Sepotong Kisah – 1

Sepotong Kisah – 1

BIRUHHHH

          Umurku masih 7 tahun saat ini, jika dapat diperkirakan tahun kedua aku masuk sekolah dasar.  Masih teringat jelas apa yang terjadi malam itu. Aku hanya mendengar suara bising di ruang tengah. Aku mencoba tak mempedulikannya, bagiku itu adalah kejadian yang tak langka. Ayah dan ibuku bertengkar lagi. Entah untuk keberapa kalinya.

Suara tangis bayi terdengar dari samping telinga kiriku. Seketika bibirku meluarkan decakan, kesal tentunya. Kenapa dia selalu saja menangis? Bukankah tiap hari dia juga mendengar kedua orang tuannya bertengkar?.

Nafasku terhela berat, suaranya makin keras. Aku terpaksa bangun dan kudekati bayi berusia 5 bulan yang tidur pulas disampingku. Yah, dia adikku.

 

“Shhhh—“

 

“Shhhh——.”

 

Aku menenangkanya, membelai-belai puncak kepalanya. Berharap dia akan tertidur lagi. Perlahan, suara tangisnya memelan. Namun, tidak untuk dua orang tua di depan sana yang masih tetap bertengkar. Apakah mereka tidak berfikir bahwa tetangga mereka akan terganggu? Benar-benar tak bermoral. Di umurku saat itu aku sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dilakukan dan tidak!! Tidak seperti mereka.Cisshh—,

 

“AKU AKAN PERGI DARI RUMAH!!!”

 

          Suara ledakan terakhir bersamaan dengan pecahnya beberapa piring, aku mendengar derap langkah keras mulai mendekati kamar tempat diriku dan adikku tidur. Yah, ibukku masuk kedalam kamar. Sambutan pertama yang kulihat adalah Tatapan Jijik – nya yang diarahkan kepadaku. Seolah aku ini bukan anak kandungnya.

Aku tak berani bertanya, hanya diam menatap perempuan paruh baya itu, dia mulai mengemasi pakaian-pakaiannya kedalam keresek merah berukuran besar. Maklum, kita adalah Salah satu warga yang fakir dan miskin. Jadi, tidak pernah terbayangkan untuk mempunyai koper, tas sekalipun!.

 

“Mau kemana dia malam-malam seperti ini?”

 

“Apa dia akan meninggalkanku?”

 

“Bagaimana dengan anak bayinya? Dia masih butuh ASI-nya”

 

Aku tetap menahannya didalam. Tak berani melontarkannya, sampai akhirnya perempuan itu keluar dari kamar tanpa mengatakan sekata apapun. Aku menoleh ke arah bayi disampingku. Dia mulai menenang, tertidur pulas kembali.

Yah, pada saat itu aku tidak memfikirkan apapun. Aku kembali tertidur seperti biasannya.

****

Sudah 3 hari, perempuan itu tidak kembali kerumah. Aku mencarinya mulai dari kampung sebelah dan sebelahnya lagi. Dia tidak ada, bahkan ditempat kerjanya karaoke dia tetap tidak ada. Aku mencarinya sembari menggendong bayi malang ini. Dia kehausan!! Sangat kehausan!!.

Seperti malam kemarin, aku tetap menunggunya didepan pintu rumah. Bayi dalam dekapanku mulai menangis kembali. Aku mencoba menenagkannya, tapi kali ini tidak berhasil. Dia tetap menangis dan bertambah keras.

Aku masih ingat ucapan perempuan itu disaat kelahiran bayi ini. “Jika ibu tidak ada, berikan dia air beras saja”.

Dengan langkah cepat aku masuk kedalam rumah, ke arah dapur. Mencari beras yang mungkin masih tersisa.

Aku terdiam dengan wajah sendu, panci itu kosong. Tak berisi. Hanya serangga-serangga kecil yang telah meng-akuisisi sebagai rumah barunya. Lalu, apa yang aku lakukan saat itu?. Tentu saja aku keluar rumah lagi. Berlari seperti anjing gila ke rumah tetangga.

Aku mengetuk satu-persatu pintu mereka. Tidak ada yang menyahuti. Jelas sekali, ini sudah tengah malam, bahkan masuk dini hari. Aku tau ini kurang ajar, tapi tidak ada jalan lain. Bayi itu terus menangis. Aku meninggalkannya dirumah sendiri.

