STORY OF DEVIL FAMILY – 4

Terima kasih yang udah baca crta ini, dan suka dengan cerita ini. Makasih banyak *deepbow*. Dilike silahkan gak dilike juga silahkan. Di comment silahkan gak di comment jga silahkan. Kalian udah baca sampai selesai g setengah2 dan terhibur dg crta ini aja aku udah banyak banyak terima kasih kepada kalian. Maaf kalo aku ada salah. Terima kasih semuannya.

 

STORY OF DEVIL FAMILY – 4

 

Jam menunjukkan pulul 10 malam, Bima menuruni tangga, Ia pergi ke arah dapur untuk mengambil minuman karena pasokan air putihnya sudah habis. Ia sedikit terkejut mendapati Alyn yang sibuk di dapur membuat pancake. Bima pun jadi semakin tertarik kea rah dapur.

“Lagi ngapain loe?”tanya Bima tak ada manis-manisnya.

“Lagi acting jadi ibu rumah tangga”jawab Alyn asal dan masih fokus dengan menyetak pancake di loyang.  Bima mendesis dengan wajah tak enak mendengar jawaban Alyn.

“Gue serius nanya nih”

“Loe kepo banget sih jadi orang”

“Gak kepo gak cakep”

“Cisshh. . . “desis Alyn mulai mendongakkan kepalannya dan menatap Bima.

“Loe udah tau kan kalau ini pancake!!”kesal Alyn yang baru saja menemukan ternyata Bima bisa  bodoh juga.

“Iya gue juga tau “jawab Bima datar.

“terus ngapain loe nanya ??”darah Alyn semakin naik ke ubun-ubunnya melihat ekspresi tak berdosa Bima.

“gak nanya gak cakep”

“LOE MAU GUE TAMPAR PAKEK WAJAN ? HAH??”

“Sadis banget loe”

“Kayak loe gak sadis aja”balas Alyn tak mau kalah dan memfokuskan kembali ke pancake terakhirnya. Bima mengambil beberapa minuman dingin di dalam kulkas dan mengeluarkannya. Setelah itu ia duduk depan bartender kecil di dekat dapur. Kursinya ia arahkan ke arah samping sehingga dapat melihat Alyn yang serius sekali memasak.

            Entah sejak kapan, Bima suka sekali menatap wajah polos gadis itu. Dan saat rambutnya bergelombang ria menambah gadis itu terlihat sangat cantik.

            Alyn tidak sadar bahwa dirinnya sedari tadi diawasi oleh Bima, malah Alyn mengira bahwa Bima sudah menghilang ditelan bumi ke kamarnya. Alyn mulai menata semua pancakenya kedalam 2 kotak makanan. Yang satu untuk Adit dan satunya lagi untuk Bima.

            Alyn yang suka sekali mendesain, mulai memainkan selai cokelat di tangannya untuk mengereasi pancakenya agar terlihat sangat indah. Setelah itu ia memasukkannya kedalam kulkas agar pacakenya tidak busuk dan masih bisa dimakan besok pagi.

            Setelah merasa hasil kerjannya selesai, Alyn segera membereskan dapur agar rapi kembali. Walaupun bisa saja pembantu rumah ini yang membersihkannya. Namun Alyn bukan tipe gadis yang seperti itu. Yang tidak bertanggung jawab.

            Alyn menatap puas dapur yang udah terlihat cantik dan rapi kembali. Setelah itu ia melepaskan apron motiv bunga-bunga yang ia pakai dan menaruhnya di tempat semula. Alyn menatap kea rah bartender dan kaget menemukan Bima yang masih disana. Alyn mengernyitkan keningnya heran. Perlahan gadis ini mendekati Bima.

“Bim . .. “panggil Alyn namun tak ada sahutan dari pria ini.

“Bima . . “sekali lagi Alyn mencoba memanggil Bima.

“Bimaa . . . .”Alyn mendesis sinis.

“BIMAAAA!!”teriak Alyn kencang membuat Bima langsung gelagapan dan terjatuh dari tempat duduknya. Alyn geleng-geleng melihat tingkah laku pria ini yang menurutnya semakin hari semakin aneh.

“Loe ngapain sih ?”tanya Alyn yang masih heran .

“Gue ? Gue gak ngapa-ngapain”jawab Bima dengan cepat dan segera bangun. Ia merasakan kakinya sedikit sakit akibat jatuh tadi.

“pancake loe udah jadi tuh. Ada didalam kulkas di kotak makan yang warna hijau”

“Enak gak tuh ??”tanya Bima yang tidak berterima kasih malah bikin masalah lagi ke Alyn.

“Kalau gak enak tinggal muntahin aja. Beresekan. “

“Ribet banget sih jadi orang”gumel Alyn dan segera memilih pergi dari hadapan Bima tak ingin meladeni pria itu. Tubuhnya sudah meraung minta istirahat.

