CRUSHED – 5

CRUSHED – 5

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

Bel pulang terdengar meraung sampai ruang pelosok sekolah. Mendengar bel tersebut Ify terbangun dari tidurnya. Dengan mata setengah memerah, Ify segera bangun dan berdiri. Ia berjalan meninggalkan perpustakaan sambil mengenapkan nyawanya yang sepertinya masih tertinggal di perpusatakaan.

Ify melihat murid-murid lain mulai berhamburan keluar kelas. Ify tidak peduli banyak pasang mata yang melihatnya. Ia tetap berjalan menuju kelasnya,

Ify masuk kedalam kelas, sepi dan tidak ada siapapun didalamnya. Ify berjalan ke bangkunya. Sesampainya di kursi dan mejanya Ify terdiam untuk waktu yang sedikit lama. Ify mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“Aisshhh!!!” desis Ify penuh kekesalan. Ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Matanya seolah mencari sesuatu yang nampaknya hilang.

“Dimana lagi tas gue “ kesal Ify dan mulai mencari tas.nya di penjuru kelas. Memeriksa satu persatu kolong meja teman-teman kelasnya. Ify benar-benar sangat kesal sekali.

Ify tak menemukan tanda-tanda keberadaan tas.nya. Ia mencoba mencari sekali lagi mengelilingi kelas. Ify mencari sambil berjongkong bahkan merangkak. Berharap tasnya terlipat-lipat ditempat yang tak terlihat. Mungkin Ify sudah terlalu lelah sampai hal diluar nalar ia jadikan sedikit nyata.

Kalian semua memang sampahhh!!!” pekik Ify dengan nada suara yang mulai meninggi. Ify perlahan berdiri, membersihkan seragam olah raganya yang terpenuhi beberapa debu. Setelah itu ia langsung keluar kelas. Mencoba mencari tasnya yang entah kemana.

Ify mencari di setiap tempat sampah, di selokan sekolah bahkan di tempat-tempat yang paling tidak mungkin. Ify mengelilingi sekolah mulai dari sudut ujung ke ujungnya lagi. Bahkan Ify sampai mencari di parkiran sekolah. Merangkak melihat ke bawah mobil teman-temannya.

“Ada yang tau tas gue nggak?” tanya Ify ke beberapa temannya. Namun mereka hanya mengelengkan kepala, atau menjawab tidak tau.

Ify semakin frustasi, hampir semua tempat sudah ia kunjungi. Ify menghelakan nafas beratnya. Ia melihat ada kursi yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ify berjalan ke kursi tersebut dan memilih untuk istirahat sejenak. Nafasnya terasa hampir habis karena mencari tas.nya mati-matian.

Karena didalam tas Ify ada T-pad dan juga baju kerjanya dia. Ify sangat takut jika kedua barang pentingnya itu hilang. Ify hanya beristirahat selama 10 menit, kemudian ia berdiri kembali. Memilih untuk segera mencari tasnya.

Dari semua tempat yang sudah Ify cari, hanya tinggal 2 tempat saja. Yaitu gudang sekolah dan kolam renang sekolah. Dimana letak dari kedua tempat tersebut berada paling belakang sendiri di dena sekolah SMA ARWANA.

Ify mempercepat jalannya menjadi setengah berlari. Ia berlari ke arah belakang sekolah. Sesampainya di belakang sekolah, Ify mencari ke arah gudang sekolah terlebih dahulu. Ify tak menyangka bahwa gudang sekolah sangatlah lebar. Bahkan Bisa di bilang lebih lebar daripada rumahnya.

Ify masuk kedalam, gelap dan bau itulah yang dapat Ify rasakan. Didalam sama sekali tak ada penerangan. Ify masuk dengan hati-hati.

“Lepaskan saya!!!” Ify menghentikkan langkahnya ketika mendengar suara seorang gadis. Ify perlahan memundurkan langkahnya. Berniat untuk keluar saja.

“Bapak jangan macam-macam, saya bisa saja melaporkan kepada kepala sekolah” Ify berehenti sekali lagi. Ia merasa suara gadis itu sangat familiar ditelinganya.

