CRUSHED – 6

CRUSHED – 6

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

Alaram Ify berbunyi, dengan keadaan setengah sadar Ify mematikan alarm.nya. Ify mencoba bangun dari tempat tidur. Kepalannya masih terasa barat. Bahkan tubuhnya lebih terasa lemah dari kemarin siang. Ify melirik ke jam beker yang tak jauh darinya sekarang. Arah jarum jam menunjukkan pukul 3 a.m .

Ify menghela nafas beratnya, ia merasakan tubuhnya panas. Mungkin ia terkena demam. Namun, Ify mencoba memaksakan untuk kerja. Ia tak ingin gajinya terpotong lagi. Ia yakin bahwa dirinnya masih kuat.

Pukul 4 a.m Ify keluar dari rumahnya, Ia berjalan perlahan-lahan, rasa pusing dikepalannya terasa nyut-nyut.an, Namun Ify tetap berusaha untuk menahannya. Ia harus kerja pagi ini. Ia tak ingin memanjakan tubuhnya yang sedang dalam kondisi rentan. .

“Ayo Ify kamu kuat “ ujarnya dengan suara sedikit serak.

Ify memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. Malam ini begitu terasa dingin bagi Ify. Bahkan dinginnya, sampai menyengat setiap tulang-tulang yang ada ditubuh Ify. Ify terus saja berjalan menuju hotel tempat ia bekerja.

Setelah bekerja Ify langsung memilih berangkat ke sekolah. Ify memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Namun, Ify dapat menemukan sebuah tas berwarna navi diatas bangkunya. Tas tersebut tak lain adalah miliknya. Ify tersenyum penuh kelegaan dan dengan cepat berjalan mendekati tasnya. Ia butuh mengecek barang-barang yang ada di dalamnya.

Ify membuka tas.nya. Ia menemukan T-pad  dan ponselnya berada didalamnya. Ify mencoba menyalakan kedua barang pentingnya tersebut.

“Syukurlah,  bisa—“ ujar Ify mengembuskan nafas beratnya. Setelah memastikan barang-barangnya dalam keadaan yang tidak apa-apa. Ify mengedarkan pandangannya. Ia seperti sedang mencari seseorang.

“Bagaimana bisa tas ini disini? Siapa yang membawannya ?” binggung Ify. Namun, sedetik kemudian Ify tidak mempedulikannya lagi. Ia memilih duduk di kursinya. Karena kepalanya semakin terasa pusing, bahkan tubuhnya jika di sentuh akan terasa sangat panas.

“Lebih baik aku tidur sebentar “ lirihnya. Perlahan Ify melipat kedua tangannya diatas meja, kemudian kepalanya ia senderkan pada tangannya tersebut yang ia jadikan bantal. Ify mencoba untuk memejamkan matannya.

Jam pelajaran pertama telah di mulai, semua murid kelas 2-Gold mengikuti pelajaran seperti biasannya. Namun, bagi Ify hari ini sangatlah luar biasa, pelajaran yang dijelaskan oleh guru didepan sama sekali tak masuk di otaknya. Kepala Ify berkali-kali akan terjatuh jika saja ia tidak segera menyanggah kepalannya.

Ify menghelakan nafas jengkel kepada tubuhnya sendiri. Ify merasakan kedua tangannya mulai bergetar. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Kedua mata Ify tak bisa terbuka secara sempurna. Namun, ia masih tetap mencoba menguatkan tubuhnya mengikuti pelajaran tersebut.

“Please—, gue mohon lo jangan manja Fy “ lirihnya pelan.

Riyel sedari tadi sudah menyadari bahwa gadis yang duduk disampingnya tersebut sedang tidak apa-apa. Karena ketika ia memasuki kelas, ia sudah mendapati Ify tertidur, dan saat ini gadis itu terlihat sangat pucat.

Riyel berkali-kali melirik ke arah Ify, ia ingin berniat bertanya namun rasa gengsinya begitu sangat besar. Sehingga ia urungkan niatnya tersebut.

“Bodo amat ah—“ ujarnya kesal kepada dirinnya sendiri. Riyel pun memilih untuk tidur saja. Ia tak ingin capek-capek memfikirkan orang lain yang sama sekali tak penting untuknya.