            Bima melihati saja kepergian Alyn , setelah itu ia berjalan kea rah dapur lebih tepatnya kea rah kulkas untuk mencicipi pancake buatan Alyn untuknya. Bima mendapati dua kotak makan. Yang satuya berwara hijau dan satu lagi berwarna biru. Bima mengeluarkan dua kotak tersebut. Dan segera membuka dua-duanya.

“Kok jumlahnya beda ? “

“Kok puny ague lebih sedikit dari punya si Adit ?”

“Isshhh. Dasar gadis Alien . . . “

            Bima terdiam sebentar, seolah mendapat lampu penerangan di atas kepalanya. Menatap kotak warna biru itu dengan tatapan iblis.

****

            Bima membawa kotak hijau berisikan pancake tersebut ke kamarnya dengan senyum sumringah paling bersinar dan bahagia di dunia. Ia masuk kedalam kamar dan bersiap menikmari pancake buatan Alyn.

            Bima menikmari Pancake buatan Alyn sambil menonton film. Ia baru sadar bahwa pancake buatan Alyn benar-benar enak. Pantas saja Adit ingin lagi dibuatkan pancake buatan Alyn. Bima memakannya dengan sangat lahap. Tidak peduli perutnya yangsudah kenyang. Bima terus saja memakannya.

“Wuaaahhh. . Si Alien ternyata punya bakat juga ya”

“Baru tau gue. . .”

            Setelah menghabiskan semua pancake tersebut, Bima bersiap untuk tidur. Jam dinding dikamarnya sudah mau menunjukkan pukul 11 malam dimana jam tidurnya akan tiba. Sebelum tidur seperti biasannya. Bima menatap ke atas langit kamar dan berdoa untuk harinya esok.

****

            Rio sibuk medatangani proposal yang diajukan untuk proposalnya. Makanan di depannya tak ia hiraukan. Ify pun membantu Rio untuk menyiapkan semua berkas meeting pagi ini membuat makanannya juga tak ia hiraukan.

            Alyn merasa tak enak jika makan duluan, ia memilih diam saja dan bermain ponselnya memainkan permainan paling bikin frustasi di dunia yaitu flappy bird (?). Sedangkan Bima, menyambut pagi dengan sumringah dan makan dengan lahap tanpa mempedulikan kanan dan kiri. Alyn menatap Bima dengan sedikit sinis sedangkan yang ditatap seolah tak peduli dan tetap menikmati makannya. Toh, Bima sudah terbiasa dengan Bunda dan Papanya yang selalu sibuk.

“fy nanti malam mungkin gue tidur di kantor. Loe gak perlu nyusul kesana”ujar Rio masih fokus dengan mapnya. Sedangkan Ify sudah mulai menyendokkan sesendok makanan di mulutnya.

“Waahh. Hati-hati bun. . Ngapain itu papa gak pulang . . “Bima mulai menggoda papanya. Rio melirik kea rah Bima yang terlihat tak berdosa.

“Papa jaga lilin buat nyari uang sekolah kamu dan uang jajan kamu”ujar Rio skiptis membalas ucapan Bima. Bima terkekeh mendengar balasan ucapan papanya.

“Udah jangan godain papa kamu. Dia lagi sok sibuk”tambah Ify yang membuat Rio semakin terbullykan (?).

“Fy. Gak mulai . . :”Ify pun hanya nyengir seperti Bima tadi. Dan melanjutkan makannya.

“Loe makan di kantor aja atau gimana Yo ? biar gue masukin ke kotak makanan ?”tanya Ify melihat sang suami yang sepertinya tidak akan sempat makan dirumah. Ditambah semalam Rio benar-benar lembur di ruang kerjannya membuat Ify tak tega.

“Yaaa Papa udah besar masih bawa bekal . “goda Bima dan langsung mendapat jitakan hangat dari Ify.

“Awww. Sakit bundaaa. . . “ringis Bima memegangi kepalanya. Alyn geleng-geleng melihat tingkah manja Bima yang sangat beda sekali jika di sekolah.

“Udah sana berangkat sekolah. “suruh Ify yang lebih mengarah ke mengusir Bima cepat-cepat dari rumah.

“Halus dikit nape bun ngusirnya”sindir Bima yang segera berdiri dan menyalami Bunda Papanya. Ify tak menanggapi dan sibuk membuatkan bekal makanan untuk Rio.

“Alyn juga berangkat ya Om. Tante”pamit Alyn dan segera mengikuti Bima yang berjalan keluar.

****

            Ify membantu Rio memasukkan semua map-map tersebut kedalam tas kerjannya. Tak lupa memasukkan bekal makanan yang di siapkan oleh Ify untuk sang suami. Wajah Rio terlihat sangat lelah. Dua hari terakhir ini Rio sudah lembur kerja.

