D3STINY OF LOVE AND LIFE – 7

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 7
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s “

******

Rio duduk di sebalah Mr.Bov, mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Mr.Bov sendiri baru saja kembali dari German dan tanpa pulang harus langsung ikut dengan Rio.
Wajah lelah Mr.Bov sedikit terlihat, beliau menyenderkan kepalannya pada bantal yang ada dibelakangnya.

“Pa, Maafkan Bima. Tolong Papa bisa bicara baik-baik dengan dia. Bima masih belum sepenuhnya dewasa, semuannya juga bukan kesalahannya” ujar Rio memohon.

“Papa tau” jawab Mr.Bov singkat.

“Rio hanya ingin mengajari anak Rio cara bertanggung jawab atas semua kesalahannya. “

“Papa mengerti”

“Jangan hakimi Bima“

“Papa sangat menyayangi cucu Papa satu-satunya. Jadi jangan terlalu khawatir” Rio mengangguk-angguk ringan. Setelah itu ia membiarkan mertuannya tersebut beristirahat.

Rio sendiri sudah menceritakkan semuanya kepada Mr.Bov sejak 3 jam yang lalu. Perdebatan ringan sampai besar terjadi di dalam pesawat antara Rio dan Mr.Bov, terkadang salsha dan Iqbal sendiri ikut memberikan suara. Dan sampai saat ini pun tidak ada jalan keluar dari masalah tersebut. Namun, semua keputusan berada di tangan Mr.Bov, tidak ada yang bisa membantah perintahnya.
****

Pelajaran pagi ini menjadi terasa berat dan membosankan bagi Allen, fikirannya tak bisa ia fokuskan pada mata pelajaran pagi ini. Allen hanya bisa diam dan menatap ke depan dengan tatapan hampa.

“Miss. Bohra, tolong anda tuliskan jawaban nomer 5 dengan cara anda sendiri”

“Miss. Bohra” Allen tersentak kaget mendengar namannya di panggil. Ia memandang ke sekitar kelas, semua makhluk seisi kelas tatapannya tertuju kepada Allen. Mereka melihat Allen dengan tatapan heran.

“Saya minta maf Prof, saya tidak bisa fokus ke pelajaran ini. Maaf “ jujur Allen merasa bersalah sekali. Prof. Fei berjalan mendekati Allen.

“Are you sick?” tanya Profesor cantik itu. Allen menggeleng lemas mencoba tersenyum.

“Saya baik-baik saja Prof. Sa—, saya akan mengerjakan nomer 5” jawab Allen dengan cepat. Ia menarik buku paket di depannya dan segera berdiri.

“Tidak usah Allen. Kamu ke UKS sekarang dan istrirahatlah sebentar. Wajahmu terlihat pucat” Allen terdiam beberapa saat, ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinnya sedang tidak enak badan ataupun wajahnya pucat. Ia hanya bisa merasakan bahwa hari ini fikirannya tidak bisa fokus dan tubuhnya terasa lelah.

“Tapi Pr—“

‘”Tidak ada tapi-tapian Miss. Bohra. Cepat ke UKS”

Allen mengangguk lemah, ia meletakkan kembali buku paket.nya. Setelah itu berjalan keluar kelas untuk menuju UKS.
*****
Allen membaringkan tubuhnya di salah satu kabin paling pojok. Ia menutup seluruh gorden yang menyekat antara kabin satu dengan kabin lainnya.
Allen diam seribu bahasa, otaknya memutar segala memory yang pernah terjadi di kehidupannya. Perlahan, air matannya menetes dengan sendirinnya tanpa ia suruh. Allen sendiri tidak berniat untuk mengusnya. Ia membiarkan saja air matannya mengalir.

“Apa aku pergi saja dari kota ini?”

“Lalu? Aku harus kemana?”

