ENLOVQER DEVIL – 4

ENLOVQER DEVIL – 4

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

Rio mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia sedikit menyesal karena melarang semua pengawalnya untuk mengikutinya hari ini. Rio mencoba untuk mengejar mobil jeep hitam yang sudah lumayan jauh jaraknya dengan mobilnya, semakin menginjak gasnya lebih dalam. Fokus dengan pandangan di depannya.

Ia melihat mobil jeep hitam tersebut masuk kedalam gudang. Rio memberhentikan mobilnya, ia tak mau gegabah. Ia hanya sendiri disini dan feeling nya berkata bahwa didalam sana terdapat banyak preman-preman berbadan besar.

Rio membuka sebuah kotak platinum persegi yang ada di belakang kursinya. Didalam sana terdapat banyak pistol dengan berbagai type mulai dari FN 57, C4, Zip, Glock-17, dan masih banyak lainnya. Rio mengambil FN 57 dan Glock-17 yang ia sembunyikan di pingang sebalah kanan dan di dalam kaos kaki-nya.

Setelah itu Rio bersiap untuk menyalakan mobilnya kembali, ia memfikirkan matang-matang strategi yang ada di otaknya. Ia hanya memiliki satu plan A tdiak ada plan lainnya. Jika Plan A ini tidak berhasil, maka konsekuensi akhir diantara mereka berdua salah satu tidak akan selamat.

Rio mulai menancapkan kakinya pada gas sedalam-dalamnya. Ia menabrak pintu gudang tersebut dengan hantaman yang keras. Ia tidak peduli lagi dengan keadaan mobilnya. Baginya nyawa gadis itu lebih penting, karena sama saja ia mempertaruhkan pertemanannya dengan Ando.

*****

Rio keluar dari mobil dan benar saja, pandangan pertama yang menyambut dirinnya adalah preman-preman berbadan besar dengan senyata di tangan mereka. Rio mengarahkan pandangannya ke Ify yang diikat disebuah tiang dengan mulut dibungkam. Ify menatap Rio dengan tatapan datar. Rio mencoba meyakinkan sekali lagi, ia sedikit memfokuskan tatapannya.

 

“Anak macam apa gadis ini?”

 

Gumam Rio dalam hati, ia tidak menemukan ekspresi takut dari kedua mata bahkan ekspresi gadis itu. Sama sekali.

 

“Apa mau kalian?” tanya Rio tak mau basa-basi. Ia mencoba mendekat ke arah seorang laki-laki yang berdiri di samping Ify. Sudah dapat Rio pastikan bahwa lelaki tersebut pasti ketua dari geng-murahan ini.

 

“Waahh—, Tuan muda ternyata sangat tidak sabar!!” tawa pria tersebut dengan menatap Rio tajam.

 

“tentu saja saya ingin uang!!” mendengar jawaban pria tersebut, Rio menyunggingkan senyum sinisnya.

 

“Uang? “

 

“ Kalian kira saya bank kalian!!!”

 

“Lepaskan gadis itu, sebelum kalian menyesalinya!!” tajam Rio dengan wajah sengit. Ia paling tidak suka dengan membuang-buang waktu seperti ini.

 

“Cihh— kamu sombong sekali tuan muda!!!“ picik ketua geng tersebut dengan amarah yang memuncak.

 

Ketua geng tersebut memberi aba-aba kepada bawahannya yang berdiri di sisi kanan dan kiri Rio untuk menyerang. Insting Rio tentu saja tidak kalah cepat. Ia segera menendang 5 pria di sebelah kanan dan 3 pri di sebelah kiri dengan cepat.

 

Rio segera berlari mengarah ke Ify dengan kecepatan yang benar-benar bah angin topan. Ketua geng yang berada disamping Ify langsung terkejut melihat Rio yang tiba-tiba sudah berada didepannya. Belum menyelesaikan kedipan matannya ketua geng tersebut medapat hantaman diwajahnya dari tangan Rio.

 

Rio segera mengunci kepala ketua geng, mengarahkan pistol yang ia ambil dari pinggang kirinnya pada pelipis ketua geng itu dan membuat semua anak buahnya tidak kebinggungan harus berbuat apa.