Bel istirahat berbunyi, akhirnya malaikat kebaikan tiba tepat waktu di SMA ARWANA. Semua murid seperti biasanya, mereka berhamburan keluar kelas lebih tepatnya menuju ke kantin sekolah untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Ashil bangun dari tempat duduknya, setelah itu ia berjalan ke arah bangku belakang. Ia melihat dua orang penghuni meja di belakang sama-sama sedang tertidur. Namun, Ashil tidak ada urusan dengan orang sebelah kanannya, ia hanya ada urusan dengan pria yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Wooii—“ panggil Ashil kepada Riyel. Riyel menatap Ashil dengan heran.

“Apa?”ketus Riyel. Ashil tak menjawab pertanyaan Riyel melainkan menyodorkan ponselnya kepada Riyel, Kemudian, Riyel segera menerimannya.

Ashil menunjukannya sebuah pesan sms yang lumayan panjang, Riyel membaca dengan seksama. Perlahan raut wajahnya berubah menjadi serius. Matanya bergerak tak pasti ketika melihat layar ponsel tersebut.

“Kapan lo nerima sms ini?” tanya Riyel setelah membaca pesan tersebut.

“Semalam—“ Ashil langsung meraih kembali ponselnya dan memasukkan ke saku seregamnya.

“Gue hanya ingin nunjukin ke lo aja—“ wajah Ashil perlahan terlihat kosong.

“Well—, urusan gue udah selesai” lanjutnya ketika tersadar dari lamunannya. Pandangan Ashil tiba-tiba teralih ke bangku sampingnya. Lebih tepatnya ke Ify.

“Woii!!! Penjaga supermarket. Lo fikir ini hotel? Bangun Woii—“ teriak Ashil sedikit keras dengan sengaja.

“Jangan ganggu gue—“ balas Ify dengan suara tak ada tenaga. Ify sama sekali tak membangunkan tubuhnya dan tak menatap Ashil. Melihat Ify yang seperti itu membuat Ashil ingin sekali menganggu gadis tersebut.

BRAAAKKKKK

Ashil dengan sengaja menendang meja Ify dengan kakinya dan membuat meja tersebut bergerak-gerak. Ify mendengus kesal. Perlahan ia mengangkat kepalannya dan menatap Ashil dengan penuh kekesalan.

“Apa mau lo—?” sinis Ify berusaha membuka kedua matanya. Menunjukkan bahwa dirinnya tidaklah sedang sakit dan tidak apa-apa. Sebagian murid yang masih ada di kelas, langsung mengurungkan niat mereka untuk pergi ke kantin. Mereka terlihat tertarik dengan tontonan gratis satu ini.

“Gue Cuma mau nanya sama lo, gimana rasa air kolam kemarin? Segar bukan? Hahahaha” Ashil tertawa dengan puas, tawa penuh dengan kesinisan. Mendengar pertanyaan Ashil tersebut seketika Ify langsung teringat nyawanya hampir hilang kemarin.

“Lo emang bener-bener iblis ya!! “

“Gue ? Iblis ? nggak salah lo ?”

“Lo udah buang tas gue di kolam renang, lalu lo jeburin gue ke sana. Lo hampir buat gue mati, SAMPAH!!!” tajam Ify, matannya menatap Ashil dengan tatapan ketidak sukaan. Ashil memincingkan matannya, merasa tidak mengerti dengan ucapan gadis didepannya ini.

“Buat tas lo ?? ngomong yang bener!! “

“Ngapain juga buang tas lo!! “ lanjut Ashil membalas tatapan Ify tak kalah tajam.

“Ah—, Gue baru tau sekarang. Lo nggak juga pinter menganggu ketenangan orang lain tapi lo juga pandai banget buat berbohong ya, sampah !!!”  

 

          Ashil mulai kehilangan kesabarannya, emosinya gampang sekali untuk terpancing. Apalagi ucapan Ify barusan sangatlah menusuk dirinnya. Ia merasa sedang di fitnah terang-terangan dihadadapan teman-temannya semua.

Ashil melihat tas Ify, ia segera meraih tas itu dan dalam hitungan detik, ia menuangkan semua isi tas tersebut kebawah lantai. Ify membelakakan matanya dengan apa yang dilakukan oleh gadis tersebut.

“ASHIL!!! APA YANG LO LAKUIN!!!” teriak Ify penuh dengan emosi.

