D3STINY OF LOVE AND LIFE – 12

D3STINY OF LOVE AND LIFE – 12

“D3LL”

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

****

Alyn memasuki sebuah rumah yang dibilang cukup megah perpaduan antara tatapan europe clasic dengan perabotan kayu ala rumah jepang. Rumah yang begitu rindang karena terletak di antara berbagai pepohonan besar yang bisa terlihat dari dalam. Alyn memilih untuk duduk di sofa yang terbuat dari kayu mahoni dengan dilapasi spon tebal termotif dengan beberapa kain perca yang telah tersambung.

“Are you hungry ?” suara bass tersebut mengagetkan Alyn selama beberapa detik. Ia mencari sumber suara tersebut dan akhirnya ia menemukan seorang laki-laki dengan kaos hitam pendek yang press membentuk body pria tersebut. Alyn meneguk ludahnya pelan, pria di depannya seperti artis korea yang ia lihat di Nissan Stadium, Ah dia bahkan melebihi 10 kali lipat tanpanya dari pada boyband korea yang pastinya rata-rata melakukan operasi plastik.

“Hello!!”

Alyn tersentak untuk kedua kalinya, pria itu sudah berdiri di depannya tanpa ekspresi. Alyn menggaruk kepalanya yang gatal. Ia binggung untuk menjawab apa. Untung saja pria tersebut cukup sabar untuk menghadapi keluguhan dan keanehan dari Alyn.

“ Ca—, can—, can—, ca—, can”

“Can? What?” sahut pria tersebut terlihat tak sabar.

“I am so thirsty, i want to drink “ jawab Alyn dengan cepat. Pria tersenyum remeh ke arah Alyn. Pria tersebut berjalan mengambil segelas air minum dan memberikannya ke Alyn.

“Thank you” jawab Alyn dan segera menerimanya. Dalam 3 kali tegukan satu gelas air putih tersebut habis. Alyn sendiri tidak tau kenapa dengan dirinnya. Ia hanya cemas dan takut karena tidak mengenal siapapun disini.

“So, Where do you live in Japan? Where is  your home? “

“I haven’t home” jawab Alyn yang keluar begitu saja dari mulutnya. Alyn sendiri tak menyadari dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan barusan. Ia ingin meralat ucapannya namun bibirnya terasa sangat keluh seolah tidak mengizinkan ia memperbaiki kalimatnya itu lagi.

Pria itu memincingkan alis kanannya, ia mengangguk-angguk pelan mengiyakan saja ucapan Alyn tersebut.

“I must go now, you can stay here until I come back. That is your bedroom, you can take rest there”

Alyn mengangguk saja, melihat respon Alyn pria itu pun ikut mengangguk. Melihat keadaan yang tampaknya semakin canggung, Pria bertubuh tinggi dan tegap tersebut perlahan berjalan menjauhi Alyn.

“Mmm, wait. “ langkah kaki pria itu terhenti karena ucapan Alyn. Pria itu membalikkan badannya dan menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Alyn.

“Who is your name ?” tanya Alyn sedikit tak yakin. Pria itu menyunggingkan senyumnya. Alyn bahkan sempat menganga saat melihat pria tersebut tersenyum.

“Okada Ryu, Just call me Ryu “ jawabnya kembali dingin. Alyn mengangguk-angguk lagi seperti anak kecil. Sampai akhirnya pria bernamakan Ryu tersebut benar-benar menghilang dari hadapannya.

Alyn pun memilih untuk segera masuk kedalam kamarnya saja, ia masih merasa asing dengan tampat ini. Apalagi ia dapat melihat semua area rumah ini dikelilingi oleh penjaga berbaju hitam. Yang menurutnya menakutkan.

*****

Alyn terbangun dari tidur siangnya ketika suara pintu kamar yang baru ia tempati kurang dari 48 jam itu dibuka oleh seseorang. Alyn mengecilkan kedua pupilnya, untuk melihat lebih jelas siapakah yang masuk kedalam kamarnya.

“Ah —, Ryu-kun, What’s wrong?” tanya Alyn dengan nada kaku. Yah, pria yang masuk tersebut adalah pria tampan yang bagi Alyn telah menyelamatkan hidupnya selama beberapa hari ini.

Ryu masuk kedalam, lebih tepatnya mendekati kasur Alyn. Pria jakun nan tinggi dan berwajah tampan tersebut membawa dua kotak besar dengan pita merah maron diatasnya yang sangat cantik. Alyn mengernyitkan kening melihat dua kotak yang dibawah oleh Ryu.

“Wear it. We will go to party tomorrow.”

“Pa—, party ?” binggung Alyn.

“Wedding party” jelas Ryu lebih lengkapnya. Alyn memilih tetap terdiam saja. Ia tidak mengerti kenapa Ryu mengajaknya ke pesta pernikahan. Apalagi dirinnya sendiri bukanlah siapa-siapa. Mereka baru saja bertemu beberapa hari ini.

“You must accompany me. Okey?”

Wajah Ryu yang tegas dan menunjukkan bahwa permintaanya tak bisa terbantahkan membuat nyali Alyn menciut sudah. Alyn pun dengan terpaks menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.

“We will go now”

“Now?” kaget Alyn sontak berdiri dari kasunya. Ryu mengangguk datar.

“I haven’t prepare anyting and I—, I , mmm—“

“You can prepare everything in the plane, you can change your dress there “

“We will go to Hongkong now”

“HONGKONG ????

*****

Alyn menatap dirinnya di depan kaca untuk ke sekian kalinnya. Ia mengigit ujung lidahnya, kedua ujung bibirnya terangkat sedari tadi. Sebuah mahkota kecil dipasangkan oleh stylist di rambutnya yang kini sudah berbentuk seperti gantungan-gantungan noodle menurutnya.

“Kawaii—“ ujar staylist tersebut kepada Alyn ketika melihat karya nya tersebut.

