STORY OF DEVIL FAMILY – EPILOG

Follow twitter author @luckvy_s . Comment nggak comment. Like nggak like terserah asal kalian udah baca cerita ini, aku udah seneng banget.😀 sekali lagi terima kasih mau setia baca cerita ini. Selamat membaca. Terima kasih😀. Bye bye STODY. ” Klik Lanjutkan Membaca if you want ”

STORY OF DEVIL FAMILY – EPILOG

LANJUTKAN MEMBACA >>

“Jalankan mobilnya cepat”

“Loe siapa??”

“Jalankan mobilnya. Atau loe mau mati sama gue ?HAH??”

“ COWOK BODOH !!”

“Yaaahhh !!! loe sudah seenaknya masuk ke mobil gue . dan sekarang loe ngatain gue cowok bodoh?? Turun loe !!!”

“Percuma gue turun ! sekarang kita dalam keadaan mencekamkan”
****
“Fy . loe ingat kan . sekarang kita adalah sepasang kekasih. Gue pacar loe sekarang. Dan gue gak mau pacar gue ini diam seperti patung seperti ini “

“Aku mohon bangunlah saat ini. Aku mohon Fy “lirih Rio sambil terisak dengan tak tertahankan.

“Dasar gadis bodoh. Loe memang gadis bodoh yang selalu menyusahkan gue. Loe gadis yang selalu ada disaat nyawa gue dalam berbahaya. Loe gadis bodoh yang rela mati demi gue dan loe gadis bodoh yang berhasil merebut hati gue, dan kenapa gue bisa jatuh cinta kepada gadis bodoh seperti loe. . kenapa . . .? kenapa loe harus relain nyawa loe Fy. Kenapa loe cegah peluru itu mengarah ke gue. Kenapa ?”’

“Maaf. Maaf menyusahkan kamu. Maaf . maaf maaf maaf dan maaf . . Maafkan Aku .. Maaf . .“
“Sayang . . “

“Sayang . bangun yah . . “
*****
“I LOVE YOU MARIO . .”

“AKU SAYANG MARIO BODOH !!”

“OH MARIO HALING SANGATLAH BODOH !!”

“TAPI AKU SANGAT CINTA KEPADA SI BODOH ITU
*****
“Gue cinta sama loe”

“gue tau “
“Gue gak akan ngulangin kata itu lagi kedua kalinya. Jadi loe harus terus mengingatnya “

“Gue akan selalu mengingatnya”
*****
“Sayang udah jangan nangis. Maaf. Maaf. Gue Cuma bercanda tadi. Gue ingat kok hari ulang tahun loe. Gue gak sibuk . gue gak marah sama loe gara-gara loe masuk ke ruang kerja gue . Gue Cuma ngerjain loe aja. Gue tau banget sweet seventeen ini berarti kan buat loe ?? Udah jangan nangis Fy . “

“Fy maaf banget. Gue Cuma ngerjain loe. Sumpah !! Gue cinta sama loe. Gue sayang sama loe. Gue gak akan pernah mutusin loe!!!”

“Kita gak putus Fy. Gue masih pacar loe dan loe juga masih pacar gue”
*****
“Gue boleh nyium loe??”

“Nyium apaan ??”

“Boleh gak ?”

“Hmm. “

“beneran ??”

“Hmm . .”

“Kalau gue nyiumnya lama gak apa-apa??”

“Hmm “

“1 menit ??”

“ 5 menit ??”

“1 jam ??”

“1 hari ??”
*****
“Mariokuuu …”

“Alyssaku . . . “
****
“Sayang. . I Love You”

“Semoga harimu penuh bahagia keesokannya dan keesokannya lagi. Aku akan selalu merindukanmu Alyssaku “

“Aku juga akan merindukanmu Marioku. Love You Too “
****
“Kalau nanti gue udah nikah sama loe. Gue mau punya anak . . . . “

“12 “

“YAAAA BANYAK AMAAATT!!!!”
*****
5 Bulan Yang lalu

Pria ini membenahkan dasi dan jas hitamnya. Ia menatap ke arah kaca yang berukuran sedang yang terletak di samping jendela. Pria ini menunjukkan senyum “aneh”.

“Inilah saatnya lo harus membayar semuanya”

“ Gabriel akan sangat senang jika melihat lo hancur”

“Seperti lo hancurin Sepupu gue dulu”

“ dan sudah cukup lama gue menanti semua ini. Bagaimana pun caranya lo harus mati , Mario !!”
*****
4 Bulan sebelum Hari Ulang Tahun Ifty
Bima melangkah tergesah-gesah menuju ruang kantor papanya. Ia sedari tadi menengok ke arah kanan dan kiri dengan sedikit waspada. Siang ini ia sengaja minta pulang duluan dengan alasan tubuhnya sedang tidak enak badan dan ia perlu check up kerumah sakit. Alasan yang sangat akurat bagi seorang siswa untuk kabur dari sekolah.
Bima memasuki kantor papanya begitu saja, karena sang sekertaris yang biasanya berada di depan kantor papanya pun tidka terlihat. Bima menginjakkan kakinya kedalam dan mendapati papanya sedang asik mengobrol dengan seorang pria yang menurutnya “tampan”.

“Bima !! “ kaget Rio saat mendapati anaknya mematung di dekat pintu. Bima yang tersadar lantas mengalihkan pandangannya ke arah Papanya. Rio nampak terkejut begitu juga dengan seorang pria yang duduk di depan Rio.

“Pa, ada yang mau Bima omongin sama Papa” Ujar Bima dengan wajah serius seperti ada hal yang begitu sangat penting.

“Kamu nggak sekolah ?” tanya Rio tak menanggapi ucapan bima sebelumnya.

“Bima izin pulang. Pa., penting. !!”jawab Bima dan mengingatkan kembali kepada papanya akan pernyataan awalnya. Rio hanya bisa geleng-geleng saja.

“Yaudah, ada apa ??” tanya Rio balik. Bima terdiam sejenak dan menatap papanya dengan tatapan “disini? Ada pria ini?”

“Lalu dimana Bima? Papa lagi ada tamu. Ini teman lama papa dulu. Dia junior papa waktu papa tugas di prancis. Tenang saja orangnya baik.Umurnya juga masih muda. Dia tampan kan??”

“Hahahha, Bisa saja kamu Yo”

“Sudah gue bilang panggil gue kakak!! “ ujar Rio dengan nada “sok” menakutkan kepada pria didepannya tersebut. Bima hanya bisa bergedik melihat keanehan kedua pria didepannya ini.

“Yaudah, yaudah, intinya Bima tadi lihat kalender, terus Bima inget 4 bulan lagi ulang tahun Bunda. Dan Bima ingin buat Ultah spesial buat bunda nantinya “

“Terus ??”

“Kan, papa dulu pernah cerita. Kalau papa pernah ngerjain Bunda waktu diumur ke 17 tahunya. Lah, Bima mau Kita mengerjai bunda sekali lagi. Gimana Pa??”

“Ha??”kaget Rio yang hanya bisa terbengong.

“Bunda kamu nggak mudah untuk dikerjain dan dibohongi Bim”

“Maka dari itu, Bima mau minta tolong sama papa. Dan kita buat rencanannya dari sekarang “

“Emang apa rencana kamu ??”

