D3STINY OF LOVE AND LIFE – 4

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 4
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s ”

*****

Rio dan Allen berjalan ke ruang ICU dengan tergesa-gesah, karena dokter meminta mereka berdua untuk bertemu dengan pasien yang sedang sekarat lebih tepatnya adalah Papa Allen. Sebelum masuk, mereka harus memakai pakaian rumah sakit yang diberikan oleh seorang suster.
Setelah memakai pakaian tersebut, mereka berdua memasuki ruang ICU. Allen membeku beberapa saat diambang pintu, ia terlihat tidak berani untuk masuk kedalam. Ia tidak ingin melihat suatu yang buruk lagi. Rio membalikkan badanya, perlahan ia mendekati Allen.

“Kenapa kamu berhenti?”

“Saya takut Om:” lirih Allen pelan

“Tidak apa-apa. Ayo” ajak Rio dan menggiring Allen. Dengan sisa keberaniannya Allen mengikuti Rio.

Allen dapat melihat Papanya yang kesakitan dan dalam keadaan setengah sadar. Papa Allen menatap Allen dengan tatapan sendu dan air mata yang terus mengalir. Melihat Papanya seperti itu, Allen sendiri tak kuasa menahan tangisannya.

“Pa—, Papa” lirih Allen dan lebih mendekati Papanya.

“A—, All—, Alle, Allen” lirih Pak Bohra dengan nada tak beraturan.

“Iya Pa, ini Allen. Ini Allen Pa” jawab Allen dengan tubuh yang masih bergetar.

“Ma—, Ma—, Maaf—, Maafkan—, Pa—, PaPa, Pa—“

“Papa jangan banyak bicara. Sudah papa diam saja. Allen memaafkan papa, Mama, Tapi mohon Papa bertahan “

Mata Pak Bohra mulai bergerak ke arah Rio, Pak Bohra baru menyadari adanya pria paruh baya seusiannya tersebut. Rio mulai binggung saat sepasang matanya bertatapan dengan kedua mata Pak Bohra.

“An—, Anda, Si—, Siapa?” tanya pak Bohra dengan segala usahannya ia mengeluarkan suarannya. Rio diam untuk beberapa saat. Ia menyiapkan mentalnya sebelum menjelaskan kepada lelaki didepannya itu.

“Say—, Saya Rio. Saya adalah ayah dari anak yang menabrkan keluarga anda. Saya benar-benar minta maaf atas nama anak saya. Saya minta maaf. Saya sangat minta maaf” Pak Bohra menatap Rio dengan tatapan miris.

“Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan anak saya, saya tidak akan lari dari hukum. Saya akan melakukan proses ini sesuai dengan hukum yang ada di negara ini. Bahkan say—“

“Say—, saya—, ti—, dak—, akan, men—, men—, menunt—, ut, ap—, apap—,pun, da—, dari an—,da. Ta—, Tapi, bi—, sak—ah, and—,anda, Ber—, ber—jan—, janji—“ Nafas Pak Bohra mulai tercekat, dokter yang stand by disana pun dengan cepat memeriksa kondisi Pak Bohra. Rio sendiri langsung kaget dan binggung, apalagi Allen yang semakin menangis.

“Pa sudah jangan bicara terus!! Sudah cukup!! Papa harus selamat!!! “

“Dok. Cepat tolong dia dok!! Dok” panik Rio.

“To—,long, and—, anda, ber—,jan—,ji, Ja—,ga, An, —, anak, sa—ya. ja—, Jaga, All—, Allen” lanjut Pak Bohra dengan segala sisa kekuatannya. Rio langsung mengangguk dengan cepat.

“Saya berjanji kepada anda. Saya akan menjaga anak anda, saya akan menggangapnya anak saya sendiri. Saya akan bertanggung jawab penuh. Tapi tolong selamatkan nyawa anda dulu”

“Papa!!!” teriak Allen melihat Papanya yang tiba-tiba menyemburkan darah segar dari mulutnya. Kedua mata pak Bohra melotot lebar, nafasnya tak beraturan. Tubuhnya perlahan mulai kejang-kejang.

“Tolong anda keluar dari sini dahulu. Cepat!!” ujar salah satu dokter yang ada disana. Rio pun langsung menyeret Allen.