“A—, A—rigato gozaimasu” balas Alyn dengan kedua pipi sedikit merona.

Jujur saja, Alyn sendiri begitu shock ketika melihat dirinnya di depan kaca. Ia merasa itu bukanlah dirinnya melainkan putri cantik yang biasanya ia lihat di televisi-televisi. Gaun hitam panjang sampai menutupi kakinya, gaun tersebut meng-ekspos jelas leher dan dada atas Alyn yang sangat putih. Namun, Stylist menambahkan kalung permata dengan desain simple dengan gantungan spiral kecil.  Gaun tersebut begitu ketat dan membentuk postur tubuh Alyn yang bisa dibilang “Sexy”.

*****

Alyn keluar dari ruang make-up dengan langkah ragu-ragu. Meskipun menurutnya sendiri malam ini, ia sangatlah cantik. Namun, ia takut orang lain akan ber anggapan bahwa ia tidak pantas memakai gaun mahal ini.

Alyn memaksakan untuk melangkahkan kakinya, sampai ia benar-benar keluar dari ruang make-up. Di depan ruang make-up terdapat Ryu yang sudah menatapnya dengan  tatapan datar. Ryu seperti men-scan Alyn mulai dari atas sampai bawah. Tak ada senyum ataupun ekspresi lain yang ditujukkan oleh pria tersebut. Hal itu semakin membuat Alyn takut. Gadis ini tak ada hentinya memainkan jemari-jemarinya.

“Let’s go” ujar Ryu singkat dan jelas setelah melakukan scanner pada Alyn. Ryu melangkahkan kakinya terlebih dahulu, sedangkan Alyn hanya bisa melengos melihat tingkah Ryu yang seperti tadi. Alyn pun memilih untuk secepatnya mengikuti Ryu.

*****

Pesta yang benar-benar sangat megah dan bisa dikatakan anti-mainstream. Tak ada undangan yang membawa transportasi jalur darat. Helicopter yang mendarat bergantian di helipad samping gedung utama. Helicopter lainnya terparkir dan tertata sangar rapi di lapangan samping gedung yang berukuran seperti bandara.

Gedung utama yang digunakan sebagai pesta pernihakan terdapat pada sky-room . Lampu terang dan gemerlap memberikan pencahayaan sempurna pada pesta ini ditambah indahnya langit malam dan gemerlap bintang diatas sana membuat pesta tersebut semakin terkesan mewah.

Alyn meneguk ludahnya, beberapa menit yang lalu ia membayangkan bahwa dirinnya akan terlihat paling cantik malam ini. Namun, kini nyalinya sangat ciut. Mungkin jika dipresentasikan nyalinya haya ada 0,1111111% .Tamu yang datang memakai gaun pesta yang tak main-main aggun dan elegant.  Para gadis dan wanita terlihat sangat menawan dan cantik. Ini untuk pertama kalinya bagi Alyn datang ke pesta yang dipastikan menghabiskan biaya yang bisa digunakan untuk membeli 3 pesawat. Mungkin —.

*****

Alyn tak berani bertanya kepada Ryu pesta pernikahan siapa yang ia hadiri malam ini, Ryu cukup sibuk untuk berbincang dengan  teman-temannya. Alyn yang sama sekali tak mengerti dengan bahasa mereka, memilih untuk duduk disalah satu meja yang dekat dengan dessert mengenyangkan mata.

Alyn melihat saja banyak orang berlalu lalang, ia merasa sepertinya acaranya belum di mulai. Karena sedari tadi pun Alyn tak menemukan pengantinnya. Suara sirene terdengar seluruh penjuru gedung, Alyn menutup telinga kanannya yang terasa bergetar.

Lampu panggung besar yang berada di ujung ruangan, yang sedari tadi tak nampak, kini mulai menyala, memperlihatkan betapa mewahnya panggung pengantin tersebut. Semua mata tertuju ke arah panggung itu bersamaan dengan terbukanya sebuah pintu tertutup dengan kain sutra merah yang bahkan tak seorang pun tau bahwa itu adalah sebuah pintu.

Semua orang menanti siapa yang keluar dari pintu tersebut, sampai akhirnya 2 orang kaum hawa dan kaum adam yang terlihat menawan, cantik, tampan dan berkarisma memasuki are sky-room.

*****

Alyn melangkahkan beberapa kakinya untuk mendekat, ia begitu penasaran dengan pengantinnya ketika pintu terbuka.

Begitu pengantinnya masuk,barulah Alyn dapat melihat sangat jelas bagaimana rupa dari kedua mempelai tersebut.

Blank!! Shock!! Membeku!!!

Hanya ketiga hal tersebut yang dirasakan oleh gadis ini. Ia serasa ingin mentertawakan dirinnya sendiri. Bagaimana bisa ia berada di tempat ini, bagaimana bisa ia berada di sebuah pernikahan yang tak seharusnya ia hadiri.

Suara riuh tamu undangan dan ramainya pengisi acara terasa hampa bagi Alyn. Ia masih berdiri mematung ditempat. Matanya menatap sendu tepat pada kedua mempelai yang ada diatas panggung megah tersebut.

Alyn dapat melihat jelas kedua mempelai itu sedang menyalami tamu undangan dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka berdua.

“Apa yang gue lakukan disini? “lirih Alyn pelan sekali, entah kepada siapa pertanyaan tersebut ia tujukkan.

“Alyn, we must go there” ujar Ryu yang tiba-tiba datang dan langsung menggandeng tangan Alyn.

“Alyn—“ panggil Ryu yang membalikkan badanya kembali menghadap ke Alyn, Ryu heran melihat Alyn yang terdiam seperti patung.

“Hei—“ panggil Ryu sekali lagi dan untuk kali ini Alyn tersontak.