“Mmmm. Bima punya ide sih dari kemarin. Gimana kalau kita buat skenario kalau Bima bukan anak kandung Bunda” ujar Bima dengan wajah menerawang perjalan skenarionya nanti. Rio yang mendengarnya langsung terbatuk-batuk.

“Kamu yakin ??”: tanya Rio tak mengerti jalan fikiran Bima.

“Yakin Pa, sekali-sekali ngerjain bunda kan nggak apa-apa? Sekalian ngetes naluri Bunda dengan anak kandungnya sendiri hehehe” cengir Bima.

“baiklah. Papa turuti keinginan kamu:”

“Gimana kalau ditambahin dengan adanya anak kandung Ify sebenarnya. Kan lebih seru tuh. Ngebuat Ify pasti bimbang dan masuk dalam jebakan. “ tambah seorang pria tersebut membuat Rio dan Bima langsung tertuju kepadanya.

“Wahh . ide bgus tuh Dit. Gimana kalau lo yang nyamar jadi anak kandung Ify ??” tawar Rio yang langsung semangat. Bima mengernyitkan keningnya agak nggak yakin.

“Tapi Pa, ka—“

“Udah Bim, serahin aja sama Papa dan Adit, dia junior papa yang pinter banget actingnya. Dia dulu bekerja sepert papa di Mr.Lay dan mumpung dia lagi liburan 1 tahun disini. Daripada kita nyari-nyari orang. Iya kan??”

“i . i . iya sih” jawab Bima dengan kaku. Ia sejujurnya merasa sedikit tidak setuju. Namun mau bagaimana lagi.

“Lo nggak keberatan kan dit bantuin gue sama Bima??”

“Nggak kok. Gue malah seneng banget bisa bantuin”

“Yaudah kalau gitu, kita buat rencanannya minggu depan dan mulai menjalankan skenarionya 2 minggu lagi ” ujarRio dan diangguki oleh Bima dan Adit.
*****
Mungkin sudah 1 jam lebih Ify tertidur di samping Rio dengan menyandarkan kepalannya di bahu Rio, dan dengan sabar Rio menunggu Ify dalam diamnya. Rio hanya menatap ke depan tanpa melakukan apapun. Namun, detik berikutnya tanpa sadar air mata Rio mulai jatuh sendiri sampai akhirnya membentuk aliran sungai kecil yang semakin deras.
Rio menundukkan kepalannya dalam sampai terjadi sentuhan antara janggut dan atas dadanya, ia menyatukkan kedua tangannya dalam jari-jarinya dan menggenggamnya dengan sangat erat. Ia mencoba untuk menahan isakannya namun ia sama sekali tak bisa menahannya sampai akhirnya tangisannya benar-benar memecah.

“Fy. . .”lirih Rio pelan, pria ini sama sekali tak berani sedikit pun menoleh ke arah samping dimana tempat istrinya bersandar di bahunya.

“lo masih tidur kan??”

“Lo bisa bangun sekarang. Ayo ki. . ki. . kita pulang”

Rio terdiam sebentar, mencoba menahan getaran yang mulai menjalar diseluruh tubuhnya. Ia merasakan seluruh energinya sudah mulai lepas dari tempatnya semula. Dia sangat berharap apa yang sedang ada difikirannya saat ini tidaklah benar. Yah, tidak benar.

“Tidur lo pasti nyenyak banget Fy”lanjut Rio dengan suara berat bercampur serak. Rio langsung mengusap air matannya dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“Maa.. .maafin gue fy. . “

“Maafin gue”

“Maafin gue Fy”

“Maaf . . .” air mata Rio mengalir kembali dan kali ini ia membiarkannya saja. Rio mencoba melirikkan matannya ke arah tangan Ify. Dengan sedikit gemetar, Rio memberanikan diri untuk meraih tangan itu dan menggenggam seerat mungkin tanpa melihat wajah dari istrinnya.

Dingin, sangat dingin itulah yang Rio rasakan. Rio mengenggamnya semakin erat kemudian menciumi berkali-kali tangan tersebut dengan air mata yang kembali mengalir semakin deras, nafas yang tidak teratur dan bunyi isakan yang benar-benar terdengar begitu memilukkan. Tangan Rio terasa bergetar sendiri tanpa ia kendalikkan.

Perlahan Rio tertunduk kembali dan tertunduk dengan tanpa melepaskan genggaman tangan Ify. Tak ada satu kata pun yang bisa Rio ucapkan untuk detik ini. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Hanya menangis dan menangis yang bisa ia lakukan.
Detik berikutnya lagi suara isakan Rio semakin terdengar di segala sudut ruangan ini. suara isakannya memantul dalam keheningan malam. Sekali lagi Rio mencium tangan Ify yang sudah lebih dingin dan masih tanpa berani menatap wajah gadis tersebut.

“Ma—,Ma—, Maaf. Maaf, Gu— gue nggak bsia jaga lo”

“Ma—,Ma, Ma—af gue nggak bisa buat lo benar-benar bahagia sa—,sa—, sampai detik i—, ini. “

“Ma—, Ma—, Maaf, Gue selalu membaha—membahayakan hidup lo—“

“Ma—, Maaf”

“Ma—, Maaf”

“Ma—, Maaf”

“Ma—, Maaf, Alys—,Alyssa”

Tangan kanan Rio ia gunakan untuk menutup kedua matannya, mencoba mengambil nafas sebanyak mungkin yang rasanya semakin sesak sekali. Kedua mata Rio memerah dan sedikit membengkak. Bahunya masih terlihat bergetar. Ia mencoba mengatur isakannya dan berusaha untuk menghentikkan isakannya. Namun ia tidak bisa. Ia terus saja terisak dengan sendirinya tanpa ia mau. Dadanya terasa sakit sekali akibat sesak nafas yang sudah bercampur menjadi satu dalam tubunya.

“ Ta—, Tangan lo dingin Fy. Lo hanya kedinginan bukan? Iya kan??”

“ Lo, pasti nyenyak sekali tidurnya. Sampai nggak dengar pertanyaan gue ??”

“Iy—,Iya kan Fy?”

“Gu—, Gu—, Gu— Gue akan hangetin tangan lo Fy “ Rio mengusap-usap tangan Ify mencoba memberi kehangatan. Dan berkali-kali ia berusaha mengosok-gosoknya dengan kedua tangannya yang memang hangat. Namun, Tetap saja tangan wanita disampingnya ini dingin bahkan semakin dingin.
Gesekkan tangan Rio mulai melemah, dan mulai melemas seiring air matannya jatuh kembali. Ia menangis lagi dan hanya berani menatap tangan dingin yang berada di genggamannya. Seluruh tubuhnya dan otaknya bahkan hatinya pun memerintahkan dengan otoriter agar dia tidak menolehkan wajahnya sekali pun. Bahkan Rio sendiri merasakan ketakutan yang luar biasa yang tidak akan bisa ia terima jika ia menolehkan wajahnya sedikit saja.

“Fy, ini bahkan sudah lebih dari 1 jam. Lo harus bangun sekarang. Iya kan ?”

“Lo bisa ba—,ba—, bangun kan??”

“Ba—, Bangun Fy, Bangun sayang. Ayo kita pulang” Rio menghembuskan nafas beratnya sekali.

“Ka—, kalau lo nggak bangun. Gu—, gu—, Gue akan tinggalin lo disini sendirian!!”

“Gue serius Ify!!”

“Gue hitung sampai hitungan ketiga Fy!! ”

“Fy—, Gue serius!!”

