STORY OF DEVIL FAMILY – 15 (LAST PART)

Follow twitter author @luckvy_s . Comment dari kalian sangat ditunggu ya :D dan terima kasih mau setia baca cerita ini. Selamat membaca. Terima kasih

 

 STORY OF DEVIL FAMILY – 15 (LAST PART)

 

      Rio menyuapi Ify bubur dengan hati-hati. Sebenarnya Ify sendiri masih belum bisa untuk mendapatkan asupan makanan secara langsung. Namun. Gadis ini terus memaksa bahwa dirinnya ingin memakan bubur. Rio yang tak tega pun akhirnya menuruti saja.

 

“Yo . . “lirih Ify pelan selesai ia makan.

 

“Hmm??”

 

“Gue bosen disini. Apa gue nggak boleh pulang ??”

 

“Nggak aneh-aneh Fy permintaan lo. Lo masih belum sembuh total. Tubuh lo masih belum pulih. Keadaan lo masih sakit” ceramah Rio yang tidak mengerti dengan keinginan istrinya.

 

“Gue pingin pulang”

 

“Nggak”

 

“Gue mohon. Gue nggak apa-apa kok dirawat dirumah. Gue ingin dirumah bisa bertemu Bima setiap hari, pokoknya gue pingin dirumah”

 

“Bima bisa gue suruh kesini Fy”

 

“Nggak mau. Gue mau pulang” kekuh Ify. Rio menghelakan nafas beratnya.

 

“Asal lo janji satu hal sama gue ??”

 

“Apa??”

 

“Lo akan sembuh dengan cepat kalau dirumah??”

 

“Hmmm. Gue janji. “

 

“Janji ??”

 

“Janji”

 

“Gue akan bilang ke dokter Andi.”

 

“Makasih”

 

“Gue sudah bilang kan. Apapun yang buat lo bahagia, gue akan mengabulkannya “ Rio mencium kening Ify dengan lembut sebelum meninggalkan kamar rawat Ify menuju keruangan dokter Andi.

*****

     Rio harus berdebat selama 1 jam dengan dokter Andy dan dokter Desy yang merawat Ify. Rio mati-matian memohon kepada dua dokter ini agar Ify bisa dirawat dirumah.

 

“Ify memintanya ?? ayolah dok.  Dia sudah janji sama saya kalau dia akan cepat sembuh jika dirumah . Ify paling benci rumah sakit”

 

“Yo, lo dokter juga kan?? Lo tau gimana kondisi istri lo kan??” dokter Andi mulai kesal sendiri dengan Rio yang terus memaksa.

 

“Iya gue tau dok, gue janji gue akan jagain dia. Kalau bisa bawa satu dokter buat stay dirmah saya. Saya akan bayar berapapun. Asal—“

 

“Masalahnya bukan uang Yo, tapi keselamatan istri lo. Dia baru saja sadar dari komanya. Lukannya masih belum sembuh. Salah satu tembakkannya hampir kena di jantungnya”

 

“Kali ini saja saya mohon dok, saya sudah janji dengan istri saya”

 

“Nggak bisa dok. Saya nggak setuju”kini dokter desy mulai angkat bicara lagi.

 

“Ayolah dok. Peralatannya kita bawa semua ke rumah. Bisa kan ?? dan satu dokter juga yang akan jagain Ify”

 

“Saya mohon Dok”

 

     Dokter Andi dan Dokter Desy sambil bertatapan sebentar. Terlalu lelah mereka menjelaskan Rio dan tetap saja pria ini kekuh untuk memaksa agar Ify bisa dirawat di rumah. Dokter Desy hanya bisa angkat bahu. Karena semua keputusan kembali lagi ke Dokter Andi.

 

“Saya kabulkan. Tapi kalau ada apa-apa dengan Ify dia harus langsung dibawah ke rumah sakit dan saya tidak akan mengizinkannya lagi dirawat dirumah” Rio langsung tersenyum begitu bahagia.

 

“Baik dok, saya setuju. “

 

“Des, telfon Dokter Cika, beri dia surat tugas untuk merawat Ify selama satu minggu ini dirumah keluarga Haling” suruh Dokter Andi kepada Dokter Desy.

 

“baik dok”

 

“terima kasih banyak dok, Ify akan senang jika mendengarnya”

 

“Kalian berdua memang pasangan suami istri yang keras kepala” ujar Dokter Andi yang hanya bisa geleng-geleng sendiri.

