ENLOVQER DEVIL – 12

ENLOVQER DEVIL – 12

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

****

 

Rio meletakkan ponselnya, kepalannya bedenyut tak karuan. Penanaman saham yang baru saja ia lakukan satu bulan yang lalu tidak berjalan lancar, ia mengalami kerugian sampai quartal lebih. Langkahnya menuju keluar kamar.

 

“Ngapain lo?” tanya Rio  mendapati Ify sedang duduk manis dibawah lantai tepat di depan pintu kamarnya, kedua mata gadis itu bah mata seekor kucing yang berbinar ketika melihat ikan dihadapannya.

 

“Nungguin kakak” jawabnya lugu. Rio menghela nafas panjang. Berusaha sabar tidak mengeluarkan emosi yang sudah dipendamnya sejak kemarin.

 

“Buat apa lo nungguin gue?”

 

“Dinner”

 

“Itu kak—, kata dokter Andi di sebrang sana ada restoran bagus. Ify pingin makan disana” Rio mencoba untuk mencerna dan mendengarkannya baik-baik. Apa barusan ia tidak salah dengar?

 

“Dokter Andi mana?”

 

“Pergi, cari makan katannya” Rio mendecak kesal. Pria tua itu memang selalu bisa mengerjainnya dari dulu.

 

“Kita makan disini saja”

 

“Yaahh—“ hela Ify kecewa. Ia menatap Rio penuh harap. Rio mencoba mengalihkan pandangannya, otaknya bercampur-campur antara marah, kesal dan lelah. Tapi kenapa dengan dirinnya? Kenapa ia tidak bisa menjawab tegas dan menolak “ Tidak” begitu saja. Seperti yang dilakukannya seperti biasa. Apa karena gadis ini sudah menyelamatkan nyawannya.

 

“Yaudah kalau kakak nggak mau”

 

“Ify juga nggak maksa” Ify mendesah berat dan berniat berdiri.

 

“Tunggu 15 menit. Gue ganti baju dulu”

 

Kedua bibir Ify terangkat secara jelas, ia bersorak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah keinginannya. Ify pun dengan hati-hati berjalan ke kamarnya untuk mengganti bajunya.

****

Rio tak tau sebenarnya  tujuan gadis ini mengajaknya ke restoran ini itu apa? Ify tidak mau menggunakan kursi roda maupun tongkat dengan alasan “ Kan bisa sekalian terapi kak”. Jadi dengan sabar Rio harus memegangi tangan Ify agar tidak jatuh dan mereka hanya bisa berjalan dengan kecepatan 3 km/jam. Just Imagine!!.

 

Rio juga tak habis fikir dengan pakaian yang dipakai oleh gadis disampingnya ini. Dia memakai gaun selutut tanpa memakai jaket. Apakah dia ingin membunuh dirinnya sendiri?.

 

“Kak dingin!! “ Rio menatap Ify dengan tak percaya.

 

“So?”

 

“Lepasin jaket kakak buat Ify!! “

 

Pertanyaan yang ingin Rio teriakkan dari tadi adalah TERUS KENAPA LO NGGAK BAWA JAKET LO??? SUDAH TAU INI KUTUB UTARA!!!.

 

“Ogah”

 

“Gue juga kedinginan” tolaknya setengah gugup. Sekali lagi dan lagi Ify menunjukkan wajah merengut dan memohon..

 

“Yaudah kalau kakak nggak mau”

 

“Ify nggak bak—“

 

“Pakai nih”

 

Rio dengan cepat meleaspkan dan melemparkan jaketnya ke Ify begitu saja. Ify menang sekali lagi. Rio pun mengajak untuk berjalan kembali.

 

*****

Mereka berdua masuk kedalam restoran  Sonai Lavv yang terlihat cukup ramai, pengunjungnya rata-rata merupakan touris pendatang. Banyak juga wajah-wajah Asia yang bisa dilihat di restoran ini. Rio mengikuti keinginan Ify untuk duduk di dekat jendela. Interior penuh bunga lavveria dan paduan warna coklat kekuningan dipenjuru tembok membuat kesan sederhana namun elegant pada restoran ini.

 

Sang pelayan memberikan menu kepada mereka dan menunggu apa yang akan dipesan oleh Ify maupun Rio.

 

“Wow ada promo” ujar Ify nampaknya tertarik dan antusias.

