My Teacher Is My Husband – 9

My Teacher Is My Husband – 9

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

******

Alys sudah siap di meja makanya, bangun lebih pagi, dan duduk manis menunggu suaminya  selesai membuatkan sarapan untuk dia sendiri dan dirinnya. Alys memainkan sendok dan piring seperti anak kecil.

“Lo berisik” dingin Bima meletakkan 2 piring berisikan nasi goreng dan telur mata sapi. Alys tak menanggapi, matannya terdiam datar menatap piring di depannya.

 

“Nasi goreng lagi?” lirih Alys kecewa, ia melirikan matannya tajam ke Bima. “ Apa Cuma ini yang bisa lo buat?”

 

“Bukankah harusnya lo yang masak!” balas Bima lebih dingin dari tadi. Ia menghelakan nafas panjangnya, dan mulai menatap Alys.

 

“Kalau lo nggak suka, lo bisa buang”

 

“Aissh—, menyebalkan!!”

 

“Mana uang saku gue, gue beli saja di kantin sekolah” tajam Alys berlagak preman. Bima menghentikan aktivitas sarapannya untuk kedua kalinnya. Ia mencoba untuk sabar, dua hari mereka menjalankan kehidupan suami-istri  tapi rasanya seperti musuh dalam gua.

 

“Kenapa lo nggak makan dengan pacar lo? Bukankah gratis?” ketus Bima

 

“Lo suami gue!!!” Alys mulai terpancing, nada suarannya meninggi.

 

“Iyakah?” picing Bima, sebelum emosi Alys semakin memuncak, Bima segera berdiri dan mengambil sesuatu dari saku celanannya.

 

“Jangan lupa sarapan” Bima menaruh 2 lembar ratusan ribu dihadapan Alys, ia tersenyum sedikit ke istrinya dan mengacak puncak rambut Alys singkat.

 

“Gue berangkat dulu”

 

Alys mematung disana, ia menatap kepergian Bima dengan fikiran binggung. Apa yang baru saja pria itu lakukan. Alys meniupkan poni rambutnya dari udara yang ada di mulutnya, setelah itu mengambil uang sakunya dan beranjak dari rumah, tak mau memfikirkan panjang kejadian barusan. Tidak Penting Juga.

******

Hari ini kelas Alys terjadwal untuk  ujian praktek olahraga, mereka harus berlari sepanjang 4 km atau setara denga 7 kali putaran lapangan sekolahnya. Alys mendengus, inilah hal yang sangat tidak ia suka. Berlari.

            Alys berjalan mendekati Radit yang sibuk mengikat tali sepatu, menunggu sampai pria itu selesai dengan kegiatannya.

 

“Kenapa?” tanya Radit bangun dari duduknya. Alys menunjukkan ekspresi kesal nya.

 

“Harus ya lari 7 kali?” gerutu Alys.

 

“Lo mau nggak dapat nilai?” sahut Radit dengan senyum tenang di bibirnya. Sangat lucu melihat Alys merengek kesal seperti ini.

 

“Nggak bisa apa lo wakilin gue? “

 

“Jadi lo nyuruh gue lari 14 kali?”

 

“Bingo, honey~” Radit menatap Alys skiptis. Pacarnya ini memang keturuan iblis yang punya banyak akal namun tak ada yang masuk diakal.

 

“Bayaran yang akan gue dapat ?”

 

“Apapun yang lo mau!!” tegas Alys penuh keyakinan

 

“Apapun ?” ragu Radit.

 

“A to the Pa to the Pun “

 

“Daripada lo biacarin hal yang lebih tak masuk akal, lebih baik lo bersiap. Tuh, Pak Alex sudah datang” jelas Radit

 

 

“Raditt~~“ manja Alys layaknya anak kecil.

 

“Jangan Manja”

 

“Aissh—, gue nggak suka lari.!!! “

 

“Kalau lari-lari di hati gue mau ?”goda Radit setengah berbisik.

 

“Kalau itu 100% nggak nolak” Alys memasang wajahnya semanis mungkin.

