STORY OF DEVIL FAMILY – 2

Terima kasih yang udah baca crta ini, dan suka dengan cerita ini. Makasih banyak *deepbow*. Dilike silahkan gak dilike juga silahkan. Di comment silahkan gak di comment jga silahkan. Kalian udah baca sampai selesai g setengah2 dan terhibur dg crta ini aja aku udah banyak banyak terima kasih kepada kalian. Maaf kalo aku ada salah. Terima kasih semuannya.

 

STORY OF DEVIL FAMILY – 2

 

            Bima menutup pintu kamarnya pelan-pelan. Ia akan memilih untuk tidur di kamar tamu. Bima menuruni tangga rumahnya dan sedikit kaget saat mendapati papanya sedang berada diruang tamu dengan piyama seolah mencari sesuatu.

“Papa lagi ngapain?”Tanya Bima yang mengagetkan Rio. Rio berjalan mendekati Bima . Bima yang tadi sore belum sempat menayalami papanya , ia segera menyalami papanya dengan salam ala Bima-Rio. Dimana mereka saling berpelukan setelah itu saling megacak rambut kemudian saling meninjukkan kepalan tangan sambil mengatakkan “good luck” secara bersamaan.

“Kamu belum tidur ?”kini Rio yang bertanya balik kepada anaknya. Bima menggelengkan kepalannya.

“Tadi Alyn minta ajarin kimia, terus ketiduran di kamar Bima, mangkannya ini Bima mau tidur di kamar tamu. Papa nyari apaan sih ?”jelas dan Tanya Bima kembali dengan apa yang dilakukan oleh papanya.

“Nyari kunci mobil papa, kayaknya tadi tertinggal disini. “ujar Rio masih mengedarkan pandagannya. Dan akhirnya melihat kuncinya yang ada diatas meja dekat tangga.  Ia pun segera mengambil kunci mobilnya tersebut.

“udah sana tidur. Besok kamu sekolah kan”suruh Rio kepada Bima. Bima menganggukan kepalannya dan berjalan menuju kamar tamu. Namun baru beberapa langkah, Bima menghentikkan langkahnya dan membalikkan badannya.

“Pa . . “panggil Bima membuat Rio yang sudah berjalan menaiki tangga lantas menhentikkan langkahnya dan membalikkan badan menghadap Bima.

“Ada apa lagi Bim?”Tanya Rio dengan sabar meladeni anaknya walaupun ia sudah cukup lelah dan mengantuk.

“Tadi gimana ??”Tanya Bima dengan nada yang penasaran. Rio tak mengerti dengan pertanyaan Bima. Ia mengernyitkan keningnya.

“tadi ? apanya ?”Bima menatap papanya skeptis.

“Ya tadi pa. Yang itu loh pa”

“Yang apaan sih ? yang mana?”Rio malah semakin tambah binggung. Bima mendesisi kesal. Merasa papanya ini pura-pura tidak mengerti apa sok gak ngerti.

“Yang sama bunda tadi loh pa. Program buat adek Pa”ujar Bima langsung to the point karena papanya tak mengerti-mengerti. Rio sedikit kaget dengan arah pertanyaan Bima, Sedikit salah tingkah juga harus menanggapi pertanyaan bima bagaimana.

“Terus? Kenapa??”Bima mendecak kesal. Mengangguk-angguk pasrah melihat papanya yang betingkah bodoh seperti itu.

“Ya. Ya . Ya gak apa-apa Pa. udah sana balik ke kamar  . Jangan lupa kunci kamar Pa. Takutnya pas nanti  udah mau nyampe klimaks , Bi Ina tiba-tiba masuk”

“BIMAAAA!!!”teriak Rio geram akan ucapan anaknya yang memang benar sangat mematikan. Sedangkan Bima sudah cekikan dan berlari masuk kedalam kamar tamu. Rio menghelakan nafas beratnya, geleng-geleng dengan kelakukan anaknya yang menurutnya lebih mirip ke Ify yang mempunyai lidah tajam. Rio pun segera memilih kembali ke kamar dan tidak lupa mengunci pintu (?).

*****

            Matahari mulai terbit dari ufuk timur, memperlihatkan cahaya paginya yang sangat indah. Alyn membuka matannya saat mendengar suara alarm yang begitu nyaring. Alyn mengerjapkan matanya beberapa kali dan sedikit kaget karena ini tidaklah kamarnya. Alyn segera membangunkan tubuhnya. Dan mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.

“Mampus. Ini kan kamarnya Bima. Aduuhh gue kok bisa ketiduran sih .  . . “Alyn segera berdiri dari kasur. Dan dengan cepat memakai slippernya. Ia takut Bima akan menyemprotmya dengan sumpah serapah yang lebih tajam.

            Alyn keluar dengan hati-hati, mencoba melihat situasi apakah tidak ada tanda-tanda kedatangan Bima. Ia berdiri di depan pintu kamar Bima sambil clingak-clinguk seperti maling yang diburu warga sekampung.

“Loe ngapain kayak orang ngintip gitu”

“YAAAAA”teriak Alyn kaget tiba-tiba mendengar suara Bima yang terdengar di belakangnya. Dengan keberanian yang menciut, perlahan ALyn membalikkan badannya dan mendapati Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sekarang hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Sedangkan atasnya benar-benar neked.

“AAAAAAAAAARRGGGHSSSS”jerit Alyn yang benar-benar kaget dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bima mengernyitkan keniningnya melihat Alyn yang menurutnya seperti orang bodoh.

“Loe kesurupan? Apa lagi acting jadi orang idiot??”sinis Bima menatap Alyn aneh. Alyn menggeleng-gelengkan kepalannya tak berani membuka tangannya.

“Loe kenapa sih ?”

“It ..  it. . itu. . .baj . . ba. . . loe . . loe . . “

“Setelah acting idiot, loe sekarang acting gagu??”Alyn mendesis kesal dan langsung melepaskan kedua tangannya dari wajahnya. Ia menatap Bima tajam. Tak peduli ia sekarang dapat melihat jelas dada bidang Bima dan kulit putih badan Bima serta perut Bima yang benar-benar sixpack.

“Loe yang idiot!! Ngapain loe gak pakek baju!!”bentak Alyn kehabisan kesabaran. Bima terdiam sejenak merasa bahwa gadis didepannya ini benar-benar orang paling bodoh yang ia temui.

“gue habis mandi bego! Jelaslah gue gak pakai baju. Emang loe pernah lihat orang mandi pakek baju ? Otak itu dipakai jangan dengkul loe pakai”Alyn menahan amarahnya saat ini. Kepalannya sudah terasa panas dan mengeluarkan kepulan asap-asap yang berapi akibat ucapan pedas Bima.