“Gue pingin nunjukin ke lo kenyataan sebenarnya!! Ngapain juga gue harus capek-capek buang tas lo ke kolam renang ? Hah? . “

“Lo nggak sadar? Tas lo Cuma berisikan barang-barang murahan!!!”

“Apalagi gue harus capek-capek buang ke kolam renang. Lo fikir gue seniat itu buat nganiaya lo?”

“Penjaga supermarket, lo dengerin baik-baik” picik Ashil dengan nada suara penuh penekanan. Wajahnya perlahan ia dekatkan ke Ify, sehingga jarak mereka lumayan dekat.

“Gue kalau ingin nganiaya lo, nggak usah nanggung-nanggung dan nggak bikin waktu gue sia-sia. “

Like This!!!”

 

 

          BRAAKKKKKKRAAAAAAAKKKKK

 

 

“ASHILLLLLL!!!!!!”

Tiba-tiba gadis itu menginjak-injak dengan sadis T-pad  ify yang berada di lantai. Ify melihat layar T-pad.nya yang mulai retak. Dan sudah bisa dipastikan T-pad.nya tersebut rusak parah. Ify melihat T-pad.nya dengan penuh kekesalaan yang tak bisa ia tahan lagi. Ify langsung berdiri dari tempat duduknya.

“Singikirin kaki lo dari T-pad gue !! “ tajam Ify kepada Ashil yang sekarang menginjak T-pad.nya bahkan tak segan-segan dengan kedua kakinya.

“Nggak mau! “balas Ashil menantang. Ia memincingkan bibir kanannya.

Ify keluar dari mejanya, ia mendekati Ashil. Kepalannya yang terasa pusing hampir terlupakan olehnya, Kini hanya emosi yang sudah sampai di ubun-ubun yang bisa ia rasakan. Otaknya hampir ingin meledak.

“Gue bilang lepasin!!! Ya lepasin sampah!! “

Ify mendorong kasar dada Ashil, menyebabkan kedua kaki gadis itu tak bisa seimbang dan akhirnya terjatuh. Ashil tersungkur diatas lantai. Ify nampaknya tidka puas dengan yang ia lakukan tadi, perlahan ia berjalan ke arah Ashil, lebih dekat. Ia mengangkat kaki sebelah kananya, setelah itu dengan tanpa beban dan tanpa rasa takut sedikit pun, Ify menginjakkan kaki kanannya di perut Ashil.

Waahhh—“ teriak anak-anak seisi kelas merasa tak percaya dengan kejadian barusan.

“YAAA!!!!! LEPASIN KAKI LO BRENGSEK!!! “ teriak Ashil mencoba menyingkirkan kaki Ify dari perutnya. Namun, Kaki Ify semakin kuat menginjak perut Ashil. Gadis itu perlahan mulai kesakitan.

“Gue hanya ingin nunjukin ke lo—“

“Gue kalau ingin nganiaya orang juga nggak pernah ingin nanggung-nanggung dan nggak bikin waktu gue terbuang percuma—“

“Dan ini cara gue buat nganiaya orang sampah kayak lo!!! “

“Aww—“ ringis Ashil kesakitan ketika Ify menekan kakinya sekali lagi pada perut Ashil.

“IFY!! ASHIL!! APA YANG KALIAN LAKUKAN BERDUA!!!” Tiba-tiba Mrs. Terry datang ke kelas 2-Gold , beliau tak sengaja melewati kelas ini dan mendapati kelas yang sedang ramai.

Ify segera mengangkat kakinya, begitu juga dengan  Ashil yang langsung berdiri. Mereka tak ada yang berani menjawab pertanyaan Mrs. Terry. Baik Ify dan Ashil saling mengalihkan pandangan mereka.

“Kalian akan mendapat point pengurangan, dan setelah pulang sekolah kalian harus membuat 100 lembar pernyataan bahwa kalian tidak akan bertengkar lagi!!”

“mengerti ??”

“Mengerti Mrs. “ serempak Ashil dan Ify. Mrs. Terry kemudian menyuruh murid-murid yang lain untuk bubar dan segera ke kantin.

“Jangan ulangi lagi!!”

Mrs. Terry kemudian beranjak dari kelas tersebut. Murid-murid lainnya pun juga berhamburan keluar, nampaknya mereka tidak sabar menyebarkan kejadian barusan ke kelas lainnya.