“sa—, sa—, satu”

“Du—, Du, Du, Du— Dua” Rio mengigit bibirnya sekuat mungkin, menahan agar air matanya bisa sedikit berkejasama dengannya. Agar tidak terlalu keluar dan membentuk banjir deras di pipinya. Rio menghembuskan nafasnya sekali lagi dengan susah payah mencari oksigen agar bisa membantu menenangkan otaknya dan hatinya sedikit.

Rio perlahan melepaskan tangan Ify dari genggamannya. Dengan perasaan yang tak karuan, dan ketakutan serta kedua tangan gemetar. Rio melepaskan tangan Ify.

DEEGHH!!

Tangan Ify terjatuh begitu saja saat Rio benar-benar melepaskannya. Rio menatap tangan tersebut dengan tatapan nanar dan miris sekali. Untuk ke sekian kalinya, air mata Rio terjatuh lagi.
Rio mencoba memberanikan diri untuk menolehkan kepalannya pelan-pelan ke arah sampingnya. Pelan dan pelan sekali gerakan kepala Rio. Nafas Rio semakin tidak beraturan. Hatinya sangat menolak dan menyuruhnya agar tidak menolehkan kepalannya. Namun tubuh dan otaknya kali ini sangat memaksanya.
Sampai akhirnya kepala Rio benar-benar telah tertoleh 45 derajat dan ia dapat melihat dengan jelas gadis disampingnya tersebut tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Bibirnya telah memutih, bahkan Rio tidak bisa mendengar na— “entahlah” .
Rio langsung menarik tubuh Ify kedalam pelukannya dan memeluknya seerat mungkin. Rio meluapkan segala kesedihannya, segala air matannya, segala kekesalannya kepada dirinnya sendiri, segala penyesalannya saat ini. Meluapkan dengan tangisan dan teriakan yang keras. Mengharapkan ada setitik cahaya yang bisa membantunya dan menolongnya untuk mengatakkan bahwa ini semua hanyalah mimpi.

“IFFFFYYYYYYY!!!!!”

“IFFFFYYYYYYY!!!!”
*****
Rio sudah berada di dalam mobil, dan Ify pun telah berada di sampingnya dengan keadaan masih terpejamkan. Tangan Rio sudah kehabisan energi. Bahkan untuk menyalakan mobilnya saja rasanya tidak mampu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” . “Kemana aku harus pergi saat ini??”. “Apakah ini memang nyata?”, “Apakah dia benar meninggalkanku?” . “Dengan cara seperti ini ??”. Segala pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Rio.
Rio dengan cepat menghapus air matannya yang jatuh kembali. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Rio menyalakkan mobilnya dan mencoba konsen mengendarai mobilnya. Ia beranjak dari tempat tersebut dan memilih segera pulang kerumah.
****
30 menit perjalanan akhirnya mobil Rio memasuki halaman rumahnya. Rio tidak langsung keluar dari mobil. Ia terdiam cukup lama didalam mobil.

“Ma—, Ma— fin gue Fy . sekali lagi gue minta maaf. “

“ Gue suami yang bodoh!! “

“gue suami yang kejam!!”

“Gue Bodohh !!!” Gue bodoh!!Gue terlalu bodoh!! “Rio memukul dadanya berulang kali dengan keras. Mencoba menghilangkan rasa sakit yang ada di dadanya. Yang dirasakan ia sekarang seperti sedang terabik dengan samurai panjang yang dapat menembus kepala sampai ulu hatinya. Sakit sekali.

“Gu—, Gue, gue sayang sama lo”

“Gu, gue cinta sama lo”

“Bisakah gue hidup tanpa lo. HAHAHAHA.?? Gue terlalu berlebihan bukan? HAHAHAHA ”
“ Gu—, Gue terlalu sayang sama lo Fy”

Rio tersenyum dalam tangisnya, ia benar-benar sudah seperti orang kehilangan akal. Bahkan ia sendiri tidak tau sekarang ia sedang berbicara dengan siapa?.

“Bahkan 2 jam yang lalu, sebelum kita berdua keluar dari rumah ini, sama sekali nggak terfikir bakalan seperti ini”

“Apa lo sudah merencanakannya??”

“Merencanakan untuk pergi seperti ini???”
“Lo udah rencanakan semuanya kan??”

“Skenario bener-bener keren Fy”

“Keren banget. “

Rio memegang setir mobilnya dengan sangat erat sekali. Ia menatap ke depan dengan mata yang memerah dan membengkak akibat tangisannya sendiri. Rio menahan semua rasa kekesalannya pada dirinnya sendiri. Menahan rasa tidakterimanya dan mencoba menerima kenyataan yang benar-benar paling pahit yang pernah ia rasakan.

“Kenapa harus lo Fy? Kenapa?? . Kenapa lo selaku membahayakan nyawa lo demi gue”

“lalu? Bagaimana gue membalasnya? Sekali pun gue belum membalas semua hutang nyawa gue”

Rio memukul-mukul kepalanya ke stir mobilnya berulang kali. Berulang-ulang sambil menyumpah serapahkan dirinnya sendiri. Ia sama sekali tak peduli dahinya memerah. Rasa sakit dan sesak di dadanya lebih sakit daripada rasa sakit di kepala dan dahinya saat ini.

“Gu, Gu—, Gue bunuh istri gue sendiri”

“Gu— . Gue bunuh istri gue sendiri” Rio terlihat seperti kehilangan akalnya lagi, ia menangis lagi dan memaksakan bibirnya untuk mengeluarkan tawanya sedikit. Tawa yang terdengar sangat aneh sekali.

“Gu, Gu—, Gue bunuh istri gue sendiri”

“Gu, Gu—, Gue bunuh istri gue sendiri”

“HAHAHAHAHA “Gu, Gu—, Gue bunuh istri gue sendiri”

Tangis Rio memecah kembali bersamaan dengan dijatuhkannya kepalanya diatas setir. Rio menangis untuk kesekian kalinya. Tangan kirinya memukul dadanya yang semakin sesak. Rasanya malam ini sama sekali tidak ada oksigen. Tidakada udara semuanya terasa menyesakkan baginya.

“Ma—af.”

“Ma—af”

“Maaf”

“Maafin gue Alyssa”

“Maafin gue Alyssa”

****
Rio membenahkan keadaanya sebentar, ia menyemprotkan vitamin wajah ke wajahnya dan meneteskan obat mata ke kedua matannya yang memerah. Ia Menepuk-nepuk wajahnya dengan sedikit keras. Merapikan rambutnya yang terlihat sangat berantakkan.
Setelah melihat dirinnya sudah rapi, kini Rio menghadap ke Ify. Rio menatap Ify cukup lama. Rio menahan agar air matanya tidak jatuh lagi untuk saat ini. Rio mengigit lidahnya sendiri kuat-kuat mencoba menahan segala rasa gemetar yang ada di tubuhnya.

“Lo siap ketemu anak lo untuk terakhir kali??”