‘PAPA!!! PAPA HARUS SELAMAT!! CUMA PAPA SATU-SATUNYA YANG ALLEN PUNYA!!PAPA HARUS SELAMATT!! “

“PAPAAA!!!!” teriak Allen yang terus menerus memberontak dan ingin tetap berada di ruang ICU.
****
Allen langsung dibawah ke kamar rawat saat ia mendengar berita papanya tak bisa diselamatkan juga. Allen tiba-tiba saja pingsan di depan ruang ICU. Mungkin kondisi gadis itu benar-benar sudah sangat lemah. Bagaimana tidak? Ia harus kehilangan tiga anggota keluargannya sekaligus. Bahkan ia harus menerima bahwa dia sudah tidak punya siapa-siapa.
Rio hanya bisa duduk lunglai di depan pintu ruang rawat Allen saat ini. Setelah mengecek kondisi Allen sebentar di dalam Rio langsung memilih keluar saja. Baginya melihat wajah menderita gadis itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Oh, Tuhan !! apa yang baru saja terjadi”

Suara gemuruh langkah terdengar mengarah ke tempat dimana Rio duduk sekarang. Rio perlahan menolehkan kepalannya melihat siapa pemilik langkah-langkahtersebut.

“Yo, lo nggak apa-apa kan??:

“Kak,. Kakak nggak ada yang luka? “

“Om? Om nggak apa-apa kan? Om nggak ada cedera kan?”

Alvin, Sivia dan Ara langsung datang kerumah sakit setelah mendengar kabar kecelakaan Rio dan Bima, mereka langsung melesat dari tempat pesta dan membuat pesta ulang tahun Ara langsung dibatalkan begitu saja.

“Vin—“ lirih Rio lemas.

“Kenapa Yo? Ada apa? Apa lo kesakitan? Apa perlu gue panggilkan dokter?”

“Lo bilang saja Yo. Apa ada yang sakit?” panik Alvin melihat kondisi sepupunya yang seperti tak bertenaga.

“Ap—, Apa yang harus gue lakuin? Ap—, Apa, Apa??” Rio tertunduk lemah. Semuanya menjadi hening. Baik Alvin, Sivia dan Ara hanya bisa terdiam melihat Rio yang tiba-tiba meneteskan air mata seperti itu.

“Yo. Apa yang terjadi? Kenapa???”

“Se—, semua—, semua korban—, meninggal Vin” isak Rio pelan. Rio tak bisa menyembunyikkan semua rasa bersalahnya walaupun pada kenyataanya bukan dia yang menabrak atau menyetir mobil tersebut.

Alvin, Sivia dan Ara langsung terpelonjat kaget, Ara menutup mulutnya yang terus membuka dengan kedua tangannya. Mereka tak bisa berkata apapun. Mereka ingin tidak mempercayai semuannya. Namun, Rio tidak mungkin berbohong pada situasi yang mencekam seperti ini.

“Yo—“ lirih Alvin pelan. Ia segera berjongkok mencoba menyamai tubuh sepupunya ini.

“Semuanya akan baik-baik saja. Pasti. Semua ak—“

“Apa yang baik-baik saja Vin?? Anak kecil itu berlumuran darah, wajahnya sudah tidak berbentuk, Ibu.nya? bahkan sudah tewas di tempat. Dan suaminya sekarat di ICU dan—, gu—, gu—“

“Tenang yo. Tenangkan fikiran lo “ Alvin menepuk-nepuk pundak Rio. Ia mencoba memberikan ketenangan pada pria di depannya ini. Rio sendiri sudah tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya lagi.

“Om, Kak Bima barusan tersadar loh. Dia mendapatkan 5 jahitan di pel—“

Ketika nama Bima keluar dari mulut Ara beberapa detik yang lalu, Rio langsung terpelonjat dan segera berdiri dari tempat duduknya. Rio menghapus air matannya dengan cepat.

“Dimana dia sekarang??” tanya Rio dengan tatapan tajam. Ara yang melihatnya langsung ketakutan.

“Ka—, Kak Bima di—, dia ruang VVIP 3 Om” jawab Ara dengan nada gemetar.

Mendengar jawaban Ara, Rio segera berlari untuk menuju kamar VVIP 3. Alvin melihat Rio yang berlari sambil meremas kedua tangannya langsung mendadak khawatir. Alvin pun secepatnya mengejar Rio.
****
Dengan dibantu Mr.Max, Bima mencoba berbaring di kasurnya. Ia sudah membaik hanya saja luka di pelipisnya masih terasa perih akibat selesai di jahit.

“Tuan tidak apa-apa?” tanya Mr.Max cemas sekali. Bima menggeleng lemas.

“Papa dimana Mr?”

“Tuan se —“

BRAAAAKKKK

Suara gebrakan keras pada pintu kamar rawat Bima membuat Bima, Mr.Max dan 3 pengawal yang berjaga langsung terpelonjat kaget. Bima melihat Papanya yang masuk kedalam kamar rawantnya dengan wajah penuh amarah dan berjalan ke arahnya.

