D3STINY OF LOVE AND LIFE – 5

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 5
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s ”

*****

Allen kembali ke dalam rumah sakit, ditangan kanannya ia sudah memegang sebuket bunga mawar putih. Ia sangat berharap bahwa anak dari Om Rio tersebut akan suka. Allen menaiki lift untuk menuju kamar VVIP yang berada di lantai 5.
Setelah keluar dari lift, Allen mencari kamar Bima yaitu VVIP 3 . Tanpa mencari susah-susah Allen sudah dapat menemukannya, karena ia melihat banyak pengawal-pengawal disalah satu kamar pasien dan menurut Allen itulah kamar dari yang akan ia tuju.
Allen merasa sedikit canggung dan takut karena pengawal-pengawal ini menatapnya tanpa ekspresi. Namun Allen mencoba memberanikan diri dan berjalan menuju ambang pintu kamar rawat Bima.

“Silahkan masuk Non” ujar Mr.Max menyapa Allen.

“Ahh, iya Pak” jawab Allen sedikit kaget.

“Jangan panggil saya Pak. Panggil saja saya Mr.Max” Allen mengangguk-angguk ringan.

“Saya tinggal dulu ya non” pamit Mr.Max pamit dan menyuruh seluruh anak buah yang ada di depan pintu tersebut mengikutinya. Mr.Max hanya tidak ingin membuat Allen yang sepertinya terlihat takut.

Allen masih mematung saja didepan setelah melihat kepergian Mr.Max dan pengawal-pengawal lainnya. Allen menarik nafasnya lalu menghembuskannya, ia melakukannya selama 3 kali. Setelah merasa dirinnya sudah tenang, Allen perlahan ia membuka pintu kamar tersebut tanpa mengelurkan suara.

“Bagaimana keadaan kamu?” Allen melihat Rio dan Bima berdiri bersampingan di depan jendela dan sedang berbincang-bincang. Allen mengurungkan niatnya masuk kedalam, ia sedikit takut dan tidak mau menggangu ayah dan anak tersebut. Ia pun akhirnya berdiri disana dan menunggu sampai kedua pria itu selesai bercengkramah.

“Sudah membaik kok Pa” Allen belum pernah melihat Bima sekali pun. Sejujurnya ia sedikit penasaran, dan saat Ia melihat punggung belakang Bima dan melihat wajah Bima yang hanya terlihat dari samping saja, Allen dapat merasakan bahwa pria itu pasti sangat tampan.

“Pa—.”

“Why?”

“Ma—. Maafkan Bima. Bima merasa sangat bersalah kepada Papa, dan juga korban. Bima minta maaf Pa.”

“Semuanya sudah berlarlu. Anggap sebagai pelajaran dikedepannya”

“Tapi Papa masih merasa sangat bersalah, seharusnya Papa melarang kamu menyetir waktu kemarin. “ Allen sendiri sebenarnya tidak niat menguping, namun tubuhnya menyuruhnya untuk tetap berdiri disana. Mendengar Rio yang masih merasa bersalah kepadannya membuat Allen merasa tak enak. Allen hanya bisa mengigit bibirnya menahan kegundahan dalam hatinya.

“Semuanya salah Bima bukan Papa, andai saja Bima tidak mengambil ponsel Bima yang jatuh mungkin kecelakaan itu tidak terjadi”

“Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita harus bisa membalas kesalahan kita dengan menjaga anak gadis dari korban. Papa sudah berjanji kepada Papa gadis itu akan menjaga gadis itu seperti anak Papa sendiri dan papa harap kamu juga akan ikut menjaga gadis itu”

“Kata Papa semua korban meninggal?”

“Dia adalah anak gadis yang tidak ada dikejadian kecelakaan. Gadis itu tiba-tiba datang setelah pulang sekolah saat setelah kejadian kecelakaan tersebut. Dia gadis yang baik sekali. Bahkan saat Papa mengatakkan bahwa kamu yang menabrak mobil keluargannya, dia sama sekali tidak meluapkan amarahnya dan hanya menangis. Dan hal itu semakin membuat Papa merasa bersalah kepadannya. Sangat bersalah sekali” Allen mulai menyunggingkan senyumnya, ternyata Rio benar-benar tulus memujinya. Entah mengapa Allen merasa punya kebanggan tersendiri untuk dirinnya.

“Lalu? Dimana gadis itu sekarang?”

“Papa membawanya pulang kerumah kita. Papa sudah berjanji kepada almarhum keluargannya dia akan menjaga dan membahagiakan gadis itu. Gadis itu sekarang tidak punya siapa-siapa, dan hanya hidup sendiri. Kita harus membalas semua kesalahan kita Bim”

“Bima janji Pa, Bima akan menebus kesalahan Bima. Bima akan menjaga gadis itu seperti saudara Bima sendiri. Bima akan membahagiakannya seperti adik kandung Bima. Pa. Bima janji akan membuat dia bahagia.” Allen menahan agar dirinnya tidak mengeluarkan air mata, Ia tentu bahagia namun sekaligus merasa bahwa dirinya hanya menjadi beban. Karena karena dirinnya dua pria tersebut terus merasa bersalah.

“Maafkan Allen” lirih Allen pelan. Perlahan Allen berniat untuk masuk kedalam, Ia ingin meminta maaf kepada pria ini dan menjelaskan bahwa mereka berdua tidak perlu merasa bersalah sampai seperti itu. Karena itu semua semakin membuat Allen menjadi seperti sebuah beban. Namun, langkah Allen langsung terhenti. Sebuket bunga yang ia pegang jatuh begitu saja saat Ia mendengar ucapan Rio kepada Bima yang benar-benar membuatnya Shock dalam beberapa detik.

