D3STINY OF LOVE AND LIFE – 11

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 11
“D3LL”
By : Luluk_HF . Follow >>
Instagram : Luluk_HF
Twitter : “ @luckvy_s “
Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”
Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

Skies are crying,
Langitpun menangis,
I am watching,
Aku mengamati,
Catching teardrops in my hands.
Menangkap airmata di dalam tanganku.

Yah, Alyn menangis setiap detik, setiap menit. Setiap air matanya membasahi kedua sisi pipi manisnya sampai menetes tanpa ada rasa di telapak tangannya. Meresep kedalam pori-pori dan merasuk ke seluruh tubuh sampai ke ulu hatinya. Air mata yang penuh kesedihan dan kehancuran.

Only silence, as it’s ending,
Hanya keheningan, seolah semua berakhir,
Like we never had a chance.
Seperti kita tidak pernah memiliki kesempatan.
Do you have to make me feel
Apakah kau harus membuatku merasa
Like there’s nothing left of me?
Seperti tidak ada apapun yang tersisa tentangku?

Tercampakkan? Sudah pasti itu!! Harga diri tak ada artinya bahkan tak bisa tersisahkan lagi? Alyn masih sangat ingat bagaimana ia berlutut seperti orang bodoh yang tidak punya malu, semua harga dirinya sebagai perempuan ia pertaruhkan untuk memohon agar seorang Bima mau kembali padanya dan memilihnya. Tapi? Never!! She never get him, again! She never had a chance !! . Semuanya sudah berakhir, orang yang Alyn cintai akan menikah dengan orang lain. Yah, perempuan yang lebih cantik 3 kali lipat darinya. Dan mungkin lebih baik 10 kali lipat dari dirinnya. Tapi ? bagaimana dengan Alyn?.How ? How ? How ??!!!

You can take everything I have,
Kau bisa mengambil semua yang aku punya
You can break everything I am,
Kau bisa menghancurkan aku seutuhnya,
Like I’m made of glass,
Seolah aku terbuat dari gelas kaca,
Like I’m made of paper.
Seolah aku terbuat dari kertas.

Semuanya sudah Alyn berikan untuk Bima. Kepercayaan! Rasa Cinta yang luar biasa !! Kesetiaan!! Harga Diri !!! Kebahagiaan!! Pengorbanan!! Dia sudah memberikan semuanya. Tapi dalam hitungan detik saat ia mendengar kalimat “Aku akan menikahi gadis itu” dari mulur Bima, hancur segalanya!! . Bima menghancurkan hati Alyn bagaikan Alyn tak lagi akan berharga baginya. Seolah dirinya hanya seorang gadis sampah. Yah, sampah yang tidak akan bisa mengembalikkan lagi rasa kepercayaan, kecintaan, kesetiaan, harga diri, bahkan kebahagiaan dari seorang gadis yang sebatang kara ini. Apakah tidak ada yang mengasihininya sedikit saja !!!!!!

Go on and try to tear me down.
Teruskan untuk mencoba menghancurkan diriku.
I will be rising from the ground,
Aku akan tumbuh dari bawah,
Like a skyscraper,
Seperti gedung pencakar langit,
Like a skyscraper.
Seperti gedung pencakar langit,

Tidak sekali Bima menghancurkan Alyn, harapan palsu? Harapan hampa? Semuanya ia hantamkan ke Alyn bagai siraman air panas dan beracun yang melepuhkan wajah dan menyohok tenggorokannya. Namun? Bisakah Alyn bangkit lagi? Bisakah ia melupakan seorang Bima yang ia tunggu sampai 5 tahun lamanya.? Bisakah ia seperti langit cerah diatas sana ? Bisakah Alyn bahagia kembali lagi ??. entahlah .

As the smoke clears,
Asap pun menghilang
I awaken,
Aku tersadar
And untangle you from me.
Dan melepaskanmu dariku.

Dan, pada akhirnya Alyn tak ingin mendapat sebuah harapan palsu lagi. Ia memilih pergi bukan untuk membuka lembaran baru, tapi agar tidak mendapatkan harapan hampa yang lebih menyakitkan. Ia pergi melepaskan Bima karena ia tau ia tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Ia pergi untuk mencoba menyembuhkan rasa sakitnya yang tidak bisa disembuhkan oleh siapapun kecuali dirinya sendiri tentunya.

Would it make you feel better
Apakah akan membuatmu merasa lebih baik
To watch me, while I bleed?
Melihatku ketika terluka?
All my windows still are broken,
Semua jendelaku telah hancur,
But I’m standing on my feet.
Tapi aku tegar berdiri.

Apakah kamu sekarang bahagia Tuan Bima Freedy Haling ?? . Tentu saja kamu bahagia. Kekayaan? Calon Istri Cantik, kemewahan, kekuasaan. Segalanya kau punya. Bahkan untuk mencampakkan gadis biasa yang tidak berdaya seperti Alyn saja bisa. Segalanya telah hancur bagi Alyn. Penantian dan kesetiannya terkhianati dan terbayar dengan kesakitan yang luar biasa.

You can take everything I have,
Kau bisa mengambil semua yang aku punya
You can break everything I am,
Kau bisa menghancurkan aku seutuhnya,
Like I’m made of glass,
Seolah aku terbuat dari gelas kaca,
Like I’m made of paper.
Seolah aku terbuat dari kertas.

Apalagi yang akan seorang Bima ambil dari seorang gadis tak berdaya bernamakan Alyn? Segalanya sudah diambil. Apakah itu semua belum cukup Tuan Bima ?. Atau apakah seorang Alyn nanti harus datang di pernikahanmu dan gadis itu lalu dengan senyum kerelaan memberikan kata “Selamat” kepada kamu . !! Tentu saja tidak !!

Go on and try to tear me down.
Teruskan untuk mencoba menghancurkan diriku.
I will be rising from the ground,
Aku akan tumbuh dari bawah,
Like a skyscraper,
Seperti gedung pencakar langit,
Like a skyscraper.
Seperti gedung pencakar langit,
Go run, run, run.
Pergi menjauhlah berlari, lari, lari.
I’m gonna stay right here,
Aku akan tetap disini,
Watch you disappear.
Melihatmu menghilang.

