D3STINY OF LOVE AND LIFE – 10

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 10
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >>
Instagram : Luluk_HF
Twitter : “ @luckvy_s “
Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”
Blog : hyoluluk.wordpress.com

******

“Lo nikah sama gue apa gadis itu?” tanya Alyn penuh penekanan. Terlihat wajah Alyn sendiri tidak yakin akan pertanyaan yang ia lontarkan. Bima yang tadi menundukkan wajahnya kini mulai memberanikan diri mengangkat kepalannya dengan tempo yang sedikit pelan.

Bima menatap Alyn dengan tatapan entahlah, tatapan apa yang diberikan kepada Bima kepada Alyn terasa begitu memiriskan.

“Gu—“

Alyn menanti kelanjutan ucapan Bima dengan rasa gemetar yang menyerbu hebat di sekujur tubuhnya. Ingin sekali ia berteriak agar Bima tak perlu melanjutkan ucapannya. Namun, ia akan terlihat terlalu naif jika tidak penasaran dengan jawaban Bima dan mengetahui keputusan akhir yang akan di pilih oleh Bima. Alyn hanya bisa menatap Bima dengan kedua mata yang mulai lagi akan mengalirkan butiran-butiran hangat. Tangannya ia cengkram kuat-kuat. Ia berusaha mengontrol dirinya dan membuat pertahanan pelan-pelan untuk tubuh, hati dan fikirannya sendiri ketika jawaban dari mulut pria di depannya tersebut nantinya bukanlah sebuah jawaban yang akan membuat bibirnya bisa tersenyum lagi untuk kedepannya.

“Gue akan nikahi gadis itu”

Jatuh sudah air mata Alyn dan tanpa diminta pun air mata tersebut mengalir sangat deras. Alyn menangis dalam diamnya. Kepalannya ia tundukkan. Rasanya sangat perih dan menyakitkan ketika kata-kata itu terucap dari bibir Bima sendiri. Rasanya seperti seseorang yang baru saja ditusuk dengan pisau tajam ditambah guyuran darah panas. Alyn binggung dalam diamnya, haruskan ia tersenyum lalu dengan kebaikkan palsunya ia mengucapkan “ selamat Bim, semoga bahagia” atau ia harus berteriak penuh emosi “ LO JAHAT!!! LO EGOIS!! GUE BENCI SAMA LO!! “ atau pilihan terakhir ia berlutut dan mengemis “ Bim, gue mohon nikahi gue !! jangan gadis itu “ mana yang harus Alyn lakukan? . Tidak ada. Alyn tidak memilih ketiganya.

“ Al, gu—“

“Gue akan balik ke jepang sekarang, dan lo nggak perlu repot-repot beliin gue tiket pesawat. Gue masih cukup mampu buat beli sendiri “ potong Alyn tajam dan penuh penekanan. Kepalanya yang terasa berat ia coba angkat, tanpa menatap Bima, Alyn segera mengambil jaketnya dan memakainya. Setelah itu, ia berjalan ke arah kopernya yang mungkin sedari tadi menjadi saksi bisu diantara pertikaian dua sepasang,ah bukan sepasaang lagi melainkan dua insan yang tidak akan saling mengenal di dunia kedepannya.

Bima hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan gadis itu. Menyesal? Sangat !!! ia menyesal bukan karena perkataanya. Namun, menyesal karena tidak bisa merangkai katanya lebih halus lagi. Ia sudah menyakiti Alyn sampai batas terdalam. Ia sangat mengetahui jelas itu. Ia tak akan mengucapkan kata maaf, karena bibirnya terasa sangat tak pantas untuk meluncurkannya. Karena Alyn pun tidak akan pernah memaafkannya, seumur hidup gadis itu. Mungkin.
Alyn melewati Bima begitu saja tanpa mengatakan satu kata pun lagi, ia berjalan dengan segenap sisa kekuatan dan pertahanan yang ia miliki. Ia sudah tercampakkan, bahkan ia sendiri tidak bisa mengukur berapa sisa harga dirinnya saat ini. Ia sudah cukup untuk merendahkan segala harga dirinnya hanya untuk mempertahankan hubungan ini. Sudah lebih dari cukup Alyn!!
Kisah cinta diantara Alyn dan Bima akhirnya benar-benar harus berakhir disini. Tidak ada yang bisa mempertahankannya lagi. Dan memang tidak perlu dipertahankan kembali.
Bima masih tetap diam disana, tak melakukan apapun dan sama sekali tidak mencegah Alyn. Sedangkan Alyn sendiri pun tetap melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Aska. Ia sama sekali tak berharap Bima akan mencegahnya. Rasa sakitnya sudah terlalu cukup, jika Bima menyakitinya sekali lagi ia tidak sekuat itu. Pertahanannya benar-benar akan runtuh ambruk dan hancur-sehancur mungkin.
*****
Aska memasuki apartemennya, ketika kaki kanannya mulai masuk ia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia melihat apartemennya sepeti kapal pecah dan berantakkan sekali. Segala hiasan, dekorasi, barang-barang lainnya terhamburkan kemana-mana. Bahkan meja makan yang berbentuk kaca, kini tak berbentuk seperti meja lagi. Bentuknya berubah menjadi pecahan-pecahan beling dipenuhi dengan ceceran darah yang berasal dari tangan seorang laki-laki yang terlihat berdiri di jendela apartemen.
Aska meneguk ludahnya, ia binggung harus masuk dan kembali melangkahkan kakinya atau kabur dari apartemennya sendiri. Namun, ia menekatkan dan menguji adrenalinnya. Ia memilih untuk masuk saja dan mencoba mendekati pria tersebut.

“Kak—,” panggil Aska dengan nada suara pelan dan terdengar sangat hati-hati. Tak ada respon dari pria tersebut. Ia hanya diam dan terus menatap ke luar jendela. Sedangkan tetesan darah masih terus menetes di seluruh telapak dan jemari tangan kanannya.

“Kak Bim—“ panggil Aska kembali kepada pria tersebut yang tentu saja tak lain adalah Bima.

“Kak Bim, Lo nggak ap—“

“Lo jemput Alyn sekarang!!” suara serak dan berat tersebut mulai terdengar. Aska nampak binggung dan tak mengerti dengan ucapan Bima barusan.

