STORY OF DEVIL FAMILY – 11

Follow twitter author @luckvy_s . Comment dari kalian sangat ditunggu ya :D dan terima kasih mau setia baca cerita ini. Selamat membaca. Terima kasih

 

 

” JANGAN LUPA UNTUK KLIK “LANJUTKAN MEMBACA” DIMOHON DENGAN SANGAT YA TERIMA KASIH”

STORY OF DEVIL FAMILY – 11

 

      

LANJUTKAN MEMBACA >>

   

  Keesokan pagi Ify, Rio, Bima dan Alyn melakukan sarapan pagi dengan suasana yang sangat canggung. Tak ada yang membuka suara satu pun sejak setengah jam yang lalu. Keadaan yang biasanya ceria dan penuh tawa kini berubah menjadi keadaan yang sedikit mencekam.

            Bima menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan meminum susu putih kesukaannya. Setelah itu Bima berdiri dari tempat duduknya. Tanpa mengatakan satu katapun bahwa melihat wajah orang-orang di sekitarnya Bima langsung berjalan pergi meninggalkan ruang tamu. Ify memanatap kepergian Bima dengan wajah yang shock. Karena Bima tidak seperti biasanya yang akan berpamitan dengan dirinnya dan Rio.

            Alyn menundukkan kepalannya tidak tega melihat wajah Ify yang seperti itu. Alyn tau apa yang sedang terjadi dengan Bima akibat kejadian kemarin. Ify melihat kunci mobil Bima yang masih berada diatas meja makan. Ify pun segera mengambil kunci mobil itu dan berjalan menyusul Bima.

            Rio tidak tau harus melakukan apa dalam situasi saat ini. Karena ia yakin bahwa Bima sudah mendengarkan pertengkaran dirinnya dan ify semalam. Terbesit rasa bersalah membayangi pria ini.

 

“Bima sudah tau Alyn?” tanya Rio kepada Alyn yang sudah dapat Rio duga bahwa Ify pasti menceritakan semuanya ke Alyn. Gadis ini mendongakkan kepalannya dengan wajah sedikit  binggung. Butuh beberapa detik otaknya mencerna pertanyaan dari pria paruh baya di depannya tersebut.

 

“Tentang, siapa Bima sebenarnya?” tanya Alyn balik dengan hati-hati. Rio langsung menganggukan kepalannya.

 

“Sud— ­­, sudah om:” jawab Alyn dengan suara sedikit bergetar. Rio mendesahkan nafas beratnya.

 

“Apa itu memang benar om?” tanya Alyn lagi, jujur saja ia sendiri belum dapat percaya.

 

“Yah” jawab Rio seadanya. Rio pun segera berdiri dari kursi makannya dan berjalan menuju keluar rumah. Ia berniat untu menyusul Ify.

 

            Ify berlari-lari kecil mengejar Bima yang sudah setengah jalan akan sampai gerbang rumah mereka yang menjulang sangat tinggi.

 

“BIMA!!” panggil Ify dengan suara sedikit tinggi dan membuat sang anak semata wayangnya tersebut menghentikkan langkah kakinya tanpa membalikkan tubuhnya sesentipun. Ify menghelakan nafas berat dan mencoba mengatur nafasnya sesaat. Ify berjalan mendekati Bima tepatnya saat ini Ia sudah berdiri di depan Bima.

 

“Kamu mau kemana? Sejak kapan bunda dan Papa mengajarkan kamu seperti itu??”

 

“Ini kunci mobil kamu. ket—“

 

“Sejak kapan bunda dan papa jadi pembohong besar?” seketika itu kunci mobil yang ada ditangan Ify terjatuh dari tangan gadis ini. Wajah Ify nampak shock mendengar pertanyaan Bima bagaikan pisau tajam yang menusuk kerongkongan sampai perut Ify.

 

“Ap—, Ap—, Apa maksud kamu, Bima??”

 

“Maksud Bima?? Bima bukan anak kandung kalian” jawab Bima enteng tanpa beban. Namun wajahnya menunjukkan wajah kesenduan dan kekecewaan yang besar. Kaki Ify terasa sudah tak ada daya bahkan tulang pun seolah tak terasakan lagi. Ify mencoba untuk tetap berdiri sebisa mungkin walaupun tubuhnya ingin ambruk saat ini juga.

 

“Tenang saja. Bima nggak apa-apa kok bun, apapun yang terjadi Bima anak bunda kan?” Bima mencoba untuk tersenyum walaupun senyum itu terlihat miris. Ify sudah menatuhkan air matannya entah sejak kapan. Mulutnya terasa terkunci rapat, tubuhnya membeku  seketika seolah tidak bisa lagi melakukan apapun saat ini.

 

“Maafin Bima Bun, Sekarang Bima pamit berangkat sekolah dulu. Bima bisa jalan kaki.”

 

“Bima berangkat bun”

 

            Bima langsung memilih melewati Ify begitu saja dan keluar dari gerbang rumahnya.

 

BRUUUKKK

 

            Seketika itu juga Ify terduduk lemas, kedua tangannya gemetar hebat begitu juga dengan tubuhnya. Ia tidak percaya dengan semua ucapan Bima tadi. Ucapannya sangat menusuk sekali dan terasa sakit bagi Ify. Ia merasa seperti ibu yang jahat kepada sang anak.

 

“FY” kaget Rio yang baru saja sampai di depan pintu rumah dan segera berlari ke arah Ify saat melihat sang istri terduduk sambil menangis seperti.

 

“Fy?? Lo nggak apa-apa kan?? Ada apa ? Ken—“

 

“Bima yo, Bima. , Di—, di—, dia, dia,  . . “ Ify tidak bisa meneruskan lagi kata-katannya dan seketika itu Rio langsung memeluk Ify dalam pelukannya sangat erat sekali. Membiarkan istri cantiknya ini melepaskan semua rasa kesedihannya.

 

“Sttt—, tenang ya Ify, tenang, tenang “

*****

            Bima memilih untuk tidak berangkat sekolah hari ini, ia melihat pom bensi dekat perumahan rumahnya dan segera berjalan menuju ke toilet pom bensi tersebut.

