ENLOVQER DEVIL – 14

ENLOVQER DEVIL – 14

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

****

 

 

Ify memakai jam tangan hitamnya sebagai sentuhan terakhir, mengenakannya sembari melangkah keluar rumah. Dandannya malam ini sangatlah simple. Ia memakai gaun merah selutut dengan sepatu sneakers berwana hitam dan rambutnya ia gerai begitu saja ditambah tas bundar kecil yang hanya muat untuk ponsel dan kartu kreditnya.

 

Pintu rumah Ify dibukakan oleh sang pengawal, setidaknya ada hikmahnya juga ia keluar dengan Rio malam ini. Seluruh pengawalnya tidak akan mengikutinya dan Ando juga tidak akan meintrogasinya jika keluar malam seperti ini. Nyonya Abahay sendiri sudah meminta izin kepada sang kakak.

*****

 

Ify menghentikkan langkahnya, ia melihat di depan rumah Rio sudah ter-tangkring 5 mobil sedan warna hitam dan satu mobil sport berwarna merah. Sebanyak hampir 15 pengawal berbaju hitam siap menunggunya dan Rio tentunya.

 

 

“Pantesan aja Ando langsung izinin”

 

 

“Pantesan aja Mr. Lay nggak banyak nanya!”

 

Ify hanya bisa menghela, ternyata hidupnya tak semudah dan tak bisa sebebas yang ia fikirkan. Ia melihat Rio keluar dari rumahnya di ikuti 2 pengawal di belakangnya. Ify baru pertama kali ini melihat Rio dengan para pengawal sebanyak tersebut.

 

 

“Suruh dia masuk ke mobil” ujar Rio ke pengawalnya, Rio langsung saja masuk ke dalam mobil sport merahnya tanpa menyusul bahkan melihat ke Ify sedikit pun.

 

 

Ify melongo melihat kejadian itu.  Tentu saja dirinnya sangat kesal. Moodnya langsung jelek begitu saja. Seorang pengawal menghampirinnya.

 

 

“Ayo non, sudah ditunggu tuan Rio di da—“

 

 

“Nggak mau! Dia yang butuh gue, dia yang harusnya jemput” kesal Ify. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

 

 

Pengawal di depan Ify nampak berkomunikasi menggunakan HT earning yang menempel di telinga kirinya. Suarannya terlihat pelan dan berbicara menggunakan bahasa inggris. Samar-samar Ify dapat mendengar percakapan pria itu.

 

 

Tak butuh waktu lama, pintu mobil sport merah terbuka dan munculah si pemilik dan si tuan muda. Ify tersenyum picik, puas sekali karena bisa menang dan tak kalah dengan pria itu.

 

Rio berjalan menghampiri dirinnya, langkahnya pelan dan pasti. Jika dilihat-lihat dirinya dan Rio malam ini sangat serasi. Rio mengenakan tuxedo serba hitam dan jam tangan berarna hitam dengan jarum berarna merah.

 

 

“Nggak perlu susah-susah jemput gue juga kali”

 

“But, thanks”

 

Rio baru saja sampai di pertengah jalan, namun Ify langsung melangkah meninggalkannya begitu saja menuju mobilnya. Rio terdiam sebentar ditengah jalan menghentikan langkahnya. Tak mengerti apa yang barusan dilakukan gadis itu. Ia berfikir bahwa Ify tak ada bedannya dengan sang adik. Masih remaja, manja dan labil. Rio mencoba maklum saja. Ia membalikkan badannya dan kembali kedalam mobil.

 

Semua pengawal pun siap masuk kedalam mobil masing-masing menunggu aba-aba dari ketua pengawal untuk berangkat.

 

****

         

Rio dan ify di giring ke tamu VVIP, disana adalah tempat paling aman tanpa ada pers, wartawan, media dan lainnya. Rio memang sangat menghindarinya. Bukan hanya karena dirinnya tidak suka, juga karena saat ini dirinnya membawa gadis bersamanya.

 

Baru saja masuk kedalam hall, ia dan Ify sudah menjadi pusat sorotan, perbincangan berpuluh pasang mata. Rio mencoba untuk tenang, namun tidak bagi Ify. Ia sama sekali tidak suka menjadi pusat perhatian. Ia menghela nafas untuk mengontrol ke-canggungan tubuh dan ekspresinya.

 

Rio tiba-tiba menarik tangan kananya, dan menggandeng tanganya. Ify menatap Rio sedikit tak suka, ia mencoba melepaskan namun Rio sama sekali tak membiarkannya.

 

 

“Banyak teman mama gue” ujar Rio pelan namun cukup terdengar oleh Ify. Dan kini Ify hanya bisa pasrah, membiarkannya.

 

 

*****

 

Acara bazar pelelangan  sudah hampir selesai, banyak barang-barang yang di lelangkan malam ini dan hasilnya akan disumbangkan ke yayasan amal  yang diketuai oleh Nyonya Abrahay, dimana digunakan untuk galang sosial membantu korban bencana, kelaparan di seluruh dunia. Rio sendiri melelangkan Mobil pertama miliknya.

