ENLOVQER DEVIL – 11

ENLOVQER DEVIL – 11 

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

****

 

“Hallo, siapa?”

 

“ akhirnya lo mau angkat  telfon gue juga”

 

Suara pintu mobil terbuka, Ify menatap Rio yang baru saja masuk kedalam mobil. Rio melihatnya dengan heran. Namun, pandangannya langsung kosong. Suara serak disebrang sana semakin terdengar menakutkan.

 

“Gue nemuin lo!”

 

“Setelah sekian lama!”

 

“Gue akan bunuh lo! “

 

“Sekarang! “

 

“Terima hadiah dari gue, Pangeran !”

 

Telinga Ify begitu peka, ia dapat mendengar suara mobil dengan kecepatan cepat mengarah ke mobil yang ia tumpangi. Tentu saja ia dapat mengetahuinya, ini bukan untuk pertama kali dirinnya dalam keadaan bahaya seperti ini. Ia sudah amat sangat terbiasa. Matannya perlahan ter-arah ke pria yang duduk di sampingnya yang akan meraih ponsel dari tangannya.

 

 

“LO MINGGIR !!!!”

 

 

*****

 

 

“Lalu kita akan kemana?”

 

“Ushuaia”

 

“ WHAT???”

 

            Dokter Andi menatap Rio setengah tak percaya, Namun ia sangat mengenal baik bagaimana Rio. Pria itu tidak pernah main-main sedikit pun dengan ucapannya. Dokter Andi menghelaka nafas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinnya sendiri.

 

 

“Lo bayar gue mahal-mahal untuk ke negara paling ujung di dunia?”

 

 

“Lo udah nggak waras?”

 

 

“Lo mau apakan gadis ini?”

 

 

“ Lo nggak nyulik gadis ini kan?”

 

Rio mendesah, ia menatap Dokter Andi dengan tatapan tegas dan ekspresinya seolah berkata bahwa pernyataan yang akan ia ucapkan habis ini adalah sebuah perintah dan tidak ada pertanyaan ataupun penolakan sedikit pun.

 

“Cukup rawat gadis ini sampai sembuh! “

 

“Baiklah”

 

Pasrah!! Dokter Andi tidak bisa melawan. Kehidupannya selama ini berkat keluarga Haling, Ayah pria itu banyak membantunya dan ia sudah berjanji untuk mengabdikan dirinnya kepada keluarga Haling.

 

Dokter Andi meninggalkan Rio yang sedang duduk disebalah tubuh tak berdaya, Ify.

 

Sepeninggal Dokter Andi, Rio mengalihkan pandangannya. Ia menatap wajah Ify. Berbagai bukan beribu pertanyaan ingin ia tanyakan kepada gadis ini. Kenapa ia melakukannya? Kenapa ia mau merelakan nyawa untuknya? Lagi. Dan apa yang telah dibicarakan orang yang berada disambungan telfon tersebut.

 

*****

Keesokan hari . . . .

 

Rio berdiri di ujung pintu kamar dengan wajah membeku. Ia seolah tak bisa berbuat apapun. Gadis yang belum 24 jam yang lalu sadar dan masih koma kini sudah duduk manis di atas kasur dengan segala peralatan medis yang terlepas begitu saja. Rio meneguk ludahnya beberapa kali, meyakini bahwa yang dilihatnya bukanlah ilusi, delusi ataupun imajinasi. Gadis itu benar-benar sadar.

 

“Lo udah sadar?” dengan mengumpulkan tenaga kesadarannya yang masih bisa diajak kompromi, Rio berjalan mendekat.

 

Gadis itu tetap terdiam, menatap kosong ke depan.

 

“Fy” panggil Rio sekali lagi.

 

“Ada makanan nggak?”

 

“He?”

 

Raut wajah Rio seketika berubah binggung bercampur melongo. Beberapa detik tadi gadis ini membuatnya sangat takut dan cemas, namun sekarang? Dengan tanpa dosa gadis ini menatapnya dengan tatapan Aku lapar !!!!

