D3STINY OF LOVE AND LIFE – 8

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 8
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s “

******

Osaka, 02.00 a.m

Alyn membersihkan meja terakhir setelah mebereskan semua restoran ini. Hari ini ia berjaga malam, menggantikan keyri yang sedang sakit. Alyn menaikkan kursi-kursi diatas meja.
Setelah melihat semua meja dan kursi rapi, Alyn segera ke ruangan pelayan untuk mengganti pakaiannya serta mengambil tasnya di loker.
****
Alyn mengunci pintu restoran yang memakai keamanan dengan menggunakan kode kunci dan sebuah kartu. Saat Alyn membalikkan badannya ia dikagetkan dengan kedatangan sebuah mobil limosine berwarna hitam. Alyn terdiam saja disana untuk beberapa saat. Memastikan bahwa mobil ini apakah berhenti di depan restoran.
Seorang pria keluar dari mobil tersebut, Alyn mengernyitkan keningnya dan sedikit mencipitkan matannya. Ia mencoba memastikan pengelihatannya. Alyn sedikit terkejut melihat pria tersebut yang familiar sekali bagi Alyn.

“Selamat Malam nona Alyn” sapa pria tersebut dengan sopan dan membungkukkan badannya 45 derajat. Alyn pun dengan spontan ikut membungkukkan badannya.

“Mr. Max. Ada apa?” tanya Alyn dengan setiap detail ekspresi binggung yang ia tunjukkan. Mr.Max terdiam sebentar lalu sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Mr.Bov meminta anda untuk datang ke rumah hari ini” jawab Mr.Max

“Kerumahnya? Prancis?” kaget Alyn masih tidak mengerti dengan kedatangan Mr.Max

“Rumah Tuan Rio di Jakarta. Mr. Bov ingin menunjukkan suatu hal kepada anda”

“Menunjukkan?” lirih Alyn dengan wajah sedikit binggungnya.

“Kalau begitu, saya pulang dulu untuk mengambil koper dan pasport saya”

“saya akan antarkan anda”

“Emmm—, kalau boleh tau berapa lama saya harus dijakarta?” mendengar pertanyaan Alyn seperti itu membuat Mr.Max sedikit binggung. Sebenarnya ia sendiri tidak tau pasti kenapa Mr.Bov diam-diam menyuruhnya untuk menjemput Alyn.

“Sebenarnya saya tidak tau pasti Non, tapi untuk jaga-jaga sebaiknya non Alyn bawa koper non” Alyn menganggukkan kepalannya beberapa kali.

“Kalau begitu mari masuk ke dalam mobil. Saya akan antarkan non untuk pulang terlebih dahulu.”

“Iya. Makasih Mr.Max”

Alyn pun segera berjalan ke dalam mobil tersebut, ia sedikit canggung dan ragu saat memasuki mobil ini. Karena ia tidak terbiasa dan begitu kagum saat menaiki mobil mahal ini. Setelah Mr.Max dan Alyn masuk kedalam, mobil pun mulai beranjak dari sana.
*****
Ruangan kerja Rio yang berukuran 2 kali besar dari kamarnya dengan 4 AC di dalamnya, dan 2 ventilasi yang terbuka terasa begitu panas. Dua sosok pria ini diam dalam waktu yang lama. Saling mengatur nafas masing-masing, fikiran masing-masing dan emosi masing-masing.

“Rio nggak ngerti sama yang Papa lakukan. Bukankah Papa sudah janji akan mengadili Bima dengan baik-baik?” kini Rio membuka suarannya kembali. Mr.Bov nampak sibuk dengen tumpukkan kertas didepanya yang harus ia baca dan tanda tangani.

“Bagaimana bisa Papa membawa Alyn kemari?”

“Dia sudah besar” jawab Mr.Bov singkat tanpa ada beban.

“Pa, Bima baru aja terpukul. Fikiran dia masih kacau akibat incident itu. Lalu, Papa meng—

Mr.Bov mengebrak pelan mejannya, ia menatap Rio dengan tatapan memburu, seketika itu Rio menghentikkan ucapannya namun ia masih memberanikan diri menatap Mr.Bov

“Bukankah kamu sendiri yang menginginkan perjodohan ini? dan papa melakukan apa yang papa harus lakukan?”

“Penerus Papa harus bisa lebih bertanggung jawab lebih dari apapun, penerus Papa harus bisa mempertahankan janjinya, dalam kondisi apapun dia harus bisa memilih, dan sekarang itulah yang harus dilakukan Bima” tegas Mr.Bov. Rio menghelakan nafas beratnya, ia baru menyadari kenapa Iqbal ngotot sekali tidak ingin jadi penerus papanya saat Rio menawarinnya dan dengan senang hati memberikannya kepada sang anak. Ternyata inilah alasannya.

“Siapkan pernikahannya scepatnya “ lanjut Mr.Bov dan menutup semua berkasnya yang telah beliau tanda tangani. Ekspresi Rio sudah tidak bisa digambarkan lagi, ia merasa begitu bersalah dengan anaknya.

“Dalam keadaan seperti ini, apakah Bima masih akan mau menikah dengan Allen?” tanya Rio dengan nada penuh penekanan. Mr. Bov kembali menatap Rio dengan padangan seolah yang dapat diartikan kamu ragu?

“Bima sudah berjanji, maka dia pasti akan menepati janjinya. “

“Bukankah jam segini seharusnya gadis itu sudah pulang sekolah? Papa penasaran dengan gadis itu yang katannya siswi paling jenius di Arwana “

Mr.Bov mengalihkan pembicaraan, beliau memilih berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan beranjak dari sana meninggalkan Rio yang sedikit frustasi akibat sikap Mr.Bov.

