D3STINY OF LOVE AND LIFE – 9

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 9

“D3LL”

By : Luluk_HF . Follow >> “ @luckvy_s “

******

Bima masuk kedalam rumahnya. Ia kaget melihat kakeknya duduk di ruang tamu sambil membaca beberapa majalah. Mr.Bov sendiri menyadari kehadiran Bima dan segera menutup majalahnya tersebut.

“ Granpha ngapain ?” tanya Bima binggung.

“Baca majalah. Isinya semua tentang kamu. Membosankan” jawab Mr.Bov asal, Bima mendengus tak enak. Mereka berdua bersikap seperti tidak ada apapun. Bima sendiri sama sekali tidak bisa bahkan tidak akan menyalahkan kakeknya. Karena memang inilah yang harus ia hadapi nantinya.  Mr.Bov pun tau Bima sudah sangat dewasa dan bisa menempatkan bagaimana ia bersikap.

“Pe—, permisi” ujar Allen canggung saat masuk kedalam rumah. Bima membalikkan badannya melihat Allen yang tersenyum kaku. Mr.Bov sendiri kaget dengan kehadiran Allen.

“oh, jadi kamu yang namannya Allen ?”  ujar Mr.Bov dengan senyum mereka saat melihat Allen. Seperti yang dilihat di foto gadis ini bahkan di nyatannya pun menurut Mr.Bov gadis ini terlihat sangat cantik sekali.

Allen mengangguk kecil, ia melihat Mr.Bov binggung merasa pernah tau pria beruban ini tapi ia tidak ingat dimana ia melihatnya.

“Lo pasti kayak pernah ngelihat kakek tua ini kan??” ujar Bima asal dan membuat Mr.Bov menatap tajam ke Bima. Allen langsung kaget mendengar ucapan Bima.

“Apa? Mau protes? Emang kakeh udah tau. Udah ah. Bima capek. Mau tidur “ serah Bima tak ingin memperpanjang masalah dengan kakeknya. Mr.Bov hanya bisa geleng-geleng saja.

“Fotonya banyak di pelajaran Bisnis international.” Ujar Bima kepada Allen setelah itu ia berjalan menuju kamarnya.

Allen mencoba mengingatnya beberapa saat, dan saat ia mendapatkan ingatannya tersebut, Ia hanya bisa melongo dan membungkam mulutnya yang terbuka lebar. Mr.Bov terkekeh melihat tingkah lucu Allen.

“Tuan Fredi Bov ?” kaget Allen dengan suaraterbata-bata.

“Kamu nggak perlu sekaget itu. Panggil saja Mr.Bov” ujar Mr.Bov kepada Allen.

“Senang bertemu dengan anda tu—, maksud saya Mr.Bov hehehe” Allen merasa begitu senang sekali. Entah menagapa, ia memang dari dulu mengidolakan sosok pengusaha besar ini yang sangat sukses.

“Saya juga senang bertemu dengan kamu. Kenapa kamu baru pulang jam segini?” tanya Mr.Bov penasaran. Allen terdiam binggung harus menjawab apa. Mr.Bov sendiri nampak menunggu jawaban dari gadis di depannya.

“It—, itu, saya bekerja hehehe” jawab Allen jujur.

“bekerja? Dimana? Jadi apa?” tanya Mr.Bov berbondong.

“Di GrandMall, sebenarnya saya Cuma ngantiin temen saya. Karena saya juga butuh uang akhirnya saya mau gantiin pekerjaan dia Cuma hari ini aja. “ Mr.Bov mengernyitkan kening, tidak mengerti gadis ini berkata apa.

“Kamu kerja di GrandMall? Jadi apa?”

“It—,it—,itu, cleaning service” jawab Allen kau. Mr.Bov langsung membelakakan matannya.

“BIIIMAAAAAAAAAA!!!!!! “ teriak Mr.Bov kencang membuat seisi rumah langsung keluar dari persinggahan mereka. Allen sendiri yang ada di depan Mr.Bov langsung ketakutan.

“Dad, Ada apa sih??? “ Salsha yang pertama kali keluar dan berlari menghampiri Mr.Bov disusul suaminya yang tak jauh ada dibelakang Salsha.

“Papa ada apa?” kini giliran Rio yang cepat-cepat keluar kamar dan menuju ke ruang tamu.

“Mana Bima? Panggil dia sekarang!!! “ Salsha, Iqbal dan Rio langsung binggung. Wajah Mr.Bov menunjukkan kemarahan.

“Aisshh. Apa lagi sih yang dilakkan anak itu” gerutu Salsha yang lebih tepatnya cemas dengan nasib keponakan kesayangannya tersebut. Salsha segera berjalan kembali menuju kantai 2 tepatnya ke kamar Bima.

“Lah? Ini siapa?” tanya Iqbal sambil menunjuk Allen.

“Allen? Ada apa?” tanya Rio setengah berbisik. Iqbal yang mendengar bisikkan Rio langsung manggut-manggut mengerti siapa gadis ini.

