My Teacher Is My Husband – 12

My Teacher Is My Husband – 12

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

         

“ Sensei Bima? “ kaget Radit melihat sosok guru bahasa jepangnya berada di ruang tamu dan sedang bersama dengan seorang gadis, mereka berdua terlihat sedang tertawa bersama.

 

 

Alys tersadar dari lamunanya, seolah dunia aslinya telah kembali. Ia membelakakan matannya, menatap Radit kemudian menatap Bima bergantian.

 

 

“Bodohnya Gue!! “ umpatnya ke dirinnya sendiri.

 

 

Bima pun tak kalah kagetnya dengan kedatangan Radit kedalam rumahnya. Alys juga merasa binggung dan asing dengan gadis yang berada di samping Bima.

 

 

“Sensei ngapain disini?” tanya Radit mengerutkan kening, merasa sedikit curiga.

 

 

“Saya?” Bima mencoba untuk tennag, mencari akal dan alasan yang dapat terpercaya. Ia melihat Alys yang menegang.

 

 

“Saya ada janji dengan sepupu Alys. “ Bima menolehkan wajahnya ke gadis sebelahnya yang tak lain adalah Yuki.

 

Kini giliran Yuki mengerutkan keningnya tak mengerti, Bima menyenggolnya pelan memberikan code dan untung saja Yuki langsung faham tanpa menunggu detik pertama selesai.

 

 

“Ahh—, kamu pasti pacar Alys ya?”ujar Yuki dengan sok kenalnya. Untung saja Bima semalam sudah menceritakan kepadannya. Dan sekarang giliran Alys yang membelakakan matanya dan menatap Yuki serta Bima dengan binggung. Bagaimana bisa gadis ini tau bahwa Radit pacarnya dan dia tau namannya ?

 

 

“Iya kak, saya Radit” dengan sopan Radit memperkenalkan dirinnya. Ia mengangguk-anggukan kepalannya paham, dan merasa legah bahwa Alys tidak berbohong bahwa dirinnya tinggal dengan sepupunya. Bentar—,

 

 

“Bukankah sepupu Alys cowok ?” ingatan Radit memang perlu diancungi jempol. Kini tiga spesies manusia menunjukkan wajah tegang dan bingung akan mencari alibi apa.

 

 

“Gue bohong kali dit, buat manas-manasin lo siapa tau cemburu. Sepupu gue cewek kok” Alys mencoba tenang dan seolah bahwa gadis di depannya adalah sepupunya.

 

 

“Kak, kenalin ini Radit” dan untuk skill acting, Kita berikan two thumbsup buat Alys. Ia mengatakannya dengan wajah datar dan seolah memang kenyataannya seperti itu. Yuki sediki kaget namun mencoba masuk dalam drama  kecil ini.

 

 

“Yuki” ujar Yuki memperkenalkan dirinnya.

 

 

“Kalau gitu, ayo yuk kita keluar. Papa lo udah nunggu kan?” ujar Bima mencoba untuk lepas dari situasi ini.

 

Yuki mengangguk-angguk menurut.

 

 

“Kita keluar dulu ya. Kakak nitip Alys ya Radit. Bye” layaknya seperti kakak sebenarnya. Yuki memeluk Alys dan cipika-cipiki sebentar.

 

******

Bima dan Yuki beranjak dari sana. Bima menyetir tanpa tujuan, ia tak menduga dengan situasi barusan. Untung saja Radit benar-benar percaya.

 

 

“Wah—, Alys pinter banget Actingnya “ kagum Yuki ketika mengingat raut wajah Alys tadi.

 

 

“Lo lebih meyakinkan.” Gidik Bima, ia sempat membuka mulutnya tak percaya ketika Yuki tiba-tiba memeluk Alys dan menempelkan pipinya seolah ia memang sepupunya Alys.

 

 

Yuki tertawa lebar.

 

 

“Gue gitu!! “ Bima menanggapi dengan senyum datar.

 

*****

 

Alys melepaskan tangan Radit dari pundaknya, Alys mengambil nafas panjang.

 

 

“Dit, lo pulang aja nggak apa-apa?” tanya Alys mencoba untuk sopan.

 

 

“Lo yakin sendirian?”

 

“Nggak apa-apa. Gue Cuma ingin istirahat sendiri”

 

 

Radit mengangguk, mencoba mengerti dengan kondisi Alys saat ini. Radit mencium kening Alys dan membelai lembut pipi Alys.

