D3STINY OF LOVE AND LIFE – 2

Part bagian ini agak sedikit frontal PG-17 (umur 17 tahun keatas). Bagi yang umur dibawah itu warning ya. Kalau tetap mau lanjut baca ya nggak apa-apa. Saya sudah beri peringatan ya . Semoga sukaa semuannyaa.

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 2
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s ”

*****

Ponsel Alyn bergetarlagi, satu email kembali masih kedalam ponselnya. Alyn mendengus sedikit kesal dan membuka email tersebut.

“ Apa dia nyuruh gue kesini Cuma balesin emailnya doang” dengus Alyn

From : HalBimaFre@live.com
Kamu cantik malam ini❤

Alyn merasakan kedua pipinya manis, seulas senyum tersirat diwajahnya. Ia mencoba menyembunyikan perasaan bahagiannya. Alyn mengembung-kempiskan pipinya untuk menyembunyikannya.

“Apa gue disini cuma disuruh untuk baca email gombalan dari lo? cisshh. “

“Lebih baik gue pulang” Alyn mencoba mengancam Bima yang tak kunjung keluar juga. Ia pun perlahan berdiri dari tempat duduknya. Namun, sosok Bima tak kunjung tampak.

“Gue beneran pulang!! “ ancam Alyn sekali lagi. Namun Rooftop terasa hening. Tidak ada apapun. Seperti hanya ada dirinnya saja.

“Dalam hitungan ke 3 lo nggak muncul. Gue serius pulang”

“ satu”

“Dua”

“Tiga”

Tak ada tanda-tanda apapaun yang muncul. Alyn mendengus kesal, merasa dipermainkan oleh Bima. Ia pun dengan cepat mengambil kotak makannya diatas meja .

“Gue pulang!! “ kesal Alyn dan keluar dari kursi yang ia duduki tadi lantas membalikkan badannya.

“Aaaaaa!!!” kaget Alyn. Saat ia membalikkan badannya, ia mendapati sosok pria yang sudah berdiri di depannya. Alyn memejamkan matannya karena ketakutan.

“Buka mata lo” suruh pria tersebut. Suara itu sangat familliar sekali bagi Alyn. Walaupun sudah 5 tahun lamannya mereka tidak bertemu.

“suarannya tetap sama”batin Alyn dan sedikit menyungggingkan senyumnya. Perlahan gadis ini membuka matannya. Entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan sendiri. Padahal ia tidak sedang melakukan apapun dengan pria ini.

Akhirnya kedua mata Alyn terbuka penuh. Ia mendapati pria itu di depannya. Alyn tidak tau harus berkata apa selain takjub. Yah, banyak yang berubah dari pria ini. Ia lebih dewasa, tampan, berkahrisma, dan tinggi mungkin.
Mereka berdua bertatapan cukup lama. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Baik Alyn maupun Bima sekali pun. Keadaan saat ini sedikit awkward.

“Ba—, Ba—, Ba—, Bagai”

“Penyakit lo dari dulu nggak hilang-hilang ya” cerca Bima memotong pembicaraan Alyn yang kaku. Alyn mendengus kesal.

“Tambah mahir aja tuh acting gagunya” lanjut Bima dan membuat Alyn semakin kesal.

“Kalau lo ngajak ketemu cuma mau ngehina gue mending gue pulang” ujar Alyn dingin dan ingin berjalan melewati Bima. Namun dengan cepat Bima meraih tangan Alyn dan menarik gadis itu dalam dekapan pelukannya.

Alyn membelakakan matannya saat Bima sudah memeluknya dengan begitu erat sekali. Rasanya seluruh tubuh Alyn sudah dingin seperti salju.

“Apa lo mau buat gue nunggu 5 tahun lagi? Ha? Apa lo nggak tau gimana tersiksanya gue 5 tahun ini? Ha? Apa lo nggak bisa ngerasain gue menunggu hari ini?”

“Gue sangat kangen sama lo” ujar Bima dengan lembut. Alyn senyum-senyum sendiri, ingin rasannya ia teriak sekarang juga namun sekali lagi ia menahannya.

“Apa lo nggak pernah diajarin carannya balas pelukan orang?” sindir Bima dan membuat Alyn langsung membalas pelukan Bima. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bima.

