STORY OF DEVIL FAMILY – 10

DIMOHON KLIK LANJUT MEMBACA JANGAN CONTINUE READING

Follow twitter author @luckvy_s.Comment dari kalian sangat ditunggu ya😀 dan terima kasih mau setia baca cerita ini. Selamat membaca. Dilarang keras mengcopas/merepost ulang cerita ini tanpa seizin dari penulis. !!. Keadian kemarin untuk pertama dan terakhir kalinya. Kalau sampai terjadi lagi aku benar-benar bakalan tegas. Terima kasih.

       STORY OF DEVIL FAMILY – 10

LANJUT MEMBACA

   Bima mengambil handuknya yang biasanya ia sampirkan di depan kamar mandi, namun langkahnya terhenti karena rasa penasarannya dari tadi.

 

“Bunda ngapain ya ke kamarnya alyn?”

 

“Jangan-jangan bunda nyelidiki Alyn?”

 

“Kalau dia tanya aneh-aneh mampus gue”

 

            Degan gerakan cepat Bima segera keluar dari kamarinya. Ia setengah berlari menuju kamarnya Alyn. Setelah berdiri di depan kamar Alyn, Bima pun mendekatkan telinganya di pintu kamar Alyn. Berharap ia mendengar sesuatu didalam sana.

 

“Tante kenapa nangis ?”

“Bunda nangis??” raut wajah Bima sedikit berubah dan mulai panic sendiri. Padahal tadi bundanya di kamarnya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan. Hanya saja wajahnya terlihat sedikit pucat.

 

“Bi.. . Bi. . . Bima bukan anak kandung tante “

 

DEEGGG

           

Bima terdiam untuk beberapa saat, terdiam dalam arti ia bukan terkejut atau shock. Melainkan terdiam karena ia tidak mengerti arah pembicaraan dua orang didalam sana. Walaupun perasaan Bima sudah bercampur tak karuan, tubuh dan hatinya menyuruhnya untuk tetap berdiri di depan kamar ini.

 

“Tante gak lucu ah. “

 

“Iya al, gak lucu kan ?, Tante juga ingin kalau ini semua Cuma lelucon”

 

“Tante sebenarnya apa yang terjadi ? Cerita ke Alyn “

 

“5 hari yang lalu ada pengacara datang ke kantor Rio, dia ingin bertemu kami berdua.. Pengacara itu mengatakkan bahwa anak kami sebanarnya ditukar oleh salah satu clien Rio yang dulunya memang sangat jahat dan ingin menghancurkan perusahaan rio dan merebut perusahaan Papa tante. “

 

“Dan tante sama Rio gak percaya begitu saja, akhirnya kami berdua di pertemukan dengan anak itu, Anak yang sebenarnya anak kandung tante. Kita melakukan tes DNA dan tadi pagi tes DNA itu keluar. “

 

“Hasilnya positive, dia anak tante. DNA.nya sama dengan DNA tante. Dan itu menyebabkan selama 5 hari kemarin tante dan om bertengkar hebat. Tante memihak ke Bima dan Rio memihak ke anak itu”

 

            Bima memundurkan langkahnya beberapa langkah, tubuhnya terasa melemas, nafasnya berhembus dengan cepat. Kedua tangan Bima mulai gemetar dan dipenuhi dengan keringan dingin.

 

“Gue bukan anak bunda dan Papa ?”lirih Bima. Wajahnya mulai memerah menyimpan rasa kekewaan dan kesalan tersendiri setelah mendengar semua itu.

 

“Dan lebih lagi, anak itu adalah teman sekelas kalian berdua. “

 

“te . . .teman se . seke . sekelas Bi.. Bima . .??”

 

“Anak itu Adit. Teman sebangku Bima kan dia ?”

“Tante sayang sama Bima , tante yakin Bima anak tante, Tapi kenyataanya ? Apa yang harus tante bilang ke Bima ? Apa tante tega mengatakan jujur ke Bima kalau dia bukan anak tante? “

 

“Adit ? Adit ? Adit ???”Bima mengucapkan nama itu berulang-ulang dengan tak percaya.