 

 

“Rio, jadi ini pacar barunya. “

 

 

“Akhirnya kamu bawa kekasihmu juga”

 

 

“Tante kira kamu mau jadi perjaka tua”

 

 

Dua tante-tante rempong yang hampir seumuran dengan mamanya menghampiri dirinnya dan mengajaknya berbincang. Rio hanya menjawabnya dengan senyuman sesopan mungkin.

 

 

“Pacar kamu kerja dimana? Kelihatannya masih sangat muda”

 

 

“Iya jeng masih muda banget”

 

 

“Dia masih sekolah” jawab Rio mencoba tenang.

 

 

“Sekolah? Di universitas mana? “

 

 

Rio melirik ke arah Ify yang hanya diam dan memandang ke arah lain, ia dapat melihat gerak-gerik gadis itu sangat risih dengan pertanyaan ibu-ibu tersebut. Rio kembali menatap ke Ibu-ibu yang mengajaknya berbicara.

 

 

“Maaf tante, Rio mau menemui Professor Ferli dulu”

 

 

“Rio pamit”

 

 

Rio menarik Ify dan membuat gadis itu sedikit kaget dan refleks langsung mengikutinya. Ify berdecak, menggumel tak karuan meskipun tanpa suara. Ia sudah merasa tak betah disini. Ia ingin pulang.

 

 

“Professor” sapa Rio kepada seorang pria tua yang sudah beruban banyak. Pria itu membalikkan  badan menghadap Rio.

 

 

“Rio, Mario” sahutnya begitu senang. Rio pun memberikan senyumannya, dan membalas pelukan sekilas sang professor.

 

 

“Kamu lama sekali tidak mengunjungi saya. Saya hampir saja mengira kamu lupa dengan saya”

 

 

“Tentu saja tidak Prof”

 

 

“Ya ya saya mengerti. Kamu sekarang sudah menjadi miliader sukses, pasti sangat sibuk”

 

 

“Tidak juga Prof”

 

 

Mata Professor  Ferli kini terarah ke gadis disamping Rio, Ify. Ia melihatnya dari atas sampai bawah seolah penasaran siapa gadis yang dibawah Rio ini.

 

 

“Siapa yo?” tanya Professor Ferli penasaran. Rio mengikuti arah pandangan Professor Ferli.

 

 

“Kenalkan, pacar Rio”

 

 

Ify merasa ada yang baru saja menyengat tubuhnya, ia masih sangat tak terbiasa dan sedikit aneh dengan kata pacar. Apalagi jika ini hanya pura-pura. Sangat canggung sekali rasannya. Ify menyambut tangan Professor Ferli yang menyalaminya, dengan berusaha sesopan mungkin. Walaupun that’s not Ify style.

 

 

“Ify” ujar Ify memperkenalkan diri.

 

 

“Waah—, cantik sekali pacar kamu. Pintar juga kamu mencari pacar.”

 

 

“Terima kasih Prof, kapan-kapan kita berbincang lagi. Rio pamit  dulu prof”

 

 

“Oh iya iya, silahkan. Langgeng ya kalian berdua”

 

 

Baik Rio dan Ify hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman kaku. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan keramaian hall.  Rio berjalan ke pojok ruangan. Menyuruh Ify untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana.

 

 

“Gue ke toilet dulu” ujar Rio dan langsung pergi begitu saja tanpa mendengar balasan dari Ify.

 

 

Ify sendiri tak peduli. Ia duduk manis disana. Melihat  para sosialita yang sedang membangakan kekayaan mereka. Ify jadi bergidik ngeri sendiri. Terkadang hidup ini sangat menyeramkan. Semua orang kaya terlalu fokus dengan materi mereka dan menyombongkan apa yang mereka punya.

 

 

 

“Lo pacarnya Kak Rio ??”

 

 

“Aiss—, apa juga yang disuka kak rio dari lo”

 

 

“Bener banget!!! Lo nggak cocok sama kak Rio”

 

 

Ify binggung, tiba-tiba ia didatangi oleh 3 cabe-cabean dengan make-up setebal 15 cm, dan alis buatan yang begitu mencolok, lipstik berwarna merah pekat. Ify awalnya mengira bahwa 3 gadis ini adalah gadis jadi-jadian.

 

 

“Yaah, tapi mau digimanain lagi juga. Kak Rio sukanya sama lo”

 

 

“Kenalin gue Laura “ gadis yang berdiri paling tengah menyodorkan tangannya, wajah angkuhnya berupa menjadi sedikit kalem, senyuman tergambar jelas diwajahnya. Ify menatap gadis itu lebih binggung.

 

 

“Ify” balas Ify singkat, menyalami sekilas dan mencoba tidak peduli. Ia tak tau harus bereaksi apa, semuanya begitu canggung.