“Are you okay?” Alyn tak tau harus menjawab apa, sudah cukup ia berpura-pura tersenyum beberapa hari ini. Dan rasanya saat ini ia tak sanggup lagi untuk menunjukkn senyum palsunya.

“I’m sorry” hanya kata tersebut yang bisa Alyn katakan. Ryu menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Alyn kembali. Mau tak mau Alyn melangkahkan kakinya dengan berat mengikuti Ryu yang berjalan di depannya.

*****

Alyn ingin sekali melepaskan tangan Ryu dari pergelangan tangannya, ia ingin sekali berteriak dan berlari dari tempat ini. Tapi entah mengapa kedua kakinya tak mendukung apa yang ia inginkan. Kedua kakinya terus saja melangkah tanpa henti. Walau yang Alyn rasakan begitu berat. Alyn hanya bisa menundukkan kepalanya saja.

“BIMA—“ teriak Ryu begitu keras kepada seorang laki-laki yang merupakan pemilik acara ini, lebih tepatnya mempelai pria yang sedang melaksanakan pesta perkawinan saat ini.

Hati Alyn terasa tersayat berantakkan saat nama bagi Alyn sudah tabu itu kembali terdengar. Alyn menggengam erat-erat kedua tangannya. Ia takut sangat takut sekali saat ini. Alyn berhenti seketik, dan hal itu membuat Ryu juga menghentikkan langkahnya.

“Why?” tanya Ryu heran sekali lagi kepada Alyn, dan Alyn hanya bisa menunduk sambil menggelengkan kepalannya pelan. Perlahan Alyn melepaskan tangan Ryu dari genggamannya, Alyn ingin pergi dari tempat ini. Namun, belum juga Alyn melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Ryu, Sepasang kaki yang posturnya Alyn kenal kini sudah berada di depan Ryu dan di depannya.

“Ryu, thank you so much , you can come tonight” ujar suara khas tersebut bagi telinga Alyn. Alyn semakin menundukkan kepalannya. Rasa hatinya saat ini bercampur tak jelas, Rindu?Marah?Sedih?Kaget?tersiksa? semuanya menjadi satu.

“I was promise to you. “sahut Ryu kepada pria tersebut.

“Who is she? Your girlfriend?” tanya pria tersebut dengan nada bercanda.

“No, No, she is my hero.”

“Alyn, he is my friend . “ Ryu menarik kembali tangan Alyn dan membuat tubuh Alyn sedikit tertarik untuk mendekat ke Ryu.

Alyn sudah berada pada blackhole tak ada yang perlu dihindari lagi. Perlahan Alyn memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Saat kepalanya sudah terangkat tegap, kedua mata Alyn langsung menangkap kedua mata pria yang ada di depannya. Kedua mata pria tersebut terlihat sangat kaget sekaligus tatapan yang entah Alyn sendiri tak dapat mengartikan.

“A—, Alyn” lirih Alyn pelan sambil menjulurkan tangannya. Kedua mata mereka tetap saling menatap tanpa lepas.

Kedua pasang mata itu mengartikan sendiri-sendiri, mengartikan suatu rasa kerinduan, kesedihan dan rasa bersalah.

“Gue suka sama lo dari dulu bukan karena fisik maupun materi ataupun keadaan yang ada di diri lo. Gue suka sama lo dan cinta sama lo karena loe apa adannya dan gue nyaman sama lo. “

 

“Jadi, lo mau 4 bulan lagi nikah sama gue?”

 

Kalimat- kalimat tersebut langsung muncul kembali di benak Alyn. Cemburu? Kesal? Tentu saja sangat!!! Seharusnya ratu malam ini adaalah dirinnya bukan gadis yang saat ini sedang ada di atas panggung tersebut.

Alyn menurunkan kembali tangannya karena tak ada respon dari pria di depannya tersebut. Alyn semakin mencengkram erat kedua jemarinya, ia mengambil nafas dalam-dalam dan langsung membuangnya. Sedangkan. Ryu menatap dua orang di depannya tersebut dengan binggung dan tak mengerti.

“Bukankah seharusnya gue yang ada di atas sana?” ujar Alyn dengan berani namun pandangannya ia alihkan pada sosok gadis diatas panggung sana yang sedang berfoto dengan para tamu. Yah, pria yang sedang berada di depan Alyn tak lain adalah Bima. Mantan kekasihnya yang hampir saja akan menjadi suaminya.

Air mata Alyn langsung jatuh begitu saja, dengan cepat Alyn segera menghapusnya.  Walaupun yang pasti baik Bima maupun Ryu melihat jelas jatuhnya air mata dari kedua indera pengelihatan gadis ini.

“Bener ucapan lo, kalau 4 bulan lagi lo akan menikah. Tapi bukan dengan gue melainkan gadis lain”

“Lo nggak usah khawatir dengan gue setelah ini. Gue akan hidup bahagia tanpa lo”

“Gue akan nikah dengan pria yag lebih kaya daripada lo, gue akan nikah dengan pria yang lebih berkuassa dari pada lo, gue akan mendapatkan pria yang lebih baik daripada lo, pria  yang mencintai gue dengan tulus tanpa omong kosong kayak lo”

“Lo pegang ucapan gue !! “

“Selamat atas pernikahan lo Bim” ujar Alyn terakhir kalinya dengan nada dingin. Setelah itu Alyn langsung membalikkan badanya dan melangkahkan kaki dari pandangan Bima.

“Alyn, where are you ??” Ryu yang melihat Alyn pergi dengan cepat mengejar Alyn tanpa berpamitan dengan Bima.

Sedangkan Bima hanya bisa mematung bisu. Ucapan Alyn membuatnya semakin merasa bersalah. Ia seperti seorang pengecut yang sudah merusak hidup orang lain, seorang pengecut yang tak bisa menepati janjinya.

