My Teacher Is My Husband – 11

My Teacher Is My Husband – 11

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

Sepergian Alys, Bima terdiam saja di sofa. Nenek Genji melihat cucunya seperti itu. Membuatnya tersenyum sendiri.

 

“Ahh—, nenek kok tiba-tiba kefikiran Alys ya?”

 

“Gimana kalau dia ketakutan sendirian?”

 

“Gimana kalau tiba-tiba lampu dirumah padam?”

 

“Kalau tiba-tiba ada pencuri?”

 

“Kalau tiba—“

 

“Nenek bicara apa sih!!. Nggak akan ada—“

 

“Kamu khawatir kan dari tadi ??”

 

“Khawatir? Siapa? Bima?” Nenek Genji tersenyum ringan, cucunya satu ini benar-benar sangat mengemaskan.

 

“Bima, kamu tidak bisa membohongi nenek. Kamu khawatir dengan Alys kan sedari tadi. Kenapa kamu tidak mengantarkan dia pulang?”

 

“Nenek masih sakit. Bima tidak bisa tinggalin nenek”

 

“Nenek sudah sehat Bima!! Nenek tidak apa-apa. Lagian ada dokter yang jagain nenek, ada paman kamu yang akan datang kesini. Jadi kamu pulang sana.”

 

“Kasihan Alys sendirian dirumah”

 

“Tap—“

 

“Kamu sebanrnya pingin pulang juga kan? “

 

“Sudah sana pulang!!” Bima menatap neneknya dengan ragu.

 

“Kasihan Alys sendirian!!” tajam nenek Genji. Bima mengangguk-angguk pelan.

 

“Bima pamit nek.”

*****

 

Bima turun dari taxi, karena memang ia tidak membawa mobil kerumah sakit. Ia tadi menaiki ambulans bersama sang nenek yang pingsan.

Bima melihat ada sebuah mobil yang terasa tak asing di depan rumahnya. Ia pelan-pelan membuka gerbang dan berjalan masuk.

Suara canda seorang pria dan gadis terdengar dari luar. Bima mencoba menitip tanpa ketahuan.

 

“Radit?”

 

Bima tersenyum masam, ia memundurkan langkahnya. Menghembuskan nafas beratnya. Tak sadar kedua tangannya terkepalkan.

 

“Apa dia memang benar-benar berkeinginan untuk bercerai?”

 

“Dia pasti sangat mencintai Radit “

 

Bima membalikkan badannya, ia berjalan ke garasi mobil. Menenangkan diri didalam sana, duduk tenang tanpa suara disana. Ia hanya bisa mendengar suara tawa Radit dan beberapa tawa yang keluar dari mulur Alys.

 

Menahan emosinnya. Kenapa ia harus emosi? Apa karena ia kesal dengan Alys yang tak merasa bersalah sama sekali setelah membuat neneknya pingsan? Apa karena—,

 

2 jam terasa satu tahun bagi dirinnya.

****

Bima masuk kedalam rumah, ia mencoba tidak peduli dengan Alys. Berjalan ke kamarnya.

Melihat kamarnya binggung, Apa yang harus ia lakukan? Ia memilih duduk diatas kasur. Menenangkan pikirannya.

 

“Sepertinya memang harus segera bercerai”

 

Bima keluar dari kamarnya, ia lupa bahwa dirinnya tadi mengatakan untuk mengambil beberapa baju. Ia keluar dengan tangan kosong. Berpura-pura mengacuhkan Alys, tidak melihat gadis itu. Yah, ia takut emosinya terluapkan kepada Alys. Ia takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan didalam hubungan ini.

*****

Bima tidak kembali ke rumah sakit. Ia memilih untuk ke cafe yang biasannya ia datangi. Sudah lama ia tidak mengunjungi cafe tersebut.

****

Bima masuk kedalam cafe, ia mengambil duduk di ujung dekat jendela. Memesan Ice cream Americano dan Frenchise. Menikmati malam yang semakin dingin. Menenangkan fikirannya untuk malam ini saja.

Bima mengaduk-aduk minumannya tak bernafsu,

 

“Gue akan coba bicara dengan nenek. Semoga saja gue bisa urus perceraian kita dengan cepat”

 

“Bodohh!!!! Kenapa tadi lo berkata kayak gitu!!!”

 

“Apa yang harus lo katakan ke nenek? Alys juga pasti seneng banget!! “

 

“Aissshhh—!!”

 

“Bima lo bodoh banget sih jadi cowok!!! “

 

Bima mengacak-acak rambutnya frurtasi, meminum Ice Cream Americano dengan lahap tanpa nafsu.