“Heh—? “

“Maksudnya kak?” tanya Aska yang memang benar-benar tak mengerti.

“LO JEMPUT ALYN SEKARANG, ASKA!!!” teriak Bima penuh emosi. Bima menatap Aska dengan tatapan tajam. Seolah ia ingin meluapkan kemarahannya yang belum hilang kepada Aska. Mendengar teriakan Bima yang menyeramkan membuat nyali Aska menciut. Ia tak pernah melihat Bima seperti ini sebelumnya. Kedua mata Bima memerah dan lembam, seperti seseorang yang baru saja menangis. Rambutnya berantakkan tak tertata, apalagi wajahnya, semua urat-uratnya begitu jelas terlihat disana.

“Di—, Di—, Dimana Kak ?” tanya Aska memberanikan diri.

BRUUKKKKK

Bima menjatuhkan tubuhnya, ia berlutut di samping Aska dengan kepala tertunduk. Melihat Bima yang seperti itu membuat Aska seribu kali lebih binggung lagi. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aska mengedarkan pandangannya sekali lagi, bahkan ia tidak menemukan sosok gadis bernamakan Alyn di apartemennya.

“Gu—, Gue pria paling brengsek !!”

“Gu—, Gue pria paling brengsek!!!”

Kejadian saat ini benar-benar sangat memiriskan, Aska kini mulai mengerti dan menyadari bahwa cinta murni itu memang ada. Aska mengerti bahwa orang patah hati dan kehilangan orang yang sangat di cintai akanlah sangat menyakitkan.

Perlahan Aska mengangkat tubuh Bima ketika Bima mulai terdiam kembali. Aska menuntun Bima keluar dari Apartemennya. Lebih tepatnya Aska mengantarkan Bima ke Apartemen di depan apartemennya yang merupakan Apartemen Bima sendiri.

Aska membersihkan luka di tangan Bima, dan Bima sendiri hanya diam dan menuruti semua perkataan Aska yang di ucapkan kepadanya. Ia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Jawaban terakhirnya tadi kepada Alyn memang adalah keputusan akhir yang merupakan pengorbanan besar yang ia lakukan.
*****
Semua tidak tau bahwa disisi lain ada seorang gadis kecil, seorang gadis polos, seorang gadis remaja yang sebatang kara. Seorang gadis yang menyimpulkan sendiri bahwa segala kejadian barusan adalah kesalahannya. Karena kedatangan dirinnya.

Sejak kepergian Alyn dari apartemen Aska, Allen bersembunyi dan tetap disana, Ketika ia melihat Bima berteriak penuh frustasi dan menghancurkan serta melayangkan segala benda di dalam sana Allen pun tetap bersembunyi dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan lagi. Sedih, takut, menyesal, dan kemarahan untuk dirinnya sendiri.

Allen segera beranjak dari Apartemen tersebut ketika ia melihat seorang laki-laki masuk ke dalam Apartemen yang terdapat Bima di dalamnya, tentunya laki-laki tersebut tak lain adalah Aska.

Allen beranjak dari apartemen menuju ke Bandara. Ia tak ingin lagi membuat semuanya menjadi runyam. Ia harus meluruskan segalannya. Ia tidak ingin menjadi seorang gadis perusak diantara dua insan yang mempunyai ikatan cinta yang begitu kuat. Allen tidak butuh dikasihani. Sudah cukup ia menyulitkan hidup Bima, ia tidak ingin menjadi seorang penjahat seumur hidupnya. Yah, Allen mencoba menyusul Alyn sebelum gadis itu kembali ke Jepang.
******
Allen sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia segera masuk kedalam bandara yang luasnya berhektar-hektar tersebut. Allen berhenti di pintu masuk. Ia mencoba berfikir bagaimana carannya ia bisa mencari Alyn di bandara yang sebesar ini. Ia tidak ingin membuat khayalan sendiri bahwa ia akan seberuntung di sebuah sinetron atau film-film romance yang dengan mudahnya menemukan orang yang dicarinya.
Namun, sepertinya ia lebih beruntung dari kisah-kisah di FTV, Sinetron bahkan film paling dramatis yang ada di bandara. Dewi Fortuna berada di pihaknya dan menolongnya dengan sangat cepat. Allen melihat Alyn memasuki dut-Shop dengan langkah dan tatapan kosong. Walaupun tidak terlalu jelas tapi Allen yakin bahwa gadis yang ia lihat itu adalah Alyn. Ingatannya tentu sangat tajam, ia masih ingat warna jaket yang dipakai Alyn tadi dan warna koper yang dibawah gadis itu.
Tanpa menunggu lama lagi dan tak ingin menyiakan keberuntungan besar tersebut. Allen berlari-lari kecil menuju duty-shop yang ada didalam bandara. Allen masuk kedalamnya. Ia melihat salah satu seorang gadis dari beberapa orang yang sedang antri di depan kasir. Allen tersenyum legah, bahwa benar gadis itu adalah Alyn.

Allen menghilangkan segala rasa takutnya, ia menyiapkan segala mentalnya jika gadis ini akan mencacinya di depan umum. Ia tidak peduli, yang penting ia harus menyelesaikan segala masalah ini. Yah. Harus.

Allen perlahan melangkahkan kakinya mendekati Alyn yang membelakanginya, tangan kanan Allen memberanikan diri untuk menyentuh pundak Alyn. Sontak gadis tersebut kaget dan langsung membalikkan badannya.

“Kak Alyn” sapa Allen dengan suara sedikit gemetar. Alyn melihat gadis di depannya dengan tatapan binggung. Ia jelas tidak tau gadis ini dan apa yang dilakukannya disini.

BRUUKKKKK

“Eh—“

Alyn semakin kaget ketika melihat gadis remaja itu berlutut di depannya, gadis dengan seragam rapi dan tas yang masih berada di punggungnya. Semua mata tertuju ke dua gadis cantik ini;. Alyn menggaruk belakang kepalannya yang tidak gatal. Ia tidak mengertii dengan situasi saat ini.

“kamu siapa? Apa yang kamu lakukan. Ayo bangun!!” suruh Alyn cepat. Ia mencoba mengangkat tubuh Allen namun, Allen membalas dengan gelengan kepala. Sehingga membuat Alyn semakin binggung.