“Bukan sudara ataupun adik. Tapi Papa ingin kamu menikah dengannya”

“Menikah?” lirih Allen blank. Tentu saja ia sangat binggung. Mungkin bukan hanya Allen saya yang terkejut mendengarnya. Allen dapat melihat wajah Bima yang lebih kaget dan terkejut dari dirinnya.
*****
Bima menatap papanya dengan mata membulat sempurna. Bima mencari sesuatu di kedua mata Papanya. Ia sangat berharap bahwa Papanya sedang bercanda ataupun sedang mengerjainnya. Namun, Papanya tidak pernah terlihat seserius ini.

“Pa—, Papa, Ng—, Nggak bercanda Kan?” tanya Bima memastikan. Aliran darah Bima seketika menjadi sangat cepat sekali. Ia mulai merasa cemas. Rio melepaskan tangannya dari pundak Bima.

“Papa sudah mengambil keputusan ini dan memfikirkannya matang-matang dan papa harap kamu menyetuhinnya” Bima membuka mulutnya, matannya bergerak tidak menentu. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai ini semua.

“Bima nggak bisa Pa. Bima sudah punya Alyn, dan 4 bulan lagi Bima sudah berjanji akan jemput Alyn dan nikah dengan di—“

“Papa tau, Tapi apakah kamu tidak memfikirkan gadis itu?”balas Rio tajam.

“Bima bisa jaga dia seperti adik Bima sendiri tanpa menikahi dia kan Pa?”

“Papa tidak tahu sampai kapan Papa bisa hidup dan memenuhi janji Papa kepada almarhum keluargannya. Jika gadis itu hanya menjadi saudara kamu atau adik kamu, dia akan selalu merasa kesepian. Karena kamu pasti akan terus bersama dengan istrimu nantinya. Papa tidak mau gadis itu memfikirkan dan terbayang-bayang keluargannya lagi saat dia sendiri. Papa ingin kamu benar-benar selalu berada disampingnya dan membuatnya bahagia setiap hari. Membuatnya melupakan bahwa ia tidak sendiri, membuatnya lupa bahwa ia sudah tidak punya siapa-siapa. Membuatnya tidak merindukkan keluargannya dan menahan tangisannya sendiri” jelas Rio kepada Bima, penjelasan Rio tersebut membuat Bima terdiam beberapa saat.

“Hanya kamu satu-satunya harapan Papa. Bim” lanjut Rio lagi.

“Bima nggak bisa Pa. Bima nggak mungkin menikahi gadis yang sama sekali tidak Bima kenal bahkan tidak Bima cinta. Bima nggak bisa”

“Bima benar-benar nggak bisa”
“Bima sangat mencintai Alyn Pa, Bima sudah menunggu 5 tahun demi Alyn, dan tinggal menunggu bulan saja Bima akan nikah dengan Alyn. Bagaimana Papa bisa mengambil keputusan yang di—“

“LALU KENAPA KAMU MENGHANCURKAN KELUARGA DIA???” bentak Rio keras dan membuat Bima terdiam seribu bahasa. Rio tidak ingin terpancing emosi, namun kata-kata Bima membuatnya sedikit naik pitam. Setiap kali Rio terbayang bagaimana wajah sedih dan murung Allen, bagaimana wajah Allen selalu minta maaf dan menyalahkan dirinnya sendiri, setiap detik itu juga rasa bersalah Rio semakin besar.

“Bukan hanya Papa dan Mamanya dia yang kamu tabrak Bim, tapi adiknya juga. Papa yang tau bagaimana sekaratnya mereka. Papa yang tau jelas bagaimana hancurnya wajah mereka yang berlumuran darah dan papa yang tau bagaimana anak gadis mereka menangis di tempat saat melihat semua kelurgannya meninggal.”

“Apakah kamu tidak memiliki rasa bersalah sama sekali? Apakah kamu mau bersikap egois seperti ini ?”

“gadis itu terus menangis sepanjang malam saat dia sendiri. Dia bahkan sampai saat ini tidak pernah mengatakkan bahkan menyumpahi nama kamu meskipun dia mengetahui bahwa kamu yang menabrak semua keluargannya!! “

“Kurang baik apa dia dengan kamu ? Jika bukan karena kebaikkan gadis itu Kamu sekarang sudah berada didalam jeruji besi! Kamu sudah dipenjara Bima!!” tangan Bima mlai sedikit gemetar, Rio mengeluarkan semua amarahnya kembali.

“balas budi apa yang bisa kamu lakukan saat ini? Kamu masih berfikir benar-benar bisa akan menjaga dia nantinya ? Kamu bisa membuatnya tersenyum setiap harinya??”

“Kamu sudah merasakan bukan bagaimana ditinggal oleh bunda kamu? Rasanya hancur kan? Rasanya sangat sakit dan menyedihkan bukan? Itu hanya bunda kamu Bim, Hanya bunda. Bayangkan betapa menderitannya gadis itu dalam satu hari 3 anggota keluargannya meninggal secarabersamaan. “

“Kalau saja Papa tidak terus mengawasinya mungkin sekarang dia sudah mengakhiri hidupnya sendiri!! Dia anak gadis, dia tidak sekuat seorang pria Bim yang bisa menyembunyikan air matannya kapanpun” Bima mulai menundukkan kepalannya. Kepalanya terasa sedikit pening, Ia benar-benar berada dalam situasi yang sulit.

“Jadi Bagimana? Kamu mau jadi pengecut yang egois? Atau menebus kesalahan besar kamu?” tanya Rio mengakhiri semua pernyataanya dengan pertanyaan yang semakin membuat Bima tidak bisa berfikir.