 

 

“Gue udah suka sama Kak Rio sejak gue SMA, sampai sekarang juga. Tapi ngelihat dia udah punya pacar membuat gue sedikit sedih. “

 

 

“Selamat buat lo”

 

 

“Jagain kak Rio baik-baik” gadis itu memberikan segelas jus berwarna merah kepada Ify.

 

 

Ify sedikit ragu untuk menerimannya atau tidak, tapi gadis itu terus menyodorkannya tak mau menyerah. Ify merasa muak dan semakin risih. Ia ingin cepat-cepat semua gadis ini enyah dari hadapannya. Ify pun menerimannya.

 

 

“Semoga kita bisa jadi teman” gadis itu meminum minuman yang dibawahnya, meminumnya sampai habis.

 

 

Ify pun tanpa fikir panjang ikut meminum jus yang diberikan kepadanya, mengingat ia juga sama sekali tak minum dan berdiri hampir 1 jam membuat kerongkongannya mengering.

 

 

“Kita pergi dulu, bye” pamit mereka dan langsung beranjak dari hadapan Ify, membuat gadis ini melegah.

 

 

“Dari tadi kek!!” pekik Ify dan kembali menghabiskan minumannya hingga tetes terakhir.

 

 

Ify berdiri dari kursi yang ia tempati, ia berjalan menuju meja yang tak jauh dari dirinnya berdiri saat ini. Langkah Ify perlahan sedikit sempoyongan, ia merasa tiba-tiba kepalannya berat. Ify mencoba berpegang pada ujung meja. Ia memejam-membuka matanya beberapa kali.

 

 

“Aissh—, gue kenapa!! “

 

 

“Kepala gue pusing banget”

 

 

Nafas Ify mulai memburu, tubuhnya terasa panas, tangannya tak berhenti bergetar. Ify mencoba tetap menahan tubuhnya agar bisa tegak. Meskipun kepalannya semakin memberat.

 

 

“Lo kenapa?”

 

 

Suara Rio terdengar, pria itu telah berada di samping Ify. Rio binggung melihat keadaan Ify saat ini yang terlihat tak wajar , wajahnya juga memerah. Ify mencoba memegangi Rio, namun tubuhnya sedikit oleng. Untung saja Rio langsung menangkap dirinnya, memegangi pingganya agar tetap bisa berdiri tegak.

 

 

“Gue pusing” lirih Ify dengan suara manja. Rio mengernyitkan keningnya, kenapa lagi dengan gadis ini.

 

 

Mata Rio ter arah ke segelas minuman kosong yang ada di hadapan Ify. Rio menarik gelas itu dan mencium bau didalam gelas.

 

 

“Aissh!! Bagaimana bisa dia meminum ini!!”

 

 

“Gadis bodoh!!!” Rio dapat mencium bau alkohol dari gelas itu, meskipun baunya sama sekali tak begitu menyengat. Namun, alkohol yang seperti itulah yang lebih berbahaya dan bisa membuat reaksi tubuh cepat mabuk.

 

Rio dengan cepat membawa Ify keluar dari kerumunan sebelum dirinya dan Ify menjadi bahan perbincangan. Rio mencoba menyembunyikan Ify, ia merengkuh tubuh Ify sehingga menutupinya dan semakin berjalan cepat menggiring gadis ini.

 

 

“ Non Ify kenapa tuan?” tanya salah satu pengawal Rio.

 

 

“Dia mabuk berat. Kalian semua bisa langsung pulang. Ify biar gue yang tanganin”

 

 

“Gue nggak mungkin bawa anak orang kayak gini”

 

 

“Baiklah tuan”

 

 

Pengawal tersebut membantu Rio memasukkan Ify ke dalam mobil. Setelah itu, Rio dengan cepat beranjak dari sana terlebih dahulu. Meninggalkan semua pengawalnya.

 

*****

 

Ify semakin meracau tak jelas, tubuhnya tak bisa diam dan terus banyak tingkah membuat Rio tak konsen menyetir. Rio dapat menebak bahwa gadis ini belum pernah minum sebelumnya. Melihat reaksi tubuhnya yang begitu cepat dan sangat diluar nalar.

 

 

“Panassss!!!” rengek Ify tiba-tiba.  Gadis itu melepaskan kedua sepatunya dan melemparnya ke belakang, ke sembarang arah. Rio berdecak hanya bisa geleng-geleng. Ia semakin menancap gas di bawah, menaikkan kecepatan mobilnya.

 

 

“Panassss banget!!! “ teriak Ify yang terlihat mulai frustasi.

 

 

Rio melirik ke arah Ify, ia membelakakan matannya. Ify membuka resleting baju bagian belakangnya. Dengan cepat Rio meminggirkan mobil, memberhentikannya. Ia langsung menghentikkan aktivitas gadis itu. Bisa bahaya, fikirnya! Sangat bahaya!.

 

 

“Apa yang lo lakuin!!” pekik Rio tak habis fikir.