“Pa—“

“APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN!!!!” belum selesai Bima meneruskan kata-katannya. Tiba-tiba Rio langsung menarik kerah baju Bima dengan kuat dan penuh amarah. Hal itu langsung membuat Bima ketakutan setengah mati. Karena dalam seumur hidupnya, baru kali ini Ia melihat Papanya marah bahkan kemarahannya adalah karenannya.

“Tuan —“ Mr.Max mencoba ingin melerai namun ia tidak cukup berani melakukannya. MataRio menatap Bima benar-benar tajam sekali. Sedangkan Bima, mencoba mengalihkan tatapannya. Bima binggung dengan keadaannya saat ini dan tidak tau kenapa Papanya sangat marah besar kepadannya. Namun, ia mencoba menebak pasti terjadi suatu yang besar akibat tabrakan tersebut.

“Yo!!! “

“Lepaskan Yo !! Lepaskan!!” Alvin yang baru saja sampai di kamar rawat Bima langsung mencoba melerai Rio. Alvin berusaha keras melepaskan kedua tangan Rio dari kerah baju Bima.

“Yo!! Lepaskan. Kasihan Bima !!!”

“YO!!! SADAR !!!! DIA ANAK LO!!” bentak Alvin keras dan membuat Rio langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Bima. Rio mengacak-acak rambutnya frustasi. Alvin menarik Rio agar duduk disalah satu kursi yang tak jauh dari kasur Bima.

Bima melihat papanya yang menunduk dengan wajah penuh kecemasan. Bima mengigit bibirnya, tangannya mulai gemetar. Ia sangat takut sekali melihat papanya marah besar seperti tadi.

“Ap—, Apa yang telah ter—, jadi. Pa?”

“Ap —, Apa yang sudah terja —di?” tanya Bima memberanikan diri. Namun pertanyaan Bima sama sekali tidak dijawab oleh Rio.

“Ma—, Maafkan, Maafkan Bima . Pa”

“Bi —ma, minta maaf. Bima tau Bima sangat salah. Bi —, Bima minta Maaf Pa” lirih Bima sangat merasa bersalah. Keadaan didalam ruangan ini benar-benar sangat panas. Mr.Max dan para pengawal pun hanya bisa diam tidak bisa melakukan apapun.

“Ba—, Bagai—, Bagaimana kea—, keadaan kor—bannya Pa?” tanya Bima sekali lagi dan memang sudah mencemaskan keadaan korban yang ia tabrak. Mendengar pertanyaan Bima kali ini membuat Rio langsung binggung, bibirnya bergerak tak menentu.

“Mer—, Mereka , Mereka selamat kan, Pa?” tanya Bima lagi. Rio menarik nafas sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya dengan cepat.

“Pa—, Papa bi—“

“Mereka meninggal semua” jawab Rio singkat padat bahkan terlalu jelas. Mendengar jawaban Papanya seperti itu. Tubuh Bima langsung melemas tak berdaya. Kini ia tahu kenapa Papanya sangat marah sekali kepadannya seperti itu. Alvin pun tidak bisa apapun selain diam saja. Mr. Max sendiri ikut terkejut mendengar ucapan tuannya.
Saat ini bukan tangan Bima saja yang gemetar, melainkan seluruh tubuhnya mulai ikut gemetar dengan sendirinnya. Kejadian tabrakan beberapa jam yang lalu mulai berputar lagi di otaknya. Bima mulai berfikir yang tidak-tidak. Ia mulai merasa bahwa dirinnya adalah seorang pembunuh.

“Mr.Max ikut saya keluar” ujar Rio tiba-tiba dan segera beranjak dari kamar rawat Bima. Mr.Max dengan cepat melangkahkan kakinya mengikuti Rio.

Alvin mendekati Bima yang mulai tidak tenang. Alvin berusaha sebisa mungkin membuat Bima untuk tidak shock dan tergunjang. Karena hal itu bisa membuat keadaan Bima menjadi memburuk.

“Semunnya akan baik-baik saja Bim. Kamu jangan takut “

“Papa kamu hanya emosi sesaat. Dia tidak akan sampai marah terus menerus kepada kamu”

“Papa kamu sangat menyanyangi kamu”
****
Rio membawa Mr.Max untuk menemui polisi yang sedari tadi memang sudah berada di ruang ICU. Rio hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini sebagaimana hukum yang berlaku.

“Apakah anda yang bernama Pak Rio?” tanya seorang polisi saat melihat kedatangan Rio.

“Iya ” jawab Rio mencoba sedikit tenang.