“Kenapa semuanya terasa berat sekali. “ Allen memijat pelipisnya entah mengapa kepalanya terasa ingin pecah saat ini. Perlahan ia mencoba memejamkan kedua matannya. Membiarkan tubuh dan fikirannya tenang beberapa saat walaupun rasanya susah.
Namun, beberapa detik kemudian, Allen terbangun kembali. Ia mendengar suara seorang gadis di kabin sampingnya seperti sedang menelfon. Perbincangan tersebut sedikit membuatnya tertarik.

“ Gimana dong? Kalau gue libur kerja, gue bisa dipecat sama boss gue. Gue jam 4 masih ada ujian tambahan, Aisshh”

“Ayolah, sekali ini saja lo gantiin gue. Apa lo nggak bisa ?”

“Lo tau sendiri kan? Gue disini nggak bisa ngasih tau identitas gue. Bisa-bisa gue di jauhi sama teman-teman gue kalau sebenarnya gue Cuma anak biasa yang mengambil kerja tambahan di mall.

“Tolonglah. “

“Apa lo bener-bener nggak bisa bantu?”

Allen segera berdiri dari kasur yang ia tiduri tadi, setelah itu ia membuka kabin disampingnya. Ia mendapati gadis itu nampak terkejut dengan kehadiran Allen.

“Apa kamu butuh pengganti pekerjaan kamu?” tanya Allend engan senyum yang merekah. Gadis yang menelfon tersebut mengangguk dengan wajah masih terkejut.

“Aku mau gantiin”

“Allen ka—, lo serius?” tanya gadis itu yang nampaknya sudah sangat mengenal sang idola sekolahnya. Allen mengangguk-angguk senang.

“Berikan pekerjaan sehari itu ke aku, kamu bisa memberiku berapapun. Aku mau, kalau kamu memberikanya kepadaku. Aku akan tutup mulut soal identitas asli kamu.” Ujar Allen sedikit mengancam. Gadis itu pun mengagguk-angguk menurut.

“Baiklah, jam 4 sore sampai 9 malam di Mall Grandstar, gue jadi cleaning service disana. Kalau lo mau ambil lembur sampai jam 11 malam. Gaji gue perhari 50 rbu dan lemburnya 20 ribu “ jelas gadis itu tetap dengan wajah binggungnya. Allen mengangguk penuh semangat.

‘Lumayanlah, Aku mau. Aku akan gantiin kamu nanti jam 4 sore. “

“Yakin?”tanya gadis tadi masih ragu-ragu.

“Sangat yakin”

“Yasudah, gue akan telfon supervisor gue, loe tinggal ke bassemant, cari kantor clining service, ada loker namanya HENA, itu milik gue “

“Oke. Makasih banyak ya “

“I—, Iya “

Allen merasa segala penat dan pusingnya langsung hilang seketika. Ia melakukannya karena ia ingin mengumpulkan uang sendiri, Ia tidak ingin menjadi parasit lagi. Ia akan melakukannya secara diam-diam.

“Aku pergi dulu. Sekali lagi makasih kasih Hena” ujar Allen kepada gadis bernamakan Hena tersebut.

Allen beranjak dari UKS dan segera kembali ke kelas. Ia sudah merasa lebih sangat baik saat ini.

“Setidaknya aku bisa belajar kerja”

“Walaupun jadi tukang bersih-bersih. Semangat Allen”

****
Bima mengganti pakaiannya lebih rapi, beberapa jam yang lalu dia sudah membersihkan dirinnya. 10 menit lagi ia memperkirakan Papa, kakek, Om dan tantenya akan datang dirumah ini. Apapun yang akan terjadi nantinya, Bima harus sudah siap mental, hati dan fikiran.

“Mungkin saat masih menjadi janin dan ada pembagian mata, hidung, wajah, tubuh, semuannya, gue langsung baris subuh-subuh biar bisa dapatkan kualitas yang bagus”

“Seperti saat ini” Bima mencoba bercanda dengan dirinnya sendiri. Bagkan dirinnya saja tak henti-hentinya memuji ketampanannya sendiri.

“Bagaimana bisa ada wajah yang tampan seperti ini ?”

