My Teacher Is My Husband – 7

My Teacher Is My Husband – 7

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

******

Hari ini adalah hari kencan pertama Radit dan Alys. Sabtu malam ini, Radit mengajak Alys keluar untuk jalan-jalan. Mendapat ajakkan seperti itu membuat Alys bahagiannya bukan main. Karena lebih tepatnya ini adalah 1 minggunya mereka menjalin hubungan sebagai “sepasang kekasih”.

 

Mungkin sudah hampir 2 jam gadis cantik dan putih dengan wajah tirus ini bergelibat dengan pakaian di lemarinya, dengan hasil nihil alias tidak ada baju yang ia suka. Padahal 30 menit lagi Radit akan menjemputnya, dan itu membuat Alys semakin pusing bukan main.

 

Alys duduk sebentar diatas kasur, dengan mata yang masih menatap ke lemarinya yang terbuka lebar-lebar. Mata Alys men-scan kembali satu baju yang ada di dalam lemarinya. Beberapa menit kemudian, Mata Alys berhenti di sebuah pakaian yang masih terbungkus rapi dengan plastik baju beserta hunger-nya. Baju tersebut berada di ujung lemari. Alys berdiri mendekati lemarinya dan meraih baju tersebut.

 

“I got it “ ujar Alys melihat pantulan dirinnya di depan cermin lemarinya yang besar. Ia memadukkan bajunya dengan dirinnya dan melihat bahwa baju ini sangatlah pants dipakainya malam ini. Baju ini adalah baju yang dihadiahkan Papanya setahun yang lalu, namun ia tak pernah memakainya.

******

Alys segera keluar dari rumahnya dengan gerakan cepat setelah Radit menelfonya, memberitahu bahwa ia sudah menunggu dibawah. Alys sendiri tak ingin ketahuan sang mama bahwa ia keluar dengan seorang pria Bisa-bisa sang mama akan meng-introgasi.nya mati-matian. Sebelum hal itu terjadi Alys dengan cepat mengambil langkah seribunya. Toh, ia sendiri sudah meminta izin kepada mama.nya tadi sore dengan alasan ia ingin membeli perlengkapan bulanannya sekalian mencari buku di toko buku untuk tugas akhirnya

 

Alys mendapati sebuah mobil pajerosport  berwarna putih mangkring di depan rumahnya. Alys segera masuk kedalam mobil tersebut. Ia melihat Radit yang duduk dengan tenangnya di belakang stir mobil. Setelah Alys menutup pintu, mobil beranjak dari sana dengan kecepatan sedang.

 

“Ganti mobil lagi ?” tanya Alys mencoba mencairkan suasana agar tak hening. Radit mengheleng pelan, tatapannya masih fokus di depannya.

 

“Mobil gue di pinjam sepupu gue. Terpaksa gue pakai mobil papa” jawab Radit seadanya Alys pun mengangguk-anggukan kepalannya. Dan keheningan terjadi kembali. Alys mendesah pelan ia tau bahwa Radit bukan seorang anak yang banyak tingkah atau pun bicara Jadi wajar saja jika selalu ia yang akan mengawali pembicaran.

 

“Mmm—, gimana penampilan gue malam ini? Ini baju baru pertama kali gue pakai, Padahal Papa ngasih hadiah ini udah lama banget “ cerita Alys dengan ekspresi khas.nya. Radit melihat sekilas ke arah Alys namun dalam hitungan detik setelahnya ia fokus menyetir lagi.

 

“Cantik” jawab Radit datar dan berhasil membuat Alys mendengus sedikit kesal tentunya.

 

“Gitu doang??” tanya Alys dengan wajah tak percaya.

“Terus maunya gue muji gimana?”

 

“Yah—, mmmm—, gimana ya? Setidaknya bilang kalau gue cantik pakai gaun ini, terus bilang kalau gue berbeda dan—“

 

“Lo nggak lagi mabuk kan??” cerca Radit dingin.

 

“Ah—, gue hampir lupa. Kalau gue sekarang pacaran dengan Pangeran berhati kulkas “ sinis Alys dan berhasil membuat Radit terkekeh ringan.

 

Perlahan tangan kiri Radit ia lepaskan dari pegangan setir, ia mengacak-acak puncak rambut Alys. Melakukan perlakuan dari Radit yang hanya seperti itu saja, mampu berhasil membuat Alys mematung seketika.