“Semua tuduhan sudah dicabut. Korban tidak menuntut apapun. Kami mendapatkan bukti tersebut dari ponsel sang anak gadis yang mennyatakkan bahwa mereka memang berniat untuk bunuh diri. Kami juga menemukkan rem mobil korban sengaja di blongkan oleh sang korban, Jadi anak anda tidak bersalah dalam hal ini”

“Tap—, Tapi Pak”

“Kami akan menutup kasus ini dengan secepatnya. Jadi Bapak tidak perlu khawatir lagi. Ini semua murni kecelakaan dan aksi percobaan bunuh diri.” Lanjut Polisi tersebut dan membuat Rio hanya bisa terdiam dan tidak tau harus mengatakkan apa lagi.

“Kami permisi dulu. Kami hanya ingin melaporkan ini semua. “ Polisi tersebut pun beranjak dari sana mendengarkan Rio yang masih mematung disana. Rio menghembuskan nafas beratnya.

“Om—“ Rio langsung membalikkan badannya saat mendengar suara gadis yang sepertinya memanggilnya dan benar saja Allen.lah yang memanggilnya.

“Kenapa kamu disini? Kondisi kamu ma—“ Allen tersenyum ringan dengan wajah yang terlihat masih pucat.

“Maaf sudah merepotkan Om. Saya harap Om tidak marah dengan keluarga saya. Terima kasih sudah mencemaskan saya. Sekali lagi terima kasih “

“Saya sudah tidak apa-apa Om”

“Saya permisi dulu Om. “ pamit Allen dan segera membalikkan badannya dan berjalan melangkahkan kakinya untuk menjauhi Rio.

“Kamu mau kemana?” cegah Rio dan membuat Allen memberhentikkan langkahnya. Namun ia tidak menjawab pertanyaan Rio. Wajah Allen nampak binggung sendir mendengar pertanyaan Rio. Pasalnya, ia sendiri tidak mempunyai tujuan sama sekali.

“Kamu tidak punya rumah kan sekarang ? Keluarga juga ? Kemana kamu akan pergi ??” Rio perlahan menghampiri Allen.

“Saya tidak tau kenapa kamu terus meminta maaf padahal kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Dalam keadaan ini, anak saya juga bersalah dan saya sangat merasa bersalag kepada kamu dan keluarga kamu. Anak sayalah yang menabrak mobil keluarga kamu”

“Dan, sebelum papa kamu meninggal, saya sudah berjanji kepadanya bah—, bahwa saya akan menjaga kamu dan melindungi kamu” Allen membalikkan badannya perlahan dan memberanikan diri menatap ke arah Rio yang sudah berdiri dibelakangnya.

Allen menyunggingkan senyum ringan.

“Terima kasih Om. Saya tidak perlu dikasihani. Saya bisa hidup sendiri kok Om“

“Saya nanti hanya akan menjadi beban bagi Om dan keluarga Om. Lebih baik saya melakukannya sendiri. Saya tidak ingin merepotkan siapapun” jawab Allen dengan senyum terpaksannya.

“Saya tidak merasa di repotkan, saya hanya ingin mempertanggung jawabkan apa yang sepantasnya saya pertanggung jawabkan”

“Saya sudah berjanji dengan Papa kamu. Saya tidak akan menghianati Papa kamu dan mengingkari janji yang sudah saya ucapkan. “

“Tap—“

“Tidak ada tapi-tapian untuk kali ini. memangnya kamu akan pergi kemana? Kamu akan tidur dimana?? Apakah kamu ingin menyiksa dirimu sendiri ?? Kamu ingin mengakhiri hidupmu juga ?? Saya tidak akan membiarkan hal itu”

“Kamu masih anak gadis, diluar sana sangat berbahaya. Kamu masih punya masa depan yang bagus. Jangan pernah membuat pilihan yang bisa membuatmu dalam keadaan terdesak padahal disisi lain kamu sudah mendapatkan jawaban dari kesusahanmu itu”

“Jadi saya mohon, Kamu ikut dengan saya”

“Sa—“

“Tolonglah. Ini demi amanah dari Papa kamu. Apakah kamu senang melihat Papa kamu akan sedih disana melihat kondisi kamu seperti ini ??” Allen langsung terdiam tidak bisa membantah lagi.

“Mereka akan bahagia jika melihat kamu bisa hidup lebih baik. “

“Tolong Tinggallah bersama saya . Anggap saya adalah keluarga baru kamu. “

“saya bukanlah orang jahat. Saya tidak akan melakukan hal jahat kepada kamu. Saya hanya ingin membalas kebaikan kamu. Mempertanggung jawabkan semuannya dan melaksanakan amanah dari papa kamu”

“Kamu mau kan tinggal bersama keluarga saya??”