Keadaan menjadi hening beberapa saat, Bima dengan fikirannya, dan Rio pun sedang mencoba meredamkan emosinya yang baru saja keluar begitu saja. Rio menarik nafas beratnya sesekali.

“Maafin Papa sudah kelepasan emosi Bim. Papa hanya, hanya, hanya tidak tega melihat gadis itu. Papa selalu merasa bersalah jika melihat wajah gadis itu.”

“Papa ingin kamu bisa menebus kesalahan terbesar kamu, dan membuat gadis itu bahagia”

“Sekali lagi maafkan Papa. Sem—“

“Bima akan menikah dengan gadis itu Pa”

Pernyataan Bima langsung membuat Rio tidak meneruskan ucapannya. Rio menatap Bima dengan tatapan mencoba mencari keseriusan dari ucapan sang anak. Rio tidak ingin Bima hanya main-main karena dirinnya pun tidak bercanda dalam permintaanya tersebut.

“kamu serius?” tanya Rio penuh penekanan. Bima mendongakkan kepalannya perlahan-lahan, kemudian ia menoleh ke Papanya dan membalas tatapan papanya.

“Bi—, Bima serius Pa” jawab Bima sedikit gugup. Wajahnya masih menunjukkan kebimbangannya. Namun, inilah keputusan yang harus ia ambil. Karena semua kesalahan memanglah karenanya. Dialah yang menyebabkan kecelakaan tersebut.

“Lalu, Alyn?” Bima menoleh ke arah lain. Ia sendiri binggung bagaimana dengan nasib Alyn nantinya.

“Bi—, Bima, Bima akan menjelaskannya baik-baik Pa” jawab Bima asal, karena dirinnya sendiri belum yakin dengan jawabannya itu.

“Papa, tanya sekali lagi. Kamu mau menikah dengan Allen?”

“Ahh. Namanya Allen” lirih Bima pelan.

“Bi—, Bima mau Pa”lanjut Bima masih dengan nada gugupnya.

“Jawab yang benar dan tegas! Papa nggak main-main dengan permintaan papa!!”

“Bima mau pa ! Bima akan menikahi gadis itu. Bima akan menikahi Allen. Bima janji” Bima langsung memejamkan matannya setelah menyatakkan sumpahnya kepada Papanya. Bima sangat berharap bahwa ini bukan awal petaka semuannya.

Rio kembali menepuk pundak Bima beberapa kali. Rio menyunggingkan senyumnya.

“Maafkan Papa Bim, Tapi Papa tidak ingin anak Papa jadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab “

“I—, Iya Pa. Bima ngerti.”

“Papa akan menjelaskannya dengan kakek kamu malam ini, Papa akan mempersiapkan pernikahan kamu secepatnya. Kalau bisa bulan ini”

“Bu—, Bulan ini Pa?” kaget Bima dan menatap Papanya dengan tatapan tak percaya.

“Setelah ini mungkin Papa dan kakek kamu akan sibuk lagi dengan pekerjaan. Papa juga tidak bisa selamannya bisa mengawasi gadis itu, lebih cepat lebih baik. “

“I—, I, Iya Pa” jawab Bima yang hanya bisa pasrah.
****
Allen menutup kembali pintu kamar rawat Bima, entah sejak kapan air mata Allen sudah mengalir dengan derasnya. Tangan Allen terus bergerak tak menentu. Ia merasa sedikit tertekan. Ia merasa semakin menjadi beban banyak orang.

“Apa sebaiknya aku pergi saja?” lirih Allen lemas.

“Aku malah menjadi penghancur hubungan orang. Aku semakin membuat bencana bagi keluarga orang lain”

“Leb—, Lebih baikaku pergi”

Perlahan Allen mulai melangkahkan kakinya menjauhi kamar rawat Bima. Allen menghapus air matanya yang masih terus keluar tanpa bisa ia hentikkan. Allen berjalan sambil menundukkan kepalannya.
Saat menangis seperti ini, Allen merasa rindu sekali dengan Mamanya. Karena biasanya Mamanya lah yang akan memeluknya dan menenangkannya. Dan sekarang? Tidak ada yang bisa Allen peluk . Tidak ada tempat Allen bercerita.

“Ma—, Mama”

****
Rio dan Bima berjalan ke arah pintu, namun langkah mereka terhenti saat mereka melihat sebuket bunga mawar putih yang jatuh di depan kamar rawat Bima. Rio dan Bima saling bertatapan. Bima menatap Rio dengan heran, sedangkan Rio langsung menampakkan kecemasannya.

“Bunga siapa ini?” tanya Bima kembali menatap bunga yang ada dibawah depannya.

“Allen”

“Allen?” tanya Bima lagi.

“Sepertinya dia mendengar pembicaraan kita semua “

“Di—“

“Kita harus mencari dia Bim. Seperrtinya gadis itu akan memilih pergi”ujar Rio yang langsung panik dan mempunyai firasat buruk.

“Maksud Papa?” tanya Bima masih tidak mengerti.

“Allen anaknya selalu merasa bersalah dan tidak ingin merepotkan orang lain dan membebankan orang lain. Mungkin dia berfikir bahwa dia membuat kamu dan Papa menjadi terbebani dan merasa bersalah. Kita harus menemukan dia Bim” Rio segera menarik Bima dan sedikit berlari-lari kecil. Bima yang masih binggung hanya bisa mengikuti Papanya.
****
Rio dan Bim terus berlari sampai keluar rumah sakit, Mereka sama sekali tidak melihat tanda-tandanya adanya Allen. Bima sendiri belum pernah bertemu Allen, ia hanya mendapatkan deskripsian dari papanya bagaimana wujud dari Allen sendiri.
Rio juga langsung menyuruh Mr.Max dan para pengawal untuk mencari Allen diseluruh penjuru rumah sakit bahkan di daerah dekat rumah sakit.