 

“Aissh—, kenapa jantung gue nggak bisa tenang!!!”

*****

Radit mengajak Alys makan di cafe milik temannya SMP dulu, Tempatnya bisa dikatakan mewah dan dipenuhi dekorasi bunga dimana-mana. Mereka berdua berjalan ke meja yang terletak di outdoor lantai dua. Berhubung malam ini adalah malam minggu bisa dikatakan cafe ini sudah ramai dipenuhi pasangan remaja  yang sedang menikmati kemesraan mereka. Seolah tempat ini secara tidak langsung mengatakan “ Jomblo not allowed “ Cihh—.

 

Radit dan Alys segera memesan makanan mereka, malam ini udarannya bisa dikatakan lumayan dingin.  Langit sendiri tak secerah hari kemarin. Terlihat gelap dan pekat seperti mendung namun tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mungkin saat ini sedang terjadi pertempuran doa antara couple vs jomblo .

“Lo nggak kedinginan pakai baju itu?” tanya Radit ketika berhasil men-scan penampilan Alys mulai dari atas sampai bawa. Alys memakai dress merah  diatas lutut dengan bagian dada atas sedikit terbuka dan hanya ada tali berdiameter 3cm yang menyanggah baju itu di kedua bahu Alys.

 

Alys menggelengkan kepalannya. “ Nggak! Why ?” Radit tersenyum ringan sambil menggelengkan kepalannya. “No problem, gue hanya nggak terbiasa lihat lo pakai baju kayak gini. “

 

“Lo nafsu lihat gue kayak gini?” tanya Alys spontan dan membuat Radit sedikit terkejut.

 

“Ha? Nafsu ? Nggak lah”

 

“Yaudah “ jawab Alys lebih tak acuh. Melihat Alys yang sedikit kesal begitu membuat Radit tertawa ringan. Entah mengapa ia sangat suka ketika melihat wajah Alys yang lucu dan apa adanya menurutnya. Yah, beginilah Alys sang pacar seorang gadis yang tak bisa diam, tingkahnya kesana-kemari dan selalu berbuat ceroboh.

 

Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan tiba, dan mereka berdua pun segera memakannya. Perbincangan ringan terjadi diantara mereka berdua, mulai dari membahas tugas akhir mereka, sampai membahas setelah SMA mereka akan melanjutkan kuliah dimana. Dan hal itu selalu Alys yang mendahului membuka pembicaraan.

 

“Raditt!!!!—“ suara teriakan seorang gadis tak jauh dari tempat mereka berdua duduk membuat percakapan Radit dan Alys terhenti. Mereka berdua menoleh ke sumber suara.

 

“Hai, lama banget lo nggak kesini” gadis itu menghampiri Radit dan tanpa melihat situasi ia duduk disamping Radit dengan comfortable.nya. Radit tersenyum sedikit canggung, ia melirik ke arah Alys yang menatap pemandangan di depannya dengan kedua mata membulat dan ekspresi binggung tentunya.

 

“Mor, kenalin dia Alys pacar gue “ ujar Radit kepada temannya tersebut dan membuat gadis itu segera menatap ke Alys.

 

“Ah—, lo udah punya pacar ya. “ gadis itu nampak menatap Alys dengan tatapan sedikit canggung.

 

“Amora” ujar gadis itu mengulurkan tangannya. Alys tersadar, ia membalas jabatan tangan Amora

 

“Alys” jawabnya seadannya.

 

“Oh ya, nomer lo ganti ya? Tiap kali gue coba telfon lo selalu nggak bisa. Gue kangen banget tau nggaksih sama lo “ gadis itu tanpa mempedulikan Alys langsung menatap Radit lagi dan berlagak manja di hadapan Radit.

 

Alys melihat pemandangan di depannya dengan geram, ia mengepalkan kedua tangannya yang ada dibawah meja, mencoba menahan emosinya melihat bagaimana tingkah laku gadis bernama Amora itu.

 

“Gue minta nomer lo lagi dong, rumah lo masih di perumahan dekat rumah sakit itu nggak? Gue kapan-kapan main boleh kan ya? Kangen juga tau gue kesana. Biasannya kan  dulu kita pulang bareng terus main ke rumah lo”

 

“Gu—“

 

“Lo tambah cakep ya sekarang, dulu SMP lo dikejar-kejar banyak kakak kelas, adik kelas. Jadi nyesel dulu kenapa gue mutusin lo”

 

What???!!!! “

 

Alys rasanya tak bisa bernafas lagi. Kapasitas oksigen di paru-parunya terasa kosong seketika itu dan hawa yang semula dingin kini langsung berubah dalam hitungan detiknya menjadi panas. Alys menatap Radit dengan tajam.

