ENLOVQER DEVIL – 1

ENLOVQER DEVIL – 1

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

            Barrow 5 Juni 2016

 

Meja dan kursi telah tertata rapi membundar. Semua para petinggi dengan wajah yang sangat familiar untuk seluruh dunia berdiri dari tempat duduk mereka. Menyambut kehadiran sang ketua.

 

“Just Sit down” suara berat tersebut terlihat tenang namun dapat membuat kecemasan dan kekhawatiran.

 

“ Just do it like my plan. “

 

“At june 12! “

 

“I want to look how them can survive”

 

“I make them rich, I make them look beautifull. But—“

 

Tatapannya yang tenang seketika berubah, kedua matanya menajam, gigignya berbenturan membuat bibirnya terangkat .

 

“Just do, what i want”

 

“Sorry VVIP. We can do that, but, if we—“ seorang pria berkulit hitam, kepala bereambut sedikit mulai memberikan tanggapan. Wajah tersebut dapat kita lihat dimana saja, majalah TIMES sangat sering menjadikannya sebagai cover depan.

 

“I don’t like many reasons, i say do it, just do it!!” sengit sang VVIP .

 

“Yes VVIP. I’m so sorry”

 

Segerombol kambing akan menikmati makannya dengan kambing lainnya untuk menyelamatkan nyawa mereka jika bahaya. Jika satu kambing memilih pergi makan sendiri maka srigala ganas tak akan segan untuk menincarnya.

Rahasia haruslah menjadi sebuah fakta yang akan terpendam sampai mati. Jika salah satu rahasia tersebut terbuka maka harus ada kambing yang dikorbankan. Untuk membalaskan segala hal, apapun bisa dilakukan dengan uang. Membeli nyawa sekali pun.

 

*****

Bandara Soekarno Hatta, 12 Juni 2016

 

“Tuan, Jadwal sore ini rapat dengan sekjen BPC singapura, dan juga kita akan langsung ke malaysia menghadiri conferensi furdl

 

“Untuk malamnya, anda mendapat undagan ke pesta pernikahan anak sultan ta—“

 

Rio menghentikkan sekertarisnya, ia mengambil Handtask  (layar kecil berisikan segala agenda, seperti sebuah Ipad) dan membacanya sendiri. Kakinya semakin cepat ia langkahkann. Ia tak suka dengan hal yang membuang-buang waktunya.

 

Ia masuk kedalam jet pribadi keluarga Haling, siang ini ia harus sudah sampai di singapura. Banyak rapat menantinya.

 

“Apa kursi ini belum diganti seperti yang saya suruh kemarin?” tanyanya dingin, berdiri dari tempat duduknya semula. Semua cap-pilot dan pramugari terdiam menunduk.

 

Rio tersenyum sinis,

 

“Layani saya dengan baik dan selamat sampai singapura”

 

“Setelah itu, silahkan kirim surat pengunduran diri kalian semua”

 

Rio melepaskan jas hitamnya, memberikan ke sekertaris yang sedari tadi sedia di samping. Dengan wajah enggan Rio kembali duduk di kursi yang sudah membuat mood.nya buruk.

 

Tak bisa ada perlawanan, bahkan untuk menghela nafas kecewa saja tidak diperbolehkan. Cap-pilot dan pramugari hanya bisa pasrah dan kembali ke tugas mereka. Protes? Sama saja mereka mengirimkan nyawa mereka hidup-hidup. Membicarakan di belakang ? Silahkan saja di coba, atau kepala dan tubuh kalian berpisah begitu saja dalam hitungan kurang dari satu jam.

Kejam? Bukan mengajarkan tentang kejam, tapi Rio selalu memegang prinsip printahnya untuk dipatuhi, janjinya untuk ditepati, waktunya untuk ketidak sia-siaan.

****

3 hari yang mematikan. Ia bekerja seperti anjing gila, untuk tidur terkadang tak bisa. Pekerjannya menuntut dirinya untuk selalu on .