“Aissh—, brengsek!!! “ pekik Ashil tajam, ia kemudian berjalan keluar kelas meninggalkan Ify begitu saja.

Ify masih berdiri cukup lama, kepalanya kembali terasa nyut-nyutan, perlahan ia berjalan kembali ke bangkunya. Sebelumnya ia memasukkan kembali barang-barangnya yang terjatuh ke dalam tas. Ify menatap T-pad.nya dengan perasaan yang tak bisa digambarkan lagi .

“Yah—, rusak” lirihnya dengan ekspresi wajah sedih.

Ify duduk di kursinya, ia menyentuh tubuhnya sendiri. Panas, satu kata menyimpulkan semua jawaban dari suhu ditubuhnya. Ify menghelakan nafas berat. Ia kemudian memilih tidur kembali. Tenagannya bernar-benar sudah mencapai siaga 3.

Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas untuk kembali ke singgah sana mereka masing-masing. Ify dan Ashil tidak bisa pulang seperti teman-temannya yang lain, ia harus menyelesaikan hukuman mereka.

Ify menulis pernyataan tersebut dengan posisi kepala yang ada diatas meja, ia menulis dengan sisa tenaga yang ia punya. Sedangkan tangan kirinya ia buat untuk memegangi perutnya yang enth menagapa mulai terasa sakit. Ify memiliki mag, dan ia ingat dari kemarin perutnya sama sekali belum terisi dengan nasi sedikit pun. Keringat dingin Ify bercucuran tak ada hentinya.

Saat ini didalam kelas hanya ada 4 orang, yaitu Ashil, ify, Rio dan Riyel. Duo kembar tersebut selalu pulang paling belakang. Mereka menunggu sekolah sepi terlebih dahulu baru pulang. Alasannya sangat simple. Mereka tidak mau antri panas-panas dan macet untuk keluar dari parkiran sekolah.

Mereka berempat sibuk sendiri-sendiri tanpa ada obrolan, Rio seperti biasa tertidur di kelas, Riyel bermain gadgetnya, Ashil serius mengerjakan hukumannya karena ia ingin cepat-cepat pulang dan ify sedang berjuang untuk bisa menyelesaikan tugasnya.

“Oke selesai—“ ujar Ashil sangat puas karena ia mengerjakan hukumannya dengan cepat. Ia segera membereskan alat tulisnya dan memasukkan semua barang-barangnya kedalam tas.

Setelah itu, Ashil berdiri dan berjalan ke arah Ify. Ia melihat Ify seperti sedang tertidur. Karena Ashil hanya bisa melihat sisi kepala Ify. Wajah Ify diarahkan ke arah kiri. Sehingga baik Ashil, Riyel maupun Rio tidak dapat mlihat wajah gadis ini.

“Woiii!! Penjaga supermarket. Lo kumpulin ini!! Gue mau pulang!!! “ Ashil meletakkan hasil pekerjannya sedikit kasar di meja Ify. Namun, sama sekali tak ada jawaban dari Ify.

“Lo dengerin gue nggak sih !!!” bentak Ashil kehilangan kebasaran.

“Bangun br—“ Ashil tak sengaja menyentuh tangan Ify. Niat awalnya ia hanya ingin memukul tangan Ify agar gadis itu terbangun atau setidaknya membalas ucapannya. Namun, ketika tangannya menyentuh kulit Ify, Ashil langsung kaget karena tangan Ify terasa sangat panas. Bahkan tangannya terangkat begitu saja akibat panas yang menurutnya tidak biasa.

Ashil terdiam, entah mengapa ia mulai panik dan sedikit takut. Ashil perlahan mencoba menyentuh tangan Ify sekali lagi. Berniat untuk membangunkan gadis ini.

“F—, Fy” panggil Ashil, suarannya berbeda dari biasanya. Suaranya memelan. Raut wajah Ashil terlihat sedikit pucat. Wajah ketakutan tak bisa tersembunyikan.

“Fy—“ panggil Ashil sekali lagi. Perlahan langkah Ashil memundur.

“Yo, Yel “ panggil Ashil pelan. Matannya masih menatap ke arah Ify yang sama sekali tak bergerak.
“Hmm—“ sahut mereka berdua tanpa menatap Ashil dan tetap pada kesibukkan mereka berdua;.

