My Teacher Is My Husband – 10

My Teacher Is My Husband – 10

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

Hari terakhir Ujian Nasional, semua murid SMA Gaunta berkumpul di aula besar. Seperti tradisi ditahun-tahun yang lalu, setelah mengalami perjalan panjang mereka akan mendapatkan perjalanan yang lebih panjang lagi kali ini.

“Selamat kepada semua anak-anak didiku tercinta, kalian sudah melalui 3 hari ini dengan sangat luar biasa . . . . bla bla bla “

 

Yah, mungkin pidato kepala sekolah mereka terasa lebih lama dari 3 hari ujian nasional mereka. Alys menyenderkan kepalannya di bahu Radit. Jujur, ia sangat lelah 3 hari terakhir ini. Ia segera ingin pulang dan tidur saja.

 

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Radit yang terlihat cukup cemas, wajah letih Alys kentara di kedua mata sendunya.

 

“Hanya capek” jawab Alys setengah-malas.

 

“Sebentar lagi juga selesai”

 

Alys mengangguk-angguk tak bersemangat, menghembuskan nafas beratnya. Ia mengedarkan pandangannya ke depan panggung. Dimana terdapat banyak guru yang berdiri di belakang kepala sekolah yang masih asik berpidato ria. Mata Alys tak sengaja berpapas dengan mata Bima. Entah kenapa dalam hitungan kurang dari sedetik Alys menegakkan kepalannya.

 

“Sial!!” umpat Alys segera mengalihkan pandangannya, untuk keberapa kalinnya ia terlihat seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh!!.

 

“Kenapa ?” tanya Radit, kaget dengan tingkah Alys yang tiba-tiba. Alys nyengir canggung.

 

“Kenapa gue harus takut? Bukankah gue nggak pernah menganggap dia suami? Bahkan dia juga tidak menganggap gue istri!!”

 

Alys mendengus kesal, mencoba untuk tidak peduli dan sekali lagi mendaratkan kepalannya dengan mulus di bahu Radit.  Merasa penasaran, matannya sedikit melirik ke arah Bima kembali.

 

“Aisshh!!”

 

Alys mengangkat kepalannya lagi, menggaruk belakang kepalannya yang tak gatal. Padahal Bima tadi hanya menatapnya dengan tatapan biasa, datar tak bermakna. Tapi entah menagapa Alys menganggap tatapan Bima sangat mengerikan. Apa karena dia suaminya? Aisshh—!!!

 

“Kamu kenapa sih?”

 

“Ada monster” jawab Alys asal, Ia menatap kedepan kesal.  Radit menghelakan nafasnya saja, tak ingin menaikkan emosi Alys yang terlihat mulai memuncak tanpa sebab. Menurutnya.

 

*****

Alys berbohong kembali untuk ke tigajutaribu kalinya kepada Radit. Ia tidak ingin diantarkan Radit pulang dengan alasan “Sepupu mau jemput sayang, dia minta diantarkan ke toko buku” dan dengan bodohnya juga Radit mempercayai alasan classic tersebut.

 

“Baiklah, tapi nanti malam kita jadi keluar kan?”

 

“Siap, kapten!!!”

 

Alys melegahkan nafasnya, Radit telah pergi dari hadapannya. Kini ia berdiri seperti orang bodoh di depan sekolah mengunggu sang suami tercinta keluar dari parkiran. Tak lama kemudian mobil yang ditunggu datang dan berhenti di depannya. Alys mencoba memastikan situasi sekitar, ketika tak ada yang melihatnya. Alys segera masuk kedalam mobil tersebut.

 

“Alasan apa lagi?” tanya Bima, menjalankan mobilnya.

 

“Sayang hari ini sepupuku mau minta antar ke toko buku” jawab Alys dengan menirukan nadanya ke Radit beberapa menit tadi. Bima terkekeh pelan.

 

“Kapan hidup gue bisa tenang” gumal Alys pelan.

 

“Ketika lo ngelepasin Radit atau ngelepasin gue”

 

“Ha?” Alys menolehkan wajahnya ke sumber suara.

 

“Jelas gue lepasin lo lah!!! “ Bima ngangguk-ngangguk saja. Alys mendesis sinis.

 

Percakapan mereka telah berakhir. Yah, mereka adalah dua pasangan yang tidak pernah melakukan percakapan lebih dari 10 menit. Karena memang tidak ada bahan untuk dibicarakan. Alys merasa tidak nyaman dengan Bima, dan Bima sendiri tidak tau harus melakukan apa.

