D3STINY OF LOVE AND LIFE – 6

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 6
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s ”

*****

“Aawwww!!!!”

PRAANGGG!!!

Suara teriakkan dan piring pecah yang lumayan keras membuat Bima terpelonjat dan langsung bangun dari tempat tidurnya. Bima segera berjalan menuju pintu kamarnya.
Bima membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar, ia mengedarkan pandangannya mencari darimana sumber suara tersebut berasal.

“Non, Non nggak apa-apa. Udah biar bibi saja yang masakin. Non dikamar saja. “

“Aww, “

“enggak apa-apa kok Bi. Maaf”

“Udah non nggak usah diberesin. Biar bibi saja”

“Nggak apa-apa kok Bi. Biar Allen saja”

“Aduuh. Non, Nanti bibi dimarahi sama Tuan. Udah non dikamar saja. Nanti Bibi buatkan masakannya buat non”

Bima berjalan ke arah dapur, dimana sumber suara tersebut berasal. Wajah Bima terlihat sedikit lusuh akibat dirinnya baru bangun tidur. Saat sampai di dapur Bima mendapati Bi Ja yang merupakan kepala pembantu disini pengganti Bi Ina, sedang membungkuk mencoba menolong Allen yang terduduk dengan kaki terselunjur dan di samping Allen terdapat pecahan-pecahan piring.

“Ada apa Bi?” tanya Bima membuat dua orang ini langsung menatap Bima. Bi Ja langsung terkejut dan sedikit takut, begitu juga Allen yang hanya bisa menunduk dan menyembunyikkkan wajah kesakitannya.

“Maaf tuan, ini tadi Non Allen memaksa ingin memasak. Tapi waktu Non Allen mau mengambil piring besar di laci atas, kaki non Allen terpleset dan terjatuh” jelas Bi Ja dengan jujur. Wajahnya semakin takut jika Bima akan memarahinya.

Bima menghelakan nafas panjangnya, ia kemudian meneruskan langkahnya untuk mendekati Allen yang sama sekali tak berani menatapnya dan tetap menunduk.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bima saat sudah berada di depan Allen. Bima berjongkok dan mencoba melihat kaki Allen.

“Maaf—, Aku tidak apa-apa. Aku bi—“

“Awwww” jerit Allen memekik ketika Bima menyentuh bagian pergelangan kaki kanannya yang sedikit membiru dan terdapat benjolan kecil dibagian otot kakinya. Bima menghelakan nafasnya.

“Kakimu terkilir. Apa kamu bisa berjalan?” tanya Bima masih dengan wajah tenang dan datar.

“Tentu saja bisa. Aku tidak apa-apa, mungkin hanya terkilir ringan saja” jawab Allen seolah ia memang tidak apa-apa. Allen pun mencoba untuk berdiri dengan menompangkan kedua tangannya di lantai agar bisa mengangkat tubuhnya. Namun pada saat kakinya akan ia tegakkan. Ia merasakan sakit luar biasa di bagian pergelangan kananya.

“Bisa?” tanya Bima dengan nada sedikit meremehkan. Bima sebenarnya tau bahwa luka Allen sedikit parah.

“Bisa kok” jawab Allen dengan cepat, ia sekali lagi mencoba untuk berdiri dengan menyembunyikan kesakitan di wajahnya dan di kaki kanannya.

Bima membiarkan saja gadis di depannya ini mencoba berdiri. Bima benar-benar tidak tau harus menjabarkan bagaimana gadis ini dan termasuk spesies apa. Bima sedikit meragukan bahwa gadis ini adalah manusia.
Allen masih terus mencoba berdiri, ia menahan kesakitannya, Ia tidak ingin merepotkan orang lain.

“Bi, beresekan semuanya” ujar Bima kepada Bi Ja. Setelah itu Bima langsung mengangkat tubuh Allen dalam bopongannya. Sedangkan Allen hanya bisa mematung dan kaget melihat apa yang dilakukan oleh Bima.

“Maaf sudah merepotkan kamu lagi”lirih Allen pelan. Ia menundukkan kepalannya lagi. Entah mengapa ia selalu tidak bisa menatap wajah Bima. Bima tak menghiraukan ucapan Allen. Ia terus saja berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar Allen.
*****
Bima meletakkan Allen diatas pinggir kasur, Bima mengambil satu bantal yang terletak diatas kasur setelah itu menaruhnya dibawah kaki Allen agar kaki kanan Allen mendapatkan penahan sementara.

“Tungu disini” ujar Bima tanpa ekspresi seperti biasanya, kemudian ia pergi beranjak keluar meninggalkan Allen.
Allen menghelakan nafas beratnya yang sudah ia tahan sedari tadi. Rasanya memang sangat tidak enak dan canggung saat dia bersama Bima. Ia merasa Bima tidak menyukainya dan tidak nyaman dengan kehadirannya. Seolah, semua yang dilakukan Bima adalah sebuah keterpaksaan. Itulah yang dirasakan oleh Allen.
10 Menit kemudian Bima kembali dengan membawa kompresan di tangan kananya dan kotak P3k di tangan kirinya. Bima berjalan mendekati Allen tanpa menatap wajah gadis ini sedikit pun. Ia berjongkok dan mengecek luka Allen. Sedangkan Allen hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Dalam situasi seperti ini, Allen tidak tau apa yang harus ia lakukan.
Allen mengigit bibirnya saat Bima mulai mengompres kakinya kemudian mulai mengurut otot dikaki kanannya yang terkilir. Rasanya benar-benar sakit sekali. Kedua tangan Allen ia cengkramkan pada sprai di kasurnya sebagai pelampiasan.