 

“Gue ke toilet bentar ya “ pamit Alys mencoba mengembangkan senyumnya dan langsung beranjak tanpa menunggu lama.

 

“Al—“

 

“Dit gue kangen tau waktu kita bersama dul—“

 

“Mor!!!” bentak Radit dengan nada sedikit tinggi dan membuat gadis bernama Amora tersebut langsung diam. Radit menatap Amora dengan tatapan tak suka.

 

“Gue sekarang punya pacar!! Jangan rusak hubungan gue. Kita sekarang hanya berteman biasa. Nggak ada yang perlu lo sesalin. Gue juga udah maafin perselingkuhan lo dulu.”

 

“Sorry—, gue pergi dulu “ Radit segera berdiri, ia tak mau Alys salah faham dengan ini semua. Ia tau pasti bahwa Alys sangat marah kepadannya saat ini. Radit meninggalkan Amora yang hanya bisa mengomel-ngomel tak jelas.

*****

Alys langsung masuk ke dalam mobil, berhubung memang tadi Radit menitipkan kunci mobilnya di tas.nya. Alys benar-benar kesal barusan. Bukan hanya dengan gadis bernama Amora tapi juga dengan Radit.

 

CKLEEKKK

 

“Kunci mobilnya mana ??” Radit masuk ke dalam mobil dan meminta kunci mobil kepada Alys. Dengan tak acuhnya Alys melemparkan begitu saja kunci mobil tak berdosa itu, Radit menghembuskan nafas beratnya Ia segera masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil tersebut beranjak dari cafe itu sebelum Alys tambah meledak.

 

Tak ada yang membuka pembicaraan, Alys diam karena masih marah dan Radit sendiri binggung harus memulai dari mana. Ia bukan seorang speaker yang handal. Apalagi di dalam situasi saat ini.

 

“Lo maasih marah ?” tanya Radit mencoba menghentikkan keheningan ini. Tak ada jawaban dari Alys, gadis itu menatap saja ke depan. Seolah di sebelahnya tak ada siapapun.

 

“Dia cuma mantan gue dulu waktu SMP, kita juga jadian nggak lama. Dia mutusin gue dan gue juga nggak ada rasa lagi sama dia. Kita hanya teman” ujar Radit dengan jujur.

 

“ Mantan ?? dan lo ngajak gue makan di cafe mantan lo ??” sinis Alys dan membuat Radit langsung terdiam seketika itu.

 

“Gue—, gue suka aja makanannya disana “

 

“Suka makanannya? Apa lo kangen sama mantan lo”

 

“Al—!!!” suara Radit meninggi, seolah tak terima dengan tuduhan tajam yang dilontarkan oleh sang kekasih.

 

“What ?? “ balas Alys dengan nada tak kalah tinggi.

 

“Yaudah lo sekarang mau kemana??” Radit mencoba untuk mengalah. Nada suaranya ia rendahkan sedikit, terdengar melembut.

 

“Terserah—“

 

“Gue nggak tau tempat yang namannya terserah “ sahut Radit dingin kembali. Alys mendengus pelan. Tanpa jawaban.

 

Radit pun tak bertanya lagi, ia hanya mengendarai mobilmya ke arah semaunya saat ini. Ia sendiri binggung bagaimana membuat Alys tak marah lagi. Baginya ini juga bukan masalah yang besar. Tapi ia mengakui bahwa dirinnya telah membuat segala kesalahan, ia tak memungkirinnya.

*****

 

 

Alys menatap Radit dengan wajah binggung ketika mobil yang mereka beruda kendarai kini berhenti terparkir di halaman rumah Radit. Tentu saja Alys pernah datang kerumah Radit untuk ketiga kalinya ini. Mungkin.

 

“Kenapa kerumah lo?” tanya Alys mulai membuka suarannya.

 

“Kalau ke rumah lo, nanti lo tambah juluki gue pangeran berhati mount everest “ sindir Radit dengan ekspresi wajah tenang. Ia membuka pintu mobilnya dan turun. Sedangkan Alys masih diam di dalam mobil.