*****

Alasan Alys pulang bersama Bima hari ini,  Nenek Genji meminta mereka berdua datang ke rumah. Merayakan selesainya Ujian Nasional Alys. Untuk menghargainnya Alys terpaksa harus datang, disana juga ada Mama dan kakeknya.

Alys dan Bima turun dari mobil, memasuki rumah berukuran besar. Didalam terdengar riuh-riuh para ibu-ibu dan bapak-bapak. Alys mencoba untuk berbaur. Setidaknya ia bahagia karena mendapatkan pesta kecil untuk perjuangan panjangnya selama sekolah menengah ini.

Pesta hanya berlangsung dengan barbaque, canda, curhat ringan dan arisan kecil. Setelah merasa ia tidak lagi dibutuhkan di pesta tersebut, Alys memilih meninggalkan pesta itu. Ia naik ke atas, pergi ke kamarnya. Ah, lebih tepatnya kamarnya dan kamar Bima. Ia sudah cukup hafal dengan rumah ini.  1 bulan pernikahannya terasa berjalan sangat lama sekali.

Alys membuka pintu kamar, matannya membulat ketika melihat Bima berdiri di depan kaca hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Alys mencoba untuk tenang dan mengatur ekspresinya. Ini bukan untuk pertama kalinnya ia melihat pemandangan seperti ini.

 

“Gue mau mandi” jutek Alys tak peduli, ia tetap melangkah masuk.

 

Melihat wajah santai Alys, Bima pun menanggapinya lebih santai. Ia meneruskan kembali mengerikan rambutnya. Alys berjalan ke almari mengambil salah satu kimono mandinya, jujur Alys sekerang tidak bisa mengatur detakan jantungnya. Ia mencoba untuk tetap biasa, tapi jantungnya terasa ingin meledak.

 

“Gu—, gue mau mandi” ujar Alys kaku. Bima menolehkan wajahnya.

 

“Yaudah, mandi aja”

 

“Lo, tetep disini?” Bima mengernyitkan kening tak mengerti.

 

“Maksud gue, itu—, mmmm, —,”

 

“Gue belum nafsu buat lngintip tubuh lo. Jadi—“

 

“Tenang aja”

 

Alys menganga tak percaya, seharusnya ia tidak berkata seperti itu tadi da langsung saja pergi kekamar mandi. Ia seharusnya tidak lupa bahwa Bima adalah domba bermulut srigala.

 

Alys berjalan ke kamar mandi dengan langkah cepat, kesal dengan ucapan Bima barusan. Melihat tingkah Alys seperti itu membuat Bima tersenyum pelan. Merasa lucu saja jika Alys kesal kepadannya.

*****

Alys keluar dari kamar mandi dengan kimononya, ia melihat Bima memakai kaos dan celana pendek santai.

 

“Nenek nyuruh kita nginap disini”

 

“LAGI??” sahut Alys tak percaya. Ini untuk ke 4 kalinya.Ia tidak mengerti sebenarnya apa tujuan nenek. Apa nenek ingin melihat perkembangan hubungan Bima dan dirinnya? Dan dengan terpaksanya Alys dan Bima harus beracting  sebagai suami dan istri yang menjalani kehidupan sangat bahagia.

 

“Tenang aja, gue akan tidur di sofa lagi”

 

“Jelas!! Nggak akan gue biarin lo tidur di kasur!! “

 

Bima tak menanggapi Alys dan beranjak keluar dari kamar. Alys menghelakan nafas berat, duduk di atas kasur.

 

“Ah—, gue kan ada janji kencan sama Radit? Terus gimana? Aishshhhh—“

 

Alys merasa semakin binggung, apa ia harus berbohong kembali ke Radit? Alasan apalagi yang harus ia tanyakan?. Alys memutar otak keras. Menggit kuku-kukunya berharap mendapat kecerahan.

*****

“ Kamu kenapa sih Al? Sudah 1 bulan ini selalu membatalkan janji kita?”

 

“Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?”

 

Tibalah saatnya emosi Radit memuncak, tuhan!!

 

“Enggak begitu dit, ini gue belum sampai rumah. Tadi ban mobil sepupu gue bocor, ter—”

 

“Terus gue dan sepupu gue nggak nemu bengkel. Akhirnya kita nunggu jemputan. Ini aja masih nunggu jemputan”

 

“Lo mau pakai alasan itu lagi?”

 

Matilah Alys kali ini. Ia tidak sadar bahwa alasannya itu sudah ia pakai 4 kali. Alys terdiam cukup lama, binggung harus pakai alibi  apalagi kali ini.

