My Teacher Is My Husband – 6

My Teacher Is My Husband – 6

“MTMH”

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

Alys menyembunyikan senyum semu-semu malunya. Walaupun ia tidak menunjukkannya secara langsung, dari setiap sudut titik wajahnya, sangat terlihat kontras bahwa gadis ini sedang bahagia. Kedua pipi putihnya memerah tanpa ia sadari.

Radit melirik sedikit ke samping kanannya, gadis manis nan cantik yang sudah menyandang sebagai kekasihnya kini sedang berjalan disampingya. Mereka berdua berjalan ke arah parkiran sekolah. Tak ada kata apapun yang keluar dari bibir keduannya. Nampaknya mereka berdua terlalu sibuk dengan fikiran masing-masing atau mungkin ketidak percayaan mereka berdua sendiri bahwa kini diantara mereka sudah ada ikatan hubungan sebagai sepasang kekasih.

****

Sesampainya di parkiran, Alys menghentikkan langkahnya saat matannya mendapati mobil Bima yang terparkir jelas di samping mobil Radit. Pemilik mobil pun sedang berdiri di depan mobil sambil sibuk dengan ponselnya. Radit pun ikut menghentikkan langkahnya , ia menatap Alys dengan heran. Radit mulai mengikuti arah pandang Alys.

 

“Kenapa?” tanya Radit datar ketika mengetahui apa yang sedang di pandang oleh kekasihnya. Alys tersentak.

 

“Tidak A—,Apa-apa “ jawab Alys kaku.

 

Radit berdecak sinis, ia berjalan menghampiri Alys yang tak jauh di belakangnya. Setelah itu ia langsung merangkul bahu Alys tanpa beban sedikitpun. Sedangkan Alys yang terkejut dengan perlakuan Radit hanya bisa terdiam membeku tak mengatakan satu kata apapun.

 

“Ayo kita pulang’ ajak Radit sambil melangkahkan kakinya kembali dengan tangan masih merangkul bahu Alys.

 

Alys menarik nafas panjang lantas menghembuskannya pelan-pelan, ia mencoba menyadarkan dirinnya bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Toh, dia kini sudah membenci pria itu. Alys tersenyum ke arah Radit dan mengikuti langkah kaki Radit.

****

Kedatangan dua makhluk ini disadari oleh Bima, ia menatap Radit dan Alys dalam diam, Bima terlihat sedang mencoba mengontrol ekspresinya. Sedetik kemudian, Bima nampak tak peduli dan kembali fokus dengan ponselnya. Sedangkan Radit dan Alys sendiri seolah tak menganggap keberadaan sensei mereka tersebut dan langsung masuk kedalam mobil.

 

Bima menghelakan nafas beratnya setelah mobil Radit berlalu dari hadapannya. Ekspresi wajah Bima perlahan berubah, menampakkan suatu pandang yang sedikit sulit untuk dijabarkan mungkin.

            Bima menggelengkan kepalannya cepat, ia mencoba untuk tidak memfikirkan kejadian barusan, memilih segera masuk kedalam mobilnya dan menajalankan mobilnya menuju rumahnya.

****

Radit menghentikkan mobilnya tepat didepan rumah Alys. Mereka sama-sama terjebak dala m keheningan selama beberapa detik. Tidak ada yang turun dan tidak ada yang mengatakkan sekata apapun. Radit sibuk melihat ke arah depan, Alys sibuk dengan fikirannya sendiri sambil memainkan roknya.

 

“Ra—, Ra—dit” panggil Alys ragu-ragu, radit yang mendengar namannya dipanggil sontak menolehkan wajahnya ke arah Alys.

 

“Hm?” gumam Radit pelan.

 

“Ma—,kasih udah nganterin gue “ lanjut Alys dengan senyum malu-malunya tanpa menatap ke arah Radit.

 

“Hmm” jawab Radit singkat dengan sebuah gumaman ringan dan kepala yang ia angguk-anggukan.