“Maafkan Papa Bim” lirih Rio lemah. Beberapa detik berikutnya, Mata Rio menatap sebuah foto dengan bingkainya. Dimana foto tersebut berdiri manis di samping tumpukan-tumpukan Map. Foto yang bergambar dirinnya dan almarhum sang istri. Foto tersebut merupakan foto pernikahannya dulu.

Bibir Rio terangkat menunjukkan sebuah senyuman. Perasaan rindu itu bergejolak kembali. Bahkan rasannya seperti sampai ke ubun-ubunnya.

“Apa lo sekarang sedang marah sama gue Fy?”

“Apa lo sekarang sedang menyumpah serapahi gue ??”

“Maafkan gue Fy”

“gue bener-bener minta maaf. Gue janji, gue akan selalu jaga dan lindungi anak kita Fy”

“Anak kita sudah jadi pria dewasa sekarang. Pri yang sangat hebat”

“Kamu bangga bukan??” tangan kanan Rio meraih bingkai foto tersebut.

“Gue kangen banget sama lo Alyssa” lirih Rio pelan sekali seperti suara bisikkan.
****
Setelah kejadian mencekampkan beberapa jam lalu di rumahnya, Alyn tidak mengatakkan apapun hanya langsung keluar dari rumahnya mungkin dengan segala sakit hati yang telah di buat oleh Bima. Sedangkan Bima sendiri sekarang berada di dalam sebuah Mall tak jauh dari rumahnya. Ia mengikuti Alyn saat ini.
Bima masuk kedalam Mall tersebut, sebenarnya Mall ini sendiri adalah Mall pribadi milik Om.nya yaitu Alvin, dan dengan mengeluarkan The Power Of Haling , Bima menyuruh Mr.Max mengeluarkan semua pengunjung yang ada di Mall tersebut terkecuali pegawainya dan juga terkecuali Alyn tentunnya.
Dalam waktu kurang dari 30 menit Mall ini sudah sepi tanpa ada pengunjung. Dan hanya terlihat seorang gadis di lantai 2 dengan keadaan entahlah — .
****
Alyn tau bahwa dia di ikuti oleh Bima, dan saat ia melihat pengunjung berhamburan keluar, Alyn pun tidak kaget. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Bima? Itulah yang ada di dalam fikiran Alyn. Alyn membiarkan saja pria itu melakukan sesukannya. Alyn pun akan melakukan sesuka hati dia.
Hatinya benar-benar sudah hancur, rasa sakit hatinnya sudah menembus darah, tulang dan otaknya. Alyn hanya bisa berjalan seperti orang bodoh dengan tangan kanan menyeret koper birunya.
Air matanya kembali turun, entah sudah berapa lama dan berapa liter air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak pernah membayangkan kata-kata tersebut akan dikeluarkan oleh Bima. Alyn tidak pernah tau siapa gadis bernama Allen, ia tidak tau apa yang terjadi dengan Bima. Namun, yang ia tau jelas dengan pendengaran kedua telingannya dan kedua matannya yang melihat jelas bahwa Bima mengatakkan “ Dia akan menikahi gadis bernama Allen itu dan tidak menikahinnya”
*****
Bima memberhentikkan langkahnya saat melihat Alyn yang tiba-tiba berhenti. Bima saat ini berada di belakang Alyn dengan jarak tak begitu jauh. Kira-kira hanya 50 meter. Bima tidak berani, bahkan begitu takut untuk menghampiri gadis itu. Bima melihat kedua bahu Alyn bergetar. Gadis itu seperti sedang menghapus air matannya, Bima mengigit bibirnya kuat sekali, mengepalkan kedua tangannya. Ia mencoba menetralisir segala perasaannya yang sudah tak karuan. Ia sangat merasa bersalah bahkan ia mengakui bahwa ia menyakiti gadis di depannya itu. Kini, ia tidak tau bagaimana dirinnya bisa menjelaskan bahwa hanya sekedar mengucapkan kata Maaf. Bima tidak tau harus apa ia terlalu takut melihat air mata dan wajah sakit hati gadis itu.

Alyn berjalan kembali, gadis itu memasuki sebuah store baju dengan merk berkelas. Bima mengikuti saja masuk kedalam store tersebut.
Alyn terlihat mengambil baju secara acak, bahkan semaunnya sendiri. Pegawai yang sedang berada disana pun mengikuti Alyn, ia nampak binggung melihat Alyn yang sedang kesurupan belanja. Niatnya ingin menjelaskan bagaimana produk-produk di store ini langsung di urungkan pegawai tersebut. Ia hanya bisa menerima setiap baju yang diberikan oleh Alyn kepadannya dan mengikuti Alyn.

“Tolong bungkus semuannya” ujar Alyn dengan suara seraknya. Pegawai tersebut menjawab dengan sedikit kesusahan. Ia bahwa di bantu oleh pegawai lainnya untuk membawakan semua baju yang akan di belikkan oleh Alyn. Banyaknya baju tersebut jika dihitung melebihi 20 Baju dan 15 celana panjang dengan harga mulai dari 700.000 sampai 5.000.000 .

Alyn berjalan ke arah kasir. Ia berdiri disana dengan pandangan kosong, menunggu 3 pegawai ini membungkus baju-baju yang ia beli. Bima yang berdiri tak jauh dari Alyn hanya mengawasi saja apa yang dilakukan oleh gadis ini.

