D3STINY OF LOVE AND LIFE – 3

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 3
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s ”

******

Indonesia . Kediaman keluarga Bohra

Sepasang suami istri ini hanya bisa meratapi map biru dengan lembaran-lembaran kertas di hadapan mereka. Kepanikan, kebinggungan serta keputusasaan terasa menyohok seluruh organ tubuh mereka seusai membaca map biru yang baru saja dikirmkan oleh pihak bank.

“Pa, bagaimana ini” tangis sang istri yang tentunya sangat terpukul dengan keadaan keluarga mereka saat ini.

“Maafkann Papa, Ma, Papa minta maaf” sesal sang suami. Pria paruh baya ini meraih tangan istrinya dan memegang erat tangan istrinya berharap sang istri bisa mendapat kekuatan darinya.

“Kita benerang bangkurt Pa? Apa tidak ada yang bisa Papa lakukan? Lalu bagaimana dengan Allen? Bagaimana dengan Boy? Bagaimana nasib mereka Pa?” isak sang Mama masih tak bisa tertahan.

“Maafkan Papa, Ma. Maafkan Papa”

“Lebih baik Mama mati saja Pa. Mama tidak sanggup lagi. Bunuh Mama sa—“

“Ma, kalau Mama mati, Papa jugaakan ikut dengan Mama. Tolong tenangkan fikiran Mama dulu”

“Apa yang perlu ditenangkan Pa. Kita sudah tidak punya apa-apa. Lusa kita sudah harus meninggalkan rumah ini. Bahkan kita tidak bisa membawa barang satu pun. Kenapa Papa tidak pernah bercerita kepada Mama? Kenapa Papa selalu saja egois!”

“Maafkan Papa, Ma. Maafkan Papa” sang suami langsung memeluk istrinya dengan erat. Mereka berdua menangis bersama-sama ditengah malam seperti ini. Seolah malam ini adalah malam terakhir mereka untuk dapat saling memeluk satu sama lain, untuk bisa meluapkan perasaan mereka.
****
Keesokan Hari,
Jam lonceng besar di depan sekolah bergema saat kedua jarumnya saling bertumpah tindih menunjuk ke arah pukul 12. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi bel pulang dari sekolah ini. Sekolah yang saat ini semakin popular dari tahun ke tahun. Sekolah yang menciptakan suatu metode pembelajaran yang luar biasa. Sekolah yang mendapatkan banyak penghargaan dari banyak yayasan dan pemerintah. Itulah SMA ARWANA.
SMA ARWANA memakai kurikulum sendiri sejak 2 tahun yang lalu. Setiap hari Senin-Rabu jam masuk adalah pukul 07.30 sampai 14.00 , di hari kamis dan jumat mulai pukul 07.30 sampai 11.00 . Untuk hari Sabtu-Minggu menjadi hari libur untuk para siswa dan guru-guru disini. Mata pelajarannya pun setiap tingkatan sudah tidak memakai kelas 10,11,ataupun 12. Mereka membaginya menjadi semester 1,2,3,4,5,6
Yayasan ARWANA semakin mengembangkan sayapnya. Sekolah ini sudah masuk ke tahap sekolah bertaraf International. Banyak foreign yang tinggal di Jakarta menyekolahkan anaknya disini.
Tes masuk di sekolah ini pun sudah semakin ketatnya luar biasa, bahkan setiap anak yang ingin masuk di yayasan ini harus memilki nilai toefl diatas 500 untuk anak SMA, 350 anak SMP dan 280 untuk anak SD. Sekolah ini pun menyediakkan beberapa beasiswa bagi siswa yang pintar namun tidak mampu membayar biaya sekolah karena memang mahalnya biaya di yayasan Arwana.
Biaya untuk persemesternya saja hampir 10 juta belum lagi ditambah dengan biaya-biaya lainnya. Namun sesuai dengan biayanya berbanding juga dengan seluruh fasilitas dan hasil dari yang diluluskan oleh sekolah ini.
*****
Dari banyaknya kerumunan siswa dan siswi yang keluar dari gerbang sekolah terlihat seorang gadis dengan rambut hitam sebahu dan bergelombang bagian bawannya, gadis itu mengedarkan setiap pandangannya seolah sedang mencari sesuatu.

“Allen, pulang dulu yaa!! “ teriak salah satu pria dari dalam mobil kepada gadis tersebut yang bernamakan Allen. Gadis ini pun mengangguk dan menyunggingkan senyumannya.

“Hati-hati Joy!!” balas Allen dengan sedikit keras.

Allen menunggu jemputannya yang tak biasanya datang telat seperti ini. Allen mencoba menghubungi supirnya sedari tadi namun sama sekali tak ada jawaban dari sana dan itu membuat Allen sedikit frustasi.

“Allen, Apakah kamu tidak dijemput?” tanya seorang wanita paruh baya yang berada di dalam mobil Hummer hitam. Allen menengokkan kepalannya ke arah kanan, sedikit kaget melihat wanita yang mengajaknya berbicara tersebut.

“Selamat siang Prof. Kattalin, Saya sedang menunggu jemputan. “ jawab Allen dengan sopan kepada gurunya tersebut yang juga merupakan kepala sekolah di SMA ARWANA.

“Apa ingin ikut dengan saya? Rumah kita satu arah kan?” tawar Prof. Kattealin.