“Lepaskan saya sekarang!!! Saya bukan cewek gampangan!! Saya benar-benar akan melaporkan ke kep—“

PLAAAKKKKK

 

          Suara tamparan dapat Ify dengar begitu jelas. Ify mulai cemas, ia tak tau harus bagaimana sekarang. Situasi saat ini benar-benar sangat kebetulan bagi Ify.

“Jangan pernah menelfon saya!! Jangan mengancam saya lagi dengan cara yang murahan!!! Saya sama sekali tidak pernah tertarik dengan anda! Jadi berhenti membuat hidup saya tersiksa!! “

Ify segera mencari persembunyian di belakang tong sampah yang besar yang terletak tak jauh dari dirinnya ketika mendengar suara langkah sepatu yang mendekatinya. Ify berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Ify sedikit mengintip, mencoba memastikan apa benar suara gadis itu adalah gadis yang ada difikirannya saat ini.

 

“Waah—“ batin Ify tak percaya bahwa dugaannya memang benar. Gadis yang keluar dari gudang sama dengan gadis yang ditebak oleh Ify.

“Kenapa dia menangis?” Ify nampak berfikir, ia sempat melihat gadis itu berjalan dengan langkah cepat dengan isakan ringan. Walaupun keadaan gelap, setidaknya cahaya dari ventilasi kecil gudang dapat menampakkan sedikit wajah gadis itu.

Tak lama ketika gadis itu keluar, Ify menangkap sosok pria bertubuh tinggi mulai keluar dari gudang. Ify menutup mulutnya yang sempat terbuka karena saking kaget sekaligus binggung.

“Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan disini ??

Ify terdiam cukup lama, ia mencoba memastikan bahwa dua orang yang ia lihatnya tadi benar-benar sudah menghilang dari gudang dan tidak akan kembali ke gudang. Setelah meyakinkan situasi aman didalam maupun diluar Ify perlahan keluar dari persembunyiannya.

“Entahlah, itu bukan urusan gue” simpul Ify. Ia pun kemudian meneruskan untuk mencari tas.nya yang merupakan tujuan awalnya ia datang ke gudang.

Ify mencari sampai bagian terdalam dari gudang. Ia mengobrak-abrik barang-barang yang ada digudang kurang lebih 30 menit, dan hasilnya tetap nihil. Ify tidak bisa menemukan dimana tasnya. Perlahan Ify keluar dari gudang, mencari udara segar diluar. Karena memang keadaan didalam gudang sangatlah pengap, gelap dan bau.

Ify menghela nafas berat beberapa kali. Kemudian tak menunggu lama, Ify segera berjalan ke arah kolam renang sekolah. Tempat harapan terakhirnya.

“Siapa pun yang nyembuyiin tas gue, gue sumpahin hidupnya nggak akan tenang!!! “ kesal Ify penuh dengan kebencian.

Kolam renang SMA ARWANA terletak didalam ruangan, seperti sebuah Hall atau Dome  yang luasnya bisa dikatakan lumayan besar. Ify memasuki Hall  kolam renang.

Ketika Ify masuk kedalam. Ia tak menemukan siapa pun berada di dalam sana, namun ia dapat melihat jelas tas.nya mengambang sempurna  ditengah kolam renang. Ify terkejut bukan main dan segera berlari ke arah kolam renang tersebut yang luasnya bukan main.

“AAGHHSS!!!! “ umpat Ify menahan emosinya.

Ify melihat dengan sendu nasib tas.nya yang mengapung tak berdaya disana. Ify menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang mau membantunya. Namun, didalam kolam renang ini tak terlihat makhluk apapun. Bahkan seekor semut saja tak nampak jua.

“Gimana ini ??” binggung Ify. Ia tak tau harus berbuat apa. Karena seumur hidupnya ia tidak pernah berenang, jangankan mencelupkan badanya ke kolam renang, mencelupkan kukunya saja ia tidak pernah.

“Kalau gue nggak ngambil nasib barang-barang gue —“

Ify terdiam beberapa saat, mencoba berfikir keras sekali lagi. Perlahan Ify berjalan lebih dekat kearah kolam renang. Ia melepaskan kedua sepatunya terlebih dahulu. Setelah itu ia melihat kolam renang kembali. Letak tasnya tepat berada di tengah-tengah. Perfect place.