******

Alyn menangis sejadi-jadinya, ia tak tau ia sekarang berada di dimana, ia keluar dari sky-room melewati tangga darurat. Alyn melepas sepatu highileesnya. Tubuh Alyn perlahan merosot sampai akhirnya ia terduduk lemas di salah satu tangga.

Alyn membuyarkan tangisnya tanpa beban, ia membiarkan saja suara tangisannya yang semakin keras. Ia tak peduli jika ada orang yang melihatnya. Ia hanya ingin menangis saat ini. Dadanya terasa sesak sekali.

CKREEEKKKK

Suara pintu tangga darurat terbuka, Alyn tak tau siapa yang ada disana, namun ia mendengar langkah kaki mendekatinya. Alyn membiarkannya saja. Ia masih ingin menangis saat ini. Langkah tersebut semakin mendekati Alyn dan sampai akhirnya orang tersebut mengambil duduk dismaping Alyn.

“Maaf—”

DEGGGHHHH

 

 

Alyn kenal sekali dengan suara ini, dan suara khas tersebut berhasil membuat suara tangis Alyn semakin kencang. Alyn tak bisa mengendalikan dirinnya sendiri. Ia tak berani mengangkat wajahnya untuk melihat orang di sampingnya tersebut. Alyn meremas-remas kedua tangannya sendir mencoba mengontrol tubuh dan tangisannya. Namun, ia sama sekali tak bisa.

Pria tersebut terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku celanannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil dan menyodorkannya kepada Alyn.

Pria itu membuka kotak tersebut dihadapan Alyn, kotak tersebut berisikan dua cincin berlian putih yang sangat cantik dan mewah.

“Ini adalah cincin yang sudah gue pesan sejak 4 bulan yang lalu, yang ingin sekali gue pakein di jari manis lo. Yang ingin gue pakaikan ketika lo udah halal untuk gue”

“Gu—, gue, gue minta maaf”

TRIIINNNNGGGG

Kotak tersebut jatuh dan membuat dua cincin yang ada di dalam sana berhamburan entah kemana. Alyn menghempaskan kotak tersebut dengan kejam menggunakan tangan kanannya. Alyn kembali mengontrol dirinnya agar suara isakannya meredah.

“Lo belum puas juga kah Bim?” bentak Alyn kasar.

“Lo buta  apa pura-pura buta ?? Lo nggak ngelihat wajah duka gue, wajah tak ada masa depan pada diri gue ??”

“Lo nggak ngelihat berapa air mata yang sudah gue sia-siain buat nangisin lo?”

“Cihh—“ Alyn memincingkan senyumannya.

“Terus buat apa lo nunjukin cincin itu?”

“Bukannya lo udah bahagia sekarang? Ha?”Alyn menatap pria tersebut semakin tajam. Menunjukkan segenap keberaniannya untuk tidak terlihat lemah.

“Kekayaan? Lo punya Bim! Kecerdasan? Nggak usah ditanya! Ketampanan? Gadis buta pun akan bilang kalau lo tampan! Istri yang cantik?” untuk kali ini Alyn langsung bertepuk tangan dengan pelan tanpa menghilangkan senyum sinisnya kepada Bima.

“Istri lo sangat cantik sekali Bim,”

“Dan Lo mau mamerin ke gue sekarang?”

“Atau lo sedang menghina gue saat ini ??:”

“Al— deng—“

“Al? Allen maksud lo ??”

“Dengeri—“

“Nggak perlu susah-susah gue dengerin lo Bim. Ucapan lo penuh kebohongan!! “

“Gue sudah sangat kenyang, lo kasih janji palsu dan kebrengsekkan selama ini “

“Lo juga nggak perlu susah memamerkan apapun ke gue,  karena gue sangat sadar Tuan Bima Freedy Haling,  lo lebih segalanya diatas di gue”

Alyn meneteskan kembali air matanya, dan untuk kesekian kalinya ia dengan cepat-cepat menghapusnya.

“Lo udah menang!, dan gue udah sampai titik yang paling sakit “

“Gue harap lo nggak pernah muncul lagi dihadapan gue!!!, lo nggak usah nyari gue!!!, lo hilang dan enyah dari kehidupan gue selamanya!!! “

“Karena gue akan lupain lo. semudah penghinatan lo ke gue”

 

Alyn berdiri dari tempat duduknya, ia menatap tajam Bima yang hanya terdiam dan menunduk seperti patung. Alyn berdecak sinis se sinis-sinisnya. Tatapan paling kebencian yang pernah ia tunjukkan kepada siapapun.

“Sebenarnya, gue bisa aja bunuh lo sekarang disini!”

“Tapi, gue nggak akan melakukannya. Lo tau kenapa ??”

 

“Karena rasa bersalah akan terus menghantui lo, dan itu lebih menyakitkan seumur hidup lo daripada apapun”

Alyn meninggalkan Bima begitu saja, kata-kata yang ia ucapkan sangat berhasil membuat Bima terduduk lemas. Sudah pasti Bima akan merasakan rasa penyesalan seumur hidupnya. Ia akan terus menyalahkan dirinnya sendiri seumur hidupnya.

*****

Alyn keluar dari hotel, ia melihat Ryu dengan pengawal-pengawalnya yang terlihat binggung. Alyn menarik nafasnya dalam-dalam, ia menghapus sisa air matanya. Setelah merasa lebih tenang, Alyn melangkahkan kakinya untuk mendekati Ryu.

“Ryu—“ panggil Alyn sedikit takut. Pria itu membalikkan badanya dan kaget bercampur legah melihat sosok Alyn.

“are you okay?” tanya Ryu yang nampak masih cemas. Alyn mengangguk-anggukan kepalanya.

“I want to go home now” lirih Alyn pelan memohon.  Ryu menatap Alyn penuh menyelidik. Namun, ia menahan rasa penasaranny, dan mengiyakan permintaan Alyn.