Rio menutup laptopnya, menyenderkan kepala pada kursi dengan kedua tangan mulai memjiat pelipis yang terasa menegang. Menghembuskan nafas berkali-kali, berhadap udara segar dapat menyemangatinya.

 

DRRTTDRTTT

 

Sebuah panggilan masuk dari ponselnya, Rio melihat ke layar ponsel. Nama “Mom” tertera disana. Rio tak perlu fikir panjang dan segera menerima panggilan tersebut.

 

“Iya Mom?” sahut Rio dengan suara lemah.

 

“Kamu besok tidak ada rapat bukan? Pulanglah. Istirahat dirumah untuk 1 hari”

 

Suara wanita paruh baya terdengar memohon, Rio mengembangkan senyum simpul.

 

“Jangan merengek. Aku akan pulang” jawab Rio menenangkan sang Mama.

 

Rio menutup sambungannya, berdiri dari kursinya dan mengambil jasnya. Ia merapikan beberapa tumpukan map, memasukan laptop kedalam tas kerjanya, kemudian melangkagkan kakinya ke pintu. Ia memilih untuk pulang saja malam ini, dengan langkah tanpa energi keluar dari ruang kerjannya.

 

Di depan pintu, sang sekertarisn sudah siap berdiri menanti, bersama dengan beberapa bodygard yang sudah melayaninya selama 5 tahun. Rio masih tetap mencoba berjalan dengan penuh wibawa, ia tak pernah menunjukkan kelemahannya kepada siapapun. Menunjukkan kelemahan dirinnya sama halnya dirinnya memberikan satu peluang kepada lawannya.

Sekertaris dan bodygard mengikuti Rio dari belakang.

 

“Bagaimana rumah di Real Estate Jaugar ? ”

 

“Apa kamu mendapatkannya?” ?” tanya Rio kepada sekertarisnya, suarannya terdengar begitu tenang dan penuh ketegasan.

 

“Sudah tuan, untung saja ketua pemilik menyetujui, tuan harus berterima kasih kepada Tuan Ando”

 

“Dia yang sudah mem—“

 

“Ando? Apa dia sudah pulang ke Indonesia ?” Rio mengerutkan kening, terkejut dengan nama yang sudah lama tidak ia dengar.

 

“Tuan Ando sudah menyelesaikan sekolah dan masa trainningnya, tapi dia belum ingin kembali ke Indonesia, kemarin saya secara pribadi menemuinya di academy kepolisian Seattle

 

Rio mengangguk-anggukan mengerti, penjelasan sang sekertaris tentu saja sudah terlalu lengkap dan ia tidak perlu untuk menanyakan lebih panjang. Ia kembali fokus pada langkahnya, menuju ke parkiran perusahaan.

*****

Rio menggaruk-garuk belakang lehernya yang terasa tidak gatal. Pagi-pagi dikejutkan dengan kedatangan gadis penyihir  kecil yang sangat ia cintai!!!. Ia tidak tau bahwa sang adik tiri datang bukan tapi pindah ke Indonesia.

Almarhum Papanya, pernah menyalamatkan seorang bayi perempuan yatim piatu dipengasingan Ethiopia, bayi perempuan malang yang dibuang oleh kedua orang tuannya dan mempunyai penyakit kelainan jantung, nyawannya hampir tidak terselamatkan. Namun, Papa Rio segera membawa bayi perempuan itu ke rumah sakit Eutqsre, sebuah rumah sakit besar yang ada di German. Bayi tak berdosa terselamatkan dan diangkat anak oleh Papa Rio. Mengingat istrinya tidak bisa hamil lagi karena penyakit tumor ovarium yang mengharuskan dua rahimnya diangkat. Kini bayi perempuan itu tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik dan sangat dicintai oleh sang kakak tiri dan mama tiri layaknya keluarga kandung.