“Kak, Maaf. Aku sangat minta maaf” lanjut Allen.

“Ha? Maksud kamu apa sih? Bangun. Jangan kayak gini. Nanti dikira aku sudah ngapa-ngapain kamu” ujar Alyn yang terlalu risih karena dilihat oleh banyak orang.

“Ak—, Ak—, Ak—, Aku Allen kak”

DEGHHHHH

Seketika raut wajah Alyn berubah. Ia menatap Allen dengan tatapan kaget dan rasa sakit yang baru saja redah tersebut kembali datang. Ucapan Bima, seluruh kejadian pencampakkan Bima kepadanya kembali berputar seenaknya di dalam otaknya. Alyn terdiam seribu bahasa. Ia tidak tau harus apa sekarang dan juga tidak tau apa yang dilakukan oleh gadis yang sedang berlutut di depannya tersebut.

“Kak, Maafin Allen, karena Allen, kakak harus bertengkar hebat dengan Kak Bima, gara-gara Allen, kakak sampai kayak gini dan putus sama kak bima. Allen minta maaf sebesar-besarnya kak”

Alyn tak ingin mengucapkan satu kata apapun. Mulutnya terlalu berat untuk ia gerakkan setelah mendengar bahwa gadis di depannya bernamakan Allen. Ia memilih mendengarkan saja setiap oceham dari gadis itu.

“Tapi kakak tenang aja, Allen juga nggak setuju kok dengan perjodohan ini. Allen nggak mau jadi perusak hubungan kakak dengan Kak Bima. Allen akan menolak perjodohan tersebut. Allen akan bilang ke Om Rio kalau Allen nggak mau menikah dengan Kak Bima. “

“Allen mohon kakak jangan pergi ke Jepang, Allen mau kakak tetap disini dan kembali ke Kak Bima. Maafin Allen kak. Allen benar-benar janji bahwa Allen akan berusaha keras menolak perjodohan ini. Allen ak—“

“Makasih” ujar Alyn pelan memotong ucapan Allen dengan wajah datarnya. Allen tidak berani meneruskan ucapannya lagi ketika melihat tatapan dingin dari Alyn.

“Kamu bisa menolaknya dengan keras. Tapi tidak dengan Bima. Keputusan dia sudah bulat. Dia akan menikahi kamu. Dia akan tetap meneruskan apa yang sudah menjadi keputusan dia “

“Tapi Allen nggak mau Kak. Allen nanti akan menol—“

“Sekeras apapun kamu menolaknya. Pernikahan kamu dan Bima akan tetap terjadi” sahut Alyn pedih. Ia mencoba tersenyum yang sangat kentara sekali bahwa senyum itu dipaksakan.

“Semoga kalian bahagia”

Alyn tak kuat lagi untuk melihat wajah gadis itu, Alyn pergi begitu saja meninggalkan Allen yang masih terdiam dalam keadaan berlutut. Alyn tersenyum lagi dengan senyum yang bahkan lebih miris dari tadi.

“Bahkan, dia sangatlah cantik dan baik. Dia lebih dari pantas untuk Bima daripada gue.”

Alyn menangis kembali untuk kesekian kalinya. Semua kebisingan yang ada dibandara seolah menjadi sepi dan kosong di mata dan pendengarannya. Seolah hanya ada dia seorang yang sedang meratapi sebuah nasib yang begitu mengecewakkan dan menyedihkan. Alyn terus saja meneruskan langkahnya. Ia secepat mungkin menjauh dan tidak ingin lagi bertemu dengan sosok bernama Allen apalagi Bima. Tidak Ingin!!!
******
Allen memasuki rumah dengan tubuh dan langkah lemas. Rumah terasa sepi seperti tidak berpenghuni dan Allen begitu sangat menyukainya. Ia sebenarnya merasa tidak nyaman disini. Ia tidak bisa melakukan banyak hal sesuka dia, ia tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya ia harus menjaga setiap tingkah lakunya.

Allen mendapati sofa berwarna merah di depannya, tepatnya di ruang tengah. Tanpa berfikir untuk mengakhiri detik berikutnya, Allen merebahkan tubuhnya, menjatuhkannya begitu saja. Kepalanya ia tengadahkan ke atas sehingga terlihat dinding atap yang dilukisi dengan desain klasik. Senyum Allen mengembang perlahan, rasanya memang begitu tenang sekali.

“Kenapa semuanya menjadi sangat runyam?”

“Apa aku harus tetap menikah dengan dia?”

“Tapi bagaimana dengan Kak Alyn?”

“Aisshhh —, entahlah “

Allen berniat memejamkan matannya beberapa saat, namun rasa pegal dan penatnya membuatnya terlanjur terlelap dan tertidur tanpa sadar. Hari ini merupakan hari terunyam dan dirinya selalu diikuti rasa bersalah.
*****
Bima keluar dari mobil tidak memperdulikan Mr..Max yang turun dan akan membukakan pintu mobil untuknya. Karena kejadian tadi menyebabkan tangan kanan Bima masih terluka. Aska pun terpaksa menelfon Mr.Max untuk menjemput Bima.

Bima memasuki rumah, ia melihat ke sekitar. Sepi itulah yang ia dapati. Bima menghelakan nafas penuh kelegaan. Setidaknya ia akan bisa beristrihat dengan tenang tanpa ada tekanan apapun lagi yang memasuki telinga dan diresap oleh otaknya.

Langkah Bima terhenti, ketika ia menemukan seorang gadis yang tertidur pulas dengan posisi yang mungkin terasa tidak nyaman bagi gadis itu, dengan masih memakai seragam lengkap bahkan tas sekolahnya pun masih menggantung tanpa dosa di bahunya. Bima terdiam beberapa sesaat, ia tidak berniat untuk mendekati gadis itu. Bima menulusuri lekukan wajah cantik tersebut meskipun dalam keadaan tidur. Seketika itu, bayangan wajah Alyn yang menangis, wajah Alyn yang tercampakkan, wajah Alyn yang menderita membayangi dirinnya kembali. Hal itu membuat Bima diambang kebingungan, haruskah ia membenci gadis cantik di depannya ini atau memang ini semua adalah kesalahan terbesarnya.