“Aisshhh—“ Ify mendesis sekali lagi. Perlahan ia mencoba menyentuhkan pergelangan kaki kirinya ke dalam air. Namun dalam hitungan kurang dari 5 detik, Ify mengeluarkan kakinya dengan cepat.

“Ahh— menakutkan” ringgis Ify nampak sekali takut. Bahkan wajahnya terlihat mulai memucat.

Ify sekali lagi mencelupkan pergalangan kakinya. Kini kaki kanan lah yang ia celupkan. Ify berniat untuk mulai masuk kedalam kolam renang. Namun—,

 

BRYYUUUUUURRRRRR

Tubuh Ify terdorong jauh, Tubuhnya menghantam air dengan keras. Seseorang mendorong Ify dari belakang.  Ify masuk kedalam air yang lumayan dalam, kurang lebih 5 meter. Ditambah lagi Ify tidak dapat berenang ketakutan Ify semakin menjadi.

“HAHAHAHAHAHAHA”

Ify berusaha untuk mengapung keatas, berusaha semampu mungkin. Ia dapat mendengar dengan jelas suara seorang gadis yang tertawa dengan puas. Sampai akhirnya Ify benar-benar bisa memunculkan kepalannya ke atas.

“ Ash—, Ashil, tolong gue!!! “ ujar Ify tak beraturan, kepalannya perlahan tenggelam kembali, Ify mengangkat tangannya keatas berharap ia bisa muncul kembali ke permukaan. Keadaan Ify saat ini bisa disamakan dengan seekor lalat yang dimasukkan kedalam air. Diambang hidup dan mati.

“ Tolong ?? Nggak akan!!! “ ujar gadis yang mendorong Ify yang tak lain adalah Ashil. Gadis itu melihat Ify dengan tatapan benci.

“Ash—“

“Ashil—, gu—, gue nggak bisa berenang!!”

“Tol—, Tolong!! “Ify berulang-ulang tenggelem kemudian muncul ke permukaan. Ia berusaha semampu mungkin agar tetap muncul di permukaan, walaupun rasanya sangat susah. Karena memang ia tidak bisa berenang. Untuk mengapung saja sangatlah susah.

“Harus gitu gue nolong lo???”

“Mampus aja lo disana!!! “

“HAHAHAHAHAHA” Ashil semakin menjadi, ia perlahan berjalan mundur dengan langkah yang pelan.

“Selamat berenang Ify. “

“Bye “

Kemudian gadis itu membalikkan badannya, ia seolah tak peduli dengan nasib Ify yang hampir kehabisan nafas. Ashil benar-benar meninggalkan Ify begitu saja.  Bahkan tanpa menatap balik ke arah Ify.

“Ash—, Ashil TOLONG!!!” teriak Ify sedikit kencang, kemudian ia tenggelam kedalam kembali.

****

Rio berjalan ke arah belakang sekolah. Ia sebenarnya sudah sampai di parkiran mobilnya. Namun, ia ingat bahwa jaketnya ketinggalan di loker hall  kolam renang. Rio sangat suka berenang, bahkan ketika ia ingin bolos kelas atau malas pulang kerumah tujuan utamannya adalah kolam renang. Bagi Rio air adalah sahabatnya.

Rio melewati gudang sekolah yang jaraknya tak jauh dari kolam renang berada. Ketika ia hampir sampai di kolam renang, Rio melihat Ashil keluar dari kolam renang dengan wajah yang penuh kebencian. Rio mengernyitkan kening. Binggung sekaligus heran tentunya.

“Ngapain dia  ke kolam renang ??”

“Bukannya dia nggak pernah bisa berenang?”

Rio mengangkat kedua bahunya, menandakan dia tak bisa mendapat jawaban dari dua pertanyaan yang ia lontarkan sendiri, ia melihat kepergian Ashil yang sama sekali tak menatapnya dan hanya melewatinya begitu saja. Rio pun tak ada masalah dan tak berniat untuk menyapa. Karena hubungannya dengan gadis itu terlihat tak sedekat itu. Mungkin.