“Semuannya 45.450.900” ujar salah satu pegawai yang berada di depan kasir, Bima melihat Alyn mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompet tersebut. Bima jelas tau bahwa kartu tersebut adalah miliknya yang ia berikan kepada Alyn. Bima membiarkan saja gadis itu mulai melakukan sesukannya.

Alyn menerima beberapa bungkusan yang didalamnya terdapat semua pakaian yang ia beli, ia mulai berjalan keluar dari store tersebut. Bima pun dengan cepat keluar dari store itu dan berjalan menjauhi store itu agar Alyn tidak berpapasan tepat dengannya.
Alyn keluar dari store itu dengan langkah sedikit lemas, ditangan kirinnya ia membawa banyak sekali beberapa bungkus pakaian dan gadis itu terlihat sedikit kesusahan. Bahkan beberapa bungkus pakian ada yang terjatuh di lantai, Alyn sendiri malah meneruskan jalannya tidak peduli dengan baju-baju yang jatuh tersebut.
Bima kembali mengikuti Alyn, gadis itu terus berjalan, Alyn berjalan ke arah dekat escalator. Mata Bima sedikit membelakak melihat apa yang dilakukan oleh Alyn. Gadis itu membuang semua bungkus-bungkusan pakaian tersebut di tempat sampah. Melemparkan nya dengan tanpa iba semua pakaian-pakian yang ia beli di tempat sampah. Setelah itu ia melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan tempat sampah yang baru saja ia kunjungi.
Bima meneguk ludahnya, ia tidak memfikirkan bagaimana nasib pakaian-pakaian tersebut, tapi ia sedang memfikirkan bagaimana sakit hatinya dan hancurnya gadis itu sekarang.

“Kalau lo legah dengan ngelakuin itu. Lakuin aja semau lo” batin Bima mulai berbicara.

Alyn melangkahkan kakinya ke sebuah store sepatu. Ia memasukinya dengan wajah tanpa niat. Alyn mengambil beberapa sepatu dengan asal lalu membawannya ke kasir. Ia melakukannya beberapa kali sampai terkumpul sekitar 10 sepatu.

“Sudah?” tanya salah satu pegawai. Alyn menganggukan kepalanya lemas.

“Semuannya, 12.500.400 “ ujar pegawai tersebut dan menerima black card dari Alyn.

Alyn melakukannya lagi, setelah keluar dari store sepatu terseut, ia berjalan ke arah tempat sampah. Setelah itu membung semua sepatu yang tak berdosa tersebut begitu saja. Lebih tepatnya bukan membuang tapi melempar dan mencampakkan sepatu itu. Yah, ia sedang mengambarkan segala perasaannya sekarang.

Bima menyunggingkan senyum mirisnya ketika ia melihat separuh ekspresi wajah Alyn saat membuang sepatu-sepatu itu, wajahnya begitu menyedihkan. Dan sekali lagi itu karena dirinya.
****
Alyn tidak berani membalikkan badannya, ia membiarkan saja Bima mengikutinya. Ia sangat ingin menunjukkan pada pria itu bagaimana rasa sakit hatinnya sekarang. Alyn begitu kecewa dan merasa di khianati.
Kaki Alyn berhenti di sebuah Store Boneka, bertuliskan” Doll’s Castle” di depan toko tersebut terdapat sebuah boneka beruang besar berwana cokelat muda. Dan di sampingnya terdapat tulisan “ Buat hari ini menjadi hari istimewa dengan pasanganmu. Lakukan Push Up 300 kali dalam waktu 15 menit untuk wanitamu dan Beruang cantik ini akan menjadi milik wanitamu”
Keadaan seperti membeku selama beberapa menit. Baik Bima dan Alyn membaca tulisan tersebut. Mereka seperti mengalami dejavu. Fikiran mereka seperti sedang kembali ke kejadian beberapa tahun yang lalu dan tentu masih sangat jelas bagaimana kejadian itu terjadi.

“Apa lo nginginin boneka itu?” suara berat Bima mulai terbuka. Langkah Bima terlihat mendekati Alyn. Gadis ini sama sekali tidak bergerak dan tidak membalikkan kepalannya. Ia tetap dia saja. Menahan nafasnya dan rasa gemetar yang sudah mulai menyerangnya.

Bima berdiri di samping Alyn dengan jarak sedikit jauh, Bima sendiri tidak berani menatap Alyn. Ia hanya mencoba mengulang kejadia beberapa tahun lalu.

“Nggak.” Jawab Alyn singkat

“Karena Gue takut jika gue nerima boneka itu, kita akan saling jatuh cinta, dan dengan akhir kisah salah satu dari kita tersakiti” Alyn langsung memalingkan badannya dan kembali berjalan menjauhi Bima.

Sedangkan Bima terdiam seribu bahasa, Semua tubuhnya seperti ditusuk dengan seribu samurai panjang. Rasanya benar-benar sakit sekali walaupun tidak menimbulkan bekas luka atau mengeluarkan dara di tubuhnya.

Bima menundukkan kepalannya, ia tertawa pelan namun beberapa detik kemudian tawannya berubah seperti sebuah isakan pelan. Bima mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan rasa sakit akibat pernyataan Alyn tadi.