“Loe istirahat sebentar aja bisa kan ? Wajah loe sudah mirip panda sekarat tau gak”ujar Ify yang mengingatkan Rio dan merasa tak tega kepada Rio hanya saja ia tidak tau bagaimana mengungkapkannya . Rio mengangguk ringan.

“Gue gak apa-apa. Lagian habis ini semuanya clear kok”

“Loe ambil cuti aja setelah ini. Biar semua pekerjaan loe diurusin orang kantor. “ujar Ify kembali yang masih kekuh menyuruh Rio istirahat.

“Cuti ? loe ngajak bulan madu lagi”goda Rio ke Ify.

“RIOOO . .. “tajam Ify membuat Rio hanya nyengir saja.

“Iya iya gue tau. Loe juga jaga kesehatan. Jangan kebanyakan mikirin gue .”

“Pede banget  om”

 

JTAAAKK

 

“Awww.  . “Ify meringis karena mendapatkan jitakan dari Rio.

“Gue berangkat dulu, besok pagi gue pulang kerumah . “ujar Rio lembut ke istrinnya. Ify mengangguk saja dan menemani Rio keluar rumah menuju mobilnya.

            Rio memasukkan tasnya kedalam mobil, dan juga jas yang ia pakai. Ify menatap sang suami yang memang super duper sibuk. Setelah merasa tidak ada yag ketinggalan. Rio mendekati ify kembali.

“Hati-hati di jalan. “pesan Ify kepada Rio sambil membenahkan rambut Rio yang sedikit berantakkan.

“Loe gak mau ngasih vitamin ke gue Fy. Biar gue semangat pagi ini”Ify mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Rio.

“Vitamin ? Apaan ??”tanya Ify binggug. Rio tersenyum sumringah lantas mengetuk-ketuk pelan bibirnya 5 kali dengan jari telunjuknya.

 

Tukk. .

Tuk .

Tukk. .

Tuk. .

Tuk . .

            Ify mendesisi tajam melihat tingkah aneh suaminya yang selalu ada aja di pagi hari. Sama kayak anaknya selalu buat keributan di pagi hari.

“Ogah. Sana berangkat kerja. Cari uang yang banyak buat anak dan istri. Jangan kayak bang toyib!!”ujar Ify yang ngawur kemana-mana.

“Gak mau. Maunya dikasih vitamin dulu”rengek Rio manja seperti anak kecil.

“Loe gak inget umur ya. Apa perlu gue ingetin lagi kalau umur loe itu ud . . .”

Cupp

Cupp

Cupp

Cupp

Cupp

 

“SEMANGAT 45 BEKERJA”terika Rio setelah mencium bibir istrinnya 5 kali. Sedangkan Ify hanya bisa mematung ditempat.

“Bye-bye Nona Alyssaku”Rio pun segera masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Ify yang masih terdiam di depan rumahnya.

“Dasar om-om gila”desis Ify melihat tingkah sang suami. Namun sedetik kemudian ia tersenyum sendiri. Rio selalu bisa membuatnya bahagia dengan carannya sendiri. Walaupun Rio jarang sekali pulang dan lain-lainnya.

“Apa gue perlu. .. . . .”ide jail mulai ada di otak Ify. Ia pun segera masuk kedalam rumah untuk menuju kamarnya. Setelah itu mengambul tas dan kunci mobilnya. Dan tak lama kemudian beranjak dari rumah menyebabkan rumah itu sekarang tidak ada tuan rumahnya.

****

            Saat istirahat pun tiba, Bima melihat Alyn dan Adit yang sedang akan memakan pancake buatan Alyn untuk Adit. Bima tersenyum sumringah dan berjalan mendekati mereka berdua.

“Gue bolah gabungng kan ?”tanya Bima dengan wajah yang masih berseri-seri seperti tadi.

“Boleh kok Bim silahkan:ujar Adit yang sangat baik hati. Alyn nampak sedikit tak suka dengan kehadiran Bima.

“Makasih Alyn “sindir Bima kepada Alyn. Alyn hanya mendesis saja lantas membukakan kotak makanan yang ia bawah untuk Adit.

“Ayo di makan dit, Pancakenya”suruh Alyn yang tak sabar agar Adit memakan Pancake buatannya yang sempat ia coba kemarin dan rasanya sangat enak. Adit mengangguk semangat dan segera mengambil satu pancake dan memakannya.

            Bima tersenyum lebih bahagia saat pancake tersebut masuk kedalam mulut Adit. Tak sampai bebeerapa detik kemudian, wajah Adit mulai berubah dan langsung melepehkan pancake tersebut. Alyn membelakakan matannya kaget.

“Kok di muntahin ??”lirih Alyn merasa sedikit kecewa.

“Dit loe apa-apain sih. Alyn sudah buatin malam-malam loe malah gitu. Gak ngehargain banget sih loe. . “ujar Bima yang sok-sok.an marah dan membela Alyn. Dan memang benar Alyn nampak sedikit kecewa. Adit meminum minumannya sebentar lantas merasa tak enak kepada Alyn.