 

 

“Jaga kesehatan. Istirahat ya” Alys mengangguk.

 

 

“Gue pulang dulu “

 

Seperginya Radit, tubuh Alys ia rubuhkan di atas sofa, Gadis ini terduduk dalam diam. Mencoba mencerna kejadian barusan. Siapa cewek tadi? Dia tidak pernah mengenalnya. Apa hubungannya dengan Bima? Mereka terlihat sangat dekat.

 

 

“Aisshh—, kenapa lo jadi fikirin itu!!”

 

 

“Nggak penting Alys, Nggak penting!!! “

 

 

Alys mencoba bangun kembali, tubuhnya entah mengapa semakin lemas. Ia berjalan untuk menuju kamarnya, ia butuh tidur saat ini. Berharap nanti tubuhnya akan membaik.

*****

Yuki mengajak Bima untuk menemui papanya, Bima awalnya tidak mau. Tapi yah, namanya Yuki, semua jurus dikeluarkan dan akhirnya Bima terpaksa mengatakan “ya”. Kini mereka berdua sedang menunggu Papa Yuki di sebuah restoran dekat wahana water park.

 

“ Ottosan!! “ teriak Yuki melihat papanya datang dengan stelan jas warna biru. Bima pun segera berdiri.

 

 

Yuki memeluk papanya mengammbarkan bahwa ia merindukan ayahnya. Padahal mereka baru saja bertemu kemarin. Dan hanya berpisah kurang dari 24 jam. Bima membungkukan badannya 90 derajat. Memberi penghormatan seperti tradisi orang jepang.

 

 

“Bima, long time no see” Mr. Yuto menyalami Bima.

 

 

“Hai” jawab Bima sambil tersenyum dan merima jabatan tangan Mr. Yuto. Mereka bertiga duduk dan segera memesan makanan.

 

 

Bima banyak bercengkramah dengan Mr. Yuto, begitu pun Mr. Yuto menanyakan keluarga Bima, keadaan Bima dan lainnya. Sedangkan Yuki begitu gembira melihat kedua pria ini terlihat akrab. Sebua Angel yang bagus menurutnya.

 

Yuki mengabadikan kedekatan mereka dengan membidik satu foto kemudian menguploadnya di acount sosmednya.

 

 

“ OTTOSAN!!! “ teriakan manja terdengar dekat, Bima, Yuki dan Mr. Yuto menolehkan kepala mereka.

 

 

“Arisu? “ kaget Yuki melihat gadis itu mendekati mejanya. Yuki menatap papanya dengan tatapan tak percaya.

 

 

“Hallo witch to the bitch !! “ ujar gadis bernamakan Arisu tersebut menyapa Yuki dengan wajah dingin.

 

 

“YAAAA!!! Yang sopan dengan kakak lo”

 

“Kakak tiri !! “ sahut Arisu tak terima. Yuki menahan emosinnya. Ia menatap Papanya tajam.

 

 

“Arisu!! Yang sopan dengan kakak kamu” Arisu berlagak tidak mendengar.

 

 

“Dad, kenapa dia bisa disini? Sudah yuki bilang kalau dia tidak boleh ikut ke indonesia!!!” tajam Yuki membuat papanya binggung mau menjawab apa.

 

 

“Anak Papa nggak lo aja witch to the bitch!! Gue juga anak Papa”

 

 

Yuki tak bisa lagi menahan emosinnya, ia berdiri dari duduknya.

 

 

“Lo sadar!! Woyy!!! Lo hanya anak tiri!! Lo sama mama lo sama aja!! Perusak!!! “

 

 

“Gue sadar!! Tenang aja witch to the bitch!! “

 

 

“LO!!! “ Yuki akan bersiap menampar Arisu namun Bima segera menahan tangan Yuki.

 

 

“Yuk jangan, dilihat banyak orang.” Bisik Bima dan perlahan Yuki mencoba tenang.

 

 

“Dad, aku sudah masukan semua koper kedalam apartemen. Seperti yang dady suruh. So, sekarang aku mau belanja dulu. Long time no see dengan Indonesia”

 

 

“Bye semuannya. “

 

 

“Bye witch to the bitch!! “

 

 

Yuki menatap papanya tajam, meminta penjelasan.