“Nggak usah ditahan kalau mau jerit. Rasanya memang sakit. “ ujar Bima datar dan masih melakukan aktivitasnya. Allen sedikit terkejut dengan ucapan Bima. Allen tidak menyangka bahwa seorang Bima bisa juga memijat orang dan menemukkan titik urat pada sebuah luka.
Setelah selesai mengurut pergelangan kaki kanan Allen, Bima mengoleskan salep pereda nyeri di setiap bagian pergelangannya.

“Coba gerakkan pelan-pelan” suruh Bima setelah melepaskan tangannya dari kaki Allen. Sesuai dengan perintah Bima, Allen perlahan menggerakkan kaki kanannya. Meskipun rasanya masih sedikit sakit, namun Allen merasa kakinya sudah lumayan dari tadi.

“Gimana?” tanya Bima dan baru detik ini ia menatap Allen. Yah, meskipun masih dengan ekspresi datar dan dinginnya.

“Su—, sudah lumayan nggak sakit. Ma—,Makasih banyak.”

‘Maaf sudah merepotkan kamu lagi” ujar Allen gugup. Bima tidak menjawab apapun dan mulai memberesi obat-obatan yang berantakkan di lantai.

“Nggak perlu dibereskan, biar aku saja yang beresin” ujar Allen mencegah, Bima mendongakkan kepalannya dan menatap Allen.

“Kalau itu yang kamu mau—, yaudah” balas Bima singkat, Ia kemudian berdiri dan tanpa mengatakan sekata apapun lagi, Bima prlahan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Allen.

“Tunangan kamu sangat cantik” Bima langsung menghentikkan langkahnya ketika Allen mengatakkan hal seperti itu secara tiba-tiba.

“Aku tadi melihat fotonya ada di laci meja belajar. Ada foto dia bersama kamu” lanjut Allen lagi dengan nada suara yang seolah ia begitu kagum dengan wajah Alyn.

“Kalian sangat cocok, ak—, aku, aku har—, aku harap kamu memfikirkan la—,lagi keputusan ka—“

“Harus aku bilang berapa ratus kali kepada kamu? Aku tidak akan merubah keputusanku” potong Bima dengan cepat.

“dan aku peringatkan kepadamu untuk yang terakhir kalinya. Berhenti menyuruhku mempertimbangkan keputusan yang sudah bulat aku ambil. “

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Bima langsung melangkah keluar begitu saja. Allen menatap kepergian Bima dengan tatapan sendu. Allen menundukkan kepalannya. Ia semakin merasa bersalah kepada Bima. Ia merasa bahwa setiap yang ia katakan dan lakukan sangat membebankan Bima dan merepotkan pria itu.

“Seharusnya aku tidak pernah datang dalam kehidupan keluarga ini. Bisakah aku merubah takdir yang tidak aku inginkan, Tuhan?” Allen tersenyum miris untuk kesekian kalinnya.

“Aku egois kah?”

“Aku jahat kah?”

“atau apakah aku sedang beruntung saat ini?”

****
Malam Hari,
Allen membuka pintu kamarnya dengan nafas yang masih tidak beraturan. Ia mengalami mimpi buruk lagi seperti semalam bahkan menurutnya kali ini lebih menyeramkan. Allen berjalan ke arah dapur untuk mengambil beberapa air putih.
****
Allen meneguk hampir 3 gelas, otaknya membutuhkan banyak asupan oksigen dan ion saat ini. Kepalannya hampir pecah akibat pusing yang dilandanya saat ini. Setelah itu, Allen berjalan menuju ruang tengah. Ia mencoba mencari-cari sesuatu yang dapat ia kerjakan disana.
Mata Allen tertuju pada beberapa majalah bisnis yang ada di atas meja. Allen pun perlahan mengambil beberapa majalah tersebut.
Allen sangat terkejut melihat majalah-majalah tersebut karena di semua cover pada majalah itu adalah foto Bima. Allen hanya bisa berdecak kagum, bahwa pria itu benar-benar famous.
Allen hanya membaca halaman yang menceritakkan bagaimana sosok Bima, Majalah tersebut berasal dari beberapa negara, mulai dari Los Angels, Prancis, German, Hongkong, Singapore, Indonesia, Seoul, Japan, dan masih banyak lagi. Namun hanya 2 majalah yang Allen baca karena hanya bahasa indonesia dan Inggris saja yang Allen kuasai.

“Ha?” kaget Allen dan mematung beberapa saat ketika ia melihat profil dari Bima.

“Nggak mungkin—“ lirih Allen dengan wajah benar-benar tak menyangka. Matannya masih menatap satu kalimat yang membuatnya membeku dalam hitungan detik. Di kalimat tersebut tertuliskan tanggal bulan dan tanggal lahir Bima dan yang membuat Allen terkejut adalah bahwa tanggal dan bulan lahir Bima sama dengan dirinnya.

“Benar-benar nggak mungkin” Allen langsung menutup majalah tersebut dan menaruhnya kembali di atas meja. Bulu kuduk Allen rasanya langsung berdiri semua.