            Didalam toilet, Bima langsung mengganti seragamnya dengan baju biasa yang sengaja ia bawah. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Bima melihat ke ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.

 

“Maafin Bima bun” lirih Bima sambil melihat ke arah kaca di depannya. Bima mencoba untuk tersenyum.

 

            Bima keluar dari toilet pom bensin, ia berjalan kembali untuk pergi ke suatu tempat.

*****

            Rio memilih mencancel semua jadwal kerjannya hari ini, Ify dalam kondisi yang tidak stabil. Ify harus mendapatkan oksigen lebih sehingga ia harus memakai masker oksigen. Sejak kepergian Bima,  Ify hanya bisa terbaring lemas di kamarnya. Otaknya benar-benar sudah panas sampai bernafas susah rasanya.

            Rio membujuk Ify untuk ke rumah sakit, namun Ify tetap tidak mau. Ify terus saja menangis walaupun tak menguarkan satu suara sedikit pun. Rio pun tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ify sendiri sama sekali tidak mau melihat ke arah wajahnya.

 

“Hei, Semuanya akan baik-baik saja. Lo percaya kan??” lirih Rio sambil membelai puncak rambut Ify.

 

“Bima tidak akan apa-apa.”

 

            Mata Ify sudah membekak sejak semalam, dan ditambah tangisan saat ini. Hampir dua mata Ify sudah tak bisa terbuka lagi. Hidung dan matannya memerah bagai tomat. Rio tidak tega sekali melihat Ify seperti ini.

 

“Lo beneran sayang banget sama Bima ya Fy??” lirih Rio pelan sekali mungkin hanya dirinnya sendiri yang dapat mendengar ucapannya tersebut.

 

“Lo istirahat dlu ya”

 

            Rio mencium pipi kanan Ify dengan lembut setelah itu berjalan meninggalkan Ify yang masih berbaring disana. Ify seperti tidak ada daya lagi untuk melakukan apapun. Diotaknya sekarang hanya ada Bima, Bima, Bima, dan Bima.

******

            Alyn tidak tenang selama pelajaran, Bima tidak masuk hari ini. Sejak kejadian tadi dirumah Bima, Alyn segera berangkat ke sekolah menaiki taxi. Namun, sama sekali ia tidak menemukan keberadaan Alyn dimanapun. Ditambah dengan Adit juga tidak ada dikelas.

            Alyn menjadi sangat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Bima. Dari tadi pun Alyn diam-diam mengirim pesan ke Bima berulang-ulang bahkan sampai 50 kali. Tapi, Pria itu sama sekali tidak membalas pesannya. Itu semua membuat Alyn semakin khwatir.

*****

            Setelah pelajaran selesai, Alyn mendapatkan sebuah pesan. Alyn melihat layar ponselnya dan mengecek pesan dari siapa yang ia dapat. Mata Alyn langsung membulat dan tersenyum senang saat melihat nama “ BFH ” ada dilayar ponselnya. Alyn pun segera membuka pesan tersebut secepat mungkin dan membacanya baik-baik.

 

/Gue tunggu diluar gerbang sekolah sekarang./

 

            Tanpa fikir panjang, dan tanpa menutup pesan itu terlebih dahulu. Alyn langsung memasukkan ponselnya ke saku dan bergegas beranjak dari kelas menuju gerbang sekolah.

*****

            Alyn sedikit ngos-ngosan akibat berlari dari kelas sampai gerbang sekolah. Alyn tidak melihat sama sekali ada orang di luar gerbang tersebut. Dengan langkah mulai memelan, Alyn mendekati gerbang sekolah.

 

“Non, ditunggu den Bima di dekat perempatan lampu merah disana” ujar salah satu satmpam langsung membukakan pintu gerbang sekolah dengan sangat mudah. Alyn sempat sedikit tak percaya. Karena kecuali keperluan penting, sakit parah seorang siswa/siswi dan jam pulang sekolah baru diizinkan untuk meninggalkan sekolah ini. Alyn tak ambil pusing inilah yang dimaksud dengan “ The Power Of Haling Family”

 

            Alyn segera berjalan keluar dari gerbang sekolahnya, ia berjalan terus untuk menuju ke lampu merah yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Mungkin hanya 20 meter saja. Bahkan bisa terlihat dari depan sekolah Alyn.

            Alyn tersenyum melihat sesosok pria berdiri disamping tiang lampu merah dengan tas di punggungnya serta kantong kresek kertas (semacam kardus kantong) di tangan kanan pria itu. Wajahnya sangat memperhatinkan namun juga mengangumkan.

            Alyn melihat banyak mata orang-orang yang berhenti di dekat lampu merah memperhatikan Bima dengan heran. Mungkin mereka akan mengira mereka sedang bertemu makhluk tampan dari planet lain. Bima fokus memandangi keramaian didepannya dan seperti sedang melamun. Pria ini tidak menyadari kehadiran Alyn yang sudah dekat dengannya.

 

PLAAAKKK

 

“Lo mau tebar pesona disini”

 

“Awww” Bima yang kaget langsung memegangi bagian kepala belakangnya yang di pukul Alyn dengan keras. Bima memutar kepalannya menatap Alyn yang memberikan tatapan setengah garang ke arahnya.

 

“siapa juga yang mau tebar pesona” gidik Bima masih merasakan belakang kepalannya yang sakit.

 

“Ngapain lo disini? Bolos sekolah lagi. Aisshhh” desis Alyn sambil memincingkan tatapan remehnya.

 

“Gue lagi mikir, gimana caranya bunuh diri tanpa berdarah, tapi nggak perlu ngerasain sakit, tanpa nyakitin diri sendiri , kalau bisa pas gue mati gue langsung masuk surga”ujar Bima ngasal. Alyn berdencit kembali melihat kebodohan pria didepanya ini.

 

“Ujung akson sama ujung dendrit lo lagi nggak ketemu? Ha?” Bima hanya bisa nyengir tak jelas sambil menunjukkan wajah setengah idiotnya.