“Cantik banget” lirih Iqbal tak sengaja keceplosan. Untung saja disampingnya tidak ada Salsha.

“Nggak tau om, Allen Cuma bilang kalau Allen pulang malam karena Allen ngantiin kerjaan teman Allen di GrandMall” jelas Allen polos dan sangat jujur.

“Kerjaan?”serempak Iqbal dan Rio bersamaan.

“Kerja apa Allen?” tanya Rio yang sangat penasaran. Allen nampak ragu kali ini untuk ngasih tau.

“Allen it—, itu kok Cuma gantiin aja. “

“Iya kerja apa?” tanya Rio sangat penasaran. Karena tidak mungkin pekerjaan itu sampai membuat mr.Bov marah besar. Apalagi Allen bekerja di GrandMall yang sangat jelas itu adalah milik pribadi keluarga Haling lebih tepatnya milik perusahaanya yang kini dipegang oleh Alvin.

“cu—, Cuma jadi, it—,, itu om, Celaning service”

“HA??” Iqbal dan Rio langsung membuka mulut tak percaya.  Rio merasa suhu di ruang tamu langsung memanas.

“Bal. Panggilin Bima sekarang juga!!! “ bentak Rio tajam.

“BIMAAAAAA DIPANGGIL PAPA LO” teriak Iqbal asal.

“SAMPERIN IQBAL” teriak Mr.Bov dan Rio bersamaan. Iqbal hanya bisa menggaruk kepalannya tidak gatal dan mau tak mau ia segera membalikkan badannya. Sedangkan Allen semakin tidak mengerti dengan keluarga ini.

“Tuh anaknya datang” ujar Iqbal mengundurkan niatnya untuk ke kamar Bima. Karena sosok yang dicari sudah berajalan menuju ruang tamu bersama Salsha.

“Apaan sih? Berisik tau gak” ujar Bima dengan malas. Karena sebenarnya ia ingin cepat tidur hari ini.

“Sini kamu!! “ ujar Mr.Bov dan Rio bersamaan. Bima mencium bau-bau tidak enak ketika melihat tatapan pria-pria tersebut. Bima pun berjalan mendekat ke ruang tamu.

“Apaan??”

“kamu tau Allen kerja jadi cleaning service?” tanya Mr.Bov

“Kenapa kamu membiarkan Allen kerja jadi cleaning service?”

“Apa yang kamu lakukan? Ha?”

“Ken—,”

“Tanya satu-satu. Gimana Bima bisa jawabnya!! “

“yaudah jawab pertanyaan Grandpha dulu”ujar Mr.Bov memaksa.

“Apaan pertanyaannya? Binggung tadi” ujar Bima dengan wajah malas.

“Kamu tau Allen kerja jadi Cel—,”

“Iya tau” jawab Bima

“Lalu? Kenapa kamu biarin All—,”

“Masalahnya Bima taunya waktu dia udah selesai kerja. Bima juga nggak nyuruh dia kerja jadi lecening—,”

“Cleaning!!” serempak Salsha, Iqbal, Mr.Bov dan Rio bersamaan. Bima mendengus kesal

“Iya maksudnya Celae—, Cleaning service. Dianya yang kerja sendiri. Masak salah Bima” bela Bima kepada dirinnya sendiri. Mr.Bov dan Rio mulai mengendorkan emosinya.

“Allen, kamu jangan kerja lagi ya. Kamu cukup belajar yang rajin. Mengerti?” ujar  Mr.Bov penuh penekanan. Allen pun seperti orang bodoh hanya mengangguk-angguk saja.

“Cihh—,, menyedihkan banget kalian semua” ujar Bima setelah itu lantas pergi dari sana untuk kembali ke kamarnya.

Mendengar ucapan Bima, semua yang ada diruang tamu tidak tau harus berekspresi bagaimana. Ucapan Bima sangat menusuk sekali geys.

“Allen masuk dulu ya. Allen janji nggak akan kerja jadi cleaning service lagi. Maaf sudah buat kekacauan” ujar Allen sangat merasa bersalah.

“Permisi” allen pun segera beranjak dari sana meninggalkan ke tiga pria dan satu wanita di sana.

“Oh, itu namannya Allen. “

“Cantik ya sa” ujar Iqbal kepada Salsha.

“Iya bal. Cantik banget” ujar Salsha menyetujui.

“Yo, ikut papa ke ruang kerja. Iqbal juga, kita bicarin pernikahan Bima dan Allen” ujar Mr.Bov kepada dua pria didepannya tersebut. Baik Iqbal dan Rio mengangguk saja dan mengikuti Mr.Bov.

Salsha binggung karena ditinggal sendiri, ia pun memilih untuk ke kamar Allen. Ia ingin sekali mengenal gadis itu. Karena saat pertama ia melihat profil Allen, Salsha merasa sangat penasaran sekali.

*****

Alyn tidak tau harus kemana saat ini, ia tidak mau tujuan lagi. Apa dia harus kembali ke jepang. Tapi, dia tidak punya ongkos untuk kesana. Alyn memilih berhenti di pinggir jalan.