Alyn sudah hancur-sehancurnya sekarang. Jika seorang Tuan Bima ingin menghanucrkan kembali Alyn? Lebih baik hancurkan saja sekarang juga. Agar segala sakit bisa ia rasakan dalam satu kehampaan dan kerapuhan. Pergilah Tuan Bima,Mulai dari sekarang pergilah yang jauh dari hadapan Alyn. Karena Gadis itu mungkin tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun. Bahkan seribu kali kamu minta maaf kepadanya. Ia tidak akan bisa memaafkan segala kehancuran yang kamu buat kepada Alyn. Menghilanglah !!, Enyahlah!! Jangan pernah muncul lagi !!! dihadapan Alyn. Yah, itulah yang Alyn inginkan.

You can take everything I have,
Kau bisa mengambil semua yang aku punya
You can break everything I am,
Kau bisa menghancurkan aku seutuhnya,
Like I’m made of glass,
Seolah aku terbuat dari gelas kaca,
Like I’m made of paper.
Seolah aku terbuat dari kertas.
Go on and try to tear me down.
Teruskan untuk mencoba menghancurkan diriku.
I will be rising from the ground,
Aku akan tumbuh dari bawah,
Like a skyscraper,
Seperti gedung pencakar langit,
Like a skyscraper.
Seperti gedung pencakar langit,

Kamu memang luar biasa !!! Luar biasa Brengseknya Tuan Bima. Kamu berhasil !! dan sangat berhasil membuat Seorang Alyn hancur bagai gelas yang mudah untuk di pecahkan bagai selembar kertas yang mudah untuk di sobek, dan bagai lilin yang perlahan akan habis jika di bakar. Terima kasih sudah mengambil segalanya dari seorang Alyn. Yah, segalanya. Terima kasih !! .

*****
Alyn menjatuhkan kepalanya diatas meja bartender, air matannya sudah cukup banyak ia keluarkan. Lagu ini benar-benar menggambarkan dirinya. Bagaimana bisa ia bisa sehancur ini? bagaimana bisa ia dihancurkan oleh seorang yang sudah ia berikan segala kepercayaanya. Dan kini, ia binggung bagaimana untuk bisa tetap tegar berdiri, bagaimana ia akan bisa tersenyum dan bahagia di kehidupan kedepannya. Tujuan hidup? Tidak ada lagi.

Siapa yang ingin dia bahagiakan? Papa? Mama? Atau dirinnya sendiri ?? Benar-benar memiriskan sekali kamu Alyn !!! .Yah, sangat menyedihkan.

Alyn terisak-isak dengan suara isakan pelan, karena memang ia mencoba menahannya. Ia menangis ditengah-tengah setengah kesadarannya. Ia tidak berharap tiba-tiba seorang Bima akan muncul dan membopongnya pulang, atau seorang Bima muncul dan mengatakkan bahwa ia membatalkan pernikahannya. Alyn sama sekali tidak berharap itu terjadi. Karena ia tau, bahwa semua harapan tersebut Tidak akan Mungkin!!! .

“Berharap akan sesuatu yang kita inginkan tidaklah salah , karena kita memiliki hak untuk berharap, tapi setidaknya berfikir sesaat dan yakinkan hatimu dengan baik, mana harapan yang perlu di perjuangkan dan mana harapan yang harus dilepaskan karena ke sia-sia.an”

Ucap Alyn dengan suara yang cukup pelan dan sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri akibat efek alcohol yang sudah terlalu banyak ia minum.
*****
Bima segara mematikan Ipadnya, dengan fikiran yang sepertinya kurang jernih ia menyenderkan kepalannya di kebelakang untuk mencari senderan kepalannya, Ia membutuhkan waktu sebentar untuk mengontrol dirinnya sendiri.

Kedua tangannya tanpa sadar tercengkram sangat kuat membentuk sebuah kepalan, urat nadi berwarna hijau terlihat jelas di kulit putihnya. Pandangannya sedikit menurun bersamaan dengan helaan nafas berat yang keluar beberapa kali dari mulutnya. Di otaknya hanya terbayang bagaimana wajah pucat Alyn, tergambar jelas tangisan dan kesedihan dari Alyn serta bagaimana wajah Alyn yang begitu tersakiti akan perlakuannya.

Tentunya, ia sadar bahwa ia terlewat batas telah menyakiti gadis yang tak bersalah. Ia sangat sadar dengan apa yang ia lakukan.

*****
Suara ribut diluar membuat Alyn tersadar kembali, namun masih dalam keadaan setengah mabuk. Ia mencoba mengangkat kepalanya yang lumayan berat. Kepalanya ia coba tolehkan ke arah luar cafe.

Alyn langsung terkejut ketika mendapati segerombolan manusia berpakaian hitam-hitam begitu banyak di depan cafe dan saling –baku hantam- antar sesama. Alyn mencoba untuk bergerak dan menjauh dari sana, namun tubuhnya terasa sangat lemas sampai akhirnya membuat ia terjatuh dari kursi yang ia duduki. Alyn mengedarkan pandangannya ke sekitar cafe, tak ada orang sama sekali disana. Bahkan, Alyn sendiri tidak menemukan pelayan cafe yang tadi bersamanya lebih tepatnya melayaninya.

“Bagaimana ini?” lirih Alyn dengan suara pelan dan penuh kepasrahan. Tubuhnya terasa membeku. Ia tidak kuat untuk berdiri.

PYAAAAAAAARRRRRRR

Sampai akhirnya, suara pecahan kaca jendela yang begitu keras terdengar di kedua telinga Alyn, sepertidengungan yang menggelegar. Alyn menutup kedua matannya dengan cepat, setelah itu ia tidak tau apa yang terjadi. Karena pada detik berikutnya tubuh Alyn langsung ambruk ke lantai. Ia tak sadarkan diri.
*****

Alyn menatap dirinnya di depan kaca, ia tersenyum dengan canggung. Ia terlihat cantik sekali. Rambutnya terurai indah, Dress putih dengan model elegant yang berada di tubuhnya saat ini pun sangat pas sekali untuknya. Alyn tersenyum berkali-kali.

“Apakah kamu suka?” suara seorang wanita mengetkan Alyn, ia langsung membalikkan badanya untuk mencari siapa pemilik suara tersebut yang sepertinya tak asing bagi Alyn.

“Ta—, ta—, tante Ify” kaget Alyn dan langsung membekap mulutnya saking tak percayanya. Apakah ia sedang bermimpi sekarang. Di lain sisi, Alyn sama sekali tidak merasa ketakutkan, namun saat menatap wanita di depannya yang terlihat begitu nyata baginya, kedua air mata Alyn jatuh begitu saja. Seolah, ia ingin menunjukkan kepada Ify betapa hancurnya dirinnya saat ini, dan betapa tak ada harganya lagi dia saat ini.