 

“udah, cepet lo pakai ini” ujar Bima kemudian menyerahkan kantong kardus yang ia bawah kepada Alyn. Alyn mengernyitkan keningnya namun tangannya menerima kantong kardus tersebut.

 

“Ini apa?”

 

“Kantong kardus, Ujung akson sama ujung dendrit lo lagi nggak ketemu? “ balas Bima sengit, Alyn mencoba untuk bersabar beribu sabar.

 

“Anak bayi baru lahir juga tau kalau ini kantong kardus, Maksud gue isinya apa?”

 

“Wahh, hebat banget tuh anak bayi. Lagian lo punya dua mata normal, kenapa nggak lo lihat sendiri saja isinnya”

 

            Alyn memegangi tungkak belakang lehernya yang tiba-tiba terasa sakit akibat serangan kalimat dari Bima. Alyn pun tak ingin ambil pusing dan segera membuka isi dari kantong kardus yang ia bawah tersebut.

 

“Baju ? buat apa?”

 

“Sekarang kayaknya bukan ujung akson sama ujung dendrit lo lagi yang nggak ketemu? Mungkin saraf sensorik dan motorik lo udah nggak berfu —“

 

“YAAAA!! Lo cari gara-gara lagi, gue balik ke kelas” ancam Alyn yang membuat Bima sekali lagi nyengir seperti orang setengah idiot.

 

“Gue mau jalan-jalan, lo mau temenin gue kan??” jawab dan tanya Bima dengan wajah serius saat ini. Alyn melihat wajah Bima seperti itu menjadi khawatir sendiri.

 

“Tunggu disini 10 menit, gue akan ngambil tas gue dan ganti baju sebentar.” Ujar Alyn sambil menyunggingkan senyum lembutnya ke Bima. Bima menganggukkan kepalannya.

 

“Jangan tebar pesona kecewek lain!!! “ ancam Alyn dengan nada bercanda, Bima terkekeh sendiri melihat tingkah lucu Alyn seperti itu. Ia melihat kepergian Alyn dengan tatapan entahlah. Ia merasa beruntung sekali mendapatkan kekasih seperti Alyn.

*****

            Ify melepas masker oksigen dan infuse yang menempel di tangannya. Rio lah yang melakukan ini semua kepadannya. Tak heran, Rio juga menyandang sarjana kedokteran. Ify mencoba berjalan keluar dari kamarnya. Walaupun tubuhnya masih terasa lemas. Rumahnya terasa sangat sepi sekali.

            Ify berjalan menaiki tangga, berniat untuk pergi ke kamar Bima. Ify berjalan dengan susah payah.

 

“Lo mau kemana??” suara itu sedikit megangetkan Ify. Tanpa perlu membalikkan badannya Ify sudah sangat hafal dengan suara suaminnya itu. Langkah kaki Rio mendekati Ify mulai terdengar.

 

“Lo masih sakit. Lo mau ke kamar Bima?” Ify mengangguk ringan.

 

            Rio pun dengan spontan langsung membopong tubuh Ify, Ify sangat kaget dan heran dengan yang dilakukan oleh suaminnya ini. Ify menatap Rio dengan tatapan penuh tanya.

 

“Gue akan bawa lo sampai ke kamar Bima. Gue romantis kan” ujar Rio dengan tersenyum sok manis. Ify terkekh ringan dengan yang dilakukan oleh Rio untuk pertama kalinnya menurutnya.

 

            Rio pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamar sang anak dengan kedua tangan membopong istri tercintannya. Setelah sampai di depan kamar Bima, Rio menurunkan Ify kembali.

 

“Lo mau masuk juga?” tanya Ify dan langsung dijawab anggukan mantap oleh Rio.

 

            Mereka berdua pun segera memasuki kamar Bima, bau khas parfum kesukaan Bima langsung tercium saat pintu kamarnya dibuka. Ify dan Rio sama-sama berjalan mendekati kasur Bima yang sangat rapi sekali.

            Rio dan Ify sendiri heran, Bima bisa sebersih dan serapih ini. Padahal dari Rio dan Ify sendiri tidak ada yang menurunkannya. Tidak heran jika Bima sering disebut pria paket sempurna dari kebanyakan gadis di luar sana.

            Ify mendekati meja belajar Bima dan mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah pigora kecil baru dengan foto baru juga. Sepertinya pun Bima baru meletakkan pigora baru ini. Ify tersenyum melihat foto tersebut. Walaupun senyumnya masih terlihat sangat lemah.

 

“Apa yang lo lihat??” tanya Rio penasaran sendiri melihat Ify tersenyum seperti itu. Ify menunjukkan telunjuknya ke arah foto tersebut.  Mata Rio pun terarahkan pada apa yang di tunjuk oleh Ify. Rio terbelakak sendiri dan langsung tertawa saat melihatnya.

 

“ternyata mereka berdua beneran pacaran” ujar Rio yang melihat foto tersebut. Dimana foto itu adalah foto Bima dan Alyn, sepertinya foto itu diambil didalam mobil sepulang sekolah. Bima merangkul bahu Alyn, dan Alyn pun menyenderkan bahunya di Bima. Mereka berdua masih memakai baju seragam Arwana.

 

“Mereka sangat lucu.”ujar Ify yang masih belum menghilangkan senyumnya.

“Gue harap anak kita akan tersenyum seperti itu terus. Selamannya”

 

“Pasti Fy, Bima akan tersenyum seperti itu terus selamannya”

 

“Lo janji kan yo, “ Rio menatap ke arah Ify. Dimana tubuh Ify mulai gemetar kembali. Rio menunggu saja kelanjutan kalimat yang akan dikeluarkan oleh istrinnya.

 

“meskipun Bima bu —, bu —, bukan anak kita, atau pun apapun yang terjadi, lo kaan jagain Bima. Lo akan sayang sama Bima”

 

“Gue akan jagain lo berdua selamannya” jawab Rio dengan penuh ketulusan. Rio langsung menarik Ify kedalam pelukannya dan membuat wanita ini menangis kembali dalam pelukan Rio untuk kesekian kalinnya.