 

“Jangan marah, sorry gue beneran nggak bisa”

 

“terserah! Gue mau tidur “

 

“Dit, gu—“

 

Sambungan dimatikan begitu saja. Alys menatap layar poselnya tercenggang. Apakah mereka benar-benar bertengkar hebat kali ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia pergi dari sini kerumah radit? Atau tetap disini tidak melakukan apapun dan besok hubungannya dan Radit berakhir ?

 

CKLEEEKKK

 

            Bima membuka pintu kamar, ia masuk kedalam kamar,heran melihat Alys terdiam dengan wajah kosong.

 

“Lo ditunggu orang-orang dibawah, buat makan malam”

 

“Gue mau pulang!!” Alys menatap Bima tajam.

 

“Pulang? Nggak bisa. Nenek udah masakin banyak buat lo”

 

“Gue nggak peduli!!!” intonasi Alys sedikit meninggi. Bima menatap Alys binggung.

 

“Gue peduli dengan nenek gue, lo nggak ngehargain nenek udah capek-capek masak buat lo? Bahkan buatin kue kesukaan lo? Nenek terlanj—“

 

“GUE MAU PULANG GUE NGGAK PEDULI SAMA NENEK LO” Alys terbulat dengan emosinya. Ia tidak tau apa yang sudah ia ucapkan sekarang, tentu saja ucapan Alys memancing emosi Bima kali ini.

 

“Waahh—, cara bicara lo semakin hari tambah kasar aja”

 

“Kalau lo nggak mau nganterin gue pulang, gue bisa pulang sendiri!!!”

 

“Yaudah, lo pulang sendiri, dan jangan kembali ke rumah ini”

 

“Kembali ke rumah ini? KENAPA NGGAK LO SEKALIAN CERAIIN GUE SEKARANG AJA!!!”

 

“GUE JUGA NGGAK ADA NIATAN BUAT KEMBALI KERUMAH INI!!”

 

“GARA-GARA LO, GUE BERTENGKAR SAMA RA—“

 

“Ka—, kal—, kalian cerai??”

 

Suara pelan dan lembut tersebut terdengar di ujung pintu, memotong ucapan Alys yang belum selesai. Bima dan Alys sama-sama menolehkan kepala mereka.

 

“Ne—, nek”

 

BRUUUKKKK

 

Nenek Genji seketika itu jatuh pingsan, Alys dan Bima membulatkan mata, segera berlari menghampiri nenek Genji.

“Nenek—, nenek nggak apa-apa?” Bima mulai cemas. Ia menepuk pelan pipi neneknya.

 

“ne—, nenek. Gim—, ne”: Alys tak kalah binggungnya.

 

“TELFON AMBULANS CEPAT!!!” bentak Bima dengan tatapan tajam ke Aly. Untuk pertama kalinya Alys melihat Bima sangat mengerikan. Dengan tangan gemetar, Alys mengambil ponselnya diatas kasur dan segera menelfon 118

*****

Alys tidak menyangka ia membuat hari ini semakin rumit. Semua keluarga cemas menunggu di depan ruang ICU. Keadaan nenek Genji dibawah normal. Alys berdiri di ujung tidak berani mendekati siapapun. Ia sangat dan sangat takut, ini semua jelas salahnya.

 

Ia melihat bima berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk. Sedari tadi pria itu tak bergerak sama sekali, dan membuat Alys semakin takut. Apa yang harus ia lakukan? Minta maaf? Aissh—. Alys sangat binggung saat ini.

 

“Alys!! Bagaimana keadaan nenek?” suara Mama Alys terdengar, Alys menolehkan kepalannya. Alys menatap mamanya dengan tatapan entahlah

 

“Apa yang sebenarnya terjadi Al? Kenapa nenek bisa pingsan?” Alys diam saja. Binggung harus menjawab bagaimana.

 

“Ne—, ne—“ Alys tak bisa menjawab, air matannya segera mengalir dengan. Ia memeluk mamanya seolah minta pertolongan.

 

“Al, kenapa kamu menangis?”

Kini semua mata tertuju ke Alys yang menangis. Begitu pun dengan Bima, untuk pertama kalinnya ia menggerakan anggota tubuhnya. Namun, hanya cukup hitungan detik saja, kemudian ia dengan posisi semulannya, Seolah tidak peduli dengan kejadian itu.

*****

Nenek Genji ditaruh di ruang VVIP,  kondisinya sudah stabil dan dokter mengatakan bahwa beliau tidak apa-apa. Hanya mengalami shock dan butuh istrirahat yang sangat cukup.