 

“Lo nggak apa-apa?” tanya Rio ke arah Ify. Namun, Ify  diam saja tak menatap Rio sama sekali. Ia hanya menatap ke depan.

 

“Ambil pisau di saku belakang gue” suruh Rio, mendengar perintah Rio kali ini Ify menurut. Ia mencoba bergerak memutar tubuhnya dan mengarahkan tangannya yang terikat ke belakang pada celana Rio, merabah sakunya dan mencoba mencari pisau disana.

 

Ify menemukannya, dengan cepat ia mengambil pisau tersebut dan berusaha mengiris tali yang mengikat tangannya. Ify berusaha dengan kuat, ia menahan rasa sakit akibat beberapa goresan pisau itu yang tak sengaja mengenai tangannya. Ify menahan ringisannya.

 

“Suruh anak buah lo jatuhkan senjatannya” tajam Rio, semakin mengeratkan kunciannya pada kepala ketua geng tersebut dan membuat pria itu meringis kesakitan.

 

Diselah sengitnya Rio, ketua geng dan pengawalnya bertemput di sisi lain akhirnya Ify berhasil melepaskan tali-tali yang mengikat tangan, kaki dan juga sapu tangan di mulutnya. Ify perlahan berjalan ke belakang Rio, mencoba bersembunyi.

 

“Lo punya pistol satu lagi?” tanya Ify dingin. Rio sedikit terkejut, bukan karena pertanyaan Ify melainkan sejak kapan gadis itu sudah berada di belakangnya.

 

“Lo bisa cara gunainnya?” tanya Rio sangat tak yakin. Ify memincingkan bibirnya sinis.

 

“Kita lihat saja, lo akan takjub!” angkuh Ify, ia tak perlu jawaban Rio. Ia dari tadi men-scann seluruh badan Rio dan dapat menemukan pistol di dalam kaos kaki Rio. Insting Ify lebih kuat dari siapapun. Baginya hal seperti lebih dari biasa. Ia sudah pernah berada dalam keadaan yang lebih mencekamkan dari ini. Yah—, kisah lama yang tak perlu diungkit lagi.

 

“Eh—“ kaget Rio karena Ify yang tiba-tiba menarik pistol di kakinya. Rio tertegun tentunya bagaimana gadis ini bisa mengetahui keberadaan pistolnya padahal ia belum menjawab.

 

Ify mengecek berapa banyak peluru didalamnya, setelah itu menarik penutup atas kebelakang untuk mulai mengaktifkan pelurunya. Ify berjalan ke samping Rio tanpa ada rasa takut. Ia men­-scann pandangannya menghitung berapa banyak preman-preman yang mengepungnya saat ini.

 

“semuanya ada 20 preman include ketuannya “

 

“Lo ingin semuannya dibunuh? Atau bagaimana?” tanya Ify kepada Rio nada suarannya tetap dingin dan datar seperti tadi.

 

Rio memincingkan sudut kiri bibirnya, ia mencoba tidak terkejut dengan perkataan gadis ini. Apakah ia benar-benar akan dibuat takjub dengan gadis ini? Ataukah gadis ini hanya pembual semata?. Dalam benak Rio hampir 95% gadis ini hanyalah seorang pembual!!.

 

“Lo bisa bunuh mereka” tantang Rio tanpa menunggu detik pertama selesai Ify langsung mengarahkan pistolnya.

 

DOORRR DOOORR DOORRR DORRR DORRR DOOOOORRRR

 

Rio tidak tau harus berkspresi bagaimana, ia binggung untuk menyimpulkan kejadian barusan. Ify benar-benar menembak seluruh preman tersebut dengan kecepatan yang diatas rata-rata sampai preman yang lainnya tak memiliki kesempatan untuk menembak balik keraah Ify.

 

“Waahh—“ 95% pembual yang ada di benak Rio kini hilang tergantikan dengan 95% takjub dengan keahlian gadis ini.