“jangan-jangan cuma gue yang tersiksa? Apa lo di jepang sudah punya kekasih lagi? Apa lo nggak nungguin gue ??” cerocos Bima yang mulai melepaskan pelukannya. Alyn mendengus kesal, ternyata lelaki didepannya ini sama aja. Tidak berubah sama sekali sifatnya.

“Gue nggak mau mati muda gara-gara cari pacar disini”

“Jadi lo nungguin gue??” tanya Bima memastikan dengan ekspresi wajah berbunga-bunga

“Nggak juga” jawab Alyn santai. Ekspresi wajah Bima pun langsung berubah lagi.

“Terus? Siapa pria yang berani ngedeketin lo. Apa lo nggak bilang kalau lo udah ada yang punya!! “

“Aisshhh!! Berisik banget sih lo!! dari dulu nggak pernah berubah. Gue kira lebih keren. Ternyata payah”

“Apa lo bilang??” tanya Bima tak terima dengan ucapan Alyn. Padahal bayangan Bima adalah mereka akan beromantis disini tapi kenapa keadaannya jadi seperti ini. Tidak seperti yang mereka berdua bayangkan. Oh My God ~

“Gue juga kangen sama lo Tuan Bima milliyader muda terkaya di dunia” jawab Alyn dengan wajah malu-malu. Jawaban Alyn tersebut membuat Bima terkekeh ringan. Alyn mengacak-acak puncak rambut Alyn pelan.

“Apa lo bawa pesanan gue?” tanya Bima sambil melirik tangan kanan Alyn yang membawa sebuah kotak makanan.

“Hmm. “ Alyn mengangguk-anggukan kepalannya seperti anak kecil.

“Ayo kita makan, Aku sudah lapar dari tadi” Bima langsung menggandeng Alyn ke arah kursi dan meja yang sebelumnya sudah di duduki Alyn.

“Apa lo belum makan?” tanya Alyn sambil mulai membuka kotak makan yang ia bawa.

“Belum. Demi menunggu makanan yang akan lo buatin, gue nggak makan dari kemarin”

“Cishh. Pinter banget bohongnya”

“Lo nggak percaya? Tanya saja sama Mr.Max yang nganterin lo di lift tadi”

“Iya iya gue percaya. Biar lo seneng” Bima tersenyum ringan, ia menerima sumpit yang diberikan Alyn kepadannya.

“Lo yang masak sendiri?”

“Hmm. Gue buatnya dari tadi pagi. Demi Tuan Bima”

“Berhenti panggil gue seperti itu”

“Tuan Bima, Tuan Bima , Tuan Bima. Tuan Bi—“

“Sekali lagi lo manggil kayak gitu. Habis bibir lo malam ini”

“YAAAA!!!” Alyn dengan cepat langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Bima terkekeh ringan, gadis ini pun tak ada berubah. Masih sama seperti dulu. Sangat lugu ~.

“Itadakimasu” ujar Bima dan mulai mencicipi makanan buatan Alyn.

“Waa. Enak banget” puji Bima jujur dan membuat Alyn bernafas legah. Ia sangat takut Bima tak suka masakannya. Alyn pun mulai ikut makan.

“Gimana kuliah lo disini?” tanya Bima memulai percakapan kembali ditengah-tengah makan malam mereka. Bima mencoba untuk menetralkan kecanggungan malam ini.

“Hampir selesai”

“Setelah itu apa yang akan lo lakuin??” Alyn nampak berfikir. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu pasti setelah lulus di akan kemana. Karena memang tidak ada tempat yang bisa ia tuju. Di dunia ini ia hanya hidup sebatang kara.

“Nggak tau. Mau pulang juga, pulang kemana. Nggak ada yang di tuju” ujar Alyn dengan mencoba tetap tersenyum. Bima menghentikkan aktivitasnya. Ia menatap Alyn dengan ekspresi yang tidak tega.

“Nikah sama gue”

UhuuukkkUhuuuukkkkk

Alyn dengan cepat meraih segelas air putih disampingnya dan meminumnya. Tenggorokannya seperti di sodok sebuah besi tebal. Rasanya sangat menyohok sekali.

“ Gue serius!!” lanjut Bima setelah melihat Alyn sudah tidak terbatuk-batuk lagi. Alyn mencoba mengatur nafasnya dan ekpresinya.

“Cishh~” desis Alyn tak ingin menanggapi ucapan Bima tadi.