“Papa akan pergi mengecek dirumah. Mungkin dia sedang memberes-bereskan barangnya untuk pergi”

“Kamu naik Taxi dan pergi ke pemakaman dimana tempat bunda kamu dimakamkan. Mungkin gadis itu ada disana, karena makam keluargannya juga ada disana”

“I—, Iya Pa” jawab Bima tak beraturan. Rio sendiri langsung meninggalkan Bima yang masih mematung disana. Rio segera berlari kearah parkiran untuk mengambil mobilnya.

Bima mulai binggung apa yang harus ia lakukan, ia sendiri tidak tau bagaimana wajah dan bentuk gadis itu. Bagaimana bisa ia akan menemukan gadis itu. Namun, Bima tidak ingin ambil pusing lagi. Ia memilih segera melaksanakan perintah Papanya. Bima mencegah taxi yang tak sengaja berhenti di depannya. Ia langsung menaiki dan beranjak menuju Pemakaman Umum di tempat perumahan rumahnya.
*****
Bima turun dari taxi setelah membayar supir taxi tersebut. Setelah itu, Bima melangkahkan kakinya memasuki pemakaman umum. Ia mengederkan seluruh pandangannya, mencoba mencari sosok gadis yang ciri-cirinya seperti yang dijelaskan oleh Papanya.
Saat Bima menghadapkan tubuhnya ke arah timur, Ia melihat seorang gadis yang sedang duduk diatas koper hijau. Gadis itu sedang menundukkan wajahnya, tangannya menyiramkan bunga di sebuah makam yang terlihat masih baru.
Bima pun perlahan melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, Karena ciri-ciri gadis itu sendiri mirip seperti gambaran seorang Allen yang dijelaskan Papanya. Gadis itu memiliki kulit putih, rambut sebahu yang bergelombang dan tubuh yang bagus mungkin.
Bima memilih berhenti sedikit jauh dari gadis itu saat ia mendengar isakan ringan dari gadis didepannya. Bima mulai diam dan mendengarkan isakan dan keluhan dari gadis ini yang entah dia arahkan kepada siapa.

“Allen tidak mau jadi beban siapapun. Allen tidak mau merusak hubungan orang lain. Allen bukan gadis seperti itu kan Ma?”

“Om Rio sangat baik sama Allen, tapi Allen nggak mau merepotkannya. Allen tidak mau jadi beban bagi Om Rio dan anaknya. Allen tidak mau jadi parasit dikehidupan orang lain. Allen tidak mau membuat mereka merasa bersalah terus kepada Allen”

“Allen nggak dendam atau marah kok sama mereka. Allen nggak pernah benci sama mereka. Allen menerima kok takdir Allen. “

“Benar kan Ma yang Allen lakukan? Iya kan? “

“Ma—, “

“Mama, Allen harus kemana sekarang ? Allen tidak punya rumah. Allen tidak punya Papa, Mama dan saudara satu pun. Allen harus kemana Ma?” Bima terdiam membeku, gadis ini semakin terisak Tubuhnya terlihat semakin gemetar.

“Kenapa kalian tega tinggalin Allen sendirian? Kenapa kalian tidak mengajak Allen saja? Allen sendiri disini. Allen tidak punya siapa-siapa”

“Sekarang siapa yang akan temani Allen saat tidur, Mama tau kan Allen sering mimpi buruk. Allen tidak akan bisa lagi dengar pujian dari Mama dan Papa saat Allen bisa mendapatkan peringkat satu nantinya, Allen tidak akan bisa lihat lucunya Boy yang selalu mengotori kamar Allen.”

“Taukah kalian saat ini Allen kesepian. Saat ini Allen sendirian. Allen kangen sama kalian semua “ Allen langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Allen langsung menangis sejadi-jadinya.

Bima kini mengerti kenapa Papanya begitu marah kepadannya. Bima kini mengerti maksud dari semua ucapan Papanya. Bima kini dapat merasakan bagaimana rasa bersalahnya Papanya kepada gadis ini. Karena saat ini dia sedang mengalaminya.
Bima mengigit bibirnya, ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia merasa bahwa dirinnya sangat buruk sekali. Bagaimana bisa ia membunuh 3 orang sekaligus. Bagaimana bisa ia menghancurkan kelaurga gadis tak bersalah ini. Bagaimana bisa ia merebut kebahagiaan gadis ini.

“Hei” sapa Bima mencoba memberanikan diri. Bima melangkahkan kakinya kembali agar lebih dekat dengan tempat Allen duduk sekarang.

Perlahan Allen mendongakkan kepalannya dan memutarkan badannya ke arah Bima. Allen terlihat nampak terkejut dan binggung melihat kehadiran Bima yang sudah ada di belakangnya. Bima sendiri kini dapat melihat jelas bagaimana wajah gadis ini. Bima nampak sedikit terkejut melihat wajah Allen yang sembab, kedua matanya sedikit membengkak mungkin akibat menangis terus menerus. Namun, Bima dapat melihat bagaimana sebenarnya wajah gadis ini benar-benar cantik. Jika dirinnya dapat membandingkan kecantikan Alyn dan Allen, dengan jujur Bima pasti akan menjawab bahwa Allen lebih cantik dari Alyn. Aura kecantikan dari wajah gadis ini begitu kuat sekali. Itulah deksripsi Bima sebagai seorang laki-laki tentang wajah Allen. Jadi, tidak heran banyak sekali pria yang menyukai dan mengerjar-ngejar gadis ini.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Bima mencoba membuka suara lagi dan hal itu membuat Allen sedikit takut.