 

“BIMAA!!! “ suara seorang cewek menghentikkan aktifitas pria ini. Ia melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis berwajah begitu bahagia dengan tangan melambaikan tangan ke arahnya. Bima mencoba memperjelas pengelihatannya.

 

Gadis itu berjalan mendekatinnya.

 

“Hei!! Apa kabar? Gue kangen banget sama lo!!!! “ gadis itu tiba-tiba langsung memeluk Bima, sedangkan Bima masih setengah sadar siapa gadis ini.

 

Gadis itu melepas pelukannya, ia melihat Bima.

 

“Lo nggak lupakan sama gue??” tuding gadis itu mulai curiga, karena raut wajah Bima yang binggung.

 

“Ma—, Maaf. Lo—“ Gadis itu langsung cemberut.  Menyilangkan tangannya di dadanya.

 

“Gue yuki!! Ariyuki!!”

 

“LO LUPA DENGAN SAHABAT SMP LO SENDIRI!!!” teriak gadis itu anarkis. Bima langssung nggeh dan ingat dengan gadis didepannya.

 

“Ahh—, Yuki!! Gue inget. Wajah lo, Mmm—, sedikit berubah. Sorry—, gue nggak ngenalin. “ jujur Bima.

 

“Berubah? Tambah cantik kan?” antusias gadis itu dan memasang wajah imut. Bima adalah laki-laki normal dan jujur, mangkannya ia sekarang menganggukan kepalannya seperti babi bodoh!! .

 

“Gue operasi plastik 2 kali. Hehehe” Bima ber-a- ria. Pantas saja ia hampir tidak mengenali sahabatnya sendiri.

 

Yuki adalah sahabat Bima sejak SMP kelas 1 sampai kelas 1 SMA saat Bima stay  di Osaka. Mereka terbilang sangat dekat, bahkan rumah mereka pun berada di kawasan yang sama. Namun, Bima harus pindah ke Indonesia ketika kelas 1 akhir, karena sang nenek ingin tinggal di Indonesia di hari tuannya. Mau tak mau Bima mengikuti neneknya. Sejak saat itu ia berpisah dengan Yuki dan hilang contac karena ponsel Bima pernah hilang sekali.

 

“Gimana kabar lo? Gue kangen banget sama lo!!! “ yuki duduk didepan Bima. Wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.

 

“Baik. Lo sejak kapan di indonesia?”

 

“tadi pagi gue baru datang!!. Bokap ada urusan disini selama 1 tahun. Gue ingin bertemu sama lo jadinya gue ikut juga!! Keren kan gue? “

 

“Terus gue juga awalnya mau langsung ke rumah lo, tapi karena gue harus ikut nemuin tamu bokap, gue nggak jadi kerumah lo. Ehh—“

 

“Gue bisa ketemu lo disini tanpa disangka!! “

 

“Jangan-jangan kita jodoh!! “ Bima hanya memaksan tawannya yang terlihat masam. Gadis didepannya banyak sekali bicara tak ada hentinnya. Bima hampir bingung gadis ini bicara apa barusan.

 

“Lo nggak kangen sama gue ??” Bima mencoba tersenyum sambil menganggung-angguk, memaksakan senyumnya agar tidak terlihat kaku.

 

Entah kenapa ia merasa kalau gadis ini sangat berbeda dengan sahabatnya yuki dulu. Yuki sahabatnya dulu adalah gadis yang cukup pendiam. Mungkin gadis ini sudah dewasa dan banyak berubah karena teman-temannya. Yah, mungkin—.

 

“Lo seneng kan gue ke Indonesia? Sumpah gue ke indonesia hanya demi lo!! Hanya buat ketemu sama lo!! “

 

“Lo jahat banget ninggalin gue!! Lo nggak tau apa sedihnya gue setelah lo pergi!! “

 

“Waaajaib banget nih gadis”  gidik Bima. Yuki benar-benar terus nerocos tak ada hentinya.

“Lo disini udah punya pacar ?”

 

“Heh? Pacar?” Bima sedikit binggung harus menjawab apa.

 

“Gue nggak punya pa—“

 

“ASAAAAA!!! Lo masih nungguin gue berarti? Aisshh—, Gue tau lo masih cinta kan sama gue? Lo masih mendam kan perasaan ke gue ??”

 

“Sorry, dulu gue nggak bisa nerima lo. Karena gue masih takut pacaran. “

 

“Tapi sekarang gue udah siap. Bahkan gue udah bilang ke papa kalau gue ingin ngajak nikah lo”

 

“He? Nikah?”

