My Teacher Is My Husband – 8

My Teacher Is My Husband – 8

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

******

Alys P.OV

Besok adalah hari pernihakanku dengan Bima. Aku tak tak bisa tenang, kamar seluas 7m x 10m terus aku jamahi dengan langkah panjang. Gugup, cemas, takut, binggung, semuannya bercampur jadi satu. Apa yang harus aku lakukan besok? Apa aku benar-benar akan menikah dengan pria tak berpreasaan itu? Bagaimana dengan Radit?

 

“Apa gue sudah gila?”

 

“Gue akan menikah dengan guru bahasa jepang gue sendiri dan gue juga dalam status berpacaran dengan Radit! Murid dari guru dan calon suami gue sendiri. “

 

“Oh My God!!”

 

Kakiku sudah terasa tak bertenaga, aku menarik kursi meja belajar yang tak jauh dari tempatku berdiri. Menghelakan nafas yang sangat panjang, berfikir kembali.

*****

Author P.O.V

 

Alys menyederkan kepalannya di sofa ruang tamu, semua orang rumah benar-benar membuatnya ingin marah. Mereka semua tak ada yang menanggapi dirinnya, seolah ia tidak ada disini. Mama, Papa, Kakek, Paman, Bibi semua keluargannya sibuk sendiri menyiapkan pernikahannya yang tinggal menghitung jam saja.

Alys mengeluarkan ponselnya yang terasa berdering di sakunya. Nama Pria Brengsek tertera di layar ponselnya. Alys mendecak sinis, berfikir sebentar untuk mengagkatnya atau mengacuhkannya.

 

“What?” pilihanya adalah mengangkatnya. Suara disebrang sana mulai berbicara.

 

“Oke”

 

Percakapan yang tak panjang, Alys memasukkan kembali ponsel ke sakunya, berdiri dari sofa yang di dudukinya. Ia berjalan melewati semua orang, melangkahkan kakinya menuju luar rumah.

Alys berdiri di depan gerbang rumahnya, seperti sedang menunggu kedatangan seseorag. Tak butuh waktu yang lama ia menunggu sebuah mobil yang sudah ia kenal di luar kepalannya berhenti di depannya. Alys lagsung membuka pintu mobil tersebut dan masuk kedalam.

 

“Bukankah pamali orang yang akan menikah saling bertemu?” Alys membuka percakapan dengan pria di sampingnya yang tak lain dan tak bukan adalah Bima. Mata Alys menatap dingin ke arah depan. Jalanan malam yang cukup ramai. Mengingat malam ini adalah satnight.

 

“Lo percaya dengan cerita itu?” sahut Bima, nadanya terdengar sangat tenang.

 

“Percaya saja, siapa tau pernikahannya gagal. “ketus Alys. Bima terkekeh remeh pelan mendengar jawaban gadis disampingnya itu.

 

Tak ada yang mereka bicarakan lagi selama perjalanan, mereka saling diam, Bima fokus dengan aktivitas menyetirnya dan Alys fokus dengan meny-scan jalanan malam. 10 menit kemudian mereka sampai di sebuah danau yang tak cukup besar. Sepi, tak terjemah, gelap. Itulah deskripsi untuk pemandangan sekitar danau.

 

“So? Apa yang ingin lo katakan?” Alys nampak tak ingin basa-basi. Ia bertanya langsung pada inti dari pertemuan mereka.

 

“Ternyata lo gadis yang nggak sabaran”

 

“Of course” jawab Alys tegas. Bima tersenyum sedikit.

 

“Aku mohon hanya 4 bulan saja, kita jalani pernikahan ini. Jangan sampai buat suatu hal yang membuat nenek terkejut. Umurnya sudah tidak panjang lagi, setidaknya aku bisa buat nenek bahagia dengan melakukan hal yang sangat ia inginkan. “

 

“Dengan menikahimu

 

            Alys terdiam, ia sedikit terkejut mendengar ucapan Bima yang tiba-tiba formal dan sangat memohon.

 

“Setelah 4 bulan, kita akan bercerai”

Alys tak tau harus menyahuti bagaimana, karena pada kenyataanya ia akan tetap menikah besok pagi dengan pria di sampingnya ini.

 

“Oke! Dan—,” Alys sedikit mengantungkan ucapannya sebentar. “Ada yang ingin gue kasih tau sama lo”

 

“Tentang?”

 

“Gue dan Radit”

 

“Ah—, kalau lo dan dia pacaran ?” ucapan Bima terasa sedikit menyohok kerongkongan Alys yang kering. Sebisa mungkin ia mengatur nafasnya agar tetap tenang.