 

“Aku lapar”

 

Rio mendesah pelan, mencoba untuk berfikir jernih. Sejak kapan Ify sopan kepadanya? Dan menurutnya, hubungan mereka berdua tidak sedekat percakapan  aku dan kamu. Apa yang harus di jawab Rio saat ini.

 

“Lo tau siapa gue?” tanya Rio memastikan.

 

Gadis itu menggeleng pelan, tatapan matannya sangat tenang dan lembut. Rio mendesah sekali lagi. Skenario apalagi yang sedang dihadapinnya saat ini.

 

“Lo lapar kan?” gadis itu mengangguk-angguk seperti anak kecil.

 

“Gue ambilkan dulu, baru kita bicara lagi.”

 

Baru saja Rio akan membalikkan badannya, dokter Andi masuk dengan membawa beberapa obat dan infuse. Mata dokter Andi pertama kali langsung tertuju ke arah gadis yang ada diatas kasur.

 

“ Waaaaaa!! “

 

Kagetnya seketika itu, obat-obat yang ia bawah jatuh begitu saja. Dokter Andi berpegang pada apapun yang ada disampingnya, apapun itu!!. Ia meneguk ludahnya, mengerjapkan matannya beberapa kali. Apa yang dilihatnya ini tidaklah mimpi??

 

“Ba—, ba—, bagaimana bisa?”

 

“Lepaskan!” Rio menyingkirkan tangan Dokter Andi yang berpegang pada kepalannya. Dokter Andi menyadari dan segera melepaskan tangannya.

 

“Sorry, sorry yo! Ga—, Ga”

 

Rio menepuk-nepuk bahu Dokter Andi beberapa kali setelah itu meninggalkannya yang masih binggung dan penuh keterkejutan. Dokter Andi jelas ingat bagaimana kondisi gadis ini beberapa jam yang lalu. 3 jam yang lalu ia masih mengganti infuse gadis itu, dan keadaannya masih koma. Sekarang? Gadis itu layaknya orang sembuh, duduk dengan manis disana. Apa gadis ini punya kekuatan supranatural?

 

“Lebih baik gue periksa dulu”

 

Dengan hati-hati dan keberaian penuh, Dokter Andi mendekati gadis itu, yang tak lain adalah Ify.

 

****

Rio dan Dokter Andi hanya menatap gadis yang didepannya, gadis itu sedang memakan sarapannya dengan lahap dan tanpa dosa.

 

“Gue masih nggak paham yo” Dokter Andi memulai pembicaraan.

 

“Gue masih ingat 3 jam yang lalu dia tidak sadar, dan sekarang?”

 

“Waaah—, apa ini yang namannya keajaiban tuhan?”

 

“Waaahhh—“

 

“Dok—“ panggil Rio.

 

“Apa?”

 

“Apa dia udah sembuh?”

 

“100% sembuh” jawab Dokter Andi tanpa ragu.

 

“Hanya luka-luka goresan dan kakinya saja yang masih belum sembuh total” lanjutnya.

 

“Bisa dokter periksa kondisi syaraf atau mentalnya? Dia nggak ingat apa-apa”

 

“Ma—, maksud lo yo?”

 

“Gue tadi nanya, apa dia kenal sama gue. Tapi dia hanya menggeleng. “ Dokter Andi terdiam cukup lama.

 

“Bukankah hal itu wajar saja, gadis itu baru selamat dari maut, biasanya ia masih dalam keadaan shock. Mungkin butuh beberapa hari ia akan kembali seperti semula. Gue nggak nemuin ada cedera di otaknya. “

 

“Begitukah?”

 

Rio tak akan bertanya lebih panjang, ia anggap saja bahwa asumsi yang baru saja Dokter Andi katakan benar adannya. Ia yakin gadis ini tidak apa-apa. Setidaknya ia sangat legah, gadis ini selamat.

 

*****

Udara dingin terhembus begitu kencang. Mengingat Ushuaia adalah negara paling ujung di dunia. Suhu disana melebihi rata-rata suhu negara lainnya. Rio mengeratkan jaket tebalnya. Ia membawa Ify jalan-jalan dengan kursi roda untuk melihat salju diluar yang terus turun tanpa henti.