 

 

“Dia adik kamu yuki, papa sudah lelah melihat kalian bertengkar. Siapa tahu papa membawa Arisu juga kalian bisa akur disini”

 
“Are you crazy Dad?? Aishhh—“

 

 

“Ah, dia tinggal di apartemen? Apartemen siapa yang dia maksud?” Mr. Yuto diam tak bisa menjawab, namun kediaman itu sudah memberikan jawaban pada Yuki.

 

 

“AKU AKAN PINDAH!!! ATAU DIA YANG PINDAH!!! “ teriak Yuki penuh emosi, kemudian berjalan pergi meninggalkan Papanya dan Bima begitu saja.

 

 

“Om, maaf ya. Bima ngejar Yuki dulu. “ pamit Bima. Mr. Yuto mengangguk-angguk dan memepersilahkan Bima untuk pergi mengejar Yuki.

 

*****

Bima mencari Yuki yang cepat sekali hilangnya, akhirnya ia menemukan gadis itu di taman depan wahana. Bima menghampirinnya. Ia melihat Yuki terdiam sambil mencomoti Ice Cream.

 

 

“Lo nggak apa-apa?” tanya Bima dan mengambil duduk disamping Yuki.

 

 

“Aissh—, Papa sangat menyebalkan” desis Yuki.

 

 

“Sejak kapan lo punya adik tiri?”

 

 

“dua tahun yang lalu, dia sangat menyebalkan. Kami tidak pernah akur.”

 

 

“Bahkan gue pernah mau bunuh dia!! “ Bima terkekeh ringan.

 

 

“Gue serius!!! “

 

 

“Iya gue percaya. Tapi, sampai kapan lo mau bertengkar terus? Baikkan gih”

 

 

“Sama siapa? Arisu? Nggak akan!!! “

 

 

“Sampai Babi namannya jadi Anjing dan Anjing namannya jadi Monyet nggak bakal gue baikan sama si Arisu itu!!! “

 

 

“Terus? Lo mau tinggal dimana?”

 

 

“Gue usir dialah!!! “

 

 

“Yaudah sesuka loh deh!! “serah Bima, ia sendiri tak sebegitu suka ikut campur dengan masalah keluarga orang.

 

“Lo free kan hari ini? Gue lagi suntuk. Lo harus ajak gue jalan-jalan”

 

 

“Gue harus pulang. Istri gue dirumah” jawab Bima dengan polos dan jujur.

 

 

“Istri lo??” Yuki langsung tertawa lepas, membuat Bima binggung.

 

 

“Bima. Sadar!! Istri lo aja sedang asik pacaran dirumah!! Oh my god!! Udah lo cerain aja terus lo pacaran sama gue dan nikah sama gue”

 

 

“Aissh—, “ Bima geleng-geleng mendengar ucapan Yuki. Tak menanggapinya.

 

 

“Pokoknya lo harus jalan-jalan sama gue seharian ini. TITIK!!!!! “

*****

Alys bangun dari tidurnya, cahaya lampu kamarnya, membuat kedua pupul mata mengecil. Alys merasakan nafasnya tidak teratur. Dugaannya sangat salah, harapannya tidak sesuai ekspektasi. Kepalanya terasa berat, bahkan ia merasa tubuhnya panas.
Alys mencoba berdiri, menggerakkan tubuhnya perlahan. Perutnya sedikit berbunyi. Ia berjalan keluar kamar.

 

Jam dinding besar di rumahnya menunjukkan pukul 7 malam. Alys tidak melihat ada tanda-tanda Bima di rumah ini.

 

 

“Sepertinya dia belum pulang “ gumamnya pelan.

 

 

Alys menghelakan nafasnya kembali, Ia bersender di meja makan. Memegangi kepalannya yang tak bisa diajak kompromi dan semakin berat.

 

 

“Gue laper. Bertahanlah!!! “

 

 

Alys berjalan untuk mengambil air minum. Tangannya meraba-raba gelas yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

 

 

PRAAAAANGGGG

 

 

BRUUUKKKK

 

 

          Semua gelas tersenggol dan jatuh berhamburan, bersamaan dengan tubuh Alys yang ambruk begitu saja diatas lantai. Alys tidak sadarkan diri.

 

*****

Bima memasukkan mobilnya ke dalam bagasi, ia keluar dari mobilnya dengan tangan kanan membawa makanan. Ia sempat mampir ke makanan padang dalam perjalanan pulang. Makanan tersebut bukanlah untuk dirinnya, melainkan untuk Alys. Ia sedikit khawatir bahwa gadis itu belum makan. Hmm, Suami yang baik.