 

DOOORRRR

 

            Tembakkan terakhir yang dikeluarkan oleh Ify, semua preman tersebut ambruk tak berdaya. Ify membalikkan badannya menghadap ke arah ketua geng yang masih dalam bekapan Rio dengan wajah yang takut dan nyali menciut. Pria itu menatap Ify seperti ingin menangis. Tatapan Ify benar-benar mematikan.

 

“Siapa lo berani nyulik gue?”

 

PLAAAAKKKK

 

            Tanpa ampun, Ify menampar pria tersebut dengan tenaga keras. Emosi ify sudah berada di puncak.

 

“Kalian semua bahkan berani nyentuh ujung rambut gue!!”

 

PLAAAAAKKKKK

 

            Satu tamparan mendarat lagi pada pipi pria itu, darah segar keluar dari bibirnya. Tamparan Ify mungkin memiliki gaya 200 Newton. Benar-benar cepat dan bertenaga. Ify mengarahkan pistolnya kearah pelipis pria paruh baya itu.

 

“Ampunnn—, jangan bunuh saya!! Jangan bunuh saya!!!”

 

“Ampuunnn—“ pria itu meringis, mulai menangis memohon.

 

Ify tersenyum picik, benar-benar menakutkan. Rio yang melihatnya saja hanya bisa menelan ludahnya. Ia benar-benar tak menyangka gadis didepannya ini sangat mengerikan mungkin lebih menakutkan dari dirinnya.

 

“Ampun? Lo sama sekali nggak ada hak memohon sekarang!! “

 

“Pilihan lo hanya ada dua, Mati atau sekarat! “

 

“Ampunii sayaa!! Ampuni saya!! Saya janji jika kamu melepaskan saya, saya akan berbuat apapun untuk kamu!! “

 

“Saya akan mengikuti semua kemauan kamu, saya benar-benar akan mengikuti semua perintah kamu!!”

 

“Saya janjii!!!” pria itu benar-benar merengek memohon. Air matanya terus keluar tangisannya lama-lama semakin menjadi dan menyedihkan. Ify tersenyum picik sekali lagi.

 

Ia menyuruh Rio untuk menyingkirkan tangannya dari kepala pria itu, dan seperti terhipnotis oleh tatapan tajam Ify, Rio menurutinya. Pria itu kemudian berlutut dihadapan Ify menangkupkan kedua tangganya memohon sekali lagi.

 

“Jangan bunuh saya!! “

 

“jangan bunuh saya!! “

 

Ify menghembuskan nafas beratnya sekali.

 

“Dalam hitungan ke 5, kalau keberadaan lo bisa nggak nampak di mata gue lagi, lo selamat!”

 

“Satu—!!!”

 

Dengan cepat pria itu langsung berdiri dan berlari sekilat mungkin. Sebelum ia menjadi korban kematian Ify selanjutnya.

 

“Jadi—“

 

Ify menatap ke arah Rio yang masih diam dengan wajah sedikit  binggung.

 

“ Lo udah takjub, terkesan atau terpesona?”

 

Ify tersenyum sinis sebentar ke arah Rio kemudian membalikkan badannya kembali. Ia melangkahkan kakinya untuk berjalan ke arah mobil Rio. Ia benar-benar sudah sangat lelah. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang saja.

Rio mengeluarkan tawa seolah-olah ia sudah diremehkan. Ia menatap punggung Ify yang semakin lama menjauhinya.

 

“Woii!!!” teriak Rio kepada Ify, namun gadis itu tetap berjalan terus tak mempedulikannya.

 

Rio segera berlari untuk dapat menyusul Ify. Ia berlari sedikit cepat.

 

“lo bener-bener gadis angkuh!!”

 

Ujar Rio dan berhasil membuat Ify memberhentikkan langkahnya. Perlahan Ify membalikkan badannya dan menghadap kearah Rio.

 

“Lo lebih angkuh daripada gue” balas Ify tak terima, suarannya pun masih sama seperti tadi pelan, dingin, dan sedikit tajam. Rio mengeluarkan tawa sinisnya.

 

“Gue harap kita nggak akan pernah saling menyebutkan nama masing-masing” Ify  terdiam sebentar.