“Tapi nasib gue sedikit tidak tampan bukan? Bahkan sangat runyam dalam seketika” Bima sedikit terlihat muram, ia melihat dirinnya sendiri sedikit memiriskan disana.

“Semangat Bima” ujar Bima singkat.

TOOKKTOOOKKK

“Tuan, mereka sudah sampai “ teriak salah satu pengawal di balik pintu kamar Bima.

“saya akan segera turun” jawab Bima datar.

Bima melihat dirinnya kembali di pantulan kaca di depannya. Sebanyak apapun ia melihat dirinnya sendiri disana, dia selalu mengagumi segala ciptaan yang ada di depannya itu. Bima mengembangkan senyumnya sedikit, menghelakan nafas berat lalu menghembuskannya begitu saja. Setelah itu, ia beranjak untuk keluar dari kamarnya.
*****
Bima menuruni tangga rumahnya, ia mendengar suara tantenya sudah ribut-ribut. Bima mempercepat sedikit langkahnya. Saat ia sudah pada tangga terakhir ia dapat melihat jelas tante, Om, kakek dan papanya berada diruang tengah.

“BIMAA!!! Are you oke ??” Salsha langsung berteriak dengan wajah kahwatir. Ia menghampiri keponakannya tersebut dan memeriksa apa ada sesuatu yang tertinggal dari keponakan tercintannya itu.

“I’m oke aunt. “jawab Bima memaksakan senyumnya. Salsha melirik Bima tajam. Kedua tangannya perlahan ia taruh di pinggangnya sehingga tangannya membentuk sebuah sudut sekitar 50 derajat.

“Sudah aunty bilang berapa kali jangan panggil aunty dengan aunt!! Memangnya aunty ini semut!!” protes Salsha tidak suka. Bima terkekeh pelan.

“Sorry aunty cantik” ujar Bima dan langsung memeluk Salsha erat membuat tantenya tersebut tak marah lagi tentunya. Bima perlahan melepaskan pelukannya, kedua matanya menangkap tatapan tegas yang berkharisma. Bima mencoba mengembangkan senyumnya walaupun rasanya kaku.

“Are you oke?” tanya pria yang sudah beruban putih pada sebagian rambutnya, bahkan keripit-keriput diwajahnya terlihat sangat jelas. Namun, ketampanan dan kharisma dari pria tua tersebut sama sekali tidak pudar.

“Yes. I’m so sorry” jawab Bima sambil menunduk lemah. Pria tersebut berjalan kearah Bima, merengkuh Bima ke pelukannya dalam detik berikutnya.

“ It’s oke. Semuanya akan baik-baik saja” Bima merasa hidupnya seperti terselamatkan untuk 10 tahun berikutnya.

“Aku benar-benar minta maaf grandpa. Bima melakukan kesalahan yang sangat fatal” tukas Bima menjabarkan bagaimana rasa bersalahnya, mengakui semua kesalahan terbesarnya kepada pria tua tersebut yang tak lain adalah sang kakek, Mr.Bov.

“Semuanya adalah kecelakaan. Forget it. “ Bima mengangguk ringan, pelukan Mr.Bov perlahan mengendor. Mr.Bov melihat cucu satu-satunya tersebut sambol tersenyum.

“Tidak apa-apa Bima. Tidak apa-apa” ujar Mr.Bov masih berusaha menenangkan cucunya tersebut. Rio dan Iqbal tersenyum melihat tingkah lucu Bima yang seperti anak kecil. Bima hampir saja menangis ketakutan dihadapan Mr.Bov.

“Ayo duduk dulu. Kaki gue rasanya udah nggak ada tulangnya geys” ujar Iqbal asal dan langsung mendapat lirikan maut dari Mr.Bov.

“Kaki saya seperti sudah tidak ada tulangnya. Benar begitu kan Mr.Bov ?” ralat Iqbal dengan cepat dan segera mengambil tempat duduk disalah satu kursi di ruang tamu.