 

“This promo will be end 15 minutes again. Ify you want, you can try now”  jelas sang pelayan.

 

“Kak, ayo kita coba!!!”

 

“Lumayan white champagne gratis” Ify menatap ke Rio yang diam, menunduk tak bergerak. Matannya tertuju ke arah menu.

 

“Kak Rio, disini tertulis—“

 

“Kalian bisa mendapatkan free white champagne jika kalian seorang sepasang kekasih dan menunjukkan one sweet kiss  kepada para pengunjung lainnya“ jelas Ify mengartikan promo dalam bahasa british tersebut.

 

Itulah yang membuat Rio menunduk tak berani mengangkat kepalannya. Ketika mata Ify tertuju kepada promo dengan berbinar. Apa yang harus dilakukan olehnya saat ini? Melakukan One Sweet Kiss? Yang benar saja!!

 

“we will do this challenge!” tegas Ify setengah pihak kepada sang pelayan. Rio langsung mendongakkan kepalannya setelah beberapa menit yang lalu hanya menunduk penuh sumpah serapah di dalam hatinya.

 

Rio menatap Ify tak percaya, sedangkan Ify hanya membalas tatapan Rio seolah apa ada yang salah ? .

 

“One challenge here!! “ teriak pelayan tersebut dan membuat semua pengunjung serta awak restoran tertarik dan mengarah kepada mereka.

 

Kini dua orang ini telah menjadi sorotan, dan Rio sama sekali tidak menyukainya. Ia datang ke negara ini secara diam-diam dan ini sama saja dengan membunuh dirinnya sendiri. Untung saja tubuhnya membelakangi semua pengunjung. Mengingat tempat duduk mereka paling ujung sendiri.

 

“Lo udah gila!!! “ Rio menatap Ify tajam menunjukkan kekesalannya.

 

“Apa ada yang salah?”

 

“Apa jangan-jangan kita nggak pernah ciuman?” tanya Ify benar-benar polos sepolos kain putih yang baru selesai ditenun dan belum terjamah apapun!!.

 

“Waaa—, proses kita benar-benar sangat lambat”

 

Rio mengacak rambutnya frustasi, gadis yang dihadapinnya sekarang bukan lagi tidak waras melainkan kelainan jiwa!!!

 

“Apa ini akan jadi ciuman pertama kita?”

 

“Waah—“ Ify memegang kedua pipinya, berlagak malu-malu. Rio menatap Ify sedikit bergidik.

 

“Ayo”

 

“Ayo kemana?” tanya Rio balik.

 

Ify menatap Rio dengan gemas, ia memajukkan badannya lalu mengetuk bibirnya dengan telunjuknya dua kali. Rio melongo, kedua bola matannya bergerak sedikit kedepan, matannya membulat sempurna. Terkejut bukan main dengan apa yang dilakukan oleh gadis didepannya.

 

“Ogah” Tolak Rio dengan cepat, ia memundurkan badannya, menggeleng-geleng tak berdaya.

 

“Kenapa nggak mau?”

 

“Apa ify sejelek itu kak rio nggak mau?”

 

“Apa Ify buruk rupa?”

 

“Atau jangan-jangan—“

 

“mulut Ify bau?”

 

Rio ingin mencekik dirinnya sendiri disini, semua orang sudah melihat mereka berdua seolah menunggu. Dan mereka berdua malah melakukan satu sitcom sendiri sebagai tontonan.

 

“Fy, ini tempat umum” jelas Rio mencoba menjelaskan agar Ify mengerti. Namun, sepertinya gadis itu sama sekali tak mau mengerti. Kedua matannya mulai berkaca-kaca.

 

“Kak Rio terpaksa ya jadi tunangan Ify?”

 

“Kak Rio nggak cinta ya sama Ify?”

 

Bendungan air mata itu akan penuh dan sebentar lagi akan terjun, Rio menatap Ify semakin frustasi. Bisik-bisik meja sebelah sudah mulai terdengar tak jelas. Rio tersudutkan!!!

 

“Yaudah kalau kak Rio nggak mau”

 

“Ify nggak ma—“

 

Rio melakukannya!! Yah!! Dia melakukannya! Entah setan apa yang merasukinya kali ini. Sekali lagi, dia melakukannya!!