Rio meneruskan jalannya, ia memasuki Hall kolam renang dengan langkah tenang dan santai.

To, Tolong—!!! “

Rio mendengar suara seorang gadis beserta suara percikan air yang dikibas-kibas. Rio sedikit mempercepat langkahnya. Perasaanya mulai tak enak ketika mendengar suara gadis itu.
“Ify ??” kaget Rio melihat Ify berada di tengah kolam renang dengan keadaan yang sedikit  tragis.

“Tol—, Tolong gue!!!” teriak Ify sedikit keras. Ia mencoba untuk mengkat kepalannya lagi yang hampir saja tenggelam.

“Apa yang lo lakuin ??” Rio malah tidak langsung membantu gadis itu, melainkan malah memarahi gadis itu.  Ify mencoba melihat siapa pria itu.

“Rio—“

“Udah gue peringatin, jangan panggil nama gue!! “ potong Rio dengan cepat dan sedikit tajam.

“Rio—,  Rio—, tolong gue!! Gue nggak bisa renang !!! “ tenaga Ify sudah berada di ujung. Energinya hampir habis untuk berusaha kepermukaan. Kakinya mulai terasa kaku, bahkan kaki kanannya sudah terdapat tanda-tanda keram. Otot tangannya pun mulai menegang akibat kelamaan mencoba terangkat keatas.

“So—?” Rio nampak sama sekali tak peduli. Bibir Rio terangkat sebelah.

“Tolo—, Tolong gue, Gue mohon—, Gue udah nggak kuat!! “

“Bodo amat!!”

“aww—“ ringis Ify pelan. Kedua kakinya keram, perlahan kedua tangan Ify kebawah. Ify benar-benar sudah tak kuat. Sebelum Ia benar-benar tenggelam dan tak bisa keatas permukaan kembali. Ify menatap Rio dengan penuh memohon.

“Rio, gue mohon tolong—“

“gue—“

Kalimat terakhir yang Ify katakan, setelah itu gadis itu benar-benar tenggelam kedalam. Ia sama sekali tak ada tenaga lagi untuk keatas. Kedua kakinya sudah keram dan tak bisa dirasakan. Otot tangannya pun kaku.

“Kenapa harus gue ??”

“Keluar aja sendiri!!”

Rio menatap ke arah tempat Ify berada di air tadi, Rio menunggu Ify untuk keatas kembali. Seperti beberapa detik yang lalu ia melihat Ify susah payah memunculkan kepala dan kedua tangannya seperti katak tenggelam.

“Eh—“

“Kok dia nggak muncul ???”

Rio mulai sedikit panik, ia menelan ludahnya. Perlahan Rio mendekat ke arah kolam renang. Mencoba melihat dimana keberadaan Ify saat ini. Jujur saja ia sebenarnya tak tau Ify bisa renang atau tidak. Ia mengira Ify bisa berenang. Karena Rio sendiri orangnya tidak pernah peduli dengan orang lain.

“Oh shit!! “

“Kenapa selalu gue yang lo susahain!!! “

Rio dengan cepat membuang tasnya ke sembarang arah, kemudian tanpa melepaskan kedua sepatunya Rio langsung menyebur kedalam air. Ia dapat melihat bayang-bayang dari tubuh Ify yang sudah berada dibawah sana seperti tubuh batu yang tenggelam dan sama sekali tak bergerak.

Rio dengan cepat berenang kedalam, keahliannya berenang tak usah di ragukan. Rio mendekat ke arah tubuh Ify, ia langsung meraih tangan kanan Ify dan menarik tubuh gadis itu secepat mungkin. Rio tak ingin sampai berakibat fatal. Apalagi hanya dia saja yang berada di tempat ini.

“Assshh—“ Rio berhasil keluar dari air dan muncul ke permukaan bersama dengan tubuh Ify yang sudah tak sadarkan diri. Wajah Ify terlihat sangat pucat, bibirnya putih pasi.

“Fy, bangun!!! “

Tak ada tanda-tanda jawaban dari Ify, Rio segera membopong tubuh Ify dan menaikannya ke atas. Dengan cepat Rio pun naik keatas. Rio segera meberi pertolongan pertama yang ia bisa.