Allen menundukkan kepalannya, entah mengapa air matannya kembali menetes. Ia merasa seperti tidak punya harapan apapun lagi. Ia merasa bahwa dirinnya begitu memiriskan dan sangat perlu dikasihani.

“Saya mohon. Tinggallah bersama keluarga saya” mohon Rio sekali lagi.

“Te—, te, Terima kasih Om. “

“Te—, terima. Kasih atas kebaikkan Om.” isak Allen yang mulai memecah. Melihat Allen yang menangis seperti itu membuat Rio tak tega, Rio pun segera memeluk gadis kecil ini dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggung Allen mencoba memberikan ketenangan.

“Jangan menangis. Jiwa keluarga kamu pasti sudah bahagia disana. Mereka pasti sangat senang melihat kamu mendapatkan keluarga baru. Anggap saja saya adalah Papa baru kamu. Jangan menangis Allen”

“Sudah jangan menangis. Om benar-benar minta maaf”

‘Maafkan anak om yang sudah membuat Keluarga kamu meninggal”

“Om benar-benar minta maaf. Berilah Om dan keluarga Om kesempatan untuk membalas semuannya dan membuat kamu bahagia”

Alleng semakin terisak, ia hanya bisa mengangguk-angguk lemas mendengar segala pernyataan yang keluar dari bibir Rio. Setidaknya ia merasa sedikit beruntung ada orang yang mau mengasihininnya.
*****
Allen menyiramkan bunga terakhirnya di makam Mama, Papa, dan adikny. Allen menahan agar air matannya tidak mengalir lagi. Ia sudah banyak menangis sejak kemarin. Allen perlahan menciumi satu persatu nisan Mama, Papa dan Adiknya.

“Mama. Papa, Boy. Semoga kalian tenang disana”

“Allen minta maaf jika selama ini Allen tidak bisa membahagiakkan kalian. Allen benar-benar minta maaf”

“Allen sayang kalian semua”

Rio yang menemani Allen disana hanya bisa diam tidak mengatakkan apapun. Ia sebenarnya tidak tega melihat Allen yang terus menangis. Rio merasa sangat kasihan melihat Allen yang sudah menjadi anak yatim piatu dan tidak punya siapapun.
Allen perlahan mulai berdiri, membersihkan tangannya yang kotor akibat menyentuh tanah dibawahnya.

“Ayo Om” ujar Allen kepada Rio.

“Kamu duluan saja ke Mobil. Om masih ingin bicara dengan keluarga kamu” Allen mengangguk ringan dan perlahan berjalan menjauhi Rio dan makan keluargannya.

Sepeninggalan Allen, kini giliran Rio menyiram air pada tanah makam didepanya. Rio menyiramkannya dengan perasaan yang getir dan rasa bersalahnya meluap kembali dengan sendirinnya. Setelah selesai menyiramkan air. Rio terdiam kembali, ia seperti sedang merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan.

“Papa Allen, Mama Allen dan Adik Allen. Saya benar-benar meminta maaf kepada anda semua. Atas nama anak saya, saya benar-benar meminta maaf karena sudah membuat nyawa kalian semua menjadi taruhannya. “

“saya benar-benar minta maaf dengan tulus. Tolong maafkan saya dan anak saya” Rio menghembuskan nafas beratnya beberapa kali sebelum melanjutkan ucapanya lagi.

“Sebagai pertanggung jawaban dari saya, saya berjanji kepada anda semua. Saya akan menjaga Allen dengan baik “

“Saya janji, saya akan menganggap Allen seperti anak gadis saya, saya akan membahagiakannya selama sisa hidup saya. Saya akan membuat anak anda bahagia dan tidak akan merasa sedih kembali”

“Saya akan menepati janji saya kepada anda.”

“Sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga anda semua bisa tenang disana. Semoga anda bisa melihat bahwa Allen akan menjadi anak yang hebat yang bisa ceria kembali”

