ENLOVQER DEVIL – 10

ENLOVQER DEVIL – 10

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

*****

 

Pukul 10 malam.

 

Rio berjalan ke jendela kamarnya, angin malam dan udara diluar membuat tubuhnya dingin. Ia menutup jendela kamarnya. Dirinya tak sebgitu suka menyalakan AC jika malam hari. Mata Rio terhenti, ia terkejut melihat pandangan yang saat ini terekam jelas di kedua retinannya.

 

“Gadis itu apa sudah gila!!! “

 

Rio mendapati seorang gadis yang duduk di depan pagar rumah, dengan kepala bersender pada tembok sebelahnya. Sepertinya tertidur. Rio geleng-geleng tak percaya. Dengan cepat ia menutup jendelannya kemudian berjalan keluar rumah.

 

****

 

“Lo gilaa!! “

 

Itulah kata yang diucapkan Rio pertama kali ketika sudah berdiri di depan seorang gadis yang sedang tertidur. Siapa lagi jika bukan Ify. Rio menatapnya tajam. Perlahan kedua mata gadis itu membuka dengan sayu.

 

“Water!” lirihnya ringan. Tatapannya terlihat memohon.

 

Rio mendapati wajahnya sedikit memucat, bibirnya kering, ditambah luka memar di kakinya sepertinya tambah parah. Rio mendengus kesal. Tanpa fikir panjang Rio segera membopong Ify untuk ia bawa kerumahnya. Ify sendiri tak menolak atau melawan sedikit pun. Tubuhnya sudah lemas, kerongkongannya mengiring ditambah perutnya yang lapar. Lengkap sudah penderitannya.

 

****

Rio membaringkan Ify di kamarnya, ia melirik ke kaki Ify yang memar, Ia hanya bisa mendecak ringan. Luka gadis itu semakin parah. Ia menuangkan secangkir minuman air putih yang langsung ia berikan kepada Ify. Membantu gadis itu untuk minum.

 

“ Gu—, gu—, gue akan balas budi” lirih Ify lemah, namun tatapannya tetap berusaha menunjukkan keangkuhanya. Rio mendecak sinis. Dasar gadis keras kepala!.

 

Rio tak menyahuti, ia meninggalkan Ify untuk mengambil kompresan.

****

Ify akhirnya terlelap, Rio mendapati gadis itu sudah menutup kedua matannya rapat dengan tenang. Wajha pucatnya yang sempat ia lihat beberapa jam yang lalu perlahan memudar. Rio menatap paras wajah gadis yang ada didepannya cukup lama, mengamati setiap lekuk dari inderanya.

 

“Aku takut”

 

“Aku takut”

 

Ify mulai mengigau dalam tidurnya. Rio mengernyitkan dahinya. Binggung.

 

“Aku sangat takut”

 

Igauan tersebut terus berlanjut, Kaki kanan Rio terangkat setengah, ingin mendekati Ify. Namun, niatnya tersebut ia urungkan. Ia memilih untuk diam saja dan menatap gadis itu dari kejauhan. Ia bukanlah golongan pria pujangga yang melakukan hal-hal romantis kepada seorang gadis.

 

****

Ify terbangun, ia merasakan seluruh tubuhnya berat dan sakit. Untuk mengangkat tubuhnya dan bangun saja terasa sangat susah, ia menyerah. Matannya mulai mengedar ke seluruh ruangan. Ia menghela berat, ini bukan untuk pertama kalinya ia tersadar dikamar ini.

 

“Apa yang gue lakuin disini” lirihnya dengan raut sedikit kesal.

 

Pintu kamar terbuka, seorang pria masuk kedalam dengan kedua tangan yang berada di dalam sakunya.Pria itu berjalan mendekati Ify yang juga sedang menatapnya. Ify mengerutkan keningnya, binggung.