Sosok Ify yang Alyn lihat perlahan mendekati Alyn dengan sebuah senyum yang tak pernah hilang dari bibir mungil wanita itu. Alyn menatap Ify dengan isakan yang semakin menjadi. Alyn merasakan sebuah pelukan hangat, pelukan yang sangat ia rindukan. Pelukan seorang ibu yang entah sudah berapa lama tak pernah ia rasakan.

“Maafkan tante” suara lembut tersebut memecahkan tangisan Alyn. Gadis ini tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menangis dalam pelukan sosok Ify .

“Kamu sudah terlalu cukup menderita, Alyn. Kamu sudahi sekarang”

Sosok Ify perlahan melepaskan pelukannya, ia meraih kedua tangan Alyn dengan begitu erat dan penuh kasih sayang. Ify menatap Alyn tetap dengan menunjukkan senyum manisnya. Alyn sendiri tidak tahu harus merespon apa, karena tangisannya yang tak terkontol membuat dirinya tak bisa mengucapkan sekata pun dari mulutnya.

“Kamu sudah melihat diri kamu di kaca tadi? Cantik bukan?”

“Kamu gadis yang sangat cantik dan baik bagi tante, kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri yang selalu ingin tante lindungi”

“Banyak pria disana yang lebih baik dari Bima, yang bisa bahagaiakan kamu. Kenapa kamu harus menangis seperti ini ??”

“Air mata kamu terlalu sayang hanya untuk sebuah kesia-siaan”

“Kamu berfikir hanya Bima satu-satunya yang kamu punya dan mau menerima kamu ??? “

“Tidak Alyn.!!! ”

“Tante akan menebus semuannya. Tante akan menebus semua kesalahan anak tante yang sudah memperlakukan kamu seperti ini. “

“ Kamu akan bahagia setelah ini. Tante janji. Tante janji, Alyn. “

“Tante janji, Tante minta maaf sebesar-besarnya Alyn.”

“Maafkan keluarga tante, Maaf—“

Suara itu menghilang bersamaan dengan siluet cahaya terang yang menembus pupil kedua mata Alyn. Alyn mengerang sedikit kesakitan karen efek sinar cahaya yang tertangkap di kedua matanya terlalu kuat.

“Kare wa nan appu shite no? ( apa dia sudah bangun? ) “ suara bass-berat dan penuh kewibawaan menyambut kedua telinga Alyn, suara itu sangatlah asing baginya.

Perlahan, Alyn membuka kedua matannya, mencoba melawan rasa berat yang ditimbulkan dari kepalannya yang masih sakit. Sampai akhirnya, Alyn dapat membuka kedua matannya dengan jelas dan melihat segala apa yang ada di sekitarnya sekarang.

Binggung!! Kaget!!! Takutt!!!, semuanya bercampur menjadi satu dalam benak dan hati Alyn. Ia meneguk ludahnya dalam-dalam ketika melihat keadaan di depannya saat ini. Dimana, segerombolan pria berbaju hitam sedang berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa ekspresi, dan seorang pria yang menurutnya Sangat Tampan mungkin, sedang mengawasinya penuh menyelidik, hanya pria itu yang duduk tenang seperti seorang raja dan tatanan bajunya sediki mewah dari yang lainnya walaupun pria itu pun memakai baju berwana hitam.

“Mampus gue!” batin Alyn tak bisa membayangkan lagi dan mengira-ngira lagi situasi yang sedang ia alami saat ini. Alyn mengigit lidahnya sendiri, mencoba melawan rasa takutnya. Tapi, perucuma. Ia benar-benar ketatakutan saat ini. Untuk bergerak se-mili saja rasanya terasa mungkin.

“Who are you ?” pria tersebut membuka suara kembali. Lebih tepatnya kali ini kepada Alyn. Di tangan pria tersebut terdapat sebuah benda berbentuk persegi panjang, Alyn mengenali benda tersebut yang merupakan adalah dompetnya. Nampaknya, pria ini pun sudah tau bahwa Alyn bukanlah orang jepang asli. Mangkanya, pria itu langsung merubah bahasanya.

Alyn tak bisa menjawab, bibirnya terasa keluh dan kaku. Ia masih terlalu takut untuk mengeluarkan sekata saja. Ia takut jika dirinnya salah bicara. Tentu sangat jelas sekali siapa segerombolan pria di depan Alyn.

Selama 5 tahun ia berada di Jepang, Alyn tak pernah sedikit pun membayangkan bahwa dirinnya akan bertemu dengan gang Yakuza yang di ceritakan oleh teman-teman universitasnya atau pun pelanggan di restoran tempat ia bekerja. Alyn hanya tau bahwa Yakuza sangatlah Kejam .

“Detekita!! ( keluar!!!)” Pria tampan itu sepertinya bisa membaca fikiran Alyn dari ekspresi gadis tersebut. Dengan suara yang sedikit lantang dan penuh wibawa, pria itu menunjukkan jari telunjuknya ke arah pintu.

“Hai ( iya ) “ Tanpa menunggu lama semua orang yang ada di belakangnya menundukkan kepalannya 90 derajat kemudian berjalan sangat rapi keluar dari kamar yang saat ini ditempati oleh Alyn.

Untuk pertama kalinnya Alyn dipertontonkan pada situasi seperti ini. Yang entah situasi baguskan? Atau akan menjadi lebih buruk. Alyn sendiri tidak tau. Ia hanya bisa pasrah saja.

“well, Who are you ?” tanya pria tersebut sekali lagi setelah melihat semua bawahannya keluar dari kamar dan saat ini hanya ada dirinnya dan Alyn saja.

“Are you mute ?” Alyn sontak langsung menggelengkan kepalanya ketika pria tersebut mengangkat alis sebelahnya dan menyohok dirinnya dengan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah sindirian.

“So? Who Are You ??” Untuk ketiga kalinya, pria tersebut bertanya ke Alyn. Kali ini dengan nada penuh penekanan pada setiap kata yang ia keluarkan .

“A—, A, Alyn” jawab Alyn kaku, kemudian memilih diam kembali. Pria tersebut nampak tak puas dengan jawaban Alyn. Ia melemparkan dompet Alyn begitu saja dan sampai tepat mengenai perut Alyn. Dengan cepat Alyn merubah posisinya menjadi duduk dan mengambil dompetnya. Ia menggengam dompetnya dengan erat, lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa takut.