 

“Apa yang harus tante lakukan Alyn ? Apa yang harus tante lakukan sekarang ?”

 

“Besok Rio akan membawa Adit ke rumah ini, Dan pasti akan terjadi sesuatu yang besar di dalam rumah ini. Pertengkaran, percecokan, kesedihan. Dan gak akan ada lagi kebahagiaan”

 

“Tante . . . “

 

“Sebelum itu terjadi, kamu mau kan janji sama Tante ? Kamu mau kan janji akan jadi penguat untuk Bima?.Kamu bisa janji sama tante kamu akan selalu nemenin Bima kemana pun. “

 

“Jangan biarkan anak tante menangis setetes pun. Biar tante saja yang menangis. Kamu bisa janji kan akan terus tersenyum dihadpaan Bima. Bahkan nyawa tante rela tante berikan asal Bima tidak menangis setets pun”

 

            Bima membiarkan air matannya keluar kali ini, mengalir dengan bebas. Ia tidak akan bisa menahan air matanya jika sudah bersangkutan dengan bundanya. Bima akan sakit dan sedih jika bundanya sakit dan sedih. Bima akan bahagia jika bundanya bahagia walaupun sebenarnya hatinya sendiri sedang sedih.

            Bima meremas tangannya kuat-kuat sangat kuat sekali sampai rasanya tulang-tulang jari pria ini akan patah akibat kuatnya cengkraman tersebut. Wajah Bima pun menegang hebat. Mencoba menahan suara isakannya yang akan keluar.

            Walau pun ia seorang pria yang hebat dan tegar, namun jika dihadapkan dengan isakan bundanya , ia hanyalah seorang anak laki-laki yang lemah yang tahu diri jika seorang wanita lah yang merawat dan melahirkannya.

            Dan kenyataan yang harus Bima terima bahwa bunda yang selama 16 tahun yang merawatnya dan mendidiknya serta selalu menjagannya bukanlah bunda kandungnya.

 

“Al , . . al . .Alyn janji tante. Alyn janji. Alyn benar-benar janji sama tante bahwa Alyn tidak akan membiarkan setetes air mata pun jatuh dari kedua mata Bima. “

 

“Kalau sampai itu terjadi, tante boleh marah sama Alyn bahkan tante boleh usir Alyn dari rumah ini”

 

“Terima kasih Alyn, tante serahkan Bima sama kamu “

 

“Tante gak tau harus bercerita ke siapa lagi. Tante tidak mungkin menangis di depan Bima. Itu pasti membuat Bima lebih sakit lagi”

 

“Terima kasih kamu mau menjaga Bima untuk tante, Tante harap kamu bisa membuat Bima bahagia lebih dari Tante dan Om selama ini membuat Bima bahagia”

 

“Alyn akan berusaha semampu Alyn, Tapi Alyn juga minta ke Tante dan Om, nantinya jangan membeda-bedakan Bima dengan Adit. Itu bisa membuat Bima sakit. Walaupun nantinya Bima tidak akan menunjukkan rasa sakitnya. Tapi Bima akan memendamnya serapat mungkin sampai tidak ada yang tahu.”

 

“Bukan tidak akan ada yang tahu tapi hanya satu orang yang akan tahu. Yaitu kamu. Tante yakin, Bima akan menceritakan semuanya, apapun tentang kesedihannya ke kamu. Tante yakin itu akan terjadi nanti”

 

“tante kembali dulu ke kamar, Nyiapin makan malam untuk kalian berdua. Kamu jangan cerita siapa-siapa tentang semua ini. Mengerti ?”

 

            Dengan cepat Bima meninggalkan kamar Alyn, ia berlari ke kamarnya sendiri dan segera masuk ke kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Bima berdiri di kamarnya dengan wajah binggung dan masih blank. Tubuhnya seperti tanpa nyawa. Bima binggung apa yang harus ia lakukan sekarang, Duduk ? berfikir ? atau bagaimana .?.