 

 

Ify menatap ke Rio tajam, seolah Rio adalah seorang penganggu.

 

 

“Lepasin!! Gue kepanasan!! “ racaunya tak karuan. Rambutnya sudah berbentuk tak beraturan. Rio binggung harus apa saat ini. Ia curiga minuman yang diminum gadis ini bukan hanya sekedar alkohol.

 

 

“Lo tahan! Habis ini lo bisa buka sepuas lo! “

 

 

“Jangan dimobil!” Rio mencoba ber-negosiasi, melembutkan intonasi suarannya. Ify masih tetap menatap Rio.

 

 

“NGGAK MAU!!”

 

 

“PANAS!!!!”  teriak Ify yang terlihat kesakitan dengan keadaannya saat ini. Rio mencoba untuk tenang tidak binggung. Dia tak mungkin menyetir di kondisi seperti ini, ia harus terus memegangi Ify agar tidak berbuat aneh-aneh.

 

*****

 

Rio memilih meninggalkan mobilnya, ia mencegah taxi dengan memegangi tubuh Ify yang masih meracau kepanasan, mereka berdua kini pindah kedalam taxi.

 

 

“Haling coorporation pak”

 

 

Taxi tersebut melaju dengan cepat menuju ke Haling Corp, tempat perusahaan Rio. Karena hanya tempat itu yang menurut Rio aman, Tidak mungkin juga ia membawa Ify ke rumah. Bisa di introgasi macam-macam oleh banyak orang. Ke hotel juga sama sekali tak mungkin, banyak orang yang akan mengenalnya, ditambah dia membawa seorang gadis yang hampir tidak waras!.

 

****

 

Rio membopong Ify dengan begitu erat. Ify terus saja berteriak kepanasan. Gadis itu hampir setengah menangis. Rio menjadi sedikit iba. Tapi juga membodohi gadis ini, kenapa bisa meminum gelas itu tanpa curiga sedikit pun.

 

 

Rio masuk kedalam ruangannya yang terbilang mewah dan besar. Ruangannya terdapat private room seperti sebuah apartement yang terhalang oleh lemari besar. Rio menekan tombol disamping lemari tersebut dan  langsung membelah menjadi dua. Bentuk lemari itu sengaja di desain seperti sebuah pintu private room,  Agar orang lain yang melihatnya mengira itu hanya lemari biasa. Yah, lemari itu hanya pengecoh saja.

 

 

“Gue nggak kuat!!”

 

 

“Panas!!”

 

 

“Panas!!! “

 

 

Rio membawa Ify ke kamar mandi, ia langsung menaruh gadis itu diatas bath-up dan menyalakan shower. Seluruh tubuh Ify langsung terhuyur air dari atas. Ify semakin bergerak tak menantu, reaksi tubuhnya sangat kaget karena air yang tiba-tiba menyiramnya. Rio melihat saja gadis itu semakin berteriak kesal.

 

 

“LO GILAA!! “

 

 

“MAATIIN AIRNYAA!!”

 

 

Rio menurutinya, ia mematikan air di shower tersebut.  Ify berhenti beteriak. Namun, beberapa detik kemudian Ify tiba-tiba tertawa sendiri. Ia mencoba untuk berdiri, meskipun tubuhnya masih sempoyongan. Rio mencoba memegangi Ify takut gadis ini terjatuh.

 

 

“Hahahaahaha, “

 

 

“Gue kenapa?”

 

 

“Hahahaha”

 

 

Ify terus tertawa tak jelas, ia keluar dari bath-up. Tubuh Ify ambruk ke arah tubuh Rio, kakinya tak kuat menopang tubuhnya sendiri untuk berjalan. Ify bergeliut manja pada tubuh Rio. Sedangkan Rio hanya bisa pasrah meskipun sangat tidak nyaman! Sangat!.

 

 

“ Gue masih panas!!”

 

 

“Tapi jangan guyur gue pakek air”

 

 

Ify mulai bercurhat manja, kedua tangannya ia kalungkan ke leher Rio.  Membuat jarak mereka berdua begitu sangat dekat. Rio mencoba menjauhkan wajahnya untuk memberi space dengan wajah Ify.

 

 

“Baju gue basah!”

 

 

“Gue lepas aja semuanya!!”

 

 

Ify melepaskan rangkulannya pada tubuh Rio, ia berniat akan melepaskan gaunnya kembali. Dengan cepat Rio mencegahnya sekali lagi. Rio tak habis fikir dengan yang dilakukan oleh gadis ini. Rio mencoba menahan segala yang ada di dalam dirinnya. Ia tentu saja masih lelaki normal yang memiliki 8 akal dan 1 nafsu!. Namun, ia masih berfikir jernih!. Ia menggunakan 8 akalnya untuk melawan 1 nafsunya. Tapi gadis ini???

