STORY OF DEVIL FAMILY – 14

” DIMOHON KLIK LANJUT MEMBACA “

Follow twitter author @luckvy_s . Comment dari kalian sangat ditunggu ya :D dan terima kasih mau setia baca cerita ini. Selamat membaca. Terima kasih

 

 STORY OF DEVIL FAMILY – 14

LANJUT MEMBACA >>>

 

“MATI LO BIMAAA !!! “

 

Adit mengarahkan pistolnya kepada Bima, dan saat bersamaan dengan Adit melepaskan pelurunya, Ify menyadari dan melihat apa yang dilakukan oleh Adit. Ify pun segera mengarahkan pistolnya ke arah Adit sebelum Adit melepaskan pelurunya ke Bima.

 

“ BIMAAAAA AWAASSS!!!!! “

 

            Adit yang ternyata juga menyadari bahwa Ify mengarahkan pistol ke arahnya langsung mengalihkan pistolnya dengan cepat ke arah Ify. Dan. . . . 

 

DOOORRR!!!!!

 

            Suara tembakkan tersebut berasal dari pistol Adit, Ify kalah cepat dengan adit kali ini. Tidak heran, Adit dahulunya merupakan anak buah Mr. Lay yang merupakan pembunuh bayaran. Dan pernah mendapatkan training yang cukup lama.

 

“ BUNDAAAAAA!!!!!! “ teriak Bima sangat kencang sekali, Bima melihat jelas bagaimana Adit menembak Ify

 

“IIIFFFYYYYY!!!!!” Rio pun menjerit tak kalah kencang dengan sekuat tenagannya Rio berusaha menghancurkan kotak tersebut dengan tangannya. Otaknya saat ini hanya tertuju kepada gadis di tengah kolam tersebut.

 

            Adit nampak tak puas dengan tembakkan yang sudah ia tujukan ke Ify. Ia pun menembakkan kembali pistolnya secara membabi buta ke arah Ify.

 

DOOORRR!!!

 

DOOORR

 

DOOOORR

 

BRAAAAAAAKKKKKKKKKKKK !!!

 

DOOOOORRRR!!!!!

 

            4 peluru terlepaskan dari pistol Adit dan tepat mengarah pada dada dan perut Ify, sebelum peluru kelima lepas, Rio berhasil keluar dari kotak tersebut dengan kedua tangan yang di penuh darah akibat memecahkan kotak tersebut. Rio tidak peduli dan segera menghantam Adit yang berdiri tak jauh darinya.

 

BRAAAAAAAKKKKKKKKKKKK

 

            Rio menghantam Adit cukup keras dan langsung menginjak dada Adit menggunakan kaki kananya. Rio meraih pistol yang dibawah oleh Adit dan mengarahkan pistol tersebut ke kepala Adit dengan emosi yang sudah berapi-api.

 

“LO YANG SEHARUSNYA MATI !!!!”

 

“BRENGSEKK!!!! “

 

DOOOOORRRR!!!!!

 

            Dalam satu tembakkan yang mengenai kepala Adit, pria itu langsung tak bernafas. Rio langsung melemparkan pistol tersebut dan segera berlari masuk kedalam kolam yang kini warnannya berubah menjadi merah.

 

“BUNDAAAAAAA!!!!” jerit Bima sekali lagi yang merutuki kebodohannya karena tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam saja saat bundanya di tembak seperti itu. Ia bisa meruntuhkan begitu banyak anak buat Adit namun ia tidak bisa melindungi bundanya dari tembakkan Adit. Bima merasa sangat bodoh sekali.

 

“Tan. . Tante. Ify. . Ify . . “ lirih Alyn lemas dan tak kuasa menangis dalam keadaan yang tak berdaya seperti itu. Alyn melihat ke arah kolam dimana Ify sudah terambang tak berdaya dengan air yang mulai semakin berwarna merah.

 

            Rio menarik tubuh Ify keatas pinggir kolam, Bima pun juga segera berlari ke arah Bunda dan Papanya. Bima langsung panik bukan main, bahkan pria ini menangis melihat keadaan bundanya yang sudah tak berdaya seperti itu.

 

“Bim cepat panggil Ambulans sekarang!!! Cepaatt!!! “ teriak Rio yang juga tak kalah paniknya dari sang anak.

 

“Iya Pa. Iya “ Bima mengeluarkan ponselnya dengan kedua tangan yang gemetar. Secepat mungkin Bima menelfon 118 setelah itu ia juga segera menelfon 110 yaitu panggilan ke polisi.

 

            Rio terus berusaha memberikan Ify nafas buatan, Ia mengecek detakan jantung Ify yang semakin melemas. Tangan Rio mulai gemetar hebat sama seperti Bima saat ini. Rio menangis ketakutan, semua bayang-bayang yang tak ia inginkan mulai berdatangan dengan sendirinnya.

 

“Fy, lo harus tahan sebentar ya !! “

 

“Fy. Lo harus tahan. Gue mohon”

 

“Ify lo harus tetap hidup “

 

“Fy., Lo denger gue kan ??”

 

“ Bundaaa bangun bun. . Bunda bangunnn .  . .”

 

“Bunda tahan ya Bun. . Bunda tahan . .. “

 

“Sebentar lagi banyak yang kesini kok Bun. “

 

            Rio terus saja memberikan Ify nafas buatan, mencoba membuat detakan jantung Ify untuk tidak semakin melemah. Bima memegangi tangan kanan Ify yang semakin dingin dan itu membuat Bima juga semakin takut. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinnya jika terjadi apa-apa dengan bundanya.