            Mata Bima tertuju ke tumpukan album foto yang tadi di lihat oleh Ify dan belum di kembalikkan ke tempat semula. Kini Bima tau alasan kenapa Ify ke kamarnya dan melihat album foto itu.

            Perlahan Bima berjalan mendekati Album fot tersebut. Dan salah satu album foto terbuka dan terlihat jelas sebuah foto berukuran 10R. Foto Ify, Rio, dan Bima kecil yang masih berumur 1 tahun. Terlihat kebahagiaan disana. Bima tertawa layaknya seorang bayi yang lucu dengan dua gigi putihnya yang terlihat. Rio mengendong Bima dengan senyum yang menawan dan ify juga tersenyum sambil memegang jemari Bima.

 

“Lalu ? Gue ini anak siapa ?”

 

“Dan semuanya gak ingin gue tau. Lalu jika gue tau ? gue harus berpura-pura tidak tahu ?”

 

“Aisshh. . . . “

           

            Bima menghembuskan nafasnya berulang-ulang. Mencoba menetralkan perasaannya yang sudah tidak karuan lagi saat ini. Bima tidak ingin terlalu kalut dan emosi.

 

“Bima, tenang, jangan berlebihan. Tidak akan ada yang berubah. Jangan buat bunda loe sedih. Jangan buat bunda loe sedih.”

 

“Loe bukan lelaki manja, Jangan buat bunda loe sedih”

 

            Setelah benar-benar menata hati dan jiwanya , Bima memilih untuk segera mandi. Berharap setelah mandi badannya lebih segar dan otaknya pun bisa diajak berfikir secara jernih kembali.

****

            Rio pulang dari kantor tidak terlalu ralut malam, ia hanya ingin pulang cepat dan menyelesaikan masalahnya dengan Ify. Ia tidak ingin bertengkar dengan Ify lagi. Rio memasuki kamarnya hati-hati, ia yakin Ify belum tidur saat ini.

            Dan benar saja , saat ia membuka pintu kamarnya, Rio melihat Ify berdiri di jendela kamar. Memandangi luar kamar dengan tatapan yang kosong. Rio menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Setelah itu berjalan mendekati Ify.

 

“Loe gak tidur?”tanya Rio hati-hati sambil memegang bahu Ify. Sepertinya Ify pun sudah tahu kedatangannya. Ify hanya menjawab dengan gelengan ringan saja.

 

“Kalau loe begini terus , loe bisa sakit. Sekarang loe istirahat”

 

“Loe sudah bertemu dengan anak itu ?”

 

“namanya Adit, fy, Dia juga anak kita”Ify menahan kembali emosinya. Selalu saja Rio tidak mengerti perasaanya saat ini.

 

“Tadi siang gue datang kerumahnya, dan tante yang selama ini merawat dia ternyata meninggal. Gue gak tega Fy ngelihat dia masih remaja seperti itu harus menghadapi kenyataan sepahit itu. Dan besok gue akan ajak dia kesini. Untuk tinggal sama kita”

 

“Lakukan sesuka hati loe Yo, Dan gue akan lakukan sesuka hati gue”

 

“Fy gue gak ingin bertengkar lagi sama loe. Sekarang kita fikirkan jalan tengah yang baik”

 

“Bukan jalan tengah yo, Tapi jalan loe sendiri. Apapun yang terjadi loe tetap akan pilih jalan loe kan?”Ify masih menatap ke luar jendelanya. Ia tidak ada niatan untuk menatap Rio sama sekali. Ia takut emosinya akan terpancing saat itu juga jika ia menatap wajah Rio .

 

“Fy dengerin gu. . . “

 

“LOE YANG SEHARUSNYA DENGERIN GUE!!!”bentak Ify keras. Ify langsung membalikkan badannya menghadap Rio, Ify menatap Rio tajam dengan kedua mata yang sudah memerah dan terbendung air mata disana yang siap untuk dijatuhkan saat itu juga.