*****

     Tanpa melepaskan semua peralatan medisnya, Ify langsung dibawah menuju mobil ambulance. Dokter Andi, Dokter Desy, Dokter Cika dan Rio bersama-sama menemani Ify untuk dibawah pulang. Jujur saja, sebenarnya ke empat dokter ini pun merasa was-was dengan kondisi Ify yang sepenuhnya belum baik.

*****

 

“Bunda???”

 

“Tante Ify ??”

    

     Bima dan Alyn hanya bisa terbenggong di depan halaman rumah melihat Ify yang mulai diturunkan dengan 3 dokter disana. Rio pun terus mengecek kestabilan detakan jantung Ify dan infuse yang terpasang di tangan kiri dan tangan kanan Ify.

     Ify pun dibawah masuk kedalam rumah beserta dengan kasur dorongnya dan seluruh perlatan medis. Bima dan Alyn pun hanya bisa mengikuti dari belakang dengan wajah blank.

******

     Dokter Andi, Dokter Desy dan Dokter Cika sibuk membenahkan seluruh perlatan medis dikamar Ify. Ify sudah dipindahkan ke kasurnya sendiri. Rio pun berjalan keluar kamar untuk memberikan penjelasan ke Bima dan Alyn yang pastinya binggung.

 

“bunda?? Kok sudah pulang Pa??” tanya Bima binggung saat melihat papanya keluar dari kamar.

 

“Bunda kamu yang minta untuk pulang. Dia dari dulu nggak suka rumah sakit”

 

“Kok bunda keras kepala banget sih. Bima nggak setuju Pa. Bawa Bunda kembali ke rumah sakit”

“udah, kita turuti saja keinginan bunda kamu. Dia ingin sekali berada dirumah dan bisa lihat kamu setiap hari”

 

“Kasihan bunda, Semoga bunda cepat sembuh” ujar Bima dan diamini oleh yang lainnya.

 

“kamu mau kemana Lyn ??” tanya Rio yang menyadari  Alyn sudah rapi sambil membawa tas ransel.

 

“Kerja kelompok Om dirumah Sena, Tapi kayaknya nggak jadi aja. Alyn mau nemenin tante Ify”

 

“ Kok Bima nggak juga ?? “ tanya Rio sambil melihat Bima yang hanya cengar-cengir.

 

“Bima nggak pernah suka kerja kelompok om, dia kan udah pintar”

 

“ya jelas dong. Bima Freedy Haling:” ujar Bima bangga sambil menepuk dadanya dua kali. Alyn melirik Bima dengan tatapan sinis.

 

“Kamu berangkat aja, Tante Ify nggak apa-apa kok. Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu berangkat sana, biar diantar sama Mang Udin nanti teman-teman kamu nungguin”

 

“Nggak usah Om, Alyn naik taxi aja “

 

“ Oh gitu, yaudah hati-hati. Ini om kasih uang buat naik ta—“

 

“Nggak usah dikasih Pa, Black Card Bima aja udah dirampas sama dia “

 

DAAAAAKKKKK

 

“Awwwww” ringis Bima merasakan kaki kanannya sakit minta ampun karena Alyn langsung menginjak kaki kananya tanpa rasa ampun sedikit pun.  Rio menatap kedua anak di depannya ini dengan binggung.

 

“hehehe. Bima memang suka bercanda Om. Nggak perlu kok om, Alyn udah ada uang sendiri”

 

“Uang sendiri apaan? Udah ngerampas Black Card gue terus minta uang 300 ribu. Preman dia pa”

 

DAAAAAKKKK

 

“AWW SAKIT GILAA!!!” teriak Bima kesakitan. Rio hanya bisa geleng-geleng sendiri melihat kelakukan anaknya dan kekasihnya itu.

 

“Yaudah, kamu hati-hati Alyn berangkatnya. “ ujar Rio sambil memasukkan kembali dompetnya.

 

“Kamu masuk gih, bunda ingin bertemu sama kamu. Daritadi pagi dia terus mencari kamu” ujar Rio dan diangguki oleh Bima, Rio lantas kembali masuk terlebih dahulu meninggalkan dua sepasang joli yang terkadang bisa menjadi romeo and juliet dan terkadang bisa menjadi tom and jerry.

 

“Mulut lo minta gue jahit pakek tali tampar ? Ha??” kesal Alyn menatap Bima tajam.

 

“Gue bicara fakta. Gue orang yang jujur “

 

“Jujur apaan? Pahala masih dibawah rata-rata aja bangga”

 

“Lo fikir IQ bego !!”

 

“Isshh. Susah ngomong sama orang kayak lo. Bilang sama Om Rio dan tante Ify gue berangkat. Mungkin gue nginep dirumahnya Sena”

 

“Kok pakek nginep-nginepan segala ??”

