gue yang ambilin “ujar Ify dan berdiri dari tempat duduknya. Namun belum sempat Ify melangkahkan kakinya terdengar suara pecahan piring dari arah dapur yang mengagetkan mereka semua.

 

 

PYAAAAAAARRRRR

 

            Mereka semua mematung, begitu juga dengan Ify tak melangkahkan sama sekali kakinnya. Mereka saling bertatapan sebentar.

 

“Kita semua disini kan ? Gak ada yang lainnya kan ??”Tanya Alvin mulai was-was dan menghitungi teman-temannya seolah sedang mengabsen. Dan memang benar tak ada yang tertinggal satu pun.

 

“Gue akan cek”ujar Ify yang tak mau berlarut dalam ketakutan.

 

“Jangan!! Kalau ada apa-apa sama loe gimana ?”cegah Rio menghentikkan langkah Ify.

 

“Gue mati sekarang dan mati nanti akan sama saja. Ujung-ujungnya kita semua mati. Tapi satu hal, Gue gak mau mati konyol tanpa usaha sedikit pun untuk berjuang hidup. “ujar Ify tajam ke Rio dan melanjutkan langkahnya kembali.

 

“Gue temenin loe”ujar Rio dan segera mengikuti Ify. Ify memilih diam saja dan tetap melanjutkan jalannya. Rio segera mengimbangi langkah Ify dan menemani gadis itu menuju dapur.

 

            Dari area ruang Tamu nampak cemas karena tak melihat Ify dan juga Rio kembali dari dapur. Namun masih terdengar suara perbincangan serius  mereka berdua. Dan sedikit suara kegaduhan disana. Mereka semakin merasa khawatir. Dan tak lama kemudian kedua orang itu menampakkan wajah mereka dan berjalan kea rah ruang tamu dengan wajah tak bisa tergambarkan.

 

“Kita semua bisa mati disini . . . . “

 

 

Bersambung . . .. . . .  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s