 

“Kapan sih loe mau dengerin gue ? kenapa sih loe jadi egois seperti ini yo ? Gue tau semua ini demi anak kandung kita yang diluar sana. Tapi ngertiin gue yo, gue belum siap!!. Gue belum siap cerita dengan Bima kalau dia bukan anak kandung gue. Gue belum siap buat pisah dengan Bima. “

 

“Gue yo yang 16 tahun ini ngerawat dia saat loe sibuk kerja, gue yang selalu ada buat dia. BUKAN LOE!!! “

 

“Loe nyuruh gue mikirin perasaan dan menderitanya Adit ? Apa loe pernah mikirin perasaan bima jika dia tahu bahwa dia bukan anak kandung dia ? Loe fikir dia sudah besar? Dewasa? Bisa cari uang sendiri ? dia masih labil yo. Belum tau dunia luar”

 

“Dan kenapa loe gak gunain kekayaan loe yang melimpah itu buat diriin Adit rumah sendiri, belikan dia mobil sesuka loe,. bahkan kasih dia uang yang banyak. Agar dia bahagia. Terus loe pa . . .”

 

“FY DIA ANAK KITA BUKAN ANAK HARAM :”bentak Rio ikut-ikutan naik pitam. Mendengar bentakkan Rio membuat Ify langsung terkejut.

 

“Fy. Fy maafin gue. Fy. Fy maafin gue Fy. Fy gue gak sengaja . gu“ Rio meraih tangan kanan Ify merasa sangat bersalah sekali sudah membentak Ify seperti itu.

 

“Lepasin gue Yo. Lepasin gue . . “Ify tak kuasa menahan tangisnya lagi. Rio membentaknya begitu keras tepat di sebelahnya.

 

“Loe jangan dekat-dekat sama gue. Lepasin gue Yo. . LEPASIN GUE!! “teriak Ify kalut. Ia tidak peduli lagi orang serumah akan mendengar pertengkarannya dengan Rio. Ia tidak peduli lagi Bima akan bangun dan mendengar pertengkarannya dengan Papanya.

 

            Rio terdiam dihadapan Ify, Rio menatap Ify dengan rasa sangatbersalah sekali. Rio melihat Ify semakin terisak menjadi sangat kesal ke dirinya sendiri yang tidak bisa menahan emosinya.

 

“Loe gak pernah bentak gue Yo seperti ini, ini untuk pertama kalinya yo. “

 

“Fy maafin gue, Gue. . gue kelepasan, Maafin gue. Gue janji gak akan ngulangin lagi. Gue janji Fy. Maafin gue”Rio mencoba kembali meraih tangan Ify.

 

“Jangan sentuh gue!! “Ify segera menarik tangannya dari tangan Rio. Ify menatap Rio tajam.

 

“Jangan berani sentuh gue yo!!! “

 

“Fy maafin gue. Gue bener-bener g sengaja. Gue minta maaf Fy”

 

“Loe jahat yo!! Loe tega yo”

 

“Fy . . . gu . . “

 

“Kalau loe masih tetap bawa anak itu ke sini Yo. Loe ceraikan gue sekarang juga”

“CERAIKAN GUE SEKARANG!!! “

 

“FY!!! “bentak Rio kaget dengan ucapan Ify. Bahkan pertengkaran mereka beberapa kali pun Rio tidak pernah berfikir akan tersebut kata “cerai” diantara mereka berdua.

 

“Gue akan bela anak gue yo, bahkan gue rela cerai sama loe demi Bima., Gue gak akan takut kehilangan loe asal gue gak kehilangan anak gue yo”

 

“Fy, loe tarik ucapan loe lagi”

 

“gak akan!!! Gue gak akan pernah tarik ucapan gue selama loe lakuin itu semua “

 

“Gue gak nyuruh loe pisah fy sama Bima. Gue Cuma ingin kita hidup bahagia sama-sama dengan anak kita. Dengan Bima juga. Kit . . . .”

 

“Kata-kata loe sangat mudah untuk terucap Yo. Tapi tidak untuk hati gue dan Bima. Bagaimana bisa gue nerima kedatangan anak itu selagi Bima juga ada disamping gue ?”