 

Ia tiba-tiba langsung mendekatkan badannya dan menarik dagu Ify dengan tangan kanannya. Ify nampak terkejut dengan yang dilakukan Rio. Kedua matannya masih membuka sempurna. Ify dapat melihat Rio yang sudah memejamkan matannya dan mulai memperdalam ciuman yang dilakukannya kepada bibir Ify.

 

Suara sorai terdengar begitu ramai, tontonan romantis nan gratis itu kini menjadi semakin hot. Banyak pengunjung yang semakin berteriak.

 

“Deep Kiss”

 

“Deep Kiss”

 

“Depp kiss”

 

“Woaaaaaa!!!!”

 

Ify perlahan menutup kedua matannya, mengikuti permainan yang dilakukan oleh Rio. Kedua tangannya ia angkat dan ia kalungkan perlahan di leher Rio. Rio kerasukan !! Ia benar-benar semakin memperdalam ciumannya!.

*****

 

Mereka sama-sama mencoba mengatur nafas mereka yang terasa kering dan low oksigen, perlahan Rio melepaskan ciumannya, mulai sedikit menjauh membuat jarak. Nafas mereka berdua masih saling terdengar beradu tak karuan. Rio menatap dengan kosong.

 

“Apa yang baru saja gue lakukan!!

 

Itulah pertanyaan yang langsung masuk di fikirannya. Ia benar-benar sadar dengan yang dilakukanya tadi, tapi kenapa ia tidak menghentikan apa yang dilakukanya tersebut? Kenapa gadis ini tiba-tiba bisa membuatnya patuh dan menurut? Ini bukan dirinnya!.

 

“Congratulation!! “

 

Seorang pelayan memberikan sebotol white champagne yang diletakan diatas meja. Keadaan restoran perlahan mulai tenang. Terkecuali dua orang ini, mereka saling diam tanpa berani menatap. Ingin mengeluarkan nafas saja terasa kaku dan tak enak.

 

“Apa ini ciuman pertama kita?” tanya Ify mencoba memasang wajah tembok, ia tidak suka keheningan dan keadaan canggung.

 

“He?” Rio sendiri pun berusaha tenang.

 

“Apa ini ciuman pertama kita?” tanya Ify sekali lagi kali ini tanpa ada rasa takut atau malu.

 

“Tidak” jawab Rio mantap. Ify mengangguk-angguk ringan.

 

“Ah—, jadi kita pernah ciuman sebelumnya.”

 

“ Tapi aku tidak ingat”

 

“Bisa kakak ceritakan? Dimana kita ciuman pertama kali?”

 

Rio menatap Ify, fikirannya kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Yah, ciuman pertama mereka berdua.

 

“Dimana kak?”

 

“Lo sembuh dulu, baru gue ceritakan” jawab Rio bersamaan dengan pesanan makanan mereka datang yang telah mereka pesan sebelum pelayan tadi pergi.

 

Rio tak menanggapi lagi pertanyaan-pertanyaan Ify, ia mulai sedikit lelah. Ia fokus ke makanannya. Fikirannya sudah sangat penuh dan siap meledak kapan saja. Ia lebih baik memilih diam.

 

*****

Ify berulah kembali, ia merengek agar Rio menggendongnya sampai ke bunglau tempat mereka tinggal. Rio pun mengabulkannya sekali lagi, fikirnya biar mereka berdua cepat sampai dan Ify tidak semakin banyak tanya.

 

“Kak Rio kok bisa suka sama Ify?”

 

“Entah”

 

“Kak—“ panggil Ify dengan suara sedikit lemas.

 

“Apa?” jutek Rio. Ia sebenarnya tak ingin menanggapi ucapan Ify, namun gadis itu pasti akan terus mendesaknya sampai ia mau menjawab.
“Ify pusing”

 

“Mangkannya diam”

 

            Rio menghentikkan langkahnya, kepala Ify rubuh ke bahunya, kedua tangannya yang terlilit di lehernya mulai lepas. Rio mengeratkan tubuh Ify agar tidak jatuh. Gadis ini pingsan!.

 

“Aissh—, ada-ada aja”

 

Dengan cepat Rio membenarkan gendongannya. Kemudian, ia berjalan cepat untuk kembali ke bunglau. Ia sedikit khawatir tentunya kalau terjadi apa-apa dengan gadis ini.