“Gue tau! Tapi seharusnya loe pakai baju kalau keluar dari kamar mandi. Loe nyepetin mata gue tau gak!!”Bima tertawa sinis mendengar ucapan Alyn. Perlahan Bima mendekati Alyn dengan tatapan kesal.

“Ini kamar gue, terserah gue mau pakek baju kek, mau pakek celana kek bahkan mau telanjang kek. Terserah gue. Dan urusan mata loe sepet. Bukan urusan gue. !! Sekarang loe keluar dari kamar gue !!”usir Bima dengan tajam. Dada Alyn sedikit sakit karena ucapan tajam Bima namun ia mencoba biasa, toh biasannya Bima juga seperti ini. Kasar kepada dirinnya.

“Gue juga gak betah berlama-lama di kamar loe. Thanks”ujar Alyn dan segera keluar dari kamar Bima.

“Woy Alien berhenti!!”teriak Bima memanggil Alyn kembali dan membuat Alyn menahan kesabarannya kembali dan membalikkan badannya kea rah kamar Bima.

“Apaan? Nama gue Alyn bukan Alien udah gue bilang berapa kali sih!!”

“Berisik tau gak loe. Ini buku loe!!”Bima langsung melemparkan begitu saja buku-buku Alyn dan untung saja Alyn dengan sigap menangkap buku-bukunya tersebut. Sedangkan Bima sudah mengebrak pintu kamarnya tanpa lembut-lembutnya sedikit pun.

“Ada manusia kayak loe. Kasihan nanti istri loe!! Orang bego aja yang mau pacaran atau jadi istri pria kasar tidak berperi kemanusian dan ber peri keadalina kayak loe!!”geram Alyn sangat kesal sekali. Setelah puas mengata-ngatai Bima, Alyn segera berjalan menjauhi kamar Bima untuk menuju kamarnya. Alyn harus cepat-cepat mandi sebelum Bima akan meninggalkannya lagi.

****

            Sarapan pagi ini, setidaknya lumayan special untuk Bima, Karena papa dan bundanya lengkap berada di meja makan. Namun yang tidak membuatnya nyaman mungkin gadis yang sekarang duduk dihadapannya yang dengan tenang memakan makannya.

“Alyn, gimana sekolah kamu ? Bisa ngikutin pelajarannya ?”Tanya rio membuka pembicaraan pagi ini.

“Gak bisa pa!! Otaknya terbuat apa sih tuh cewek. Batu kali ya”

“BIMAAA . . . “desis Ify ke sang anak. Bima seolah tak peduli dan melanjutkan makannya lagi. Sedangkan Alyn harus menyimpan amarahnya kembali agar tidak meluap. Ia tidak bisa memerahi Bima jika ada kedua orang tuannya. Alyn hanya tidak ingin menyakiti hati tante Ify dan om Rio yang sudah sangat baik sekali kepadanya. Alyn mencoba untuk tersenyum.

“Lumayan kok Om, meskipun agak susah. Kan emang Alyn gak sepintar Bima”ujar Alyn yang selalu berkata jujur dan apa adannya.

“Untung nyadar”

“Bima sekali lagi kamu nyela ucapan orang , bunda tarik mobil kamu”Bima mendesisi kesal. Menatap tajam kea rah Alyn yang nampak puas sekali melihat dirinnya dimarahi oleh Ify.

“lama-lama juga nanti akan bisa, kamu harus selalu belajar yang rajin , Om tau kamu anak yang pintar”

“Preeettt”

 

PTAAAKKK

 

“BUNDAAA SAKITTT!!!”Bima meringgis memegangi kepalannya yang mendapat jitakan sendok nasi yang besar di kepalannya oleh sang Bunda. Ify menatap anaknya dengan bringas.

“Berani nyela lagi ? Piring bunda yang melayang dikepala kamu”ancam Ify membuat Bima benar-benar memilih diam seribu bahasa. Karena Bima tau bundanya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Rio hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Bima yang 11-12 dengan bundanya sebenarnya.

“Yo, schedule kamu hari ini apa ? kamu keluar negeri lagi??”Tanya Ify yang memang kemarin tidak sempat menanyakan jadwal suaminya kepada sekertaris Rio.

“Enggak, Aku mungkin stay di Indonesia. Pekerjaan di luar negeri rata-rata sudah clear”jelas Rio , Ify mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rio.

“Pa. Bima nanti sepulang sekolah ke kantor papa ya. Bima ingin bantuin Papa lagi. Hitung-hitung belajar di dunia bisnis”

“Jangan-jangan bim, papa punya tugas buat kamu”ujar Rio dengan cepat. Bima mengernyitan keningnya binggun.

“Tugas ? Apa?”Tanya Bima binggung. Rio nampak melihat kea rah Ify dahulu meminta persetujuan untuk memberitahukan ini semua. Ify pun menganggukkan kepalannya.

“Papa dan Bunda kemarin beli mobil buat Alyn, jadi nanti setelah pulang sekolah kamu ajarin Alyn nyetir”

“HEH? Kenapa harus Bima ? ogah!!!”

“Bima. Ini perintah!!”tegas Ify karena Bima langsung menolak. Bima menatap bundanya sedikit kesal.

“Bun, kenapa gak belajar di tempat kursus mobil aja kan lebih mudah. Ogah, Bima masih banyak urusan”

“Gak baik buat anak cewek, apalagi kurusnya nanti Alyn pasti sore sampai malam. Kalau ada apa-apa sama Alyn gimana ? Kamu mau tanggung jawab ?”

“Itu derita dia. Masa  bodoh Bima, lagian anak bunda Bima apa si Alien ini sih”kesal Bima yang selalu di anak tirikan dengan gadis menyebalkan di depannya tersebut.

“Kamu itu anak bunda, tapi Alyn juga udah Bunda dan papa anggap sebagai anak kita. Jadi secara gak langsung kamu punya tanggung jawab buat jagain Alyn”Bima tertawa sinis mendengar ucapan mamanya.

“Teori aneh dari mana lagi”sinis Bima hanya geleng-geleng saja.

“Lagian buat apa si Alien di beliin mobil. Sekolah juga sama Bima , emangnya dia mau kemana lagi selain sekolah? mau mangkal atau nyari om-om?”Bima benar-benar sudah terbawa akan emosinnya. Usia yang masih labil membuat ucapannya selalu seenaknya. Alyn mendengar ucapan Bima langsung membelakakan matannya. Baru kali ini ucapan Bima benar-benar menyakiti hatinnya. Apaakah dia serendah itu dimata Bima. 