“Bu . . . bu. . bukan gitu Alyn. Adit su . .. su . . .”

“Cepat makan Pancakenya. Hargain dong “perintah Bima yang membuat Adit tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan keterpaksaan Adit mengambil pancake itu kembali dan memakannya. Bima melihat dengan senyum devil.nya. Ia mengawasi Adit yang menelan pancake tersebut dengan susah payah.

“Gak enak ya dit ?”tanya Alyn yang dapat melihat ekspresi wajah Adit. Adit menggelengkan kepalannya dengan penuh paksaan.

“en. . en. . enak kok Alyn. Enak . . .”Adit menahan agar dirinnya tidak muntah saat ini. Melihat wajah Adit seperti itu membuat Alyn penasaran akan rasa pancakenya seperti apa. Ia pun mengambil satu pancake dari kotak tersebut.

“Alyn gak usah!!”teriak Adit dan Bima bersamaan, Adit yang takut Alyn kecewa akan rasa pancake tersebut sedangkan Bima takut jika ketahuan dan akan mendapatkan semprotan dan sumpah serapah dari Alyn.

“Kenapa ?”tanya Alyn heranke dua orang ini.

“Aku ingin habisin pancake ini sendiri. Habis pancake kamu enak banget”ujar Adit penuh kebohongan. Bima tersenyum sok manis kea rah Alyn.

“Bener itu, kan Adit suka sama pancake buatan kamu, jadi biarin Adit yang habisin. Lagian pamali nanti habis ngasih di makan lagi”Bima mulai seperti ibu-ibu pkk yang sedang arisan. Alyn merasa ada yang aneh dengan dua orang ini.

“Gue laper. Bodo amat “

“ALYN JA . .. “

            Belum sempat kedua pria ini menyelesaikan ucapanya. Pancake tersebut sudah masuk kedalam mulut Alyn dan dikunyah oleh gadis itu.

 

1 detik. . .

2 detik . . .

3 detik . . .

 

“HUEEEEEEEKKKKK”Alyn langsung muntah-muntah dan segera meminum minuman yang ada didepannya. Adit menatap Alyn dengan tatapan merasa bersalah sedangkan Bima sudah bersiap berdiri dan beranjak dari sana.

“BIMA BERHENTI DISITU”ujar Alyn tajam dan membuat Bima langsung menghentikkan langkahnya. Tentu saja Alyn tau siapa pelakunnya dibalik ini semua.

“Adit maaf banget ya. Maaf banget. Udah jangan dimakan. “

“Maaf Alyn.  . “lirih Adit yang merasa sangat bersalah. Alyn menggelengkan kepalannya. Seharusnya ia yang merasa bersalah ke Adit.

“Gue yang salah Adit. Maaf banget. “

“Bentar ya. Gue tinggal dulu”Adit mengangguk saja. Alyn pun langsung menyeret Bima dari kantin. Tidak peduli banyak pasang mata yang melihat kea rah mereka berdua.

***

            Alyn menyeret Bima ke kelas yang sudah di pastikan tidak akan ada orang disana. Dan entah menagapa Bima menurut saja dan mengikuti Alyn. Dan menyiapkan diri untuk di semprot oleh gadis ini.

            Mereka berdua kini berdiri di depan papan tulis. Alyn menatap Bima tajam. Sedangkan Bima mencoba biasa dan seperti tidak ada apa-apa. Alyn semakin kesal dengan tatapan Bima. Alyn diamkan saja Bima sampai beberapa menit dan Bima masih diam dengan sikap tak merasa bersalah sama sekali. Alyn mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat untuk menahan rasa emosinnya saat ini.  Yang membuat ia marah adalah Bima sama sekali tak menghargai ia capek-capek membuat pancake tersebut hanya demi kata satu kata yaitu “enak”  sebagai bayaran dari hasil buatannya. Bahkan Bima pun tidak berterima kasih kepadannya akan pancake yang ia buat untuk pria itu. Setidaknya Alyn bisa mendengarkannya dari mulut Adit.

            Bima memberanikan diri melihat Alyn yang masih menatapnya tajam. Bima meneguk ludahnya, gadis ini benar-benar marah kepadannya. Tatapannya benar-benar sangat tajam bahan mata gadis ini terlihat sedikit memerah.

             Namun beberapa detik kemudian, Alyn langsung berjalan keluar kelas meninggalkan Bima yang kaget. Alyn sama sekali tidak memerahinya seperti yang ia duga, melainkan langsung meninggalkannya saja . Dan itu membuat Bima dalam masalah besar.

“Kenapa dia marah harus seperti Bunda ??”kesal Bima mencakar-cakar rambutnya sendiri.

“Lebih baik ngumpati gue dengan sumpah serapah dari pada diam dan pergi kayak gitu. Aisshhh. . ..”