 

“Gue harap kita nggak akan bertemu lagi”balas Ify tajam.

 

Ia menyunggingkan senyum piciknya ke arah Rio dan akan membalikkan badannya. Namun, matannya menangkap salah seorang preman yang mencoba berdiri dengan pisau berada di tangan kananya dan siap dilemparkan ke arah Rio. Ekspresi Ify langsung berubah, kedua matannya setengah membulat.

 

“AWAAASS!!!!!”

 

            Ify dengan cepat menarik tubuh Rio dengan menggantikan posisi mereka berdua, sampai akhirnya pisau tersebut bukan menancap pada Rio melainkan pada bahu kiri Ify.

 

Ify merasakan panas dan rasa menusuk pada bahunya, namun ia mencoba mengalahkan rasa sakitnya, tubuhnya ia balikkan menghadap ke arah preman tersebut. Pistol yang masih berada ditangannya segera ia arahkan, dan—,

 

DOOOORRR

 

            Ify menembak pria tersebut tanpa ampun. Setelah melihat preman itu ambruk, kaki Ify hampir saja ikut ambruk, sekali lagi ia menahannya. Tangan kanan Ify segera mencabut pisau yang berada di bahu kirinya.

 

“Ahss—“ ringisnya tertahan. Darah segar mulai keluar dari bahu Ify.

 

“Bawa gue kerumah sakit!” lirih Ify lemah ke arah Rio dan sampai akhirnya gadis ini ambruk didepan Rio.

*****

Ando kembali kerumah setelah mengantarkan tetangganya yang tak sengaja ia tabrak. Ando mengerutkan keningnya, rumahnya terasa sangat sepi, ia juga tak melihat tanda-tanda datangnya Ify.

 

“Kemana gadis itu? Apa dia belum pulang?”

 

“Apa dia tidak pulang sama Rio?”

 

“Aisshh—, dasar gadis bandel!!”

 

Ando segera mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Rio.  Namun sambungannya tak terangkat. Ando mencoba sekali lagi, namun tak ada jawaban dari si-empu ponsel melainkan hanya jawaban dari mas-mas operator degan suara formal khas yang bisa ditiru siapa saja.

 

Ando mencari kontak Ify, dan mencoba menelfon adik perempuannya tersebut. Hasilnya sama saja. Ify pun tidak mengangkat panggilannya. Ando mendecak sedikit frustasi.

 

“kemana dia?”

 

Pintu rumahnya terbuka, ia memfokuskan kedua matannya kedepan kearah pintu. Ia melihat adik laki-lakinya masuk dengan wajah menduduk dan langkah hati-hati. Ando berdiri dari kursi, mendekati sang adik.

 

Iqbal terdiam ditempat, tak berani melawan atau apapun.

 

“Silahkan berikan laporan dan penjelasan” ujar Ando demokratis. Iqbal menghelakan nafas berat.

 

“Gue langsung sit-up  aja” desah iqbal tak mau memperpanjang. Ia menaruh tasnya dan langsung memposisikan terlentang  tubuhnya diatas lantai, Ando melihat saja apa yang dilakukan adiknya.

 

“kenapa kamu harus berbohong?”

 

“SATU!!!”

 

“DUAA!!!” teriak Iqbal mulai sit-up dan berhitung, ia tak ada niat untuk menjawab pertanyaan Ando.

 

“Kalau tanpa penjelasan dan laporan kamu harus lakukan 200 kali” ancam Ando menatap adiknya dingin. Iqbal memberhentikan aktivitasnya, membalas tatapan sang kakak dengan sedikit malas.

 

Iqbal berdiri, menatap kakanya mencoba tidak takut.

 

“Iqbal Guanna Freedy melaporkan, saya pulang sekolah menaiki bus. Laporan selesai”

 

“Itu bukan sebuah laporan”tolak Ando tak menerima, Iqbal menghela berat. Apa yang harus dilakukannya kali ini? Ini semua karena kakak perempuannya yang benar-benar B3!!

 

“Gue sit-up 200 kali!!”