“Terima kasih banyak Prof, tapi tidak usah. Kasihan nanti supir saya datang dan tidak menemukan saya. “

“Oh begitu. Yasudah, saya duluan ya Allen. Kalau nanti kamu masih tidak dijemput segera naik taxi saja”

“Iya Prof. Terima kasih dan hati-hati dalam perjalanan”

“Iya Allen”

Allen perlahan mengendorkan senyumannya saat mobil Hummer hitam itu berlalu disampingnya. Ini sudah hampir 1 jam ia menunggu disini dan jemputannya tidak datang juga. Allen sedikit merasa bosan bahkan kesal sendiri.

“Kak All—, Kak Allen, “ suara canggung tersebut membuat Allen sekali lagi menolehkan kepalannya. Ia melihat 3 orang cowok yang merupakan adik kelasnya. Allen melihat tiga cowok ini dengan binggung.

“Iya?” balas Allen dan langsung membuat 3 cowok itu gelagapan sendiri.

“In—in, Ini buat kakak” ujar salah satu cowok diantara ketigannya. Dengan tangan sedikit gemetar cowok itu memberikan sebuah kotak cokelat kepada Allen.
Allen terkekeh ringan sambil menggaruk-garuk pipinya yang sebenarnya tidak gatal. Entah sudah berapa cokelat yang sudah ia terima hari ini. Bahkan bisa dibilang setiap harinya ia pasti akan mendapatkan cokelat, bunga, boneka bahkan paling gilanya Allen pernah ditembak 5 cowok dalam sehari.

“Terima kasih. aku akan makan langsung kalau sampai dirumah” balas Allen dengan menyunggingkan senyum tulusnya. Allen pun menerima cokelat tersebut. Cowok yang memberikan cokelat itu langsung loncat-loncat kegirangan.

“Iy—, Iya Kak. Sama-sama. Kalau gitu, duluan ya Kak. “

“Duluan ya Kak Allen”

“Duluan ya”

Allen hanya bisa geleng-geleng saja melihat tingah laku adik kelasnya tersebut. Ia lantas membuka tasnya. Allen terdiam sebentar, melihat isi tas didalamnya yang sudah ada bermacam-macam bentuk barang didalamnya. Mulai dari buku, Ipad.nya, Novel, boneka, berbagai macam cokelat dan masih banyak lagi. Dan tidak heran jika setiap pulang sekolah tas Allen akan menjadi besar seperti tas Camping.

“Kenapa mereka selalu memberiku cokelat? Padahal aku tidak pernah menyukainya. “lirih Allen ringan dan memasukkan cokelat tersebut kedalam tasnya.

Allen Razara Bohra adalah gadis yang menjadi sorotan para profesor di SMA ARWANA, bahkan bukan hanya para Profesor melainkan siswa-siswi lainnya. Kecantikannya, kepintarannya, bahkan Prilakunnya mendapatkan acungan jempol dari semua warga di SMA ARWANA.
Selama 2,5 tahun berturut-turut mulai dari semester 1 sampai semester 5, Allen menempati posisi peringkat pertama paralel di SMA ARWANA. Kepintarannya tidak dapat diragukan, kecantikannya pun bisa membuat melayang. Setiap kali ia berjalan di lorong sekolah atau pun di kantin, baik siswa mapupun siswi akan terkagum dengan kecantikannya. Kulit yang putih, mata yang bulat, bulu mata yang lentik dan tubuh tinggi jenjang layaknya seorang model. Semua pria akan langsung jatuh cinta kepada gadis ini dalam sekali pandang. Tidak hanya itu saja, gadis ini memiliki kepribadian dan attitude yang luar biasa bagusnya. Ia selalu menolong teman-temannya. Ia selalu membuat dirinya sendiri menderita hanya agar dapat membahagiakan orang lain. Walaupun ia sebenarnya tidak suka, demi membuat orang lain tersenyum, gadis ini akan memaksakan untuk berkata “iya”. Oleh karena itu, Allen sangat dikenal di SMA ARWANA. Ia selalu mendapatkan perlakuan yang istimewa dari teman-teman dan seluruh profesor di sekolah ini karena Allen sendiri pantas mendapatkannya.
Namun, Allen memilih untuk tidak menyukai siapapun di SMA ini, ia takut akan menyakiti orang lain. ia lebih memilih untuk fokus pada sekolahnya. Walaupun ia berasal dari keluarga yang dibilang mampu bahkan lebih dari mampu. Allen pun tidak pernah menyombongkan kekayaan orang tuannya seperti teman-temannya kebanyakan.
****
Allen mendengus kesal, ia masih tetap mencoba sabar. Ia tidak ingin emosinya keluar dan membuatnya menyesal nantinya akibat kemarahannya sendiri. Padahal ini sudah hampir 3 jam ia berdiri di gerbang sekolahnya. Allen mengecek iphone ditangannya, tidak ada balasan telfon dari mama atau papanya.

“Non, Allen tumben belum di jemput?” tanya salah satu satpam yang juga sangat mengenal gadis ini.

“Iya Pak Udin. Saya juga nggak tau. Padahal biasanya nggak telat jemputannya” jawab Allen kepada satpam tersebut yang bernamakan Pak Udin.

“Sudah ditelfon supirnya? Atau orang rumah non”

“Sudah pak. Tapi nggak ada yang ngangkat”

“Yaudah Non, lebih baik naik taxi saja”

“I —, Iya Pak”

“Bentar Non, biar bapak yang carikan taxi buat Non. Non tunggu disini”ujar satpam tersebut dan langsung berjalan mendekati Allen.