“Semoga malam ini tidur lo nyenyak Alyssaku”

Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Ify, matanya terarahkan kepada bibir mungil Ify, pada jarak yang kurang dari 3 jari, Rio perlahan menutup kedua matannya, dan saat bibirnya sudah menempel dengan bibir mungil Ify. Rio merasakan kedua tangannya gemetar, ia menahan agar air matannya tidak jatuh kembali. Ia tidak bisa memberantakkan wajahnya lagi.
Rio membiarkan jaraknya dan jarak Ify tak terpisahkan cukup lama. Rio ingin merasakan lembutnya bibir tersebut dengan sangat lama. Karena mungkin besok ia tidak akan bisa merasakannya lagi dimanapun.
Perlahan Rio melepaskan bibirnya dari bibir mungil sang istri yang menurutnya sejak dulu sampai sekarang rasanya tak pernah berubah. Rio menarik nafasnya kuat-kuat dan membuangnya dalam sekali tarikan.
Rio keluar dari mobilnya, kemudian berjalan ke arah pintu mobil Ify. Rio mencoba untuk tersenyum sebentar walaupun senyumnya terlihat sangat miris sekali.
Rio kemudian membopong tubuh Ify dengan kedua tangannya. Rio mulai berjalan memasuki pintu rumahnya yang sudah dibukakan oleh salah satu pembantunya yang kebetulan berjalan melewati halaman. Ia mencoba tetap biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa .
Rio berjalan memasuki ruang tengah. Saat ia akan melewati tangga, Ia mendapati sang anak turun dengan tangga dengan langkah tergesah-gesah dan senyum merekah melihat kehadirannya dan Ify.

“Bunda ti—“

“Iya. Bunda kamu ketiduran didalam mobil, dia bilang dia ingin tidur dengan kamu malam ini Bim” Ujar Rio tanpa lama-lama. Ia takut dirinnya tidak kuat menahan air matannya lagi. Walaupun ia laki-laki tapi ia tidak sekuat yang orang-orang kita. Bagaimana mungkin ia tidak menangis jika salah satu orang yang ia cintai yang sudah melengkapi dan menemani hidupnya selama lebih dari 20 tahun meninggalkannya dengan seperti ini. Tragis bukan?

“Benarkah??.Kalau begitu ayo Pa bawa Bunda ke kamar Bima. Sudah lama Bima nggak tidur sama bunda” Rio tersenyum dan mengangguk. Ia berusaha mungkin mengangkat bibirnya walaupun rasanya sangat kaku. Rio mengikuti Bima yang sudah naik tangga duluan.

*****
Rio menidurkan Ify di atas kasur Bima, wajah pucat ify masih tetap terlihat namun tidak menghilangkan kencantikannya. Bima mengambilkan selimut besar untuk Ify didalam almari. Rio menata posisi tidur Ify terlebih dahulu berharap sekali Bima tidak curiga. Ia takut Bima tidak bisa menerima. Rio binggung harus memberitahukan Bima sekarang atau nanti. Tapi untuk saat ini, Rio hanya ini membiarkan Bima bisa merasakan bersama bundanya untuk terakhir kalinya.

“Pa? Nggak apa-apa mama nggak pakai peralatan medis ?” tanya Bima yang hanya diam saja menunggu papanya selesai membenahkan selimut di tubuh mamanya.

“Nggak apa-apa Bim, mama kamu sudah bisa bernafas dengan teratur tadi” ujar Rio berbohong.

“benarkah ?? berarti kondisi mama sudah membaik ??”

“Hmm. “ Jawab Rio seadanya. Rio melihat Ify sebentar yang menurutnya sangat cantik sekali meskipun dalam keadaan seperti ini.

“Selamat Malam istriku. Aku sangat mencintaimu Alyssaku” ujar Rio tanpa bersuara dan mencoba mengembangkan senyumnya yang memilukkan.

Rio membalikkan badannya, Ia menatap Bima yang terlihat senang melihat bundanya dan papanya bisa romantis seperti ini. Rio menepuk pundak Bima pelan.

“Jaga bunda kamu malam ini ya, dia sangat sayang sama kamu. “

“Iya pa, Bima juga sangat sayang sama bunda”

“Jangan ganggu bunda kamu, dia sangat kelelahan. Biarkan dia istirahat. ”

“Iya pa”

“Kamu juga cepat tidur. Sudah malam”

“Siap Papa”

“Papa keluar dulu Bim”

Rio menutup pintu kamar Bima dengan perasaan hancur, tubuh Rio lemas seketika, ia terduduk di lantai tepatnya di depan kamar Bima.

“Maafin Papa Bim” lirih Rio pelan.

“Maaf”
****
Seperti yang di perintahkan papanya, Bima langsung mencuci mukannya dan mengganti pakainnya dengan piama tidur. Bima melihat ke arah jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia juga sudah merasa mengantuk sekali.
Bima langsung mengambil posisi tidur di sebalah bundanya. Bima menarik selimutnya sendiri. Sebelum tidur seperti biasanya, Bima berdoa dulu. Kemudian ia menolehkan wajahnya ke arah sang bunda.

“Bunda cepat sembuh “

“Bima sayang sama Bunda” Bima mencium kening Bundanya cukup lama. Bima merasakan dingin, namun ia sama sekali tidak berfikir macam-macam. Bima melepaskan bibirnya dari kening bundanya dan tersenyum melihat bundanya yang terpejamkan.

“Selamat malam Bunda, selamat malam Surgaku, Bima sayang sama Bunda” ujar Bima pelan karena takut membangunkan bundanya. Setelah itu Bima dengan cepat memilih memejamkan matannya. Ia sudah tidak kuat menahan kantuk yang ia rasakan saat ini.

****
Rio berjalan ke arah kamarnya dengan lemas menuju kamar Bi Ina. Sebelumnya Rio sudah menelfon keluarga di pranciss dan mamanya yang di german.
Rio tidak tau bagaimana sekarang keadaan Mr.Bov, Iqbal dan Salsha setelah mendengar berita ini. terakhir kali yangRio dengar dari metuannya saat ia memberitahukan kabar ini. Mr.Bov hanya diam cukup lama. Kemudian Mr.Bov mengucapkan satu pernyataan yang membuat Rio terhoyakkan bahkan rasanya rohnya ingin keluar dari tubuhnya.
“ Dia bukan dewi atau malaikat. Dia istimewa karena memiliki 7 nyawa. Mungkin kemrin adalah nyawanya yang ketujuh, Dan semuanya dia berikan untuk kamu. Dia sangat mencintai kamu.“
Kamar Bi Ina terletak di halaman belakang tepatnya di kamar-kamar pembantu. Rio mengetuk kamar Bi Ina, dan hanya satu ketukan Bi Ina langsung terlihat muncul dibalik pintu tersebut.
Rio tersenyum sedikit miris saat melihat Bi Ina menatapnya dengan aneh dan penasaran. Bi Ina nampak masih sibuk membenarkan rambutnya.

“ Bi, Makasih sudah merawat Ify dari kecil. Ify sayang sayang sama Bi Ina bahkan sampai detik ini”

“Maksud den Apa ya??” tanya Bi Ina polos. Memang nyatanya Bi Ina tidak tau apapun.

Tanpa aba-aba, dan membuat kaget Bi Ina setengah mati. Rio langsung memeluk Bi Ina dan menangis dalam pelukannya tersebut. Bi Ina membelakakan matannya binggung. Ia hanya bisa diam tak tau harus melakukan apa.