“Ma—, Maaf”
*****
Alyn melakukan petualangannya kembali, ia memasuki sebuah toko perhiasan, ia disambut oleh 2 pegawai dengan wajah seperti orang luar namun mereka menggunakan bahasa indonesia. Salah satu pegawai mulai menghampiri Alyn dan menjelaskan produk-produk terbaik yang dimiliki store ini. Alyn bahkan tak mendengarkan sama sekali pria itu mengoceh tidak jelas. Ia berjalan disalah satu bufet dengan kalung-kalung berlian di dalamnya.

“ Ini adalah kalung desain terbaru disini, ini sangat bagus untuk gadis seperti anda, apalagi jika kekasih anda yang membelikkan. “ ujar pegawai tersebut dengan wajah yang begitu bahagia, sedangkan gadis depan yang melihatnya hanya bisa tersenyum miris melihat kalung itu.

“Ini jug—“

“Tolong segera bungkuskan ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, in—“

“An—, Anda serius?” tanya salah satu pegawai dengan wajah tak percaya. Alyn mendongakkan wajahnya dan menatap pegawai itu dengan tatapan yang tajam.

“Kalau bisa bungkus—“

Ucapan Alyn terhenti saat seseorang langsung menariknya, mau tak mau Alyn terseret dan mengikuti orang tersebut yang tak lain adalah Bima. Alyn mencoba melepaskan tangan Bima, namun pegangan pria ini begitu kuat sekali.

“Lepasin!!” bentak Alyn dan segera menyentakkan tangan Bima darinya. Kedua manusia ini sama-sama berhenti dan terdiam. Mereka saling menatap cukup lama. Alyn dengan segala emosinya kepada Bima, dan Bima dengan segala rasa bersalahnya kepada Alyn.

“ Kenapa lo takut harta lo habis karena gue ?” sindir Alyn, suarannya terdengar sangat serak, Bahkan kedua matannya sudah berkaca-kaca.

“Nggak” jawab Bima pelan.

“Bahkan lo beli semua yang ada disini, gue akan biarin”lanjut Bima

“Cishh—“ desis Alyn sinis, wajahnya segera ia alihkan ke arah lainnya saat air matannya mulai terjatuh dengan sendirinya.

“Gu—, Gue, Gu”

“Nggak perlu minta maaf”

“Apa semua pria hanya bisa mmeminta maaf setelah melakukan kesalahan?” Alyn mulai berani menatap Bima kembali setelah menghampus air matannya dan mencoba menahan dirinya saat ini.

“Lalu mereka menangis mengakui kesalahan mereka? Dan terus menerus minta maaf? Lo mau ngelakuin itu ?” Bima tidak tau harus melakukan apapun, ia hanya bisa mengangguk lemah mengiyakan ucapan Alyn.

“Kenapa lo lakuin ini ke gue ?”

“Kenapa ?”

“Gu—, gue binggung harus menjelaskan bagaimana, darimana, gu—“

“Sebelum lo nyesel tanpa jelasin ke gue, lebih baik lo jelasin sekarang” pinta Alyn, ekspresinya terlihat memancarkan segala kesedihannya. Wajahnya yang sebelumnya berwarna kuning bersih, kini terlihat sedikit memerah. Matannya pun sedikit menyipit.

Bima terdiam sejenak, ia mengambil beberapa nafas lalu menghembuskannya dengan berat.

“Sehari setelah gue ke jepang kemarin, gue ke indonesia sama Papa. Sampai di bandara, gue maksa Papa buat nyetir mobil. Akhirnya gue yang nyetir mobil itu. Ditengah perjalanan, gue nggak konsen nyetir. Gue nabrak sebuah mobil” Bima memejamkan matannya, baginya begitu sangat berat menceritakkan kejadian itu kembali. Ia merasa semakin buruk saat ini.

“Lalu?”

“La—, Lalu, lalu semua korban itu meninggal. Seorang pria dan wanita paruh baya dan seorang anak kecil” Ekspresi Alyn langsung kaget, ia baru pertama kali ini mengetahui hal tersebut. Kini, ia sedikit mengerti kenapa Bima tidak pernah membalas emailnya akhir-akhir ini.

“Papa marah besar, dan gue pun sangat merasa bersalah. Keluarga itu memiliki satu anak gadis bernama, ber—,na—“

“Allen?” sahut Alyn cepat, Bima hanya bisa mengangguk lemas.

“Papa nyuruh gue untuk nikahin gadis itu, karena papa sangat merasa bersalah dengan gadis itu. Gue pun nggak bisa apa-apa. Gue juga merasa bersalah kepada gadis itu, da—, dan gue nyetujuin permintaan papa”

Alyn tertawa pelan antara tidak bisa berkespresi bagaimana, dan tawa yang terdengar memiriskan. ia tak bisa mempercayai cerita Bima yang menurutnya absurd bahkan seperti cerita di sebuah link blog jepang yang selalu ia baca, dan saat ini hal itu sedang terjadi kepadannya.

“Gue rencananya akan jelasin ke lo, tapi nggak saat ini. Gue nggak tau kenapa Grandpha ngelakuin itu. Yang jelas sekarang lo udah tau semuannya, gue udah jelasin dengan jujur” lanjut Bima

“Lalu? Kita ?”

Bima terdiam dalam sekejab. Ia harus menjawab apa saat ini. Matannya mulai bergerak cemas. Alyn menatap terus pria ini, memperhatikan gelagatnya. Ia tersenyum miris sekali lagi.

“Lo tetap—, ak—,an nikahin gadis itu bukan??”tanya Alyn tak beraturan. Dan entah mengapa saat ia mengucapkan pertanyaan tersebut seluruh perasaanya seperti tercabik, Dadanya terasa sesak sekali. Ini sangat membuatnya tersiksa.