 

 

“Kalau udah baikan, lo bisa keluar”

 

“sarapan”

 

Ujaranya singkat kemudian menutup kamar kembali, berlalu. Ify mengerjapkan matannya beberapa kali, apa ia tidak salah dengar?. Sejak kapan pria itu jadi sedikit baik kepadannya. Ify tak memfikirkan lebih lanjut dan mencoba bangun untuk turun, keluar dari kamar.

****

Baru sampai depan pintu keringat dingin Ify keluar tak tahu aturan. Sudah lebih dari 15 menit ia berjalan dari kasur sampai pintu kamar.  Ify menggertak kesal. Kedua kakinya masih terasa sangat sakit akibat terjatuh kemarin. Pintu kamar perlahan ia buka.

 

“ Lo ngerangkak dari kasur?”

 

Ify sedikit terkejut mendapati Rio berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat sangat bosan. Ify mendengus kesal.

 

“Kaki gue masih sakit” aduhnya. Ia melebarkan pintu kamar.

 

“Minggir lo!”usirnya karena Rio masih saja berdiri di depannya. Seolah mempersilahkan sang tuan putri berjalan, Rio memundurkan kakinya beberapa langkah. Ify menumpuh tubuhnya pada tembok, mencoba berjalan keluar.

 

Rio memincingkan sebalah senyumnyas, melangkahkan kakinya beberapa centi mendekat,

 

“Nggak usah bantuin gue!!”

 

“Gue nggak butuh!”

 

“Nggak us—“

 

BRAAAKKK

 

Rio mendecak sinis, dengan tatapan remeh ke arah Ify. Sedangkan Ify hanya bisa tertunduk mencoba mengontrol ekspresinya yang sedikit malu.

 

“Pintunya belum lo tutup, tuan putri! ” lanjut Rio dan berjalan melewati Ify.  Rio meninggalkan Ify duluan ke meja makan, dengan meninggalkan bekas ucapan yang dingin dan sangat dingin!.

*****

Ify sekali lagi dibuat emosi dengan kelakuan Rio, selain angkuh, dingin, pria itu juga tidak ber-pri kemanusiaan dan pri-kelembutan!!. Ia sama sekali tidak membantunya untuk ke meja makan yang jaraknya bagaikan Anyer sampai Panarukan !.

 

“Kenapa lo nggak bawain aja makanannya ke kamar” protes Ify, menarik kursi dan segera mendudukinya.

 

Rio diam tak menjawab, fokus dan meneruskan makannya sendiri. Ia paling tidak suka ada perbincangan tidak penting disela makannya.

 

Ify hanya bisa mendengus sekali lagi, Rio sama sekali tak mempedulikannya. Ia bagai manusia tak dianggap ada disana. Ia pun cepat-cepat memakan sarapannya. Ia ingin segera kembali ke rumahnya. Ia tak ingin lagi berhadapan dengan the ice uncle !

******

Ify menggaruk-garuk kepalannya yang tidak gatal di depan rumah Rio. Selesai makan beberapa menit yang lalu, Ia langsung kembali ke rumahnya tanpa berpamitan dengan Rio, nyelenong keluar seenak jidat. Rio pun sama sekali tak menghalangi atau mencegah.

Namun, yang Ify dapati rumahnya masih kosong tanpa ada orang. Ify memejamkan matannya menahan emosi ditambah dengan keadaan kedua kakinya yang masih sakit untuk berjalan, dan semakin bengkak membuatnya tak ada jalan lain, dan terpaksa harus berjalan kembali kerumah Rio.

 

“Bodoh amat!! “

 

Ify membuka pintu rumah Rio dan masuk tanpa dosa. Rio yang sedang berjalan menuju kamarnya heran dan binggung dengan kedatangan Ify.

 

“Ngapain lo?” tanyanya seperti biasanya, Tak ada manis-manisnya.

 

“Tanya sama gue?” tanya Ify balik berlagak bego!

 

Rio menghela nafas berat,

 

“Mau apa lagi?”

 

“Gue belum pamit mau keluar dari rumah lo kan! Gue tadi cuma hirup udara segar diluar. Nggak boleh??”

 

Rio tak percaya dengan kata-kata yang barusan terluncur manis dari bibir gadis itu. Kedamaiannya terganggu lagi? Oh God!!