 

“Yaudah lo anggap aja lapangan ini hati gue “

 

“Semangat Alys !!” Radit tersenyum sebentar ke Alys kemudian perlahan berjalan menjauhi Alys yang sedang melongo dengan ucapan Radit barusan.

 

“Aisshhh—“

 

Semua teman-teman Alys mulai berbaris, dengan langkah sangat malas Alys ikut berbaris dan mengambil baris yang paling belakang sendiri, barisan yang akan mendapatkan urutan terakhir.

 

“Baiklah, kita akan mulai ujian praktek hari ini. “

 

“Kita mulai dari barisan terakhir, jadi silahkan bersiap”

 

“What???”

 

Alys membeku sebentar, apa yang barusan ia dengar? Apa ia sedang tidak salah dengar ?.

 

“Alys!! Kenapa masih diam disana? Cepat bersiap di garis start dengan teman-teman kamu” teriakan Pak Alex menyadarkan Alys. Ia segera berlari kecil dengan malas menghampiri teman-teman lainnya yang sudah bersiap.

 

 

“ Bersedia, Siap—“

 

PRIIIITTTT

 

            Semuannya mulai berlari, tidak mengambil langkah cepat maupun pelan. Semua murid mengetahui taktik berlari jauh. Menghemat energi diawal sangatlah penting. Alys berada di barisan tengah dan terus berlari mengikuti teman-temannya.

 

6 putara akhirnya sudah mereka semua lewati, dan ini adalah last lap untuk menuju sebuah paradise menuru Alys tentunya. Keringatnya sudah bercucuran tak ada henti, kedua kakinya mulai melemas. Berharap ia cemas menyelesaikan 1 putarannya lagi.

 

BRRRUKKKKK

 

“ Awww—“ ringgis Alys memegangi pergelangan kaki tangannya, ia tak sengaja tersandung batu kecil-kecil dan membuatnya terpelincir, kaki kananya berada pada posisi yang tidak tepat.

 

Semua murid-murid menatap Alys kaget, Pak Alex segera menghampiri Alys begitu juga dengan Radit tentunya yang sangat khawatir melebihi orang-orang yang ada di lapangan ini.

 

“Alys kamu kenapa? Tidak apa-apa?” tanya Pak Alex mencoba membantu Alys berdiri.

 

“Aww—, “ ringis Alys ketika mencoba berdiri, kaki kanannya benar-benar sakit. Ia kembali terduduk.

 

“Alys, lo nggak apa-apa?” khwatir Radit, Alys melihat ke arah kekasihnya.

 

“Pergelangan kaki kanan gue sakit banget. “ aduh Alys jujur.

 

“Bawa Alys ke UKS sekarang” suruh Pak Alex, dengan gerakan cepat Radit mengambil alih untuk mengendong Alys. Semua orang hanya bisa melongo dan kaget dengan tindakan Radit yang sangat hiperaktif, karena untuk pertama kalinnya mereka melihat Radit bertingkah seperti ini.

*****

Untung saja kaki Alys tidak terjadi apa-apa atau ada yang patah. Hanya saja terjadi pembengkakan sedikit di pergelangan kakinya, kata dokter 3 hari, paling lama 5 hari akan segera sembuh jika terus teratur minum obat dan mengoleskan salep.

*****

Alys mendapatkan izin untuk pulang lebih awal. Ia tidak ingin Radit mengantarnya, karena Radit pasti mau tidak mau akan mengantarkannya sampai didalam rumah. Alys tidak mau itu.

Alys berbohong kepada Radit bahwa orang tuannya akan menjemputnya.

 

“Sorry Radit “

 

“ Yakin orang tua lo sebentar lagi datang” cemas Radit tak tega meninggalkan Alys sendirian di UKS.

 

“Iya, kamu sendiri tadi dengar kan aku menelfoan Mamaku” Radit menganggukkan kepalannya.

 

“Cepet sembuh—“ujarRadit dan mencium puncak kepala Alys selama beberapa detik.

