My Teacher Is My Husband – 13

My Teacher Is My Husband – 13

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

Alys merasa ngantuk, mungkin efek dari obat yang beberapa menit lalu ia minum, Alys berjalan ke arah kamarnya. Namun, langkahnya terhenti. Bel rumahnya berbunyi. Sepertinya Ada orang bertamu. Alys menghela nafas panjang, ia ingin sekali tidur tapi ada-ada saja penganggunya.

Alys menuruni tangga dan berjalan ke arah pintu rumahnya. Membuka pintu, dan mendapati seorang lelaki tampan berdiri dengan wajah ceria penuh semangat. Alys cukup kaget dengan kedatangan pria ini.

 

“Kok nggak bilang kalau kesini?”

 

Siapalagi jika bukan Radit, Alys mempersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu.

 

“Lo udah sehat?” Alys mengangguk lemas. Ia masih merasa ngantuk.

 

“Kok masih lemas?”

 

“Gue habis minum obat, efek ngantuknya terasa banget”

 

“Ngusir gue lagi nih?” Alys menatap Radit dengan tatapan bersalah, ia tak bermaksud untuk membuat Radit bersedih. Tapi kondisinya memang sebuah fakta. Ia tidak berbohong kepada Radit.

 

“Bercanda Al, gue kesini cuma mau nganter kue kesukaan lo. Siapa tau lo cepet sembuh”

 

“Lo istirahat gih”

 

“Thanks”

 

Radit mengangguk ringan, merengkuh Alys kedalam pelukannya. Ia baru sadar bahwa kekasihnya ini mulai sedikit kurusan. Alys pun membalas pelukan Radit. Terasa sangat nyaman sekali. Alys merasa rindu dengan hari-hari dimana mereka selalu bersama.

 

“Maafin gue” lirih Alys masih merasa bersalah. Radit memper-erat pelukannya.

 

“Eh—“

 

“Sorry. Gue nggak sengaja”

 

Radit dan Alys melepaskan pelukan mereka. Melihat sosok gadis yang tersenyum tanpa dosa diujung pintu. Alys mengernyitkan kening, binggung kenapa gadis ini ada dirumahnya.

 

“Hallo Kak” sapa Radit kepada gadis di ujung pintu yang tak lain adalah Yuki.

 

“Hallo Radit, sering-sering ya main kesini” ujar Yuki dengan nada penuh penekanan dan kebahagiaan.

 

Alys melototkan matannya, apa maksud ucapan dari gadis tersebut. Apa dia tau tentang hubungannya dan Bima. Siapa sebenarnya gadis ini? Alys masih bertanya-tanya sejak semalam.

 

“Radit pamit dulu kak. Nitip Alys ya, dia kayaknya masih sakit”

 

“Oh, udah mau balik? Yaudah hati-hati ya”

 

Radit mengangguk dan beranjak berdiri.

 

“Gue pamit Al” Alys tersadar, ia menatap Radit dan berusaha mengembangkan senyumnya.

*****

Setelah mengantar Radit keluar, Alys masuk kedalam rumah. Gadis asing tak ia kenal itu masih disana. Bahkan Gadis itu sekarang sedang masuk kedalam kamar Bima. Alys menghampiri gadis itu.

 

“Lo siapa sih?” tanya Alys to the point  tak ingin banyak bahasan.

 

“Gue? Sepupu lo”

 

“Gue tanya serius!!”

 

Yuki tertawa dengan wajah sedikit sinis. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Bima. Kemudian menatap Alys dengan tatapan tajam dan penuh percaya diri. Yuki melangkahkan kakinya, mendekat ke Alys.

 

“Gue?”

 

“Calon istri Bima yang baru setelah 4 bulan lagi cerai sama lo” ujar Yuki mengembangkan senyum yang dibuatnya.

 

Alys tentu saja kaget, namun ia berusaha untuk tidak termakan dengan ucapan kasar gadis di depannya, berusaha sekuat untuk mengontrol ekspresinya.

 

“Oh ya?” tantang Alys, meremehkan Yuki.

 

“Lo benar-benar nggak tau diri ya. Ini rumah suami lo, dan lo dengan seenaknya memasukan pacar lo kedalam. Waah—, pasti Bima menderita banget selama ini”

 

“Aissh—, kenapa perceraian kalian tidak bisa bulan depan saja!!” gerutu Yuki kesana-sini. Alys menahan emosinya. Kedua telingannya mulai memerah, tanpa sadar ia mengepalkan tangan kanannya.