 

“Gue akan tinggal disini untu semalam”

 

“Lo kira rumah gue penampungan?”

 

“Anggap saja begitu”

 

Rio tak tau harus bereaksi bagaimana, helaan nafas berat sebagai saksi bisu dari perasaanya saat ini dan tanpa kata apapun lagi berjalan meninggalkan Ify, meneruskan jalannya. Ia tak ingin berhadapan panjang dengan gadis itu. Dirinnya cukup dikamar saja tanpa keluar toh nggak akan bertatap muka dengannya.

****

Kaki Ify terlihat semakin melebam, akibat terus-terusan  ia buat untuk berjalan dan sekarang hampir tak bisa digerakkan. Ify menahan ringisannya.

 

CKLEEEKKK

 

            Seolah ada dewa pendengar doa datang, Rio masuk kedalam kamarnya dengan membawa kompresan blok ice dan salep pereda sakit.  Ify menatap saja Rio yang mendekatinya.

 

Rio melemparkan semua yang ia bawah keatas kasur dengan sopan-santun zero!, Ify mendengus.

 

“Bawa gue kerumah sakit”

 

Rio mengernyitkan kening, kedua matannya segera ia arahkan kearah kaki Ify.  Namun beberapa detiknya lagi, Rio keluar dari kamarnya meninggalkan Ify tanpa sekata apapun.

 

*****

Ify mendepati Rio masuk lagi ke kamarnya dengan pakaian santai dan sweetter navi. Ia mendekati Ify dan langsung membopong tubuh Ify  tanpa menunggu aba-aba. Ify hanya bisa terkejut.

 

“Lo ngapain?”

 

“Bopong lo”

 

“Gue bisa jalan sendiri!”

 

Rio tak membalas dan juga tak menghiraukan ucapan Ify. Ia terus berjalan dan membopong Ify. Melihat tatapan datar dan dingin Rio membuat Ify memilih diam. Toh, memang kakinya sudah sangat sakit. Ia mencoba mengatur detakan jantungnya yang entah menagapa menjadi tak berturan, sedikit perasaan cemas dan tak nyaman menggeliuti dirinnya saat ini. Ify Wake-up !!

****

Kaki Ify sudah mendapatkan perawatan, untuk sementara Ify harus menggunakan kursi roda dan tidak boleh berjalan dulu. Ify menunggu Rio yang sedang menebus resep dokter di apotek, sedangkan Ify menunggu dengan tenang di dalam mobil.

 

Mata Ify terarah ke ponsel Rio yang berdering dan layar ponselnya menyala. Ify melihat nama “ Z “ muncul di layar, Ify tak menghiraukan toh bukan ponselnya. Tak beberapa lama sambungan terputus, namun kembali lagi berdering. Ify sedikit terusik, hal itu terjadi berulang kali. Dengan tak berdosanya dan tak memfikirkan segala resiko nantinya, Ify meraih ponsel Rio.

 

“Hallo, siapa?”

 

“ akhirnya lo mau angkat  telfon gue juga” suara sebrang terdengar serak dan tak lama suara tawa sinis terdengar, Ify binggung dan sedikit dibuat merinding. Ia berniat untuk mematikan sambungan itu.

 

CKLEEEKKK

 

            Rio masuk kedalam mobil, dan melihat Ify menggunakan ponselnya yang masih tertempel di telingannya. Pandangan Ify semakin kosong seolah suara pada sambungan tersebut membuatnya hanya bisa terdiam, sedangkan Rio mengernyitkan kening binggung kenapa Ify menggunakan ponselnya.

Perlahan kedua mata Ify menatap ke Rio yang akan menarik ponselnya dari tangannya.

 

“LO MINGGIR !!!!”

 

Ify dengan kuatnya mendorong tubuh Rio hingga terjatuh dan keluar dari mobil yang memang pintunya belum ditutup. Sampai akhirnya. . . . . . .