Bima menggelengkan kepalanya pelan, mencoba membuyarkan semua bayangan tersebut. Sudah cukup emosinya tak terkontrol di apartemen Aska, ia tidak mau untuk menambahinya lagi. Tanpa mempedulikan Allen yang masih tetap tertidur di sofa, Bima memilih meneruskan langkahnya. Ia seolah tidak ingin peduli denga gadis itu.

“Kak Alyn—“

Langkah Bima yang akan menaiki tangga langsung terhenti seketika itu juga saat kedua telinganya dengan jelas menangkap suara nama Alyn.

“Maafkan Allen” suara itu berlanjut. Bima tidak membalikkan badannya. Ia tetap terdiam disana. Mematung dalam beberapa detik. Ketika mendengar nama itu hatinya bagai tercambuk sabuk panas.

“Maafkan Allen kak, Allen minta maaf. “

“karena Allen, hubungan kakak hancur. Maafkan Allen”

“Kak alyn jangan pergi ke jepang”

“Biar Allen saja yang pergi”

“Maafkan Allen”

Bima perlahan membalikkan badanya, ia berjalan kembali ke tempat sumber suara tersebut. Yah, Bima menemukan Allen yang sedang mengigau tak karuan. Bima mengerutkan keningnya. Bagaimana gadis ini bisa tau bahwa Alyn kembali ke jepang, Apakah gadis ini pernah bertemu dengan Alyn?. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepala Bima.

Sekali lagi Bima melihat Allen dari atas sampai bahwa, kemudian ia melirik ke jam dinding yang terpampang besar di ruang tengah. Arah jarum panjang berada pada angka 3 dan jarum pendek berhenti di angka 9. Bima melihat ke sepatu yang di pakai Allen, dua sepatu tersebut terlihat basah. Bima sedikit menyimpulkan bahwa gadis ini baru saja pulang. Tapi? Yang menjadi pertanyaan terbesarnya adalah apa yang dilakukan gadis ini sampai jam segini baru pulang. Setahu Bima, SMA ARWANA jam pulang tidak akan melebihi dari jam 2 siang.

Apakah gadis ini pergi kerja paruh waktu lagi? Tapi itu tidak mungkin karena granpha sendiri sudah mengancam gadis ini untuk tidak kerja lagi. Dan dugaan terakhir Bima hanya satu yaitu “Allen menemui Alyn” .

“Kenapa lo suka sekali ikut campur dalam urusan yang bukan masalah lo?”

“Kenapa lo tidak memikirkan diri lo sendiri saja ? tidak kah lo masih dalam keadaan berduka?

“Maaf? Apa kesalahan yang sudah lo buat ?”

“Cihh—, gadis bodoh”

Bima melangkahkan kakinya mendekati Allen. Entah setan atau malaikat apa yang menyelimuti otaknya, Bima membopong tubuh Allen untuk membawa gadis itu ke kamarnya. Bahkan saat Allen berada di atas kedua tangan Bima, ia sama sekali tidak terbangun. Bima menyunggingkan senyumnya sedikit. Bahkan bisa dibilang sama sekali bukan semua senyuman. Bima beberapa kali melihat wajah Allen, ia menemukan bahwa gadis kecil ini kelelahan. Bima sendiri dapat mendengar jelas dengkuran lembut dan pelan yang keluar dari mulut Allen, sekali lagi membuat Bima menyunggingkan bibirnya.
*****
Bima mencoba membuka pintu kamar yang dulunya merupakan kamar Alyn dan sekarang telah menjadi kamar Allen. Namun, ketika pintu telah terbuka, Bima terkejut mendapati Allen sedikit mulai menggerakkan matanya yang perlahan membuka. Bima mematung selama beberapa detik sampai akhirnya mata Allen terbuka sempurna.

Allen binggung dengan keadaanya sekarang, ia mencoba menyadarkan dirinya, dan mulai menjalankan otaknya agar bisa berfikir dimana dia sekarang, dan kenapa dia seperti sedang melayan ah bukan melainkan seperti berada di bopong dan ia sendiri dapat melihat jelas wajah Bima yang sedikit mulai salah tingkah.

“Ah, kamu udah bangun” ujar Bima mengontrol kebingungannya. Ia perlahan menurunkan Allen dari kedua tangannya. Bima mencoba biasa saja dan kembali bersikap datar. Namun berbeda dengan Allen, ia salah tingkah dan tidak tau harus membalas ucapan Bima dengan bagaimana. Wajah Bima terlihat santai dan seolah tidak terjadi apa-apa

“A—, Aku, Ak—“

“Kamu ketiduran di ruang tengah.” Jelas Bima singkat.

“Oh iya. Maaf merepotkan” balas Allen sambil dengan menunjukkan wajah bodohnya. Ia merutuki kelakuannya sendiri.

“Istirahat sana. Kayaknya kamu kecapean”lanjut Bima tanpa ekspresi dan dalam hitungan detik berikutnya ataupun tanpa menunggu balasan dari Allen, ia melangkah menjauh dari kamar Allen, lebih tepatnya berjalan menuju ke kamarnya sendiri.

Allen masih tetap terdiam disana, melihat punggung Bima yang perlahan menjauh dari hadapannya, Allen tersenyum miris apalagi saat melihat tangan Bima yang diperban dan masih terdapat bercak darah. Allen tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada dirinnya sendiri dan segala rasa bersalahnya. Yah, dia sangat bersalah.

“Ma—, Maaf”
*****
Osaka, 09.00 p.m

Alyn benar-benar memilih kembali ke Jepang. Ia sudah tak kuasa menahannya. Ia ingin sekali mencurahkan segala kekesalannya, kesakitannya ke Keyri sahabatnya. Sejak di dalam Pesawat Alyn tak ada henti-hentinya menangis walaupun tanpa suara dan sampai tangisan itu membuatnya lelah dan akhirnya tertidur.

Pukul 9 malam ia sampai di depan rumah kontrakan kecilnya, dari bandara ia menaiki taxi. Setidaknya ia kembali dengan menggunakan setengah dari uang tabungannya. Ia sudah cukup merendahkan harga dirinnya saat itu, dan ia tidak ingin merendahkan harga dirinnya kembali dengan mengemis meminta tiket kepada Bima. Walau pada kenyataanya harga tiket pesawat mempertaruhkan setengah uang tabungannya dari hasil kerja.

