CRUSHED – 1

CRUSHED – 1

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

16 Years later . . . . . .

 

Keringat dan wajah lusuh nampak jelas tergambar di wajah gadis remaja ini. Ia menyeka pelipis dan bagian lehernya yang penuh dengan keringat. Kedua tangannya tetap terayun beriringan dengan kain pel yang ia gunakan sedari tadi. Tak ada yang gadis ini fikirkan selain pekerjaanya cepat selesai.

DENGG . . . DENGG

 

Jam dinding besar yang ada di depan ruang resepsionis berbunyi dengan keras, pandangan gadis tersebut ter alihkan. Ia melihat jam tersebut, sudah menunjukkan pukul jam 6 pagi. Ia tersenyum ringan, kemudian dengan cepat merapikan peralatan bersih-bersihnya.

******

“ Ify “ suara tersebut membuat gadis ini memberhentikkan langkahnya. 15 menit yang lalu ia masih menggunakan baju cleaning service.nya, namun sekarang gadis remaja berwajah putih, pure, dan bisa dikatakan memiliki innerbeuay ini sudah berpakaian lengkap menggunakan seragamnya. Gadis bernama Ify ini membalikkan badanya, ia mendapati atasannya yang memanggilnya.

“Iya ada apa, Pak?” jawab Ify setenang mungkin dengan ekspresi polosnya dan sedikit dingin tentunya.

“ini gaji kamu untuk bulan ini, saya suka dengan pekerjaan kamu. Lebih giat lagi bekerja “ seorang laki-laki paruh baya tersebut menyodorkan amplop putih berukuran sedang kepada Ify. Dengan wajah berbinar Ify menerimannya.

“terima kasih banyak pak, saya akan bekerja lebih rajin:” jawab Ify kali ini lebih semangat. Atasannya tersebut mengangguk dan berlalu dari hadapan Ify.

Ify masih menatap amplop putih itu dengan sangat bahagia. Ia membuka amplop itu dan melihat berapa gaji yang ia dapatkan bulan ini. Ify menghitung lembaran uang berwarna hijau tersebut.

“Empat ratus lima puluh ribu, wahhh —, “

“Gajiku bertambah lima puluh ribu “ Ify tersenyum tanpa sadar, namun sedetik kemudian ia segera memasukkan lembaran uang tersebut kedalam amplopnya kembali dan menaruhnya di dalam tas punggungnya. Kemudian gadis ini beranjak dari Hotel besar tempat ia bekerja ini.

******

Ify memasuki kelasnya, semuanya terasa flat , setiap harinya ia harus melakukan aktivitasnya dengan kegiatan yang sama. Tak ada yang bisa dibilang menyenangkan atau dinikmati saja. Ify terpaksa dan haruslah mengerjakannya karena ia masih ingin meneruskan hidupnya.

Ify melihat teman-temannya sedang sibuk bermain gadget, menonton televisi di kelas bahkan ada yang sedang bermain kartu Uno. Ify berjalan saja menuju tempat duduknya, karena ia juga tak perlu repot-repot menyapai teman kelasnya, sejak dari kelas 1 SMP bahkan sampai sekarang, Ify sama sekali tidak punya teman dekat atau bisa dikatakan “sahabat”. Padahal banyak yang ingin berteman dekat dengan ify, namun bagi Ify ia tidak punya waktu untuk berteman, dirinya cukup disibukkan dengan duniannya, ia harus melakukan kerja part-time 3 kali setiap harinnya, dan ia juga tidak berniat untuk membuang-buang uang jerih payahnya sendiri. Itu semua sudah ia lakukan selama ia duduk dibangku 5 SD, ia mulai bekerja keras demi menghidupi dirinnya dan kakeknya.

“Fy, ini buat lo, tadi Deva bagi-bagi makanan. Dia katanya baru pulang dari singapore” ujar seorang gadis teman kelas Ify tentunya. Ify menerima sebuah kotak makanan tersebut.

“Makasih” jawab Ify seadanya. Gadis itu tersenyum sebentar ke Ify lalu meninggalkan Ify. Meskipun Ify sedikit dingin, dan tidak mempunyai teman dekat. Namun, teman-teman kelasnya sangat menghargai Ify dan mengerti kenapa Ify tak pernah mau mempunyai teman dekat. Meskipun dingin dan tidak peduli, namun bagi teman-temannya Ify adalah gadis yang baik. Gadis itu selalu membantu teman-temannya jika kesusahan mengerjakan tugas atau tidak mengerti materi-materi di kelas. Ify selalu membantu mereka tanpa minta imbalan apapun walaupun teman-temannya selalu memaksa dirinnya untuk menerima imbalan yang mereka berikan. Namun, Ify tidak pernah mau menerimanya.

Bahkan. Tidak hanya dari kelasnya saja, anak-anak kelas lain pun jika tidak bisa mengerjakan tugas yang diberkan guru mereka, dan tidak berani bertanya kepada guru mereka sendiri, Ifylah tempat tujuan terakhir mereka. Di sekolahnya, Ify begitu populer walaupun Ify sendiri tak merasa seperti itu. Dirinya hanyalah gadis biasa. Ia menjalani hidup apa adanya tanpa dilebih-lebihkan dan tanpa dikurang-kurangkan. Itulah Ify.

Ify mendapatkan julukan Smart of God  di sekolah ini. Ia sendiri tidak tau bagaimana ia bisa mendpaatkan kepintaran tersebut, untuk belajar saja ia jarang ada waktu. Namun, setiap kali guru dikelas mengajarinya, Ify dengan mudah   mengerti apa yang diajarkan oleh gurunya. Semua mata pelajaran Ify babas habis dengan sangat mudah sekali. Semua guru di sekolah tersebut pun mengakui kepintaran Ify, dan selama ini Ify selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya, ia mendatkan free biaya di sekolahnya mulai dari SD-SMA saat ini. Mengingat ia berada di sekolah komplek, walaupun sekolahnya hanya sekolah swasta biasa.