Aku benar-benar bah pahlawan malam itu, berlutut meminta sedikit beras, bahkan sampai bersujud. Mereka sama sekali tidak memberikannya. Melainkan mencaciku seperti sampah miskin, menyiramku dengan air. Aku tetap memohon!!.

Namannya, Bu Andri. Aku masih ingat!. Hanya beliau yang menyambutku dengan raut khawatir. Tubuhku kedinginan dan basah. Ia masuk kedalam rumah dengan cepat dan keluar lagi membawa handuk. Menyelimutkannya ditubuhku.

 

“Saya butuh beras. Berikan saya beras. Saya mohon. Adik saya menangis terus, Saya tidak punya susu”

 

Apakah aku menangis saat itu? YAH!!! AKU MENANGIS!!!. Di umurku 7 tahun aku sudah mendengar dan merasakan cacian tak pantas, di siram air cucian malam-malam, bagaimana jika kalian yang menjadi aku? Hahahaha. Tertawa keraslah dengan hidup kalian yang menyenangkan saat ini!!

 

Bu Andri menuntunku berdiri, ia terlihat sangat kasihan denganku. Ia mengantarkanku pulang malam itu. Kami berjalan cepat karena bayi itu sendirian disana. Batinku hanya berteriak  awas saja kalau bayi itu tidak membalas jasa kepadaku ketika sudah dewasa!!!

*****

          Aku duduk di pojok pintu kamar, menunggu Bu Andri yang memberikan ASI-nya kepada bayi itu. Aku menghela lega, dia tidak menangis lagi. Bu Andri juga memiliki bayi yang lebih tua satu bulan dari bayi dalam dekapannya.

 

“Dimana orang tua kamu?” tanya Bu Andri mulai pembicaraan, sepertinya penasaran melihatku dan bayi itu layaknya anak tak ter-urus. Ah—, harusnya perlu di ralat. Bukan layaknya tapi memang!!

 

Aku menggelengkan kepalaku. Aku memang tidak tau dimana mereka. Sejak kepergian perempuan itu dengan kresek merahnya dari rumah, ia tidak kembali kerumah lagi. Dan ayahku, juga tidak pernah datang lagi. Aku bangun tidur, bangun, tidur, bangun tidur, sampai kini mereka tidak kembali. Apa aku sudah dibuang ?

 

          Setelah cukup memberikan asupan ASI , Bu Andri pamit untuk pulang. Aku menyalami tangannya berulang-ulang sebagai bentuk rasa terima kasihku. Aku berhutang besar kepadannya. Aku akan membalasnya jika tuhan mengizinkan.

Dia memberikan 3 lembar uang dua puluh ribu, aku bukan anak kecil yang naive aku sama halnya anak kecil lain yang diberi uang akan langsung menerima dan tidak melakukan basa-basi dengan mengucapkan “Ah, tidak usah Bu, terima kasih, Tidak usah!”. Apa aku perlu mengingatkan lagi? Aku masih berusia 7 tahun saat itu.

 

*****

          Keluargaku sangat dibenci masyarakat kampung. Ibukku yang katannya seorang PSK dan ayahku preman kasar, pemabuk. Ciss—, !!. Sebenarnya dulu tidak seperti itu, kejadian ini terjadi sejak ayahku kena PHK di kantornya dan menjadi gelandangan.

*****

Hari ke 10, mereka berdua tetap tak ada yang pulang. Uang yang diberikan Bu Andri perlahan terkikis dan telah kupakai. Kini hanya tinggal 5 ribu. Aku sudah sangat menghematnya, aku hanya makan sekali dalam sehari, aku membelikan minum dan susu murah untuk bayi itu, aku membelikannya popok, semua untuk keperluan bayi itu!!. Apa aku harus membunuhnya?. Tenang saja, aku bukan seperti dua sampah itu yang meninggalkanku dan bayi ini sendirian.

Hal yang paling menyedihkan lagi yang jelas sekali teringat, para tetangga seolah acuh dengan keadaanku dan bayi yang selalu aku dekap. Mereka tidak membantu malah semakin mencaci. Seolah aku ini adalah sampah masyarakat. Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu terhadap anak berusia 7 tahun, apakah mereka tidak memfikirkan bagaimana psikis dari anak itu? Apakah mereka tidak bisa bertanya sebentar “ Apakah kamu sudah makan?” atau sedikit berbelas kasih mengatakan “ Kasihannya kamu dan adikmu, yang sabar” .