 

 

 

“ Dia memakai semua 8 nafsunya untuk menghilangkan 1 akalnya!” pekik Rio pelan dengan ekspresi binggung harus melakukan apa agar gadis ini cepat sadar!.  Ini untuk pertama kalinya dirinnya dibuat binggung bukan main dan itu karena seorang gadis kecil!.

 

 

“Gue panass banget!”

 

 

“Ify kenapasan!!”

 

 

“Ify panas , tubuh Ify panas!!! “

 

 

Ify menghentak-hentakan kedua kakinya berulang-ulang dan semakin merengek manja seperti anak kecil. Ify menatap Rio penuh mohon, sangat memohon.

 

 

“Paaaanasss!!” Ify menangis dihadapan Rio.

 

 

Melihat Ify menangis seperti itu membuat Rio terkejut, apa gadis ini begitu kepanasan? Apa gadis ini sangat kesakitan? Apa yang sebenarnya diminum oleh gadis ini?. Apa Rio membiarkan saja Ify melepaskan bajunya? Oh tidak!! Dia masih waras!

 

 

“Apa yang lo mau?” tanya Rio mencoba berbicara baik-baik dengan Ify.

 

 

“Lepas semua baju gue” jawab Ify seperti anak kecil. Rio mendesah berat. Ia tidak akan bisa ber-negosiasi. Rio pun dengan cepat membopong Ify keluar dari kamar mandi.

 

 

Rio mendudukan Ify diatas kasur, lalu ia mengikat kedua tangan Ify dengan dasi yang ia lepas secara paska. Ify mencoba menolak, melawan. Namun, kekuatan Rio tentu saja lebih besar dari dirinnya.

 

 

“PANAASSS!!!!” teriak Ify mengobrak abrik selimut diatas kasur menggunakan kakinya. Kedua tangannya sudah di-ikat erat oleh Rio, setidaknya gadis ini tidak akan macam-macam dengan pakaiannya.

 

 

Rio mengambil ponselnya, ia melakukan searching melwati SNS, tanganya  bergerak cepat diatas layar,  membaca beberapa artikel yang didapat. Sebelumnya memang dirinnya tidak pernah mengatasi kejadian ini, ia tidak pernah begitu mengenal macam-macam alkohol, ia terlalu sibuk dengan dunia bisnisnya sehingga mengorbankan seluruh masa remajanya. Ia terbiasa dengan jalan lurusnya dan fokus ke perusahaannya.

 

 

“Obat perangsang?”

 

 

Rio meneguk ludahnya, tebakannya sedari awal ternyata benar. Bahwa gadis disebelahnya ini meminum alkohol yang dicampur dengan obat perangsang. Siapa yang berani melakukan hal ini? Rio mendecak kesal.

 

 

“PAANASS!!”

 

 

“LEPASIN!!”

 

 

“TOLONGIN GUE!!”

 

 

“PANAASS!!!”

 

 

“LEPASINNN!!!!”

 

 

Ify semakin tak karuan, ia menjerit seperti orang gila. Air matannya mengalir lebih deras. Rio menatapnya sangat kasihan, apalagi Ify masih gadis dibawah umur. Masing sangat kecil, sistem immune-nya pasti tak kuat untuk menetralisir efek minuman tadi. Rio mendesah berat.

 

 

“Gue harus apa?”

 

 

“Dia masih gadis belia!”

 

 

Rio mengacak-acak rambutnya frustasi, jalan satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah menghilangkan nafsu berat gadis ini, setidaknya ia harus mengalihkan rasa panas yang ada ditubuh Ify terlebih dahulu. Kalimat kasarnya, ia harus memuaskan nafsu gadis ini. Titik!

 

 

“Efeknya berhenti 1/2 jam lagi”

 

 

“ Apa gue biarin aja?” tanya Rio ke dirinnya sendiri. Wajahnya terlihat pucat, seperti orang bego. Rio tidak tau harus apa!! Dia tidak tau!!.

 

 

“PAPAAAAAA”

 

 

“KAK ANDOOO!!! “

 

 

“TOLONGIN IFY!!!”

 

 

“PAANASSS!!!!”

 

 

Fikiran Rio ikut kacau, teriakan kesakitan Ify membuatnya berfikir mentok. Ia tak punya jalan lain lagi. Rio mendekati Ify, duduk disamping gadis ini. Ia menatap Ify dengan sangat kasihan, Untuk pertama kalinya.

 

 

“Lo dengerin gue baik-baik” Rio menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.

 

 

“Gu—, gue akan lepasin ikatan lo”

 

 

“Gu—, gue akan ngalihin rasa panas di tubuh lo”

 

 

“Tapi, lo nggak boleh minta lebih?”

 

 

Ify mengangguk-angguk dengan cepat. Layaknya anak kecil yang keinginannya akan segera dikabulkan. Wajah Ify sedikit terlihat berbinar. Rio menatap Ify sejenak, berfikir apakah yang dilakukannya ini nantinya benar apa tidak.