 

*****

 

“ KITA SAMBUT PASANGAN TAHUN IN—“

 

 

Dokter Andi tak meneruskan ucapannya, ia dengan cepat mengikuti Rio yang setengah berlari menuju kamar. Ia tak perlu bertanya kepada Rio apa yang terjadi dengan gadis itu. Dilihat dari wajah Ify sekilas tadi yang sangat pucat, pasti sudah terjadi apa-apa.

 

“Dia tiba-tiba pingsan” jelas Rio setelah menaruh ify diatas kasur.

 

“I know” jawab Dokter Andi yang langsungcepat menyiapkan perlatan medisnya.

 

Dokter Andi dengan cekatan memeriksa Ify, memasang infuse dan masker oksigen ke hidung Ify. Dokter Andi mengecek tekanan darah Ify.

 

“80/70”

 

“Dia mungkin kelelahan”

 

“Birkan dia istirahat, gue udah suntikan obat”

 

“jadi jangan khawatir”

 

“Tunangan lo nggak apa-apa”

 

Rio mendelikkan kedua matannya, merasa tak terima dengan sindiran yang diberikan kepadanya.  Dokter andi berjalan ke arah Rio. Menepuk-nepuk bahu kanan Rio.

 

“Permainan lo—“

 

“Dua ribu jempol”

 

Rio  mendecak kesal, ia tau jelas apa yang dimaksud dokter Andi. Kejadian di restoran tadi pasti dokter gila itu melihatnya dan menyaksikannya. Suara kekehan Dokter Andi semakin jelas padahal orangnya sudah pergi berlalu. Rio merutuki dirinnya sendiri.

 

Ia menatap Ify sebentar yang terbaring disana,

 

“Lo sebenarnya siapa ??”

 

*****

Suara keributan pagi-pagi terdengar gaduh, Rio dengan cepat keluar dari kamarnya. Ia menemukan Dokter Andi yang sedang ditodong pisau oleh Ify. Rio membelakakan matannya.

 

“Apa yang lo lakuin??” teriak Rio mendekati Ify.

 

“ LO!!!! “

 

Rio memberhentikkan langkahnya, tatapan ini bukan tatapan gadis polos nan lugu yang semalam bersamannya, tatapan ini benar-benar tatapan milik Ify. Yah, Ify sebenarnya!.

 

“Jadi lo yang nyulik gue??”

 

“Ini dimana?”

 

“Kenapa gue ada disini?”

 

“JAWAB!!! “ teriak Ify yang kini mendekati Rio dengan pisau yang masih ditangan kanannya.

 

Rio tersenyum,

 

“Syukurlah lo udah kembali”

 

 

Ify mengernyitkan kening tak mengerti, ia hanya tau bahwa dirinnya terbangun ditempat asing dengan suhu yang cukup dingin disekitarnya. Ia melihat ke jendela luar hanya ada salju dan semuannya tertutupi salju. Dia yakin bahwa dirinnya berada diluar negeri. Bukan dinegarannya bahkan dirumahnya.

 

“Gue mau pulang!! “

 

“Baiklah”

 

Toh memang hari ini seharusnya mereka kembali ke negara mereka. Rio dengan cepat meraih pisau ditangan Ify ketika gadis itu lalai. Ify sendiri tidak melawan. Ia membiarkan saja, kemudian berjalan dengan wajah yang masih kesal ke kamarnya.

 

“Gadis itu kenapa?”

 

“Kok dia menyeramkan!!”

 

Rio mengangkat bahunya, dan tersenyum lagi. Kemudian kembali ke kamarnya.

 

“30 menit lagi kita berangkat!! “ teriak Rio sebelum masuk kedalam kamarnya.

 

******

 

Ify sama sekali tak ada suara sejak tadi. Mereka bertiga telah berada didalam jet pribadi Rio. Mereka kembali ke negara asal. Rio melirik ke Ify yang hanya menatap keluar jendela.

 

“ Apa gue begitu mempesona?”

 

Ify perlahan menolehkan wajahnya.

 

“Apa lo udah mulai tertarik dengan gue??”

 

Rio langsung batuk-batuk, Ia ketahuan menatap gadis disebelahnya cukup lama.

 

“Gue nggak tau kenapa gue tiba-tiba ada dinegara paling ujung di dunia”

 

“Gue hanya inget gue kecelakaan didalam mobil lo”

 

“Lalu? Gue nggak inget apa-apa”

 

“Lo koma beberapa hari” jelas Rio tak ingin ada salah faham yang berkelanjutan nantinya.