Ia mencoba berfikir sebentar kemana dia harus pergi saat ini. Alyn duduk diatas kopernya, ia melihat ramainya jalanan malam ini dengan tatapan kosong dan blank.

Kryuuukkkk

Alyn mendesis kesal, ia memegang perutnya yang terasa lapar sekali. Alyn melihat ke sekitarnya, ia menemukan sebuah restoran yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Alyn pun memilih untuk pergi ke restoran tersebut.

****

Bunci lonceng pintu restoran berbunyi, saat seorang pelayan membukakan pintu restoran tersebut untuk Alyn. Pelayan itu menyambut Alyn dengan ramah. Walaupun rasanya berat untuk membalasnya, Alyn memaksakan mengangkat kedua sudut bibirnya.

Alyn memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu dan berada di pinggir jendela. Alyn tidak lama dalam memesan, ia hanya ingin cepat makan kemudian mencari penginapan terdekat untuk sementara. Ia hanya memesan nasi goreng dengan lemon tea. Masakan sederhana yang paling ia suka.

 

TRIINNGGG

 

“ Sudah harus Aska jelasin berapa banyak lagi sih Ma, Aska nggak mau pulang!!! “

“Aska!! Dengerin Mama dulu!!”

Alyn menatap keributan di sampingnya, ia merasa tambah kesal dengan mood yang buruk seperti ini masih saja ada yang menganggu kedatangannya.

“Aska janji sama mama, Aska besok berangkat ke acara amal itu. Tapi aska nggak mau pulang”

“yasudah kalau begitu, Mama tunggu kamu besok jam 8 pagi disana. Awas kalau kamu tidak datang”

“Iya iya. Udah sana mama pulang”

“Janji kamu datang?”

“Yaampun iya ma. Sudah pulang sana. Aska tidur di apartemen nanti”

“Mama pulang”

“ Iya”

Alyn tidak menggubris keributan itu, ia terfokus dengan makanannya yang baru saja datang. Alyn pun segera memakan nasi goreng tersebut dengan setengah nafsunya. Alyn terlihat sedikit pucat, rasanya ia ingin muntah. Kepalannya terasa berat sekali. Hari ini sangat melelahkan baginya. Ia tetap memaksakan untuk mengisi perutnya dengan beberapa sendok. Berharap setelah ini, ia mendapatkan energi kembali.

“Tolong dong kosongkan restoran ini!!! cepetaann!!! “teriak pria tadi dengan teriakan frustasi. Pelayan-pelayan disana pun langsung binggung sendiri. Pelayan-pelayan tersebut pun segera meminta para pembeli untuk pergi dari restoran dengan mengembalikan 2 kali lipat uang semula.

“Hey!! Apa lo nggak denger kata-kata gue? Gue pemilik restoran ini!! lo cepet keluar dari sini” usir pria tersebut yang berdiri dibelakang Alyn. Namun, Alyn tidak menggubris dan terus makan.

“HEY!! LO BUDEK!! “

PRAAANGGGGG

Alyn melemparkan garpu dan sendoknya ke piringnya dan menyebabkan bunyi yang keras. Semua orang didalam restoran mengarahkan ke sumber suara lebih tepatnya ke Alyn. Alyn menghembuskan nafas beratnya. Dengan keadaan tubuh yang lemas, Alyn membalikkan badannya. Ia berdiri dan menatap pria yang membentaknya tidak sopan itu.

“Apa gue nggak bisa mendapatkan ketenangan bentar aja? “

“Apa gue terlalu menyedihkan hanya untuk bisa mendapatkan sesendok makan? “

“He?” pria itu hanya melongo karena melihat Alyn yang tiba-tiba marah-marah dan mulai menangis.

“APA GUE NGGAK BOLEH CUMA MAKAN AJA?”

“Apa sampai pemilik restoran pun mencampakkan gue? Ha?”

‘Kenapa semua orang jahat sama gue !!! Kenapaa???!!!!”

“Apa gue nggak bisa bahagia sedikit aja? Gue hanya ingin makan? Apa nggak boleh juga ?”

“He?”

Alyn mengeluarkan beberapa lembar uangnya dengan keadaan masih menangis, ia menaruh uangnya diatas meja, setelah itu ia mengambil kopernya dan berjalan melewati pria tersebut yang masih terbengong dan binggung melihat dirinnya.

“Kenapa semua orang hari ini bikin bete!!!“ desis Alyn saat melewati pria yang membentaknya tadi.

Alyn  berjalan ke arah pintu, ia merasa kepalannya semakin berat. Rasanya seperti ia ingin mati saja saat ini. Ia ingin menemui Papa dan Mamanya. Ia merasa bahwa ia tak ada tujuan untuk hidup. Ia tidak mempunyai apapun untuk diharapkan.  Ia  segera keluar dari restoran tersebut.

“Dasar gadis aneh” gidik pria bernama Aska tadi. Ia terlalu binggung dengan kelakuan Alyn tadi.