 

“Ya”

 

“Tenang aja, gue nggak akan protes. Selama lo nggak bikin pernikahan 4 bulan ini kacau.”

 

“Lo juga boleh pacaran” ujar Alys begitu saja, entah mengapa ia merasa sedikit bersalah dengan posisi seperti ini. Ia seperti sedang selingkuh dan calon suaminya rela untuk ia selingkuhi. Aissh—,

 

“Pacaran?” Bima nampak berfikir sesaat, “Akan gue pertimbangkan”

 

Alys terdiam membeku mendengar jawaban tersebut. Bima menyalakan mobilnya dan segera pergi dari danau tersebut untuk kembali mengantarkan Alys ke rumah.

*****

Hari pernikahan Bima dan Alys resmi di gelar. Mereka berdua sudah resmi sebagai suami dan istri. Pesta pagi ini begitu ramai. Semua tamu undangan merupakan kerabat dan teman bisnis dari keluarga. Sama sekali tak ada teman Bima maupun tema Alys yang datang ke pesta ini. Yah, tentu saja mereka sengaja tidak menundang teman-temannya.

4 jam berlalu, akhirnya pesta pernikahan berakhir. Alys melakukan perpisahan dengan Mama dan Papannya. Mulai hari ini ia resmi menjadi istri Bima dan mau tak mau ia harus pindah di rumah yang diberikan oleh Nenek Genji kepada cucu tersayangnya.

 

“Ma, jangan nangis” ujar Alys menghapus air mata mamanya yang tak berhenti-henti.

 

“Semoga kamu bahagia sayang, Mama sangat senang kamu bisa menikah dengan pria yang kamu cintai dan pria yang sangat bertanggung jawab. Mama tidak akan khawatir untuk melepaskan kamu”

 

Alys mencoba mengangguk saja, memberikan kebahagiaan untuk mamanya. Ia kemudian memeluk mamanya dengan snagat erat. Menahan air matannya sendiri untuk tidak keluar.

 

“Alys sayang sama Papa” kini giliran ia pamit kepada Papanya. Tegar, penyayang, wibawa, dan keren, semua hal yang dapat ia gambarkan tentang sang ayah.

 

“Bahagia dengan kehidupan baru kamu. Jangan kecewakan Papa” Alys mengangguk beberapa kali, tak tau apa ia bisa menyanggupi ucapan sang ayah.

 

“Kakek senang sekarang? Alys akan bahagia” Alys merengkuh tubuh kakeknya yang sudah tua dan rentan. Alys sangat menyayangi sang kakek. Setidaknya ia sedikit senang bisa membuat mereka semua bahagia dengan apa yang ia lakukan saat ini.

*****

Alys dan Bima sampai di rumah baru mereka. Rumah yang berada di dalam perumahan cukup Elite dan dekat dengan sekolah Alys. Semua barang-barang mereka sudah tertata rapi di rumah ini jadi tak ada sama sekali hal yang perlu mereka bawa.

Dirumah ini tak ada siapapun, Bima tak suka ada pembantu dirumah, ia tidak suka kebisingan. Oleh karena itu, sang nenek sudah menyiapkan orang untuk membersihkan rumahnya di pagi hari sampai siang saja untuk membereskan rumah ini setiap harinya.

Alys nyelonong masuk kedalam tanpa menunggu Bima yang sedang memasukkan mobil ke garasi. Gadis ini merasa lelah, segera ingin istrihat. Ia berjalan ke kamarnya, satu minggu yang lalu ia sempat ke rumah ini bersama Bima dan menentukan dimana kamarnya dan kamar Bima.

Anggap saja pernikahan ini hanya sebuah drama formalitas.

****

Keesokan pagi, Alys keluar dari kamarnya sedikit terburu-buru. Ia menuju ke meja makan dan tidak mendapati siapapun disana. Hanya ada sepiring nasi goreng, telur mata sapi, segelas susu dan 2 lembar uang ratusan ribu beserta note.nya.

 

Gue berangkat dulu, itu uang jajan kamu. Kamu bisa naik taksi. Hati-hati

 

“Cihh—, “

 

Alys menarik salah satu kursi dan segera memakan sarapannya. Sepi dan kosong, tidak seperti pagi di hari biasannya. Ia tiba-tiba merasakan rindu kepada rumahnya da keluargannya. Alys dengan cepat menghabiskan makannya, ia tidak ingin menangisi nasi goreng di depannya.