 

“Sena habis putus sama pacarnya. Dia mau curhat apa gitu.”

 

“Lo sebenarnya kerja kelompok ? atau apaan sih ?? “

 

“Cowok tidak pernah mengerti cewek “ ujar Alyn dan langsung ngeluyur pergi. Sedangkan Bima hanya bisa benggong, blank, gigit kuku, garuk-garuk kepala binggung tak mengerti ucapan Alyn tadi.

*****

     Dokter Andi dan Dokter Desy pamit untuk balik kerumah sakit. Sedangkan Dokter Cika memilih untuk stay di rumah ini selama beberapa minggu. Dan saat ini didalam kamar Ify hanya ada Rio, Bima dan Ify. Mereka bertiga terlihat layaknya keluarga yang harmonis dan hampir sempurna.  

     Bima membelai lembut tangan mamanya yang dingin, sedangkan Rio terus memainkan rambut panjang Ify. Ify merasa ingin sekali mematikan waktu. Sudah sangat lama ia tdak berkumpul beritiga dengan keluargannya. Dengan suami dan anaknya.

     Ify tersenyum bahagia, bahkan ia tak kuasa untuk meneteskan air mata harunya. Ia sangat beruntung telah di berikan seorang suami yang begitu menyayanginya dan seorang anak yang hebat.

 

“Kalian berdua adalah harta paling terindah yang pernah kumiliki” lirih Ify dengan suara sedikit parau akibat isakannya.

 

“Apalagi bunda, bagi Bima bunda adalah segala-segalannya. Iya kan Pa??”

 

“Hmmm”

 

“Sekarang tidak ada lagi yang perlu  aku khawatirkan. Aku punya keluarga yang lebih dari sempurna. “

 

“Aku mencintai kalian berdua”

 

     Rio dan Bima pun langsung bersamaan mencium pipi Ify. Rio mencium pipi kanan Ify dan Bima mencium pipi kiri Ify. Ify memejamkan matannya merasakan kehangatan lembut ciuman dari dua pangeran hidupnya ini.

 

“Kalian berdua adalah pria yang paling luar biasa setelah Papa. Terima kasih sudah mau jadi bagian dari hidupku selama ini. terima kasih kalian sudah selalu ada buat aku. Aku sangat bahagia sekali”

 

“Kita lebih dari bahagia Fy, karena memiliki kamu” balas Rio dan sekali lagi mencium kening Ify.

 

“Bunda harus cepat sembuh. Bima janji kalau Bunda sembuh, Bima akan ajak bunda jalan-jalan keliling kemanapun yang bunda mau”

 

“Janji ??”

 

“Janji. “

 

“Hanya berdua tanpa Alyn ??”

 

“Hanya berdua tanpa Alyn “

 

     Ify terkekeh ringan, Ify tak menyangka bagaimana bisa ia mendapatkan sebuah anugrah anak seperti Bima. Bagaimana bisa ia melahirkan dan mendidik Bima hingga menjadi besar dan dewasa seperti ini. Waktu memang berjalan sangat cepat tanpa di rasa tentunya.

*****

     Bima membiarkan kedua orang tuanya berdua di kamar, ia memilih kembali ke kamarnya dan melakukan aktivitasnya sendiri yang entah ia sendiri tidak tau ia harus berbuat apa. Sekolahnya sudah libur sejak 2 hari yang lalu. Dan seperti biasanya peringkat satu pararel berada di tangan seorang Bima Freedy Haling.

     Bima masuk kedalam kamarnya, ia mendapati rapornya yang masih terbuka dan belum ia masukkan ke dalam tas karena ia tadi mengecek hasil nilai akhir raportnya sendiri. Bima cukup puas dengan nilainya yang tidak naik maupun turun. Bagaimana mau naik nilainya saja sudah mendekati sempurna. Semua mata pelajaran nilainya 99 ?? Are you human, Boy?? .

****

     Ify melihat Rio yang perlahan tertidur disebelahnya. Ify membiarkan saja Rio agar tidur dan tidak ingin menggangu suaminya. Ify kasihan karena Rio pasti kelelahan akhir-akhir ini. Ify sebenarnya tidak ingin membuat Rio begitu menghawatirkannya tapi Rio sendiri selalu kekuh untuk berada disamping Ify.

*****

     Sinar matahari perlahan mulai tenggelam, Ify masih tetap terjaga dengan mata terbuka, menunggu Rio yang masih tertidur. Ify tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua organ tubuhnya masih kaku. Badannya terasa berat sekali. Ia hanya bisa menggerakan jemarinya pelan-pelan.