“Si—, Siapa kamu?” mendengar pertanyaan Allen seperti itu. Bima menjadi sedikit takut dan juga binggung akan menjawab apa. Bima mencoba mencari jawaban yang tepat.

“Ak— Aku, Aku Bima, aku—, aku yang menabrak keluarga kamu. Ak—, ku benar-benar minta maaf. Aku sangat minta maaf “ jawab dan jelas Bima dengan rasa yang sangat bersalah. Allen membulatkan matannya kaget. Bagaimana bisa pria ini menemukannya disini dan bisa mengetahui bahwa dirinnya adalah Allen. Padahal mereka sama sekali belum bertemu.

“Aku benar-benar bersalah. Aku minta maaf sekali telah membuat kamu kehilangan keluarga kamu. Maafkan aku” Allen mencoba menyunggingkan senyumnya.

“Semuanya sudah takdir. Kamu tidak bersalah. Ini adalah kecelakaan” balas Allen, ia hanya berusaha tidak ingin membuat pria didepannya tersebut semakin merasa bersalah dan terus meminta maaf kepadanya. Allen dapat mengetahui bahwa pria didepanya pun merasa terbebani dan tidak enak kepadannya. Allen tidak ingin membuat hidup orang lain tidak tenang.

“Sekali lagi aku minta maaf. Ini adalah salaku”

“Aku tidak marah kepada kamu. Jadi berhentilah meminta maaf” ucap Allen, Bima sedikkit terkejut mendengarnya. Ia merasa baru pertama kali ini bertemu gadis yang benar-benar aneh menurutnya. Bagaimana bisa gadis ini sama sekali tidak memakinya atau membencinya.

“Ba—, Bagaimana kamu bisa disini?” tanya Allen karena melihat Bima hanya diam mematung dengan ekspresi binggung.

“Ha? Ak, aku mencarimu. Papa juga mencarimu. Ayo kita kembali kerumah” ajak Bima dengan tulus. Namun. Allen menggelengkan kepalannya pelan.

“Aku tidak bisa kembali. Aku tidak ingin menjadi beban dikeluarga kamu. Aku tidak ingin menjadi perusak di keluarga kamu. Aku tidak ingin membuat orang lain menderita karena aku” jawab Allen masih mencoba untuk tersenyum dan setiap melihat senyum itu entah menagapa Bima merasa ada yang menyayat dadanya. Rasanya sakit sekali. Apakah dia benar-benar akan menghancurkan hidup gadis ini? Bagaimana bisa dirinnya membuat gadis ini begitu menderita.

“Aku dan papaku tidak merasa terbebani. Ayo pulang bersamaku. Papaku pasti cemas mencari—“

“Kamu tidak perlu menikahiku seperti permintaan Papa kamu. Kamu tidak perlu melakukan hal yang tidak bisa kamu lakukan dan sesuatu yang membuat kamu terpaksa. Karena itu akan membuatmu menderita dan tidak bahagia”Bima terdiam beberapa saat.

“Pulanglah, aku akan pergi dan tidak akan menggangu keluarga kamu. “

“Aku akan menikahi kamu” ujar Bima tiba-tiba dan membuat Allen langsung terkejut. Namun, detik berikutnya Allen tersenyum sedikit miris.

“Kamu sudah mempunyai tunangan bukan? Kamu tidak perlu membuat hidupmu menderita. Kasihan tunangan kamu pasti dia akan sangat sedih. Kamu sangat mencintainya bukan? Kalian tidak perlu membatalkan pernikahan kalian hanya karena kamu merasa bersalah kepadaku. “

“Tenang saja. Aku benar-benar tidak apa-apa da Aku bisa menjalani hidup sendiri.” jelas Allen dengan sisa ketegaran yang ia buat sendiri. Entah kalimat bodoh macam apa yang sudah ia lontarkan beberapa detik yang lalu.

“ Lalu? Bagaimana denganmu? Kemana kamu akan pergi? Bukankah kamu mengatakkan bahwa kamu sendirian? Kamu kesiapan? Kamu tidak punya apa-apa. Tidak punya tempat tinggal?” tanya Bima berbondong-bondong. Allen menundukkan kepalannya dan mencoba menahan agar dirinnya tidak menangis. Ia tidak tau bahwa Bima sudah mendengar keluhannya tadi.

“Kenapa kamu selalu memfikirkan perasaan orang lain? Kenapa kamu tidak pernah memfirkan keadaan kamu sendiri?”

Allen mendongakkan kepalannya dan memberanikan diri untuk menatap Bima yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan entahlah , Allen sendiri tidak dapat menjelaskan taapan apa yang Bima berikan kepadannya.

“Aku bisa hidup sendiri tanpa dikasihani. Aku punya tabungan untuk menyewa kos-kosan. Aku akan kerja di toko atau kerja menjadi pegawai di restoran. Aku bisa hidu—“

“Apa kamu ingin membuatku dan papaku semakin merasa bersalah ?? “ tajam Bima dan langsung membuat Allen terbungkam. Allen mencoba memandang ke arah lain, ia merasa bahwa semuannya semakin membuatnya pusing dan terasa berat sekali.

“Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.Aku juga tidak apa-apa. Ini sudah keputusanku, aku akan menikahimu. Aku akan menjagamu dan menebus semua kesalahanku. Aku akan menyelesaikan urusanku sendiri dengan tunanganku. Kamu tidak perlu memfikirkan itu” jelas Bima dengan setenang mungkin.

Allen menghembuskan nafas beratnya, ia mencoba agar tidak terisak saat ini. Allen segera menghampus air matannya yang sempat terjatuh beberapa tetes di pipinya. Allen berdiri dari tempat duduknya kemudian ia memberdirikkan kopernya yang sempat ia gunakan sebagai tempat duduk. Sedangkan Bima hanya mengawasi saja yang dilakukan oleh gadis ini.

“Terima kasih banyak, tapi aku tidak ingin membuat kamu dan papa kamu semakin merasa bersalah. Aku akan pergi dan tidak akan menunjukkan lagi wajahku di depan kamu ataupun keluarga kamu. Jadi kamu dan papa kamu bisa hidup tenang. Kamu masih tetap bisa menikah dengan tunangan kamu. “

“Kalau keputusan kamu menikahiku hanya untuk menebus kesalahan kamu. Tidak perlu, Impianku bukan menikah karena terpaksa. Aku pun masih gadis SMA. Jadi masa depanku masih panjang. “

“Maaf telah membuat kamu dan Om Rio terbebani dan terus merasa bersalah.” Allen mencoba tersenyum tanpa berani menatap Bima. Kemudian, ia perlahan berjalan melewati Bima sambil menyeret kopernya melewati beberapa makam.

Bima diam saja setelah mendengar semua ucapan Allen, Ia mematung karena merasa tidak bisa apapun. Gadis itu membuatnya mati rasa. Gadis itu benar-benar membuatnya semakin dan semakin buruk.

“Jika aku melupakan tunanganku, apa kamu masih mau menikah denganku?” Bima memejamkan matannya setelah mengeluarkan pertanyaan tersebut. Ia mengigit bibirnya penuh penekanan, Otaknya langsung terbayang wajah Alyn yang sangat bahagia saat dirinya mengajak gadis itu menikah.

Sedangkan Allen langsung menghentikkan langkahnya ketika mendengar pertanyaan Bima.

“Aku masih ingin sekolah, aku ingin kerja, aku ingin menjadi wanita karir yang sukses.” Jawab Allen tenang.

“Apakah kamu benar-benar tidak mengenalku? “ Allen seperti sedikit dejavu dengan pertanyaan ini. Ini adalah pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh Rio kepadannya. Allen memilih tetap diam saja, ia membiarkan Bima meneruskan kalimat-kalimatnya.

“Aku adalah Bima Freedy Haling, pemilik perusahan otomotif tersebesar di Asia dan sebagian belahan Eropa. Aku adalah cucu dri keluarga Haling sebuah perusahaan manufaktur terbesar di Indonesia, aku adalah pewaris tungal dari perusahaan FreedMon, aku adalah miliader muda terkaya di dunia. Aku bisa melakukan segalannya dalam sekejap. Aku bisa membuatmu tetap sekolah meskipun nantinya kamu sudah menikah, Aku bisa menjadikanmu wanita karir. Aku bisa memberikanmu pekerjaan. Aku bisa melakukan apapun yang kamu minta“

Allen jelas saja sangat terkejut, Ia mungkin tidak ingin mempercayai ucapan pria ini. Namun, mengingat bukti-bukti seperti pengawal-pengawal yang selalu bersama Rio dan di depan ruang rawat Bima tadi dan rumah Rio yang baru saja ia tempati benar-benar sangat mewah dan megah. Ditambah mobil-mobil yang berada di parkiran rumah Rio adalah mobil import keluaran terbaru dan mobil mahal. Tentu saja, semua ucapan Bima tidak mungkin ada yang bohong.
Namun, bagaimana mungkin bahwa ia mendapatkan takdir seperti ini. Siapa orang Indonesia yang tidak akan mengenal keluarga Haling yang bahkan memiliki perusahaan batu bara terbesar di kalimantan dan perusahaan tambang tersebesar di Papua. Keluarga Haling benar-benar merajai setiap perusahaan di Indonesia. Ditambah mendengar kata FreedMon, sebuah perusahaan ternama abad ini bahkan nama perusahaan ini selalu menjadi contoh dalam mata pelajaran Binsis Insternational di sekolah Allen.

“Ti—, Tidak mungkin.” Lirih Allen pelan masih belum bisa percaya.

Bima dapat mendengar lirihan Allen yang pelan dan mengatakkan bahwa semuanya tidak mungkin. Bima pun segera berjalan mendekati Allen dan berhenti di depan Allen. Bima menatap sebentar, lalu tangannya mengeluarkan dompet yang ada di saku celannya.
Allen menatap Bima dan sedikit binggung dengan apa yang akan dilakukan oleh pria didepannya. Bima tiba-tiba mengeluarkan semua kartu yang ada di dompetnya.

“Kamu tidak percaya dengan kata-kataku?” tanya Bima sedikit menantang.

“Ini adalah ID cardku di perusahaan FreedMon, dan kamu bisa bacakan apa jabatanku ?” Allen yang penasaran pun membaca setiap kata yang ada di ID didepannya yang ditunjukkan oleh Bima. Dan benar saja Allen hanya bisa menelan ludahnya saat ia membaca tulisan “ President FreedMon” yang tepat pada dibawah nama Bima.

“Apa kamu masih belum percaya juga ?” Bima kembali menunjukkan 3 buah kartu berwarna hitam tepat di depan Allen.