“Aisshh. Bahasa indonesiaku masih tetap bagus. Iqbal gitu” ujar iqbal sangat bangga. Mr.Bov hanya bisa geleng-geleng melihat anak satu-satunya tersebut.

Semuannya pun menyusul Iqbal, mereka duduk di kuris-kursi yang ada disana. Sedangkan Salsha membantu Bi Ja menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk pria-pria tersebut. Salsha tau hari ini akan menjadi sebuah perbincangan yang serius yang menentukkan nasib keponakannya tersebut.

“Bagaimana kabar Non ?” tanya Bi Ja disela-sela membantu Salsha menyiapkan disert ringan.

“Baik sekali Bi “

“Non, udah hamil?” tanya Bi Ja hati-hati. Salsha menggelengkan kepalannya pelan.

“Doakan saja Bi, Salsha juga sudah nggak sabar bisa punya anak hehee” cengir Salsha.

“Iya. Bibi doakan buat non Salsha dan tuan Iqbal”

“Terima kasih banyak ya Bi”

“Sama-sama Non “
****
Semuannya tidak ada yang berani mengeluarkan kata apapun lagi, mereka menunggu sampai Mr.Bov yang mulai mengeluarkan suara. Bima benar-benar sudah pasrah dengan nasibnya setelah ini.

“Gimana kabar Alyn??” mata Rio dan iqbal langsung terdongak melihat ke arah Mr.Bov, mereka nampak terkejut mendengar pertanyaan Mr.Bov, mungkin Bima sendiri yang paling terkejut diantara lainnya.

“Gimana kabarnya?” ulang Mr.Bov, ekspresinya terlihat tanpa beban.

“Ba—, baik sa—,ja Grandpa” jawab Bima gugup. Mr.Bov mengangguk-anggukan kepalannya ringan.

“Kamu mencintai dia ?” tanya Mr.Bov lagi. Bima menundukkan kepalannya sedikit

“Pa—“ Rio mulai ingin angkat bicara namun Mr.Bov langsung mengenggam tangan Rio memberikan kode agar Rio tidak ikut-ikut. Rio pun hanya menghelakan nafas pasrah. Dia tidak tau dengan permainan mertuannya tersebut.

“Bim? “ panggil Mr.Bov lagi, Bima mengangguk-anggukan kepalannya ringan.

Mr.Bov memainkan kukunya sambil mengangguk-anggukan kepalannya, ekspresinya sedikit berubah. Iqbal melihat papanya sedikit takut. Ia tau ekspresi itu. Raut wajah Mr.Bov terlihat tajam dan tegas. Seolah apa yang ia katakan selanjutnya harus dituruti tanpa ada bantahan sedikit pun.

“Kalau Allen?” Bima semakin menundukkan kepalannya, nafasnya sedikit tercekat mendengar pertanyaan kali ini.

“Bi—, Bima, Bima akan menikahi dia” jawab Bima dengan susah payah. Mr.Bov menatap Bima serius. Senyum sinis terlihat sedikit di raut wajah Mr.Bov.

“Menikah dengan Alyn? Atau menikah dengan Allen?” tanya Mr.Bov dengan suara tanpa gurau sama sekali. Bima mengeratkan kedua tangannya. Ia mulai ketakutan sekarang.

“Al—, All—, Allen”

“Jawab yang serius!! Kamu pewaris tunggal FreedMoon ! Sejak kapan jadi lembek seperti itu” nada suara Mr.Bov sedikit meninggi.
Bima memberanikan mengangkat kepalannya dan menatap Mr.Bov.

“Bima akan menikah dengan Allen” jawab Bima dengan tegas. Mendengar jawaban Bima tersebut, Mr.Bov tertawa sinis. Membuat nyali Bima menciut kembali. Namun, ia berusaha tetap pada posisinya ia tidak menungukkan kembali kepalannya.

“Kamu fikir menikah itu mainan? Ha?”