“BIMA JAGA UCAPAN KAMU!! “bentak Ify yang menunjukkan kemarahannya kepada sang anak. Rio memegang tangan Ify agar tidak terpancing sampai menyakiti hati anaknya.

“tante gak apa-apa kok, Bima mungkin cuma bercanda”ujar Alyn segera agar tante Ify tidak marah. Walaupun sebenarnya hatinya sekarang merasa sakit hati. Bima nampak masih tak peduli. Ia hanya diam saja dan focus ke makanannya. Namun dalam otaknya ia sendiri menyalahkan ucapannya yang sepertinya sudah keterlaluan. Tapi ? mau minta maaf ??. Tidak mungkin. Bima terlalu memfikirkan gengisnya dan imagenya..

“Maafin Bima ya Alyn. Bima memang begitu anaknya”Alyn memaksakan untuk tersenyum.

“Gak apa-apa tante”jawab Alyn ingin sekali menangis saat ini. Apakah dia benar-benar sehina itu dimana Bima. Padahal kedua orang tuannya saja tidak pernah mengatainnya seperti itu.

“keluarin semua kartu kredit kamu”ujar Ify kepada Bima. Bima menghentikkan makannya menahan rasa amarahnya. Mamanya tidak pernah semarah ini kepadannya.

“Fy, Jangan seperti itu.  Udah Fy, kayak kamu gak kenal anak kamu aja”ujar Rio untuk mencoba menennagkan Ify dan mengurangi amarah Ify kepada anaknya.

“Jangan manjain Bima lagi Yo, dia udah bener-bener kelewatan. Setajam apapun lidah gue, gue gak pernah ngatain orang yang tidak bersalah”balas Ify tajam dan membuat Rio tak berani lagi membantah. Bima pun segera mengambil dompetnya dari belakang celana seragam sekolahnya. Ia segera mengeluarkan semua kartu kreditnya.

“Udah semua ?”Tanya Ify dingin.

“Udah bun”jawab Bima lemas. Ia benar-benar merasa bersalah membuat bundanya sangat marah kepadanya untuk pertama kalinnya. Ify mengambil 5 kartu kredit Bima tersebut dan segera memotong-motongnya dengan tangannya sendiri. Baik Rio, Alyn bahkan Bima membelakakan matannya dengan apa yang dilakukan oleh Ify.

“Bun , Bi . . .”belum sempat Bima melanjutkan kata-katanya, Ify langsung berdiri dari meja makan dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Bima menundukkan kepalannya merasa bersalah sekali kepada bindanya.

“Alyn, kamu berangkat sana, minta anterin sama Pak Budi. Bilang disuruh Om “suruh Rio yang langsung menyadarkan Alyn yang masih syok. Alyn yang tak ingin membantah lagi, segera mengangguk dan menyalami Rio.

“Alyn berangkat dulu Om”Alyn melihat sekilas kea rah Bima yang mematung disana sambil menundukkan kepalannya membuat Alyn tak tega. Masalah ini hanya karena dirinnya. Dengan langkah tertahan Alyn berjalan keluar rumah. Sebenarnya ia ingin menghampiri tante Ify dan mengatakkan bahwa dia benar-benar tidak apa-apa dan tante Ify tidak marah kepada Bima.

*****

            Rio berdiri dari kurisnya dan menghampiri sang anak. Ia menepuk-nepuk punggung Bima beberapa kali.

“Ayo kita kekamar bunda kamu. “ajak Rio dengan suara pelan. Ia sebenarnya juga merasa marah kepada sang anak, namun jia ia juga mengobarkan apinya pasti Bima akan merasa sangat tertekan. Rio  selalu berusaha menjadi penengah antara Bima dan Ify. Karena jujur saja, Rio sangat memanjakkan Bima, karena Bima adalah anak satu-satunnya dan tentunya nanti akan mewarisi semua apa yang ia punya saat ini.

“Bunda sangat marah sama Bima , pa . . “lirih Bima dengan suara bergetar. Pria ini begitu takut sekali.

“Bunda kamu gak marah. Udah ayo kesana. Minta maaf ke Bunda”bujuk Rio kembali. Bima menganggukkan kepalannya dan mulai berdiri dari kurisnya. Mereka berdua pun mulai berjalan menuju ke kamar utama dirumah ini. Dimana merupakan kaamar Ify dan Rio.

***

            Rio menyuruh Bima untuk masuk sendirian, karena Rio tak ingin Ify tambah marah jika saja nanti ia membela Bima. Bima nampak ragu beberapa saat. Namun sekali lagi Rio meyakinkan anaknya untuk segera masuk kedalam. Bima pun memberanikan diri masuk kedalam kamar orang tuannnya.

            Bau khas pewangi kaamr ini langsung menyambut Bima, Bima mencari sosok bundanya yang sedang berdiri di balkon kamar. Dengan langkah yang takut dan fikiran yang sudah kemana-mana. Bima berjalan mendekati Bundanya.

“Bun. . . “panggil Bima pelan. Masih dengan perasaan takut yang menyelimutinnya. Ify tak bergeming sedikit pun saat sang anak memanggilnya.

“Bunda maafin Bima . .”liruh Bima merasa sangat-sangat bersalah sekali. Bima sedikit mengangkat kepalannya dan mendapati bahu Bundanya bergetar. Menandakan bahwa bundanya pasti menangis.

“Bu . . Bu . . .bunda nangis ? Bu . . bun . .bunda maafin Bima. Bunda . Maaf . . .”Bima langsung berlutut dan memegangi tangan Ify yang terasa sangat dingin sekali. Bima menundukkan kepalannya , ia lebih sangat merasa bersalah lagi. Karena untuk pertama kalinnya lah, Bima melihat bundanya menangis karena dirinnya.

“Bun. . Bicara Bun. . Bima minta maaf . . .”ucap Bima berulang-ulang seperti anak laki-laki kecil yang behitu sayang kepada ibunya dan berbuat salah kepada ibunya hanya karena telat pulang bermain. Dan memang sejak kecil. Ify.lah yang dekat dengan Bima . Ify selalu membawa Bima kemanapun dan mendidik Bima untuk menjadi anak laki-laki yang istimewa, Mulai dari me-les privatkan piano, gitar, taekwondo, Judo, academic dan masih banyak lainnya. Dan membuat Bima saat ini menjadi anak yang serba bisa. Dan Bima sendiri begitu sayang dengan Bundanya walaupun ia juga sayang kepada papanya yang selalu mengabulkan apapun permintaannya. Namun ia lebih menyanyangi bundanya yang selama ini mengajarinya tentang segalannya.