 

“Just say I’m Pretty!!” teriaknya kesal sekali lagi ke arah sang kakak.

 

Rio mendengus kesal. Setan kecil ini datang menganggu tidurnya yang hanya 2 jam. Rio tak mau mengubris, ia menyinisi sang adik dan berjalan melewatinya begitu saja.

 

 

“MOM!!!!!” teriaknya manja mengaduh ke sang Mama. Membuat Rio berhenti melangkah. Apa dia harus menuruti adik gila nya ini? Oh god!!

 

“Rio!!! Turuti saja kemauan adik kamu!!!”

 

“Daripada dia terus menganggumu!!” teriak Mama mereka berdua. Rio menghembuskan nafas berat, merasa frustasi tentunya.

 

“Kenapa gue harus punya adik !!“gerutu Rio pelan, mengelus puncak kepalannya.

 

Gadis itu berjalan mendekati Rio. Tatapannya penuh kemenangan. Wajahnya seolah mengejek Rio bahwa ia menang telak, Rio menatap adiknya dingin dan picik. Jujur, ia bukan benci dengan gadis di depannya ini. Ia sangat mencintainya melebihi ia mencintai dirinnya sendiri. Hanya saja terkadang ia tidak bisa menunjukkan bagaimana mengungkapkan rasa cintanya, dan terkadang kegilaan adiknya diluar batas kemampuannya.

 

“ Illy, Gue sibuk! Jadi jangan ganggu gue! dan Jangan berani sentuh kaki lo di perusahaan!!” ancam Rio kepada adiknya. Sang adik memajukan bibirnya.

 

“Gue juga sibuk! Jadi jangan pernah lo ajak gue bicara !!” lawan adiknya tak terima.

 

“Pura-pura aja bisu di depan gue!!” Rio mantap mengacungkan jempolnya, sebagai salam akhir ia memberikan picikan senyuman.

 

Rio tak mempedulikan sang adik yang sudah menatapnya ganas dan akan menerkamnya di hadapannya saat ini. Ia tidak peduli, toh sang adik bukan anak kecil lagi.

 

“Mom, aku akan melihat rumah yang di R.E Jaugar, kalau sudah siap, kita bisa pindah besok” jelas Rio ke sang mama.

 

“Kita mau pindah? Kenapa kita tidak tinggal disini?”

 

“Rumah ini sangat besar, dan aku suka disini”

 

“Kenapa kita harus pindah?” Illy mulai nerocos bertanya, Rio menatap adiknya datar.

 

“Jawab woy!!” teriak Illy tak sopan kepada Rio.

 

“Ciss—“ desis Rio kesal. Ia mendekati adiknya dan mulai berbisik.

 

“Gue lagi mulai belajar acting bisu di depan lo!!!”

 

Rio segera melangkahkan kakinya meninggalkan sang adik tercinta, sedangkan Illy menganga kesal untuk kesekian kalinya. Menahan emosinya untuk tidak menangis. Kakaknya selalu saja kejam dan tidak mau mengalah kepadannya.

 

“MOOMMMM!!!” tangis Illy meledak. Dan mendengar tangisan Illy adalah 1 score kemenangan dan kepuasan bagi Rio.

 

“RIOOO!!!!!!” kini giliran teriakan sang mama meledak, berjalan merengkuh putri satu-satunya dan menenangkan.

 

*****

Real Estate Jaugar? Tidakkah terlalu familiar? Siapa yang tidak mengenal sebuah perumahan lebih dari elite ini. Sebuah perumahan yang hanya berisikan 20 rumah yang di desain oleh 3 arsitektur dunia. Penghuni 20 perumahan ini bukanlah orang biasa, dan hanya orang-orang terpilih yang bisa tinggal disini. Banyak kalangan miliyader yang mengincar Real Estate mewah ini. Namun, yang berkuasalah yang bisa mendapatkanya. Sekaya apapun, kalau belum bisa mendapatkan Real Estate ini, maka belum bisa disebut sebagai orang kaya!!!