 

Iqbal kembali terlentang, dan mulai untuk sit-up lagi. Alasannya tak ingin jujur dengan sang kakak adalah karena jika ia jujur maka kakaknya pasti akan melakukan hal yang diluar dugaannya. Ia tidak ikut kakaknya pulang bukan karena ia sedang mengejar kakak kelasnya. Ada alasan lain yang tak bisa ia jelaskan disini.

 

“EMPAT PULUH SATU” teriak Iqbal, keringat panas memenuhi pelipisnya, ia terus sit-up dengan speed  lumayan cepat. Ando sendiri menunggui adiknya, melihat dengan seksama.

 

*****

Ify mencoba menggerakkan bahunya, rasannya masih sakit setelah mendapat 7 jahitan di bahunya. Pintu kamar rawat terbuka, ia mendapati seorang pria masuk. Yah, siapa lagi jika bukan Rio. Pria itu membawa bungkus kresek kardus yang didalamnya berisikan seragam baru. Ify meminta Rio untuk membelikannya seragam baru yang sama dengan miliknya. Ia tidak mau jika kakaknya tahu bahwa dia baru saja menembak 20 preman dan hampir mati tertusuk.

 

“Lo keluar! Gue ganti baju!” dingin Ify, Rio tak menyahuti apa-apa dan hanya menurut saja.

 

*****

Rio menunggu diluar, tepatnya di depan pintu. Ia melihat dokter Andi yang berjalan menghampirinya. Dokter tersebut merupakan dokter pribadi keluargannya yang sudah lama menjadi dokter kepercayaannya.

 

“Siapa gadis itu?” tanya Dokter Andi yang sudah sangat akrab dengan Rio.

 

“Adik sahabat” jawab Rio singkat. Dokter Andi mengangguk-angguk, ia kenal jelas bagaimana sifat Rio. Jika pria ini hanya menjawab degan singkat maka bertanda bahwa pria ini tak ingin ditanyai lagi. Dokter Andi menepuk-nepuk bahu Rio.

 

“Dia nggak apa-apa, lukannya akan kering 1 minggu lagi. Jangan boleh bekerja yang berat-berat atau jahitannya bisa terbuka”

 

“I know” jawab Rio sambil memgangguk-angguk. Dokter Andi kemudian pamit meninggalkan Rio untuk melanjutkan pekerjannya.

 

Sepeninggal Dokter Andi, pintu kamar terbuka. Ify keluar dengan seragam baru yang dibawakan oleh Rio. Wajah Ify terlihat sedikit pucat. Meskipun gadis itu berusaha menyembunyikannya tapi terlihat kentara di mata Rio.

 

“Lo nggak usah cerita ke Ando”

 

“Gue males buat laporan ke dia” pinta Ify, kini suarannya berubah. Menjadi suara yang pelan, lemah dan masih dingin meskipun tak sedin tadi. Ada rasa lelah didalam suara tersebut.

 

Rio menganggukkan kepalannya sebagai jawaban.

 

“Gue pingin pulang”

 

Ify melangkahkan kakinya, ia meninggalkan Rio terlebih dahulu. Rio pun segera mengikuti Ify di belakang. Mereka berdua berjalan ke arah parkiran mobil. Keduannya sama-sama berjalan dengan diam dan fikiran masing-masing. Kejadian tadi diluar fikiran mereka. Masih sedikit tak menyangka bahwa mereka berdua akan mendapatkan kejadian naas barusan.

*****

 

Ify masuk kedalam rumah dengan sebuah sambutan tatapan dingin dari kakaknya. Ify sudah siap tentunya dengan beribu pertanyaan yang akan menyerbu dirinya. Ify memberhentikkan langkahnya sebelum Ando menyuruhnya berhenti.

 

“Saya punya juru bicara, silahkan anda berbicara dengan juru bicara saya”

 

“Terima kasih!!” ujar Ify dengan aksi terakhir mengembangkan roknya dengan kedua tangannya dan kedua kaki yang sedikit di bungkukkan, seolah seperti tuan putri yang akan undur diri dari hadapan rajannya.

 

Ify berjalan kembali meninggalkan Ando yang binggung, namun sebelum Ando membuka kembali mulutnya seorang pria masuk kedalam rumahnya sambil melambaikan tangan kearahnya.