*****

Ify mengganti pakaiannya dengan kaos berwana hijau toska dan rok selutut berwarna pink. Setelah pulang sekolah, Ify akan pergi ke cafe dekat SMA ARWANA.  SMA yang ia ketahui berisi orang-orang highclass. Sekolah yang telah berpuluh-puluh tahun mengeluarkan alumni yang berkompeten, dan mendapat jaminan akan mudah masuk universitas manapun bahkan terjamin sampai mendapatkan pekerjaan nantinya.

“Yaiyalah mudah dapat pekerjaan. Nggak mungkin juga orang yang sekolah disana orang kere” itulah ucapan Ify pertama kali ketika mendengar segala pujian tentang yayasan ARWANA.

Setiap hari di siang harinya, sepulang sekolah Ify selalu mendapat pemandangan gadis-gadis cantik dan pria-pria tampan dengan memakai seragam khas SMA ARWANA yang nongkrong di cafe tempat ia bekerja. Ify sampai sudah terbiasa dan hafal sangat dengan bahasan tema pembicaraan siswa-siswi tersebut. Bahkan, Ify mengetahui bagaimana sistem pembelajaran di SMA ARWANA, apa saja yang diajarkan di SMA ARAWANA, karena dari perbincangan siswa-siswi SMA ARWANA yang selalu berkecoh riah di cafe tempat Ify bekerja tersebut. Ify pun menjadikannya sebagai tambahan pengetahuan saja.   Ify sendiri sama sekali tidak memiliki minat untuk masuk di SMA tersebut. Karena yang ia tau dari tingkah laku dan attitude siswa-siswi SMA ARWANA penuh dengan gelamore dan kesombongan.

Ify bekerja di cafe sampai pukul 6 sore, ia bekerja sebagai kasir. Ify sangat handal dalam bidang hitung-menghitung. Otaknya bisa dibilang lebih cepat dari komputer atau kalkulator. Ia dengan mudah mengalikan dan membagikan bilangan ratusan dalam hitungan beberapa detik.

“Pulang dulu ya Kak“ pamit ify kepada teman-teman lainnya yang masih bekerja di Cafe tersebut. Mengingat Ify adalah yang paling muda diantara lainnya. Karena rata-rata pegawai disana ada yang sudah ber-umur, mahasiswa. Hanya dirinya saja yang masih ber umur belasan.

*****

Ify melihat jam tangannya yang berbentuk micky mouse kecil. Jam tangan tersebut sudah terlihat sedikit usang, besi dibagian sampingnya mulai menguning. Jam tangan tersebut adalah jam tangan pemberian kakeknya saat ulang tahunnya 7 tahun yang lalu. Ketika itu Ify masih kecil dan belum mengerti tentang kerasnya kehidupan, ia menangis sejadi-jadinya merengek kepada sang kakek untuk membelikannya jam tangan tersebut yang harganya saat itu sangatlah mahal. Dan, Ify kini menyadari bahwa jam tangan yang ia pakai hanyalah jam tangan KW dan harganya setengah dari harga aslinya. Namun, ia tetap berterima kasih kepada sang kakek mau membelikan jam tangan yang ia mau.

Ify menunggu angkot putih yang biasanya ia tumpangi. Tak lama kemudian angkot tersebut berhenti di depanya. Ify langsung menaiki angkot tersebut. Ia mengambil tempat duduk di samping supirnya.

“Fy, gimana kabar kakek kamu?” tanya supir tersebut  yang memang sudah sangat mengenal Ify. Karena selama 2 tahun terakhir ini, sejak Ify bekerja di cafe tersebut Ify selalu menaiki angkotnya untuk pulang kerumah. Ify sendiri sering bercerita kepada supir angkot tersebut yang entah mengapa ia anggap seperti ayahnya sendiri.

“Sudah mendingan kok Om Jo” jawab Ify mencoba untuk tersenyum walau terlihat sangat dipaksakan. Wajah lesu dan lelahnya sangat terlihat. Pria paruh baya bernama Jo tersebut nampak kasihan melihat wajah gadis disampingnya tersebut.

“Sudah kamu bawa ke rumah sakit ??” tanya Jo kembali. Ify mengganggukan kepalannya beberapa kali.

“Apa kata dokter??”

“Maag.nya udah akut om, dan harus dioperasi” jawab Ify jujur. Jo nampak terkejut dengan jawaban Ify.

“Ify lagi nabung buat operasi kakek Om, mangkanya Ify ngambil pekerjaan tambahan di supermarket dekat rumah jam 8 nanti”

“Ya ampun Ify, apa kamu nggak capek? Kamu jam 4 subuh berangkat ke Hotel, Bersih-bersih disana. Terus jam 6 sampai jam 1 kamu sekolah, jam 2 sampai jam 6 kamu kerja di cafe dan setelah ini kamu kerja lagi ??” Jo menggeleng-gelengkan kepalannya tak percaya.

“Ya—, Ya mau gimana lagi Om, kalau ify nggak kerja. Siapa yang mau kasih makan Kakek dan Ify. Siapa juga om yang mau hidup kayak Ify “ Ify terkekeh kecut, ia seperti sedang menertawakan dirinnya sendiri.