****

            Dan benar saja, Alyn marah besar kepada Bima. Selama pelajaran setelah istirahat, Alyn hanya dia dan konsen di papan tulis. Alyn tidak menghiraukan siapapun yang mengajaknya berbicara. Bima baru tau pertama kali saat Alyn marah sungguhan, sangat sangat menakutkan. Bima pun beberapa kali melirik kea rah gadis itu yang hanya menatap depan dan bukunya. Tatapannya tenang namun tersirat kemarahan besar disana.

            Bel pulang pun berbunyi. Alyn dengan cepat memberesi semua buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tasnya tanpa bicara apapun. Sena teman sebangkunya saja sampai binggung kenapa gadis ini tiba-tiba diam tanpa kata.

“Al? loe sakit ?”tanya Sena hati-hati. Namun Alyn sama sekali tak menjawab pertanyaanya.

“Al ? Loe beneran gak apa-apa ??”Alyn menatap kea rah Sena sebentar. Merasa bersalah juga karena gadis ini harus menadapat imbas dari amarahnya yang harusnya ia arahkan ke Bima.

“Gak apa-apa kok Sen. Maaf ya gue lagi gak enak mood. Bukan karena loe kok “ujar Alyn dengan suara pelan membuat Sena melegah. Karena sena berfikir Alyn marah kepadannya.

“Yaudah . Loe pulang sana dan istirahat biar mood loe balik lagi”

“Iya sen. Gue pulang duluan ya”pamit Alyn dan langsung saja berjalan keluar kelas.

            Alyn berjalan keluar kelas dengan tanpa beban dan tanpa menoleh bahkan menunggu Bima terlebih dahulu. Bima melihat Alyn yang berjalan begitu saja segera dengan cepat menyelesaikan beres-beresnya.

“Dit . Gue duluan”teriak Bima kepada Adit dan dengan secepat kilat Bima berlari menyusul Alyn.

            Bima terus berlari karena Alyn sudah hilang dari hadapannya. Mencari Alyn di depan gerbang sekolah dan mendapati gadis itu telah masuk kedalam sebuah bis.

“Aisshh. . .”desis Bima frustasi. Ia pun segera berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya.

****

            Bima sampai dirumah dan segera masuk kedalam rumah.Rumah terlihat sangat sepi sekali. Ia melihat Bi Ina yang sedang beres-beres meja makan untuk menyiapkan makan malam.

“Bi . Alien eh maksud Bima , Alyn udah pulang ?”tanya Bima kepada Bi Ina. Bi Ina menghentikkan aktivitasnya dan menatap majikannya ini heran.

“Den Bima tumben nyari non Alyn . Biasanya aj . . .”

“Bi , tinggal jawab udah apa belum ?”potong Bima yang tidak ada waktu mendengar ceramahan Bi Ina.

“Belum den. Cuma den yang pulang di rumah ini. Non Ify juga gak ad . .. “

“Makasih Bi . .”dengan cepat Bima kembali keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya untuk menuju ke halteterdekat perumahannya.

***

            Bima kembali ke rumah setelah satu jam ia tidak menemukan Alyn di sana. Bima pulang dengan wajah sedikit sumpek. Ify yang melihat anaknya seperti itu jadi penasaran sendiri. Ify segera berdiri dari sofa ruang tamu dan mendekati Bima.

“Kamu kenapa Bim?”tanya Ify kepada sang anak. Bima menggelengkan kepalannya.

“Wajah kamu kusut gitu ?”

“Bima gak apa-apa Bun. Bima ke kamar ya Bun . “pamit Bima yang memang ingin beristirahat sekarang juga. Bima memberhentikkan langkahnya dan membalik badannya kea rah bundanya kembali.

“Bun, Si alien udah pulang ?”tanya Bima sedikit ragu awalnya. Namun ia tak mau berfikir panjang lagi.

“Alyn maksud kamu “Bima menganggukkan kepalannya dengan cepat.

“Tadi dia telfon  bunda minta izin nginep di rumah temannya buat bantuin kakak temannya yang lagi ulang tahun”jawab Ify jujur, Bima mengerutkan keningnya.

“Marah aja pakek gak mau pulang”dengus Bima jadi kesal sendiri.

“Kamu bilang apa Bim?”

“Ahh gak ada bun, yaudah Bima masuk kedalam kamar dulu”pamit Bima ke bundanya dan berjalan menju kamarnya dengan fikiran yang masih sedikit kacau.

****

            Bima berangkat sekolah pagi-pagi, ia harus berbohong kepada bundanya untuk kali ini. Bima tau bahwa Alyn pasti sudah ada di sekolah. Bima menyetir mobilnya dengan kecepatan diatas 80 km/jam. Untung saja ia berangkat pagi sekali sehingga tidak terjebak macet.