 

“Lalu? Kenapa harus ke negara ini?”

 

Rio terdiam, apa yang harus ia jelaskan.

 

“Gue ada bisnis disini, gue nggak bisa ninggalin lo” ia menemukan alasan yang cukup masuk akal.

 

Ify sedikit mulai percaya, mengingat Ando, Iqbal tidak ada dirumah begitu juga dengan pengawal-pengawalnya. Dan seperti kata Rio barusan dia koma. Tentu saja Rio akan peduli dengannya, mengingat lagi dirinnya telah menyelamatkan nyawa pria itu.

 

“Hubungan kita nggak sedekat ini kan”

 

“Jadi gue harap setelah turun dari pesawat kita nggak usah ketemu lagi”

 

“Kalau pun kita bertemu, kita nggak usah saling bertegur sapa”

 

“Kita anggap kita nggak saling kenal”

 

“Setuju” jawab Rio singkat, padat dan jelas!! Ify melongo, pria disampingnya benar-benar menjengkelkan, sangat dingin dan tidak tau diri!!.

 

Rio tak menanggapi kekesalan Ify, ia segera fokus kedepan, berkutik dengan ponselnya.

 

****

Ify turun dari pesawat, udara panas menyambutnya. Ia berjalan keluar bandara. Rio benar-benar langsung meninggalkannya tanpa pamit ataupun mengucapkan sekata apapun. Dia memang pria yang tak punya hati!! Sama sekali!!.

 

Ify seperti orang bodoh di parkiran bandara, ia tidak punya uang dan tidak tau harus bagaimana. Ia sedikit menyesal kenapa ia mengucapkan pernyataan bodoh tadi!. Ia harusnya memfikirkan nasibnya dahulu.

 

“ Fy, ngapain disini??”

 

Suara yang tak asing menyambut telinga Ify dan seolah bagai dewa penyelamat Ify segera mendekati orang tersebut.

 

“Anterin gue pulang” ujarnya kepada pria itu yang tak lain adalah Ray, teman sekelasnya yang suka dengan dirinnya.

 

“Waah—, lo kesurupan apa Fy? Lo minta gue anterin lo pulang?”

 

“Hmm” Ify menangguk mantap. Tanpa menghilangkan kesempatan emas nan langkah Ray langsung menagangguk-angguk senang.

 

“With my pleasure princess”

 

******

 

“Lo kemana aja? Lo udah nggak masuk sekolah 4 hari?” tanya Ray yang penasaran.

 

“Gue sakit” jawab Ify singkat. Ia menatap ke depan.

 

“Kok bisa ada dibandara? “

 

“sejak kapan orang sakit ke bandara ??”

 

Ify terdiam, benar juga pertanyaan yang diajukan oleh Ray. Ify mengangguk-angguk seperti orang bodoh.

 

“Ya intinya gue sakit dan gue tersesat di bandara, dan lo nggak usah banyak tanya lagi”

 

“Siap princess”

 

“Gue tadi habis nganterin kakak gue yang liburan ke Turki”

 

“Gue nggak nanya” dingin Ify, ia menatap ke jendela. Ia mencoba mengingat-ingat sebenarnya apa yang terjadi beberapa hari lalu. Apa benar ia koma?

 

“Gue ngasih tau”

 

“Gue nggak mau tau”

 

Ray hanya bisa tersenyum kecut. Menaklukan Ify memang sangatlah susah. Bagai mencoba menjelmakan seekor kucing menjadi seekor singa. Susah! Bahkan Mustahil!.  Tapi setidaknya ia beruntung bisa mengantarkan gadis idamannya ini pulang setelah sekian lama. Benar-benar hari yang sangat indah bagi seorang Ray.

 

*****

Ify mencegah Ray untuk turun dari mobil. Mereka sudah sampai di depan rumah Ify yang saat ini sedang ramai dengan para pengawalnya dan ia juga menemukan mobil Ando yang masih terparkir di depan tanpa dimasukkan.

 

“Thanks banget, gue akan balas budi kebaikan lo hari ini”

 

“Lo langsung pulang aja”

 

“Gue nggak boleh nih main dulu ke rum—“

 

“Nggak!! “

 

“5 menit aja”

 

“PULANG!!!”