 

“Thanks—“ Alys tersenyum malu. “ Udah sana kembali ke kelas. Lo udah ketinggalan pelajaran 15 menit. “

 

“Yaudah gue balik ke kelas dulu. Nanti pulang sekolah gue jenguk ke rumah lo”

 

“Jangan—!!” spontak Alys dan mendapat reaksi terejut serta binggung dari Radit.

 

“Kenapa?” tanya Radit heran. Alys berfikir ekstra cepat untuk mencari alibi.

 

“Bukannya lo ada janji sama sepupu lo untuk memancig ?”

 

“Gue bisa batalin”

 

“Jangan, kasihan sepupu lo, dia jauh-jauh datang dari bandung hanya untuk bermain sama lo” untung saja Alys ingat bahwa hari ini sepupu Radit yang dari bandung datang, dan sebenarnya Radit merencanakan untuk mengajak Alys bermain-main dengan sepupunya nanti.

 

“Kamu sama siapa dirumah?”

 

“Ya ampun Radit, ada sepupu gue, Jangan khawatir. Kaki gue juga nggak parah.” Cerocos Alys gemas dengan kekasihnya ini. “Jangan Lebay~” tambahnya penuh penekanan.

 

Radit tersenyum ringat, mengangguk-anggukan kepalannya.

 

“Baiklah, gue balik ke kelas dulu Al”

 

“Hmm—“

 

Tak selang berapa lama setelah kepergian Radit, seorang pria masuk kedalam UKS, ia menghampiri Alys.

 

“Lo sejak kapan sudah disini?” tanya Alys kaget dengan kehadiran pria tersebut yang tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan sensei jepang sekaligus suaminya.

 

“Sejak Radit mencium kening lo” jawab Bima tanpa ekspresi. Alys mematung, ia layaknya seorang istri yang terperangkap sedang selingkuh oleh suaminya. Tapi bukankah itu benar adannya ??.

 

“Lo—, Lo—, lo ngeliat ??”

 

“Nggak sengaja” jujur Bima, matannya mengarah ke pergelangan kaki kanan Alys yang sudah terlapisi bandage dengan rapi.

 

“Lo jatuh?” tanya Bima mengalihkan toipik perbicaran.

 

“Hmm—“ angguk Alys. Sebanarnya yang ia telfon dihadapan Radit tadi bukanlah Mamanya melainkan Bima. “ Gue mau pulang” rengek Alys.

 

Bima terdiam sebentar,

 

“Gue tunggu di dalam mobil, minta bantuan Dokter Alrista untuk ngantar lo ke parkiran”

 

“Kenapa nggak lo aja langsung?”sewot Alys, karena menurutnya Bima menghabiskan waktu saja.

 

“Kalau lo mau Radit tau, no problem!!” Alys memejamkan matannya sesaat, ia baru saja menyadari statusnya dengan Bima, dan dimana ia berada sekarang. Sekolah!.

 

“Baiklah—“

 

*****

Alys sampai di parkiran, ia menunggu sampai Dokter Alrista mengihalng dari hadapannya, sekali lagi Alys berbohong bahwa sebentar lagi Mamanya akan datang. Melihat situasi parkiran sekolah sepi, Alys memanggil nama Bima. Ia menatap mobil Bima yang tak jauh dari tempatnya sekarang.

 

“Bim—“ panggilnya cukup kencang, dan Bima keluar dari mobilnya.

 

Bima mendekati Alys, medorong kursi roda Alys menuju mobilnya dan mereka masuk kedalam untuk segera beranjak dari sekolah.

*****

Bima membopong tubuh mungil Alys, dari kursi roda ke kasur. Alys hanya diam saja, walau kondisi terasa cukup canggug. Bima melakukannya dengan hati-hati.

 

“Thanks—“ ujar Alys pelan. Cukup malu ia mengatakanya. Bima sedikit terlihat kaget, namun segera ia sembunyikan dan membalas ucapan Alys dengan sebuah anggukan ringan.