 

Rio mengendari mobil sport merah pribadinya sendiri tanpa ditemani oleh sekertaris dan bodygard nya. Ia hanya ingin menikmari 1 hari freenya dengan bebas. Ia melajukan mobilnya menuju R.E jaugar.

            Rio memperlihatkan kartu VVIP berwarna gold-grey dengan lambang Jaugar dipojok kanan, kartu yang bisa diakses ke dalam perumahan mewah ini. Tanpa kartu tersebut kalian tidak bisa masuk. Setelah memperlihatkan kartunya kepada 5 penjaga yang ada disana, pintu gerbang yang menjulang tinggi bah istana mulai terbuka lebar.

 

Pemandangan luar biasa, mulai memanjakan kedua mata Rio. Ia melajukan mobilnya masuk kedalam. Udara segar menyambutnya, pepohonan tinggi menjulang tinggi, tertata di samping-samping jalan, Rio dapat melihat sebuah danau buatan besar, tempat golf luas, Gym bahkan bukit buatan disana. Mungkin ia tidak akan menyesali mengeluarkan uang hampir 5 trilliun untuk bisa memiliki salah satu rumah di real estate Jaugar.

*****

Rio memasukkan mobilnya ke halaman rumah barunya, rumah yang memiliki gaya classic-eroupe dengan struktur menarik. Melihat halaman rumahnya yang tidak terlalu besar, warna dan desain yang simple membuatnya sangat tenang dan nyaman.

Jika mau dibandingkan rumahnya sekarang, hanya 2/4 besarnya dari rumahnya yang lama, ia sekarang faham kenapa harga rumah disini sangat mahal dan untuk mendapatkannya juga sangat susah sekali. Alasan pertama adalah pengakuan status!, ketika seseorang bisa mendapatkan rumah disini, maka derajat statusnya dianggap luar biasa, dan alasan kedua kenyamanan dan fasilitas yang luar biasa dihidangkan untuk pemiliknya dan tidak ada kekecewaan.

****

Rio sangat puas dengan semua tataan yang ada di rumah barunya, bahkan nanti malam bisa saja ia sudah pindah disini. Toh, semua barang-barangnya dan barang-barang mamanya sudah siap dan tertata rapi di dalam.

 

“Sepertinya gue harus melihat-lihat pemandangan sekitarnya”

 

Rio masuk kedalam mobil, berencana untuk berputar-putar di perumahan yang luas nan mewah ini. Memanjakan kedua matannya yang rindu akan keindahan dan ketenangan.

*****

Rio mengerem mobilnya mendadak, seorang gadis berseragam putih-tosca menghadangnya, merentangkan kedua tangan seolah ingin bunuh diri. Rio menatap gadis itu tajam dan penuh kesal, kepalannya hampir saja membentur stir depan.

Gadis itu berjalan ke samping, membuka pintu mobil Rio. Dengan tak berdosanya gadis itu masuk. Rio menatap gadis yang sudah di dalam mobilnya dengan wajah binggung sekaligus tak percaya. Emosinya mulai dalam level pertama.

 

“Jalan!!” suruh gadis itu dingin, matannya sama sekali tidak melihat ke arah Rio.

 

“Keluar!!!” tajam Rio. Tak mau membuang banyak tenagannya.

 

“Gue bilang jalan!!!” gadis ini tak kalah lebih tajam. Rio mendesis sinis.

 

“Lo siapa? Gue bilang keluar!”

 

“Lo juga siapa? Gue bilang jalan!!!”

 

Gadis itu menolehkan kepalannya, menatap Rio dengan wajah sangat kesal. Mendapat tatapan tak enak seperti itu, Emosi Rio langsung meloncat ke level 3. Rio mencengkram stir mobilnya.

 

“Adek, mumpung gue masih sabar!!!. Lo keluar sekarang!”