 

BRRRAAAAAAAAKKKKKKK

 

BRAAAAAKKKKKKKKKK

 

Sebuah mobil box mengarah kencang dan langsung menabrak keras mobil Rio sampai terseret 200 meter. Ify yang masih ada didalam hanya bisa menegak ludahnya melihat kedepan, tanganya terkepal terlihat tubuhnya menegang. Yah, dia takut.

 

Ia mengeratkan tangannya ke seatbelt dan pegangan kursi, menahan dirinya. Sampai mobil tersebut ditabrakan pada sebuah pohon besar. Ify hanya bisa memejamkan matannya erat-erat, dan terus berdoa.

 

*****

 

Rio mematung untuk beberapa detik. Kakinya terasa lemas, tak bisa ia jalankan. Namun, ia terus berusaha berdiri walaupun dengan langkah sempoyongan. Apa yang barusan dilakukan oleh gadis itu?. Sampai ia benar-benar tersadar dan nyawannya kembali penuh. Rio segera berlari dengan cepat. Mobilnya sudah tak berbentuk tak jauh di depan matannya.

 

Mobil Box tanpa plat nomer tersebut sudah kabur duluan, Rio berusaha mengejarnya namun masih ada hal yang lebih penting. Gadis itu!.

 

Rio berlari kencang, ia menuju ke pintu tempat duduk Ify. Ia membuka pintu mobilnya yang langsung terlepas begitu saja, Rio meneguk luda. Bah lautan merah, Wajah Ify terlumuri banyak darah, nafasnya tak tersenggal-senggal.

 

“Lo harus bertahan!”

 

“Lo harus selamat!”

 

Rio mengeluarkan Ify dari sana, membopongnya dan segera membawanya masuk kembali ke dalam rumah sakit. Banyak orang yang melihat kejadian tersebut dan segera membantu memanggil dokter dan perawat.

 

“Gu—, gue nggak akan —“

 

“Mati—“ lirih Ify lemas tersadar dengan mata setengah sayu. Rio tak menghiraukannya dan terus berlari.

 

“Ja—, jangan hub—ungi Ando”

 

“Gu—, gue mohon” Ify mencoba meraih tangan Rio dan membuat langkah Rio terhenti.

 

Rio menatap Ify sebentar, tatapannya tajam bercampur dengan khawatir.

 

“Gu—, gue mohon”

 

Kata terakhir yang bisa Ify ucapkan dan akhirnya gadis itu tak sadarkan diri. Dua perawat mengarah ke Rio dengan membawa kasur roda. Rio dengan cepat menaruh Ify diatas kasur dan membantu para perawat mendorong menuju ke UGD.

 

*****

Rio menunggu di ruang operasi, sudah 3 jam berlalu namun tak ada satupun dokter yang keluar. Rio mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Kenapa gadis itu mendorongnya? Kenapa gadis itu selalu merelakan nyawanya untuknya?  Kenapa dia melakukannya? Lalu,  Siapa yang ia telfon? Ah bukan, mungkin siapa yang menolfon dirinnya dan Ify tak sengaja mengangkatnya? .

 

 

“Yang menelfon gue?”

 

Rio berlari dengan cepat keluar dari rumah sakit. Lebih tepatnya ia kembali ke mobilnya yang sudah tak berbentuk itu. Rio mencari bukti penting!. Ponselnya!!

 

“Ketemu”

 

Batin Rio berkata, dengan  susah payah ia mencari kedalam, akhirnya ponselnya ia temukan di bawah kursi tertutup serpihan kaca. Ia mengambilnya. Ponselnya dalam keadaan sehat wal afiat tanpa lecet sedikit pun.

 

Rio dengan cepat mengecek panggilan terakhir pada telfonnya.

 

“Z”

 

Ponselnya terjatuh begitu saja dari tangan kanannya, ia sangat kenal siapa orang itu. Rio menghela nafas berat. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan kepada Ify. Permintaan maaf yang sangat besar? Ataukah perlu ia bersujud?. Gadis itu sama sekali tak ada sangkut pahutnya dengan masalahnya, namun ia menjadi korban sekali lagi karena dirinya.