“Sebaiknya aku kembali ke kamar” ujar Allen kemudian beranjak kembali menuju kamarnya dengan langkah kaki yang masih sedikit sakit. Sehingga Allen harus berjalan pelan-pelan ketika menaiki tangga.
****
Ketika Bima mulai memutuskan dan dinobatkan sebagai ahli waris dari perusahaan FreedMon, dia sudah tidak lagi mendapatkan jatah tidur yang banyak. Ia dapat tidur di manapun sesukannya ketika ia merasa lelah dan ingin bersitirahat sebentar.
Seperti saat ini, Bima mulai sibuk dengan pekerjaanya. Lebih dari 3 jam yang lalu dan sampai sekarang. Bima terus berkutik dengan laptopnya tanpa lepas dari layar tersebut.

DDRTTTDRTTT

Ponsel Bima bergetar. Ia menolehkan wajahnya ke arah ponsel yang ada disampingnya. Di layar ponsel Bima terpampang bahwa ia memiliki 1 email. Jika seperti itu, maka Alyn.lah yang mengirimnya email tersebut.
Bima mulai bimbang apakah ia akan membaca email itu atau tidak. Entah mengapa ia merasa sangat takut sekali.
Bima mengambil ponselnya lantas melepaskan batrai sekaligus melepas kartu ponselnya. Bima memasukkanya kedalam laci meja belajarnya.
****
Bima berjalan ke arah balkon kamarnya, udara malam mulai menusuk tulang dan memainkan ujung-ujung rambutnya. Bima memejamkan matannya, membiarkan sepoy-sepoy angin malam menampar wajahnya. Bima mencoba untuk melepaskan alur nafasnya yang seharian ini rasanya tercekat dan susah sekali untuk di gunakan bernafas.
Bima membuka matannya, Ia duduk di kursi yang ada di balkon. Ia tersenyum ringan, ingatannya kembali saat pertama kali ia menyatakkan suka kepada Alyn. Itu adalah hari yang benar-benar membuat dirinya menjadi gila sendiri.

“Kalau gue bilang gue suka sama loe ??”
“HAHAHAHAHAHAHA”
“Ngapain loe ketawa ?”
“Loe kalau bercanda yang lucu dikit kek. Gak lucu tau gak “
“Gue serius!!”
“Gak mungkin lah , Loe suka sama gue. Loe lagi ngerjain gue ? Gue gak sebodoh itu kali Bim ”
“ Alien !! Gue serius!! Gue suka sama loe!”
“Lo . . Lo . . . Loe . . . Loe . . be . ben . .be . . “
“Loe mau acting gagu lagi ?”
“Loe beneran suka sama gue ??”
“Hmm. “
Kenangan tersebut masih terputar jelas di otak Bima. Walaupun itu sudah terjadi 5 tahun yang lalu, namun bagi Bima moment itu merupakan momemnt yang lucu dan mengesankan mungkin baginya.

“Apa yang lo lakuin sekarang Alien??”

“Apa lo sudah makan?”

“Apakah lo lagi fikirin gue?”

“Gue kangen sama lo”

****
Allen masih saja tidak bisa tidur, baru ia terlelap, 15 menit kemudian ia akan bangun dengan nafas yang tidak teratur. Allen selalu tidak bisa tidur sendiri. Allen memilih keluar lagi dari kamarnya. Kali ini ia mencoba berkeliling-keliling rumah ini yang menurutnya sangat megah dan luas ini.
Allen mengitari bagian belakang halaman. Ia menemukan sebuah ayunan dan didepan ayunan tersebut adalah kolam renang. Allen tersenyum ringan, ia pun berjalan ke arah ayunan tersebut.
Ia mengambil duduk diatas ayunan, memasukan seperempat kakinya kedalam air yang ada di kolam renang. Allen menatap pantulan wajahnya pada air teresebut.

“Hai, Allen. Apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanya Allen kepada pantulan tersebut.

“Kenapa hidupmu jadi seperti ini?apa yang sudah terjadi kepadamu?” Allen lebih membungkukkan wajahnya sehingga ia dapat lebih mendekatkan wajahnya ke pantulan air tersebut.

“Kamu tidak ingin merepotkan orang lain? tapi mengapa kamu semakin merepotkan mereka??”

Allen sedikit menggoyang-goyangkan ayunan tersebut. Ia menekan tubuhnya pada ayunan itu dan lebih membungkukan tubuhnya, perlahan Allen melepaskan kedua tangannya pada ayunan tersebut. Ia ingin menyentuhkan ujung jarinya kedalam air.

“Andai hidupku bisa aku scenario sendiri. Pasti menyenangkan bukan?”

Lirih Allen, ia masih mencoba menyentuhkan jarinya yang tidak juga sampai pada air di kolam. Karena memang jaraknya yang sedikit jauh. Allen berusaha dan semakine membungkukan badannya. Sampai ia tidak sadar bahwa ayunan yang ia duduki mulai goyang dan besinya sedikit terbuka.

“Sayangnya penulis pun tidak bisa melakukannya. Apalagi ak—“

TEEKKKKKK

BYYYYYYUUUUUURRRR

Besi yang mengait pada ayunan tersebut terlepas begitu saja, dan dalam hitungan detik berikutnya Allen langsung terjerumus masuk kedalam air di kolam renang. Allen berusaha mengangkat tubuhnya keatas, wajahnya langsung blank merasa kaget dengan kejadian barusan yang menimpahnya.
Semua tubuh Allen basah kuyup. Allen merasakan kaki kanannya mulai sedikit berkontraksi dan agak keram. Allen pun segera menepi untuk bisa pegangan di besi yang ada di pinggir kolam renang.
Dinginya air tersebut mulai terasa dan menusuk tulang Allen. Allen menegukkan ludahnya beberapa kali. Perlahan ia berusaha untuk naik ke atas. Namun, Hal itu sedikit menyulitkan Allen karena kaki kananya masih terasa sakit.