“Gue beneran serius. “ ujar Bima sekali lagi. Alyn mencoba menatap Bima dan benar saja wajah pria di depannya itu menunjukkan keseriusan, bahkan Alyn tidak bisa menemukan kebohongan disana. Bima benar-benar sungguh-sunguh. Alyn langsung binggung harus menjawab bagaimana.

“Kita masih muda, Gue 22 aja belum. Lo baru aja kemarin 23 tahun”

“Gue siap nikah muda. Gue udah mapan. Apalagi yang dipermasalahkan?” Alyn semakin terpojok.

“Kapan lo lulus?”tanya Bima sekali lagi.

“3 atau 4 bulan lagi”

“4 bulan lagi kita nikah”

“Bim—“

“Why? Lo nggak mau nikah sama gue?”

“Bukan itu. “

“Terus?”

“Gu—, Gue, Gue—, Gue nggak pantes nikah sama lo” Bima menaruh sumpit yang ada di tangannya. Ia meminum sebentar air putih yang ada di sampingnya.

“ kata siapa?” tanya Bima mulai serius.

“Lo—, Lo dikagumi banget sama gadis-gadis bahkan diseluruh penjuru dunia. Banyak yang suka sama lo. Sedangkan gue? Gue Cuma gadis biasa, gue nggak punya apa-apa.” Jawab Alyn kaku.

“Lalu? Permasalahannya?”

“Apa kata orang nanti kalau lo nikah sama gue” lirih Alyn pelan. Ia menundukkan kepalannya tak berani menatap Bima yang mungkin sudah menatapnya sangat tajam.

“Gue ingin nikah sama lo bukan sama omongan-omongan orang di luar sana. “

“Papa dan Kakek juga pasti setuju” lanjut Bima lagi. Alyn diam saja karena dia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan.

“Gue nggak tau , kapan bisa ke jepang lagi dan ketemu sama lo lagi. Setidaknya gue bisa dapat jawaban dari lo malam ini. biar gue nggak sia-sia nungguin lo nantinya.”

“Gue suka sama lo dari dulu bukan karena fisik maupun materi ataupun keadaan yang ada di diri lo. Gue suka sama lo dan cinta sama lo karena loe apa adannya dan gue nyaman sama lo. “

“Jadi, lo mau 4 bulan lagi nikah sama gue?” Alyn mencoba menyumbinyakan senyumannya dan rasa panas dingin yang sudah menjalar hebat di tubuhya. Ia tidak pernah membayangkan ini semua terjadi kepadannya.

“Hmm” gumam Alyn sambil mengangguk-anggukan kepalannya pelan tanpa berani mengangkat kepalanya dan menatap Bima.

“Gue nggak denger jawabannya?” goda Bima.

“I—, I—, Iya gue mau” jawab Alyn malu-malu. Bima tersenyum begitu bahagia. Perlahan Bima berdiri dari kurisnya dan merogoh saku jasnya. Alyn mengangkat kepalannya saat mendengar geseran kursi Bima. Alyn binggung melihat Bima yang mulai berjalan ke arahnya dan mengaluarkan sesuatu dari saku jasnya.

“ Jangan pernah dilepas!!” ancam Bima dan segera memakaikan kalung yang ia beli tadi ke leher Alyn. Sedangkan, Alyn sudah tidak tau bagaimana harus mengekspresikan kebahagiannya malam ini .Dirinnya benar-benar sangat bahagia malam ini.

“Pasti mahal” lirih Alyn memegang gantungan kalung tersebut yang benar-benar sangat indah. Kilauan diamondnya sangat nampak.

“Enggak. “ jawab Bima santai. Ia berdiri di samping Alyn.

“Awas kalau sampai dilepas kalung itu”ancam Bima sekali lagi

“Gue takut hilang” ujar Alyn jujur.

“mangkannya jangan dilepas”

“Kalau dicuri?”

“Nggak ada yang akan berani nyuri” Alyn mengangguk-anggukan kepalannya.

“Makasih banyak” ujar Alyn

“Makasih doang?” goda Bima.

“Lalu? Bukankah gue udah buatin makanan itu”

“Mana cukup” Bima menunjuk pipi kirinnya dengan ajri telunjuknya. Alyn menghelakan nafas beratnya karena ia sudah dapat menduga hal ini akan terjadi.

“Cuma pipi kan?” tanya Alyn memastikan.

“Ini juga, Ini juga dan terakhir ini juga” Bima melanjutkan menunjuk ke pipi kanannya. Dahinya dan yang terakhir adalah bibirnya.