Alyn mengetuk pintu rumah dengan lemas, dan tak perlu menunggu lama seorang gadis berwajah oriental keluar. Dalam hitungan detik tangisan Alyn langsung menghambur dalam pelukan gadis di depannya dan langsung membuat gadis itu tentu saja binggung.

“Alyn-san. Kamu kenapa ? “ cemas gadis tersebut yang tak lain adalah Keyri.

“Key—ri, Ke—yri”

“Dia Brengsek!!! Dia jahat!!! Dia kejam!!”

“ Aku benci dengannya Keyri-san!!”

“Aku sangat membencinya !!!”isak Alyn tak karuan. Alyn menangis sejadi-jadinya.
*****
Keyri membawa Alyn masuk kedalam rumah, dan mencoba menenangkan Alyn walaupun hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Alyn sama sekali tak berhenti menangis dan tak mau lepas dari pelukannya. Sampai baju keyri basah akan air mata Alyn.

“Tenang Alyn-san. Kalau kamu menangis dan tidak cerita. Bagaimana bisa aku bisa tau apa yang terjadi. Ada apa dengan kamu”

Perlahan Alyn melepaskan pelukannya dari keyri, ia mengontrol isakannya walaupun rasanya sangat sulit sekali. Tangisannya tadi menyebabkan nafasnya sedikit sesak. Alyn mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia melakukannya berulang-ulang. Setelah merasa lebih tenang. Alyn mulai bercerita.

“Bima mencampakkan aku” Alyn mengigit bibirnya, berusaha agar ia tidak menangis lagi. Namun percuma pertahanannya benar-benar tidak terkendali dan sudah serapuh-rapuhnya. Alyn menangis kembali untuk kesekian kalinnya.

“Mencampakanmu? Apa maksud kamu Alyn-san?” binggung keyri masih tak mengerti.

“Dia akan menikah, Di—, Di—”

“Dia akan Menikah dengan gadis lain”

Alyn menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa sangat malu dengan keyri. Ia seperti gadis yang memang tercampakkan dan terlihat bodoh menangisi seorang laki-laki sampai seperti ini. Sejujurnya Alyn sendiri tidak ingin seperti ini. Tapi rasa “dikhianati” oleh orang yang ia sayang begitu menyakitkan sekali baginya.

“Ba—, bagaimana bisa Alyn-san? Bukankah kamu bilang setelah kamu lulus 4 bulan lagi, dia akan menikahi kamu?” tanya keyri tidak bisa percaya dengan ucapan sahabatnya tersebut.

Alyn tak bisa menjawab lagi, ia tak kuasa untuk meneritakkan semuanya. Ia tak bisa meneruskan ceritanya. Rasanya akan semakin sakit. Alyn hanya bisa menangis kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalannya dengan tempo yang lumayan cepat.

Keyri mengerti keadaan sahabatnya sekarang. Ia sendiri memilih tidak melanjutkan pertanyaanya. Ia merangkul Alyn, membelai lembut gadis tersebut. Membiarkannya melegakkan tangisannya dan berharap gadis ini tidak akan menangis lagi untuk keesokannya. Keyri menunggu Alyn menangis sampai selesai. Yah, sampai gadis berdarah Indonesia ini terlelap tanpa sadar dalam pelukan Keyri.
*****
Markas, Yakuza distric 5 .

Semua orang berbaju hitam dan rapi berbaris seajajar dan bersebrangan. Menyisakkan ruang untuk jalan ditengah. Tak lama kemudian, sebuah mobil limosin hitam berhenti dihadapan mereka. Dua orang keluar keluar dari mobil tersebut, sontak orang-orang berbaju hitam yang berbaris tersebut membungkuk 90 derajat sampai akhirnya 2 orang lelaki tersebut melewati mereka.

2 orang lelaki tersebut di kawal oleh 5 bodygard yang juga memakai baju hitam. Mereka berdua duduk berhadapan di ruang tamu. 1 orang laki-laki berwajah sudah tua dan satunya lagi terlihat masih muda, namun kharisma dari kedua orang ini nampak begitu kuat.

“ ashita otou san wa seatle e ikimasu ( Ayah akan pergi ke seatle besok)”

“ watashi no kibou wa otou san to isshouni ikimasu ( Aku harap, kamu ikut dengan ayah )” suara berat tersebut mulai terdengar dari mulut seorang laki-laki berwajah tua.

“ The big fight will begin. You must save yourself, other concern leave to Honchi.” Ujarnya dengan nada penuh harap kepada laki-laki muda di depannya yang merupakan anak tunggalnya.

“Iie otou san. ( tidak ayah) . I must still here. All of my servants here. I must save them too “ jawabnya dengan penuh keyakinan dan tatapan mata yang kentara kuatnya. Sang ayah menghembuskan nafas berat.

“ If you are save, so all of your servants will save too” ujar sang ayah untuk terakhir kalinya. Kemudian pria paruh baya tersebut berjalan ke arah sang anak, dan dengan harapan yang dalam menepuk pundak anaknya dua kali.

“Think again what i say “ pamit sang ayah, kemudian pergi meninggalkan anaknya dengan dikawal oleh 5 bodygard tadi.

Ekspresi Laki-laki berwajah muda dan tampan itu perlahan berubah menjadi sedikit kenpanikan. Karena ia jelas tahu bahwa yang dikatakan ayahnya selalu benar dan merupakan nasihat yang selalu baik. Namun, banyak pertimbangan yang harus ia lakukan untuk mempertaruhkan semuanya bila ia meninggalkan jepang.
*****
1 minggu kemudian . . . . .
Indonesia, Jakarta

Salsha menjemput Allen sepulang sekolah, Allen sedikit kaget karena kehadiran Salsha. Namun, ia hanya bisa menuruti apa yang diucapkan salsha dan ikut saja dengan tante berwajah cantik tersebut.