 

“Gue sayang banget sama Bima”

 

“Gue tau”

 

“Gue nggak mau dia terluka. Dia masih kecil buat gue, dia pria yang sangat hebat”

 

“Gue tau”

 

“Lo nggak akan nyakitin dia kan Yo??”

 

“Nggak akan. Karena sama saja gue nyakitin lo. “

 

“Gue percaya sama lo, yo” Rio membelai lembut belakang rambut Ify. Rio tersenyum mendengar pernyataan Ify.

*****

            Bima mengajak Alyn untuk jalan-jalan dengan menaiki busway kota. Mereka berdua terlihat sangat senang sekali seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Bima sedari tadi sekalipun tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alyn. Begitu juga dengan Alyn.

 

“Bagaimana kalau kita tidak pulang ke rumah malam ini”ajak Bima dan membuat Alyn membulatkan matannya kaget.

 

“Ha? Nggak mau. Nanti om sama tante khawatir” tolak Alyn dengan cepat.  Bima langsung memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.

 

“Lo masih marah sama mereka??” tanya Alyn dengan suara melembut.

 

“Gue nggak pernah marah sama mereka. “

 

“Lalu kenapa lo ingin kabur dari rumah”

 

“Gue nggak bilang kalau gue ingin kabur dari rumah”

 

“Terus tadi apa??”

 

“Gue cuma ingin jalan-jalan seharian sama lo” jujur Bima dan membuat Alyn sedikit blushing  sendiri. Kedua pipinya nampak mulai memerah. Alyn pun berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kesaltingannya tersebut.

 

“Udah gue bilangkan, gue nggak akan kemana-kemana. Gue akan selalu ada disisi lo. “

 

“Janji??”

 

“Mmmmmm. . Asal Zayn Malik, atau Al-ghozalli nggak nembak gue. Gue bisa menjamin”

 

“YAAAA!!!” teriak Bima kencang begitu saja dan membuat penumpang lain mengarah ke dua orang ini. Alyn langsung menutup wajahnya , merutuki apa yang baru saja dilakukan oleh Bima, Ia sangat malu sekali.

 

“Lo minta gue bunuh disini?” bisik Bima tajam, ia sendiri pun merutuki apa yang ia lakukan tadi.

 

“Suara lo nggak sekeras toa kok Bim? Gue nggak malu kok punya pacar kayak lo. Sumpah!!! “sindir Alyn tajam masih berusaha menutupi wajahnya.

 

“Lo —, lo —, lo duluan yang mulai sih”

 

“Gue kan Cuma bercanda”

 

“Mana gue tau lo bercanda, lo nggak bilang dulu ke gue”

 

“Mana ada juga orang bercanda bilang-bilang dulu. Otak lo kebalik? Ha? Lagian nggak mungkin juga Zayn Malik atau Al-ghozalli nembak gue. Apa gue secantik itu sampai mereka nembak gu —“

 

“Hmm. Lo sangat cantik”ceplos Bima begitu saja. Alyn langsung menatap Bima kaget, dan Bima sendiri hanya mematung, ia tidak begitu sadar dengan ucapannya barusan.

 

“Lo bilang apa tadi? Gue cantik? Hmm? Bisa di ulangi nggak?” goda Alyn sambil menarik-narik baju Bima seperti anak kecil.

 

“Gue khilaf” jawab Bima singkat padat dan jelas.

 

“Masak sih?? Aduuhh jadi terharu”

 

“Gue tadi amnesia sesaat. Sorry” lanjut Bima dengan wajah remeh dan membuat Alyn yang sudah melayang-layang mau sampai ke langit ke tujuh langsung terjatuh bagaikkan batu yang terlemparkan dari gedung lantai 40.

 

“Aisshh.” Desis Alyn kesal. Bima selalu saja membuat moodnya Up down Up Down Up Down.

 

“Iya, iya lo cantik. Kalau nggak cantik , nggak mungkin lah lo jadi pacar gue” ujar Bima setengah menggumam namun cukup terdengar di telinga Alyn.

 

“Oh, jadi lo pacaran sama gue karena gue cuma cantik”

 

“Lalu lo fikir gue macarin lo gara-gara apa? Lo pinter? Enggakkan?. Lo kaya? Masih kayaan gue lah. Body lo sexy? Apaan semua datar gitu. Cantik pun standar. Aisshh. Kok bisa gue jatuh cinta cewek macam lo. Apa lo guna-guna gue??”

 

“YAAAAAA” kini gilaran Bima yang langsung menundukkan kepalannya dan menutupi wajahnya secepat mungkin. Sekali lagi semua penumpang mengarahkan tatapan aneh mereka kedua makhluk ini.  Alyn merutuki teriakan tidak sengajannya tadi.

 

“Suara lo nggak sekeras suara gue tadi kok dan Gue bangga kok punya pacar bersuara indah kayak lo. Seindah dua merpati yang lagi cekik-cekikan leher” sindir Bima tajam. Alyn memanyunkan matannya menggerutu menyumpahi Bima.

******

            Alyn dan Bima sudah sampai di depan perumahan, Mereka berdua memilih berjalan kaki dari halte bus terakhir yang mereka tumpangi tak jauh dari perumahan mereka. Alyn tiba-tiba memberhentikkan langkahnya.

 

“Why?” tanya Bima yang ikut berhenti berjalan. Alyn menatap Bima dengan wajah memelas.

 

“Panggil Taxi, gue capek” pinta Alyn dengan suara manja dan disinilah titik kelemahan Bima akan gadis ini.  

 

“Ini juga mau dekat sampai rumah. Lagian mana ada taxi yang mau nganterin dari sini ke sana. Nggak usah aneh-aneh deh” gidik Bima berusaha menolak keinginan Alyn.

 

“Gue capek”

 

“Kurang dikit Alieenn!!

 

“Yaudah gendong gue”

“Ogah!!” tolak Bima mentah-mentah. Alyn memanyunkan bibirnya menampakkan wajah cemberutnya.