*****

Bima membuka ponselnya yang baru saja ia aktifkan. Ia membaca email yang baru masuk.   Dan semua email tersebut dari Alyn. Bima membacanya satu persatu dengan perasaan semakin bersalah tentunya.

From : YnAlyn@live.com

Lagi apa sekarang ?Gue tiba-tiba kangen sama lo ^_^

 

From : YnAlyn@live.com

Lo sibuk ya ??

 

From : YnAlyn@live.com

Jangan lupa makan dan istirahat Tuan Freedy Haling ;3

 

From : YnAlyn@live.com

Lo benar-benar sibuk kah? Sampai email gue nggak pernah lo balas.

 

From : YnAlyn@live.com

Bim, lo baik-baik aja kan ?

 

From : YnAlyn@live.com

Selamat Malam Bima. Cepat kasih kabar ya. Gue khawatir sama lo

Bima meremas ponselnya setelah membaca email terakhir dari Alyn. Ia memejamkan matanya kuat-kuat,  Ia menahan agar air matannya tidak jatuh lagi. Fikirannya kembali saat Alyn ambruk berlutut di depannya. Rasa sesak di dadanya kembali datang.

Bima membuka matannya dan segera menelfon seseorang.

“Dimana sekarang ?”

“Oke. Makasih “

Bima mengambil jaket secara acak di almarinya, setelah itu ia mengambil kunci mobilnya. Bima keluar dari kamarnya dengan tergesah-gesah.

“Bim, kamu mau kemana?” tanya Iqbal dan Rio saat keluar dari ruang kerja Mr.Bov mereka nampak binggung melihat Bima seperti itu. Namun Bima pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Iqbal dan Rio.

“Dia mau kemana kak? Ini sudah jam 12 malam?”

“Biarin aja. Paling juga nyamperin Alyn” ujar Rio kepada Iqbal. Rio terlalu jelas mengerti bagaimana watak anaknya. Iqbal mengangguk-angguk saja. Iqbal sendiri kasihan melihat keponakannya yang menurutnya terlihat sangat menderita.

****

Bima masuk kedalam mobilnya dan mencap gas mobilnya dalam kecepatan yang diatas rata-rata. Rasanya ia sudah lupa bahwa beberapa minggu lalu ia dihadirkan dengan insiden kecelakaan dengan 3 korban yang ia hasilkan.

Bima menatap jalanan dengan tatapan tajam. Ia hanya ingin cepat sampai di tempat yang ia tujuh. Bima semakin mempercepat jalannya.

****

Bima memberhentikkan mobilnya dalam sekali rem ketika ia melihat seorang gadis berjalan lemas dengan menyeret koper di pinggir trotoar. Bima langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju gadis tersebut yang tentu saja tak lain adalah Alyn. Bima mengetahui keberadaan Alyn dari Mr.Max yang ia suruh mengikuti gadis ini.

“Lo bego atau gimana sih!! “ bentak Bima kasar yang langsung berhenti di depan Alyn. Alyn melihat Bima dengan wajah entahlah. Tubuhnya sudah lemas saat ini. Alyn menatap Bima dan langsung menangis.

“Lo bisa kan nyewa hotel!! Lo bisa kan beli apartemen dengan kartu yang gue kasih!! Ngapain lo kayak orang terlantar gini!!! “ Bima masih mengoceh dengan emosinya. Ia bukannya marah kepada Alyn tapi ia begitu tidak tega dengan gadis ini yang menjadi seperti ini dan itu semua karena dirinnya. Apalagi melihat Alyn menangis saat ini membuatnya semakin tidak tega.

“Lo mau kemana ? Ha? Lo jangan khawatirin gue kayak gini!! “ Alyn menundukkan kepalannya, ia tidak bisa menjawab apapun. Tenaganya sudah hampir pada titik low.nya.

“Gue panggilin taksi, lo harus nyewa hotel untuk bermalam. Ini udah malam banget. Bahaya buat lo. “

Alyn melepaskan tangan Bima, ia menggeleng pelan. Alyn mengeluarkan dompetnya dan mengambil black card Bima dari dompetnya.

“Makasih” ujar Alyn pelan, ia memasukkan black card tersebut ke saku jaket Bima. Karena ia tau jika ia memberikannya ke Bima, pria ini tidak akan menerimannya. Bima mendeceak melihaapa yang dilakukan Alyn.

“Cukup gue yang sakitin lo, Gue mohon lo jangan nyakitin diri lo sendiri” lirih Bima pelan dan meraih tangan Alyn lagi.

“Gue boleh tanya untuk yang terakhir kali?”

“Nggak “ jawab Bima cepat karena ia tau apa yang akan ditanyakan oleh Alyn. Alyn tersenyum miris.

“Gu—, gue harus kemana sekarang?” isak Alyn mengutarakan isi hatinya saat ini.

“Gue nggak punya siapa-siapa”

Bima menatap Alyn dengan tatapan sendu, Bima langsung menarik Alyn dalam pelukannya. Ia memeluk Alyn seerat mungkin memberikan gadis ini kekuatan.

