My Teacher Is My Husband – 2

My Teacher Is My Husband – 2

“MTMH”

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

Alys membenahkan gaun selututnya. Sedikit kesal karena kakek dan kedua orang tuannya begitu memaksa agar dirinya ikut diacara teman kakeknya. Jujur saja Alys tak berniat dengan acara orang-orang tua seperti ini. Lebih baik ia menyelsaikan permainan turbo Pizzanya.Yang sudah mencapai level 100.

Alys membuntutui mamanya yang berjalan di depannya. Mereka memasuki sebuah restoran bergaya jepang . Semua pelayannya pun memakai kimono baju khas jepang. Alys mengambil duduk di sebalah mamanya. Merasa sedikit heran karena direstoran ini tidaklah ramai. Dan tidak menampakkan bahwa sedang diadakkan sebuah pesta.

Alys menghela nafas seolah tak peduli. Ia mengeluarkan ponselnya mengasikkan diri untuk bermain Feeding Frenzy pada ponselnya. Ia tak mengindahkan pertanyaan mama dan papannya.  15 menti berlalu, Alys merasa jenuh juga karena sedari tadi tak ada yang ia lakukan dan hanya bermain ponselnya saja.

Tring . .. . Tring . . ..

Bel lonceng di pintu restoran berbunyi, mendandakan ada pengunjung datang. Mata Alys pun sontak mengarah ke pintu restoran. Alys terdiam dan kaget dengan apa pemandangan yang dilihatnya sekarang.

Ia melihat seorang wanita  sudah berumur dengan memakai tongkat dan rambut yang memutih. Namun wajah nya yang sedikit pucat itu masih terlihat cantik. Wajahnya mirip keturunan dari wajah gadis jepang. Dan disebelah wanita tersebut terdapat Seorang pria muda yang sangat tampan. Pria itu membantu wanita disebalahnya untuk masuk kedalam restoram.

Alys masih terdiam, dia semakin mencoba memperjelas apa yang dilihatnya. Apalagi kedua orang tersebut sepertinya perlahan berjalan mendekati mejanya dan keluargannya.

“Selamat Malam nyonya Genji  . . “tiba-tiba kedua orang tua beserta kakek Alys berdiri dan menyambut dua orang ini. Alys menatap keluargannya heran.

“Cepat berdiri . . “bisik Mama Alys penuh penekanan dan sedikit menarik baju Alys menyebabkan gadis ini mau tak mau harus berdiri. Alys mencoba tersenyum ke wanita tersebut. Senyum yang terlihat begitu kaku sekali.

Alys menududukan kepalannya, sama sekali ia tak ingin mengangkat lagi kepalannya. Apalagi mata pria tersebut yang sedari tadi  tak ada hentinnya menatap dirinnya. Alys mengumpat dalam hati terus-terusan.

“Silahkan duduk”ujar wanita yang bernama nyonya genji sambil duduk di kursi didepan keluarga Alys. Pria yang bersama nyonya Genji pun ikut duduk di sebalah wanita ini

“Oh jadi ini yang namannya Bima.?”tanya Kakek Alys degan cepat dan senyum yang begitu merekah. Alys mencibir dalam hati mengumpati lelaki paling tampan yang berada di antara mereka. Yah, siapa lagi jika bukan Bima sang guru jepang yang baru saja mencampakkannya.

“Iya kek. Saya Bima”kini Bima mulai membuka suarannya. Ia tersenyum kepada kakek Alys namun sedetik kemudian matannya beralih kembali menatap gadis didepannya ini.

“Baiklah kita langsung saja pada inti tujuan kita disini. Mungkin Alys pasti sudah bertanya-tanya”ujar  nyonya genji yang begitu anggun sekali walaupun keriput di sisi-sisi matannya terlihat jelas. Namun kecnatikannya begitu terlihat.  Dan Alys yang merasa namannya disebut segera membuka kedua telingannya dengan baik-baik, ia mulai mendongakkan kepalanya dan langsung menatap kearah nyonya Genji. Toh, memang ia sudah penasaran dengan ini semua.

“Dulu saya dan kakek kamu pernah berpacaran selama 10 tahun, namun saat kita ingin bersatu dipelaminan orang tua kita tidak setuju. Dan dikarenakan itu sejak 10 tahun yang lalu, kita berjanji bahwa kita akan menjodohkan anak ataupun cucu kita suatu saat nanti. Agar hubungan kita tidak pernah lepas lagi “Alys membelakakan matanya tak percaya. Apalagi ini?perjodohan ? jangan katakana bahwa dia akan dijodohkan dengan pria yang jelas-jelas sudah mencampakannya ini. Otak Alys mulai menduga-duga.