 

“Bima jahat!!” Alyn tiba-tiba langsung duduk di pinggir jalan. Bima membelakakan matannya melihat apa yang dilakukan kekasihnya ini. Ia tidak habis fikir kalau Alyn mempunyai sedikit kelainan mungkin di otaknya.

 

“Bangun lo!! Dilihatin orang malu tau!!”

 

“Nggak mau. Capek!! Capek!! Capek!!” teriak Alyn seperti anak kecil. Bima memegangi dahinya frustasi dengan gadis ini.

 

“Bodo amat!! Gue tinggal juga lo” ancam Bima dan membuat rengekkan Alyn semakin menjadi.

 

“Lo gendong gue nanti gue kasih “Kiss” “ ujar Alyn membujuk Bima dan sepertinya hal itu berhasil. Bima nampak tertarik.

 

“Dimana??” tanya Bima balik dengan wajah mulai berseri-seri.

 

“Lo maunya dimana?”

 

“NOH!!” Alyn langsung menutup mulutnya saat Bima menatap ke arah bibirnya. Alyn menggeleng-gelengkan kepalannya.

 

“Why??”

 

“Yang lain”

 

“Ogah!! Lagian gue juga udah tau rasannya. Masalahnya gue ketagihan” ujar Bima yang berniat sekali menggoda Alyn. Lebih tepatnya membalas Alyn akibat tingkah bodoh dan aneh yang baru saja dilakukannya.

“YAAAAAA!!!” teriak Alyn kesal bercampur malu sendiri.

 

“Di pipi deh”

 

“Ogah. Terlalu mainstream. “ tolak Bima dengan cepat, Alyn mendengus kesal.

 

“Gue bisa jalan sendiri!! “ ujar Alyn tajam dan segera berdiri. Tanpa menunggu Bima Alyn langsung berjalan cepat meninggalkan Bima.

 

“Tungguin gue!! “teriak Bima dengan tertawa ringan. Tingkah Ayn memang selalu membuatnya bisa tersenyum.

 

“OGAH!! “ Bima pun segera berlari untuk menyusul gadis itu.

 

            Alyn memberhentikkan langkahnya saat Bima tiba-tiba sudah berada di depannya dan berjongkok di depannya. Alyn membulatkan matannya kaget dan heran.

 

“Ngapain lo?” tanya Alyn sok polos.

 

“Menurut lo? Naik cepet”

 

“Ogah”

 

“Tenang aja gratis.”

 

“beneran??” tanya Alyn dengan wajah berbinar-binar.

 

“Untuk saat ini, nggak tau nanti kalau sudah sampai rumah” jawab Bima dengan cengiran khasnya yang seperti orang sedikit idiot. Alyn mendengus kesal.

 

“Udah cepetan naik, katannya capek”

 

“Iya, iya” serah Alyn yang perlahan menaikkan tubuhnya ke atas punggung Bima.

 

“Aisshhh!!! “ Bima berpura-pura keberatan saat menggendong tubuh Alyn.

 

“Berat badan lo berapa sih?? Diet sana!! “

 

JTAAKKK

 

“Awww” untuk kedua kalinnya Bima mendapatkan sasaran empuk di kepalannya oleh sang kekasih.

 

“Katannya tubuh gue datar, sekarang lo nyuruh gue diet. Mau lo apa ? Ha??”

 

“Bukan tubuh lo yang datar, Tapi itu lo ya —“

 

JTAAAKKK

 

“Awww!! “

 

“Omongan lo makin lama makin absurd!! Belajar dari mana lo??!! Aisshh”

 

“Gue serba salah ya di mata lo”

 

“Yes!! Lo di lahirin di bumi ini pun sudah kesalagan terbesar “

 

“Gue lempar juga lo” ancam Bima dan membuat Alyn cepat-cepat mengeratkan lingkaran lengannya di leher Bima.

 

“YAAA!! YAAA!! ALIEN!! GUE KECEKIK GILAAA!! LO BENERAN MAU MATI !! HAA!! “

 

“Sorry! “ Alyn sedikit melonggarkan lingkaran tangannya dan membuat Bima dapat bernafas normal kembali.

*****

            Dengan perjuangan 45 Bima benar-benar menggendong Alyn sampai di depan gerbang rumahnya. Bima pun terus menggerutu ke Alyn sampai mereka masuk kedalam rumah.

            Langkah kaki keduannya langsung terhenti saat melihat keberadaan seorang pria yang tentu saja familiar bagi mereka berdua dengan sebuah koper besar di samping tubuhnya.

            Disana pun terdapat Ify dan Rio yang kaget dengan kedatangan Bima dan Alyn. Bima menatap semua orang disini dengan sedikit canggung karena semua mata hanya tertuju ke arahnya.

 

“Hai Dit” sapa Bima seramah mungkin kepada pria tersebut yang tak lain adalah Adit. Adit pun membalas Bima dengan senyuman yang sangat sopan sekali.

 

“Adit akan tinggal disini? Bagus tuh” ujar Bima yang diluar dugaan semua orang. Alyn langsung menggengam erat tangan Bima dan menggelengkan kepalannya pelan ke Bima. Mengisyaratkan agar Bima tidak membuka suarannya lagi.

 

            Ify terlihat yang paling shock mendengar ucapan Bima tersebut, Ify terbatuk beberapa kali.

 

“Gue cuma sementara kok Bim disini, Gue Cuma ingin ngerasain tinggal sebentar dengan mama dan papa kandung gue. Lo nggak keberatan kan?? Tenang aja hanya 2 hari. Setelah itu gue akan pergi” Bima berusaha mengontrol ekspresinnya baik-baik saat mendengarkan semua ucapan Adit yang halus namun sangat menyakitkan baginya.

 

“Tentu saja tidak. Kalau lo mau, lo bisa pakai kamar gue. Biar lo bener-bener bisa ngerasain bagaimana jadi anaknya Bunda dan papa” Rio langsung memegangi tubuh Ify yang mulai gemetar kembali.

 

“Jangan dilanjutkan” bisik Alyn tajam dan lebih erat menggenggam tangan Bima. Namun, sepertinya Bima tidak ingin menyerah disini.