“Kamu tidak mungkin tidak mengetahui ini apa bukan?” Allen meneguk ludahnya untuk kedua kalinnya. 3 Kartu sekaligus yang ditunjukkan oleh Bima selanjutnya adalah “The Black Card”. Kartu impian, kartu kredit paling elit di dunia bahkan kartu kredit ter-ekslusif nomer satu di dunia. Karena kartu kredit ini adalah limited edison dan tidak semua orang bakhan tidak semua orang kaya mempunyainya. Hanya orang yang berpenghasilan lebih dari ratusan juga dalam perbulanya yang memiliki kartu ini.

“Apa kamu masih belum percay—“

“Meskipun saya percaya kamu adalah pewaris muda yang kaya raya, saya akan tetap pergi” potong Allen dengan cepat. Bima menatap Allen sedikit frustasi.

“Apakah kamu tidak bisa sedikit saja menerima kebaikkan dari Papaku? Dia benar-benar ingin kamu menjadi bagian dari keluarga kami. Dia benar-benar akan tersiksa selama hidupnya jika kamu menghilang. Bahkan aku pun seperti itu, aku akan menjadi seorang pria yang akan terbayang-bayang sebuah kejahatann terbesar karena aku telah membunuh 3 anggota keluarga sekaligus” Bima mulai kehabisan kata untuk menjelaskan kepada Allen. Ia pun lebih berbicara sejujur-jujurnya berharap Allen dapat memfikirkannya lagi.

“Walaupun sulit nantinya, Aku benar-benar akan mencoba melupakan tunanganku. Aku akan menepati janjiku kepada Papaku, Aku akan membahagiakan kamu. Aku akan menjaga kamu. Apa kamu tidak bisa mempertimbangkannya?”

“Apa perlu sekarang juga aku menelfon tunanganku dan memutuskan hubunganku di depanmu. Biar kamu bisa melihat dan menyaksikan bahwa aku benar-benar sungguh dengan ucapanku”

Allen tidak tau harus berbuat apa saat ini. Ia seperti tersudutkan. Yang ia fikirkan pun, bagaimana bisa ia menikah dengan orang yang sama sekali belum ia kenal sifatnya, kepribadiannya. Apakah dia bisa bahagia dengan pria ini.

“Kamu mau ikut kembali denganku?” tanya Bima

“Demi Papaku” lanjut Bima memohon. Allen menundukkan kepalanya pasrah. Ia mencoba mengingat bagaimana Rio benar-benar menghawatirkannya, bagaimana Rio benar-benar menganggapnya seperti anaknya sendiri.

“Ba—, Bai, Baiklah” jawab Allen menyerah. Ia tidak bisa berfikir lagi saat ini. Mendengar jawaban Allen, entah Bima harus senang atau malah sedih. Namun, seulas senyum Bima tunjukkan.
Bima tidak tau apakah semua ucapannya dan keputusanya ini adalah yang terbaik. Namun, Bima sudah memilih untuk menjalani arah jalan kehidupan ini. Siap dan tidak siap dia harus mempertanggung jawabkan pilihannya. Bima tak tau bagaimana ia menjelaskannya kepada Alyn. Bima benar-benar tidak tau.
****
Bima dan Allen menaiki taxi untuk kembali menuju rumah Bima, selama didalam taxi mereka berdua sama-sama diam dan tidak membicarakan apapun lagi. Bima sibuk dengan fikirannya dan fokus dengan pemandangan diluar jendela. Allen pun seperti itu.

“Aku tidak ingin kamu menyesal. Kamu bisa merubah keputusanmu lagi sekarang” ujar Allen dalam keheningan mereka berdua. Ucapan Allen membuat Bima mengalihkan tatapannya ke arah dirinnya.

“Aku tidak akan merubahnya, dan aku juga berharap kamu tidak menanyakan lagi pertanyaan seperti ini. “ jawab Bima tegas. Allen menundukkan kepalannya.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf” lirih Allen lemah.

“Ini bukan salah kamu, aku sendirilah yang pertama kali menciptakan masalah ini. “

“Jika kamu merasa terbebani dan menderita, jangan merasa tidak enak untuk mengucapkannya. Aku akan menerima jika suatu saat kamu ingin menarik kata-katamu lagi. Aku tidak ing—“

“Apakah kamu benar-benar tidak pernah memfikirkan bagaimana perasaanmu? Apa kamu tidak peduli bagaimana penderitaanmu sendiri? Bagaimana nasibmu saat ini?? Kenapa kamu selalu mengurusi perasaan dan penderitaan orang lain?” tanya Bima tajam kepada Allen.

“Ap—, Apakah aku seperti itu?:” jawab Allen yang malah memberikanpertanyaan balik kepada Bima. Bima mendengus pelan.

“Mulai sekarang berhenti meminta maaf jika kamu tidak melakukan kesalahan. Berhenti mengurusi penderitaan orang lain, padahal diri kamu sendiri lebih menderita. Berhenti mengurusi perasaan orang lain saat kamu sendiri tidak bisa menjabarkan perasaanmu seperti apa.” Ucap Bima tenang namun mungkin sedikit menusuk bagi Allen.

“Aku hanya tidak ingin membuat orang lain membenciku. Aku takut jika orang lain membenciku, jadi lebih baik aku yang menderita atau sakit daripada mereka. Jika aku yang menderita, aku bisa menyembuhkannya sendiri dengan caraku, tapi jika orang lain yang menderita karenaku, aku tidak akan bisa melakukan apapun selain merasa bersalah yang sangat besar”

“Cish—“ desis Bima pelan, ia tidak percaya dengan kelakuan gadis disebalahnya ini yang benar-benar membuat kepalannya akan pecah dan sangat frustasi. Untuk pertama kalinya dirinnya bertemu gadis seperti ini. Bima bertanya-tanya sendiri apakah gadis ini hanya memiliki sifat kesabaran tanpa mempunyai sifat kemarahan ? apakah gadis ini adalah jelmaan malaikat ? . Entahlah Bima terlalu pusing jika memfikirkannya terlalu jauh. Ia pun lebih memilih menatap luar jendela kembali. Tidak mempedulikan Allen.