 

            10 menit kemudian., suara mobil ambulance dan polisi mulai berdatangan ke TKP.  Semua pelaku dibawa oleh Ambulance dan dengan giringan polisi. Sedangkan Ify, Rio, Alyn dan Bima langsung mendapatkan perawatan dan dibawah ke rumah sakit secepat mungkin.

******

            Rumah Sakit Arwana

 

            Keadaan Ify benar-benar sangat kritis saat ini, Ify langsung dibawah ke ruang ICU untuk melakukan operasi. Ia kehilangan banyak darah dan membutuhkan banyak pendoronor darah. Mulai dari Mr.Bov, Iqbal, Bima, Sivia yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Ify sudah menyumbangkan banyak  darah mereka.  Namun, tetap saja darah yang dibutuhkan kurang.

            Rio terus memaksa ke dokter Andi agar dirinnya bisa mendonorkan banyak darah kepada istrinya, namun dokter Andi tidak mengizinkan, kondisi Rio begitu tidak stabil dan masih lemah.

 

“Dok, dia istri saya. Saya nggak peduli dengan nyawa saya. Ambil darah saya dok !!! “ paksa Rio mati-matian dan masih terus kekuh melawan semua dokter.

 

“ Kami tau yo, kami akan berusaha seb—“

 

“Kalau kalian tidak mau mengambil darah saya, saya bisa mengambil darah saya sendiri!!! “ bentak Rio kehilangan kesabarannya, ia tidak bisa diam saja jika sudah menyangkut nyawa istrinya.

 

“Yo, jangan gila kamuu!!!! “ cegah dokter andi dan berusaha menarik Rio untuk kembali ke kasurnya. Rio mencoba melawan dokter Andi, ia tak peduli dengan apa yang ia lakukan sekarang.

 

“Sus, cepat ambilkan suntikan penenang. Sekarang!! “ suruh dokter Andi kepada salah satu suster dan segera mungkin menyerahkan sebuah suntikan ke doker Andi.

 

“Sorry, Yo, “ ujar Dokter Andi dan langsung menyuntikkan suntikkan tersebut ke lengan kanan Rio.

 

“Dok, Selamatkan Istri saya. Saya mohon dok. Selamatkan Ify “ lirih Rio lemas dan perlahan-lahan mulai tak sadarkan diri.

*****

            Semuanya sudah berkumpul di depan ruang ICU terkecuali Rio dan Alyn yang sedang mendapatkan perawatan instensif juga. Mereka semua terus berdoa agar operasi Ify berhasil dan Ify bisa selamat. Karena keadaan Ify saat masuk kedalam rumah sakit sudah sangat krtis sekali. Detakan Ify begitu lemah. Dokter pun sudah memberitahukan bahwa akan berusaha semampu mereka karena kemungkinan operasi ify berhasil dan gadis ini bisa selamat hanya 10%.

            Bima menangis dalam diam tanpa mengeluarkan suara apapun. Ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa melindungi bundanya. Ia merasa kecewa dengan dirinnya sendiri. Salsha pun terus menerus mencoba menenangkan Bima.

*****

            Ify mendapati dirinnya berdiri di rumah lamannya, rumah yang ia tempati sejak lahir. Kaki Ify perlahan mendorong dirinnya untuk masuk kedalam. Suara tawa mulai terdengar dari halaman rumah.

 

“Mama, Papa . . .” lirih Ify dengan suara pelan. Ify hanya bisa mematung disana saat melihat seorang pria paruh baya dan wanit berparas cantik sedang bermain dengan anak perempuan lucu berusia 8 tahun dan anak laki-laki yang sangat tampan dan mungil berusia 3 tahun. Keluarga ini terlihat begitu bahagia sekali.

 

“ Ify benci sama Iqbal, Iqbal tidak bisa diam Papa !!! “ omel gadis kecil tersebut. Pipi Chubbynya terlihat jelas saat wajah cemberut itu ditunjukannya menambah kelucuan dan kecantikan dari gadis kecil ini.

 

“Ify, adik iqbal belum tau apa-apa sayang. Kamu harus mengerti ya “

 

“ Tapi Ma, Iqbal terus gigit Ify !! “

 

“Ify benci sama Iqbal”

 

“Iqbal minta maaf sama kak Ify. Peluk Kak Ify sekarang “ suruh seorang pria paruh baya yang ada disamping gadis kecil bernamakan Ify tersebut.

 

“Kak Ify, Ibal sayang kak Ify” ujar anak cowok imut ini sambil memeluk kakak perempuannya.

 

            Ify tidak menyadari entah kapan air matannya, mulai mengalir. Ia tentu saja ingat saat kejadian tersebut. Saat dimana mama dan papanya masih berada disampingnya. Dimana ia masih mempunyai keluarga yang utuh.

            Perlahan Ify mendekat ke arah 4 orang tersebut, namun entah mengapa semakin ify mendekat jarak diantara dirinnya dan 4 orang itu semakin jauh sekali dan jauh.

******

            Tubuh Ify terasa tertarik sendiri dengan cepat, kini Ify tidak lagi berada di halam rumahnya, Ia sudah berada di sebuah pemakaman, Ify dapat mendengar tangisan seorang gadis yang sangat familiar sekali diteligannya.