 

“Kalau lo ngizinin. Gue sangat berterima kasih sekali” balas Adit dengan wajah santai dan tanpa beban. Adit benar-benar bisa mengatur dan mengontrol dirinnya dengan baik. Bima akuin itu.

 

“Tentu saja gue ngizinin. Apa gue perlu bereskan semua barang-barang gue sekarang? Biar lo langsung bisa istirahat. Pasti capek kan ya 17 tahun tidak bertemu Mama dan Papa kandung lo”

 

“BIMAAA HENTIKKAANNN!!! “teriak Ify sudah kehabisan kesabarannya dan tidak tahan dengan semua ucapan Bima yang lama-lama membuatnya sesak di seluruh tubuhnya. Semua orang di ruang tamu langsung terdiam. Keheningan mulai terjadi.

 

“Nggak ada yang boleh pindah kamar tanpa seizin bunda!! Adit ikut Bi Ina, dia akan menunjukkan dimana kamar kamu “ ujar Ify kepada Adit, Ify hanya berusaha mencoba adil. Setidaknya kenyataan yang harus ia terima walaupun ia tidak bisa terima adalah Adit anaknya.

 

“Iya” jawab Adit sopan dan menuruti ucapan Ify. Bi Ina membantu Adit membawa kopernya. Adit pun mengikuti Bi Ina.

 

“Alyn, kamu masuk ke kamar kamu”: suruh Ify dengan mata memerah dan sedikit berkaca-kaca.

 

“Tapi tante, Bim —“

 

“Udah masuk sana, gue nggak apa-apa” ujar Bima lembut dan perlahan melepaskan genggaman tangan Alyn. Alyn pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia segera berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai dan sesekali terus melihat kearah ruang tamu.

 

            Kini hanya ada 3 orang di ruang tamu, Ify, Rio dan Bima. Namun, disini Rio memilih untuk tidak ikut-ikutan. Mungkin, ia hanya akan menjadi penengah saja jika terjadi apa-apa dengan ify dan Bima.

 

“Kamu sudah tau kan semua kebenarannya ?”

 

“Hmm” jawab Bima mencoba untuk tenang.

 

“Bunda tidak mau ini terjadi, tapi ini sebenarnya yang telah terjadi. Kamu terluka, Papa kamu terluka. Apalagi bunda, pasti sangat terluka. “ Ify mengatur nafasnya sebentar, tubuhnya yan sudah bergetar ia tahan sebisa mungkin.

 

“Kamu tetap anak bunda, anak Papa, kamu nggak perlu kemana-mana. Kamu tetap disini, Kamu tetap anak bunda. Anggap saja semua tidak pernah terjadi dan sama seperti sebelumnya. Anggap saja —“

 

“Apa Bunda bisa seperti itu juga? Menganggap bahwa semuanya tidak terjadi apa-apa??” tanya Bima balik dengan suara lirih. Pertanyaan Bima bagaikan tusukan tajam di leher Ify , membuat wanita ini tidak bisa menjawab.

 

“Bima sayang sama Bunda, Bima sayang sama Papa.  Bima juga nggak akan kemana-kemana karena Bima nggak tau siapa orang tua kandung Bima. Tapi kalau menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa, Maaf bun. Bima nggak bisa”

 

“Ini bukan salah Bunda dan Papa, jadi kalian berdua tidak perlu merasa bersalah. Ini juga bukan salah Adit, tidak ada yang salah disini” Ify membiarkan saja air matannya yang mulai berjatuhan. Ify hanya bisa menundukkan kepalannya mendengarkan ucapan sang anak.

 

“Kalau bunda menginginkan semuanya sama seperti sebelumnya, tidak akan bisa. Karena kenyataannya memang tidak bisa”

 

“Setidaknya sekarang bunda dan papa belajar untuk menerima Adit, dan Bima akan berusaha untuk sadar diri”

 

“Kamu anak bunda!! Anak kandung bunda!! Tidak ada yang berubah!! “ sahut Ify tajam ditengah tangisnya.

 

“Itu kata bunda. “ balas Bima tenang. Bima tidak tega melihat wajah sang bunda yang sudah seperti itu. Namun apa yang bisa ia lakukan saat ini, Marah? Ke siapa? Tidak ada yang bisa ia salahkan disini. Bima pun menyadari bahwa ia bukan anak kecil yang harus marah-marah lalu bergalau ria seperti orang alay sampai ingin bunuh diri dan semacamnya. Karena ia tahu bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya jika ia memfikirkan dengan tenang.

 

“Bima nggak ingin bunda nangis, bima nggak ingin bunda sakit. Bunda harus sehat terus sekarang bunda punya dua anak” Bima mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin.

 

“Bima nggak akan tinggalin bunda kan??” tanya Ify penuh harap.

 

“Seharusnya Bima yang tanya seperti itu. Bunda dan Papa nggak akan buang Bima kan??”

 

       Seketika itu tangisan Ify memecah, Ify tidak bisa lagi melihat wajah Bima seperti itu. Ify langsung berjalan meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan Bima dan Rio yang masih berdiri diam disana. Dua laki-laki itu pun sama-sama mematung.

       Ify berteriak kencang dalam tangisnya. Ia tidak peduli lagi dengan semua orang yang akan cemas dengan keadaanya sendiri. Ify hanya butuh sendiri dan mengeluarkan segala rasa kesedihannya.

       Rio perlahan mengangkat kepalannya, melihat ke arah Bima yang juga sama menatap ke arahnya saat ini. Mata tajam dua laki-laki ini saling bertemu dan bertatap. Bima mulai menyadari bahwa kedua mata tajam dan indahnya adalah warisan dari papanya.

 

“Kamu sudah senang sekarang ?”

 

“Papa sendiri sudah senang sekarang ??”

*****

       Alyn langsung pergi ke kamar Bima, saat pria itu sudah kembali ke kamarnya. Alyn sedari tadi sudah cemas dengan keadaan Bima.

       Alyn langsung masuk begitu saja ke kamar Bima dan melihat pria itu baru saja mengganti bajunya dengan baju baru.