“Yo, Yel “ panggil Ashil sekali lagi. Nada suarannya sedikit meninggi dan membuat baik Rio dan Riyel terpaksa mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.

“Apa sih ?” ketus mereka berdua bersamaan.

“It—, it—, Itu —“ Ashil menunjulurkan tangannya dan menunjuk ke arah Ify dengan jari telunjuknya.

“Ify—, Ify nggak gerak “

Seketika itu Rio dan Riyel langsung menoleh ke arah Ify. Gadis itu masih dalam keadaan seperti tadi. Kepala yang ia sadanrkan pada meja. Rio dan Riyel segera berdiri dari bangkunya.

“If—, Ify nggak gerak “ ulang Ashil kembali. Langkah kakinya ia mundurkan kembali sampai akhirnya ia tak sadar bahwa tubuhnya menabrkan bangku yang ada dibelakangnya. Alshil hampir saja terjatuh, namun Rio yang berada di belakangnya langsung menangkap tubuh gadis itu.

“Yo—, Gim—, Gimana ini ?” wajah Ashil pucat pasi, gadis itu terlihat sangat ketakutan sekali. Kedua tagannya pun bergerak tak menentu.

“Yel lo periksa Ify “ suruh Rio kepada kembarannya. Riyel pun mendekati Ify. Sedangkan Rio mendudukan Ashil di bangkunya, mencoba menenangkan gadis itu yang mulai semakin panik, cemas dan takut.

Riyel berjalan mendekati Ify. Ia menyentuh tangan Ify, dan seperti reaksi Alhil tadi. Riyel langsung terkejut merasakan tangan Ify yang sangat panas.

“Fy—“ panggil Riyel. Ia kemudian mengangkat tubuh Ify dari meja.

“Oh shit—“ pekik Riyel saat mengetahui wajah Ify benar-benar sangat pucat. Bibirnya mulai memutih, Hidung gadis ini pun mengeluarkan banyak darah.

“Fy—, Fy bangun !! Fy !!” Riyel menepuk-nepuk pipi gadis ini. Namun mata Ify tak bisa terbuka lagi. Ia hanya berkedip-kedip tak jelas. Matanya tak mampu untuk ia buka.

“Fy!! Lo bisa denger suara gue??”

“aaahhh—“ suara ringisan Ify terdengar sangat pelan. Riyel meletakkan tangannya pada dahi Ify.

“My god!! “ucapnya ketika mengetahui dahi Ify panasnya 2 kali lipat dari tangan Ify.

“Kita harus bawa dia ke rumah sakit “ ujar Riyel dengan cepat. Rio dan Ashil sama-sama menatap Riyel yang mulai membopong tubuh Ify.

“Di—, di—, dia nggak mat— mati kan yel ??” tanya Ashil, ucapannya sudah tak bisa ia kontrol.

“Lebih baik sekarang kita kerumah sakit. “

“Lo basa mobil apa ?” lanjut Riyel bertanya kepada Ashil.

“B—, B—, BMW “ jawab Ashil terbata-bata.

“Yo, lo yang nyetir”

Mereka ber empat pun berlari ke arah parkiran. Keadaan sekolah sudah sangat sepi. Tak ada murid lagi yang berlalu lalang. Mereka berdua menuju ke sebuah mobil BMW 350i berwana merah. Ashil melemparkan kunci mobilnya ke Rio. Ia kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Riyel yang duduk dibelakang bersama dengan Ify.

Mereka berempat beranjak dari sekolah untuk menuju ke rumah sakit ARWANA, yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka.

Setibanya di rumah sakit, Ify langsung dimasukkan ke dalam ruang UGD. Rio, Riyel dan Ashil menunggu di ruang tunggu. Mereka duduk berjejeran dengan raut wajah yang sangat serius, dan terlihat panik.

Apalagi Alshil, sedari tadi ia tak ada henti-hentinya memainkan jemarinya, keringanya pun terus keluar. Bibirnya bergerak-gerak tidak pasti seolah ia takut akan terjadi apa-apa dengan Ify.

“Gim—, Gim—, gimana kalau Ify mati ??” lirih Alshil pelan mulai membuka suara. Rio dan Riyel menolehkan wajah mereka ke Ashil yang duduk diantara mereka berdua. Baik Rio dan Riyel dapat melihat tatapan kosong dari gadis disebelah mereka ini.