 

“ MAMA !! JANGAN TINGGALIN IFY !! “

 

“MAMAAA !!! MAMA JANGAN PERGI!! “

 

“KALAU MAMA PERGI IFY SAMA SIAPA !! IFY SAMA SIAPA MA?? MAMA JANGAN PERGI “

 

“PAPA, PAPA JANGAN DIAM, PAPA BAWA MAMA BALIK LAGI, PAPA JANGAN DIAM SAJA “

 

“KAK SION. KAK SION MAMA MAU KEMANA?? MAMA NGGAK BOLEH PERGI “

 

“KAK SION !!! “

 

“MAMAMAAA !!! “

 

“MAMAAA!! “

 

“Mama. . . “ lirih Ify langsung terduduk lemas, tangis Ify memecah begitu saja saat melihat pemandangan di depannya saat ini. Hari itu, yah hari dimana mamanya meninggal karena menyelamatkannya. Hari yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

*****

            Tubuh Ify kembali tertarik ke suatu tempat, Ify berdiri di tengah-tengah suatu tempat yang sangat ramai sekali. Ify melihat seorang pria dan seorang gadis cantik memakai gaun pengantin dan tersenyum begitu bahagia. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disampingnya.

 

“Pernikahanku??” lirih Ify mencoba untuk tersenyum. Walaupun ia sama sekali tidak mengerti kenapa ia bisa berada disini.

 

            Tak lama kemudian, tubuh Ify seperti tertarik lagi ke suatu alam dan saat ini Ify sudah berada di dalam rumah sakit. Suara riuh didalam sana membuat Ify penasaran. Ify pun segera masuk kedalam tanpa harus membuka pintu kamar tersebut.

 

            Ify dapat melihat jelas seorang gadis cantik dengan wajah pucat sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang tampan.

 

“kelahiran Bima??” lirih Ify dan kembali menjatuhkan air matannya tanpa sebab. Disamping Ify juga  ada Papanya, Rio, Iqbal, Shalsa, Sivia, Alvin, Shilla, Cakka sedang mengucapkan selamat kepadanya. Rio nampak bahagia sekali saat itu, pria itu tak ada henti-hentinya menciumi anak lelaki semata wayangnya tersebut.

 

            Ify merasa tertarik lagi ke suatu tempat dan Ify mulai mendengar suara tembakan-tembakkan dan suara ribut. Ify membuka matannya perlahan yang sebelumnya terpejamkan. Ify melihat dirinnya sendiri sedang berada di tengah kolam. Rio berada didalam kotak dan Bima sedang konsen menembak semua anak buah Adit.

            Ify terlihat sangat kebingungan disini, Ify melihat sosok Adit yang perlahan bangun dan mengarahkan pistolnya ke arah Bima.

 

“FYY!! BIMA AKAN DITEMBAK!! FY !!! IFYY!! “ teriak Ify sendiri seperti orang gila kepada wanita yang ada di tengah kolam tersebut.

 

“IFY!! ADIT BANGUN!! IFY SELAMATKAN BIMAA!!! “

 

“MATI LO BIMAAA !!! “

 

“ BIMAAAAA AWAASSS!!!!! “

 

DOOORRRRR!!!!

 

 

“ BUNDAAAAAA!!!!!! “

 

DOOORRR

 

DOOORR

 

DOOOORR

 

BRAAAAAAAKKKKKKKKKKKK

 

“LO YANG SEHARUSNYA MATI !!!!BRENGSEKK!!!! “

 

DOOOOORRRR!!!!!

 

            Ify langsung duduk lemas, kakinya terasa kaku. Ia melihat dirinya sendiri tertembak seperti itu. Semuanya berputar secara cepat. Ify masih dapat merasakan bagaimana rasa panasnya peluru tersebut dan tembakkan itu di dada dan perutnya. Ify memegangi perutnya yang entah mengapa terasa sakit.

 

“BUNDAAAAAA!!!!”

 

“Bunda banguun  Buun. .  Bunda bangguuunn .  . “

 

“Bunda tahan ya Bun. . Bunda tahan . .. “

 

“Sebentar lagi banyak yang kesini kok Bun. “

 

            Teriakan Bima membuat Ify langsung menatap anaknya, Ify seperti mengalami sebuah dejavu. Yah, Ify pernah mengalami hal yang sama seperti ini.

 

“MAAAAAMAAAAAA!!!!!! “

 

“MAMAAAAAAA!!!!”

 

“MAMAAAAAAA”

 

“MAMA BANGUN  . . BANGUN MA  . . .”

 

“MAMA TAHAN YA. TAHAN MA. SEBENTAR LAGI BANYAK YANG KESINI KOK MA”

 

            Teriakan gadis kecil terus terngiang ditelingannya, yah, itu adalah suaranya saat ia masih berusia 12 tahun. Saat dimana mamanya menyelamatkan nyawannya. Kata-kata yang diucapkan Bima sama seperti kata-kata yang ia ucapkan 24 tahun yag lalu. Saat ia masih begitu kecil sekali.

 

            Ify merasakan semua tubuhnya gemetar hebat, ia merasakan dingin yang sangat luar biasa. Tubuh Ify pun tertarik kembali dan Ify pun hanya pasrah tanpa bisa bergerak sedikit pun saat ini.

*******

            Seluet cahaya putih menyilauka kedua mata wanita berparas cantik ini. Ia merasakan semua tubuhnya terasa sakit. Namun kedua matanya memintanya untuk berusaha terbuka. Wanita ini pun berusaha melawan silaunya cahaya-cahaya tersebut.