     Ify mengenggam erat tangan Rio yang sedari tadi tak pernah lepas dari jemarinya, Ify merasakan tangan Rio yang hangat sekali.

     Ify menatap keatas langit-langit kamarnya, ia seolah sedang menerawang sesuatu. Entahlah itu apa, mungkin hanya Ify sendiri yang tau.

*****

     Rio perlahan terbangun dari tidurnya, dan cepat-cepat mengambil posisi duduk. Rio disambut dengan senyuman manis dari istrinnya. Rio melihat Ify dengan sedikit binggung.

 

“Gue ketiduran ya  Fy? Sorry Fy. Sorry”

 

“Nggak apa-apa yo. Gue malah seneng bisa lihat lo istirahat”

 

“Gimana keadaan lo? udah baikan ??”

 

“Hmm. Makasih udah mau bawa gue pulang”

 

“Iya sayang.”

 

“Yo, gue boleh minta satu permintaan lagi ?”

 

“Permintaan ? Apa?”

 

“Gue pingin ketempat pertama kali lo lamar gue “

 

“HAH?? “ Rio langsung membelakakan matannya sempurna dan langsung menatap Ify dengan tatapan skiptis.

 

“Nggak Nggak. Permintaan apaan itu. Gue nggak mau. Lo masih sakit. Lagian ngapain sih kita kesana lagi?? Lo kemarin udah kesana kan ? sampai ketembak 4 kali? Masih mau lagi ??” emosi Rio tiba-tiba keluar.

 

“Ayolah. Gue janji nggak minta apa-apa lagi”

 

“Nggak tetap Nggak Alyssa. Lo masih sakit. Jangan kayak anak kecil”

 

“Beneran lo nggak mau ngabulin ??”

 

“Nggak!!”

 

“Lo mau minta apapun ke gue pasti gue turutin, asal nggak ke tempat itu lagi dan permintaan lo nggak bakal gue kabulin sekarang. Lo masih sakit. Lo nggak bisa lepas dari alat medis lo”

 

“Bisa kok”

 

“Ngeyel banget sih nih istri satu”

 

“Lo beneran yo nggak ma—“

 

“No, Still No”

 

“Please Honey “

 

“Enggak Ify. Sekarang istirahat ya”

 

“Gue pingin banget Yo kesana. Gue mohon. Gue mohon yo. Gue nggak minta apa-apa lagi dari lo. Gue mohon” Ify mulai merengek tak jelas bahkan kali ini sampai menangis. Rio menghelakan nafas beratnya.

 

“Kenapa sih lo pingin kesana?? Ada yang ingin lo cari ??”

 

“Nggak ada, gue hanya ingin ke tempat dimana lo ngelamar gue. “

 

“Lo mau gue ngelamar lo lagi ??”

 

“Hmmm” jawab Ify sambil mengangguk seperti anak kecil. Rio terkekeh ringan.

 

“Tapi nggak bisa Fy, lo nggak bisa keluar tanpa alat medis lo”

 

“Hanya dengan infuse bisa kan? Sama masker oksigen??”

 

“Nggak bisa Ify”

 

“Bisa. Gue yang punya tubuh, gue bisa ngendaliin tubuh gue”

 

“Gue nggak mau terjadi apa-apa sama lo”

 

“Gue nggak bakalan kenapa-kenapa Yo”

 

“Gue—, Gu—, Gu”

 

“Lo nggak percaya sama istri lo?? Gue punya 7 nyawa yo. Gue bisa selamat kan buktinya. Padahal gue sudah hampir 3 kali lebih terkena tembakkan. I’m still Okay”

 

“Keras kepala banget sih setan satu ini”

 

“Mau kan ??”

 

“Ini permintaan yang terakhir ?? Janji ??”

 

“Janji. “

 

“Disana hanya 30 menit saja”

 

“1 jam “

 

“45 menit”

 

“1 jam “

 

“Iya iya. Gue bolang ke Dokter Cika dulu”

 

“terima kasih Mario”

 

“Hmm”

 

     Rio pun keluar ke kamar rawat Ify menuju kamar tamu dimana dokter Cika berada. Rio benar-benar tak mengerti jalan fikiran Ify yang selalu ingin membahayakan nyawanya sendiri. Rio berjalan dengan perasaan sedikit gundah. Apakah yang ia lakukan ini sudah benar atau salah. Entahlah.  Yang Rio tau bahwa ia hanya ingin membuat Ify bahagia.