“Kamu yang sabar ya, kamu memang gadis kuat dan luar biasa yang pertama kali om temui “

“Makasih Om”

Angkot putih tersebut berhenti di sbeuah rumah kecil dengan halaman yang dipagari kayu setinggi 1 meter saja. Ify turun dari angkot tersebut dan berpamitan dengan Jo. Ify besyukur bisa mengenal Om Jo tersebut, karena Ify setiap sorenya mendapat angkutan gratis, dan terkadang Jo membantunya menyelesaikan masalah yang terasa berat baginya.

Ify dengan cepat memasuki rumah kecilnya tersebut. Ify masuk kedalam rumah dan segera berjalan ke kamar kakeknya yang berada di belakang. Rumah Ify hanya ber-ukuran 10×10 meter. Rumah yang bisa dibilang sangatlah kecil. Bahkan rumahnya sendiri tidak semuanya berlantai. Akan tetapi rumah ini selalu berkondisi bersih dan rapi. Bahkan sangat nyaman untuk dihuni.

“kakek” panggil Ify kepada sang kakek yang sedang berbaring di kasurnya. Pria yang sudah ber-uban dan dengan wajah pucatnya tersebut menunjukkan senyum bahagiannya melihat cucu kesayangannya tersebut. Pria itu hanya bisa tidur dan tersenyum saja, Untuk mengeluarkan suara satu huruf saja rasanya sangat berat.

“Kek, Ify bawa hadiah buat kakek” ujar Ify. Kakek Ify menunjukkan wajah penasarannya. Ify membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

“TADAAA!!! Ify udah dapat gaji “ ujar Ify dengan bahagia. Ify langsung memberikannya dan menaruhnya di tangan sang kakek, namun dengan cepat sang kakek menolaknya dan mengembalikkan ke tangan Ify. Sang Kakek menggeleng-gelengkan kepalannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ify sudah ngambil beberapa kok kek untuk uang jajan Ify. Jadi, ini bagian kakek” ujar Ify mulai sedikit berbohong. Namun, sang kakek tetap menggelengkan kepalannya dan menyembunyikan kedua tangannya dari hadpaan Ify.

“I—, it—, itu mi—milik —, If—, Ify” ujar sang kakek dengan susah payah. Air mata sang kakek mulai jatuh dengan sendirinnya.

“ Uang ini buat operasi kakek, biar kakek bisa sembuh, bisa main sama Ify.” Ujar Ify dengan jujur. Ify menahan agar bendungan air mata yang sudah tercipta di kedua matannya tidak terjatuh.

“Ify ingin kakek sembuh”perlahan tangan sang kakek meraih tangan Ify, sang kakek membelai lembut tangan cucunya.

“Ka—, ka—, kakek—, sa—, sayang, If—, Ify”

“Ify juga sangat sayang sama kakek “ Ify terhambur kedalam pelukan kakeknya dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi. Segala rasa lelah dan capek seketika hilang. Ify merasakan kebahagiaan tak terhingga ketika ia bisa merasakan pelukan kakeknya.

****

Ify keluar dari rumahnya, hari ini adalah hari pertamanya bekerja di supermarket tak jauh dari rumahnya. Sebelumnya, ia mengurus kakeknya terlebih dahulu. Mulai dari memasakan kakeknya, menggantikan baju kakeknya dan menyuapi kakeknya sampai menunggu kakeknya terlelap terlebih dahulu.

Ify membawa tas punggungnya, ia selalu membawa buku tugasnya kemanapun bersama dengan pekerjaanya. Karena Ify tidak akan sempat nantinya mengerjakan dirumah. Ify memasuki supermarket tersebut dengan nafas yang berat. Tubuhnya berteriak-teriak meminta untuk beristirahat. Akan tetapi Ify sendiri memaksakannya.

Ify bekerja di supermarket mulai dari jam 8 malam sampai jam 12 malam, dan selama itu Ify harus terus berdiri tanpa duduk sedikit pun. Mengingat ia juga masih dalam masa trainning di supermarket itu. Untung saja pemilik supermarket dan karyawan lainnya sudah mengenal Ify. Jadi, Ify banyak terbantu dan merasa betah juga bekerja di supermarket tersebut.

Semua orang di supermarket tersebut selalu menatap Ify dengan wajah Iba, mereka sangat kasihan melihat gadis remaja yang seharusnya bisa bersenang-senang dengan teman-temannya layaknya remaja normal, namun gadis ini tak pernah merasakannya sejak kelas 5 SD. Yang gadis ini tau hanyalah bekerja-bekerja- dan bekerja.

*****

Ify sampai dirumahnya kembali jam 1 malam, rasa kantuk benar-benar sudah melandanya. Namun, sebelumnya Ify tidak langsung tidur. Ia menyiapkan buku pelajaran untuk besok beserta baju seragam dan baju kerjanya. Setelah itu, Ify menyetting alaram ponselnya yang ia taruh di samping laci kecil dekat kasurnya.

“Tuhan, terima kasih untuk hari ini.” 1 kalimat yang selaly Ify ucapkan setiap malam sebelum ia tidur. Ify selalu berterima kasih kepada pencipta alam semesta ini. Ia selalu menahan agar dirinnya tidak mengeluh akan keadaanya dan tetap bersyukur. Kakeknya lah yang selalu mengajarinya seperti itu. Tak lama kemudian, ify terlelap dalam tidurnya.

******

Pukul 3.00 a.m , alaram ify berbunyi, dan tanpa bermalas-malasan dan layaknya sudah kebiasaan Ify, ia langsung terbangun dan menuju ke kamar mandi. Ify mengosok giginya dan mencuci mukannya. Setelah itu ia membuat bubur terlebih dahulu untuk sang kakek yang setiap dini harinya ia taruh disamping kakeknya.