 

“Lo mau makan?” tanya Bima mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

 

“Nggak ada” jawab Alys, ia menatap Bima kembali. “lo nggak kembali ke sekolah?” tanya Alys hati-hati.

 

“Lo mau sendiri?” Alys segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jujurnya. Bima menghelakan nafas.

 

“Kalau ada apa-apa, lo bisa panggil gue.” Bima merapikan bantal, selimut dan menempatkan kursi roda Alys ke tempat yang layak. “ Gue keluar dulu” pamitnya kemudian.

 

Alys menghelakan nafas lega setelah kepergian Bima. Entah kenapa rasannya terdapat dinding besar diantara mereka berdua. Untuk saling conversation long-term sangatlah sulit, paling panjang pun hanya 10 kalimat. Paling panjang!!.

 

“Bodo amatlah” dengus Alys. “ Lebih baik gue tidur “

 

*****

Senja telah datang, matahari mulai lelah dan perlahan bersembunyi dari peradaban. Langit mulai memetang, bintang bermunculan satu persatu menjadi penghias malam bulan purnama.

Alys terbangun dari tidurnya, ia melihat Bima duduk manis di meja belajarnya. Pria itu sedang membaca sebuah novel motivasi. Alys mengernyitkan keningnya, heran.

 

“Ngapain lo disini?”

 

“Nungguin lo”jawab Bima masih fokus ke novelnya.

 

“Nungguin gue?”binggung Alys menjadi. Bima menutup bukunya, menaruhnya diatas meja dan menatap Alys.

 

“Gue mau makan diluar, nggak mungkin gue ninggalin lo dirumah sendiri. “

 

“Kenapa lo nggak bangunin gue ?”

 

“Lo bisa bangun sendiri” jawab Bima singkat, Alys mendengus.

 

“Mandi sana” lanjut Bima, ia berdiri dari tempat duduknya.

 

Alys terdiam sebentar, ia memfikirkan ucapan Bima tadi. Pria itu menyuruhnya untuk mandi. Tapi bagaimana cara dia mandi jika kondisinya saja seperti ini?.

 

“Bim, cara gue mandi gimana?” tanya Alys mencegah Bima keluar. “ kaki gue masih di lilit Bandage “ jelasnya lagi. Bima membalikkan badannya menghadap ke Alys.

 

“Terus lo nyuruh gue buat mandiin lo?” tanyanya skiptis. Alys melongo, menatap Bima tak percaya.

 

“Aiss—, dasar mesum”ketus Alys. “ Gue bisa sendiri!!” tajamnya lagi.

 

Bima menggelengkan kepalannya beberapa kali, sudah kenyang dan mulai terbiasa sepertinya dirinnya dengan sifat kasar Alys. Bima mendekati Alys kembali.

 

“Gue bantuin ke kamar mandi, pakai aja bandage lo. Nanti gue pasang dengan yang baru” jelas Bima dengan suara tenang. “ Gue tadi udah beli beberapa bandage” tambahnya lagi. Alys ber-Oria.

Bima membopong Alys ke kursi rodannya, mengantarkan istri nya masuk ke kamar mandi.

 

*****

Alys sudah siap dengan baju lengkap dan dandanan lengkap. Tinggal kakinya saja yang harus dipasang bandage kembali. Ia menunggu Bima mengambil peralatan P3K.

 

“Obat oles lo dimana?” tanya Bima memasuki kamar Alys.

 

“Tas” jawab Alys singkat, ia hanya fokus dengan ponselnya. Membalas pesan dari sang kekasih tercinta. Bima menuruti ucapan Alys dan mengambil obat disana.

 

Bima mengambil duduk disamping Alys, dengan pelan-pelan mencoba mengoleskan obat oles pereda ke kaki Alys.

 

“Pelan-pelan” ringis Alys mulai terasa kesakitan. Bima tak mengubrisnya dan meneruskan aktivitasnya.

 

“GUE BILANG PELAN-PELAN!!” teriak Alys mulai naik darah karena rasa sakit di pergelangannya menambah. Bima mendengus.