“tidak usah Pak Udin. Allen bisa sendiri. Nanti Allen merepotkan Bapak”

“Tidak apa-apa non, Pak Udin tidak merasa direpotkan. Malah bapak yang sering merepotkan Non Allen.” Allen hanya bisa tersenyum ringan. Ia pun mengikuti Pak Udin yang berjalan menuju halte di dekat SMA ARWANA.

“Anak bapak gimana? Sudah baikkan?” tanya Allen ditengah-tengah sibuknya Pak Udin melihat ke arah jalan untuk mencari taxi yang lewat.

“Udah neng. Alhamdulillah. Ini semua berkat Non Allen yang bantuin bayar biaya rumah sakit. Pak Udin nggak tau lagi kalau tidak ada Non Allen.”

“Ini berkat yang diatas Pak udin. Bukan Allen., disini Allen Cuma jadi perantara saja”

“Pak Udin salut sama non Allen, sudah pintar, cantik, baik lagi. Kok ada orang seperti Non Allen.”

“Buktinya ini ada hehhee. “ kekeh Allen.

“itu taxinya pak” ujar Allen dan langsung membantu Pak Udin memberhentikkan sebuah taxi berwarna biru.

“Pak makasih banyak ya, Allen pulang dulu” ujar Allen lantas memasuki taxi yang sudah berhenti didepannya.

“Iya non. Hati-hati”

****
Rio dan Bima berjalan menuju parkiran bandara. Dibelakang mereka seperti biasanya sudah ada kawalan-kawalan Bodygard yang setia mengikuti dua pria berkharisma ini. Mereka berjalan dengan aura yang kuat yang ada didalam tubuh mereka. Banyak pasang mata orang-orang di bandara yang tertuju ke dua pria ini. Bagi citizen yang mengenal dua orang ini, mereka langsung mengabadikan moment tersebut dengan camera ponsel mereka. Bagi citizen yang tidak mengenalnya mungkin hanya bisa terkagum takjub.

“Pa. Biar Bima yang nyetir mobilnya. “ujar Bima tiba-tiba dan membuat Rio yang ingin masuk kedalam mobil langsung mengundurkan niatnya. Rio menatap anaknya dengan heran

“Ayolah Pa. Bima juga kangen sama Jakarta” rengek Bima seperti anak kecil.

“Apa kamu tidak lelah?” tanya Rio sedikit meragukkan.

“Enggak Pa. “

“Mr.Max biar Bima nyetir sendiri mobil ini sama Papa. Mr.Max dimobil satunya saja.” Lanjut Bima kepada sekertaris pribadinya. Rio pun hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan anaknya.

Bima dan Rio langsung menaiki mobil ferari putih yang terpariking anggun di depan bandara. Begitu pun dengan Mr.Max dan para pengawalnya segera masuk kedalam mobil masing-masing.
Bima langsung mencap gas mobil yang ia kendarai tanpa menunggu mobil pengawal yang selalu mengawal di depannya. Rio sedikit terkejut dengan yang dilakukan anaknya ini.

“Bima!! “ pekik Rio memegangi dadanya.

“hehehe. Sekali-sekali Pa nguji adrenalin. “

“Hello Indonesia” ujar Bima sambil memakai kaca mata hitamnya yang baru saja ia ambil dari saku jas hitamnya.

Rio hanya bisa tersenyum ringan, ia kemudian menyibukkan dirinnya dengan ponselnya. Sebenarnya ia masih banyak pekerjaan di Prancis, namun demi kemauan Ara dan Alvin. Rio harus datang ke Indonesia. Rio sendiri juga berniat untuk mengunjungi makam istrinya. Sudah sejak kematian Ify, Rio tidak pernah menginjakkan kembali kakinya di negara asalnya ini.

“Bagaimana kabar Alyn?” tanya Rio untuk memecahkan keheningan antaa dirinnya dan sang anak.

“Baik banget Pa. Dia tambah cantik”

“Oh ya . Pa, bima mau tanya”

“Hmm??”

“Kenapa Papa nggak cerita kalau Alyn kerja?” protes Bima dan membuat Rio langsung menghentikkan aktivitasnya dengan ponselnya.

“Karena Alyn tidak mengizinkan Papa” jawab Rio enteng dan kembali fokus ke ponselnya.

“Oh ya. papa juga ada pertanyaan untuk kamu”

“Apa Pa??”

“Papa tadi siang dapat laporan dari Mr.Zheng, kamu membeli kalung seharga 25000000$”

“Kamu membelikannya untuk Alyn?” tanya Rio. Bima hanya menyengir tidak jelas sambil garuk-garuk kepalannya yang sama sekali tidak gatal.

“Hehehe, Iya pa” Rio mendecakkan bibirnya, dan menyunggingkan senyum ringannya.

“Keren kan Bima, Pa “

“Hmm. Iya keren keren” balas Rio mengiyakan saja ucapan sang anak.

“Pa, 4 bulan lagi Bima mau nikah” ujar Bima tiba-tiba dan membuat Rio membelakakan matannya menatap sang anak.

“Nikah? Sama siapa ??”

“Alyn lah Pa. Dia akan lulus 4 bulan lagi. Dan Bima mau langsung nikahin Alyn” Rio terdiam untuk beberapa saat. Ia mencoba mencerna ucapan anaknya tunggalnya satu ini.

“Papa sih setuju aja, Tapi kamu harus izin sama Kakek kamu dulu.” Jawab Rio jujur.

“Kakek pasti setuju kan Pa” ujar Bima penuh keyakinan.