“Kamu akan kita jodohkan dengan Bima. “

 

GLEEEKK

 

Akhirnya inti dari pertemuan ini terbongkar sudah dan seperti tak diperkirakan di otak Alys. Alys mendesis tak percaya. Kenapa harus dirinnya ? dan bukankah sama halnya ini dengan pembalasan hati kakeknya dan mantan pacarnya ini akibat tidak bersatu dan dilampiaskan dengan menjdoohkan dirinnya. Oh My God? Alys hanya bisa bergdik sinis, Bahkan saat ini menatap pria terseut saja rasanya ingin muntah. Tapi tunggu . . .

Alys sepertinya melupakan sesuatu, Ia mulai sedikit mendedarkan pandangannya ke orang-orang yang duduk dimeja ini. Memriksa satu persatu wajah kakek, orang tuanya, nona genji dan. . . . Bima. Alys mendapati Bima hanya diam tenang dan menunjukkan wajah kewibawannya. Wajahnya tidak menunjukkan kekagetan sama sekali.

“Apa orang ini sudah tau ??”batin Alys mulai bertanya-tanya penuh penyelidik.

“Bima sudah setuju dengan perjodohan ini. Bukankah dia guru jepang kamu ? “

“He? Iya”jawab Alys sedikit kaku.

“Bagaimana kamu setuju dengan perjodohan ini bukan? Kami dengar kamu begitu suka dengan Bima”ujar Nyonya Genji begitu senang. Alys mendesis kembali merasa seperti orang bodoh dan dipermainkan oleh pria itu.

“Alys setuju sangat setuju pastinya nyonya genji. Tenang saja akan hal itu. Dan kita tinggal mempersiapkan semua pernikahannya secepatnya sesuai yang nyonya genji inginkan”sahut Mama Alys yang begitu antusias. Jujur saja ia tidak akan menyia-nyiakan menjadi “besan” dari seorang pengusaha wanita terkenal hampir di Asia Tenggara. Dan bukan hanya itu saja, impiannya untuk mendapat menantu tampan dan mapan akhirnya terwujud didepan mata.

“Maa . .. . “bisik Alys sedikit memprotes kepada sang mama. Bahkan Alys tidak pernag mengatakkan iya akan hal ini.

“Sudah kamu nurut saja, kamu akan menikah dengan Bima. Bukannya kamu sennag akhirnya impianmu terwujud”balas sang mama berbisik pelan. Memang saat dulu Alys menyukai guru jepangnya itu ia selalu bercerta kepada mamanya. Namun sekarang keadaannya berbeda tidak seperti dulu lagi.

“Baiklah kalau begitu, saya sudah merencanakan pernikahan Bima dan Alys akan diadakan bulan depan. “ujar Nyonya Genji. Dan sekali lagi Alys membelakkan matannya.

“Hah? Bulan depan ? Alys kan masih sekolah “ujar Alys dengan nada sedikit tinggi berniat menolak akan perjodohan tidak penting ini.

“Tenang saja, kamu masih boleh melanjutkan sekolah kamu tanpa ada yang tahu bahwa kamu sudah menikah dengan Bima. Setelah kamu lulus, baru kita akan mengumumkan pernikahan kalian berdua”ujar nyonya genji menjelaskan dengan sabar dan penuh keibuan. Alys menghela lemas. Apakah ia bisa menolak perjodohan ini? jika itu ia lakukan mungkin kakeknya akan jantungan disini dan mamanya sendiri akan mengusirnya dari rumah. Pilihan Alys hanya ada 2 . yang pertama ia harus dan memang wajib untuk menjodohi pernikahan ini dan pilihan kedua adalah kembali ke pilihan pertama karena ia tidak mempunyai pilihan ketiga. Sungguh memiriskan.

“Maaf, apakah boleh saya mengajak Alys untuk jalan-jalan sebentar?”ujar Bima meminta izin kepada orang tua Alys. Alys menatap sang mama agar berkata “tidak” namun sepertinya itu tidak akan terjadi.

“Tentu saja silahkan nak Bima. Pulangnya jangan malam-malam ya”ujar mama Alys begitu senang sekali melihat kedua calon pengantin ini.