“Bun . . .Bima tau. Bima salah. Bunda maaf . Bun. . .”Ify masih tetep diam saja, ia tak bergeming sedikitpun membiarkan anaknya merengek seperti itu.

“Bunda . . Maaf .. . “Bima semakin menundukkan kepalannya dalam-dalam, Ia tak kuasa menahan rasa takutnya karena bundanya yang tak mau berbicara kepadannya. Bima sampai menjatuhkan air matannya. Merasa sangat bersalah dan marah kepada dirinnya sendiri. Bima dengan cepat menghapus air matannya yang mau keluar kembali.

“Bun, Jangan diemin Bima. Bima bener-bener minta maaf, Bunda jangan nangis. Maaf bima buat bunda kecewa. Bunda maafin Bima. Bundaaa . . . “Air mta Bima masih saja terus menetes walaupun ia sudah menahannya. Bima semakin mengeratkan tangannya untuk menggengam tangan kanan Ify.

“Kamu udah telat sekolah. Udah cepat berangkat “Ify mulai membuka suarannya dan membalikkan badannya menyuruh Bima untuk berdiri. Namun bima menggelengkan kepalannya tegas.

“Bunda masih marah sama Bima”

“Bunda gak marah. Ayo bangun. Sana pergi sekolah”suruh Ify kepada Bima. Namun Bima masih tetap tidak mau berdiri.

“Maafin bima bun . . “lirih Bima dengan suara bergetar membuat Ify sangat tak tega. Perlahan ify membantu Bima untuk bangun , Bima pun menuruti saja kemauan bundanya , ia tak mau membuat bundanya marah kembali.

“Sejak kapan anak cowok cenggeng gini”desis Ify sinis sambil menyeka air mata Bima yang masih membasahi pipi anaknya. Bima meraih kedua tangan Ify.

“Bunda maafin Bima ya. Bima janji gak akan ngomong kayak gitu lagi ke siapapun. Bima janji akan jaga ucapan Bima”ujar Bima sungguh-sungguh. Dan entah mengapa saat Bima mengucapkan kata-kata tersebut, air mata Ify kembali mengalir.

“Bunda gak marah sama kamu , Bunda hanya  . . . . .”

“Bunda kecewa sama Bima”potong Bima membuat air mata Ify semakin deras. Bima memeluk bundanya seketika itu juga.

“Jangan pernah lakuin itu lagi Bim. Bunda gak suka kamu seperti itu. Kamu udah nyakitin hati orang yang gak bersalah. Kamu jangan minta maaf sama bunda. Tapi minta maaf sama Alyn. Dia gadis yang baik, Bunda harap kamu bisa berteman dengan Alyn”Bima mendengarkan saja semua ucapan Ify. Ia menepuk-nepuk pulang punggung bundanya yang semakin bergetar.

“kamu tau kan, Alyn sudah gak punya ayah dan ibu. Sedangkan kamu ? kamu punya segalannya sayang. Kamu punya kemewahan, kamu punya kepintaran, kamu punya papa, kamu punya bunda, kamu punya keluarga. Kurang lengkap apa lagi ? Sedangkan Alyn? Dia gak punya sia-siapa. Ayah? Ibu? Rumah? . Dia gak punya Bim”

“Iya bun. Bima tau. Bima salah . Bima akan minta maaf kepada Alyn. Bima janji, Bima akan minta maaf setelah ini. “Ify perlahan melepaskan pelukannya, menatap Bima dengan tatapan melembut.

“Ayah Alyn meninggal karena nyelametin bunda saat bunda di prancis. Dan sebelum beliau meninggal, dia minta bunda untuk jaga anaknya. Itu alasannya kenapa Bunda dan Papa kamu sayang sekali kepada Alyn. Karena bunda hutang nyawa dengan ayahnya. Alyn gak pernah tau bagaimana ayahnya meninggal,. Bunda belum berani cerita kepada Alyn. Dan bunda harap , demi bunda. Kamu jaga Alyn. Fikirkan bahwa dia adalah separuh jiwa bunda, Jika dia terluka maka bunda ikut terluka. Dan jika bunda terluka. Kamu ikut terluka kan ?”Bima menganggukan kepalannya pelan.

“Sekarang kamu tau alasan bunda? Jangan kasar lagi kepada Alyn. Mengerti Tuan Bima freedy haling ??”Ify menyunggingkan senyumnya untuk membuat anaknya tenang . Bima menganggukan kepalannya.

“Bima ngerti Bun. Bima janji akan jagain Alyn. Bima akan berusaha berbuat baik ke Alyn. Demi Bunda. Bima mau melakukannya”Ify menganggukan kepalannya . membelai lemput pipi Bima.

“yaudah , sekarang berangkat ke sekolah, Bunda akan telfonkan kepala sekolah . Dan bunda tau kamu tidak memberikan semua kartu kredit kamu ke bunda. Papa kamu gak mungkin hanya memberikan 5 kartu kredit ke anak kesayangannya”Bima menggaruk-garuk kepalannya yang tidak gatal, tertawa dengan canggung kea rah bundanya.

“hehehe. Ketahuan ya bun. . . “cengir Bima. Ify hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan anaknya yang jika seperti ini mirip sekali dengan Rio. Apalagi saat Bima minta maaf tadi sangat sangat mirip sekali dengan rio menurutnya.

            Bima segera pamit ke bundanya dan berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan untuk mengambil tas serta kunci mobilnya. Sebelumnya ia juga berpamitan kepada sang Papa.

“gak marah kan bunda?”Tanya Rio yang nampak santai-santai aja dan asik menyantap dessert di depannya. Bima mendesis sinis melihat kelakuan papanya yang tidak pernah berubah. Tidak peka!.

“gak sih. Cuma bunda tadi nangis.”cerita Bima sambil berjalan kea rah papanya.

 “ Nangis ?”kaget Rio menatap anaknya penuh menyelidik.

“Kamu apa-in mama kamu sampai nangis ??”

“Bukan Bima yang nyebabin bunda nangis. Tapi papa !!”ujar Bima dengan menatap papanya sedikit kesal,. Rio terdiam sebentar dan cukup binggung. Kenapa bisa jadi dirinnya yang bersalah.

“Kok bisa Papa?”

“Bisa dong. Salim dulu pa”dengan masih binggung Rio melakukan saja salam ala Rio-Bima (berpelukan, saling mengacak rambut- kemuduian saling meninju kepalan tangan dan “good luck”).