 

“Adek?” gadis itu menyunggingkan bibir sebelahnya, dengan nada tak enak.

 

“Sejak kapan emak lo ngelahirin gue, bang!”

 

“Lo jalanin mobil lo sekarang, dan lo bis—“

 

TOKKTOKKK

 

Gadis itu menghentikkan ucapannya, sebuah ketukan pada kaca jendela disampingnya membuat ia memejamkan kedua matannya.

 

“Sialan!!”umpatnya sangat kesal.

 

“OKE GUE NYERAHIN DIRI!!!” teriaknya keras.

 

Gadis itu menatap Rio sebentar.

 

“Gara-gara lo, brengsek!!”

 

Rio membelakak tak percaya, apa yang baru saja gadis itu katakan? Brengsek?. Emosi Rio memecah, wajahnya memerah. Kedua tangannya terkepalkan. Ia melihat gadis itu sudah keluar dari mobilnya tanpa menutup pintu.

 

Ia melihat gadis itu sedang marah-marah karena kedua tangannya akan disentuh oleh beberapa pria memakai jas hitam. Rio tak akan heran dengan pemandangan itu, fikirnya mungkin gadis itu sedang kabur dari bodygardnya atau semacamlah, karena ia juga pernah berada di pengalaman yang sama. Ah—,

 

“Cihh —“

 

Rio menutup pintu mobil samping, setelah itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, moodnya untuk memutari perumahan ini sudah hilang gara-gara gadis aneh tadi.

*****

Mungkin hidup Rio akan mulai tidak tenang, si penyihir pengacau kecil, selalu saja mengganggu hidupnya. Kali ini, Rio terpaksa harus pergi menemani adiknya membeli seragam sekolah. Besok, hari pertama Illy masuk, lebih tepatnya ia pindah sekolah.

 

“sudah belum?” kesal Rio, ia sedari tadi duduk di sofa dan menyaksikan sang adek memilih baju seragam tak selesai-selesai.

 

“BELOM!! Kita baru aja sampai 5 menit yang lalu!!” teriak illy kepada Rio.

 

Kalau bukan karena mamanya yang memaksa, ia tak akan mungkin mengiyakan permintaan si gila  satu ini. Rio tak henti-hentinya menghembuskan nafas berat. Melihat gadis-wanita- yang sedari tadi menatpnya dari kejauhan membuatnya semakin kesal. Apa ia terlalu tampan? Atau memang mereka semua tidak pernah melihat orang tampan?

 

“APA LO FOTO-FOTO KAKAK GUE?!!

 

“HAPUS NGGAK!!! “

 

“PERGI SANA SEMUA!!! “

 

Rio menutupi kepalannya. Menahan malu. Inilah yang ia maksud – bahwa kegilaan sang adik terkadang diluar batas – . Rio menggaruk kepalannya yang tak terasa gatal. Ia melirik ke kerumunan orang-orang yang melihatnya tadi sekarang sudah bubar.

 

“Bilang makasih dong, gue sudah nyelametin lo!! “

 

Rio melirik sang adik, yang tersenyum bodoh dan tak merasa bersalah.

 

“10 menit, gue tinggal!!! “

 

“Aisshh!!!!! “ illy mendecak kesal, ucapan dan tatapan sang kakak barusan benar-benar tidak main-main. Ia dengan cepat memilih seragamnya. Sang kakak memang pria berdarah dingin!!! Menakutkan~

 

“Naikkin resleting rok gue” Illy mendekati sang kakak lagi dan membelakangi, menunjukkan bagian belakang rok-nya.

 

Rio melongo beberpaa saat, menatap sang adik dengan wajah tak percaya.  Apa lagi yang dilakukan adiknya ini?

 

“CEPETAN!!! KATANYA CUMA 10 MENIT!!! “ Rio menghelakan nafas beratnya.

 

“Gue juga cowok!!”