“Sepertinya. Selama ini juga Mr.Bov tidak pernah memaksakan anak-anaknya menikah dengan siapa. “ sahut Rio dan sekali lagi fokus dengan ponselnya. Ia mendapatkan banyak laporan email dari sekertarisnya yang ada di Prancis. Raut wajah Rio begitu serius saat membaca satu persatu email yang masuk di ponselnya.

“Pasti setujulah Pa, Alyn itu gadis yang baik. “balas Bima lagi. Bima sendiri mulai sibuk mengeluarkan ponselnya dari sakunya karena ia merasakan ponselnya berdering dan menandakan ada email yang masuk dan pastinya email tersebut dari calon istri tercintanya.

BUKKKKK

“Ahhh Siall!! “ pekik Bima karena ponselnya terjatuh dibawah. Bima mencoba mengambil ponselnya yang jatuh dibawah, dengan hati-hati dan masih berusaha fokus menyetir. Bima mengambil ponselnya dibawah.

Bima mencoba melihat ke arah bawa, mencari titik pas dimana ponselnya terjatuh. Setelah itu, Ia memastikan ke arah depan apakah ada mobil di depannya. Melihat situasi yang aman dan Bima juga meemukan tempat ponselnya berada, Ia langsung sedikit membungkuk dan mencoba meraih ponselnya.

“I Got it” ujar Bima saat mendapatkan ponselnya. Rio mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke depan, dan saat itu juga mata Rio langsung membulat sempurna.

“BIMAAAA AAWAASSS!!!” teriak Rio dengan keras

BRAAAAKKKKKKK

Rio dengan spontan memutar setir mobil kearah kanan. Sedangkan Bima menjatuhkan ponselnya begitu saja dan menginjak rem dengan tekanan penuh di kakinya.

BRAAAAAAAAAAAAKKKKKK

SSSEEEEERTTTTTTTTTT

BRAAAAAAAKKKKKKKKK

Bima dan Rio sama-sama menutupi wajah mereka dengan tangan mereka. Mobil mereka menabrak keras sebuah mobil BMW sedan putih yang melintas di depan mereka dan menyebabkan mobil tersebut kalah hantaman dengan mobil yang ditumpangi Bima. Mobil Bima dan Rio masih berputar-putar di tengah jalan karena saat mobil mereka menabrak mobil BMW tadi Rio masih sempat membantng setir mobilnya ke arah kanan dan membuat mobilnya mulai kearah lain.
Sedangkan mobil BMW yang ditabrak oleh Bima, terseret ke samping dan menabrak sebuah tiang listrik besar yang ada di pinggir jalan.
*****
Kejadian tersebut begitu cepat sekali. Mobil yang ditumpangi Rio dan Bima sudah berhenti berputar. Rio dan Bima hanya mengalami luka ringan di pelipis mereka hanya mobil depan mereka saja yang sudah tidak berpentuk.
Rio dan Bima langsung dikeluarkan oleh pengawal-pengawal mereka saat itu juga. Rio berusaha mengembalikkan kesadarannya akibat sedikit pusing. Perlahan Rio menatap ke arah di depannya. Ia langsung shock melihat mobil BMW yang ditabrak Bima tadi sudah dikerumuni banyak orang.

“Lepaskan saya!! “ ujar Rio kepada pengawalnya yang sedang membopongnya. Dengan kaki sedikit pincang Rio berjalan menghampiri mobil BMW tersebut.
Rio melewati kerumnan-kerumanan itu, Rio meneguk ludahnya yang terasa menyenggak tenggorokannyaa, ia terkejut melihat 3 korban yang luka parah dan berusaha dikeluarkan dari mobil tersebut. Detik berikutnya Rio tersadar dan segera membantuk orang-orang lainnya mengeluarkan 3 korban itu.

“PANGGILKAN AMBULANS!!” teriak Rio lebih tepatnya ke ara Mr.Max yang sedang berjalan ke arahnya.

‘CEPATTTT!!!”

Rio menarik seorang anak laki-laki kecil berusaha 2 tahun, wajah, tangan,kaki anak laki-laki itu sudah berlumuran banyak darah dan tidak sadarkan diri. Bahkan kepala anak laki-laki kecil ini seperti terlihat akan pecah. Semua wajahnya berlumuran darah. Rio mulai sedekit gemetar saat mengendong anak ini. Ia mencoba melepaskan jasnya dan membungkus anak kecil tersebut dengan jas yang ia pakai.

“Bisakah anda duduk dan pangku anak ini? dia terluka sangat parah” ujar Rio kepada seorang pria muda. Pria tersebut nampak ragu-ragu karena takut melihat korban tersebut yang sedikit mengerikan.

“Ba—, Baik” ujar pria tersebut yang tidak ada pilihan lain. pria itu langsung duduk dan menjelujurkan kakinya ditengah kerumunan, Rio langsung menaruh anak kecil itu dalam pangkuan pria muda tadi.

Setelah itu, Rio membantu yang lainnya mengelauarkan seorang wanita paruh baya yang tadi memangku anak kecil itu. Wanita ini pun tak kalah parahnya dari anak itu. Wajah bagian kirinya tertancap banyak pecah-pecahan kaca. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. Kepalanya pun mengalirkan banyak darah segar.
Rio mengecek nadi di leher wanita tersebut, dan Rio hanya bisa menghembuskan nafas beratnya saat ia tidak merasakan detakan nadi pada leher wanita tersebut.

“Oh God” lirih Rio lemas.

“Ma . . Ma . . .”

“Ma .. .Ma. . . . .”

“MAMA . . .!!!”