“Emangnya bunda bilang gimana ?”Tanya Rio yang sangat penasaran. Bima yang sudah berjalan memberhentikkan langkahnya sebentar dan membalikkan badannya kea rah papanya.

“Bunda nangis gara-gara papa. Kata bunda , papa gak becus bikin adek buat bima”

 

1 detik. . .  . . .

 

2 detik . . . . ..

 

3 detik . . . . .

 

“BBBBBBIIIIIIIMMMMMMMAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”teriakan Rio langsung menggema diseluruh penjuru rumah ini. Sedangkan si empu- nama sudah cekikan memasuki mobil dan langsung menjalankan mobilnya cepat keluar dari rumah.

****

           

            Bima sampai disekolah dengan selamat dan aman. Ia mendapatkan izin masuk karena bundanya sudah mengizinkannya. Bima segera keluar dari mobil dan berjalan keruang guru terlebih dahulu untuk mengumpulkan tugas chemisterinya yang seharusnya dikumpulkan pagi tadi, Namun daripada ia tidak mengumpulkan. Toh, bundanya sudah mengizinkannya.

            Sesampainya di ruang guru dan mengumpulkan tugasnya, Bima melihat seorang anak pria yang berdiri di depan ruang kepala sekolah. Bima menatap anak tersebut dari atas sampai bawah, tingginya seukuran dirinnya, warna kulitnya kuning langsat, bentuk rahangnya tirus. Matannya sedikit tajam dan bibirnya begitu tipis dan mungil. Anak pria itu tersenyum kea rah Bima dan dengan canggung Bima membalas senyum itu. Bima tak ingin terlalu lama di ruang guru , dia pun segera berjalan keluar dan segera ke kelasnya meninggalkan anak pria yang sedari tadi terus memperhatikannya.

****

            Bima masuk kedalam kelas saat guru sudah kosong seperti dugaan Bima, karena ia sudah terlembat setidaknya 45 menit. Banyak mata menatap kearah Bima, namun Bima tak peduli. Ia berjalan ke arah Alyn yang juga menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Ayo keluar, Gue mau ngomong sesuatu”ujar Bima serius. Alyn sedikit binggung dan juga sedikit takut. Takut jika bima akan mensumpah serapahinnya lagi dan lebih parah dari tadi pagi akibat bundanya marah kepadannya. Namun baru saat Alyn berdiri, kepala sekolah masuk kedalam kelas ini dengan didampingi seorang anak pria yang langsung membuat mata siswi-siswi menjadi segar.

“Bima , duduk”suruh kepala sekolah. Dan mau tak mau Bima harus menunda kegiatannya dan kembali ke bangkunya. Bima menatap anak pria tersebut yang juga menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Dan sekali lagi Bima membalas senyum anak pria tersebut.

“Anak-anak, hari ini ada murid baru di kelas kalian. Dia pindahan dari Surabaya. Silahkan perkenalkan nama kamu “suruh kepala sekolah kepada anak pria tersebut. Anak pria itu pun tersenyum ke semua anak kelas ini.

“Perkenalkan, Namaku Adit Mahesa, aku pindahan dari Surabaya. Semoga kita bisa berteman dengan baik. “

“Kamu anak orang kaya ?”Tanya salah satu anak kelas disana dengan secara langsung. Membuat anak pria tersebut sedikit kaget. Bima menatap anak yang bertanya tersebut dengan tajam.

“gak perlu dijawab , loe boleh duduk diseblah gue”ujar Bima menciutkan nyali anak-anak lainnya untuk bertanya lebih lanjut. Ucapan Bima bagaikan sebuah perintah untuk wajib di taati. Bahkan guru-guru pun tidak ada yang berani kepada Bima dan selalu sopan serta menghargai Bima. Bukan hanya karena penyumbang yayasan terbesar ARWANA adalah kakek Bima, namun juga karena sifat Bima yang juga ramah kepada siapapun dan selalu menolong teman yang susah. Ditambah lagi kepintaran Bima yang diakui oleh seluruh sekolah.

“Silahkan duduk nak Adit”suruh kepala sekolah yang juga cukup kaget. Karena selama kelas 1 , Bima tidak suka jika bangku disebalahnya terisi. Dan ini dengan mudah, bahkan Bima menawarkannya sendiri kepada anak baru tersebut. Tentu banyak yang iri dengan keberuntungan anak baru itu. Bukan hanya para cewek saja yang iri, melainkan anak cowok juga.

“Baiklah., Ibu tinggal, Kalian jangan ramai dan belajar yang rajin”

“Iya bu”kepala sekolah pun keluar meninggalkan kelas ini. Keras pun ribut-ribut membicarakan anak baru tersebut. Bima pun ingat kembali akan Alyn, ia segera berdiri dari tempat duduknya namun langkahnya terhenti karena anak baru tersebut mengajaknya kenalan.

“Makasih udah mau jadi teman aku. Nama aku Adit . Kamu ??”Bima melihat anak pria tersebut sedikit aneh. Karena ia sedikit tidak terbiasa dengan bahasa aku-kamu.

“Biasain ngomong loe-gue ya. Gue gak kebiasa soalnya dengan aku-kamu. Gue Bima, Gue tinggal bentar ya. Kita lanjutin nanti ngobrolnya”anak pria tersebut mengangguk dan begitu terlihat senang. Bima pun segera berjalan menghampiri Alyn kembali.

“Ayo keluar”ajak Bima ke Alyn membuat mata anak-anak sekelas kea rah Bima dan Alyn. Kelas yang tadinya ramai akan membicarakan anak baru tersebut menjadi sepi saat ini. Alyn menganggukan kepalanya dan berdiri dari kursinya.

“Ikuti gue”Bima berjalan duluan menuju pintu kelas dan saat itu juga anak-anak mulai ramai kembali. Namun saat sampai diambang pintu Bima mmeberhentikkan langkahnya. Membalikkan badannya menghadap ke teman-temanya.

“Wooyy dengerin gue “teriak Bima sedikit keras dan langsung mendapat perhatian dari anak-anak sekelas, terutama anak baru tersebut.

“Si anak baru itu temen kita semua. Gak ada yang boleh jadiin dia jongos atau semacamnya. Ajak dia ke kantin kayak teman-teman lainnya. Ajak dia bergaul sama kayak yang lainnya. Ngerti !”Anak-anak yang nyalinya ciut tersebut hanya mengangguk .