Pukul 3.30 a.m, Ify keluar dari rumahnya dengan pakaian kerjanya. Langit masih sangat petang, keadaan diluar pun sepi sunyi. Ify merapatkan jaket tebalnya karena dinginnya udara dini hari yang menyatu bersama embun pagi.

Ify berjalan tanpa rasa takut, ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ia mampir terlebih dahulu ke supermarket ia bekerja semalam, Ify biasanya selalu membeli kopi hanta instan dan 2 roti cokelat untuk sarapannya. Setelah itu, ia melanjutkan perjalannya menuju ke Hotel tempat ia bekerja.

*****

Ify berhenti di depan pintu Hotel, ia mengernyitkan keningnya melihat keramaian yang ada di dekat resepisonis. Ify mendekatkan langkahnya agar bisa melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi disana.

“DIA MUTUSIN GUE GITU AJA!! HAHAHAHA”

“DASAR GADIS BRENGSEK!!! “

“APA DIA BUTA ??? APA DIA NGGAK TAU GUE SIAPA ? HAHAHAHA”
“GUE AKAN BUAT DIA MENYESAL!!! PASTI ITU HAHAHA”

Pria tersebut berputar-putar tak karuan di ruang resepsionis seperti orang gila, sedangkan karyawan dan satpam di hotel tersebut mulai kebingungan sendiri.

“DIAM KALIAN SEMUA!!!”

“SAYA BISA MECAT  KALIAN SEMUA!!!! “

“KA—KALIAN SEMUA JANGAN MACAM-MACAM”

“HAHAHAHAHA—“

Ify hanya bisa geleng-geleng melihat seorang pria yang sama sekali tak ia kenal sedang mabuk berat dan membuat satpam serta karyawan lainnya kebinggungan. Ify tak menghiraukannya, ia masuk kedalam hotels dan berjalan seolah tak ada apa-apa karena ia sendiri merasa bahwa itu bukanlah urusannya.

“HEII!!!! LO MAU KEMANAA???” Ify langsung memberhentikkan langkahnya seketika itu. Ia tak berani bergerak sedikit pun, masih mencoba menimbang-nimbang apakah pria tersebut sedang berbicara kepadanya.

“HEI!!!! “

“LO BUDEK ??? GUE MANGGIL LO BEGO!!! “ dan benar saja, pria tersebut berjalan sempoyongan mendekati Ify, dan kini Ify harus bersiap untuk berhadapan dengan masalah baru di dini hari.

“LO—, LO —, LO” pria tersebut memegang bahu Ify seolah mencari penyanggah bagi tubuhnya. Beberapa karyawan mencoba memegangi tubuh pria tersebut ketika tubuh pria itu akan terjatuh.

“LEPASIN GUE!!” teriak pria itu kasar menepis semua tangan karyawan hotel itu. Ify merasakan telingannya panas dan bau alkohol menusuk indera penciumannya.

“LO—, KAM—“

BRUUUKKKK

Tubuh pria tersebut terjatuh dihadapan Ify begitu saja, para satpam dan karyawan lainnya dengan cepat menghampiri pria tadi. Sedangkan Ify menatap wajah pria tersebut.

“Ckk—, menyedihkan” Ify tak menghiraukan pria tersebut dan segera beranjak untuk melanjutkan perjalannya yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu. Ify segera pergi ke lokernya untuk menaruh tasnya terlebih dahulu sebelum ia memulai pekerjaanya sebagai celanning service .

 

“Bagaimana ini?? Haruskah kita bilang kepada tuan besar ?”

 

 

“Jangan nanti tuan muda memecat kita semua “

 

 

“Terus apa yang harus kita lakukan??

 

 

“Lebih baik kita bawa tuan muda ke kamarnya “

 

Hanya suara riuh-riur ribut dari satpam dan karyawan yang bisa Ify dengar sampai ruang loker. Ini adalah pertama kalinya Ify bertemu dengan pria tersebut di hotel ini selama beberapa tahun sudah ia bekerja di Hotel besar ini. Namun, Ify tidak memfikirkannya lebih lanjut. Ia secepatnya mengambil peralatan bersih-bersihnya dan mulai bekerja.

*****

Hari sudah mulai petang, Ify keluar dari angkot putih tersebut seperti biasanya. Ify mengernyitkan keningnya ketika mendapati sebuah mobil BMW  berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Seketika itu, Ify langsung mencemaskan kakeknya. Dengan cepat Ify masuk kedalam rumahnya dimana pintu rumahnya pun terbuka setengah.

“Kakek —, Kakek —“ teriak Ify seketika ketika memasuki rumah. Ia berlari menuju kamar kakeknya.

“Eh—“kaget Ify ketika mendapati dikamarnya terdapat 3 orang pria berpakaian hitam dan 1 pria lagi menggunakan pakaian rapi seperti jas hitam, kemeja putih didalamnya. Ify menatap pria itu yang sedang duduk disebalah kakeknya, dan nampak dari wajah kakeknya sendiri terlihat sangat bahagia.

“If—, Ify” lirih sang kakek memanggil cucunya. Ify tersontak dari lamunan sesaatnya. 3 orang pria yang berdiri di dekat pintu dan 1 pria lagi yang duduk disebelah kakeknya langsung menatap ke arah Ify.

“Me—, Mereka siapa kek?” tanya Ify kaku. Kakek tersenyum penuh arti.

“Selamat malam nona Ify “ Ify terkejut ketika 3 pria tersebut membungkukan badanya 45 derajat. Ify tak berespon apapun kecuali ekspresi binggungnya yang dari tadi belum terjawab.

“Selamat malam, Nona Ify “kini pria yang berpakaian rapi tersebut berdiri dan kali ini melakukan hal yang sama seperti 3 pria lainnya tadi.