*****

 

     Setelah melakukan dua kali perdebatan panjang dan dokter Cika menyerah, akhirnya Ify diperbolehkan untuk keluar bersama Rio dengan hanya bantuan infuse, kursi roda dan masker oksigen. Rio dengan hati-hati memasukkan Ify kedalam mobil dengan bantuan Bima.

 

“Bunda permintaannya aneh-aneh. Bunda itu masih sakit”

 

“Bunda udah sembuh sayang” jawab Ify kepada Bima yang terlihat sangat cemas.

 

“Masih pucat gitu? Nafas bunda aja nggak teratur. Nggak usah keluar deh bun”

 

“Bunda nggak apa-apa Bima. Kamu sana masuk kedalam”

 

“Iya bun. Hati-hati ya Bun, Pa”

 

     Rio dan Ify pun beranjak dari sana dengan menggunakan mobil Rio, Rio menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sangat hati-hati sekali takut terjadi apa-apa dengan istrinya ini. Ify tidak banyak bicara didalam mobil. Gadis itu hanya diam sambil mengontrol nafasnya sendiri yang memang tidak beraturan.

 

“Fy? Mumpung kita belum jauh dari rumah. Kita kembali ya”

 

“Jangan. “ tolak Ify dengan cepat.

 

“Lo kelihatan pucat”

 

“Gue nggak apa-apa yo. Gue masih sehat”

 

     Rio tak ingin meributkannya kembali dengan Ify, karena ia tahu hasil akkhirnya pasti Ify yang akan menang dalam perdebatan yang ia lakukan. Rio pun kembali konsen menyetir dan sesekali melihat ke arah Ify yang ada disampingnya. Rio mulai sedikit tenang karena Ify perlahan tertidur dengan nafas yang teratur.

 

“Lo manusia atau apa sih? Bisa menyesuaikan tubuh dengan keadaan sekitar ??” Rio geleng-geleng sendiri denga ucapannya barusan. Kali ini ia lebih bisa konsen menyetir.

*****

     Rio dan Ify memasuki Range Swam, Rio mendorong kursi roda Ify, Keadaan disini sudah lebih tenang dan semua kekacauan kemarin sepertinya sudah dibereskan. Ify dan Rio sama-sama terdiam mereka seolah menerawang kembali kejadian kemarin yang benar-benar menantang maut mereka berdua.

 

“Yo, kita duduk disana” ajak Ify dan Rio pun menuruti saja. Ia mendorong kursi roda Ify ke dekat bangku duduk yang panjang.

 

     Rio memilih duduk disamping kanan Ify, sedangkan Ify masih duduk di kursi rodanya karena Ify masih tidak mampu untuk duduk sendiri. Ify menatapi air kolam yang sangat tenang. Sesekali Ify mengembangkan senyumnya.

 

“Gue masih ingat bagaimana lo ngelamar gue Yo”

 

“Oh ya???” kini Rio pun ikut larut dalam suasana. Bayangan semua memorynya dengan Ify ditempat ini mulai datang.

 

“Hmm. Gue saat itu benar-benar terkejut dan nggak nyangka. Gue seneng banget tapi gue nggak bisa ngespresikan semuanya “ jujur Ify, Rio menolehkan wajahnya ke arah Ify dengan wajah heran. Inilah untuk pertama kalinnya Ify menceritakan bagaimana perasaan nyatannya kepada Rio setelah berpuluh tahun mereka menjalani hubungan pacaran sampai menjadi suami istri.

 

“Gue suka saat berada disisi gue, dan gue nggak suka saat lo ngasih perhatian ke gadis lain”u

 

“Ha?”

 

“Gue cemburu. Tentulah, tapi gue nggak mau nunjukinnya. Bukan karena gue gengsi, tapi gue nggak perlu egois bukan karena gue tau seorang Mario hanya mencintai seorang Alyssa. Iya kan ??”

 

     Rio tersenyum sendiri mendengar pernyataan Ify. Menurutnya sangat aneh namun membuat hatinya begitu bahagia sekali. Rio meraih dan menggenggam lembut tangan kanan Ify.

 

“Gue mulai sadar akan satu hal Yo”

 

“Apa??”

 

“Saat pertama kita bertemu, kita bertengkar sampai kita saling suka dan jatuh cinta. Gue adalah orang yang pertama kali jatuh cinta ke lo sebelum lo jatuh cinta ke gue” Rio mendadak diam terbungkam. Ia sendiri tidak pernah tau akan hal ini.

 

“Gue ingat saat lo nemenin gue dirumah sakit setelah ulang tahun Sivia. Lo tiap hari datang untuk nemenin gue, mungkin saat itu gue udah jatuh cinta sama lo”

 

“Atau mungkin saat lo pindah di depan rumah gue ??”