Ryu melepaskan jasnya dan memakainya pada tubuh Alyn. Namun, ketika jas tersebut sudah terpakai pada tubuh Alyn, tiba-tiba tubuh Alyn langsung ambruk. Untung saja Ryu dengan sigap menangkap tubuh kecil tersebut.

“Bring the car here!!! “perintah Ryu kepada pengawal-pengawalnya. Terlihat wajah Ryu penuh kecemasan.

“Alyn!! Alyn!!! “

“Alyn!! Wake Up!!! “

Ryu mencoba membangunkan Alyn, namun gadis itu tetap saja tak sadarkan diri. Setelah mobil  yang dibawakan pengawalnya datang, Ryu segera membopong tubuh Alyn untuk ia bawa ke dalam pesawat.

*****

Setelah pesta pernikahan selesai, Allen dan Bima sama-sama memasuki apartemen mereka. Allen masih sedikit kaku untuk satu kamar dengan Bima, walaupun 3 hari kemarin mereka sudah satu apartemen namun tidak satu kamar dan Allen bersyukur sekali Bima tak melakukan apapun kepadanya. Mereka telah melakukan acara akad pernikahan di Indonesia 3 hari yang lalu dan hari ini adalah resepsi kedua mereka. Dan 5 hari lagi mereka akan melanjutkan resepsi di Prancis. Jadwal 2 minggu ini akan menjadi jadwal terpadat seumur hidup Allen. Ia merasa sangat lelah sekali.

Allen memilih masuk kedalam kamarnya, sedari tadi ia tak berani mengajak Bima berbicara. Wajah Bima benar-benar menakutkan sekali. Bahkan, sedari tadi pun Bima hanya diam saja tanpa mengeluarkan satu katapun kepadanya. Allen tau pasti telah terjadi apa-apa pada pria tersebut, dan hal itu pastinya berhubungan dengan Alyn. Entah menagapa ketika mengingat nama gadis itu, Allen merasakan dadanya sedikit sakit. Apakah dia cemburu??

“Aisshh—, apa yang gue lakukan. Seharusnya kak Alyn yang marah banget sama gue. Bukannya gue yang marah sama kak Alyn” ujar Allen menyalahkan dirinnya sendiri.

“Lebih baik gue mandi” ujar Allen dan segera masuk kedalam kamar mandi. Ia sudah tidak betah untuk menghilangkan sisa make-up yang ada di wajahnya.

*****

30 menit kemudian Allen keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk. Allen berjalan mendekati lemari yang ada di kamarnya. Dimana baju-bajunya sudah disiapkan di dalam sana.

PRAAAAAANGGGGGG

 

 

PYAAARRRRRRRRR

 

 

AAAAAAARRRRRGGGHHSSSSS

 

 

Suara pecahan kaca, suara pecahan barang-barang dan suara teriakkan keras tersebut mengangetkan Allen dan membuat Allen cemas minta ampun. Karena suara tersebut merupakan suara suaminya. Tanpa memfikirkan apapun, dan tanpa menyadari bahwa dirinnya masih menggunakan sebalut handuk. Allen keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang sudah terjadi.

Ketika Allen berada diluar kamarnya, ia benar-benar dibuat terpenganga melihat keadaan Apartemen saat ini. Semua barang-barang berantakkan, kursi dan meja sudah tak beraturan tempatnya. Piring-piring di dapur pecah berantakkan di lantai.

Yang paling memiriskan terlihat dikedua mata Allen yaitu, melihat seorang pria yang sedang duduk setengah menangis, di tangan kanan pria tersebut terdapat sebotol Absinth berwarna hijau. Allen gemetar sendiri melihat Bima meminum alkohol tersebut tanpa henti. Dengan cepat Allen menghampiri Bima, ia tau bahwa Bima tidak bisa mabuk. Apalagi sekarang alkohol yang sedang di minum Bima merupakan Alkohol dengan kadar yang tinggi.

“Hentikkan!!! “ tegas Allen memberanikan diri, Ia merebut botol tersebut dari tangan Bima dan melemparkannya ke sembarang tempat. Apartemen ini sudah tak lagi berbentuk jadi Allen tak perlu repot-repot untuk binggung membuang botol tersebut kemana.

“ke—, kenapa lo buang mi—, mi, —, minu—, man, gue ??” ujar Bima tak beraturan.

“Sera—, serahkan!!!”

“Se—serahkan !!! min—, minuman —, gue!!! “ bentak Bima dengan teriakkan menakutkan.

“kamu kenapa Bim?:” tanya Allen gemetar.

“Gu, —, Gue kenapa ? Hahahaha”

“Gu—, Gue—, Gue kenapa ??” Bima sudah terpengaruh oleh efek alkohol tersebut. Allen menghelakan nafas beratya. Ia segera pergi ke dapur dengan hati-hati agar kakinya tak terkena pecahan piring di sepanjang lantai. Ia mengambil segelas air putih dan segelas susu untuk Bima.

Allen mencoba memaksa Bima untuk meminum air putih dan susu yang ia bawah. Dengan susah payah, Allen mencoba memasukkan kedua minuman tersebut secara bergantian pada mulut Bima.

“GU—, GUE GAK MAU!!! “ teriak Bima dan menepis kasar gelas yang Allen bawa sehingga membuat gelas yang berisikan susu tersebut tumpah ke lantai.

Bima tiba-tiba mencoba berdiri dari duduknya, Allen pun membantu Bima yang sempoyongan. Allen menuntun Bima ke kamarnya, tak ada perlawanan dari Bima. Sepertinya pria tersebut sudah kelelahan.

Allen membuka pintu kamar Bima yang ada di sebelah kamarnya, kamar Bima terhitung lebih luas 2 kali lipat dari pada kamar Allen dan tentunya lebih mewah karena kamar ini merupakan kamar utama di dalam apartemen ini.