 

“Kalau nggak mau sakit nggak usah jatuh” dinginnya. Alys berdecak kesal, menatap Bima tajam.

 

“Gue jatuh juga gara-gara ujian praktek olahraga, coba kalau nggak usah lari, nggak ada ujian praktek olahraga, gue nggak bakalan kayak gini!!! Jangan salahin gue dong!!” omel Alys mencari pembelaan.
“Terus? Lo nyuruh gue ngehapus mata pelajaran olahraga? Lo kira gue menteri pendidikan?” Bima menjepitkan slip bandage di akhir pekerjaannya. “ Hati-hati mangkannya, jangan ceroboh” suarannya mulai menenang.

 

“Ayo berangkat sekarang” Bima menatap Alys datar. Menunggu Alys siap untuk di pindahkan ke kursi roda.

 

*****

Alys dan Bima sudah berada didalam mobil, tak ada percakapan diantara mereka. Hanya ada lantuan lagu dari Utada Hiraku First Love yang mengiringi keheningan.

 

Saigo no kisu wa
Tabako no flavor ga shita
Nigakute setsunai kaori

 

Semuanya yang kita lakukan? Bagaimanakah episode selanjutnya, Ah—, bukan sebuah episode yang ingin kutanyakan. Part selanjutnya?. Apa yang sedang kau dan aku fikirkan?. Aku tentu saja memfikirkanmu saat ini. Bagaimana dengan kau?.

Ashita no imagoro ni wa
Anata wa doko ni irundarou
Dare wo omotterundarou

You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love you taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made

 

Apakah kita harus menyebutnya sebagai “Takdir” ?. Kita dipersatukan dengan cara yang sangat “Classcis” sangat!!. Menjadi sepasang keluarga baru. Cinta? Apakah kita salig mencintai. Apakah ini yang dikatakan sepasang yang saling mencintai.

 


Tachidomaru jikan ga
Ugoki dasouto shiteru
Wasureta kunai kotobakari

Ashita no imagoro niwa
Watashi wa kitto naiteru
Anata wo omotterundarou

“Aissh—, lagunya jadul banget sih!!” gerutu Alys lirih, namun cukup terdengar bagi Bima, Alys mendekap kedua tangannya di depan dada.

 

“Kalau nggak suka ganti aja” jawab Bima masih fokus menyetir. Alys tak menanggapi, ia menghadapkan wajahnya ke jendela. Melihat jalanan malam ini yang terbilang tidak cukup ramai.

 


You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made

Jika “Takdir” terjadi sekali lagi. Kita mungkin benar-benar akan bersama. Namun, jika sebaliknya. “Semuannya akan berakhir”. Seperti yang seharusnya !


You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love you taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song
Now and forever

*****
Bima turun dari mobilnya, berjalan untuk membantu Alys. Seperti biasannya, tak ada yang mereka perbincangkan. Mereka berudua hampir mirip dengan dua robot yang hanya di setting untuk melakukan hal yang harus mereka lakukan, berbicara tidak lebih dari 10 kata. Itulah mereka berdua.

 

Bima mendorong kursi roda Alys masuk kedalam restoran, bisa terbilang restoran yang cukup mahal. Alys diam saja, meskipun ia sedikit binggung kenapa pria in bukan suaminya membawanya ke restoran ini.

 

*****

Didalam restoran tidak cukup ramai, hanya terdapat beberapa pengunjung, itu pun hampir menyelesaikan makan malam mereka. Bima membawa Alys untuk duduk di tempat yang menurutnya paling strategis. Ujung dan dekat jendela.

 

Mereka berdua memesan menu yang diberikan kepada seorang pelayan. Untung sama mereka memiliki satu kesamaan. Tidak suka meribetkan diri sendiri.

 

Beef-dark medium, dan Aquos Mint ditambah Potatto grill” ujar Bima, mengembalikan kembali buku menu kepada pelayan di sampingnya.

 

Beefdo medium, Vanilla Brodytte sedikit saja sirupnya “ tambah Alys dan mengembalikan buku menunya.