 

“Ada urusan apa lo kesini? Lo bisa bicara di ruang tamu”

 

“Lo nggak pernah belajar cara bertamu yang sopan ?”

 

“Waah—, gue sedang dimaki anak kecil!!” ujar Yuki tak terima. Ia menatap Alys seolah mengintimidasi.

 

“Bertamu? sorry—, cara bertamu gue emang kayak gini. Dan nggak ada larangan dong buat gue masuk kedalam kamar calon suami gue.”

 

“Lo aja bisa masukin pacar lo. Kenapa gue nggak boleh masuk??”

 

Alys berusaha tenang, menahan emosi yang mulai mengalir di setiap darahnya untuk kedua kali, gadis di depannya benar-benar diluar akal. Ucapannya semakin kasar saja. Ia mencoba membiarkan saja, mulut Yuki terus membabi buta. Ia akan dengan senang hati mendengarkanya.

 

“Lo sakit? “ Yuki mencoba menyentuh dahi Alys, dengan cepat Alys menangkisnya.

 

“Aww—, panasnya!!” Yuki menggoda dengan tatapan mengejek.

 

“Waahh—, hebat banget ya lo. Dua pria bisa lo dapat perhatiannya. Ajarin gue dong cara murahan lo itu?”

 

Alys tersenyum, melangkahkan kaki mendekat ke Yuki.

 

“Lo minta ajarin carannya?” suara Alys memelan dan tajam.

 

“sepertinya nggak bisa”

 

“Karena meskipun gue ajarin, standart lo masih dibawahnya murahan”

 

Alys menjauhkan langkahnya, seolah puas dengan ucapannya barusan. Benar saja, Yuki menatapnya kesal dan penuh emosi. Merasa tak terima dengan perkataan Alys barusan. Dan membuat Alys senang sekali, ia menang telak untuk 1 rounde.

 

“Pintu keluar ada disana, lo bisa keluar sendiri kan?” sinis Alys tanpa menatap Yuki.

 

“Sialan!!” Yuki mengumpati Alys sebelum ia melangkah keluar, berjalan keluar rumah Alys. Yuki terlihat sangat marah sekali.

 

Setelah Yuki benar-benar menghilang dari rumahnya, tubuh Alys melemas. Kakinya seolah tak bertenaga. Ia terjatuh, duduk diatas lantai. Alys mengatur nafasnya yang mulai tak karuan.

 

“Calon suami?”

 

“Wahh—, rencana masa depan lo lebih parah daripada gue, lo lebih brengsek dari gue”

 

Alys tak bisa percaya, setidaknya ia selama ini memiliki rasa tidak enak dan was-was  ketika Bima memergokinya bersama dengan Radit, sedangkan kenyataannya sekarang tiba-tiba Bima membawa calon istrinnya untuk menemui istrinya. Sungguh menakjubkan!!!

*****

Bima masuk kedalam rumah, ia melihat Alys sedang makan kue di sofa tengah. Alys fokus dengan makannya, seolah tak mengerti kedatangan Bima.

 

“Al, lo udah baikan?”

 

Alys berdiri dari tempat duduknya, beranjak berjalan ke kamar. Tak menjawab bahkan melihat Bima sama sekali. Berlagak layaknya tak ada penghuni lain dirumah ini selain dirinnya, tak ada makhluk lain disekitarnya. Merasa bahwa ia sendiri dirumah ini.

 

Bima mengernyitkan kening, berfikir apakah Alys benar-benar tidak mengerti keberadaannya? Atau Alys tidak mendengarnya? Bima merasa sedikit aneh dengan sikap Alys barusan. Namun. Bima tidak ingin berfikir panjang, mungkin nanti Alys juga akan kembali seperti kemarin-kemarin. Cerewet dan kasar.

*****

Bima tak melihat Alys kelaur dari kamar lagi, ia melangkah mendekati kamar Alys, berencana mengajak gadis itu makan malam. Namun, baru saja ia akan mengetuk pintu kamar istrinya, pintu itu sudah terbuka bersama dengan kemunculan empu-kamar. Bima tersentak.

 

“Lo mau kemana?” tanya Bima, melihat Alys berdandan cantik dan rapi. Bahkan, wajah pucatnya sudah tak terlihat.