 

“IFY !!! “

 

“Fy kamu sudah sadar ??”

 

“Bunda ??? Bunda sudah bangun ?? Bunda bangun ??”

 

“Tante Ify.Tante sudah bangun ??”

 

“Sayang. My little lady. Kamu tidak apa-apa sayang ??”

 

“Kak Ify lo udah sadar kak? Kak ??”

 

            Ify mulai dapat bisa melihat jelas, ia dapat melihat Rio, Bima, Papanya, Iqbal dan Alyn berada di ruangan ini. Bau rumah sakit dan obat-obatan menusuk pernafasan Ify. Ify masih sangat lemas dan tidak bisa mengucapkan sekata apapun.

            Tubuh Ify pun terasa sangat berat, seperti terdapat banyak peralatan medis yang mencancap di seluruh tubuhnya. Bahkan Infuse yang mencap di tubuhnya pun berada di kanan kiri dan kanannya.

 

“Fy? Lo nggak apa-apakan? Bagaimana keadaan lo?” tanya Rio yang berada disamping Ify. Ify menatap rio dengan tatapan entahlah. Ify masih belum bisa mengumpulkan kesadarannya saat ini.

 

“Bal, cepat panggilkan dokter andi sekarang” suruh Rio kepada Iqbal.

 

“Ia kak” jawab Iqbal dan segera kelaur untuk memanggil dokter Andi.

            Tak lama kemudian, dokter andi dan dokter lainnya pun tiba untuk memeriksa keadaan Ify. Semua yang ada di kamar disuruh keluar terlebih dahulu terkecuali Rio yang memang juga merupakan seorang dokter.

*****

            Ify telah mengalami koma selama 2 minggu, dan gadis ini baru sadar pada hari ini. dan itu adalah sebuah keajaiban yang besar. Dokter-dokter pun tak menyangka bawa Ify sudah siuman saat ini, karena dari 4 dokter yang menangani Ify, 3 dokter lainnya sudah memperkirakan dan memprediksi bahwa gadis ini tidak akan selamat. Seluruh tubuhnya sudah mati kaku hanya saja detak jantungnya masih tetap berjalan. Dan dokter Andilah yang berusaha mati-matian untuk tetap mempertahankan gadis ini. Sepertinya doa semua keluarga terkabulkan sampai akhirnya gadis ini benar-benar bisa sadar kembali.

*****

            Satu hari setelah tersadar dari koma, Ify mulai bisa membuka suarannya walaupun sangat pelan sekali. Ify merasa kasihan melihat keluargannya yang terlihat lelah dan tidak tidur karena menjagannya setiap malam. Rio pun sudah menceritakan semuannya bagaimana 2 minggu selama ini dirinnya tak sadarkan diri dan membuat banyak orang cemas.

 

“Papa . . “lirih Ify lemas mencoba memanggil papanya yang berdiri di samping Rio.

 

“Kamu ingin apa gadis kecilku?? Apa yang ingin kamu katakkan ??” tanya Mr.Bov mendekati anak gadis satu-satunya ini.

 

“Ify takut Pa. “ semua orang yang ada disana hanya bisa terdiam saling pandang binggung. Kata-kata Ify tidak biasanya diucapkan oleh sosok Ify. Ditambah wanita ini mulai menangis.

 

“Takut ? Apa yang kamu takutkan?? Papa ada disini sayang. Papa ada disebelah kamu” Mr.Bov meraih tangan kanan Ify dan menggenggamnya sangat erat.

 

“Ify takut kehilangan Papa. Papa jangan tinggalkan Ify”

 

 “Never honey. Papa akan ada disini . Papa tidak akan kemana-kemana” entah mengapa melihat Ify menangis seperti ini, Mr.Bov pun ikut menangis. Jujur, terakhir kali Mr.Bov melihat wajah takut Ify dan menangis seperti ini adalah saat gadis berada di pemakaman mamanya. Ekspresi ketakutan dan tangisan yang ditunjukkan Ify benar-benar sangat mirip. Mr.Bov sangat ingat akan hal itu.

 

“Papa .  “lirih Ify sekali lagi dan masih terus menangis membuat semua orang yang ada disana semakin binggung.

*****

            5  hari kemudian, keadaan Ify mulai sedikit membaik walaupun peralatan medis yang ada di tubuh Ify masih belum bisa dilepaskan. Selama 5 hari itu, Ify tidak pernah ingin papanya menjauh sedikit pun darinya. Dan mau tak mau Mr.Bov harus selalu berada disamping Ify.

 

“Kak, Gimana keadaan lo??” tanya Iqbal dengan suara pelan, Iqbal yang memang jarang tidur mendapati Ify terbangun saat jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Dan saat semua orang masih tidur.

 

“Baik, apa gue tidur sangat lama?”

 

“Enggak, Lo tidur pulas banget. Lo cepat sembuh kek”

 

“Hmm” Ify menganggukkan kepalannya.

 

“Bal, lo inget keinginan Mama yang terakhir saat kita kecil ??”

 

“Ha??” kaget Iqbal karena Ify tiba-tiba membahas hal ini.

 

“Lo ingat???”

 

“I. . i . ingat kak. Mama bilang kita harus ngebahagiaan Mama dan Papa, Harus jadi anak pintar, harus jadi anak yang berguna bagi siapapun dan tidak boleh mengecewakan siapapun. Iya kan ??”

 

“Hmmm”

 

“Kenapa kak??”tanya Iqbal binggung.