Apa susah mengatakan itu?? HA? Apa susahhhh!!!!

*****

Malam itu aku mendengar suara pintu di dobrak dengan keras. Aku sangat terkejut, terpelonjat dari tidur. Aku terbangun, dan segera berdiri dan menggendong bayi yang masih tidur disampingku. Aku mendekapnya erat.

Aku berlari bersembuyi di kamar mandi, menguncinya. Aku takut sekali. Harapanku saat itu hanya bayi ini tidak menangis dan tidak bangun.

Harapan hanya harapan, dia menangis sangat keras!!!

 

“KELUAARRR!!!”

 

“KELUARRR BOCAAAHHH TAK BERGUNAA!!!!

 

          Bahkan saat ini aku masih ingat bagaimana fasih dan khasnya suara pria itu. Dia terdengar mabuk berat dan penuh emosi. Dia mendobrak pintu kamar mandi tempat dimana aku bersembunyi. Aku semakin menciut, tanpa sadar dekapanku mengerat dan membuat bayi itu kesakitan. Aku tak sadar karena aku sangat takut. Aku menangis.

 

BRAAAKKKKK

 

Pintu terbuka  lebar, seorang pria menatapku sangat tajam, matannya memerah tubuhnya sempoyongan. Yah. Seperti dugaan awalku dia mabuk berat. Setelah 10 hari tidak pulang? Itulah sambutannya kepada kedua anaknya. Hebat!! Ayah yang hebat!!. Bangga sana dengan ayah terhebat kalian yang membelikan barang-barang mewah dan memanjakan kalian. Sayang sekali, aku tidak pernah bahkan tidak akan iri dengan kalian semua!!

 

Dia mendekatiku, aku langsung berlutut meminta ampun. Aku menunduk, menangis.

 

“Ampunnn Ayah”

 

“Ampunnn”

 

“Ampuun ayah, Ampun”

 

“Ampunnn”

 

Aku menyesal kenapa aku menyebutnya “Ayah?” Waahh, mungkin memang saat itu aku benar-benar sangat ketakutan sampai tidak bisa membedakan mana ayah dan mana sampah iblis!!.

          Dia menarik bayi yang ada dalam dekapanku. Dan dengan tegannya, mencelupkan bayi itu kedalam kamar mandi. Aku langsung menjerit. Bayi itu menangis keras. Aku mencoba merebut bayi itu dari tangan pria kejam ini.

“Lepaskannn!!! “

 

“Dia bisa mati!! “

 

‘Jangan!!!”

 

Sampai akhirnya dia melempar bayi itu sesukannya. Mungkin dia pikir bayi yang sudah berusaha aku selamatkan 10 hari ini adalah pakaian kotor.  Dia buang seenaknya seperti itu. Aku menatap bayi itu menangis diatas lantai. Pasti sangat sakit kepalannya terbentur lantai.

 

Aku tidak menyadari bahwa pria gila ini sudah menatapku tajam sedari tadi. Kini ia mendekatiku dan mencengkram tanganku. Aku tersentak, ketakutan melihatnya yang sangat dekat.

Tangannya menjambak rambutku tanpa ampun. Kesakitan, tapi aku tak bisa menjerit. Aku hanya menangis. Mataku tak lepas dari bayi yang terkapar disana. Aku hanya ingin cepat-cepat mendekatinya dan memeluknya erat.

 

“Jangan nangis!!”

 

“Jangan nangis!!”

 

Aku berteriak dalam hati untuk bayi itu. Aku tak mempedulikan rasa sakit perlakuan kejam pria tak waras ini. Ia semakin menjadi. Menyiramku dengan air, lah? Dikira aku ini ritual malamnya?. Tak hanya disitu saja, mungkin dia tidak puas saat itu hanya menyiramku dengan air. Dia mulai membenturkan kepalaku di tembok kamar mandi. Penasaran dengan seberapa kerasnya? Tau rasanya kejedok tembok tanpa sengaja? 10 kali lipat rasa sakitnya dari itu!!. Jangan pernah mencoba bayangkan!!

 

Aku pingsan seketika itu, dan tidak sadar lagi. Kepalaku hampir bocor karena benturan keras tersebut. Jika saja Bu Andri tidak datang bersama anaknya, mungkin aku dan bayi itu sudah mati. Yah, sekali lagi Bu Andri menyelamatkanku.