“Ka—, kalian siapa?” tanya Ify to the point.

“Kami disini hanya mengerjakan tugas yang disuruh oleh atasan kami. Kakek kamu sudah kami jelaskan dengan tujuan kami disini, dan beliau setuju”

“Setuju? Apa maksudnya ?” potong Ify dengan cepat. Ia nampak tak sabaran dengan maksud dari pria-pria berbaju hitam ini.

Pria tersebut menyodorkan sebuah map hitam ke Ify dan gadis ini menerimanya, tanpa mengatakkan apapun Ify membuka map tersebut yang terdapat sebuah kertas terlampir. Seperti sebuah surat perjanjian. Ify membacanya dalam diam.

“SMA ARAWANA ??” itulah kata yang pertama kali Ify ucapkan ketika selesai membaca kertas putih tersebut.

“Kamu mendapatkan beasiswa dari atasan kami untuk masuk ke SMA ARWANA, mulai lusa kamu bisa mulai sekolah baru kamu disana. Seragam dan segala perlengkapan yang kamu butuhkan sudah kami siapkan “ pria tersebut menunjuk ke dua buah kotak hitam berukuran sedang.

“Disana sudah ada seragam SMA ARAWANA, buku yang diperlukan dan beberapa uang yang diberikan oleh ata—“

“Aku nggak mau” tolak Ify mentah-mentah. Semua orang disana nampak kaget dengan ucapan Ify.

“If—, Ify” Ify melihat ke arah kakeknya yang nampak sedih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Meminta Ify agar tidak bersikap seperti itu dan mau menerima tawaran emas tersebut.
“Ify nggak tau siapa mereka, dan siapa atasan yang mereka maksud ?? Ify juga nggak mau menerima dengan tiba-tiba tanpa alasan seperti ini. Lagian Ify nggak pernah berminat masuk di SMA glamore itu “ jujur Ify, pria yang berdiri di depan Ify tersebut tersenyum. Mengerti akan maksud dari ucapan pure Ify.

“Sebelumnya, kami tidak bisa mengatakan siapa atasan yang menyuruh kami. Namun, ini benar-benar perintah dan mau tidak mau Nona Ify harus sekolah disana. Semua ini demi nona Ify. “

“Perintah ? Ckkk —“

“ Siapa yang berani-merintah kayak gitu . Seenaknya saja!! “

“Kenapa juga kalian memanggil aku nona. Aku bukan nona kalian” ketus Ify yang mulai tak suka keberadaan 4 pria tersebut.

“ Silahkan difikirkan kembali, lusa pagi nona Ify sudah bisa masuk sekolah disana.”

“Nggak ada yang perlu difikirkan. Aku nggak mau!! “ tegas Ify .

“Saya harap Nona Ify benar-benar memfikirkannya sekali lagi,   Kami pamit dulu “ ke empat pria tadi sekali lagi dan bersama-sama membungkuk 45 derajat di hadapan Ify kemudian beranjak dari sana. Ify diam saja tak mempedulikannya.

“If—, Ify—, ha—, harus—, se—, seko—, sekolah—, di—, san—, sana “ujar sang kakek penuh harap.

“Tapi kek, Ify nggak ma—“

“De—, Demi—, Demi kakek” sang kakek menunjukkan wajah kesediannya dan harapannya kepada sang cucu. Ify menghembuskan nafas beratnya. Melihat wajah kakeknya seperti ini membuat dirinya tidak tega lagi. Ify terdiam sebentar, mencoba memfikirkan.

“ Kakek sangat ingin Ify sekolah disana?”

“I—Iya “ jawab sang kakek dengan jujur. Ify terdiam lagi selama beberapa saat.

“Ify fikirkan dulu ya kek” ujar Ify sambil tersenyum. Kakek mengembangkan senyumnya sedikit legah. Ify pun segera mengangkat dua kotak hitam tersebut dan membawanya ke kamarnya sendiri.

*****

Ify memasuki kamar sederhananya, ia menaruh kotak hitam tersebut diatas kasurnya. Dengan malas, Ify membuka dua kotak tersebut. Tidak ada yang spesial bagi Ify. Didalamnya terdapat dua seragam khas  SMA ARWANA yang setiap hari ia bisa ia lihat, 1 seragam olah raga, 1 baju renang SMA ARWANA dan 1 baju Lab SMA ARWANA dan perlengkapan lainnya seperti dasi, topi dll. Ify mengambil rok dari salah satu seragam tersebut.

“Waah—, rok gini aja harganya 2 juta “ ujar Ify sambil menggeleng-gelengkan kepalannya. Di sebelah rok tersebut masih ada bandrol harganya.  Ify menaruh rok tersebut di sembarang tempat, ia mulai tertarik pada kotak kedua berisikan tumpukan buku dengan judul bahasa inggris semua.  Ify membuka salah satu buku yang berjudulkan “ Business is money “ .

Cover buku tersebut tergambar 3 pria yang Ify tentu mengenalnya. 1 pria berwajah tua dan sudah ber-uban, satu lagi pria paruh baya dan 1 lagi pria yang terlihat muda diantara kedua pria lainnya.

“FREDI BOV U, Mario Haling, dan Bima Freedy Haling “ ujar Ify tanpa sadar, ia tersenyum ringan melihat foto ketiga pria tersebut yang menjadi cover buku itu.

Ify mulai membuka buku tersebut, semuanya menggunakan bahasa inggris, tidak ada translate bahasa indonesia disana. Ify membacanya, ia menemukan banyak kutipan-kutipan kalimat dari ketiga pria yang ia sebutkan tadi.