 

“Menurut lo, gue udah bahagiaan Mama dan Papa belum??”

 

“Ha?? Ma.. maksud lo??”

 

“Ya. Gue udah bahagiaan mama sama Papa belum?? Gue nggak ngecewain mereka kan? Gue jadi anak berguna kan ??”

 

“I. . Iyalah. Lo udah bahagan mama dan papa banget.  Buktinya lo jadi orang sukses sekarang. Jadi wanita yang berguna. Kenapa sih ??”

 

“Nggak apa-apa. Berarti gue nepatin janji gue ke mama” lirih ify dengan senyum datarnya . Iqbal pun hanya bisa ikut senyum kaku walaupun masih binggung dengan pertanyaan sang kakak yang mengagetkannya.

 

“Lo tidur lagi gih, masih jam 3 juga udah bangun”

 

“Hmm. Lo juga tidur. Jangan capek-capek”

 

“Tumben lo perhatian ke gue ??”

 

“Gue baru sadar kalau gue hanya punya satu adek dan gue belum pernah bahagiain dia”

 

“Lo ngomong apa sih kak? Udah sana tidur. Tambah ngaco lo”

 

“Iyaiya. Gue tidur dulu lagi ya. “ balas Ify dan mencoba memejamkan matanya lagi.

 

            Iqbal menatap kakaknya cukup lama, menelusuri setiap lekuk wajah kakaknya. Iqbal tersenyum melihat sang kakak. Ia sadar bahwa kakaknya kini bukanlah seorang gadis remaja lagi melaikan seorang wanita yang sudah mempunyai anak dewasa. Ia menyadari bahwa kakaknya telah banyak berubah dan menjadi wanita yang sangat luar biasa.

 

“Gue sayang sama lo kak dan lo selalu ngebahagiaan gue mulai dari gue kecil sampai sekarang. Tanpa lo, gue nggak bisa apa-apa. Makasih kak”

 

“Gue denger bego. Sama-sama”

            Iqbal langsung terpelonjat kaget mendengar suara Ify maskipun dengan kedua mata yang masih terututup. Iqbal hanya bsia nyengir kaku dan garuk-garuk kepala tak jelas.  Binggung juga harus berbuat apa saat dirinnya tertangkap basa seperti ini.

 

******

             Alyn membuatkan Ify pancake hari ini. jujur saja, Alyn sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Ify. Karena semua alasan mereka ada disana adalah karena dirinnya. Alyn memasuki kamar rawat Ify dengan senyum yang begitu cantik. Yah, secantik dan secerah pagi ini.

 

“tante . . “ sapa Alyn kepada Ify yang memang sudah bangun.

 

“Hai Alyn”

 

‘Gimana keadaan tante? Sudah baikan ??”

 

“Yah. Mungkin hari ini peralatan medis tante bisa dilepas satu persatu”

 

“Sykurlah kalau begitu. Alyn ikut senang” ujar Alyn sambil menaruk pancake yang ia buat di sebelah meja kecil tak jauh dari jendela.

 

“Tante, Maafkan Alyn. Semua ini karena Alyn “

 

“Tidak sayang. Semuanya sudah takdir”

 

“Tapi kalau saja Alyn ber—“

 

“Ssttt. Tidak baik membahas yang sudah lalu. Yang terjadi biarlah terjadi Alyn”

 

“Iya deh tante. Sekali lagi Alyn minta maaf sebanyak-banyaknya tante”

 

“Iya Alyn. Kamu nggak salah kok” jawab Ify dengan suara lemas. Karena memang kondisinya belumlah sembuh total. Ify masih perlu dalam penjagaan.

 

“Alyn. Tante boleh tanya ? Tapi kamu harus jawab jujur”

 

“Ta.. ta. .tanya apa tan. .te?” tanya Alyn mulai gugup.

 

“Kamu benar-benar cinta dan sayang sama anak tante??”

 

“Bi.. Bima maksud tante??”

 

“Hmm. Jujur saja. Jangan malu-malu atau takut”

 

“Emmmm. Ya gitu tante. Emmmm Binggung jelasinya”

 

“Gitu gimana??”

 

“Ya. . Ya Alyn cinta banget sama Bima. Sayang banget juga hehehe”jawab Alyn dengan tingkah malu-malu. Ify senyum-senym sendiri melihat tingkah lucu Alyn seperti ini.

 

“Kalau kamu sayang sama Bima dan Cinta sama Bima, kamu harus pertahankan Bima ya. Tante percaya kamu adalah yang terbaik untuk Bima. Kamu harus bisa buat Bima bahagia. Karena Bima juga sayang sekali sama kamu”

 

“Ha?? I. I. Iya tante. Alyn akan selalu berusaha buat Bima bahagia”

 

“Terima kasih sayang”

 

“Iya tante sama-sama. Tante Istirahat ya, Alyn balik dulu. Hari ini ada kerja kelompok dengan anak kelas”

 

“Iya. Hati-hati Alyn”

 

            Ify menatap kepergian Alyn, kini tinggal dirinnya sendiri di kamar rawatnya. Papanya dan iqbal sedang mengurus keberangkatan mereka kembali ke Prancis hari ini. Ify sendirilah yang menyuruh Papa dan Adiknya balik ke Prancis. Ify tidak ingin membuat segala urusan papa dan adiknya terganggu karena dia.