****

            Benar saja saat Bima masuk kedalam kelas, kelas masih sangat sepi dan hany seorang gadis yang duduk di bangku nomer 3 dari belakang. Gadis ituterlihat serius dengan bukunya. Hari inimemang akan diadakan ujian tes matematika di kelas Bima dan Alyn. Yah, gadis itu Alyn. Bima segera berjalan mendekati Alyn tanpa menaruh tasnya dulu.

“Loe masih marah ?”tanya Bima dingin.

“Gak”jawab Alyn singkat dan masih fokus ke bukunya. Bima mengertakkan giginya pelan merasa tak dihiraukan oleh gadis ini. Bima langsung menarik buku Alyn begitu saja membuat gadis ini langsung mendongakkan kepalannya, menatap Bima sangat tajam.

“Balikin buku gue”desisi Alyn tajam.

“Loe alay tau gak. Cuma gara-gara pancake doang marah sampai kayak gini”ujar Bima dengan nada yang sama sekali tak enak di dengar. Alyn membelakak tak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Bima. Alih-alih tidak mengucapkan kata maaf sedikit pun melainkan malah mengata-ngatainya dengan kata yang lumayan sadis.

“Yaudah emang gue alay. Sekarang kembaliin buku gue “ujar Alyn yang tidak ada mood untuk meladeni Bima pagi-pagi seperti ini.

“Gue bakalan ganti pancakenya. Gue akan minta maaf ke Adit. Udah puas kan?”

“Loe ngomong apa sih ? gue gak ngerti! Dan cepet baliin buku gue “tatapan mereka berdua sama-sama semakin menajam. Bima yang kesal akibat sifat Alyn yang menurutnya ke kanak-kanakan. Dan Alyn yang masih marah karena Bima sama sekali tidak merasa bersalah sampai saat ini.

“Ngapain loe sampai gak pulang kerumah ?”

“Peduli apa loe? Gue gak pulang kerumah loe. Toh loe bakalan seneng kan ?”Bima tersenyum sinis ke arah Alyn.

BRAAAAKKK

            Bima menggebrakan buku Alyn di depan meja gadis itu membuat Alyn terkejut selama beberapa detik. Bima menatap Alyn sedikit dekat dengan mata yang berapi-api.

“Yah gue seneng banget!!,.  . .Dan lebih baik loe gak usah balik lagi ke rumah gue!!!”

            Alyn merasakan dadanya sangat sakit sekali seperti tertusuk ribuan pisau. Ucapan Bima sangat menyakitkan sekali. Ia melihat Bima berjalan keluar keras dengan langkah cepat. Alyn merasakan kakinya bergetar hebat membuat ia terduduk begitu saja di kursinya.

            Alyn menundukkan kepalannya menahan agar dirinnya tidak menangis saat ini. Mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Merasakan semuanya bercampur menjadi satu, sakit hati, kemarahan., kesedeihan. Semuanya.

“Dasar, pria gak punya perasaan . . “

“Dasar pria gak tau malu”

“Dasa pria gak punya hati”

“Dasar pria egois”

“Gue benci sama loe!!”

****

            Rio keluar dari gedung perusahaanya. Seperti yang ia janjikan kepada Ify kemarin, hari ini ia akan pulang pagi ke rumah. Rio berjalan menuju ke parkiran. Namun tiba-tiba sebuah mobil Van besar berjalan ke arahnya dan langsung menariknya untuk masuk kedalam mobil.

“Mmmmm. Mmmmm. . mmmm. . “

            Rio mencoba memberontak tapi tidak bisa, ia dimasukkan kedalam mobil tersebut dengan gerakan yang sangat cepat sekali.

            Rio hanya bisamembelakakan matannya saat orang-orang berbadan besar tersebut menyergap tubuhnya dan membungkam mulut serta hidungnya menggunakan sapu tangan. Perlahan Rio merasa tubuhnya melemas dan melemas sampai ia tidak sadarkan diri.

****

            Ujian tes matematika sudah selesai sejak sejam yang lalu. Dan sampai sekarang Alyn tidak melihat Bima kembali ke kelas sejak pertengkaran antara dirinnya dan Bima. Entah mengapa Alyn merasa sedikit bersalah. Mungkin ia mulai membenarkan ucapan Bima, bahwa ia sedikit ke kanak-kanakan. Tapi,  Bima juga sangat kejam kepadannya. Saat ini Alyn sedang dilanda dua perasaan . Marah dan sedikit bersalah.

            Anak-anak kelas pun mulai menanyainya dimana Bima berada, Alyn hanya menggelengkan kepalannya tak tau. Toh, Dia memang tidak tau dimana Bima berada. Namun biasanya jika ada murid yang masuk , sang guru akan bertanya kepada murid-muridnya. Namun guru matematikannya tadi tidak membahas tentang Bima sekalipun.

****

            Nilai ujian tes matematika akhirnya sudah keluar dengan cepat. Semuanya buru-buru melihat di madding kelas mereka. Anak-anak kelas ini merasa senang dengan nilai mereka yang mendekati sempurna. Alyn juga puas dengan hasil nilainnya yang bisa menyeimbangi anak-anak lainnya. Namun mata Alyn langsung terhenti pada sebuah nama “Bima Freedy Haling”. Alyn membelakakan matannya saat nama tersebut dengan nilai yang sempurna.