“Ma—Ma—“

“Gue nggak peduli, lo udah nabrak siapa, lo udah bunuh siapa, gue nggak peduli!!! Tapi kenapa lo ngambil keputusan seolah hanya lo yang kesiksa di posisi sekarang!! Apa lo nggak pernah fikirin gue? Ha?” kini Alyn mulai mengeluarkan segala emosinya bercampur dengan tangisannya yang tak bisa lagi ia tahan. Bima tak berani mengangkat kepalannya untuk melihat gadis di depannya ini.

“Gue egois kan? Lo lebih egois!! “

“Gadis itu sekarang nggak punya siapa-siapa? Papa? Mamanya ?Adiknya ? atau siapalah, merka udah lo bunuh. Dia sebatang kara. Dia sendirian? Dia kasihan ? Dia yatim piatu? Lalu gue ?? “

“Gue juga nggak punya siapa-siapa Bim, Papa dan Mama gue udah ninggalin gue dari dulu. Lo fikir gue nggak senasib dengan gadis itu? Ha??”

“Gue nggak mau ngungkit hal ini, tapi asal lo tau YANG BUAT PAPA GUE MENINGGAL ITU BUNDA LO!!! “

“Demi nyelametin Bunda lo, Papa gue dengan senang hati nyerahin nyawanya. Lo lupa atau pura-pura lupa? Ha??” Alyn menangis mengalurkan segala air matannya seperti derasan air sungai yang meluap-luap. Bahkan gadis ini membiarkannya saja.

Bima hanya bisa diam, ia tidak bisa apapun. Ia menundukkan kepalannya, menahan agar dirinnya tidak ambruk begitu saja. Air mata Bima pun sudah terjatuh sendiri entah sejak kapan. Yang ia tau, ia tidak bisa melihat dan mendengar lagi tangisan gadis di depannya ini. Namun, ia tak bisa berbuat apapun sekarang.

“kelihatannya percuma gue marah, nangis, emosi seperti ini. Keputusan lo tidak berubah kan??”

“Lo tetap akan nikahin gadis itu kan??”

“Kalau kejadiannya akan seperti ini seharusnya lo nggak pernah membuat janji ke gue Bim”

“Seharusnya lo nggak ngebuat gue untuk berharap sesuatu yang harusnya gue sadar, gue nggak bisa miliki harapan itu”

“Maafin gue Al” lirih Bima pelan. Alyn menatap Bima dengan tatapan entahlah , Ia sudah sangat berantakkan saat ini. Mendengar Bima mengatakkan Maaf seperti itu semakin membuatnya sakit. Semuanya semakin memperjelas bahwa Bima akan melepaskannya.

BRUUUKKK

Alyn langsung duduk berlutut di depan Bima, hal itu membuat Bima binggung dan mendongakkan kepala menatap Alyn tak percaya. Gadis itu menangis, Ia menangkupkan kedua tangannya, menatapnya penuh memohon.

“ Nggak bisakah lo lepasin gadis itu? “

“Nggak bisakah loe pilih gue? “

“Nggak bisakah lo tetep akan nikahin gue Bim?? Gue nggak rela. Gue nggak pernah rela”

“ Al., bangun!! Bangun sekarang!! “Bentak Bima dan mencoba membangungkan Alyn, Namun gadis ini menggelengkan kepalannya dan tetap bertahan pada posisinya.

“:Apa lo nggak bisa jadiin dia saudara lo? atau adik lo? walaupun nantinya lo lebih sayang ke dia gue nggak apa-apa. Gue nggak akan cemburu, gue nggak apa-apa. Asal lo jangan nikahin dia, lo jangan nikah sama dia. Gue mohon pertahanin gue.”

“ GUE MOHON!!!!!!! “ jerit Alyn begitu keras bersamaan dengan tangisannya mungkin sampai menggema di seluruh mall ini.

BRUUKKKKK

Bima langsung ikut berlutut lemas, apakah ia begitu menyakiti gadis ini sampai menjadikan gadis ini seperti ini. Apakah dia terlalu keterlaluan? Apa yang harus ia lakukan? Bima benar-benar tidak tau lagi.

“Gue nggak peduli harga diri gue sekarang, Gue nggak peduli lo fikir apa tentang gue sekarang. Gue murahan? Memang gue murahan banget. Tapi gue mohon jangan tinggalin gue!! Gue sangat mohon” Alyn benar-benar sudah tidak bisa mengontrol segala perasaannya. Bahkan air matannya pun tak bisa ia bendung lagi. Ia mengeluarkan segalannya.

“Gue cinta sama lo. Lo tau kan? Lo juga cinta sama gue kan? Lo nggak cinta sama gadis itu kan Bim? Bener kan? Bener kan Bim?“

“Jawab Bim!!! “Alyn menarik kasar kerah jas Bima mencoba meminta jawaban pria di depannya ini. namun, Bima tetap saja diam. Pria itu hanya bisa menangis dalam diamnya dan melihat dirinnya begitu iba dan bersalah.

“Lo cinta kan sama gue ?? Lo cinta kan bim???” perlahan tangan Alyn terlepas dari kerah baju Bima, Alyn merasa bahwa percuma ia melakukan ini. Sepertinya keputusan Bima tidak akan berubah. Yah, tidak pernah berubah.

“Lalu buat apa 5 tahun gue nunggu lo? Buat apa Bim??