       Bima melihat kedatangan Alyn sedikit kaget, karena Alyn tiba-tiba sekali masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu.

 

“Lo nggak apa-apa kan?” tanya Alyn dengan wajah cemas.

 

“Emang gue kenapa?” tanya Bima balik dengan wajah tenang sekali.

 

“Lo kenapa sih bilang seperti itu ke bunda lo? Kasihan bunda lo pasti sedih banget”

 

“Gue tau. “

 

“Lo nggak sayang sama bunda lo??”

 

“Apa perlu gue jawab pertanyaan lo itu?” Alyn menghelakan nafas beratnya. Memang susah jika sudah bertanding kata-kata dengan Bima. Apalagi saat mood Bima sedang seperti saat ini.

 

“Setidaknya lo masih punya bunda dan papa yang masih ada dan sayang sama lo saat ini meskipun kenyataannya mereka bukan orang tua kandung lo. Ngerti maksud gue kan??” Bima menatap ke Alyn. Tentu saja ia mengerti akan maksud gadis ini. Dimana Alyn menjelaskan bahwa Bima masih sangat beruntung daripada kekasihnya ini.

 

“Gue nggak pernah menyesali atau marah dengan apapun yang terjadi di kehidupan gue, dan lo pun harus begitu. Tuhan selalu punya rencana indah kan buat kita” ujar Bima dengan langkah perlahan mendekati Alyn.

 

“Saat gue kecil, mama gue pernah bilang kalau gue akan bertemu seorang pangeran yang tampan dan baik hati.”

 

“Dan sekarang lo beneran bertemu dengan pangeran itu kan???”

 

“Hmmm” jawab Alyn dengan wajah malu-malu sambil mengangguk-anggukan kepalannya. Bima terkekeh ringan.

 

“Bunda juga dulu waktu kecil pernah nyumpahin gue, kalau gue akan bertemu seorang puteri yang cantik tapi bodoh!”

 

“YAAAA!!! “teriak Alyn kesal akibat Bima langsung menjatuhkan moodnya yang sudah bagus. Bima terkekeh lagi sambil mengacak-acak rambut Alyn.

 

“Maafin gue” ujar Bima tiba-tiba

 

“Buat??”

 

“Semuanya. Gue bener-bener minta maaf”

 

“Lo nggak lagi ber-drama seperti pangeran-pangeran Alay, lalu bilang kalau  lo penyakitan terus lo mau mati, terus lo menderita banget. Terus gue harus sok peduli ke lo dan nangis-nangis kalau lo nggak akan mati. Lo —“

 

“Lo fikir gue Se-Alay itu? Ha? Hanya orang kurang kerjaan dan kurang perhatian yang beradegan bodoh seperti itu!! It’s not my style. You know??”

 

“Mungkin aja lo punya sisi dimensi lain seperti itu”

 

JTAAKKKK

 

“Awwww”: kini giliran Alyn yang mendapatkan sasaran empuk di kepalannya dari Bima.

 

“Mana bayaran gue ?” tagih Bima sambil menjulurkan telapak tangannya di hadapan Alyn.

 

“Apaan??”

 

“Bayaran menggendong tadi. “

 

“Cium disini”lanjut Bima sambil menempelkan jari telunjuk kirinya ke birinya. Alyn langsung berigidik ngeri sendiri.

 

“Ya gini ini yang membuat kenapa anak-anak Indonesia saat ini banyak yang udah bisa bikin anak.” Bima langsung menatap Alyn tajam.

 

“Gue nggak minta lo tidur sama gue kan? Gue Cuma minta lo nyium gue di bibir” jelas Bima dengan sejelas-jelasnya dan penuh penekanan.

 

“Dan lo tau kan kalau cewek itu nafsunya 9 kali lebih besar dari pada laki-laki.  Itu bisa merangsang cewek”

 

“Ahhhh. Jadi selama ini lo kerangsan kalau gue cium”

 

“Sial” desis Alyn merutuki ucapannya barusan. Bima menatap Alyn penuh kemenangan. Gadis ini selalu saja tidak bisa mengendalikkan kata-katannya dan berakibat fatal sendiri.

 

“Aisshh, udah-udah-udah-udah gue mau balik ke kamar!!” kesal Alyn dan akan membalikkan badannya.

 

“Mau kemana lo? Bayar dulu !! “dengan cepat Bima langsung menarik tangan Alyn dan menyebabkan tubuh Alyn tertarik dan saat ini berada dalam lingkaran tangan kanan Bima. Alyn meneguk ludahnya dalam karena wajahnya dan wajah Bima lumayan sangat dekat. Ditambah ia tidak kemana-mana akibat kuncian tangan Bima pada pinggangnya.

 

“Lepasin gue!!” desis Alyn tajam.

 

“Ogah!! Bayar dulu. Tenang aja gue nggak bakal buat lo terangsang. Tapi —“

 

“Tapi apa??” tajam Alyn sedikit takut melihat tatapan Bima yang menggodanya seperti itu.

 

“Kalau lo terangsang, anggap aja lo sedang bersedekah ke gue”

 

“Lo —“

 

            Bima langsung mengunci bibir mungil Alyn dengan bibirnya sendiri. Alyn bahkan masih membuka matannya dengan lebar-lebar, ia kaget dengan apa yang dilakukan Bima saat ini. Bima sendiri sudah menutup kedua matannya dan menikmati ciuman yang ia buat sendiri. Alyn berusaha melepaskannya namun tenaga Bima tak bisa ia kalahkan. Dan tidak ada yang bisa Alyn lakukan selain –pasrah-.

 

CKLEEEKKK

 

“Upss. Sorry” tiba-tiba Adit datang dan langsung membuka kamar Bima dan melihat adegan dua orang ini. Bima yang melihat keberadaan Adit di pintu kamarnya pun segera melepaskan ciumannya dari Alyn.

 

“Lo ngapain disana? Mau ikutan ciuman juga?? “ tanya Bima sadis. Alyn menatap ke belakang dan melihat Adit disana dengan wajah canggung. Alyn langsung menutup matannya dan wajahnya merasa malu sekali.