“Denyut nadinya lemah” ujarnya ketika mengecek detakan nadi di pergalangan tangan kanan Ify.

Rio tak berfikir apapun lagi selain membuat gadis ini terasadar, karena jika terjadi apa-apa dengan gadis ini, Rio dapat memastikan hidupnya tidak akan tenang setelah ini. Ia akan ikut terseret dalam masalah ini. Karena dia adalah saksi utama dari kejadian – yang sama sekali tak pernah ia harapkan!!!

Rio memberikan nafas buatan berulang-ulang, menempelkan bibirnya ke bibir Ify. Menekan-nekan dada Ify beberapa kali, setelah itu memberikan nafas buatan lagi. Rio melakukannya kurang lebih 5 kali. Namun sama sekali tak ada balasan dari tubuh Ify.

“Bodoh!!! Bangun !!! “

“Ify bangun, please!!! “

Rio menekan dada Ify sedikit lebih kencang, kemudian memberikan nafas buatan kembali.

“Lo jangan nyusahin gue dong!! “

“Ayo sadar!! “

Uhukkkk . . . . Uhuukkkk

Rio langsung terduduk dengan nafas penuh kelegahan, Gadis itu terbangun dan memuntahkan banyak air. Matannya masih terbuka setengah, tatapannya sangat kosong.

“Lo nggak apa-apa?” tanya Rio begitu saja. Perlahan mata Ify mengarah ke Rio. Ify tak bisa menjawab apapun.  Keadaannya masih sangat lemah. Ia merasakan bibirnya keluh. Ia mencoba untuk mengeluarkan suara, namun sama sekali tak bisa. Bahkan tangan dan kakinya juga tak bsia digerakan.

“Lo nggak apa-apa kan?”tanya Rio sekali lagi karena tak ada jawaban dari Ify. Ia sedikit mencium bau-bau tak beres untuk kedua kalinnya. Ify mencoba menggelengkan kepalannya, walaupun sangat berat gadis itu berhasil menggelengkan kepalannya walau hanya terlihat satu gerakan saja. Untung saja Rio dapat menangkap gerakan tersebut.

“Lo tunggu disini, jangan mati! “

Rio membangunkan dirinnya, ia berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Ify sendiri dengan tubuh mematung.

*****

Tak selang berapa lama, Rio kembali dengan membawa sebuah jaket. Rio sedikit berlari untuk sampai di tempat Ify terbaring. Setelah berada di hadapan Ify, Rio berjongkok kembali.

Perlahan Rio menarik baju Ify, berniat untuk melepaskan baju olahraga bagian atas Ify. Baru setengah jalan Rio mengangkat baju Ify, gadis ini langsung menahan tangan Rio dengan tangannya yang tergerak sangat lemah. Mata Ify menatap Rio dengan menunjukkan wajah kagetnya. Ify menggelengkan kepalannya, memberi tanda agar Rio tidak melakukannya.

“Gue nggak tertarik dengan tubuh lo! “

“Gue nggak mau di tuduh bunuh anak orang !!”

“So—, “

“Put down !! “ Rio dengan kasar menepis tangan Ify yang memegangi lengannya,  sehingga tangan itu terjatuh tak berdaya begitu saja.
Ify hanya bisa pasrah tak bisa apapun. Tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat ketika Rio benar-benar mengangkat bajunya dan melepaskan bajunya. Ify menutup matanya rapat-rapat. Malu bercampur takut tentunya. Ia tak punya kekuatan saat ini untuk menolak atau mencegah Rio. Toh, pada kenyataanya juga tubuh Ify terasa dingin bukan main.

Rio membuka baju Ify dengan ekspresi datar dan dingin, bahkan bisa dikatakan tak ada ekspresi sama sekali. Rio dapat melihat jelas kulit putih tubuh bagian atas Ify, Rio melihat secara sure tubuh Ify yang kini hanya tertutupi dengan Bra  berwarna navi.