 

“ Waaah, Salju ”lirih Ify takjub, suarannya terdengar begitu riang. Rio mengernyitkan keningnya ragu, menatap gadis di sampingnya. Dia tersenyum.

 

“Om, apa aku boleh main ditengah salju?” tanyanya dengan nada yang sopan. Rio sedikit terkejut. Sejak kapan gadis ini begitu sopan kepadannya? Sejak kapan gadis ini jadi baik? Dan sejak kapan Rio jadi om gadis ini? Apa dia terlihat sangat tua.

 

“Gue bukan om lo” jawab Rio kaku.

 

“Gue masih 25 tahun” lanjutnya mencoba tenang.

 

Ify menatap Rio sesaat lalu tersenyum lebar.

 

“Ah—, maaf”

 

Rio melihat ke arah lain, mendesah berat. Gadis ini tersenyum lagi!.

 

“Om—,”

 

“Ah salah, maksudku. Kak!”

 

Kak? Apa lagi rencana gadis ini. Rio merasa lebih baik gadis itu memanggilnya dengan om. Rio mencoba tenang dan tenang. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya jadi dia harus bersikap biasa. Gadis ini hanyalah gadis ingusan yang berperan sebagai penolong nyawanya, tidak lebih!! Camkan!!!

 

“Lo mau main salju?” tanya Rio dengan gaya dingin biasannya. Ify mengangguk-angguk penuh harap.

 

“Just 5 minutes”

 

“Bentarnya? 15 minutes” tawar Ify, kedua tangannya ia tangkupkan. Memohon.

 

“Oke”

 

Ify segera menjalankan kursi rodanya. Ia merasakan rintikan salju mengenai kepalannya dan seluruh tubuhnya. Ia merasa begitu bahagia.

 

Rio berdiri di kejauhan, melihat saja apa yang dilakukan oleh gadis itu. Semakin ia fikirkan, ia semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini. Ia harus menanyakanya kepada Ando, Yah, Harus!!.

 

******

 

Rio membawakan Ify makan malam, ia masuk kedalam kamar Ify, mendapati gadis itu sedang duduk diatas kursi rodanya menghadap ke arah jendela luar. Ia masih menikmati rintikan salju diluar.

 

“Fy, makan”

 

Gadis itu menoleh, kemudian mengangguk.

 

“Kalau lo butuh apa-apa, panggil aja gu—“

 

“Nama gue siapa? Fy? Ify?” Rio terdiam cukup lama mendengar pertanyaan gadis di depannya.

 

“Hmm, Nama lo Ify” gadis itu tersenyum pelan.

 

“Nama kakak?”

 

Rio mencoba untuk tidak kaget, sekali lagi gadis ini memanggilnya dengan kakak. Bukankah hal ini harusnya biasa? Illy juga biasannya mamanggilnya dengan Kakak? Kenapa jika gadis ini yang memanggilnya seperti itu terasa ada yang aneh?. Aisshh!! Menyebalkan!

 

“Rio” jawab Rio singkat. Ify mengangguk-angguk sekali lagi.

 

“ Kakak siapanya aku?”

 

“Kakak aku?”

 

“Bukan”

 

“Adik?”

 

“Lo mau ngelucu disini”

 

“Lalu siapa?” Ify menunjukkan wajah sedikit binggungnya.

 

“Jangan-jangan—“

 

“Pacar? Tunangan? Istri?”

 

Kaki Rio terasa lemas, ia terbatuk-batuk beberapa kali mendengar pertanyaan Ify yang berentet. Bagaimana mungkin ia berpacaran dengan gadis ingusan ini? Apalagi tunangan? Istri? Oh my god! Tidak mungkin!!! Ia masih waras untuk memacari gadis belia. Tapi? Apa yang harus ia jawab? “ aku adalah tetanggamu yang sudah kamu selamatkan” logiskah jika ia menjawab seperti itu.

 

“Atau jangan-jangan kakak penculik?”

 

“Pembunuh?:

 

“Kakak mau bunuh aku?? Ify mulai panik sendiri.

 

Rio mendesah berat, gadis ini semakin aneh.