*****
Allen masih berusaha menelfon Papa dan Mamanya, namun sedari tadi tetap sama tidak ada jawaban sama sekali. Allen menghembuskan nafas beratnya. Ia menatap ke arah luar jendela.

“Sepertinya ada kecelakaan” ujar supirnya dan membuat Allen langsung mengarahkan pandagannya ke depan.

“Ada apa Pak?” tanya Allen penasaran.

“Kayaknya ada tabrakan mbak. Tadi ada suara hantaman keras. “ jelas supir taxinya. Dimana saat ini Taxi yang ditumpangi Allen sedang berhenti karena mobil didepannya pun berhenti.

Allen mencoba mencari-cari cela untuk bisa melihat ke tempat kecelakaan tersebut, ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi disana. Allen dapat melihat pemilik mobil-mobil di depannya mulai keluar dari mobil dan berlarian.

“Pak, saya turun disini saja ya” ujar Allen yang entah mengapa merasa penasaran dan ingin melihat kecelakaan tersebut. Allen pun segera turun dari taxi setelah membyarar biaya Taxi tersebut.

Allen berlari-larian kecil melewati beberapa mobil disampingnya, suasana jalanan sudah sangat kacau sekali saat ini. Allen mulai dapat melihat kerumunan besar di sebelah kanan. Allen pn dengan cepat berlari ke arah sana.

“Permisi, Permisi” ujar Allen mencoba menyelinap kerumunan untuk bisa melihat lebih jelas lagi.

“Permisi ya” ujar Allen dengan sopan.

Saat Allen sudah berhasil melewati kerumunan, dan dapat melihat jelas bagaimana orang-orang sibuk mengeluarkan korban dari dalam mobil, Allen langsung mematung ketika matannya mengenali plat mobil BMW itu.

“I—, it, itu—, itu mobil Papa”lirih Allen lemas. Matanya perlahan memutar ke samping. Ia melihat seorang wanita dibawa keluar dari mobil tersebut. Wanita itu berlumuran darah. Seketika itu, bulu kuduk Allen langsung berdiri. Nafasnya tercekat.

“Ma . . Ma . . .”

“Ma .. .Ma. . . . .”

“MAMA . . .!!!” teriak Allen dan segera berjalan mendekati korban wanita tersebut yang tak lain adalah mamanya sendiri.

Semua orang disekitar sana langsung mematung saat melihat gadis ini memeluk mamanya dan menangis begitu saja. Seregam putih, toscannya langsung berlumuran darah dalam sekejan.

“MAMAA!!! Banguuunn!!”

“MAMAAAAA!!!!”

“MAA. Ini Allen!! Bangun Ma! Mama”

Mata Allen mendapati seorang pemuda tak jauh dari tempat dirinnya berjongkok memeluk mamanya. Allen melihat seorang anak laki-laki kecil terbungkus jas hitam dipangkuan pemuda itu.

“Boy . . “Allen terduduk lemas bahkan tubuhnya akan ambruk kalau saja Rio tidak memegangi Allen. Dalam sekejban tangisan Allen memecah begitu keras, kedua tangannya bergerak-gerak tak karuan karena gemetar yang ia rasakan.

“Nak, ka—, kamu tenang ya”

“Kam—, kamu tenang” bisik Rio mencoba menenangkan Allen.

“Mama. . . . Boy . .. .Mama. . . “

“Tuan Ambulansnya sudah datang” ujar Mr. Max kepada Rio. Rio mengangguk ringan.
Para kerumunan langsung memecah saat petugas medis mulai beraksi. Mereka segera membawa tiga korban tersebut kedalam mobil ambulan. Rio mencoba membangunkan gadis yang ia pegangi itu.

“Mamaaaaa!!! “ teriak Allen dan langsung berlari untuk masuk kedalam ambulans. Rio yang melihat kejadian itu pun ikut menyusul Allen dan menaiki ambulan yang dimasuki Allen.

“Tuan anda mau kemana??” teriak Mr. Max binggung.

“Urus semua keadaan disini. Susul saya di rumah sakit setelah semuanya selesai!!” teriak Rio kepada Mr.Max sebelum pintu mobil ambulans tersebut ditutup.
*****
Rio tidak tau harus berbuat apa, rasanya kedua tangannya mati tak terasa. Padahal dirinnya adalah seorang dokter tapi entah mengapa ia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Matannya hanya tertuju kepada gadis SMA yang terus saja menangis sambil memegangi tangan Mamanya.

“Mama. . . . “

“Ma. Bangunnn. . . .”

“Mama . . . .”
****
Polisi mulai berdatangan di TKP setelah seluruh korban dilarikan ke rumah sakit, Bima sendiri sudah dibawah duluan kerumah sakit oleh salah satu pengawal karena Bima mendapatkan luka sedikit parah di pelipisnya dan harus mendapatkan jaitan.
Mr.Max menjadi tahanan sementara bagi polisi untuk mengurusi masalah ini. Saksi-saksi mata pun ditanyai bagaimana kejadian ini berlangsung.
****

Rio membantu mendorong kasur dorong salah satu korban, ketiga korban tersebut langsung dilarikan ke UGD.

“Maaf Pak, Mbak, anda dilarang masuk” ujar seorang suster yang langsung mencegah Allen dan Rio untuk masuk. Mereka berdua pun hanya bisa berdiri di depan UGD.

BRUUKKKK

“Mama. .. .Papa. . . Boy . . . “lirih Allen lemas yang tiba-tiba langsung terduduk lunglai diatas lantai depan pintu UGD.