“Apa gue begitu nyakitin lo Al?”

“Sakit banget Bim”jawab Alyn dalam pelukan Bima, Tangisan Alyn mulai menjadi kembali.

“Apa lo nggak pernah fikirin gimana gue?perasaan gue? Apa lo cuma mikirn gadis itu aja? “

“Sssttttt”

“Gue harus kemana? Gue harus berbuat apa sekarang? Gue harus apa Bim???”

“Cuma lo satu-satunya harapan gue, Cuma lo yang gue punya. Bukannya lo udah janji sama bunda lo bakal jaga gue? Kenapa lo malah nyakitin gue kayak gini?” Alyn melepaskan pelukan Bima dengan cepat. Alyn menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Papa, Mama—, Tolong Alyn, Tolong Alyn”

Alyn menangis tersedu-sedu, ia mengambil kopernya lagi, Alyn melewati Bima begitu saja untuk kembali melangkahkan kakinya yang terasa sudah mati rasa seperti hatinya.

“Lo ikut gue sekarang” Bima langsung menarik tangan Alyn, ia membawa Alyn masuk kedalam mobilnya. Alyn semdiri sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Ia menuruti saja apa yang dilakukan oleh Bima. Ia sangat lelah.

****

Bima menjalankan mobilnya kembali, ia menuju ke suatu tempat. Didalam perjalanan, keadaan sangat henting, Alyn diam dengan tatapan kosong seperti tanpa ada jiwa disana. Bima meraih kepala Alyn agar menyender di bahunya. Alyn pun membiarkan saja Bima melakukan hal itu.

“ gue mohon, turuti gue kali ini saja. Ngerti?” Alyn mengangguk-angguk lemas, walaupun sebenarnya ia tidak sebegitu mendengar apa yang dikatakan oleh Bima.

****

Mobil Bima berhenti di sebuah di kawasan apartemen Ellite. Bima memarkir mobilnya setelah itu ia mengajak Alyn untuk turun dari mobil. Bima memakaikan jaketnya ke Alyn. Ia pun menyeret koper Alyn. Mereka berdua memasuki gedung tersebut melewati pintu belakang.

Bima terus menggandeng Alyn dari lift sampai mereka tiba di lantai 5 tepatnya di sebuah apartemen bernomer 1212 . Bima memencet tombol apartemen tersebut beberapa kali. Sampai akhirnya pintu apartemen itu dibuka oleh seorang laki-laki.

“Kak Bima?” kaget pria itu melihat Bima, dan saat pria itu melihat Alyn, ia lebih kaget lagi.

“He? Ini gadis aneh di restoran gue tadi” ujar pria tersebut dengan tatapan ngeri melihat Alyn.

“Lo pernah lihat Alyn?” tanya Bima binggung.

“Dia baru aja tadi di restoran gue, marah-marah nggak jelas kayak habis patah hati. Aneh” gidik pria itu menjelaskan kepada Bima. Bima pun mengangguk-angguk saja.

“Gue boleh minta tolong?” ujar Bima ke inti tujuan dia ke apartemen pria di depannya tersebut. Bima sedikit melirik Alyn yang terlihat sangat lemas, tatapannya kosong. Kepala gadis itu pun menyender di bahu Bima. Alyn hanya diam saja sedari tadi.

“Bau-baunya kayak nggak enak nih”

“Gadis ini biarin tinggal di apartemen lo untuk sementara”

“LO GILA KAK??” teriak pria tersebut dengan keras. Bima mendecak kesal.

“Aska gue mohon. Panjang ceritannya kalau gue ceritain sekarang”

“Yaudah, lo buat novel dulu kak,  nanti gue baca cerita lo itu. Habis itu lo kesini lagi sama ce—“

“ gue serius Aska!! “ tajam Bima dan membuat nyali pria bernamakan Aska tersebut sedikit menciut.

“Nggak mungkin lah kak gue bawa gadis ke apartemen gue. Kalau Mama sama Papa gue kesini dan tau gadis ini. Bisa dipecat jadi anak gue”

“Gue yang akan cari alasan ke Papa sama Mama lo” ujar Bima meyakinkan, namun ekspresi Aska masih sedikit ragu.

“Gue akan jelasin. Tapi biarin Alyn istirahat dulu di kamar lo satunya. “

“Yaudah deh. Bawa dia masuk ke kamar tamu” Bima mengangguk dan segera membawa Alyn masuk ke kamar yang dimaksudkan oleh Aska.

Bima membaringkan Alyn dikasur tersebut, menyelimuti Alyn dan melepaskan sepatu Alyn. Setelah itu, Bima meninggalkan Alyn yang langsung tertidur begitu saja. Bima tau bahwa gadis ini sangat lelah. Bima menutup pintu kamar dan keluar untuk menemui Aska kembali yang sudah duduk manis di meja makan.

“Dia pacar gue, tapi gue—“ Bima pun mulai menceritakkan dari A sampai Z, mendengar cerita Bima, Aska tidak tau harus percaya apa tidak. Tapi cerita Bima benar-benar membuatnya berdecak dan sedikit ngeri sendiri.