“Buat apa lo ngelamar gue kemarin? Buat apa itu semua Bim?”

Bima langsung menarik Alyn kedalam pelukannya, dan saat itu tangisan Alyn semakin menjadi. Alyn tidak melakukan apapun, tidak membalas atau melepaskan pelukan Bima. Ia hanya bisa menangis saat ini.

“Maafin gue Al, gue bener-bener minta maaf”

“Gue nggak tau bagaimana gue bisa nebus rasa bersalah gue, gue hanya bisa minta maaf”

“Tapi gue janji, gue akan nebusnya suatu hari nanti. Gue akan ben—“ Alyn langsung melepaskan pelukan Bima dengan cepat. Ia menatap Bima dengan tatapan menyedihkan yang ia punya,

“Jangan janji lagi Bim, Jangan pernah memberikan janji lagi sama gue. Gue takut denger janji lo.”

“Gue nggak mau denger lo berjanji lagi sama gue? Gue nggak mau denger itu semua. Karena lo nggak akan pernah nepatin janji itu. “Alyn menghapus air matannya, ia mulai berdiri dengan tubuh yang sedikit oleng. Namun, ia berusaha untuk berdiri.

Alyn meraih kalung yang ada di lehernya. Ia memegangnya kuat-kuat. Ia mengatur nafasnya sebentar, ia mencoba untuk tidak menangis lagi.

“Jangan lepasin!! “ cegah Bima yang langsung meraih tangan kiri Alyn. Alyn menatap Bima dengan tatapan sinis.

“Kenapa? “

“Gue nggak butuh perhiasan dengan harga lebih dari 275 miliyar dari lo!!! “

Bima sedikit kaget mendengar Alyn mengetahui harga dari perhiasan yang ia belikan tersebut, dan ia pun hanya bisa mengigit bibir bagian dalamnya saat Alyn benar-benar melepaskan perhiasan tersebut dengan sekali sentakkan.
Alyn langsung mebuangnya dihadapan Bima dengan wajah penuh kecewannya. Ia sudah melakukan semua yang ia bisa namun pria ini bahkan sekalipun tidak mempertahankannya. Lalu? Buat apa ia mengembis-ngemis lagi. Bukankah dia sudah terlalu murahan saat ini?.

“Lo mau kemana?” tanya Bima saat Alyn melepaskan pergelangan tangannya dan mengambil kopernya yang jatuh, Bima berdiri dan langsung meraih pergelangan tangan kanan Alyn. Alyn kembali menatap Bima tajam.

“Apa lagi? Lo mau minta maaf? Buat apa? “

“Lo nggak akan ngerubah keputusan lo kan? Lo tetep akan nikahin gadis bernama Allen itu kan?” Alyn melepaskan tangan Bima dari pergelangannya pelan-pelan. Alyn mencoba tersenyum.

“Makasih lo udah khianatin gue, “

“makasih lo udah mencampakkan gue “

“Makasih lo sama sekali nggak mertahanin gue”

“Makasih lo udah ngasih harapan yang luar biasa palsunya ke gue “

“Makasih lo udah bener-bener nyakitin hati gue”

“Semoga lo bahagia dengan pernikahan lo”

Alyn mengangkat senyumnya seolah ia sudah tidak apa-apa dan sudah bisa rela. Walaupun itu semua masih terlihat senyum palsu. Namun Bima hanya bisa diam saja, sekali lagi ia hanya seperti robot yang tidak tau harus bagaimana. Gadis ini terlalu menakutkan baginnya.
Bima pun masih tetap diam, dan tidak harus bagaimana saat Alyn mendekatinya dan dengan cepat mencium bibirnya. Hangat, itulah yang Bima rasakan. Bima sama sekali tidak berniat menutup matannya. Ia dapat melihat jelas Alyn yang perlahan menutup matannya dan saat itu Bima merasakan tetesan hantat dari air mata Alyn mengalir.
Bima tak bisa lagi membayangkan bagaimana rasa sakitnya gadis ini, ia pun mengalihkan matannya ke arah pandang lain. Namun, matannya membuka sempurna saat ia melihat seorang gadis yang menatap ke arahnya dan Alyn, gadis itu diam dan hanya menatapnya tanpa melakukan apapun. Jarak gadis itu dengan dirinnya pun lumayan jauh namun sangat jelas untuk mengetahui siapa gadis itu.

“Allen” lirih Bima dalam hatinya. Bima sendiri pun hanya bisa diam saja. Ia tidak berusaha melepaskan ciuman Alyn, dan ia juga tidak berusaha memanggil Allen. Ia mencoba untuk menjadi robot. Namun, mata Bima tetap menatap gadis itu yang memang adalah Allen yang masih berdiri disana.
Bima memperhatikan gelagat Allen, Bima dapat melihat perlahan Allen tersenyum miris kepadannya dan menundukkan kepalannya. Setelah itu, gadis tersebut berjalan pergi meninggalkan sapu dan alat bersih lainnya yang sebelumnya ada di tangannya.
Bima dapat melihat jelas, Allen berjalan lemas menjauh dari tempatnya tersebut. Bima tetap mengikuti arah gadis tersebut pergi sampai akhirnya gadis itu tidak terlihat lagi.

Alyn melepaskan bibirnya dari bibir Bima, Alyn mencoba untuk tersenyum.