 

Bima cukup tercenggang dengan gadis ajaib di depannya. Sudah hampir 7 tahun ia tidak bertemu gadis ini, dan tiba-tiba dia datang, mengucapkan hal yang tak masuk akal dengan intonasi kereta express, dan ngajak dia nikah?.

 

“Lo—,lo beneran Yuki? Yuki sahabat gue dulu?” Bima mencoba meyakinkan.

 

“Hahahahahha” Yuki tertawa lepas.

 

“Gue tau lo bakal tanya kayak gitu”

 

“Gue udah berani ngomong sekarang. Gue bukan Yuki pendiam seperti dulu lagi hehehe” kekeh Yuki lebih senang dari tadi, dan untuk kedua kalinnya Bima hanya bisa ber-o-ria.

 

Mereka pun mulai bercengkramah, meskipun bisa diatakan mungkin hanya Yuki aja yang terus nerocos, sampai-sampai Bima tak sempat untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa dia sudah menikah.

 

“Sekarang ceritakan tentang lo” Bima tertawa ringan, lebih tepatnya menertawakan dirinnya sendiri. Akhirnya gadis di depannya ini sadar bahwa dirinnya ada. Ia mencoba untuk berbicara sedari tadi tapi Yuki sekali memotongnya.

 

“Yakin lo nggak akan memotong ucapan gue lagi ???” Yuki nyengir tak bersalah.

 

“Gue akan diam saja”

 

“Janji!!! “

 

“Sebenarnya, gue emang nggak punya pacar. Tapi gue udah nikah”

 

Seketika itu wajah Yuki yang tadinya seperti  bunga-bunga sakura yang baru mekar di musim semi kini menjadi raut wajah bunga reflesia arnoldi yang sangat nan jauh jangkauannya.

 

“Lo? Udah nikah? “

 

“Lo nggak lagi ngerjain gue kan??”

 

“Lo ngerjain gue kan? April moop udah 5 hari yang lalu kali Bim” Yuki mencoba untuk tertawa lepas. Namun melihat wajah serius Bima, tawa Yuki perlahan memudar.

 

“Gue nggak bercanda. Sorry—“

Wajah Yuki perlahan merengut, kedua matannya mulai memerah, terlihat bendungan air mengumpul dipelupuknya dan akhirnya—.

 

“HUAAAAAAAA—“

 

“BIMAAA LO JAHAT BANGET!!!! “

 

“LO NIKAH NGGAK BILANG!!”

 

“LO NIKAH NGGAK NGUNDANG GUE!!! “

 

“LO BUAT GUE MALU!! “

 

“GUE TADI UDAH PAKEK PEDE BANGET NGAJAK LO NIKAH!! “

 

“AAAHHHHH HARGA DIRI GUE!!! “ Yuki menangis seperti anak kecil kehilangan mamanya, Bima dua kali shock melihat hak tersebut. Ia panik seketika itu.

 

“Yuk jangan nangis disini” Bima mencoba menenangkan Yuki. Ia memberikan tissue kepada Yuki dan memberikan minumannya. Berharap Yuki lebih tenang.

*****

Yuki akhirnya tidak menangis lagi, kini wajahnya tak sebahagia tadi. Bima merasa sangat bersalah.

 

“Sorry—“ ujar Bima sekali lagi. Yuki cemberut sambil mengangguk paksa.

 

‘Nggak apa-apa. Lo anggap aja yang gue ucapin tadi nggak ada. Okey?”

 

‘Yang mana?” tanya Bima binggung, toh memang ucapan Yuki sejak tadi sangatlah banyak.

 

“YANG GUE NGAJAK LO NIKAH!!” teriak Yuki frustasi. Bima mengangguk-angguk seperti babi bodoh untuk kedua kalinnya.

 

“Gue janji!!! “ Bima tersenyum manis, berharap Yuki tidak menangis lagi dan mempercayainnya.

 

“Thanks” Yuki mulai bisa tersenyum kembali.

 

“Yaudah sekarang ceritakan tentang kehidupan pernikahan lo, siapa istri lo? Kenalin ke gue “

 

Bima benar-benar tak menyangka dengan gadis di depannya ini. Belum sampai 15 menit gadis ini berhenti menangis, dan dia mulai lagi.

 

“Pernikahan gue baru 1 bulan yang lalu. Pernikahannya memang tidak dirayakan besar. Hanya keluarga aja “ jujur Bima.

 

“Istri lo gue kenal?”

 

“Nggak. Dia masih SMA”

 

“WHAT??? LO PEDOFIL?”