 

Bima membuka pintu rumah, sepi dan hening. Seolah tak ada penghuni didalam rumah ini. Bima melangkahkan kakinya menuju ke dalam.

 

 

Seperti biasannya, Bima tidak akan ke kamarnya dahulu, ia akan pergi ke dapur untuk mengambil air putih.

 

Namun, langkahnya terhenti seketika, ketika ia sampai di dapur. Ia melihat seorang gadis terkapar tak berdaya disana, dan di sebelahnya terdapat pecahan-pecahan gelas tak berdosa.

 

 

“Alys??”

 

Bima membuang begitu saja bungkus makanan ditangannya. Ia segera berlari menghampiri Alys.

 

 

Bima mengecek tubuh Alys. Panas itulah yang ia rasakan. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Alys.

 

 

“Al—, Al—“ panggil Bima namun tak ada sahutan sama sekali dari gadis ini.

 

 

“Gue harus bawa dia kerumah sakit” ujar Bima ke dirnnya sendiri.

 

 

Namun, ketika Bima akan membopong tubuh Alys, gadis itu sedikit membuka matannya dan langsung memeluk Bima. Spontan Bima membeku ditempat. Ia tak pernah membayangkan kejadian ini, dan bagaimana ia harus merespon situasi seperti ini. Ia tidak tau.

 

 

“Jangan kerumah sakit” lirih Alys sangat lemah.

 

 

“Tapi Al, tubuh lo panas banget!”

 

 

“Gue nggak mau”

 

Setelah itu Alys pingsan kembali, Bima menghelakan nafas beratnya, ia segera membopong tubuh Alys dan membawa gadis itu ke kamar.

 

*****

 

Bima menaruh tubuh Alys diatas kasur, kemudian megambil beberpaa kompres serta peralatan P3K. Ia kebinggungan dan cemas dengan keadaan Alys. Bagaimana bisa gadis ini pingsan? Dan sudah berapa lama gadis ini pingsan disana?. Bima mulai merasa bersalah, menyalahkan dirinnya karena tidak menjaga istrinya.

 

Bima mulai mengompres dahi Alys, mengelap keringan dingin Alys yang terus keluar tanpa henti.

*****

2 Jam kemudian,

 

Bima masih terjaga dan terus mengganti kompres Alys berulang kali. Suhu panas Alys mulai sedikit menurun, Bima dapat tersenyum legah dan bernafas legah kali ini. Bima mengambil duduk di samping Alys, sedikit mendekati tubuh istrinnya.

 

 

Tanpa sadar, Bima menatap Alys sangat lekat, ia tersenyum ringan. Ia seharusnya sadar bahwa ia memiliki istri yang sangat cantik, dan juga sangat cerdas, Bagaimana bisa ia dulu menolak gadis ini? Apa dulu ia benar-benar sedang tidak waras.

 

 

“Bim—“ Alys mengigau. Bima tersentak. Ia melihat wajah Alys mulai tak tenang. Dengan berani, Bima meraih tangan kiri Alys dan mengenggamnya.

 

 


“Bim
—“ Panggil Alys sekali lagi masih dengan kedua mata tertutup.

 

 

“Iya Al, gue disini.” Bima mengeratkan genggaman tangannya. Keringat dingin Alys semakin keluar tanpa batas. Padahal Bima sudah menyalakan AC.

 

 

“Bim—,”

 

 

“Maaf—“

 

 

“Bima maaf”

 

 

“Bima maafin gue “

 

 

Alys mengigau tak jelas, Bima terdiam. Apakah gadis ini sangat bersalah karena masalah neneknya kemarin? Apakah gadis ini sakit karena Bima mendiamkannya?. Bima menatap Alys tak tega.

 

 

“Gue nggak marah sama lo Al” lirih Bima pelan.

 

 

“Ma—, Maafin gue”

 

Alys perlahan membuka matannya, walaupun dengan ukuran yang kecil. Bima menatap Alys lumayan legah. Akhirnya gadis ini terbangun. Namun, tiba-tiba Alys menangis. Alys menatap Bima dengan tatapan bersalah dan sendu.

 

 

“Al? Lo nangis??”

 

“Maafin gue” sekali lagi Alys meminta maaf, dengan air mata mengalir begitu saja di kedua matannya.

 

 

“Kenapa lo minta maaf? Gue nggak marah sama lo!”

 

 

“Jangan nangis Al” Bima menghapus air mata yang keluar dari pipi Alys.