*****

            Mr. Bov sangat tak tega untuk meninggalkan Ify, namun Ify tetap saja kekuh memaksanya untuk segera kembali ke prancis. Mr.Bov pun tak bisa apa-apa lagi jika Ify sudah memaksanya seperti ini.

            Iqbal, Salsha dan Mr.Bov pun berpamitan kepada Ify di rumah sakit, Ify yang keadaanya masih sangat lemah dan belum sembuh bahkan masih harus berada dalam pengawasan dokter 24 jam tidak bisa mengantarkan keluargannya ke bandara. Padahal Ify ingin sekali mentantarkan Papa dan adiknya tersebut.

 

“Kamu cepat sembuh sayang. Kalau ada apa-apa wajib telfon Papa secepatnya “

 

“Oke Mr. Bov”

 

“Kak, Lo cepet sembuuhh!! Jangan yang aneh-aneh”

“Iye”

 

“Awas kalau lo macem-macem nggak jelas”

 

“Iye bal”

 

“Lo itu anak kesayangan cewek papa satu-satunya. Jangan buat Papa khwatir”

 

“Iye  cerewet lu ah “

 

“Hehhee. Kan kangen gue ngeributin lo kak” Ify hanya melengos saja mendengarkan alasan Iqbal yang menurutnya kekanak-kanakan. Namun, dalam hati Ify ia sangat senang karena adiknya sangat peduli kepadannya.

 

“Kak Ify, pokoknya get well soon. Salsha selalu doakan kakak. Salsha sayang kakak”

 

“makasih salsha. Kamu juga jangan pisah-pisah sama Iqbal. Jaga dia awas hilang“ balas Ify dengan suara lemas karena memang badannya masih kesakitan.

 

“Lo fikir gue anak TK”sewot  

 

“Udah jangan bertengar, Kak Ify masih sakit Iqbal” lerai Salsha yang lebih memihak ke Ify.

 

“Pihak aja terus tuh setan, pihak aja terus. “ Ify, Salsha dan Mr.Bov hanya terkekeh melihat wajah lucu Iqbal yang mengamuk seperti itu. Ify menatap adiknya lama, Ify menyadari bahwa Iqbal berbeda dengan Iqbal yang dulu. Iqbal yang selalu bertengkar dengannya, Iqbal yang selalu menghawatirkannya diam-diam. Iqbal yang selalu merengek seperti anak kecil.

 

“Hati-hati di jalan” ujar Ify lemas.

            Ketiga orang itu pun dengan berat hati meninggalkan Ify, begitu juga dengan Ify yang sebenarnya tidak ingin jauh dari Papa dan adiknya. Ify mendapati ruang kamar rawatnya seipi kembali. Rio sedang ada urusan di kantornya sebentar dan mungkin sebentar lagi akan kembali menemani Ify. Bima sendiri disuruh Ify untukmengecek bagaimana keadaan rumah apa sudah dibenarkan ke semula.

            Ify merasa sangat bosan di rumah sakit, namun ia sendiri tidak bisa apa-apa dan hanya bisa berbring. Untuk menggerakan jemarinya saja terasa berat. Tubuh Ify seperti mati tak ada rasanya.

*****

            Rio telah menyelesaikan segala urusannya dikantor, berkas-berkas penting yang sebelumnya diambil oleh Adit kini sudah kembali ketangannya. Rio pun menyimpannya kembali dengan baik-baik dan tidak ceroboh seperti kemarin.

            Setelah menyelesaikan semua urusannya, Rio menuju ke rumah sakit. Ia sangat takut meninggalkan Ify sendirian disana. Rio pun tidak lupa membawakan istrinya sebuket bunga mawar putih. Setidaknya Rio ingin membuat Ify senang hari ini saja.

*****

            Rio memasuki ruang rawat istrinya, ia melihat wanita itu tertidur tenang. Rio masuk dengan pelan-pelan., ia tidak mau menggangu Ify. Wajah putih pucat Ify terlihat begitu jelas. Rio tersenyum melihat wajah Ify yang sedang tertidur seperti itu.

 

“16 tahun sampai sekarang masih tetap sama”

 

“22 tahun sampai sekarang juga masih tetap sama. Tetap om-om mesum” Rio kaget setengah mati karena Ify tiba-tiba membuka suara dan membuka matannya meskipun pelan-pelan.

 

            Ify terkekeh pelan tanpa mengeluarkan suara, ekspresi wajah Rio sangat lucu jika seperti itu. Ify melihat wajah Rio yang juga pucat dan kurang tidur. Ify tau bahwa Rio menjagannya terus selama beberapa hari ini sambil menyelesaikan pekerjaannya. Ify sendiri tidak tau apakah suaminya ini sudah tidur.

 

“Lo nggak tidur berapa hari? Kantung mata lo tambah lebar” desis Ify pelan. Rio menaruk sebuket bunga yang ia bawah disamping meja kecil di kasur Ify. Rio mengambil duduk disamping Ify.

 

“Gue udah tidur kok tadi pagi. Walaupun bentar. Tenang aja gue nggak tidur gue tetap hidup kok”

 

“Kasihani tubuh lo, kalau lo sakit siapa yang bakalan jagain gue dan Bima”

 

            Rio terdiam cukup lama, mengartikan dan mencerna setiap kata yang baru saja Ify lontarkan. Jujur, sudah beberapa hari ini Ify selalu berbicara yang diluar dari kebiasaan gadis ini. Rio takut sekali terjadi apa-apa dengan istrinya.