“Nggak mau!!! “tolak Alyn dengan cepat

“ Yaudah kalau nggak mau gue ganti. “

“Disini, Disini, Disini, Disini” ujar Bima sambil mengetuk-ketuk bibirnya 4 kali dengan telunjuknya.

“Pilih yang mana??”

“Nggak pilih dua-duanya !!”

“Gue kasih penawaran terakhir kalau lo masih nggak mau juga. Lo harus nyium gue di—“

Bima langsung mematung saat bibirnya sudah dibungkam dengan bibir mungil yang entah sejak kapan mulai menempel lembut di bibirnya. Bima dapat melihat jelas Alyn memejamkan matannya dan mulai mengalungkan tangannya ke lehernya. Bima pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mulai memejamkan matannya bersamaan dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alyn.
Mereka menikmati ciuman mereka dengan hangat, rasanya sudah lama sekali bahkan mereka sudah sama-sama lupa bagaimana rasanya ciuman. 5 tahun lamannya mereka sama-sama menunggu satu sama lain.
Bima semakin memperdalam ciumannya, ciuman yang awalnya lembut perlahan menjadi semakin sedikit panas. Alyn merasakan nafasnya tercekat, ia mencoba melepaskan ciuman Bima namun pria ini semakin memburunya dan sama sekali tidak mau melepaskannya.
Bima yang dapat merasakan bahwa Alyn mulai kehabisan nafas, ia mulai berpindah menciumi bagian leher Alyn. Awalnya Alyn kaget dengan apa yang dilakukan Bima, namun ia tidak bisa melakukan apapun dan membairkan saja. Alyn mulai sibuk sendiri mengontrol desahannya sendiri.

“Bim udah” cegah Alyn takut Bima akan terbawa nafsu dan malah menjurus ke arah yang terlebih jauh.

“Bentar lagi” renggek Bima, ia mengerti maksud Alyn dan memilih berpindah lagi mencium bibir Alyn.
*****
Bima hanya bisa garuk-garuk seperti orang bego didalam lift karena Alyn terus saja mengomelinnya karena binggung menutupi hasil mark kiss yang dibuat Bima di lehernya.

“Pakai ini” Bima melepaskan jasnya dan memakainya ke Alyn.

“masih kelihatan!! “desis Alyn.

“Tutupi sama rambut lo” Alyn melirik Bima tajam.

“Terus digimanain?” tanya Bima yang ikut-ikutan binggung.

TIINGGGGG

Pintu Lift sudah terbuka. Baik Bima maupun Alyn tidak adayang berani keluar. Saat Mr.Max berjalan mendekati mereka berdua. Alyn langsung menarik Bima agar berdiri di depannya.

“Usir mereka semua. Gue malu” renggek Alyn yang bersembunyi di belakang tubuh Bima.

“Iya iya”

“Tuan, Pesawatnya sudah menunggu. Kita harus segera berangkat ke Indonesia, tuan Rio sudah menunggu anda di bandara”

“Baiklah, suruh mereka semua pergi. Saya akan mengantarkan Alyn sendiri terlebih dahulu.” Mr.Max nampak kaget.

“Tapi tuan, Tuan Rio sudah menunggu anda dan anda dis—“

“Perintah!!! Kerjakan sekarang. Tunggu saya di depan rumahnya Alyn”

“Saya juga tuan??”

“Iya Mr.Max. Sekarang juga!! “

“Cepett!!” lirih Bima dengan penuh penekanan dan sedikit memberikan kode kepada Mr.max biar segera pergi dari restoran.

“Baik tuan, anda bisa memakai mobil putih yang terparkir di belakang restoran. Ini kuncinya” ujar Mr.Max dan menyerahkan kunci mobil kepada Bima.

“yaudah pergi sana” usir Bima seenaknya

“Habis ngapain tuan? “ tanya Mr.Max yang memang selalu penasaran dan ingin tau tentang tuannya ini.

“Mr.Max—“ desis Bima tajam dan menunjukkan telunjuknya ke arah pintu luar restoran.

“Iya iya Tuan. “

Bima pun menunggu sampai Mr.Max dan bodygard-bodygardnya masuk kedalam mobil dan meninggalkan restoran. Setelah memastikan restoran ini benar-benar kosong. Bima melirik ke arah belakang.

“Mereka sudah pergi” ujar Bima kepada Alyn.

“Semua?”