 

 

“Aissh—, Entahlah!! “ Rio perlahan membukakan tali di ikatan tangan Ify, mendapati kedua tangannya bebas Ify berniat akan melepaskan bajunya lagi. Rio lansung mencegahnya kembali. Ia memegang erat kedua tangan Ify dan dengan cepat menangkap bibir Ify dengan bibirnya. Rio memberikan ciuman pada Ify.

 

 

Ify membalas ciuman Rio dengan tak biasa, membuat Rio sedikit kualahan. Nafas Ify memburu sangat cepat, Ify berusaha melepaskan kedua tangannya namun tetap tak bisa. Akhirnya ia menyerah!. Ia terlihat menikmati ciuman yang dilakukan dirinnya dan Rio, rasa panas di tubuhnya seolah teralihkan pada rasa panas pada ciuman yang dilakukannya sekarang.

 

Ify mencoba memindahkan ciumannya, ia menuruni leher Rio dan mencoba menciumnya namun dengan cepat Rio mencegah, ia langsung menangkap bibir Ify kembali. Memberikan ciuman yang sangat dalam, membiarkan Ify menghabiskan bibirnya. Rio berusaha keras menahan nafsunya sendiri, ia tidak ingin nafsunya mengalahkan 8 akalnya. Ia masih mencoba waras! Bisa bahaya jika dia kehilangan kontrol.

 

 

“ Gu—, gu—, gue masih panas” lirih Ify di sela ciuman mereka. Nafas Ify terlihat tak karuan begitu juga dengan Rio.

 

 

Mereka sudah melakukan ciuman yang begitu panas selama 15 menit. Keringat keduannya becucuran mengalir di pelipis dan turun di wajah masing-masing. Rio masih memegang erat kedua tangan Ify.

 

Ify mencoba mendorong tubuh Rio, namun Rio menahannya. Ia tak ingin dikuasai oleh gadis kecil ini, dirinnya sudah berusaha keras melawan segala nafsu di fikirannya untuk melakukan lebih. Ia melawannya dengan sangat keras!.  Sekali lagi Ify menuruni bibirnya ke leher Rio dan sekali lagi juga Rio mencegahnya.

 

 

Rio tak kuat lagi, nafasnya hampir habis. Ia melakukan ciuman panas dengan Ify hampir 20 menit lamanya. Ia merasakan bibirnya hampir mati rasa. Ia melepaskan ciumannya dan menjauhkan jaraknya dengan Ify.

 

 

Rio melihat ekspresi Ify berubah kecewa, wajah gadis itu merengek agar Rio kembali menciumnya. Rio menggeleng, ia tak sanggup lagi.

 

 

“Terserah lo sekarang!”

 

 

Rio melemparkan jasnya ke wajah Ify, agar tidak tergoda dengan rengekan gadis itu. Rio meninggalkan Ify di private room  sendirian, gadis itu mulai berteriak kembali dan lebih gilanya mulai membuka seluruh pakaiannya.

 

 

Rio dengan cepat keluar dari sana. Mengurung Ify sendirian, ia tak kuat untuk mengatasi gadis itu lagi.

 

 

****

 

Rio duduk dikursi kerjannya, mengatur nafasnya yang masih tak karuan. Ia meminum segelas air putih yang berada diatas meja. Meminumnya sampai habis. Melepaskan beberapa kancing kemeja putihnya, kini gantian dirinnya yang merasakan panas luar biasa.

 

 

“gadis itu benar-benar gila!!”

 

 

“Aisshh!!!”

 

 

Teriak Rio benar-benar frustasi. Ia tak pernah melakukan hal segila ini sebelumnya. Racauan dan teriakan ify masih terdengar. Rio mencoba tak peduli, membiarkan saja Ify disana dengan duniannya.

 

Rio menarik ponsel dari saku celanannya. Ia mengirim pesan kepada Ando dan sang Mama. Ia mencari alasan yang logis kenapa dirinnya tidak pulang dan kenapa Ify juga tidak pulang. Rio memilih untuk mengirim pesan saja, tidak mungkin untuk melakukan panggilan. Bisa-bisa mereka dapat mendengar racauan tak jelas Ify saat ini.

 

Rio menaruh ponselnya diatas meja, lalu menayandarkan kepalannya pada kursi, memejamkan matannya sebentar. Kepalannya terasa berdenyut tak karuan. Mencoba menenangkan dirinnya sesaat.

 

****

 

Keesokan pagi,

 

Rio terbangun, silauan cahaya dibalik gorden putih kantornya menyambutnya. Kedua mata Rio perlahan terbuka. Ia mendapati dirinya tertidur di kursi kerjannya. Rio merentangkan kedua tangannya,  tubuhnya terasa sakit karena posisi tidur yang sama sekali tak nyaman.

 

Rio langsung teringat dengan Ify, bagaimana gadis itu? Ia sudah tak mendengar lagi kicauan gila seperti semalam.