“Dia akan jadi nyonya presedir Freedmoon. Dia akan membantu semua yang kamu kerjakan kedepannya. Dia yang akan mengurusi kamu dan anak kamu nanti. Dia yang akan melahirkan penerusmu nanti . “

“Kalau kamu tidak bisa melakukan permintaan Papa kamu. Jangan lakukan!! “ Bima mengarahkan pandangannya ke arah lain, ia sudah tak kuat melihat tatapan tajam tersebut.

Mr.Bov mengarahkan pandangannya ke arah sekertaris pribadinya, tangannya seolah ingin meminta sesuatu, dan sekertarisnya tersebut memberikannya dua map satu berwarna biru dan satu berwarna kuning.
Mr.Bov melemparkan kedua map dihadapan Bima. Bima melihat kedua map tersebut dengan bertanya-tanya. Apa yang ada didalamnya.

“Yang Biru, Profil Alyn lengkap dari kecil sampai sekarang “

‘Yang Kuning, Profil Allen lengkap dari kecil sampai sekarang.

“Baca !! “

Tangan Bima terlihat sedikit gemetar, ia memberanikan diri perlahan menggerakan tangan kanannya untuk mengambil salah satu map tersebut. Mr.Bov melihat saja apa yang dilakukan oleh cucunya tersebut. Begitu juga dengan Rio dan Iqbal.
Bima menyentuh map kuning yang ada di sebelah kirinnya, dimana map tersebut adalah Map dengan profil lengkap seorang Allen.

“Cukup! Kamu akan menikah dengan Allen” ujar Mr.Bov dengan suara khasnya, mendengar pernyataan Mr.Bov. Bima langsung menjatuhkan kembali map yang ia pegang diatas meja. Ia nampak sangat terkejut. Rio terlihat tersenyum sedikit, namun senyumnya itu tak menggambarkan kebahagiaan atau apapun. Senyum miris yang menggambarkan bagaimana anak satu-satunya tersebut sedang dipermainkan oleh Kakeknya sendiri.
Iqbal yang hanya diam dari tadi pun terlihat mulai gelisah. Ia tentu pernah berada dalam situasi seperti Bima. Ia sangat ingat bagaimana papanya yang semula menjadi malaikat penenang, mulai mengadilinnya dengan cara yang benar-benar membuatnya frustasi seperti Bima saat ini. Seolah hukuman itu begitu pantas di dapat. Hukuman yang diam-diam mematikkan dari apapun. Itulah, kharisma dari Mr.Bov.

“Kenapa? Bukannya kamu tadi bilang akan menikahi Allen? Ada apa dengan ekspresi kamu itu?”tanya Mr.Bov sedikit sinis. Bima dengan cepat merubah ekspresinya.

“Kamu ingin merubah keputusan kamu ?”

“Cishh “ Mr.Bov mendesis ringan.

“Bagaimana kamu akan menikah dengan gadis yang baru kamu kenal dan tidak pernah kamu cintai ?”

“Kamu siap melepaskan Alyn?” Bima mengembangkan senyumnya dan menatap kakeknya tegas. Seolah ia ingin membuat perlawanan.

“Bima sangat salah, Bima tau. Bima tidak ingin jadi pengecut karena kakek Bima pun tidak pernah mengajarkan Bima menjadi seorang pengecut. Bima sudah melakukan kesalahan terbesar maka Bima harus tanggung jawab. “

“Bima bukan anak kecil lagi. Bima bisa memutuskan sendiri kehidupan Bima. Resikio apapun ke depannya Bima akan terima. Karena ini sudah keputusan Bima “

“Bima akan menikah dengan Allen. Bima akan menikahi gadis itu”

“Rasa suka dan rasa cinta perlahan akan datang sendiri bukan? Kenapa harus memfikirkan hal sepele seperti itu?” Mr.Bov tidak berekspresi sedikit pun mendengarkan pernyataan Bima yang pajang.

“Kamu benar akan melepaskan Alyn??”

“Ya. Bima akan melepaskan Alyn”

“Benarkah? Bukankah kamu sangat mencintai gadis itu sampai memberikan apapun yang kamu punya untuk gadis itu. ?”