“Keren” ujar Ify dengan jujur. Ia menutup buku tersebut dan memasukkan kembali kedalam kotak hitam itu. Ify mendudukan tubuhnya diatas kasur. Ia terdiam sejenak.

“Apa gue harus sekolah disana? Aisshh—“

“Kenapa harus SMA ARWANA !!! “

Ify menghentak-hentakan kakinya di lantai, entah mengapa ia tak pernah ada feel  dengan sekolah glamore tersebut. Ify mendecak beberapa kali. Ify menimbang-nimbang apa keputusan yang harus ia ambil.

*****

Hari Minggu, adalah hari surga bagi Ify. Ia bisa ber-istirahat penuh di hari ini. Karena tak ada pekerjaan yang harus ia kerjakan. Di setiap hari minggunya, Ify menghabiskan waktu 24 jam.nya bersama sang kakek.

Pagi-pagi ini Ify telah membersihkan rumah dan halamannya. Ia juga sudah memandikkan kakeknya dan menyuapi sang kakek. Ify menghabiskan waktu bercanda bersama dengan kakeknya yang terbaring lemah diatas kasur. Ify menceritakan banyak hal kepada kakeknya tentang kejadian 1 minggu lalu yang ia alami baik di tempat kerjanya, di sekolah, di angkot dan di jalan.

“Kek—, Kenapa Ify nggak pernah boleh tau orang tua Ify? “ tanya Ify tiba-tiba dan membuat sang kakek langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ekpresi kakek berubah tajam seolah menyuruh Ify agar tidak bertanya kembali tentang orang tuanya.

Ify mendengus kesal, ia sudah tau akan jawaban sang kakek yang selalu seperti itu.

“2 pertanyaan saja kek. Apakah Ayah Ify cakep? “

“Apakah Mama Ify juga cantik ??” tanya Ify dengan cepat. Sang kakek diam saja.

“Jawab kek!! Sekali aja. Setidaknya Ify bisa membayangkan sendiri wajah mereka” jujur Ify dengan menunjukkan wajah sendunya. Melihat cucunya seperti itu, Ify menjadi tidak tega.

“I—Iya” jawab Kakek sambil meraih tangan cucunya. Ify lansung tersenyum seketika itu.

Sejak kecil, sampai sekarang yang Ify tau bahwa dirinya hanya hidup dengan sang kakek. Ia tidak pernah tau siapa ayahnya, siapa ibunya, siapa neneknya, apakah dia punya saudara ? siapa tentanya. Dia tidak pernah mengetahuinya. Sang kakek tak pernag sedikitpun bercerita tentang itu.

“Ayah Ify cakep, Mama Ify cantik. Mangkanya Ify kayak princess wajahnya. Iya kan kek??” canda Ify dan membuat sang kakek ikut tertawa.  Mereka bercanda didalam kamar sampai jam dinding menunjukkan pukul 1 siang, Kakek Ify pun terlelap dengan sendirinnya.

Melihat kakeknya sudah tertidur seperti itu, Ify memilih untuk kembali ke kamarnya. Ify ingin melakukan suatu pekerjaan yang sudah ia fikirkan sedari tadi.

Ify membuka lemari dua pintu berukuran sedang, Ify mengeluarkan beberapa seragamnya dan menaruhnya di atas kasur. Setelah itu, Ify mengambil seragam SMA ARWANA di kotak hitam tersebut. Ify mulai menatanya di lemarinya sendiri. Ify tersenyum sebentar.

“Demi kakek, Ify mau sekolah disana” ujar Ify pelan. Melihat kakeknya tertawa bahagia seperti tadi, membuat Ify tidak tega untuk mengecewakan kakeknya. Toh, bagi Ify sendiri sekolah dimana saja akan sama. Iya kan?. Mungkin— .

Ify mengumpulkan beberapa buku yang ia gunakan di sekolah lamanya, Ify menaruhnya di salah satu kotak hitam yang sudah kosong bersama dengan seragam sekolah lamanya. Kemudian Ify menata buku-buku SMA ARWANA di meja belajarnya. Buku tersebut terlihat sangat mewah sekali dan entah mengapa melihat buku-buku itu Ify menjadi bersemangat. Seperti ada kekuatan yang menyuruhnya untuk membaca buku-buku itu.

“Selamat tinggal sekolah lama, selamat datang sekolah baru “

******

DEENGG . . . . . DENG . . . . .

Jam dinding besar di  resepsionis berbunyi, dan itu menandakan Ify harus cepat-cepat mengganti seragamnya. Karena jam pekerjaanya telah selesai. Hari ini adalah hari pertama Ify memasuki SMA ARAWANA, yaitu SMA barunya.

Tak ada hal yang spesial bagi Ify, ia tidak menyiapkan apapun untuk hari ini. Ia akan sekolah seperti biasanya. Ia sama sekali tidak merasakan takut, atau nervous sedikit pun. Bahkan Ify sendiri tidak mendandani dirinnya sendiri supaya lebih sedikit cantik, mengingat SMA ARWANA berisikan siswa dan siswi berkelas semua. Ify tidak peduli dengan hal itu. Ia cukup menggulung semua rambutnya ke atas dan memakai bando plastik berwarna hitam.

Ify berangkat sekolah dengan menaiki bus kota yang bisa langsung ia tumpangi di depan hotel.

Ketika Ify masuk kedalam bus tersebut, Ify menemukan banyak anak-anak sekolah seperti dirinnya yang akan berangkat ke sekolah. Namun, mata mereka semua tertuju ke arah Ify. Bahkan banyak bisikan-bisikan riuh yang entah apa Ify sendiri tidak cukup jelas mendengarnya. Ify hanya bisa mendengar SMA ARWANA yang disebut-sebut oleh mereka. Ify tak peduli dan tetap diam saja.