 

TookkTookkk

 

Radit mengetuk jendela Alys, membuat gadis itu sedikit tersontak. Ia menatap Radit yang menatapnya sedikit menuntut  agar dirinnya ikut turun. Dengan hati yang masih panas, Alys turun saja dari mobil.

 

“Ayo—“

 

Alys mematung dan menghentikkan langkahnya seketika itu, Radit yang tiba-tiba mengenggegam tangan kananya. Rasanya hangat, bagai sengatan listrik genggaman tangan itu berhasil membuat jantung Alys berdetak cepat. Bahkan, rasa marah dan panas hatinya yang beberapa detik lalu masih ada, entah kenapa langsung hilang seketika itu Terhenti dengan rasa yang  entahlah—.

 

“Kenapa ?” tanya Radit dengan menatap Alys heran. Namun, Radit sepertinya mengerti kenapa Alys tiba-tiba seperti ini. Ia bisa merasakan tangan kanan Alys yang ia genggam sedikit gemetar.

 

“Tangan lo yang terlalu lama nggak pernah di genggam cowok, apa tangan gue yang semagic itu? “ tanya Radit dengan tatapan sedikit meremehkan. Mendengar pernyataan Radit yang seperti itu langsung membuat Alys kembali kesal. Dalam sekali sentakkan Alys membuang tangan Radit.

 

“Dikira gue cewek jomblo nggak laku apa!! “ desis Alys dengan nada tak enak. Ia berjalan duluan meninggalkan Radit yang hanya geleng-geleng melihat tingkahnya dengan senyum ringan merekah di bibirnya.

 

Alys duduk di sofa, mengambil ponselnya mencari kesibukkan sendiri. Tak mempedulikan langkah kaki yang mulai masuk kedalam ruang tamu tersebut.

 

“Ngapain duduk?” Alys pun dengan cepat berdiri seketika itu. Radit menggaruk-garuk belakang kepalannya yang tak terasa gatal. Melihat wajah Alys yang ditekuk seperti itu entah mengapa membuatnya gemas akan kelucuan tingkah gadis ini.

 

“Gue mau ajak lo ke taman belakang, lo belum pernah masuk kan ke dalam rumah gue” ajak Radit dan tanpa menunggu lama ia menarik pergelangan tangan kekasihnya. Alys sendiri menurut saja, mengekor di belakang Radit.

 

Ini untuk pertama kalinnya Alys masuk ke dalam rumah Radit, ia mengedarkan pandangannya melihat inti-demi inti apa yang ada di dalam rumah Radit. Ia cukup kagum dengan tatanan furniture yang ada di dalam rumah. Bahkan di dekat ruang makan terdapat kolam yang diatasnya tertutupi dengan kaca.

 

Alys mengikuti Radit yang menuruni tangga untuk menuju taman belakang, dan begitu sampai di taman belakang Alys hanya bisa menatap takjub. Disana benar-benar indah. Kebanyakan rumah-rumah besar, halaman belakang pastinya terdapat kolam renang dan gazebo kecil. Namun, dirumah Radit, disana terdapat sebuah danau buatan yang tidaklah terlalu besar, danau buatan itu tertumbuhi banyak “bunga teratai” yang sudah mekar. Yang lebih menakjubkan lagi, terdapat sebuah jembatan kecil yang terbuat dari besi berwarna gold yang menghubungkan antara sisi ujung depan dan belakang, dan di setiap ujung sudut halaman juga terdapat bangku kursi kecil yang cukup untuk di duduki dua orang.

 

“Hati-hati ada buaya kecilnya “

 

Seketika itu Alys terpelonjat, kedua tangannya dengan refleks memegangi lengan Radit cukup kencang. Radit tertawa ringan.

 

“Gue Cuma bercanda.”

 

“Yaaa!!! “ kesal Alys dan segera melepaskan genggaman tangannya dari lengan Radit. Ia berlagak galak kembali seolah belum memaafkan Radit.

 

“Indah kan ??”

 

“Yah” jawab Alys dengan jujur untuk yang satu ini. Memang pada kenyataanya halama atau taman belakang rumah Radit sangatlah indah. Sangat berbeda dengan rumah-rumah lainnya.

 

Alys tertarik untuk ke jembatan yang ada ditengah-tengah danau tersebut, ia berjalan sendiri tanpa mempedulikkan Radit. Dirinnya seolah terhipnotis keindahan malam ini, padahal langit sendiri berwarna hitam pekat, udara malam semakin dingin bahkan mungkin saja setelah ini akan turun hujan.