“Cinta Bima saat ini memang untuk Alyn, bahkan Bima sangat mencintainya, namun perlahan Bima akan mencoba bisa melupakan Alyn. Seperti yang Bima bilang tadi. Resiko apapun akan Bima tanggung”

‘Resiko apapun ??” ulang Mr.Bov tajam. Bima tidak ingin kalah dengan kakeknya. Ia tahu bahwa kakeknya sedang berusaha memojokkanya sama ia lemah. Ini pun tidak untuk pertama kalinnya ia mendapat ujian dan hukuman seperti ini dari sang kakek.

“Apappun!”

“5 tahun kamu setia menunggu gadis itu? Dan rela melepaskannya begitu saja?”

“Bima sudah yakin dengan keputusan Bima. Bima akan menikah dengan Allen. Bulan depan, minggu depan, besok bahkan sekarang Bima siap” Mr.Bov mengangguk-angguk ringan. Ekspresinya masih sama, seperti meremehkan cucunya ini.

“Kamu tidak peduli dengan perasaan Alyn ?”

“Pa, sudahlah. Kasihan Bima” salsha yang tiba-tiba datang langsung merangkul Bima. Salsha menatap Mr.Bov dengan memohon. Iqbal mendecak dengan kelakuan istrinya tersebut.

“Tidak apa-apa Aunty” ujar Bima dan perlahan melepaskan rangkulan Salsha darinnya. Salsha segera mengambil tempat duduk disamping Iqbal.

“Bima bisa menjelaskannya kepada Alyn “

‘Wahh, Mudah sekali kamu bicara. Apa yang akan kamu bicarakan kepada Alyn ? kamu ingin membuatnya menangis ?”

“Bima tau saat ini posisi Bima sangat sangat dan sangat membingungkan. Hidup adalah pilihan bukan? Bukankah itu yang Grandpha ajarkan kepada Bima, dan pilihan Bima adalah menikah dengan Allen. Bagaimana pun nantinya kisah Bima dan Alyn, semuannya akan berlalu sendiri bukan?”

“Berlalu? Mungkin” sahut Mr.Bov ringan.

“Kamu siap Alyn membenci kamu ?”

“Siap tidak siap” jawab Bima datar.

“Sekali lagi kakek tanya kamu dengan serius. Ini tidak menyangkut diri kamu sendiri atau perkataan papa kamu”

“Ini menyangkut segalannya, wanita pendampingmu sampai nantinya, menemani kamu dengan nyaman memimpin perusahaan, dan mendukung kamu terus, dan bagaimana sikapmu benar-benar memilih dengan tepat dalam posisi 2 gadis yang sama-sama terluka”

“Kamu akan menikah dengan Allen ? atau kamu memilih mempertahankan Alyn? “Bima mendengus kecil. Merasa sudah bosan dengan pertanyaan ini.

“Bima akan menikah dengan Allen!! “

“Menikahi dengan Alyn ? atau menikahi Allen ??”

“Bima akan menjawab untuk yang terakhir dan tidak akan merubah keputusan Bima, Bima akan menikah dengan Allen” jawab Bima tajam dan sangat tegas. Mr.Bov menghelakan nafasnya dan sedikit memundurkan tubuhnya yang semula sedikit ke depan.

Mata Mr.Bov mulai terarah ke suatu pandangan yang lebih menarik mungkin saat ini yang berada tak jauh di belakang Bima.

“Oh my god — “ lirih Salsha dengan nada shock, ia lansung menutup mulutnya dengan tangan kannya, matannya pun membulat sempurna dengan pemandangan di depannya tersebut.

Mendengar ucapan salsha yang seperti sangat kaget sekali seperti itu, semua mata pun terarah ke arah pandang Mr.Bov, terkecuali Bima yang masih menunduk dan mengontrol dirinnya sendiri.

“PA!! “ pekik Rio menatap Mr.Bov, Rio benar-benar tak percaya dengan yang dilakukan oleh metuanya saat ini.