 

     Rio membiarkan saja istrinya terus bercerita, Ia tidak ingin menganggunya. Cerita yang cukup menarik menurut Rio. Namun, tidak dipungkiri bahwa Rio merasa heran dan aneh kenapa Ify bercerita seperti ini.

 

“Gue nggak pernah kecewa bisa jadi istri lo. Gue nggak pernah kecewa bisa jadi bunda dari anak kita. Apa lo kecewa yo?”

 

“Ha? Kecewa??”

 

“Gue terkadang berfikir, siapa sih sebenarnya lo Fy?? Apa perjanjian lo dengan tuhan?? Apa lo diutus untuk jadi pelindung gue ?? Karena dimanapun bahaya datang menyerang gue kenapa harus lo yang kesakitan di akhirnya. Itu yang bikin gue kecewa dengan diri gue sendiri”

 

“Yah, gue pelindung lo. dan gue juga sudah buat surat kontrak dengan tuhan agar selalu jaga lo, dan sebelum gue melahirkan seorang anak, gue juga buat satu kontrak lagi, gue harus melindungi satu pangeran lagi. “jelas Ify sambil tersenyum.

 

“Apa yang membuat lo harus selalu mengorbankan nyawa lo sendiri demi gue fy??”

 

“Karena lo terlalu penting buat gue melebihi apapun” jawab Ify jujur dan membuat Rio spechless untuk kesekian kalinnya.

 

“Apa lo pernah merasa bosan dengan gue Fy ??” tanya Rio dengan tatapan ingin tahunya.

 

“Bosan?? Sedikit pun nggak pernah. Sama sekali nggak pernah. Dan tidak akan pernah” Rio tersenyum mendengar jawaban Ify.

 

“Lo mau janji satu hal ke gue Fy ??”

 

“Apa ??”

 

“Saat gue dalam bahaya, lo bisa pura-pura untuk tidak tau. Lo bisa percaya bahwa gue bisa ngatasin sendiri bahaya itu tanpa lo bahayain nyawa lo lagi ??”

 

“Gue nggak bisa janji”

 

“Kenapa ??”

 

“Karena lo lebih penting dari apapun, bahkan dari nyawa gue” Rio menurunkan pandangannya sendu. Ia merasa seperti seorang pria yang tidak bisa melindungi wanitannya. Karena selama ini memang selalu Ify yang menjadi penyelamatnya.

 

“Gue nggak pernah bis melakukan apa-apa untulk lo Fy”

 

“Nggak, Lo udah melakukan banyak hal buat gue”

 

“Menurut lo. Tapi tidak menurut gue”

 

“Gue nggak butuh apapun dari lo Yo, asal lo bisa disamping gue, asal Bima juga bisa disamping gue udah sangat cukup bahagia yang gue dapat. Meskipun gue kehilangan segalannya.”

 

“Lo sayang banget sama Bima??”

 

“Melebihi apapun. Saat gue ngelahirin Bima, disanalah gue benar-benar tau perjuangan seorang Ibu. Rasanya benar-benar seperti mau mati. Tapi lo ada disamping gue dan itu membuat gue nggak takut”

 

“Gue akan selalu jaga lo dan Bima Fy, kapanpun, dimanapun. Gue janji”

 

“Yah, lo harus janji bisa buat anak kita bahagia Yo. “

 

“Hmmm”

 

“Yo”

 

“Apa??”

 

“Lo pernah ingin punya anak lagi??”

 

“Ha??” kaget Rio mendengar pertanyaan Ify satu ini

 

“Lo pernah ingin punya anak lagi ??” ulang Ify sekali lagi.

 

“Pernah, gue ingin punya anak gadis. Tapi gue nggak mau serakah.  Karena sudah lebih dari cukup gue  punya lo dan Bima”

 

“Maaf” lirih Ify lemas

 

“Buat ??”

 

“Gue nggak bisa berikan itu”

 

“Apaan sih Fy. Kan udah gue bilang. Gue udah lebih dari bahagia sekarang, dirumah juga ada Alyn kan? Dia udah seperti anak kita sendiri kan??”

 

“Apa gue belum bisa jadi istri yang baik yo ???”

 

“Kata siapa??”

 

“gue tanya”

 

“Enggak. Lo adalah istri yang sangat luar biasa yang bernai mengorbankan nyawa demi anak dan suaminya “

 

“Gue mulai takut lagi yo”

 

“Takut kenapa??”