****

Ujian Tryout lagi, Tryout lagi, Alys dibuat lelah dengan keadaan kelas 3.nya, dan persiapan ujian nasionalnya. Belum juga ia istirahat satu hari selesai hari pernikahannya kemarin. Alys menaruh kepalannya diatas meja, mencoba istirahat sejenak.

 

“Lo sakit?” tanya pria di sampingnya, yang tak lain adalah radit.

 

“Enggak, gue hanya capek aja” jawab Alys lemah tetap pada posisinya.

 

“Gue belikan minum?”

 

“Nggak usah” Alys segera mengangkat kepalannya, ia menatap Radit yang sedikit terkejut. “ Ayo ke kantin bareng” ajak Alys mencoba bersemangat.

 

Radit tersenyum melihat kekasihnya yang akhirnya seperti aslinya. Radit mengangguk dan segera berdiri dari kursinya begitu juga dengan Alys.

Mereka berjalan bersama menuju kantin, dan tentu saja mereka harus melewati ruang guru. Ditengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Bima yang baru saja kembali dari kamar mandi. Bima terus saja berjalan seolah di hadapannya tidak ada apapun, ia melewati Alys dan Radit layaknya hantu.

Melihat sikap dingin Bima, Alys merasa aneh dengan dirinnya sendiri. Seolah ada sesuatu yang tidak ia inginkan.

*****

Sepulang sekolah Alys diantarkan oleh Radit, sebelumnya mereka mampir dahulu ke salah satu Mall dekat sekolahnya. Alys ingin refreshing dan jalan-jalan sebentar. Sebagai kekasih yang baik, Radit mengiyakan permintaan kekasihnya.

 

“Gue pindah rumah” ujar Alys sambil memakan chocolate breadburn ditanganya. Radit menolehkan kepalannya.

 

“Kok tiba-tiba?” tanyanya mencoba tidak kaget.

 

“Etahlah, gue tinggal dengan saudara gue disana. Mama dan Papa ingin gue jadi mandiri”

 

“Saudara? Cewek?”

 

“Sepupu, cowok”

 

“Cowok?” nada radit sedikit tinggi. Alys tertawa ringan, merasa gemas dengan pacarnya yang nampak khawatir.

 

“Kenapa? Lo cemburu sama sepupu gue?”

 

“E—, enggak, enggak gitu. Kan namannya juga cowok. Dimana-mana mereka itu spesies yang—, yang berbahaya” alibi Radit tak ingin ketahuan bahwa ia sagat khwatir saat ini. Alys memberhentikkan langkahnya, ia menatap Radit penuh menyelidik.

 

“Lo yang paling bahaya. Aissh—“ desis Alys sinis kemudian melangkahkan lagi langkahnya.

 

“Tenang aja, dia orangnya baik. Gue juga udah kenal dia lama. Nggak mungkin lah dia berbuat macam-macam dengan—,”

 

“sepupunya sendiri” Alys tersenyum penuh arti pada 2 kata terakhirnya, menghelakan nafas yang panjang. Ia sedikit merasa bersalag karena harus membohongi Radit.

 

“Oke, I trust you”

 

“Sok inggris”

 

“Aku percoyo karo kon”

 

“Sok jawa”

 

“Gue percaya sama lo

 

“Sok Gaul”

 

“I love you “

 

Alys menoleh ke Radit yang saat ini sedang nyengir kuda tak bersalah ke arahnya. Perlahan tangan Alys mengelus lembut puncak kepala Radit. Ia tak menyangka seorang Radit bisa bertindak manis seperti ini.

 

“I love you too”

 

*****

Radit mengantarkan Alys sampai di depan rumahnya, Alys beralasan ingin segera istirahat karena lelah setelah jalan-jalan tadi. Ia ingi menghindari agar Radit tidak meminta untuk berhenti di rumahnya. Untung saja, Bima pengertian dengan memasukkan mobilonya ke dalam bagasi.

 

“Hati-hati” ujar Alys kepada Radit setelah itu ia segera masuk kedalam rumahnya.

 

Alys membuka pintu rumah, ia mendapati Bima sedang makan di meja makan. Ia juga melihat di depan meja makan Bima, terdapat satu piring lagi. Alys mencoba pura-pura tidak melihatnya, toh ia juga sudah kenyang. Kenapa ia harus peduli dengan pria ini?. Cihh—,

 

“Gue keatas dulu. Capek”

 

“Nggak makan dulu?” tanya Bima tanpa mengalihkan kegiatannya.