“Apa papa nggak kelewatan “ desis Bima pelan kepada Papanya. Namun Mr.Bov nampak tidak peduli dan hanya diam dengan ekspresi datar dan tenang yang ia punya.

“Bi—, Bi—, Bima “

Suara serak tersebut seketika membuat Bima mematung. Tubuhnya langsung gemetar dalam hitungan detik berikutnya. Ia mencoba menguasai dirinnya dan menyugesti dirinnya sendiri bahwa suara itu tidaklah nyata.

“Bi—, Bim”

Bima memejamkan matannya sangat erat, ia mengepalkan kedua tangannya, menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan-lahan. Suara tersebut benar nyata. Bima mengontrol seluruh tubuhnya yang mulai gemetar sendiri.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin “ Bima mulai berbicara dengan dirinnya sendiri. Ia memberanikan diri membuka matannya. Bima melihat wajah orang-orang di depannya seperti Papanya, Om.nya dan tantenya seolah menyuruhnya agar tidak membalikkan badan.

“Jangan lakukan” lirih Salsha yang keluar begitu saja dari mulutnya. Wajah salsha sangat memohon agar Bima tetap diam seperti itu.

Namun, Bima harus memastikannya sendiri, walaupun kenyataanya ia sudah akan tau apa yang akan dilihatnya itu. Ia masih sangat berharap bahwa semuannya tidak nyata. Dengan keberaniannya, Bima menolehkan wajahnya pelan-pelan ke arah belakang.
Situasi saat ini seperti slow motion yang terjdi dalam sebuah drama-drama di televisi. Bima menolehkan kepalannya dan tepat saat kedua matannya sudah menatap dan mendapatkan sebuah pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan. Rasanya seluruh nyawa Bima lepas dari tubuhnya, jantungnya terasa berhenti berdetak, kekuatan dan keberaniannya menghilang dengan cepat. Yang ada hanyya ketakutan, gemetar hebat, tatapan kaget bercampur kesedihan dan kemirisan.
*****
Allen segera melesat ke Grandstar Mall, setibannya disana ia langsung menemui sang supervisor. Setelah itu Allen mengganti pakaian seragamnya dengan pakian cleaning service milik Hena.
Allen mulai membersihkan seluruh toilet yang ada di mall ini, ia bekerja dengan begitu semangat. Banyak pasang mata yang heran melihat Allen. Karena menurut pandangan mereka dan dalam fikiran mereka, bagaimana bisa gadis secantik Allen menjadi seorang cleaning service. Bahkan saat gadis itu hanya berdiri sambil membawa alat pembersih lantai, rasanya sangat aneh dan tidak cocok sekali.

“Waahh. Bagaimana bisa ada bidadari cantik bersih-bersih di Mall seperti ini”

“Kalau saja dia bukan cleaning service, udah gue nikahin nih cewek”

“Waahhhh “

Bisik-bisik segerombolan cowok terdengar ketika melewati Allen yang sedang menyapu di dekat lift. Allen hanya menunduk dan menuruskan pekerjaannya. Ia tidak peduli dengan ucapan-ucapan orang di sekitarnya. Ia hanya ingin cepat selesai bekerja dan mendapatkan uang.

“Permisi, “ ujar seseorang gadis yang sudah berdiri disamping Allen. Allen menatap gadis tersebut, gadis itu terlihat sangat modis sekali seperti model. Tingginya setara dengannya.

“Bisa buangkan semua sampah ini ?” ujar gadis itu dengan nada dan tatapan sinis. Di kedua tangannya ia membawa sebuah minuman dingin.

“Iya berikan kepada saya. “ ujar Allen dengan senang hati. Gadis itu pun memberikan dua gelas itu kepada Allen.

“Upss. Sorry” Allen hanya bisa terdiam saat melihat gadis itu dengan sengaja menjatuhkan dua gelas minuman yang masih berisikan Mocca dingin.