Bima menatap Alys yang sama sekali tak menatapnya, Bima langsung memilih berdiri dari tempat duduknya. Ia mendekati Alys dan langsung menarik lengan Alys begitu saja. Mau tak mau Alys ikut berdiri dan mengikuti Bima. Tarikan Bima sedikit keras di lengannya.

“Mereka begitu cocok”

“Akhirnya genji kita bisa menjalin hubungan lagi. Mimpi kita menjadi kenyataan”

“Pernikahan ini lebih cepat lebih baik”

Para golongan tetua masih terus membicarakan bagaimana pernikahan anak-anak mereka nanti. Tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi.

****

Bima memberhentikkan mobilnya di pinggir pantai. Selama perjalnan memang tidak ada hal yang dibicarakan oleh kedua orang ini. Alys hanya terus menatap keluar jendela. Dan Bima memfokuskan menyetir.

Bima keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju ke arah pintu mobil Alys. Ia membukakan pintu mobil Alys.

“Gue bisa sendiri”sinis Alys dan langsung keluar dari mobil Bima dengan acuh. Alys berjalan meninggalkan Bima yang masih mengunci mobilnya.

Angin malam ditambah angin pantai membuat bulu Alys merinding. Ia hanya memakai dress pendek tanpa lengan. Membuatnya kedinginan. Alys mengusap-usap lengannya dengan kedua telapak tangannya berharap lebih hangat.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah jas telah menempel ditubuhnya. Alys mmebalikkan tubuhnya dan benar saja Bima lah yang menaruh jasnya ditubuhnya. Alys menghela nafas sejenak. Ia melepaskan jas tersebut dan dengan acuhnya melemparkan jas itu begitu saja ke arah pemiliknya.

“Langsung aja loe mau ngomong apa ?”ujar Alys dengan mata tajam dan tatapan tak suka. Bima menghelakan nafas panjangnya sebentar. Mencoba merangkai kata-kata yang akan ia keluarkan.

“Aku  minta maaf “Alys tertawa pelan dengan nada sinis.

“Minta maaf ? emang loe pernah buat salah ya sama gue ? gue lupa gak ingat.  Dan gue mau pulang !!!“balas Alys tajam.  Alys tak menghiraukan Bima. Ia berjalan untuk meninggalkan Bima.
“Aku menyesal banget, ucapan aku pasti sangat menyakitkan buat kamu. Aku sangat sangat minta maaf. Aku berharap kamu mau memaafkan aku”mendengar ucapan Bima langkah Alys terhenti tak jauh dari ia berdiri di depan Bima tadi. Alys mencengkram kedua tangannya erat. Jujur saja iamerasa dibuat mainan oleh semua orang.

“Tenang saja. Gue gak akan batalin perjodohan gila ini. Gue akan menikah dengan loe. Tapi hanya sebatas status. Jangan pernag larang gue untuk melakkan apapun yang gue suka. Soal maafin loe ?  . . “ucapan Alys terhenti sebentar., otaknya terbayang kembali bagaimana Bima mempermalukannya di kelas. Bagaimana rasa sakitnyaia saat itu.

“ Gak akan pernah”setelah itu Alys melanjutkan jalannya kembali meninggalkan Bima yang hanya mematung disana. Alys berlari-lari kecil untuk menyembunyikkan bahwa air matannya sekarang sudah mengalir di kedua pipinya.

“Apa kamu gak bisa maafin aku ??”ujar Bima dengan nada begitu pelan dengan mata yang hanya tertuju kepada Alys yang terus berlari meninggalkannya. Dan entah menagapa Bima tak bisa menggerakan kakiya yang terasa lemas. Hatinya menyuruhnya untuk mengejar gadis itu. namun seluruh organ tubuhnya sedang tidak bersenambung dengan hatinya. Organnya sedang menghianati hatinya sendiir. Dan itu semua membuatnya begitu frustasi akan dirinnya sendiri.

Alys terus berlari entah ia tidak peduli dimana ia berada. Ia hanya berfikir untuk pergi dari sana. Pergi dari hadapan Bima.

“Sumpah jahat banget .!!! “isak Alys. Langkahnya perlahan menjadi pelan. Alys berjalan sangat pelan. Ia masih terisak dan hanya bisa menundukkan kepalannya.

“Memangnya gue boneka apa bisa seenaknya dibuat mainan. Gak ingat apa ucapannya kemarin nyakitin banget. “Alys berhenti disebuah rumah yang didepan gerbang rumah itu terdapat ayunan mungil. Alys duduk diayunan tersebut untuk mengatur nafasnya sejenak.