“Maafin Rio Bi, Nggak bisa jaga putri Bibi”

“Maafkan Rio yang selalu membahayakan nyawa putri Bibi”

“Maafin Rio Bi, Belum bisa bahagiakan putri bibi yang sangat bibi sayang dari kecil”

“Maafin Rio Bi. Maafin Rio “

“Maaf”

“Beribu Maaf”

Bi Ina langsung merasakan kedua tangannya gemetar dengan sendirinya, fikirannya sudah memfikirkan hal yang tidak-tidak. Bahkan kepalannya terus ia gelengkan namun fikirinnya sangat jelas menuju ke arah kesana.

“Den, kenapa nangis? Non Ify kan apa-apa. Den juga nggak salah sama Bibi. Den sudah jaga Non Ify dengan baik kok” ujar Bi Ina dengan sedikit tersenyum mencoba menghibur dirinnya sendiri dan meyakinkan bahwa yang difikirkannya itu salah.

“Den jangan nangis seperti ini. udah lepasin pelukannya. Kalau tiba-tiba non Ify tau gimana? Nanti den bisa di ceraikan lo” canda Bi Ina sekali lagi. Namun yang dilakukan Bi Ina malah membuat Rio semakin terisak. Dan detik berikutnya pun Bi Ina langsung ikut menangis.

“Maafin Rio, Bi, Rio bener-bener minta Maaf Bi. Rio sudah bunuh anak Bibi”

“Non, Ify, Non Ify. Non Ify”

“Non Ify, Non Ify” hanya nama itu yang bisa Bi Ina sebutkan. Otaknya sepeti berputar kembali ke masa dahulu, saat-saaat dirinnya bersama dengan Ify. Saat bagaimana dirinnya dipercayakan oleh keluarga Freedy untuk menjaga dan merawat gadis cantik itu.
****
“ Ify nggak mau kalau nggak Bi Ina yang nyiapin makanan Ify !!”

“Non Ify nggak boleh manja. Nanti mama sama Papa marah lo”

“Ify Cuma mau Bi Ina !! Nggak mau pembantu yang lain. ihhh nyebelin semuannya!! “
****
“ Cantiknya putri Bibi, Sekarang sudah masuk sekolah dasar ya “

“Iya dong. Ify diantar sama Papa dan Mama loh Bi”

“Bi Ina boleh ikut?”

“Bi Ina juga harus ikut. Bi Ina wajib ikut. Biar Bi Ina tau sekolah Ify yang gede banget. Hehehe”

“Siap Non, Bi Ina akan ikut kemanapun non Ify pergi”

“Janji Bi?”

“Janji Non!! “

“Bahkan kalau Ify mati duluan? Bi Ina akan tetep ikut??”

“Bi Ina akan ikut !! Bahkan jika non Ify mati duluan Bi Ina akan langsung menyusul Non Ify “

“Janji ? awas kalau nggak di tepati”

“Bi Ina janji sama Non Ify!! Hehehhe “
****
“Non, udah jangan nangis. Mama sudah pergi dengan tenang”

“Semua gara-gara Ify bi!! Semua gara-gara Ify mama meninggal”

“Enggak non. Semua bukan karena Non Ify. Ini sudah takdir dari Tuhan. Non Ify kalau tambah nangis nanti Bibi ikut nangis. Terus, mama disana nggak tenang. Hayoo???”

“Ify nggak bakalan punya mama. Bi”

“Kata siapa? Ini Bibi kan juga ibu non. Hehehe. Bibi yang merawat non dari kecil. Bibi yang mandiin non dulu waktu kecil. Bibi yang nganterin non ke sekolah. Kata siapa Non ify nggak punya Mama??”

“Ify sayang sama Mama. Ify kangen sama Mama”

“Non jangan nangis ya. Nanti Bi Ina ikut nangis”
*****
“ Mama sudah ninggalin Ify. Sekarang kak Sion . Selanjutnya siapa Bi??”

“Non, udah ya. Kita pulang. Non jangan nangis lagi”

“Apa semuanya nggak suka berada di samping Ify ya Bi?? Lebih baik Ify aja yang mati daripada orang yang Ify cintai mati”

“Husshh!! Non nggak boleh ngomong kayak gitu. Kalau non mati nanti Bi Ina ikut mati loh ya”

“Jangan Bi. “

“Yaudah kalau gitu Non jangan bilang gitu lagi ya. “

“ Bi Ina nggak bakal ninggalin Ify kan?? Janji kan??”

“Janji non!! Bi Ina akan bertahan sampai detik terakhir Bi Ina bernafas. Bi Ina akan terus bersama sama Non Ify. Bi Ina akan terus merawat non Ify sampai non Ify nikah. Punya anak. Bahkan sampai kapanpun”

“Bahkan jika Ify meninggal dulu. Bi Ina janjikan akan datang ke pemakaman Ify tiap hari. Nemenin Ify ?”

‘Bukan setiap hari lagi non. Tapi setiap detik. Bi Ina pernah janji kan. Kalau Bi Ina akan terus berada dimanapun Non Ify berada “

“Ify sayang sama Bi Ina”

****
“ Cantik Non, Nggak berasa Non Ify sudah besar dan akan menikah. “

“Hehehe. Iya Bi. “

“Bi Ina yang sekarang tambah tua “

“Bi Ina harus tetap kuat ya. Sampai nanti Ify dewasa punya anak. Bi Ina udah janji kan bakal ada di samping Ify terus”

“Iya Non, Bi Ina janji”

“Makasih Bi”
****
“Ihh lucunya den Bima. Seperti Non. Mirip banget”

“Sayang, Ini Bi Ina, dia adalah pelindung bunda. Dia adalah ibu yang sangat sayang sama Bunda. Kamu juga harus sayang ya sama dia”
****
“ Non Ify !!! “ Tubuh Bi Ina melemas dan langsung terjatuh di lantai terlepas dari pelukan Rio.

“Den, bilang kalau yang Bi Ina fikirkan tidak benar den. Den bilang sama Bi Ina” tangis Bi Ina sambil memukul-mukul kepalannya dengan tangannya sendiri.

‘Bi, udah. Udah Bi. Jangan kayak gini” cegah Rio yang langsung berlutut di depan Bi Ina.

“Den, bunuh Bi Ina aja den, Bi Ina nggak bakal nuntut den, Bi Ina udah janji sama Non Ify akan ikut sama Non Ify kemanapun Non Ify pergi den. Bi Ina sudah janji”

“Bi, Jangan seperti itu”

“Bi Ina tau bagaimana sedih senangnya non Ify. Bi Ina tau melebihi siapapun den bagaimana non Ify bisa tertawa, Bisa menangis. Bi Ina yang merawat Non Ify dari kecil sampai sekarang. Bunuh Bi Ina aja den. Bi Ina sudah siap. “

“Siapa yang akan Bi Ina layani lagi den? Siapa yang akan bilang kalau Bi Ina ini Ibu yang baik. Siapa yang bakal mau nerima wanita tua miskin dan tidak tau diri seperti Bi Ina ini selain non Ify , den. Siapa yang harus Bi Ina rawat ? ”

“ Bi relakan ya . Relakan Bi”

“Kenapa kemrin den Rio nggak ajak Bi Ina aja buat nyelametin Non Alyn. Biar Bi Ina aja yang sakit, yang sekarat bukan Non ify. Bi Ina rela den mati demi non Ify. Bi Ina rela. Kasihan non Ify den. Kasihan Non Ify. Non Ify” Bi Ina menangis sejadi-jadinya. Ia seperti seorang Ibu yang kehilangan anak tersayangnya.