“Nggak akan terjadi apa-apa” jawab Rio dengan tegas.

“Tap—, Tap—Tapi gimana kalau sepe— seperti —“

“Gue sudah bilang nggak akan terjadi apa-apa Shil!!! “ tajam Rio dan membuat Ashil langsung menutup mulutnya.

“Gu—, gue takut “ jujur Ashil. Riyel menatap gadis itu dengan iba. Riyel perlahan merengkuh tubuh Ashil dalam dekapannya. Ia membelai lembut rambut Ashil.

“Nggak usah takut. Ada Rio dan gue “ bisiknya pelan. Mata Riyel mengarah ke ponsel yang ada di saku seragam Ashol. Ia kemudian mengambil ponsel Ashil tersebut.  Riyel menyodorkan ponsel Ashil ke Rio.

“Lo baca pesan paling atas “ ujar Riyel kepada Rio yang menerima ponsel Ashil dengan binggung.  Rio pun segera mengotak atik ponsel Ashil.

“Passwordnya apa ?” tanya Rio

“Sama  seperti punya kalian” lirih Ashil lemah. Mendengar jawaban gadis ini,  Rio dan Riyel langsung menatap Ashil.

“Punya gue udah gue ganti “ ujar Rio dingin,  kemudian membuka ponsel Ashil dengan  memasukkan beberapa angka didalamnya yang sudah diluar hafalannya.

 

          Rio membaca baik-baik pesan yang diterima oleh Ashil. Ekspresi Rio mulai berubah, mimik wajahnya tak ada bedannya dengan Riyel ketika membaca pesan tersebut. Rio kemudian memiluh untuk menghapus pesan itu dari ponsel Ashil.

“Cuma orang iseng “ simpulnya. Kemudian mengembalikkan kembali ponsel tersebut kepada pemiliknya.

Seorang dokter yang sudah terlihat berumur keluar dari ruang UGD, dokter tersebut mendekati ketiga murid yang sedang duduk dengan ekspresi wajah serius.

“Yo, Yel, Shil—“ panggil dokter tersebut yang nampaknya sudah sangat kenal dengan tiga orang ini. Mereka bertiga menoleh ke sumber suara

“Dokter Andi, gimana keadaan dia ?” tanya Ashil dengan cepat. Mereka bertiga sama-sama langsung berdiri. Dokter Andi tersenyum simpul.

“Kalian nggak usah setegang itu, dia sudah mulai membaik. Untung saja kalian cepat membawanya kerumah sakit. Keadaannya sangat lemah, panasnya 45 derajat, ditambah dengan penyakit Mag yang tidak ia rasa “

“Gadis itu terlihat kelelahan. Kalau bisa ia istirahat dulu disini, kondisinya tidak memungkinkan untuk dia lepas dari infuse” jelas dokter Andi.

Ashil, Rio dan Riyel bernafas legah. Setidaknya gadis itu tidak mati seperti yang dibayangkan oleh Ashil.

“Dia akan dipindahkan ke kamar rawat, kalian boleh menjenguknya. Dia sudah sadar”

“Saya pergi dulu “pamit dokter Andi.

Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat. Binggung harus apa setelah ini.

“Urusan gue sudah selesai, karena lo yang nyebabin dia sampai kayak gitu. Jadi lo yang harus bertanggung jawab “ ujar Rio dingin dan melemparkan begitu saja kunci mobil Ashil kepada sang pemilik. Untung saja gadis itu dengan sigap menangkapnya.

“Gue pulang” ujar Rio dan segera beranjak dari sana. Ashil menatap Rio dengan mata membelakak.

“Dear Ashil, hubungan kita tak sedekat yang lo fikirkan kan? Gue juga ada banyak urusan. Jadi, Lo urus sendiri penjaga supermarket itu“ kini giliran Riyel yang meninggalkan Ashil begitu saja.

Ashil melihat kepergian kedua pria itu dengan tak percaya. Padahal beberapa menit yang lalu, mereka bertiga  nampak terlihat dekat dan sangat panik dengan keadaan Ify. Kini mereka bertiga telah kembali ke sikap dingin dan tidak peduli mereka.

“Nyebelin banget kalian berdua !! “ pekik Ashil sangat kesal sekali. Kemudian ia membalikkan badannya untuk menuju ke kamar rawat dimana Ify ditempatkan.