“I know too, I’ve read your identity’s card. I didn’t ask, “What is your name”. But I ask, Who are you ?”

Alyn mengangkat kepalanya perlahan-lahan, melawan segala rasa takutnya.

“Where am I ?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Alyn, sedetik kemudian ia merutuki apa yang telah ia ucapkan. Apakah ia sedang mencari kematiannya sendiri. Benar saja, pria tersebut langsung menatap Alyn dengan tatapan sangat dingin.

“Just answer my question “

“I —, I am, I—, I am Alyn, I am from Indonesia, I am a student here. I—, I am just ordinary girl. I am not rich girl, I don’t have anything, I am just live alone. Please dont kill me !”

Kalimat terakhir Alyn membuat pria tersebut nampak terkejut, Senyum dingin terbentuk di bibirnya yang merah dan tebal. Membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

“Cish, Kill you? Why?”

DOOOOOORRRRRRRR

DOOOOOORRRRRRRRR

DOOOOORRRRRRRRRR

“Oh Shit!!!! “

Suara tiga tembakkan yang menggelegar tersebut langsung membuat pria tersebut dan Alyn menundukkan kepala mereka, Pria itu tiarap ke bawah lantai dan mengambil pistolnya dari saku jas yang ia pakai. Ia melihat ke Alyn yang sudah menutup ke dua telinganya ketakutan. Pria itu segera berlari menghampiri Alyn.

“Follow me, Now !!” ujar pria tersebut penuh penekanan dan memegang pergelangan Alyn. Namun, Alyn sama sekali tak bergeming. Ia terlihat gemetar.

“Hey!!! Come on!!! “

“Pl—, Please, Dont Kill me “ isak Alyn karena ketakutan membuatnya menangis saat ini.

DOOORRRRRRRRR

DOOOORRRRRRR

DOOOOORRRRRR

DOOOOORRRRRRR

Suara tembakkan semakin banyak terdengar, pria tersebut menatap Alyn penuh frustasi. Dan tanpa menunggu persetujuan Alyn. Pria itu langsung membopong tubuh Alyn dengan ala bridal. Alyn semakin gemetar. Namun, ia tak bisa melawan apapun sekarang. Karena ia dari awal sudah pasrah dengan hidupnya. Bahkan ia tak tau bagaimana bisa tubuhnya bisa berakhir di kamar tadi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinnya.

“I will’nt Kill you, dumb! “ ujar pria tersebut dengan nada yang gemas akan ucapan Alyn tadi.

Pria tersebut keluar dari kamar, ia berpapasan dengan beberapa pengawal yang biasanya bersama dirinnya. Pria itu berbicara dengan pengawalnya dengan serius menggunakan bahasa jepang dengan suara cepat. Sampai Alyn sendiri binggung untuk mengartikan dari maksud pembicaraan mereka. Alyn tak ingin tau apapun, ia hanya menutup matannya saja. Ia sudah terlalu takut saat ini.

Ia merasakan tubuhnya bergerak kembali, Yah, pria yang membopongnya tadi sedang berlari kembali. Alyn mencoba mengintip untuk membuka matanya sedikit, iaterkejut di belakangnya terdapat banyak segerombolan orang berbaju hitam yang terlihat sedang melindunginya dan pria yang sedang membopongnya saat ini.

Mereka memasuki sebuah lorong kecil, sampai akhirnya terdapat sebuah lift disana dan mereka berdua masuk kedalam dan hanya dikawal oleh 4 orang pengawal. Tubuh Alyn diturunkan dari bopongan pria tadi. Nafas pria tersebut terdengar terengah-engah. Peluh keringatnya pun keluar di pelipisnya. Alyn melihat pria itu merasa kasihan. Tangannya sudah terangkat akan mengusap keringat pria itu. Namun, tangan Alyn langsung di genggam erat oleh pria tersebut dan membuat Alyn terkejut bukan main. Karena tatapan Pria itu bahkan dari tadi sampai sekarang masih menatap ke depan dengan tatapan dingin. Tangan kanannya menggengam erat pistol yang sedari tadi dibawahnya.

“Just, Follow me , if you want to save “ ujar Pria tersebut dingin, detik berikutnya lift terbuka dan terdapat pemandangan rooftop yang luas dan terdapat sebuah helicopter yang sudah menyala.

Namun, yang menjadi masalah sekarang adalah sekumpulan orang berbaju hitam yang berjumlah sangat banyak dan entah dari mana datangnya sedang menodongkan pistol ke arah mereka semua yang berada di dalam lift.

“Oh shitt!! “ serapah pria tersebut yang mulai panik. Ia semakin menggengam erat tangan Alyn, perlahan pria itu menarik tubuh Alyn agar bisa lebih ke belakangnya. Alyn pun menurutinya saja, ia bersembunyi di belakang tubuh pria tampan bertumbuh tinggi tersebut.

“Just Shoot them !!! “ perintah pria tersebut.

DOOOOORRRR

DOOOORRRR

DOOOOORRRR

DOOOOORRRRR

Baku tembakkan terdengardiatas rooftop ini, 6 vs 20 , sungguh bukan situasi yang menguntungkan bagi Alyn dan pria tersebut. Namun, yang sama sekali tidak di mengerti oleh Alyn adalah pria ini sangat melindunginya.

Mereka berdua berlari dengan cepat menuju ke helicopter yang sudah ada di depan mata mereka berdua. Alyn mencoba sekuat tenaga berlari, ia tidaklah pandai dalam bidang sport satu ini Kakinya tidak terlalu panjang dan kuat.

DOOOORRRR

DOOOOORRRR

Sampai akhirnya mereka berdua masuk kedalam helicopter. Dengan cepat helicopter tersebut take Off dari tempatnya. Mereka berdua sama-sama menghela nafas legah. Alyn melihat ke pemandangan bawah. Baku tembak masih terlihat dan terdengar. Alyn melihat darah berceceran disana. Hidup Alyn seperti telah terselamatkan 10 tahunnya.

Namun, sepertinya bayangan Alyn akan selamat tidak semudah itu. Dari jarak 50 meter sebuah rudal berukuran tidak terlalu besar mengarah ke mereka. Alyn menoleh ke samping, melihat pria disampingnya sedang fokus pada sabuk pengamannya.