 

“Keluar” singat Alys dan melewati Bima begitu saja.

 

“Keluar kemana?” tanya Bima spontan, ia mengikuti langkah Alys menuruni tangga.

 

“Sama Radit” ketus Alys. Ia mempercepat langkahnya, Bima pun ikut mempercepat langkahnya.

 

“Lo masih sakit. Suruh Radit saja datang kesini, gue akan keluar rumah, ngg—“

 

Alys memmberhentikan langkahnya mendadak, hampir saja Bima akan menabrak punggung Alys kalau dia tidak sigap. Alys terdiam sedikit lama.

 

“Di kontrak pernikahan kita dulu sudah tertera jelas bukan? Lo nggak berhak ikut campur dengan urusan gue.!!”

 

“Dan gue juga nggak akan ikut campur dengan urusan lo! “

 

“Kita urusi saja, kehidupan masing-masing”

 

“4 bulan lagi juga kita akan segera bercerai.”

 

Bima tertegun, Alys yang tiba-tiba berbicara sangat kasar dengan ekspresi layaknya orang terbakar api. Menakutkan. Bima tak tau harus menjawab apa, toh semua yang diucapkan oleh Alys semuannya benar.

 

“Gue hanya khawatir”

 

“Gue nggak butuh rasa khawatir lo, karena terlihat menyedihkan buat gue” jawab Alys semakin ketus.

 

Alys menghelakan nafas panjangnya. Bersiap untuk melangkahkan kakinya kembali.

 

“HALLO SEMUANNYAA!!!! “

 

Kedangan Yuki membuat Alys menghentikkan kakinya untuk kedua kalinnya. Bima dan Alys sama-sama membulatkan mata mereka. Kaget dengan kedatangan gadis ini, apalagi Yuki datang dengan membawa dua buah koper.

 

“Apalagi yang dilakukan penyihir murahan ini!!”

 

Alys ingin sekali meluapkan emosinnya saat ini, tapi ia tak ingin merusak citrannya hanya untuk gadis murahan seperti Yuki. Ia menahannya.

 

“Bimaaaaa” teriak Yuki manja, berjalan menghampiri Bima dan memeluk Bima begitu saja di depan Alys.

 

Alys melihat kejadian tersebut, ia tak tau harus ber-ekspresi bagaimana, didalam seperti ada yang menganjal hatinya, entah itu apa. Ia sendiri tidak yakin dan tidak berani untuk memastikan. Alys tak mengalihkan sama sekali matannya dari pemadangan dua insan tersebut.

 

“Lo apa-apain sih Yuk” Bima melihat jelas kedua mata Alys yang tak bergerak sedikit pun. Bima melepaskan pekukan Yuki sedikit kasar.’’

 

“Gue akan tinggal disini” ujar Yuki sesuka hati. Bima membelakakan matannya. Alys menyingungkan senyum sinisnya.

 

“Apa gue harus pergi dari rumah ini?” ujar Alys pelan namun cukup terdengar oleh Bima maupun Yuki. Alys tak tahan dengan kelakuan rendahan Yuki. Ia membalikkan badannya dan segera beranjak meninggalkan dua orang disana.

 

Bima melihat kepergian Alys, segera menyusul. Entah menagapa ia merasa bersalah dengan Alys. Ia takut.

 

“Al—, Al, gue bisa jelasin!!” Bima mencoba mencegah Alys.

 

Alys terus saja berjalan, tak peduli.

 

“Al, gue bisa jelasin!!”

 

Bima berhenti tepat di depan Alys, mau tak mau, Alys memberhentikan langkahnya. Bima menatap Alys yang sama sekali tak mau menatapnya.

 

“Yuki sahabat kecil gue dulu, dia baru datang dari jepang, di—“

 

“Gue udah bilang kan? Urus sendiri urusan masing-masing!!” tajam Alys.

 

“Lo nggak usah takut gue salah paham, karena tidak ada yang perlu gue khawatirkan”

 

Alys mengangkat kepalannya, menatap kedua mata Bima tepat pada lingkaran cokelat-hitam didalam mata lelaki di tersebut.

 

“Apa gue perlu menyuruh Radit pindah kesini juga?”