“Dijadiin Novel, best Seller itu cerita lo Kak” ujar Aska yang lebih tepatnya menyindir Bima. Bima mendengus pelan.

“Lo mau kan bantu gue ? Tolong jaga Alyn beberapa bulan ini saja. Gue bisa aja nyuruh dia tinggal di apartemen gue, tapi gue takut dia akan berbuat aneh-aneh” jelas Bima.

“Imbalannya?”

“Cihh—, Sirkuit balap pribadi gue ambil aja” ujar Bima memberikan tawaran kepada Aska yang memang sangat menggilai dunia mobil balap.

“Mobilnya ?”

“Iya sama mobilnya juga”

“Deal!! “ ujar Aska sangat senang sekali.

“Jangan apa-apain dia. Benar-benar jaga dia”

“Siap bos!!”

“Awas kalau lo sampai nyentuh dia sehelai rambut. Atau lo jatuh cinta sama dia”

“Nggak bakal!! Gue nggak tertarik cewek aneh kayak gitu. Lagian lo juga aneh kak, Tinggal lepasin gadis itu dan nikah sama pacar lo yang ini kan bisa. Nikah kabur sana”

“Enak aja kalau lo bilang”

“Mana kunci apartemen lo, biar nanti kalau itu gadis siapa namanya? Alyn?” Bima mengangguk

“ya. Alyn itu—“

“Kakak!!” tekan Bima

“Iya maksud gue Kak Alyn itu nggak suka disini dan risih tinggal disini, biar dia bisa nempatin apartemen lo  didepan itu” Bima mengangguk. Ia mengambil dompetnya di belakang celanannya dan mengeluarkan sebuah kartu yang bentuknya seperti kartu kredit/atm yang merupakan kunci dari apartemennya.

“Gue beneran titip dia ke lo ya. Tolong jaga dia baik-baik. Hibur dia kalau lagi sedih”

“Lo fikir gue pemain OVJ? “

“Oh ya, gimana kuliah lo? Kenapa lo tiba-tiba balik ke Indonesia? Papa lo pasti marah besar kan?”

“Bukan besar lagi, tapi amat-amat besar.  dia sering bandingin gue sama lo. Dikira gue bego-bego banget apa. “

“Udah sana cepet selesaiin kuliah lo. Jangan main-main doang”

“Gue ini masih mau nikmatin dunia remaja kak, gue masih 20 tahun jadi masih muda gitu”

“Mati besok gue sukurin lo”

“Doa lo bagus banget Kak” gidik Aska dan membuat Bima terkekeh ringan.

“gue balik dulu. Takut di cariin Papa gue. Jaga Alyn ya”

“Iya” balas Aska ringan. Bima pun mulai melangkah menuju pintu apartemen Aska.

“ Kak Bim” panggil Aska tiba-tiba dan membuat langkah Bima terhenti di ujung pintu. Bima menolehkan wajahnya ke arah Aska dengan kening yang mengkerut membentuk beberapa lapisan.

“Apa?” sahut Bima karena Aska tak kunjung melanjutkan kata-katanya.

“Lo hati-hati dijalan ya. Soalnya perasaan gue agak-agak nggak enak gimana gitu ” ujar Aska dengan wajah sok dramatis

“Bangke lo” balas Bima tajam karena mendapat ucapan mengerikkan dari Aska seperti itu sedangkan Aska sudah terkekeh-kekeh sendiri.

“Thanks Ka” ujar Aska dengan berbangga hati.

Bima pun beranjak dari apartemen Aska. Ia sedikit tenang bisa meninggalkan Alyn kepada Aska yang merupakan teman bermainnya dulu di German dan sebelumnya adalah tetangga apartemennya ketika ia masih SMA. Bima sesekali pernah tidur di apartemennya yang berada di depan apartemen Aska. Dan dari sanalah dia kenal Aska, Apalagi Papa Aska merupakan salah satu Direktur keuangan di perusahaan Papanya, dan menyebabkan dirinnya sangat kenal dekat dengan Aska. Ia sudah menganggap Aska seperti adiknya sendiri.

****

Bima masuk kedalam rumah, raut wajahnya terlihat kosong, tubuhnya sedikit terlunglai. Ia benar-benar terlihat mempunyai masalah yang sangatlah besar. Ia memberhentikkan langkahnya untuk beberapa saat. Kepalannya ia tolehkan dengan malas ke arah jam dinging yang  tak jauh dari padnangannya.

“Jam 3” lirihnya pelan kemudian berjalan kembali untuk menuju jalannya.

Bima menuruni tangga, namun langkahnya terhenti seketika saat ia melihat Allen yang keluar dari kamarnya. Bima menatap gadis itu dengan tatapan entahlah. Tatapan antara dia harus menyalahkan gadis ini atau menyalahkan dirinnya sendiri.

“Ka—, kamu dari mana?” tanya Allen saat berpapasan dengan Bima. Wajah Allen terlihat enggan saat ia mengeluarkan pertanyaan tersebut. Bima tak menunjukkan rekasi apapun melainkan langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan Allen begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Allen.