*****

Aku mendengar bahwa pria itu dilaporkan ke kantor polisi, dan dipenjara. Entah untuk berapa lama. Aku hanya berharap bahwa dia didalam jeruji untuk selamanya!!. Aku berysukur bayi itu tidak apa-apa, dia dalam kondisi yang sehat. Dan aku sendiri? Tentu saja sehat!! Jika tidak bagaimana bisa aku menceritakan kejadian ini kepada kalian semua!!. Ciss—.

Hari selanjutnya, hidupku dipenuhi oleh keluarga Bu Andri mereka sering mengirimkan aku dan bayi ini makan. Aku sangat berterima kasih. Mereka menyayangiku lebih dari siapapun. Hanya mereka yang memberikan rasa ibanya. Sekali lagi aku berterima kasih.

*****

Mungkin saat itu, aku dan bayi yang setiap hari berada didekapanku ini tidak memiliki nasib yang beruntung. Satu bulan kemudian, perkampungan kami digusur. Mereka dengan tegannya menggusur tanpa memberikan sepeser pun. Entah pada saat itu karena aku hanya anak kecil jadi aku tidak mendapatkan apa-apa dan tidak tau apa-apa? Atau entah karena apa. Yang pasti, Aku dan bayi ini berpisah dengan Bu Andri yang kabarnya pindah ke kota sebelah.

Aku terlantar kembali, tanpa rumah, tanpa uang, tanpa makan, dan hanya 5 baju yang kupunya. Aku membawanya dengan kantong kresek kecil berwarna hitam yang sedikit sobek. Aku tidak tau harus tinggal dimana malam ini. Para warga yang lain, mulai pergi dari kampung yang tak berbentuk ini.

Aku menggendong bayi ini sambil berjalan ke arah stasiun. Hanya itu yang terfikirkan olehku. Dulu ketika aku berumur 3 tahun, mereka berdua sering mengajakku kesini. Mereka berdua masih tersenyum ceriah dan sangat menyayangiku. Aku masih bisa meminta ini itu dan sebagainya layaknya anak normalnya.

“Apakah baru saja aku memuji dua sampah itu?” Setidaknya aku masih punya hati. Anggap saja, aku anak baik.

*****

Aku memilih tidur di stasiun, jadi sebutan baruku adalah seorang gelandangan. Umurku masih 7 tahun dan 2 hari lagi adalah ulang tahunku. Umuruku akan menginjak 8 tahun.

*****

Yeaahhh!! Hari ulang tahunku tiba. Aku sudah ber-umur 8 tahun hari itu. Dan aku sedang apa? Coba kalian tebak!.

 

“ Beli kue sendiri? Nyalakan lilin sendiri?”

 

“Menangis?”

 

“Meminta-minta?”

 

Salah semua!!!, aku tidak ada waktu untuk melakukan hal yang sama sekali tak penting. Aku bekerja memunguti sampah-sampah di sekitar stasiun dan menjualnya ke beberapa pemulung dewasa. Setidaknya aku bisa membeli 1 roti dan 1 botol susu kecil untuk bayi ini setiap hari. Sudah lebih dari cukup dan sangat cukup.

Mungkin, tuhan benar-benar ingin mencoba membuatku iri dan menguji bagaimana reaksiku. Dia menuntun kedua kakiku berjalan dan melewati restoran fastfood yang lambangnya berwarna merawah dengan awal M dan patung seperti badut sebagai brand ambbasador mereka.

Disana sedang digelar ulang tahun seorang gadis yang memiliki tinggi yang sama denganku dan nomer lilin yang sama dengan  umurku hari ini. Dia lahir dengan tanggal yang sama denganku.

          Tuhan menyuruh kakiku berhenti dan aku berhenti seperti yang dia tulis di buku takdirnya. Dia menyuruhku untuk menatap acara itu dari luar jendela, aku menatapnya melakukan apa yang sudah ditakdirkannya.

 

“Happy birthday Allen, Happy birthday Allen”

 

“Happy Birthday, Happy birthday!!”

 

Kedua orang tuannya memberikannya nama yang sangat bagus, dia juga cantik. Dia didampingi kedua orang tuannya yang berdiri di sampingnya. Teman-temannya juga tersenyum untuknya dengan bahagia.