Setelah menyelesaikan pernyataanya, Rio pun beranjak dari sana untuk menyusul Allen yang sudah berada duluan di dalam mobil. Hati Rio mulai sedikit legah, ia bisa mengungkapkan semua rasa bersalahnya secara pribadi dan langsung. Meskipun rasa bersalah tentu masih terus menyelimutinya. Dan yang harus ia lakukan saat ini adalah membahagiaan gadis tak bersalah itu.
****
Rio memilih tinggal beberapa hari di Indonesia karena ia menunggu sampai Bima benar-benar sembuh. Akibat kejadian tersebut Bima sedikit mengalami depresi dan ketakutan. Untung saja hal tersebut langsung bisa diatasi dan tak sampai membahayakan kondisi Bima.
Rio membantu Allen memasukkan memindahkan koper-kopernya masuk kedalam rumahnya. Lebih tepatnya rumah yang dulunnya ia tinggali bersama Ify dan Bima. Mulai hari ini Allen akan tinggal bersama Rio dan Bima disini selama di Indonesia. Rio belum memfikirkan kedepannya apakah ia akan mengajak Allen ke prancis atau membiarkan Allen di Indonesia dan menempati rumahnya ini. Rio masih memfikirkanya. Rio benar-benar sudah menganggap Allen sudah seperti anaknya sendiri dan hal itu sedikit membuat Allen merasa tidak enak.
Allen mencoba menerima semua kenyataan yang menimpahnya saat ini walaupun terkadang setiap kali ia mengingat keluarga yang sangat ia cintai pasti ia akan menangis. Allen merasa sangat merindukkan mereka.
Rio sudah melihat semua profil lengkap tentang Allen dari orang suruhannya, Rio merasa beruntung bahwa ia dapat memasukkan gadis ini ke dalam keluargannya. Rio kagum dengan kepintaran dan perilaku baik gadis ini.

“Apakah ada yang masih tertinggal?” tanya Rio saat meletakkan koper terakhir Allen di kamar yang dulunnya ditempati oleh Alyn. Allen menggeleng canggung. Ia merasa masih sedikit asing dengan Rio dan rumah ini.

“Kamu tidak perlu malu-malu atau canggung seperti itu. Anggap saja ini rumah kamu sendiri”

“I—, Iya, Iya Om” jawab Allen gugup.

“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Rio kepada Allen. Nada Rio terlihat begitu senang sekali. Allen menatap Rio yang sedang tersenyum ke arahnya.

“te—, terserah Om saja” jawab Allen seadannya. Rio mencoba berfikir sejenak.

“Bukankah kamu suka dengan makanan sea food?” Allen mendongakkan kepalannya sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rio.

“Ba—, Bagaimana Om bisa tau?” kaget Allen tak percaya.

“ Saya tau semua tentang kamu. Kamu siswa SMA ARWANA, kamu mendapatkan peringkat paralell berturut-turut mulai dari semester 1 sampai 5. Kamu sangat terkenal sekali ternyata disana” Allen mengernyitkan keningnya, mulai aneh dengan Rio yang mengetahui segala tentangnya.

“Om memata-matai saya?” tanya Allen lugu. Rio terkekeh ringan.

“Saya hanya mencari profil singkatmu saja. Saya dan istri saya dulu adalah lulusan dari sana, bahkan anak saya pun dulunya adalah murid disana namun tidak meneruskannya karena pindah ke prancis. “ Allen mengangguk-anggukan kepalannya mulai mengerti.

“Lalu? Dimana istri om sekarang??” tanya Allen yang sedikit penasaran. Mendengar pernyataan Allen, membuat Rio tersenyum sedikit miris.

“Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Itulah alasan kenapa saya dan anak saya memilih pindah ke prancis” jawab Rio dengan nada sendu. Seketika itu Allen langsung merasa sangat bersalah.

“Ma —, Maafkan Allen Om. Allen tidak tau. Sekali lagi Maafkan Allen” ujar Allen sangat bersalah dan merasa tak enak. Rio menatap Allen dan tersenyum.

“Tidak apa-apa Allen. Toh, cepat atau lambat kamu harus mengetahuinya. Kamu sudah bagian dari keluarga ini”

“I —, Iya om. Sekali lagi Allen minta maaf sebesar-besarnya. Allen minta ma —“

“Bisakah kamu berhenti mengucapkan Maaf terus? Itu terdengar sangat aneh” potong Rio

“Hehhe. Sudah kebiasaan om. Ma—“

“Allen!!”

“Iya om. Maaf—, eh. Iya maksud saya—mmmm. Saya akan mencobannya” gugup Allen, karena baginya meminta maaf adalah hal yang selalu ia lakukan, walaupun ia tidak bersalah. Allen selalu berusaha mengucapkan kata maaf karena ia takut bahwa ia akan membuat sakit orang lain.
Rio mengangguk-anggukkan kepalannya. Ia menatap Allen sebentar. Merasa aneh dengan gadis ini yang sama sekali tidak mengenalnya atau pun Bima. Padahal dia adalah murid di SMA ARWANA, seharusnya ia pernah mendengar sejarah tentang dirinya mungkin? Atau tidak Ify yang memang sangat terkenal di SMA ARWANA saat dulu.