“Allen kamu bisa. Come on!!”

Allen mencoba satu langkah demi langkah, menahan rasa sakitnya kaki kanannya ia menopangkan tubuhnya pada besi pegangan tersebut.

“hauuffff” lirih Allen kelelahan saat ia berhasil naik ke atas. Allen langsung duduk di pinggir kolam renang. Allen mengigit bibirnya yang semakin terasa dingin.
*****
Bima mengetuk-ketukkan jarinya pada meja yang ada di depannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalannya beberapa kali mencoba melupakan bayangan-bayangan yang mulai berdatangan.
Bima melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Bima pun memilih untuk berdiri dan kembali ke dalam kamar. Udara malam yang semakin dikin membuatnya tidak kuat lama-lama di balkon kamarnya.

BYYYYYYUUUUUURRRR

Langkah Bima langsung terhenti ketika melihat suara dari arah kolam renang yang memang berada di depan balkonnya sendiri. Dengan cepat Bima berlari kembali keluar balkon dan melihat ada apa dibawah sana.
Mata Bima membelakak bulat saat ia melihat seorang gadis yang terjebur di dalam kolam.Bima menyepitkan matannya agar bisa lebih jelas melihat siapa gadis itu.

“Apa yang di lakukan gadis itu?” heran Bima tak mengerti dengan tingkah Allen.

“Cish, “desis Bima dengan wajah yang merasa terganggu. Ia kemudian beranjak kembali kedalam kamar.
Bima melangkah menuju lemarinya. Ia mengambil handuk dan satu set baju handuk yang terlipat rapi di bagian kiri almarinya. Setelah mengambilnya. Bima pun melanjutkan langkahnya keluar kamar.
*****
Bima berjalan di halaman belakang, lebih tepatnya ia berjalan menuju Allen yang sedang duduk kedinginan di pinggir kolam. Bima menatap Allen dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.

“Pakai ini” ujar Bima kepada Allen saat ia sudah berada di depan gadis ini. Allen sendiri langsung kaget ketika mendapati Bima sudah di depannya dan menyodorinya handuk.

“Ba —, Ba —, Bagai —“

“Sudah cepat pakai. Kamu mau mati membeku disini?” Allen pun dengan cepat menerima handuk tersebut. Ia membulat-bulatkan pada tubuhnya.

“Se —, Sekali lagi makasih banyak” lirih Allen sambil menundukkan kepalannya. Ia merutuki sendiri apa yang baru saja ia lakukan. Ia merasa sangat bodoh sekali bahkan lebih dari memalukkan.

“Apa yang kamu lakukan malam-malam seperti ini?? Kamu sedang mengadakkan ritual? Atau kamu sedang melakukan akrobat?” Tanya Bima dengan nad sedikit sinis. Allen menggeleng-gelengkan kepalannya pelan.

“Maaf. Aku hanya tidak bisa tidur lagi. Aku terus mimpi buruk. Jadi, aku memilih duduk di ayunan. “

“Ta—,pi tadi besinya lepas dan membuat aku terjebur” jelas Allen dengan sejujur-jujurnya. Bima menolehkan kepalannya ke arah ayunan, dan memang benar yang dikatakan oleh Allen itu.
Bima menghelakan nafas panjangnya. Ia sebenarnya sudah sangat lelah, dan ingin segera tidur tapi rencanannya tidak sesuai dengan bayangannya. Ia harus menyelesaikan satu problem ini terlebih dahulu.

“Kaki kamu masih sakit?”

“Engg —Enggak kok. Ka —“

“Awww” pekik Allen saat Bima dengan sengaja menendang kaki kanannya sedikit kencang. Bima mendesis sinis sedangkan Allen hanya bisa menundukkan kepalannya.

Bima bersiap-siap akan membopong tubuh Allen. Namun Allen langsung memundurkan tubuhnya sedikit. Bima menatap Allen sebentar.

“Lo mau ngesot kedalam?” tanya Bima dingin.

“E —,nggak” jawab Allen pelan sambil menggelengkan kepalannya. Ia takut sekali dengan cara nada Bima dan aksen bicaranya yang sedikit berubah.

“Yasudah. Diam aja”

Dalam satu gerakkan cepat, Bima langsung membopong tubuh Allen. Kemudian ia berjalan kembali kedalam rumah. Allen hanya bisa terus menunduk tanpa bisa melakukan apa-apa. Keadaan saat ini sangat tidak nyaman baginya.
Bagi Bima sendiri, tubuh Allen tidak begitu berat. Bima memperkirakanberat badan gadis ini jika diperbandingkan juga dengan tinggi badannya kira-kira 48 kg..Berat badan yang proposional.
****
Bima kembali lagi mendudukkan Allen diatas kasurnya. Bima berjalan mengambil remote AC di kamar ini dan mematikan AC tersebut agar Allen tidak semakin kedinginan.

“mandi air hangat, lalu ganti baju kamu”

“I —, Iya”

“aku tunggu di depan kamar kamu, kalau sudah panggil aku”

“Ke —, Kenapa kamu menungguku di depan kamar?”tanya Allen binggung.

“Aku akan menjagamu sampai kamu tidur. Bukankah kamu bilang kamu tidak bisa tidur sendiri?” Allen membelakakan matannya. Ia kaget dengan ucapan Bima.

“Aku akan tidur di sofa. “ lanjut Bima lebih menjelaskan lagi karena ekspresi Allen yang tiba-tiba seperti itu, dan membuatnya risih. Allen menghelakan nafasnya legah.