 

“Sorry, gue tadi ke kantor dulu ada berkas yang perlu gue tandatangani, “

 

 

“Dia tadi pulang sama gue kok” jelas pria tersebut tak lain adalah Rio, mencoba meyakinkan.

 

Ando mengangguk-angguk mengerti , ia mempersilahkan Rio untuk duduk di kursi sebelahnya. Rio pun menurutinya.

 

“Oh ya, lo punya adik cewek?”

 

“Bukannya lo anak tunggal?” tanya Ando mulai pembicaraan mengingat kejadian tadi.

 

“Adik tiri, dia diangkat orang tua gue” jawab Rio sambil mengeluarkan ponselnya.

 

“Lo ketemu sama adik gue?” tanya Rio balik hanya sekedar basa-basi, ia tak ingin Ando bertanya aneh-aneh lagi.

 

“Sorry yo—, gue tadi nggak sengaja nyerempet adik lo di jalan. Tapi gue udah anterin dia pulang kok tadi” Rio membelakakan matannya sedikit terkejut tentunya.

 

“Dia nggak mati?”tanya Rio dengan cepat.

 

“Heh? —”

 

“Dia nggak apa-apa hanya kakinya yang terkilir.” Jawab Ando polos, mendengar jawaban Ando, Rio berdecak kecewa.

 

“Sayang sekali—, gue malah berharapnya dia kejang-kejang ditempat” gumam Rio dengan penuh dramatis. Ando terkekeh melihat ekspresi sahabatnya tersebut. Sepertinya nasib teman lamannya ini seperti dirinnya dikelilingi oleh adik-adik yang sakit jiwa.

 

“Gue balik dulu kerumah!! Mama gue udah nelfon dari tadi” pamit Rio ke Ando.

 

*****

Ify segera mengunci kamarnya agar tidak ada yang masuk, melepas semua seragamnya. Ia berdiri di depan cermin riasnya. Melihat lukannya yang masih basa. Ify meringis pelan. Lukannya masih terasa pedih, panas dan sakit.

Ia menatap dirinnya didepan cermin cukup lama, kedua mata elangnya saling menatap tajam. Ekspresinya sangat dingin dan menakutkan. Kejadian beberapa jam yang lalu kembali berputar diotak gadis ini.

 

“Apa yang loe lakukan tadi?”

 

“Lo bukan pahlawan kesiangan fy”

 

“Jangan lakukan lagi!!!”

 

Ify berjalan, melangkah ke arah kamar mandinya dengan tatapan lebih dingin. Ia akan mengobati lukannya dengan caranya sendiri. Yang ia yakini akan membuat lukannya cepat kering dan sembuh.

*****

Rio masuk kedalam rumahnya, ia disambut dengan tingkah adiknya yang sedang karaoke di ruang tengah sambil lompat-lompat diatas trampoline. Rio mengernyitkan kening, membentuk beberapa lapisan kerutan di dahinya.

 

 “Sorry yo—, gue tadi nggak sengaja nyerempet adik lo di jalan”

 

“hanya kakinya yang terkilir.”

 

Rio berjalan mendekati adiknya dengan ekspresi yang masih sama seperti tadi.

 

“Lo bukannya habis diserempet mobil?”

 

Suara Rio mengagetkan adiknya, mic yang dipegang illy langsung terjatuh begitu saja. Illy menatap kakaknya setengah kesal.

 

“Katanya kaki lo kekilir” Rio dengan sengaja menendang kaki adiknya dengan kekuatan pelan dan hanya membuat illy kaget saja.

 

 

“Bagaimana bisa Ando percaya sama kebohongan amatir lo—,

 

“Ratu Pembohong!! “ sengit Rio dengan ekspresi dingin seperti biasannya.

 

“Lo kenal pria itu kak? Jadi namannya Ando?”

 

“Lo kenal?”

 

Illy malah heboh sendiri, ia turun dari trampoline mendekati kakaknya, Rio memundurkan langkahnya, mencium bau-bau tak enak.