Allen membawa Bima ke arah kasur, tubuh Bima yang lebih berat dari dirinnya membuat Allen sedikit kesusahan. Allen membaringkan Bima diatas kasurnya. Wajah pria tersebut terus mengeluarkan keringan dingin.

Ketika, Allen mencoba melepaskan kemeja yang dipakai oleh Bima untuk ia ganti dengan baju yang baru. Tiba-tiba tangan Allen ditarik oleh Bima dan menyebabkan Allen terjatuh dan menimpa tubuh Bima, dan sepertinya Bima masih dalam kondisi setengah sadar. Bima membalikkan posisinya sehingga kini Allen berada di bawahnya dan dirinnya berada diatas. Bima mengunci Allen dengan kedua tangannya memberikan jarak sedikit untuk tubuhnya dan tubuh Allen.

Bima melihat Allen begitu tajam, dan hal itu membuat Allen sangat takut sekali. Jujur, Allen takut Bima melakukan hal yang diluar dari kesepakatan mereka. Bahwa Bima tidak akan menyentuh Allen sedikit pun.

“Bim—“ renggek Allen takut. Ia mencoba keluar dari kuncian tubuh Bima, namun percuma. Tubuhnya yang kecil tak bsia bergerak sedikit pun.

Mata Bima mulai menurun melihat bagaian dada atas Allen yang ter-ekspos jelas. Terlihat kulit putih Allen yang begitu lembut yang tentunya dapat membuat lelaki siapapun terpancing untuk menyentuhnya. Allen merutuki kebodohannya karena ia hanya memakai balutan handuk. Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu mencemaskannya dan membuatnya lupa bahwa ia hanya memakai handuk.

“Bim, lepasin!!! “ pinta Allen memohon dan berharap Bima akan mendengarkannya.

“Kenapa ?? bukankah kita sudah menikah? Dan gue berhak melakukan apapun” ujar Bima dingin sekali. Bahkan tak ada ekspresi apapun dari wajah tampan dan tegas tersebut. Allen menggenggam erat kedua tangannya. Ia sudah takut setengah mati. Bahkan kedua mata Allen mulai tercipta sebuah bendungan yang siap meledak.

“Aku mohon lepasin !!!”

“Bim, kamu lagi mabuk!! Sadar!!! “

“Gue sadar kok!!! “ sahut Bima enteng.
“Bim, aku mohon lepasin!! Aku belum siap!!! “renggek Allen dengan air mata yang mengalir begitu saja.

“Belum siap?? Tidak perlu perisapan apapun untuk melakukannya. “

“Gu—, Gue mohon, lep—, lepas—.”

Belum selesai Allen meneruskan ucapannya, Bima langsung melahap bibir Allen dengan kasar. Allen merasakan bibirnya yang perih akibat goresan antara gigi dan bibirnya karena kasarnya ciuman yang dilakukan oleh Bima kepadanya. Tangan Allen gemetar lebih hebat. Ia mencoba melepaskan ciuman Bima, mencoba memberontak dengan menggeleng-gelengkan wajahnya. Namun, Bima sepertinya tidak kehabisan cara. Tangan kanannya ia gunakan untuk mencengkram kuat dagu Allen agar tidak bergerak.

“Bim sa—, Bim sakit “ ringgis Allen dengan tangisan yang tak bisa terkontrol. Bima melepaskan ciuman di bibir Allen, dan mulai mencium leher Allen lebih kasar dari ciuman di bibirnya. Memberikan kissmark disana. Allen menoba menguasai dirinnya sendiri, mengontrol agar dirinya tidak menikmati apa yang dilakukan oleh Bima.

Tangan kanan Bima mulai terlepas dari dagu Allen, tangan tersebut menurun menyentuh ikatan handuk Allen, melihat apa yang akan dilakukan oleh Bima, dengan cepat Allen menarik tangan Bima dan menepisnya kasar.

“BIM, LO KETERLALUAN!!!” bentak Allen membeludak karena sudah terlalu takut. Allen tak peduli ucapannya kasar atau bagaimana. Ia benar-benar ketakutan. Mendengar teriakan Allen seperti itu Bima menghentikkan kegiatannya tadi, ia menatap Allen dengan dingin.

“Apa gue salah nyentuh lo?? Bukankah lo udah jadi milik gue ?? HA???” kini giliran Bima yang membentak Allen.

“Ta—, Tapi nggak gini ca—, car—, caranya “ isak Allen tersedu-sedu.

“Nggak gini caranya ?? lalu gimana caranya ?? tunjukin ke gue” tantang Bima menjadi. Bima seperti orang kerasukan yang menakutkan.

Bima bangun dari posisinya, ia melihat kondisi tubuh Allen yang bisa dibilang sedikit berantakkan. Allen pun segera terbangun untuk duduk. Ia melirik kearah bagian dadanya yang sudah banyak bercak merah. Hal itu membuat Allen semakin tersedu-sedu ketakutan. Ia dengan cepat membenahkan handuknya agar lebih erat lagi pada tubuhnya. Sedangkan Bima masih terus menatapnya dingin.

“Ak, Aku takut dengan kamu sekarang, Bim” lirih Allen menundukkan kepalannya.

“Ak, Ak—, Aku minta maaf kalau aku memang perusak hubungan kamu dan Kak Alyn”

 

DEGHHHHH

       Ketika nama itu tersebut, Bima merasa ada sesuatu jiwa yang lepas dari tubuhnya. Tatapan dingin Bima berubah menjadi tatapan binggung, ia melihat sosok gadis di depannya dengan binggung. Ditambah keadaan gadis itu berantakkan dan hanya memakai sehelai handuk di tubuhnya. Mata Bima tertuju kepada bercak-bercak merah pada bagian dada atas gadis itu. Bima membelakakan matanya.

“Apa yang sudah gue lakuin?” lirih Bima benar-benar shock dengan yang ia perbuat. Jujur saja ia tak sadar ketika melakukannya. Ia dipengaruhi oleh emosi, dan akibat efek alkohol tadi.