“Non Ify maafkan Bi Ina. Bi Ina nggak bisa jaga non Ify. Bi Ina nggak bisa jadi pelayan non Ify yang baik. Maafkan Bi Ina non. Maafkan Bi Ina . Maafkan Bi Ina”

Kejadian Rio dan Bi Ina tersebut disaksikan pembantu lainnya dan mereka pun hanya bisa terdiam menangis dalam diam. Mereka semua pun merasa tercenggang dan sangat bersedih mendengar kabar ini.
Untung saja kamar pembantu sangat jauh dengan ruang utama. Jadi bisa dipastikan Bima tidak akan bisa mendengar kejadian ini.
Namun, saat kejadian itu. Alyn tidak sengaja berada di dapur. Dimana letak dapur pun tak jauh dengan halaman belakang. Alyn mendengar semuanya. Ya, mendengar saat Rio meminta maaf ke Bi Ina. Saat Bi Ina menangis sejadi-jadinya. Alyn mendengar semua.
Alyn hanya bisa menangis gemetar, ia duduk terlemas di bawah westefel dengan kedua tangannya masih memegang botol minuman yang semula ia ke dapur hanya ingin mengambil air minum.

“Tante Ify ?” Alyn tidak tau harus menangis atau harus berteriak atau harus menyalahkan dirinnya sendiri. Ia benar-benar sudah blank.

“Alyn yang salah. Semua karena Alyn. Nggak ada yang salah kecuali Alyn. Alyn yang nyebabin ini dari Awal. Alyn yang salah”

“Alyn lo pembunuh. Lo pembunuh Alyn. Lo pembunuh” Alyn mulai memukul-mukul tangannya sendiri dengan menggunakan tempat minuman yang ia bawah. Sakit, yah sangat sakit yang ia rasakan. Namun baginya itu belum pantas dengan apa yang sudah ia lakukan.

“Alyn lo jahat banget!! Lo jahat alyn!! “

“tante Maafin Alyn. Maaf tante !! Maafin Alyn!!”

“Tante Ify maafin Alyn!!! “
****
Rio kembali ke kamarnya, setelah ia menenangkan Bi Ina dan Alyn yang ia temui menangis di dapur dengan tangan yang membengkak. Rio tau semuannya tidak bisa menerima kepergian Ify. Begitu juga dengan dirinnya.
Dan yang ia takutkan tinggal satu lagi, yaitu Bima. Apa yang harus ia katakan nanti ke Bima. Apa ia akan mengucapkan “ Bim, Bunda kamu udah nggak ada. Kamu yang sabar ya. Relakan bunda kamu” Hahahahahaa. Apakah ini sebuah sinetron Ftv yang bisa diterima begitu saja.
Rio sangat tahu jelas, Bima sangat sayang sekali kepada bundanya melebihi siapapun. Bahkan mungkin lebih besar dari dirinnya. Bima tidak pernah bisa melihat bundanya menangis setets pun. Bahkan saat Ify meninggalkan Bima untuk pekerjaan keluar negeri, Bima selalu menelfon Ify menanyakan kabar Ify dan kabar dirinnya. Bima selalu merindukan Ify. Lalu? Jika Ify pergi. Siapa yang akan Bima temui saat ia merindukan bundanya ?? Siapa??.
****
Rio sama sekali tidak bisa tidur. Ia terus memeluk foto pernikahannya dengan Ify . Rio menghabiskan malamnya dengan rasa pilu, miris, menyedihkan yang ia rasakan saat ini.
Mungkin bukan hanya Rio saja yang tidak bisa tidur. Bi Ina, Alyn, Mr.Bov, Iqbal juga pasti seperti Rio.
***
Rio sudah menyuruh bawahannya untuk menyiapkan pemakaman Ify besok. Rio pun sudah mengabari semua keluarga Ify, keluargannya dan sahabat-sahabat Ify. Mereka besok akan datang seperti yang Rio pinta. Mereka pun sangat kaget sekali mendengar kabar ini.
****
Suara kokokan ayam mulai terdengar, Jam menunjukkan masih pukul 5 pagi. Namun Rio sudah rapi dengan baju hitamnya . Wajahnya terlihat sangat kacau sekali akibat semalaman menangis dan tidak tidur.. Kantong dimatanya pun sangat terlihat jelas. Rio mengeluarkan satu baju Hitam lagi. Yah, itu adalah baju yang akan Rio berikan kepada Bima.
Bima keluar dari kamarnya dan menuju kamar Bima yang ada di lantai dua. Rio melihat Bi Ina pun sudah memakai baju hitam dan masih menangis di dekat tangga sambil memeluk foto Ify. Rio tak bisa apapun, ia tak ingin menganggu Bi Ina dan hanya melewati Bi Ina begitu saja. Rio takut dirinnya akan ikut menangis lagi.
Rio sampai didepan kamar Bima. Ia mengetuk kamar sang anak beberapa kali.

“Bima, buka pintunya “ panggil Rio
“Iya pa bentar “ teriak Bima dari dalam dengan suara sedikit pelan dan sedikit serak. Sepertinya Bima baru saja bangun akibat dirinnya.

Bima membuka pintu kamarnya dengan wajah masih sedikit mengantuk. Bima melihat papanya dengan sedikit kaget dan heran karena papanya sudah rapi dengan baju berwarna hitam-hitam dan di sebelah tangan kanannya pun membawa sebuah baju seperti yang dipakai papanya.

“Pakai ini” ujar Rio menyodorkan baju yang ia bawah.

“Ha? Memangnya kita mau kemana? Papa ngapain pakai baju hitam-hitam seperti ini?? Siapa yang meninggal??”binggung Bima.

“Kita akan memakamkan Bunda kamu”

DEEGGG!!!!

Bima langsung terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Ia menatap Papanya dengan tatapan tajam. Rio memberanikan diri untuk membalas tatapan Bima tersebut mencoba memberikan kekuatan bagi Bima untuk menerima ucapanya tersebut dan mempercayai ucapannya etrsebut adalah kenyataan.

“Nggak lucu tau nggak Pa!!”

“Masih Pagi!!” ujar Bima kesal dan dingin dan berniat ingin menutup pintu kamarnya lagi.

“Papa tunggu dibawah 1 jam lagi, Papa akan jemput kakek dan om kamu di bandara “ ujar Rio sambil menggantungkan baju tersebut di pegangan pintu. Setelah itu Rio langsung meninggalkan Bima yang sekali lagi hanya bisa mematung menatap baju hitam tersebut.

“Bunda dimakamkan?? Hahahahaha”
“ Memangnya bunda meninggal? Hahahaha . lelucon garing !! ” Bima tertawa sendiri seperti orang kehilangan akal.

“Bun, Bunda, Papa gila pagi-pagi Bun” ujar Bima cukup keras dengan posis masih seperti tadi. Bima mencengkram baju hitam yang diberikan papanya tersebut.

“Bunda kan udah sehat, udah nggak pakai peralatan medis lagi. Masak bunda mau dimakamkan? .Nggak masuk akal kan??”

“Apa bunda sama Papa bertengakar? Sampai papa bilang kayak gitu? Iya ya Bun?? “

Bima terdiam sebentar, ia berharap bundanya merespon ucapannya tersebut. Namun ia sama sekali tak mendengar suara Ify sekecil pun yang masuk di gendang telingannya. Tangan Bima yang mencengkram baju hitam itu mulai terlihat gemetar, Bima mulai merasakan kegelisahan. Jantungnya terasa berdetak dengan cepat bahkan kantuknya sudah hilang seketika.