“Kalian pasti selamat kan . . “

“Mama . . . .” Allen sudah sesenggukkan dari tadi, semua tulangnya seolah tak memiliki kekuatan sedikit pun. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.

Perlahan Rio berjongkok disamping Allen. Rio memberanikan diri untuk menepuk-nepuk punggung Allen pelan mencoba menenangkan gadis ini.

“Hey, mereka pasti selamat” ujar Rio mencoba menyenangkan Allen. Padahal sudah jelas Rio mengetahui bahwa Wanita dan anak kecil tadi sudah tak bernyawa di tempat.

Allen perlahan mencoba mengatur isakannya, ia menatap ke arah Rio dengan binggung karena sama sekali merasa tak menganal pria paruh baya ini.

“O—, om siapa?” tanya Allen dengan nada masih sesengukkan.

“Sa—. sa—, Saya?” tanya Rio balik, Ia binggung harus menjawab apa.

“Saya adalah ayah dari orang yang menabrak keluarga kamu” jawab Rio lemah. Mulut Allen sedikit terbuka, ia tidak tau harus berekspresi bagaimana karena tenaganya sendiri sudah hampir habis.

“Ja—, Jadi, Jadi? Anak Om yang menabrak keluarga saya?”tanya Allen memastikkan. Rio menundukkan kepalannya dalam. Ia mengatur nafasnya beberapa kali. Mulut Rio rasanya keluh, tidak bisa menjawab pertanyaan gadis ini.

“Iya kah om?” tanya Allen mengulangi pertanyaanya. Rio hanya bisa menganggukkan kepalannya beberapa kali dengan pelan sekali. Allen langsung melepaskan tangan Rio dari punggungnya begitu saja. Ia merasa seperti sedang dipermainkan.

“Kenapa anak Om menabrak keluarga saya?”

“Kenapa??”tanya Allen tanpa memberikan nada penekanan ataupun emosi. Allen bertanya dengan tenang namun wajahnya terlihat sedikit memiriskan

“Maaf. Maafkan saya” Rio mendongakkan kepalannya, memberanikan diri menatap Allen.

“Saya akan bertanggung jawab penuh atas kejadian ini. Saya akan mengganti semua biaya rumah sakit, biaya apapun dem—“

“Saya tidak butuh apa-apa Om. Asal semua keluarga saya selamat”

DEGGHH

Ucapan gadis ini langsung membuat jatung Rio seperti tertusuk pisau tajam. Paru-paru Rio terasa tak beroksigen. Tenggorokannya langsung mengering. Yang ia fikirkan adalah bagaimana jika gadis ini mengetahui bahwa Mama dan Adiknya sudah meninggal. Apa yang harus ia pertanggung jawabkan. Bagaimana ia bisa meminta maaf kepada gadis ini.

Pintu ruang UGD terbuka, Rio dan Allen langsung tersadar dan menatap pintu tersebut. Rio segera membantu Allen berdiri saat sebuah kasur dorong dibawah keluar.
Allen melihat papanyalah yang berada diatas kasur tersebut. Tubuh Papanya dipenuhi dengan peralatan medis, tangis Allen langsung memecah kembali.

“Mau dibawa sus, pasien itu?” tanya Rio kepada salah satu suster.

“Keadaanya sangat kritis. Pasien harus segera dibawah ke ICU” jelas suster tersebut.

“Bagaimana dengan Mama dan Adik saya sus?” sahut Allen bertanya kepada suster tersebut. Suster itu langsung terdiam panik, binggung harus menjawab apa.

“Silahkan anda melihatnya sendiri”

Allen langsung masuk kedalam UGD dengan kecemasan yang sudah diambang batasnya. Rio yang melihat gadis itu berlari masuk UGD pun segera menyusulnya. Rio tidak bisa membiarkan gadis itu pingsan ditempat sendiri atau gadis itu akan berbuat macam-macam dengan dirinnya sendiri.
***
Allen di tunjukkan dengan dua kasur yang sudah tertutup kain putih dua-duanya dan menandakan bahwa pasien tersebut sudah tidak dapat diselamatkan. Kaki Allen mulai melemas kembali, kalau saja Rio tidak ada dibelakangnya menagkap tubuh gadis ini, mungkin Allen sudah ambruk ditempat.

“Ng—, Nggak mungkin”

“Ng—, Nggak. Nggak Mungkin”

“Ng—. Nggak Mungkin”

Allen tidak bisa apapun selain menangis dalam keadaan terduduk lemas dengan punggungnya dipegangi oleh Rio. Energi Allen rasanya sudah habis bukan hampir habis lagi. Ia tak bisa berdiri, kedua matannya saja terasa sulit untuk terbuka. Yang ia bisa adalah menangis dan menangis saat ini.
Bahkan saat 4 jam yang lalu, ketika ia keluar dari gerbang sekolahnya. Ia tak membayangkan bahwa ia akan mengalami kejadian seperti ini.

“Mama . . . .”

“Boy . . .”

“Mama . . . “

“Boy . . . “

“Kalian beneran tinggalin Allen?”

“Tanpa pamit ??”

“Kalian tega seperti ini?”

Rio hanya bisa tertunduk bersalah, sangat bersalah sekali. Ia meremas kedua telapak tangannya menahan segala emosinya yang sudah meluap di ubun-ubunnya. Rasanya melihat gadis yang tidak bersalah didepannya ini membuatnya beitu terlihat buruk. Bagaimana bisa dirinnya merebut kebahagiaan keluarga orang lain. bahkan langsung 2 orang sekaligus.