Setelah mengeluarkan bagian atas baju Ify dari tubuh Ify, Rio segera memakaikan jaket yang ia ambil tadi ke tubuh Ify. Dan ekspresi Rio sedari tadi pun tak ada yang berubah sedikitpun. Mimik  mukanya datar, seolah bahwa didepannya adalah sebuah boneka yang sedang ia pakaikan baju.

“Buka mata lo! “ ujar Rio dingin, perlahan Ify membuka matannya dengan takut-takut. Ia melihat ke tubuhnya yang kini telah tertutupi dengan sebuah jaket berwarna grey pekat.

Rio berdiri dari posisinya, ia melihat Ify yang masih terbaring seperti itu. Ify tak berani membalas tatapannya.

“Lo bisa bangun sendiri kan ?” ketus Rio tak ada baik-baiknya. Ify tak menjawab.

“Cishh—, gue peringatin lo untuk terakhir kali!!! “

“Jangan pernah panggil nama gue lagi. Sampai itu terjadi, gue bener-bener akan bunuh lo!!! “

Ify mengigit bibir dalamnya, jujur saja ia sedikit merasa bersalah karena merepotkan pria disampingnya ini. Ify sendiri tak menyangka bahwa Rio akan datang ke kolam renang saat kejadian tadi. Ify sudah berhutang 2 kali kepada Rio.

“Lo bener-bener nyusahin!!!”

Rio kembali berjongkok, kemudian ia membopong tubuh Ify kembali. Berniat untuk membawa gadis itu ke UKS karena kondisinya sangat lemah.

“Yo—“

Udah gue katakan berapa kali!! Jangan pernah nyebut nama gue lagi!!! “ teriak Rio dengan kasar tepat dihadapan wajah Ify. Rio mengambil nafas sebanyak-banyaknya, mencoba menahan emosinya.

“Sekali lagi gue denger mulut lo nyebut nama gue—“

“Nggak segan-segan gue banting tubuh lo sekarang!!” tajam Rio.

“Ta—, tas—, tas gue” lirih Ify lemah. Ia tak peduli dengan segala amarah Rio barusan.

“What ??”

“Ta—, tas—, tas gue tenggelam “ jawab Ify dengan wajah memohon.

“Cihh—“

“Lo hampir mati ? dan lo khawatirin tas lo ??”

“To—, Tolong ambilin—“

“Gue bukan babu lo!! Ambil sendiri!! “ jawab Rio dengan nada sinis. Posisinya pun masih dengan tangan membopong Ify.

“Terakhir kali—“ mohon Ify kepada Rio dengan wajah memelas. Rio mendesis kesal.

“Gue akan suruh orang ambil tas lo, sekarang ke UKS dulu “ jelas Rio kembali dengan ekspresi dingin dan datar. Ify mengangguk pelan menuruti ucapan Rio.

Rio melangkahkan kakinya keluar dari hall  kolam renang dengan tubuh Ify yanga ada dibopongannya. Untung saja sekolah hampir tak ada orang. Mungkin hanya beberapa cleanning service  dan beberapa murid yang masih ber-tenger di kelas.

Rio melewati koridor sekolah, beberapa anak melihat Rio dan ify yang seperti itu dengan kaget. Namun, Rio sama sekali tak peduli. Ia tetap berjalan dan menatap ke depan. Menganggap bahwa tidak ada siapapun yang melihat dirinya dan Ify.

*****

Rio masuk kedalam UKS, ia disambut oleh dr. Kris yang untung saja masih berjaga dan belum pulang. Dr.Kris terlihat kaget ketika melihat dua murid tersebut yang dalam keadaan basah kuyup.

“Kenapa kalian berdua ??”

“Apa yang telah terjadi ??” kaget dr.Kris dan segera bangkit dari kursi kerjanya. Ia segera mendekati Rio yang sudah berjalan ke salah satu bilik, dan meletakkan Ify diatas kasur.

“Dia tenggelam di kolam renang, dan hampir mari. Denyut nadinya lemah, kakinya sepertinya keram” jelas Rio sesuai dengan analisa yang ia lihat. dr. Kris mengangguk dan segera memeriksa kondisi Ify.