 

“LOE KAPAN SIH YO NGERTIIN PERASAAN GUE !! “

 

“Fy, gu . . gue cum. . cum . . . “

 

“Cuma apa ? loe hanya fikirin diri loe sendiri ngerti gak sih Yo. Loe gak penah fikirin hatinya Bima nanti. Loe gak pernah fikirin gue siap atau tidak nerima keluarga baru lagi. Walaupun faktanya Adit itu anak gue, tapi gue takut Yo. Gue tacit berbuat tidak adil ke Adit nanti. Karena gue belum bisa nerima dia sebagai anak gue”

 

“Apa salahnya dicoba ?”

 

“Loe kok tetep ngeyel sih yo. !! “

 

“TERSERAH LOE SEKARANG YO !! TERSERAH!!! “bentak Ify frustasi dengan pertengkaran hebatnya dengan Rio saat ini.

 

“Fy, gue gak ingin kita bertengkar seperti ini, Loe dengerin penjelasan gue baik-baik. Bulan depan mereka berdua berumur 17 tahun, dan pada saat itu kita sepakat akan memberikan hadiah kepada anak kita surat peralihan kepemilikan perusahaan kita. Dan . . “

 

“Yo . . . “Ify menatap Rio dengan wajah tak percaya.

 

“Jadi semuanya ini berhubungan dengan warisan? Dan penerus loe ??”

 

“Loe kasih semua harta kekayaan loe ke anak baru loe itu. Kasih semuanya Yo. Gue gak butuh. Loe gak perlu ngasih sepeser pun ke Bima. Gue yang akan ngasih semua harta gue ke Bima”ujar Ify tajam.

 

“Bu. . Bukan seperti itu Fy. Ma . .. “

 

“Sejak kapan sih Yo loe kayak gini ? loe bukan Rio yang gue kenal tau gak. !! “

 

“Gue capek yo sekarang. Gue capek bertengkar terus sama loe. lebih baik loe kembali ke kantor. Loe gak perlu pulang. Jernihin fikiran loe dulu itu sampai loe ngerti perasaan gue dan gak egois”

 

“Kalau loe masih egois. Ceraikan gue dan cari saja istri baru yang bisa nerima Adit sebagai anaknya. Dan ca . . .”

 

“LOE NGACO NGERTI GAK!! “bentak Rio yang kini mulai ikutan emosi akibat ucapan Ify yang sedari tadi mengatakan kata “cerai”.

 

“Dua kali yo , loe bentak gue . Dan akan beberapa kali lagi ?”tanya Ify dengan wajah yang benar-benar sudah lelah dan pasrah. Air matanya pun sudah berhenti tidak membasahi pipinya lagi.

 

“Gue gak pernah ada maksud nyakitin loe Fy, gue gak ada maksud bentak loe. Tapi dari tadi loe sebutin kata cerai cerai cerai cerai dan cerai “

 

“Loe fikir cerai itu mudah ? kita masih bisa Fy cari jalan keluarnya. Bukan cerai “

 

“Gue nyoba tidak egois. Gue ambil jalan tengah membawa Adit kemari karena agar dia tahu orang tua kandungnya. Dan sekarang gue balik tanya sama loe. Seandainya Adit hidup sendirian disana tidak ada yang merawat ? loe tega ? dia anak kandung kita Fy . !! Loe harus ingat itu!! “

 

“Loe fikir gue gak sayang sama Bima ? gue sayang Fy sama Bima, gue juga ikut merawat dia dari kecil dan menjadikan dia anak hebat seperti ini. Dan gue juga tau bagaimana perasaan Bima nantinya. Tapi jika kita menyimpannya lama-kelamaan. Loe mau Bima tahu dari orang lain ?”

 

“Apa sekarang gue yang egois ??”Ify hanya terdiam saja. Energinya sudah terkuras habis. Ia sudah sangat lelah saat ini. Semua kata-kata Rio pun hanya berlalu saja di kedua telingannya.