“Jangan harap gue bisa suka sama loe lagi. Gue benci sama loe!! Sangat sangat benci sama loe Bimaaa!!!! “pekik Alys menahan semua emosinya dari tadi. Dan semakin ia menghujati pria itu entah menagap air matanya semakin deras mengalir. Alys tidak peduli make-upnya sudah berantakkan. Rambutnya juga. Penampilannya benar-benar sudah hancur.

Tiba-tiba saja sebuah motor berhenti di depan rumah ini. Pemilik motor itu turun dari motor ninja putihnya dan melepaskan helm putihnya. Pria itu terlihat mengernyitkan wajahnya melihat seorang gadis yang menangis disana. Dan gadis itu sendiri seperti tak menyadari kedatangannya.

“Masih jam 9 ? apakah hantu sudah boleh berkeliaran ?”desis pria ini dengan wajah datarnya, Ia perlahan mencoba mendekati gadis tersebut untuk melihat apakah gadis itu manusia atau makhluk jadi-jadian.

Mata pria ini sedikit membelakak saat mengetahui siapa gadis ini dan jujur saja ia sangat mengenal siapa gadis ini. Pria ini mendesis sinis dan menatap saja gadis ini yang masih mengumpat-ngumpat tak jelas dengan isakan-isakannya.

“Rumah gue bukan penampungan gadis patah hati .”gadis yang tak lain adalah Alys langsung mendongakkan kepalannya saat mendnegar suara berat itu. Alys langsung menoleh ke sumber suara.

“Ra . . ra ,. , dit ?”

Yah pria itu adalah Radit, teman sekelas Alys dan dimana sejarahnya sebelum Alys mengenal Bima, Alys pernah jatuh cinta kepada pria ini.

Radit tersenyum sedikit remeh melihat keadaan Alys yang benar-benar berantakkan. Sedangkan Alys masih terdiam seperti es dengan keadaan mulut sedikit terbuka.

****

Bima masuk kedalam rumahnya, kata-kata Alys tadi terus berputar di otaknya tanpa bisa ia lupakan satu kata pun. Bima mulai berfikir apakah ia benar-benar sangat keterlaluan kemarin.

“Kenapa gue harus memfikirkan gadis itu? toh dia nanti akan jadi istri gue”

“Dan   kenapa dia harus marah akan perjodohan ini? apakah dia tidak berfikir kalau gue juga sama tersiksannya seperti dia ?”
“Aisshh. Dasar gadis labil”Bima yang capek akan masalahnya jadi uring-uringan sendiri. Baru kali ini ia harus bermasalah dengan perasaan hati apalagi yang menjadi masalahnya adalah muridnya sendiri dan yang akan menjadi istirnya nanti.

“Ya tuhan apa yang harus aku lakukan ? bagaimana membuat gadis itu tidak marah lagi ??”serah Bima mulai frustasi kembali. Jujur saja Bima sendiri awalnya kaget akan perjodohan ini. namun ia sendiri tak bisa menolak karena ucapan sang nenek bukan untuk dilarang namun dilaksanakan. Dan dengan terpaksa Bima harus menerimannya.

“Kalau hubungan gue sama Alys masih seperti ini gimana dengan rumah tangga gue nanti ?”

“Masak iya gue setiap hari harus menderita batin ? Aisshh . .”Bima menjambak-jambak rambutnya sendiri lebih frustasi. Semua masalah ini membuatnya gila. Hanya karena satu gadis saja ia menjadi seperti ini. Entah mengapa Bima begitu merasa bersalah kepada Alys. Dan saat ini yang ia rasakan adalah “Takut”. Yah, Bima takut Alys benci dengannya. Bima takut ia tidak bisa mendengarkan lagi bagaimana setiap hari Alys berbicara manis didepannya. Bima Takut Alys tidak memujinya kembali. Dan Bima takut alys tidak mengucapkan perasaan cintanya kepad adirinnya lagi.

“Bentar? Apa gue udah jatuh cinta dengan murid gue sendiri ???”Bima menatap dirinnya didepan cermin. Mencoba mencari jawaban akan pertanyaannya sendiri itu.

“gak gak mungkin. Masak gue jatuh cinta sama Alys ? Tapi rasanya sakit saat dia berkata seperti tadi . “

“Apa gue benar jatuh cinta sama Alys ??”

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s