 

Rio perlahan dan pasti membuka pintu private room.nya, ia mengedarkan pandangannya. Menemukan Ify tertidur pulas tertitupi selimut putih miliknya. Rio bernafas legah.

 

Ia mengeleng-gelengkan kepalannya melihat baju Ify berserakan diatas lantai, bukan hanya baju saja, namun pakaian dalam Ify pun dengan tak berdosanya tergeletak di atas kursi. Rio mendesah berat.

 

 

“Apa yang dilakukan gadis ini semalam?”

 

 

Rio mendecak, tak habis fikir. Gadis ini sekarang tak memakai apapun didalam sana. Rio mencoba memunguti baju Ify, namun ketika langkahnya akan mendekati kasur ia melihat Ify mengerjapkan matannya beberapa kali.

 

 

Ify melihat Rio dengan sama-samar, sampai akhirnya ia mengontrol kesadarannya dan terbangun.

 

 

“LO NGAPAIN DISINI??”  tanya Ify sekaget-kagetnya, ia menarik selimutnya lebih keatas.

 

 

“Lo yang ngapain semalam!!” tajam Rio dan membuang baju Ify yang baru saja dipungutnya ke wajah gadis itu.

 

Wajh Ify berubah cemas, ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Ia kemudian langsung melihat kedalam selimut.

 

 

“Mampus gue!! “

 

Ify mengingat semuannya, ia mengingat bagaimana dirinnya diberi minuman oleh gadis bernamakan laura, bagaimana dirinnya mulai meracau tak jelas, bagaimana dirinnya di guyur air di kamar mandi, dan bagaimana dirinnya —,

 

 

“Ciuman sangat panas dengan Rio”

 

 

****

 

Rio membelikan Ify pakaian baru, karena pakaian Ify yang masih basah akibat semalam di kamar mandi. Rio menunggu Ify di ruang kerjannya.

 

15 menit kemudian, Ify keluar dari private-room, ia berjalan sambil menundukkan wajahnya. Malu! Tentu saja ia sangat malu!. Dirinnya semalam seperti gadis liar!.

 

 

“It—, It—,, gue semalam nggak sadar!” ujar Ify dengan cepat mencari pembelaan.

 

 

“Gue tau” jawab Rio tanpa mengalihkan pandangannya ke Ify, ia fokus di depan layar laptopnya.

 

 

“ Lo jangan salah paham!”

 

 

“Kenapa gue harus salah paham?”

 

 

Ify mengigit bibirnya, binggung harus menjawab apa. Pria didepannya ini benar-benar sangat dingin dan kasar!.

 

 

“Gue nggak suka sama lo. Ciuman kita semalam anggap aja ki—,”

 

 

“Gue lebih nggak suka sama lo!” tegas Rio, menghentikkan aktivitasnya dan menatap Ify sangat tajam.

 

 

“Gue mau pulang!! “ kesal Ify, ia sudah sangat malu ditambah lebih dipermalukan lagi saat ini.

 

 

 

“Silahkan “

 

 

“Gue juga kemarin bilang  ke Ando kalau gue ada rapat mendadak, dan lo terpaksa harus ikut gue” jelas Rio dengan nada acuhnya seperti biasannya.

 

 

“Lo nggak nganterin gue pulang ?” tanya Ify begitu saja.

 

 

“Gue selesaikan kerjaan gue sebentar”

 

 

“Lo duduk dulu aja” jawab Rio dan fokus kembali ke layar laptopnya.

 

Ify hanya bisa mendengus, ia memilih duduk kembali di sofa tempat kerja Rio. Sebenarnya bisa saja ia pulang sendiri, akan tetapi Ando pasti akan menanyai dirnnya aneh-aneh kenapa dia tidak pulang bersama Rio! Pasti itu! Pasti! Dan ia sangat malas untuk di-interogasi oleh sang kakak.

 

Keadaan hening, hanya suara mesin laptop Rio yang dapat terdengar, Rio fokus dengan pekerjaannya, Ify fokus dengan fikirannya sendiri. Ponselnya mati jadi ia tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menunduk. Ia masih sangat malu.

 

 

“Lain kali kalau nggak kenal orang jangan langsung menerima pemberiannya”

 

 

Suara Rio memecahkan keheningan, membuat kepala Ify setengah terangkat. Ify hanya menanggapi dengan deheman ringan. Toh, memang ini adalah kesalahan fatalnya sendiri. Ia juga tidak tau kenapa ia menjadi sangat bodoh dan percaya orang begitu saja. Tidak seperti dirinnya biasannya.

 

 

“Diatas kulkas ada bubur dan sop ayam”

 

 

“Lo bisa makan, buat hilangin efek mabuk lo semalam”

 

 

Ify menatap Rio heran, sejak kapan pria itu jadi perhatian kepadannya? Apa ada yang salah dengan pria itu?. Ify melihat Rio dengan tatapan yang serius.

 

 

“Apa gue begitu mempesona?”