“Mama lupa dengan janji Mama? “

“Mama janji akan nemenin Allen sampai Allen menikah. Sampai Allen punya anak. Kenapa Mama nggak nepatin itu dan malah pergi?”

“Ma! Jawab Allen!!“

“Boy jug—, juga”

“Kenapa kamu tinggalin Kakak? Padahal kakak nggak pernah marah sama kamu. Kakak sangat sayang sama kamu “

“Mama. .. Boy . . Jangan tinggalin Allen. Allen mohon”

*****
Rio berjalan langkah demi langkah. Ia masih membuntuti gadis SMA itu. Gadis itu terus berjalan tanpa arah menuju luar rumah sakit. Gadis itu sama sekali tak mengucapkan satu kata apapun lagi saat keluar dari ruang UGD. Bahkan panggilan Rio ataupun pertanyaan Rio tidak diajawabnya sama sekali.
****
Rio terus membuntutinya, sampai gadis itu berada di trotar jalan, entah kemana tujuan gadis itu, yang ada di fikiran Rio adalah bahwa dia harus mengikuti gadis ini. Dia mempunyai kewajiban menebus kesalahannya kepada gadis ini.
Langkah Rio terhenti, saat gadis itu pun menghentikkan langkahnya, gadis itu memandang ke arah jam besar di sebrang jalan. Setelah menatap jam yang menunjukkan pukul 16.30 , gadis itu kembali melangkahkan kakinya. Rio pun mulai mengikutinnya kembali.
10 menit kemudian, gadis tersebut berhenti kembalo berjalan dan untuk kedua kalinnya Rio pun mengikuti gadis itu menghentikkan kakinya. Rio sedikit terkejut tiba-tiba gadis itu membalikkan tubuhnya dan perlahan berjalan ke arahnya. Tidak ada yang bisa Rio lakukan selain mematung ditempat.

“Terima kasih Om sudah mencemaskan saya. Om bisa tinggalkan saya sendiri. Saya tidak ingin merepotkan Om” ujar Allen dengan senyuman yang dipaksakan. Ucapan Allen membuat Rio terkejut beberapa saat.

“Saya tidak apa-apa kok Om, saya hanya ingin sendiri” lanjut Allen lagi karena tidak mendapat balasan dari Rio.

“Sa—, saya minta ma—“

“Om tidak perlu meminta maaf. Itu semua kecelakaan bukan? Mungkin tuhan sudah menakdirkannya. Saya tidak tau harus menyalahkan siapa dan memaki siapa. Karena apapun yang saya lakukan, Mama dan adik saya tidak bisa hidup lagi” dada Rio terasa dipukul dengan sekarung beton besar. Menyayat sekali. Ingin rasanya ia berlutut meminta maaf kepada gadis ini. Namun, entah mengapa ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sekali lagi Terima kasih om sudah mencemaskan saya. Saya minta maaf sudah menyita waktu Om” Rio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaimana bisa ada gadis seperti ini. Apakah gadis itu sama sekali tidak mempunyai dendam atau perasaan marah?. Kenapa harus dia yang meminta maaf.

Rio hanya menatap kepergian Allen yang perlahan melanjutkan perjalanannya lagi. Rio tidak mengikutinya lagi. Ia takut kalau dia mengejar Allen, akan membuat gadis itu semakin terpuruk. Rio mencengkram erat kedua tangannya sekali lagi ia mencoba menahan segala emosinya. Ia bahkan lupa memfikirkan keadaan anaknya.
*****
Rio membalikkan badannya dan berjalan untuk kembali menuju rumah sakit fikirannya masih terus terfikirkan gadis tadi. Ia benar-benar merasa sangat bersalah sekali. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat jam dinding besar yang dilihat oleh gadis SMA tadi. Rio menatap terus jam dinding itu.

“Sudah mama bilang kalau hari ini kita akan pergi ke semarang!! Keretannya akan berangkat 10 menit lagi!! Bagaimana kamu bisa lupaa!! “

“ayo cepat jalannya adek!! Kita bisa ketinggalan kereta”

DEGGHH

Rio langsung memutar badannya menghadap ibu-ibu yang sedang sibuk memerahi anaknya tadi. Fikiran Rio langsung tertuju kepada gadis SMA itu.

“Tidak mungkin”

Dengan cepat Rio berlari ke jalanan yang dilewatinnya tadi bersama gadis SMA itu. Rio tidak peduli dengan kaki kanannya yang masih terasa sakit. Ia hanya harus secepatnya memastikan bahwa gadis itu tidak apa-apa.
Rio berhenti sebentar, mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Bajunya sudah basah akibat keringatnya. Mata Rio melihat sebuah tanda lalu lintas kuning bergambarkan kereta Api. Rio pun melanjutkan larinya lagi. Ia harus secepatnya menemukan gadis itu.
*****
Nafas Rio tersenggal-senggal akibat kelelahan berlari sejauh 3 km. Rio kini sudah berada di daerah kawasan rel kereta Api. Rio mengedarkan seluruh pandagannya mencoba mencari gadis tadi. Namun, ia sama sekali tidak menemukannya.
Tidak berapa lama kemudian, Rio mendapati seorang gadis duduk ditengah Rel, dan saat itu juga Rio melihat sebuah Rel berjalan dari arah lain.

“HEYYY!!! JANGAN DUDUK DISANAAA!!! “ teriak Rio dengan keras. Rio sekali lagi harus berlari di usianya yang sudah berumur. Rio sedikit mengumpati dirinnya sendiri karena tenagannya sudah tidak sama seperti dulu lagi. Rio mencoba sekencang mungkin berlari.