“Pernikahan kamu dan Bima sudah di umumkan, jadi kamu mulai sekarang harus sudah siap dengan dunia luar”

“Kamu harus siap menjadi seorang istri dari Bima Haling, cantik”

Allen tak mengerti yang diucapkan oleh Salsha, mungkin ia masih cukup muda untuk mengartikan kata-kata tersebut. Tapi ia mengangguk saja dan menunjukkan senyum kakunya. Sepanjang perjalanan Alyn hanya mendengarkan ocehan dari Salsha yang menceritakkan bagaimana sosok Bima, kesukaan dari makanan, minuman, warna dan segalanya tentang Bima dan apa yang dibenci oleh Bima. Salsha juga bercerita tentang masa kecil Bima dan bagaimana hebatnya seorang “Bima Freedy Haling”.

Allen menyimaknya dengan baik- baik, entah mengapa ia sedikit tertarik dengan yang diceritakan oleh Salsha, Mungkin ia berfikir itu adalah hal penting karena mungkin nantinya ia akan menjadi istri dari Bima Freedy Haling.

Mobil Salsha berhenti di sebuah Butik yang mempunyai ukurang gedung yang lumayan besar untuk sebuah butik. Namun, Allen tak menyangka, Jika Salsha mengajaknya ke sebuah butik yang merupakan Butik khusus untuk baju pengantin. Yah, pernikahan Allen dan Bima sudah ditentukan. Mereka akan melangsungkan pernikahan seminggu lagi. Begitu cepat bukan? Itulah yang diinginkan oleh Mr.Bov. Dan semuanya dilakukan sangat cepat sekali. Dan jangan pernah lupa The power Of Haling can do anything and buy anything in that time expect air. Maybe

Bahkan, Mr. Bov dan Rio sendiri sudah mengadakkan konferensi pers untuk acara pernikahan pewaris tunggal Haling dan FredMon tersebut. Tentu saja kabar tersebut membuat banyak orang kaget. Karena usia Bima masih begitu muda. Apalagi mendengar Bima akan menikahi gadis yang masih berumur 17 tahun. Banyak comment pro dan kontra akan berita ini. Namun, nampaknya Mr.Bov dan Rio tidak peduli dengan hal itu. Pernikahan akan tetap berlangsung tentunya. Berita tersebut menyebar begitu cepatdi seluruh televisi di dunia dan menjadi berita trending topic dimanapun. Baik sosial media maupun majalah-majalah bisnis dan majalah lainnya. Berita pernikahan pewaris miliyader tunggal tersebut menjadi topic utama bagi kalangan bisnis. Dan yang membuat banyak orang penasaran adalah mempelai wanitanya. Karena baik Mr.Bov dan Rio masih tidak menyebutkan siapa pendamping Bima, karena memang itu permintaan dari Allen sendiri. Ia masih belum siap untuk tersorot oleh media dan berhadapan dengan berbagai macam kamera.

Semua undangan sudah tersebar dalam waktu singkat, Resepsi pernikahan besar itu akan digelar di 6 negara. Yaitu Indonesia, Prancis, Los Angels, Hongkong, Dubai, dan terakhir Inggris. Hebat bukan? . Allen sendiri saja hanya bisa melongo bagaimana ia harus bersikap nantinya dihadapan semua rekan bisnis Bima apalagi orang sepenting Mr.Bov, bahkan sampai saat ini Allen masih tidak membayangkan bahwa ia akan menjadi menantu seorang millyader kaya yang biasanya ia lihat di televisi atau di literatur resensi buku Business International di sekolahnya.
******
Allen meneguk ludahnya, ketika melihat 10 baju pengantin yang dihadapkan di depannya dan 10 gaun yang menerutnya sangat cantik dan indahnya luar biasa. Rata-rata gaun tersebut berbalutkan diamond sebagai hiasan. Mulai dari gaun pendek sampai gaun panjang.

“Bagaimana cantik bukan? Tante sendiri loh yang memilihkan untuk kamu seminggu yang lalu. “ jelas Salsha . Allen tidak tau harus merespon bagaimana kecuali hanya bisa tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Salsha yang tentunya akan menjadi tantenya sendiri di kedepannya.

Dan sudah selama seminggu ini lebih tepatnya sejak kejadian, Bima membopongnya ke kamar. Ia tidak melihat keberadaaan Bima lagi di rumah. Allen tidak berani dan ia juga malu jika menanyakan hal tersebut. Tapi dari yang ia dengar dari pembantu rumah. Bima ada proyek di Turki dan London.

“Ahh, aku akan menikah dengan orang yang sangat sangat penting di dunia ini” batin Allen dalam hati. Entahlah? Apa dia mulai merindukkan sosok Bima?. Tidak allen!! Kamu tidak pantas merindukkan orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Kamu tidak boleh membuka hati kamu bahkan memberikan hatimu atau sampai berharap Bima untuk mencintai kamu. Kamu harus sadar bahwa kamu itu adalah perusak. Dan pernikahan ini, hanyalah sebatas sebagai belas kasihan dan pembalasan rasa bersalah . Tidak lebih Allen. Tidak lebih.

Fikiran Allen mulai melayang kemana-mana, Ia tersenyum kecut melihat baju-baju mewah tersebut. Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan semuanya. Karena seharusnya yang sekarang berada di butik baju pernikahan adalah Alyn bukan dirinnya. Allen sangat sadar bahwa ia adalah seorang perebut calon suami orang. Dia begitu jahat sekali.

Lamunan Allen terbuyarkan ketika 3 orang perempuan berwajah cantik, tinggi dan berpawakan seperti model bahkan wajahnya bukanlah merupakan orang Indonesia. Dan Allen tentunya mengenali 3 orang tersebut yang merupakan desainer baju terkenal di dunia. Allen untuk kedua kalinya di buat melongo.

Ia mendengarkan saja Salsha berbicara dengan 3 desainer tersebut mulai dari bahasa inggris, dan berganti menjadi bahasa prancis kemudian bahasa spanyol. Allen tidak begitu mengerti akan bahasa prancis dan spanyol tapi setidaknya ia sedikit faham karena ia pernah memiliki teman chat dari luar negeri.

“Wahhhh, keluarga Haling memang luar biasa” batin Allen berdecak kagum sampai tak bisa mengatakkan apapun.

Jika dibilang beruntung, pasti sangatlah berutung. Seluruh pakaian pernikahannya dibuat oleh 3 desainer ini dalam waktu yang singkat. Dan bila ditanyakan harganya pasti 1 baju saja berharga lebih dari 3 atau 4 miliyar. Itulah yang bisa Allen simpulkan dari perbincangan Salsha dan 3 desainer tersebut yang sedang bernegoisasi dan membenarkan beberapa bagian pakaian yang nampaknya tidak disukai oleh Salsha. Sedangkan Allen hanya menurut saja.