“Iya semuannya” Alyn pun perlahan mencoba mengintip dan benar saja yang dikatakan Bima depan pintu yang tadinya ramai sekarang tidak berpenghuni sama sekali.

“Nggak percaya banget sih sama calon suami” Alyn hanya bisa menunduk malu.

“Ayo gue anterin pulang” Bima meraih tangan Alyn dan menggandeng gadis ini menuju pakiran belakang restoran. Alyn mengangguk saja dan mengikuti Bima.

“Lo mau ke Indonesia?” tanya Alyn yang juga mendengar ucapan Mr.Max tadi.

“Hmm. Besok ulang tahun Ara, Om Alvin dan tante Sivia memaksa Papa dan gue dateng. Sekalian gue dan Papa mau jenguk ke makam Bunda”

“Ahh. Andai gue bisa ikut” lirih Alyn lemas.

“Udah jangan sedih. Gue akan sampein salam lo ke Bunda” serah Bima dan segera membuka pintu mobilnya.

“Hmm”
*****
Bima mengikuti arahan navigasi di mobilnya. Karena Alyn sendiri tidak tau jalanan di daerah restoran tadi. Bima melihat Alyn yang sedang asik memainkan kalung yang ia berikan.

“Suka sama kalungnya ?” tanya Bima membuat Alyn sedikit tersentak kaget.

“Hmm. Suka banget”

“Hargannya berapa?” tanya Alyn yang memang sudah penasaran. Bima diam saja tidak mau menjawabnya. Bisa-bisa Alyn langsung membalikkan kalung tersebut jika mengetahui hargannya.

“Indah banget ya malam ini” ujar Bima mengalihkan pembicaraan.

“Ahhh. Harganya pasti sangat mahal” simpul Alyn saat melihat Bima seperti itu.

“udah nggak usah difikirin harga. Gue nggak sampai jual rumah untuk beli itu kalung”

“Iya iya “ serah Alyn mengalah.

“Lo pasti jarang tidur?”

“Kata siapa?” tanya Bima tanpa menolehkan wajahnya. Ia mencoba fokus menyetir.

“kelihatan di wajah lo. Sedikit lemas. Pasti kerjaan lo banyak”

“Nggak usah sotoy.”

“Jangan lupa makan, jangan lupa tidur walau sebentar aja, banyak-banyak minum vitamin”

“Iya iya. Belum jadi istri aja udah cerewet gini” goda Bima sambil mengacak-acak rambut Alyn.

“Mangkannya fikirin ulang lagi nikahin gue,”

“Nggak ada yang perlu di fikir” jawab Bima santai. Alyn tersenyum senang.

15 menit kemudian, mereka berdua sampai di depan sebuah rumah yang dibilang lumayan kecil. Bahkan jika ingin dibandingkan dengan rumah Bima yang di Prancis, rumah yang ditempati Alyn tidak lebih besar dari kamarnya sendiri.

“Lo tinggal disini?” tanya Bima kaget tentunya melihat Alyn selama 5 tahun ini tidur di rumah seperti ini. Walaupun sebenarnya rumah itu tidak terlalu jelek.

“I—, Iya “ jawab Alyn merasa binggung. Karena menurutnya tidak ada yang aneh dengan rumahnya. Bima menghelakan nafas panjangnya.

“Lo nggak nempatin apartemen yang dibelikan Papa?”

“Gue nggak mau ngerepotin Om Rio lagi. Lagian rumah ini juga deket sama tempat kerja gue”

“Kok lo nggak pernah cerita kalau lo kerja?” tanya Bima yang kaget dengan ucapan Alyn barusan. Alyn merutuki dirinnya sendiri yang keceplosan. Padahal ia sudah berusaha mati-matian menyembunyikannya bahkan menyuruh Rio agar tidak menceritakkan apapun ke Bima.

“I—, Itu, I—, It—“ Bima mendecak kesal. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengubungi seseorang.

“Sekarang juga, beli kamar yang hotel yang tadi pagi saya tempatin. Kalau bisa malam ini juga bisa di—“ Alyn langsung meraih ponsel Bima dan mematikan sambungannya tersebut.

“Sekarang tau kan alasan kenapa gue nggak cerita ke lo? karena lo pasti kayak gini” Alyn menghelakan nafas beratnya.