Allen terdiam sesaat, seulas senyum miris mulai tergambar di wajah cantiknya. Kepala Allen perlahan tertunduk.

“Semuannya pasti salahku” lirihnya lemas.

*****

Keesokan pagi, Semua sudah berkumpul di meja makan terkecuali Bima. Mr.Bov, Rio, Iqbal, Salsha dan Allen menikmati makan pagi mereka. Nampaknya mereka semua begitu penasaran dengan kehidupan Allen dahulu.

“Bima pergi dulu” suara berat dan sedikit serak tersebut membuat semua orang di meja makan mengalihkan pandangan mereka ke sumbernya.

“Mau kemana kamu?” tanya Rio mewakili semuannya, apalagi melihat pakaian Bima yang santai dan tidak serapi biasanya.

“Jenguk Alyn” jawab Bima santai. Mendengar jawaban dari Bima semua mata sedikit melirik ke arah Allen yang terlihat canggung untuk tersenyum. Allen merasa heran juga kenapa semuanya mengarahkan tatapannya kepadannya.

“Sebelum itu, antar Allen berangkat sekolah dahulu” perintah Mr.Bov dengan nada penuh penekanan. Bima menghembuskan nafas beratnya sekali.

“Mobil banyak kan digarasi? Supir juga banyak kan?”

“Bima  berangkat dulu. “

Mr.Bov yang terlihat naik pitam dan akan berdiri dari kurisnya langsung dicegah oleh Rio dan Iqbal. Keadaan  di meja makan saat ini sedikit berapi dan panas. Allen yang melihat situasi seperti ini lebih memilih cepat-cepat menghabiskan minuman susunya.

“Om, Mr.Bov, tante. Allen berangkat dulu. Allen bisa jalan kaki dan naik bus kok” ujar Allen cepat-cepat.

“Ta—“
“Allen berangkat. Selamat pagi semua” dengan cepat Allen memotong ucapan Rio dan berlari kecil untuk menuju pintu keluar rumah. Allen memilih tidak terjebak dalam situasi yang mencanggungkan seperti itu.

****

Allen benar-benar memilih untuk jalan kaki saja, ia melangkahkan kakinya dengan sedikit lemas untuk menuju luar perumahan sebelum menaiki bus yang menuju sekolahnya, dan tak berapa lama Allen melihat Mobil sport merah Bima melewatinya begitu saja dengan kencang, entah setan busuk darimana yang menghasut gadis ini, Allen langsung menghadang sebuah taxi dan menaiki taxi tersebut.

“Pak kejar mobil merah didepan” ujar Allen kepada sang supir.

Allen sendiri tidak tau apa yang saat ini telah ia lakukan, ia hanya ingin mengikuti Bima. Bahkan ia jelas sadar bahwa ia mengorbankan sekolahnya hanya untuk membuntuti Bima.

*****

Setelah 30 menit perjalanan, kini Allen berdiri di sebuah kawasan Apartemen mewah. Allen nampak ragu untuk masuk kedalam. Namun langkahnya langsung tergerak begitu saja ketika ia melihat sosok Bima terlihat masuk kedalam lift.

*****

Bima melihat jam tangannya, sebenarnya ia tidak ada rencana untuk datang ke apartemen Aska. Namun, ia mendapat telfon dari Aska bahwa Alyn terkena demam tinggi, maka dari itu Bima dengan cepat-cepat menuju apartemen Aska.

Bima keluar dari lift, ia berjalan menuju kamar apartemen Aska, dan saat bersamaan ia melihat Aska sedang buru-buru keluar dengan merapikan jas serta dasinya.

“Untung lo dateng kak” ujar Aska tak beraturan saat melihat sosok Bima tak jauh darinnya. Pria itu berlarian mendekati Bima.

“Gue lupa kalau hari ini ada janji mama ke acara lelang amal. Gue udah telat. Cewek itu sudah gue kompres, dia masih tidur belum bangun. Lo jaga dia ya. Gue keluar dulu. Bye”

Belum sempat Bima mengeluarkan kata-kata, Aska sudah pergi begitu saja. Bima menghelakan nafasnya dan melanjutkan langkah kakinya memasuki apartemen Aska.

****

Bima masuk kedalam kamar tempat Alyn ia tidurkan semalam. Bau aroma melati mulai tercium di indra penciumannya. Bima melihat gadis itu masih berbaring disana dengan wajah pucat pasi.

Raut wajah Bima menunjukkan rasa semakin bersalahnya. Kadang ia menyesal kenapa ia tidak menikahi saja Alyn langsung saat di Jepang dulu. Semuannya tidak akan jadi seperti ini bukan?.

“Bim—“ lirih Alyn lebih tepatnya seperti mengigau tak jelas. Bima langsung mendekati Alyn dan meraih tangan kanan gadis itu. Benar saja Bima dapat merasakan panas dari tangan Alyn.