 

“Gue nggak ngelihat lo sebagai cowok, cepetan tutup resletingnya!”

 

“Gue bisa lihat celana daleman lo!” sinis Rio, tangannya mulai menutup resleting rok adiknya.

 

“Bodo!! Lo juga nggak bakal nafsu sama gue!” enteng Illy dan meninggalkan sang kakak untuk kembali memilih atasan seragamnya.

 

Rio menghempaskan badannya ke belakang sofa, tak habis fikir dengan kelakuan adiknya. Mungkin, ayahnya dulu menemukannya di tengah hutan!.

*****

10 menit berakhir menjadi 3 jam berbelanja, illy merengek dan mengancam menangis di escalator jika Rio meninggalkannya, dan mau tak mau Rio terpaksa menuruti. Rio merengangkan otot-otot kaki dan tangannya. Jika disuruh memilih, mending mengerjakan 100 tumpukan kertas dan merevisi semua proposal perusahaan dari pada ia disuruh untuk berbelanja dengan Illy lagi.

 

“Oh My God, kak ada yang kelupaan” ujar iri dengan wajah tragis yang tiba-tiba. Rio menatap adiknya memelas.

 

“Lo mau bunuh gue?”

 

“Gue bercanda hehehe” cengir Illy tak berdosa. Rio menajamkan matannya.

 

“Motif lo pindah ke Indonesia itu apa? Ha?!!!” tanya Rio to the point, ia sudah kehilangan kesabaran. Ia tak peduli emosinya terluapkan saat ini. meskipun ia sangat sayang dan cinta mati ke sang adik, tapi ia tidak pernah betah jika berdekatan dengan gadis biadap satu ini.

 

“Gue habis putus sam brian, dan gue galau. Akhirnya gue milih pindah ke Indonesia, biar gue bisa cari lembaran baru” jawabnya penuh dramatis.

 

“terus?”

 

“Terus? Gue mau cari jodoh orang indonesia.”

 

“Denger-denger orang indonesia auranya hot and sexy!!

 

Rio mengigit bibir dalam, menatap sang adik penuh cinta dan menyungginkan smrik senyum yang menurutnya paling manis yang pernah ia tunjukkan.

 

“LO NGGAK WARAS!!!

 

*****

Pesawat Wayang G760-1  akan segera berangkat 30 menit lagi, Rio keluar dari toilet bandara. Melihat ke arah jam tangannya, penerbangannya di undur 10 menit. Hari ini, ia harus terbang ke Manilla, ada rapat dengan beberapa pemegang saham. Perusahaannya yang ada di sana, akan merencanakan sebuah CSR ( Corporate Social Responsibility ) untuk warga kota sekitar.

Rapat kali ini tentu begitu penting, perdana menteri Manilla akan datang secara langsung. Rio berjalan ke ruang tunggu, kali ini ia tidak menggunakan pesawat pribadinya. Ia ingin menaiki pesawat comercil normal pada umumnya. Rio kembali melihat ke arah jam tangannya.

 

“Miss. Agni, jadwal saya setelah di Manilla apa?” tanya Rio kepada sang sekertaris yang memiliki bentuk tubuh  waow dan wajah yang terbilang cantik. Namun, Rio sama sekali tidak pernah tertarik dengan sekertarisnya itu.

 

“Tuan harus menandatangani kontrak dengan PT. Antara dan PT. Diyatama. “

 

“Kenapa harus saya? Apakah tidak bisa Manajer Girhan dan Manajer Dera yang melakukannya?” tanyannya dengan nada khas wibawannya. Rio membuka ponselnya.

 

“Mereka berdua sekarang sedang ditugaskan untuk menghadiri konferensi press di Grace, tuan”

 

Mereka sedang bekerja atau bulan madu” gerutu Rio pelan, sedikit iri tentu dengan dua karyawannya itu.