“Aku memang gadis biasa yang tidak tau diri, yang merusak hubungan dan kebahagiaan orang lain, Aku minta maaf. Tapi setidaknya aku masih punya harga diri” Allen masih menunduk dan semakin terisak.

“Asal kamu tau, awal aku bertemu kamu. Aku benar-benar kagum ba—, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama “

“kamu adalah pria pertama dalam hidupku yang aku suka” kejujuran Allen yang tiba-tiba membuat Bima kaget bukan main.

“Kamu bahkan tak pernah sedikitpun menyalahkan aku, walaupun aku tau kamu mengalami masa-masa sulit. Ka—, kamu, kamu sangat mencintai kak Alyn, aku tau itu”

“A—, aku, aku benar-benar minta maaf sudah menghancurkan hidup kamu”

“Se—, sekarang aku pasrah saja, ka—, kamu akan melakukan apa pada aku”

“Ba—, Ba—, bahkan jika kamu melakukannya kepadaku sekarang, ak—, aku pasrah, jika kamu ingin besok aku bi—, bilang ke kakek agar kita cerai. A—, aku mau “

“Ak, —, aku ngg—, nggak ingin lihat ,” Allen menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dalam hitungan detik. Ia mencoba meneruskan kata-katanya kembali sedangkan Bima masih terdiam kaget bercanpur binggung dengan ucapan kejujuran yang diucapkan oleh Allen.

“Aku nggak ingin lihat orang yang aku cintai tidak bahagia” Bima tak menyangka seorang Allen yang baginya misterius, pendiam dan cuek bisa mengatakkan hal sejujur ini didepannya. Bima ragu jika gadis ini dalam kondisi yang sadar.

“Ak—, Aku saya—, sayang sama kamu, Ak—, aku sangat cinta sam—, sama kamu. dar—, dari pertama kali kita bertemu ”

“Maaf, ka—, kalau aku tidak tau diri pe—, per, —, pernah cemburu dengan Kak Alyn”

“Tap—, tap, —. Tapi setelah kejadian barusan “

“Ak—, aku sadar, ba—, bahwa aku sangat tidak tau diri jika cemburu dengan kak Alyn, Ak—, Aku tidak tau diri merebut kamu dari Kak Alyn. Ak—, Aku minta maaf”

“Ak—, Aku mint—, minta ce—, ceraikan aku, ce—, ceraikan aku sek—“

“Jangan pernah berani sekali lagi mengatakan cerai, memutuskan untuk menikahimu aku sudah mempertaruhkan banyak hal. Aku sudah sampai sejauh ini hanya demi kamu “ Bima tiba-tiba menarik tubuh mungil Allen dan memeluknya dengan erat. Menenangkan sekaligus meminta maaf kepada gadis kecil ini yang semakin menghamburkan tangisannya.

“Maafin aku, aku tadi tidak sadar melakukannya. Ak—, aku benar-benar minta maaf” jujur Bima dan semakin erat memeluk Allen.

Bima tak menyangka bahwa gadis kecil ini benar-benar tulus menyukainya, bahwa gadis ini tidak pernah sedikit pun memanfaatkan nasih keberuntungannya ini. Baginya Allen memang sosok gadis yang lugu dan tidak tau apapun.

Bima melepaskan pelukannya dari Allen, ia menatap gadis  tersebut yang mencoba mengontrol tangisannya. Kedua mata Allen mulai menyitip akibat tangisannya barusan dan membuat wajahnya terlihat sedikit lucu.

“Jangan nangis, Aku minta maaf, Aku janji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi” ujar Bima meyakinkan Allen, ia menghabus sisa-sisa air mata di pipi Allen. Menghapus air mata tersebut dengan kedua tangannya.

“Ayo aku anterin ke kamar kamu “ Bima turun dari kasurnya, lalu dengan cepat ia membopong tubuh Allen keluar dari kamarnya dan ke kamar Allen. Melihat yang dilakukan oleh Bima membuat Allen kaget, sekaligus bahagia, sekaligus merasakan detakan jantungnya dan aliran darahnya berdetak 5 kali lebih cepat dari biasanya.

Allen memberanikan diri untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher Bima, awalnya Bima terkejut dengan yang dilakukan Allen. Sikap Allen sejak tadi diluar dari bayangannya. Namun, Bima membiarkannya saja.

Bima masuk kedalam kamar Allen, setelah itu ia membaringkan Allen diatas kasur secara pelan-pelan. Bima menarik selimut yang ada di kaki Allen dan menyelimutkannya pada tubuh Allen.

“Selamat malam” ujar Bima sebelum beranjak dari kamar Allen.

“Bim—“ panggilan Allen dan membuat Bima membalikkan badannya kembali.

“Ya?” sahut Bima datar lebih tepatnya ke sikapnya semula.

“Bisa aku minta 2 permintaan?” tanya Allen dengan ragu-ragu.

“Apa itu?” sahut Bima dengan cepat tanpa basa-basi.

“Duduk di sebalahku sekarang” ujar Allen dan memberanikan diri menatap Bima, sedangkan Bima mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan permintaan Allen.

“Ka—, kalau ngggak mau—, ju—, juga nggak ap—, nggak apa-apa” ujar Allen dengan cepat ketika melihat ekspresi Bima seperti itu. Allen menundukkan pandangannya. Ia tak berani lagi menatap Bima.

“Permintaan kedua ?” tanya Bima sambil berjalan mendekat kembali ke Allen dan mengambil duduk di samping Allen.

Allen mencoba bangkit,  ia menundukkan posisinya dan membuat dirinya dan Bima berada pada jarak yang lumayan dekat.