 

“YAAAA!!!” Teriak Bima tidak terima.

 

“Lo nikahin anak SMA??” Yuki mencoba memelankan suarannya. Bima sedikit frustasi binggung mulai dari mana menjelaskannya.

 

“Sebenarnya gue dijodohin nenek gue. Biasalah, perjodohan orang tua gimana. Gadis itu juga udah akan lulus bulan depan. “

 

“Gimana rasannya nikah sama gadis SMA?” tanya Yuki seolah khawatir, ia dapat melihat ekspresi Bima yang mulai berubah.

 

“Parah!! “ jawab Bima singkat padat dan jelas. Yuki terkekeh ringan. Lucu melihat ekspresi Bima seperti tersiksa.

 

“Kalau lo nggak kuat ceraikan saja, terus nikah sama gue”

 

‘Lo mau nikah sama duda?”

 

“Kalau dudanya lo, why not?” Yuki mulai serius kembali. Bima terkekeh ringan.

 

“Ada-ada aja lo”

 

“Terus? Malam-malam gini lo kenapa keluar? Bertengkar sama istri lo? Apa lo di usir dari rumah??”

 

“Lo kira gue Suami-suami takut istri ??”  Yuki nyengir kuda.

 

“Gue ada masalah. “

 

“Cerita aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu kasih saran “ Bima mengangguk ringan, ingin mulai bercerita. Toh, Yuki bukanlah orang asing baginya. Meskipun ia baru saja bertemu dengan gadis ini setelah 7 tahun lamannya, Tapi ia dan Yuki sudah berteman sejak kecil dulunnya, dan bisa dikatakan Yuki adalah cinta pertamannya. Dulu

 

“Gue dijodohin sama Alys, nama istri gue. Alys terpaksa menerima perjodohan itu, karena ia sebanrnya sudah punya pacar. Dia adalah murid gue sendiri, gue ngajar japans di SMA sebagai selingan hobi aja.” Yuki mendengarkan dengan baik-baik tanpa menyela Bima sedikit pun.

 

“Gue dan dia melakukan kontrak bahwa pernikahan kita hanya selama 4 bulan setelah itu gue harus ceraikan dia”

 

“Tapi gue binggung, apa yang harus gue katakan ke nenek? Lo tau sendiri kan, gue nggak pernah bisa nyakitin nenek. Apalagi nenek sering sakit akhir-akhir ini. Gue nggak mau nenek kenapa-kenapa”

 

“Waahh—, kisah lo mirip anime romantis yang biasannya gue baca”

 

“Hahaha, gue juga ngerasa kayak gitu” Bima menghela nafas berat.

 

“Ada saran ?” tanya Bima ke Yuki.

 

“Ada”

 

“Apa?”

 

“4 bulan ceraikan istri lo, dan nikah sama gue, gue jamin nenek juga bakal nerima. Dia pasti suka dapat menantu kayak gue. “ Bima mengidik.

 

“Aissh—,”

 

“Kenalin dong ke istri lo” pinta Yuki. Bima mengangguk-angguk ringan,

 

“Besok lo main aja kerumah. Gue kenalin lo ke Alys”

 

‘Nggak apa-apa nih?”

 

“Nggak apa-apalah. Lo juga bukan orang asing bagi gue. Seneng gue bisa ketemu lo lagi”

 

“Jadi lo mau ceraiin istri lo? Dan nikahin gue nih ??”

 

“YAAA!! Gue nggak pernah bilang kayak gitu “ Yuki nyengir kuda sekali lagi sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya berbentuk V.

*****

Keesokan pagi, Alys makan di ruang tamu sendiri. Ia merasa ada yang berbeda. Biasannya ia sudah bertengkar dan ribut bacot  dengan Bima masalah menu sarapan. Kini suasananya sangat sepi. Tidak ada yang menyiapkan makanan untuk dirinnya dan memberikan uang jajan kepada dirinnya atau bahkan—

Alys menyentuh puncak kepalannya, Yah Bima biasannya mengacak-acak poninya sebelum berangkat ke sekolah.

 

“Aishhh—, Alys apa yang lo fikirkan!! Enggak—, Enggak boleh!!! “

 

Alys segera menyelesaikan sarapannya.

****

Bima pulang kerumah, semalam ia bercengkramah dengan Yuki di cafe sampai jam 3, dan ia juga terpaksa menginap di apartemen Yuki, bukan karena ia tidak punya tujuan. Gadis itu terus memaksannya. Ia sedikit menyesal menceritakan semuannya ke Yuki.