 

“Tunangan!”

 

“Lo tunangan gue!”

 

Entah setan apa yang baru saja menampar mulut Rio dan menyebabkan kata itu terlontar begitu saja. Rio langsung diam mematung sendiri setelah mengatakannya. Apa yang baru saja ia lakukan. !! Ia melongo! Bodoh!!

 

“Ah, tunangan” Ify menunduk malu-malu.

 

“Jadi kakak tunangan Ify”

 

Rio melengos, rasanya ingin bunuh diri saja. Ia merutuki ucapannya, ia menyesalinya! Sangat!! Bagaimana bisa ia mengatakannya dengan mudah. Sudah terlambat, ia tidak mungkin mengganti jawabannya lagi.

 

“I—,iya” jawab Rio kaku.

 

Rio dengan cepat keluar dari kamar Ify. Fikirannya sudah kacau, tak jelas. Ia butuh udara segar!! Butuh asupan oksigen segar!!

 

****

Rio terbangun di pagi hari, ini adalah hari ketiga mereka ada dinegara orang. Rio sudah merencanakan untuk kembali besok 3 hari lagi. Karena kondisi cuaca di negara ini baru stabil diperkirakan 3 hari lagi.  Rio tidak ingin berlama-lama disini. Ia akan langsung menanyakan kepada Ando, Sebenarnya apa yang terjadi dengan adiknya ini?.

 

“Selamat pagi kakak”

 

Rio terkejut bukan main, ia mendapati Ify sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Dokter Andi.

 

“Yo, masakan Ify benar-benar lezat banget” Dokter Andi sudah berada di ruang makan dan menyantap makanannya. Rio mengerjapkan matannya beberapa kali. Sekali lagi ini bukanlah mimpi!!

 

“Waah—, lo beruntung banget punya tunangan kayak dia yo. “

 

“Udah cantik, sopan, pinter masak lagi!! “

 

Ucapan Dokter Andi bah sindiran halus kepadannya. Dokter Andi menahan tawannya ketika melihat ekspresi Rio yang membeku dan tak nyaman. Ia seolah terpojok dengan situasi yang sudah ia buat sendiri. Semalam, ia menceritakan semuannya ke Dokter Andi. Nasi sudah menjadi bubur. Maka lebih baik dimakan saja!

 

“ Ayo kak makan” Ify dengan susah payah menjalankan kursi rodanya, dan membawa satu piring terakhir yang diatasnya terdapat sandwich. Rio mengangguk dan segera duduk di kursi makan.

 

“Dokter Andi sudah cerita semua”

 

“Cerita apa?” binggung Rio.

 

“Kalau aku kecelakaan dan amnesia. Mangkannya aku nggak ingat apa-apa”

 

“Makasih banyak kak”

 

“Buat?” tanya Rio dengan nada seperti biasannya. Seolah acuh, ia memulai memakan sandwich buatan Ify, mengisi perut kosongnya.

 

“Kakak membawaku jauh-jauh keisini agar Ify cepat sembuh”

 

“Terima kasih sudah peduli dengan Ify dan mencintai Ify”

 

UhuukkUhukkkk

 

          Semua makanan yang ada dimulut Rio tidak masuk kedalam melainkan tersembur keluar. Ia langsung batuk-batuk tak karuan. Ucapan Ify barusan terasa menyedak di tenggorokannya.

 

“Kakak kenapa?”

 

“Kakak nggak apa-apa?” tanya Ify yang terlihat sangat khawatir.

 

“Water, Water!!” mata Rio memerah, tangannya menunjuk ke segelas air yang tak jauh dari Ify.   Dengan cepat Ify memberikannya kepada Rio untuk segera diminum.

 

Rio memukul-mukul dadanya, untuk menghilangkan sisa batuknya, untung ia masih bisa bernafas. Rio menatap ke arah Dokter Andi yang sedang menahan tawa puas. Ia tahu bahwa Dokter Andi sudah membuat cerita khayal kepada Ify dan membuat gadis itu berfikir aneh-aneh.

 

Rio segera bangun dari meja makan, wajahnya sedikit pucat dan ia merasa tubuhnya lemas. Pernyataan Ify barusan membuatnya sangat merinding.