“Ak—, Aku tidak akan pernah mi—, minta cerai lagi. Tap—, Tapi kamu—, kamu mau—, ma—“

“Mau apa ??” sahut Bima yang sepertinya tak sabaran. Melihat balasan Bima yang dingin seperti itu membuat Allen takut dan nyalinya menciut.

“En—, enggak jadi” ujar Allen dengan cepat/ Bima mengernyitkan keningnya kembali.

“Lo mau gue ngelupain Alyn??”

Allen mendongakkan kepalanya menatap Bima dengan ekspresi kaget. Bagaimana Bima bisa tau fikirannya saat ini?? Apakah Bima mempunyai kekuatan supranatural bisa membaca fikiran orang lain. Allen tak mengiyakan dan tidak juga menggelengkan kepalanya. Ia terlalu takut dan masih kaget.

“Gue akan coba lupain Alyn, Tapi gue nggak janji gue bisa secepat yang lo inginkan. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun gue bisa ngelupain di—“

“Nggak  masalah” sahut Allen dengan cepat. Ekspresi wajah Allen berbeda dengan ekspresinya tadi yang menunjukkan ketakutan. Ekspresinya saat ini bisa dibilang ekspresi paling bahagia Allen yang pernah Bima lihat.

“ Hmm, yaudah sekarang kamu tidur. Besok sore kita akan berangkat ke prancis” lanjut Bima mengingatkan Allen. Bima berdiri dari duduknya.

“Bim—“ cegah Allen sekali lagi. Bima mengernyitkan keningnya untuk kesekian kalinya. Ia memilih diam saja dan menunggu kelanjutan dari ucapan gadis ini.

“Bu—, bukan, Bukankah kita sudah menikah. Ken—, ken—, kenapakitatidatidursatukamarsaja” ujar Allen dengan nada yang cepat sekali dan membuat Bima sedikit tak jelas dengan ucapan gadis ini.

“Ha? Lo ngomong apa sih?” binggung Bima.

“Nggak apa-apa. Lupakan” ujar Allen yang malu dan takut untuk memgucapkannya. Meskipun ucapan Allen sedikit tak jelas ditelinga Bima, namun cukup jelas dan dimengerti oleh Bima.

“Lo banyak maunya ya lama-lama “ sindir Bima menggeleng-gelengkan kepalanya. Allen memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.

“Nggak—, nggak, Ak—, aku—, “

“Geser sana!!! “ potong Bima dengan cepat. Allen membelakakan matanya.

“Apalagi ? katanya mau aku tidur disini. Yaudah geser!!! “

“Ah—, Ah iya, iya “ Allen dengan cepat menggeserkan tubuhnya , setelah itu Bima membaringkan tubuhnya di sebalah Allen.

Allen merasakan detakan jantungnya begitu cepat, ia tak menyangka Bima menuruti semua keinginannya. Sekarang ia tau dan mengerti kenapa Alyn begitu sangat mencintai Bima.

“Udah sana tidur! Aku capek!” ujar Bima datar. Ia menarik selimutnya dan memejamkan matanya begitu saja.

Sedangkan Allen masih tetap terjaga, ia tak henti-hentinya menatap Bima yang tertidur pulas di sebelahnya. Allen terkekeh tanpa suara. Ia baru menyadari jika melihat wajah Bim sedekat ini, sangatlah tampan.

“I love you “ lirih Allen pelan.

“Gue denger! “ Allen langsung menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya dan berpura-pura tidur. Ia merasakan pipinya memerah akibat perbuatan memalukkan yang ia lakukan barusan.

*****

Alyn  tersadar dari pingsannya, ia merasakan bau daun teh masuk kedalam hidungnya. Cahaya-cahaya putih perlahan menyialaukan matanya. Sampai akhirnya ia bisa melihat ke sekitarnya dan mendapati Ryu berada disampingnya dengan wajah penuh kelegaan.

“Are you allright ??”

“Yes. Where am I?”

“In my house, you are not aware for 2 days”

“WHAT ??” kaget Alyn sekaget-kagetnya.

“I—, I already know everything “

“Wh—, hat do you mean ??”

“Yesterday, you and Bima”

“He is your ex-boyfriend right ??” lanjut Ryu dengan nada hati-hati. Seketika itu raut wajah Alyn berubah menjadi wajah kesedihan.

“He is my friend when i am 5  years old. But, i leave Indonesia 3 years later, Trully, i can speak Indonesia”

“WHAT ??” kaget Alyn tak menyangka. Ryu menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tak gatal dengan wajah malu.

“Aishh—, “desis Alyn sedikit kesal.

“Sorry, gue bisa berbicara bahas indonesia hanya tidak terlalu biasa” alibi Ryu mencari pembelaan.

“Setelah ini ? apa yang akan lo lakuin ??” tanya Ryu kembali ke perbincangan serius.

“Apa gue bisa tanya sesuatu kepada lo??” tanya Alyn balik dan membuat Ryu heran da sedikit binggung.

“Apa itu ??”

“Apa sebenarnya tujuan lo nyelamatin gue dan memperlakukan gue sangat baik?? Apa lo disuruh Bima??”

“Ha? Enggak!! Gue hanya merasa hutang budi nyawa sama lo. Bahkan gue baru kemarin saja saat di pesta tahu kalau loe dan Bima punya hubungan”

“Jawab pertanyaan gue, apa yang lo lakukan setelah ini ?” tanya Ryu sekali.

“Entahlah” jawab Alyn binggung dan penuh kejujuran Karena memang ia tidak tau apa yang ia perbuat setelah ini.

“Nikah sama gue !!!”

DEGHHHHH

Bersambung . . . . .

Bersambung . . . . . . .

2 thoughts on “D3STINY OF LOVE AND LIFE – 12

    1. Iyakah? tapi maaf sebelumnya cerita di blog ini sama sekali tidak ada yg copas🙂 semua ide murni authoe. kalau boleh tau judulnya apa? biar bsa aku cek. terima kasih .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s