 

 

Bima merasakan Alys mengeratkan genggaman tangannya. Bima mencoba untuk tidak gugup. Ia mengontrol ekspresi wajahnya dan panas dingin yang mulai menjalar diseluruh tubuhnya. Ia seperti mendapat sengatan listrik mendadak.

 

 

“Bim—“ panggil Alys sekali lagi, wajah gadis itu masih pucat, matannya pun belum sepenuhnya terbuka.

 

 

“Iya al?” jawab Bima.

 

 

“Gue nggak mau tidur sendirian” pinta Alys seperti anak kecil.

 

 

“Gue akan tidur di sini, jagain lo” Alys menganggukan kepalannya dengan bibir mengembang. Perlahan gadis ini terlelap kembali.

 

Bima membelai lembut puncak rambut Alys, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Alys. Bima tersenyum kembali.

 

 

“Maafin gue, seharusnya gue jagain lo” lirih Bima kecewa dengan dirinnya. Bima mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Alys untuk tidur di sofa, namun Alys sama sekali tak mau melepaskan genggaman tangan Bima.

 

 

Mau tak mau, akhirnya Bima harus tidur disamping Alys. Bima tidur dengan posisi menghadap ke Alys, dan membiarkan tangan kanannya di pegang oleh Alys.

 

*****

Alys terbangun jam 01.00 dini hari, ia merasakan tangan kirinnya ada yang menggengam, merasa ada seseorang disampingnya. Alys mencoba mengontrol kesadarannya. Tangan kanannya ia gerakkan dan mengambil sebuah kompresan di dahinya.

 

 

“Gue kenapa?” lirihnya sedikit binggung. Kondisinya sudah kembali normal. Panasnya sudah cukup hilang. Alys menolehkan wajahnya kesamping.

 

 

“Bima?” kaget Alys dengan suara yang sangat lirih. Alys membelakakan matannya melihat Bima tertidur pulas di sampingnya. Tangan Bima pun dengan erat mengenggam tangannya.

 

Alys mengigit bibir bawahnya, jantungnya tiba-tiba bergerak dengan cepat tak seperti biasannya. Aliran darahnya mulai panas-dingin. Alys menarik nafas dalam-dalam.

 

 

“Alys, tidak terjadi apa-apa. “

 

 

“Alys jangan khawatir”

 

 

Perlahan Alys mencoba melepaskan genggaman tangan Bima, meskipun sedikit susah Alys terus mencobannya dan berharap Bima tidak akan bangun. Sampai akhirnya tangan Bima dapt terlepas dari tangan Alys. Namun tangan Bima tiba-tiba langsung memeluk Alys.

 

Alys membeku ditempat, apa yang harus ia lakukan sekarang?? Bima meletakkan tangannya diatas perutnya. Apakah ia harus teriak? Tidak mungkin!! Mereka bukanlah pasangan haram. Terus Alys harus bagaimana? Bima memeluknya erat sekali.

 

 


“Apa gue harus bangunin dia?”

 

 

“Atau gue biarin aja dia tidur seperti ini ?”

 

 

‘Gitu ??”

 

*****

Alys terbangun karena mau harum masakan yang menusuk hidungnya, ia mengerjapkan matannya beberapa kali, sampai akhirnya dia benar-benar membuka matannya, terbangun!. Alys menatap dinding langit-langit, merngingat kejadian semalam.

 

“Bim—“

 

“Bima” Alys memanggil Bima, mencoba membangunkan pria itu. Namun, pria tetap tak membuka matannya. Posisi mereka pun masih sama, Bima tidur disamping Alys dengan tangan Bima yang melingkar di perutnya.

 

 

“Aissh—“

 

Dan akhirnya Alys menyerah dan memilih tidur kembali, membiarkan posisi mereka tetap seperti itu.

*****

Alys berpura-pura memejamkan matannya kembali, ketika mendengar suara pintu kamar terbuka.

 

“Gue udah lihat lo bangun!”

 

 

Dengan cepat Alys membuka matannya lebar-lebar. Ia melihat ke arah Bima yang sedang membawa sepiring makanan dan segelas susu.

 

 

“Makan dulu, terus minum obat “ ujar Bima. Ia menaruh piring dan susu tersebut diatas meja belajar Alys.

 

Alys mengangguk kecil, sedikit merasa canggung.