 

Alys berdiri saja di depan kamar rawat nenek Genji. Ia tidak berani masuk. Keluarga Bima bahkan mamanya sudah pamit pulang beberapa menit yang lalu. Alys sangat takut sekali.

 

Tak selang beberapa lama, Bima keluar. Ia melihat Alys,

 

“Nenek ingin bertemu” ujar Bima dingin mengalihkan tatapannya dari Alys.

 

“Bim—, gu—“

 

“Gue mau beli makan dulu” Bima segera beranjak pergi tidak peduli dengan ucapan Alys yang belum selesai.

 

Alys menghela berat, Bima sangat marah kepadannya. Apa nenek juga begitu ??

 

Dengan tekad nekat Alys masuk. Ia mendapati nenek Genji terbaring lemah. Alys mendekati nenek Genji yang tersenyum ringan ke arahnya dan membuatnya semakin bersalah.

 

“Nenek, maafin Alys” air mata Alys berhambur begitu saja. Nenek genji melihat Alys dengan binggung dan tidak tega.

 

“kenapa Alys? Jangan nangis, Nenek tidak apa-apa”

 

“Nenek pingsan gara-gara Alys. Maafkan Alys” Alys memeluk nenek Genji dengan erat. Ia benar-benar sangat merasa bersalah. Nenek Genji tersenyum, membelai lembut rambut Alys.

 

“Nenek nggak apa-apa. Bukan kamu yang salah”

 

“Tap—“

 

Nenek Genji menatap Alys, melepaskan pelukan Alys pelan.

 

“Kalau kamu merasa bersalah dengan nenek, kamu tidak boleh mengatakan hal seperti tadi lagi, dan janji sama nenek akan menjaga Bima terus”

 

“Heh?”

 

“Kamu mau janji ?”

 

“I—,iya nek” Alys tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengatakan IYA

 

Nenek Genji tersenyum sangat senang, melihat senyum itu Alys semakin merasa bersalah. Apa yang harus ia lakukan kali ini. Ia sudah berjanji, apalagi dengan orang tua. Aisshh—.

*****

Alys memilih pulang menaiki taxi. Ia sudah pamit dengan nenek Genji dan Bima, meskipun Bima tadi hanya menyahutingnya dengan deheman saja. Alys tau Bima masih marah kepadannya, pria itu bahkan tidak ada menawarinnya untuk pulang bersama.

*****

Alys sampai di rumahnya, ia turun dari taxi.

 

“Al—“

 

Alys mengangkat kepalannya kaget. Ia melihat sosok Radit di depan rumahnya. Apa lagi ini tuhan ??

 

“Kamu marah?

 

“Maaf tadi aku ngebentak kamu ditelfon”

 

Radit langsung memeluk Alys dengan begitu erat. Alys tidak tau harus berbuat apa sekarang. Hatinya terasa tertusuk. Pria ini begitu mencintainya, namun posisi lain ia memiliki suami yang bisa terbilang suami sah.

 

“Aku menelfonmu berulang-ulang, tapi kamu nggak ngankat sama sekali”

 

‘Aku takut terjadi apa-apa”

 

“Mangkannya aku langsung kesini”

 

Ah—, ponsel Alys memang tertinggal dirumah nenek Genji. Alys mencoba membalas pelukan Radit, Untuk kali ini ia tidak bisa berfikir jernih. Ia biarkan saja semuannya berjalan mengalir. Ia ingin merasa tenang dahulu.

Radit melepaskan pelukannya, ia melihat wajah Alys yang sendu dan pucat. Radit khawatir.

 

“Kamu sakit?”

 

“Nggak”

 

“Terus?”

 

“Nggak apa-apa” jawab Alys mencoba tersenyum. Alys menatap Radit, wajah tampan dan manis pria didepannya. Berdosa sekali dirinnya membohongi pria ini.

 

*****

Alys dan Radit memilih duduk di ruang tamu rumah Alys, inilah untuk pertama kalinya Radit memasuki rumah yang lumayan  besar ini. Untung saja Alys sudah memindahkan foto pernikahannya dengan Bima kedalam kamar.

 

“Dimana sepupu lo?” tanya Radit yang tidak lagi memakai kata aku-kamu. Mungkin untuk situasi kali ini ia lebih nyaman menggunakan bahasa seperti biasa.

 

“Dia lagi keluar” jawab Alys.