 

“Baiklah, sisanya tolong kamu urus, setelah menandatangani kontrak saya ingin semua jadwal saya di kosongkan selama 1 mingu”

 

“Kenapa Tuan?” tanya Agni kaget, tidak biasannya atasannya ini meminta libur begitu lama.

 

“Saya juga manusia, perlu istirahat”

 

“Tidak biasannya tuan sep—“

 

“Apakah aku menyuruhmu membuat komentar?” Agni langsung terdiam begitu saja. Kata-kata Rio sangat tajam dan dingin.

 

Mendengar pengumuman pesawatnya akan segera berangkat, Rio berdiri dari kursinya dan mulai berjalan bersama dengan Agni serta bodygard-bodygardnya yang selalu siap siaga melindunginya.

 

*****

Rio duduk manis di kabin VVIP, menikmati pemandangan senja di luar jendela. Pesawat mulai naik, posisi ketinggian 4000 m/diatas permukaan air laut. Rio memejamkan mata dan mengambil nafas panjang. Meskipun ia sudah menaiki pesawat beribu kali, namun ketika kondisi pesawat mulai naik ia selalu cemas.

 

“Tuan, ada telfon dari Nyonya besar” Rio meraih ponsel sekertarisnya, ia memang sengaja mematikan ponselnya sedari tadi. Jadi, tidak heran jika mamanya menelfon Agni.

 

“Apa Ma? Rio ada di dalam pesawat. Bisa bahaya jika menelfon” Untuk berbicara dengan mamanya Rio punya nada spesial sendiri alias ia tidak pernah berani berkata dingin dan tajam kepada mamanya.

 

“Kak, gue nitip gantungan kunci panda yang lagi hits di Manilla. Belikan 2 ya. !! Thank you!”

 

Sambungan tertutup begitu saja, tatapan Rio kosong, ponsel yang ada ditangannya terjatuh begitu saja. Ia mulai tersenyum sendiri.

 

“Tuan? Ada apa? Apa Nyonya besar sakit!!” tanya Agni cemas sambil memungut ponselnyayang dijatuhkan Rio.

 

“Bukan mama gue yang sakit—,” Rio mulai tertawa seperti orang bodoh. “Tapi adik gue!!” lirih Rio pelan, sehingga cukup dirinnya yang dapat mendengar ucapannya sendiri. Rio memegang kepalannya yang mulai terasa pusing.

 

“ Menurut kamu membunuh keluarga sendiri hukumannya penjara berapa tahun ya Ag?” Rio masih tertawa seperti orang bodoh, tatapannya tak maksimal

 

“Ha? Maksud tuan?”

 

Rio melemparkan ponselnya begitu saja. Melihat tatapan Rio saat ini membuat Agni mengundurkan langkahnya. Rio benar-benar menakutkan.

****

            Sebagai pewaris utama Haling Corp, Rio harus menanggung segalannya. Tidak mudah menjadi pewaris mudah, yang awalnya ia di remehkan oleh banyak pemegang saham dan pesaingnya karena usianya yang bisa terbilang cukup young. Namun, Rio tidak pernah termakan dengan lecehan dan remehan banyak orang, ia terus dan terus bekerja keras dan membuktikan. Rio percaya bahwa kerja keras dan tekat kuat benar-benar akan mencapai hasil yang luar biasa. Usaha tidak akan pernah menghianati hasil! Kapanpun itu!

            Di usia 25 tahunya Rio juga mengorbankan kuliahnya, dirinnya harus mengambil cuti selama 2 tahun, dan belum bisa menyelesaikan sarjana kedokterannya sampai saat ini. Otaknya yang genius ini memang bisa membuat semua orang terpana.

 

“Bagaimana dengan saluran distribusi untuk melawan pendatang baru perusahaan eropa?”

 

Rio memulai rapat mendadak dengan karyawannya via online. Ia mendapatkan kabar bahwa semua produk furnitur di salah satu perusahaannya di eropa mengalami imitation sebelum produk tersebut di keluarkan.