“Kok ada nilainya Bima ?”

“Waahh dapat nilai sempurna lagi , “

“Indeed banget, seorang bima . . .”

            Kicauan anak-anak lainnya mulai menyuarakan di sekitar Alyn. Alyn sendiri binggung bagaimana bisa nilai Bima ada padahal pria itu tidak mengikuti ujian tes matematika hari ini.Bahkan tidak masuk kelas sampai saat ini.

“Gak usah heran. Tadi guru matematika bilang ke gue, Kalau Bima udah ikut ujian duluan tadi pagi. Katanya dia buru-buru pulang”jelas Dama teman dekat Bima  membuat anak-anak lainnya mengangguk-angguk mengerti.

“Otaknya bima terbuat apa sih ?”

“Udah di bilang gak usah heran. Mamanya aja dulu legend banget di SMA ini. Gue denger-denger sih mamanya dia gak pernah dapat nilai dibawah 90. Nilainya semuanya banyak yang sempurna”

“Waaahhh. Gak heran kalau anaknya sepintar itu”

            Alyn menjauhi teman-temannya yang masih bergerombol dan mulai membicarakan Bima. Toh, dirinnya juga tidak heran dengan kepintarannya Bima yang lebih dari anak-anak lainnya. Padahal dikelas mereka begitu banyak anak pintar tapi kenapa sama saat ini tidak ada yang bisa menglahkan kepintaran Bima.

“Eh, Adit juga dapat nilai sempurna”teriak seseorang saat mengetahui nama Adit dengan nilai Adit membuat anak-anak lainnya langsung menatap ke dinding madding . Alyn yang juga penasaran langsung kembali lagi melihat ke mandding kelas.

“Waahh. Baru kali ini ada yang bisa nyetarain Bima. . Matematika lagi. Wahh . . . “

“Gila, Keren emang Adit. Gak salah kalau dia dapat beasiswa dan masuk di kelas kita”

“bakalan ada Rival nih dikelas ini”seru Dama sambil melirik ke arah Alyn. Alyn hanya diam saja saat arah tatapan mata teman-teman kelasnya mengarah ke arahnya saat Dama berbicara seperti itu dan meliriknya dengan senyum penuh arti.

“Apaan sih” Alyn segera menjauh lagi dari anak-anak. Tak ingin jadi santapan gossip anak-anak kelasnya lagi.

            Alyn melihat Adit yang baru masuk kelas, dengan cepat Alyn menghampiri Adit dan memberinya selamat.

“Congrotulation. Nilaimu sempurna”ujar Alyn sambil menjabat tangan Adit. Adit hanya menerima jabatan Alyn dengan wajah masih binggung.

“Maksudnya ?”

“Nilai matematika kamu sempurna. “

“Beneran ??”kaget Adit yang juga tidak menyangka. Adit pun dengan buru-buru melihat ke madding kelas. Banyak anak-anak yang ricuh memberikan selamat kepada Adit. Adit yang polos pun tersenyum sangat senanng dan menerima jabatan temannya satu persatu. Hatinya begitu bahagia hari ini dan semakin betah tinggal di kelas ini.

“Selamat dit. Hebat loe”

“keren loe. Bisa nyamain nilainya Bima”

“Makasih. Teman-teman hehehe”cengir Adit sedikit malu dengan sikap apa adanya dirinnya.

            Alyn hanya menatap teman-temannya dari jauh, merasa senang dan bahagia juga Adit bisa diterima oleh teman-temannya seperti dirinnya meskipun bukanlah berasal dari keluarga orang kaya seperti temannya yang lain.

            Mata Alyn kemudian tertoleh ke bangku Bima yang kosong dan bersih tidak ada buku , ipodyang biasannya berserakan disana. Alyn menatap bangku Bima sedikit lama. Wajah pria tersebut saat marah tadi pagi begitu jelas tergambar di otaknya saat ini.

“Eciee .. yang mulai suka sama Tuan  besar  . .”suara Dama terdengar begitu saja di telinga Alyn. Alyn melirik kea rah Dama yang sudah berjalan berlalu begitu saja di depannya tanpa dosa.

“ gue suka sama Bima ? Gak mungkin!! “

****

****

            Bima menerima apron yang diberikan Bi Ina kepadannya. Ia membantu Bi ina mengaduk-aduk bahan yang ada di bak berukuran sedang tersebut.

“Den. Udah Bi ina aja yang buatin pancakenya “ujar Bi Ina merasa tak enak. Karena anak majikannya ini baru pertama kali berada langsung di dapur.