 

Lalu? Apakah aku harus mengikuti takdir tuhan  dengan menangis ditempat? Maaf tuhan, aku punya pilihan sendiri didalam hidupku yang juga kau berikan,  dan kali ini aku harus mencoret takdir yang sudah kau tulis. Aku tidak menangis. Aku tersenyum.

 

“Terima kasih tuhan, aku masih kau berikan hidup, adikku selamat dan terus bersamaku, aku masih kau beri makan. Aku masih bisa merasakan udara umur 8 tahunku”

 

“Terima kasih tuhan”

 

          Standing applause!! Anak 8 tahun bisa berfikir seperti itu! Keren bukan aku? Lo? Lo? Lo semua? Maaf kalau saat ini aku harus tersenyum sinis dan tersenyum remeh ke arah kalian. !!

 

*****

Adikku menangis lagi. Yah, kali ini aku menyebutnya Adik bukan bayi ini  lagi. 2 bulan dia mau menemaniku. Dia sudah bisa merangkak dan tumbuh beberapa centi. Dia sudah tersenyum ketika aku menatapnya. Aku menyayanginya tanpa sadar. Sangat menyayanginya.

Aku khawatir dia menangis terus. Aku terbangun dari tidur dan menyebabkan gelandangan lainya terbangun. Mereka melihat kearahku dan beberapa dari mereka mendekatiku. Mereka nampak cemas dan khawatir.

 

“Kenapa adik kamu menangis?”

 

“Apa dia tidak apa-apa?”

 

‘Apa kalian sudah makan?”

 

CATAT BAIK-BAIK!!.  Mereka dan Aku sama-sama gelandangan saat itu. Tidak punya tempat tinggal, uang dan lainnya. Tapi mereka memiliki hati yang sangat mulia dibanding tetangga kampungku dulu. Sangat lebih mulia. Ah, aku ingin menangis jika mengingatnya kembali.

 

Mereka menemaniku bergadang sampai adikku tidak menangis lagi. mereka sangat baik denganku. Tapi, adikku tetap terus menangis. Wajahnya memerah. Aku mengecek suhu badannya tapi dia tidak panas. Tiba-tiba adikku mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku membelakakan mata terkejut begitu juga dengan orang-orang disampingku.

 

“Cepat bawa kerumah sakit!! Cepat!!”

 

“Cepaat!!

 

Aku dengan cepat berdiri, menggendong adikku erat-erat dan berlari sekencang mungkin. Beberapa dari mereka menemaniku dan mengejarku. Aku mencari rumah sakit terdekat. Entah itu puskesmas atau apapun yang terpenting aku bisa menemukan dokter disana.

Aku masuk kedalam rumah sakit yang dekat dengan stasiun. Mungkin bodohnya anak kecil berumur 8 tahun tidak tahu bagaimana lebih kejamnya dunia luar sana adalah aku masuk ke rumah sakit yang lumayan besar dan pastinya mahal.

Aku masuk kedalam, berteriak dan menangis meminta tolong. Adikku mulai kejang dalam dekapanku, ia terus memuntahkan apa yang ada didalam mulutnya. Aku tidak peduli tanganku basah akan muntahannya. Aku hanya ingin ada yang cepat menolongnya.

Aku mendekati seorang suster,

 

“Tolong adikku”

 

Aku memohon, namun suster itu tidak langsung membawa adikku, melainkan ia menatapku penuh detail. Aku tidak memakai alas kaki, bajuku lusuh dan kotor, bauku juga tidak enak. Aku menyadarinya. Tapi tidak bisakah dia saat itu langsung menolong adikku?.

 

“Apa kamy punya uang?”

Itulah kalimat pertama yang ia tanyakan kepadaku!. Aku masih ingat!! Aku membaca nametag dibajunya “Safira D.R”. Itukah yang namannya suster? . Aku dengan bodonya juga menggeleng menjawab pertanyaan angkuhnya.

 

“Kamu sepertinya juga tidak memiliki BPJS, bagaimana kamu bisa membayar adik kamu?”

 

“Kami bukan yayasan penumpang orang susah dan membayari biaya perawatan orang yang tidak punya uang”

 

Aku melihat adikku, matannya semakin memerah. Aku tidak mempedulikan suster itu dan segera keluar dari rumah sakit. Aku tidak ada waktu meladeninnya. Aku harus mencari rumah sakit lain.

Aku berlari sendiri, orang-orang  yang mengejarku tadi mungkin tidak menemukanku karena kencangnya lariku. Aku menemukan sebuah  praktek dokter. Dan seorang suster sedang menutup gerbang dari rumah praktek tersebut.