 

*****

Rio sedikit legah, Ify terselamatkan. Meskipun masih dalam keadaan koma. Setidaknya gadis itu masih hidup. Rio masuk kedalam kamar dimana Ify berada. Ia melihat gadis itu terbaring tak berdaya disana dengan peralatan-peralatan medis di seluruh tubuhnya. Tangan, kaki dan kepalannya diperban sempurna.

 

“Apa gue harus menelfon ando?”

 

“Gue harus me—“

 

“Ja—, jangan hub—ungi Ando”

 

“Gu—, gue mohon”

 

“Gu—, gue mohon”

 

Rio mengurungkan niatnya, teringat dengan permohonan terakhir Ify. Ia menurutinya, Rio harus membuat skenario yang tak mencurigakan. Ia harus membawa Ify pergi dari sini. Ia tak mau nyawa gadis ini dalam bahaya untuk kesekian kalinya. Skenario yang sempurna akan tercipta setelah ini, For this girl. !!.

 

*****

Illy masuk kedalam rumah, tak ada siapapun. Sepi itulah yang ia rasakan.

 

“KAK RIO”

 

“KAK RIO”

 

Tak ada sahutan, ia mendecak kesal. Beberapa jam yang lalu ia telah sampai di Indonesia. Ia memilih untuk pulang terlebih dahulu meninggalkan mamanya yang masih ada urusan lain di Alastan.

 

Illy masuk ke kamar Rio, tak ada orang. Ia pun iseng masuk lebih dalam. Kapan lagi ia bisa masmengobrak-abrik kamar kakaknya tanpa ada tatapan tajam dan ucapan dingin dari sang kakak.

 

Illy mengernyitkan kening, ia menemukan kompresan dan obat disana.

 

“Apa dia sakit?” tanyanya binggung.

 

Illy mengangkat bahunya dan berniat untuk keluar saja. Sebelum kakaknya tiba-tiba muncul dan membunuhnya habis-habisan. Aissh—, mengerikan!

 

“Eh—“

 

Illy terhenti, kakinya menginjak sesuatu. Ia memundurkan langkahnya. Matannya mengarah ke sebuah kalung perak polos. Illy memungutnya.

 

“Sejak kapan kak Rio punya kalung?”

 

“Ini kalung cewek kan”

 

Illy mengernyitkan keningnya, mulai curiga,

 

“Wahh—, dia bawa cewek kerumah”

 

“Waahh!!!!”

 

“Waahh!! Pasti ngapa-ngapain”

 

“Waahh!! Bahaya!! “

 

“Waaahhh!!! “

 

Illy keluar dari kamar Rio, dan bersamaan itu juga suara pintu rumah terbuka, Illy mengintip dari bawah. Itu sang kakak.

 

Dengan cepat illy memasukan kalung yang ia temukan ke dalam tasnya. Illy berjalan ke bawah dengan cepat.

 

 

“Kak, gu—“

 

Rio berjalan cepat dan melewati illy begitu saja.

 

“Dasar!!! “

 

“GUE MANUSIA JUGA!!! “

 

“GUE BUKAN HANTU”

 

“WOOYY!! ANGGAP GUE !!!” teriak illy kelewat kesal. Ia melihat sang kakak masuk kedalam kamar terburu-buru bahkan kakaknya tak menutup kamarnya kembali. Illy mengikutinya, penasaran juga.

 

“Lo ngapain?”

 

“Kabur dari rumah?”

 

Tanya illy melihat kakaknya membawa tas ransel hitam dan memasukan 1 baju kedalam. Rio tetap diam tak menjawab, fokus dengan yang dilakukannya.

 

“LO MAU KAWIN LARI YA??”

 

Suara teriakan illy yang kencang membuat Rio menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan mendekati sang adik.