“Mmmm. Allen, Ap—, Apakah kamu tidak mengenal saya?” tanya Rio hati-hati, Allen langsung mengeryitkan keningnya heran dan bingung ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu.

“Mengenal? Bukanhkah kita baru saja bertemu kemari-kemarin?”

“ Atau kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Atau Om orang yang terkenal?” tanya Allen benar-benar polos sekali.

“Karena saya juga sempat merasa binggung, setiap kali Om keluar pasti selalu diikkuti pengawal dan bodygard. “ lanjut Allen dengan nada seperti menerawang. Rio tersenyum ringan mendengar pernyataan dan pertanyaan Allen.

“Sudahlah lupakan. Lebih baik sekarang kamu ikut dengan Om menjemput anak Om yang ada dirumah sakit”

“Anak Om?”

“Kamu belum bertemu dengannya bukan? Om harap saat kamu bertemu dengannya. Kamu tidak menyimpan dendam kepadannya dan mau memaafkannya” Allen menggeleng pelan dan menunjukkan senyum tulusnya.

“Allen bukan pendendam kok Om. Allen sudah memaafkan anak om. Allen tidak menyalahkan anak Om” Rio menghelakan nafas panjangnya.

“Bagaimana kamu bisa menunjukkan ekspresi setenang itu? Apakah kamu tidak sakit hati? Atau marah karena keluargamu ti —“

“Seperti yang Allen bilang kemarin Om, semarah apapun saya, sebenci apapun saya pada siapapun, itu tidak akan merubah apapun bahwa keluarga saya tidak ada yang selamat. Jadi, saya mencoba mengikhlaskannya saja. Walaupun, saya merindukan mereka” Rio mendekati Allen dan menepuk-nepuk pundak Allen agar gadis ini tidak menangis.

“Kamu gadis yang baik” Allen menyunggingkan senyumnya sekali lagi

“Saya hanya mencoba untuk membuat orang lain tidak terbeban karena saya sendiri sangat takut jika ada orang lain yang benci dengan saya”

“Kamu benar-benar gadis yang baik sekali Allen”

“terima kasih Om. Om juga sangat baik bahkan melebihi baik”

“Terima kasih Om sudah mau membawa Allen kemari dan mau merawat Allen”

“Itu sudah menjadi tanggung jawab Om, Allen. Kamu pantas mendapatkannya.”
****
Rio dan Allen sudah tiba dirumah sakit sejak 30 menit lalu. Rio saat ini sedang memeriksa hasil laporan perkembangan keadaan Bima dari dokter pribadi Bima dan psikolog yang menangani Bima beberapa hari ini. sedangkan Allen menunggu Rio di ruang tunggu.

“Jadi. Bima sudah benar-benar sembuh total?” tanya Rio masih perlu memastikan.

“Sudah Pak. Bapak tenang saja, Bima tidak sampai depresi yang benar-benar parah. Dia hanya sedikit shock dengan kejadian kemarin. Kondisinya sudah pulih dan membaik sejak kemarin. Dan dia bisa dibawa pulang hari ini”

“Depresinya itu tidak akan kembali lagi bukan? Atau menganggu aktivitas bahkan kesehatannya”

“Tenang saja Pak, kami sudah memastikan dengan benar-benar. Bahwa Bima sudah tidak apa-apa. Bahkan untuk bisa kembali bekerja, keadaan Bima sudah mendukung sekali.”

“Baiklah, terima kasih banyak dok atas segala bantuannya”

‘Sama-sama Pak. Saya merasa sangat senang dan tidak merepotkan sudah membantu anda”

Rio menjabat tangan dokter tersebut terlebih dahulu, lantas ia beranjak dari sana untuk menjemput Allen di ruang tunggu setelah itu menuju ke kamar rawat Bima
****
Rio berjalan beriringan dengan Allen menuju ke kamar rawat Bima, wajah Allen terlihat sedikit takut. Entah mengapa ia tidak berani untuk bertemu dengan orang yang sudah menabrak keluargannya. Walaupun sebenarnya ia sama sekali sudah tak dendam atau sebagainya.

“Om” panggil Allen tiba-tiba dan memberhentikkan langkahnya. Rio pun ikut meghentikkan langkahnya.

“Ya?”

“Allen mau beli bunga di depan rumah sakit dulu. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa” ujar Allen mencoba untuk mencari alasan. Ia sebenarnya hanya ingin menyiapkan mentalnya beberapa saat.

“Sepertinya tidak perlu Allen, lagian kita bukan menjenguk anak Om, melainkan kita menjemputnya untuk dibawah pulang” jelas Rio.