 

 

“Gue harus ke sekolah. Mau ngambil barang-barang gue”

 

 

“Lo berhenti ngajar?” kaget Alys, Bima mengangguk sebagai jawaban. Alys mengernyitkan keningnya heran.

 

 

“Gue jadi guru Cuma sebagai selingan hobi, kondisi nenek yang sering sakit buat gue nggak tega. Jadi, gue pilih untuk kembali kerja di perusahaan”

 

 

Alys mengangguk-angguk mengerti. Ia mencoba untuk bangun. Kondisinya sudah sangat lebih baik dari kemarin. Apalagi Bima sudah mau berbicara dengannya menambah kebahagiannya dan dia tidak perlu berfikir keras lagi untuk meminta maaf kepada Bima.

 

 

“Lo mau nitip apa? Gue pulang cepat mungkin”

 

 

Alys terdiam sebentar, merasa aneh. Bima tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Alys mencoba untuk merespon dengan sikap yang biasa.

 

 

“Nggak ada—, gue nanti siang mau ke rumah Radit. Ad—“

 

 

“Lo masih sakit!” potong Bima dengan tegas. Raut wajahnya berubah kembali dingin.

 

 

“Tapi gue ada perlu. Gue mau ambil ba—“

 

 

“Gue yang ambilin.!!” Alys menghelakan nafas panjang.

 

 

“Sekalian aja lo bilang ke Radit kalau lo suami gue”

 

 

“Boleh juga” tantang Bima menjadi.

 

 

“YAAA!!!! “ Bibir Bima terangkat membentuk sebuah senyum kecil yang manis.

 

 

“Gue bercanda, suruh aja Radit kesini. Lo masih sakit.”

 

 

“Gue berangkat dulu”

 

 

Alys menatap kepergian Bima dengan lebih heran lagi. Ia merasa aneh dengan tingkah Bima pagi ini. Kenapa pria itu jadi sangat perhatian kepadannya. Padahal selama ini Bima tidak pernah melakukan hal itu. Bahkan berkata semanis kepadannya, tadi untuk pertama kalinnya.

*****

 

Bima menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, fikirannya kembali berputar dengan kejadian semalam dan tadi pagi. Ia ingat bahwa dirinnya terbangun dengan memeluk Alys.

 

“Apa yang udah gue lakuin semalem!!” pekiknya merasa sangat bodoh.

 

Sedetik kemudian, sebuah senyuman tergambar jelas. Bima tak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya, mungkin. Apa dia bahagia dengan kejadian semalam? Entahlah. Bima sendiri juga tidak sebegitu yakin.

 

DRRTTTDRTTTT

 

          Ponsel Bima berdering, ia menjawab sambungannya dengan menekan tombol panggilan pada handsfree yang sudah terpasang ditelingannya sedari tadi.

 

“Iya nek?”

 

“Bima akan mulai bekerja mungkin besok atau lusa. Nenek tenang saja”

 

“Nenek cepat sembuh dan jangan sakit lagi”

 

“Siap. Bye nek”

Bima mengakhiri sambungannya, merasa legah bahwa neneknya sudah kembali sehat dan melewati masa kritisnya kemarin. Namun, beberapa detik kemudian ponsel Bima berdering kembali. Nama “Ariyuki”  tertera di layar ponselnya. Bima segera menjawab sambungan tersebut.

 

“LO UDAH MAKAN BELUM? AYO MAKAN BARENG!!”

 

“Sial!!!” Bima langsung melepaskan Handsfree – nya dari telinga. Suara cempreng dan keras Yuki hampir membuat gendangnya pecah.

 

Bima menekan tombol loadspeaker  diponselnya, untuk mencari aman.

 

 

“Lo bisa nggak pelan-pelan. “ kesal Bima. Suara tawa gadis disebrang mulai terdengar sangat puas.

 

“Ayo makan siang bareng!”

 

“Gue nggak bisa”

 

“Why??”

 

“Alys lagi sakit, gue harus ke sekolah sekarang dan balik lagi kerumah”

 

“Kan ada pacarnya, suruh aja pacarnya yang jagain”

 

“Gue suaminya!!” tegas Bima, gemas juga dengan ucapan Yuki yang tanpa dosa.

 

“Masak? Dia aja nggak ngakuin lo”

 

“Yuk—, nggak mulai”

 

“Iya—, iya . Ampun, Yaudah deh kalau nggak bisa” nada suara Yuki memelan dan lemah, terdengar kekecewaan disana.