“Udah Bi, gak apa-apa. Bima mau belajar buatnya”ujar Bima tetap memaksa. Bi Ina tak bisa lagi membantah, anak majikannya ini memang sedikit keras kepala. Kalau sudah A ya pasti A tidak bisa lagi dirumah dengan cara apapun.

            Setelah selesai membuat Pancake ala buatannya sendiri dengan banyak bantuan dari Bi Ina, akhirnya jadilah pancake yang sama dengan yang dibuat oleh Alyn. Bima memasukkannya kedalam kotak makanan.

“Sini den, Biar Bi Ina aja”

“Gak usah Bi, biar Bima aja”tolak Bima dan mengambil alih kotak makan itu dan melanjutkan aktivitasnya kembali memasukkan pancake-pancake tersebut kedalam kotak makanan. Bima nampak puas dengan hasil yang ia buat meskipun sedikit kacau. Namun rasannya pun bisa dibilang enak. Toh, memang yang meracikan semuannya adalah Bi Ina. Ia hanya melakukan yang ia bisa saja.

“Emang mau dikasihin ke siapa Den?”tanya Bi ina yang memang selalu penasaran. Bima terdiam sejenak.

“Ke teman Bi”

“Oh. Pacarnya den Bima . . “

“Bukaaannn!!!”sahut Bima dengan cepat. Setelah itu ia segera beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.

*****

            Bima keluar lagi dengan baju santai. Ia membawa kotak makan tersebut dan beranjak keluar rumah. Ia menaiki mobilnya dan menjalankannya untuk menuju ke suatu tempat. Bima tersenyum begitu senang dengan hasil pancake buatannya tersebut.

****

Alyn terpaksa harus naik taxi untuk pulang, karena memang benar Bima tidak masuk hari ini, Bahkan mobilnya yang biasanya mager di paling pojok sendiri tidak ada disana. Awalnya Sena mengajaknya untuk pulang bersama, namun ia tidak enak dengan Sena yang harus berputar balik nantinya akibat arah rumah Sena dengan rumah Bima sangat berlawanan.

            Di sekolah ini, yang tempat tinggalnya berada di daerah perumahan sama dengan rumah Bima bisa di hitung dengan jari tangan. Perumahan tersebut memang terkenal perumahan Elit yang berisi rumah-rumah besar seperti istana yang hargannya bisa triliunan.

****                                       

Perlahan Rio membuka matannya yang terasa berat. Ia masih mencium bau bius di sekitar hidungnya. Rio merasa tidak familiar dengan tempatnya berada sekarang. Silauan lampu sedikit membuat matannya harus terpejam beberapa kali.

“Loe pingsan apa pura-pura mati sih !!“suara khas tersebut mengagetkan Rio dan membuatnya langsung menoleh ke samping. Rio membelakakan matannya kaget saat mendapati Ify berada di sampingnya.

“Loe ? Ngapain disini ? terus ? Gue . . . “

“Gue ngapain di pesawat ?”
“Loe . . .Loe nyulik gue ??”

            Ify menatap sang suami dengan tatapan sinis, Merasa tingkah suaminnya itu sangatlah bodoh. Ify menggulung kertas yang ada ditangannya dan langsung menamparkan ke kepala Rio membuat pria itu sedikit meringgis.

“Loe udah sadar apa belum sih ??”

“Loe mau bawa gue kemana ?”

“Loe nyulik gue ?”

“Gue mau buang loe ke antartika. Berisik banget sih loe”cerca Ify sinis membuat Rio semakin kebinggungan. Dimana ia saat ini berada di sebuah pesawat. Dan keadaan diluar pun sudah mulai gelap. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi pagi kepadannya.

“Orang-orang besar itu loe yang nyuruh ??”tanya Rio yang mulai mengingat semuannya.

“Hmm.  “jawab Ify santai.

“Loe nyandara suami loe sendiri ? loe mau nyulik suami loe sendiri ??”tanya Rio bertubi-tubi dengan wajah sok dramatis membuat Ify tambah jijik melihatnya.

“Loe . . . . Emang kalau gue nyulik loe terus gue jual bakalan laku berapa sih ? “

“Tubuh kerempeng, hidung masuk kedalam, wajah abstrak. Gak ada yang menarik . “

“terus kenapa loe mau sama gue ?”

“Gue khilaf “jawab Ify padat singkat dan jelas dengan wajah paling datar yang ia punya.

“Cisshh. . .Gadis setan!! “desisi Rio tak terima dengan hinaan sang istri.

“Emang loe mau bawa gue kemana ??”

“Kepo banget sih loe”

“Gue tanya serius nona Alyssa . . .”

“Gue juga jawab serius tuan Mario . .”

“Gue tanya sekali lagi. Loe mau bawa gue kemana ?”Ify menolehkan wajahnya ke Rio yang terus-terusan bertannya kepadannya. Ify dengan penuh kesabaran menyunngingkan senyum terpaksannya.

“Hawai .  .. “

“WHAT ???”

 

Bersambung . .. .. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s