*****
Selama seminggu ini, Keyri tidak membiarkan Alyn untuk keluar bahkan menonton Tv. Keyri sengaja mencabut kabel Antena Televisi di kontrakan mereka. Alyn sendiri mengalami demam dari seminggu yang lalu dan harus di rawat di rumah sakit namun Alyn tidak mau. Sehingga Keyri harus merawat Alyn dengan baik di kontrakan. Mereka berdua izin dahulu dari kerja mereka.Dan utungnya Tuan Horizan mengizinkan.

Keyri sudah mendapatkan segala cerita dari Alyn, dan ia hanya menangis tanpa bisa memberikan nasihat apapun. Ia begitu kasihan sekali dengan Alyn. Setiap malam sahabatnya mengigau menyebut nama Bima. Wajahnya pucat pasi, Alyn tidak mau makan apapun. Tubuhnya kurus, pipinya pun lebih mengecil.

Ingin sekali rasanya keyri memberitahukan hal tersebut kepada Bima. Namun, saat melihat wajah pria itu yang muncul di billboard setiap jalan besar di Osaka maupun di kota besar Jepang lainnya hatinya ikut sakit. Keyri merasakan juga apa yang dirasakan oleh Alyn. Ia begitu membenci Bima sampai titik darah terdalam. Bagaimana bisa ada laki-laki brengsek seperti itu. Bahkan Bima muncul di Billboard hanya untuk menggabarkan berita pernikahan besarnya tersebut. Benar-benar tidak berperasaaan !!!! .
*****
Istanbul . . .

Mr.Max mendekati Bima yang sedang makan siang dengan klien. Hari ini adalah hari terakhir Bima di Turki dan malamnya ia akan langsung balik ke Indonesia. Papa dan kakeknya sudah mengultimatum dirinnya agar menyerahkan segala pekerjaan ke Mr.Max dan Alvin dan ia fokus di pernikahannya terlebih dahulu. Namun, Bima tidak menggubris dan tetap berangkat ke London dan Turki tanpa sepengetahuan kakek dan papanya.

“Tuan, Maaf mengganggu. Ada kabar dari Jepang” saat itu juga nafsu makan Bima hilang, ia memberhentikkan aktivitas makannya. Entah mengapa ketika kata “jepang” terucap hatinya mencelos tak enak. Firasatnya mengatakkan bahwa kabar yang akan diberikkan kepada Mr.Max adalah kabar buruk.

“I’m so sorry. I must leave now. I have a little problem in my other client. Thank you for your cooperation. I hope, our corporate can make big deal in this work” ujar Bima dengan sopan kepada clientnya. Dan tidak masalah bagi Bima. Karena disini dia adalah sebagai tuan besar dan tamu serta pemberi saham kepada clientnya tersebut. Jadi sah-sah saja jika ia meninggalkan makan siangnya dengan clientnya.

Setelah pamitan dengan clientnya tersebut, Bima dengan cepat mengajak Mr.Max keluar dari restoran berbintang 5 itu. Ia memasuk mobil limosin putih bersama Mr.Max.

“Ada apa ?” tanya Bima to the point. Pandangannya dingin menghadap kedepan. Mr.Max sedikit ragu apakah ia harus menceritakannya apa tidak.

“Nona Alyn mengalami demam tinggi selama seminggu, dan saya dengar bahwa pihak universitas tidak meluluskan ujian Akhir Nona Alyn, karena dia tidak datang di ujian Akhirnya selama 3 kali. Ujian panggilan pertama saat dia datang di Indonesia dan dua yang lainnya karena dia sakit”

“Bayar berapa pun di universitasnya agar dia bisa diluluskan” ujar Bima tanpa berfikir panjang.

“Kalau bisa tanpa harus ujian akhir” lanjutnya dingin. Mr.Max meneguk ludahnya dalam beserta kebingungan. Ia tidak mengerti dengan jalan fikiran tuannya tersebut apakah memang berpura-pura bodoh atau memang bodoh? . Difikir universitas di Jepang sama dengan di indonesia. Tapi ia tidak tau harus menjelaskan bagaimana ke Bima. Bisa-bisa yang ada ia akan dibentak oleh Bima. Karen Mr. Max tau akhir-akhir ini bima sedang berada dalam mood yang sangat sangat tidak baik.

“mmmm—, Apakah tuan ingin mengunjunginya ke Jepang?”

“Tidak usah” jawab Bima dengan cepat dan singkat. Dalam hati yang terdalam, ingin sekali rasanya saat ini juga Bima terbang ke Jepang dan menemui gadis itu dan memeluk serta merawatnya sampai sembuh. Tapi, ia yakin kehadirannya tidak akan membuat Alyn semakin baik melainkan akan menjadi sangat buruk. Ia tidak ingin memberikan harapan hampa lagi kepada gadis itu.

Mr.Max mengangguk-angguk saja, baru kali ini ia melihat wajah kosong dan kesedihan dari tuannya. Mr. Max sangat mengenal Bima. Bagaimana ekspresi Bima ketika senang, berwibawah bahkan ekspresi paling tersedih. Dan ekspresi yang ditunjukkan Bima saat ini adalah ekspresi memiriskan dan menyedihkan yang pernah ia lihat. Ia merasa kasihan kepada Bima. Namun, tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi ini. Semua adalah takdir dari yang kuasa.
****
Kedua matanya terasa berat untuk ia buka, namun ia mencoba untuk membukanya. Rasanya panas dan lemas sekali. Seluruh tubuhnya seperti tak ada tenaga. Sampai akhirnya cahaya putih lampu mulai menyerbu kedua retinannya. Ia menutup kedua matanya beberapa saat dan untuk kedua kalinya mencoba membuka kedua matanya.