 

“Kakak mau kemana?” tanya Ify masih terlihat khawatir.

 

“Tidur! “ jawab Rio dingin tanpa menatap ke Ify.

 

“Apa kak Rio marah dengan Ify?” tanya Ify kepada Dokter Andi yang ada disampingnya.

 

“Enggak kok Fy, Rio emang gitu. Dia cuek, dingin tapi sangat sayang banget sama lo”

 

“Dia nggak pernah tega lihat lo sedih, bahkan dia rela balik langsung dari luar negeri jika dengar lo kenapa-kenapa”

 

“Benarkah?” mata Ify berbinar senang.

 

“Yes!! Dia itu diam-diam romantis”

 

“Waah—, beruntungnya Ify”

 

Dokter Andi tertawa dalam hati. Inilah kesempatannya membuat Rio kebingungan. Mencoba mengetes bagaimana reaksi Rio menghadapi gadis ini. Selama ini yang ia tahu, Rio tidak pernah dekat dengan gadis manapun.

 

“Sorry, yo! “

 

*****

 

Ify mengetuk pintu kamar Rio, menunggu pemilik kamar keluar.

 

Rio keluar, dan sedikit kaget mendapati Ify didepannya saat ini.

 

“Ayo jalan-jalan, saljunya sudah berhenti”

 

“Ajak dokter Andi saja” jawab Rio tanpa dosa dan tetap super dingin. Ify mengerucutkan bibirnya.

 

“Tunangan Ify Kak Rio apa Dokter Andi” protes Ify kedua matannya sedikit berkaca. Rio mendesis, apalagi dengan gadis ini?

 

“Gue capek” tolak Rio

 

“Sebentar aja” paksa Ify memohon seperti anak kecil. Rio terdiam, berfikir sejenak.

 

“15 menit”

 

“45 menit”

 

“15 menit” kekuh Rio

 

“30 menit”

 

“Gue ganti baju bentar”

 

“YES!!!”Ify teriak dengan sangat senang, Ia menunggu di depan pintu kamar Rio, menunggu sang tunangan ganti baju.

*****

Rio mendorong kursi roda Ify, mereka hanya jalan-jalan disekitar bunglau. Tidak ada yang menarik, semuannya putih tertutup salju. Rio mendorong kursi roda Ify dengan setengah malas. Kenapa ia harus terjebak di situasi ini? Ia bahkan tidak pernah melakukan hal seperti ini ke adiknya ketika sang adik sakit 2 tahun yang lalu.

 

“Wahhh pelangi!!! “ Ify menunjuk jarinya ke ataslangit. Rio mengikuti jari Ify.

 

“Ify akan buat permintaan” gadis itu segera menutup matannya dan menunduk. Rio menggaruk kepalannya yang tak gatal. Menatap aneh gadis didepannya.

 

“Kak Rio juga buat permintaan?” tanya Ify menolehkan kepalannya ke Rio.

 

“Nggak”

 

“Kenapa?”

 

“Gue nggak percaya seperti itu”

 

“Yaah—, padahal ify sudah buat permintaan”

 

“Kak Rio nggak penasaran apa permintaan Ify?”

 

“Nggak” jawab Rio jujur. Ify mengerucutkan bibirnya sekali lagi

 

“Padahal ify buat permintaanya tulus banget”

 

Rio sebenarnya tidak tau harus berbuat apa? ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Ia rasanya ingin kabur ke kutub utara, tapi ini sudah negara paling utara!! Kemana lagi dia akan berlari?? !!!

 

“Apa permintaanmu?” tanyanya dengan nada terpaksa. Ify kembali tersenyum.

 

“Ify berharap bahwa kita nanti bisa jadi keluarga bahagia”

 

“Kita bisa cepat menikah”

 

“Terus punya anak kembar”

 

Kepala Rio seperti terhantam batu yang sangat amat besar!!! Wajahnya bah tersiram air dingin yang tercampur dengan garam sekarung!. Apa yang barusan gadis ini ucapkan. Menikah? Siapa? Dirinnya dan Ify? Hell!!!