 

“Kenyang, tadi udah makan sama Radit”

 

“Oh” jawab Bima singkat. Alys sedikit jengkel dengan jawaban Bima. Ia tak mau menanggapi lagi dan segera meneruskan langkahnya untuk ke kamarnya.

Bima meneruskan kembali makannya, tatapan kosong dan terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Apa ia sedang cemburu? Apa ia tidak ingin Alys berpacaran dengan Radit. Entahlah, ia harus sadar bahwa dirinnya adalah pria yang terlebih dahulu menolak Alys dengan sangat kasar. Bima masih merasa sangat bersalah dengan yang ia lakukan.

*****

Malam ini tak ada yang dapat Alys lakukan, ia sudah mengerjakan semua tugasnya. Biasannya jika dirumahnya sendiri, ia akan menganggu mama atau papanya, atau setidaknya ada yang bisa ia ajak bicara. Namun dirumah ini?. Apa ia harus mengajak bicara Bima?. Yang benar saja. Ia tau diri status dirinnya dan Bima tidak hanya sebagai suami-istri tetapi satu lagi status mereka. Anjing-Kucing .

Alys keluar dari kamarnya, ia tak melihat ada siapapun. Matanya ia edarkan, untuk mengecek apakah benar tidak ada orang sama sekali dirumah ini. Ia benar-benar sangat bosan sekali.

 

“Apa nggak ada yang bisa gue kerjain sekarang?” gerutu Alys. Ia berjalan ke ruang tv. Duduk manis, mengambil remote dan menayalakannya.

Ia menganti channel  televisi tak karuan, tayangan di layar 40 inc tersebut tak ada yang mearik perhatiannya. Ia terus saja memainkan remote ditanganya, mengangti channel sesuka hatinya.

 

CKLEEEKKK

            Pintu rumah terbuka, sedikit membuat Alys terkejut. Ia menatap orang yang baru saja masuk kedalam rumah. Yah, that person is Bima. Alys berperilaku seolah tak peduli, ia menatap kembali ke layar depan.

Bima berjalan melewatinnya tanpa menyapa. Di tangan kananya terdapat dua kantong kresek putih besar. Ia baru saja pulang dari supermarket depan perumahan untuk membeli barang-barang yang ia butuhkan.

Alys melengos tak percaya.

 

“Apa gue ini hantu?”

 

“Apa gue ini nggak ada?”

 

“Basa-basi kek” gerutu Alys pelan. Ia melemparkan remote ditanganya, kemudian berdiri dan kembali ke kamarnya dengan langkah kesal.

 

Bima yang sedang menata makanan di dalam kulkas menatap Alys dengan heran. Ia tak mempedulikannya kembali dan melanjutkan kegiatannya.

Setelah selesai dengan kegiatannya, Bima membuat segelas susu cokelat hangat. Di luar udarannya sangat dingin. Musim hujan sepertinya akan segera tiba. Bima membawa gelas tersebut menuju kamar Alys.

 

DOKKKDOOOKKK

 

            Si-empu kamar membukakan pintunya, Alys nampak terkejut dengan kedatangan Bima dan segelas susu cokelat ditangan kanan pria itu. Bima tak mengucapkan apapun, langsung menyodorkan susu tersebut.

 

“Apa?” jutek Alys karena masih kesal dengan Bima.

 

“Susu”

 

“Susu?”

 

“Susu cokelat” perjelas Bima.

 

“Yaa!!, apa memang selama ini hanya gue yang suka sama lo. Apa hanya gue yang tau segala  kesukaan lo?”

 

“Ha?”binggung Bima

 

“ Nasi goreng telur mata sapi tiap pagi tanpa garam, susu putih dengan sedikit gula, lo nggak suka kopi, nggak suka jahe, dan lo alergi udang.”

 

“Lo mau buat gue sakit kepala gara-gara susu cokelat?”

 

BRAAAAKKKK

 

            Tanpa menjelaskan apapun, Alys membanting pintu kamarnya dan mengucinya dari dalam. Bima mematung disana. Apa ada yang salah dengan niat baiknya ini ?

 

Bima berjalan ke meja makan, ia meletakkan susu cokelat buatannya. Ia merogoh ponsel disakunya dan menelfon seseorang.

 

“Tante maaf menganggu malam-malam, Bima Cuma mau tanya. Alys nggak suka susu cokelat?” Bima langsung menelfon mama mertuannya. Ia tidak mungkin mengedor kembali kamar Alys dan meminta penjelasan, karena sama saja dengan bunuh diri dikandang macan.