Ify sendiri tidak akan kaget, sekolah mana yang tidak akan mengenal seragam khas SMA ARWANA dengan harga yang 2 kali lipatnya dari harga seragam SMA biasa, dan mungkin siswa-siswi tersebut kaget melihat salah satu siswi SMA ARWANA berangkat sekolah menaiki bus. Karena tidak ada story.nya bagi mereka anak SMA ARWANA tidak menaiki mobil mewah. Karena memang padaa kenyataanya, seluruh siswa dan siswi SMA ARWANA mengendarai mobil pribadi, bahkan di dalam SMA tersebut tak tersedia parkiran untuk motor. Yang ada hanyalah parkiran mobil yang sangatlah luas.

******

Ify turun dari bus tersebut, tepat di depan cafe ia bekerja, seluruh mata orang-orang di bus tersebut masih tak beralih pada dirinnya. Ify pun tetap memasang wajah cuek.nya. Karena memang ia sendiri tak merasa ada yang salah dengan dirinnya. Ify melihat ke arah cafe.nya bekerja, cafe tersebut masih belum buka.

“Setidaknya gue nggak akan jauh-jauh ke tempat kerja lagi “ ujar Ify mengambil hikmah dari pilihannya ini.

Ify pun segera menyebrang jalan, karena SMA ARWANA terdapat di sebrang jalan dari cafe.nya. Mobil mewah terus berlalu lalang mulai memasuki SMA tersebut. Mungkin hanya dirinnya saja yang berjalan kaki memasuki SMA tersebut. Ify menjalankan kakinya dengan santai dan tanpa beban. Mencoba tidak merasa terintimidasi dengan pemandangan glamore yang kini menyerbu kedua matanya.

Ify menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan berat, setelah itu ia melangkahkan kakinya lagi dengan cepat.

Ify melewati lorong sekolah, dimana terdapat siswa-siswi yang berada di depan kelas yang sedang sibuk dengan gadget  mewah mereka, atau mereka sedang berbincang serius mengenai pelajaran atau yang lainnya. Ify tak sebegitu mengindahkan dan tetap saja berjalan.

Langkahnya berhenti di salah satu madding besar, ia melihat ada denah lengkap dari SMA ini, Ify mencoba mencari dimana denah ruang kepala sekolah.

“Ini dia “ Ify menemukannya, ruang kepala sekolah tepat di center dari sekolah ini. Ify pun melanjutkan jalannya kembali.

BRUUKKKK

          Ify tak sengaja tabrakan dengan seorang gadis yang terlihat sedang terburu-buru sambil membawa beberapa tumpukkan buku. Ify pun membantu gadis itu untuk memunguti bukunya.

‘Maaf ya, Maaf banget “ ujar gadis tersebut masih dengan keadaan yang buru-buru. Penampilannya juga sedikit berantakan, ditambah wajahnya yang terlihat sedikit pucat.

“Nggak apa-apa “ ujar Ify dan memberikan beberapa buku yang ia pungut.

“Terima kasih banyak “ ujar gadis tersebut dan langsung meninggalkan Ify begitu saja. Ify melihat kepergian gadis itu, Ify memperhatikan gadis itu memakai tali sepatu yang masih belum terikat. Namun, Ify tak terlalu memperdulikannya dan melanjutkan lagi jalannya untuk ke ruang kepala sekolah.

******

Tak seperti di sekolahnya dulu, ketika ada murid baru pasti akan ada riuh-riuh dan gosip tak jelas, bahkan murid baru tersebut pasti dikepoin banyak siswa-siswi, namun disini, Ify tak merasakan hal tersebut. Semua siswa dan siswi disini nampaknya tak peduli. Mereka lebih memilih mengurusi kesibukan mereka masing-masing, dan Ify sangat suka dengan kesan pertama yang ditunjukkan oleh sekolah ini. Jadi, dirinnya tidak perlu susah-susah untuk beradaptasi atau mendengar gosip-gosip tak jelas tentang dirinnya. Mengingat dirinnya sendiri bukanlah orang kaya seperti murid-murid lainnya.

Jujur saja Ify sempat membayangkan bahwa hari pertamanya di sekolah ini akan seperti nasib Geum Jandi di darama korea F4 ( boys before flowers) yang pernah ia tonton dulu atau seperti The Heirs yang baru-baru ini ia tonton di Cafe tempatnya ia bekerja, karena memang sejumlah siswi SMA ARWANA, sangat suka mengulang-ulang dan menonton bersama drama korea tersebut.

“Mungkin mereka sedang melihat bagaimana kehidupan mereka sendiri “ satu kalimat yang Ify ucapkan kepada siswa dan siswi SMA ARWANA ketika melihat drama The Heirs di cafe tempat ia bekerja.

“Untunglah “ legah Ify karena ketakutannya tersebut sama sekali tidak terjadi dan ia sangat berharap tidak akan pernah terjadi.

*****

Ify memasuki ruang kepala sekolah, disana terdapat seorang wanita dengan postur tinggi dan cantik yang sedang berkutik dengan laptopnya. Di ujung mejanya terdapat markname yang terbuat dari ukiran kayu dengan tulisan “Mrs. Ara “ .

Ify cukup terkesimak dengan penampilan dari kepala sekolahnya tersebut yang menurutnya sangat cantik.

“Good morning “ sapa Ify kepada kepala sekolah tersebut yang langsung tersentak dengan kehadiran Ify tiba-tiba.

“Ah—, Kamu Ify kan ??” ujar Mrs. Ara yang langsung mengenali gadis cantik ini. Ify mengangguk-anggul saja.