“Bersikan ya “ Gadis itu langsung berlalu begitu saja.

“Cantik? Ya cantikan gue lah. Cleaning service doang. Kalah banget sama gue “

Allen hanya bisa mengigit bibirnya saat mendengar suara gadis tersebut yang perlahan menjauh namun cukup terdengar bagi Allen. Perlahan Allen memungut dua gelas tersebut. Ia membersihkan kembali cairan Mocca yang berceceran di lantai. Allen mencoba sabar dan melakukannya dengan ikhlas.

“Tidak apa-apa Allen”

“Tidak apa-apa”ujarnya pelan kepada dirinya sendiri.
*****
Setelah menyelesaikan pekerjaanya di lantai 1 dan lantai 2, Allen segera menaiki lantai 3. Namun, ia memilih istrihat dulu selama 30 menit. Allen berjalan ke pojokan di dekat tanda emergency atau petunjuk tangga darurat berada. Allen masuk ke dalam dan memilih duduk-duduk sebentar di tangga darurat.
Allen menyeka keringatnya, ia merapikan kunciran rambutnya yang sedikit berantakkan. Allen memijat-pijat sendiri kedua kakinya yang terasa keras.

“Ternyata bekerja seperti ini sangat lelah”

“Apa gue harus memilih pekerjaan lainya saja ?”

“Gue sebaiknya cari pekerjaan secepatnya” lirihnya lemas. Bayangan keluarannya mulai muncul lagi, Allen menundukkan kepalannya, menaruh dahinya pada pahannya sebagai penyandar. Allen membungkukan badannya.

Suara isakan perlahan terdengar dari gadis ini, tubuhnya sedikit gemetar. Yah, Allen menangis. Ia merasa rindu kembali kepa Papa, Mama dan adiknya.

“Jangan menangis Allen. Jangan menangis” ujarnya sendiri namun tetap saja tangisannya semakin memecah.

“Jangan menyalahkan tuhan Allen. Ayolah. Jangan menyalahkan siapapun “

“Jangan menangis. Tuhan sudah sangat baik kepada kamu. Jangan bersedih. “

“Jalani semuannya Allen. Kamu bisa. Kamu bisa. Keluarga kamu sudah bahagia disana. Jangan nangis. Hentikkan”

Allen semakin menangis tersedu-sedu, ia benar-benar merindukkan saat-saat bersama keluargannya. Bagaimana rasanya ditinggalkan sendiri oleh semua keluarga dalam sekejab. Bagaimana rasanya menjadi seorang sebatang kara di umur yang masih remaja. Menjalani hidup sendiir dan harus bertahan sendiri. Itulah yang dilakukan gadis ini sekarang.

CCCKLEEEEKKKK

Allen segera menghapus air matannya ketika mendengar pintu emergency tersebut di buka. Allen menyembunyikkan wajahnya yang terlihat sembab. Allen membiarkan saja seorang pria berjalan melewatinnya. Allen dapat melihat pria tersebut menatapnya dengan aneh.
Allen segera berdiri dan keluar dari pintu emergency. Ia memilih kembali untuk bekerja saja. Ia tidak ingin terlihat aneh dan lemah disaat-saat seperti ini.

“Allen semangat “
****

“ Ap—, apa semua kata-kata lo itu ben—ar Bim ?”

Bersambung . . .

4 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 7

  1. kak, ini satnite kak.
    Gak nyesek kok kak, gak nangis juga baca nya ;(
    ya ampun….
    Gak bisa comment kak.
    Ini ituu…
    Entahlah ;(

  2. Yeyeyeyee…. Alynn nnya tau (?) Jadi seru sih ka hyo, sinta segitiga. Walaupun main stream, ka hyo pembawaanya beda. Top bgt. Saraan ku, ify nyaa hidupin lagi yaaa… Hehe biar makin seru dan nyesek Alyn-Bima-Allen dan Ify-Rio….. Wkwkkwk makin makin seru deh menurut ku..
    Tetap berkarya kaaaakk !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s