Ashil masuk kedalam, ia mendapati Ify yang terbaring diatas kasur sana dengan kedua tangan di infuse. Ashil berjalan mendekati Ify dengan ekpsresi jutek, judes seperti biasannya. Ia melihat Ify yang juga mulai menyadari kedatangannya.

“Lo bener-bener nyusahin ya” ujar Ashil dengan wajah sinis ke arah Ify.

“Makasih udah nolong gue “ sahut Ify dengan suara masih lemah. Ashil mendeceak sinis.

“Nolongin lo ? “

“Gue hanya kasihan aja sama lo, keadaan lo bener-bener mengharukan. Sampai rasanya air mata gue ingin keluar” sindir Alshil, nada suaranya tak ada baik-baiknya. Ify menghelakan nafas berat, Ia membiarkan saja Ashil mencacinya seperti itu.

Ashil berjalan lebih mendekat ke Ify. Kedua tangannya bergerak untuk membuka tasnya. Kemudian ia  mengeluarkan sebuah kotak box berukuran sedang.

“Jangan pernah nyusahin orang lagi !!!! “ tajam Ashil, ia melemparkan kotak tersebut ke atas tubuh Ify. Setelah itu ia langsung membalikkan badanya, melangkahkan kakinya ke pintu. Ashil memilih segera keluar dari sana, ia merasa urusannya sudah selesai dengan gadis itu.

Sepeninggalan Ashil yang begitu cepat membuat Ify sedikit binggung. Apalagi dengan kotak yang dilemparkan Ashil barusan. Ify pun membuka kotak tersebut.

T-pad —“ lirih Ify ketika mengetahui isi dari kotak itu. Ify terkekeh pelan.

“Masih punya hati juga ternyata “ lanjutnya  Ify tak menyangka bahwa gadis iblis satu itu membelikannya T-pad baru, mengganti miliknya yang telah dirusaknya. Bahkan Ify  sedikit tak percaya bahwa Ashil masih memiliki sisi baik meskipun tak banyak.

Yah, setelah merusak T-pad  ify tadi, Ashil langsung membelikannya di koperasi sekolah yang menjual barang tersebut. Meskipun harga dari T-pad  itu tidaklah main-main. Namun, Ashil bukan seorang gadis pengecut yang lari dari tanggung jawabnya. Setidaknya ia tidak memberikan beban berat  kepada Ify. Karena Ashil yakin, gadis itu tidak akan mampu membeli T-pad . Mendengar ucapan Riyel yang mengatakan bahwa Ify bekerja sebagai penjaga supermarket, darisanalah Alshil memastikan kasta Ify sebenarnya.

*****

Acha mendengar suara ketukan dari kamarnya. Ia beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu. Acha membuka pintu kamarnya.

“Eh— “ kaget Acha, ia mendapati Riolah yang mengetuk pintu kamarnya.

“Tumben kesini?” tanya Acha,  kedua matanya mengikuti kemana Rio berjalan. Rio sendiri langsung masuk kedalam kamar Acha dan membaringkan tubuhnya di kasur Acha. Layaknya kamarnya sendiri.

“Apa ada masalah dirumah ?” tanya Acha yang selalu ingin tahu. Acha menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Setelah itu ia berjalan mendekati Rio. Acha mengambil duduk disamping Rio.

“Nggak ada —“ jawab Rio singkat. Pria ini perlahan memejamkan matannya.

 

“ Cha—“ panggil Rio yang tiba-tiba terbangun. Acha menatap Rio sedikit terkejut.

“Apa ?” sahut Acha binggung.

“Kamar kakak lo—, “

“Kesana aja. Nggak dikunci kok—“

“Gue mandi dulu” ujar Acha kemudian turun dari kasurnya. Rio menganggukan kepalannya.

*****

Rio berdiri di sebuah kaamar dengan pintu berwarna pink, dan terdapat simbol gambar  orion  yang tertempel di depan pintu. Rio menghembuskan nafas beratnya sebelum akhirnya ia meyakinkan dan memberanikan diri membuka pintu tersebut.

Perlahan Rio memabuka kamar itu dengan pelan. Bau parfum khas dari pemilik kamar tersebut menyambut indra penciuman Rio. Seketika Rio mematung, ia tertunduk untuk beberapa lama.