 

“Loe fikirin baik-baik sendiri. Gue akan balik ke kantor. Gue akan tidur disana.”

 

            Rio langsung beranjak pergi dari kamarnya meninggalkan Ify didalam kamar sendirian. Ify perlahan berjalan menuju kasurnya dan langsung membaringkan tubuhnya disana. Dan air mata gadis ini kemali turun. Ify memeluk guling yang ada disampingnya.

 

“Gue gak mau kita bertengkar seperti ini yo . . “ujar Ify merasakan dadanya kembali sakit. Semua emosinya meluap begitu saja tadi. Ia sendiri tidak habis fikir bahwa dia mengatakan kata cerai semudah itu. Ify terisak kembali.

 

“Seharusnya loe tenangin gue yo, loe peluk gue, bukan malah loe ikut emosi. “

 

“kemana Rio yang selalu menahan emosinya dan buat gue nyaman ??”

 

“Kenapa loe jadi seperti ini yo . . “

 

CKLEEEEKKKK

 

“Gue tidur dirumah “

           

            Tiba-tiba Rio masuk kedalam kamar membuat ify sedikit kaget dan langsung menghapus air matannya, Sebenarnya Rio tidak benar-benar beranjak dari kamar, Ia masih berada di depan kamar dan mengarkan semua ucapan Ify dan tangisan Ify, Membuat Rio tidak tega sendiri. Karena ia pun merasa sangat bersalah membuat ify menangis seperti itu.

 

            Rio segera mengganti pakaiannya dan mencuci wajahnya dikamar mandi agar lebih segar. Setelah itu ia berbaring di kasur tepatnya disamping Ify. Rio menatap Ify yang berbaring ke menghadap ke kanan dan membelakanginya.

 

“Maafin gue . . “lirih Rio lembut dan segera menarik tubuh Ify agar menghadap kearahnya. Ify pun langsung beralih kedalam pelukan Rio. Rio membenahkan bantal Ify agar lebih dekat dengannya. Dan menyelimuti istrinya.

            Kepala Ify bersender di tangan Rio, tubuhnya pun ia hadapkan ke dada Rio. Dan dengan lembut Rio membelai punggung Ify. Berusaha membuat nyaman gadis ini.

 

“Jangan pernah sebut kata cerai lagi. Ngerti ?”

 

“Hmm”

 

“Gue akan turutin loe. Gue akan bawa Adit kesini. Loe seneng kan ??”

 

“hmmm”

 

“Sekarang loe bisa tidur dengan tenang ??”

 

“Hmmm. . .”dan entah mengapa Ify terisak kembali. Bebannya terasa hilang begitu saja saat Rio berada di dekatnya dan meluknya seperti ini. rasanya sangat nyaman sekali.

 

“Jangan nangis . . “pinta Rio lembut.

 

“Loe gak akan bentak gue lagi kan ??”

 

“ga akan pernah. Maafin gue ”

 

“Hmm.”Ify mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil dan segera menghapus air matannya menggunakan baju Rio. Melihat kelakuan Ify seperti itu Rio hanya bisa tersenyum ringan.

Rio tahu bahwa setiap masalah pasti bisa difikirkan jalan keluarnya selama masalah itu tidak pernah dicampur adukan dengan emosi yang ada di diri kita. Karena sebenarnya bukan masalah yang menjadi bertambah besar namun kitalah yang selalu membesar-besarkan masalah tersebut dan menyebabkan jalan keluarnya menjadi buntu.

****

1 jam yang lalu. . .

 

“LOE YANG SEHARUSNYA DENGERIN GUE!!!”

 

            Suara bentakkan keras Ify tersebut membuat Alyn dan Bima sama-sama keluar dari kamarnya. Bahkan para pembantu dirumah pun ikut kaget. Alyn merasakan bau-bau tak enak. Ia segera berlari menuju kamar Bima dengan cepat.

 

“Loe mau kemana ?”tanya Alyn saat melihat Bima akan menuruni tangga. Wajah Bima terlihat sangat panik.