 

Alys melangkah kakinya kembali. Meninggalkan Bima yang diam seribu bahasa disana. Bima tidak tau situasi apa yang baru saja ia hadapi sekarang. Apakah dirinnya seperti seorang suami yang baru saja ketahuan selingkuh? Suami yang ketahuan membawa simpananya? Atau suami yang ingin meminta restu untuk menikah lagi? Ayolah—, dia tidak berada disituasi itu semua. Tapi kenapa Alys sampai semarah itu kepadanya. Alys tidak biasannya bertingkah seperti itu.

 

Bima semakin merasa binggung, kepalannya terasa akan pecah.

*****

Bima kembali ke dalam, ia melihat Yuki yang duduk manis di ruang tengah sambil menonton televisi, seolah ia tak bersalah dengan perbuatannya barusan. Bima mendesis kesal, mendekati Yuki.

 

“Yuk, apa maksud lo? Pindah kesini?” tanya Bima mencoba mewancarai Yuki dan maksud gadis itu ke rumahnya dengan dua koper besar.

 

“Iya, gue pindah kesini. “

 

“ Lo nggak kasihan sama gue? Tadi pagi gue hampir bunuh-bunuhan sama Arisu, gue nggak mau tinggal sama dia!! Jadi gue keluar dari apartemen”

 

“Lo bisa tinggal di apartemen lainnya”

 

“Nggak mau!! Lagian bukannya gue sepipunya Alys disini?”

 

“Gue akan berperan layaknya sepupu dia, biar dia tidak ketahuan” jawabnya semakin berani. Bima menghelakan nafas dengan berat.

 

“Lo nggak perlu lakuin itu. Gue bisa atasi masalah itu”

 

“Yakin?” Bima terdiam cukup lama.

 

“Lo lebih baik pergi dari sini Yuk, lo boleh main kesini tapi tidak untuk tinggal”

 

Yuki tak sengaja melihat sosok Alys kembali masuk    kedalam rumah dengan langkah tergesah-gesah, sepertinya gadis itu meninggalkan sesuatu. Melihat kesempatan itu, Yuki segera berdiri dan memeluk Bima.

 

“Lo takut ya Alys marah gue tinggal disini? Ini kan rumah lo Bim, jadi lo berhak sepenuhnya!!” Yuki bergelantung manja, Bima sangat terkejut dengan perbuatan Yuki,  mencoba melepaskan pelukan Yuki.

 

“Al, lo nggak marah kan gue tinggal disini?”

Alys sudah berada disana sejak Yuki memeluk Bima. Ia mendengar ucapan Yuki barusan. Mendengar nama Alys di sebut, Bima menghentakkan pelukan Yuki dengan keras, dan pelukan itu terpisah begitu saja.

 

Bima yang memenag berdiri membelakangi pintu masuk, sama sekali tidak tau kedatangan Alys. Ia membalikkan badannya dan melihat Alys terdiam dengan wajah datar dan tenang.

 

“Ponsel gue ketinggalan” ujarnya singkat tak menjawab pertanyaan Yuki atau merespon reaksinya untuk kejadian barusan.

 

Alys berjalan lebih cepat dari tadi, menaikki tangga menuju kamarnya. Bima pun spontan mengejar Alys.

 

“Al—, it—, gue—, gue”

 

“Lo nggak usah berlagak kayak suami ketahuan selingkuh!!” dingin Alys, memasuki kamarnya.

 

“ BIM, GUE MASUK KE KAMAR TAMU!! GUE AKAN TETAP TINGGAL DISINI”

 

Suara teriakan Yuki terdengar jelas sampai kamar Alys, kedua pasangan suami-istri ini tentu dapat mendengarnya. Langkah keduannya terhenti di depan kasur Ify dengan pintu kamar setengah terbuka. Alys membalikkan badannya menghadap ke Bima.

 

“Lo mau balas dendam ke gue?” tanyanya sudah tak mampu menahan kesal.

 

“Balas dendam?” tanya Bima balik, tak mengerti arah pertanyaan Alys.

 

“Lo bawa pacar lo kesini, dan tinggal disini. Gue masih nyoba hargain lo, jangan salahin gue jika gue pacaran sama Radit, karena gue emang cinta sama Radit dan nggak ingin pernikahan ini terjadi”

 

“Dia bukan pacar gue” bantah Bima dengan cepat.

 

“Ah—, calon istri baru lo maksud gue” ralat Alys dengan cepat, wajah sinis terbentuk di seluruh waut wajahnya. Bima mengerutkan kening, sama sekali tak mengerti.