 

“Ngapain lo deket-deket!! “

 

“Gu—, Gu”

 

“Gue ada keperluan mendesak ke Hongkong mungkin hampir 1 bulan “

 

“Lo jaga rumah baik-baik. Bilang ke Mama kalau dia tanya “

 

“Yaa!!! Lo kenapa sih. Nakutin tau nggak!!” illy mengundurkan langkahnya lagi, ini bukan seperti kakaknya.

 

“Lo jangan keluar rumah malam-malam”

 

“Jaga diri lo”

 

“Lo nggak mau mati kan? Lo kena penyakit parah? Lo kena kanker? Alzheimer? Atau lo—“

 

 

Rio mengacak rambut adiknya beberapa kali, kemudian mengembangkan senyumnya sebentar. Illy membelakakan matannya double shock.

 

“MAMAMAAA!!!! “

 

 

“KAK RIO KESURUPAAANNNN!!!!!! “

 

Illy langsung kabur dengan langkah seribu. Rio menghelakan nafas legah, setidaknya adiknya tidak mengusiknya lagi. Rio meneruskan aktivitasnya yang belum selesai.

 

*****

Illy mondar-mandir didalam kamar, memfikirkan dalam-dalam perkatan sang kakak, Apakah mungkin jika kakaknya punya penyakit? Tapi kakaknya sama sekali bukan seperti orang penyakitan. Tapi apa yang barusan saja dia katakan, dia seperti orang kerasukan. Itu sama sekali bukan kakaknya. Mengerikan.

 

“Gue harus telfon mama!! “

 

Illy dengan cepat menelfon mamanya.

 

“Ma!! “

 

“Kak Rio kesurupan”

 

“Masak dia nyuruh illy jaga diri baik-baik”

 

“Kan aneh ma!! “

 

“Kok aneh? Itu berarti kakak kamu khawatir dengan kamu”

 

“HELL!!!

 

“Dia kalau khawatir nggak akan bilang begitu ma. “

 

“Dia biasannya akan bilang, Enyah lo dari hadapan gue!! Jangan deket-deket gue”

 

“Dia pasti kerasukan ma”

 

“Husshhh!! Dia itu kakak kamu”

 

“Ma, kayaknya mama peru bawa kak rio ke psikiater”

 

“Bukan kakak kamu yang harus kesana. Tapi kamu!! “

 

“Sudah mama tutup dulu, kamu dirumah saja. Jangan keluar. Disana pasti sudah malam”

 

Illy mendengus, sambungannya dimatikan oleh sang mama. Ia sedikit kesal tak ada yang percaya dengannya. Apa ia harus bercerita kepada Ify. Tetangga di depannya. Hitung-hitung siapa tau ia bertemu dengan polisi ganteng. Ha Ha Ha.

 

“Gold chance!!

 

*****

Illy tersenyum kecut, rumah Ify sangat sepi dan tak ada siapapun. Ia sudah teriak-teriak tak jelas dari tadi dan tak ada yang menyahutinya ataupun membukakan pintu rumah. Mau tak mau illy kembali lagi dengan lemas kerumahnya sendiri. Ia harus sendirian lagi.

 

“Nggak asik semuannya”

 

“Aisshh—“

 

“Tau gitu gue nggak pulang”

 

“Gue ikut mama aja”

 

“Apa gue kerumah Sivia aja?”

 

“Good Idea!! “

 

*****

Illy benar-benar pergi ke rumah Sivia. Ia tidak peduli jika Sivia terkejut, yang pasti ia tidak akan mengalami pengusiran. Sivia bukan tipe gadis yang kasar dan dingin. Dia adalah gadis baik-baik. Illy mengikuti GPS.nya, ia sempat tanya ke Sivia dulu alamat rumahnya dan Sivia memberikanya begitu saja. Ini untuk pertama kalinya dirinnya kesana.

 

Illy memberhentikan mobilnya di depan gang. Ia harus  berjalan masuk untuk ke rumah Sivia yang tak sebegitu jauh dari gang depan. Illy setengah berlari karena jalanya yang sepi dan penerangan yang redup.