“Semoga lo bahagia dengan pernikahan lo”

“Asal lo tau, Gue masih tetap nggak rela ngelepasin lo. “

“Lo jahat banget!! “

“Bener-bener jahat Bim. Jahat jahat jahat lebih jahat dari perampok, penjahat lainnya “

“Gue pergi “

Alyn menundukkan kepalannya pelan, setelah itu ia segera membalikkan badannya, melangkahkan kakinya langkah demi langkah dan menyeret kopernya tersebut. Alyn menangis kembali dalam diamnya. Ia terus berjalan dalam isakan yang tak bersuara.

“Lo bener-bener jahat!! “

“Lo bahkan nggak hentiin gue. Lo bahkan nggak minta gue buat nggak pergi”

“Lo bener-bener jahat Bim!! “

“Lo bener-bener lepasin gue gitu aja!! “

“Lo jahat!!”

“Jahat!!! “

Bima tidak melakukan apapun, Ia kini melihat kepergian Alyn. Ia melihat punggung gadis itu yang bergetar. Gadis itu menunduk dan terus berjalan pelan-pelan. Rasanya ingin sekali Bima berlari menyusulnya dan membawa gadis itu pergi hanya berdua dengan dirinnya. Ia ingin kabur dari masalah ini bersama dengan Alyn. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Entah menagapa, saat ia melihat ekspresi Allen tadi, ia hanya bisa mematung.
Ia takut akan menyakiti Alyn lagi, ia takut membuat Alyn berharap lagi. Karena pada kenyataanya Bima tidak akan bahkan tidak bisa merubah keputusannya lagi.

“Maaf” lirih Bima lemas

Allen selesai membersihkan semua lantai, ia sendiri tidak mengerti kenapa mall ini tiba-tiba langsung sepi. Namun, itu membuatnya senang, dengan seperti itu, dia lebih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

“Lelahnya. Akhirnya bisa selesai” ujar Allen dengan nada riang. Seolah ia sangat suka melakukan pekerjaan ini.
Allen berjalan ke arah sebuah store Boneka, dimana toko boneka tersebut adalah toko boneka yang sebelumnya di kunjungi oleh Bima dan Alyn. Yah, mereka bertiga sedang berada di Mall yang sama.
Wajah Allen terlihat sangat menginginkan boneka tersebut.

“Waahhh, Bagusnya. Andai aku punya pacar”

“Aissshhh. Apaan sih Allen” Allen memukul kepalannya sendiri merasa sangat bodoh mengatakkan hal seperti itu.

“Lebih baik gue ganti baju” ujar Allen dan membawa kembali peralatan bersih-bersihnya. Ia berjalan dengan perasaan puas melihat pekerjaan bersih-bersihnya yang menurutnya sangat bagus.

Namun, langkah Allen terhenti saat ia melihat dari kejauhan seorang pria dan gadis yang sedang bertengkar. Allen berusaha menyipitkan wajahnya, ia merasa begitu familiar dengan wajah pria itu yang bersebrangan dengan dirinnya. Sehingga saat ini bisa dibilang dirinnya dan pria tersebut berhadapan.

“Bi—, Bima” kaget Allen. Ia sebenarnya ingin pergi dari sana. Tapi entah kenapa kakinya menyuruhnya untuk tetap disana. Allen yakin bahwa gadis di depan Bima adalah kekasih Bima.

“Apa lagi? Lo mau minta maaf? Buat apa? “

“Lo nggak akan ngerubah keputusan lo kan? Lo tetep akan nikahin gadis bernama Allen itu kan?”

“Makasih lo udah khianatin gue, “

“makasih lo udah mencampakkan gue “

“Makasih lo sama sekali nggak mertahanin gue”

“Makasih lo udah ngasih harapan yang luar biasa palsunya ke gue “

“Makasih lo udah bener-bener nyakitin hati gue”

“Semoga lo bahagia dengan pernikahan lo”

Allen dapat mendengar jelas apa yang dikatakan oleh gadis di depan Bima, Allen merasa begitu sangat bersalah kepada gadis itu. Bahkan gadis itu mengucapkan selamat kepada Bima.

“Apa gue jahat??” lirih Allen,. Ia memberanikan diri mengangkat wajahnya lagi untuk melihat Bima dan gadis itu. Mata Allen langsung membelakak saat ia melihat Bima dan gadis itu sedang ciuman.

Allen tidak tau harus berkespresi bagaimana, Ia tidak tau harus tersenyum, sedih atau bagaimana. Namun, ia merasakan tiba-tiba dadanya rasanya sakit. Bahkan tanpa ia minta dan ia sendiri tidak tau, air matannya jatuh begitu saja. Allen dengan cepat menghapusnya.

Alllen mendapati Bima melihatnya, namun Allen tidak memalingkan wajahnya sama sekali. Ia malah membalas tatapan Bima, entah tatapan apa yang Bima tujukan kepadannya. Allen sendiri tidak tau. Yang ia mengerti bahwa ia merasa dadanya sesak melihat kejadian tersebut.

Allen tak bisa menahan lama untuk berdiri disana, ia memilih beranjak dari sana dengan perasaan yang entahlah. Ia juga tidak mengerti kenapa ia jadi seperti ini. Apakah ini perasaan cemburu?
*****

Bima menaiki escalator, sepeninggalan Alyn ia berencana untuk pulang saja. Ia terlalu sangat lelah. Ia sendiri sudah menyuruh Mr.Max untuk tetap mengawasi dan mengikuti Alyn. Bima takut terjadi apa-apa dengan gadis itu.

Saat Bima keluar dari escalator, ia melihat seorang gadis dengan seregam SMA ARWANA pun sedang berjalan menuju pintu keluar Mall ini. Bima tentu sangat mengenal postur tersebut.