****
Rio langsung bisa menunjukkan senyum lepasnya dan kelegaannya saat ia melihat Bima pulang dengam membawa Allen kembali. Rio langsung menghampiri Allen dan memeluk Allen seolah Allen memang sudah seperti anaknya sendiri.

“Kamu tidak apa-apa kan? Apakah kamu terluka? Kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanya Rio begitu cemas. Rio perlahan melepaskan pelukannya dan mengecek tubuh Allen.

“Allen tidak apa-apa Om. Maaf membuat om cemas dan khawatir. Maafkan Allen” Rio menatap Allen dengan tatapan sedikit skiptis.

“Sudah om bilang berapa kali. Jangan meminta maaf terus. Kamu tidak melakukan kesalahan”

“Iy—,Iya om”

“Jangan sekali-kali kabur lagi atau pergi lagi. Walaupun kamu pergi kemanapun. Om akan benar-benar mencari kamu sampai ketemu. Mengerti ?”

“Me—, Mengerti Om. Terima kasih banyak” jawab Allen dengan perasaan yang tidak enak kepada Rio.

“Sekarang kamu masuk kedalam kamar kamu, bersihkan tubuh kamu. Setelah ini Om akan belikan kamu sea food. Agar kamu bisa makan dengan banyak”

“Tidak perlu Om? Allen masih kenyang”

‘Sudah, sudah, jangan menolak ucapan om lagi. Sekarang kamu mandi dulu sana. “

“I—, iya Om. Allen permisi dulu. Sekali lagi terima kasih”

Rio dan Bima hanya bisa melihat kepergian Allen yang berjalan menuju kamarnya. Rio terlihat tersenyum begitu bahagia sekali. Bima pun tak sengaja melihat kebahagiaan di wajah Papanya tersebut. Bima sudah lama sekali tidak melihat senyum itu sejak meninggalnya sang bunda.

“Apa Papa benar-benar bahagia sekarang? Papa sudah bisa tersenyum lagi seperti dulu” batin Bima mulai berbicara. Perlahan Bima mengembangkan senyumnya.

“Bima ke kamar dulu Pa. Bima ingin istrirahat sebentar” ujar bima dan membuat Rio tersadar .

“Iy—, Iya bim. Kamu istirahat dulu sana. Terima kasih kamu sudah membawa gadis itu kembali “

“Iya Pa. “

“ Papa akan pergi menemui Om kamu, Alvin. Setelah itu Papa akan berangkat ke Prancis untuk menemui kakek kamu. “

“Hari ini Papa balik ke prancis?”

“Yah, kamu disini saja. Jaga Allen dan pulihkan kondisi kamu. Papa mungkin hanya satu atau dua hari di Prancis. Lalu kembali kesini untuk memberitahu keputusan kakek kamu” jelas Rio.

“I—, Iya Pa” jawab Bima dengan memaksakan senyumannya.

“Kamu hati-hati di rumah. Jangan bairkan Allen pergi lagi. Papa menitipkan dia kepada kamu”

“Iya Pa. Bima akan menjaga Allen”

“Baguslah. Papa pergi dulu Bim” pamit Rio dan segera beranjak dari rumah.
****
Bima memasuki kamarnya dengan gontai, ia segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Matannya menatap ke dinding-dinding kamarnya seolah menerang sesuatu. Peerlahan Bima memejamkan matannya. Ia menghirup aroma kamarnya yang ia rasakan masih sama seperti 5 tahun yang lalu.
Tangan kanan Bima ia rebahkan ke sampingnya, Ia mencoba merasakan dan mengingat saat terakhir bundanya tidur disampingnya. Kerinduan langsung Bima rasakan. Bima mencoba merasakan bahwa bundanya saat ini benar-benar ada disampingnya dan tidur disampingnya.

“Bun, Bima lelah”

“Bima lelah sekali Bun. Bima sudah melakukan kejahatan besar. Bima membunuh 3 orang tidak bersalah Bun.”

“Bima takut. Bima sangat takut, bunda. “

“Jika bunda masih hidup. Apakah bunda juga seperti Papa? Menyuruh Bima menikahi gadis itu? Iyakah Bun?”

“Atau Bunda menyuruh Bima tetap memertahankan Alyn?”

“Apakah keputusan yang Bima ambil sudah benar Bun? Apakah Bima tidak salah memilih? Berikan Bima jawaban Bun. Bima binggung, Bima butuh bunda. Bima sangat butuh bunda”

Perlahan Bima mulai terlelap dengan sendirinnya, rasa penat dan beratnya masalah yang ia hadapi membuat otak dan tubuhnya butuh istrirahat. Bima pun tertidur dan mulai masuk kedalam alam bawa sadarnya sendiri.

Bersambung. . . . .

2 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 5

  1. pasrah siska kaluk.
    Ikutin jalan cerita kaluk aja.
    Tapi sumpah banjir siska baca part ini kaluk…
    Nyesek banget ;(

  2. kak HYO ini seriusan ikutan nyeseeek tahan nafas pas baca ini .. gak bisa bayangin gimana reaksi alyn kalo tau bima mau nikah sma allen😦

    gak rellaaa…
    NEXT secepatnya kak Hyo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s