 

“Gu. . .”sebelum Bima menjawab pertanyaan Alyn, dengan cepat Alyn menyeret Bima untuk kembali ke kamar pria ini. Bima yang sejak tadi masih blank dan masih tidak bisa berfikir jernih hanya mengikuti Alyn saja.

            Alyn menyuruh Bima untuk duduk diatas kasurnya, Alyn melihat wajah Bima yang sedikit pucat. Alyn memeriksa kening Bima.

 

“Loe sakit ?”

 

“Enggak”jawab Bima ringan.

 

“Gue yo yang 16 tahun ini ngerawat dia saat loe sibuk kerja, gue yang selalu ada buat dia. BUKAN LOE!!! “

            Suara teriakan Ify bahkan terdengar sampai kamar Bima, Alyn mendapati wajah Bima semakin pucat dan tegang saat mendengar suara teriakan Ify beberapa detik yang lalu. Bima menatap kosong kea rah depan.

 

“Bim, loe gak apa-apa kan ??”tanya Alyn khawatir.

 

“Bunda sama Papa bertengkar ??. Dan itu pasti karena gue “lirih Bima lemas. Alyn membelakakan matannya. Apakah Bima mengetahuinya ??

 

“Enggak Bim. Bukan karena loe . Udah gak usah serius kayak gitu wajahnya. Namanya juga orang tua pas. . “

 

“FY DIA ANAK KITA BUKAN ANAK HARAM :” belum juga Alyn menyelesaikan kata-katanya suara bentakkan Rio terdengar cukup keras sekali. Dan saat itu juga Bima berdiri dari tempat duduknya.

 

“Loe mau kemana ? Loe disini aja”cegah Alyn dan mendudukan Bima kembali.

 

“Mereka bertengkar untuk pertama kalinya Al, dan itu karena gue “ujar Bima serius dan menatap Alyn memohon agar membiarkannya pergi karena Alyn begitu erat memegangi tangannya.

 

“Loe gak boleh kemana-kemana Bim. Loe harus disini!! Itu urusan orang tua”tajam Alyn dan membuat Bima menurut untuk kali ini. Bima pun terdiam duduk kembali.

 

“Loe jangan dekat-dekat sama gue. Lepasin gue Yo. . LEPASIN GUE!! “

 

“Bunda. .. .”tubuh Bima mulai gemetar membuat Alyn semakin cemas.

 

“Mereka bertengkar karena gue bukan anak kandung mereka “

 

            Alyn membelakakan matanya kaget, Bagaimana Bima bisa tau akan kenyataan ini. Bukanhkah belum ada yang mengetahuinya kecuali Kedua orang tua Bima, Alyn dan Adit tentunya. Apa yang harus dilakukan Alyn saat ini.

 

“Bim, loe ngomong apa sih. Loe jelaslah anak kandung Tante Ify da. . .”

 

“Gue tau Al, gue bukan anak kandung mereka. Gue denger pembicaraan loe dan Bunda”

 

“Bim. . .”seketika itu tubuh Alyn melemas. Alyn langsung duduk dibawah dihadapan Bima seperti sedang berlutut. Alyn memegangi erat kedua tangan Bima mencoba member kekuatan untuk Bima.

 

“CERAIKAN GUE SEKARANG!!! “

 

“BIM !!”bentak Alyn mencoba mencegah Bima yang sudah berdiri dan akan beranjak keluar. Alyn langsung menarik Bima kembali agar tidak keluar kamar. Suara Ify yang sangat kencang langsung membuat Bima kebingungan dan sudah panik tak karuan.

 

“Bim tutup telinga loe. Gue mohon loe jangan keluar. Tutup telinga loe Bim. DENGERIN GUE!!” Bima langsung mendadak terdiam dan berhenti dihadapan Alyn. Tubuh Bima semakin bergetar hebat. Kedua matannya mulai memerah, bibirnya pun tak henti-hentinya mengeluarkan suara gertakan-gertakan.