 

 

“Atau lo udah mulai tertarik sama gue?”

 

 

Ucapan Rio membuat Ify langsung salah tingkah, Rio membalasnya!! Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan Ify ketika mereka berdua di pesawat beberapa hari yang lalu. Ify mendecak kesal.

 

 

“Gue heran aja, kenapa lo tiba-tiba baik sama gue”

 

 

“Gue emang orang baik”

 

 

“Cihh—, baik apaan! Dingin, Kasar, tak tau diri!”

 

 

“Thanks buat pujiannya! “ Rio menutup laptopnya, menghelakan nafas legah. Akhirnya kerjaannya sudah selesai untuk hari ini.

 

 

Ia menatap Ify yang masih duduk manis di atas sofa.

 

 

“Lo nggak mau makan?”

 

 

“Nggak usah perhatian sama gue! “ judes Ify. Rio memberikan smirk sinis khasnya.

 

 

“Gue kasihan sama buburnya” balas Rio tak kalah tajam. Ify menghentakkan kaki kananya, ia benar-benar sudah tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi pria itu. Dinginnya melebihi dirinnya, kata-katanya melebihi tajamnya ucapannya. Benar-benar Pria kejam!.

 

 

“ GUE MAU PULANG!! “

 

Ify berdiri dari sofa, dan berjalan keluar duluan menuju pintu.

****

 

Rio dan Ify keluar dari perusahaan setelah melewati berbagai pasang mata yang pasti sangat penasaran. Karena dalam sejarah Rio berada dan menjabat sebagai direktur di perusahaan ini, Rio tidak pernah membawa gadis manapun bahkan berjalan beriringan dengan seorang gadis terkecuali sekertarisnya atau cliennya. Itu pun biasannya didampingi oleh pengawalnya. Dan kali ini, Rio hanya berjalan berdua dengan seorang gadis. ! Sebuah keajaiban tuhan yang luar biasa!.

****

 

 

 

Rio masuk kedalam rumahnya, setelah mengantarkan Ify pulang dan menemui Ando sebentar. Tubuhnya benar-benar lelah dan butuh tidur di kasur yang nyaman. Ia berpapasan dengan sang adik di ruang tamu yang bersiap-siap akan berangkat sekolah.

 

 

“Kak lo habis dari mana?” tanya illy terlihat penasaran.

 

 

“Kerja!”

 

 

“Kok gue lihat lo sama Ify tadi, turun dari mobil lo” tanya illy lagi yang semakin penasaran. Rio mendesah berat,  sang adik selalu menjadi penganggunya.

 

 

“Ini udah jam 9, lo udah telat sekolah!” Rio mencoba mengalihkan topik.

 

 

“Jangan ngalihin topik lo! Udah nggak mempan buat gue! Sekolah gue ada festival mangkanya masuk jam berapa pun hari ini terserah! “

 

 

“Lo habis ngapain sama Ify?”

 

 

Rio langsung terdiam, ia seolah sedang tertangkap basah. Meneguk ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Rio melonggoarkann sedikit kancing bajunya.

 

 

“Mulut lo kenapa jadi sedikit aneh?”

 

 

“Kayak lebih merah”

 

 

Rio langsung dengan cepat membungkam mulut adiknya, sebelum sang adik nerocos aneh-aneh. Sang adik memang perusuh paling pandai!.

 

 

“LEPASINN!!!” teriak illy sambil mengigit tangan Rio, mau tak mau Rio langsung melepaskan bungkaman sang adik. Rio sedikit meringis,

 

 

“Lo pasti habis ngapa-ngapain kan sama Ify!! NGAKU LO!!”

 

 

Rio mencoba tenang, ia memghelakan nafasnya beberapa kali.

 

 

“Kalau gue habis ngapa-ngapain, lo mau apa?” tantang Rio tak ingin kalah dengan sang adik.

 

 

“WAAAHH!! LO GILA!! “

 

 

“LO PEDOFIL!!”

 

 

“YAAAAA!!!” teriak Rio tak terima dengan tuduhan adiknya. Illy langsung tertawa puas, kegirangan. Untuk pertama kalinnya ia menang melawan sang kakak, illy geleng-geleng kagum. Akhirnya impiannya tercapai.

 

 

“Waahh—, gila si ify bisa buat kakak gue kayak gini”

 

 

“Hebat!!”

 

 

“Hebat!! “

 

 

Illy menepuk-nepuk bahu kakaknya, kemudian beranjak meninggalkan sang kakak dengan ocehan-ocehan tak jelasnya.

 

 

Sepeninggal sang adik, Rio langsung lemas. Kenapa ia bodoh sekali? Kenapa ia tidak bisa tenang tadi, kenapa ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri? Apa yang telah terjadi dengan dirinnya. Fikirannya memang sudah kacau. Dia sudah setengah gila!. Dia sudah tak waras!

 

 

“Gue kenapa jadi gini!!”

 

 

Bersambung . . .

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s