 

“Ayo kita kembali” Rio dengan cepat mengalihkan, ia tidak suka dengan situasi tersebut.

 

“Hmm”

 

Rio memutar balikkan arah perjalanan mereka, dan segera kembali ke tempat tinggal mereka. Di perjalanan mereka Ify tak ada hentinya mengajak Rio berbicara. Dan namanya juga Rio, yang hanya bisa mengucapkan beberapa kosa kata andalan nggak, iya, malas, so?, ha? Iya, nggak,. Gitu aja terus sampai kiamat!!

 

****

 

Rio menghempaskan tubuhnya diats sofa ruang tengah. Ia menyenderkan kepalannya, mendinginkannya.

 

“Lo kenapa?”

 

“Perusahaan lo collapse!!!”

 

Dokter Andi yang baru datang, langsung mengambil duduk disamping Rio.

 

“Lebih baik perusahaan gue collapse !! “

 

“Lo kenapa sih?”

 

“Gadis itu nggak waras! “ Rio bergidik ngerti ketika membayangkannya sekali lagi.

 

Tawa Dokter Andi memecah. Ia baru pertama kali ini melihat Rio yang gelagapan dan kebinggungan seperti ini.

 

“Lo sih! Pakek bilang tunangannya”

 

“Gue nggak sadar! “

 

“Mana ada ngomong nggak sadar! “

 

“Aisshh!!!” Rio memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak.

 

“Apa gadis itu akan selamanya seperti itu?”

 

“Tingkahnya benar-benar menjijikkan”

 

“Waah—, gadis itu benar-benar keren” ujar Dokter Andi menatap Rio takjub

 

“Maksudnya?”

 

“Kosakata lo semakin bertambah!! “

 

“Takjub gue!!”
“Takjub!!”

 

Rio menatap Dokter Andi dengan tatapan tak enak, apakah itu sebuah pujian atau hinaan untuknya? Entahlah! Ia tidak memfikirkannya lebih lanjut. Yang harus ia fikirkan adalah gadis itu! Bagaimana ia mengatasi gadis itu!!  How? How? How ??

 

****

 

Rio melihat dari kejauhan. Ify sedang terapi berjalan bersama dengan Dokter Andi. Kondisi gadis itu semakin membaik. Pergerakan motorik anggota tubuhnya pun perlahan bisa teratasi. Rio semakin melegah. Meskipun ia masih belum menemukan jawaban bagaimana gadis itu bisa sembuh secepat itu dan kenapa dia tidak ingat apapun?

 

“ KAK RIOOOO!!! “ teriak Ify memanggilnya dari kejauhan. Rio menoleh kekanan, kekiri dan kebelakang. Apakah benar Rio yang dimaksud itu dirinnya.

 

“KAK RIOOO!! “ panggilnya sekali lagi. Dan memang benar, yang dimaksud adalah dirinnya.

 

Dengan langkah malas, Rio menghampiri dua orang disana.

 

“Dia ingin lo yang nemenin dia terapi”

 

“Gue titip dia ya!” Dokter Andi langsung mengambil langkah seribu tanpa menghiraukan panggilan Rio yang meminta penjelasan kepadannya.

 

Rio terdiam mematung. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

 

“Kata Dokter Andi, kak Rio dulu pernah masuk Pendidikan Kedokteran”

 

“Kata Dokter Andi juga kak rio sangat cerdas”

 

“So?”

 

“Ify maunya kak Rio yang nemenin Ify terapi”

 

“Kenapa harus gue?”

 

“Kak Rio tunagan Ify! “

 

“Apa kak rio nggak cemburu tangan Ify dipegang-pegang dokter Andi?”

 

“Apa Kak Rio nggak cemburu lihat Ify dengan pria lain?”

 

Cemburu? Apa sebenarnya deskripsi yang tepat untuk menjelaskan kata dengan 7 huruf tersebut. Rio tak tau harus menjawab apa. Ia yang memulainya sendiri, maka ia harus memetik imbasnya dan harus segara mengakhiri semuanya! Apapaun carannya !!

 

Bersambung. . . .   . . .

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s