 

Ray mengangguk menurut, Ify pun dengan cepat keluar dari mobil Ray. Ia mencoba menyiapkan seribu alasan untuk menjawab seribu pertanyaan Ando. Ia pasti akan mendapatkan hukuman dan kemarahan yang besar dari sang kakak.

 

Mobil Ray sudah tak terlihat, Ify pun perlahan melangkahkan kakinya menuju rumahnya.

 

Para pengawal yang melihat sosok Ify langsung dengan cepat mendekati Ify dan berteriak bahwa mereka menemukan tuan putri mereka. Ify mendadak langsung risih.

 

“Tuan Ando menyuruh nona masuk” suruh Mr. Lay yang nampaknya sangat senang dan legah akhirnya Ify kembali.

 

Ify berjalan masuk ke dalam rumah, ia menemukan Ando dan Iqbal duduk. Iqbal menatap Ify dengan tatapan “ Lo tamat hari ini!!”  sedangkan Ando diam, menatap dingin kedepan.

 

“ Sorry ndo, gue nggak bilang ke lo”

 

Tiba-tiba seorang pria datang bah pahlawan, dan mengagetkan berbagai pihak terutama Ify. Ia kaget melihat Rio yang sudah berdiri tegap di sampingnya.

 

“Adik lo nggak kemana-mana, selama beberapa hari ini dia dirumah gue”

 

“Pengawal dia tiba-tiba hilang nggak ada dirumah dan rumah dikunci”

 

“Dia sakit kemarin dan sempat pingsan. Tapi sekarang dia suda nggak apa-apa” jelas Rio panjang kali lebar. Ando dan Iqbal langsung mendadak berdiri.

 

“Dia pingsan?” tanya mereka berdua bersamaan. Rio mengernyitkan kening. Seolah ada bau yang aneh disini.

 

“Hmm”

 

“Lalu?” tanya Ando memastikan dan raut wajahnya sedikit berubah.

 

“Lalu apa? Dia pingsan kemudian tersadar dan sehat lagi” jawab Rio sangat tenang. Ando bernafas legah.

 

“Thanks yo, lo udah mau repot-repot ngerawat adik gue, dan semuanya sudah jelas saat ini”

 

“Sama-sama, gue hanya mau nepatin janji gue”

 

“Gue juga mintaa maaf nggak bilang ke lo”

 

“Nggak apap-apa, lihat adik gue sehat gue udah senang “

 

“Gue langsung pamit, nanti gue temuin lo lagi”

 

“Thanks bro”

 

Rio menyalami Ando dan langsung pergi begitu saja, tanpa menatap Ify sedikit pun. Ify melirik kesal. Pria itu benar-benar pendendam menurutnya. Ia melakukan apa yang diucapkannya di pesawat. Seperti orang yang tidak saling kenal sama sekali!!.

 

******

Ando menyuruh semua pengawal Ify keluar, dan meninggalkan dirinya, Iqbal dan Ify diruang tamu. Ando menyuruh Ify duduk dan gadis itu menurut saja tanpa membantah. Ify tidak berani jika situasi sudah mencekam seperti ini. Ia kenal jelas bagaimana sifat ando yang tegas dan kaku tanpa toleransi.

 

“Lo nggak apa-apa?” tanya Ando wajahnya masih terlihat cemas.

 

“Nggak apa-apa” jawab Ify singkat.

 

“Apa lo masih ngerasa sakit?”

 

“Gue bilang gue nggak apa-apa” Ify selalu tak suka jika pertanyaan Ando seperti ini. Ia merasa seperti gadis lemah. Dan ia sendiri tidak mengerti kenapa Ando sering menanyakan pertanyaan tersebut ketika dirinnya sakit.

 

“Selama beberapa hari ini lo nggak usah keluar rumah, lo dirumah aja”

 

“Nggak usah sekolah dulu”

 

“Lo nge-hukum gue?”

 

“Sampai lo benar-benar sehat”

 

“GUE UDAH BILANG GUE NGGAK APA-APA” tegas Ify kehilangan kendali. Ia menatap Ando tajam.

 

“Kak—“ Iqbal menyentuh bahu Ify, menyuruhnya sedikit tenang.

 

“Gue nggak suka lo atur hidup gue” lanjut Ify kepada Ando.