“mengerti Bim”serempak anak-anak dan mulai berhenti membicarakan anak bru tersebut dan berhamburan ke bangku anak baru itu untuk berkenalan. Ucapan Bima bagaikan simsalabim dan langsung akan terjadi. Apapun yang bima inginkan pasti akan terkabulkan begitu saja.Sedangkan Bima dan Alyn saat ini berjalan keluar kelas menuju ke loteng sekolah.

****

            Bima dan Alyn duduk disalah satu bangku yang ada disana. Mereka sedari tadi hanya diam selama 10 menit lamannya. Bima nampak binggung membuka perbicangan mulai dari mana. Dan entah mengapa Alyn pun menjadi canggung dan tidak bisa memulai pembicaraan. Bima menghelakan nafas beratnya .

“Gue minta maaf soal kejadian tadi. Gue minta maaf kata-kata gue sangat kasar banget sama loe. Gue ngakuin gue salah”ujar Bima mengumpulkan segala keberaniannya. Alyn sudah dapat menebak bahwa pria ini akan melakkan permintaan maaf.

“Gue udah maafin loe kok. Walau sebenarnya gue sangat kesal, tapi setelah ngelihat kejadian tadi pagi, gue yakin tante Ify sudah membuat loe sangat ngerasa bersalah. Dan gue gak bisa untuk marah lagi sama loe.

“jelas Alyn sejujurnya. Bima menganggukan kepalannya.

“Dan gue juga makasih buat semalam, loe udah mau . . . ..”

“Lupakan soal yang semalam”potong bima dengan cepat. Ia tidak mau salah tingkah disini jika mengingat kejadian semalam. 

“Sebagai permintaan maaf, gue akan ajarin loe cara nyetir”Alyn menatap Bima dengan tatapan tak percaya.

“gak usah sok kaget deh. “desis Bima yang tak suka dengan tatapan Alyn seperti itu.

“Maaf. . . “lirih Alyn , namun ada perasaan begitu senang sekali . Dan entah mengapa Alyn merasa senang Bima akan mengajarinnya.

“Entar malam, kita belajar di lapangan kompleks rumah. “ujar Bima dan setelah itu langsung berdiri dan meninggalkan Alyn disana begitu saja.

“Yaahh, Kok ditinggalin sih. “

“BIMA TUNGGUIN!!!”

            Dengan cepat Alyn segera menyusul Bima turun dan kembali ke kelas. Alyn cukup takut sendirian di loteng seperti itu. Alyn merasa lebih bahagia saat ini, kejadian tadi pagi memang mempunyai banyak hikmah. Meskipun harus mengorbankan rasa sakit hatinya akan kata-kata Bima.

***

            Ify bermain ke rumah Sivia dan Alvin, Kedua pasangan tersebut sudah memiliki 1 anak perempuan berumur 14 tahun dan 2 anak laki-laki kembar yang berumur 10 tahun. Ify selalu menyempatkan bermain mengunjungi keponakannya saat ia sedang tidak ada pekerjaan. Terbesit sedikit rasa iri karena Sivia memiliki anak 3. Sebenarnya Ify ingin memiliki anak lagi, tapi ia masih cukup takut. Dan untung saja Rio selalu menghargai keputusannya dan tak pernah memaksannya.

“Sore  . . .”sapa Ify saat melihat si kembar Rino dan Riko . Dan kedua anak tersebut langsung berhambur dalam pelukan Ify. Mereka sudah 2 minggu tak bertemu dengan tante mereka. Ify merasa sangat bahagia sekali dan memberikan oleh-oleh yang ia bawah untuk si kembar ini.

            Sivia yang baru keluar dari dapur langsung menyambut sahabatnya itu dengan pelukan hangat. Merasa rindu juga dengan sahabat iblisnya tersebut.

“Ara mana? Masih sekolah ?”Tanya Ify yang tidak mendapati tanda-tanda si cantik Ara. Anak pertama Sivia. Ify sangat suka sekali dengan Ara, karena gadis itu sangat cantik dan dewasa sekali. Bahkan dia adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat Bima langsung menjadi pendiam dan penurut.

“Iya, bentar lagi  mungkin udah pulang. “

“Alvin di rumah sakit?”tanya Ify lagi , ia mengambil duduk di ruang tamu. Memperhatikan si kembar bermain dengan robot-robotan yang ia belikan. Sivia mengangguk dan ikut duduk di depan Ify.

“Loe tuh ya, selalu aja manjain si Rino dan Riko. Nanti kebiasaan Fy. Gak enak juga gue sama loe dan kak Rio”

“bahasa loe gak enak di denger. Hahaha. Udahlah via, santai aja. Biasa holang kaya bagi bagi berkah hahahaha”tawa Ify

“Sialan loe”pekik Sivia.  Mereka pun berbincang-bincang banyak tentang pekerjaan, anak-anaka mereka dan suami mereka. Sivia dan Ify masih sama seperti dulu. Masih selalu saling menjatuhkan satu sama lain. Apalagi Ify paling suka bila membully Sivia.

            Tak beberapa lama kemudian, seorang gadis berwajah putih, rambut panjang yang lurus, mata yang sedikit sipit, alis tebal serta lesung pipit yang selalu terlihat meskipun gadis tersebut tak tersenyum. Gadis itu adalah ara anak pertama Sivia.

“Araaa . . .. “sapa Ify yang langsung berdiri dan menghampiri gadis itu dan memeluknya.

“Tante Ify . .”balas Ara yang terlihat juga senang bertemu dengan Ify. Melihat Ara , Ify selalu ingin memiliki anak gadis. Namun ia masih tidak berani dan juga masih belum diberikan oleh yang diatas.

“Gimana sekolah kamu ? “

“Baik tante”jawab Ara menyunggingkan senyumnya menyebabkan kedua lesung pipitnya terlihat lebih jelas.

“Besok minggu, main kerumah tante ya. Tante mau kenalin kak Alyn, yang dulu pernah tante ceritakan”

“Iya tante. Besok minggu, Ara akan minta papi buat anterin ke rumah tante”sahut Ara membuat Ify sangat senang sekali.

            Ify pun meneruskan waktunya dirumah Sivia selema  beberapa jam sebelum Bima dan Alyn pulang sekolah.

*****

            Bima merapikan perlatan olahragannya dan memasukkan ke lokernya. Setelah itu mengganti bajunya dengan baju seregam. Setelah mengganti pakaiannya, Bima berjalan keluar dari Ruang olahraga. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Alyn dan anak baru itu duduk berdua disalah satu tribun dan terlihat sangat akrab.

            Bima menatap mereka berdua sejak lama, menatap dalam diam dan entah fikiran apa yang ada di benak Bima saat ini. Namun saat Bima tersadar kedua tangannya sudah terkepalkan kuat-kuat.