 

“Gue akan selalu jagain lo dan Bima. Gue janji itu”

 

“Gue takut “ lirih Ify pelan, air matannya mulai mengalir perlahan. Untuk kedua kalinya Rio dibuat kaget.

 

“Fy, lo kenapa ??” tanya Rio sambil menggenggam erat tangan Ify.

 

“Gue takut lo akan tinggalin gue dan Bima, Gue takut gue sendiri. Rasanya menakutkan sekali yo”

 

“Gue nggak mau sendiri”

 

“Lo nggak akan sendiri sayang, gue akan ada disamping lo. Bahkan jika gue harus menyerahkan seluruh apa yang gue punya hanya untuk lo. Gue rela. Sangat rela”

 

“Janji??”

 

“Janji Alyssa” Ify terisak ringan. Ia merasa beruntung sekali mempunyai suami seperti Rio. Suami yang begitu sangat menyayanginya melebihi apapun.

 

            Rio menghapus butiran-butiran kecil di pipi Ify dengan lembut, memberikan kekuatan kepada istrinya agar tidak takut lagi. Rio tau bahwa Ify sudah mulai trauma dengan luka tembak, dengan tempat kolam itu. Disanalah tempat mematikan bagi gadis ini. Tempat Ify selalu mendapatkan pilihan antara death or live.

*****

            Alyn menuruni tangga sambil membawa tas ransel sekolahnya, ia menuruni tangga dengan cepat sampai tak menyadari Bima berjalan di belakangnya. Bima yang melihat Alyn tergesa-gesa seperti itu menjadi heran sendiri.

 

“ALIEN!!! “ panggil Bima kencang dan membuat gadis cantik ini memberhentikkan langkahnya.

 

“Mau kemana lo??” tanya Bima penasaran. Alyn membalikkan badannya menghadap Bima.

 

“Ke rumah Sena. Ada kerja kelompok”jawab Alyn jujur

 

“Ha? Iyakah? Kok gue nggak tau ??”

 

“Cissh. Di dunia ini apa sih yang lo tau ?? Otak aja pinter tapi reality , my god .  “

 

“Lo nggak lagi nyari gara-gara kan??”

 

“Nggak. Anterin gue Bim kerumah sena” pinta Alyn tanpa basa-basi

 

“Ogah. Emang gue supir lo. Naik Taxi sana”

 

“Lo kan pacar gue, Pacar itu punya pekerjaan sampingan jadi ojek buat ceweknya”

 

“Cishh. Lo nggak usah blak-blakan juga keles!!” sewot Bima yang merasa kesal dengan tingkah Alyn yang tidak pernah tau diri menurutnya.

 

“Nggak blak-blakan nggak cakep. Lo mau nganterin gue nggak? Kalau nggak mau yaudah kasih gue uang buat naik Taxi “

 

“Eh sumpah lo cewek gue atau bukan sih ??” emosi Bima sudah diatas ambang melihat kelakuan Alyn yang seperti itu.

 

“Ya cewek lo lah, mangkannya gue minta sama lo. Buat apa punya pacar tajir kalau Cuma dianggurin?? Rugi banget kan??”

 

“Dalem banget bos kata-katannya !!“  sindir Bima dengan tatapan tak enak. Alyn menahan tawanya sendiri saat ini. ia sangat suka jika membuat Bima naik darah seperti ini.

 

“Yaudah, intinya lo mau nganterin gue atau ngasih gue uang buat naik taxi”

 

“Nggak bisa bayangin kalau gue nikah sama lo.” ujar Bima skiptis

 

“Tenang aja, bayangan masa depan gue nanti gue nggak nikah sama lo kok. Gue bakalan cari cowok yang lebih kaya daripada lo “

 

“YAAA ALIEEENNN!!!” teriak Bima sekencang mungkin. Kini kesabaran Bima sudah habis dan benar-benar overload.

 

“Berisik lo ah. Gue udah ditunggu sama Sena nih. Lo mau nganterin gue apa nggak??”

 

“Ogah!! JALAN KAKI SONO!! “

 

“Yaudah uang taxi sini!! “ tagih Alyn tanpa ada malu-malunya sama sekali.

 

“OGAH !!!JALAN KAKI SONO” kesal Bima kepada sang kekasih.

 

“KITA PUTUS!! “ ujar Alyn dengan nada kesal dan mata tajam ke arah Bima. Kedua tangan Alyn ia taruh di pinggangnya.

 

“Bodo amat. Gue bisa cari yang lebih cantik dari pada lo, yang nggak matre kayak lo. “ balas Bima tak kalah sadis.

 

“Awas lo ngajak balikan ?? Sampai lo sujud-sujud di kaki gue, Nggak bakalan gue mau balikan sama lo”

 

“Emang kita pernah jadian ??”

 

            Alyn langsung diam mendengar pertanyaan Bima seperti itu, Alyn menatap Bima dengan tatapan sinis begitu juga dengan Bima. Alyn merasa dunia ini tidak akan pernah damai jika ia bertemu dengan Bima.

 

“Lo sendiri loh ya yang bilang ! BYE !!! “

 

            Alyn langsung ngeluyur pergi dengan langkah kesal, melihat Alyn yang benar-benar kesal seperti membuat Bima kebingungan sendiri seperti kebakaran jenggot. Bima pun dengan cepat mengejar Alyn yang menuju luar rumah.