“Gue masuk ren—“ lirih Rio lemah, dengan langkah berat ia menggerakan kedua kakinya untuk masuk kedalam.

Rio mendengarkan pandangannya, kamar ini tak pernah berubah sejak dulu. Tatanan setiap stuff  maupun dekorasinya tetaplah sama. Rio berjalan ke arah meja belajar. Di atas meja belajar tersebut terdapat bebeerapa panjangan foto yang dihias dengan gantugan tali dan digunakan sebagai dekorasi meja belajar. Rio meraih salah satu foto yang ada disana.

“Gue kangen senyuman lo “ Rio meletakkan kembali foto tersebut.

Ia kemudian membuka laci yang berada di bawah. Rio menemukan sebuah buku diary dari pemilik kamar. Rio nampak penasaran, ia pun mengambil buku diary tersebut. Perlahan Rio membaca buku diary itu.

“Eh—“

Di dalam buku diary tersebut tak ada apapun, disana benar-benar kosong. Tak ada tulisan setititk pun. Rio mengernyitkan keningnya. Padahal ia pernah melihat pemilik diary ini menulis beberapa kalimat didalam buku ini.

“Kok aneh” ujarnya kemudian menutup buku tersebut kembali. Rio pun memilih meletakkan buku itu di tepat semula.

Rio keluar dari kamar tersebut.Ia menutup pintunya kembali, kemudian berjalan untuk kembali ke kamar Acha.

*****

Ify memaksa keluar dari rumah sakit, ia tak ingin memanjakan dirinnya sendiri. Ia harus bekerja malam nanti. Ia sudah absen kemarin, ia tak ingin di marahi oleh boss..nya. Karena pekerjaannya tersebut sangatlah penting untuk dirinnya.

Ify pulang dari rumah sakit dengan menaiki bus kota. Ia masih merasakan lemas ditubuhnya. Tapi Ify memaksakan untuk menguatkan tubuhnya sendiri. Ia memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan.

*****

Ify mendecakkan gigi atas dan bawahnya hingga mengeluarkan suara decakan saat ini, matanya sama sekali tak lepas dari seorang pria yang kini sedang asik memainkan ponsel di kanan kanannya dan meminum  coffe drink  instan di tangan kirinnya. Ify mengernyitkan keningnya dengan tatapan tak suka kepada orang tersebut.

“Ngapain lo disini?” sinis Ify, kakinya melangkah satu persatu. Lawan bicarannya tersebut mengangkat kepalannya dan nampak skaget melihat Ify.

“Lo sendiri ngapain disini ?” tanya orang tersebut yang juga nampak lebih kaget lagi ketika mengetahui orang yang meneriakinya adalah Ify.

“Kok lo jadi tanya balik sih, gue kerja lah disini. Lo ngapain sih selalu kesini? Lo ma—”

“Gue baru pertama kali ke minimarket ini. Lagian gue nggak tau lo kerja disini” ujar pria tersebut dengan wajah yang benar-benar blank. Ify mendadak diam, ia melangkahkan kakinya agak mendekat dan menatap wajah pria tersebut lekat-lekat.

“Lo bukan Riyel ?”

“ Gue Riyel bego!!! “ ujar pria tersebut dengan lantang. Ify menggaruk kepala bagian belakangnya. Wajahnya menandakan bahwa dirinnya sedang annoying sekali dengan keadaan saat ini.

“Lo ngajak gue bercanda? Jadi sebenarnya yang kemarin sering kesini siapa ? terus sekarang lo siapa? Jangan mentang-mentang lo berdua kembar terus mainin gue!! emang—“

“Waahh— gini ya kondisi orang setelah keluar dari rumah sakit. Waahh—“Ify segera terdiam dalam sekejap.

“However, gue nggak akan pernah ngasih tau lo jawaban sebenarnya “

“You know ? Rahasia—“

“Cari sendirilah, lo kan anak paling pintar di kelas. Iya kan?”

Pria tersebut berjalan melalui Ify begitu saja, meninggalkan gadis itu sendiri dengan kebinggungan yang menggeliutinya. Ify tentu saja masih sangat binggung siapakah pria didepannya barusan. Rio atau Riyel? Ia masih belum terlalu pandai untuk membedakan dua kembar tersebut, dan hal itu membuat Ify merasa dipermainkan.

*****

Bersambung . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s