 

Radit membuntuti gadisnya, berjalan di belakangnya. Sampai akhirnya Alys berhenti di tengah jembatan, ia melihat tanaman teratai lebih dekat, senyumnya terangkat.

 

“Eh—“ kaget Alys ketika sebuah jaket sudah menempel di tubuhnya. Ia menatap Radit yang saat ini juga sedang menatapnya dengan senyum khasnya. Bahkan lesung pipit pria itu terlihat jelas. Senyumnya berhasil membuat Alys meleleh seketika itu. Tidak akan ada orang yang mempungkiri ketampanan Radit, apalagi jika pria ini sedang tersenyum seperti ini. Alys benar-benar beruntung karena ia mungkin satu-satunya siswi di sekolahnya yang hanya bisa melihat senyum manis Radit ini.

 

“Lain kali jangan pakai baju yang terlalu terbuka” ujar Radit sambil mengacak-acak puncak rambut Alys. Gadis itu langsung tertunduk malu. Jujur saja, setiap sentuhan yang dilakukan Radit, pasti akan berdampak pada detakan jantungnya yang bergerak cepat dengan sendirinnya. Alys segera mencoba mengalihkan pandangannya kembali ke depan, melihat tanaman teratai yang ada di atas air danau.

 

Mereka sama-sama diam, dan terjadi keheningan beberapa menit untuk saat ini.

 

“Sorry—“ Radit mulai membuka suarannya kembali. Tangan kirinnya meraih tangan kanan Alys. Mengenggamnya dengan erat. Alys tentu saja kaget, kedua bola matannya bergerak tak menentu, bibirnya pun sedikit bergeming tanpa suara. Ia mulai salah tingkah.

 

“Gue ngaku salah bawa lo kesana. Gue bukan tipe orang romantis juga. Gue jarang makan di cafe-cafe, dan hanya cafe itu yang pernah gue kunjungi dengan desain yang bagus. Gue fikir lo akan suka jika gue ajak kesana, dan gue juga nggak tau kalau Amora ada disana. Setahu gue dia sekolah di Singapore” Jelas Radit dengan jujur, entah kalimat-kalimat itu didapatnya dari mana. Alys mengernyitkan keningnya, ia menatap Radit dengan heran

 

“Waahh—, kursus public speaking  dimana mas ??” tanya Alys yang memang terdengar seperti sindirian. Radit terkekeh ringan mendengarnya.

 

“Lo udah maafin gue ?” tanyanya tak mempedulikan sindiran Alys barusan.

 

“Mmm—, gimana ya ??” Alys seolah ingin menggoda Radit. Ekspresinya ia buat seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Radit menatapnya dengan senyum yang masih belum hilang, Ia tentu jelas tahu bahwa Alys hanya sedang berpura-pura.

 

Cuppp

 

            Alys membelakakan matannya, Radit tiba-tiba mendaratkan ciuman sekilas di bibirnya. Alys langsung memundurkan kakinya satu langkah. Ia melihat Radit dengan tak percaya.

 

“Yaaa!!! “ bentak Alys dengan wajah blank. Radit tersenyum ringan seolah tak menyesali apa yang sudah ia lakukan barusan.

 

“Gue anggap lo udah maafin gue” ujarnya seenaknya.

 

“Lo selalu aja nyium seenaknya sendiri!” omel Alys tak terima.

 

“Biasanya kalau orang di pukul pasti akan membalas memukul, orang ditampar akan membalas menampar. Jadi lo boleh balas nyium gue “

 

“What???” Alys benar-benar tak percaya bahwa seorang Radit bisa berkata se-vulgar itu.

 

Radit menarik kedua tangan Alys dan membuat tubub gadis itu tertarik kedepan mendekatinnya. Alys meneguk ludahnya, jaraknya dengan Radit kini hanya tinggal beberapa centi saja. Kedua tangannya mengemggamnya dengan erat sekali.

 

“Lo—, lo—, lo mau apa?” tanya Alys mulai panik.

 

“Nunggu balasan lo” jawabnya enteng.

 

“Yaahhh!!! “ teriak Alys seperti anak kecil. Sekali lagi Radit menyungingkan senyumnya.

 

“Lepasin tangan gue!!! “ ketus Alys mencoba melepaskan kedua tangannya. Namun, Radit nampaknya tak mengabulkan permintaanya tersebut.