 

“Lo bener-bener suami menakjubkan!”

 

Alys mengambil ponselnya yang ada di atas kasur dengan kasar, setelah itu berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Bima yang membeku dan binggung dengan fikiranny sendiri.

 

*****

Bima berjalan cepat mencari Yuki, lebih tepatnya berjalan ke arah kamar tamu.  Ia mendapati Yuki sedang asik menata bajunya di almari sembari mendengarkn lagu dari playlist ponselnya. Bima mendekati Yuki.

 

“Lo nggak bisa tinggal disini” ujar Bima to the point. Yuki membalikkan badnanya, menghadap ke Bima.

 

“Terus gue tinggal dimana?” Yuki menunjukkan ekspresi cemberut dan sedihnya.

 

“Hotel atau lainnya “ Yuki menundukkan kepalannya sedih.

 

“Biarin gue tinggal disini 1 minggu aja, sampai gue dapat apartemen baru, pleasee!!” Mohonnya, menautkan kedua tangannya ke arah Bima.

 

“Nggak bisa, Gu—“

 

“4 hari kalau gitu” Yuki semakin memelas, kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan hampir mau menangis, dan Bima tidak tega jika melihat gadis menangis. Apa yang harus ia lakukan sekarang?.

 

“3 hari! Nggak ada penawaran lagi”

 

Bima keluar kamar, meninggalkan Yuki yang berjoget kegirangan, Bima tidak tau keputusannya itu tepat atau tidak. Namun, ia sudah terlanjut membuatnya. Entahlah, dia hanya harus menghadapi apapun yang terjadi nantinya dirumah ini.

*****

Alys sebenarnya tidak ada janji untuk bertemu Radit, kepalannya terasa panas jika dirumah. Ia pun berencana untuk pergi kerumah Radit saja. Sudah cukup lama dirinnya tidak bermain kesana.

Alys memencet bel rumah Radit, namun tidak ada tanda-tanda siapapun yang akan membukakan pintu. Alys berfikir apakah tidak ada Radit disana? Dia memang tidak menelfon Radit terlebih dahulu. Ia hanya kesini tanpa rencana panjang.

Alys berjalan, menghampiri sebuah kursi di halaman teras rumah Radit. Duduk disana, untuk menenangkan fikirannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya keras-keras. Ia tidak biasannya memfikirkan ini.

 

“Apa gue barusan saja marah?”

 

Alys menghelakan nafas sekali lagi. Ia melihat ke arah gerbang, berharap orang yang ia tunggu secepatnya datang, ia sedang tidak ingin sendirian saat ini.

****

Hampir 2 jam Alys menunggu, sampai tak sadar bahwa ia ketiduran di teras halaman rumah Radit, Alys mengerjapkan kedua matannya beberapa kali ketika sadar bahwa dirinnya tertidur tadi. Alys melihat ke jam tangannya.

 

“Apa Radit masih belum pulang? Kemana dia?”

 

Alys berdiri dari kursinya, berjalan ke gerbang. Berniat untuk pulang saja. Hari sudah mulai malam. Namun, ketika ia akan membuka gerbang rumah Radit sebuah mobil berhenti. Alys menyunggingkan senyumnya, akhirnya orang yang tunggu sedari tadi datang.

****

Radit keluar dari mobilnya, dengan wajah terkejut dan langkah cepat. Ia tak menyangka bahwa kekasinya berada di rumahnya, Radiy menghampiri Alys.
“Sejak kapan disini?” tanya Radit.

 

“2 jam yang lalu” jujur Alys dengan nada suara dibuat-buat kesal. Radit membelakakan matannya dua kali lebih kaget.

 

“Kok nggak nelfon?”

 

Alys tak berniat menjawab pertanyaan Radit, ia mendekati kekasihnya dan memeluk Radit erat-erat, membenamkan wajahnya di dada Radit. Melihat Alys yang tiba-tiba seperti ini membuat Radit lebih binggung.

 

“Lo kenapa Al?” tanya Radit, perlahan membalas pelukan Radit.

 

Alys menggelengkan kepalannya lemah, tubuhnya sedikit terasa bergetar. Yah, Alys menangis dalam diam.