Alyn tak bisa berfikir jernih saat ini, ia tidak ingin mati dengan jasad berantakkan. Ia membuka pintu helocipter begitu saja, pria disampingnya membelakakkan matanya dengan apa yang dilakukan oleh Alyn.

“What are you do—“ sebelum pria tersebut meneruskan ucapannya. Alyn sudah menarik tubuhnya dengan kuat, dan membuat mereka berdua jatuh bersamaan.

DUAAAAAAARRRRRRRRRRR

Pesawat yang mereka tumpangi hancur berantakkan akibat rudal kecil tersebut, Pria itu nampak terkejut dengan yang terjadi tadi. Namun, kini yang menjadi pertanyaan adalah mereka berdua sama-sama akan terjatuh kebawah.

Pria tersebut melihat ke bawah, nafas kelegahan setidaknya ia tunjukkan karena dibawah mereka adalah air laut bukanlah sebuah tanah atau lainnya. Pria tersebut langsung menarik tubuh Alyn dan mendekap Alyn dalam pelukannya.

“Take deep your breath” bisik pria tersebut. Alyn mengangguk saja dan kembali menutup matanya karena takut.

BYUUURRRRRRR

Mereka berdua sama-sama masuk kedalam air, Alyn hanya bisa refleks memeluk pria tersebut yang sedang berusaha untuk keatas permukaan.

*****
Mereka berdua akhirnya sampai di daratan yang memang tidaklah terlalu jauh dari tempat mereka terjatuh. Sekitar 2 jam, pria tersebut berusaha mati-matian berenang menyelamatkan dua nyawa. Yaitu dirinnya dan Alyn. Karena Alyn sendiri tidaklah terlalu bisa berenang.

“The helicopter will be arrive about 1 hours “ ujar pria tersebut lalu membuang ponselnya ke laut. Alyn tak membalas apapun. Ia masih shock dengan situasi yang baru saja terjadi kepadanya. Ia sama sekali tidak mengerti.

“Thanks, you were survive my life” ujar pria tersebut dan hanya mendapat balasan anggukan kepala dua kali dari Alyn. Pria tersebut nampak mengerti bahwa gadis disampingnya masih dalam keadaan terkejut.

“We were save. Don’t afraid” ujar pria itu lagi namun masih tetap dengan suara khas dinginnya. Alyn tak menjawab apapun dan masih memilih diam saja.

1 jam kemudian . . . .

Sebuah helicopter menuju ke arah mereka, pria tersebut membantu Alyn untuk berdiri. Mereka pun berjalan mendekati helicopter tersebut.
*****
Indonesia . . .

Lusa, pernikahan Allen dan Bima akan segera di selenggarakan. Seluruh progress dari wedding tersebut sudah siap. Pernikahan sakral yang tak pernah Allen dan Bima bayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa mereka berdua menikah tanpa ada ikatan perasaan cinta sama sekali.

Nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan bisa lagi dikembalikan menjadi nasi.

Hanya 1 kalimat itu lah yang bisa Bima katakan saat ia memantulkan sosok dirinnya sendiri di depan kaca. Bima merapikan dasi yang ia pakail. Saat ini ia sedang berada di butik tempat pakaian pernikhannya dibuat. Selama seminggu kemarin ia tidak berada di Indonesia, dan mau tak mau hari ini ia harus mencoba baju pernikahannya.

“Bagus” hanya kata itu yang bisa Bima ucapkan kepada tantenya yang menemaninya. Salsha mendengus kesal, namun ia tak berani untuk mengomeli keponakannya ini. Karena ia jelas tau bahwa keponakan satu-satunya tersebut tak pernah menginginkan adanya pernikahan ini. Yah, Bima terpaksa melakukannya. Begitu juga dengan Allen.
*****
Sepulang dari fitting baju, Bima dikejutkan dengan kedatangan kakeknya. Karena yang ia tahu sang kakek sedang sibuk dengan bisnisnya di istanbul. Di samping kakeknya terdapat Allen, gadis itu hanya diam saja dengan mengenakan dress merah pendek dan rambut di gerai. Dan Bima tidak memunafikkan dirinnya sendiri untuk mengakui bahwa gadis itu terlihat sangat cantik. Hanya sebatas kekaguman. Tidak lebih !! .

“ Why are you here??” tanya Bima to the point kepada sang kakek.

“Lusa adalah pernikahanmu. Bagaimana bisa grandpha tidak disini” decak Mr.Bov sedikit sinis. Bima menghelakan nafas beratnya. Sebenarnya ia merasa lelah dan ingin segera istrirahat, namun pandangan sang kakek sepertinya ingin mengajaknya mengobrol sebentar. Bima pun menurutinya saja dan megambil duduk tak jauh dari Mr.Bov dan Allen duduk.

“Apa kamu sudah mengajak Allen ke rumah yang kakek hadiahkan?” tanya Mr.Bov dan membuat Bima terdiam beberapa saat. Yah , ia lupa akan hal itu. 3 hari yang lalu memang benar Bima mendapatkan sebuah hadiah kunci rumah dari kakeknya melalui Mr.Max. Bahkan saat ini Bima lupa dimana ia menaruh kunci rumah tersebut.

“Belum” jujur Bima dengan nada seadanya. Ia melirik sebentar ke Allen yang sedari tadi memang hanya diam dan menunduk disana. Bima merasa sedikit penasaran karena tidak biasanya Allen memakai baju dress rapi seperti itu

“Mau kemana dia ?” tanya Bima menatap sang kakek dengan dagu yang ia arahkan ke Allen.

“Kenapa kamu tidak bertanya sendiri ke orangnya ?” balas sang kakek penuh nada skiptis. Bima mendengus kesal, setelah itu pandangannya ia arahkan ke arah Allen.

“Mau kemana kamu ??” tanya Bima kepada Allen.

“ Kakek tinggal dulu. “ ujar Mr.Bov entah sengaja atau tidak. Namun, beliau langsung melesat begitu saja dari pandangan Bima dan Allen, keadaan di ruang tamu tiba-tiba menjadi awkward .

“Mau kemana?” tanya Bima sekali lagi mencoba untuk tenang dan biasa saja. Allen nampak binggung mau menjawab apa. Bima dapat melihat jelas kegugupan Allen dari sikapnya, gadis itu memainkan ponselnya dengan tangan yang lumayan berkeringat.

“Temanku mengadakkan pesta ulang tahun. A—, aku akan pergi kesana” Bima mengangguk-anggukan saja kepalanya ketika menerima jawaban dari Allen.