 

Illy dapat melihat rumah Sivia dari kejauhan, namun pintu rumah itu terbuka lebar dan terdapat suara teriakan yang tak sebegitu jelas. Illy semakin berjalan cepat. Suara teriakan orang marah-marah perlahan terdengar jelas.

 

“Sivia—“ illy berhenti di depan pintu rumah. Mulutnya langsung ia tutup dengan kedua tangannya. Ia melihat Sivia yang menangis dan terdapat 3 orang yang sedang menyiksanya. 2 orang perempuan dan 1 remaja laki-laki. 1 perempuan adalah seorang ibu-ibu dan satunya lagi sepertinya putri dari perempuan itu.

 

“Apa-apaan kalian!!! “

 

Illy dengan cepat masuk dan mendekati Sivia. Illy melepaskan tangan anak perempuan itu dari rambut Sivia.

 

“Siapa kamu!! “

 

“Jangan ikut campur urusan kami!!”

 

“Dia itu gadis jalang yang suka menggoda suami orang!! “ illy membelakakkan matannya.

 

“Gu—, gue nggak ngelakuin itu il”

 

“Gue nggak tau apa-apa” isak Sivia pelan kepada illy. Kondisi Sivia sudah tak dapat dijabarkan lagi. Illy tentu saja lebih sangat percaya kepada Sivia.

 

“Atas dasar apa kalian menuduh Sivia?”

 

“Saya bisa laporkan kalian bertiga ke polisi!! “

 

Ketiga orang tersebut setengah panik ketika nama polisi disebut. Illy mendekat ke ibu yang menatapnya tak suka.

 

“Yang harus dipertanyakan itu. Kelakukan suami ibu yang sudah baik apa belum!”

 

“Bukan teman saya!! “

 

“Pintu ada disana! “

 

“Silahkan kalian bertiga pergi dari sini, sebelum saya benar-benar menelpon polisi!! “

 

Ketiga orang tersebut dengan cepat kabur. Tentu saja mereka tak akan berani, toh memang mereka belum punya bukti yang kuat. Sepeninggal mereka bertiga, illy langsung mendekati Sivia kembali.

 

Sivia semakin menangis hebat dan memeluk illy.

 

“Udah Vi, nggak apa-apa.”

 

“Lo nggak salah!! “

 

“Lo jangan nangis”

 

“Gue takut il”

 

“Gue takut” isak Sivia tak karuan.

 

Illy mengeratkan pelukanya ke Sivia. Ia benar-benar sangat kasihan kepada sahabat barunya ini. Di sekolah ia harus mendapatkan perlakukan kejam dari Shilla adn the gengs, dan di rumahnya sendiri juga ia mendapat perlakukan yang lebih tak manusiawi dari tetangganya. Hidupnya seolah tak ada ketenangan sedikit pun.

 

“Ssstt—, lo harus tenang Vi”

 

“Gue ada disini, lo nggak salah”

 

“Gue akan bantuin lo”

 

“Lo jangan takut”

 

Illy sangat bersyukur bahwa ia memiliki fikiran untuk datang ke rumah Sivia dan membantu Sivia, menyelamatkannya dari kekejaman 3 orang tadi.

 

*******

 

Rio diam-diam menyewa jet-pribdi tanpa sepengetahuan siapapun. Ia hanya menyewa dan membawa dokter Andi, dokter terpecayanya untuk ikut dengannya. Ify pun ia bawah keluar dari rumah sakit, seolah ia masih ada didalam kamar tersebut. Rio menggantikan pasien lain di kamar Ify. Ia hanya tak mau meninggalkan jejak. Ia tak mau lagi gadis ini dalam bahaya.

 

“ Yo, sebenarnya kenapa lo lakuin ini?”

 

“Gadis ini lo mau bawa kemana?”

 

Dokter Andi mulai memberanikan bertanya ketika jet yang mereka naiki lepas landas. Rio menghelakan nafas berat.

 

“Ceritanya panjang”

 

“Dokter hanya perlu merawat dia”

 

“Lalu kita akan kemana?”

 

“Ushuaia”

 

Bersambung . .  .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s