“Aisshh. . “desis Bima heran dengan dirinnya sendiri. Ia pun tak ingin memfikirkan hal seperti itu dan segera kembali ke kelasnya.

****

            Bima duduk dibangkunya dan segera mengemasi barang-barangnya yang ada di bangkunnya, Kelasnya sudah sepi karena pasti banyak murid yang sudah pulang sedari tadi. tak selang berapa lama. Bima menghentikkan aktivitasnya sebentar saat mendengar suara tawa khas Alyn dan juga seperti suara anak pria baru tersebut. Bima menggelengkan kepalannya mencoba menyadarkan fikiranya dan kembali membereskan buku-bukunya.

“Besok gue bawain pancake buatan gue ya”ujar Alyn dengan wajah yang berinar. Adit pun membalas dengan anggukan antusias.

“Iya Alyn. Makasih banyak. Pasti pancake buatan kamu enak”balas Adit seraya memasukkan bukunya ke dalam tasnya.

            Adit melihat Bima yang sama sibuknya dengan dirinya. Adit sedari tadi sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih ke Bima tapi belum ada waktu. Dan ia berfikir inilah kesempatannya untuk berterima kasih kepada Bima.

“Bim. Makasih ya”Bima menyerekkan tasnya dan membenarkan dasinya yang sedikit berantakkan..

“Makasih untuk?”balas Bima dengan wajah yang tenang.

“Untuk semuanya. Berkat kamu , aku punya banyak teman disini. Dan aku betah sekolah disini”Bima menganggukkan kepalanya.

“Santai aja. Gue Cuma gak pingin ada kasta-kastaan disini. Gue pulang dulu ya”pamit Bima ke Adit.

“Iya Bim, hati-hati”

“Yoi”balas Bima kemudian melihat ke Alyn yang juga sudah membereskan barang-barangnya.

“Al, ayo pulang “teriak Bima dan langsung berjalan keluar dari kelas. Alyn sedikit mendengus kesal , ia berfikir bahwa Bima akan berubah baik kepadannya. Ternyata fikiannya salah!! Seharusnya ia tidak mengharapkan lebih. Bima akan tetap menjadi Bima.

****

            Bima dan Alyn sudah berada di lapangan kompleks perumahan, Bima sedari tadi hanya melihat Alyn mencengkram setir dan sama sekali tidak berani menekan gas yang ada di bawah kakinya. Bima menghelakan nafas sedikit frustasi.

“Alyn , ayo gas pelan-pelan. Gak bakalan kenapa-kenapa. Ini mobil matic jadi tenang aja”untuk ke sejuta kalinya Bima harus mengucapkan kembali kalimat ini. Namun Alyn masih tetap menatap ke depan dengan tangan mencengkram setir. Bima sudah kehabisan kesabarannya.

“Kalau gak loe gas,  Gue gak akan pernah mau bantuin lagi loe  ngerjain tugas chemistry”mendengar ucpaan Bima, tanpa sadar Alyn langsung menginjak gas dengan tekanan penuh membuat mobil tesebut langsung melesat cepat.

“HUAAAAAAAAAAAAAAAA”teriak Bima dan Alyn bersmaan.

“Gimana ini. Gimana ini Bim. . .”

“Injak remnya. Injak remnya. “

“Dimanaa/?”

“Sebelah gasnya Alyn!!”

            Dan tanpa fikir lagi dengan injakan penuh Alyn langsung menginjak remnya sebelum mobil ini menabrak bangku lapangan.

CYEEEEEEEETTTTTTT

“Gila . . . . “desis Bima menarik nafas berulang-ulang.

“Gue masih hidup kan ? gue masih hidup kan ?”Alyn terlihat seperti orang linglung dan masih shock juga. Bima menatap Alyn tajam.

“Loe gimana sih. Gue kan udah bilang injak gasnya pelan-pelan malah loe injak penuh. Untung aja kita gak nabrak apapun. Otak loe bisa dipakai gak sih . . “omel Bima tak terkendali. Alyn langsung terdiam akibat omelan Bima.

“Ma . . af . . “lirih Alyn merasa bersalah. Bima menghembuskan nafas beratnya, merasa menyesal telah memerahi Alyn. Ia harusnya ingat akan janjinya ke bundanya.

“Udah-udah., Latihan hari ini selesai dulu. Kita latihan lagi sampai loe siap nyetir mobil. Loe masih kelihatan takut. “ujar Bima kembali. Alyn hanya bisa menunduk saja, takut jika ia ngomong akan salah bicara dan membuat Bima tambah murka kepadannya.

“Turun loe “suruh Bima. Mereka punt berganti posisi tempat duduk.

            Bima pun menyetir mobilnya dan menjalankannya. Mereka berdua hanya saling diam seperti biasa-biasanya. Bima yang malas berbicara dengan Alyn sedangkan Alyn yang takut akan disemprot bima jika salah ngomong. Maka dari itu, ia lebih memilih diam saja.

            Alyn mengernyitkan keningnya karena Bima melajukan mobilnya keluar dari daerah perumahan. Alyn menolehkan wajahnya kea rah Bima namun belum berani untuk bertanya. Ia menatap kembali ke depan dan masih terus memilih diam dalam binggung dan rasa penasarannya.

“Kita ke mall dekat sana, kita main time zone. Fikiran gue lagi ruwet”ujar Bima yang dapat membaca wajah gadis itu.

“oh gitu”jawab Alyn yang nurut saja, walaupun sebenarnya ia ingin pulang. Ia ingat akan janjinya akan membuatkan adit pancake. Namun mau bagaimana lagi, saat ini ia tak membawa uang untuk naik taxi, dompet dan ponselnya tertinggal di kamar karena tadi Bima menyurhnya untuk cepat-cepat turun.

*****

            Akhirnya mereka pun tiba disalah satu mall terbesar di Jakarta. Bima membeli beberapa coin dan mulai mengedarkan pandagannya untuk memilih permainan penyegar otaknya. Sedangkan Alyn hanya diam dan mengikuti di belakangnya Bima.

            Bima memainkan banyak permainan, mulai dari permainan ujung kanan sampai ujung kiri. Ia tidak mempedulikan kanan kirinnya. Bahkan ia lupa jika saat ini ia sedang bersama Alyn. Setelah puas dan coinnya habis. Bima pun membeli minuman.