 

“Minta nomer ponselnya!!” palak illy sambil mengulurkan tangan kananya. Rio menatap adiknya skiptis.

 

“Nomer siapa?”

 

“Ando lah siapa lagi!! “

 

“Ando siapa?”

 

“Yang barusan lo sebut, yang nabrak gue!! “

 

Rio tak mempedulikan sang adik, ia tetap berjalan terus menuju kamarnya. Illy tak mau menyerah ia terus membuntuti sang kakak.

 

“MINTA NOMERNYAA!!!! “

 

Illy menatap kakaknya tajam, bersiap menyerang kakaknya.

 

“KAK RIOO AYOLAAHHH!! DIA BENAR-BENAR TYPE COWOK GUE BANGET!!”
 

“GUE JATUH CINTA PADA PADANGAN PERTAMA SAMA DIA”

 

“PLEASEE KENALIN GUE SAMA COWOK ITU”

 

“PLEASEE!!!!!”

 

“DIAAA TYPE CALON SUAMI GUE BANGETTT!!!!”

 

Illy semakin merengek tak jelas, bahkan ia sampai lompat-lompat penuh memohon agar kakaknya mau memenuhi permintaannya. Rio bergidik ngeri melihat tingkah sang adik yang menurutnya semakin hari semakin abnormal.

 

“Lo sama sekali bukan tipe dia” tajam Rio menyadarkan sang adik.

 

“LO JAHAT!! “

 

“LO KEJAM!! “

 

“LO PRIA BERHATI DINGIN”

 

“LO PRIA BERDARAH DINGIN”

 

“LO KAKAK NGGAK PUNYA PERASAAN!!

 

Rio masuk kedalam kamarnya, menutup kamarnya begitu saja dan menguncinya dari dalam. Ia memilih tak mengubris illy membiarkan adiknya semakin teriak-teriak tidak jelas di depan kamarnya dan menyumpahi dirinnya dengan berbagai bahasa alien.

*****

Keringat dingin terus keluar, membasahi pelipis, leher bahkan bagian samping rambut Ify. Tubuhnya bergerak penuh kecemasan, raut wajahnya terus berubah. Ia mencoba membuka matannya, tapi rasannya sangat sulit. Seolah kedua matannya dan tubuhnya ditutupi dengan benda padat besar. Nafasnya mulai tak teratur.

 

“Ando!!!”

 

“Iqbal!!!”

 

“Ando!!!”

 

“Iqbal!!!”

Dalam hati Ify berteriak keras memanggil dua saudarannya, ia tetap berusaha melawan tubuhnya sendiri.

 

“Ahhhs—“

 

Ify berhasil terbangun dan langsung memposisikan tubuhnya menjadi duduk. Ia mengatur nafasnya yang ngos-ngos.an. Kedua telapak tangannya basah akan teringat, dinginnya AC dikamarnya sama sekali tak berasa, hanya panas dan rasa cemas yang tiba-tiba meruak diseluruh tubuhnya.

 

“Gue kenapa?”

 

Ify mengatur nafasnya pelan-pelan kembali. Mencoba mendapatkan beberapa oksigen segar disekitarnya. Matannya tertoleh ke arah jendela bersamaan dengan suara mobil di depan rumahnya.

 

Ia turun dari kasurnya, berjalan ke arah jendela. Mencari tahu siapa malam-malam yang menyalakan mobil. Mata Ify menyipit, memfokuskan pandangannya. Ia melihat kakaknya bersama dengan pria yang ia tahu tapi dia sama sekali tidak tertarik mengetahui namannya sedang bercengkramah di depan rumahnya. Ify mengeryitkan kening heran, kenapa kakaknya malam-malam seperti ini mengeluarkan mobil?

Ify menatap jam dinding kamarnya mencoba memastikan lagi pukul berapa sekarang.

 

“Jam 2.30” lirihnya dalam hati. Sudah petang dan dini hari, Ify mengangkat kedua bahunya tak ingin mau memfikirkan berkelanjutan. Toh, kakaknya dan pria itu adalah teman lama.