“Tidak perlu, aku akan merepotkan kamu lagi.”

“Mata kamu juga sudah memerah. Pasti kamu sudah mengantuk” ujar Allen tidak enak.

“Sangat ngantuk. Besok lagi jangan melakukan hal-hal yang aneh dan membuat orang lain terganggu” sahut Bima sangat jujur. Allen mengigit bibirnya takut.

“Ma —, Maaf”

“Apa hanya kata itu saja yang selalu bisa kamu ucapkan ??”

“Ma —, eh, Aku tidak tau harus berkata apa. Sekali lagi aku sangat minta maaf”

“Sudahlah, cepat sana mandi. Aku akan tunggu di depan kamar”

Tanpa menunggu jawaban dari Allen, Bima segera beranjak keluar dari kamar Allen dan menutup kamar Allen begitu saja. Allen menganggukkan kepalannya, ia merutuki kebodahan yang telah ia lakukan selama hari ini. Allen merasa dirinnya sangat tidak berguna dan terus merepotkan saja.
Allen melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia melakukan perintah yang diberikan oleh Bima tadi.
****
Bima kembali ke kamarnya terlebih dahulu. Ia mengambil selimut dan bantalnya, setelah itu ia berjalan kembali menuju kamar Allen.
Bima meletakkan selimut dan bantalnya di depan kamar Allen. Ia memilih untuk pergi ke dapur mengambil untuk mengambil minum. Ia merasa tenggorokannya mulai mengiring.
*****
Bima menuruni tangga rumahnya, namun langkahnya terhenti saat ia mendapati Mr.Max bersama beberapa pengawal masuk kedalam rumah. Bima mengernyitkan kepalannya heran karena ia melihat Mr.Max sedang memarahi pengawal-pengawalnya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Bima dan membuat semua orang yang ada dibawah menoleh ke arah Bima dengan wajah kaget.

“Selamat Malam Tuan” ujar Mr.Max dan seluruh pengawal secara sepontan dan bersamaan.

“Kenapa kalian ada disini? Bukankah kalian ditugaskan mengawal Papa sampai di prancis ?” tanya Bima lagi. Mr.Max terlihat binggung mendengar pertanyaan Bima.

“Maaf tuan, kita disuruh kembali terlebih dahulu oleh Tuan Rio, dan be—, be—, besok mungkin Tuan Rio akan kembali ke Indonesia bersama Tuan Bov, Tuan Iqbal dan non Salsha” Bima membelakakan matannya merasa terkejut dengan berita yang dibawah Mr.Max.

“Ap—, Apaka kakek marah?” tanya Bima sedikit ragu. Mr.Max mencoba tersenyum.

“Tidak Tuan. Tuan Bov tidak akan pernah marah kepada cucu satu-satunya”

“Terima kasih Mr.Max” balas Bima penuh kelegaan.

“Tuan sendiri? Kenapa belum tidur? Bukankah tuan harus istirahat selama beberapa hari ini”

“Aku hanya haus. Aku ingin mengambil minum” jawab Bima.

“Biar saya yang ambilkan tuan” sahut salah satu pengawal yang ada di belakang Mr.Max. Bima mengangguk-anggukan kepalannya saja dan membiarkan pengawal itu pergi ke dapur.

“Kalian boleh pergi sekarang, besok pasti kalian harus menjemput papa, kakek, om dan tante di bandara. Jadi beristirahatlah sebentar”

“Terima kasih tuan” seru Mr.Max dan para pengawal.

Setelah kedatangan salah satu pengawal yang sedang mengambilkan Bima minum, dan memberikannya ke Bima. Mr.Max dan pengawal-penagwalnya beranjak dari sana. Bima menatap kepergian mereka dengan perasaan yang campur aduk. Berita dari Mr.Max entah mengapa sedikit menggangunya.
Bima mulai berfikir bagaimana keputusan kakeknya akan permintaan sang Papa. Sejujurnya, jika Bima boleh berharap, ia mengininkan Kakeknya tidak menyetujui keputusan sang Papa. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Mulutnya sudah menyumpahkan janjinya sendiri kepada Papanya. Menyesal? Tentu saja tidak. Bima hanya menginginkan sedikit harapan tersebut.
****
Pintu kamar Allen terbuka dari dalam. Allen mendapati Bima yang sedang berdiri disamping pintu kamarnya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Allen melihat Bima melipat kedua tangannya di dada dengan mata terpejam.
Allen menyunggingkan senyumnya saat menatap pria ini. Tentu saja Allen terkagum dengan ketampanannya, kharismanya dan kebaikannya. Allen berfikir kembali, Apakah benar tadirnya ia akan hidup bersama pria ini ?.

“Apa kamu mulai terpesona denganku?” Allen mematung seketika, ia menyembunyikkan senyumannya saat suara sindiran tersebut keluar dari mulut Bima.

Bima membuka matannya perlahan, ia menolehkan wajahnya ke arah Allen yang hanya menunduk dan tak berani menatap dirinnya. Bima tidak mempedulikkan Allen, ia membungkuk dan memunguti seprai dan bantal yang ada di bawah lantai.

“Biar aku yang bawain” ujar Allen dengan menjulurkan tangannya. Berharap Bima mau memberikan seprai dan bantal itu kepadannya.

“Aku sudang ngantuk. Minggir” Bima melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Allen begitu saja. Ia sedikit mendorong tubuh Allen sehingga mau tak mau Allen meminggirkan tubuhnya.