 

“Sorry banget Yuk”

 

“No problem, Yaudah gue tutup. Bye”

 

Bima menghelakan nafas panjang, Ia sedikit tidak enak dengan Yuki, tapi mau bagaimana lagi. Ia memang harus pulang cepat. Ia takut jika kejadian kemarin terulang kembali. Alys pingsan dalam keadaan sendirian dirumah. Untung saja kemarin tidak kenapa-kenapa dengan gadis itu, ia takut jika sesuatu yang lebih bahaya terjadi kepada Alys.

 

“Wait? Apa barusan gue mengkhawatirkan gadis setan itu?”

 

“Aissh—,”

 

“Lo benar-benar sudah gila Bimaa!!!! “

 

*****

Radit memilih beberapa kue, hari ini ia akan mengunjungi Alys. Sebagai kekasih yang pengertian dan mencintai pacarnya tentu saja ia ingin memberikan kekasihnya sesuatu yang bisa membuat Alys senang dan lekas sembuh.

 

“Mbak ini”

 

“Beli ini”

 

Radit menolehkan kepalannya, melihat seorang gadis muda mungkin seumuran dengannya. Gadis itu juga menatap Radit dengan tatapan blank. Radit mencoba menduga bahwa gadis disampingnya bukan sepenuhnya darah indonesia. Kedua rambutnya di kepang dua dengan pita merah darah di sisi kanan kepala gadis itu.

 

“Apa lo tertarik sama gue?”

 

Radit tersadarkan, ia tersenyum canggung. Mengumpati kebodohannya barusan. Gadis itu senyum-senyum sendiri.

 

“Arisu” ujar gadis itu dengan percaya diri yang tinggi.

 

“Heh?”

 

Radit menolehkan lagi, menghadap gadis tersebut dengan wajah binggung.

 

“Nama gue Arisu, lo pingin kenalan kan sama gue?” Radit tertawa pelan seperti orang bodoh. Apa-apan gadis disampingnya ini.

 

“Maaf—“ kaku Radit,dan kembali fokus ke kue yang akan ia ambil.

 

“Jangan ambil kue itu!!” cegah gadis yang tak lain adalah Arisu, berhasil menghentikkan Radit.

 

“Gue mau membelinya” Radit diam, apa yang harus ia lakukan? Kue itu kesukaan Alys dan tinggal satu disana.

 

“Tap—“

 

“Gue akan kasih nomer ponsel gue, dan kue itu buat gue”

 

Arisu dengan tanpa dosa langsung mengambil ponsel Radit yang jelas membekas bentuk pada saku celana kananya.

 

“Eh—“ kaget Radit binggung harus berbuat apa.

 

Gadis itu langsung memainkan ponselnya dengan kecepatan diatas rata-rata.

 

“Gue nggak biasannya ngasih nomer gue ke semabarang orang, Tapi karena lo lumayan spesial for first sight . Gue kasih kesempatan lo”

 

“What? Kesempatan?” Radit semakin tak mengerti, gadis di depannya sangat menjengkelkan. Radit merebut ponselnya, menggelengkan kepalannya tak mengerti dengan tindakan Arisu.

 

“Yah! Kesempatan buat deketin gue. Lo tertarik kan sama gue”

 

“Aisssh—, ambil kuenya. Ambil semua!! “

 

Radit mengalah, ia segera beranjak dari sana. Tak ingin ambil pusing dan berdebat gila dengan gadis aneh tadi. Radit keluar dari toko kue, sedikit kesal tentunya.

 

“Waahh—, lelaki juga punya sifat jaim??”

 

“I like it”

 

Arisu tersenyum penuh makna, melihat punggung belakang Radit yang semakin menjauh darinya.

 

Bersambung . . .. . .

4 thoughts on “My Teacher Is My Husband – 12

  1. maaf ya ka kalau lancang🙂
    pas bagian alys pingsan
    “bima merasakan alys mengeratkan genggaman tangannya. Bima mencoba untuk tidak gugup….”
    di bagian itu ada 1 kata cuma gak enak di bacanya aja hehe
    aku ampe baca berulang2 takut mata aku nya yg salah baca. tapi emg beneran typo
    tapi buat aku gak masalah juga. yg penting arah ceritanya kan sudah tau.
    tetep bagus karyanya ka
    btw sumpah demi apapun aku msh nunggu kelanjutan nya CRUSHED nya ka😦
    kapan kah di next🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s