 

“Lo ninggalin gue, Bima ninggalin gue, gue sendiri. Gue takut semua yang gue punya hilang. Gue nggak pernah takut apapun. Tapi yang gue takutin adalah saat tiba-tiba tuhan memutar nasib gue menjadi dibawah”

 

“Lo nggak perlu takut, dimanapun posisi nasib lo berada gue dan Bima akan selalu ikuti itu”

 

“Benarkah??”

 

“Hmmm. Gue janji”

 

“Maafin gue yo kalau gue belum bisa jadi istri yang benar-benar lo idamkan. Maafkan gue karena gue selalu membuat beban buat lo. Maafkan gue “ lirih Ify dengan air mata yang mengalir lagi. Rio menggelengkan kepalannya. Ia menghapus air mata Ify.

 

“Nggak ada yang salah dari diri lo. Lo adalah istri gue yang paling luar biasa. Dan gue cinta sama lo dulu, sekarang bahkan sampai nanti”

 

“gue juga”

 

     Rio perlahan mencium lembut kening Ify cukup lama. Keadaan sekarang begitu sangat tenang dan benar-benar sangat menenangkan. Ify merasakan dirinnya seperti mendapat sebuah energi ketenangan yang luar biasa. Ify tersenyum dan terus tersenyum bahagia.

 

“Mario adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki” bisik Ify lembut setelah Rio melepaskan ciuman keningnya. Rio terkekeh ringan.

 

“Lo juga Fy. Cepat sembuh ya sayang “

 

“Gue ngantuk yo, apa obat yang gue minum tadi ada efek tidurnya ??”

 

“Obat?? Kamu belum minum obat sama sekali Fy”

 

“benarkah?? Tapi kenapa gue ngantuk banget. “

 

“Yaudah ayo kita pulang. Biar lo bisa istirahat dan besok bisa lebih baik lagi kondisi lo”

 

“Nggak mau. Belum 1 jam”

 

“Tapi lo udah ngantuk Ify. “

 

“Gue mau tidur di bahu lo. Gue suka lihat air yang tenang itu”

 

“tap—“

 

“Please”

 

     Rio menghelakan nafas beratnya. Selalu saja ia tidak bisa menolak keinginan gadis ini. Rio mengangguk saja dan memperdekat posisi duduknya dengan Ify. Rio mendekatkan bahunya dikepala Ify agar gadis ini bisa bersandar di bahunya.

 

“Gue bahagia sekali hari ini Yo. “

 

“Benarkah ??”

 

“Yah, sangat bahagia. Gue bahagia ternyata Bima memang anak gue. Gue bahagia karena gue punya suami seperti lo. gue bahagia karena punya papa yang tangguh dan sayang banget sama gue.Gue bahagia punya adik yang diam-diam selalu perhatian ke gue”

 

“Hidup gue seperti sudah sangat sempurna. Tuhan terima kasih”

 

“Yo, airnya tenang banget, sangat tenang. Gue tambah ngantuk. Gue tidur bentar ya.”

 

“Iya Fy “

 

“Bangunin gue 15 menit lagi”

 

“Iya gue akan bangunin lo Fy. Udah cepet tidur. “

 

“Hmm. Bangunin gue yo”

 

     Tak lama kemudian Ify terlelap dalam tidurnya. Rio mendengarkan nafas Ify yang beraturan, Rio mengenggam erat tangan Ify. Rio tersenyum begitu bahagia sekali. Ify memang malaikat cantik yang diciptakan tuhan untuknya. Rio sangat bersyukur sekali.

 

“Gue janji gue akan selalu disisi lo dan jaga lo”

 

“Gue sayang sama lo Fy”

 

“Gue cinta sama lo”

 

“Gue nggak bisa hidup tanpa lo, gue akan selalu jadi pelindung lo, jadi energi lo. Lo denger kan Alyssa??”

 

“Aku mencintaimu Alyssaku”

 

******

     Bima langsung menuruni tangga saat mendengar mobil papanya datang. Bima sedari tadi sudah cemas dan terus menunggu dikamar tanpa menutup pintu kamarnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan bundanya.

     Bima mendapati Papanya yang sedang membopong tubuh bundanya, Bima mengernyitkan keningnya heran.

 

“Bunda ti—“

 

“Iya. Bunda kamu ketiduran didalam mobil, dia bilang dia ingin tidur dengan kamu malam ini Bim”

 

“Benarkah??. Kalau begitu ayo Pa bawa Bunda ke kamar Bima. Sudah lama Bima nggak tidur sama bunda” Rio tersenyum dan mengangguk. Rio mengikuti Bima yang sudah naik tangga duluan.