“Bim—“ igau Alyn lagi

“Iya Al, gue disini” sahut Bima dan membelai lembut tangan Alyn.

“Bim—“

“Bima—“

“Bima, Bima —“ Alyn terus mengigau bahkan kali ini sampai tertangis dalam keadaan tertidur.

Bima segera menarik tubuh Alyn dan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Bima merasa tidak tega melihat kondisi Alyn yang seperti ini.

“Al, jangan nangis, Gue disini. Gue disini Al”

“Bim—,” Alyn sepertinya mulai tersadarkan, tangisannya mulai memecah begitu keras. Bima pun semakin mengeratkan pelukannya.

“Jangan tinggalin gue. Gue nggak mau sendiri”

“Gue mohon, Bawa gue pergi dari sini. Gue nggak mau lo pergi. Gue nggak rela Bim”

“Jangan lepasin gue”

“Bim—, Jawab!! “

“Lo nggak bakal ninggalin gue kan???” isak Alyn, namun Bima tak bergeming sedikit pun untuk menjawab pertanyaan terebut.

Perlahan, Alyn melepaskan pelukan Bima. Alyn menatap Bima yang sama sekali tak berani menatapnya.  Alyn mencoba mencari suatu jawaban dari kedua mata sendu tersebut.

“Lo tetap akan tinggalin gue Bim?”

“Lo—, Lo—, Lo tetap akan pergi ??”

“Lo—, Lo ak—“

Alyn tak melanjutkan kembali kata-katanya yang terasa berat di mulutnya tersebut karena pada saat ini, Bima langsung mencium bibirnya mencoba menutup segala pertanyaan Alyn yang tak bisa terjawabkan.

Alyn membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Bima. Bibir mereka hanya saling menempel cukup lama. Mereka sama-sama menutup mata dengan keadaan seperti itu. Fikiran mereka berdua seperti sedang memflashback bagaimana kisah indah mereka dahulu. Dan mereka sepertinya ingin kembali ke masa dahulu jika itu bisa terjadi.

Perlahan, Alyn melepaskan ciuman Bima. Alyn sudah lebih tenang dan tidak menangis. Alyn menatap Bima yang mencoba mengatur nafasnya.

Alyn meraih tangan Bima dan membelainya pelan.

“Bim—“ panggil Alyn pelan dengan mencoba mengembangkan senyumnya walau itu terlihat sangat dipaksakan. Bima memberanikan diri untuk menatap Alyn. Bima sedikit kaget dengan ekspresi gadis didepannya ini yang tiba-tiba berganti.

“Bisakah kamu mengabulkan permintaan aku? “

“Aku ingin hari ini kita sebagai sepasang suami istri, kita jalan-jalan bersama dan menikmati hari ini berdua saja” pinta Alyn  dengan menahan air matannya yang akan mentes kembali.

Bima melepaskan tangan  Alyn dari tangannya dengan pelan. Bima tersenyum sedikit masam.

“Gue nggak ingin bikin lo tambah sakit. Gue nggak ingin menambah kisah indah bersama lo lagi, karena semua itu bisa buat lo tambah menderita”

DEGGHHH

 

Alyn tidak tau harus berekspresi apa, ucapan Bima bagaikan siraman air panas ke wajahnya. Alyn tidak tau apa dia saat ini sedang tertawa atau menangis. Yang ia tahu bahwa Bima benar-benar mencampakkannya.

“Ayo kita sarapan pagi. Gue akan buatin nasi goreng kesukaan lo” ujar Alyn tak beraturan mencoba mengalihkan semuannya. Bima menatap Alyn sedikit tajam.

“Gue harus belanja dulu ke superma—“

“Al—“

“ Lo masih sakit. Lo istirahat aja” potong Bima dengan cepat dan membuat Alyn terdiam seribu bahasa.

“Gue akan beli bubur di depan “

“Oh ya, gue udah pesenin tiket lo untuk ke jepang. Lo bisa balik kesana lusa” lanjut Bima dengan berat hati.

“Lo ngusir gue?” tantang Alyn tak terima dengan perlakuan Bima.

“Gue hanya nggak ingin lihat lo tambah sakit disini”

“Gue sudah sakit sekarang, semuanya rasanya sakit. Tubuh hati fikiran gue. Semuanya nggak ada yang sakit.,  kalau lo mau nyakitin gue nggak usah nangung-nanggung Bim. Biar lo puas sekalian dan pastinya setelah itu gue  akan kebal dengan rasa sakit yang lo buat itu”

“Terakhir kali gue tanya sama lo. lo harus jawab dan tatap gue”

“Lo nikah sama gue apa gadis itu?” tanya Alyn penuh penekanan. Terlihat wajah Alyn sendiri tidak yakin akan pertanyaan yang ia lontarkan. Bima yang tadi menundukkan wajahnya kini mulai memberanikan diri mengangkat kepalannya.

Bima menatap Alyn dengan tatapan entahlah, tatapan apa yang diberikan kepada Bima kepada Alyn terasa begitu memiriskan.

“Gu—“

Bersambung . . . . . .

2 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s