 

“Lo nangis?” Radit melepas paksa pelukan Alys dan melihat wajah kekasinya. Benar saja air mata Alys sudah terjatuh tak berdosa. Alys menundukkan wajahnya, sama sekali tak berani menatap Radit.

 

“Kenapa Al? Lo kenapa?” Radit mulai cemas sendiri. Namun, sekali lagi Alys hanya menjawab dengan gelengan ringan.

 

Alys sendiri tak mengerti kenapa ia tiba-tiba menangis, ia hanya merasa lelah. Semua di dalam tubuhnya terasa sangat menjengkelkan, dan jalan satu-satunya yaitu ia ingin menangis saja.

 

“Tenangin dulu”

 

Radit memeluk Alys kembali, membiarkan gadis ini terus menangis, menenangkannya sampai merasa legah. Radit tidak harus memaksa Alys untuk menceritakan semua, Radit masih memberlakukan privasi seseorang meskipun orang itu adalah pacarnya sendiri.

*****

Radit mengajak Alys untuk makan di restoran dekat sekolah mereka. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka sedari tadi. Alys hanya diam dan menunduk, bergulat dengan fikirannya sendiri, Radit pun tak berani untuk menganggu, membiarkan saja Alys sampai benar-benar tenang.

 

“Dit, gue tidur dirumah lo”

 

Radit menatap Alys dengan kening berkerut. Tidak biasannya Alys meminta untuk menginap dirumahnya. Bukannya ia tidak memperbolehkan, hanya saja ia masih punya tata keramah didalam rumahnya. Apalagi Alys adalah pacarnya.

 

“Hmm, nggak apa-apa”

 

“Tapi, gue tidur di luar” lanjut Radit, ia berfikir mengalah saja. Mungkin memang kekasihnya sedang ada masalah yang berat sampai tidak mau pulang. Ia mengalah untuk tidur di tempat lain.

 

“Kenapa gitu? Kenapa lo nggak tidur dirumah lo aja?” tanya Alys polos. Radit mengacak-acak puncak rambut Alys. Merasa lucu dengan pertanyaan Alys.

 

“Gue nggak mau tiba-tiba di gerebek sama satpam kompleks” jawab Radit dengan nada bercanda. Alys mengangguk-angguk mengerti.

 

“Kalau gitu, gue nggak jad—“

 

“Tidur aja dirumah gue, gue bisa tidur di rumah temen gue di blok sebelah”

 

“Tap—“

 

“Tidur aja dirumah gue!!” Alys tak bisa berargumen lagi, tatapan Radit yang memaksa membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk menyutujui. Setidaknya ia tidak akan pulang rumah malam ini.

 

****

Bima melihat jam dinding yang ada diruang tamu, menandakan pukul 12.30 malam, dan Alys belum pulang juga sampai sekarang, Entah mengapa ia mulai cemas. Ia sudah mencoba menelfon Alys namun ponsel gadis itu mati. Bima menjadi binggung sendiri.

 

“Apa dia marah sama gue?”

 

“Yang buat dia marah apa?”

 

“Yuki tinggal disini?”

 

“Aisshhh—“

 

Bima mengacak-acak rambutnya frustasi, ia hanya punya satu pilihan lagi, yaitu menelfon Radit mau tak mau untuk mengetahui keberadaan Alys. Tapi, pasti Radit akan sangat curiga. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang.

 

“Sini gue telfonin Radit”

 

Yuki tiba-tiba muncul dengan suara cemprengnya, merebut ponsel Bima begitu saja. Bima sendiri masih diam terkejut dengan kedangan Yuki. Ia membiarkan saja gadis itu memainkan ponselnya.

 

“Hallo”

 

“Hallo Radit, ini kak Yuki”

 

“Oh, iya kak? Ada apa?”

 

“Alys sama kamu sekarang?”

 

“Oh, iya kak  ini Alys minta tidur dirumah Radit, nggak apa-apa kan kak?”

 

“Kayaknya dia ada masalah ya?”

 

Yuki menjauhkan ponsel yang ia pegang dari telingannya, ia menatap Bima yang sudah penasaran dengan jawaban Radit. Yuki berbicara pelan ke Bima.

 

“Alys minta tidur di rumah Radit”

 

Bima terdiam seketika itu, tidak tau harus menjawab apa. Nafasnya terhela berat.

 

“Gimana?” tanya Yuki menyadarkan Bima.