*****

     Rio menidurkan Ify di atas kasur Bima, wajah pucat ify masih tetap terlihat namun tidak menghilangkan kencantikannya.  Bima mengambilkan selimut besar untuk Ify didalam almari. Rio menata posisi tidur Ify terlebih dahulu.

 

“Pa? Nggak apa-apa mama nggak pakai peralatan medis ?” tanya Bima sambil membantu Papanya menyelimuti sang mama.

 

“Nggak apa-apa Bim, mama kamu sudah bisa bernafas dengan teratur tadi”

 

“benarkah ?? berarti kondisi mama sudah membaik ??”

 

“Hmm. “ Rio menatap Bima dan menepuk pundak Bima pelan.

 

“Jaga mama kamu malam ini ya, dia sangat sayang sama kamu. “

 

“Iya pa, Bima juga sangat sayang sama bunda”

 

“Jangan ganggu mama kamu, dia sangat kelelahan. Biarkan dia istirahat”

 

“Iya pa”

 

“Kamu juga cepat tidur. Sudah malam”

 

“Siap Papa”

 

“Papa keluar dulu Bim”

 

     Bima mengangguk dan membiarkan Rio beranjak pergi dari kamarnya. Bima melihat sang bunda yang sedang tertidur. Hati Bima begitu tenang dan senang sekali. Bima pun perlahann-lahan naik ke atas kasur mengambil posisi disamping Bundanya.

 

“Bunda, cepat sembuh”

 

“Bima sayang sama bunda” lirih Bima lembut dan tulus. Bima pun mencium kening bundanya cukup lama.

 

     Setelah itu Bima langsung memilih untuk tidur di samping bundanya tanpa menganggu sang bunda lagi. Bima nggak mau Ify terbangun karenannya. Bima sangat senang sekali karena bisa tidur bersama dengan bundanya. Terakhir kali ia tidur disamping bundanya adalah saat kelas 1 SMP akhir. Dan saat itu, Bima sendiri yang memaksa agar bundanya tidak lagi sering tidur dikamarnya. Lucu, memang karena Ify selalu saja memperlakukan Bima seperti anak kecil.

****

     Keesokan paginya, suara ketukan pintu kamar membangunkan Bima dan sedikit mengangetkan pria ini. Bima melihat ke arah jam dinding dikamarnya. Masih pukul 5 pagi.

 

“Bima, buka pintunya “ Bima pun cepat-cepat berdiri dari tempat tidurnya saat mendengar suara papanya memanggil dirinnya.

 

“Iya pa bentar “ teriak Bima dari dalam dengan suara sedikit pelan. Ia takut membangunkan bundanya yang masih terlelap.

 

     Bima membuka pintu kamarnya dan sedikit kaget melihat papanya yang sudah rapi dengan baju berwarna hitam-hitam dan di sebelah tangan kanannya pun membawa sebuah baju seperti yang dipakai papanya.

 

“Pakai ini”

 

“Ha? Memangnya kita mau kemana? Papa ngapain pakai baju hitam-hitam seperti ini?? Siapa yang meninggal??”

 

“Kita akan memakamkan Bunda kamu”

 

TAMAT

 

 

 

7 thoughts on “STORY OF DEVIL FAMILY – 15 (LAST PART)

  1. De’ ending nya kok begini??T_T kasian Rio ny jd DUREN. Dada ku nyesek ampe sekarang ni susah nerima ify sdh gak ada, huaaaa…!!! Alur cerita km sllu menarik, terus berkarya ya.! insya Allah q akn sllu jd pmbaca setia km ({})

  2. Huhuhuhu kenapa ify meninggal.. kno hdupny penuh dgn tembakan ya?? Kasian bima dan rio.. masa nasibny bima sma kyk ify dlu sih??

  3. Hah? Kak kok ginii? Sumpah gk trima banget kakkk. Kok tiba2 ify ninggal gitu T_T kakkkkk yang bener dongg. Endingnya salah kali ini?? U,u

  4. OH MY GOD! Ada apa ini??? Ify omg kenapa harus mati? ga yakin gue sumpah. Finally stody rampung juga tpi endingnya gantung hyo, epilognya okok.

    Ditunggu cerita2 yg super duper keren dri kaluluk. Good luck ka:)

  5. kak,
    ini salah ending gak kak,
    epilog a masih ada kan kak.
    Ify gak mungkin ninggal kak.
    Aishhh,
    sumpah kok gini ending a,
    huwaaaa,
    gak terima kaluk.
    Part ini nyesek kaluk.
    Kta2 ify sma rio di range swim bikin nangis.
    Tah knp padahal kan kta2 a romantis, tapi malah bikin siska nangisss ;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s