Bima berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih, ia melihat sepiring nasi goreng dan sepiring ayam goreng diatas meja makan. Bima mengernyitkan keningnya, menemukan sebuah note berwarna hot Pink.

 

“Kalau lo pulang, lo bisa memakan ini. Maaf kalau rasanya tidak enak, Gue baru pertama mencobannya “

 

Bima tak mengeluarkan ekspresi apapun, ia meletakkan note tersebut kembali, setelah itu duduk di kursi meja makan.

Bima melahap nasi goreng buatan Alys. Meskipun rasannya sedikit hambar, Bima tetap saja terus memakannya dengan sangat lahap.

 

“ Lo udah pulang ?”

 

UHUUKKKKUHUKKKK

 

            Nasi goreng yang baru saja Bima masukkan langsung tersembur, ia batuk-batuk tak jelas. Alys kaget melihat Bima seperti itu dan segera mengambilkan air minum untuk suaminnya.

 

“Lo nggak apa-apa?” Alys membantu memukul punggung Bima.

 

“Nggak apa-apa” dingin Bima mengontrol ekspresinya.

 

“Maaf kalau masakan gue nggak enak”

 

“Lumayan” jawab Bima dan melanjutkan makannya kembali. Ia tak peduli Alys sedang menatapnya saat ini.

 

“Bim—, Gu—“

 

“Gue lagi makan” potongnya cepat. Alys terdiam, mengigit bibir bawahnya.

 

“Baiklah, gue ke sekolah dulu. Buat ngurus pendaftaran ke perguruan tinggi” pamit Alys. Bima tak menyahutinnya sama sekali.

 

Setelah kepergian Alys, Bima menghentikkan makannya. Ia terdiam sendiri. Apa ia terlalu kasar kepada Alys? Gadis itu tidak membentaknya seperti biasannya. Tidak kasar seperti biasannya. Apa ia sudah keterlaluan? Apa Alys takut dengannya ?

*****

Radit menggaruk kepalannya yang tidak gatal. Kekasihnya sedari tadi diam dan melamun tiada henti. Ketika ia bertanya “ kamu tidak apa-apa?” “Kamu sakit?” “Yakit kamu tidak apa-apa?” “Kamu kenapa sih ?”  dan dengan jelas, padat dan singkat Alys hanya akan menjawab “ Tidak apa-apa” “Tidak apa-apa” “Tidak apa-apa” . Radit pun memilih untuk tidak bertanya kembali.

Radit sendiri hanya mengantarkan Alys, gadis ini sudah diterima di Universitas Arwana Bisnis Internasional. Sebenarnya, Alys mendapat tawaran di Kedokteran, namun gadis ini sama sekali tidak mengambil tawaran tersebu. Entahlah, ia tiba-tiba tertarik ingin masuk di dunia Bisnis.

Alys mengisi bebrapa form untuk dikirmkan ke pihak Universitas, untungnya sekolah Alys sangat baik mau membantu muridnya untuk mengurus Universitas yang akan di tuju. Radit sendiri, belum memilih untuk mengambil apa. Pria ini juga mendapat tawaran di Kedokteran, namun juga ingin masuk di dunia tentara. Radit masih belum memutuskannya.

 

“Mau makan dimana?” tanya Radit setelah semua keperluan Alys di sekolah selesai.

 

“terserah “

 

“Lo kenapa sih Al? Lo marah sama gue?” Radit sudah tak dapat menahannya. Alys menatap Radit penuh maaf.

 

“Gue lagi nggak enak badan. Maafin gue”lirih Alys.

 

“Lo sakit?” Radit langsung memeriksa dahi Alys dengan cemas.

 

Badan Alys lumayan hangat, wajahnya juga mulai sedikit memucat. Radit menatap Alys yang hanya diam saja tanpa perlawanan, Biasannya Alys tak suka jika Radit melakukan hal seperti ini.

 

“Lo mau pulang?”

 

“Hmm” Alys mengangguk seperti anak kecil. Radit merangkuh bahu Alys, berjalan ke arah parkiran.

*****

Alys dan Radit tiba dirumah Alys. Yah, Alys melamun kembali sampai tak sadar bahwa kini Radit mengantarnya untuk masuk kedalam rumah. Ia lupa bahwa rumah yang mereka tujuh merupakan rumah Alys bersama Bima.

Mereka berdua masuk kedalam, dan ketika sampai di ujung pintu. Alys dan Radit berhenti berjalan. Mata mereka berdua melebar dengan apa yang ada di ruang tamu saat ini.

 

“Sensei Bima ??”

 

Bersambung . . . . . .

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s