Allen tersenyum kecut, ia merasa bersalah karena sudah membuat Bima sedikit marah kepadannya dan merasa terbebani karena keberadaannya.

Allen kembali masuk kedalam, Ia melihat Bima yang sudah berbaring diatas sofa yang bersebrangan dengan kasurnya. Bima sendiri sudah memejamkan kedua matannya lagi dan sudah menyelimutkan tubuhnya dengan seprai yang ia bawah.
****
Allen masih belum bisa tidur kembali, Ia menatap ke dinding-dinding atap. Mencoba mencari sesuatu yang bisa dihitung. Allen mendengus kesal kepada dirinya sendiri. Ia sudah merasakan kantuk yang luar biasa, matannya pun terasa berat dan perih namun tubuhnya tak mau diajak berkompromi lagi. Allen pun mencari cara agar dirinya bisa tidur.

“ Apa yang kuberikan untuk Mama.Untuk Mama tersayang”

“Tak kumiliki sesuatu berharga, untuk mama tercinta”

“Hanya ini, kunyanyikan senandung dari hatiku untuk mama”

Bima perlahan membuka kembali matannya saat mendengar alunan pelan dan lembut dari suara Allen, ia sebenarnya tidak sepenuhnya tidur. Ia tidak tau kenapa gadis itu malah bernyanyi bukannya tidur. Namun, ketika mendengar suara lembut Allen, Bima merasa sangat tenang sekali. Bayang-bayang bundanya kembali datang. Bima menyunggingkan bibirnya membentuk seulas senyuman.

Bima tak lagi mendengar Allen bernyanyi, sepertinya gadis itu sudah tertidur pulas. Bima melepaskan selimutnya dari tubuhnya, Ia bangun dari atas sofa dan memakai sendalnya. Bima berjalan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara ke arah kasur Allen.
Bima mulai memperhatikan Allen yang memang sudah terlelap dalam tidurnya. Bima mendecak pelan ketika ia tak sengaja tersenyum sendiri saat menatap wajah Allen.

“Dia memang cantik” lirihnya pelan sekali sambil mengangkat bahunya.

Bima merapikan selimut Allen yang sedikit berantakkan, Ia menariknya sampai menutupi dada Allen.

“ Jangan pergi. Kalian Jangan pergi lagi—.”

“Allen mohon”

“Ja—, jangan pergi”

Bima mematung seketika. Allen mulai mengigau tak jelas. Bima menatap Allen dan benar saja, raut wajah Allen menampakkan kerisauhan dan kecemasan. Bima binggung apa yang harus ia lakukan saat ini. Sedangkan Allen masih terus saja mengigau.

“Mama—“

“Jangan tinggalin Allen!! Allen takuuttt!!!”

“Papa!!!”

“Booyyy!!! “

“Allen taaakuuuuuttt!!” kini Allen mulai berteriak cukup keras dan membuat Bima panik sendiri. Keringat dingin sudah terhiasi di pelipis dan dahi Allen.

Bima memberanikan diri menyentuh tangan Allen. Hangat—, Itulah yang Bima rasakan. Bima mengenggamnya dengan erat. Ia duduk berlutut agar bisa menyetarakan tubuhnya dengan kasur Allen.

“Allen benar-benar rakut”

“Allen takut!! ” Allen mulai bergerak-gerak tak menentu. Bima mulai mempercayai ucapan Allen yang menyatakkan bahwa gadis ini selalu bermimpi buruk jika tidur sendiri. Bahkan ia hanya bisa membeku mengetahui kebiasaan Allen yang seperti ini.

Bima sekali lagi dibuat binggung dan panik. Apa yang harus ia lakukan. Ia tidaklah ahli dalam hal ini. Karena memang untuk pertama kalinnya ia dihadapkan dalam situasi seperti ini. Menangani orang bermimpi buruk.

Bima mengarahkan tangannya ke puncak rambut Allen, ia memngelusnya perlahan-lahan. Tangan kirinnya pun masih ia biarkan dalam genggaman Allen.

“Sshuuuuttt. Tenang ”

“Allen tenang “ lirih Bima di dekat telinga Allen, dan benar saja Allen mulai menenang dan tidak mengigau kembali. Ekspresi wajahnya mulai berubah seolah dirinya sudah mendapatkan kenyamanan.

Selama 15 menit, Bima terus membelai rambut Allen. Setelah mengecek gadis ini benar-benar sudah tenang. Bima mulai melepaskan tangannya dari puncak kepala Allen, dan tangan kirinnya dari tangan Allen.
Allen sedikit menggeliat, dan tangan Bima yang hampir lepas digenggamnya kembali semakin erat. Bima mendecak ringan. Sekali lagi ia mencoba untuk melepaskan tangannya dari tangan Allen dengan hati-hati.

“Jangan pergi”

Bima mematung, ia menatap Allen dengan tatapan yang entahlah. Bima pun mengurungkan niatnya dan membiarkan saja tangannya dalam keadaan seperti itu. Bima merubah posisinya untuk mencari kenyamanan. Ia mulai sedikit mengatuk.
Akhirnya, Bima sudah tidak kuasa menahan kantuk dalam dirinnya. Kepalannya perlahan ia senderkan pada kasur Allen. Ia pun mulau terlelap dengan sendirinnya.
****
Jam 05.00, Alarm ponsel Allen berbunyi nyaring menyebabkan 2 orang yang ada didalam kamar ini langsungterpelonjat dan terbangun. Mereka mencoba memenuhkan kesadaran mereka.
Saat mereka sudah merasa, semua kesadaran dan naywa mereka kembali seutuhnya. Bima menatap Allen dan bersamaan juga Allen menatap Bima. Mereka saling bertatap-tatapan cukup lama. Sampai akhirnya, Allen menyadari bahwa ada sesuatu yang lembut mungkin menggenggam tangan kirinnya. Mata Allen perlahan menurun sampai akhirnya ia menemukkan tangan kirinnya dalam genggaman Bima.
Bima sendiri mengikuti arah pergerakkan mata Allen, meraka berdua sama-sama melihat pada satu titik.