 

“FY!!! “

 

“LOE KAPAN SIH YO NGERTIIN PERASAAN GUE !! “

 

            Alyn dengan cepat menutup telinga kedua telinga Bima rapat-rapat dengan tangannya saat suara bentakkan Ify sleanjutnya terdengar lagi. Alyn tak bisa menahan tangisannya lagi saat melihat air mata jatuh dari dua mata Bima.

 

“Bim gue mohon jangan nangis. Bim loe anak kandung mereka. Ini bukan salah loe. Gue mohon jangan nangis Bim!! “

 

“Gue udah janji sama bunda loe. Gue gak akan buat loe nangis. Jadi gue mohon jangan nangis. JANGAN DENGARKAN MEREKA!!!”teriak Alyn frustasi.

 

“Gue . . gue. . . . gue harus apa? Mereka akan bercerai ? mer. . .”

 

“TERSERAH LOE SEKARANG YO !! TERSERAH!!! “

 

“TUTUP TELINGA LOE BIMA!! JANGAN DENGERIN MEREKA!! GUE MOHON!! “bentak Alyn namun tidak terlalu keras. Bima seperti orang linglung sekarang. Tidak tau harus berbuat apa. Dan tidak tau harus melakukan apa. Bahkan pria ini membiarkan saja air matanya mengalir. Dan berulang kali juga Alyn dengan cepat menghapus air mata Bima.

 

“Bim gue harus apa biar loe gak nangis ? gue mohon jangan nangis!! Loe itu cowok!! Jangan nangis Bima!!! “

 

“Tutup telinga loe Bim. Gue mohon!! Tutup telinga lo!! “pinta Alyn yang semakin terisak hebat.

 

“LOE NGACO NGERTI GAK!! “

 

            Alyn sudah tak dapat melihat Bima seperti ini lagi. Dengan cepat Alyn segera menyeret Bima masuk kedalam kamar mandi. Alyn menyalakkan shower didalam kamar mandi dan menyalakan keran air kamar mandi. Berharap Bima tidak akan mendengarkan apa-apa lagi.

            Sekarang mereka berdua sudah hanya diam saling berhadapan dengan pakaian basah akibat terkena air dari shower yang menyala tersebut. Alyn menggenggam erat tangan Bima saat ini.

 

“Loe gak denger apapun lagi kan ?? Loe gak perlu denger itu semua Bim. Loe hanya perlu tau kalau loe punya Gue, punya tante Ify dan punya Om Rio. Ngerti ??”

 

“Loe gak akan ninggalin gue kan??”

 

“Gak akan pernah Bim. Gue janji, gue akan ada di sisi loe. Gue gak peduli loe anak siapapun. Gue akan tetap di sisi loe. Karena selamanya loe adalah anak keluarga Freedy Haling “

 

“Loe gak akan berpaling ke Adit kan ? Karena sekarang Adit lah yang kaya bukan gue”

 

“Gak akan Bim, Gue gak peduli seberapa kayanya Adit. Gue gak peduli status Adit sekarang. Karena orang yang ada di hati gue Cuma loe. Bukan siapapun. Jadi loe gak perlu takut lagi”

 

“Gu. . gu. . gue anak siapa ?”

 

“Bim gue mohon jangan bahas itu lagi. Loe anak Om Rio dan Tante Ify. “

 

“Bukan . . “

 

“Bim. Sadar dong gue mohon. Jangan kayak gini”Alyn tak tega melihat wajah kosong Bima sekarang, Wajah linglung seperti orang tak punya akal dan tak punya jiwa. Alyn pun segera memeluk Bima dengan erat. Membiarkan Bima tenang dalam pelukannya.

 

“Gue akan terus ada di sisi loe Bima”

 

“Sekarang jangan takut dan tenang ya”

 

“Semua ada jalan keluarnya. Mengerti ?”

 

“Dan selamanya loe adalah anak keluarga Freedy Haling. Gak akan ada yang bisa gantiin tempat itu.”

 

“Tenang ya Bima. . “

 

“Tenang. . . “

 

Bersambung. . . . . .

7 thoughts on “STORY OF DEVIL FAMILY – 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s