“Lalu? Kenapa kamu masih disini ? Apa yang kamu tunggu ?” tanya Bima lagi.

“A—, Aku, Aku tadi akan menelfon taxi untuk berangkat ke venue, tapi kakek melarangku dan menyuruku untuk menunggumu “ Bima memincingkan alis sebelah kanannya. Selama beberapa detik hanya ada keheningan dintara mereka berdua.

“Aku akan mengganti bajuku sebentar. Tunggu disini “ tanpa menunggu balasan dari Allen. Bima langsung beranjak dari sana dan menuju ke kamarnya.

Sepeninggalan Bima. Allen menghelakan nafas penuh kelegaan. Ia merasa sedikit tidak nyaman dan tidak bebas ketika Bima berada di dekatnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Namung, begitulah kenyataanya yang dirasakan oleh Allen.
*****
15 menit kemudian . . . .

Bima sudah rapi dengan kemeja panjang berwarna abu-abu dengan lengan yang ia tekuk menjadi 3/4 . Allen menatap Bima dengan tatapan “ waaahhh —“ . Selama beberapa bulan di rumah ini, Allen baru benar-benar melihat ketampanan Bima sesungguhnya. Allen meneguk ludahnya beberapa kalil, setelah itu memilih mengalihkan pandangannya.

“Ayo berangkat “ ujar Bima kepada Allen.

Mereka berdua pun berjalan menuju halaman rumah yang luas. Tempat mobil Bima di parkirkan. Allen memilih berjalan di belakang Bima dengan kepala yang masih menunduk. Setelah itu mereka sama-sama masuk kedaala Mobil.
*****

Bima memarkirkan mobilnya di dekat gerbang keluar, karena memang tidak ada parkiran lagi selain itu. Semua halaman hotels venue acara ulang tahun teman Allen sudah di penuhi dengan mobil. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Bima melihat dirinya di kaca mobil. Merapikan sedikit rambutnya.

“Ka—, kalau kamu ingin pulang nggak apa-apa. Nanti aku akan naik taxi aja” ujar Allen dengan nada canggung. Bima menolehkan wajahnya ke Allen.

“Kamu bersenang-senanglah dengan temanmu. Aku akan menunggumu disini sampai acaranya selesai” balas Bima tenang. Allen membelakakan matanya.

“Di dalam mobil ??? “ tanya Allen begitu saja.

“Yah, ada yang salah ? tanya Bima balik. Allen nampak berfikir sejenak.

“Sebaiknya kamu pulang aja, acaranya pasti lama. Kamu akan bosan menungguku”

“Sudah jangan banyak protes. Cepat sana masuk” tuntut Bima, Allen pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia menganggukan kepalannya, setelah itu beranjak keluar dari mobil. Dengan langkah berat dan masih ragu-ragu Allen berjalan menuju ke dalam gedung.

Bima melihat kepergian sosok Allen, nampaknya banyak mata yang memandangi sosok Allen, dan Bima tak perlu heran dengan hal itu. Ia mengakui bahwa gadis yang beberapa menit lalu berada di sampiingnya malam ini “ Sangat Cantik “.

Bima mengeluarkan ponselnya dan memutar playlist lagu di sana. Ia memandangi orang berlalu-lalang dihadapannya dengan diiringi lagu di ponselnya. Bima sedikit memincingkan matannya, merasa ada yang aneh.

Sekali lagi, Bima mencoba mencermati orang-orang tersebut, nyatanya yang ia lihat sedari tadi adalah sepasang manusia yaitu “ hawa dan adam” memasuki gedung tersebut. Ia bahkan tak melihat satu orang saja baik kaum hawa maupun kaum adam berjalan sendirian. Bima melirik ke kursi di sampingnya. Ia melihat ada kertas undangan yang sepertinya milik Allen yang tertinggal. Bima meraih undangan tersebut dan membacanya.

“Aisshh—“ desis Bima sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah membaca undangan tersebut. Di bagian bawa undangan tersebut diberi caption “ Kalau bisa bawa pasangan masing-masing “ .

Bima menaruh kembali undangan tersebut di tempatnya semula. Setelah itu, ia mematikan playlistnya dan memasukkan ponselnya ke saku celanannya. Bima membuka pintu dan keluar dari mobilnya sembari merapikan kembali pakaiannya. Dengan langkah tenang dan santai Bima berjalan menuju kedalam gedung tersebut.
******
Bima mengarahkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok gadis yang memakai dress warna merah. Namun, sepertinya banyak sekali gadis yang memakai gaun warna merah malam ini. Di sela-sela pencarian Bima, banyak gadis yang berteriak kaget melihat ke datangan Bima, detik berikutnya semua tamu undangan menjadi gempar sendiri melihat sosok Bima. Karena tidaklah mungkin gadis-gadis remaja ini, bahkan semua tamu yang berasal dari SMA ARWANA tidak mengenalnya .

Bima hanya bisa tersenyum saja membalas kehisterisan para gadis-gadis tersebut, walaupun dirinnya sudah mulai di kerubungi oleh banyak orang yang mulai mengambil gambar dirinnya bahkan ada yang mengajaknya bersalaman.

“Dimana sih gadis itu ??” decak bima sedikit kesal. Ia mulai risih dengan keadaan yang mengerubunginya.

*****
Allen duduk termenung di kursi outdor yang disediakan di pesta ini. Di dalam gedung menurutnya terlalu ramai. Toh, ia sudah menayapa temannya yang mengadakan acara ini. Allen memandangi semua orang yang nampaknya bahagia dengan pasangan mereka. Allen menghelakan nafas beratnya.

“Bodoh!!!” ujar Allen lebih tepatnya menghina dirinnya sendiri. Yah, ia bodoh karena terlalu takut untuk mengajak Bima. Tapi? Apa hak dia mengajak Bima ? Ia tidaklah punya hak apapun. Ia sangat sadar bahwa ia hanyalah seorang gadis beruntung yang akan dinikahi oleh pengusaha muda millyader yang terkenal dimanapun. Yaitu Bima Freedy Haling.

“Allen memainkan kakinya, mengayunkannya ke depan dan ke belakang. Ia melakukannya berulang-ulang. Ia mendengar suara keributan di dalam gedung sedari tadi. Namun, Allen tak menggubrisnya dan fokus menatap ke pemandangan luar. Angin malam yang begitu sejuk baginya.
*****
Allen berniat untuk berdiri dan masuk kedalam lagi, namun sebuah tangan menyentuh bahunya. Allen terkejut bukan main, ia membalikkan badannya dan membalikkan badanya dalam waktu kurang dari sedetik.