 

“Lo masih sakit”

 

“Gue sehat wal afiat, dan menurut gue—”

 

“Bukan gue yang sakit. Tapi lo!! “

 

Ify langsung meninggalkan Ando begitu saja, Bukannya Ando yang marah-marah melainkan dirinnya sendiri yang terpancing. Ando menghela nafas berat, ia membiarkan saja sang adik berlalu ke kamar.

 

“Kak, udah gue bilang jangan kekang kak Ify” ujar Iqbal mulai memberikan saran.

 

“Gue hanya cemas”

 

“Gue tau, gue juga sama kayak lo”

 

“Kalau lo nggak mau takut kak Ify kenapa-kenapa. .  . .”

 

“Lo harus jujur!”

 

Ando menatap Iqbal, sebuah senyuman masam menghiasi wajahnya.

 

 

“Andai bisa.”

 

“Papa melarangnya, masih belum saatnya”

 

“Mangkannya, sampai saatnya itu. Jangan kontrol kak Ify. “

 

“Dia nggak bakalan kenapa-kenapa”

 

“Selama beberapa tahun terakhir gue yang selalu sama dia, dan dia nggak pernah kenapa-kenapa”

 

“Jadi lo tenangin diri lo dan jangan terlalu khawatir. Atau kak Ify akan sangat benci sama lo”

 

“Thanks Bal” ujar Ando sambil menepuk bahu Iqbal. Setidaknya saran Iqbal sangat membantunya dan menenangkannya.

 

*****

Keadaan rumah Ify sudah membaik, malam ini mereka bertiga makan malam bersama seperti biasa dan saling bercanda seperti biasa seolah tidak ada masalah pagi tadi. Yah, keluarga ini memang sedikit aneh!.

 

“IFY IFY IFY!! “

 

Suara teriakan cempreng tersebut membuat ketiga pemilik rumah ini berhenti makan. Ify mendecak kesal. Ia tentu saja sangat tau jelas siapa pemilik suara ini.

 

“Siapa?” tanya Ando, ini untuk pertama kalinnya ada tamu perempuan yang datang mencari Ify selain Sivia. Dan menurut Ando, ini bukanlah suara Sivia sang pujaan hati yang tak sampai. Ha Ha Ha.

 

“Setan penganggu!! “

 

Yah, Illy datang sambil membawa beberapa buku ditangannya. Illy senyum-senyum tidak jelas sambil menatap Ify.

 

“Lo—“

 

“Adiknya Rio kan?”

 

Illy langsung menolehkan kepalannya ke sumber penanya. Buku yang ditangannya langsung berjatuhan, bah efek sinetron kekinian, wajahnya langsung berseri-seri dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat dan backsound lagu dari Armada di mabuk cinta mulai terdengar di telingannya.

 

“Suami idaman” lirihnya penuh kebahagiaan. Ify melihat ke Illy dengan jijik, ia dapat mencium bau-bauk tak enak disini.

 

“WOYY!! Lo ngapain disini!!”

 

“Waahh—, kakak lo benar-benar tampan gilaakk!!”

 

“Lo beruntung banget punya kakak kayak dia. Boleh gue bawa pulang?” Illy masih terus saja menatap Ando, terpesona, Sedangkan Ando hanya binggung menatap illy yang melihatnya seperti itu.

 

“WOYY!! GILAA!! LO NGAPAIN DISINII!!! “ bentak Ify kehilangan kesabaran.

 

“Nama gue Illy. Gue adiknya Rio, Gue suka sama lo kak”

 

Tanpa mempedulikan Ify, illy langsung saja mengambil kursi dan menariknya disamping Ando. Ia pun menduduki kursi tersebut.

 

“Waaah—, dari dekat tambah ganteng gilaakkkk”

 

Ify dan Iqbal melongo lebar. Pemandangan apa yang barusan mereka lihat? Ada apa ini? Apa bumi akan hancur? Apa akan ada kiamat sebentar lagi atau perang dunia ketiga sudah akan dimulai?

 

“Sorry, maksudnya??”

 

“Gue suka sama lo. Dari awal kita bertemu gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama”

 

“Lo mau jadi pacar gue ?”

 

“Ahh nggak, jadi suami gue?”

 

“Ah maksud gue pendamping hidup gue di dunia dan akhirat!! “

 

“Lo mau kan kak? Mau kan? “

 

“Please jangan tolak gue!! “

 

 

Bersambung . . . . . .. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s