 

“YAAA!! ALIEN !!! ALIEEN !! ALIENN!! “

 

“Gue anterin kerumah sena, gue anterin”

 

            Cegah Bima sambil menarik tas ransel Alyn. Namun, Alyn langsung menyentak tasnya dari tangan Bima. Alyn menunjukkan wajah marahnya kepada pria disampingnya ini.

 

“Gue bisa berangkat sendiri!!” sadis Alyn dan kembali berjalan.

 

“Nggak asik lo ah gitu aja ngambek. Gue anterin deh. Atau lo naik taxi gue kasih uangnya . lo mau minta berapa ?? lo mau minta berapa??”

 

“Lo fikir gue cewek matre”

 

“ Banget”

 

“Apa lo bilang tadi ??” teriak Alyn tak terima. Bima langsung menutup mulutnya yang keceplosan.

 

“Nggak ada, gue bilang lo minta uang berapa ??”

 

“Black card lo sini”

 

“Busyeettt.  Naik taxi aja pakek black card. “

 

“Lo mau ngasih apa enggak? Kalau enggak kita beneran putus” Bima garuk-garuk sendiri. Ia cukup binggung sebenarnya dia itu kekasihnya gadis ini atau cuma jadi pelampiasan duniawi gadis ini. Tapi kenapa ia sama sekali tidak bisa marah bahkan menuruti apa saja yang Alyn bilang. Inilah yang disebut “ The Power Of Alyn’s Love “ .

 

“Mending gue anterin deh”

 

“Oh jadi lo nggak mau ngasih black card lo ke cewek lo ??”

 

“Baru jadi pacar, belum  jadi istri udah kayak gini” geming Bima lirih sekali

 

“Ngomong apa tadi lo??” bentak Alyn sadis.

 

“ lo sebenarnya mint anterin kerumahnya Sena? Atau mau minta shopping sih pakek minta black card segala”

 

“Dua-duanya dong” jawab Alyn santai.

 

“Gue harus melatih hati gue mulai dari sekarang” batin Bima dan dengan berat hati mengeluarkan dompet dari saku celana belakangnya.

 

“Black Card sama uang 300 ribu “ ujar Alyn saat menunggu Bima membuka dompetnya. Bima melirik tajam ke Alyn.

 

“Lo nggak sekalian aja minta rumah gue?”

 

“Belum saatnya,  tunggu aja pasti gue minta kok” balas Alyn santai sambil memainkan rambut panjangnya.

 

“Untung lo pacar gue “ gumel Bima dengan sedikit tidak rela memberikan Black Cardnya ke Alyn.

 

“Jelas dong. Beruntung banget kan gue . 300 ribu mana??”

 

“AAAIISHHHH!!!” Bima mulai mencak-mencak sendiri sambil memberantakkan rambutnya. Merasa sangat frustasi dengan gadis di depannya ini.

 

“Nih, awas lo macam-macam. “ ancam Bima sambil memberikan 3 lembar uang seratus ribuan. Alyn pun langsung senyum dengan sumringah dan memasukkan uang serta black Card Bima kedalam dompetnya.

 

“Indahnya punya pacar orang kaya “ ujar Alyn begitu bahagiannya.

 

JJJTAAAAKKKKK

 

“Awww” ringis Alyn karena Bima menjitak kepalannya.

 

“Sakit tau “

 

“Nggak gratis lo dapetin itu “

 

“Maksud lo??” Alyn sudah mencium bau-bau tidak enak. Bima memberikan smrik mematikannya.

 

“Orang kaya juga bisa melakukan apa saja. “ Bima menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuk kanannya. Alyn mengernyitkan kening sambil menatap Bima dengan tatapan ngeri.

 

“Ogah!!! “

 

“yaudah kalau nggak mau, gue bilang sama Papa dan Bunda kalau lo minta Black Card gue”

 

“YA YA YA YA YAA!!! “ teriak Alyn langsung ketakutan sendiri.

 

“Yaudah mangkannya cepetan, mumpung nggak ada orang:”

 

“AIIISSHHHHHH “

 

            Bima tersenyum penuh kemenangan, Ia selalu bisa melakukan apapun tanpa sia-sia dan tanpa rugi. Karena seberkuasa-kuasanya Alyn tentu saja masih berkuasa dia.

“ Tutup mata lo”

 

“Ogah, enak buka mata. Kan biar gue tau jelas.”

 

“Issshhh “ desis Alyn kesal

 

“Cepetan”

 

“Iya iya . . “ Alyn pun dengan ragu-ragu mendekatkan bibirnya menuju pipi Bima.

 

            Namun, belum sampai Alyn menyentuh pipi Bima, Bima langsung pergi begitu saja. Lebih tepatnya Bima melangkahkan kakinya menuju halaman rumah.

 

“BIMAAAA!!!!”teriak Alyn dengan kesal dan langsung mengejar Bima. Namun, langkah Alyn langsung terhenti saat ia melihat sebuah mobil ambulance berhenti di depan halaman dan terdapat empat orang yang keluar dari mobil tersebut beserta sebuah kasur rawat rumah sakit yang diatasnya terdapat seorang wanita yang tentu saja sangat familiar bagi kedua remaja ini.

 

“Bunda???”

 

“Tante Ify ??”

 

Bersambung . . . . . 

2 thoughts on “STORY OF DEVIL FAMILY – 14

  1. Oksip.. gue lagi di mobil baca ini nangiss kejeerr… untung gelap gak ketauan mama😥 aahh ify… jjangan sampe kenapakenapa… cepet sembuh pokoke.. lanjutt kaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s