“Sorry”

“Maaf”

Ucap mereka bersamaan dan langsung salah tingkah sendiri. Baik Bima maupun Allen mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Fikiran mereka kacau dalam hitungan detik.

“ Terima kasih sudah mau menemani aku. Maaf merepotkan” ujar Allen gugup. Setelah itu ia segera bangkit dan berjalan ke arah kamarnya dengan tergesah-gesah meskipun kaki kanannya masih sedikit sakit.

Sepeninggalan Allen, Bima mengacak-acak rambutnya sendiri sedikit frustasi, bagaimana bisa ia tetep memegang tangan gadis itu sampai sepagi ini. Bima mendengus pelan. Ia pun bangkit dari duduknya. Ia merasa ada bagian-bagian tubuhnya yang sakit. Mungkin lebih spesifiknya bagian punggung dan kepalannya. Rasanya nyeri semua.
Bima merengangkan tubuh-tubuhnya sebentar. Ia Melakukan sedikit setreching.

Toookkkk. Toookkkk

“Masuk” ujar Bima masih sibuk dengan aktivitasnya.

Pintu pun dibuka oleh seseorang dari luar. Nampaknya orang tersebut kaget dengan keberadaan Bima yang ada didalam kamar ini dijam seperti ini.

“Maaf Tuan, Apa non Allen sudah bangun?” Bima terpelonjat kaget, ia menoleh ke arah pintu. Bima mendapati Bi Ja ada di ambang pintu tersebut dengan ekspresi binggung. Bima sendiri mulai panik harus menjawab apa, Ia takut pembantunya ini berfikir macam-macam.

“Semalam Allen mimpi buruk terus, dia juga sempat terjebur di dalam kolam. Jadi saya hanya menjagannya tidur malam ini” ujar Bima tanpa disuruh. Bi Ja mengernyitkan keningnya tambah binggung.

“Maaf Tuan, saya cuma nanya Non Allen sudah bangun?” ulang Bi Ja dan membuat Bima mematung. Ia mulai merutuk dalam hati melihat kebodohannya sendiri.

“Sudah Bi. Dia sedang mandi sekarang”

“Oh gitu, Tolong sampaikan Tuan, Ini seregamnya sudah Bi Ja setrika” Bi Ja menyerahkan se-paket Seragam khas Arwana. Bima mengernyitkan keningnya merasa familiar tentunya dengan seragam ini.

“SMA ARWANA. “lirih Bima, tangannya menerima seregam tersebut. Mata Bima melihat ke arah logo SMA ARWANA. Sedangkan Bi Ja mulai beranjak pergi dari kamar Allen.

“Jadi dia sekolah disana. Pintar dong? Tapi kelihatannya sama sekali enggak”serah Bima seenak hatinya. Setelah itu matanya berpindah pada name tag yang tertera pada bagian kanan seragam atas.

“Allen Razara Bohra” eja Bima pelan.

“Nama yang cukup bagus” lanjutnya, Bima pun menaruh seragam Allen di atas kasur. Kemudian, ia berjalan keluar dari kamar Allen. Bima masih sedikit mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya kembali sepuas mungkin di kamarnya. Karena ini adalah kesempatan emasnya mendapatkan jata tidur yang lama sebelum pekerjaan-pekerjaan di perusahaan akan menghantuinya kembali.
****
Allen keluar dari kamar mandi sedikit mengendap-endap. Ia mengecek kamarnya dan ternayata sudah kosong tidak ada Bima disana. Mata Allen menangkap seregamnya yang sudah ada di atas kasur.

“Ahh. Bi Ja sudah kesini” lirihnya, memang siang kemarin Bi Ja memaksa ingin menyetrikakan baju-baju Allen.

Allen melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 6.00, sebenarnya ia sudah selesai mandi sejak 30 menit yang lalu. Namun, ia sama sekali tidak berani untuk keluar dan harus terjebak didalam kamar mandi sampai jam 6.
Allen buru-buru segera memakai seragamnya. Karena ia harus mencari taxi di daerah sini dan takut daerah perumahan ini jauh dari sekolahnya. Allen sendiri belum mengenal daerah dirumah Bima. Tentu saja ini untuk pertama kalinya.
*****
Allen menuruni tangga pelan-pelan, ia sudah rapi dengan seregamnya, Pagi ini Allen terlihat sangat cantik dengan rambut yang sengaja ia geraikan dan terdapat pita berwarna tosca yang ia ikatkan di bagian depan rambutnya. Menambah kecantikannya.
Allen melewati beberapa pengawal yang sedang menata beberapa guci di ruang tengah. Allen merasa sedikit tak enak karena pengawal-pengawal tersebut memandanginya tanpa berkedip.

“Selamat pagi Non” sapa Mr.Max dan membuat pengawal-pengawal itu sdikit kaget dan gelagepan.