            Ia mengedarkan pandangannya dan mulai ingat bahwa Alyn sudah tidak ada disampingnya. Bima sedikit kaget dan ia mulai berjalan untuk mencari Alyn. Bima memutari di sekitar Time Zone namun ia sama sekali tidak menemukan gadis itu. Namun saat Bima keluar dari Time Zone, ia menemukan sebuah Toko besar bertuliskan Doll’s Castle dan ia melihat seorang gadis yang sedang berdiri di depan kaca toko tersebut yang memperlihatkan sebuah boneka beruang berwarna coklat muda dengan ukuran jumbo. Bahkan bisa dibilang lebih besar dari gadis tersebut. Dan dengan dibagian bawannya terdapat kertas bertuliskan “ Buat hari Valentinmu semakin istimewa dengan pasanganmu. Lakukan Push Up 300 kali dalam waktu 15 menit untuk wanitamu dan Beruang cantik ini akan menjadi milik wanitamu”

            Bima perlahan berjalan mendekati gadis itu yang masih saja berdiri disana dan diam-diam sudah berdiri disebalah Alyn dan ikut memandangi boneka beruang besar tersebut.

“Loe gak ada fikiran buat nyuruh gue ngelakuin itu kan ?”suara Bima yang berat langsung mengagetkan Alyn. Alyn menatap Bima sedikit kesal.

“Gaklah.”jawab Alyn dengan cepat masih dengan ekspresi wajah kesal karena Bima yang mengagetkannya.

“Tapi wajah loe pingin banget tuh boneka”ujar Bima yang membuat Alyn langsung merubah ekpresinya menjadi ekspresi yang kaku .

“Hah? Enggak kok. Sok tau loe”

“Tuh kelihatan dari mata loe. “Bima makin giat menyudutkan Alyn.

“Gak usah sotoy deh loe. Udah malam gue mau pulang”ujar Alyn yang tak ingin memperpanjang masalah dengan Bima. Toh, dia juga tidak bisa mendapatkan boneka tersebut. Pasangan saja tidak punya.

“Mbak saya mau lakuin itu”suara Bima langsung membuat Alyn memberhentikkan langkahnya. Alyn membalikkan badannya dan melihat Bima yang sedang membuka jaketnya. Alyn membelakakan matannya.

“Loe mau ngapain ?”Tanya Alyn yang berjalan kembali mendekati Bima. Namun Bima nampak tak peduli dan bersiap-siap dengan posisi seperti orang yang melakukan push-up.

            Banyak pengunjung yang keluar dari Time Zone tertarik dengan apa yang ada di depan took boneka itu. Alyn hanya garuk-garuk binggung merasa kaget dengan yang dilakukan Bima saat ini.

“Baiklah Mas, peraturanya 300 kali push-up dalam 15 menit. Siap ?”Bima mengangguk mantap. Dan mulai mengambil nafas dalam-dalam. Banyak orang yang bertepuk tangan bahkan ada juga pasangan-pasangan lainnya ang merasa jeoulos dengan pasangan ini. Dan juga banyak gadis remaja yang envy sekali dengan Alyn. Bagaimana tidak , Bima memiliki wajah yang sangat tampan, body yang bagus sekali. Wajahnya seperti perpaduan foreingn dan Java . Yang bisa memikat wanita siapa saja yang hanya melihat wajah tampan dan menawannya.

“Bim, loe gak perlu ngelakuin ini .. .”bisik Alyn pelan namun tak dihiraukan oleh Bima. Alyn tersenyum canggung ke para pengunjung yang berteriak menyemangati Bima dan berteriak iri kepadanya.

“Ready”

“Go!!”

            Bima pun mulai melakuka push-up dengan kecepatan speedy. Banyak mata yang membelakak tak percaya dengan kemampuan atlethic bima yang benar-benar luar biasa. Alyn saja sampai dibuat shock, Ia semakin merasa kecil jika dibandingkan dengan Bima. Wajah? Punya, Kekayaan? Jangan ditanya, Looking? Plis ini tidak termasuk pertanyaan kan? Lihat saja semua yang ada dipria itu hampir mendekati sempurna. Kecerdasan?Apa perlu semua rapotnya dikumpulkan dari SD sampai SMA dan disana semuanya tertuliskan peringkat 1 semua dengan nilai A semua. Multitalent? Kebangetan multitalentnya. Piano? Jago baget, nyanyi? Suaranya lumayan, Taekwondo? Sabuk hitam, Renang? Juara 1.nya, Sport kesukaanyalah. Mungkin hanya hatinya saja yang kurang mendukung. Meski di depan banyak orang ia terlihat baik dan pendiam, namun jika didepan Alyn sudah seperti buaya bringas yang kelaparan akan daging dan bisa jadi seperti vampire yang setiap detik butuh darah. Dan alyn lah yang diibaratkan sebagai segumpal daging dan setets darah. Yang selalu tertindas oleh pria ini. Namun ? Apa yang dilakukan Bima saat ini? Alyn terus bertanya-tanya. Ia sekarang malah tidak fokus akan hitungan banyaknya Bima sudah melakukan push-up melainkan ia menatap wajah Bima yang terlihat sexy dan sangat tampan dimana keringat bercucuran membasahi wajahnya. Belakang punggungnya pun mulai terlihat basah.

“kenapa loe ngelakuin ini?”itulah 1 pertanyaan yang terputar di otak Alyn. Bima yang selalu bertingkah kejam kepadanya mau melakukan ini semua untuknya. Wait ?Apakah benar ini untuk dirinnya ? . Alyn langsung tersadar dan menatap kedepan dan kaget melihat pengunjung yang semakin banyak mengitari toko ini.

“Waktu anda tinggal 7 menit lagi”suara seorang perempuan yang merupakan petugas toko tersebut.

“207”

“208”

            Bima sudah melakukan push-up sebanyak 208, ia berhenti sebentar, mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Kedua tangannya sudah terlihat bergetar. Keringat ditubuhnya bagaikan lautan air yang sudah membasahi semua bagian tubuhnya. Wajahnya pun terlihat sangat serius sekali saat ini.

“Semangat!!”

“Ayoo!!”

“Semangat!!!”

            Bima menatap kea rah Alyn yang diam tak berbicara apapun sedari tadi dan hanya menatap wajahnya binggung.

“Loe beneran ingin banget boneka itu?”pertanyaan Bima langsung membuat para gadis-gadis bahkan ibu-ibu paruh baya berteriak histeris. Merasa semakin envy dengan Alyn dan ingin sekali berada di posisi Alyn. Alyn mendadak tambah binggung dan hanya diam, ia kesulitan menjawab pertanyaan Bima sedangkan Bima masih menatapnya menunggu jawabannya.

 

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s