“Dok pinjam handphone.nya “ ujar Rio sambil berjalan keluar dari bilik tersebut. Nampaknya, Rio sudah sangat dekat dengan dr.Kris, tanpa menunggu jawaban dari dr.Kris Rio mendekati meja kerja dr.Fans dan mengambil ponsel pria itu yang tergeletak begitu saja di atas tumpukan kertas.

Rio memainkan ponsel tersebut dan mencoba menghubungi seseorang.

 

“Ambil dua tas disana, dan segera bawa ke apartemenku “

 

 

“Lakukan sekarang “

Rio menutup sambungan panggilannya, bersamaan juga dengan keluarnya dr.Kris yang terlihat telah selesai memeriksa Ify. Rio menarik kursi yang berada di depan meja dr.Kris.

“Kondisinya sudah tidak apa-apa, tapi tubuhnya masih lemah, dia mengalami sedikit shock. Seb—“

“Jangan pernah tanya apa yang telah terjadi !!” potong Rio mengancam dr. Kris.

“Fine, Fine “ serah dr.Kris kalah start dari Rio.

“si bodoh itu beneran sudah tidak apa-apa ??”

“Si bodoh ??” binggung dr.Kris

“gadis itu “ ujar Rio menjelaskan kembali.

“Dia sudah tidak apa-apa. Tapi unt—“

“Baiklah, kalau gitu urusan saya sudah selesai dok” Rio berdiri dari kursinya. dr. Kris menatap Rio binggung.

“Mau kemana kamu ?” tanya dr.Kris dengan ekpresi yang masih sama, terlihat sangat binggung.

“Pulanglah “ jawab Rio santai.

“Pulang ? lalu gadis itu ??”

“Aishh, dokter bilang dia sudah nggak apa-apa kan. Biar pulang sendirilah “ jawab Rio tanpa beban.

“Tap—“

“Saya pulang dulu dok. Bye “ Rio langsung ngeluyur keluar dari UKS, tak mempedulikan ucapan dr.Kris yang meneriaki namanya berulang-ulang dan berusaha mengejarnya. Rio sama sekali tak peduli.

*****

Ify memilih stay  di UKS selama kurang lebih 3 jam lamannya. Ia terpaksa tidak masuk kerja. Kondisinya perlahan mulai membaik. Kaki dan tangannya sudah bisa ia gerakkan. Obat yang diberikan oleh dr.Kris bekerja dengan cepat di tubuhnya.

Setelah merasa tubuhnya lebih enak, dan bisa bangun. Ify segera bangkit dari kasur. Ia ingin cepat-cepat pulang kerumah dan ber-istirahat kembali. Meskipun kondisinya sudah membaik, namun rasa sakit serta dingin ditubuhnya masih terasa menyengat.

“Terima kasih dok, maaf merepotkan “ ujar Ify ke dr.Kris.

“Kamu pulang naik apa ?” tanya dr.Kris kepada Ify.

“memangnya kenapa dok?” tanya Ify balik sebelum menjawab pertanyaan dr.Kris.

“Kalau kamu tidak ada yang menjemput atau tidak membawa mobil, saya akan antarkan kamu pulang “ ujar dr.Kris sambil membereskan berkas-berkasnya kedalam tas. Ify terdiam sesaat.

“Nggak usah dok, saya akan pulang sendiri . “

“Maaf telah merepotkan “

Setelah pamitan, Ify langsung memilih keluar dari UKS, langkahnya beriringan secara pelan,  Ia berjalan sedikit demi sedikit. Ify berjalan dengan memegangi tembok dinding yang ada di sepanjang koridor sekolah. Tubuh Ify masih terasa lemah. Ia berharap, ia dapat pulang kerumah. Tubuhnya kuat untuk diajak kerjasama.

“Aw—“

“Kamu nggak apa-apa ?” Ify hampir saja terjatuh, tapi untung saja dr.Kris tiba-tiba datang dari belakang dan menangkap tubuh Ify. Tiba-tiba Ia merasa pusing dikepalannya. Rasanya sangat sakit seperti ada yang menacapkan pisau-pisau besar diatasnya.

“Saya merasa pusing dok” jujur Ify sambil memegangi kepalanya. dr.Kris menyentuh dahi Ify dengan belakang telapak tangannya.