“Selamat pagi Mr.Max” balas Allen sedikit bersyukur dengan kedatangan Mr.Max

“Non benar-benar cantik. Seperti malaikat” puji Mr.Max jujur. Allen tersenyum ringan, meskipun itu bukan pertama kalinnya ia mendapatkan pujian seperti itu. Namun, Ia merasa tersanjung sekali.

“Terima kasih, Mr.Max. “

“Mobil yang mengantarkan non kesekolah sudah siap. Non, silahkan sarapan terlebih dahulu. “ lanjut Mr.Max , Allen terdiam sejenak.

“Allen bisa naik taxi atau busway, Mr.Max jadi, Allen berangkat sendiri saja” ujat Allen tidak enak karena merasa akan merepotkan. Mr.Max mengembangkan senyumnya.

“Mencari busway disini tidak ada non. Kalau non menunggu taxi datang pasti juga akan lama. Lebih baik non kami antarkan. Ini juga amanat dari Tuan Rio” jelas Mr.Max.

“Oh gitu ya”

“Iya non, Sekarang non sarapan dulu. Daripada telat sekolahnya”

“Mr.Max sendiri tidak makan ?” tanya Allen lagi. Mr.Max menggeleng-gelengkan kepalannya.

“Saya menunggu tuan saya bangun dulu Non”jelas Mr.Max dan membuat Allen hanya bisa mengangguk-anggukan kepalannya.

Mr.Max melihat kepergian Allen menuju rumah makan. Mr.Max benar-benar memuji dengan tulus kecantikkan dan kebaikkan hati Allen. Menurutnya pribadi, dibandingkan dengan Alyn, kekasih tuannya. Allen memang benar memiliki kecantikkan 3 kali lipatnya. Namun, mereka berdua sama-sama memiliki hati yang baik.

Setelah selesai makan. Allen pun segera berangkat ke sekolah dengan mobil yang sudah siapkan oleh Mr.Max di depan.
****
Mr.Max masuk kedalam kamar Bima, ia melihat sang tuan masih terlelap diatas kasur dengan posisi tidur yang sedikit amburadul. Mr.Max mengernyitkan kening, tidak biasannya tuannya tidur seperti ini.
Mr.Max siap-siap berdiri di sebelah gorde jendela. Ia sudah menyiapkan peliut di mulutnya. Dalam hitungan detik berikutnya Mr.Max meniup peluitnya dengan keras, bersamaan dengan membuka gorden di jendela kamar Bima.

PRRRRIIIIIIIIIIIIITTTT

RRIIIIIIIITTTTT

PRRRRRRRIIIITTTT

Bima menutup telingannya rapat-rapat, matannya langsung membuka lebar begitu saja. Ia mencoba menahan kekesalannya.

“Berisik tau nggak sih Mr. Max” omel Bima. Ia mulai mendudukan posisinya diatas kasur. Mr.Max tersenyum bangga dengan hasil pekerjaannya.

“Tuan, jam 11 nanti, mungkin Tuan Rio, Tuan Bov, Tuan Iqbal dan Non Salsha sudah tiba di rumah “

“Rumah? Apakah kita tidak menjemputnya di bandara?”

“Tidak tuan, mereka ingin langsung datang disini sendiri dan sudah ada pengawal-pengawal yang stand by di bandara” Bima mengangguk-anggukan kepalannya.

“Udah gitu aja laporan pagi ini?” tanya Bima masih sedikit kesal akibat tidurnya terganggu.

“Ada lagi tuan”

“Apa?” tanya Bima dengan nada risih.

“saya mendapat laporan dari Bi Ja, tuan ada dikamar non Allen sekitar ja—“

“Bi Ja juga tentu melaporkan alasannya bukan, kenapa saya di kamar Allen?”

“I—, Iya tuan”

“yaudah nggak sudah tanya lagi. “ ujar Bima dan bersiap-siap akan tidur lagi. Namun baru saja kepalannya akan menyentuh pada bantal., Mr.Max dengan cepat-cepat meniup peliut ditangannya sekali lagi dengan keras.

PRRIIIIITTTTTTTT

“APA LAGI SIH!!” kesal Bima kehabisan kesabaran.

“ Saya Cuma mau melaporkan, tadi pagi Non Allen cantik sekali tuan” ujar Mr.Max dengan wajah berbunga-bunga.

“Mr.Max? anda sedang melaporkan? Atau sedang curhat ? Jangan berbicara hal yang tidak penting kepada saya .”

“Dan sekarang. Cepat keluar !! saya akan tidur lagi. Saya lelah Mr.Max”

“Baik Tuan. Maaf kan saya”

Bima hanya bisa menggeleng-gelengkap kepalannya melihat kelakuan sekertaris pribadinnya yang tiap hari bukannya tambah waras atau normal sedikit melainkan tambah menjadi.

“Tanpa anda melaporkan, Saya sudah tahu bahwa Dia memang sangat cantik Mr.Max “ lirih Bima pelan setelah itu langsung ambruk tertidur kembali.

Bersambung . . . . . .

4 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 6

  1. waduh….
    Bima jangan sampai jatuh cinta sama allen. Alyn gimana?
    Masak bima setega itu sama alyn.
    Sumpah pengen gorok bima rasanya kalau jatuh cinta sama allen -_-

  2. bau bauu gk enak, klo semua keluarga bakl kumpul .. ini bhs pernikahan pasti😦
    sekali kali gitu kk, tunjukin gmna alyn dijepang.
    sebrnarnya mulai suka sama allen. tpi lebih cocok kalo sama alyn deh kk. hehe

    selaluu keren kak HYO.

    NEXT lagiii😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s