 

Ify memilih berjalan keluar kamar, mencari air minum dan beberapa makanan manis untuk menaikan glukosa.nya, ia tidak ada nafsu untuk tidur lagi.

*****

Ify membawa segelas air putih lagi untuk dibawah ke kamarnya. Langkahnya terhenti di anak tangga ke-tigaa, ia mendengar pintu depan terbuka, riuh-riuh suara bass dan beberapa langkah mendekat masuk. Ify membalikkan tubuhnya, menurunkan kakinya ke tangga pertama.

Ia melihat kakaknya sedang berbincang dengan pria yang sama dilihatkan dari jendela tadi.

 

“Astagaa!! “ kaget Ando baru menyadari keberadaan Ify di tangga, ify menatap mereka dengan tatapan datar dan dingin seperti biasannya.

 

“Kamu belum tidur?” tanya Ando, ify melirik sebentar ke arah pria sebelah Ando yang tak lain adalah Rio. Setelah itu menatap sang kakak kembali.

 

“Gue kebangun” jawab Ify singkat dan siap untuk membalikkan badan, meninggalkan dua pria tersebut.

 

“Lo udah nggak apa-apa?” suara tersebut tiba-tiba muncul dan membuat langkah Ify terhenti kembali.

 

“Lo tanya adik gue?”

 

“ emang dia kenapa?” binggung Ando, menatap ke arah Rio dan Ify bergantian.

 

Rio merutuki pertanyaannya, ia sendiri tidak tau kenapa pertanyaan bodoh barusan keluar dari mulutnya. Ia mencoba mengendalikan raut wajahnya.

 

“Tadi sempat kepeleset di lift kantor gue” jawab Rio meyakinkan, dan jika korbannya adalah seorang Ando Guanna Freedy tidak perlu membutuhkan skill level tinggi, level rendahan saja pria ini akan sangat percaya.

 

Benar saja Ando mengangguk-angguk dengan jawaban Rio.

 

“Gue ambil barang gue dulu dikamar” ujar Ando dan meninggalkan Rio serta Ify yang mash berdiri ditempat tanpa bergerak sedikitpun. Ando pergi tanpa curiga sedikit pun.

 

Keadaan hening, tak ada yang berbicara. Ify masih tetap disana tak melangkahkan kembali kakinya, posisinya membelakangi Rio, sedangkan Rio sendiri mencoba menatap ke arah lain. Ia masih merutuki pertanyaannya tadi. Jujur, ia bukan tipe pria yang peduli dengan orang lain, ia adalah pria dingin yang acuh. Tapi, ia tentu saaja memiliki hati nurani, gadis dihadapannya saat ini sudah menyelamatkan nyawannya dan merelakan bahunya terluka mendapat 7 jahitan. Demi dirinnya!!. Dan—, Rio juga tak mengerti kenapa gadis itu melakukannya?

 

“Pembohong yang buruk!!” lirih Ify pelan tapi penuh penekanan dan cukup untuk terdengar dikedua telinga Rio. Ia menatap ke arah Ify.

 

Rio melihat Ify berjalan kembali, meninggalkannya yang hanya bisa berdecak sedikit kesal. Gadis tersebut benar-benar bermulut pedas!! Tidak punya hati bahkan lebih dingin dan kejam dari dirinnya. Ia tidak menyangka gadis seperti itu adalah adik dari teman lamannya.

 

“Bagaimana bisa gadis itu—?”

 

“Aisshh!! Nggak penting!!”

 

Rio tak mau memperpanjang fikiran khayalnya dan penasarannya, ia menyusul Ando ke kamar. Malam ini mereka berdua berencana mau kesuatu tempat yang sangat sekali ingin mereka kunjungi. Dan, malam ini adalah timing yang tepat untuk kesana.

*****

Ify menghembuskan nafas beratnya, ia menaruh gelas air putih tersebut diatas meja belajarnya. Ia duduk diatas kursi yang ada disampingnya.

 

“Kenapa gue ngelakuin itu?”

 

“Kenapa dia perlu gue selamatkan?”

 

“Jangan lakukan itu lagi Fy!!! Peringatan terakhir!!! “

 

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s