“Gue nggak apa-apa, gue juga suka sama kerjaan gue. Rumah ini pun nyaman buat gue”

“Tapi rumahnya kecil. Gimana lo bisa tinggal dirumah seperti itu??:”

“Gue udah terbiasa Bima. Udah jangan khawatirin gue. Itu jemputan lo udah datang semua” Bima menatap ke depan dan benar saja mobil-mobil pengawalnya sudah berjejer disana dan sebuah mobil lamborgine putih pun sudah terlihat ditengah-tengah mobil lainnya.

“Gue nggak bisa biarin lo tinggal disana, gue nggak mau tau. Lo pindah di apartemen yang gue beliin”

“Nggak mau” tolak Alyn dengan cepat.

“Kalau gitu, lo—“

“Bima gue tinggal 4 bulan disini. Lagian 5 tahun gue disini juga gue nggak kenapa-kenapa kan sekarang ? Gue suka dengan tempat tinggal gue” ujar Alyn mencoba menjelaskan dan membuat Bima agar tidak khawatir kepadannya.

Bima tidak bisa lagi melawan ucapan Alyn, ia pun hanya bisa menghelakan nafasnya sedikit frustasi. Yang ia fikirkan adalah bagaimana bisa ia membiarkan calon istrinya tinggal di sana sedangkan dirinnya setiap hari tinggal di kamar yang mewah bahkan lebih besar dari rumah Alyn.

Bima mengeluarkan dompetnya dan mengambil salah satu kartu kreditnya dari sana. Alyn hanya menatap saja apa yang dilakukan oleh Bima.

“Lo nggak usah kerja lagi, gue nggak suka. Pakai kartu ini sesuka lo. Beli apapun sesuka lo. Lo fokus kuliah dan setelah lulus, kita langsung nikah” Alyn menghelakan nafas beratnya.

“Gue nggak mau. Gue bisa hidu—“

“Lo ambil kartu ini dan berhenti kerja. Apa rumah itu gue hancurin ssekarang juga ?” ancam Bima serius dengan ucapannya. Alyn menghelakan nafasnya pasrah. Ia pun tidak bisa melawan Bima jika sudah seperti ini. Dengan berat hati ia menerima kartu tersebut.

“Awas kalau sampai gue cek nggak ada pengeluaran di kartu itu”

“Iya iya. Udah pergi sana” usir Alyn yang lama-lama kesal juga dengan Bima.

“Gue nggak mau lo menderita. Gue sayang sama lo” Bima memeluk Alyn sebentar lantas mengecup dahi Alyn.

“Ingat ucapan gue, jangan lupa istirahat yang banyak dan minum vitamin” balas Alyn. Bima mengangguk pelan dan melepaskan pelukan Alyn. Alyn menyerahkan ponsel Bima yang sempat ia pegang tadi. Bima menatap Alyn cukup lama, merasa tidak tegah untuk meninggalkan gadis ini.

“Udah sana pergi” usir Alyn dengan nada tidak rela dan raut wajah yang perlahan berubah.

“5 tahun aja kita bisa. 4 bulan pasti bisa kan?”

“Hmmm. “ Alyn mengangguk-anggukan kepalannya dan entah darimana datangnya air mata Alyn jatuh gitu aja.

‘Kalau lo nangis gimana gue bisa pergi??: ujar Bima saat membua pintu mobilnya. Bima menghapus air mata Alyn.

“Gue nggak apa-apa. Udah sana pergi sekaraang!! “

“Jangan nangis!! “

“Nggak!!”

“Gue pergi. “ pamit Bima dan mengembangkan senyumnya ke arah Alyn. Bima pun segera turun dari mobilnya dan dengan ditutupi oleh bodygard-bodygardnya Bima menuju ke mobil Lamborgini putih dan langsung masuk ke dalam.
Alyn masih berada di dalam mobil dan ia hanya bisa mematung dan menahan air matannya saat seluruh mobil itu mulai beranjak dari sana. Alyn tersenyum ringan melihat jas Bima masih berada di tubuhnya.
Alyn pun segera turun dari mobil tersebut, ia tidak enak dengan salah satu bodygard Bima yang menunggunya turun dan akan membawa pergi mobil ini.

“Tolong jaga Bima ya”ujar Alyn kepada Bodygard tersebut dan mendapat anggukan sopan serta senyuman dari boygard itu.

Alyn berdiri di depan rumahnya dengan perasaan bercampur aduk, Senang, sedih, entahlah bagaimana ia harus mengekspresikan suasanannya saat ini.

“4 bulan lagi , Alyn”

“4 Bulan lagi”

“Semangat!! “

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s