 

“Ya ampun mama  lupa ngasih tau, Alys sangat benci sama cokelat. Kalau ia makan cokelat, kepalannya langsung pusing, bahkan ia bisa muntah-muntah. Dia juga alergi sama teh.”

 

“Oh gitu tante, kira-kira kesukaan Alys apa te? Terus dia nggak suka apa lagi?”

 

“Alys suka banget sama Pizza, Kalau mau buatkan susu, buatkan saja susu vanilla-latte, Ah sama dia juga nggak suka dengan keju”

 

“Oh gitu. Baiklah tante makasih”

 

“Iya sama-sama, kalian baik-baik saja kan?”

 

“Baik tante. Kami sangat bahagia disini”

 

“Baiklah, jangan panggil tante. Sekarang kamu juga anak mama, jadi panggil mama. Oke?”

 

“Ah—, iya ma”

Bima menutup sambungan telfonnya, ia terdiam sebentar mencoba mengingat semua percakapan tadi. Bima kembali masuk kedalam dapur. Ia membuatkan susu vanilla-latte kesukaan Alys.

Setelah selesai membuatkan susu tersebut, Bima berjalan ke kamar Alys, seperti mencoba peruntungan sekali lagi, berharap Alys akan suka dengan susu buatannya kali ini.

 

DOKKKDOOOKK

 

“Al—“

            Tak ada sautan dari dalam, Bima mengetok sekali lagi, dan pintu terbuka setengah. Alys keluar dengan sedikit malas. Wajahnya nampak tak suka dengan kehadiran Bima.

 

“Nih—“ Bima menyodorkan susu buatannya tersebut. Alys menatap gelas susu yang berisi vanilla-latte kesukaanya.

 

“Kenapa lo susah-susah buatin ini? Gue bisa buat sendiri” sinis Alys dan menerima susu tersebut.

 

“Apa tidak ada balasan terima kasih?” kini Bima mulai membalas Alys namun nadanya sama sekali tak terdengar sinis hanya saja Dingin.

 

“Arigato”

 

BRAAAKKK

 

Bima menghelakan nafasnya, mencoba sabar dengan gadis remaja sekaligus istrinya tersebut. Bima berjalan menuju kamarnya dengan geleng-geleng. Bagaimana bisa ia mengatakan ke mama mertuannya Baik tante, kami sangat bahagia disini. Persetan—,

Ia masuk kedalam kamarnya, dan segera membaringkan tubuhnya diatas kasur, menatap ke langit-langit kamar.

Apakah ini yang dinamakan Pengantin Baru ?. Tidak ada hal yang menyenangkan dengan perikahannya ini. Bima tiba-tiba terbayang dengan  kehidupan pernikahan yang ada di film-film yang pernah ia tonton. Tanpa sadar Bima senyum-senyum sendiri selama beberapa saat.

 

“Tidur bersama”

 

“Malam pertama”

 

“Kiss Morning”

 

“Masak bersama”

 

“Liburan bersama”

 

“Tertawa bersama”

 

“Aissh—, apa yang gue fikirkan!! Sadar Bima !! Sadar!!”

 

“Itu nggak akan terjadi di pernikahan lo ini !! Sadar!!!”

 

“Baiklah gue hanya harus bertahan selama 4 bulan untuk pernikahan ini,”

 

“Just four Month “

 

Bersambung . . . . .

2 thoughts on “My Teacher Is My Husband – 8

  1. Pernikahan dengan gadis remaja..
    sabar Bima..mungkin dengan berjalannya wktu 4 bulan pernikahan lo si Alys bisa brubah..alias mncintai lo kya dulu lagi *mungkin*
    Alys dah ngrasa bersalah ma Bima? Secara dia udah nikah tapi masih berhubungan ma Radit. Nyampe sini sih gw kasihan ma Radit..gmna ntar klo si Radit tau Alys dah nikah? Lebih2 nikahnya ma gurunya sendiri. Si Radit dah tau rumah Alys yg srkarang pula..ntar klo dia tau yang dimaksud ‘sepupu’nya Alys tuh ternyata Bima sekaligus ‘suami’nya pacar sendiri gmna? Huh..penasaran gw.
    ditunggu next nya kak..wlopun gw nunggu nih postingan lma ampe lumutan gpp wis..yang penting diposting..hehe
    Ok deh sekian dulu komen gw kak, tetap semangat menulis ya kak..:-)
    Keep writing!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s