 

“Cepat cari penghianat yang membocorkan semua ide dan desain produk kita”

 

“Saya tidak mau mengalami kerugian sedikit pun!!!”

 

“launching Gill-furniture dua minggu lagi, lakukan riset ulang marketing-mix  produk, analisis segala perilaku konsumen eropa, buat suatu inovasi benar-benar baru.”

 

“Kita ubah segmen awal kita yang hanya untuk kalangan atas menjadi semua kalangan”

 

“Pertimbangkan harga dengan menyesuaikan semua kalangan terutama kalangan bawah”

 

“1 minggu saya akan langsung berangkat ke eropa”

 

Rio mengakhiri rapat dadakan tersebut, wajahnya memerah menunjukkan bahwa ia sedang menyimpan amarah besar. Benar saja, Rio langsung membuang semua berkas yang ada di hadapannya, berteriak keras meluapkan segala emosi yang telah ia coba tahan sedari tadi.

 

Miss. Agni sekertaris Rio yang berdiri tidak jauh dari tuannya, hanya bisa diam tertunduk. Ia tidak bisa melakukan apapun, Rio sangat menakutkan jika sedang marah. Oleh karena itu ia hanya memilih diam dan berperan seolah ia adalah patung diruangan ini.

 

“Ag—“

 

“Iya tuan?” jawab Agni secepat mungkin, langkahnya menghampiri Rio.

 

“Sewa 2 lembaga riset terhandal dan bawa ke eropa malam ini juga”

 

“Baiklah tuan”

 

Rio berdiri, melangkahkan kaki meninggalkan ruangannya dan Agni. Hari ini terasa begitu semakin berat. Baru saja 1 jam lalu ia sampai di Indonesia, ia harus mendapatkan kabar buruk seperti ini.

****

Rio menaikki lift kantor, untuk beranjak ke parkiran. Ia akan pulang lebih awal hari ini. Ia ingin menenangkan fikiranya. Mendinginkan semua masalahnya.

*****

“Lo udah pulang? Tumben?? “

 

“Kena setan apa lo pulang jam segini” cerocos Illy yang kaget melihat kakaknya sudah pulang kerumah.

 

“Lo ngapain?” tanya Rio basa-basi aja, ia lagi malas menjawab pertanyaan Illy yang barusan. Pengalihan!!

 

“Gue?” illy menyadari posisinya saat ini seperti gadis cabul yang sedang mengintip sesuatu dari jendela depan rumahnya.

 

“Di depan rumah baru kita, ada polisi cakep banget!! “

 

“Sumpah!!! Gantengnya 10 kali lipat dari pada lo” illy menjawab dengan antusias sambil menggeleng-gelengkan kepalannya seolah takjub dengan wajah pria yang berada di ingatannya tersebut. Rio memincingkan senyum sinisnya.

 

“So?”

 

“Dia punya dua mata, dua telinga, satu hidung, satu mulut, sama gigi lengkap sama kayak lo, tapi kenapa bisa cakepan dia daripada lo?”

 

 

“Kan aneh!! “ jawab illy penuh semangat. Rio menggaruk-garuk kepala belakangnya.

 

Ia mengeluarkan dompet warna cokelatnya yang terbuat dari kulit asli, mendekati sang adik.

 

“Mau apa lo dekat-dekat gue??” illy mulai was-was ketakutan. Ia sedikit memundurkan langkahnya.

 

Rio mengeluarkan beberapa lembar uang, dan ia todongkan ke adiknya.

 

“Buat ke psikiater besok!! “

 

Illy dengan wajah begonya menerima saja uang yang diberikan sang kakak, dan melihat kakaknya meninggalkannya.

 

“Kena setan apa dia ngasih gue uang?”:

 

“Lumayan!! Buat jalan-jalan!!”

 

“Rejeki gadeeesss sholehah!!”

 

******

Bersambung  ~~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s