 

“Gue masuk ke dalam dulu ya” pamit Alys, ia membenahkan tasnya dan akan membuka pintu mobil di sebelahnya.

 

“Ehh—“ kaget Alys ketika ada sebuah tangan mencegahnya. Alys menatap Radit  heran.

 

Radit menatap Alys dengan tatapan sedikit  serius. Untuk pertama kalinya Alys mendapatkan tatapan yang seperti ini dari Radit. Alys sedikit takut, ia tak mengerti tatapan apa yang di tunjukkan kepadannya saat ini.

 

“Lo beneran udah nggak ada rasa sama sensei Bima?” tanya Radit datar namun didalamnya terdengar suatu penekanan dan permintaan jawaban yang jujur.  Alys membelakakan kedua matannya ketika mendengar pertanyaan tersebut.

 

“Gue—, gue udah nggak ada rasa sama sensei Bima. “ jawab Alys mencoba jujur.

 

“Serius? Beneran?” Alys menghelakan nafas beratnya. Ia perlahan melepaskan tangan Radit dari lengannya.

 

“Gue udah nggak ada rasa sama sensei itu , Radit. Sekarang juga gue udah—, “Radit memincingkan matannya meminta Alys meneruskan kalimatnya.

 

“Udah—, udah jadi pacar lo. Ya—.” Alys menggaruk-garuk kepalannya yang tak gatal, merasa binggung menjabarkan kalimatnya saat ini. Radit tertawa kecil, merasa lucu dengan tingkah kekasihnya ini.

 

“Sudah. Sudah. Gue tau. Gue percaya sama lo” potong Radit tidak ingin mengintidasi kekasihnya itu. Alys mengangguk ringan.

 

“Gue masuk kedalam dulu ya” pamit Alys masih dengan wajah malu-malunya.

 

“Al—“ panggil Radit sebelum gadis disampingnya itu akan menyentuh pegangan pintu mobil.

 

“Iya?” sahut Alys memabalas tatapan Radit.

 

Alys membelakakan matannya untuk kedua kalinya ketika ia melihat Radit mengetuk-ketukkan pipi kirinya dengan jari telunjuk seolah memberikan Alys sebuah isyarat. Alys mendadak langsung binggung sendiri.

 

“Apaan sih !!” gerutu Alys gugup.

 

“salam perpisahan” sahut Radit santai masih menunjuk ke arah pipi kirinya.

 

“Nggak mau!!” tolak Alys dan bersiap akan membuka pintu mobil, namun, Alys kalah start dengan Radit yang langsung mengunci kembali semua pintu mobil secara otomatis. Alys mendengus kesal.

 

“Nanti dilihat orang” desis Alys meng-alibi. Radit menggelengkan kepalannya seolah tak mau tau.

 

“Gue nggak akan buka sampai lo kasih salam perpisahan”

 

Alys menghelakan nafas panjangnya, ia benar-benar tak percaya bahwa seorang R-A-D-I-T yang ia kenal sebagai pria tercuek abad ini, pria yang hanya tertarik dengan duniannya sendiri bisa berbuat seperti ini. Oh God !!

 

“I—, Iya. Iya” pasrah Alys

 

“yaudah cepetan” balas Radit dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

 

Alys nampak sedikit ragu, perlahan ia mendekatkan bibirnya ke pipi Radir, seiring dengan perjalan bibirnya, Alys menutup matannya untuk menghilangkan kegugupannya tersebut.

 

Cuppp

 

Alys langsung membuka matanya dalam hitungan kurang dari satu detik, ia mendapati bukan pipi Radit yang bertemu dengan bibirnya, melainkan bibir radit. Alys langsung menjauhkan bibirnya saat itu juga.

“Gue jemput lo besok pagi” ucap Radit ringan, ia mengacak-acak lembut rambut Alys membuat Alys seperti mendapat sengatan listrik di seluruh tubuhnya bahkan detakan jantungnya mulai tak beraturan.