 

“Lo bohong kan tadi?” tanya Radit to the point

 

“Maaf”

 

“Nggak apa-apa. Gue tau, pasti ada sesuatu yang lo nggak bisa cerita ke gue. “

 

“Tapi lo nggak selingkuhkan?” canda Radit, namun pertanyaan itu terdengar bukan sebuah candaan bagi Alys. Alys ikut terkekeh kaku.

 

“Dit—, lo nggak marah kalau gue berbohong?”

 

“Kalau bohong lo itu demi suatu penting, dan kebaikan lo sendiri. Gue nggak akan marah”

 

“Kalau gue bohong sesuatu yang besar gimana?”

 

“Contohnya ?”Alys terdiam lama.

 

“Lo—“ Radit menatap Alys tajam, mendapatkan tatapan begitu Alys sangat gugup. Apa Radit sudah mengetahui semuannya? Apakah ia ketahuan?

 

“Lo nggak ngidap penyakit parah kan? “

 

“Lo nggak kena Kanker? Tumor otak? Alzaimer? Dan sobat-sobatnya kan?”

 

Alys menghelakan nafasnya, ia menatap Radit dengan tatapan tak kalah tajam. Entah sejak kapan kekasihnya ini menjadi pria bodoh!!.

 

“Lo kira kita lagi main drama !! Jangan kayak orang bego!! “

 

Radit nyengir tak bersalah. Ia hanya ingin menaikkan suasana hati Alys menjadi gembira lagi seperti biasannya.

 

“Maaf kita nggak jadi kencan hari ini”

 

“Nggak apa-apa, ketemu lo saat ini gue udah seneng kok”

 

“Lo sejak kapan sih pinter gombal kayak gini!! Aissh— ngeri banget” gidik Alys sedikit menjauhi Radit.

 

“Lo nggak suka gue romantis?”

 

“Lo tadi romantis? Gue kira lo tadi lagi nyebarin virus hepatitis!! “

 

Radit tertawa nyerah, begitu juga dengan Alys yang sudah mulai bisa ketawa. Radit menatap Alys dengan senang. Akhirnya sang kekasih bisa tersenyum lagi.

****

            2 jam kemudian, Radit pamit untuk pulang. Alys mengantarkannya ke depan pintu gerbang rumah. Radit masuk kedalam  mobilnya dan beranjka dari sana. Alys melihat kepergian Radit lama. Berdiri di depan pintu gerbang.

 

“Lama juga dia keluar!! “

 

Alys terpelonjak kaget, ia menoleh ke belakang mencari sumber suara. Ia melihat Bima keluar dari garasi mobil.  Apa yang pria itu lakukan?

 

“Lo—, lo sejak kapan disitu?”

 

“Sejak lo dan dia masuk kedalam rumah”

 

Alys mengigit bibir dalamnya, tubuhnya mulai menegang. Ia tak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus ia lakukan.

 

“Gue Cuma mau ambil baju”

 

Bima melangkah masuk ke dalam rumah, tak mempedulikan Alys berdiri membeku di depan gerbang.

 

Alys duduk di sofa tengah, menunggu Bima keluar dari kamarnya. Alys pasrah saja, jika Bima menyumpah-serapahi dirinnya. Dia benar-benar akan hanya diam dan mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Bima nantinya.

 

Tak lama kemudian, Bima keluar. Pria itu tidak membawa apapun. Alys melihat Bima yang berjalan melewatinya begitu saja.

 

“Bim—“ panggil Alys memberanikan diri. Pria itu menghentikkan langkahnya. Ia tak membalikkan badannya sedikitpun.

 

“Gu—, Gue —, Gu”

 

“Gue akan coba bicara dengan nenek. Semoga saja gue bisa urus perceraian kita dengan cepat”

 

“Tenang aja, gue nggak akan maksa lo lagi”

 

Setelah itu Bima melangkahkah kakinya kembali, meninggalkan Alys, dan entah mengapa mendengar ucapan Bima barusan. Alys merasa ada yang menyayat dadanya dengan pisau belati. Rasanya sesak, sakit dan perih.

 

“Cerai?”

 

“Ah—, bukankah itu yang lo harapin Alys!!”

 

“Yah, lo akan cerai!!”

 

“Harusnya lo senang!! Lo senang Alys!! “

 

“Ada apa dengan lo!! Kenapa lo—“

 

Butiran hangat mengalir begitu saja di pelupuk mata Alys. Kenapa ia menangis? Apa karena ia kaget dengan ucapan kasar Bima? Apa ia menangis karena Bima marah kepadannya? Atau ia menangis karena—,

 

“KENAPA GUE NANGIS!!! “

*****

Bersambung . . . . . .

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s