“Bima ?” kaget Allen. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah seluruh tamu di acara pesta ini kini sedang menatap dirinnya dan Bima. Beratus pasang mata manusia seolah menunjukkan rasa penasaran dan keingin tahuan mereka akan dua insan ini.

“Sepertinya kamu tidak nyaman dengan pesta ini. Ayo kita pulang “ ajak Bima yang bisa menebak ekspresi Allen, dibalik wajah shock yang masih ditunjukkan oleh gadis itu.

“Ayo “ Bima tak berfikir panjang, dan dengan santainya langsung menggengam tangan Allen dan menariknya untuk berjalan mengikutinya.

Suara kehebohan kembali ricuh,. Teman-teman Allen meneriaki berbagai pertanyaan ke Allen. Namun, Allen hanya menunduk malu dan takut. Ia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Akan tetapi, keadaan itulah yang selalu mengerebunginya. Apalagi saat ini. Yang Allen harap hanya ada dua yaitu, ia cepat keluar dari sini dan besok tidak akan ada berita yang lebih menghebohkan. Seperti : dirinya dan Bima masuk di majalah atau berita. Aishh!! Come on Allen kamu terlalu jauh untuk membayangkan hal tersebut. Tidaklah mungkin.
*****
Bima segera menyuruh Allen masuk kedalam mobil begitu juga dengan dirinnya. Setelah itu Bima langsung menancap gas mobilnya pergi dari tempat pesta tersebut.

******
Bima tidak menjalankan mobilnya ke arah jalan rumah. Melainkan ia berputar balik menuju arah timur kota. Allen nampak sedikit binggung. Kenapa Bima akan membawanya ? . Namun ia terlalu takut untuk bertanya. Ia pun diam saja dan mengikuti saja kemana Bima menjalankan mobil yang mereka tumpangi ini.

Bima memberhentikkan mobilnya di depan sebuah rumah yang minimalis. Tidak terlalu besar namun tidak juga terlalu kecil. Rumah ini mempunyai halaman rumah yang hijau dan luas. Allen memandang gemerlap lampu dirumah tersebut dengan takjub. Entah terdapat sebuah estetika tersembunyi di halaman tersebut yang tak bisa ia jabarkan.

Seorang satpam membukakan gerbang rumah, Bima pun segera menjalankan kembali mobilnya untuk ia masukkan kedalam halaman rumah tersebut.

Allen masih saja diam ketika Bima sudah siap akan membuka pintu mobilnya. Ia masih binggung dimana ia sekarang. Bima menatap ke arah Allen.

“Nggak turun ?” tanya Bima dengan nada datar. Allen menatap balik Bima dengan ekspresi kaget.

“Ini rumah siapa ?” tanya Allen memberanikan diri.

“Rumah Kita “ ujar Bima santai dan dingin, setelah itu Bima langsung keluar dari dalam mobil.

Allen membeku dan terdiam beberapa lama. Ucapan Bima tadi membuat jantung dan aliran darahnya berdetak serta berjalan tidak senormal biasanya. Bahkan sampai detik tadi ia tidak pernah membayangkan dan mempunyai impian bahwa apakah benar jika dirinnya dan Bima akan menjalin hubungan menjadi “ Kita “. Ah, mungkin bukan dari sebuah Kita melainkan sebagai sepasang suami istri.

Allen masih merasa tak pantas untuk menyandang Nyonya Haling nantinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan saat ini. Membatalkan begitu saja pernikahan tersebut ? Iya tidak sejahat itu untuk melukai keluarga Haling yang sudah menyiapkan segalannya dengan dana yang pastinya tidaklah sedikit.

Lusa adalah pernikahannya. Apakah memang ini takdir akhir dari kisah cinta dihidupnya ? Ia akan benar menikah dengan sosok Bima Freedy Haling ?. Seorang pria tampan yang mempunyai segalanya dan di idamkan oleh beribu ratus juta gadis di luar sana.

Lamunan Allen tersadarkan ketika pintu mobilnya di buka oleh seseorang yang pasti tak lain adalah Bima.

“Sampai kapan kamu disana.??” Tanya Bima masih dengan ekspresi datarnya.

“Ma—, Maaf “ Allen pun dengan cepat keluar dari mobil.

Ia mengikuti Bima kedalam rumah. Keadaan rumah terlihat remang-remang. Karena memang hanya lampu kecil saja yang dinyalakan. Semua perabotan rumah tangga di dalam rumah ini terlihat masih baru. Bisa tercium dari bau benda-benda di ruangan ini.

Bima dan Allen sama-sama mengedarkan pemandangan mereka. Merasa takjub dengan dekorasi rumah ini yang tidak begitu mewah namun sangat nyaman untuk dihuni. Semuanya rata-rata terbuat dari kayu jati asli. Mulai dari kursi dan meja ruang tamu sampai ruang makan. Lantai pun terbuat dari marmer asli yang terasa dingin apabilah di sentuh.

Benar-benar nyaman—.

‘Ehhhh—“ kaget Bima dan Allen bersamaan, tiba-tiba lampu di rumah ini mati begitu saja tanpa mereka duga. Allen yang sangat takut kegelapan, merapatkan dirinnya ke arah Bima. Allen memegang lengan Bima tanpa sadar.

Walau tidak dapat melihat jelas wajah Allen, Bima cukup kaget dengan sentuhan tangan Allen yang tiba-tiba berada di lengannya. Bima mencoba mengontrol rasa keterkejutannya, ia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan aplikasi senter.

Mereka berdua pun cukup mendapatkan cahaya yang berasal dari ponsel Bima. Allen bisa bernafas legah kembali. Namun, sepertinya ia masih tidak sadar akan tangannya yang berada di lengan Bima.

Bima menatap raut wajah Allen, dengan cahaya yang sedikit saja gadis ini masih tetap terlihat cantik. Ekspresi polos yang ditunjukkan gadis di sampingnya ini membuatnya tidak pernah bisa sedikit pun mengeluarkan emosi dan kemarannya untuk melemparkan segala kesalahan kepada Allen.

“Kenapa lampunya mati ?” tanya Allen dengan nada suara pelan. Allen terlihat masih takut. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pria di depannya sudah menatapnya penuh lekat sedari tadi.