 

“I—, ya. Gue masuk dulu” Alys tak mau lama-lama di dalam mobil Radit, ia tak ingin terkena serangan jantung mendadak didalam sana. Alys segera keluar setelah Radit membuka kunci pintu mobil.

 

Alys melesat begitu saja kedalam rumah tanpa mengucapkan bye-bye ke Radit atau menunggu sampai Radit menjauh dari rumahnya. Radit sendiri hanya geleng-geleng melihat kelakukan Alys yang menurutnya sangat immature  sekali. Setelah itu, ia segera menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Radit.

****

Alys masuk kamarnya, merebahkan seluruh tubuhnya diatas kasur. Alys menatap ke dinding langit-langit kamar. Senyuman di wajahnya tak henti ia tunjukkan. Perlahan jemari-jemarinya menyentuh bibir mungilnya.

 

“Oh my god” lirih Alys sambil geleng-geleng sendiri. Semua bayangan hari ini bersama Radit benar-benar membuatnya sedikit menjadi gila. Bahkan sampai kemarin ia tidak pernah membayangkan bahwa Radit akan menjadi kekasihnya.

 

****

Alys tertidur dan sama sekali belum mengganti bajunya. Namun, ia segera sadar dan bangun ketika suara sang Mama menggelegar memanggilnya. Alys mendengus kesal, dengan malas dan wajah masih mengantuk Alys beranjak untuk menghampiri mamanya yang ia yakini sedang berada di ruang tengah sambil membaca majalh.

Dan benar saja sesuai dugaan Alys, ia mendapati mamanya seperti seorang nyonya besar dirumah ini. Alys mengambil duduk di depan mamanya.

 

“Why?” sahut Alys malas. Ia mengucek matannya agar sedikit terbuka.. Mama Alys melipat majalahnya dan mulai fokus dengan sang anak. Sang Mama nampak sedikit kaget melihat penampilan anaknya saat ini.

 

“Kamu habis ngapain? Kok seragam kamu kusut semua? Rambut kamu juga? Pasti langsung tidur tanpa ganti seragam dulu?” cerocos Mama Alys.

 

“Mama sudah tau jawabannya kan. Jadi Alys tidak perlu jawab kan Ma?. Lagian ada apa sih Ma? Alys mau mandi nih” sahut Alys dengan nada malas. Mama Alys menghelakan nafas ringan.

 

“Bu Genji tadi siang mengirim dua tiket nonton. Malam ini kamu akan di jemput Bima”  ucap Mama Alys tanpa beban dan menyodorkan dua buah tiket dihadapan anaknya. Alys membulatkan kedua matannya, terkejut ditambah tak suka dengan pernyataan  atau bisa dikatakan sebagai berita buruk yang baru disampikan oleh mamanya.

 

“GAK MAU!!” tolak Alys cepat dan membuang dua tiket itu di atas meja. Mama Alys melototkan matannya tajam ke arah sang anak.

 

“Malam ini dandan yang cantik! Jangan buat nyonya gensi kecewa”

 

“Kenapa nggak mama aja sama sensei Bima atau nyonya gensi sama cucunya aja. Alys nggak mau!! “ tolak Alys mentah-mentah. Mama Alys terlihat sedikit geram.

 

“Kalau kamu nggak mau, Mama tidak akan memberikanmu uang jajan selama seminggu” ancam sang Mama.

 

“WHAT?”

 

Alys mendengus kesal sekali. Ia menghembuskan nafas beratnya sekali lagi. Tangannya dengan enggan mengambil kembali dua tiket yang terletak tak berdaya diatas meja.

 

“I—, Iya iya. Alys mau. “

 

“Anak pinter” ujar Mama Alys dengan wajah berbinar-binar sedangkan Alys menunjukkan wajah kebalikkan dari sang mama. Seolah ia akan mendapatkan mimpi buruk malam ini.

 

“Dandan yang cantik!!” peringat Mama Alys ketika sang anak akan beranjak menuju kamarnya.

 

“Iya bawel !!”