 

Sepeninggal pelayan tersebut, mereka berdua terdiam lagi. Alys mengeluarkan ponselnya, dan Bima fokus ke luar jendela.

 

“Selamat atas pernikahan kita” tiba-tiba Bima memecahkan keheningan dengan  ucapan yang tentunya membuat Alys memberhentikan segala aktivitasnya.

 

“Maksudnya?”

 

“Bukankah kita harus merayakan pernikahan kita?”

 

“What?”

 

“Setidaknya sebagai sebuah formalitas” perjelas Bima dengan menatap Alys tepat dikedua mata gadis itu. Bima lebih menyenderkan badannya ke kursi, melipat kedua tanganya diatas dada tanpa mengalihkan tatapannya.

 

“Ada yang ingin gue tanyakan sejak sehari sebelum pernikahan kita.”

 

“Apa itu?”

 

“Jika—,” Bima mengantungkan pertanyaannya, sedangkan Alys memilih tetap diam, membiarkan pria didepannya menyelesaikan pertanyaannya sampai selesai.

 

“Jika salah satu diantara kita jatuh cinta, entah itu lo ke gue atau gue ke lo, Ap—“

 

“Gue nggak akan mungkin” potong Alys dengan cepat. Bima tersenyum remeh.

 

“Oh ya ?” tantang Bima.

 

“Yes!! Ofcourse!! SANGAT NGGAK MUNGKIN!!” perjelas Alys, dan mendapatkan jawaban anggukan tak jelas dari Bima.

 

“Mmm—, Bukannya lo dulu suka banget sama gue? Bagaimana bisa perasaan itu langsung saja hilang?”

 

“Sangat Bisa!!! “ Emosi Alys mulai terpancing.

 

“GUE SANGAT BENCI SAMA LO SEKARANG!! BAHKAN UNTUK SELAMANNYA!! LO ITU PRIA BERMULUT BRENGSEK!!!”

 

Bima memegangi kepalannya untuk menutupi wajahnya, semua orang di restoran melihat mereka seperti sepasang musuh yang sedag melakukan pertemuan rahasia.

 

“Nggak usah pakai teriak!!” tajam Bima menatap Alys bringas. Namun, gadis itu sama sekali tak peduli.

 

“Hanya 4 bulan? Gue nggak akan suka sama lo!! Nggak akan!! Lagian gue juga sudah punya radit!!! Gue akan menikah sungguhan sama Radit!!” perjelas Alys dan seketika itu membuat Bima terdiam.

 
“Menikah dengan radit?” tanya Bima mengulang ucapan Alys, tatapannya kosong.

 

“Ya!! Gue dan Radit saling mencintai! Dan akan menikah kalau sudah besar!!”

 

“Gue tunggu undangannya!”

 

Bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan datang. Pelayan mulai menatakan di meja. Alys terdiam lama, dia berfikir apakah dia keterlaluan? Tapi menurutnya tidak juga.

 

 

“Nggak usah lo fikirin Alys!! Biarin aja!!! Dia juga nggak punya perasaan! Dia udah nolak lo!! Dan mempermalukan lo!!! Dia lebih brengsek dari lo!!!”

 

“Lo nggak makan?”

 

Alys tersadar, ia menatap ke depan, melihat semua makanan sudah tertata rapi. Ia menaikkan pandanganya melihat ke Bima yang sudah memakan makannya dengan wajah tanpa dosa.

 

“Dasar pria brengsek!!”

 

 

Bersambung. . . . 

 

 

One thought on “My Teacher Is My Husband – 9

  1. Bener tuh alys gak akan suka lagi ma bima??? Tp mnurut gw alys tetep bkal kmbli lagi ma bima *sepertinya*_-_
    ortunya alys&bima blm tau klo alys pnya pacar..gmna reaksinya ntar klo mrka smua tau?
    Gw fikir2 klo bima ma alys jdi suami istri ‘beneran’ bakal tmbah seru nih nantinya..kekekekkkkk
    Ok ditunggu next part nya ye kak..
    Fighting!!!!!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s