“Apakah, listriknya belum dibayar “ lanjut Allen dengan polos. Merasa tidak mendapat jawaban apapun dari Bima, Allen mengalihkan kepalannya sehingga saat ini matannya dengan jelas bertatapan dengan mata Bima. Kedua pupil mata Allen terlihat melebar. Allen meneguk ludahnya, ia tidak tau situasi apa yang sedang terjadi saat ini.

Bima tetap tak mengeluarkan sekata apapun. Matanya masih fokus menatap gadis yang ada di depannya ini. Perlahan gadis tersebut menundukkan wajahnya. Mungkin terlalu takut dan malu untuk bisa membalas tatapan Bima yang bagi gadis itu sangatlah mematikan.

“Ma—, Maaf “ Allen menyadari akan tangannya yang bertenger indah di lengan Bima. Perlahan Allen menurunkan tangannya, namun tangan Bima langsung menggengam erat tangan Allen. Dan sekali lagi adrenalin Allen di ujikan dalam situasi yang entahlah.

Allen memilih menundukkan kepalannya saja, ia tak berani melawan Bima. Ia tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku. Ia berharap detakan jantungnya bisa ia kendalikan, ia tidak ingin Bima mendengar detakan jantungnya yang berdegup tidak karuan.

Detik berikutnya, entah setan ataupun iblis dari mana yang masuk kedalam tubuh Bima. Pria ini diluar batas kesadarannya. Tangan kanan Bima masih menggengam tangan Allen yang tadinya berada di lengannya. Kini tangan kirinya bergerak menyentuh pipi Allen. Membelainya sangat lembut.

Allen mencengkram erat genggaman tangannya. Jantungnya semakin berdetak 10 kali lipat dari biasanya. Keadaan yang tanpa penerangan, situasi yang tak bisa dijabarkan ditambah kesunyian yang membekukan. Membuatnya kesulitan untuk bernafas. Allen dapat merasakan hangatnya jemari Bima yang menyentuh pipi kanannya, sentuhan itu seperti sengatan listrik. Dalam hidupnya, Allen tak pernah merasakan keanehan seperti ini. Yah, karena memang pada kenyataanya Allen tidak pernah pacaran dan tidak pernah mempunyai cinta pertama. Ini adalah pertama kalinnya seseorang pria menyentuh pipi dan tangannya selain almarhum ayahnya tentunya.

Situasi mungkin semakin tidak bisa di kendalikan, tangan Bima beralih menyentuh bibir mungil Allen. Saat itu juga, tubuh Allen sedikit gemetar. Fikirannya sudah tidak bisa ia jernihkan. Ia sangat takut, tapi entah apa yang ia takutkan. Dirinnya saat ini tidaklah sedang bersama dengan orang jahat.

****
Bima mendongakkan wajah Allen pelan-pelan, sehingga ia bisa melihat jelas wajah cantik dan mendekati sempurna dari gadis di depannya ini. Ia bisa melihat wajah kepanikan dan gugup dari gadis di depannya. Bima mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit, bahkan sangat sedikit untuk bisa dikatakan itu adalah sebuah senyuman.

Bima, meyakini bahwa dirinnya masih dalam kondisi sadar. Ia tau apa yang ia lakukan tidaklah benar. Tapi, sekeras apapun otaknya berteriak TIDAK!!!, tubuhnya malah semakin mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.

Perlahan, Bima mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat dengan wajah gadis itu. Kedua nafas mereka saling bertemu. Bima dapat merasakan nafas Allen yang tidak stabil. Jarak diantara mereka hanya tersisa 1,5 cm saja. Allen mencoaba mengalihkan pandangannya namun tangan kiri Bima segera menahannya. Mau tak mau Allen harus saling bertatapan dengan Bima. Namun, Allen tak berani untuk menatap kedua mata Bima. Ia seperti sedang terpojokkan .

Karena merasa tak ada larangan kuat dari tubuh Allen, yang masih tetap disana tanpa menjauh darinya. Bima melanjutkan mendekatkan wajahnya sampai akhirnya bibirnya menempel lembut di bibir Allen.

Bima dapat merasakan gemetar hebat di tangan Allen yang ia pegang. Gadis itu sama sekali tak menutup matannya. Begitu pun dengan Bima yang masih saja melihat kedua mata gadis itu yang membelakak terkejut. Padahal Bima hanya sebatas menempelkan bibirnya saja.

Tangan Bima yang sebelunya memegang tangan Allen, ia pindahkan merangkul pinggang ramping Allen. Sekali lagi Allen mengeluarkan helaan nafas berat. Bima menyembunyikan tawanya yang ingin sekali ia lepaskan. Gadis di depannya ini benar-benar sangat polos menurutnya. Bima mendorong tubuh Allen agar lebih merapat dengan tubuhnya. Allen tak melawan apapun, Bima tau jelas bahwa gadis ini sangat takut. Namun, sepertinya Allen lebih takut dengan dirinnya.

*****
Bima merasa tak ada perlawanan dari Allen, dan tidak ada respon apapun dari Allen. Bima pun melanjutkan apa yang sudah tubunya niatkan sebelumnya. Bima sedikit mengigit ujung bibir Allen dan membuat bibir gadis itu sedikit terbuka. Melihat hal tersebut, bibir Bima segera menyerang bibir mungil Allen. Bima menutup matannya dan mencoba merasakan setiap sentuhan yang ia lakukan pada bibir gadis ini.

Bersambung. . . . . . .

8 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 11

  1. hello fans,. aku g sengaja mampir ning blokmu rutt
    kok ceritane mirip-mirip *a*f** yo
    tapi mayanlah, koyok genreku lek moco *a*f** dadi pengen ngrti terusane, padahal g ngikuti part awalee. yoopo lek aku request ganti jenenge tapi dengan genre yang sama??
    tak tunggu yo, lek ketemu

      1. hihihii biasa nek wes sering moco fanfic yo dadine ngene sisan wkwkwk. mbookk pikir readersku iku fanse kyuhyun -_-” . gantien dewe, yo bayangno ae bima iku kyuhyun wkwkwk.

  2. g isok, kyuhyun yo kyuhyun. nek bima iku sopo????? g ngerti aku g kenal???? wkwkwkwk

    rut, temenan yo gawekno caste kyuhyun. special g pakek telurr#abaikan
    khusus dinggo aku kirim email ae g usah dpublish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s