****
Alys mengikuti Mamanya yang sudah berjalan duluan di depannya. Di depan rumah Alys sudah ada Bima yang menunggunya. Alys sedikit risih dengan bajunya yang menurutnya sedikit terbuka. Ia sebenarnya tidak memilih baju ini, tapi Mamanya memaksanya untuk memakai baju ajaib ini.

 

Alys menyibukkan diri dengan ponselnya, ia tidak menggubris mamanya yang sedang berbincang-bincang dengan Bima. Sesekali Alys tertangkap basa oleh Bima sedang melirik ke arahnya. Begitu juga Bima yang kadang memperhatikannya di sela-sela perbincangannya dengan sang Mama.

 

“Tante nitip Alys ya Bima, Jangan malam-malam pulangnya tidak baik buat calon pengantin”

 

“Mama!! “ pekik Alys dengan tatapan tajam ke sang Mama. Namun, mamanya nampak tak peduli dan terlalu bahagia dengan bayangannya sendiri.

 

“Hati-hati ya kalian” ujar sang Mama dan segera mendorong Alys masuk kedalam mobil Bima. Alys hanya pasrah saja dengan kelakuan mamanya yang ababil tidak lazim.

 

“Bima pergi dulu tante” pamit Bima dan masuk kedalam mobilnya.

***

Selama perjalanan, baik Bima dan Alys tidak ada yang berbicara. Bima fokus menyetir tanpa ekspresi, Alys sibuk bermain games 2048 di Iphone-nya. Hanya lantunan lagu jazz classic  dari dvd player mobil Bima yang membuat kondisi didalam mobil setidaknya lebih baik.

****

Bima dan Alys terdiam cukup lama di depan bilboard yang menunjukkan now showing di depan studio-1 . Alyn mencoba memastikan sekali lagi apakah tiket ini tidak salah film.

 

“Kissing in the Rain? Bukannya Singing in the rain? Lagian ngapain orang ciuman ditengah hujan-hujan? Aneh !!” gidik Alys memprotes film yang ia tonton.

 

“Gue nggak mau non—!!” kalimat Alys terpotong karena Bima tiba-tiba langsung merangkul pinggangnya. Alys membelakakan matannya dan menatap Bima tajam.

 

“Apaan sih !! Lepasin nggak!! Lepasin” Alys mencoba memberontak namun rangkulan Bima semakin kencang.

 

“Apaa—“

 

“Nenek gue nyuruh orang memata-matai kita. Kalau lo mau pernikahan konyol  ini berlalu dengan cepat. Lo ikuti permainan gue” bisik Bima pelan namun dapat terdengar di telinga Alys.

 

Alys membuktikkan ucapan Bima, dan benar saja didekat dirinnya berdiri sekarang ada sepasang kekasih yang nampak aneh. Mereka diam-diam seperti mencuri pandangan ke arah Bima dan Alys. Ia sekarang hanya bisa menghelakan nafas pasrah.

 

“Ayo masuk dan cepat pulang !! “serah Alys melepaskan tangan Bima dari pinggangnya dengan sekali sentakkan, ia berjalan duluan menuju pintu bioskop dan menyerahkan dua tiket kepada penjaga.

 

****

Film sudah terputar selama 30 menit, dan selama 30 menit itu sudah ada 5 kali  kissing scene. Alys menonton film tersebut tanpa hasyrat dan hanya bisa bergidik risih. Sedangkan Bima pun tak ada bedannya dengan tatapan Alys saat ini ke layar putih depan itu. Risih, Freak, uncomfortable.

30 menit berikutnya, Alys dan Bima dibuat mati kutu sudah.  Dua pasang kekasih tepat di samping kiri Alys dan satunya tepat di samping Bima sedang melakukan hal yang  entahlah . Alys mulai  sangat risih dengan kegiatan pasangan disampingnya.