“HEYYY!!! LARI DARI SANA !! KERETA AKAN DATANG! “teriak Rio sekali lagi lebih keras. Namun, gadis itu tetap duduk sambil menatap nanar ponselnya.

“HE—“ teriakkan Rio langsung terhenti saat kereta tersebut melintas begitu saja. Ternyata kecemasan Rio terlalu berlebihan. Kereta tersebut tidak melintas di rel yang diduduki oleh gadis ini. Lebih tepatnya di sebalah gadis tersebut.

Rio menghembuskan nafasnya, rasanya seperti baru saja nyawanya di cabut dan dikembalikkan lagi. Rio berjalan mendekati gadis itu dengan langkah lemas.

“Apa yang kamu lakukan disini? Kamu ingin bunuh diri?” tanya Rio kepada gadis tersebut. Gadis itu mendongakkan kepalannya dan menatap Rio dengan tatapan sendu.

“Kenapa Om disini??”

“Lalu? Kamu sendiri kenapa disini?” tanya Rio kembali. Gadis tersebut menyunggingkan senyumnya sesaat. Senyum yang tergambar begitu menyedihkan. Rio mengernyitkan keningnya tidak mengerti kenapa gadis ini malah tersenyum.

“Ini bukan kesalaahan Om atau anak Om” lirih gadis itu lemas.

“Apa maksud kamu?” tanya Rio tidak mengerti. Gadis itu langsung menyerahkan Iphone.nya kepada Rio dan Rio pun seperti orang binggung dan tetap menerimannya saja.

Rio melihat layar ponsel gadis itu, disana terdapat satu pesan yang terbuka. Rio pun dengan seksama membaca pesan tersebut.

“Allen, ketika kamu melihat pesan ini. Mungkin Mama, Papa, dan Boy sudah tidak ada di dunia. Maafkan kami Allen, Kami memilih untuk mengakhiri hidup kami. Papa kamu mengalami bangkrut. Kita tidak punya apa-apa sekarang. Sepeserpun uang kami sudah tidak punya. Besok Rumah dan isi-isinya disita oleh bank. Kami terlalu takut untuk memberitahu kepadamu. Kami takut tidak bisa membahagiakan kamu. Kamu anak yang cerdas, kamu anak yang cantik. Kamu harus bisa terus bertahan hidup. Kamu harus bisa menggapai cita-cita kamu. Maafkan Mama dan Papa kamu ini. Maafkan kami Allen. Kami sangat minta Maaf. Kami harus pergi. “

Rio hanya bisa mematung seketika setelah melihat isi pesan tersebut. Bagaimana bisa kedua orang tua gadis ini melakukan hal yang seperti ini. Rio mengarahkan pandangannya ke arah gadis tersebut. Dilihatnya gadis itu menundukkan kepalannya dan tubuhnya bergetar. Dapat Rio pastikan gadis itu menangis.

****
Allen dengan cepat menghapus air matannya. Ia berdiri dari tempat duduknya sekarang. Ia membersihkan rok seragamnya yang kotor terlebih dahulu. Setelah itu Ia menatap Rio yang masih saja berdiri di depannya.

“Om bisa bawa handphone saya sebagai bukti ke polisi bahwa anak Om tidak bersalah” ujar Allen kepada Rio. Setelah itu Allen memilih untuk segera beranjak dari sana meninggalkan Rio.

“Mau kemana kamu?” tanya Rio dan membuat Allen memberhentikkan langkahnya.

“Tenang saja Om. Saya tidak bodoh dan pengecut seperti Mama dan Papa saya” ujar Allen tanpa menatap wajah Rio.

“Papa kamu masih ada di ICU” Allen terdiam cukup lama. Otaknya seolah sedang berfikir jawaban apa yang harus ia berikan kepada Rio.

“Suruh saja dokter melepaskan semua alat medisnya. Papa saya ingin meninggal kok Om” jawab Allen dengan nada bergetar.

“Apa yang kamu katakan? Dia papa kamu!!” Rio berjalan menghampiri Allen.

“Ayo kita kembali kerumah sakit!!” ajak Rio dengan nada sedikit memaksa.

“Buat apa ?”

“Dia papa kamu!! Papa kamu sedang sekarat”

“Apa yang harus saya lakukan Om? “ perlahan air mata Allen kembali menetes. Ia menundukkan kepalannya.

“Saya merasa keluarga saya begitu rendah. Saya tidak tau kemana saya harus pergi. Apa yang harus saya lakukan sekarang. Hanya mereka satu-satunya keluarga saya. Tapi kenapa mereka melakukan semua itu.” Allen perlahan menghapus air matannya sendiri. Ia mencoba untuk tidak menangis.

“Maafkan keluarga saya, keluarga saya yang salah. Keluarga saya sudah membuat Om bersalah dan harus menanggungnya. Saya benar-benar minta maaf”

“Kenapa kamu minta maaf? Ini adalah kesalahan anak saya. Anak saya yang menabrak mobil keluarga kam—“

“Meskipun anak om yang menabraknya. Saya tidak akan menuntut atau menyalahkan kok Om. Sekali lagi saya minta maaf”

“Apa yang kamu ucapkan? Kenapa kamu terus meminta maaf? Ini bukan kesalahan kamu !!“ sahut Rio sedikit frustasi dengan segala ucapan gadis SMA ini.

“Sebaiknya kamu ikut saya. Kita lihat keadaan Papa kamu “ ajak Rio dan langsung menggiring Allen yang mau tidak mau harus mengikuti Rio.

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s