“Tidak apa-apa Om, ini juga pertemuan pertama Allen dengan anak Om. Allen hanya ingin memberi sedikit hadiah atas kesembuhannya” Rio tersenyum ringan, ia sudah kehabisan kata-kata untuk memuji kebaikkan dan perilaku dari gadis ini.

“Yasudah terserah kamu. Apakah kamu bawa uang?” tanya Rio yang bersiap mengeluarkan dompetnya

“Ada kok Om. Allen pergi dulu ya nanti Allen nyusul” jawab Allen dan segera pergi dari hadapan Rio sebelum Rio memberinya uang. Rio hanya bisa geleng-geleng melihat Allen yang sudah pergi secepat kilat

“Allen, Allen. Kamu benar-benar gadis yang sangat baik dan kuat”

Rio pun mulai melanjutkan langkahnya lagi untuk menuju kamar rawat Bima.
*****
Rio memasuki kamar rawat Bima. Dilihatnya Bima sedang berdiri menatap kearah luar jendela. Bima sudah memakai baju santai dan siap untuk pulang hari ini. Mr.Max pun sedang membantu pengawal untuk membawakan barang-barang Bima keluar.
Rio memberikan aba-aba kepada Mr.Max dan pengawal-pengawal lainnya agar segera membereskan dengan cepat dan meninggalkan ruangan ini. Rio ingin mengajak bicara Bima berdua.
****
Setelah kamar rawat Bima sudah kosong dan hanya tinggal Rio dan Bima, Rio mulai berjalan mendekati sang anak. Bima yang terlalu fokus ke luar jendela melihat pemandangan pagi ini tidak sadar bahwa Rio sudah datang.

“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Rio sambil menepuk pundak Bima. Bima nampak terkejut dan menoleh ke arah samping dan mendapati Rio sudah disebelahnya.

“Sudah membaik kok Pa” jawab Bima dengan menyunggingkan senyuman ringannya.

“Pa—.”panggil Bima dengan nada yang sedikig gugup.

“Why?” balas Rio tanpa menoleh ke arah anaknya.

“Ma—. Maafkan Bima. Bima merasa sangat bersalah kepada Papa, dan juga korban. Bima minta maaf Pa.”

“Semuanya sudah berlarlu. Anggap sebagai pelajaran dikedepannya” Bima mengangguk-anggukkan kepalannya.

“Tapi Papa masih merasa sangat bersalah, seharusnya Papa melarang kamu menyetir waktu kemarin. “ sesal Rio. Bima menatap Papanya bersalah.

“Semuanya salah Bima bukan Papa, andai saja Bima tidak mengambil ponsel Bima yang jatuh mungkin kecelakaan itu tidak terjadi”

“Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita harus bisa membalas kesalahan kita dengan menjaga anak gadis dari korban. Papa sudah berjanji kepada Papa gadis itu akan menjaga gadis itu seperti anak Papa sendiri dan papa harap kamu juga akan ikut menjaga gadis itu” Bima mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud Papanya.

“Kata Papa semua korban meninggal?” tanya Bima sedikit binggung.

“Dia adalah anak gadis yang tidak ada dikejadian kecelakaan. Gadis itu tiba-tiba datang setelah pulang sekolah saat setelah kejadian kecelakaan tersebut. Dia gadis yang baik sekali. Bahkan saat Papa mengatakkan bahwa kamu yang menabrak mobil keluargannya, dia sama sekali tidak meluapkan amarahnya dan hanya menangis. Dan hal itu semakin membuat Papa merasa bersalah kepadannya. Sangat bersalah sekali”

“Lalu? Dimana gadis itu sekarang?”

“Papa membawanya pulang kerumah kita. Papa sudah berjanji kepada almarhum keluargannya dia akan menjaga dan membahagiakan gadis itu. Gadis itu sekarang tidak punya siapa-siapa, dan hanya hidup sendiri. Kita harus membalas semua kesalahan kita Bim”

“Bima janji Pa, Bima akan menebus kesalahan Bima. Bima akan menjaga gadis itu seperti saudara Bima sendiri. Bima akan membahagiakannya seperti adik kandung Bima. Pa. Bima janji akan membuat dia bahagia.” Ujar Bima dengan penuh keyakinan. Mendengar ucapan Bima seperti itu membuat Rio tersenyum sedikit canggung.
Rio perlahan menghadapkan tubuhnya ke arah Bima, Rio menepuk pundak Bima pelan lalu ia mengambil nafas sedalam-dalamnya terlebih dahulu sebelum menyahuti ucapan Bima.

“Bukan sudara ataupun adik. Tapi Papa ingin kamu menikah dengannya”

Bersambung . .. .

2 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s