 

“Sayang, pelan-pelan dong ciumnya. Kayak yang di film itu tadi” bisik sang gadis pelan yang terdengar oleh Alys dan Bima. Mereka sama-sama memegangi dahi mereka dan memejamkan mata mereka frustasi.

 

“Sayang malu dilihat sama orang, kita teruskan saja di kamar kita ya nanti. Biar jadi malam ketiga kita setelah menikah”

 

Alys mengubah posisi kaki kananannya yang semula ada diatas kaki kiri menjadi kaki kirinnya yang ada diatas kaki kanan. Bima sendiri mulai mengibas-kibaskan tangannya ke wajahnya, ia merasa panas sekali. Bima melepaskan satu kancing kemejannya. Wajahnya sudah tak bisa ia ekspresikan lagi. Ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari sini.

 

Alys mengigit bibirnya tak berani menatap sampingnya, ia benar-benar sangat frustasi karena pasangan disampingnya. Suara decitan dan desahan-desahan ciuman mereka bahkan terdengar jelas sekali di telingannya. Alys menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal. Ia mulai banyak bergerak.

 

“Sayang, sstt udah ciumannya. Nnggak enak sama pasangan disamping. Kayaknya mereka baru PDKT”

 

Alys  memejamkan matannya menahan emosi. Ia bersiap-siap akan melemparkan tasnya ke arah gadis disampingnya, namun Bima dengan cepat mencegahnya. Bima memegangi tangan kanan Alys yang akan beraksi.

 

“Lebih baik kita keluar “ ujar Bima mengambil keputusan. Ia dengan cepat mengandeng Alys keluar dari tempat setengah jahanam  ini.

****

Mereka langsung mengambil oksigen sebanyak-banyaknya ketika sudah berada di laur bioskop, Rasanya nafas mereka akan habis jika 15 menit saja mereka masih didalam sana. Alys dan Bima mengibas-kibaskan tangan mereka ke wajah.

 

“Beliin gue minum dong” suruh Alys, ia  merasakan tenggorkanya benar-benar kering. Bima mengangguk dan berjalan meninggalkan Alys menuju ke tempat penjual minuman.

 

Alys mengambil tempat duduk kosong yang ada di dekat game zone . Ia masih saja mengibas-kibaskan tangannya ke wajah, Alys mengusapi wajahnya yang entah mengapa di penuhi dengan keringat dingin. Padahal di dalam bioskop pastinya sangat dingin apalagi tiket yang diberikan kepadannya adalah XXI.

10 menit kemudian, Bima datang dengan membawa 2 minuman, untuk dirinnya satu dan satunya ia berikan kepada Alys. Bima mengambil duduk di sebelah Alys. Mereka sibuk menghabiskan minuman masing-masing yang langsung habis dalam sekali sedot.  Awesome .

 

“kemna kita sekarang ?” tanya Bima dengan nafas yang masih sedikit tidak teratur. Ia merasa seperti habis dikejar oleh anjing-anjing galak.

 

“Pulang!” jawab Alys dengan cepat.

 

“Tidak mungkin, mama lo bisa curiga. Film.nya masih sekitar 1 jam lagi selesai. Kalau kita pulang sekarang, mama lo pasti akan mengintrogasi lama”Alys menghela nafas berat, ia sangat membenarkan pertnyataan Bima tersebut.

 

“Lalu? Kita harus kemana?” tanya Alys pasrah.

 

“Kita jalan-jalan saja sekitar Mall. “ usul Bima

 

“yaudah “

 

Mereka berdua pun berdiri dan melanjutkan langkah mereka. Tak ada yang mereka bicarakan dan hanya terus berjalan tanpa menatap ke toko-toko disamping mereka. Seolah semua itu tidak menjadi suatu yang menarik mereka berdua.

Alys dan Bima hanya ingin pulang saat ini. Fikiran mereka benar-benar kacau dan blank akibat kejadian di dalam bioskop. Bagaimana bisa ada dua pasangan tepat di samping kanan dan kiri mereka berdua. Oh god. This is so crazy .

 

Bersambung. . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s