Ia menahan silauan cahaya lampu putih tersebut, mengingat segala yang terjadi dengannya. Hanya senyuman miris yang bisa ia tunjukkan. Entah kepada siapa!!. Ia sendiri pun sangat kasihan kepada dirinnya bagaimanakah orang lain? Ia pantas untuk dikasihani dan di ibahil. Hidup sebatang kara! Dicampakkan oleh tunagannya dengan sangat memiriskan!! Dan terakhir ia tidak lulus ujian akhir !! Apalagi yang akan ia dapat setelah ini? Rasanya ingin sekali ia terjun dari lantai 5. Namun, ia masih punya naluri manusia yang baik dan otak sehat walaupun hatinya tak sehat.

Alyn bangun dari tempat tidurnya, walaupun rasanya susah sekali. Ia tetap terus mencobanya. Rumahnya terasa sangat sepi, ia menebak pasti Keyri sedang keluar membelikannya makanan. Ia melirik ke jam dinding kamarnya, dan menunjukkan pukul 11 malam.

Alyn bangkit dan berdiri dari ranjang mungilnya. Ia berjalan ke arah lemari putih berukuran sedang. Mengambil jaket tebalnya. Bulan ini adalah musim salju pasti saat ini diluar udaranya sangat dingin. Alyn berencana untuk keluar sebentar mencari udara segar. Ia mengambil beberapa lembar uang kemudian menuliskan sebuah note yang ia tempelkan di kulkas dekat dapur yang ia tujukkan ke Keyri. Ia tidak ingin sahabatnya terebut khawatir dengannya.
*****
Alyn keluar dari rumah, jalanan begitu sangat sepi mengingat ia tinggal di pinggir kampung namun cukup dekat dengan kota. Alyn terus saja berjalan tanpa ada rasa takut. Ia menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya, kedua tangannya yang sudah memakai sarung tangan tebal ia masukan ke saku jaket. Nafasnya mulai mengeluarkan asap. Rasa dingin merasuk sampai ke tulangnya mengingat tubuhnya sendiri masih tak bertenaga. Tapi ia tidak peduli, Ia ingin keluar dan mencari udara segar.

Alyn sudah sampai di luar perkampungan, melewati jalur rel kereta api dan sediki belok kanan adalah pusat perkotaan. Kali ini bukan kesepian yang ia dapat melainkan keramaian akan berbagai kendaraan yang masih berlalu-lalang, dan orang-orang yang masih menikmati makan malam mereka. Toko-toko 24 jam dan cafe 24 jam pun masih buka. Alyn menghelakan nafas beratnya dan melangkahkan kakinya kembali dengan pelan-pelan.

Ia memasuki sebuah cafe kesukaanya dengan keyri, cafe tersebut terdapat sebuah bartender kecil dimana disana biasanya Keyri akan mabuk berat dan Alyn lah yang membopong sahabatnya tersebut sampai pulang. Alyn sendiri tidak suka dengan minuman ber-alkohol. Namun, entah mengapa kali ini ia ingin mencobanya. Setan jahat mungkin sudah merasuki fikirannya.

Alyn duduk disalah satu pojok kursi di bartender kecil tersebut agar tubuhnya bisa ia senderkan di dinding. Ia memesan satu botol alcohol dengan kadar yang tidak terlalu besar. Mengingat ini adalah pertama kali untuk dirinya mencoba minuman keras.

Satu gelas kecil Alyn mencobanya, rasanya begitu panas sekali dan tidak enak bagi Alyn. Ia ingin muntah. Dengan cepat Alyn meminum segelas air putih yang sebelumnya juga sudah ia pesan untuk berjaga-jaga.

Pelayan bartender terkekeh melihat Alyn dan bisa menebak bahwa ini adalah pertama kalinya bahwa gadis tersebut mencoba minuman tersebut. Alyn pun diberikan segelas es batu, semangkok pop-corn serta sepiring kecil garam di depan Alyn. Pelayan tersebut menyarankan kepada Alyn agar menambahkan es batu di dalam minumannya agar sedikit lebih segar setelah meminumnya, Alyn di suruh untuk memakan garam tersebut agar rasa pahit dari minuman alcohol itu tidak begitu terasa tidak enak.

Mendengar saran dari pelayan tersebut, Alyn pun menurutinya. Dan benar saja, saran dari pelayan itu lumayan berguna. Lama-kelamaan Alyn terus meminum sampai bergelas-gelas. Ia tidak peduli dengan keadaanya yang masih demam.

Alyn mulai setengah mabuk, lagu di dalam cafe yang sebelumnya adalah lagu bernada beat tiba-tiba menjadi lagu yang lumayan ballad. Lagu skyscraper dari Demi Lovato perlahan terdengar di telinga Alyn.

Dan entah mengapa ketika mendengarnya, dan meresapi setiap makna dari lagu tersebut air mata Alyn jatuh satu persatu. Ia merasa sedang disindir dengan lagu ini. Ia merasa bahwa lagu ini sangat pantas untuknya. Lagu ini sedang menertawainya. Menyedihkan sekali lo Alyn !!!! .

*****
Bima melihat ke arah jendela pesawat, hanya kegelapan dari awan hitam yang bisa ia pandang. Menakutkan, menyedihkan, itulah yang bisa ia rasakan. Mungkin lebih tepatnya awan tersebut menggambarkan keadaan dari Alyn saat ini. Bima tersenyum miris.

Ia mengambil headphone dan menancapkannya di I-pad yang berada di samping tempat duduknya. Playlist di lagu pertama mulai berputar. Ia mengatur lagu di playlistnya secara acak dengan mata sendu dan kosong yang masih terus menatap ke arah luar.

Ketika lagu ke 5 dari playlist tersebut mulai berputar, Bima terdiam mematung. Ketika mendengarkan lagu tersebut dan mengartikan setiap bait dari lagu itu, ia merasa dadanya sesak bahkan untuk bernafas saja rasanya susah sekali. Pandangan Bima sedikit mengabur, matanya mulai berkaca-kaca saat dentingan piano pada chours terakhir di lagu tersebut berdenting dan terdengar. Lagu skyscraper yang mengalun menggambarkan betapa jahatnya dia sekarang kepada Alyn. Lagu tersebut menggambarkan pada sudut ketiga yaitu bagaimana keadaan Alyn sekarang. Hancur . Yah, gadis itu pasti sedang dalam keadaan hancur se-hancurnya dan itu karena seorang “ Bima Freedy Haling ”.

Bersambung . . . . .

One thought on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s