 

“Nggak akan, sampai gue dapat balasan dari lo”

 

“Lo nggak lagi mabuk kan??” ketus Alys sekali lagi. Radit semakin tertawa dengan renyahnya.

 

“Mmm—, sepertinya nasi goreng yang gue makan tadi dicampur alkohol sedikit” balas Radit asal. Alys mendengus.

“Lepasin nggak!!! “ ancam Alys. Namun hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari Radit.

 

“Lo nyebelin banget tau nggak!! “ kesal Alys tak bisa tertahankan.

 

“Bukannya dari dulu lo selalu bilang ke anak-anak kelas kalau gue pria paling nyebelin sedunia berhati dingin” Alys terdiam seketika itu, ia tak menyangka bahwa Radit mengetahui hal tersebut. Alys mencoba pura-pura tidak tau.

 

“Yaudah—“

 

“Yaudah apa??” balas Radit dengan nada semakin jahil.

 

“Tutup mata lo dulu” ujar Alys sedikit malu-malu

 

“Kenapa gue harus nutup mata gue ??”

 

“Ya—, Ya—, Ya — gu—, gue malu lah” gugup Alys. Jujur saja ia belum pernah mencium seorang pria.

 

“Kenapa harus malu? Gue nggak nyuruh lo telanjang disini”

 

“YAAAKKKK!!!! LO !!!!”

 

Melihat emosi Alys sudah hampir meluap akhirnya Radit melepaskan genggaman tangannya. Ia tertawa ringan sambil mengacak-acak rambut kekasihnya. Entah mengapa ia sangat suka ketika Alys seperti itu.

 

“Ayo masuk, kayaknya sebentar lagi hujan” ujar Radit yang akan beranjak dari sana.

 

Namun, tangannya tiba-tiba dicegah oleh Alys. Pria ini memberhentikan langkahnya dengan kening berkerut. Alys berjalan ke hadapannya kembali, dan—

 

Cuppp

 

            Sebuah kecupan lembut mendarat mulus di bibir Radit. Pria ini terlihat sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Alys barusan.

 

“Puas??” ketus Alys mencoba menyembunyikan rasa malunya yang sedang ia sembunyikan. Jantungnya rasanya ingin pecah akibat detakannya yang semakin berdenyut di luar batas.

 

“Belum” ujar Radit dengan senyum smrik yang ia tunjukkan. Tangan kanannya menarik pinggang Alys dan membuat tubuh gadis itu maju kedepan. Mendekatkan jarak diantara mereka.

 

Kedua mata mereka saling bertemu, mereka bertatapan satu sama lain. Perlahan Radit mendekatkan wajahnya, ia tak melihat Alys menjauhkan badannya atau mencoba menghindarinya, ia mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi hingga kedua ujung hidung mereka sudah bersentuhan, dan Radit mengecek kembali tak ada tanda-tanda dari kekasihnya ini memundurkan tubuhnya. Seolah ia mendapatkan izin, Radit segera menyentuhkan bibirnya tepat pada bibir Alys.

Alys sendiri tak bisa apapun, tatapan yang diberikan Radit tadi benar-benar tak bisa ia tolak. Ia baru menyadari bahwa bibir merah Radit begitu menawan.  Sampai akhirnya ia melihat Radit perlahan memmejamkan matannya dan merasakan bibirnya tersentuh.

Alys dapat merasakan nafas hangat dari Radit, untuk beberapa detik bibir mereka hanya saling menempel, sampai akhirnya Alys merasakan Radit perlahan mulai melumat bibir mungilnya dengan lembut. Seolah terhipnotis dengan ciuman yang lembut itu, tanpa sadar Alys memejamkan matannya bersamaan dengan kedua tangannya yang ia letakkan di leher Radit. Perlahan Alys pun membalas ciuman Radit yang semakin lembut dan pelan. Sebuah ciuman yang seolah tanpa ada nafsu di dalamnya.

 

Rintikkan  hujan perlahan turun satu demi persatu. Namun, kedua sepasang kekasih ini, masih menikmati tautan bibir mereka. Suara decakan ciuman mereka pun dapat terdengar dengan jelas ditelinga mereka masing-masing. Baik Radit dan Alys nampaknya tak ada yang ingin melepaskannya dan serasa menikmati sentuhan bibir masing-masing.

 

Bersambung . . . . .

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s