 

“Sorry-sorry, gue salah kamar. Gue belum terbiasa di rumah ini” ujar Alyn menyesal.

 

“Yudah sana pergi. Atau lo mau gue cium juga??”

 

“Nggak. Makasih” Adit pun langsung menutup pintu kamar Bima dengan cepat.

 

       Bima menatap Alyn kembali yang menutupi wajahnya sambil menduduk. Bima menahan tawannya agar tidak keluar.

 

“Kenapa lo??”

 

“Lepasin gue sekarang juga BIMA!! “ desis Alyn tajam, ia masih merasa sangat malu sekali saat ini.

 

“Nggak mau. “

 

“Lepasin gue “

 

“Kalau gue nggak mau??” goda Bima semakin menjadi.

 

“Ini akan jadi ciuman terakhir gue dan lo” Bima perlahan melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Alyn dan menatap Alyn dengan tatapan baik-baik.

 

“Oh, jadi lo berkeinginan buat gue cium lagi?? Oke. Gue siap kapanpun lo mau”

 

“AISSHHH!! DASAR COWOK MESUM!! GILA!!! MURAHAN!! GAK PUNYA HARGA DIRI!! “ sumpah Alyn keluar begitu saja dan membuat Bima tertawa lepas.

 

“Kalau buat Alyn apa sih yang nggak murah. Bahkan harga diri gue jatuh pun nggak jadi masalah”

 

“Errrrrrr . Lo ngomong sana sama tembok” gidik Alyn ngeri sendiri mendengar ucapan Bima seperti tadi. Alyn pun tak bisa lagi bertahan di kamar Bima atau dia akan muntah. Bima sudah gila malam ini. Namun, setidaknya Alyn senang Bima bisa tertawa seperti itu. Walaupun pasti kesedihan tersimpan di dalam pria menawan yang menyandang status sebagai pacarnya saat ini.

 

“ gue akan selalu ada di sisi lo . Lo tau itu kan Bima?”

 

Bersambung . . . . .

 

 

34 thoughts on “STORY OF DEVIL FAMILY – 11

  1. kaluk. . .
    Tanggung jawab kak,
    kaluk udah memporak porandakan hati gue -_-
    gue rasa a pengen nangis, ketawa, marah, nyesek, smua jd satu itu gara2 loe kaluk . .
    The best bgt kaluk,
    next a jgn lama2, gue kok jadi benci bgt sma adit ya,
    aishhh,,,,
    sumpah benci bgt, awas aja thu adit bkin bima sedih,
    love you kaluk :*
    trus smangat buat nulisnya, smua imajinasi2nya keren bgt

  2. Kak luk, apakah ada bima versi aslinya? Jadi suka sama bima masa😀
    Bima pinter banget nyimpen kesedihannya walaupun masih bisa terbaca, yang sabar ya bima🙂

    1. Hihiihi ada nggak ya?? aku belum bisa sih bayangin bima lebih jelasnya -_- wkwk kapan2 yaa aku cariin hihih😀 makasih udah mau baca😀 Ditungu trs yaa❤

  3. aa kak.. sukses bikin campur aduk emosi :3 .. selalu suka sma cerita2 kak HYO, gk pernh bosen dan selalu penuh kejutan.

    stay Strong BIMAA.. aku kok jdi marah sama RIO -_- suka kata2 pas bima ngrlawan rio
    ‘kamu sudah senang sekarang? ‘
    ‘papa sendiri sudah senang sekarang?’ *jleb bgt

    kak HYO tuh kelebihanya selalu bikin readers penasaran sma kelanjutan ceritanyaa.. makanya rela nunggu berapa hari/ minggu pun siap -_-

    *udah ahh :p
    NEXT —>> DITUNGGU SECEPATNYAA

  4. hoho kak luluk,
    bener bnr dah,bkin bantal guling bsah smua.. :3
    ampek kring matanya..
    kak luk gue ngfans bnran nih a5 ssok bima..
    next ya..cpet lanjutt..🙂

  5. Alyn Sama Bima Kocak Bangett Yaa… !!! Malu Maluin Aja Masa Teriak Teriak Kaya Anak Kecil Ditempat Umummm….. Nggak Elit Banget !!! Gue Kasian Sama Ify !!! Huuhuu…. Yang Sabar Ya Bima Ifyy….. Aku Padamu Dehh…. *ApaanSihGue😀 Part 12nya Cepetan Ya Kak !!! Ditunggu !

  6. Huaa kasian bima sama ify… Itu si adit kenapa jadi pengerecok sih? Aku pnya filling klo adit itu cuman pura2 u,u kak next secepatnya yoo hehe😀

  7. Aditnya boleh gak buang kelaut aja,kesel setangah mati ini
    kasian bimanya,kasia ify nya
    rio juga gak usah netral gitu,gak usah berpihak sama adit

    aditnya buang kak,ahh kesel kesel kesel

  8. Campur aduk rasanya..mrh sama adit,kasian sama bima,iri sama alyn karna punya pcr kyk bima dan benci sama adit :3 kakhyooo lanjutny jgn lama2 yaaa😉

  9. Ka hyo.. Aku kagum banget sama kakak🙂 kakak bisa buat cerita ini jadi hidup dan membuat otak aku cuma mikirin gimana kelanjutan cerita ka hyo🙂 tapi boleh saran ga ? Menurutku, adegan RiFy dan konflik nya diperbanyak soalnya bagaimana pun, STODY kan juga lanjutan kisah RiFy di DELOV. Tapi gapapa juga sih kalau ada couple baru bima-alyn soalnya kehadiran mereka buat cerita ini sangat berwarna. Hehe🙂 kebanyakan comment ya ?? Maaf deh ka, itu kan menurut aku heheh….
    Makasih ka hyo🙂 lanjut terus stody nya
    Aku akan selalu nunggu…

  10. good bgt cerbungnya kak
    oh ya D33L next dong part 11 nya kak,aku fans setia kakak lho…
    Fansbase kakak namanya apa?
    aku daftar ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s