“Bun . . “

“Bunda belum bangun ya ??”

“Bunda”

“Bun, yang dikatakan papa nggak bener kan Bun??”

“Bunda jawab dong Bun. “

“Apa bunda masih capek? Jadi bunda tidurnya lelap banget? Apa gitu Bun??”

“Bunda Ify”

“Bun—, bunda nggak lucu ah bercandanya. Bunda sama Papa lagi sekongkol kan buat balas dendam ke Bima ? Iya kan Bun? Ulang tahun Bima kan masih 5 bulan lagi. Masih lama Bun. Tega banget bunda ngerjainnya”

“Bunda—, Bun—“

Bima perlahan memberanikan diri membalikkan badannya, ia berjalan langkah demi langkah mendekati ify yang masih berbaring disana dalam diam. Bima melawang semua rasa takutnya meskipun sekujur tubuhnya sudah gemetaran.
Bima sudah berdiri di samping bundanya, kedua matannya menatap sang bunda. Kedua matanya pun sudah terbendung air mata yang sudah siap jatuh kapan saja.

“Bunda bangun. Sudah pagi” panggil Bima lemas.

“Bunda, nggak boleh tidur terus. Nggak baik buat kesehatan Bunda”

“Bundaaaaaaa”

“Bunda serius nih nggak mau bangun?”

“Bundaaaa”

BRUUKKK

Tubuh Bima terjatuh, ia berlutut di samping kasur, Bima menundukkan kepalannya dan saat itu juga air matannya mengalir semaunya sendiri tanpa bisa ia kontrol. Nyawa Bima seolah sudah pergi bersama seluruh energinya yang terkuras habis saat ini.

“Ja—, Jadi yang dikatakan Papa bener?”

“Bener Bun???”

“Bunda akan dimakamkan ???:”

“Be—, Bener ya Bun??” Bima tak berani mengangkat kepalannya. Ia sama sekali tak berani .

“Bunda ninggalin Bima gitu aja? Tanpa sekata apapun perpisahan ?? Bunda beneran ninggalin Bima??”

“Bun—, Bilang kalau ini hanya bercanda. Dan Bunda nggak akan pernah ninggalin Bima”

“Bunda benar-benar pegi ya Bun???”

Bima mencengkram kuat-kuat kedua tangannya. Seluruh tubuhynya semakin gemetar. Tetes demi tetes air matannya membasahi lantai kamarnya. Bima menangis sepuas yang dirinnya mau.

“Bima belum bisa banggain Bunda, Bima belum bisa buat bunda bahagia , Bima belum bisa nunjukin kalau Bima bisa mandiri. Bima belum nunjukin seluruh kasih sayang bima untuk bunda. Ta—, Tapi kenapa Bunda, Bu—“

Bima tidak tau harus melanjutkan kalimatnya bagaimana lagi. Rasanya mengatakkan dan menerima kenyataan bahwa bundanya tidak ada itu adalah hal paling sangat menyakitkan dan sangat sulit sekali.

“ Bunda pernah janji akan berikan adek buat Bima. Apa bunda lupa? Padahal Bima sangat ingin sekali punya adek , Bun”

“Setidaknya nggak apa-apa bunda nggak punya adek. Ta—, Ta—, Ta—, Tapi Bima nggak mau kalau nggak punya Bunda”

Bima duduk lemas di lantai, ia perlahan memberanikan diri mengangkat kepalannya, ia kini dapat melihat jelas wajah pucat bundanya. Dapat melihat jelas budanya yang hanya tidur terdiam tanpa melakukan apapun.

“Bima nggak mau bunda pergi, Kalau bunda pergi siapa yang akan ngontrol Bima? Bun bangun dong. Bima mohon . Bima Mohon bunda”

“ Kalau gitu setidaknya, bunda bangun 1 menit saja. Cukup 1 menit setelah itu bunda nggak apa-apa tidur lagi. Beneran nggak apa-apa. Bima Cuma minta 1 menit aja Bun. 1 menit”

“Bim—, Bima ingin ngasih tau ke Bunda kalau Bima sayang sama Bunda, Kalau Bima cinta sama Bunda dan Bim—, Bima mau mintaa maaf selalu buat bunda marah dan belum bisa bahagiaan bunda”

“Bunda bisa denger nggak apa yang bima katakan???”

Bima mengarahkan tangannya ke tangan bundanya. Bima memegang tangan bundanya yang terasa dingin dan terlihat pucat. Bima mengenggamnya seerat mungkin.

“BUNDAAAAA!!!” tangis Bima dan langsung memeluk budanya yang masih terbaring diatas kasur. Bima menangis sejadi-jadinya.

“Bahkan bima belum pernah Bun,. Sujud di kaki bunda. Bahkan Bima belum bisa banggain Bunda. Bahkan Bima belum pernah nunjukin bakat Bima ke Bunda. Bi—. Bi”

“Maafin Bima Bun, Maafin Bima. Maafin Bima”

“Maafin Bima”
“Bima sayang sama Bunda”

“Sangat sayang, sampai saking sayangnya, Bima selalu merindukan bunda setiap detik. Tapi kalau bunda pergi seperti ini. Siapa yang akan Bima temui jika Bima merindukan Bunda? Siapa yang harus Bima peluk saat Bima kangen sama Bunda, Siapa yang akan dengerin ocehan Bima kalau bukan Bunda? Bunda masih tetep mau ninggalin Bima??”

“Bima sangat sayang sama Bunda”

“Bundaaa . . . “

*****
Pemakaman Ify sudah dilaksanakan setengah jam yang lalu di sore hari. Kesedihan terlihat sangat jelas disini. Bahkan paling parah beberapa kaki Alyn dan Sivia pingsan akibat melihat Ify yang terakhir kalinya. Banyak yang menangis dengan kepergian gadis ini. Semua sifatnya, tingkahnya, kebaikannya tidak akan pernah bisa terlupakan. Mereka tentu mengingat sangat jelas. Ify adalah gadis dan wanita yang sangat baik dan tidak pernah melakukan hal aneh-aneh.
Ify adalah seorang anak, kakak, istri dan bunda yang sangat luar biasa bagi keluargannya. Semua orang sangat menyayangi Ify. Bahkan untuk memnci gadis ini saja rasanya tidak bisa.

Selamat jalan Alyssa, Selamat jalan gadis iblis berhati Malaikat. Selamat Jalan Nona Alyssa, Selamat Jalan gadis cantik. Kamu dan sifatmu akan selalu di kenang oleh siapapun. Semoga perjalanan kamu dan kehidupan kamu disana akan sangat tenang.
****
1 Minggu Kemudian. . . .

Rio dan Bima sudah berada di dalam pesawat. Mereka sama-sama diam karena memang tidak ada yang bisa dibicarakan. Biasanya jika ada Ify mereka berdua akan sama-sama berkomplotan untuk menggoda Ify. Namun kali ini? Nothing.