 

“Terserah— “ jawab Bima malas, ia berdiri dari kursinya dan meninggalkan Yuki yang masih bercengkraman dengan Radit di telfon.

 

“Iya nggak apa-apa Radit, kakak nitip Alys ya, jagain”

 

Setelah menutup sambungan tersebut, Yuki segera berjalan menghampiri Bima yang sudah masuk kedalam kamar. Yuki membuka pintu kamar Bima dan ikut masuk.

 

Yuki melihat Bima yang sedang mengganti baju atasnya dengan sweeter hangat. Yuki mengerutkan kening, melihat gerak-gerik Bima. Sepertinya pria ini akan pergi ke suatu tempat.

 

“Lo mau pergi kemana?” tanya Yuki penasaran.

 

“Gue tidur di apartemen aja” jawabnya singkat.

 

“Kenapa? Gue sendirian dong dirumah” protes Yuki. Bima menolehkan wajahnya ke arah Yuki.

 

“Gue udah nikah, gue nggak mungkin cuma berdua dengan perempuan lain”

 

“Lo tidur aja disini nggak apa-apa” jawab Bima tenang. Yuki memajukan bibirnya.

 

“Gue nggak mau sendirian” renggek Yuki, ia mendekati Bima dan langsung merangkul lengan Bima, memohon.

 

“Sorry yuk”

 

Bima melepaskan tangan Yuki dari lengannya, ia berjalan mengambil kunci mobil serta ponselnya yang tadi dibawah yuki. Kemudian beranjak keluar rumah. Meningalkan Yuki sendirian yang semakin kesal.

 

“Aissh—, sialan!! Kenapa jadi gue sendiri dirumah ini”

 

“Kan nggak begini rencananya!!”

 

“Ini semua gara-gara Alys”

 

“Brengsek!!”

*****

Bima menjalankan mobilnya, ia menatap pemandangan depan kosong, tatapannya seolah tak ada tujuan, Ia terus saja menyetir.

 

Bima berhenti tidak jauuh dari sebuah rumah berwarna putih. Yah, Bima tidak langsung menuju ke apartemennya, ia berniat untuk melihat apakah Alys baik-baik saja. Ia menjalankan mobilnya menuju rumah Radit. Ia sedikit menauhkan mobilnya, memarkirnya agar tidak terlalu dekat.

*****

Alys tidak bisa tidur, ia sudah mencoba untuk memejamkan matannya beberapa kali. Rasannya begitu berat, otaknya seolah banyak beban. Namun, ia sendiri tidak bisa menemukan jawaban, apa yang ia fikirkan saat ini. Apa yang membuatnya seperti ini.

 

Sudah sejak 30 menit lalu, Radit meninggalkannya sendirian dirumah, Alys memilih bangun dari tempat tidur. Ia berjalan keluar, berniat untuk mengambil air minum. Menyegarkan otaknya yang penat.

 

“ Apa gue pulang ke rumah Mama aja?”

 

“Tapi kalau mama tanya gimana?”

 

“Bodoh amatlah!! Itu urusan nanti”

 

“Yang penting gue bisa istirahat tenang”

 

Alys kembali kedalam untuk mengganti baju serta mengambil tasnya. Ia memilih untuk keluar dari rumah Radit tanpa memberitahu Radit. Ia tidak ingin merepotkan kekasihnya lagi. Ia memberanikan diri untuk pulang semalam ini.

*****

Alys berjalan ke arah gerbang rumah Radit, ia merasa seperti sedang ada yang mengawasinya. Ia memberanikan diri untuk mengedarkan pandangannya di sekitar luar jalan. Benar saja, Alys melihat sebuah mobil yang menyala dengan lampu yang begitu terang. Alys menyipitkan matannya, mencoba memperjelas pengelihatannya. Ia sepertinya familiar dengan mobil itu.

 

Alys membuka gerbang rumah Radit, dan mencoba sedikit mendekat, memperjelas untuk melihat plat nomer mobil tersebut.

 

“BIMA?”

 

Bersambung. . . . . .

 

 

2 thoughts on “My Teacher Is My Husband – 13

  1. Haii ka Hyo, aku pembaca setianya kak Hyo. Semua ceritanya kakak udah septi baca, dan gaada bosennya meskipun udah berulang-ulang. Kak Hyo hebatt, aku suka bangett sama kakak. Terus semangat ya kak. Jangan lama ya kak post part 14 dst. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s