“Hei!! “ panggil Bima dengan nada sedikit tinggi agar gadis itu menoleh ke arannya. Dan benar saja, gadis itu langsung berhenti berjalan dan menoleh ke Bima.

Bima mendekati gadis tersebut, terlihat ekspresi takut dari gadis itu yang perlahan menundukkan kepalannya tak berani melihat Bima. Bima sempat melihat wajah gadis itu yang sedikit sembab. Seperti selesai menangis.

“Lo habis nangis?” tanya Bima dan dengan seenaknya mengangkat dagu Allen. Membuat gadis itu tersentak kaget dan membuang tangan Bima dari dagunya.

“Sorry” ujar Bima dengan cepat. Allen menggeleng lemas.

“Apa yang kamu lakuin disini?” tanya Bima tanpa basa basi.

“Ak—, Aku, Aku hanya bekerja” jujur Allen. Bima mengernyitkan keningnya.

“bekerja? Jadi cleaning service?” sinis Bima tak bisa mempercayai apa yang baru saja di lakukan oleh gadis ini.

Allen tiba-tiba mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Bima dengan wajah serius.

“Aku akan bilang ke Om Rio agar kita nggak perlu menikah. Biar kamu sama tunangan kamu nggak berpisah. Tenang aja, Aku tetap akan tinggal dirumah kamu, tapi kita nggak perlu men—“

“Lo ngomong apa sih??” tajam Bima membuat Allen langsung diam membeku. Bima menatap Allen tajam.

“Aku tetep akan nikah sama kamu. Aku sudah lepasin tunangan aku” lanjut Bima dengan suara nada yang berat. Allen melihat Bima dengan ekspresi kaget.

“Kamu giamana sih? Kasihan tunangan kamu. Dia pasti sangat sakit hati. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang lain. Aku nggak menginginkan kita menikah. Aku nggak apa-apa, aku mau jadi saudara angkat kamu. Kamu bisa tetap menikah dengan dia”

“kamu juga cinta kan sama tunangan kamu ? jangan lepasin dia!! “

“kenapa lo nangis tadi ? “ tanya Bima mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak ingin berbuat formal lagi dengan gadis ini. Hari ini sudah sangat melelahkan baginya. Ia berharap bisa mendapat ketenangan saat melihat gadis di depanya ini. dan benar saja, ia mendapatkannya.

“Ak—, Aku nggak nangis kok. Kenapa kamu jadi ngalihin topik pembicaraan” kesal Allen tiba-tiba

“Lo cemburu lihat gue ciuman sama tu—“

“Ha? Enggak, Aku nggak nangis, aku nggak cemburu” Allen langsung gugup sendiri.

“Jangan ngalihin topik!! “ Omel Allen seperti anak kecil. Bima tertawa pelan. Ia mengacak-acak lembut rambut Allen.

“Mall ini nantinya adalah milik lo, Mall ini punya keluarga Halling, dan setelah lo jadi istri gue lo bisa kesini sesuka lo bukan jadi clining service tapi jadi pemilik mall ini” jelas Bima pelan. Allen menundukkan kepalannya. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia merasa tangan Bima seperti setruman hebat di kepalannya. Dan entah menagapa jantungnya terasa berdetak cepat saat Bima melakukan hal itu.,

“Jangan kerja lagi. Gue nggak suka. Ngerti??”Allen hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh.

“Ayo kita pulang” ajak Bima dan segera berjalan duluan mendahului Allen.

Allen melihat punggung Bima, Allen menghelakan nafas beratnya. Ia semakin merasa sangat bersalag sekali.

“Ngapain lo masih disana? Mau jadi satpam ?”

“Ayo pulang “

Allen mengangguk cepat dan segera berlari menyusul Bima yang sudah meneriaki dirinnya. Ia tidak ingin dapat semprotan lagi dari Bima.

Bersambung. . . . .

3 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 8

  1. kak.
    No comment.
    Siska udah kayak orang bego bacanya kak.
    Cengo, speechles, bengong, nangis, entah lah…
    Gak nyesek kok kak, gak bikin nangis juga -_-
    cuma basah aja bantal siska jadinya.

    Good luck my author kebanggaan ku :*

  2. Huhuuuu…. Gue Nggak Rela Banget Bima Nikah Sama Allen😥 Kasian Alyn Dia Udah Nunggu Lama Pake Banget, Udah DiLamar Segala Sama Bima Ehh Malah DiKhianatin😦 Gue Nggak Rela Pake Bangettttttt….!!! Lagian Pada Nggak Mikir Apa? Gimana Kalau Gara-Gara Allen Nikah Sama Bima Dia Jadi Nggak Bisa Ketemu Sama Cinta Sejatinya? Kan Yang Susah Juga Dia -_- Aaahhh… Gue Kesel Sama Allen, Gue Kesel Banget Sama Rio, Dan Gue Kesel Banget Banget Bangeeetttt…. Sama Bima! Alyn Semangaaattt…!!! Suatu Saat Nanti, Bima Pasti Sadar Kalau Cuma Lo Cinta Sejatinya😦 Kaya Lagunya Afgan “Semoga Tuhan Membalas Semuaa… Yang Terjadii… Kepadamu Suatu Saat Nantii..! Hingga Dia Sadari Sesungguhnya Hanya Kamu Tempat Dia Kembaliii..؛‎ s ebagaii.. Cintanyaaa…” #NyanyiGaje #EfekGalau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s