Aku berlari dengan cepat!.

 

“Tolong selamatkan adikku!!”

 

Aku memohon, dia menatapku terkejut. Mungkin dikira aku anak jelmahan. Dia memundurkan langkahnya masih dengan ekspresi terkejut dan takutnya.

 

“Adikku sekarat!! Tolong!!” aku menangis, menangis takut dan memohon.

 

Dia menatap ke arah adikku, bukanya langsung menolong, suster itu berlari masuk kedalam. Aku menangis pasrah. Adikku sudah tidak muntah lagi, melainkan matannya mulai menutup. Aku gemetar hebat.

 

“Jangan mati!!”

 

‘jangan mati!!! “

 

          Aku terduduk berlutut. Menaruh adikku diatas tanah, aku takut jika aku menggendongnya tanganku yang gemetar ini bisa menjatuhkannya. Aku menangis layaknya anak kecil yang ditinggal mamanya.

 

“Bangun!!!”

 

‘Bangunnn jangan mati!! “

 

“Aku mohon jangan mati, dek!!”

 

“Aku sama siapa jika kamu mati!!”

 

‘Jangan matii!!!”

 

          Aku menggoyang-goyangkan badannya yang lemah.

 

“TOLONNGGG!!!”

 

“TOLONGG!!!!”

 

Aku tidak peduli jika warga disini keluar dan memukuliku karena aku menganggu mereka. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya adikku selamat. Dia harus selamat.

 

Aku berteriak seperti orang gila, tak ada yang keluar dan tak ada yang menolong. Aku berdiri dan menggendong adikku lagi. Aku berlari lagi sekencang mungkin. Menemukan entah itu puskesmas rumahs akit atau semacamnya. Aku tidak mau menyerah. Adikku sudah tak bergerak. Aku tidak tau dia masih hidup atau sudah mati. Aku tidak bisa membedakannya. Aku tidak tau saat itu. Aku hanya terus berlari.

 

Aku menunggu lampu merah menyala, aku menangis dan terus menangis. Menatap adikku yang semakin pucat. Bibirnya memutih. Aku mencoba untuk tidak bergetar. Lalu lalang mobil, seolah ikut acuh. Tak menganggap keberadaan kami.

 

“Tuhan? Bukankah dalam kibat yang kau wahyukan kepada rasulku kau berfirman “

 

“Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya?”

 

“benar bukan?”

 

“Tuhan, bolehkah aku mengeluh untuk pertama kali?”

 

“Aku tidak sanggup lagi, tuhan”

 

‘Maaf, aku tidak sanggup”

 

Sebuah mobil berhenti didepanku. Lampu sorot mobilnya menyilau dikedua mataku. Aku sedikit memundurkan langkahku. Aku melihat seorang pria dan wanita memakai jas putih keluar dari mobil itu. Mereka berdua berjalan ke arahku.

 

“Kamu kenapa menangis?” tanyanya dengan wajah khawtair. Aku hanya teridiam, binggung menatap mereka.

 

“Ma, adiknya sekarat!!” ujar pria tersebut. Mereka sepertinya seorang sepasang suami-istri.

 

Pria dan wanita itu dengan cepat mengecek kondisi adikku, aku membiarkanya saja mengambil adikku dari dekapanku. Aku sudah lemas, dan tidak punya daya untuk berbicara maupun melawan. Aku hanya bisa menangis.

 

“Kita harus cepat membawa mereka kerumah sakit!!”

 

Pria itu langsung menggendongku masuk kedala mobilnya. Aku masih ingat, mobil yang mereka laju, berkecepatan diatas rata-rata.

 

“Terima kasih tuhan”

****

Bagaimana sedih bukan ceritaku? Aishh, cenggeng kalian semua. Udah berapa tissue yang kalian habiskan? Hahahaha. Apa kalian penasaran dengan kisahku selanjutnya? Aku akan menceritakannya lagi, setelah aku punya waktu. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Hahaha.

 

Aku belum menyebutkan siapa namaku bukan? Nama adiku? Tenang saja aku akan menyebutkannya nanti di part-part selanjutnya. Jadi tunggu saja, dan berhenti menangis kalian semua!!!.

 

Sampai jumpa lagi, silahkan tebak adikku selamat atau tidak?. Bye semua. See you!!

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s