“Panas, —“ ujarnya saat menyentuh dahi Ify.

“Sepertinya kamu mulai demam Fy “lanjut dr.Frans, mendengar ucapan dr.Frans Ify mengumpat penuh kekesalan. Ia tak pernah sakit seperti ini, ia selalu menjaga kondisinya agar tetap sehat dan fit. Karena ia sadar bahwa jika ia sakit tidak ada tempat untuk ia pergi, mengaduh atau merawatnya. Ia tau bahwa dirinya sama sekali tidak punya teman. Meskipun dirumah terdapat kakeknya, itu pun tidak akan mungkin karena kakeknya sendiri juga sedang sakit.

“Sebaiknya kamu dirawat terlebih dahulu di rumah sakit “ usul dr. Kris demi kebaikan Ify. Namun, gadis ini langsung menggeleng keras.

“Nggak usah dok, saya hanya butuh istirahat saja”sahut Ify dengan cepat.

“Tap—“

“Saya mohon dok, bawa saja saya ke rumah saya, saya sama sekali tidak ingin kerumah sakit “ mohon Ify kepada dr.Kris, suara Ify mulai terdengar serak. Melihat Ify memohon seperti itu membuat dr. Kris tidak tega.

“Baiklah saya akan mengantarkan kamu pulang ke rumah “

*****

Malam hari . . . .

Tepat jam 9 malam, Riyel membawa mobilnya keluar rumah, Ia keluar dengan memakai baju yang cukup rapi. Sang Mama saja sampai binggung kemana anaknya tersebut akan pergi. Ketika ditanya pun Riyel hanya menjawab bahwa dia hanya keluar 30 menit saja tidak lebih. Riyel mengendarai mobilnya dengan kecapatan sedang,

10 menit kemudian, pria ini sampai di tempat tujuannya. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah supermarket. Yah, supemarket yang di datanginya semalam.  Riyel keluar dari mobilnya, kemudian ia berjalan memasuki supermarket tersebut.

Ketika ia masuk, matanya langsung terarahkan ke meja kasir. Riyel mengernyitkan keningnya ketika melihat kasir tersebut adalah seorang pria. Kemudian Riyel mulai mengalihkan pandangannya, dan mengedarkannya ke seluruh penjuru supermarket. Ia layaknya seorang pelacak yang sedang mencari sesuatu.

“Kemana anak itu ?” batinnya tanpa bersuara. Riyel perlahan mendekati rak minuman. Ia mengambil beberapa minuman secara acak kemudian membawanya ke meja kasir.

“Apa ada pesanan yang lain ?” tanya kasir tersebut sambil mulai mengakumulasikan barang-barang belanjaan Riyel.

“Em—, itu— “

“Kasir cewek yang kem—, yang kemarin kemana ?:” tanya Riyel sedikit ragu. Namun apa daya ia sudah terlanjur mengucapkannya.

“Siapa? Ify maksudnya ?:”

“Iya sipenjaga supermarket, eh—, maksudku si Ify “ ralat Riyel dengan cepat.

“Oh— si Ify lagi sakit katannya “ jawab pria itu dengan santai. Ia menjawab jujur setahunya.

“Sakit ? sakit apa ?” tanya Riyel yang namoaknya mulai penasaran.

“Entahlah, saya juga tidak tau. —“

“Ini totalnya semua 97.600 “ ujar petugas kasir tersebut. Riyel pun segera mengeluarkan uangnya dan membayar barang belanjannya. Setelah itu ia keluar dari supermarket dan masuk ke mobilnya.

Riyel terdiam beberapa saat di dalam mobil, ia mencerna kembali kata-kata dari petugas kasir tadi. Riyel mendecak kebinggungan.

“Dia sakit ?”

“Apa karena siraman makanan gue tadi pagi ??”

“Wahh—, berarti sakti banget deh mantra gue , Hahahahaha”

“ Bodo amat lah!! Ngapain juga gue ngurusin si penjaga supermarket “

“Riyel sadar sadar!!! Sadar sekarang !!! “ ujar Riyel tak jelas.

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s