“Silahkan duduk” Ify mengangguk lagi dan menuruti ucapan kepala sekolah tersebut. Ify mengambil tempat duduk di depan Mrs. Ara.

“Saya sudah baca riwayat kamu di sekolah-sekolah kamu yang dulu, dan saya sangat kagum dengan kepintaran kamu “ ujar Mrs. Ara to the point, dan entah mengapa Ify sangat suka dengan pujian yang tanpa basa-basi tersebut. Padahal Ify biasanya hanya menanggapi biasa jika orang lain yang memujinya. Bahkan ketika kepala sekolahnya di SMA dulu sering memujiny, Ify tidak merasakan sebahagia ini.

“sepertinya gue mulai ada feel dengan sekolah ini” batin Ify mulau berbicara.

“Terima kasih Mrs. Ara “ jawab Ify sambil menyunggingkan senyumnya.

“Di dalam sudah ada jadwal mata pelajaran serta beberapa perlengkapan kelas lainnya “ ujar Mrs. Ara memberikan sebuah amplop berwarna merah maron. Ify pun segera menerimannya.

“Kamu akan masuk di kelas  2-Gold “ Ify langsung kaget mendengar ucapan dari Mrs. Ara, ia tentu saja tau tentang bagaimana sistem pembelajaran SMA SWASTA ini, dimana sekolah ini tak ada yang namanya jurusan, IPA, IPS, BAHASA dan sebagainya. Yang ada hanya kelas  Gold, Silver dan Platinum.

Ify mengetahuinya dari perbincangan murid-murid di cafe tempat ia bekerja, Gold merupakan kelas berisikan orang-orang dengan kepandaian yang bisa dibilang diatas rata-rata, IQ terendah di kelas tersebut adalah 300, Silver bisa dikatakan dibawahnya Gold, dan Platinum tentunya dibawah dari Silver. Namun, pembentukkan dari kelas ini sendiri tidak menjadikan deskriminasi dari siswa dan siswi lainnya. Karena untuk kelas Silver dan Platinum , siswa dan siswi sendiri yang berhak memilihnya. Sedangkan untuk kelas GOLD adalah kelas pilihan yang sudah ditentukan dari pihak sekolah SMA ARWANA.

“ Kenapa? Kamu kaget saya memasukkan kamu kedalam kelas Gold ??”

“Bu—, Bukan sepe—“

“Saya tidak perlu menimbang-nimbang banyak, melihat kemampuan dan prestasi kamu memang pantas di kelas tersebut. “

“Terimakasih” jawab Ify yang tidak tau harus senang atau sedih atau takut. Perasaanya sekarang hanya entahlah —.

“ 15 menit lagi kamu akan masuk kelas 2-Gold bersama saya “

Ify mengangguk-angguk saja, Ia hanya bisa berharap sekolah barunya ini akan memberikan banyak pengetahuan luas baginya. Ify setidaknya sedikit bersykur ia bisa menjadi bagaian dari SMA ARWANA, dimana banyak murid-murid diluar sana yang menangis dan merengek-rengek ingin masuk di SMA glamore ini.

*****

15 menit kemudian. .

Bel sekolah telah berbunyi, Ify dan Mrs. Ara sudah siap untuk pergi ke kelas. Ify keluar dari ruang kepala sekolah, dan sekali lagi ia dibuat berkesan dengan sekolah ini. Bahkan ketika bel sekolah berbunyi tak ada 1 murid pun yang berada di luar kelas atau berkeliaran diluar. Semuanya sangat sepi, dan yang ada hanya guru-guru yang mulai berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar.

“Ayo Fy” ajak Mrs. Ara dan membuat Ify tersadar dari lamunannya. Ify pun berjalan mengikuti Mrs. Ara.

*****

Ify mulai memasuki kelas barunya, ia tak berani menatap kemanapun. Ia hanya menatap ke depan. Entah kenapa perasaanya mulai tak karuan. Berbeda dengan perasaannya ketika memasuki gerbang tadi pagi.  Ify berdiri di depan kelas menghadap ke seluruh siswa dan siswi 2-Gold bersama dengan Mrs. Ara . Ify sebisa mungkin mencoba biasa.

“Morning guys “

“Morning Mrs. “ serempak  seluruh anak-anak kelas. Ify menarik nafasnya dalam dan membuangnya dalam hitungan detik. Ia membernaikan diri untuk mengangkat wajahnya dan melihat bagaimana wajah-wajah dari teman-teman kelas barunya tersebut.

 

DEGGGGHHH

 

 

Bersambung . . . . .

7 thoughts on “CRUSHED – 1

  1. kaluk ini maksudnya apa? Ify hidup lagi?
    Oh come on kaluk, jangan buat siska bingung -_- next kak, harus buru2 di next.
    Wkwk

  2. hallo aku readers baru di sini… tpi aku udah baca smua cerita kak luluk.. smuax bgus2..bikin nangis…devil ,n smuax dehh.. pokokx smua good…
    smangat yah nulisx. jngan lama2 postx heheehe#ngarep

  3. Huaaaaaaa. Knapa ada yg nglanjutin ksengsaraan hidupnya alyn?!!. Ify yg kuat yaa. Alyn kmana ka luk??. Kgn alyn.
    Kali ini bikin happy ending ya…. Please

  4. Story of devil familynya dijadiin novel juga ka luk.

    Kgn Alyn, dya kmana??
    Knapa harus ada yg hidup menderita kaya Alyn lagi ka??. Ify yg kuat ya !!
    Please ka. Yg ini happy ending ya……

  5. hy luluk.. kak suka bget cerbung cerbung krya mu… bagus bagus bget…
    novel DELL nya bisa di pesan order juga gax?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s