Sejak dua hari meninggalnya Ify, Alyn dan Bima memutuskan untuk berpisah baik-baik. Itu pun atas kemauan Alyn. Alyn masih menyalahkan dirinnya atas meninggalnya Ify. Walaupun beratus kali Bima menjelaskan bahwa semua itu bukan salahnya. Namun Alyn seolah tidak mau mendengarnya.
Rio tidak tega melihat Alyn yang memilih akan pergi dan memilih hidup sendiri melepaskan semua kehidupannnya bersama keluarga Haling. Akhirnya, Rio memutuskan mendaftarkan Alyn sekolah di jepang dan memberikan uang saku untuk Alyn. Awalnya Alyn menolak karena Rio masih tetap besikukuh akan membayar semua kehidupan dan sekolah Alyn.
Akirnya mereka bersepakat, Rio hanya membiayai sekolah Alyn selama setahun, dan membelikan Alyn sebuah rumah kecil dengan uang saku yang tidak terlalu banyak. Rio juga menyuruh Alyn untuk bekerja di salah satu restoran temannya di Jepang. Akhirnya Alyn menyetujuinya. Karena selama ini, dia memang sangat suka dengan negara Jepang. Ia pun cukup bisa untuk berbahasa jepang.
Bima menerima kepergian Alyn degan terpaksa. Ia terus meningat kata terakhir Alyn sebelum gadis itu meninggalkannya di bandara “ Kita akan dipertemukan kembali oleh takdir, jika kita memang jodoh “.
*****
Bima dan Rio memutuskan untuk pindah ke Prancis, Rio pun membawa Bi Ina agar bisa merelakan semua kenangannya bersama Ify di Indonesia. Dan rumah yang dulunya mereka tempati, mereka biarkan saja untuk dirawat oleh para pembantu yang masih ada di disana.
Rio memberikan semua pekerjaanya dan menyerahkan jabatan direktur di perusahaanya di Indonesia kepada Alvin karena mungkin ia tidak akan lagi kembali ke Indonesia. Sedangkan Bima pun sama dengan Rio memtuskan meneruskan sekolahnya di Prancis, dan memilih tinggal bersama kakeknya, menemani kakeknya yang sudah tua.
****
2 Tahun Kemudian . . . . .

Sebuah acara besar diadakan di sebuah hotel termegah di Prancis yang baru saja di dirikan. Acara ini diselenggarakan bersamaan dengan launching Hotel ini dan pengumuman penting yang akan diumumkan oleh Miliyader tersohor di dunia.
Mr.Bov berjalan ke atas panggung dengan dibantu oleh Iqbal, Bima dan Rio. Mereka bertiga sama-sama terlihat tampan megenakan jas hitam yang terlihat sangat mahal.
Mr.Bov terlihat sudah bertambah tua, namun kekharismaanya masih sangat kuat sekali. Rambutnya yang sudah memutih, bahkan sejak setahun yang lalu. Mr.Bov sering keluar-masuk rumah sakit karena kondisinya.
****

Mr.Bov mulai membenahkan mic di depannya. Seketika seluruh tamu terdiam dan terfokus kepada Mr.Bov bahkan seluruh wartawan, kamera-kamera yang ada di seluruh pojok ruangan ini terfokuskan kepada Mr.Bov.

“I inaugurated the opening of “Biffer’s Hotel” on tonight. “

“And I have an important announcement “

“Bima , come here” panggil Mr.Bov. Bima tersenyum ke arah kakeknya. Rio dan iqbal sama-sama menepuk bahu Bima dan memberikan pria ini keyakinan bahwa dia bisa. Bima mengangguk lantas berdiri dan berjalan mendekati kakeknya.
Mr.Bov langsung merangkul Bima, dan semua kamera langsung menyorot ke ke dua orang ini. Bahkan semua orang pun dibuat kagum dengan ketampanan Bima.

“He is MyGrandson, Bima Freedy Haling . He will be my successor in the future, He will be the leader of your future in all of my corporate in the world. “

“Respect and Help him, like you respect me. “

“Thank you “

Bersamaan dengan itu gemuruh tepuk tangan membahana di Aula ini. Semua orang langsung membungkukan badannya 90 derajat saat Bima membungkukan badanya 45 derajat. Bahkan Mr.Bov, Rio, dan Iqbal pun ikut membungkukan badannya sebagai rasa hormat mereka kepada sang pewaris baru yang sebentar lagi akan menjadi sorotan dunia.
Saat Bima menegakkan badannya, Ia melihat sesosok wanita dengan pakaian putih di belakang sana yang berditi tegak sendiri, wanita itu terlihat sangat cantik dan menunjukkan sebuah senyum bangga dan bahagiannya. Wanita tersebut mengangkat kedua jempolnya ke Bima dan bibirnya mulai membentuk sebuah kalimat.

“You can doi it my lovely son. I very proud of you. I love you”

“Bunda . . . .”

TAMAT

*** Cuap-cuap terakhir****
Akhirnya bisa menyelesaikan epilog yang ngaretnya nggak ketulungan hihihii, Maafkan saya ya teman-teman. Berarti saya punya 1 hutang lagi. Part kebenaran REVIL. Sabar ya menunggunya. Dan saya benar-benar mengucapkan beribu terima kasih kepada kalian semua yang sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca cerita-cerita nggak jelas saya. Cerita yang banyak typonya dari pada nggaknya hehehe.
Maafkan kesalahan saya ya, kalau ceritanya jelek, kalau alur ceritanya nggak memuaskan. Dan maaf juga kalau saya ada salah-salah kata atau berbuat hal yang membuat kalian tidak suka ditengah-tengah perjalanan pembuatan dan pemost.an cerita ini. Saya benar-benar minta maaf. Saya juga manusia biasa dan pasti punya kesalahan. Dulu, sekarang dan sampai nanti, saya akan tetap ingin menjadi author biasa yang menghibur pembaca di blog, facebook, dll dan dekat dengan kalian semua. Jangan segan-segan ingatkan saya kalau saya berbuat sombong, sok, dan lain-lainya.

Terima kasih ya “teman-teman, adek-adek, kakak-kakak” kalian mau menunggu dan membaca ceritaku sampai sekarang walaupun ceritaku masih bisa dibilang amatir hehe. Terima kasih banyak. Beribu, Berjuta bahkan bertrilliun terima kasih kepada Kalian. Dan “NOVEL DELOV” jangan lupa dibaca ya kalau sudah sampai. Jangan pelit minjemin ke teman-teman kalian yang penasaran mau baca juga:D. Terima kasih Banyak😀 , tunggu cerita-cerita baru saya selanjutnya teman-teman. Aku sangat menyayangi kalian semua dan sangat berterima kasih kepada kalian semua *bow90derajat*

Mau Like silahkan, Mau comment silahkan, Mau balas cuap-cuapnya silahkan, mau kritik yang membangun silahkan semuanya insyllh diterima. Dan kalau nggak mau ngapa2in juga nggak apa-apa silahkan . Udah Dibaca aja aku benar-benar udah makasih banyak kepada kalian semua. Makasih ya.

2 thoughts on “STORY OF DEVIL FAMILY – EPILOG

  1. kak ini beneran ya?
    Sumpah ini beneran?
    Ya ampun pdahal brharap bgt ify bercanda mau bls bima sama rio.
    Part ini paling nyesek kak, bhkan waktu ify koma dulu ;(
    terus berkarya kaluk..
    Siska bkal setia nunggu krya2 kakak.

  2. Ini beneran ify meninggal?yaaaahh😥 duuhh trs itu alyn sm bima akhirny gmn??pokokny mereka hrs sma2 doongg,masa pisah,gak seru kalo mereka pisah😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s